42591-_1_-1200x800.webp

November 25, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Tren hidup sehat semakin mendorong banyak orang untuk memperhatikan asupan gula harian. Salah satu konsep yang kini populer adalah makanan rendah gula. 

Apa Itu Makanan Rendah Gula?

Makanan rendah gula adalah makanan yang mengandung jumlah gula sederhana dalam kadar minimal, baik gula tambahan maupun gula alami. Biasanya, makanan ini memiliki nilai indeks glikemik (GI) dan beban glikemik (GL) yang rendah, sehingga glukosa dari makanan diserap tubuh secara perlahan dan tidak memicu lonjakan kadar gula darah yang tajam.

Ciri-Ciri Makanan Rendah Gula

Makanan rendah gula bisa dikenali dari beberapa hal berikut:

  1. Kadar gula total rendah, baik yang berasal dari bahan alami maupun dari tambahan gula.
  2. Kaya serat, sehingga membantu memperlambat penyerapan gula di dalam tubuh dan menjaga kadar gula darah lebih stabil.
  3. Rasanya tidak terlalu manis, karena minim pemanis buatan maupun gula tambahan.
  4. Mengandung protein atau lemak sehat, seperti dari kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, atau produk susu nabati tanpa tambahan gula.
  5. Memiliki indeks glikemik rendah, biasanya di bawah angka 55, yang berarti tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat.                                                    

Kelebihan Makanan Rendah Gula

Mengonsumsi makanan rendah gula memberikan banyak manfaat, terutama bagi kesehatan metabolik dan jantung. Beberapa kelebihannya antara lain:

1. Menjaga Kestabilan Kadar Gula Darah

Asupan gula yang lebih rendah membantu tubuh mengatur kadar glukosa dengan lebih efisien, sehingga energi tidak mudah naik-turun dan risiko hiperglikemia bisa berkurang.

2. Mendukung Pengelolaan Berat Badan

Makanan rendah gula mencegah lonjakan insulin yang berlebihan, sehingga rasa lapar lebih terkendali dan penumpukan lemak berkurang.

3. Menurunkan Risiko Peradangan Kronis

Konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang dapat memicu peradangan di tubuh karena sistem kekebalan dan metabolisme dapat bekerja lebih optimal.

4. Membantu Menjaga Energi Tetap Stabil

Makanan rendah gula membuat tubuh tidak cepat lemas atau mengantuk setelah makan, berbeda dengan efek “sugar crash” dari makanan manis berlebihan.

Kekurangan Makanan Rendah Gula

Meski menyehatkan, makanan rendah gula tetap memiliki beberapa kekurangan, antara lain:

1. Rasa yang Kurang Manis

Bagi sebagian orang, cita rasanya bisa terasa “kurang nikmat” karena terbiasa dengan makanan manis. Hal ini sering membuat proses adaptasi di awal terasa sulit.

2. Harga Relatif Lebih Mahal

Produk olahan rendah gula, seperti camilan, minuman, atau susu rendah gula biasanya menggunakan bahan pengganti gula yang lebih mahal, sehingga harganya juga relatif lebih tinggi.

3. Risiko Kekurangan Energi

Jika pola makan rendah gula tidak diimbangi dengan sumber karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, atau umbi-umbian, tubuh bisa kekurangan energi dan mudah lelah.

Siapa yang Cocok dan Tidak Cocok Mengonsumsi Makanan Rendah Gula

Makanan rendah gula bisa menjadi pilihan yang baik bagi beberapa kelompok berikut:

1. Penderita Diabetes atau Pre-diabetes

Pola makan rendah gula membantu menjaga kadar glukosa darah tetap stabil dan mencegah lonjakan setelah makan.

2. Orang dengan Risiko Obesitas, Sindrom Metabolik, atau Penyakit Jantung

Asupan gula yang lebih sedikit dapat memperbaiki profil lipid, menurunkan risiko peradangan, dan menjaga kesehatan jantung.

3. Individu yang Ingin Menurunkan Berat Badan

Makanan rendah gula membantu kadar gula lebih terkontrol, sehingga tubuh lebih mudah mengatur nafsu makan dan terhindar dari rasa lapar berlebih.

Sementara itu, makanan rendah gula sebaiknya tidak dijadikan pilihan utama oleh kelompok berikut:

4. Anak-anak Dalam Masa Pertumbuhan

Mereka membutuhkan energi dan karbohidrat yang cukup untuk mendukung perkembangan otak dan tubuh.

5. Atlet atau Individu dengan Aktivitas Fisik Tinggi

Asupan karbohidrat yang memadai penting untuk menjaga stamina, performa latihan, dan pemulihan otot.

6. Orang dengan Berat Badan Rendah 

Pola makan terlalu rendah gula bisa membuat asupan energi tidak mencukupi, sehingga berisiko menyebabkan kelelahan dan penurunan massa tubuh.

Contoh Makanan Rendah Gula

Makanan rendah gula bisa dengan mudah ditemukan di sekitar. Berikut beberapa contohnya:

1. Sayuran Hijau

Sayuran hijau seperti bayam, brokoli, kangkung, dan sawi hampir tidak mengandung gula dan kaya serat, sehingga membantu menjaga kestabilan gula darah.

2. Buah dengan Kadar Gula Rendah

Buah-buahan seperti stroberi, alpukat tetap memberikan vitamin dan antioksidan tanpa menyebabkan lonjakan gula darah yang signifikan.

3. Sumber Protein

Makanan berprotein tinggi seperti telur, ayam, ikan, tahu, dan tempe membantu memperlambat penyerapan gula dalam tubuh.

4. Sumber Lemak Sehat

Lemak sehat seperti kacang mede, almond, biji chia, dan biji rami berperan dalam menjaga kadar kolesterol dan memberikan rasa kenyang lebih lama.

Makanan Rendah Gula untuk Penderita Diabetes

Bagi penderita diabetes, makanan rendah gula bukan sekadar pilihan, tetapi bagian penting dari pengelolaan penyakit. Makanan dengan indeks glikemik (GI) dan beban glikemik (GL) rendah membantu tubuh menyerap gula secara perlahan, sehingga kadar glukosa darah tidak melonjak tiba-tiba setelah makan.

Kestabilan kadar gula darah ini sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang, seperti kerusakan pembuluh darah, gangguan saraf, serta masalah pada jantung dan ginjal. Selain itu, pola makan rendah gula juga membantu menjaga berat badan tetap ideal dan meningkatkan sensitivitas insulin, yang menjadi kunci utama dalam pengendalian diabetes.

Untuk penderita diabetes, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi untuk mendapatkan pola makan serta diet dan medikasi yang tepat untuk penderita diabetes untuk mencapai tujuan seperti menurunkan kadar HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148933462-_1_-1200x801.webp

November 25, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Kesadaran untuk membatasi konsumsi gula kini semakin meningkat. Banyak orang mulai beralih ke makanan tanpa gula, baik karena alasan kesehatan, pola hidup, maupun kebutuhan medis seperti diabetes.

Apa Itu Makanan yang Tidak Mengandung Gula?

Makanan tanpa gula adalah jenis makanan yang tidak mengandung gula tambahan (seperti sukrosa, glukosa, atau sirup jagung tinggi fruktosa), dan umumnya memiliki kandungan gula alami yang sangat rendah atau bahkan nihil. Tujuannya bukan sekadar mengurangi rasa manis, tetapi untuk membantu tubuh menjaga kadar gula darah tetap stabil tanpa memicu lonjakan glukosa secara tiba-tiba.

Ciri-Ciri Makanan yang Tidak Mengandung Gula

Berikut beberapa ciri yang bisa membantu mengenali apakah suatu makanan tergolong tanpa gula:

1. Label “Sugar-Free” dengan Kadar Gula Sangat Rendah

Produk disebut tanpa gula jika mencantumkan label “sugar-free” dan mengandung kurang dari 0,5 gram gula per sajian, sesuai standar BPOM dan FDA. Jumlah ini tergolong sangat kecil dan tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar gula darah.

2. Mengandung Pemanis Rendah Kalori 

Produk tanpa gula seringnya tetap memiliki rasa manis karena menggunakan pemanis rendah kalori yang lebih aman untuk gula darah.

3. Lebih Kaya Protein, Serat, atau Lemak Sehat

Makanan tanpa gula biasanya mengutamakan protein, serat, dan lemak sehat sebagai sumber energi yang tidak memicu peningkatan gula darah.

Kelebihan Makanan yang Tidak Mengandung Gula

Mengonsumsi makanan tanpa gula memberikan berbagai manfaat, terutama untuk kesehatan jangka panjang:

1. Menjaga Kestabilan Gula Darah

Pola makan tanpa gula dapat membantu mencegah lonjakan gula darah yang tiba-tiba, sehingga kadar glukosa tetap lebih seimbang sepanjang hari. 

2. Menurunkan Risiko Obesitas

Tanpa asupan gula berlebih, kadar insulin lebih terkontrol sehingga tubuh tidak mudah menyimpan lemak berlebihan.

3. Mendukung Kesehatan Jantung

Pola makan rendah gula berperan dalam menjaga kadar trigliserida dan kolesterol jahat (LDL), dua faktor utama penyebab penyakit jantung.

Kekurangan Makanan yang Tidak Mengandung Gula

Meski tampak ideal, pola makan tanpa gula juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan:

1. Rasa Makanan Bisa Hambar

Mengurangi gula membuat cita rasa makanan berubah, dan hal ini sering membuat sulit mempertahankan pola makan dalam jangka panjang.

2. Risiko Kekurangan Energi

Bagi individu dengan aktivitas tinggi atau metabolisme cepat, pola makan tanpa gula berpotensi membuat tubuh lebih cepat lelah karena berkurangnya sumber energi cepat.

3. Kurang Variasi Makanan

Banyak orang tanpa sadar ikut menghindari buah atau produk alami lain yang sebenarnya mengandung gula baik, sehingga asupan gizi menjadi kurang beragam.

4. Potensi Kekurangan Zat Gizi

Jika dilakukan terlalu ketat, pola makan tanpa gula bisa menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral tertentu yang seharusnya diperoleh dari bahan makanan alami.

Siapa yang Cocok dan Tidak Cocok Mengonsumsi Makanan Tanpa Gula?

Bagi sebagian orang, pola makan tanpa gula dapat membawa banyak manfaat. Namun, tidak semua orang cocok untuk menjalankannya. Berikut ini adalah kelompok yang paling sesuai dan yang sebaiknya berhati-hati dengan makanan yang tidak mengandung gula:

Siapa yang Cocok?

1. Penderita Diabetes atau Prediabetes

Pola makan tanpa gula membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, sehingga risiko lonjakan glukosa setelah makan bisa diminimalkan.

2. Orang dengan Obesitas atau Sindrom Metabolik

Membatasi gula berlebih membantu mengontrol berat badan dan menurunkan risiko komplikasi metabolik.

Siapa yang Tidak Cocok?

1. Anak-anak

Tubuh yang sedang tumbuh memerlukan karbohidrat untuk energi dan perkembangan otak yang optimal.

2. Atlet atau Pekerja Fisik Berat

Aktivitas tinggi membutuhkan energi cepat dari karbohidrat yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh makanan tanpa gula.

Contoh Makanan yang Tidak Mengandung Gula

Berikut beberapa contoh makanan alami dan olahan yang bebas gula:

1. Sayuran Rendah Karbohidrat (Non-Tepung)

Hampir semua sayuran rendah karbohidrat seperti bayam, selada, brokoli, kol, dan timun bebas gula. Sayuran ini aman dikonsumsi tanpa khawatir menyebabkan lonjakan gula darah.

2. Sumber Protein

Telur, ayam, ikan, tahu, tempe, dan daging tanpa bumbu manis juga termasuk makanan bebas gula. Perlu diperhatikan bahwa saus atau bumbu siap saji yang mengandung gula bisa menambah kadar gula.

3. Produk Kemasan dengan Klaim “Sugar-Free”

Produk ini biasanya menggunakan pemanis rendah kalori sehingga tetap terasa manis, namun tidak meningkatkan kadar gula darah secara signifikan.

Makanan Tanpa Gula untuk Penderita Diabetes

Bagi penderita diabetes, makanan tanpa gula bisa menjadi bagian penting dari pola makan sehari-hari. Mengurangi atau menghindari gula membantu mengontrol kadar glukosa darah, menurunkan risiko komplikasi, dan meningkatkan sensitivitas insulin.

Untuk penderita diabetes, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi untuk mendapatkan pola makan serta diet dan medikasi yang tepat untuk penderita diabetes untuk mencapai tujuan seperti menurunkan kadar HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


44917-_1_-1200x800.webp

November 25, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Bisul dalam bahasa medis disebut dengan furunkel. Bisul merupakan infeksi pada folikel rambut yang ditandai dengan benjolan lunak, berwarna kemerahan, nyeri, dan berisi nanah. Penyebab tersering bisul adalah infeksi bakteri Staphylococcus aureus. Namun, bakteri dan jamur lain juga bisa menyebabkan bisul. 

Pada penderita diabetes, bisul bisa menjadi lebih berbahaya. Pasalnya, kadar gula darah yang tinggi dapat mengganggu penyembuhan bisul. Oleh karena itu, penderita diabetes perlu lebih waspada jika muncul bisul. 

Untuk memahami lebih lanjut tentang bisul pada penderita diabetes, simak artikel ini hingga selesai, ya! 

Penyebab Bisul pada Penderita Diabetes

Penderita diabetes lebih rentan mengalami bisul karena beberapa mekanisme, yaitu:

a. Menurunnya Sistem Kekebalan Tubuh

Kadar gula darah yang tinggi menghambat fungsi sel darah putih yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini menurunkan kemampuan tubuh untuk melawan bakteri, termasuk bakteri penyebab bisul.

b. Kulit Lebih Kering dan Rentan Iritasi

Penderita diabetes kerap mengalami masalah pada kulit. Fluktuasi kadar gula darah dapat menyebabkan kulit kehilangan kelembabannya. Kulit yang kering dan pecah-pecah meningkatkan risiko masuknya bakteri penyebab bisul.

c. Neuropati Diabetik

Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan saraf perifer sehingga terjadi penurunan sensasi pada bagian tubuh tertentu, terutama kaki. Akibatnya, jika terjadi luka kecil, gesekan, atau iritasi kulit sering tidak disadari, sehingga mudah berkembang menjadi infeksi yang lebih berat.

d. Kondisi Kulit yang Mendukung Pertumbuhan Bakteri

Gula darah yang tinggi menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi bakteri sehingga lebih cepat tumbuh dan menyebar. Akibatnya, bakteri penyebab bisul lebih mudah untuk menginfeksi. 

e. Sirkulasi Darah yang Buruk

Pada penderita diabetes yang tidak terkontrol, kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil yang menyuplai kulit. Berkurangnya aliran darah akan membuat penyembuhan luka lebih lama, sehingga luka bertambah parah dan infeksi lebih mudah menyebar. 

Apakah Munculnya Bisul Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Bisul tidak selalu berkaitan dengan diabetes dan dapat terjadi pada siapa saja. Faktor-faktor berikut dapat menyebabkan seseorang terkena bisul meskipun tidak memiliki diabetes:

  • Kebersihan kulit yang tidak terjaga
  • Gesekan atau iritasi kulit
  • Penurunan sistem kekebalan tubuh, misalnya saat sakit, penderita HIV, atau sedang menjalani kemoterapi. 
  • Terpapar bahan kimia yang menyebabkan iritasi kulit
  • Mengalami masalah kulit seperti jerawat atau eksim
  • Sering beraktivitas di luar ruangan yang berdebu dan panas sehingga banyak berkeringat. 
  • Infeksi bakteri akibat luka kecil misalnya setelah bercukur

Jika bisul sering kambuh, muncul banyak sekaligus, atau sulit sembuh dapat menjadi tanda adanya gangguan imunitas atau gula darah yang tidak stabil. Segera konsultasi dengan dokter agar mendapat pengobatan yang tepat. 

Apakah Bisul pada Penderita Diabetes Berbahaya?

Bisul pada penderita diabetes bisa lebih berbahaya dibandingkan pada orang tanpa diabetes. Gangguan sirkulasi darah serta sistem imun yang menurun akibat kontrol gula darah yang buruk menyebabkan proses penyembuhan bisul menjadi lebih lambat.

Jika tidak segera ditangani, infeksi bisa menyebar ke jaringan sekitarnya dan berkembang menjadi gangren atau kematian jaringan, ditandai dengan kulit berubah warna menjadi hitam dan mati rasa. Jika sudah terjadi gangren, maka harus diamputasi. 

Pada kasus tertentu, terutama jika tidak ditangani dengan benar, infeksi dapat menyebar ke aliran darah dan menyebabkan kondisi serius seperti sepsis.

Cara Mencegah dan Mengatasi Bisul pada Penderita Diabetes

Berikut beberapa tips untuk mencegah dan mengatasi bisul pada penderita diabetes:

1. Jaga Kebersihan Kulit

Kebersihan kulit penting untuk diperhatikan agar terhindar dari bakteri dan kuman penyebab bisul. Mandi secara teratur menggunakan sabun yang lembut untuk menjaga kebersihan kulit.

Setelah mandi, keringkan kulit menggunakan handuk yang lembut. Pastikan semua lipatan kulit kering sempurna untuk mencegah pertumbuhan bakteri.

2. Kendalikan Kadar Gula Darah

Penderita diabetes harus mengontrol kadar gula darah menggunakan obat-obatan serta memperbaiki pola hidup agar terhindar dari berbagai komplikasi. Gula darah yang terkontrol membantu meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan sirkulasi darah dan mengurangi risiko infeksi kulit seperti bisul.

3. Gunakan Pakaian Longgar dan Menyerap Keringat

Pakaian ketat atau bahan yang tidak menyerap keringat dapat menyebabkan kelembaban kulit berlebih dan memicu infeksi kulit.

4. Rawat Luka dengan Tepat

Jika terjadi luka pada kulit, bersihkan luka atau goresan dengan antiseptik, lalu tutup dengan perban bersih untuk mencegah bakteri masuk.

5. Hindari Memencet Bisul 

Jangan memencet bisul untuk mengeluarkan nanahnya. Memencet bisul dapat memperburuk infeksi, terutama bagi penderita diabetes yang memiliki proses penyembuhan luka yang lebih lambat.

6. Gunakan Salep atau Obat Sesuai Anjuran Dokter

Konsultasi dengan dokter untuk mendapat salep atau obat tertentu untuk mengatasi bisul, terutama jika bisul sering kambuh atau ukurannya besar.

7. Perhatikan Tanda Bahaya

Segera ke dokter jika bisul disertai demam, nyeri hebat, berulang muncul, bertambah besar atau tidak membaik dalam 3–5 hari.

Kapan Penderita Diabetes dengan Bisul Harus ke Dokter?

Jika mengalami bisul yang tidak kunjung sembuh disertai beberapa gejala di bawah, maka segera periksa ke dokter! 

  • Bisul besar, misalnya diameter lebih dari 2 cm dan tidak membaik dalam 3–5 hari
  • Disertai demam, menggigil, atau merasa lemas
  • Bisul sangat nyeri atau muncul berulang
  • Kadar gula darah sangat tinggi ketika bisul muncul.

Kamu bisa ke dokter umum untuk evaluasi dan pengobatan awal. Bila bisul berulang, penyembuhan lama, dan terkait dengan kontrol gula darah yang buruk, maka bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam. 

Jika keluhan hanya bisul, maka kamu bisa ke dokter spesialis kulit dan kelamin. Namun, jika bisul sudah membesar, semakin dalam, atau menghitam, maka perlu konsultasi dengan dokter bedah untuk tindakan pembersihan luka atau debridement.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


40561-1-1200x800.webp

November 25, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Mual adalah keluhan yang bisa dialami siapa saja, terutama yang mempunyai masalah pencernaan. Rasa mual dapat mengganggu, apalagi jika muncul terus-menerus sehingga mengganggu aktivitas dan menyebabkan nafsu makan turun.

Pada penderita diabetes, rasa mual yang muncul berulang atau berlangsung terus-menerus bisa menjadi tanda adanya gangguan yang berhubungan dengan kadar gula darah maupun komplikasi diabetes. Mengapa penderita diabetes bisa merasa sering mual serta bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasannya di artikel ini! 

Apa itu Gejala Sering Mual pada Penderita Diabetes?

Sering mual pada penderita diabetes adalah kondisi ketika seseorang dengan diabetes mengalami sensasi ingin muntah yang berlangsung berulang, terutama terkait dengan perubahan kadar gula darah atau dampak jangka panjang diabetes.

Pada diabetes, mual biasanya terjadi karena kadar gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia), kadar gula darah terlalu rendah (hipoglikemia), komplikasi pada pencernaan, efek samping obat diabetes, serta penyebab di luar diabetes.

Apakah Sering Mual Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Sering mual bukan gejala utama diabetes dan seseorang yang sering mual tidak selalu berarti menderita diabetes. 

Mual bisa disebabkan banyak hal lain seperti:

  • Infeksi virus atau bakteri
  • Gangguan lambung (gastritis, GERD)
  • Efek samping obat seperti antibiotik dan antinyeri
  • Stres dan kecemasan
  • Kehamilan
  • Gangguan keseimbangan seperti pada vertigo
  • Keracunan makanan atau minuman
  • Alergi atau intoleransi makanan dan minuman

Namun, pada orang yang menderita diabetes, sering mual dapat menjadi tanda bahwa kadar gula darah tidak terkendali atau ada komplikasi yang perlu diperhatikan.

Penyebab Sering Mual pada Penderita Diabetes

Penderita diabetes yang sering mual dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Berikut beberapa penyebabnya:

a. Hiperglikemia (Kadar Gula Darah Tinggi)

Kadar gula darah yang sangat tinggi dapat membuat proses pencernaan dan pengosongan lambung menjadi lebih lambat. Hal ini dapat memicu rasa mual.

b. Hipoglikemia (Kadar Gula Darah Rendah)

Saat kadar gula darah turun di bawah normal, tubuh bereaksi dengan memicu hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Hormon tersebut juga memengaruhi sistem pencernaan dan menyebabkan rasa mual. 

c. Gastroparesis Diabetes

Gastroparesis diabetes merupakan salah satu komplikasi diabetes yang menyebabkan gangguan pencernaan. Gastroparesis terjadi ketika saraf vagus yang mengatur gerakan lambung mengalami kerusakan akibat gula darah tinggi dalam jangka panjang. Akibatnya, makanan tidak bergerak normal dari lambung ke usus. Kondisi ini  menyebabkan rasa mual, muntah, kembung, dan rasa cepat kenyang. 

d. Ketoasidosis Diabetik

Ketoasidosis diabetik juga merupakan komplikasi diabetes yang berbahaya. Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak bisa menggunakan glukosa sebagai sumber energi karena gangguan insulin. 

Akibatnya, tubuh akan memakai lemak sebagai sumber energi. Proses metabolisme lemak menjadi energi akan menghasilkan zat sisa berupa keton. Karena itu, pada ketoasidosis diabetik ditandai dengan kadar keton yang meningkat. 

Gejala ketoasidosis diabetik meliputi gula darah sangat tinggi, mual dan muntah, napas berbau asam atau seperti buah-buahan, dehidrasi, linglung, hingga penurunan kesadaran. 

e. Efek Samping Obat Diabetes

Beberapa obat diabetes mempunyai efek samping berupa rasa mual. Obat yang sering menyebabkan mual adalah metformin dan obat suntik golongan GLP-1 agonist seperti liraglutide dan semaglutide.

Apakah Sering Mual pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Mual pada diabetes bisa berbahaya, terutama jika rasa mual berlebihan dan berlangsung lama sehingga mengganggu aktivitas dan menyebabkan penurunan nafsu makan. 

Jika rasa mual disertai muntah terus menerus maka bisa menyebabkan dehidrasi, lemas, dan tubuh kekurangan gizi. Selain itu, rasa mual berlebih juga bisa menjadi tanda bahaya seperti hipoglikemia, hiperglikemia, ketoasidosis diabetik, dan gastroparesis. 

Karena itu, segera konsultasi ke dokter jika mengalami rasa mual yang tidak kunjung reda setelah melakukan penanganan di rumah. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Mual pada Penderita Diabetes

Untuk mencegah dan mengatasi rasa mual, maka perlu mencegah penyebabnya. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

a. Mengontrol Kadar Gula Darah

Karena gula darah yang terlalu rendah dan tinggi dapat menyebabkan mual, maka langkah yang penting adalah dengan mengontrol gula darah.

Konsumsi obat diabetes sesuai jadwal yang diberikan dokter agar gula darah terkontrol dan jangan lupa untuk rutin memantau kadar gula darah. Kamu bisa menggunakan glukometer atau Continuous Glucose Monitoring (CGM) untuk memantau kadar gula darah. 

b. Atur Pola Makan

Untuk meringankan rasa mual, kamu bisa menerapkan pola makan dengan makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering. Hindari makanan berlemak tinggi, makanan pedas dan asam. Pilih makanan yang mudah dicerna misalnya bubur atau sup. 

c. Cukupi Kebutuhan Cairan

Mual yang disertai muntah dapat menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi juga dapat memperburuk rasa mual. Minumlah air sedikit-sedikit tapi sering agar tidak mual. 

d. Kelola Stres

Stres dapat memicu gangguan lambung dan fluktuasi gula darah. Jadi, cobalah untuk mengelola stres dengan yoga, meditasi, latihan pernapasan, dan melakukan kegiatan yang menyenangkan untuk memperbaiki suasana hati. 

e. Minum Obat Anti Mual

Jika rasa mual terus berlangsung walau sudah melakukan penanganan awal, maka konsultasikan ke dokter agar mendapatkan obat untuk mengatasi mual. 

f. Konsultasikan Pengobatan Diabetes

Jika rasa mual disebabkan oleh obat diabetes, jangan menghentikan obat sendiri. Konsultasikan pada dokter untuk menyesuaikan dosis, mengganti jenis obat, atau memberikan obat anti mual. 

Kapan Penderita Diabetes atau Orang yang Sering Mual Harus ke Dokter?

Seseorang yang sering mual, baik dengan diabetes ataupun tanpa diabetes harus segera ke dokter jika mengalami beberapa kondisi berikut:

  • Mual berlangsung lebih dari 2–3 hari dan mengganggu nafsu makan
  • Mual disertai muntah terus-menerus
  • Gula darah > 250 mg/dL atau < 70 mg/dL
  • Terdapat tanda ketoasidosis seperti napas cepat, bau napas seperti buah, sangat lemas, penurunan kesadaran
  • Tidak bisa makan atau minum
  • Berat badan turun drastis

Kamu bisa konsultasi dengan dokter umum untuk pemeriksaan awal. Jika diperlukan, dokter umum akan merujuk ke dokter spesialis penyakit dalam, konsultan endokrinologi atau konsultan gastroenterologi. 

Namun, jika mual disertai muntah hebat, terus-menerus hingga makanan dan minuman tidak bisa masuk, maka segera ke IGD rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan segera.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2150924381-_1_-1200x800.webp

November 25, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Golf merupakan olahraga yang dilakukan di ruang terbuka dengan permainan yang relatif santai. Golf melibatkan gerakan mengayunkan stik golf untuk memukul bola menuju lubang, disertai jalan kaki menuju arah bola berhenti. Kombinasi gerakan ini membuat otot tubuh terlibat aktif. Tak hanya itu, bermain golf juga melatih konsentrasi  karena harus fokus memastikan ayunan bola ke arah yang benar agar mendekati lubang.

Namun, bagi penderita diabetes mungkin muncul pertanyaan, “Apakah golf aman dilakukan oleh penderita diabetes?” Artikel berikut menjelaskan apakah penderita diabetes boleh main golf, tips penting sebelum dan selama bermain, serta manfaat kesehatannya.

Apakah Penderita Diabetes Boleh Bermain Golf?

Pada dasarnya penderita diabetes boleh bermain golf, asalkan dalam kondisi yang bugar, gula darah terkontrol, dan tidak ada komplikasi yang meningkatkan risiko cedera saat bermain. Bahkan, pemain golf profesional sekaligus juara US Open ke-125, JJ Spaun, adalah penderita diabetes tipe 1.

Hal tersebut membuktikan bahwa penderita diabetes boleh bermain golf, bahkan menjadi pemain profesional, selama kondisi diabetesnya terkontrol. Golf termasuk olahraga aerobik intensitas ringan hingga sedang yang dapat membantu meningkatkan metabolisme, mengontrol kadar glukosa darah, dan menjaga kesehatan jantung.

Tips Sebelum, Saat, dan Sesudah Bermain Golf bagi Penderita Diabetes

Agar dapat bermain golf dengan aman dan nyaman serta mencegah fluktuasi gula darah dan mengurangi risiko komplikasi, beberapa tips berikut dapat diterapkan:

Tips Sebelum Bermain Golf

1. Periksa Kadar Gula Darah

Pastikan kadar glukosa berada pada kisaran aman, umumnya 100–250 mg/dL, sebelum memulai bermain golf. 

2. Konsumsi Makanan Sehat

Hindari berolahraga dalam kondisi perut kosong. Pilih makanan dengan karbohidrat kompleks dan protein untuk menjaga kestabilan energi.

3. Gunakan Alas Kaki yang Tepat

Penderita diabetes berisiko mengalami luka pada kaki. Gunakan sepatu golf yang ergonomis, empuk, dan tidak menyebabkan tekanan berlebih pada kaki.

4. Bawa Perlengkapan yang Dibutuhkan

Selain membawa peralatan golf, pastikan membawa air minum, makanan ringan untuk carbo-loading selama permainan, alat cek gula darah, dan obat-obatan pribadi.

5. Lakukan Pemanasan

Lakukan pemanasan berupa peregangan ringan pada punggung, pinggul, bahu, tangan, dan kaki untuk mengurangi risiko cedera otot.

Tips Saat Bermain Golf

1. Pantau Kondisi Tubuh

Waspadai tanda hipoglikemia seperti pusing, lemas, gemetar, atau konsentrasi menurun. Segera hentikan permainan dan konsumsi makanan ringan yang mengandung karbohidrat jika gejala muncul.

2. Minum Cukup

Dehidrasi dapat menambah rasa lemas. Minumlah secara berkala, terutama saat cuaca panas.

3. Jangan Memaksakan Berjalan Jauh

Jika merasa lelah, gunakan golf cart untuk mengurangi risiko hipoglikemia dan cedera.

4. Istirahat Berkala

Jika permainan berlangsung lama, berikan jeda untuk istirahat setiap beberapa hole.

5. Perhatikan Kondisi Kaki

Jika kaki terasa panas, terdapat luka lecet, atau basah, segera hentikan permainan dan periksa kondisi kaki secara menyeluruh. 

Tips Setelah Bermain Golf

1. Periksa Kembali Kadar Gula Darah

Penurunan gula darah dapat terjadi beberapa jam setelah olahraga, sehingga pengecekan ulang sangat dianjurkan.

2. Lakukan Pendinginan

Peregangan selama 5–10 menit setelah olahraga membantu mengoptimalkan sirkulasi darah dan mencegah nyeri otot.

3. Periksa Kondisi Kaki Secara Keseluruhan

Periksa kondisi kaki, apakah ada luka, lecet, atau iritasi. Luka kecil pada penderita diabetes harus segera diobati agar luka tidak bertambah parah. 

4. Konsumsi Makanan Seimbang

Pulihkan energi setelah olahraga dengan mengonsumsi makanan kaya protein, serat, dan karbohidrat kompleks. 

Manfaat Bermain Golf bagi Penderita Diabetes

Golf memberikan berbagai manfaat kesehatan bagi penderita diabetes, antara lain:

a. Membantu Menurunkan Kadar Gula Darah

Aktivitas berjalan jauh dan gerakan mengayun berulang saat bermain golf membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi, sehingga membantu menurunkan gula darah.

b. Meningkatkan Sensitivitas Insulin

Olahraga intensitas sedang dapat meningkatkan respons sel terhadap insulin dan menurunkan resistensi insulin.

c. Menurunkan Berat Badan

Lapangan golf cukup luas, yaitu sekitar 30 hingga 200 hektar. Bermain golf tanpa menggunakan cart membuatmu berjalan hingga 7 kilometer dan bisa membakar 500–900 kalori. Hal itu membantu mengontrol berat badan secara efektif.

d. Menurunkan Stres

Bermain golf di ruang terbuka terbukti menurunkan hormon stres yang berpengaruh langsung pada kestabilan glukosa darah.

e. Meningkatkan Kesehatan Jantung

Golf dapat memperbaiki sirkulasi dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, yang merupakan komplikasi umum pada diabetes.

f. Meningkatkan Kekuatan Otot Tubuh

Gerakan mengayun, berjalan, dan rotasi tubuh saat bermain golf membantu menjaga kekuatan otot, fleksibilitas, serta keseimbangan tubuh. 

Jadi, penderita diabetes boleh bermain golf, selama kondisi kesehatan terkontrol dan aktivitas dilakukan dengan persiapan yang tepat. Untuk hasil maksimal dan aman, penderita diabetes disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai rutinitas olahraga baru, terutama jika memiliki komplikasi tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


213-_1_-1200x778.webp

November 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diabetes merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diderita pada masa ini. Penyakit ini menjadi tantangan tersendiri karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Oleh sebab itu, fokus pengobatan diabetes adalah untuk mengurangi komplikasi yang akan terjadi, salah satunya dapat terjadi kerontokan rambut.

Kerontokan rambut adalah kondisi hilangnya rambut lebih dari 120 helai per hari. Rambut rontok dapat terjadi sebagai masalah tersendiri atau keadaan yang menyertai penyakit atau gangguan lain, termasuk pada penderita diabetes. Rambut rontok pada diabetes terjadi karena adanya gangguan metabolisme, komplikasi, atau dapat juga disebabkan karena penderita mengalami stres. Hal ini perlu menjadi perhatian karena jika diabaikan dapat menyebabkan kebotakan. 

Fenomena Rambut Rontok Pada Penderita Diabetes

Pertumbuhan rambut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya hormon, adanya luka, inflamasi, faktor pertumbuhan, dan juga kondisi psikologis, seperti stres. Kondisi penyakit seperti diabetes dikaitkan dengan peningkatan risiko kerontokan rambut di kulit kepala. Hal ini terjadinya karena diabetes adalah penyakit metabolisme kronis yang ditandai dengan kenaikan kadar gula dalam darah yang dapat berpengaruh ke banyak organ.

Fenomena kerontokan rambut ditandai dengan penyusutan folikel rambut secara bertahap dan penipisan batang rambut. Kerontokan rambut yang mengakibatkan adanya kebotakan bagian tertentu pada kepala dapat menimbulkan masalah psikologis seperti, citra tubuh yang negatif, penurunan rasa percaya diri, rasa rendah diri, dan kecemasan sosial.

Penyebab Rambut Rontok Pada Penderita Diabetes

Penyakit diabetes dapat menimbulkan gangguan pada pertumbuhan rambut yang menyebabkan rambut rontok dan/atau kebotakan. Berikut ini beberapa penyebab terjadinya rambut rontok pada penderita diabetes, yaitu:  

1. Gangguan pada pembuluh darah

Gangguan pembuluh darah akibat hiperglikemia kronis berpotensi merusak folikel rambut karena kurangnya aliran darah dan nutrisi sehingga berkontribusi pada kerontokan rambut.

2. Gangguan pada jalur pensinyalan Wnt/β-catenin

Jalur Wnt/β-catenin adalah jalur penting untuk pemeliharaan rambut, pertumbuhan, dan regenerasi folikel rambut. Ketika pensinyalan ini ditekan, kemampuan kulit untuk induksi dan regenerasi rambut pun berkurang. Kondisi gula darah tinggi pada diabetes menyebabkan penekanan jalur pensinyalan Wnt/β-catenin dan penurunan proliferasi sel folikel rambut.

3. Kondisi stres

Penderita diabetes seringkali mengalami stres karena penyakit kronis yang membuat pasien harus rutin mengonsumsi obat dan kontrol ke rumah sakit. Kondisi stres ini dapat memicu kerontokan rambut. 

Cara Mengatasi Rambut Rontok pada Penderita Diabetes

Mengalami kerontokan rambut tentu akan menimbulkan berbagai masalah, terlebih bagi kaum wanita. Oleh karena itu, perlu dilakukan beberapa cara untuk menjaga kesehatan rambut agar tetap sehat, terutama bagi penderita diabetes. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan agar penderita diabetes dapat mengurangi risiko terjadinya kerontokan rambut, yaitu: 

  • Mengontrol kadar gula darah dengan pola makan sehat, aktivitas fisik yang dilakukan dengan rutin, dan konsumsi obat antidiabetes sesuai anjuran dokter.​
  • Mengonsumsi makanan bergizi yang kaya protein, zat besi, seng, dan asam lemak esensial yang dapat membantu pembentukan keratin rambut. 
  • Mengelola stres dengan teknik relaksasi atau konseling kepada profesional.
  • Menggunakan vitamin rambut atau obat rambut rontok. Obat ini bisa didapatkan setelah berkonsultasi dengan dokter dermatologi agar mendapatkan produk yang sesuai dengan kondisi rambut tiap individu.  
  • Menghindari penggunaan produk rambut yang keras atau berbahan kimia berlebihan dengan cara selalu mengecek komposisi produk rambut sebelum membeli.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter jika mengalami:

  • Kontrol gula darah yang kurang baik. Jika penderita diabetes sudah melakukan perubahan gaya hidup dan mengonsumsi obat, tetapi kondisi gula darah tidak kunjung membaik.
  • Terjadi komplikasi seperti, gangguan saraf pada kaki atau tangan, pandangan kabur, luka yang tidak kunjung sembuh
  • Adanya rambut rontok yang berlebihan atau tidak kunjung membaik meskipun sudah mengontrol gula darah.​
  • Terjadinya rambut rontok disertai gejala lain, seperti pandangan kabur, kebas, atau luka yang sulit sembuh.​
  • Kerontokan rambut yang menyebar atau menyebabkan kebotakan.

Untuk berkonsultasi terkait penyakit diabetes dan keluhan lain berupa kerontokan rambut, pasien dapat mengunjungi dokter spesialis berikut:

1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau Subspesialis Endokrin Metabolisme Diabetes

Untuk pengendalian glikemik dan pencegahan terhadap komplikasi, penderita diabetes dapat berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam.

2. Dokter Spesialis Dermatologi (dokter spesialis kulit)

Untuk mengatasi rambut rontok yang terjadi pada penderita diabetes, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter kulit untuk menangani dan  memperbaiki keadaan rambut.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


152-_1_-1200x800.webp

November 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Daging domba sering menjadi pilihan hidangan saat acara khusus. Namun bagi penderita diabetes, muncul kekhawatiran tentang apakah daging ini aman dikonsumsi mengingat kandungan lemaknya yang cukup tinggi.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Daging Domba?

Jawabannya: boleh, selama porsinya tidak berlebihan dan cara memasaknya tepat. Daging domba hampir tidak mengandung karbohidrat, sehingga tidak secara langsung meningkatkan gula darah. 

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Daging Domba

Daging domba merupakan sumber protein hewani yang cukup tinggi, sehingga membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Selain itu, daging ini mengandung berbagai mikronutrien penting seperti zat besi, seng, dan vitamin B12 yang berperan dalam pembentukan sel darah, metabolisme energi, dan kesehatan sistem saraf.

Karena hampir tidak mengandung karbohidrat, indeks glikemik daging domba tergolong rendah dan tidak memicu lonjakan gula darah secara langsung. Namun, perlu diperhatikan bahwa daging domba memiliki kandungan lemak jenuh dan kolesterol yang cukup tinggi, terutama pada potongan yang berlemak.

Manfaat Daging Domba bagi Penderita Diabetes

Bila dikonsumsi dengan porsi wajar, protein dan mineral dalam daging domba dapat mendukung pemeliharaan massa otot, membantu metabolisme tetap optimal, serta berkontribusi terhadap kesehatan tulang. 

Kandungan proteinnya juga membantu rasa kenyang bertahan lebih lama sehingga dapat mengurangi risiko makan berlebihan yang dapat berdampak pada kontrol gula darah.

Bahaya Makan Daging Domba Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Jika dikonsumsi tanpa kontrol, daging domba dapat menyebabkan beberapa masalah berikut:

1. Meningkatkan Kolesterol

Kandungan lemak jenuh yang tinggi dapat memengaruhi kadar kolesterol dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

2. Menambah Berat Badan

Kalori tinggi dari potongan berlemak dapat memicu kenaikan berat badan, sehingga dapat memperburuk resistensi insulin.

3. Mengganggu Kontrol Gula Darah

Asupan lemak jenuh secara berlebihan dapat memperlambat metabolisme glukosa sehingga kontrol gula darah menjadi kurang optimal.

Cara Makan Daging Domba yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar daging domba tetap bisa dinikmati tanpa mengganggu kontrol gula darah, berikut panduan yang dapat diikuti:

1. Batasi porsI

Idealnya 100–150 gram per kali makan. Tidak perlu dikonsumsi setiap hari.

2. Pilih Potongan yang Tepat

Pilih bagian paha atau potongan tanpa banyak lemak. Hindari bagian yang terlalu berlemak atau disajikan bersama kulit.

3. Gunakan Metode Masak yang Lebih Sehat

Metode panggang, kukus, atau rebus lebih aman dibanding menggoreng.

4. Hindari Bumbu Manis atau Berlemak

Kecap manis, saus instan, atau santan berlebih dapat meningkatkan kalori dan gula dalam hidangan.

Kapan Penderita Diabetes Harus Ke Dokter?

Jika setelah mengonsumsi daging domba gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan, sebaiknya segera temui dokter. Dokter penyakit dalam membantu pengelolaan diabetes, sedangkan ahli gizi atau dokter gizi membantu menyesuaikan porsi dan cara olah daging agar tetap aman.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2147831855-1-1200x800.webp

November 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Es krim sering menjadi pilihan saat cuaca panas atau ketika sedang ingin makan sesuatu yang lembut dan manis. Namun, penderita diabetes perlu lebih berhati-hati karena makanan manis seperti es krim dapat memengaruhi kadar gula darah secara langsung. 

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Es Krim?

Jawabannya: boleh sesekali, dengan porsi terbatas. 

Es krim mengandung gula dan karbohidrat yang cepat diserap tubuh. Ini berarti jika dikonsumsi tanpa kontrol, gula darah bisa meningkat dalam waktu singkat. Selain itu, es krim juga mengandung lemak, terutama lemak jenuh, yang dalam jumlah besar dapat berdampak pada berat badan dan kesehatan jantung. 

Bukan berarti es krim harus dihindari selamanya, tetapi perlu strategi khusus agar konsumsinya tetap aman.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Es Krim

Es krim memiliki indeks glikemik sekitar 62, termasuk kategori sedang, sehingga bisa menaikkan gula darah meski tidak secepat makanan ber-IG tinggi. 

Kandungan gizi es krim umumnya didominasi oleh karbohidrat (terutama dari gula), lemak (dari krim atau susu tinggi lemak), serta sedikit protein. Selain itu, banyak es krim komersial mengandung tambahan perisa, pemanis, pewarna, pengemulsi, dan stabilizer untuk meningkatkan rasa dan teksturnya. 

Dari komposisi tersebut terlihat bahwa es krim cenderung tinggi karbohidrat sederhana dan lemak, sehingga jika dikonsumsi berlebihan dapat memicu lonjakan gula darah maupun peningkatan berat badan. Inilah alasan mengapa penderita diabetes perlu mengontrol porsinya dan memilih jenis es krim yang lebih ramah untuk kondisi gula darah.

Bahaya Makan Es Krim Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Mengonsumsi es krim secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai risiko berikut:

1. Gula Darah Cepat Naik

Kandungan gula sederhana dalam es krim mudah diserap tubuh. Dalam jumlah besar, hal ini dapat memicu lonjakan gula darah yang sulit dikendalikan. 

2. Penambahan Berat Badan

Es krim adalah makanan tinggi kalori. Jika dikonsumsi terlalu sering, kalori berlebih dapat menumpuk menjadi lemak. Kenaikan berat badan memperburuk resistensi insulin, sehingga kontrol diabetes semakin sulit.

3. Meningkatkan Kolesterol

Banyak es krim mengandung lemak jenuh dari krim. Jika dikonsumsi berlebihan, kadar kolesterol LDL (kolesterol “jahat”) dapat meningkat, menaikkan risiko penyakit jantung, kondisi yang rentan dialami penderita diabetes.

Cara Makan Es Krim yang Aman bagi Penderita Diabetes

Beberapa langkah berikut dapat membantu penderita diabetes menikmati es krim secara lebih aman:

1. Batasi Porsi

Porsi kecil (1–2 sendok makan) sudah cukup untuk memuaskan keinginan makan manis.

2. Pilih Jenis Rendah Gula

Pilih es krim dengan label “low sugar, no added sugar, atau low calorie” jika tersedia.

3. Perhatikan Frekuensi

Frekuensi yang aman bergantung pada kontrol gula darah masing-masing, tetapi umumnya cukup 1–2 kali per bulan.

4. Hindari Topping Tinggi Gula

Saus cokelat, sirup karamel, atau taburan manis dapat melipatgandakan gula dan kalori. 

Kapan Penderita Diabetes Harus Ke Dokter?

Jika setelah mengonsumsi es krim gula darah sering naik, sebaiknya segera memeriksakan diri. Dokter penyakit dalam membantu pengelolaan diabetes, sementara ahli gizi atau dokter gizi membantu menyesuaikan pola makan dan porsi camilan manis agar tetap aman.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


ketan-putih.webp

November 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Ketan putih adalah jenis beras yang dikenal karena teksturnya yang sangat lengket dan pulen. Ciri khas ini muncul dari kandungan amilopektin yang tinggi, membuat ketan terasa lebih kenyal dibandingkan beras biasa. Rasa gurih, aroma khas, dan bisa diolah menjadi berbagai hidangan, membuat ketan putih menjadi pilihan yang digemari banyak orang.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Ketan Putih?

Penderita diabetes masih boleh makan ketan putih, tetapi sangat tidak disarankan mengonsumsinya dalam jumlah besar maupun terlalu sering. Hal ini karena ketan putih memiliki indeks glikemik tinggi, yang artinya dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat setelah dikonsumsi. 

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Ketan Putih

Ketan putih mengandung kalori dan karbohidrat yang cukup tinggi. Dalam 100 gram ketan putih matang, terdapat sekitar 163 kkal, 35.7 gram karbohidrat, 3 gram protein, dan sangat sedikit serat. Dari sisi indeks glikemik (IG), ketan putih tergolong  tinggi, yaitu di angka 90. 

Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa ketan putih memiliki potensi besar menaikkan gula darah dengan cepat.

Apakah Ada Manfaat Ketan Putih bagi Penderita Diabetes?

Dari sisi pengendalian gula darah, ketan putih tidak memberikan manfaat khusus bagi penderita diabetes. Malah, karena indeks glikemiknya yang tinggi, konsumsi ketan putih bisa cepat meningkatkan kadar gula darah jika tidak dikontrol. Oleh karena itu, bagi penderita diabetes, ketan putih sebaiknya dikonsumsi sesekali saja dan dalam porsi kecil.

Bahaya Makan Ketan Putih Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Mengonsumsi ketan putih secara berlebihan membawa beberapa risiko serius bagi penderita diabetes, antara lain:

1. Lonjakan Gula Darah

Ketan putih memiliki indeks glikemik tinggi, sehingga mengonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan kadar gula darah naik drastis dalam waktu singkat.

2. Kesulitan Merespons Insulin

Lonjakan gula darah yang terjadi berulang membuat tubuh semakin sulit menggunakan insulin secara efektif, sehingga kontrol diabetes menjadi lebih sulit.

Cara Makan Ketan Putih dengan Aman bagi Penderita Diabetes

Meskipun ketan putih sebaiknya dibatasi, penderita diabetes masih bisa menikmatinya sesekali jika memperhatikan cara konsumsi. Beberapa langkah aman yang bisa diikuti meliputi:

1. Batasi Porsi

Cukup 2–3 sendok makan per kali makan agar gula darah tidak melonjak.

2. Hindari Tambahan Gula Lainnya 

Jangan konsumsi ketan durian, ketan susu, atau ketan manis lainnya.

3. Pantau Gula Darah

Lakukan pengukuran sebelum dan 1-2 jam setelah makan untuk melihat respons tubuh.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika gula darah melonjak setelah mengonsumsi ketan putih. 

Dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu mengelola kadar gula darah, memberikan saran pengobatan, dan memantau risiko komplikasi. Sementara itu, dokter gizi atau ahli gizi bisa menyesuaikan menu harian, porsi, dan jenis makanan agar tetap aman dan mendukung kestabilan gula darah.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


15377-_1_-1200x800.webp

November 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Intermittent fasting (IF) atau puasa berselang adalah pola makan yang mengatur kapan seseorang boleh makan dan kapan harus berpuasa. 

Banyak orang menjalani IF untuk mengontrol berat badan atau meningkatkan kesehatan metabolik. Namun, bagi penderita diabetes, pola ini perlu dipahami dengan cermat karena kadar gula darah cenderung mudah berubah.

Bolehkah Penderita Diabetes Melakukan Intermittent Fasting?

Penderita diabetes boleh melakukan IF, tetapi tidak bisa disamakan dengan orang tanpa diabetes. Respons tiap orang berbeda tergantung jenis diabetes, riwayat gula darah, penggunaan obat atau insulin, serta kondisi kesehatan lainnya. 

Beberapa bentuk IF mungkin aman, tetapi ada juga yang terlalu berisiko karena durasi puasanya panjang. Bila tidak dikelola dengan tepat, IF dapat menyebabkan gula darah turun terlalu rendah atau malah melonjak drastis.

Risiko Intermittent Fasting bagi Penderita Diabetes

Beberapa risiko yang perlu diperhatikan sebelum memulai IF:

1. Hipoglikemia

Puasa dalam durasi yang terlalu panjang dapat menyebabkan gula darah turun jauh di bawah batas normal. Kondisi ini lebih berisiko terjadi pada penderita diabetes yang menggunakan obat penurun gula darah. 

Ketika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dalam waktu lama, cadangan glukosa cepat terkuras sehingga muncul gejala seperti gemetar, keringat dingin, lemas, lapar ekstrem, sulit berkonsentrasi, bahkan pingsan.

2. Hiperglikemia

Di sisi lain, intermittent fasting juga dapat memicu lonjakan gula darah, terutama ketika seseorang “balas dendam makan” saat jendela makan dibuka. Pola makan tidak terkontrol, misalnya makan dalam porsi besar atau memilih makanan tinggi karbohidrat sederhana dapat membuat gula darah naik cepat.

3. Dehidrasi 

Durasi puasa yang panjang sering membuat asupan minum ikut berkurang, terutama jika seseorang tidak terbiasa memperhatikan konsumsi cairan. Pada beberapa orang, dehidrasi juga bisa memengaruhi kestabilan gula darah dan membuat tubuh semakin mudah mengalami kelelahan.

Manfaat Intermittent Fasting bagi Penderita Diabetes

Jika intermittent fasting dilakukan dengan strategi yang tepat, pola ini dapat memberikan beberapa manfaat untuk kesehatan metabolik penderita diabetes:

1. Membantu Menurunkan Berat Badan

IF dapat mengurangi total asupan kalori harian karena jam makan yang lebih terbatas. Penurunan berat badan dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga tubuh dapat mengontrol gula darah lebih baik. 

2. Membantu Menstabilkan Gula Darah

Bagi sebagian orang, pengaturan jam makan dapat membuat pola makan lebih teratur dan mengurangi frekuensi ngemil berlebih. Asupan makanan yang lebih teratur membantu mencegah fluktuasi gula darah yang ekstrem. Namun manfaat ini hanya dirasakan jika pilihan makan tetap sehat dan bergizi seimbang.

3. Mendukung Kesehatan Jantung

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa IF bisa membantu menurunkan tekanan darah, kadar trigliserida, dan peradangan dalam tubuh. Karena penderita diabetes rentan terhadap gangguan jantung, manfaat ini menjadi nilai tambah, asalkan IF tetap dilakukan dengan pengawasan.

Apa yang Harus Dilakukan sebelum dan saat Intermittent Fasting

Agar IF aman untuk penderita diabetes, beberapa langkah penting perlu diperhatikan:

1. Konsultasi dengan Dokter atau Ahli Gizi

Setiap orang memiliki kondisi diabetes yang berbeda. Konsultasi membantu menentukan apakah IF aman untuk dilakukan.

2. Pantau Gula Darah Secara Teratur

Pada fase awal mencoba IF, tubuh sedang beradaptasi. Pemantauan gula darah sangat penting untuk memastikan tidak terjadi penurunan atau kenaikan gula darah secara mendadak. 

3. Pilih Metode IF yang Tepat

Durasi yang terlalu ekstrem dapat meningkatkan risiko hipoglikemia dan tidak cocok bagi yang menggunakan insulin atau obat tertentu.

4. Pastikan Asupan Gizi Seimbang Saat Jam Makan

Pilih makanan yang mengandung serat, protein, dan lemak sehat agar gula darah tetap stabil dan tubuh tidak cepat lapar selama berpuasa. Kombinasi ini membantu pelepasan energi yang lebih lambat dan terkontrol. 

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Intermittent Fasting?

Bagian setelah puasa juga berperan penting dalam menjaga kestabilan gula darah dan memastikan tubuh beradaptasi dengan aman terhadap pola intermittent fasting. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Mulai Makan dengan Porsi Kecil 

Sesudah puasa, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Mulai makan dengan pilihan makanan yang “ringan” dan dalam porsi kecil, agar gula darah tidak langsung melonjak. Setelah itu, boleh dilanjutkan ke porsi makan utama dengan komposisi yang lebih seimbang.

2. Cukupi Kebutuhan Cairan

Setelah berjam-jam tidak makan dan minum, tubuh memerlukan cairan untuk menstabilkan tekanan darah dan mendukung proses metabolik. 

3. Perhatikan Respons Tubuh

Jika muncul keluhan seperti pusing, mual, gemetar, atau gula darah yang sangat tidak stabil, pola IF perlu dihentikan atau disesuaikan. Setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda, sehingga respons tubuh menjadi indikator utama apakah IF aman untuk dilanjutkan.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.