2151566399-1-1200x800.webp

December 9, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Buah naga punya daya tarik tersendiri berkat warna dagingnya yang cerah dan teksturnya yang lembut. Banyak orang menjadikannya camilan harian karena rasanya lezat dan segar. Namun, bagi penderita diabetes, penting untuk memahami kandungan gizinya terlebih dahulu dan mengetahui bagaimana buah ini dapat memengaruhi kadar gula darah.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Buah Naga?

Penderita diabetes boleh mengonsumsi buah naga. Buah ini tergolong rendah gula jika dibandingkan dengan beberapa jenis buah lainnya dan mengandung serat yang membantu memperlambat penyerapan glukosa. 

Buah naga juga memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga efeknya terhadap gula darah cenderung lebih ringan. Meski demikian, pengaturan porsi tetap penting agar tidak terjadi penumpukan asupan karbohidrat dalam satu waktu.

Kandungan Gizi serta Indeks/Beban Glikemik Buah Naga

Buah naga mengandung berbagai zat gizi penting yang dapat mendukung kesehatan penderita diabetes. Vitamin C di dalamnya berperan dalam menjaga daya tahan tubuh serta membantu proses perbaikan jaringan. Kandungan seratnya turut memperlambat penyerapan karbohidrat, sehingga kenaikan gula darah setelah makan menjadi lebih stabil. Selain itu, buah naga juga kaya antioksidan yang membantu melindungi sel dari stres oksidatif, kondisi yang lebih sering dialami penderita diabetes.

Dari sisi respons tubuh terhadap gula, indeks glikemik (IG) buah naga diperkirakan berada dalam kategori rendah hingga sedang, sementara beban glikemiknya (BG) tergolong rendah karena kandungan karbohidratnya per 100 gram hanya sekitar 9 gram. 

Kombinasi IG yang tidak tinggi, BG yang rendah, dan kandungan serat yang memadai membuat buah naga cenderung memberikan kenaikan gula darah yang lebih terkendali.

Bahaya Mengonsumsi Buah Naga Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Meskipun buah naga tergolong aman, porsinya tetap perlu dikendalikan. Jika dimakan dalam jumlah besar, gula alaminya tetap dapat meningkatkan kadar gula darah. Kenaikannya mungkin tidak secepat buah dengan indeks glikemik tinggi, tetapi porsi yang berlebihan tetap bisa memicu lonjakan yang tidak diinginkan.

Pada akhirnya, yang menjadi masalah bukan buah naganya, melainkan jumlah yang dikonsumsi. Dalam porsi wajar, buah naga aman untuk penderita diabetes, tetapi jika berlebihan tetap berisiko mengganggu kendali gula darah.

Cara Makan Buah Naga dengan Aman bagi Penderita Diabetes

Ada beberapa langkah yang dapat membantu penderita diabetes menikmati buah naga secara aman:

1. Batasi Porsi

Porsi yang dianjurkan berada sekitar setengah hingga satu buah ukuran kecil. 

2. Pilih Buah Utuh, Bukan Jus

Buah naga yang diolah menjadi jus biasanya kehilangan sebagian seratnya. Akibatnya, gula lebih cepat diserap dan risiko lonjakan gula darah menjadi lebih tinggi dibanding memakan buah utuh.

3. Hindari Menambahkan Pemanis

Campuran seperti madu, sirup, susu kental manis, atau gula tambahan dapat membuat kandungan gulanya meningkat tajam. Pilih buah naga segar tanpa tambahan apapun.

4. Pantau Respons Tubuh

Setiap orang memiliki toleransi karbohidrat yang berbeda. Memantau gula darah dua jam setelah makan dapat membantu menentukan apakah porsi yang dikonsumsi sudah sesuai.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Meskipun buah naga termasuk buah yang cenderung aman bagi penderita diabetes, respons tiap orang bisa berbeda. Jika hasil cek gula darah dua jam setelah makan terus menunjukkan angka yang lebih tinggi dari biasanya, segera konsultasikan ke dokter spesialis penyakit dalam untuk evaluasi lanjutan.

Selain itu, ahli gizi atau dokter gizi dapat membantu menentukan porsi buah yang tepat, mengatur pola makan harian, dan menyesuaikan kombinasi makanan agar kontrol gula darah tetap optimal.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


41945-_1_-1200x800.webp

December 8, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Mangga sering menjadi dilema bagi penderita diabetes. Rasanya manis dan menyegarkan, tetapi buah yang manis sering langsung dianggap berbahaya. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Tidak semua makanan manis pasti berisiko, dan tidak semua makanan yang rasanya tidak manis otomatis aman untuk penderita diabetes.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Mangga?

Penderita diabetes boleh makan mangga, asalkan porsinya terkontrol dan tidak dikonsumsi bersamaan dengan makanan lain yang tinggi gula. 

Di balik rasanya yang manis, mangga bukan sekadar sumber gula semata karena buah ini juga mengandung serat, vitamin, dan antioksidan yang berperan penting bagi kesehatan tubuh. Serat membantu memperlambat penyerapan gula, sementara vitamin dan antioksidan mendukung fungsi imun dan metabolisme.

Hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah yang dikonsumsi. Jika dikonsumsi berlebihan, mangga tetap berpotensi meningkatkan gula darah.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Mangga

Mangga memiliki profil gizi yang cukup menarik dan tetap bermanfaat bagi penderita diabetes selama dikonsumsi dalam porsi yang sesuai. Dalam 100 gram mangga segar, USDA mencatat sekitar 71-78 kcal dengan 17,4 gram karbohidrat total. Seratnya memang tidak terlalu tinggi (sekitar 1,3 gram), namun cukup membantu memperlambat penyerapan gula di usus sehingga lonjakan glukosa darah dapat dikurangi.

Selain itu, mangga juga kaya vitamin C, serta mengandung berbagai vitamin dan mineral lain seperti vitamin B6, folat, kalium, magnesium, dan fosfor yang berperan dalam menjaga metabolisme energi, fungsi saraf, keseimbangan cairan, dan kesehatan otot. Kombinasi mikronutrien ini membantu tubuh tetap berfungsi optimal, termasuk bagi penderita diabetes yang membutuhkan pola makan seimbang.

Dari sisi pengaruh terhadap gula darah, mangga memiliki Indeks Glikemik (IG) sekitar 56, yang termasuk kategori sedang. Jika dihitung berdasarkan porsi, Beban Glikemik (BG) mangga berada di angka sekitar 8,4, tergolong rendah hingga sedang. Artinya, mangga dapat meningkatkan gula darah, tetapi efeknya masih bisa dikendalikan selama porsinya tidak berlebihan.

Bahaya Makan Mangga Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Meskipun mangga memiliki berbagai zat gizi yang bermanfaat untuk tubuh, konsumsi berlebihan tetap bisa menimbulkan masalah bagi penderita diabetes. Mangga mengandung gula alami yang cukup tinggi, dan jika dikonsumsi dalam jumlah besar, gula tersebut dapat menyebabkan lonjakan glukosa darah secara cepat. Lonjakan ini tidak hanya membuat tubuh terasa lemas atau mengantuk, tetapi juga bisa mengganggu stabilitas gula darah sepanjang hari.

Jika kondisi ini terjadi berulang, pengendalian diabetes menjadi semakin sulit. Tubuh membutuhkan penyesuaian obat, kebutuhan insulin bisa berubah, dan pola makan harian menjadi lebih sulit dikontrol. 

Cara Makan Mangga yang Aman bagi Penderita Diabetes

Untuk menjaga agar konsumsi mangga tetap aman bagi penderita diabetes, beberapa panduan berikut dapat diterapkan:

1. Batasi Porsi

Porsi yang dianjurkan berada di kisaran ½ cangkir mangga potong (sekitar 70–80 gram). 

2. Hindari Konsumsi dengan Makanan Manis Lain

Mengonsumsi mangga bersamaan dengan minuman manis, dessert, atau makanan tinggi gula dapat membuat total asupan gula meningkat tajam dan memicu lonjakan gula darah.

3. Pilih Buah Utuh, Bukan Jus

Mangga yang diolah menjadi jus kehilangan sebagian besar seratnya. Tanpa serat, gula dalam mangga akan lebih mudah diserap tubuh, sehingga kenaikan gula darah bisa terjadi lebih cepat. Buah utuh lebih mengenyangkan dan lebih aman untuk pengendalian gula darah.

4. Pantau Gula Darah

Bagi yang baru mencoba memasukkan mangga ke dalam menu harian, pemantauan dapat membantu mengetahui bagaimana tubuh merespons dan memastikan konsumsinya tetap berada dalam batas aman.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi ke dokter apabila setelah mengonsumsi mangga muncul keluhan gula darah yang sulit dikendalikan. Dokter spesialis penyakit dalam dapat melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan apakah pola makan, obat, atau dosis insulin perlu disesuaikan. 

Selain itu, ahli gizi atau dokter gizi klinis dapat membantu menyusun porsi buah yang aman, termasuk cara mengatur konsumsi mangga agar tetap sesuai dengan kebutuhan masing-masing dan tidak mengganggu stabilitas gula darah harian.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2151764351-1.webp

December 4, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Angkat beban adalah jenis latihan yang semakin populer dan banyak dipilih masyarakat. Latihan ini terbukti memiliki dampak positif terhadap metabolisme tubuh, kekuatan otot, hingga kesehatan jantung. 

Namun, apakah penderita diabetes aman untuk melakukan angkat beban? Simak penjelasannya di artikel ini! 

Apakah Penderita Diabetes Boleh Angkat Beban?

Pada dasarnya, penderita diabetes boleh melakukan latihan angkat beban, asalkan kondisi medisnya stabil dan latihan dilakukan dengan teknik yang benar.

Bahkan, Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) juga merekomendasikan latihan beban untuk pengelolaan dan pencegahan diabetes. 

Latihan angkat beban bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan, densitas tulang, dan massa otot. Selain itu, juga dapat memperbaiki profil lipid, sensitivitas insulin, dan tekanan darah. 

Penderita diabetes diperbolehkan latihan angkat beban bila gula darahnya stabil, yaitu sekitar 100–250 mg/dL sebelum latihan serta tidak ada komplikasi, misalnya penyakit jantung.

Hindari latihan bila sedang mengalami hipoglikemia, yaitu kadar gula darah <70 mg/dL) dan tekanan darah sangat tinggi. Kondisi tersebut berisiko memperburuk penyakit atau menimbulkan cedera serius selama latihan. 

Cara Angkat Beban yang Aman bagi Penderita Diabetes

Keselamatan adalah prioritas utama bagi penderita diabetes yang ingin mulai latihan kekuatan agar mendapatkan manfaat yang optimal. Berikut beberapa tips latihan angkat beban bagi penderita diabetes:

1. Mulai Dengan Beban Ringan

Gunakan beban ringan untuk mempelajari teknik yang benar sebelum meningkatkan beban dan intensitas.

2. Berlatih dengan Spotter

Spotter adalah orang yang berpengalaman dalam membantu mengangkat atau mendorong beban yang lebih berat sambil memastikan keselamatan dan teknik yang tepat. Spotter membantu mengurangi risiko cedera atau tertimpa beban terutama bila kadar gula darah tiba-tiba turun.

3. Hindari Menahan Napas

Menahan napas dapat meningkatkan tekanan darah secara drastis sehingga berbahaya pada penderita hipertensi atau retinopati.

4. Cek Gula Darah Sebelum dan Sesudah Latihan

Penderita diabetes, terutama yang menggunakan insulin atau obat diabetes berisiko mengalami hipoglikemia sehingga perlu melakukan pengecekan lebih ketat.

5. Gunakan Sepatu dan Pakaian yang Nyaman

Menggunakan pakaian dan sepatu yang nyaman penting bagi penderita diabetes untuk mencegah luka atau cedera. 

Manfaat Angkat Beban Bagi Penderita Diabetes

Latihan angkat beban dapat memberikan banyak manfaat bagi penderita diabetes dan orang yang berisiko diabetes, jika dilakukan dengan aman. Berikut beberapa manfaatnya:

1. Meningkatkan Sensitivitas Insulin

Latihan angkat beban membantu meningkatkan kemampuan otot menyerap glukosa. Otot yang aktif dan kuat memerlukan lebih banyak energi, sehingga glukosa digunakan secara efisien dan gula darah menjadi lebih stabil.

2. Menurunkan Risiko Diabetes Tipe-2 pada Orang yang Berisiko

Pada orang non-diabetes yang memiliki faktor risiko, latihan kekuatan terbukti menurunkan kemungkinan berkembangnya diabetes. Penelitian menunjukkan bahwa latihan kekuatan secara rutin dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2 hingga 34%, terutama bila dikombinasikan latihan aerobik.Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan massa otot berperan penting dalam mencegah resistensi insulin.

Penelitian lain juga menemukan bahwa orang dewasa yang rutin melakukan resistance training memiliki risiko lebih rendah mengalami resistensi insulin, prediabetes, dan komplikasi jantung dan metabolik.

3. Membantu Menurunkan Lemak Tubuh

Latihan beban meningkatkan metabolisme basal sehingga tubuh membakar lebih banyak kalori, bahkan saat istirahat. Hal ini membantu menurunkan lemak tubuh, termasuk lemak perut, yang berkaitan erat dengan resistensi insulin.

4. Meningkatkan Kekuatan Otot

Penderita diabetes yang memiliki neuropati atau kelemahan otot sering mengalami kesulitan aktivitas sehari-hari. Latihan beban membantu memperkuat otot inti, kaki, dan lengan sehingga meningkatkan stabilitas tubuh, keseimbangan, dan mengurangi risiko jatuh.

5. Mengurangi Stres dan Membantu Kontrol Gula Darah

Olahraga, termasuk latihan beban melepaskan endorfin yang membantu mengurangi stres. Ketika stres, tubuh akan mengeluarkan hormon stres yang dapat meningkatkan gula darah.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2150775198-_1_-1200x800.webp

November 27, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Sensitivitas insulin sangat berkaitan erat dengan penyakit diabetes yang merupakan penyakit kronik yang banyak diderita penduduk di dunia. 

Menurut data WHO, terdapat 415 juta orang berusia 20–79 tahun yang mengidap diabetes di seluruh dunia. Sekitar 10,3 juta penduduk Indonesia menderita diabetes menurut Federasi Diabetes Internasional pada tahun 2017.

Diabetes ditandai dengan adanya kadar gula darah tinggi dalam darah (hiperglikemia) akibat kegagalan produksi insulin, menurunnya sensitivitas insulin (karena terjadinya resistensi insulin), dan/atau keduanya.

Apa Itu Sensitivitas Insulin?

Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas dan memiliki banyak fungsi dalam metabolisme tubuh, di antaranya merangsang proses metabolisme pada berbagai jenis sel, pembentukan lemak, glikogen (gula otot), serta menghambat pemecahan lemak, protein, dan gula otot. Oleh karena itu, insulin memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme tubuh sehingga fungsinya harus selalu dijaga agar tidak mengalami penurunan sensitivitas insulin. Sensitivitas insulin adalah kemampuan respons tubuh terhadap efek hormon insulin. Pembahasan sensitivitas insulin tidak lepas dengan kondisi resistensi insulin yang merupakan  kondisi kegagalan respons tubuh terhadap stimulasi insulin ke jaringan target.

Bahaya Sensitivitas Insulin yang Buruk

Sensitivitas insulin yang buruk akan menyebabkan berbagai penyakit dan komplikasi, di antaranya: 

  1. Diabetes melitus tipe 2 adalah kondisi paling umum akibat sensitivitas insulin yang buruk. Hal ini menyebabkan glukosa sulit masuk ke dalam sel sehingga menumpuk di dalam darah.
  2. Meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi (hipertensi), dan penyakit arteri perifer.
  3. Kerusakan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi dapat menyebabkan komplikasi ke otak, yaitu stroke. 
  4. Dislipidemia yang diakibatkan karena adanya gangguan pada metabolisme lemak.
  5. Penyakit asam lemak non-alkohol.
  6. Sindrom metabolik yang merupakan keadaan yang terjadi secara bersamaan dan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. 
  7. Gangguan ginjal akibat beban kerja ginjal yang berat karena kadar gula darah yang tinggi.
  8. Gangguan kesuburan seperti PCOS yang  dapat menghambat terjadinya kehamilan. 
  9. Komplikasi kehamilan berupa diabetes gestasional, preeklamsia, dan kelahiran bayi besar.
  10. Peningkatan penanda inflamasi. Hal ini dapat memicu lamanya luka sembuh pada penderita diabetes.

Cara Mengecek Kualitas Sensitivitas Insulin

Meskipun penurunan sensitivitas insulin dapat dinilai berdasarkan gejala klinis yang dialami pasien, pada kenyataannya, sulit mendapatkan nilainya secara akurat. Namun, ada beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menilai sensitivitas insulin. Hal ini dilakukan melalui dua metode utama, yaitu metode langsung dan tidak langsung. 

1. Metode pemeriksaan langsung 

a. Hyperinsulinemic Euglycemic Clamp (Hiec) 

Metode ini dianggap sebagai baku emas untuk mengukur sensitivitas insulin. 

b. Insulin Tolerance Test (ITT) 

Insulin tolerance test mengukur kecepatan penurunan glukosa plasma setelah diberikan injeksi insulin. 

c. Insulin Suppression Test (IST)

Insulin suppression test merupakan metode yang lebih sederhana dibandingkan dari HIEC dengan melibatkan penggunaan somatostatin.

d. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)

Tes ini adalah pemeriksaan sederhana yang sering dilakukan untuk mendiagnosis intoleransi glukosa dan diabetes tipe 2. jika didapatkan hasil pemeriksaan glukosa plasma ≥200 mg/dl pada menit ke-120 setelah konsumsi glukosa sebesar 75 gram, angka tersebut memenuhi kriteria diagnosis diabetes. 

2. Metode pemeriksaan tidak langsung

a. Homeostasis Model Assessment–Insulin Resistance (HOMA-IR) 

Metode ini digunakan untuk memprediksi konsentrasi glukosa dan insulin keadaan puasa.

b. Quantitative Insulin Sensitivity Check Index (Quicki) 

Metode ini dapat memberikan indeks sensitivitas insulin (isi) yang konsisten dan presisi. 

c. Indeks Matsuda

Indeks ini melakukan perhitungan sensitivitas insulin dari konsentrasi glukosa  plasma dan insulin pada keadaan puasa dan selama TTGO.

d. Indeks Trigliserida Glukosa (indeks Tyg) 

Indeks Tyg dihitung dari glukosa plasma puasa dan kadar trigliserida puasa. 

Manfaat Sensitivitas Insulin yang Baik

Sensitivitas insulin yang baik merupakan keadaan dimana respons biologis tubuh terhadap insulin adalah normal dan efisien. Manfaat utama dari sensitivitas insulin yang baik adalah memastikan metabolisme glukosa yang efisien, dan yang terpenting, mencegah timbulnya resistensi insulin dan berbagai komplikasi yang diakibatkannya.

Manfaat dari sensitivitas insulin yang baik termasuk:

  1. Keseimbangan glukosa normal: kemampuan tubuh yang baik untuk menggunakan glukosa dan menjaga kadar gula darah tetap stabil.
  2. Pencegahan penyakit metabolik: mengurangi risiko penyakit seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dislipidemia, dan penyakit kardiovaskular.
  3. Mekanisme metabolisme yang optimal: penyerapan glukosa ke dalam otot rangka berjalan dengan baik dan optimal.

Cara Meningkatkan Sensitivitas Insulin 

Peningkatan sensitivitas insulin melibatkan penanganan faktor penyebab resistensi insulin melalui dua cara utama, yaitu perubahan gaya hidup dan penggunaan obat. 

1. Perubahan gaya hidup 

a. Aktivitas fisik/olahraga

Aktivitas fisik dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Selain itu, dapat juga dilakukan untuk menjaga kebugaran dan menurunkan berat badan pada pasien dengan obesitas. Obesitas dapat menyebabkan resistensi insulin. Oleh karena itu, aktivitas fisik perlu dilakukan secara rutin dengan total 150 menit per minggu.  

b. Terapi nutrisi

Terapi nutrisi dilakukan dengan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang sesuai dengan kebutuhan kalori. Pastikan setiap makanan mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan serat sesuai dengan anjuran yang disarankan.

2. Cara medis atau penggunaan obat

  1. Metformin: merupakan terapi lini pertama untuk mengurangi produksi glukosa hati dan memperbaiki penggunaan glukosa pada jaringan perifer. 
  2. Thiazolidinediones (TZDs): Obat ini memiliki efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein yang mengangkut glukosa. Dengan demikian, penggunaan glukosa pada jaringan semakin meningkat. 

Kemana Perlu Berkonsultasi Terkait Sensitivitas Insulin? 

Dari penjelasan di atas, sensitivitas insulin berkaitan erat dengan diabetes. Jika Anda merasakan gejala khas, seperti mudah lapar, haus, sering buang air kecil, dan terjadi penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya, Anda perlu melakukan konsultasi dengan dokter untuk dapat mengevaluasi kondisi kesehatan Anda, salah satunya kondisi sensitivitas insulin. 

Untuk dapat melakukan hal tersebut, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam atau dokter spesialis penyakit dalam subspesialis endokrin metabolisme diabetes. Kedua dokter spesialis ini mendalami bidang penyakit metabolik yang berkaitan dengan kondisi sensitivitas insulin atau resistensi insulin. 


2148375684-_1_-1200x800.webp

November 27, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Sebagai makanan laut yang lezat dan kaya rasa, kerang memiliki daya tarik tersendiri. Meski begitu, banyak penderita diabetes bertanya-tanya apakah konsumsi kerang aman bagi kadar gula darah dan kesehatan mereka.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Kerang?

Penderita diabetes boleh makan kerang, asalkan dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan cara sehat. Kerang rendah karbohidrat sehingga tidak secara langsung meningkatkan gula darah. Namun, kerang sering dimasak dengan bumbu tinggi gula, saus manis, atau digoreng, yang dapat menambah kalori, lemak, dan akhirnya memengaruhi gula darah.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Kerang

Kerang merupakan makanan laut yang kaya gizi dan menawarkan beragam manfaat bagi tubuh. Di dalamnya terkandung protein berkualitas tinggi yang berperan penting dalam memperbaiki serta membentuk jaringan tubuh.

Kerang juga menjadi sumber berbagai vitamin dan mineral esensial yang mendukung berbagai fungsi tubuh. Karena kandungan karbohidratnya sangat rendah, kerang memiliki indeks glikemik yang rendah dan hampir tidak memengaruhi gula darah. Hal inilah yang membuat kerang dapat menjadi pilihan sumber protein yang aman bagi penderita diabetes.

Bahaya Makan Kerang Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Meski tergolong aman, konsumsi kerang yang berlebihan atau diolah dengan cara yang tidak sehat dapat menimbulkan beberapa risiko:

1. Kolesterol Tinggi

Beberapa jenis kerang mengandung kolesterol cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam porsi besar, hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, yaitu kondisi yang rentan dialami penderita diabetes.

2. Asupan Lemak Bertambah

Kerang yang digoreng atau dimasak dengan saus kaya lemak (misalnya bersanta atau menggunakan mentega berlebihan dapat meningkatkan lemak jenuh. Pola makan tinggi lemak jenuh dapat memperburuk kontrol gula darah dan meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah.

3. Kalori Berlebih

Mengonsumsi kerang dalam porsi besar, apalagi ditambah karbohidrat dan saus tinggi kalori, bisa menyebabkan kenaikan berat badan. Berat badan berlebih meningkatkan resistensi insulin, yang memperburuk kondisi diabetes.

Cara Makan Kerang yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap aman dan bermanfaat, penderita diabetes disarankan mengikuti panduan berikut:

1. Batasi Porsi

Konsumsi kerang secukupnya dan tidak perlu setiap hari.

2. Pilih Cara Masak yang Sehat

Kerang yang direbus, dikukus, atau dipanggang jauh lebih aman dibanding digoreng atau dimasak dengan saus manis dan berminyak.

3. Hindari Saus Tinggi Gula

Batasi penggunaan kecap manis, saus atau bumbu yang memakai gula berlebih. 

Kapan Penderita Diabetes Harus Ke Dokter?

Penderita diabetes perlu memantau konsumsi kerang, terutama jika muncul gejala gula darah sering naik dan kadar kolesterol tinggi. Dokter penyakit dalam dapat membantu pengelolaan diabetes, sedangkan ahli gizi atau dokter gizi dapat menyusun pola makan yang aman, termasuk porsi dan cara mengolah kerang.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2159-_1_-1200x814.webp

November 27, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Bagi banyak orang Indonesia, udang adalah lauk yang hampir selalu menggugah selera. Aromanya yang khas dan teksturnya yang lembut membuat udang mudah diolah menjadi berbagai masakan rumahan. Namun, bagi penderita diabetes, muncul rasa ragu setiap kali ingin menikmatinya.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Udang?

Penderita diabetes pada dasarnya boleh mengonsumsi udang. Udang bukan termasuk makanan pemicu lonjakan gula darah karena kandungan karbohidratnya sangat rendah. 

Meski begitu, konsumsi udang tetap perlu dibatasi, terutama bagi penderita diabetes yang juga memiliki masalah kolesterol tinggi atau riwayat penyakit jantung. Hal ini karena udang mengandung kolesterol yang cukup tinggi sehingga porsinya tidak dianjurkan berlebihan.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Udang

Berdasarkan data dari U.S Department of Agriculture, dalam 100 gram udang, terdapat komponen gizi berikut:

  • Energi: 71–76 kkal
  • Protein: 15,6 g
  • Lemak total: 0,8 g
  • Karbohidrat: 0,48 g
  • Kolesterol: 136 mg 

Kombinasi ini menunjukkan bahwa udang merupakan sumber protein hewani rendah kalori dengan kandungan karbohidrat minimal. Karena karbohidratnya hampir tidak ada, udang memiliki indeks glikemik (IG) 0 dan beban glikemik 0, sehingga secara sifat dasar tidak memberikan pengaruh langsung terhadap kenaikan kadar gula darah.

Manfaat Udang bagi Penderita Diabetes

Selain dapat dikonsumsi dengan aman jika diatur porsinya, udang juga memberikan beberapa manfaat bagi penderita diabetes:

1. Sumber Protein Tinggi

Udang kaya akan protein yang membantu mempertahankan massa otot, memberi rasa kenyang lebih lama, dan tidak memengaruhi gula darah.

2. Rendah Kalori dan Lemak

Kandungan kalori dan lemak yang rendah membuat udang cocok untuk penderita diabetes yang ingin menjaga berat badan ideal.

3. Kaya Mineral

Udang mengandung selenium dan fosfor yang berperan penting dalam metabolisme tubuh serta mendukung sistem kekebalan.

4. Rendah Karbohidrat

Dengan karbohidrat hampir nol, udang tidak menyebabkan lonjakan gula darah, sehingga aman sebagai sumber protein dalam menu sehari-hari.

Bahaya Makan Udang Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Meski tidak menaikkan gula darah, konsumsi udang berlebihan tetap dapat menimbulkan beberapa risiko bagi penderita diabetes.

1. Kandungan Kolesterol Tinggi

Udang mengandung kolesterol yang cukup tinggi, sehingga jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah besar dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL). Kondisi ini berbahaya bagi penderita diabetes karena mereka memiliki risiko tinggi terhadap penyakit jantung dan stroke.

2. Risiko Tekanan Darah Meningkat

Beberapa produk udang olahan mengandung natrium tinggi (misalnya udang kering, udang beku berbumbu, atau udang goreng tepung). Natrium berlebih dapat meningkatkan tekanan darah, yang memperparah risiko komplikasi diabetes.

3. Reaksi Alergi pada Sebagian Orang

Udang juga termasuk alergen. Reaksi alergi dapat menimbulkan gejala seperti gatal, sesak napas, dan bengkak, yang tentu berbahaya jika tidak segera ditangani.

Cara Makan Udang dengan Aman bagi Penderita Diabetes

Untuk bisa menikmati udang tanpa menimbulkan risiko bagi kesehatan, penderita diabetes perlu memperhatikan beberapa hal berikut: 

1. Batasi Porsi

Konsumsi udang dalam jumlah sedang, yaitu sekitar 3-5 ekor ukuran sedang per porsi.

2. Pilih Metode Masak yang Tepat

Hindari menggoreng dengan tepung atau memasak udang bersantan pekat karena dapat menambah kalori dan lemak. Cara memasak yang lebih sehat antara lain direbus, dikukus, dipanggang, atau ditumis ringan dengan sedikit minyak.

3. Hindari Bumbu Tinggi Gula dan Garam

Batasi penggunaan saus manis, kecap, atau saus tiram berlebihan, serta jangan menambahkan garam terlalu banyak, terutama jika mengonsumsi udang olahan yang sudah mengandung natrium tinggi.

4. Perhatikan Kondisi Kolesterol

Bagi penderita diabetes yang juga memiliki kolesterol tinggi atau riwayat penyakit jantung, konsumsi udang sebaiknya dibatasi lebih ketat dan dikonsultasikan dengan dokter bila perlu..

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter? 

Meskipun udang aman dikonsumsi dalam porsi wajar, penderita diabetes disarankan berkonsultasi ke dokter jika gula darah sulit dikontrol, kadar kolesterol meningkat setelah mengonsumsi udang, atau muncul gejala alergi seperti gatal, bentol, bengkak, atau sesak napas. 

Konsultasi dapat dilakukan ke dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) untuk memantau kondisi, mendeteksi, dan mencegah komplikasi jangka panjang. Selain itu, temui juga ahli gizi atau dokter gizi untuk membantu menyusun rencana makan yang aman dan seimbang.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2149140472-1-1200x798.webp

November 27, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Gatal pada kulit merupakan salah satu keluhan yang sering dialami oleh penderita diabetes. Kondisi ini bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan lain yang perlu mendapat perhatian, seperti infeksi kulit, gangguan saraf, atau kadar gula darah yang tidak terkontrol.

Untuk memahami lebih lanjut tentang gejala sering gatal pada diabetes, artikel ini membahas penyebab, pencegahan, serta kapan harus ke dokter. Simak sampai selesai, ya! 

Apa itu Gejala Sering Gatal pada Penderita Diabetes?

Sering gatal pada penderita diabetes adalah kondisi ketika kulit terasa gatal berulang, biasanya hanya di bagian tertentu, bisa ringan hingga mengganggu aktivitas. Keluhan ini biasanya muncul pada area seperti kaki, betis, lengan, atau lipatan tubuh.

Menurut jurnal yang berjudul “Skin Manifestations of Diabetes Mellitus”, kelainan kulit dialami oleh 30–70% penderita diabetes. Artinya, gejala kulit termasuk rasa gatal merupakan manifestasi yang sangat umum dan dapat menjadi indikator awal adanya gangguan metabolik. 

Pada diabetes, gatal dapat timbul akibat perubahan kondisi kulit, gangguan sirkulasi darah, hingga komplikasi diabetes yang menyebabkan kerusakan fungsi saraf. 

Apakah Sering Gatal Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Sering merasa gatal bukan selalu tanda diabetes. Walaupun penderita diabetes bisa mengalami gejala sering gatal, keluhan gatal juga dapat terjadi karena faktor lain. Berikut beberapa penyebab gatal pada kulit:

  • Alergi atau iritasi kulit
  • Eksim atau dermatitis
  • Infeksi jamur atau bakteri
  • Gigitan serangga
  • Kulit yang sangat kering

Pada beberapa kasus, gatal yang sering muncul bisa menjadi salah satu keluhan awal yang mengarah pada diabetes, terutama jika disertai gejala lain seperti sering haus, sering buang air kecil, atau luka yang sulit sembuh. Karena itu, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya.

Penyebab Sering Gatal pada Penderita Diabetes

Beberapa faktor yang menyebabkan penderita diabetes lebih sering mengalami gatal antara lain:

a. Kulit Kering

Hiperglikemia atau kadar gula darah yang tinggi membuat tubuh kehilangan cairan lebih cepat sehingga kulit menjadi kering, pecah-pecah, dan mudah menimbulkan rasa gatal.

b. Gangguan Sirkulasi Darah

Diabetes dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke kulit. Aliran darah yang kurang optimal membuat kulit terasa lebih sensitif, rentan iritasi, dan lebih mudah gatal, terutama pada kaki.

c. Neuropati Diabetik

Neuropati diabetik adalah komplikasi diabetes yang menyebabkan kerusakan saraf akibat kadar gula darah tinggi. Neuropati diabetik dapat menyebabkan gangguan sensasi, seperti panas, kesemutan, mati rasa, atau gatal tanpa penyebab jelas.

d. Infeksi Jamur dan Bakteri

Kadar gula darah yang tidak terkontrol pada penderita diabetes dapat menyebabkan melemahnya sistem imunitas. Akibatnya, penderita diabetes lebih berisiko mengalami infeksi kulit, terutama infeksi jamur Candida dan infeksi bakteri. Infeksi dapat menyebabkan gejala gatal, kemerahan, atau ruam yang menyebar.

Apakah Sering Gatal pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Gatal bukan kondisi yang berbahaya secara langsung, tetapi bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius, seperti:

  • Infeksi kulit yang dapat memburuk jika tidak segera ditangani
  • Kulit pecah atau luka akibat garukan, yang berisiko sulit sembuh pada penderita diabetes
  • Kerusakan saraf (neuropati)
  • Gangguan sirkulasi darah yang mungkin mengarah pada komplikasi lain

Apabila gatal berlangsung lama, sering kambuh, atau disertai luka, kondisi ini harus dievaluasi oleh dokter untuk mencegah komplikasi.

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Gatal pada Penderita Diabetes

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu meringankan dan mencegah keluhan gatal:

a. Mengontrol Kadar Gula Darah

Pengendalian gula darah adalah kunci utama untuk menangani diabetes dan komplikasinya, termasuk rasa gatal yang muncul akibat komplikasi dari hiperglikemia. 

b. Menjaga Kelembaban Kulit

Gunakan pelembab tanpa pewangi setelah mandi atau saat kulit terasa kering.

c. Hindari Menggaruk

Penderita diabetes berisiko mengalami luka yang sulit sembuh akibat gula darah tinggi. Karena itu, hindari menggaruk kulit karena dapat menyebabkan luka dan meningkatkan risiko infeksi.

d. Gunakan Pakaian Berbahan Lembut dan Tidak Ketat

Pakaian yang terlalu ketat dapat memperburuk sirkulasi darah dan bahan yang kasar dapat memperburuk iritasi kulit. Jadi, gunakan pakaian yang nyaman, tidak ketat, menyerap keringat, dan berbahan lembut. 

e. Atasi Infeksi Kulit

Jika terdapat tanda infeksi di kulit seperti kemerahan, muncul bercak gatal, atau ruam, segera konsultasikan ke dokter agar mendapat pengobatan yang tepat. 

Kapan Penderita Diabetes atau Orang Dengan Keluhan Gatal Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila sering merasa gatal disertai gejala di bawah:

  • Gatal tidak membaik dalam 1–2 minggu
  • Gatal sangat mengganggu aktivitas atau tidur
  • Terdapat ruam, kemerahan, cairan, atau bintik bernanah
  • Muncul luka akibat garukan yang tidak kunjung sembuh
  • Gatal disertai gejala lain seperti sering haus, sering kencing, atau lemas. 

Kamu bisa konsultasi ke dokter berikut, sesuai dengan gejala yang kamu rasakan:

  • Dokter penyakit dalam, terutama subspesialis endokrin untuk menilai apakah keluhan gatal berkaitan dengan kontrol gula darah atau komplikasi diabetes.
  • Dokter spesialis kulit (dermatolog) jika terdapat infeksi kulit, ruam, atau iritasi yang membutuhkan terapi khusus.
  • Dokter saraf apabila gatal disertai sensasi nyeri terbakar, kesemutan, atau mati rasa yang mengarah ke neuropati.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148704911-1.webp

November 27, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Batuk adalah respon alami tubuh untuk membersihkan saluran pernapasan dari iritasi, lendir, atau infeksi. Batuk merupakan keluhan yang sering dialami oleh masyarakat umum. Orang dewasa bisa mengalami gejala batuk pilek 1-3 kali dalam setahun. Sedangkan anak-anak bisa lebih sering karena daya tahan tubuh yang lebih lemah. 

Namun, jika gejala sering batuk dialami oleh penderita diabetes apakah memiliki makna yang lain? Artikel ini membahas hubungan sering batuk pada diabetes, penyebabnya, serta kapan seseorang harus ke dokter. 

Apa itu Gejala Sering Batuk pada Penderita Diabetes?

Sering batuk pada penderita diabetes adalah kondisi ketika penderita diabetes mengalami gejala batuk yang bisa berlangsung lebih lama dari biasanya dan muncul berulang. Keluhan bisa disertai gejala pernapasan lain seperti sesak, dahak berlebihan, atau rasa panas di tenggorokan.

Batuk tidak selalu khas pada diabetes, tetapi penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi saluran napas sehingga keluhan batuk bisa muncul lebih sering.

Apakah Sering Batuk Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Sering batuk bukan gejala khas diabetes dan tidak selalu berkaitan dengan gula darah. Batuk lebih sering disebabkan oleh penyakit pada saluran pernapasan. Beberapa penyebab batuk adalah:

  • Infeksi saluran pernapasan (flu, bronkitis, pneumonia)
  • Alergi
  • Asma
  • Polusi udara
  • Efek samping obat (misalnya obat hipertensi golongan ACE inhibitor)

Namun, pada penderita diabetes, gejala batuk bisa muncul lebih sering karena sistem imunitas tubuh yang menurun sehingga lebih berisiko terkena infeksi pada saluran pernapasan. 

Penyebab Sering Batuk pada Penderita Diabetes

Diabetes yang tidak terkontrol menyebabkan kadar gula darah tinggi atau hiperglikemia. Hiperglikemia yang berlangsung dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi sel darah putih dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Karena itu, penderita diabetes lebih rentan terkena infeksi saluran pernapasan seperti flu, bronkitis, atau pneumonia yang memicu batuk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes tipe 2 lebih sering mengalami gejala pernapasan termasuk batuk atau dahak kronis dibandingkan populasi umum, terutama pada usia 45–64 tahun. Hasil temuan tersebut mengindikasikan bahwa diabetes dapat mempercepat penurunan fungsi paru dan meningkatkan sensitivitas saluran napas terhadap iritasi.

Kombinasi penurunan daya tahan tubuh, gangguan metabolik, serta risiko penyakit penyerta membuat penderita diabetes lebih mudah mengalami batuk berulang. 

Apakah Sering Batuk pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Gejala sering batuk pada penderita diabetes bisa berbahaya, terutama jika:

  • Berhubungan dengan infeksi paru seperti pneumonia atau TBC
  • Disertai penurunan saturasi oksigen, demam, atau sesak napas
  • Menyebabkan gangguan makan dan tidur
  • Memunculkan bahaya lain seperti lonjakan gula darah karena tubuh sedang melawan infeksi

Pada penderita diabetes, infeksi apa pun, termasuk infeksi saluran pernapasan, dapat meningkatkan kadar gula darah dan memperburuk kondisi. Karena itu, sering batuk dan batuk yang tidak segera membaik perlu diwaspadai.

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Batuk pada Penderita Diabetes

Berikut beberapa cara mencegah dan mengatasi sering batuk pada penderita diabetes:

a. Mengontrol Kadar Gula Darah

Penderita diabetes harus mengontrol kadar gula darah. Gula darah yang stabil membantu menjaga daya tahan tubuh dan mengurangi risiko infeksi.

b. Menjaga Kesehatan Saluran Pernapasan

Menjaga kebersihan dan kesehatan saluran pernapasan dengan:

  • Menghindari paparan polusi udara
  • Menggunakan masker di lingkungan berdebu atau ramai
  • Meningkatkan ventilasi ruangan
  • Hindari merokok dan paparan asap rokok

c. Vaksinasi

Vaksinasi dapat melindungi dari beberapa penyakit paru-paru, yaitu vaksinasi influenza, pneumonia, dan TBC.

Kapan Penderita Diabetes atau Orang yang Sering Batuk Harus ke Dokter?

Gejala sering batuk bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari alergi, influenza, hingga infeksi paru-paru yang lebih berat. Anda harus segera ke dokter jika mengalami gejala sering batuk dan disertai gejala berikut:

  • Batuk berlangsung lebih dari 2 minggu
  • Disertai demam tinggi, menggigil, atau sesak napas
  • Dahak bercampur darah
  • Napas berbunyi mengi atau terdengar suara napas tambahan
  • Penurunan berat badan tanpa sebab
  • Saturasi oksigen menurun hingga < 94%
  • Batuk mengganggu tidur atau aktivitas harian
  • Gula darah meningkat selama batuk. 

Anda bisa ke dokter berikut jika mengalami batuk:

  • Dokter spesialis penyakit dalam: untuk pemeriksaan keseluruhan, terutama jika terkait gula darah atau infeksi
  • Dokter spesialis paru : bila batuk kronis, sesak, atau dicurigai penyakit paru
  • Dokter spesialis THT: jika batuk dicurigai berasal dari iritasi tenggorokan atau infeksi jamur
  • Dokter penyakit dalam konsultan endokrin: jika batuk disertai dengan kontrol diabetes yang buruk. 

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Anda bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2150478595-1-1200x800.webp

November 26, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Apakah kamu sering digigit nyamuk dibanding orang lain? Jika iya, kamu mungkin bertanya-tanya, “Mengapa nyamuk lebih sering menggigit seseorang dibanding orang lain?”

Banyak orang percaya bahwa penderita diabetes lebih sering digigit nyamuk karena darah mereka dianggap “lebih manis”. Namun, apakah anggapan ini benar? Cek faktanya di artikel ini, ya! 

Apakah Benar Penderita Diabetes Sering Digigit Nyamuk?

Faktanya, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa penderita diabetes lebih sering digigit nyamuk dibandingkan orang tanpa diabetes. Nyamuk tidak memilih mangsa berdasarkan kadar gula darah. Faktor utama yang menarik nyamuk meliputi bau tubuh, panas kulit, jumlah karbon dioksida yang dihembuskan, serta komposisi keringat.

Jika seseorang yang menderita diabetes lebih sering digigit nyamuk, kemungkinan disebabkan oleh metabolisme tubuh yang menghasilkan karbon dioksida atau senyawa pada kulit. Karena itu, secara tidak langsung membuat nyamuk lebih tertarik. Namun, sering digigit nyamuk tidak disebabkan oleh diabetes secara langsung.

Apakah Sering Digigit Nyamuk Merupakan Tanda Diabetes?

Sering digigit nyamuk bukan tanda atau gejala diabetes. Tidak ada pedoman medis yang menggunakan frekuensi gigitan nyamuk sebagai indikator diabetes.

Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi akibat gangguan produksi insulin atau resistensi insulin.  Diagnosis diabetes ditegakkan bila kadar glukosa darah puasa ≥126 mg/dL, hasil tes HbA1c ≥6,5%, atau kadar gula darah sewaktu ≥200 mg/dL. Diabetes juga bisa menimbulkan gejala khas seperti sering buang air kecil, haus berlebihan, dan penurunan berat badan tanpa sebab.

Walau begitu, penderita diabetes memang perlu berhati-hati dengan gigitan nyamuk. Pasalnya, penderita diabetes yang tidak terkontrol berisiko mengalami luka yang sulit sembuh. Luka bekas gigitan nyamuk bisa menjadi besar jika digaruk hingga lecet, sembuh lebih lambat dan berisiko infeksi.

Penyebab Seseorang Lebih Sering Digigit Nyamuk

Ada banyak faktor yang membuat seseorang tampak lebih menarik bagi nyamuk. Salah satu temuan ilmiah menunjukkan bahwa nyamuk memilih manusia berdasarkan bau kulit, suhu tubuh, dan gas yang dihasilkan saat bernapas, bukan karena gula darah tinggi atau diabetes.

Penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor paling dominan yang menentukan daya tarik seseorang bagi nyamuk adalah komposisi bau kulit, terutama kadar asam karboksilat (carboxylic acids) yang diproduksi oleh mikrobiota kulit.

Orang dengan kadar asam karboksilat lebih tinggi menghasilkan aroma kulit yang jauh lebih menarik bagi nyamuk. Temuan ini menegaskan bahwa frekuensi gigitan nyamuk lebih dipengaruhi oleh profil kimiawi kulit dibandingkan faktor seperti gula darah atau kondisi medis tertentu.

Selain itu, tubuh yang hangat dan kulit lembab merupakan kondisi ideal bagi nyamuk untuk menggigit. Senyawa seperti asam laktat dan amonia juga dapat menarik nyamuk.

Kondisi lingkungan juga berpengaruh. Genangan air, ruangan lembab, dan lingkungan kotor meningkatkan jumlah nyamuk di sekitar, sehingga meningkatkan kemungkinan digigit nyamuk. 

Cara Pencegahan Jika Sering Digigit Nyamuk

Mencegah gigitan nyamuk sangat penting untuk menghindari risiko penyakit seperti demam berdarah, malaria, dan chikungunya. Langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah:

  • Menjaga kebersihan lingkungan dengan menutup, menguras, dan mengubur tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk.
  • Menggunakan lotion atau semprotan anti-nyamuk yang mengandung DEET, picaridin, atau minyak lemon eucalyptus untuk melindungi kulit dari gigitan.
  • Pada malam hari, tidur menggunakan kelambu dan pastikan ventilasi rumah dilengkapi kawat nyamuk.
  • Kenakan pakaian berlengan panjang saat beraktivitas di luar, terutama pada pagi dan sore hari ketika nyamuk lebih aktif.
  • Bila memungkinkan, gunakan kipas angin atau AC karena aliran udara dapat menghambat kemampuan nyamuk untuk mendekat

Jika terlanjur digigit nyamuk, penanganan sederhana dapat membantu meredakan gatal serta mencegah iritasi lebih lanjut. Bersihkan area yang digigit dengan sabun dan air mengalir untuk mengurangi risiko infeksi.

Hindari menggaruk karena dapat menyebabkan luka, infeksi kulit, atau peradangan yang lebih berat. Bila gatal sangat mengganggu, oleskan krim atau lotion yang mengandung calamine, hydrocortisone ringan, atau antihistamin topikal sesuai kebutuhan. 

Pada kasus gigitan yang menimbulkan reaksi alergi lebih berat seperti bengkak luas, bentol besar, atau sesak napas segera cari pertolongan medis karena dapat menandakan reaksi alergi yang lebih serius, walaupun jarang terjadi. Penanganan cepat dan tepat akan membantu meringankan gejala dan mencegah komplikasi pada kulit.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa sering digigit nyamuk tidak ada hubungannya dengan diabetes, ya! 

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!



November 26, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Banyak informasi beredar bahwa minum air hangat dapat membantu menurunkan kadar gula darah. Klaim ini membuat sebagian penderita diabetes menjadikan air hangat sebagai “terapi” pendukung.

Namun, apakah benar minum air hangat bisa menurunkan kadar gula darah? Berikut faktanya!

Apakah Minum Air Hangat Bisa Menurunkan Kadar Gula Darah? 

Secara ilmiah, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa minum air hangat bisa menurunkan kadar gula darah secara langsung, seperti obat diabetes. Namun, hidrasi yang cukup, termasuk dengan air hangat, dapat membantu tubuh mengatur kadar gula darah.

Pada kondisi dehidrasi, konsentrasi glukosa dalam darah meningkat karena volume plasma menurun. Dengan minum cukup air, tubuh dapat kembali menyeimbangkan cairan dan membantu ginjal membuang kelebihan glukosa melalui urin.

Jadi, air hangat bukan terapi medis untuk menurunkan gula darah, tetapi bisa mendukung kontrol gula darah sebagai bagian dari pola hidup sehat.

Mengapa Minum Air Hangat Dapat Membantu Menurunkan Kadar Gula Darah?

Air hangat tidak secara langsung dapat menurunkan kadar gula darah. Pada dasarnya, ketika masuk lambung, suhu makanan dan minuman akan diubah hingga mencapai suhu internal, yaitu sekitar 37° C sebelum diserap.

Hidrasi yang baik sangat penting untuk mencegah peningkatan gula darah. Air membantu ginjal membuang gula berlebih melalui urin. Dengan tubuh yang terhidrasi dengan baik, proses pembuangan glukosa berjalan lebih efektif. Air hangat dapat membantu sebagian orang minum lebih banyak karena lebih nyaman untuk tubuh.

Selain itu, sensasi hangat dapat membuat tubuh lebih rileks dan menurunkan stres ringan. Stres merupakan salah satu faktor yang dapat memicu kenaikan gula darah melalui peningkatan hormon kortisol. Walau efeknya tidak besar, kenyamanan tubuh tetap memberi manfaat tambahan.

Air hangat dapat meningkatkan aliran darah ke saluran cerna, membantu otot pencernaan bekerja lebih rileks, dan memberikan rasa nyaman di perut. Proses pencernaan yang lebih optimal dapat berkontribusi pada regulasi metabolisme secara menyeluruh.

Dengan kata lain, air hangat tidak bekerja secara langsung untuk menurunkan kadar gula darah, tetapi mendukung berbagai proses tubuh yang terkait dengan pengendalian gula darah.

Cara Minum Air Hangat yang Tepat untuk Penderita Diabetes

Jika kamu ingin minum air hangat, perhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Minum air hangat dalam jumlah cukup, sekitar 6–8 gelas per hari, atau sesuai kebutuhan tubuh.
  2. Gunakan suhu air hangat yang aman, sekitar 40–60°C, agar tidak melukai mulut atau kerongkongan.
  3. Minumlah secara bertahap sepanjang hari, bukan dalam jumlah besar sekaligus.
  4. Biasakan minum segelas air hangat sebelum makan untuk membantu mengurangi rasa lapar berlebih.
  5. Minum air hangat setelah makan jika terasa nyaman untuk membantu pencernaan.
  6. Hindari menambahkan gula, madu, atau pemanis lain ke dalam air hangat.
  7. Jangan mengandalkan air hangat sebagai pengganti obat atau terapi diabetes yang diberikan oleh dokter.
  8. Gunakan air hangat sebagai bagian dari pola hidup sehat yang meliputi makan terkontrol, aktivitas fisik, dan manajemen stres.
  9. Hentikan atau kurangi jika muncul keluhan seperti mual, tidak nyaman di perut, atau sensasi panas berlebihan.
  10. Konsultasikan ke dokter bila memiliki kondisi medis tertentu yang membatasi asupan cairan.

Konsultasi Gula Darah di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.