18259-1-1200x800.webp

Ketika ingin menurunkan berat badan, sebagian orang mungkin tergoda untuk mengurangi jumlah makanan secara drastis agar berat badan turun lebih cepat.

Salah satu metode yang memang dapat menghasilkan penurunan berat badan dalam waktu relatif singkat adalah Very Low-Calorie Diet (VLCD).

Namun, VLCD bukan sekadar “diet dengan makan sangat sedikit”. Metode ini merupakan intervensi diet yang sangat rendah kalori dan pada penggunaannya perlu memperhatikan kecukupan nutrisi serta kondisi kesehatan seseorang.

Karena itu, VLCD tidak dianjurkan untuk dilakukan sendiri tanpa pengawasan tenaga kesehatan.

Lalu, apa sebenarnya VLCD? Siapa yang mungkin membutuhkan metode ini dan bagaimana cara menjalaninya dengan aman?

Apa Itu Very Low-Calorie Diet (VLCD)?

Very Low-Calorie Diet atau VLCD adalah pola diet yang menyediakan kurang dari 800 kilokalori (kkal) per hari. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhan energi harian kebanyakan orang dewasa.

VLCD biasanya menggunakan formula atau meal replacement yang dirancang agar meskipun jumlah kalorinya sangat rendah, kebutuhan nutrisi tertentu tetap dapat dipenuhi.

Karena asupan energi sangat rendah, VLCD dapat menghasilkan penurunan berat badan yang lebih cepat dibandingkan diet dengan pembatasan kalori yang lebih moderat.

Namun, metode ini bukan ditujukan untuk digunakan dalam jangka panjang. Guideline NICE merekomendasikan VLCD hanya sebagai bagian dari program manajemen berat badan yang komprehensif, dengan durasi tidak lebih dari 12 minggu dan disertai dukungan serta pemantauan klinis.

Jadi, VLCD berbeda dengan sekadar memutuskan untuk makan sesedikit mungkin.

Bagaimana Prosedur VLCD Dilakukan?

VLCD sebaiknya dilakukan sebagai bagian dari program penurunan berat badan yang terstruktur.

Sebelum memulai, dokter akan menilai kondisi kesehatan dan menentukan apakah metode ini memang sesuai.

Secara umum, tahapan VLCD dapat meliputi:

1. Evaluasi Kondisi Kesehatan

Dokter dapat melakukan evaluasi terhadap:

  • Berat badan dan indeks massa tubuh (IMT)
  • Lingkar pinggang
  • Riwayat penyakit
  • Obat-obatan yang sedang dikonsumsi
  • Pola makan dan aktivitas fisik
  • Kondisi metabolik seperti gula darah, tekanan darah, dan profil lipid bila diperlukan
  • Faktor lain yang dapat memengaruhi keamanan program

Evaluasi ini penting karena penurunan berat badan yang cepat dapat memengaruhi kondisi kesehatan dan kebutuhan obat tertentu.

2. Menentukan Target dan Durasi

VLCD bukan program yang dilakukan tanpa batas waktu.

Dokter akan menentukan apakah diperlukan penurunan berat badan secara cepat dan berapa lama VLCD akan dilakukan.

Guideline NICE merekomendasikan diet sangat rendah energi seperti VLCD untuk penggunaan jangka pendek, maksimal sekitar 12 minggu.

3. Menggunakan Formula atau Meal Replacement yang Sesuai

Karena jumlah kalori sangat rendah, makanan yang dikonsumsi perlu dirancang agar tetap menyediakan nutrisi penting.

Pada beberapa program, sebagian besar atau seluruh kebutuhan makanan dapat berasal dari produk meal replacement yang diformulasikan secara khusus.

Hal ini berbeda dengan sekadar mengurangi porsi makanan biasa hingga kurang dari 800 kkal per hari.

4. Melakukan Pemantauan Secara Berkala

Selama program, kondisi pasien perlu dipantau.

Pemantauan dapat mencakup perubahan berat badan, kondisi fisik, tekanan darah, gula darah, keluhan yang muncul, serta respons terhadap obat-obatan bila pasien memiliki penyakit tertentu.

5. Melakukan Transisi ke Pola Makan Jangka Panjang

VLCD tidak berhenti ketika target berat badan tercapai.

Setelah periode VLCD selesai, pola makan perlu diperluas secara bertahap menuju pola makan yang lebih seimbang dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. NICE secara khusus merekomendasikan adanya dukungan dan edukasi mengenai pengenalan kembali berbagai jenis makanan setelah diet sangat rendah kalori.

Siapa Saja yang Membutuhkan Metode VLCD?

VLCD bukan metode yang diperlukan oleh semua orang yang ingin menurunkan berat badan.

Metode ini umumnya dipertimbangkan pada orang dengan obesitas yang memiliki kebutuhan medis untuk menurunkan berat badan secara cepat.

Contohnya adalah seseorang yang memiliki obesitas dan perlu menurunkan berat badan dalam waktu relatif singkat untuk membantu membuat prosedur atau operasi tertentu menjadi lebih aman dan memungkinkan.

Pada kondisi tertentu, penurunan berat badan yang signifikan juga dapat memberikan manfaat terhadap masalah kesehatan yang berkaitan dengan obesitas.

Namun, keputusan untuk menggunakan VLCD harus dibuat setelah penilaian medis.

Memiliki berat badan berlebih tidak otomatis berarti seseorang membutuhkan VLCD.

Untuk banyak orang, pola makan dengan defisit kalori yang lebih moderat dan perubahan gaya hidup secara bertahap justru lebih sesuai untuk mencapai dan mempertahankan berat badan dalam jangka panjang.

Apakah Semua Orang Boleh Menjalani VLCD?

Tidak.

Karena VLCD sangat membatasi asupan energi, metode ini tidak cocok untuk semua orang.

Kondisi seperti kehamilan dan menyusui merupakan contoh keadaan yang tidak sesuai untuk VLCD sebagai metode penurunan berat badan. Beberapa guideline juga menekankan perlunya kehati-hatian pada kondisi medis tertentu dan pentingnya evaluasi sebelum memulai program.

Orang yang memiliki penyakit tertentu atau sedang menggunakan obat, terutama obat untuk diabetes dan tekanan darah, juga memerlukan pengawasan lebih ketat karena kebutuhan atau dosis obat dapat berubah seiring dengan penurunan berat badan dan perubahan asupan makanan.

Karena itu, jangan memulai VLCD hanya berdasarkan rekomendasi dari media sosial atau pengalaman orang lain.

Apa Bahaya Menjalani VLCD Tanpa Pengawasan Dokter Gizi atau Ahli Gizi?

VLCD dapat memberikan hasil yang cepat, tetapi semakin rendah asupan kalori, semakin penting memastikan kebutuhan nutrisi dan kondisi kesehatan tetap terpantau.

Beberapa masalah yang dapat terjadi antara lain:

1. Kekurangan Nutrisi

Jika seseorang hanya mengurangi makanan tanpa memperhatikan komposisi nutrisi, tubuh dapat kekurangan protein, vitamin, mineral, atau zat gizi lainnya.

Inilah salah satu alasan VLCD medis menggunakan formula atau perencanaan diet yang dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi meskipun kalorinya sangat rendah.

2. Lemas dan Sulit Beraktivitas

Asupan energi yang sangat rendah dapat menyebabkan tubuh terasa lemas, mudah lelah, pusing, atau sulit melakukan aktivitas sehari-hari.

Keluhan seperti konstipasi, mual, diare, rambut rontok, dan rasa lebih mudah kedinginan juga dapat terjadi pada diet sangat rendah kalori.

3. Kehilangan Massa Otot

Penurunan berat badan yang cepat tidak hanya berasal dari lemak.

Sebagian massa bebas lemak juga dapat ikut berkurang. Karena itu, pemenuhan protein, pemantauan komposisi tubuh, serta strategi aktivitas fisik yang sesuai dapat menjadi bagian penting dari program.

4. Batu Empedu

Penurunan berat badan yang cepat dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu.

Risiko ini telah dikaitkan dengan VLCD maupun metode lain yang menyebabkan penurunan berat badan secara cepat.

5. Perubahan Gula Darah dan Tekanan Darah

Pada pasien yang mengonsumsi obat diabetes atau obat tekanan darah, perubahan asupan makanan dan penurunan berat badan dapat menyebabkan kebutuhan obat berubah.

Tanpa pemantauan, kondisi seperti gula darah terlalu rendah atau tekanan darah terlalu rendah dapat terjadi pada sebagian pasien.

6. Berat Badan Mudah Naik Kembali

Salah satu tantangan VLCD adalah mempertahankan hasil setelah diet selesai.

Jika setelah VLCD seseorang langsung kembali ke pola makan sebelumnya tanpa strategi pemeliharaan, berat badan dapat kembali meningkat.

Karena itu, fase transisi dan pemeliharaan sama pentingnya dengan fase VLCD itu sendiri.

Bagaimana Cara Aman Transisi dari VLCD ke Pola Makan Normal?

Setelah menjalani VLCD, seseorang mungkin merasa khawatir bahwa makan kembali akan langsung membuat berat badan naik.

Padahal, tubuh memang perlu kembali mendapatkan variasi makanan yang lebih luas.

Transisi sebaiknya dilakukan secara terencana dan dengan pendampingan tenaga kesehatan, bukan dengan langsung kembali ke pola makan sebelum diet.

1. Jangan Langsung Kembali ke Pola Makan Lama

Tujuan setelah VLCD bukan kembali ke kebiasaan makan sebelum program.

Pola makan perlu diarahkan menjadi pola yang seimbang dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

2. Tambahkan Jenis Makanan Secara Bertahap

Setelah fase VLCD selesai, jenis dan jumlah makanan dapat diperluas sesuai rencana yang diberikan dokter atau ahli gizi.

Pola makan dapat mulai mencakup berbagai sumber protein, sayur, buah, karbohidrat, dan lemak sehat dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.

3. Tetap Perhatikan Porsi

Setelah terbiasa dengan asupan kalori yang sangat rendah, penting untuk memahami kembali ukuran porsi yang sesuai.

Bukan berarti harus terus makan sangat sedikit, tetapi jumlah makanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi dan target pemeliharaan berat badan.

4. Pertahankan Kebiasaan Sehat

Pola makan seimbang, aktivitas fisik sesuai kemampuan, tidur cukup, dan pengelolaan stres tetap menjadi bagian penting setelah VLCD.

Tujuannya adalah agar berat badan yang sudah turun dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

5. Lakukan Pemantauan Berat Badan

Sedikit perubahan berat badan setelah transisi tidak selalu berarti program gagal.

Tubuh mengalami perubahan ketika asupan makanan kembali meningkat, termasuk perubahan cairan dan isi saluran cerna.

Yang lebih penting adalah melihat tren berat badan dari waktu ke waktu dan melakukan penyesuaian jika berat badan terus meningkat.

Jangan Menerapkan VLCD tanpa Pendampingan Dokter

Jika ingin menurunkan berat badan, jangan diet sembarangan seperti VLCD karena banyak risiko kesehatannya. Apalagi jika dilakukan tanpa pendampingan dokter.

Lebih baik, turun berat badan dengan pendampingan tenaga kesehatan profesional seperti dokter spesialis gizi klinik.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia program penurunan berat badan dengan pendampingan dokter spesialis gizi klinik. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148076056-1.webp

Diet OMAD (One Meal a Day) merupakan salah satu pola makan yang cukup populer dalam program penurunan berat badan. Sesuai namanya, pola makan ini membatasi waktu makan sehingga seseorang hanya mengonsumsi makanan utama satu kali dalam sehari, sedangkan pada waktu lainnya berpuasa.

OMAD merupakan salah satu bentuk intermittent fasting yang lebih ketat. Meskipun dapat membantu sebagian orang mengurangi asupan kalori, OMAD tidak selalu cocok untuk semua orang dan belum memiliki bukti yang cukup untuk menunjukkan bahwa pola ini lebih efektif dibandingkan metode penurunan berat badan lainnya.

Lalu, bagaimana sebenarnya diet OMAD bekerja dan apa saja manfaat serta risikonya?

Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa Itu Diet OMAD?

OMAD (One Meal a Day) adalah pola makan yang membatasi konsumsi makanan menjadi satu kali makan dalam sehari, dengan periode tidak makan yang jauh lebih panjang dibandingkan pola makan biasa.

Misalnya, seseorang memilih makan pada pukul 18.00–19.00, kemudian tidak mengonsumsi makanan berkalori hingga waktu makan berikutnya pada hari berikutnya.

Selama periode puasa, seseorang umumnya mengonsumsi minuman tanpa kalori, seperti air putih. Namun, aturan OMAD dapat berbeda-beda tergantung pendekatan yang digunakan.

OMAD pada dasarnya merupakan bentuk intermittent fasting yang lebih ekstrem karena jendela makan sangat singkat.

Apa Perbedaan Diet OMAD dengan Intermittent Fasting Biasa?

Intermittent fasting (IF) merupakan istilah yang lebih luas untuk pola makan yang mengatur periode makan dan puasa.

Salah satu contoh yang populer adalah metode 16:8, yaitu berpuasa selama sekitar 16 jam dan memiliki waktu makan selama 8 jam.

Sementara itu, pada OMAD, waktu makan biasanya hanya sekitar satu kali makan dalam sehari, sehingga periode puasanya jauh lebih panjang.

Perbedaannya dapat digambarkan sebagai berikut:

Intermittent fasting 16:8

  • Puasa sekitar 16 jam.
  • Makan dalam jendela waktu sekitar 8 jam.
  • Masih memungkinkan konsumsi beberapa kali makan dalam jendela tersebut.

OMAD

  • Hanya satu kali makan utama dalam sehari.
  • Periode puasa jauh lebih panjang.
  • Lebih ketat dalam membatasi waktu makan.

Dengan demikian, OMAD merupakan salah satu bentuk intermittent fasting, tetapi tidak semua intermittent fasting merupakan OMAD.

Bagaimana Diet OMAD Membantu Membakar Lemak Tubuh?

Ketika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dalam waktu tertentu, kadar insulin dan ketersediaan glukosa dari makanan dapat menurun. Tubuh kemudian lebih banyak menggunakan cadangan energi, termasuk lemak, sebagai sumber energi.

Inilah yang sering disebut sebagai proses fat burning selama periode puasa.

Namun, perlu dipahami bahwa pembakaran lemak selama puasa tidak otomatis berarti seseorang akan kehilangan lemak tubuh dalam jumlah besar.

Penurunan berat badan pada akhirnya tetap sangat dipengaruhi oleh keseimbangan energi. Jika jumlah kalori yang dikonsumsi selama satu kali makan masih sama atau bahkan lebih besar daripada kebutuhan tubuh, penurunan berat badan belum tentu terjadi.

Dengan kata lain, OMAD bukan berarti tubuh otomatis membakar lemak lebih banyak hanya karena seseorang makan satu kali sehari.

Penelitian mengenai intermittent fasting secara umum menunjukkan bahwa pola ini dapat membantu menurunkan berat badan pada sebagian orang, tetapi hasilnya tidak selalu lebih baik dibandingkan pembatasan kalori secara konvensional.

Apakah Ada Manfaat Diet OMAD bagi Kesehatan?

Karena OMAD merupakan salah satu bentuk intermittent fasting, beberapa manfaat yang mungkin diperoleh berkaitan dengan pengurangan asupan kalori dan perubahan pola makan.

1. Membantu menurunkan berat badan

Membatasi waktu makan dapat membuat sebagian orang lebih mudah mengurangi jumlah kalori yang dikonsumsi dalam sehari.

Namun, penelitian mengenai intermittent fasting menunjukkan bahwa efek penurunan berat badan umumnya tidak secara konsisten lebih unggul dibandingkan pola diet dengan pembatasan kalori biasa.

2. Membantu mengontrol gula darah

Beberapa bentuk intermittent fasting, terutama time-restricted eating, telah dikaitkan dengan perbaikan beberapa parameter metabolik, seperti gula darah dan insulin pada orang dengan overweight atau obesitas.

Namun, bukti tersebut tidak berarti bahwa OMAD secara khusus terbukti memberikan manfaat yang sama, karena sebagian besar penelitian dilakukan pada berbagai jenis intermittent fasting, bukan khusus OMAD.

3. Membantu membatasi frekuensi makan

Bagi sebagian orang, mengurangi frekuensi makan dapat membuat pola makan terasa lebih sederhana karena tidak perlu mengatur beberapa waktu makan dan camilan sepanjang hari.

Namun, pola ini tetap harus memastikan kebutuhan nutrisi dan energi tubuh terpenuhi.

Apa Risiko Kesehatan dan Efek Samping Diet OMAD?

Karena OMAD memiliki periode puasa yang panjang dan hanya memberikan satu kesempatan makan dalam sehari, pola ini dapat lebih sulit memenuhi kebutuhan energi dan gizi secara optimal.

Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:

  • Rasa lapar berlebihan.
  • Sakit kepala.
  • Pusing atau lemas.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Mual atau gangguan pencernaan.
  • Kesulitan memenuhi kebutuhan protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya.
  • Risiko kehilangan massa otot apabila asupan protein dan energi tidak mencukupi.

Pada sebagian orang, pembatasan makan yang terlalu ketat juga dapat menyebabkan makan berlebihan ketika memasuki waktu makan.

Penelitian mengenai intermittent fasting secara umum menunjukkan bahwa efek samping serius tidak selalu lebih banyak dibandingkan pola diet lainnya, tetapi keluhan seperti pusing dapat terjadi pada sebagian orang. Bukti mengenai keamanan dan efektivitas jangka panjang, terutama untuk pola yang sangat ketat seperti OMAD, masih terbatas.

Diet OMAD juga tidak dianjurkan untuk dilakukan sembarangan, terutama pada individu dengan kondisi medis tertentu, sedang menggunakan obat yang perlu dikonsumsi bersama makanan, ibu hamil atau menyusui, serta individu dengan riwayat gangguan makan.

Karena itu, jika ingin menggunakan OMAD sebagai bagian dari program penurunan berat badan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis untuk memastikan pola tersebut sesuai dengan kondisi tubuh dan kebutuhan gizi Anda.

Jangan Diet Sembarangan

Jika ingin menurunkan berat badan, jangan diet sembarangan karena ada risiko kesehatan yang mengintai.

Lebih baik, turun berat badan dengan pendampingan tenaga keseahtan profesional.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia program penurunan berat badan dengan pendampingan dokter spesialis gizi klinik. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


4903-1-1200x909.webp

Tidak sedikit orang yang mengatakan dirinya memiliki “tulang besar” ketika berat badannya lebih tinggi atau bentuk tubuhnya tampak lebih besar dibandingkan orang lain. Bahkan, ada yang merasa sulit menurunkan berat badan karena menganggap ukuran tulangnya memang besar sejak lahir.

Namun, benarkah ukuran tulang menjadi penyebab utama seseorang terlihat gemuk? Atau sebenarnya ada faktor lain yang lebih berpengaruh?

Faktanya, struktur tulang memang berbeda pada setiap orang dan dapat memengaruhi bentuk tubuh. Namun, perbedaan ukuran kerangka tubuh hanya memberikan pengaruh kecil terhadap berat badan secara keseluruhan. Sebagian besar variasi berat badan justru dipengaruhi oleh jumlah lemak tubuh, massa otot, pola makan, aktivitas fisik, serta faktor genetik dan hormonal.

Apa yang Dimaksud dengan Tulang Besar?

Istilah “tulang besar” sebenarnya bukan merupakan diagnosis atau istilah medis. Dalam dunia kesehatan, yang dimaksud adalah ukuran kerangka tubuh (body frame size), yaitu besar-kecilnya struktur rangka seseorang.

Ukuran kerangka tubuh dipengaruhi oleh faktor genetik dan umumnya dibagi menjadi tiga kategori, yaitu kerangka kecil, sedang, dan besar. Orang dengan kerangka besar biasanya memiliki diameter tulang yang sedikit lebih lebar, seperti pada pergelangan tangan, bahu, atau panggul.

Meski demikian, perbedaan ukuran kerangka ini tidak terlalu besar. Berdasarkan berbagai penelitian mengenai komposisi tubuh, berat tulang pada orang dewasa umumnya hanya sekitar 10–15% dari total berat badan, sehingga ukuran tulang bukanlah faktor utama yang menyebabkan seseorang mengalami kelebihan berat badan.

Apakah Tulang Besar Membuat Tubuh Terlihat Gemuk?

Jawabannya adalah bisa membuat tubuh tampak lebih besar, tetapi bukan berarti gemuk.

Seseorang dengan kerangka tubuh yang besar biasanya memiliki bahu, dada, atau pinggul yang lebih lebar dibandingkan orang dengan kerangka kecil. Hal ini dapat memberikan kesan tubuh yang lebih besar meskipun persentase lemak tubuhnya masih normal.

Sebagai contoh, dua orang dengan tinggi badan yang sama dapat memiliki berat badan ideal yang sedikit berbeda karena ukuran kerangka tubuhnya tidak sama. Orang dengan kerangka besar mungkin memiliki berat badan beberapa kilogram lebih tinggi, tetapi tetap berada dalam kondisi yang sehat.

Namun, kelebihan berat badan akibat penumpukan lemak tubuh tetap berbeda dengan ukuran kerangka tubuh. Lemak tubuh yang berlebihan, terutama di area perut, meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga stroke.

Oleh karena itu, untuk menilai apakah seseorang mengalami kelebihan berat badan, dokter tidak hanya melihat bentuk tubuh, tetapi juga mempertimbangkan Indeks Massa Tubuh (IMT), lingkar perut, persentase lemak tubuh, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Mitos Tulang Besar yang Perlu Diluruskan

Masih banyak anggapan yang beredar mengenai tulang besar. Berikut beberapa mitos yang perlu diluruskan.

Mitos 1: “Saya gemuk karena tulang besar.”

Faktanya, ukuran tulang hanya menyumbang sebagian kecil dari total berat badan. Kenaikan berat badan yang signifikan umumnya disebabkan oleh peningkatan lemak tubuh, bukan karena tulang yang lebih besar.

Mitos 2: “Orang bertulang besar tidak bisa kurus.”

Ini tidak benar. Seseorang dengan kerangka tubuh besar tetap dapat memiliki persentase lemak tubuh yang sehat dan berat badan yang ideal sesuai dengan struktur tubuhnya.

Mitos 3: “Semakin besar tulangnya, semakin berat badannya.”

Ukuran kerangka memang dapat memengaruhi berat badan, tetapi pengaruhnya relatif kecil. Massa otot dan lemak tubuh memiliki kontribusi yang jauh lebih besar terhadap angka di timbangan.

Mitos 4: “Semua orang harus memiliki berat badan yang sama.”

Setiap orang memiliki bentuk tubuh, komposisi tubuh, dan ukuran kerangka yang berbeda. Oleh karena itu, target berat badan yang sehat juga dapat berbeda antara satu orang dengan yang lain.

Cara Menentukan Ukuran Kerangka Tubuh

Ukuran kerangka tubuh tidak dapat dinilai hanya dari penampilan.

Salah satu cara sederhana yang sering digunakan adalah mengukur lingkar pergelangan tangan, kemudian membandingkannya dengan tinggi badan. Semakin kecil pergelangan tangan dibandingkan tinggi badan, umumnya kerangka tubuh cenderung lebih kecil. Sebaliknya, pergelangan tangan yang lebih besar dapat menunjukkan kerangka tubuh yang lebih besar.

Selain itu, tenaga kesehatan juga dapat menilai ukuran kerangka melalui pemeriksaan fisik dan pengukuran antropometri.

Meski demikian, metode ini hanya memberikan gambaran umum dan tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan berat badan ideal maupun status gizi seseorang.

Pengaruh Struktur Tulang terhadap Berat Badan

Struktur tulang memang memengaruhi berat badan, tetapi pengaruhnya relatif kecil dibandingkan massa otot dan lemak tubuh.

Berdasarkan penelitian mengenai komposisi tubuh, massa tulang pada orang dewasa rata-rata hanya berkisar 10–15% dari total berat badan. Sebaliknya, perubahan jumlah lemak tubuh dan massa otot dapat menyebabkan perubahan berat badan yang jauh lebih besar.

Sebagai contoh, seseorang dapat mengalami kenaikan berat badan beberapa kilogram akibat peningkatan massa otot setelah rutin berolahraga. Sebaliknya, seseorang juga dapat mengalami kenaikan berat badan karena penumpukan lemak akibat pola makan berlebih dan kurangnya aktivitas fisik.

Oleh karena itu, berat badan sebaiknya tidak dinilai hanya dari angka di timbangan, tetapi juga dengan melihat komposisi tubuh, lingkar pinggang, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Cara Menentukan Target Berat Badan yang Realistis

Alih-alih berfokus pada istilah “tulang besar”, lebih baik menentukan target berat badan berdasarkan kondisi kesehatan dan komposisi tubuh.

Beberapa hal yang dapat menjadi acuan antara lain:

  • Menjaga Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam kisaran yang sehat sesuai rekomendasi WHO.
  • Memperhatikan lingkar perut, karena lemak berlebih di area perut berkaitan dengan risiko penyakit metabolik.
  • Mengukur persentase lemak tubuh, terutama bagi orang yang rutin berolahraga atau memiliki massa otot yang besar.
  • Menetapkan target penurunan berat badan secara bertahap, sekitar 0,5–1 kg per minggu, bila memang diperlukan.
  • Mengutamakan perubahan gaya hidup sehat melalui pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang rutin, tidur yang cukup, dan pengelolaan stres.

Perlu diingat bahwa berat badan ideal setiap orang dapat berbeda, tergantung pada usia, jenis kelamin, tinggi badan, massa otot, dan ukuran kerangka tubuh.

Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?

Apabila Anda mengalami kesulitan mengontrol berat badan, kenaikan atau penurunan berat badan yang terjadi tanpa sebab yang jelas, atau memiliki faktor risiko seperti diabetes, tekanan darah tinggi, maupun gangguan hormon, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter umum.

Dokter akan melakukan evaluasi terhadap pola makan, aktivitas fisik, riwayat kesehatan, penggunaan obat-obatan, serta melakukan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan penunjang atau merujuk Anda ke dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) atau dokter spesialis gizi klinik (Sp.GK) untuk mendapatkan penanganan yang lebih sesuai.

Kesimpulan

Istilah “tulang besar” sebenarnya mengacu pada ukuran kerangka tubuh, bukan penyebab utama seseorang mengalami kelebihan berat badan. Meskipun kerangka tubuh yang lebih besar dapat membuat seseorang tampak lebih besar secara fisik, pengaruhnya terhadap berat badan relatif kecil dibandingkan jumlah lemak dan massa otot.

Daripada berfokus pada ukuran tulang, akan lebih bermanfaat untuk menjaga pola makan yang sehat, rutin berolahraga, tidur yang cukup, serta memantau komposisi tubuh dan lingkar perut. Dengan demikian, target berat badan yang dicapai tidak hanya lebih realistis, tetapi juga lebih mendukung kesehatan jangka panjang.

Jika Anda ingin menurunkan berat badan dan mencapai body goals, Primecare Clinic Jakarta memiliki program penurunan berat badan dengan pendampingan dokter spesialis gizi klinik. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


495-1200x675.webp

Banyak orang menjadikan angka di timbangan sebagai patokan keberhasilan diet. Padahal, berat badan saja tidak selalu menggambarkan kondisi kesehatan seseorang. Dua orang dengan berat badan yang sama bisa saja memiliki komposisi tubuh yang sangat berbeda.

Salah satu indikator yang lebih penting untuk menilai kesehatan adalah persentase lemak tubuh (body fat percentage). Persentase lemak tubuh dapat membantu mengetahui apakah jumlah lemak dalam tubuh masih berada dalam batas yang sehat atau justru terlalu tinggi sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Lantas, apa sebenarnya persentase lemak tubuh? Berapa angka yang dianggap ideal? Dan bagaimana cara menurunkannya dengan aman?

Apa Itu Persentase Lemak Tubuh?

Persentase lemak tubuh adalah persentase jumlah lemak dibandingkan dengan total berat badan seseorang. Lemak dalam tubuh sebenarnya memiliki peran penting, seperti melindungi organ-organ vital, menjaga suhu tubuh, membantu penyerapan vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, dan K), serta menjadi cadangan energi.

Namun, jika jumlah lemak terlalu banyak, terutama lemak visceral yang mengelilingi organ dalam, risiko berbagai penyakit kronis akan meningkat, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, hingga beberapa jenis kanker.

Sebaliknya, persentase lemak tubuh yang terlalu rendah juga bukan berarti lebih sehat. Tubuh tetap membutuhkan sejumlah lemak esensial untuk mendukung fungsi hormon, sistem reproduksi, kekebalan tubuh, dan kesehatan organ.

Menurut American Council on Exercise (ACE), persentase lemak tubuh merupakan salah satu indikator yang lebih akurat dibandingkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam menggambarkan komposisi tubuh seseorang. Hal ini karena IMT hanya memperhitungkan berat badan dan tinggi badan tanpa membedakan apakah berat tersebut berasal dari lemak atau massa otot. (1)

Kategori Persentase Lemak Tubuh yang Ideal

Persentase lemak tubuh yang ideal berbeda antara pria dan wanita. Wanita secara alami memiliki persentase lemak yang lebih tinggi karena berperan dalam fungsi reproduksi dan keseimbangan hormon.

Berikut kategori persentase lemak tubuh menurut American Council on Exercise (ACE): (1)

 

KategoriWanitaPria
Lemak esensial10–13%2–5%
Atlet14–20%6–13%
Bugar (Fitness)21–24%14–17%
Rata-rata25–31%18–24%
Obesitas≥32%≥25%

 

Perlu diingat bahwa angka di atas merupakan panduan umum. Persentase lemak tubuh yang ideal dapat berbeda tergantung usia, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Cara Menghitung Persentase Lemak Tubuh

Berbeda dengan berat badan, persentase lemak tubuh tidak dapat diketahui hanya dengan melihat angka di timbangan biasa. Ada beberapa metode yang dapat digunakan, dengan tingkat akurasi yang berbeda-beda.

1. Bioelectrical Impedance Analysis (BIA)

Metode ini merupakan salah satu yang paling banyak digunakan di klinik, pusat kebugaran, maupun timbangan digital modern.

BIA bekerja dengan mengalirkan arus listrik berintensitas sangat rendah melalui tubuh. Karena lemak dan otot menghantarkan listrik dengan cara yang berbeda, alat dapat memperkirakan persentase lemak tubuh.

Meski praktis, hasil pemeriksaan dapat dipengaruhi oleh kondisi hidrasi, waktu makan, maupun aktivitas fisik sebelum pemeriksaan.

2. Skinfold Caliper

Metode ini dilakukan dengan mengukur ketebalan lipatan kulit pada beberapa titik tubuh menggunakan alat khusus (caliper). Hasilnya kemudian dimasukkan ke dalam rumus tertentu untuk memperkirakan persentase lemak tubuh.

Keakuratan metode ini sangat bergantung pada keterampilan pemeriksa.

3. DEXA Scan

Dual-Energy X-ray Absorptiometry (DEXA) merupakan salah satu metode yang paling akurat untuk mengukur komposisi tubuh, termasuk lemak, massa otot, dan kepadatan tulang.

Namun, pemeriksaan ini relatif lebih mahal dan biasanya dilakukan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan tertentu.

4. Pengukuran Lingkar Tubuh

Beberapa kalkulator menggunakan kombinasi lingkar pinggang, leher, pinggul (pada wanita), tinggi badan, dan berat badan untuk memperkirakan persentase lemak tubuh.

Meskipun tidak seakurat DEXA, metode ini cukup mudah dilakukan sebagai pemantauan di rumah.

Anda juga bisa mengestimasi body fat Anda dengan kalkulator body fat di tautan ini.

Faktor yang Mempengaruhi Persentase Lemak Tubuh

Persentase lemak tubuh dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya pola makan.

Beberapa faktor yang berperan antara lain:

1. Pola makan

Mengonsumsi kalori secara berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kelebihan energi yang kemudian disimpan sebagai lemak tubuh.

2. Aktivitas fisik

Kurangnya aktivitas fisik membuat pembakaran kalori menjadi lebih sedikit sehingga lemak lebih mudah menumpuk.

3. Massa otot

Semakin banyak massa otot yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula kebutuhan energi tubuh, bahkan saat sedang beristirahat. Hal ini membantu menjaga persentase lemak tubuh tetap sehat.

4. Usia

Seiring bertambahnya usia, massa otot cenderung menurun jika tidak diimbangi latihan kekuatan. Akibatnya, persentase lemak tubuh dapat meningkat meskipun berat badan tidak banyak berubah.

5. Hormon

Gangguan hormon, seperti hipotiroidisme, sindrom ovarium polikistik (PCOS), sindrom Cushing, atau menopause, juga dapat memengaruhi distribusi dan jumlah lemak tubuh.

6. Genetik

Setiap orang memiliki kecenderungan genetik yang berbeda dalam menyimpan lemak tubuh. Namun, gaya hidup tetap menjadi faktor yang paling besar pengaruhnya.

Cara Menurunkan Persentase Lemak Tubuh Secara Efektif

Menurunkan persentase lemak tubuh bukan berarti harus menjalani diet ekstrem. Tujuan utamanya adalah mengurangi lemak sambil mempertahankan massa otot.

Beberapa cara yang dapat dilakukan meliputi:

1. Konsumsi makanan tinggi protein

Protein membantu menjaga massa otot selama proses penurunan berat badan sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama.

2. Terapkan defisit kalori yang sehat

Penurunan lemak terjadi ketika jumlah kalori yang dikonsumsi lebih sedikit dibandingkan kalori yang dibakar. Namun, defisit kalori sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tubuh tetap mendapatkan nutrisi yang cukup.

Untuk mengestimasi kebutuhan kalori Anda, hitung BMR dan TDEE di tautan ini.

3. Rutin melakukan latihan kekuatan

Latihan beban membantu mempertahankan bahkan meningkatkan massa otot sehingga metabolisme tubuh tetap optimal selama proses penurunan berat badan.

4. Lakukan olahraga kardio

Olahraga seperti berjalan cepat, jogging, bersepeda, atau berenang membantu meningkatkan pembakaran kalori dan mendukung penurunan lemak tubuh.

5. Tidur yang cukup

Kurang tidur dapat mengganggu hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, sehingga meningkatkan keinginan mengkonsumsi makanan tinggi kalori.

6. Kelola stress

Stres berkepanjangan dapat meningkatkan hormon kortisol yang berhubungan dengan peningkatan nafsu makan dan penumpukan lemak, terutama di area perut.

Berdasarkan pedoman dari American College of Sports Medicine (ACSM), kombinasi antara pengaturan pola makan dan olahraga rutin merupakan strategi yang paling efektif untuk menurunkan lemak tubuh sekaligus mempertahankan massa otot. (2)

Kesalahan Umum Saat Menurunkan Lemak Tubuh

Masih banyak orang yang melakukan cara-cara yang kurang tepat saat ingin mengurangi lemak tubuh.

Beberapa kesalahan yang sering dilakukan antara lain:

  • Terlalu fokus pada angka di timbangan, bukan perubahan komposisi tubuh.
  • Mengurangi makan secara berlebihan hingga kekurangan nutrisi.
  • Menghindari semua jenis lemak, padahal tubuh tetap membutuhkan lemak sehat.
  • Hanya melakukan olahraga kardio tanpa latihan kekuatan.
  • Mengonsumsi suplemen pembakar lemak tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan.
  • Berharap hasil instan dalam waktu singkat.

Perlu diingat bahwa penurunan lemak tubuh merupakan proses yang membutuhkan konsistensi. Perubahan kecil yang dilakukan secara rutin umumnya memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan diet ketat yang sulit dipertahankan.

Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?

Jika Anda mengalami obesitas, kesulitan menurunkan berat badan meski sudah menjalani pola hidup sehat, atau memiliki kondisi medis seperti diabetes, PCOS, hipotiroidisme, maupun penyakit metabolik lainnya, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

Dokter dapat membantu mengevaluasi penyebab yang mendasari, memberikan rekomendasi pola makan dan aktivitas fisik yang sesuai, serta menentukan apakah diperlukan pemeriksaan komposisi tubuh atau penanganan lebih lanjut.

Dokter yang bisa dikunjungi adalah dokter umum, dokter spesialis gizi klinik, dan dokter spesialis penyakit dalam.

Kesimpulan

Persentase lemak tubuh merupakan salah satu indikator penting untuk menilai komposisi tubuh dan risiko berbagai penyakit. Berbeda dengan berat badan atau IMT, persentase lemak tubuh memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai jumlah lemak yang dimiliki seseorang.

Menjaga persentase lemak tubuh dalam kisaran yang sehat dapat dilakukan melalui pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang teratur, latihan kekuatan, tidur yang cukup, dan pengelolaan stres. Dengan pendekatan yang tepat dan konsisten, penurunan lemak tubuh dapat dicapai secara aman sekaligus membantu meningkatkan kesehatan secara menyeluruh.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia program penurunan berat badan dengan dokter spesialis gizi klinik. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

 

Referensi

  1. American Council on Exercise (ACE). ACE Body Fat Percentage Norms.
  2. American College of Sports Medicine (ACSM). ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription, 11th Edition.


Apakah Anda pernah mendengar istilah weight loss dan fat loss? Meski sama-sama terlihat fokus pada penurunan berat badan, sebenarnya istilah ini punya banyak perbedaan.

Apa saja perbedaannya? Berikut penjelasannya!

1. Fokus Utama Penurunan

  • Weight Loss: Berfokus sepenuhnya pada penurunan angka yang tertera di timbangan badan, tanpa memedulikan komponen tubuh mana yang berkurang.

  • Fat Loss: Berfokus spesifik pada penurunan persentase lemak tubuh (body fat percentage) serta perbaikan komposisi tubuh secara keseluruhan. Klik tautan ini untuk mengetahui estimasi body fat Anda.

2. Komposisi Tubuh yang Berkurang

  • Weight Loss: Komponen yang berkurang ada banyak, termasuk cairan tubuh, lemak, dan otot.

  • Fat Loss: Komponen yang berkurang didominasi oleh lemak, sementara massa otot berusaha dipertahankan atau dinaikkan.

3. Dampak Terhadap Laju Metabolisme

  • Weight Loss: Cenderung menurunkan laju metabolisme tubuh (metabolic rate) karena hilangnya jaringan otot yang berfungsi membakar kalori. Otot berpengaruh pada kecepatan metabolisme.

  • Fat Loss: Laju metabolisme tetap stabil atau bahkan meningkat, karena massa otot yang terjaga terus membakar energi secara aktif.

4. Perubahan Bentuk dan Perawakan Tubuh

  • Weight Loss: Ukuran tubuh memang mengecil, tetapi berisiko mengalami kondisi skinny fat (angkat BMI ideal, tetapi body fat tinggi)

  • Fat Loss: Postur tubuh terlihat lebih kencang, atletis, definisi otot lebih terlihat, dan proporsi tubuh tampak lebih ideal. Lemak juga terlihat berkurang.

5. Alat Ukur dan Parameter Evaluasi

  • Weight Loss: Menggunakan timbangan badan konvensional atau digital sebagai indikator utama keberhasilan dalam penurunan berat badan. Parameter evaluasi murni dari angka di timbangan tanpa memperhatikan komposisi tubuh.

  • Fat Loss: Menggunakan pita ukur (metline untuk lingkar pinggang/lengan), skinfold caliper, foto komparasi berkala, atau analisis bioimpedansi (analisis komposisi tubuh). Evaluasi tidak hanya berat badan, tetapi juga body fat. Bisa saja berat badan tidak terlalu turun, tetapi body fat jauh lebih rendah.

Harus ke Dokter Apa jika ingin Fat Loss atau Weight Loss?

Jika ingin fat loss atau weight loss, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik.

Dokter spesialis tersebut dapat membantu dalam fat loss dan weight loss.

Fokus pada Fat Loss juga, Jangan hanya Angka di Timbangan

Dari penjelasannya, fat loss lebih diprioritaskan daripada weight loss. Angka berat badan yang turun bisa terlihat menyenangkan, tetapi bisa kurang sehat jika ternyata justru metabolisme melambat karena otot berkurang banyak, bukan hanya lemak.

Untuk bisa fat loss dan weight loss dengan sehat, sebaiknya Anda melakukan penurunan berat badan dengan pendampingan dokter spesialis gizi klinik.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia program penurunan berat badan dengan pendampingan dokter spesialis gizi klinik. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


98517-1200x800.jpg

Infeksi telinga pada anak dan bayi pastinya membuat orang tua cukup deg-degan. Apalagi pada bayi di mana mereka belum bisa mengomunikasikan secara eksplisit bahwa mereka mengalami infeksi pada telinga. Apa saja tandanya dan hal yang harus dilakukan?

Apa itu Infeksi Telinga (Otitis Media) pada Anak?

Infeksi telinga terjadi ketika ada infeksi yang menyebabkan peradangan di bagian telinga, baik telinga luar, tengah, atau dalam. Pada anak-anak, jenis infeksi telinga yang sering terjadi adalah infeksi pada telinga tengah atau otitis media. Otitis media paling sering disebabkan oleh bakteri, namun tidak menutup kemungkinan juga patogen lain bisa menyebabkan infeksi seperti virus dan jamur.

Gejala Infeksi Telinga pada Anak dan Bayi 

Tanda dan gejala infeksi telinga meliputi:

  • Nyeri di dalam telinga (sakit telinga)
  • Demam tinggi
  • Gangguan dalam mendengar
  • Cairan keluar dari telinga
  • Rasa adanya tekanan atau sensasi penuh di dalam telinga
  • Gatal dan iritasi di dalam dan sekitar telinga
  • Kulit bersisik di dalam dan sekitar telinga

Khusus pada anak-anak dan bayi yang belum bisa mendeskripsikan gejala yang dialami, tanda-tanda berikut bisa menunjukkan kemungkinan adanya infeksi telinga, seperti:

  • Menggosok atau menarik telinga
  • Tidak bereaksi terhadap suara-suara tertentu
  • Mudah tersinggung atau gelisah/rewel
  • Tidak nafsu makan
  • Kehilangan keseimbangan
  • Penyebab Utama Infeksi Telinga, misalnya Setelah Batuk Pilek

Faktor Risiko Infeksi Telinga pada Anak

Kondisi yang dapat menjadi faktor penyebab infeksi telinga pada anak-anak paling sering adalah adanya infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), seperti:

  • Common cold atau batuk pilek biasa
  • Infeksi pada tonsil dan adenoid (Tonsilloadenoiditis)
  • Infeksi pada hidung dan sinus paranasalis (Rinosinusitis)
  • Demam eksantema atau infeksi yang menimbulkan gejala ruam merah pada kulit, seperti difteri, campak, dan/atau pertusis

Secara anatomi, terdapat saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan saluran pernapasan (hidung dan nasofaring, bagian atas dari tenggorokan) yang disebut dengan tuba eustachius. Pada anak-anak dan bayi, posisi tuba eustachius lebih lebar, pendek, dan mendatar dibandingkan orang dewasa, sehingga infeksi pada saluran napas atas akan lebih mudah menyebar ke telinga melalui tuba eustachius ini.

Faktor risiko lain yang dapat menambah risiko terjadinya infeksi telinga antara lain:

  • Alergi pada hidung
  • Tumor nasofaring
  • Bibir sumbing
  • Paparan debu dan asap rokok
  • Bayi yang disusui dengan botol dengan posisi telentang
  • Sistem imun anak-anak yang belum berkembang sempurna
  • Trauma yang dapat menyebabkan gendang telinga berlubang (perforasi membran timpani)

Cara Mengobati Infeksi Telinga Anak Secara Medis

Umumnya, dokter akan memberikan berbagai macam obat atau penanganan pada anak dengan infeksi telinga dengan:

  1. Antibiotik yang diminum secara peroral sesuai dengan dosis yang diresepkan oleh dokter, bila infeksi diduga disebabkan oleh agen bakteri.
  2. Obat tetes hidung anti radang yang bertujuan untuk mengobati tuba eustachius yang mengalami peradangan.
  3. Dekongestan untuk meredakan telinga atau hidung yang tersumbat. Biasanya obat ini bisa dikombinasikan dengan antihistamin atau obat pereda alergi.
  4. Obat analgesik atau antipiretik bila keluhan disertai nyeri dan demam, misalnya parasetamol.
  5. Tindakan pembersihan telinga atau ear toilet
  6. Prosedur pembedahan dengan memberikan sayatan kecil pada gendang telinga, disebut dengan miringotomi. Dokter mungkin akan mempertimbangkan tindakan ini bila ditemukan adanya:

(i) Gendang telinga menonjol dan terdapat nyeri akut,

(ii) Tidak ada perbaikan gejala meskipun sudah diberikan antibiotik misal ketika gendang telinga tetap terasa penuh dengan gangguan pendengaran konduktif yang menetap,

(iii) terdapat penumpukan cairan yang menetap lebih dari 12 minggu.

Tips Mencegah Infeksi Telinga Berulang pada Si Kecil (Anak)

Infeksi telinga dapat dicegah dengan cara:

  • Rajin mencuci tangan untuk mencegah penyebaran kuman
  • Tidak mengorek telinga sendiri 
  • Hindari paparan debu atau asap rokok
  • Mencegah anak minum saat telentang dengan menyusui atau memberikan botol dot ke bayi/anak dengan posisi kepala sedikit lebih ke atas
  • Hindari berkumpul bersama teman sebayanya untuk sementara, karena potensi tertular dari anak yang sedang sakit atau menularkan penyakit ke anak lain
  • Imunisasi sesuai jadwal agar anak lebih kebal terhadap infeksi. Vaksinasi seperti influenza dan PCV (pneumonia) dapat menurunkan risiko terjadinya infeksi telinga dan komplikasinya pada anak.

Kapan harus ke dokter spesialis anak atau THT terkait infeksi telinga pada anak?

Segeralah berobat ke dokter, terutama dokter spesialis THT apabila ada gejala seperti sakit telinga, demam, anak rewel, dan cairan keluar dari telinga dan berlangsung lebih dari 2-3 hari serta memburuk dengan cepat. Sebaiknya anak dibawa ke instalasi gawat darurat jika ada demam tinggi (di atas 39°C), keluarnya nanah/darah, leher kaku, atau pembengkakan atau kemerahan di belakang telinga karena risiko terjadinya komplikasi akibat dari infeksi telinga.

Jangan Ragu ke Dokter Spesialis THT jika Anak Mengalami Gejala Infeksi Telinga

Jika anak mengalami gejala infeksi telinga, jangan ragu untuk ke dokter spesialist THT untuk mendapatkan penanganan dengan cepat dan tepat.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis THT. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Sumber:

Dhingra, P. (2013). Diseases of Ear, Nose and Throat, 6/e. Elsevier India.

Ear infection Basics. (2024, April 17). Ear Infection. https://www.cdc.gov/ear-infection/about/index.html

Ear infections in children. (2022, March 16). NIDCD. https://www.nidcd.nih.gov/health/ear-infections-children

Website, N. (2025, November 25). Ear infections. nhs.uk. https://www.nhs.uk/conditions/ear-infections/


42115-1-1200x800.jpg

Erling Haaland dikenal sebagai mesin pencetak gol yang fenomenal dan fantastis di lapangan hijau. Di balik fisiknya yang kekar, terdapat rahasia bahan bakar yang tidak biasa: diet sebesar 6000 kalori per hari. Jumlah ini hampir tiga kali lipat dari rekomendasi konsumsi harian pria dewasa normal.

Bagi seorang atlet sepak bola profesional dengan tinggi 195 cm dan intensitas latihan harian yang sangat tinggi, angka ini masih masuk akal, terlebih lagi ada ahli gizi/nutrisionis profesional di klub olahraga elit. Namun, apa jadinya jika pola makan raksasa ini diterapkan oleh manusia biasa?

Artikel ini akan mengupas tuntas menu unik dalam diet Erling Haaland dan dampak nyata, baik dari sisi medis maupun metabolisme, jika orang biasa nekat menirunya.

Inti dari Diet 6000 Kalori Erling Haaland

Berbeda dengan banyat atlet modern yang memilih jalur vegan atau diet ketat tanpa daging merah, Haaland justru mengadopsi pola makan ala manusia purba (ancestral diet) yang padat nutrisi hewani.

1. Jantung dan Hati Sapi

Haaland secara terbuka mengakui bahwa ia rutin mengonsumsi organ dalam (jeroan) seperti jantung dan hati sapi. Jeroan ini merupakan superfood alami yang sangat kaya akan zat besi, vitamin B, fosfor, dan koenzim Q10.

2. Air yang Disaring Khusus

Ia sangat selektif terhadap apa yang masuk ke tubuhnya, termasuk meminum air yang harus melalui sistem filtrasi kompleks untuk menghilangkan zat kimia berbahaya.

3. Sinar Matahari Pagi

Bagian dari rutinitas “diet” biologisnya adalah menyerap sinar matahari pagi segera setelah bangun tidur untuk mengatur ritme sirkadian dan metabolisme tubuh.

4. Susu Mentah (Raw Milk)

Haaland juga gemar mengonsumsi susu mentah berlemak tinggi yang dicampur dengan telur atau protein shake.

Dampak Nyata Jika Diet 6000 Kalori Ini Dilakukan oleh Manusia Biasa

Jika Anda bukan atlet profesional yang menghabiskan 4 hingga 6 jam sehari untuk latihan fisik intensitas tinggi, mengonsumsi 6000 kalori akan memicu respons tubuh yang drastis.

Berikut adalah dampak biologis yang akan terjadi pada manusia biasa:

1. Surplus Kalori Ekstrem dan Obesitas Instan

Manusia awam dengan aktivitas kantoran yang ringan atau bahkan sedenter rata-rata hanya membakar 1500 hingga 2,500 kalori per hari. Jika Anda memasukkan 6000 kalori, tubuh akan mengalami surplus sebesar 3,500 kalori setiap hari.

Secara matematis, surplus sebesar 3,500 kalori setara dengan penambahan sekitar 0,5 kg lemak tubuh per hari. Dalam sebulan, Anda berisiko mengalami lonjakan berat badan belasan kilogram yang didominasi oleh lemak, bukan otot. BMI akan meningkat secara drastis, diikuti dengan peningkatan body fat.

2. Sindrom “Metabolic Gridlock” (Macetnya Jalur Energi)

Ini adalah aspek biokimia yang jarang dibahas: Metabolic Gridlock. Ketika sel-sel tubuh mendapat makronutrien (karbohidrat, lemak, protein) dalam jumlah besar tanpa adanya kebutuhan energi yang mendesak, mitokondria (pabrik energi sel) akan mengalami overload. Efeknya, bukannya menjadi bertenaga seperti Haaland, Anda justru akan merasa sangat lelah, mengantuk kronis (brain fog), dan lemas sepanjang hari. Sel tubuh akan “protes” dengan cara mematikan reseptor insulin untuk mencegah masuknya energi berlebih, sehingga berpotensi menyebabkan resistensi insulin dan diabetes tipe 2.

3. Toksisitas Zat Besi dan Overdosis Vitamin A

Mengonsumsi hati dan jantung sapi dalam porsi atlet setiap hari sangat berbahaya bagi manusia biasa. Hati sapi mengandung vitamin A (retinol) dan zat besi dalam kadar yang sangat tinggi.

Atlet membakar dan mematangkan sel darah merah dengan cepat, sehingga membutuhkan banyak zat besi. Namun, pada manusia biasa, zat besi yang berlebihan akan menumpuk di organ dalam (hemochromatosis), yang dapat merusak hati (sirosis). Overdosis vitamin A dari jeroan juga bisa menyebabkan pusing, mual, hingga kerontokan rambut kronis.

4. Beban Berat pada Organ Pencernaan dan Ginjal

Memproses 6000 kalori makanan padat membutuhkan energi pencernaan yang luar biasa besar. Terlebih lagi, diet Haaland sangat tinggi protein dari daging dan susu.

Dampaknya, lambung akan terus-menerus meregang, sehingga memicu penyakit asam lambung (GERD). Selain itu, ginjal harus bekerja ekstra keras untuk menyaring produk limbah hasil pemecahan protein (urea dan asam urat).

Jika dilakukan jangka panjang tanpa hidrasi dan pembakaran yang setara, hal ini dapat menyebabkan penyakit batu ginjal atau gagal ginjal akut.

5. Stres Jantung (Hipertrofi Eksentrik yang Salah)

Volume makanan dan kalori yang besar meningkatkan volume darah yang harus dipompa oleh jantung. Pada diri Haaland, jantungnya sudah terlatih menjadi lebih besar dan kuat karena olahraga (athlete’s heart).

Dampaknya, hal ini akan memaksa jantung memompa darah ekstra. Masalahnya, tanpa kekuatan otot jantung yang terlatih akan meningkatkan tekanan darah secara drastis (hipertensi) dan mempercepat penebalan dinding jantung yang tidak sehat, meningkatkan risiko serangan jantung di usia muda.

6. Potensi Keracunan karena Konsumsi Susu Mentah

Susu mentah atau tidak dipasteurisas mengandung kontaminasi bakteri. Kontaminasi ini dapat menyebabkan keracunan.

Kesimpulan: Ambil Filosofinya, Jangan Ikuti Jumlah Asupan Kalorinya

Diet Erling Haaland adalah bukti nyata bagaimana nutrisi bisa dipersonalisasi untuk menciptakan performa untuk pemain top di level tertinggi olahraga profesional. Namun, diet ini sangat berbahaya jika diaplikasikan ke manusia biasa.

Jika Anda ingin meniru Erling Haaland, jangan tiru porsi 6000 kalorinya.  Justru, tirulah filosofi kebersihan makanannya, yaitu prioritaskan makanan utuh (whole foods), hindari makanan olahan (processed food), konsumsi air bersih, dan disiplin menjaga tidur. Kebiasaan tersebut dapat membuat tubuh manusia biasa tetap sehat dan bugar.


2149503120-_1_-1200x800.webp

Banyak orang tua merasa khawatir ketika anak mulai sulit makan atau hanya mau mengonsumsi beberapa jenis makanan tertentu. Tidak jarang kondisi ini membuat orang tua mencoba berbagai cara agar anak mau makan lebih banyak, mulai dari membujuk, mengejar anak saat makan, hingga memberikan vitamin penambah nafsu makan.

Padahal, nafsu makan anak memang dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu. Ada kalanya anak makan dengan lahap, tetapi pada periode tertentu terlihat lebih sulit makan dibandingkan biasanya. Dalam banyak kasus, kondisi ini masih merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang normal.

Meski demikian, orang tua tetap perlu memahami penyebab anak susah makan, cara meningkatkan nafsu makan secara sehat, serta tanda-tanda yang mengharuskan anak diperiksakan ke dokter.

Mengapa Anak Tiba-Tiba Susah Makan?

Penurunan nafsu makan pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi yang normal hingga masalah kesehatan tertentu.

1. Kecepatan Pertumbuhan Anak Mulai Melambat

Pada tahun pertama kehidupan, pertumbuhan anak berlangsung sangat cepat sehingga kebutuhan energi dan nafsu makannya cenderung tinggi. Namun setelah memasuki usia balita, kecepatan pertumbuhan mulai melambat.

Akibatnya, kebutuhan kalori anak tidak sebesar sebelumnya sehingga anak tampak makan lebih sedikit. Kondisi ini sering membuat orang tua khawatir, padahal sebenarnya masih termasuk normal apabila pertumbuhan dan berat badan anak tetap sesuai usianya.

2. Anak Sedang Sakit

Ketika mengalami demam, flu, batuk, radang tenggorokan, diare, atau infeksi lainnya, anak sering mengalami penurunan nafsu makan.

Tubuh yang sedang melawan infeksi akan memfokuskan energi untuk proses penyembuhan sehingga keinginan untuk makan menjadi berkurang. Nafsu makan biasanya akan membaik kembali setelah kondisi kesehatan anak pulih.

3. Terlalu Banyak Minum Susu atau Camilan

Salah satu penyebab yang cukup sering terjadi adalah anak terlalu sering mengonsumsi susu, jus, minuman manis, atau camilan di antara waktu makan utama.

Karena sudah merasa kenyang terlebih dahulu, anak menjadi tidak tertarik ketika waktu makan tiba. Akibatnya, porsi makan utama menjadi jauh berkurang.

4. Anak Sedang Belajar Mandiri

Pada usia tertentu, anak mulai menunjukkan keinginan untuk menentukan pilihannya sendiri, termasuk dalam hal makanan.

Anak mungkin menolak makanan tertentu bukan karena tidak lapar, melainkan karena ingin menunjukkan kemandiriannya. Fase ini cukup umum terjadi pada usia balita dan biasanya bersifat sementara.

5. Bosan dengan Menu yang Sama

Makanan yang disajikan dengan menu, rasa, atau tampilan yang sama setiap hari dapat membuat anak kehilangan minat untuk makan.

Sebagaimana orang dewasa, anak juga menyukai variasi makanan yang menarik baik dari segi warna, bentuk, maupun rasa.

6. Kondisi Medis Tertentu

Pada beberapa kasus, nafsu makan yang terus menurun dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu seperti alergi makanan, gangguan pencernaan, infeksi kronis, anemia, infeksi cacing, gangguan metabolik, atau masalah psikologis tertentu.

Karena itu, apabila penurunan nafsu makan berlangsung lama atau disertai gejala lain, anak perlu diperiksakan lebih lanjut.

Cara Meningkatkan Nafsu Makan Anak Secara Alami

Sebelum memberikan obat atau suplemen tertentu, terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan nafsu makan anak secara alami.

1. Terapkan Jadwal Makan yang Teratur

Anak sebaiknya memiliki jadwal makan yang konsisten setiap hari, misalnya tiga kali makan utama dan dua kali camilan sehat.

Jadwal yang teratur membantu tubuh mengenali waktu makan sehingga rasa lapar dapat muncul secara lebih alami.

2. Batasi Camilan Menjelang Waktu Makan

Camilan yang diberikan terlalu dekat dengan waktu makan utama dapat membuat anak kenyang terlebih dahulu.

Idealnya, camilan diberikan sekitar 2–3 jam sebelum waktu makan berikutnya agar anak tetap memiliki nafsu makan saat waktu makan utama tiba.

3. Kurangi Minuman Manis Berlebihan

Jus kemasan, teh manis, minuman rasa buah, atau susu dalam jumlah berlebihan dapat membuat anak merasa kenyang lebih cepat.

Air putih tetap menjadi pilihan terbaik untuk membantu menjaga hidrasi tanpa mengganggu nafsu makan.

4. Sajikan Makanan dengan Tampilan Menarik

Anak sering kali tertarik pada makanan yang memiliki warna dan bentuk yang menarik.

Orang tua dapat mencoba menyajikan makanan dengan variasi warna dari sayur dan buah, menggunakan cetakan makanan, atau membuat tampilan yang lebih kreatif agar anak lebih tertarik untuk mencoba.

5. Libatkan Anak dalam Menyiapkan Makanan

Mengajak anak memilih bahan makanan, mencuci sayur, atau membantu menata makanan dapat meningkatkan ketertarikan mereka terhadap makanan yang akan dikonsumsi.

Anak yang merasa terlibat dalam proses memasak seringkali lebih bersemangat untuk mencoba hasil masakannya sendiri.

6. Berikan Porsi yang Sesuai Usia

Porsi makan yang terlalu besar dapat membuat anak merasa tertekan sebelum mulai makan.

Memberikan porsi kecil terlebih dahulu sering kali lebih efektif. Jika anak masih lapar, porsi dapat ditambah secara bertahap.

7. Pastikan Anak Aktif Bergerak

Aktivitas fisik seperti bermain, berlari, bersepeda, atau olahraga ringan dapat membantu meningkatkan kebutuhan energi tubuh sehingga rasa lapar muncul secara alami.

Anak yang lebih aktif umumnya memiliki nafsu makan yang lebih baik dibandingkan anak yang jarang bergerak.

8. Ciptakan Suasana Makan yang Menyenangkan

Waktu makan sebaiknya menjadi momen yang nyaman bagi anak dan keluarga.

Hindari memarahi, mengancam, atau memberikan tekanan berlebihan saat anak makan karena hal tersebut justru dapat membuat anak semakin menolak makanan.

Perlukah Memberikan Vitamin Penambah Nafsu Makan Anak?

Pertanyaan ini sering diajukan oleh orang tua yang merasa anaknya sulit makan.

Pada dasarnya, tidak semua anak yang susah makan memerlukan vitamin penambah nafsu makan. Jika pertumbuhan anak baik, berat badan sesuai kurva pertumbuhan, dan anak tetap aktif, pemberian vitamin belum tentu diperlukan.

Vitamin atau suplemen biasanya dipertimbangkan apabila terdapat kekurangan nutrisi tertentu yang telah dinilai oleh dokter.

Sebagai contoh, anak yang mengalami kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi) dapat mengalami penurunan nafsu makan. Dalam kondisi seperti ini, pemberian suplemen zat besi dapat membantu memperbaiki kondisi tersebut.

Demikian pula pada anak yang mengalami kekurangan zinc, pemberian suplemen zinc dalam indikasi yang tepat dapat membantu meningkatkan nafsu makan.

Namun, penting untuk dipahami bahwa vitamin bukanlah solusi utama untuk semua kasus anak susah makan. Jika penyebabnya adalah pola makan yang kurang tepat atau kebiasaan makan yang kurang baik, maka perbaikan pola makan tetap menjadi langkah utama.

Karena itu, pemberian vitamin sebaiknya dilakukan sesuai anjuran dokter dan bukan semata-mata karena anak terlihat sulit makan.

Kesalahan Orang Tua Saat Menghadapi Anak Susah Makan

Dalam upaya membuat anak mau makan, terkadang orang tua tanpa sadar melakukan beberapa kesalahan yang justru memperburuk kondisi.

1. Memaksa Anak Menghabiskan Makanan

Memaksa anak makan dapat membuat waktu makan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.

Akibatnya, anak justru semakin menolak makan dan mengembangkan hubungan yang negatif dengan makanan.

2. Mengejar Anak Saat Makan

Kebiasaan mengejar anak sambil menyuapi sering kali membuat anak tidak belajar mengenali rasa lapar dan kenyang secara alami.

Selain itu, anak menjadi terbiasa makan sambil bermain atau beraktivitas sehingga kurang fokus pada makanan.

3. Terlalu Sering Memberikan Susu

Sebagian orang tua merasa tenang karena anak masih mau minum susu meskipun sulit makan.

Padahal, konsumsi susu yang berlebihan dapat membuat anak kenyang dan semakin mengurangi keinginan untuk makan makanan utama.

4. Memberikan Gadget Saat Makan

Meskipun tampak mempermudah proses makan, penggunaan gadget dapat mengganggu kemampuan anak mengenali rasa lapar dan kenyang.

Anak juga cenderung makan secara tidak sadar sehingga kebiasaan makan sehat menjadi lebih sulit terbentuk.

5. Terlalu Cepat Mengganti Menu

Ketika anak menolak makanan tertentu, sebagian orang tua langsung menggantinya dengan makanan favorit.

Jika dilakukan terus-menerus, anak dapat menjadi semakin pemilih dan enggan mencoba makanan baru.

6. Membandingkan Anak dengan Anak Lain

Setiap anak memiliki kebutuhan energi, pola makan, dan kecepatan pertumbuhan yang berbeda.

Membandingkan anak dengan saudara atau teman sebaya sering kali hanya meningkatkan kecemasan orang tua tanpa memberikan manfaat yang nyata.

Kapan Harus ke Dokter Spesialis Anak Jika Nafsu Makan Anak Tidak Meningkat?

Meskipun sebagian besar kasus anak susah makan tidak berbahaya, terdapat beberapa kondisi yang memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter spesialis anak.

Segera konsultasikan apabila:

  • Nafsu makan menurun selama beberapa minggu atau lebih
  • Berat badan anak tidak naik atau justru menurun
  • Pertumbuhan tinggi badan tampak terhambat
  • Anak terlihat sangat lemas atau kurang aktif
  • Anak mengalami muntah berulang
  • Anak mengalami diare kronis atau sembelit berat
  • Anak sering mengeluh nyeri perut
  • Terdapat kesulitan menelan makanan
  • Anak hanya mau mengkonsumsi sangat sedikit jenis makanan
  • Orang tua merasa khawatir terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak

Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencari penyebab yang mendasari, menilai status gizi anak, serta menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau terapi lebih lanjut.

Kesimpulan

Nafsu makan anak dapat berubah-ubah dan tidak selalu menandakan adanya masalah kesehatan. Berbagai faktor seperti fase pertumbuhan, penyakit ringan, kebiasaan makan, hingga faktor psikologis dapat mempengaruhi keinginan anak untuk makan.

Sebagian besar kasus dapat diatasi dengan menerapkan pola makan yang teratur, membatasi camilan, menciptakan suasana makan yang menyenangkan, serta memberikan variasi makanan yang menarik. Pemberian vitamin penambah nafsu makan tidak selalu diperlukan dan sebaiknya dilakukan sesuai anjuran dokter.

Namun, apabila penurunan nafsu makan berlangsung lama, disertai gangguan pertumbuhan, atau muncul gejala lain yang mengkhawatirkan, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter spesialis anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis anak. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


20651-1200x800.jpg

Jika anak demam, mungkin orang tua akan berekspetasi bahwa anak akan lemas dan tidur lebih banyak. Namun, ada kondisi di mana anak tetap aktif meskipun demam. Apakah hal ini berbahaya?

Arti Di Balik Kondisi “Anak Demam tapi Tetap Aktif

Secara klinis, perilaku dan tingkat kesadaran anak (clinical appearance) jauh lebih penting daripada angka yang tertera pada termometer. Ketika anak demam tetapi tetap aktif, responsif, dan mau bermain, ini adalah indikator kuat bahwa sistem imun anak bekerja dengan baik dan volume cairan tubuhnya masih relatif stabil.

Demam bukanlah penyakit, melainkan mekanisme pertahanan tubuh melawan infeksi. Saat mikroorganisme (seperti virus atau bakteri) masuk, sel imun melepas zat kimia bernama pirogen. Pirogen ini memerintahkan hipotalamus (pengatur suhu di otak) untuk menaikkan suhu tubuh guna menghambat replikasi kuman. Jika anak tetap aktif, kemungkinan besar infeksi yang terjadi bersifat ringan (biasanya infeksi virus saluran pernapasan atas atau pencernaan) dan belum mengganggu fungsi metabolik sistemik secara berat.

Kapan Demam Anak Dikatakan Berbahaya?

Tingkat bahaya demam ditentukan oleh kombinasi usia, gejala penyerta, dan durasi, bukan sekadar tingginya suhu tubuh.

Red Flags Demam pada Anak

  • Usia di bawah 3 bulan: Suhu rektal ≥ 38°C wajib segera dibawa ke IGD, terlepas dari apakah anak tampak aktif atau tidak. Sistem imun bayi baru lahir belum matang, dan risiko infeksi bakteri berat (seperti sepsis atau meningitis) sangat tinggi.
  • Suhu ekstrem: Suhu tubuh mencapai atau melebihi 40°C.
  • Penurunan Kesadaran: Anak tampak letargi (sangat lemas, sulit dibangunkan), terus merintih, atau gelisah ekstrem.
  • Tanda Dehidrasi: Air mata tidak keluar saat menangis, buang air kecil berkurang drastis (popok kering lebih dari 6 jam), dan mukosa mulut kering.
  • Gangguan Pernapasan: Napas menjadi sangat cepat atau ada tarikan dinding dada ke dalam (retraksi).
  • Durasi: Demam berlangsung lebih dari 3–5 hari berturut-turut.

Apakah harus menghentikan anak untuk bermain ketika sedang demam?

Tidak perlu. Memaksa anak yang sedang aktif untuk melakukan total bed rest tidak didukung oleh bukti klinis dan justru bisa memicu stres pada anak.

Bermain adalah indikator bahwa metabolisme anak masih berjalan baik. Biarkan anak menentukan sendiri batas aktivitasnya. Tubuh mereka akan secara alami melambat atau meminta istirahat saat merasa lelah. Yang perlu Anda lakukan adalah membatasi jenis permainannya: alihkan dari aktivitas fisik yang melelahkan (seperti berlari di luar ruangan) ke aktivitas tenang di dalam rumah (seperti mewarnai, membaca, atau menyusun balok) untuk mencegah penguapan cairan berlebih melalui keringat.

Cara Mengukur Suhu Tubuh Anak dengan Akurat

Mengukur suhu dengan punggung tangan sangat tidak akurat dan tidak bisa dijadikan dasar keputusan medis. Metode pengukuran harus disesuaikan dengan usia anak untuk akurasi tertinggi:

 

Usia AnakMetode Terbaik / Paling AkuratCatatan Klinis
0 – 3 BulanRektal (Dubur)Gold standard untuk bayi baru lahir. Menggunakan termometer digital yang diberi pelumas.
3 Bulan – 3 TahunRektal, Aksila (Ketiak), atau TelingaTermometer telinga hanya akurat jika posisi penempatan di liang telinga tepat.
Diatas 4 TahunOral (Mulut) atau AksilaPastikan anak tidak baru saja mengkonsumsi makanan/minuman panas atau dingin dalam 15 menit terakhir.

 

Langkah Perawatan di Rumah untuk Anak yang Demam

Fokus utama perawatan demam di rumah adalah menjaga kenyamanan anak dan mencegah dehidrasi, bukan sekadar menurunkan angka termometer ke batas normal.

1.Cegah Dehidrasi (Paling Krusial):Langkah Utama

Berikan cairan dalam jumlah sedikit namun sering. Utamakan ASI dan air putih. Demam meningkatkan laju metabolisme dan mempercepat penguapan cairan tubuh (insensible water loss).

2. Atur Pakaian dan Suhu Ruangan:Termoregulasi Eksternal

Pakaikan baju yang tipis, longgar, dan menyerap keringat. Jangan membungkus anak dengan selimut tebal karena akan memerangkap panas tubuh dan menaikkan suhu inti. Pastikan ventilasi atau pendingin ruangan (AC) diatur pada suhu nyaman (22–24°C).

3. Kompres Air Hangat: Bukan Air Dingin/Alkohol

Jika anak merasa tidak nyaman, lakukan kompres menggunakan kain yang dibasahi air hangat suam-suam kuku di area lipatan ketiak dan selangkangan selama 10–15 minutes. Jangan pernah gunakan air dingin atau alkohol, karena memicu pembuluh darah menyempit dan menggigil, yang justru meningkatkan suhu inti tubuh.

4. Pemberian Obat Penurun Panas:Intervensi Farmakologi

Jika suhu >38.5°C DAN anak tampak rewel/terganggu, berikan Parasetamol (dosis 10–15 mg/kgBB per kali pemberian, setiap 4–6 jam) atau Ibuprofen (dosis 5–10 mg/kgBB per kali pemberian, setiap 6–8 jam). Ibuprofen hanya untuk anak di atas usia 6 bulan dan tidak dalam kondisi dehidrasi. Hindari Aspirin pada anak karena risiko fatal Reye’s Syndrome.

Kapan anak yang demam perlu dibawa ke dokter spesialis anak?

Segera jadwalkan konsultasi atau bawa anak ke Dokter Spesialis Anak (Sp.A) atau fasilitas kesehatan terdekat jika Anda menemukan kondisi berikut:

  1. Demam pada bayi usia kurang dari 3 bulan (meskipun tidak ada gejala lain).
  2. Demam berlangsung lebih dari 3 hari pada anak usia berapa pun.
  3. Suhu tubuh mencapai 40°C atau lebih.
  4. Anak menunjukkan salah satu tanda bahaya (red flags) yang telah disebutkan di atas (lemas, tidak mau minum, sesak napas).
  5. Demam disertai dengan kejang (kejang demam).
  6. Muncul ruam kulit kemerahan yang tidak pudar saat ditekan, atau disertai kaku pada tengkuk.
  7. Anak memiliki penyakit penyerta kronis (seperti gangguan jantung, asma berat, atau gangguan imun).

Secara keseluruhan, jika anak Anda demam tetapi tetap aktif bergerak dan ceria, Anda dapat merawatnya di rumah dengan fokus pada hidrasi yang adekuat. Namun, tetap lakukan pemantauan berkala dan jika Anda merasa ada sesuatu yang “salah” pada perilaku anak, pemeriksaan medis oleh dokter adalah langkah paling tepat.

Jangan Ragu ke Dokter jika Anak Mengalami Demam

Jika anak mengalami demam, terutama disertai red flags (lemas, tidak mau minum, sesak napas), maka jangan ragu untuk membawa anak ke dokter spesialis anak.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis anak. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


6593-1-1200x800.webp

Sebagai orang tua, melihat anak tidak buang air besar (BAB) selama beberapa hari sering kali menimbulkan kekhawatiran. Tidak sedikit yang langsung berpikir bahwa anak mengalami gangguan pencernaan atau sembelit yang serius.

Padahal, frekuensi BAB setiap anak bisa berbeda-beda tergantung usia, pola makan, asupan cairan, dan kondisi kesehatannya. Pada sebagian anak, tidak BAB selama beberapa hari belum tentu menandakan adanya masalah yang berbahaya.

Lalu, apakah anak yang tidak BAB selama 3 hari masih tergolong normal? Kapan kondisi ini perlu diperiksakan ke dokter?

Yuk, simak penjelasannya berikut ini : 

Mengapa Anak Bisa Tidak BAB Selama 3 Hari?

Tidak BAB selama 3 hari merupakan kondisi yang cukup sering terjadi pada anak, terutama pada usia balita dan anak prasekolah.

Kondisi ini biasanya terjadi karena pergerakan usus yang lebih lambat atau karena feses menjadi lebih keras sehingga sulit dikeluarkan. Dalam dunia medis, kondisi ini sering disebut sebagai konstipasi atau sembelit apabila disertai kesulitan saat BAB.

Namun, perlu diingat bahwa tidak semua anak yang tidak BAB selama 3 hari pasti mengalami sembelit. Beberapa anak memang memiliki frekuensi BAB yang lebih jarang dibandingkan anak lainnya.

Oleh karena itu, selain memperhatikan jumlah hari tanpa BAB, orang tua juga perlu melihat kondisi umum anak dan konsistensi tinjanya.

Penyebab Anak Tidak BAB Selama 3 Hari

Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan anak tidak BAB selama beberapa hari.

1. Kurang Mengonsumsi Serat

Asupan serat yang kurang merupakan salah satu penyebab tersering konstipasi pada anak.

Anak yang jarang mengonsumsi buah, sayur, dan makanan berserat lainnya cenderung menghasilkan tinja yang lebih keras dan sulit dikeluarkan.

2. Kurang Minum Air Putih

Cairan membantu menjaga tinja tetap lunak dan mudah melewati usus.

Ketika anak kurang minum, tinja dapat menjadi lebih keras sehingga frekuensi BAB berkurang.

3. Menahan Keinginan BAB

Sebagian anak sering menunda BAB karena sedang asyik bermain, malas ke toilet, atau pernah mengalami BAB yang terasa sakit sebelumnya.

Semakin lama tinja tertahan di usus, semakin banyak air yang diserap kembali oleh tubuh sehingga tinja menjadi lebih keras.

4. Perubahan Pola Makan

Perubahan jenis makanan, mulai sekolah, bepergian, atau perubahan rutinitas sehari-hari dapat memengaruhi pola BAB anak.

5. Kurang Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik membantu merangsang pergerakan usus. Anak yang lebih banyak duduk atau kurang bergerak mungkin lebih rentan mengalami konstipasi.

6. Kondisi Medis Tertentu

Meskipun lebih jarang, beberapa kondisi medis seperti gangguan hormon, kelainan saluran cerna, atau efek samping obat tertentu juga dapat menyebabkan anak sulit BAB.

Apakah Anak Tidak BAB Selama 3 Hari Berbahaya?

Tidak selalu.

Jika anak tetap aktif, nafsu makan baik, tidak mengeluh nyeri perut, dan tidak tampak kesakitan, tidak BAB selama 3 hari belum tentu merupakan kondisi yang berbahaya.

Namun, orang tua perlu lebih waspada apabila kondisi ini disertai gejala seperti:

  • Nyeri atau kram perut
  • Perut tampak membuncit
  • BAB sangat keras dan sulit keluar
  • Muncul darah pada tinja
  • Mual atau muntah
  • Nafsu makan menurun
  • Anak tampak sangat rewel atau lemas

Gejala-gejala tersebut dapat mengindikasikan konstipasi yang lebih berat atau masalah kesehatan lain yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Berapa Frekuensi BAB yang Normal pada Anak?

Frekuensi BAB normal dapat berbeda pada setiap anak.

Secara umum:

1. Bayi Baru Lahir hingga 6 Bulan

Bayi dapat BAB beberapa kali sehari, terutama bayi yang mendapatkan ASI. Namun, sebagian bayi ASI eksklusif juga dapat BAB hanya beberapa hari sekali dan tetap dianggap normal selama tinjanya lunak.

2. Usia 6 Bulan hingga 3 Tahun

Sebagian besar anak BAB sekitar 1-2 kali per hari, meskipun variasi masih cukup luas.

3. Anak Prasekolah dan Usia Sekolah

Frekuensi BAB umumnya berkisar antara 3 kali sehari hingga 3 kali per minggu.

Yang lebih penting dibandingkan frekuensi adalah konsistensi tinja dan apakah anak mengalami kesulitan atau nyeri saat BAB.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Tidak Kunjung BAB Dalam 3 Hari?

Jika anak belum BAB selama 3 hari tetapi masih tampak sehat, beberapa langkah berikut dapat dicoba di rumah:

1. Perbanyak Asupan Cairan

Pastikan anak mendapatkan cukup air putih sesuai kebutuhan usianya.

2. Tingkatkan Konsumsi Serat

Berikan lebih banyak buah dan sayuran seperti pepaya, pir, apel, jeruk, brokoli, dan sayuran hijau.

3. Dorong Anak untuk Lebih Aktif Bergerak

Bermain, berjalan, berlari, atau aktivitas fisik lainnya dapat membantu merangsang pergerakan usus.

4. Biasakan Jadwal BAB yang Teratur

Ajak anak duduk di toilet selama beberapa menit setiap hari, terutama setelah makan, tanpa memaksa.

5. Hindari Memarahi Anak

Jika anak menahan BAB karena takut atau pernah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan, pendekatan yang tenang dan suportif akan lebih membantu.

6. Jangan Memberikan Obat Pencahar Sembarangan

Penggunaan obat pencahar sebaiknya dilakukan atas anjuran dokter, terutama pada bayi dan anak kecil.

Kapan Harus ke Dokter Spesialis Anak?

Segera konsultasikan ke dokter spesialis anak apabila:

  • Anak tidak BAB lebih dari beberapa hari dan kondisi tidak membaik meskipun sudah dilakukan perubahan pola makan.
  • Anak mengalami nyeri perut yang berat.
  • Terdapat darah pada tinja.
  • Anak muntah atau perut tampak sangat membesar.
  • Anak kehilangan nafsu makan.
  • Berat badan sulit naik atau justru menurun.
  • Konstipasi sering berulang dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Anak tampak lemas atau mengalami tanda dehidrasi.

Dokter akan melakukan evaluasi untuk mencari penyebab yang mendasari dan menentukan penanganan yang paling sesuai.

Kesimpulan

Anak yang tidak BAB selama 3 hari tidak selalu mengalami kondisi yang berbahaya. Pada banyak kasus, hal ini berkaitan dengan kurangnya asupan serat dan cairan, kebiasaan menahan BAB, atau perubahan pola makan dan aktivitas.

Yang perlu diperhatikan bukan hanya frekuensi BAB, tetapi juga kondisi umum anak, konsistensi tinja, serta ada atau tidaknya gejala penyerta. Dengan menjaga pola makan sehat, kecukupan cairan, dan aktivitas fisik yang cukup, sebagian besar kasus konstipasi ringan dapat membaik.

Namun, jika anak mengalami nyeri perut, muntah, darah pada tinja, atau konstipasi yang berlangsung terus-menerus, segera periksakan ke dokter spesialis anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis anak. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.