2150775198-_1_-1200x800.webp

November 27, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Sensitivitas insulin sangat berkaitan erat dengan penyakit diabetes yang merupakan penyakit kronik yang banyak diderita penduduk di dunia. 

Menurut data WHO, terdapat 415 juta orang berusia 20–79 tahun yang mengidap diabetes di seluruh dunia. Sekitar 10,3 juta penduduk Indonesia menderita diabetes menurut Federasi Diabetes Internasional pada tahun 2017.

Diabetes ditandai dengan adanya kadar gula darah tinggi dalam darah (hiperglikemia) akibat kegagalan produksi insulin, menurunnya sensitivitas insulin (karena terjadinya resistensi insulin), dan/atau keduanya.

Apa Itu Sensitivitas Insulin?

Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas dan memiliki banyak fungsi dalam metabolisme tubuh, di antaranya merangsang proses metabolisme pada berbagai jenis sel, pembentukan lemak, glikogen (gula otot), serta menghambat pemecahan lemak, protein, dan gula otot. Oleh karena itu, insulin memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme tubuh sehingga fungsinya harus selalu dijaga agar tidak mengalami penurunan sensitivitas insulin. Sensitivitas insulin adalah kemampuan respons tubuh terhadap efek hormon insulin. Pembahasan sensitivitas insulin tidak lepas dengan kondisi resistensi insulin yang merupakan  kondisi kegagalan respons tubuh terhadap stimulasi insulin ke jaringan target.

Bahaya Sensitivitas Insulin yang Buruk

Sensitivitas insulin yang buruk akan menyebabkan berbagai penyakit dan komplikasi, di antaranya: 

  1. Diabetes melitus tipe 2 adalah kondisi paling umum akibat sensitivitas insulin yang buruk. Hal ini menyebabkan glukosa sulit masuk ke dalam sel sehingga menumpuk di dalam darah.
  2. Meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi (hipertensi), dan penyakit arteri perifer.
  3. Kerusakan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi dapat menyebabkan komplikasi ke otak, yaitu stroke. 
  4. Dislipidemia yang diakibatkan karena adanya gangguan pada metabolisme lemak.
  5. Penyakit asam lemak non-alkohol.
  6. Sindrom metabolik yang merupakan keadaan yang terjadi secara bersamaan dan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. 
  7. Gangguan ginjal akibat beban kerja ginjal yang berat karena kadar gula darah yang tinggi.
  8. Gangguan kesuburan seperti PCOS yang  dapat menghambat terjadinya kehamilan. 
  9. Komplikasi kehamilan berupa diabetes gestasional, preeklamsia, dan kelahiran bayi besar.
  10. Peningkatan penanda inflamasi. Hal ini dapat memicu lamanya luka sembuh pada penderita diabetes.

Cara Mengecek Kualitas Sensitivitas Insulin

Meskipun penurunan sensitivitas insulin dapat dinilai berdasarkan gejala klinis yang dialami pasien, pada kenyataannya, sulit mendapatkan nilainya secara akurat. Namun, ada beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menilai sensitivitas insulin. Hal ini dilakukan melalui dua metode utama, yaitu metode langsung dan tidak langsung. 

1. Metode pemeriksaan langsung 

a. Hyperinsulinemic Euglycemic Clamp (Hiec) 

Metode ini dianggap sebagai baku emas untuk mengukur sensitivitas insulin. 

b. Insulin Tolerance Test (ITT) 

Insulin tolerance test mengukur kecepatan penurunan glukosa plasma setelah diberikan injeksi insulin. 

c. Insulin Suppression Test (IST)

Insulin suppression test merupakan metode yang lebih sederhana dibandingkan dari HIEC dengan melibatkan penggunaan somatostatin.

d. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)

Tes ini adalah pemeriksaan sederhana yang sering dilakukan untuk mendiagnosis intoleransi glukosa dan diabetes tipe 2. jika didapatkan hasil pemeriksaan glukosa plasma ≥200 mg/dl pada menit ke-120 setelah konsumsi glukosa sebesar 75 gram, angka tersebut memenuhi kriteria diagnosis diabetes. 

2. Metode pemeriksaan tidak langsung

a. Homeostasis Model Assessment–Insulin Resistance (HOMA-IR) 

Metode ini digunakan untuk memprediksi konsentrasi glukosa dan insulin keadaan puasa.

b. Quantitative Insulin Sensitivity Check Index (Quicki) 

Metode ini dapat memberikan indeks sensitivitas insulin (isi) yang konsisten dan presisi. 

c. Indeks Matsuda

Indeks ini melakukan perhitungan sensitivitas insulin dari konsentrasi glukosa  plasma dan insulin pada keadaan puasa dan selama TTGO.

d. Indeks Trigliserida Glukosa (indeks Tyg) 

Indeks Tyg dihitung dari glukosa plasma puasa dan kadar trigliserida puasa. 

Manfaat Sensitivitas Insulin yang Baik

Sensitivitas insulin yang baik merupakan keadaan dimana respons biologis tubuh terhadap insulin adalah normal dan efisien. Manfaat utama dari sensitivitas insulin yang baik adalah memastikan metabolisme glukosa yang efisien, dan yang terpenting, mencegah timbulnya resistensi insulin dan berbagai komplikasi yang diakibatkannya.

Manfaat dari sensitivitas insulin yang baik termasuk:

  1. Keseimbangan glukosa normal: kemampuan tubuh yang baik untuk menggunakan glukosa dan menjaga kadar gula darah tetap stabil.
  2. Pencegahan penyakit metabolik: mengurangi risiko penyakit seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dislipidemia, dan penyakit kardiovaskular.
  3. Mekanisme metabolisme yang optimal: penyerapan glukosa ke dalam otot rangka berjalan dengan baik dan optimal.

Cara Meningkatkan Sensitivitas Insulin 

Peningkatan sensitivitas insulin melibatkan penanganan faktor penyebab resistensi insulin melalui dua cara utama, yaitu perubahan gaya hidup dan penggunaan obat. 

1. Perubahan gaya hidup 

a. Aktivitas fisik/olahraga

Aktivitas fisik dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Selain itu, dapat juga dilakukan untuk menjaga kebugaran dan menurunkan berat badan pada pasien dengan obesitas. Obesitas dapat menyebabkan resistensi insulin. Oleh karena itu, aktivitas fisik perlu dilakukan secara rutin dengan total 150 menit per minggu.  

b. Terapi nutrisi

Terapi nutrisi dilakukan dengan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang sesuai dengan kebutuhan kalori. Pastikan setiap makanan mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan serat sesuai dengan anjuran yang disarankan.

2. Cara medis atau penggunaan obat

  1. Metformin: merupakan terapi lini pertama untuk mengurangi produksi glukosa hati dan memperbaiki penggunaan glukosa pada jaringan perifer. 
  2. Thiazolidinediones (TZDs): Obat ini memiliki efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein yang mengangkut glukosa. Dengan demikian, penggunaan glukosa pada jaringan semakin meningkat. 

Kemana Perlu Berkonsultasi Terkait Sensitivitas Insulin? 

Dari penjelasan di atas, sensitivitas insulin berkaitan erat dengan diabetes. Jika Anda merasakan gejala khas, seperti mudah lapar, haus, sering buang air kecil, dan terjadi penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya, Anda perlu melakukan konsultasi dengan dokter untuk dapat mengevaluasi kondisi kesehatan Anda, salah satunya kondisi sensitivitas insulin. 

Untuk dapat melakukan hal tersebut, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam atau dokter spesialis penyakit dalam subspesialis endokrin metabolisme diabetes. Kedua dokter spesialis ini mendalami bidang penyakit metabolik yang berkaitan dengan kondisi sensitivitas insulin atau resistensi insulin. 


2148375684-_1_-1200x800.webp

November 27, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Sebagai makanan laut yang lezat dan kaya rasa, kerang memiliki daya tarik tersendiri. Meski begitu, banyak penderita diabetes bertanya-tanya apakah konsumsi kerang aman bagi kadar gula darah dan kesehatan mereka.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Kerang?

Penderita diabetes boleh makan kerang, asalkan dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan cara sehat. Kerang rendah karbohidrat sehingga tidak secara langsung meningkatkan gula darah. Namun, kerang sering dimasak dengan bumbu tinggi gula, saus manis, atau digoreng, yang dapat menambah kalori, lemak, dan akhirnya memengaruhi gula darah.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Kerang

Kerang merupakan makanan laut yang kaya gizi dan menawarkan beragam manfaat bagi tubuh. Di dalamnya terkandung protein berkualitas tinggi yang berperan penting dalam memperbaiki serta membentuk jaringan tubuh.

Kerang juga menjadi sumber berbagai vitamin dan mineral esensial yang mendukung berbagai fungsi tubuh. Karena kandungan karbohidratnya sangat rendah, kerang memiliki indeks glikemik yang rendah dan hampir tidak memengaruhi gula darah. Hal inilah yang membuat kerang dapat menjadi pilihan sumber protein yang aman bagi penderita diabetes.

Bahaya Makan Kerang Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Meski tergolong aman, konsumsi kerang yang berlebihan atau diolah dengan cara yang tidak sehat dapat menimbulkan beberapa risiko:

1. Kolesterol Tinggi

Beberapa jenis kerang mengandung kolesterol cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam porsi besar, hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, yaitu kondisi yang rentan dialami penderita diabetes.

2. Asupan Lemak Bertambah

Kerang yang digoreng atau dimasak dengan saus kaya lemak (misalnya bersanta atau menggunakan mentega berlebihan dapat meningkatkan lemak jenuh. Pola makan tinggi lemak jenuh dapat memperburuk kontrol gula darah dan meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah.

3. Kalori Berlebih

Mengonsumsi kerang dalam porsi besar, apalagi ditambah karbohidrat dan saus tinggi kalori, bisa menyebabkan kenaikan berat badan. Berat badan berlebih meningkatkan resistensi insulin, yang memperburuk kondisi diabetes.

Cara Makan Kerang yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap aman dan bermanfaat, penderita diabetes disarankan mengikuti panduan berikut:

1. Batasi Porsi

Konsumsi kerang secukupnya dan tidak perlu setiap hari.

2. Pilih Cara Masak yang Sehat

Kerang yang direbus, dikukus, atau dipanggang jauh lebih aman dibanding digoreng atau dimasak dengan saus manis dan berminyak.

3. Hindari Saus Tinggi Gula

Batasi penggunaan kecap manis, saus atau bumbu yang memakai gula berlebih. 

Kapan Penderita Diabetes Harus Ke Dokter?

Penderita diabetes perlu memantau konsumsi kerang, terutama jika muncul gejala gula darah sering naik dan kadar kolesterol tinggi. Dokter penyakit dalam dapat membantu pengelolaan diabetes, sedangkan ahli gizi atau dokter gizi dapat menyusun pola makan yang aman, termasuk porsi dan cara mengolah kerang.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2159-_1_-1200x814.webp

November 27, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Bagi banyak orang Indonesia, udang adalah lauk yang hampir selalu menggugah selera. Aromanya yang khas dan teksturnya yang lembut membuat udang mudah diolah menjadi berbagai masakan rumahan. Namun, bagi penderita diabetes, muncul rasa ragu setiap kali ingin menikmatinya.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Udang?

Penderita diabetes pada dasarnya boleh mengonsumsi udang. Udang bukan termasuk makanan pemicu lonjakan gula darah karena kandungan karbohidratnya sangat rendah. 

Meski begitu, konsumsi udang tetap perlu dibatasi, terutama bagi penderita diabetes yang juga memiliki masalah kolesterol tinggi atau riwayat penyakit jantung. Hal ini karena udang mengandung kolesterol yang cukup tinggi sehingga porsinya tidak dianjurkan berlebihan.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Udang

Berdasarkan data dari U.S Department of Agriculture, dalam 100 gram udang, terdapat komponen gizi berikut:

  • Energi: 71–76 kkal
  • Protein: 15,6 g
  • Lemak total: 0,8 g
  • Karbohidrat: 0,48 g
  • Kolesterol: 136 mg 

Kombinasi ini menunjukkan bahwa udang merupakan sumber protein hewani rendah kalori dengan kandungan karbohidrat minimal. Karena karbohidratnya hampir tidak ada, udang memiliki indeks glikemik (IG) 0 dan beban glikemik 0, sehingga secara sifat dasar tidak memberikan pengaruh langsung terhadap kenaikan kadar gula darah.

Manfaat Udang bagi Penderita Diabetes

Selain dapat dikonsumsi dengan aman jika diatur porsinya, udang juga memberikan beberapa manfaat bagi penderita diabetes:

1. Sumber Protein Tinggi

Udang kaya akan protein yang membantu mempertahankan massa otot, memberi rasa kenyang lebih lama, dan tidak memengaruhi gula darah.

2. Rendah Kalori dan Lemak

Kandungan kalori dan lemak yang rendah membuat udang cocok untuk penderita diabetes yang ingin menjaga berat badan ideal.

3. Kaya Mineral

Udang mengandung selenium dan fosfor yang berperan penting dalam metabolisme tubuh serta mendukung sistem kekebalan.

4. Rendah Karbohidrat

Dengan karbohidrat hampir nol, udang tidak menyebabkan lonjakan gula darah, sehingga aman sebagai sumber protein dalam menu sehari-hari.

Bahaya Makan Udang Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Meski tidak menaikkan gula darah, konsumsi udang berlebihan tetap dapat menimbulkan beberapa risiko bagi penderita diabetes.

1. Kandungan Kolesterol Tinggi

Udang mengandung kolesterol yang cukup tinggi, sehingga jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah besar dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL). Kondisi ini berbahaya bagi penderita diabetes karena mereka memiliki risiko tinggi terhadap penyakit jantung dan stroke.

2. Risiko Tekanan Darah Meningkat

Beberapa produk udang olahan mengandung natrium tinggi (misalnya udang kering, udang beku berbumbu, atau udang goreng tepung). Natrium berlebih dapat meningkatkan tekanan darah, yang memperparah risiko komplikasi diabetes.

3. Reaksi Alergi pada Sebagian Orang

Udang juga termasuk alergen. Reaksi alergi dapat menimbulkan gejala seperti gatal, sesak napas, dan bengkak, yang tentu berbahaya jika tidak segera ditangani.

Cara Makan Udang dengan Aman bagi Penderita Diabetes

Untuk bisa menikmati udang tanpa menimbulkan risiko bagi kesehatan, penderita diabetes perlu memperhatikan beberapa hal berikut: 

1. Batasi Porsi

Konsumsi udang dalam jumlah sedang, yaitu sekitar 3-5 ekor ukuran sedang per porsi.

2. Pilih Metode Masak yang Tepat

Hindari menggoreng dengan tepung atau memasak udang bersantan pekat karena dapat menambah kalori dan lemak. Cara memasak yang lebih sehat antara lain direbus, dikukus, dipanggang, atau ditumis ringan dengan sedikit minyak.

3. Hindari Bumbu Tinggi Gula dan Garam

Batasi penggunaan saus manis, kecap, atau saus tiram berlebihan, serta jangan menambahkan garam terlalu banyak, terutama jika mengonsumsi udang olahan yang sudah mengandung natrium tinggi.

4. Perhatikan Kondisi Kolesterol

Bagi penderita diabetes yang juga memiliki kolesterol tinggi atau riwayat penyakit jantung, konsumsi udang sebaiknya dibatasi lebih ketat dan dikonsultasikan dengan dokter bila perlu..

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter? 

Meskipun udang aman dikonsumsi dalam porsi wajar, penderita diabetes disarankan berkonsultasi ke dokter jika gula darah sulit dikontrol, kadar kolesterol meningkat setelah mengonsumsi udang, atau muncul gejala alergi seperti gatal, bentol, bengkak, atau sesak napas. 

Konsultasi dapat dilakukan ke dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) untuk memantau kondisi, mendeteksi, dan mencegah komplikasi jangka panjang. Selain itu, temui juga ahli gizi atau dokter gizi untuk membantu menyusun rencana makan yang aman dan seimbang.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2149140472-1-1200x798.webp

November 27, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Gatal pada kulit merupakan salah satu keluhan yang sering dialami oleh penderita diabetes. Kondisi ini bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan lain yang perlu mendapat perhatian, seperti infeksi kulit, gangguan saraf, atau kadar gula darah yang tidak terkontrol.

Untuk memahami lebih lanjut tentang gejala sering gatal pada diabetes, artikel ini membahas penyebab, pencegahan, serta kapan harus ke dokter. Simak sampai selesai, ya! 

Apa itu Gejala Sering Gatal pada Penderita Diabetes?

Sering gatal pada penderita diabetes adalah kondisi ketika kulit terasa gatal berulang, biasanya hanya di bagian tertentu, bisa ringan hingga mengganggu aktivitas. Keluhan ini biasanya muncul pada area seperti kaki, betis, lengan, atau lipatan tubuh.

Menurut jurnal yang berjudul “Skin Manifestations of Diabetes Mellitus”, kelainan kulit dialami oleh 30–70% penderita diabetes. Artinya, gejala kulit termasuk rasa gatal merupakan manifestasi yang sangat umum dan dapat menjadi indikator awal adanya gangguan metabolik. 

Pada diabetes, gatal dapat timbul akibat perubahan kondisi kulit, gangguan sirkulasi darah, hingga komplikasi diabetes yang menyebabkan kerusakan fungsi saraf. 

Apakah Sering Gatal Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Sering merasa gatal bukan selalu tanda diabetes. Walaupun penderita diabetes bisa mengalami gejala sering gatal, keluhan gatal juga dapat terjadi karena faktor lain. Berikut beberapa penyebab gatal pada kulit:

  • Alergi atau iritasi kulit
  • Eksim atau dermatitis
  • Infeksi jamur atau bakteri
  • Gigitan serangga
  • Kulit yang sangat kering

Pada beberapa kasus, gatal yang sering muncul bisa menjadi salah satu keluhan awal yang mengarah pada diabetes, terutama jika disertai gejala lain seperti sering haus, sering buang air kecil, atau luka yang sulit sembuh. Karena itu, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya.

Penyebab Sering Gatal pada Penderita Diabetes

Beberapa faktor yang menyebabkan penderita diabetes lebih sering mengalami gatal antara lain:

a. Kulit Kering

Hiperglikemia atau kadar gula darah yang tinggi membuat tubuh kehilangan cairan lebih cepat sehingga kulit menjadi kering, pecah-pecah, dan mudah menimbulkan rasa gatal.

b. Gangguan Sirkulasi Darah

Diabetes dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke kulit. Aliran darah yang kurang optimal membuat kulit terasa lebih sensitif, rentan iritasi, dan lebih mudah gatal, terutama pada kaki.

c. Neuropati Diabetik

Neuropati diabetik adalah komplikasi diabetes yang menyebabkan kerusakan saraf akibat kadar gula darah tinggi. Neuropati diabetik dapat menyebabkan gangguan sensasi, seperti panas, kesemutan, mati rasa, atau gatal tanpa penyebab jelas.

d. Infeksi Jamur dan Bakteri

Kadar gula darah yang tidak terkontrol pada penderita diabetes dapat menyebabkan melemahnya sistem imunitas. Akibatnya, penderita diabetes lebih berisiko mengalami infeksi kulit, terutama infeksi jamur Candida dan infeksi bakteri. Infeksi dapat menyebabkan gejala gatal, kemerahan, atau ruam yang menyebar.

Apakah Sering Gatal pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Gatal bukan kondisi yang berbahaya secara langsung, tetapi bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius, seperti:

  • Infeksi kulit yang dapat memburuk jika tidak segera ditangani
  • Kulit pecah atau luka akibat garukan, yang berisiko sulit sembuh pada penderita diabetes
  • Kerusakan saraf (neuropati)
  • Gangguan sirkulasi darah yang mungkin mengarah pada komplikasi lain

Apabila gatal berlangsung lama, sering kambuh, atau disertai luka, kondisi ini harus dievaluasi oleh dokter untuk mencegah komplikasi.

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Gatal pada Penderita Diabetes

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu meringankan dan mencegah keluhan gatal:

a. Mengontrol Kadar Gula Darah

Pengendalian gula darah adalah kunci utama untuk menangani diabetes dan komplikasinya, termasuk rasa gatal yang muncul akibat komplikasi dari hiperglikemia. 

b. Menjaga Kelembaban Kulit

Gunakan pelembab tanpa pewangi setelah mandi atau saat kulit terasa kering.

c. Hindari Menggaruk

Penderita diabetes berisiko mengalami luka yang sulit sembuh akibat gula darah tinggi. Karena itu, hindari menggaruk kulit karena dapat menyebabkan luka dan meningkatkan risiko infeksi.

d. Gunakan Pakaian Berbahan Lembut dan Tidak Ketat

Pakaian yang terlalu ketat dapat memperburuk sirkulasi darah dan bahan yang kasar dapat memperburuk iritasi kulit. Jadi, gunakan pakaian yang nyaman, tidak ketat, menyerap keringat, dan berbahan lembut. 

e. Atasi Infeksi Kulit

Jika terdapat tanda infeksi di kulit seperti kemerahan, muncul bercak gatal, atau ruam, segera konsultasikan ke dokter agar mendapat pengobatan yang tepat. 

Kapan Penderita Diabetes atau Orang Dengan Keluhan Gatal Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila sering merasa gatal disertai gejala di bawah:

  • Gatal tidak membaik dalam 1–2 minggu
  • Gatal sangat mengganggu aktivitas atau tidur
  • Terdapat ruam, kemerahan, cairan, atau bintik bernanah
  • Muncul luka akibat garukan yang tidak kunjung sembuh
  • Gatal disertai gejala lain seperti sering haus, sering kencing, atau lemas. 

Kamu bisa konsultasi ke dokter berikut, sesuai dengan gejala yang kamu rasakan:

  • Dokter penyakit dalam, terutama subspesialis endokrin untuk menilai apakah keluhan gatal berkaitan dengan kontrol gula darah atau komplikasi diabetes.
  • Dokter spesialis kulit (dermatolog) jika terdapat infeksi kulit, ruam, atau iritasi yang membutuhkan terapi khusus.
  • Dokter saraf apabila gatal disertai sensasi nyeri terbakar, kesemutan, atau mati rasa yang mengarah ke neuropati.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148704911-1.webp

November 27, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Batuk adalah respon alami tubuh untuk membersihkan saluran pernapasan dari iritasi, lendir, atau infeksi. Batuk merupakan keluhan yang sering dialami oleh masyarakat umum. Orang dewasa bisa mengalami gejala batuk pilek 1-3 kali dalam setahun. Sedangkan anak-anak bisa lebih sering karena daya tahan tubuh yang lebih lemah. 

Namun, jika gejala sering batuk dialami oleh penderita diabetes apakah memiliki makna yang lain? Artikel ini membahas hubungan sering batuk pada diabetes, penyebabnya, serta kapan seseorang harus ke dokter. 

Apa itu Gejala Sering Batuk pada Penderita Diabetes?

Sering batuk pada penderita diabetes adalah kondisi ketika penderita diabetes mengalami gejala batuk yang bisa berlangsung lebih lama dari biasanya dan muncul berulang. Keluhan bisa disertai gejala pernapasan lain seperti sesak, dahak berlebihan, atau rasa panas di tenggorokan.

Batuk tidak selalu khas pada diabetes, tetapi penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi saluran napas sehingga keluhan batuk bisa muncul lebih sering.

Apakah Sering Batuk Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Sering batuk bukan gejala khas diabetes dan tidak selalu berkaitan dengan gula darah. Batuk lebih sering disebabkan oleh penyakit pada saluran pernapasan. Beberapa penyebab batuk adalah:

  • Infeksi saluran pernapasan (flu, bronkitis, pneumonia)
  • Alergi
  • Asma
  • Polusi udara
  • Efek samping obat (misalnya obat hipertensi golongan ACE inhibitor)

Namun, pada penderita diabetes, gejala batuk bisa muncul lebih sering karena sistem imunitas tubuh yang menurun sehingga lebih berisiko terkena infeksi pada saluran pernapasan. 

Penyebab Sering Batuk pada Penderita Diabetes

Diabetes yang tidak terkontrol menyebabkan kadar gula darah tinggi atau hiperglikemia. Hiperglikemia yang berlangsung dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi sel darah putih dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Karena itu, penderita diabetes lebih rentan terkena infeksi saluran pernapasan seperti flu, bronkitis, atau pneumonia yang memicu batuk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes tipe 2 lebih sering mengalami gejala pernapasan termasuk batuk atau dahak kronis dibandingkan populasi umum, terutama pada usia 45–64 tahun. Hasil temuan tersebut mengindikasikan bahwa diabetes dapat mempercepat penurunan fungsi paru dan meningkatkan sensitivitas saluran napas terhadap iritasi.

Kombinasi penurunan daya tahan tubuh, gangguan metabolik, serta risiko penyakit penyerta membuat penderita diabetes lebih mudah mengalami batuk berulang. 

Apakah Sering Batuk pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Gejala sering batuk pada penderita diabetes bisa berbahaya, terutama jika:

  • Berhubungan dengan infeksi paru seperti pneumonia atau TBC
  • Disertai penurunan saturasi oksigen, demam, atau sesak napas
  • Menyebabkan gangguan makan dan tidur
  • Memunculkan bahaya lain seperti lonjakan gula darah karena tubuh sedang melawan infeksi

Pada penderita diabetes, infeksi apa pun, termasuk infeksi saluran pernapasan, dapat meningkatkan kadar gula darah dan memperburuk kondisi. Karena itu, sering batuk dan batuk yang tidak segera membaik perlu diwaspadai.

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Batuk pada Penderita Diabetes

Berikut beberapa cara mencegah dan mengatasi sering batuk pada penderita diabetes:

a. Mengontrol Kadar Gula Darah

Penderita diabetes harus mengontrol kadar gula darah. Gula darah yang stabil membantu menjaga daya tahan tubuh dan mengurangi risiko infeksi.

b. Menjaga Kesehatan Saluran Pernapasan

Menjaga kebersihan dan kesehatan saluran pernapasan dengan:

  • Menghindari paparan polusi udara
  • Menggunakan masker di lingkungan berdebu atau ramai
  • Meningkatkan ventilasi ruangan
  • Hindari merokok dan paparan asap rokok

c. Vaksinasi

Vaksinasi dapat melindungi dari beberapa penyakit paru-paru, yaitu vaksinasi influenza, pneumonia, dan TBC.

Kapan Penderita Diabetes atau Orang yang Sering Batuk Harus ke Dokter?

Gejala sering batuk bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari alergi, influenza, hingga infeksi paru-paru yang lebih berat. Anda harus segera ke dokter jika mengalami gejala sering batuk dan disertai gejala berikut:

  • Batuk berlangsung lebih dari 2 minggu
  • Disertai demam tinggi, menggigil, atau sesak napas
  • Dahak bercampur darah
  • Napas berbunyi mengi atau terdengar suara napas tambahan
  • Penurunan berat badan tanpa sebab
  • Saturasi oksigen menurun hingga < 94%
  • Batuk mengganggu tidur atau aktivitas harian
  • Gula darah meningkat selama batuk. 

Anda bisa ke dokter berikut jika mengalami batuk:

  • Dokter spesialis penyakit dalam: untuk pemeriksaan keseluruhan, terutama jika terkait gula darah atau infeksi
  • Dokter spesialis paru : bila batuk kronis, sesak, atau dicurigai penyakit paru
  • Dokter spesialis THT: jika batuk dicurigai berasal dari iritasi tenggorokan atau infeksi jamur
  • Dokter penyakit dalam konsultan endokrin: jika batuk disertai dengan kontrol diabetes yang buruk. 

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Anda bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2150478595-1-1200x800.webp

November 26, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Apakah kamu sering digigit nyamuk dibanding orang lain? Jika iya, kamu mungkin bertanya-tanya, “Mengapa nyamuk lebih sering menggigit seseorang dibanding orang lain?”

Banyak orang percaya bahwa penderita diabetes lebih sering digigit nyamuk karena darah mereka dianggap “lebih manis”. Namun, apakah anggapan ini benar? Cek faktanya di artikel ini, ya! 

Apakah Benar Penderita Diabetes Sering Digigit Nyamuk?

Faktanya, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa penderita diabetes lebih sering digigit nyamuk dibandingkan orang tanpa diabetes. Nyamuk tidak memilih mangsa berdasarkan kadar gula darah. Faktor utama yang menarik nyamuk meliputi bau tubuh, panas kulit, jumlah karbon dioksida yang dihembuskan, serta komposisi keringat.

Jika seseorang yang menderita diabetes lebih sering digigit nyamuk, kemungkinan disebabkan oleh metabolisme tubuh yang menghasilkan karbon dioksida atau senyawa pada kulit. Karena itu, secara tidak langsung membuat nyamuk lebih tertarik. Namun, sering digigit nyamuk tidak disebabkan oleh diabetes secara langsung.

Apakah Sering Digigit Nyamuk Merupakan Tanda Diabetes?

Sering digigit nyamuk bukan tanda atau gejala diabetes. Tidak ada pedoman medis yang menggunakan frekuensi gigitan nyamuk sebagai indikator diabetes.

Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi akibat gangguan produksi insulin atau resistensi insulin.  Diagnosis diabetes ditegakkan bila kadar glukosa darah puasa ≥126 mg/dL, hasil tes HbA1c ≥6,5%, atau kadar gula darah sewaktu ≥200 mg/dL. Diabetes juga bisa menimbulkan gejala khas seperti sering buang air kecil, haus berlebihan, dan penurunan berat badan tanpa sebab.

Walau begitu, penderita diabetes memang perlu berhati-hati dengan gigitan nyamuk. Pasalnya, penderita diabetes yang tidak terkontrol berisiko mengalami luka yang sulit sembuh. Luka bekas gigitan nyamuk bisa menjadi besar jika digaruk hingga lecet, sembuh lebih lambat dan berisiko infeksi.

Penyebab Seseorang Lebih Sering Digigit Nyamuk

Ada banyak faktor yang membuat seseorang tampak lebih menarik bagi nyamuk. Salah satu temuan ilmiah menunjukkan bahwa nyamuk memilih manusia berdasarkan bau kulit, suhu tubuh, dan gas yang dihasilkan saat bernapas, bukan karena gula darah tinggi atau diabetes.

Penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor paling dominan yang menentukan daya tarik seseorang bagi nyamuk adalah komposisi bau kulit, terutama kadar asam karboksilat (carboxylic acids) yang diproduksi oleh mikrobiota kulit.

Orang dengan kadar asam karboksilat lebih tinggi menghasilkan aroma kulit yang jauh lebih menarik bagi nyamuk. Temuan ini menegaskan bahwa frekuensi gigitan nyamuk lebih dipengaruhi oleh profil kimiawi kulit dibandingkan faktor seperti gula darah atau kondisi medis tertentu.

Selain itu, tubuh yang hangat dan kulit lembab merupakan kondisi ideal bagi nyamuk untuk menggigit. Senyawa seperti asam laktat dan amonia juga dapat menarik nyamuk.

Kondisi lingkungan juga berpengaruh. Genangan air, ruangan lembab, dan lingkungan kotor meningkatkan jumlah nyamuk di sekitar, sehingga meningkatkan kemungkinan digigit nyamuk. 

Cara Pencegahan Jika Sering Digigit Nyamuk

Mencegah gigitan nyamuk sangat penting untuk menghindari risiko penyakit seperti demam berdarah, malaria, dan chikungunya. Langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah:

  • Menjaga kebersihan lingkungan dengan menutup, menguras, dan mengubur tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk.
  • Menggunakan lotion atau semprotan anti-nyamuk yang mengandung DEET, picaridin, atau minyak lemon eucalyptus untuk melindungi kulit dari gigitan.
  • Pada malam hari, tidur menggunakan kelambu dan pastikan ventilasi rumah dilengkapi kawat nyamuk.
  • Kenakan pakaian berlengan panjang saat beraktivitas di luar, terutama pada pagi dan sore hari ketika nyamuk lebih aktif.
  • Bila memungkinkan, gunakan kipas angin atau AC karena aliran udara dapat menghambat kemampuan nyamuk untuk mendekat

Jika terlanjur digigit nyamuk, penanganan sederhana dapat membantu meredakan gatal serta mencegah iritasi lebih lanjut. Bersihkan area yang digigit dengan sabun dan air mengalir untuk mengurangi risiko infeksi.

Hindari menggaruk karena dapat menyebabkan luka, infeksi kulit, atau peradangan yang lebih berat. Bila gatal sangat mengganggu, oleskan krim atau lotion yang mengandung calamine, hydrocortisone ringan, atau antihistamin topikal sesuai kebutuhan. 

Pada kasus gigitan yang menimbulkan reaksi alergi lebih berat seperti bengkak luas, bentol besar, atau sesak napas segera cari pertolongan medis karena dapat menandakan reaksi alergi yang lebih serius, walaupun jarang terjadi. Penanganan cepat dan tepat akan membantu meringankan gejala dan mencegah komplikasi pada kulit.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa sering digigit nyamuk tidak ada hubungannya dengan diabetes, ya! 

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!



November 26, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Banyak informasi beredar bahwa minum air hangat dapat membantu menurunkan kadar gula darah. Klaim ini membuat sebagian penderita diabetes menjadikan air hangat sebagai “terapi” pendukung.

Namun, apakah benar minum air hangat bisa menurunkan kadar gula darah? Berikut faktanya!

Apakah Minum Air Hangat Bisa Menurunkan Kadar Gula Darah? 

Secara ilmiah, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa minum air hangat bisa menurunkan kadar gula darah secara langsung, seperti obat diabetes. Namun, hidrasi yang cukup, termasuk dengan air hangat, dapat membantu tubuh mengatur kadar gula darah.

Pada kondisi dehidrasi, konsentrasi glukosa dalam darah meningkat karena volume plasma menurun. Dengan minum cukup air, tubuh dapat kembali menyeimbangkan cairan dan membantu ginjal membuang kelebihan glukosa melalui urin.

Jadi, air hangat bukan terapi medis untuk menurunkan gula darah, tetapi bisa mendukung kontrol gula darah sebagai bagian dari pola hidup sehat.

Mengapa Minum Air Hangat Dapat Membantu Menurunkan Kadar Gula Darah?

Air hangat tidak secara langsung dapat menurunkan kadar gula darah. Pada dasarnya, ketika masuk lambung, suhu makanan dan minuman akan diubah hingga mencapai suhu internal, yaitu sekitar 37° C sebelum diserap.

Hidrasi yang baik sangat penting untuk mencegah peningkatan gula darah. Air membantu ginjal membuang gula berlebih melalui urin. Dengan tubuh yang terhidrasi dengan baik, proses pembuangan glukosa berjalan lebih efektif. Air hangat dapat membantu sebagian orang minum lebih banyak karena lebih nyaman untuk tubuh.

Selain itu, sensasi hangat dapat membuat tubuh lebih rileks dan menurunkan stres ringan. Stres merupakan salah satu faktor yang dapat memicu kenaikan gula darah melalui peningkatan hormon kortisol. Walau efeknya tidak besar, kenyamanan tubuh tetap memberi manfaat tambahan.

Air hangat dapat meningkatkan aliran darah ke saluran cerna, membantu otot pencernaan bekerja lebih rileks, dan memberikan rasa nyaman di perut. Proses pencernaan yang lebih optimal dapat berkontribusi pada regulasi metabolisme secara menyeluruh.

Dengan kata lain, air hangat tidak bekerja secara langsung untuk menurunkan kadar gula darah, tetapi mendukung berbagai proses tubuh yang terkait dengan pengendalian gula darah.

Cara Minum Air Hangat yang Tepat untuk Penderita Diabetes

Jika kamu ingin minum air hangat, perhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Minum air hangat dalam jumlah cukup, sekitar 6–8 gelas per hari, atau sesuai kebutuhan tubuh.
  2. Gunakan suhu air hangat yang aman, sekitar 40–60°C, agar tidak melukai mulut atau kerongkongan.
  3. Minumlah secara bertahap sepanjang hari, bukan dalam jumlah besar sekaligus.
  4. Biasakan minum segelas air hangat sebelum makan untuk membantu mengurangi rasa lapar berlebih.
  5. Minum air hangat setelah makan jika terasa nyaman untuk membantu pencernaan.
  6. Hindari menambahkan gula, madu, atau pemanis lain ke dalam air hangat.
  7. Jangan mengandalkan air hangat sebagai pengganti obat atau terapi diabetes yang diberikan oleh dokter.
  8. Gunakan air hangat sebagai bagian dari pola hidup sehat yang meliputi makan terkontrol, aktivitas fisik, dan manajemen stres.
  9. Hentikan atau kurangi jika muncul keluhan seperti mual, tidak nyaman di perut, atau sensasi panas berlebihan.
  10. Konsultasikan ke dokter bila memiliki kondisi medis tertentu yang membatasi asupan cairan.

Konsultasi Gula Darah di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


42591-_1_-1200x800.webp

November 25, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Tren hidup sehat semakin mendorong banyak orang untuk memperhatikan asupan gula harian. Salah satu konsep yang kini populer adalah makanan rendah gula. 

Apa Itu Makanan Rendah Gula?

Makanan rendah gula adalah makanan yang mengandung jumlah gula sederhana dalam kadar minimal, baik gula tambahan maupun gula alami. Biasanya, makanan ini memiliki nilai indeks glikemik (GI) dan beban glikemik (GL) yang rendah, sehingga glukosa dari makanan diserap tubuh secara perlahan dan tidak memicu lonjakan kadar gula darah yang tajam.

Ciri-Ciri Makanan Rendah Gula

Makanan rendah gula bisa dikenali dari beberapa hal berikut:

  1. Kadar gula total rendah, baik yang berasal dari bahan alami maupun dari tambahan gula.
  2. Kaya serat, sehingga membantu memperlambat penyerapan gula di dalam tubuh dan menjaga kadar gula darah lebih stabil.
  3. Rasanya tidak terlalu manis, karena minim pemanis buatan maupun gula tambahan.
  4. Mengandung protein atau lemak sehat, seperti dari kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, atau produk susu nabati tanpa tambahan gula.
  5. Memiliki indeks glikemik rendah, biasanya di bawah angka 55, yang berarti tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat.                                                    

Kelebihan Makanan Rendah Gula

Mengonsumsi makanan rendah gula memberikan banyak manfaat, terutama bagi kesehatan metabolik dan jantung. Beberapa kelebihannya antara lain:

1. Menjaga Kestabilan Kadar Gula Darah

Asupan gula yang lebih rendah membantu tubuh mengatur kadar glukosa dengan lebih efisien, sehingga energi tidak mudah naik-turun dan risiko hiperglikemia bisa berkurang.

2. Mendukung Pengelolaan Berat Badan

Makanan rendah gula mencegah lonjakan insulin yang berlebihan, sehingga rasa lapar lebih terkendali dan penumpukan lemak berkurang.

3. Menurunkan Risiko Peradangan Kronis

Konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang dapat memicu peradangan di tubuh karena sistem kekebalan dan metabolisme dapat bekerja lebih optimal.

4. Membantu Menjaga Energi Tetap Stabil

Makanan rendah gula membuat tubuh tidak cepat lemas atau mengantuk setelah makan, berbeda dengan efek “sugar crash” dari makanan manis berlebihan.

Kekurangan Makanan Rendah Gula

Meski menyehatkan, makanan rendah gula tetap memiliki beberapa kekurangan, antara lain:

1. Rasa yang Kurang Manis

Bagi sebagian orang, cita rasanya bisa terasa “kurang nikmat” karena terbiasa dengan makanan manis. Hal ini sering membuat proses adaptasi di awal terasa sulit.

2. Harga Relatif Lebih Mahal

Produk olahan rendah gula, seperti camilan, minuman, atau susu rendah gula biasanya menggunakan bahan pengganti gula yang lebih mahal, sehingga harganya juga relatif lebih tinggi.

3. Risiko Kekurangan Energi

Jika pola makan rendah gula tidak diimbangi dengan sumber karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, atau umbi-umbian, tubuh bisa kekurangan energi dan mudah lelah.

Siapa yang Cocok dan Tidak Cocok Mengonsumsi Makanan Rendah Gula

Makanan rendah gula bisa menjadi pilihan yang baik bagi beberapa kelompok berikut:

1. Penderita Diabetes atau Pre-diabetes

Pola makan rendah gula membantu menjaga kadar glukosa darah tetap stabil dan mencegah lonjakan setelah makan.

2. Orang dengan Risiko Obesitas, Sindrom Metabolik, atau Penyakit Jantung

Asupan gula yang lebih sedikit dapat memperbaiki profil lipid, menurunkan risiko peradangan, dan menjaga kesehatan jantung.

3. Individu yang Ingin Menurunkan Berat Badan

Makanan rendah gula membantu kadar gula lebih terkontrol, sehingga tubuh lebih mudah mengatur nafsu makan dan terhindar dari rasa lapar berlebih.

Sementara itu, makanan rendah gula sebaiknya tidak dijadikan pilihan utama oleh kelompok berikut:

4. Anak-anak Dalam Masa Pertumbuhan

Mereka membutuhkan energi dan karbohidrat yang cukup untuk mendukung perkembangan otak dan tubuh.

5. Atlet atau Individu dengan Aktivitas Fisik Tinggi

Asupan karbohidrat yang memadai penting untuk menjaga stamina, performa latihan, dan pemulihan otot.

6. Orang dengan Berat Badan Rendah 

Pola makan terlalu rendah gula bisa membuat asupan energi tidak mencukupi, sehingga berisiko menyebabkan kelelahan dan penurunan massa tubuh.

Contoh Makanan Rendah Gula

Makanan rendah gula bisa dengan mudah ditemukan di sekitar. Berikut beberapa contohnya:

1. Sayuran Hijau

Sayuran hijau seperti bayam, brokoli, kangkung, dan sawi hampir tidak mengandung gula dan kaya serat, sehingga membantu menjaga kestabilan gula darah.

2. Buah dengan Kadar Gula Rendah

Buah-buahan seperti stroberi, alpukat tetap memberikan vitamin dan antioksidan tanpa menyebabkan lonjakan gula darah yang signifikan.

3. Sumber Protein

Makanan berprotein tinggi seperti telur, ayam, ikan, tahu, dan tempe membantu memperlambat penyerapan gula dalam tubuh.

4. Sumber Lemak Sehat

Lemak sehat seperti kacang mede, almond, biji chia, dan biji rami berperan dalam menjaga kadar kolesterol dan memberikan rasa kenyang lebih lama.

Makanan Rendah Gula untuk Penderita Diabetes

Bagi penderita diabetes, makanan rendah gula bukan sekadar pilihan, tetapi bagian penting dari pengelolaan penyakit. Makanan dengan indeks glikemik (GI) dan beban glikemik (GL) rendah membantu tubuh menyerap gula secara perlahan, sehingga kadar glukosa darah tidak melonjak tiba-tiba setelah makan.

Kestabilan kadar gula darah ini sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang, seperti kerusakan pembuluh darah, gangguan saraf, serta masalah pada jantung dan ginjal. Selain itu, pola makan rendah gula juga membantu menjaga berat badan tetap ideal dan meningkatkan sensitivitas insulin, yang menjadi kunci utama dalam pengendalian diabetes.

Untuk penderita diabetes, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi untuk mendapatkan pola makan serta diet dan medikasi yang tepat untuk penderita diabetes untuk mencapai tujuan seperti menurunkan kadar HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148933462-_1_-1200x801.webp

November 25, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Kesadaran untuk membatasi konsumsi gula kini semakin meningkat. Banyak orang mulai beralih ke makanan tanpa gula, baik karena alasan kesehatan, pola hidup, maupun kebutuhan medis seperti diabetes.

Apa Itu Makanan yang Tidak Mengandung Gula?

Makanan tanpa gula adalah jenis makanan yang tidak mengandung gula tambahan (seperti sukrosa, glukosa, atau sirup jagung tinggi fruktosa), dan umumnya memiliki kandungan gula alami yang sangat rendah atau bahkan nihil. Tujuannya bukan sekadar mengurangi rasa manis, tetapi untuk membantu tubuh menjaga kadar gula darah tetap stabil tanpa memicu lonjakan glukosa secara tiba-tiba.

Ciri-Ciri Makanan yang Tidak Mengandung Gula

Berikut beberapa ciri yang bisa membantu mengenali apakah suatu makanan tergolong tanpa gula:

1. Label “Sugar-Free” dengan Kadar Gula Sangat Rendah

Produk disebut tanpa gula jika mencantumkan label “sugar-free” dan mengandung kurang dari 0,5 gram gula per sajian, sesuai standar BPOM dan FDA. Jumlah ini tergolong sangat kecil dan tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar gula darah.

2. Mengandung Pemanis Rendah Kalori 

Produk tanpa gula seringnya tetap memiliki rasa manis karena menggunakan pemanis rendah kalori yang lebih aman untuk gula darah.

3. Lebih Kaya Protein, Serat, atau Lemak Sehat

Makanan tanpa gula biasanya mengutamakan protein, serat, dan lemak sehat sebagai sumber energi yang tidak memicu peningkatan gula darah.

Kelebihan Makanan yang Tidak Mengandung Gula

Mengonsumsi makanan tanpa gula memberikan berbagai manfaat, terutama untuk kesehatan jangka panjang:

1. Menjaga Kestabilan Gula Darah

Pola makan tanpa gula dapat membantu mencegah lonjakan gula darah yang tiba-tiba, sehingga kadar glukosa tetap lebih seimbang sepanjang hari. 

2. Menurunkan Risiko Obesitas

Tanpa asupan gula berlebih, kadar insulin lebih terkontrol sehingga tubuh tidak mudah menyimpan lemak berlebihan.

3. Mendukung Kesehatan Jantung

Pola makan rendah gula berperan dalam menjaga kadar trigliserida dan kolesterol jahat (LDL), dua faktor utama penyebab penyakit jantung.

Kekurangan Makanan yang Tidak Mengandung Gula

Meski tampak ideal, pola makan tanpa gula juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan:

1. Rasa Makanan Bisa Hambar

Mengurangi gula membuat cita rasa makanan berubah, dan hal ini sering membuat sulit mempertahankan pola makan dalam jangka panjang.

2. Risiko Kekurangan Energi

Bagi individu dengan aktivitas tinggi atau metabolisme cepat, pola makan tanpa gula berpotensi membuat tubuh lebih cepat lelah karena berkurangnya sumber energi cepat.

3. Kurang Variasi Makanan

Banyak orang tanpa sadar ikut menghindari buah atau produk alami lain yang sebenarnya mengandung gula baik, sehingga asupan gizi menjadi kurang beragam.

4. Potensi Kekurangan Zat Gizi

Jika dilakukan terlalu ketat, pola makan tanpa gula bisa menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral tertentu yang seharusnya diperoleh dari bahan makanan alami.

Siapa yang Cocok dan Tidak Cocok Mengonsumsi Makanan Tanpa Gula?

Bagi sebagian orang, pola makan tanpa gula dapat membawa banyak manfaat. Namun, tidak semua orang cocok untuk menjalankannya. Berikut ini adalah kelompok yang paling sesuai dan yang sebaiknya berhati-hati dengan makanan yang tidak mengandung gula:

Siapa yang Cocok?

1. Penderita Diabetes atau Prediabetes

Pola makan tanpa gula membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, sehingga risiko lonjakan glukosa setelah makan bisa diminimalkan.

2. Orang dengan Obesitas atau Sindrom Metabolik

Membatasi gula berlebih membantu mengontrol berat badan dan menurunkan risiko komplikasi metabolik.

Siapa yang Tidak Cocok?

1. Anak-anak

Tubuh yang sedang tumbuh memerlukan karbohidrat untuk energi dan perkembangan otak yang optimal.

2. Atlet atau Pekerja Fisik Berat

Aktivitas tinggi membutuhkan energi cepat dari karbohidrat yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh makanan tanpa gula.

Contoh Makanan yang Tidak Mengandung Gula

Berikut beberapa contoh makanan alami dan olahan yang bebas gula:

1. Sayuran Rendah Karbohidrat (Non-Tepung)

Hampir semua sayuran rendah karbohidrat seperti bayam, selada, brokoli, kol, dan timun bebas gula. Sayuran ini aman dikonsumsi tanpa khawatir menyebabkan lonjakan gula darah.

2. Sumber Protein

Telur, ayam, ikan, tahu, tempe, dan daging tanpa bumbu manis juga termasuk makanan bebas gula. Perlu diperhatikan bahwa saus atau bumbu siap saji yang mengandung gula bisa menambah kadar gula.

3. Produk Kemasan dengan Klaim “Sugar-Free”

Produk ini biasanya menggunakan pemanis rendah kalori sehingga tetap terasa manis, namun tidak meningkatkan kadar gula darah secara signifikan.

Makanan Tanpa Gula untuk Penderita Diabetes

Bagi penderita diabetes, makanan tanpa gula bisa menjadi bagian penting dari pola makan sehari-hari. Mengurangi atau menghindari gula membantu mengontrol kadar glukosa darah, menurunkan risiko komplikasi, dan meningkatkan sensitivitas insulin.

Untuk penderita diabetes, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi untuk mendapatkan pola makan serta diet dan medikasi yang tepat untuk penderita diabetes untuk mencapai tujuan seperti menurunkan kadar HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


44917-_1_-1200x800.webp

November 25, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Bisul dalam bahasa medis disebut dengan furunkel. Bisul merupakan infeksi pada folikel rambut yang ditandai dengan benjolan lunak, berwarna kemerahan, nyeri, dan berisi nanah. Penyebab tersering bisul adalah infeksi bakteri Staphylococcus aureus. Namun, bakteri dan jamur lain juga bisa menyebabkan bisul. 

Pada penderita diabetes, bisul bisa menjadi lebih berbahaya. Pasalnya, kadar gula darah yang tinggi dapat mengganggu penyembuhan bisul. Oleh karena itu, penderita diabetes perlu lebih waspada jika muncul bisul. 

Untuk memahami lebih lanjut tentang bisul pada penderita diabetes, simak artikel ini hingga selesai, ya! 

Penyebab Bisul pada Penderita Diabetes

Penderita diabetes lebih rentan mengalami bisul karena beberapa mekanisme, yaitu:

a. Menurunnya Sistem Kekebalan Tubuh

Kadar gula darah yang tinggi menghambat fungsi sel darah putih yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini menurunkan kemampuan tubuh untuk melawan bakteri, termasuk bakteri penyebab bisul.

b. Kulit Lebih Kering dan Rentan Iritasi

Penderita diabetes kerap mengalami masalah pada kulit. Fluktuasi kadar gula darah dapat menyebabkan kulit kehilangan kelembabannya. Kulit yang kering dan pecah-pecah meningkatkan risiko masuknya bakteri penyebab bisul.

c. Neuropati Diabetik

Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan saraf perifer sehingga terjadi penurunan sensasi pada bagian tubuh tertentu, terutama kaki. Akibatnya, jika terjadi luka kecil, gesekan, atau iritasi kulit sering tidak disadari, sehingga mudah berkembang menjadi infeksi yang lebih berat.

d. Kondisi Kulit yang Mendukung Pertumbuhan Bakteri

Gula darah yang tinggi menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi bakteri sehingga lebih cepat tumbuh dan menyebar. Akibatnya, bakteri penyebab bisul lebih mudah untuk menginfeksi. 

e. Sirkulasi Darah yang Buruk

Pada penderita diabetes yang tidak terkontrol, kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil yang menyuplai kulit. Berkurangnya aliran darah akan membuat penyembuhan luka lebih lama, sehingga luka bertambah parah dan infeksi lebih mudah menyebar. 

Apakah Munculnya Bisul Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Bisul tidak selalu berkaitan dengan diabetes dan dapat terjadi pada siapa saja. Faktor-faktor berikut dapat menyebabkan seseorang terkena bisul meskipun tidak memiliki diabetes:

  • Kebersihan kulit yang tidak terjaga
  • Gesekan atau iritasi kulit
  • Penurunan sistem kekebalan tubuh, misalnya saat sakit, penderita HIV, atau sedang menjalani kemoterapi. 
  • Terpapar bahan kimia yang menyebabkan iritasi kulit
  • Mengalami masalah kulit seperti jerawat atau eksim
  • Sering beraktivitas di luar ruangan yang berdebu dan panas sehingga banyak berkeringat. 
  • Infeksi bakteri akibat luka kecil misalnya setelah bercukur

Jika bisul sering kambuh, muncul banyak sekaligus, atau sulit sembuh dapat menjadi tanda adanya gangguan imunitas atau gula darah yang tidak stabil. Segera konsultasi dengan dokter agar mendapat pengobatan yang tepat. 

Apakah Bisul pada Penderita Diabetes Berbahaya?

Bisul pada penderita diabetes bisa lebih berbahaya dibandingkan pada orang tanpa diabetes. Gangguan sirkulasi darah serta sistem imun yang menurun akibat kontrol gula darah yang buruk menyebabkan proses penyembuhan bisul menjadi lebih lambat.

Jika tidak segera ditangani, infeksi bisa menyebar ke jaringan sekitarnya dan berkembang menjadi gangren atau kematian jaringan, ditandai dengan kulit berubah warna menjadi hitam dan mati rasa. Jika sudah terjadi gangren, maka harus diamputasi. 

Pada kasus tertentu, terutama jika tidak ditangani dengan benar, infeksi dapat menyebar ke aliran darah dan menyebabkan kondisi serius seperti sepsis.

Cara Mencegah dan Mengatasi Bisul pada Penderita Diabetes

Berikut beberapa tips untuk mencegah dan mengatasi bisul pada penderita diabetes:

1. Jaga Kebersihan Kulit

Kebersihan kulit penting untuk diperhatikan agar terhindar dari bakteri dan kuman penyebab bisul. Mandi secara teratur menggunakan sabun yang lembut untuk menjaga kebersihan kulit.

Setelah mandi, keringkan kulit menggunakan handuk yang lembut. Pastikan semua lipatan kulit kering sempurna untuk mencegah pertumbuhan bakteri.

2. Kendalikan Kadar Gula Darah

Penderita diabetes harus mengontrol kadar gula darah menggunakan obat-obatan serta memperbaiki pola hidup agar terhindar dari berbagai komplikasi. Gula darah yang terkontrol membantu meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan sirkulasi darah dan mengurangi risiko infeksi kulit seperti bisul.

3. Gunakan Pakaian Longgar dan Menyerap Keringat

Pakaian ketat atau bahan yang tidak menyerap keringat dapat menyebabkan kelembaban kulit berlebih dan memicu infeksi kulit.

4. Rawat Luka dengan Tepat

Jika terjadi luka pada kulit, bersihkan luka atau goresan dengan antiseptik, lalu tutup dengan perban bersih untuk mencegah bakteri masuk.

5. Hindari Memencet Bisul 

Jangan memencet bisul untuk mengeluarkan nanahnya. Memencet bisul dapat memperburuk infeksi, terutama bagi penderita diabetes yang memiliki proses penyembuhan luka yang lebih lambat.

6. Gunakan Salep atau Obat Sesuai Anjuran Dokter

Konsultasi dengan dokter untuk mendapat salep atau obat tertentu untuk mengatasi bisul, terutama jika bisul sering kambuh atau ukurannya besar.

7. Perhatikan Tanda Bahaya

Segera ke dokter jika bisul disertai demam, nyeri hebat, berulang muncul, bertambah besar atau tidak membaik dalam 3–5 hari.

Kapan Penderita Diabetes dengan Bisul Harus ke Dokter?

Jika mengalami bisul yang tidak kunjung sembuh disertai beberapa gejala di bawah, maka segera periksa ke dokter! 

  • Bisul besar, misalnya diameter lebih dari 2 cm dan tidak membaik dalam 3–5 hari
  • Disertai demam, menggigil, atau merasa lemas
  • Bisul sangat nyeri atau muncul berulang
  • Kadar gula darah sangat tinggi ketika bisul muncul.

Kamu bisa ke dokter umum untuk evaluasi dan pengobatan awal. Bila bisul berulang, penyembuhan lama, dan terkait dengan kontrol gula darah yang buruk, maka bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam. 

Jika keluhan hanya bisul, maka kamu bisa ke dokter spesialis kulit dan kelamin. Namun, jika bisul sudah membesar, semakin dalam, atau menghitam, maka perlu konsultasi dengan dokter bedah untuk tindakan pembersihan luka atau debridement.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.