40561-1-1200x800.webp

November 25, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Mual adalah keluhan yang bisa dialami siapa saja, terutama yang mempunyai masalah pencernaan. Rasa mual dapat mengganggu, apalagi jika muncul terus-menerus sehingga mengganggu aktivitas dan menyebabkan nafsu makan turun.

Pada penderita diabetes, rasa mual yang muncul berulang atau berlangsung terus-menerus bisa menjadi tanda adanya gangguan yang berhubungan dengan kadar gula darah maupun komplikasi diabetes. Mengapa penderita diabetes bisa merasa sering mual serta bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasannya di artikel ini! 

Apa itu Gejala Sering Mual pada Penderita Diabetes?

Sering mual pada penderita diabetes adalah kondisi ketika seseorang dengan diabetes mengalami sensasi ingin muntah yang berlangsung berulang, terutama terkait dengan perubahan kadar gula darah atau dampak jangka panjang diabetes.

Pada diabetes, mual biasanya terjadi karena kadar gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia), kadar gula darah terlalu rendah (hipoglikemia), komplikasi pada pencernaan, efek samping obat diabetes, serta penyebab di luar diabetes.

Apakah Sering Mual Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Sering mual bukan gejala utama diabetes dan seseorang yang sering mual tidak selalu berarti menderita diabetes. 

Mual bisa disebabkan banyak hal lain seperti:

  • Infeksi virus atau bakteri
  • Gangguan lambung (gastritis, GERD)
  • Efek samping obat seperti antibiotik dan antinyeri
  • Stres dan kecemasan
  • Kehamilan
  • Gangguan keseimbangan seperti pada vertigo
  • Keracunan makanan atau minuman
  • Alergi atau intoleransi makanan dan minuman

Namun, pada orang yang menderita diabetes, sering mual dapat menjadi tanda bahwa kadar gula darah tidak terkendali atau ada komplikasi yang perlu diperhatikan.

Penyebab Sering Mual pada Penderita Diabetes

Penderita diabetes yang sering mual dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Berikut beberapa penyebabnya:

a. Hiperglikemia (Kadar Gula Darah Tinggi)

Kadar gula darah yang sangat tinggi dapat membuat proses pencernaan dan pengosongan lambung menjadi lebih lambat. Hal ini dapat memicu rasa mual.

b. Hipoglikemia (Kadar Gula Darah Rendah)

Saat kadar gula darah turun di bawah normal, tubuh bereaksi dengan memicu hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Hormon tersebut juga memengaruhi sistem pencernaan dan menyebabkan rasa mual. 

c. Gastroparesis Diabetes

Gastroparesis diabetes merupakan salah satu komplikasi diabetes yang menyebabkan gangguan pencernaan. Gastroparesis terjadi ketika saraf vagus yang mengatur gerakan lambung mengalami kerusakan akibat gula darah tinggi dalam jangka panjang. Akibatnya, makanan tidak bergerak normal dari lambung ke usus. Kondisi ini  menyebabkan rasa mual, muntah, kembung, dan rasa cepat kenyang. 

d. Ketoasidosis Diabetik

Ketoasidosis diabetik juga merupakan komplikasi diabetes yang berbahaya. Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak bisa menggunakan glukosa sebagai sumber energi karena gangguan insulin. 

Akibatnya, tubuh akan memakai lemak sebagai sumber energi. Proses metabolisme lemak menjadi energi akan menghasilkan zat sisa berupa keton. Karena itu, pada ketoasidosis diabetik ditandai dengan kadar keton yang meningkat. 

Gejala ketoasidosis diabetik meliputi gula darah sangat tinggi, mual dan muntah, napas berbau asam atau seperti buah-buahan, dehidrasi, linglung, hingga penurunan kesadaran. 

e. Efek Samping Obat Diabetes

Beberapa obat diabetes mempunyai efek samping berupa rasa mual. Obat yang sering menyebabkan mual adalah metformin dan obat suntik golongan GLP-1 agonist seperti liraglutide dan semaglutide.

Apakah Sering Mual pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Mual pada diabetes bisa berbahaya, terutama jika rasa mual berlebihan dan berlangsung lama sehingga mengganggu aktivitas dan menyebabkan penurunan nafsu makan. 

Jika rasa mual disertai muntah terus menerus maka bisa menyebabkan dehidrasi, lemas, dan tubuh kekurangan gizi. Selain itu, rasa mual berlebih juga bisa menjadi tanda bahaya seperti hipoglikemia, hiperglikemia, ketoasidosis diabetik, dan gastroparesis. 

Karena itu, segera konsultasi ke dokter jika mengalami rasa mual yang tidak kunjung reda setelah melakukan penanganan di rumah. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Mual pada Penderita Diabetes

Untuk mencegah dan mengatasi rasa mual, maka perlu mencegah penyebabnya. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

a. Mengontrol Kadar Gula Darah

Karena gula darah yang terlalu rendah dan tinggi dapat menyebabkan mual, maka langkah yang penting adalah dengan mengontrol gula darah.

Konsumsi obat diabetes sesuai jadwal yang diberikan dokter agar gula darah terkontrol dan jangan lupa untuk rutin memantau kadar gula darah. Kamu bisa menggunakan glukometer atau Continuous Glucose Monitoring (CGM) untuk memantau kadar gula darah. 

b. Atur Pola Makan

Untuk meringankan rasa mual, kamu bisa menerapkan pola makan dengan makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering. Hindari makanan berlemak tinggi, makanan pedas dan asam. Pilih makanan yang mudah dicerna misalnya bubur atau sup. 

c. Cukupi Kebutuhan Cairan

Mual yang disertai muntah dapat menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi juga dapat memperburuk rasa mual. Minumlah air sedikit-sedikit tapi sering agar tidak mual. 

d. Kelola Stres

Stres dapat memicu gangguan lambung dan fluktuasi gula darah. Jadi, cobalah untuk mengelola stres dengan yoga, meditasi, latihan pernapasan, dan melakukan kegiatan yang menyenangkan untuk memperbaiki suasana hati. 

e. Minum Obat Anti Mual

Jika rasa mual terus berlangsung walau sudah melakukan penanganan awal, maka konsultasikan ke dokter agar mendapatkan obat untuk mengatasi mual. 

f. Konsultasikan Pengobatan Diabetes

Jika rasa mual disebabkan oleh obat diabetes, jangan menghentikan obat sendiri. Konsultasikan pada dokter untuk menyesuaikan dosis, mengganti jenis obat, atau memberikan obat anti mual. 

Kapan Penderita Diabetes atau Orang yang Sering Mual Harus ke Dokter?

Seseorang yang sering mual, baik dengan diabetes ataupun tanpa diabetes harus segera ke dokter jika mengalami beberapa kondisi berikut:

  • Mual berlangsung lebih dari 2–3 hari dan mengganggu nafsu makan
  • Mual disertai muntah terus-menerus
  • Gula darah > 250 mg/dL atau < 70 mg/dL
  • Terdapat tanda ketoasidosis seperti napas cepat, bau napas seperti buah, sangat lemas, penurunan kesadaran
  • Tidak bisa makan atau minum
  • Berat badan turun drastis

Kamu bisa konsultasi dengan dokter umum untuk pemeriksaan awal. Jika diperlukan, dokter umum akan merujuk ke dokter spesialis penyakit dalam, konsultan endokrinologi atau konsultan gastroenterologi. 

Namun, jika mual disertai muntah hebat, terus-menerus hingga makanan dan minuman tidak bisa masuk, maka segera ke IGD rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan segera.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2150924381-_1_-1200x800.webp

November 25, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Golf merupakan olahraga yang dilakukan di ruang terbuka dengan permainan yang relatif santai. Golf melibatkan gerakan mengayunkan stik golf untuk memukul bola menuju lubang, disertai jalan kaki menuju arah bola berhenti. Kombinasi gerakan ini membuat otot tubuh terlibat aktif. Tak hanya itu, bermain golf juga melatih konsentrasi  karena harus fokus memastikan ayunan bola ke arah yang benar agar mendekati lubang.

Namun, bagi penderita diabetes mungkin muncul pertanyaan, “Apakah golf aman dilakukan oleh penderita diabetes?” Artikel berikut menjelaskan apakah penderita diabetes boleh main golf, tips penting sebelum dan selama bermain, serta manfaat kesehatannya.

Apakah Penderita Diabetes Boleh Bermain Golf?

Pada dasarnya penderita diabetes boleh bermain golf, asalkan dalam kondisi yang bugar, gula darah terkontrol, dan tidak ada komplikasi yang meningkatkan risiko cedera saat bermain. Bahkan, pemain golf profesional sekaligus juara US Open ke-125, JJ Spaun, adalah penderita diabetes tipe 1.

Hal tersebut membuktikan bahwa penderita diabetes boleh bermain golf, bahkan menjadi pemain profesional, selama kondisi diabetesnya terkontrol. Golf termasuk olahraga aerobik intensitas ringan hingga sedang yang dapat membantu meningkatkan metabolisme, mengontrol kadar glukosa darah, dan menjaga kesehatan jantung.

Tips Sebelum, Saat, dan Sesudah Bermain Golf bagi Penderita Diabetes

Agar dapat bermain golf dengan aman dan nyaman serta mencegah fluktuasi gula darah dan mengurangi risiko komplikasi, beberapa tips berikut dapat diterapkan:

Tips Sebelum Bermain Golf

1. Periksa Kadar Gula Darah

Pastikan kadar glukosa berada pada kisaran aman, umumnya 100–250 mg/dL, sebelum memulai bermain golf. 

2. Konsumsi Makanan Sehat

Hindari berolahraga dalam kondisi perut kosong. Pilih makanan dengan karbohidrat kompleks dan protein untuk menjaga kestabilan energi.

3. Gunakan Alas Kaki yang Tepat

Penderita diabetes berisiko mengalami luka pada kaki. Gunakan sepatu golf yang ergonomis, empuk, dan tidak menyebabkan tekanan berlebih pada kaki.

4. Bawa Perlengkapan yang Dibutuhkan

Selain membawa peralatan golf, pastikan membawa air minum, makanan ringan untuk carbo-loading selama permainan, alat cek gula darah, dan obat-obatan pribadi.

5. Lakukan Pemanasan

Lakukan pemanasan berupa peregangan ringan pada punggung, pinggul, bahu, tangan, dan kaki untuk mengurangi risiko cedera otot.

Tips Saat Bermain Golf

1. Pantau Kondisi Tubuh

Waspadai tanda hipoglikemia seperti pusing, lemas, gemetar, atau konsentrasi menurun. Segera hentikan permainan dan konsumsi makanan ringan yang mengandung karbohidrat jika gejala muncul.

2. Minum Cukup

Dehidrasi dapat menambah rasa lemas. Minumlah secara berkala, terutama saat cuaca panas.

3. Jangan Memaksakan Berjalan Jauh

Jika merasa lelah, gunakan golf cart untuk mengurangi risiko hipoglikemia dan cedera.

4. Istirahat Berkala

Jika permainan berlangsung lama, berikan jeda untuk istirahat setiap beberapa hole.

5. Perhatikan Kondisi Kaki

Jika kaki terasa panas, terdapat luka lecet, atau basah, segera hentikan permainan dan periksa kondisi kaki secara menyeluruh. 

Tips Setelah Bermain Golf

1. Periksa Kembali Kadar Gula Darah

Penurunan gula darah dapat terjadi beberapa jam setelah olahraga, sehingga pengecekan ulang sangat dianjurkan.

2. Lakukan Pendinginan

Peregangan selama 5–10 menit setelah olahraga membantu mengoptimalkan sirkulasi darah dan mencegah nyeri otot.

3. Periksa Kondisi Kaki Secara Keseluruhan

Periksa kondisi kaki, apakah ada luka, lecet, atau iritasi. Luka kecil pada penderita diabetes harus segera diobati agar luka tidak bertambah parah. 

4. Konsumsi Makanan Seimbang

Pulihkan energi setelah olahraga dengan mengonsumsi makanan kaya protein, serat, dan karbohidrat kompleks. 

Manfaat Bermain Golf bagi Penderita Diabetes

Golf memberikan berbagai manfaat kesehatan bagi penderita diabetes, antara lain:

a. Membantu Menurunkan Kadar Gula Darah

Aktivitas berjalan jauh dan gerakan mengayun berulang saat bermain golf membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi, sehingga membantu menurunkan gula darah.

b. Meningkatkan Sensitivitas Insulin

Olahraga intensitas sedang dapat meningkatkan respons sel terhadap insulin dan menurunkan resistensi insulin.

c. Menurunkan Berat Badan

Lapangan golf cukup luas, yaitu sekitar 30 hingga 200 hektar. Bermain golf tanpa menggunakan cart membuatmu berjalan hingga 7 kilometer dan bisa membakar 500–900 kalori. Hal itu membantu mengontrol berat badan secara efektif.

d. Menurunkan Stres

Bermain golf di ruang terbuka terbukti menurunkan hormon stres yang berpengaruh langsung pada kestabilan glukosa darah.

e. Meningkatkan Kesehatan Jantung

Golf dapat memperbaiki sirkulasi dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, yang merupakan komplikasi umum pada diabetes.

f. Meningkatkan Kekuatan Otot Tubuh

Gerakan mengayun, berjalan, dan rotasi tubuh saat bermain golf membantu menjaga kekuatan otot, fleksibilitas, serta keseimbangan tubuh. 

Jadi, penderita diabetes boleh bermain golf, selama kondisi kesehatan terkontrol dan aktivitas dilakukan dengan persiapan yang tepat. Untuk hasil maksimal dan aman, penderita diabetes disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai rutinitas olahraga baru, terutama jika memiliki komplikasi tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


213-_1_-1200x778.webp

November 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diabetes merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diderita pada masa ini. Penyakit ini menjadi tantangan tersendiri karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Oleh sebab itu, fokus pengobatan diabetes adalah untuk mengurangi komplikasi yang akan terjadi, salah satunya dapat terjadi kerontokan rambut.

Kerontokan rambut adalah kondisi hilangnya rambut lebih dari 120 helai per hari. Rambut rontok dapat terjadi sebagai masalah tersendiri atau keadaan yang menyertai penyakit atau gangguan lain, termasuk pada penderita diabetes. Rambut rontok pada diabetes terjadi karena adanya gangguan metabolisme, komplikasi, atau dapat juga disebabkan karena penderita mengalami stres. Hal ini perlu menjadi perhatian karena jika diabaikan dapat menyebabkan kebotakan. 

Fenomena Rambut Rontok Pada Penderita Diabetes

Pertumbuhan rambut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya hormon, adanya luka, inflamasi, faktor pertumbuhan, dan juga kondisi psikologis, seperti stres. Kondisi penyakit seperti diabetes dikaitkan dengan peningkatan risiko kerontokan rambut di kulit kepala. Hal ini terjadinya karena diabetes adalah penyakit metabolisme kronis yang ditandai dengan kenaikan kadar gula dalam darah yang dapat berpengaruh ke banyak organ.

Fenomena kerontokan rambut ditandai dengan penyusutan folikel rambut secara bertahap dan penipisan batang rambut. Kerontokan rambut yang mengakibatkan adanya kebotakan bagian tertentu pada kepala dapat menimbulkan masalah psikologis seperti, citra tubuh yang negatif, penurunan rasa percaya diri, rasa rendah diri, dan kecemasan sosial.

Penyebab Rambut Rontok Pada Penderita Diabetes

Penyakit diabetes dapat menimbulkan gangguan pada pertumbuhan rambut yang menyebabkan rambut rontok dan/atau kebotakan. Berikut ini beberapa penyebab terjadinya rambut rontok pada penderita diabetes, yaitu:  

1. Gangguan pada pembuluh darah

Gangguan pembuluh darah akibat hiperglikemia kronis berpotensi merusak folikel rambut karena kurangnya aliran darah dan nutrisi sehingga berkontribusi pada kerontokan rambut.

2. Gangguan pada jalur pensinyalan Wnt/β-catenin

Jalur Wnt/β-catenin adalah jalur penting untuk pemeliharaan rambut, pertumbuhan, dan regenerasi folikel rambut. Ketika pensinyalan ini ditekan, kemampuan kulit untuk induksi dan regenerasi rambut pun berkurang. Kondisi gula darah tinggi pada diabetes menyebabkan penekanan jalur pensinyalan Wnt/β-catenin dan penurunan proliferasi sel folikel rambut.

3. Kondisi stres

Penderita diabetes seringkali mengalami stres karena penyakit kronis yang membuat pasien harus rutin mengonsumsi obat dan kontrol ke rumah sakit. Kondisi stres ini dapat memicu kerontokan rambut. 

Cara Mengatasi Rambut Rontok pada Penderita Diabetes

Mengalami kerontokan rambut tentu akan menimbulkan berbagai masalah, terlebih bagi kaum wanita. Oleh karena itu, perlu dilakukan beberapa cara untuk menjaga kesehatan rambut agar tetap sehat, terutama bagi penderita diabetes. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan agar penderita diabetes dapat mengurangi risiko terjadinya kerontokan rambut, yaitu: 

  • Mengontrol kadar gula darah dengan pola makan sehat, aktivitas fisik yang dilakukan dengan rutin, dan konsumsi obat antidiabetes sesuai anjuran dokter.​
  • Mengonsumsi makanan bergizi yang kaya protein, zat besi, seng, dan asam lemak esensial yang dapat membantu pembentukan keratin rambut. 
  • Mengelola stres dengan teknik relaksasi atau konseling kepada profesional.
  • Menggunakan vitamin rambut atau obat rambut rontok. Obat ini bisa didapatkan setelah berkonsultasi dengan dokter dermatologi agar mendapatkan produk yang sesuai dengan kondisi rambut tiap individu.  
  • Menghindari penggunaan produk rambut yang keras atau berbahan kimia berlebihan dengan cara selalu mengecek komposisi produk rambut sebelum membeli.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter jika mengalami:

  • Kontrol gula darah yang kurang baik. Jika penderita diabetes sudah melakukan perubahan gaya hidup dan mengonsumsi obat, tetapi kondisi gula darah tidak kunjung membaik.
  • Terjadi komplikasi seperti, gangguan saraf pada kaki atau tangan, pandangan kabur, luka yang tidak kunjung sembuh
  • Adanya rambut rontok yang berlebihan atau tidak kunjung membaik meskipun sudah mengontrol gula darah.​
  • Terjadinya rambut rontok disertai gejala lain, seperti pandangan kabur, kebas, atau luka yang sulit sembuh.​
  • Kerontokan rambut yang menyebar atau menyebabkan kebotakan.

Untuk berkonsultasi terkait penyakit diabetes dan keluhan lain berupa kerontokan rambut, pasien dapat mengunjungi dokter spesialis berikut:

1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau Subspesialis Endokrin Metabolisme Diabetes

Untuk pengendalian glikemik dan pencegahan terhadap komplikasi, penderita diabetes dapat berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam.

2. Dokter Spesialis Dermatologi (dokter spesialis kulit)

Untuk mengatasi rambut rontok yang terjadi pada penderita diabetes, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter kulit untuk menangani dan  memperbaiki keadaan rambut.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


152-_1_-1200x800.webp

November 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Daging domba sering menjadi pilihan hidangan saat acara khusus. Namun bagi penderita diabetes, muncul kekhawatiran tentang apakah daging ini aman dikonsumsi mengingat kandungan lemaknya yang cukup tinggi.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Daging Domba?

Jawabannya: boleh, selama porsinya tidak berlebihan dan cara memasaknya tepat. Daging domba hampir tidak mengandung karbohidrat, sehingga tidak secara langsung meningkatkan gula darah. 

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Daging Domba

Daging domba merupakan sumber protein hewani yang cukup tinggi, sehingga membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Selain itu, daging ini mengandung berbagai mikronutrien penting seperti zat besi, seng, dan vitamin B12 yang berperan dalam pembentukan sel darah, metabolisme energi, dan kesehatan sistem saraf.

Karena hampir tidak mengandung karbohidrat, indeks glikemik daging domba tergolong rendah dan tidak memicu lonjakan gula darah secara langsung. Namun, perlu diperhatikan bahwa daging domba memiliki kandungan lemak jenuh dan kolesterol yang cukup tinggi, terutama pada potongan yang berlemak.

Manfaat Daging Domba bagi Penderita Diabetes

Bila dikonsumsi dengan porsi wajar, protein dan mineral dalam daging domba dapat mendukung pemeliharaan massa otot, membantu metabolisme tetap optimal, serta berkontribusi terhadap kesehatan tulang. 

Kandungan proteinnya juga membantu rasa kenyang bertahan lebih lama sehingga dapat mengurangi risiko makan berlebihan yang dapat berdampak pada kontrol gula darah.

Bahaya Makan Daging Domba Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Jika dikonsumsi tanpa kontrol, daging domba dapat menyebabkan beberapa masalah berikut:

1. Meningkatkan Kolesterol

Kandungan lemak jenuh yang tinggi dapat memengaruhi kadar kolesterol dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

2. Menambah Berat Badan

Kalori tinggi dari potongan berlemak dapat memicu kenaikan berat badan, sehingga dapat memperburuk resistensi insulin.

3. Mengganggu Kontrol Gula Darah

Asupan lemak jenuh secara berlebihan dapat memperlambat metabolisme glukosa sehingga kontrol gula darah menjadi kurang optimal.

Cara Makan Daging Domba yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar daging domba tetap bisa dinikmati tanpa mengganggu kontrol gula darah, berikut panduan yang dapat diikuti:

1. Batasi porsI

Idealnya 100–150 gram per kali makan. Tidak perlu dikonsumsi setiap hari.

2. Pilih Potongan yang Tepat

Pilih bagian paha atau potongan tanpa banyak lemak. Hindari bagian yang terlalu berlemak atau disajikan bersama kulit.

3. Gunakan Metode Masak yang Lebih Sehat

Metode panggang, kukus, atau rebus lebih aman dibanding menggoreng.

4. Hindari Bumbu Manis atau Berlemak

Kecap manis, saus instan, atau santan berlebih dapat meningkatkan kalori dan gula dalam hidangan.

Kapan Penderita Diabetes Harus Ke Dokter?

Jika setelah mengonsumsi daging domba gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan, sebaiknya segera temui dokter. Dokter penyakit dalam membantu pengelolaan diabetes, sedangkan ahli gizi atau dokter gizi membantu menyesuaikan porsi dan cara olah daging agar tetap aman.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2147831855-1-1200x800.webp

November 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Es krim sering menjadi pilihan saat cuaca panas atau ketika sedang ingin makan sesuatu yang lembut dan manis. Namun, penderita diabetes perlu lebih berhati-hati karena makanan manis seperti es krim dapat memengaruhi kadar gula darah secara langsung. 

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Es Krim?

Jawabannya: boleh sesekali, dengan porsi terbatas. 

Es krim mengandung gula dan karbohidrat yang cepat diserap tubuh. Ini berarti jika dikonsumsi tanpa kontrol, gula darah bisa meningkat dalam waktu singkat. Selain itu, es krim juga mengandung lemak, terutama lemak jenuh, yang dalam jumlah besar dapat berdampak pada berat badan dan kesehatan jantung. 

Bukan berarti es krim harus dihindari selamanya, tetapi perlu strategi khusus agar konsumsinya tetap aman.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Es Krim

Es krim memiliki indeks glikemik sekitar 62, termasuk kategori sedang, sehingga bisa menaikkan gula darah meski tidak secepat makanan ber-IG tinggi. 

Kandungan gizi es krim umumnya didominasi oleh karbohidrat (terutama dari gula), lemak (dari krim atau susu tinggi lemak), serta sedikit protein. Selain itu, banyak es krim komersial mengandung tambahan perisa, pemanis, pewarna, pengemulsi, dan stabilizer untuk meningkatkan rasa dan teksturnya. 

Dari komposisi tersebut terlihat bahwa es krim cenderung tinggi karbohidrat sederhana dan lemak, sehingga jika dikonsumsi berlebihan dapat memicu lonjakan gula darah maupun peningkatan berat badan. Inilah alasan mengapa penderita diabetes perlu mengontrol porsinya dan memilih jenis es krim yang lebih ramah untuk kondisi gula darah.

Bahaya Makan Es Krim Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Mengonsumsi es krim secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai risiko berikut:

1. Gula Darah Cepat Naik

Kandungan gula sederhana dalam es krim mudah diserap tubuh. Dalam jumlah besar, hal ini dapat memicu lonjakan gula darah yang sulit dikendalikan. 

2. Penambahan Berat Badan

Es krim adalah makanan tinggi kalori. Jika dikonsumsi terlalu sering, kalori berlebih dapat menumpuk menjadi lemak. Kenaikan berat badan memperburuk resistensi insulin, sehingga kontrol diabetes semakin sulit.

3. Meningkatkan Kolesterol

Banyak es krim mengandung lemak jenuh dari krim. Jika dikonsumsi berlebihan, kadar kolesterol LDL (kolesterol “jahat”) dapat meningkat, menaikkan risiko penyakit jantung, kondisi yang rentan dialami penderita diabetes.

Cara Makan Es Krim yang Aman bagi Penderita Diabetes

Beberapa langkah berikut dapat membantu penderita diabetes menikmati es krim secara lebih aman:

1. Batasi Porsi

Porsi kecil (1–2 sendok makan) sudah cukup untuk memuaskan keinginan makan manis.

2. Pilih Jenis Rendah Gula

Pilih es krim dengan label “low sugar, no added sugar, atau low calorie” jika tersedia.

3. Perhatikan Frekuensi

Frekuensi yang aman bergantung pada kontrol gula darah masing-masing, tetapi umumnya cukup 1–2 kali per bulan.

4. Hindari Topping Tinggi Gula

Saus cokelat, sirup karamel, atau taburan manis dapat melipatgandakan gula dan kalori. 

Kapan Penderita Diabetes Harus Ke Dokter?

Jika setelah mengonsumsi es krim gula darah sering naik, sebaiknya segera memeriksakan diri. Dokter penyakit dalam membantu pengelolaan diabetes, sementara ahli gizi atau dokter gizi membantu menyesuaikan pola makan dan porsi camilan manis agar tetap aman.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


ketan-putih.webp

November 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Ketan putih adalah jenis beras yang dikenal karena teksturnya yang sangat lengket dan pulen. Ciri khas ini muncul dari kandungan amilopektin yang tinggi, membuat ketan terasa lebih kenyal dibandingkan beras biasa. Rasa gurih, aroma khas, dan bisa diolah menjadi berbagai hidangan, membuat ketan putih menjadi pilihan yang digemari banyak orang.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Ketan Putih?

Penderita diabetes masih boleh makan ketan putih, tetapi sangat tidak disarankan mengonsumsinya dalam jumlah besar maupun terlalu sering. Hal ini karena ketan putih memiliki indeks glikemik tinggi, yang artinya dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat setelah dikonsumsi. 

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Ketan Putih

Ketan putih mengandung kalori dan karbohidrat yang cukup tinggi. Dalam 100 gram ketan putih matang, terdapat sekitar 163 kkal, 35.7 gram karbohidrat, 3 gram protein, dan sangat sedikit serat. Dari sisi indeks glikemik (IG), ketan putih tergolong  tinggi, yaitu di angka 90. 

Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa ketan putih memiliki potensi besar menaikkan gula darah dengan cepat.

Apakah Ada Manfaat Ketan Putih bagi Penderita Diabetes?

Dari sisi pengendalian gula darah, ketan putih tidak memberikan manfaat khusus bagi penderita diabetes. Malah, karena indeks glikemiknya yang tinggi, konsumsi ketan putih bisa cepat meningkatkan kadar gula darah jika tidak dikontrol. Oleh karena itu, bagi penderita diabetes, ketan putih sebaiknya dikonsumsi sesekali saja dan dalam porsi kecil.

Bahaya Makan Ketan Putih Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Mengonsumsi ketan putih secara berlebihan membawa beberapa risiko serius bagi penderita diabetes, antara lain:

1. Lonjakan Gula Darah

Ketan putih memiliki indeks glikemik tinggi, sehingga mengonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan kadar gula darah naik drastis dalam waktu singkat.

2. Kesulitan Merespons Insulin

Lonjakan gula darah yang terjadi berulang membuat tubuh semakin sulit menggunakan insulin secara efektif, sehingga kontrol diabetes menjadi lebih sulit.

Cara Makan Ketan Putih dengan Aman bagi Penderita Diabetes

Meskipun ketan putih sebaiknya dibatasi, penderita diabetes masih bisa menikmatinya sesekali jika memperhatikan cara konsumsi. Beberapa langkah aman yang bisa diikuti meliputi:

1. Batasi Porsi

Cukup 2–3 sendok makan per kali makan agar gula darah tidak melonjak.

2. Hindari Tambahan Gula Lainnya 

Jangan konsumsi ketan durian, ketan susu, atau ketan manis lainnya.

3. Pantau Gula Darah

Lakukan pengukuran sebelum dan 1-2 jam setelah makan untuk melihat respons tubuh.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika gula darah melonjak setelah mengonsumsi ketan putih. 

Dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu mengelola kadar gula darah, memberikan saran pengobatan, dan memantau risiko komplikasi. Sementara itu, dokter gizi atau ahli gizi bisa menyesuaikan menu harian, porsi, dan jenis makanan agar tetap aman dan mendukung kestabilan gula darah.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


15377-_1_-1200x800.webp

November 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Intermittent fasting (IF) atau puasa berselang adalah pola makan yang mengatur kapan seseorang boleh makan dan kapan harus berpuasa. 

Banyak orang menjalani IF untuk mengontrol berat badan atau meningkatkan kesehatan metabolik. Namun, bagi penderita diabetes, pola ini perlu dipahami dengan cermat karena kadar gula darah cenderung mudah berubah.

Bolehkah Penderita Diabetes Melakukan Intermittent Fasting?

Penderita diabetes boleh melakukan IF, tetapi tidak bisa disamakan dengan orang tanpa diabetes. Respons tiap orang berbeda tergantung jenis diabetes, riwayat gula darah, penggunaan obat atau insulin, serta kondisi kesehatan lainnya. 

Beberapa bentuk IF mungkin aman, tetapi ada juga yang terlalu berisiko karena durasi puasanya panjang. Bila tidak dikelola dengan tepat, IF dapat menyebabkan gula darah turun terlalu rendah atau malah melonjak drastis.

Risiko Intermittent Fasting bagi Penderita Diabetes

Beberapa risiko yang perlu diperhatikan sebelum memulai IF:

1. Hipoglikemia

Puasa dalam durasi yang terlalu panjang dapat menyebabkan gula darah turun jauh di bawah batas normal. Kondisi ini lebih berisiko terjadi pada penderita diabetes yang menggunakan obat penurun gula darah. 

Ketika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dalam waktu lama, cadangan glukosa cepat terkuras sehingga muncul gejala seperti gemetar, keringat dingin, lemas, lapar ekstrem, sulit berkonsentrasi, bahkan pingsan.

2. Hiperglikemia

Di sisi lain, intermittent fasting juga dapat memicu lonjakan gula darah, terutama ketika seseorang “balas dendam makan” saat jendela makan dibuka. Pola makan tidak terkontrol, misalnya makan dalam porsi besar atau memilih makanan tinggi karbohidrat sederhana dapat membuat gula darah naik cepat.

3. Dehidrasi 

Durasi puasa yang panjang sering membuat asupan minum ikut berkurang, terutama jika seseorang tidak terbiasa memperhatikan konsumsi cairan. Pada beberapa orang, dehidrasi juga bisa memengaruhi kestabilan gula darah dan membuat tubuh semakin mudah mengalami kelelahan.

Manfaat Intermittent Fasting bagi Penderita Diabetes

Jika intermittent fasting dilakukan dengan strategi yang tepat, pola ini dapat memberikan beberapa manfaat untuk kesehatan metabolik penderita diabetes:

1. Membantu Menurunkan Berat Badan

IF dapat mengurangi total asupan kalori harian karena jam makan yang lebih terbatas. Penurunan berat badan dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga tubuh dapat mengontrol gula darah lebih baik. 

2. Membantu Menstabilkan Gula Darah

Bagi sebagian orang, pengaturan jam makan dapat membuat pola makan lebih teratur dan mengurangi frekuensi ngemil berlebih. Asupan makanan yang lebih teratur membantu mencegah fluktuasi gula darah yang ekstrem. Namun manfaat ini hanya dirasakan jika pilihan makan tetap sehat dan bergizi seimbang.

3. Mendukung Kesehatan Jantung

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa IF bisa membantu menurunkan tekanan darah, kadar trigliserida, dan peradangan dalam tubuh. Karena penderita diabetes rentan terhadap gangguan jantung, manfaat ini menjadi nilai tambah, asalkan IF tetap dilakukan dengan pengawasan.

Apa yang Harus Dilakukan sebelum dan saat Intermittent Fasting

Agar IF aman untuk penderita diabetes, beberapa langkah penting perlu diperhatikan:

1. Konsultasi dengan Dokter atau Ahli Gizi

Setiap orang memiliki kondisi diabetes yang berbeda. Konsultasi membantu menentukan apakah IF aman untuk dilakukan.

2. Pantau Gula Darah Secara Teratur

Pada fase awal mencoba IF, tubuh sedang beradaptasi. Pemantauan gula darah sangat penting untuk memastikan tidak terjadi penurunan atau kenaikan gula darah secara mendadak. 

3. Pilih Metode IF yang Tepat

Durasi yang terlalu ekstrem dapat meningkatkan risiko hipoglikemia dan tidak cocok bagi yang menggunakan insulin atau obat tertentu.

4. Pastikan Asupan Gizi Seimbang Saat Jam Makan

Pilih makanan yang mengandung serat, protein, dan lemak sehat agar gula darah tetap stabil dan tubuh tidak cepat lapar selama berpuasa. Kombinasi ini membantu pelepasan energi yang lebih lambat dan terkontrol. 

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Intermittent Fasting?

Bagian setelah puasa juga berperan penting dalam menjaga kestabilan gula darah dan memastikan tubuh beradaptasi dengan aman terhadap pola intermittent fasting. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Mulai Makan dengan Porsi Kecil 

Sesudah puasa, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Mulai makan dengan pilihan makanan yang “ringan” dan dalam porsi kecil, agar gula darah tidak langsung melonjak. Setelah itu, boleh dilanjutkan ke porsi makan utama dengan komposisi yang lebih seimbang.

2. Cukupi Kebutuhan Cairan

Setelah berjam-jam tidak makan dan minum, tubuh memerlukan cairan untuk menstabilkan tekanan darah dan mendukung proses metabolik. 

3. Perhatikan Respons Tubuh

Jika muncul keluhan seperti pusing, mual, gemetar, atau gula darah yang sangat tidak stabil, pola IF perlu dihentikan atau disesuaikan. Setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda, sehingga respons tubuh menjadi indikator utama apakah IF aman untuk dilanjutkan.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


1412-_1_-1200x800.webp

November 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Kadar gula darah merupakan salah satu indikator dalam menilai kesehatan tubuh. Jika hasil pemeriksaan gula darah 200 mg/dL atau lebih, maka angka tersebut sudah melebihi batas normal. Kadar gula darah normal pada orang dewasa adalah 70-99 mg/dL saat puasa dan 70-139 mg/dL dua jam setelah makan.

Namun, apakah gula darah naik hingga 200 mg/dL selalu berarti diabetes? Untuk memahami hal tersebut, artikel ini akan menjelaskan apa penyebab gula darah naik hingga 200 mg/dL dan apa saja tindakan yang sebaiknya dilakukan.

Penyebab Gula Darah Naik Sampai 200 mg/dL

Kadar gula darah 200 mg/dL baik pada saat puasa atau setelah makan termasuk dalam kategori tinggi. Lonjakan gula darah hingga 200 mg/dL dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Berikut beberapa penyebabnya:

1. Konsumsi Karbohidrat dan Gula Berlebihan

Setelah konsumsi makanan tinggi gula atau karbohidrat sederhana, misalnya nasi putih dalam porsi besar, roti putih, kue, dan minuman manis, tubuh akan memecah karbohidrat dalam makanan tersebut menjadi glukosa dengan cepat. Jika jumlahnya berlebihan, maka gula darah dapat melonjak tajam hingga mencapai 200 mg/dL.

2. Stres Emosional dan Stres Fisik

Stres menyebabkan tubuh mengeluarkan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Hormon ini memicu peningkatan gula darah untuk menyediakan energi tambahan dalam situasi “fight or flight”. Karena itu seseorang dapat mengalami lonjakan gula darah ketika mengalami stres mental atau stres fisik seperti menderita penyakit kronis, infeksi, serta pasca operasi. 

3. Kurang Tidur

Kurang tidur dapat memicu resistensi insulin. Akibatnya, gula darah lebih mudah meningkat. Selain itu, kurang tidur juga mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur rasa kenyang dan lapar. Seseorang yang kurang tidur cenderung merasa lebih lapar sehingga akan makan lebih banyak. Hal itu akan semakin meningkatkan kadar gula darah. 

4. Kurang Aktivitas Fisik

Otot merupakan salah satu organ yang paling banyak menggunakan glukosa sebagai energi. Bila seseorang mempunyai sedentary lifestyle, yaitu gaya hidup yang jarang bergerak atau terlalu lama duduk, maka penggunaan gula darah sebagai energi akan minimal. Akibatnya gula darah semakin menumpuk dan menyebabkan lonjakan kadar gula darah.

5. Efek Obat-obatan Tertentu

Beberapa obat dapat meningkatkan kadar gula darah, seperti:

  • Kortikosteroid (prednison, metilprednisolon)
  • Pil kontrasepsi tertentu
  • Obat tekanan darah golongan diuretik tiazid
  • Antipsikotik

Kenaikan ini biasanya bersifat sementara, ketika penggunaan obat sudah dihentikan, kemungkinan kadar gula darah bisa kembali seperti semula. 

6. Gangguan Insulin

Jika terjadi masalah pada insulin, baik jumlahnya tidak cukup atau terjadi resistensi insulin, maka metabolisme glukosa akan terganggu. Hormon insulin membantu proses penyerapan gula darah ke dalam sel.

Jika jumlah insulin tidak cukup atau terjadi resistensi insulin, maka glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel secara maksimal. Akibatnya, glukosa tetap berada di aliran darah dan menyebabkan lonjakan kadar gula darah. 

Mengapa Gula Darah Bisa Naik Sampai 200 mg/dL Tanpa Gejala?

Sebagian besar orang dengan kadar gula 200 mg/dL tidak mengalami gejala. Hal ini sering membuat kondisi ini tidak terdeteksi. Berikut beberapa penyebab gula darah naik tapi tidak menimbulkan gejala:

1. Tubuh Terbiasa dengan Kadar Gula yang Lebih Tinggi

Jika kadar gula naik secara perlahan atau sering berada di angka yang melebihi normal, tubuh dapat beradaptasi sehingga gejala tidak muncul. Kondisi ini sering terjadi pada prediabetes, yaitu ketika gula darah sudah melebihi normal tetapi belum cukup tinggi untuk disebut diabetes. 

2. Gejala Biasanya Muncul pada Kadar Gula Darah yang Lebih Tinggi

Gula darah tinggi dapat menyebabkan gejala klasik, yaitu sering buang air kecil (poliuria), mudah haus (polidipsia), dan cepat lapar (polifagia), yang sering disebut 3P. Gejala ini biasanya muncul ketika gula darah lebih tinggi dan terjadi dalam jangka panjang. 

3. Lonjakan Sementara

Jika lonjakan gula darah terjadi sementara, misalnya setelah makan porsi besar, kurang tidur, atau stres, gula darah hanya naik dalam waktu singkat sehingga tubuh belum menunjukkan gejala.

4. Perbedaan Sensitivitas

Setiap orang memiliki sensitivitas berbeda terhadap perubahan kadar gula. Ada yang sangat sensitif, ada pula yang sama sekali tidak merasakan perubahan meskipun gula darah cukup tinggi.

Apakah Gula Darah Naik Sampai 200 mg/dL Pasti Menandakan Diabetes?

Kadar gula darah naik sampai 200 mg/dL belum tentu diabetes. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, lonjakan kadar gula darah bisa disebabkan oleh berbagai faktor dan bisa saja hanya sementara. 

Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi akibat gangguan produksi insulin pada DM tipe 1 dan resistensi insulin pada DM tipe 2.

Diagnosis diabetes ditegakkan bila kadar glukosa darah puasa ≥126 mg/dL dan hasil tes HbA1c ≥6,5%. Diabetes bisa disertai gejala khas seperti sering buang air kecil, haus berlebih, dan penurunan berat badan tanpa sebab. 

Bahaya Gula Darah Naik Sampai 200 mg/dL

Meski bukan diagnosis pasti diabetes, kadar gula 200 mg/dL tetap tidak boleh diabaikan. Jika terjadi dalam jangka panjang, maka dapat mengakibatkan berbagai komplikasi seperti berikut:

1. Kerusakan Pembuluh Darah

Gula darah tinggi menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil di mata, ginjal, dan saraf. Jika terjadi berkepanjangan, risiko retinopati, neuropati, dan penyakit ginjal meningkat.

2. Menurunkan Sensitivitas Insulin

Lonjakan gula darah berulang membuat sel semakin sulit merespons insulin sehingga terjadi resistensi. Hal ini dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

3. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Gula darah tinggi meningkatkan peradangan dan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah besar. Hal ini meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, dan stroke. 

Apa yang Harus Dilakukan Jika Gula Darah Naik Sampai 200 mg/dL?

Jika hasil pemeriksaan kadar gula darah mencapai 200 mg/dL, berikut langkah yang bisa dilakukan:

1. Evaluasi Pola Makan

Coba evaluasi kembali pola makan selama beberapa waktu ke belakang. Bila memungkinkan, catat makanan dan minuman apa saja yang dikonsumsi . 

Hindari minuman kemasan, makanan cepat saji, makanan tinggi tepung dan gula karena dapat menyebabkan lonjakan gula darah. Ganti dengan makanan sehat yang mengandung tinggi serat, protein, dan karbohidrat kompleks.

2. Rutin Melakukan Aktivitas Fisik

Selain mengevaluasi pola makan, evaluasi juga gaya hidup yang lain. Apakah sudah rutin olahraga? Aktivitas fisik yang rutin, walaupun aktivitas ringan seperti berjalan kaki dapat membantu menurunkan gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin. 

Jalan kaki 30 menit, sebanyak 5 kali per minggu sudah cukup membantu menurunkan gula darah karena otot menggunakan glukosa sebagai energi.

3. Kelola Stres dan Perbaiki Kualitas Tidur

Jika pikiran sedang kalut dan stres, coba lakukan aktivitas untuk mengurangi tingkat stres. Lakukan hobi atau kegiatan yang menyenangkan untuk meningkatkan suasana hati. 

Selain itu, kamu bisa mencoba yoga, meditasi, atau melatih teknik pernapasan untuk mengurangi stres. Jika perlu, dikonsultasikan dengan profesional seperti psikolog atau psikiater. Selain mengelola stres, perbaiki kualitas tidur untuk membantu menjaga kadar gula darah. 

4. Periksa Ulang Gula Darah di Waktu Berbeda

Untuk memastikan hasil yang akurat, coba periksa ulang kadar gula darah di beberapa waktu, yaitu gula darah puasa dan 2 jam setelah makan. Kamu juga bisa memeriksa kadar HbA1c untuk mengetahui rata-rata gula darah 2-3 bulan terakhir. Konsultasikan hasilnya kepada dokter untuk mendapat penanganan yang tepat. 

Kalau Anda mau cek gula darah, ayo klik tautan ini!

Konsultasi Gula Darah di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah atau mengalami gula darah tinggi, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2149229155-_1_-1200x800.webp

November 21, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diabetes merupakan penyakit metabolik kronis yang menjadi perhatian global. Seiring bertambahnya angka kejadian obesitas, meningkat pula angka kejadian diabetes. Oleh karena itu, diabetes seringkali dikaitkan dengan penderita obesitas. 

Secara teori, obesitas dapat menyebabkan resistensi insulin yang kemudian dapat berkembang menjadi diabetes. Lantas, apakah orang dengan berat badan normal atau kurang tidak akan mengalami diabetes? Yuk, kita simak jawabannya.

Apakah Orang Kurus Bisa Kena Diabetes?

Ya, orang kurus atau orang dengan berat badan normal dapat menderita diabetes. Perjalanan penyakit diabetes pada orang kurus berbeda dengan diabetes tipe 2 pada orang dengan obesitas. Pasien diabetes dengan obesitas diakibatkan karena adanya resistensi insulin sehingga glukosa sulit masuk ke dalam sel, lalu  menumpuk di dalam darah. Pada pasien diabetes yang kurus, kelainan utama yang menyebabkan kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) adalah gangguan pengeluaran hormon insulin pankreas yang sebagian disebabkan oleh berkurangnya massa sel beta pankreas.

Penyebab Diabetes pada Orang Kurus

Penyebab diabetes pada orang kurus bersifat multifaktorial, baik yang bersifat internal maupun eksternal pasien. Beberapa faktor tersebut, yaitu:

1. Distribusi lemak tubuh

Distribusi lemak pada area perut, yang biasa disebut dengan lemak viseral bisa menjadi prediktor diabetes tipe 2 yang lebih kuat daripada indeks massa tubuh (IMT).

Selain itu, penyakit perlemakan hati non-alkohol biasanya berkaitan dengan obesitas, tetapi penyakit ini juga bisa berkembang pada orang dengan IMT normal dan bisa menjadi faktor risiko terjadinya diabetes pada orang yang kurus. 

2. Berkurangnya massa otot (sarkopenia)

Sarkopenia adalah kelainan pada otot yang ditandai dengan penurunan massa dan/atau kekuatan otot, serta terjadinya penurunan kualitas otot. 

Kondisi ini menjadi faktor risiko terjadinya diabetes pada orang yang kurus karena otot rangka merupakan jaringan yang paling sensitif terhadap insulin dengan cara membuang 70-90% glukosa setelah makan. 

3. Faktor Genetik

Modulator genetik juga dapat memengaruhi penurunan fungsi sel beta pada kelompok diabetes dengan berat badan normal.

4. Malnutrisi 

Kekurangan atau kelebihan gizi pada masa pertumbuhan awal kehidupan memiliki pengaruh terhadap terjadinya gangguan metabolik pada saat dewasa. Kekurangan gizi, terutama kekurangan protein selama masa pertumbuhan dapat memicu terjadinya diabetes tipe 2 pada orang yang kurus ketika dewasa dan sering terjadi di negara berkembang. 

5. Perilaku dan gaya hidup tidak sehat

Konsumsi alkohol dan merokok merupakan penyebab terjadinya diabetes pada orang yang kurus. Konsumsi alkohol kronis dapat menginduksi gangguan fungsi dan kematian sel beta pankreas (sel yang memproduksi insulin). Selain itu, paparan terhadap perokok pasif dan aktif memiliki hubungan dengan risiko terjadinya diabetes.

Terapi Bagi Orang yang Kurus dan Menderita Diabetes

Secara umum, terapi pada diabetes meliputi terapi dengan obat dan perubahan gaya hidup.

1. Obat Antidiabetes

Terapi obat diberikan bersamaan dengan perubahan gaya hidup. Terdapat dua jenis obat antidiabetes (OAD), yaitu obat oral (yang diminum) dan suntikan. Jenis obat yang diberikan bergantung pada hasil evaluasi dokter. 

2. Gaya hidup sehat

a. Pola makan

Perlu adanya keseimbangan makronutrien pada makanan dengan kalori yang cukup. Bagi pasien diabetes yang kurus, kebutuhan kalorinya ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan berat badan.

b. Aktivitas fisik

Aktivitas fisik sebaiknya tetap dilakukan karena merupakan salah satu pilar pengelolaan pasien diabetes. Dianjurkan melakukan olahraga teratur 3-5 hari setiap minggu selama sekitar 30-45 menit dengan total per minggu sebanyak 150 menit. 

Kapan Pasien Diabetes Harus ke Dokter?

Beberapa kondisi di bawah ini dapat menjadi acuan kapan pasien diabetes perlu berkonsultasi dengan dokter, di antaranya:

  • Pasien diabetes harus melakukan kontrol rutin minimal satu bulan sekali, baik itu oleh dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, atau pun dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes bergantung pada kondisi pasien dan status rujukannya. 
  • Jika pasien mengalami komplikasi akut, seperti hipoglikemia, sesak napas, tidak sadarkan diri, berat badan yang menurun dengan cepat dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan sekunder atau tersier untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesegera mungkin. 
  • Jika didapatkan gejala yang mengarah pada komplikasi lainnya, seperti neuropati atau retinopati diabetes, maka pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis berdasarkan jenis komplikasinya.
  • Jika diperlukan, kontrol berat badan juga dilakukan untuk mengevaluasi apakah berat badan pasien sudah sesuai dengan target dokter. 

Selain berkonsultasi dengan dokter umum, penanganan diabetes lebih lanjut dapat dilakukan dengan berkonsultasi ke dokter spesialis, terutama untuk kasus diabetes dengan kondisi tertentu. Dokter spesialis yang dapat menanganinya adalah: 

1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Pelayanan dokter spesialis penyakit dalam dilakukan sebagai skrining awal dan pemeriksaan lebih lengkap. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi adanya komplikasi atau tidak.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrin Metabolisme Diabetes

Jika pada pasien ditemukan salah satu dari beberapa komplikasi, seperti:

  1. adanya komplikasi akut berupa ketoasidosis atau hyperglycemic/hyperosmolar state
  2. tidak adanya penurunan hasil pemeriksaan laboratorium pada diabetes dalam 3 bulan; 
  3. tidak tercapainya target dalam terapi antidiabetes (AOD) tunggal dan kombinasi selama 3 bulan, dan lain-lain 

maka pasien perlu dirujuk ke dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes.

3. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Jika pasien diabetes mengalami underweight (berat badan kurang), tentu membutuhkan pola makan khusus yang dapat diberikan oleh dokter spesialis gizi klinik agar kebutuhan kalorinya dapat tercukupi dan tetap sesuai pola makan sehat sebagai terapi diabetes.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2150756392-_2_-_1_-1200x798.webp

November 21, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Ozempic dan Wegovy adalah dua obat yang sama-sama mengandung semaglutide dan termasuk golongan GLP-1 receptor agonist. Keduanya berperan dalam membantu mengontrol gula darah dan menurunkan berat badan. 

Meski kandungannya sama, ozempic dan wegovy digunakan untuk tujuan terapi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan klinis pasien. Apa saja perbedaan ozempic dan wegovy?

Artikel ini membahas perbedaan Ozempic dan Wegovy dari berbagai perspektif mulai dari tujuan, dosis, efek samping, dan kategori pasien yang cocok. Simak hingga selesai, ya! 

1. Tujuan Pengobatan (Primary Indication)

Ozempic disetujui oleh BPOM dan FDA khusus untuk mengobati diabetes tipe 2. Fungsi utamanya adalah membantu tubuh mengontrol kadar gula darah. Obat ini meningkatkan respons insulin, mengurangi produksi gula oleh hati, serta memperlambat pengosongan lambung.

Selain itu, ozempic terbukti mengurangi risiko kejadian kardiovaskular mayor seperti serangan jantung dan stroke pada pasien diabetes tipe 2. Penurunan berat badan memang terjadi pada sebagian pasien yang mengonsumsi ozempic, tetapi bukan tujuan utama penggunaannya.

Sementara itu, wegovy diformulasikan untuk manajemen obesitas, bukan untuk diabetes. Obat ini diberikan pada pasien yang memiliki BMI ≥ 30 atau BMI ≥ 27 tetapi memiliki penyakit komorbid seperti hipertensi, kolesterol tinggi, atau diabetes tipe 2.

Efek utama dari wegovy adalah menurunkan nafsu makan, memperpanjang rasa kenyang, dan pada akhirnya menurunkan berat badan secara signifikan. Wegovy tidak ditujukan untuk menurunkan gula darah dan bukan terapi lini utama untuk diabetes.

2. Dosis

Dosis ozempic dimulai dari yang rendah, yaitu mulai dari 0,25 mg per minggu, kemudian dinaikkan secara bertahap menjadi 0,5 mg dan dosis maksimalnya adalah 2 mg per minggu. Peningkatan dosis ditentukan oleh dokter yang menangani berdasarkan kondisi klinis pasien. 

Penggunaan wegovy juga dimulai dari dosis rendah lalu dinaikkan secara bertahap. Namun, dosis akhir wegovy jauh lebih tinggi daripada ozempic. Dosis awal wegovy mulai dari 0,25 mg, lalu bisa dinaikkan menjadi 0,5 mg hingga mencapai dosis maksimal 4 mg per minggu.

Dosis tinggi wegovy bertujuan memaksimalkan efek penurunan berat badan. Untuk mencapai hasil penurunan berat badan yang signifikan dibutuhkan kadar semaglutide yang lebih besar dibanding pada pengobatan diabetes.

3. Mekanisme Kerja Obat

Ozempic dan wegovy bekerja melalui mekanisme yang sama, yaitu mengaktifkan GLP-1 receptor. GLP-1 atau glucagon-like peptide-1 adalah hormon yang diproduksi Oleh tubuh untuk membantu pencernaan. 

Kedua obat ini dapat meningkatkan pelepasan insulin ketika gula darah naik, menekan pelepasan glukagon dari hati, sehingga mencegah proses pemecahan glukosa di hati, dan memperlambat pengosongan lambung. 

Walaupun mempunyai mekanisme kerja yang sama, kuatnya efek obat berbeda. Penurunan nafsu makan terjadi pada kedua obat, tetapi lebih kuat pada wegovy karena dosisnya lebih besar.

4. Efek Samping

Karena merupakan golongan obat yang sama, efek samping ozempic dan wegovy cenderung serupa, antara lain:

  •  Mual
  •  Muntah
  •  Diare atau konstipasi
  •  Perut kembung
  •  Nafsu makan turun

Namun, karena dosis wegovy lebih besar maka kemungkinan efek sampingnya lebih besar, seperti mual lebih berat, kram perut, serta intoleransi gastrointestinal. 

Selain itu, wegovy dan ozempic juga berisiko menimbulkan efek samping yang lebih serius, yaitu:

  • Pankreatitis
  • Batu empedu
  • Alergi berat hingga sesak napas
  • Hipoglikemia, biasanya jika dikombinasikan dengan obat diabetes lain. 

5. Siapa yang Cocok Menggunakan Ozempic dan Wegovy? 

Sesuai dengan indikasi obatnya, maka ozempic cocok digunakan oleh pasien diabetes tipe 2, pasien diabetes yang ingin menurunkan berat badan secara perlahan, dan pasien yang memiliki risiko kardiovaskular yang tinggi. 

Sedangkan wegovy cocok untuk pasien obesitas walau tanpa diabetes, pasien overweight dan memiliki komorbid seperti hipertensi atau kolesterol tinggi, serta pasien yang membutuhkan penurunan berat badan lebih besar untuk menurunkan risiko penyakit metabolik.

Namun, perlu diingat bahwa penggunaan ozempic dan wegovy harus dengan resep dokter. Jadi, jangan sembarangan menggunakan kedua obat ini karena bisa menyebabkan efek yang merugikan jika digunakan tidak sesuai indikasi.

Konsultasi dengan Dokter Terlebih Dahulu

Jika Anda memiliki masalah berat badan, maka segera konsultasi ke dokter spesialis gizi klinik. Sementara itu, jika Anda memiliki diabetes, sebaiknya konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam.

Primecare Clinic memiliki dokter spesialis gizi dan dokter spesialis penyakit dalam. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya terkait konsultasi dengan dokter tersebut.


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.