Sensitivitas Insulin – Bahaya jika Buruk dan Cara Meningkatkannya

Sensitivitas insulin sangat berkaitan erat dengan penyakit diabetes yang merupakan penyakit kronik yang banyak diderita penduduk di dunia.
Menurut data WHO, terdapat 415 juta orang berusia 20–79 tahun yang mengidap diabetes di seluruh dunia. Sekitar 10,3 juta penduduk Indonesia menderita diabetes menurut Federasi Diabetes Internasional pada tahun 2017.
Diabetes ditandai dengan adanya kadar gula darah tinggi dalam darah (hiperglikemia) akibat kegagalan produksi insulin, menurunnya sensitivitas insulin (karena terjadinya resistensi insulin), dan/atau keduanya.
Apa Itu Sensitivitas Insulin?
Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas dan memiliki banyak fungsi dalam metabolisme tubuh, di antaranya merangsang proses metabolisme pada berbagai jenis sel, pembentukan lemak, glikogen (gula otot), serta menghambat pemecahan lemak, protein, dan gula otot. Oleh karena itu, insulin memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme tubuh sehingga fungsinya harus selalu dijaga agar tidak mengalami penurunan sensitivitas insulin. Sensitivitas insulin adalah kemampuan respons tubuh terhadap efek hormon insulin. Pembahasan sensitivitas insulin tidak lepas dengan kondisi resistensi insulin yang merupakan kondisi kegagalan respons tubuh terhadap stimulasi insulin ke jaringan target.
Bahaya Sensitivitas Insulin yang Buruk
Sensitivitas insulin yang buruk akan menyebabkan berbagai penyakit dan komplikasi, di antaranya:
- Diabetes melitus tipe 2 adalah kondisi paling umum akibat sensitivitas insulin yang buruk. Hal ini menyebabkan glukosa sulit masuk ke dalam sel sehingga menumpuk di dalam darah.
- Meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi (hipertensi), dan penyakit arteri perifer.
- Kerusakan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi dapat menyebabkan komplikasi ke otak, yaitu stroke.
- Dislipidemia yang diakibatkan karena adanya gangguan pada metabolisme lemak.
- Penyakit asam lemak non-alkohol.
- Sindrom metabolik yang merupakan keadaan yang terjadi secara bersamaan dan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
- Gangguan ginjal akibat beban kerja ginjal yang berat karena kadar gula darah yang tinggi.
- Gangguan kesuburan seperti PCOS yang dapat menghambat terjadinya kehamilan.
- Komplikasi kehamilan berupa diabetes gestasional, preeklamsia, dan kelahiran bayi besar.
- Peningkatan penanda inflamasi. Hal ini dapat memicu lamanya luka sembuh pada penderita diabetes.
Cara Mengecek Kualitas Sensitivitas Insulin
Meskipun penurunan sensitivitas insulin dapat dinilai berdasarkan gejala klinis yang dialami pasien, pada kenyataannya, sulit mendapatkan nilainya secara akurat. Namun, ada beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menilai sensitivitas insulin. Hal ini dilakukan melalui dua metode utama, yaitu metode langsung dan tidak langsung.
1. Metode pemeriksaan langsung
a. Hyperinsulinemic Euglycemic Clamp (Hiec)
Metode ini dianggap sebagai baku emas untuk mengukur sensitivitas insulin.
b. Insulin Tolerance Test (ITT)
Insulin tolerance test mengukur kecepatan penurunan glukosa plasma setelah diberikan injeksi insulin.
c. Insulin Suppression Test (IST)
Insulin suppression test merupakan metode yang lebih sederhana dibandingkan dari HIEC dengan melibatkan penggunaan somatostatin.
d. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)
Tes ini adalah pemeriksaan sederhana yang sering dilakukan untuk mendiagnosis intoleransi glukosa dan diabetes tipe 2. jika didapatkan hasil pemeriksaan glukosa plasma ≥200 mg/dl pada menit ke-120 setelah konsumsi glukosa sebesar 75 gram, angka tersebut memenuhi kriteria diagnosis diabetes.
2. Metode pemeriksaan tidak langsung
a. Homeostasis Model Assessment–Insulin Resistance (HOMA-IR)
Metode ini digunakan untuk memprediksi konsentrasi glukosa dan insulin keadaan puasa.
b. Quantitative Insulin Sensitivity Check Index (Quicki)
Metode ini dapat memberikan indeks sensitivitas insulin (isi) yang konsisten dan presisi.
c. Indeks Matsuda
Indeks ini melakukan perhitungan sensitivitas insulin dari konsentrasi glukosa plasma dan insulin pada keadaan puasa dan selama TTGO.
d. Indeks Trigliserida Glukosa (indeks Tyg)
Indeks Tyg dihitung dari glukosa plasma puasa dan kadar trigliserida puasa.
Manfaat Sensitivitas Insulin yang Baik
Sensitivitas insulin yang baik merupakan keadaan dimana respons biologis tubuh terhadap insulin adalah normal dan efisien. Manfaat utama dari sensitivitas insulin yang baik adalah memastikan metabolisme glukosa yang efisien, dan yang terpenting, mencegah timbulnya resistensi insulin dan berbagai komplikasi yang diakibatkannya.
Manfaat dari sensitivitas insulin yang baik termasuk:
- Keseimbangan glukosa normal: kemampuan tubuh yang baik untuk menggunakan glukosa dan menjaga kadar gula darah tetap stabil.
- Pencegahan penyakit metabolik: mengurangi risiko penyakit seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dislipidemia, dan penyakit kardiovaskular.
- Mekanisme metabolisme yang optimal: penyerapan glukosa ke dalam otot rangka berjalan dengan baik dan optimal.
Cara Meningkatkan Sensitivitas Insulin
Peningkatan sensitivitas insulin melibatkan penanganan faktor penyebab resistensi insulin melalui dua cara utama, yaitu perubahan gaya hidup dan penggunaan obat.
1. Perubahan gaya hidup
a. Aktivitas fisik/olahraga
Aktivitas fisik dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Selain itu, dapat juga dilakukan untuk menjaga kebugaran dan menurunkan berat badan pada pasien dengan obesitas. Obesitas dapat menyebabkan resistensi insulin. Oleh karena itu, aktivitas fisik perlu dilakukan secara rutin dengan total 150 menit per minggu.
b. Terapi nutrisi
Terapi nutrisi dilakukan dengan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang sesuai dengan kebutuhan kalori. Pastikan setiap makanan mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan serat sesuai dengan anjuran yang disarankan.
2. Cara medis atau penggunaan obat
- Metformin: merupakan terapi lini pertama untuk mengurangi produksi glukosa hati dan memperbaiki penggunaan glukosa pada jaringan perifer.
- Thiazolidinediones (TZDs): Obat ini memiliki efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein yang mengangkut glukosa. Dengan demikian, penggunaan glukosa pada jaringan semakin meningkat.
Kemana Perlu Berkonsultasi Terkait Sensitivitas Insulin?
Dari penjelasan di atas, sensitivitas insulin berkaitan erat dengan diabetes. Jika Anda merasakan gejala khas, seperti mudah lapar, haus, sering buang air kecil, dan terjadi penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya, Anda perlu melakukan konsultasi dengan dokter untuk dapat mengevaluasi kondisi kesehatan Anda, salah satunya kondisi sensitivitas insulin.
Untuk dapat melakukan hal tersebut, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam atau dokter spesialis penyakit dalam subspesialis endokrin metabolisme diabetes. Kedua dokter spesialis ini mendalami bidang penyakit metabolik yang berkaitan dengan kondisi sensitivitas insulin atau resistensi insulin.

