a-1200x798.webp

Testosteron rendah dapat berpengaruh buruk terhadap kualitas hidup pria. Hal ini bahkan dapat berpengaruh juga terhadap orang lain di sekitar pria tersebut, termasuk pasangannya sendiri.

Apa ciri utama testosteron rendah pada pria? Bagaimana dampaknya dan apa penyebabnya? Lalu, bagaimana solusinya?

Ciri-Ciri Utama Hormon Testosteron Rendah (Low T) pada Pria

Manifestasi klinis testostron rendah pada pria mencakup domain seksual, fisik, dan psikologis:

1. Domain Seksual

Penurunan libido (gairah seksual), disfungsi ereksi, berkurangnya frekuensi ereksi spontan pagi hari (morning erection), serta penurunan volume ejakulat.

2. Domain Fisik

Penurunan massa dan kekuatan otot, peningkatan akumulasi lemak tubuh (terutama area abdominal/visceral), ginekomastia (pembesaran jaringan payudara), kelelahan kronis, serta berkurangnya bulu tubuh.

3. Domain Psikologis & Kognitif

Perubahan suasana hati (mood swings), iritabilitas, depresi ringan, serta penurunan konsentrasi dan motivasi kerja.

Dampak Testosteron Rendah Terhadap Kesuburan dan Produksi Sperma

Testosteron Intratesticular (ITT) yang diproduksi oleh sel Leydig sangat krusial untuk menjaga kelangsungan proses spermatogenesis di dalam tubulus seminiferus.

  1. Spermatogenesis Terganggu: Rendahnya kadar testosteron mengganggu diferensiasi dan pematangan sel sperma, yang memicu terjadinya oligozoospermia (jumlah sperma sedikit), asthenozoospermia (motilitas buruk), hingga azoospermia (tidak ada sperma dalam ejakulat).
  2. Dampak Kehilangan Sinyal Gonadotropin: Jika kadar testosteron rendah disebabkan oleh gangguan pada aksis hipotalamus-hipofisis (hipogonadisme sekunder), kadar LH dan FSH yang rendah memicu atrofi seluler pada testis dan menghentikan produksi sperma.

Penyebab Alami dan Medis Menurunnya Kadar Hormon Testosteron

Penurunan kadar testosteron dapat terjadi akibat proses biologis alami seiring bertambahnya usia, maupun akibat adanya gangguan patologis pada sistem organ reproduksi dan hormonal.

1. Penyebab Alami (Fisiologis Penuaan)

Seiring bertambahnya usia (Age-Related Testosterone Decline atau Late-Onset Hypogonadism), produksi testosteron secara alami mengalami penurunan gradual sekitar 1% per tahun setelah pria memasuki usia 30 tahun. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi dan jumlah sel Leydig di dalam testis yang bertugas memproduksi testosteron, serta menurunnya sensitivitas sinyal hormonal dari otak (hipotalamus dan hipofisis) yang mengatur produksi hormon tersebut.

2. Penyebab Medis Primer (Gangguan pada Testis)

Terjadi ketika kerusakan langsung menimpa organ testis sehingga tidak mampu memproduksi testosteron meskipun mendapat sinyal yang cukup dari otak. Kondisi ini dapat dipicu oleh peradangan testis (orchitis akibat infeksi mumps/gondongan), trauma atau cedera fisik pada testis, varikokel berat, riwayat testis tidak turun (kriptorkismus), serta efek samping terapi medis seperti radiasi pelvis atau kemoterapi.

3. Penyebab Medis Sekunder (Gangguan pada Aksis Otak)

Terjadi ketika organ testis sebenarnya normal, namun kelenjar hipotalamus atau hipofisis di otak gagal mengirimkan sinyal (Luteinizing Hormone / LH) untuk merangsang produksi testosteron. Penyebab utamanya meliputi obesitas viseral (jaringan lemak berlebih mengubah testosteron menjadi estrogen via enzim aromatase), diabetes mellitus tipe 2, sindrom metabolik, tumor atau peradangan pada kelenjar hipofisis, serta penyakit sistemik kronis.

4. Penyebab Iatrogenik dan Efek Samping Obat

Penurunan kadar testosteron juga sering dipicu oleh konsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, seperti penggunaan kortikosteroid, obat-obatan opiat/analgetik dosis tinggi, serta penggunaan steroid anabolik eksogen (Anabolic-Androgenic Steroids) yang menekan fungsi aksis hormonal alami tubuh melalui mekanisme umpan balik negatif.

Bahaya Membiarkan Testosteron Rendah Tanpa Penanganan

Membiarkan kondisi Low T kronis tanpa evaluasi medis meningkatkan risiko morbiditas jangka panjang:

  1. Sistem Skeletal: Meningkatnya risiko osteopenia dan osteoporosis, yang signifikan meningkatkan frekuensi fraktur patologis pada pria usia lanjut.
  2. Sistem Metabolik & Kardiovaskular: Terjadinya resistensi insulin, peningkatan risiko Diabetes Mellitus Tipe 2, profil lipid aterogenik (penurunan HDL, peningkatan LDL), serta peningkatan risiko penyakit jantung koroner.
  3. Kualitas Hidup & Kesehatan Mental: Peningkatan angka kejadian depresi mayor, penurunan fungsi kognitif, dan frailitas (frailty syndrome) pada lansia.

Cara Meningkatkan Hormon Testosteron Secara Alami Lewat Gaya Hidup

Modifikasi gaya hidup terbukti efektif meningkatkan kadar testosteron endogen, khususnya pada pasien dengan hipogonadisme sekunder akibat masalah metabolik:

1. Latihan Beban & HIIT

Resistance training (seperti compound lifts) merangsang sekresi hormon anabolik dan meningkatkan sensitivitas insulin otot.

2. Penurunan Berat Badan

Mengurangi massa lemak viseral secara langsung dan penurunan berat badan menekan aktivitas enzim aromatase, sehingga mencegah degradasi testosteron menjadi estradiol.

3. Optimalkan Tidur

Puncak sekresi testosteron terjadi saat fase Rapid Eye Movement (REM). Tidur berkualitas 7-8 jam tiap malam menjaga ritme sirkadian hormon.

4. Gizi Seimbang

Kecukupan asupan mikronutrien seperti Seng (Zinc), Vitamin D3, serta lemak sehat (monounsaturated & polyunsaturated fats) yang menjadi prekursor sintesis kolesterol steroid.

Cara meningkatkan hormon testosteron lewat terapi medis (TRT, dsb.)

Jika intervensi gaya hidup tidak mencukupi dan kriteria klinis terpenuhi, terapi medis dapat diindikasikan:

  • Testosterone Replacement Therapy (TRT): Diberikan via injeksi intramuskular (Testosterone Undecanoate / Enanthate), gel topikal, atau patch. Perlu ke dokter spesialis andrologi untuk terapi ini.
  • Terapi Preservasi Fertilitas: Pada pria yang ingin mempertahankan kesuburan, digunakan agen penghasil testosteron endogen seperti Human Chorionic Gonadotropin (hCG) atau Selective Estrogen Receptor Modulators (SERM) seperti Clomiphene Citrate untuk merangsang produksi testosteron alami testis tanpa mematikan produksi sperma.

Harus ke dokter apa jika mengalami testosteron rendah

Pria yang mengeluhkan gejala testosteron rendah disarankan untuk berkonsultasi dengan:

  1. Spesialis Andrologi (Sp.And): Pakar utama dalam evaluasi hormon reproduksi pria, penanganan disfungsi seksual, gangguan fertilitas, dan manajemen TRT/hCG.
  2. Spesialis Endokrinologi (Sp.PD-KEMD): Untuk penanganan kasus yang disertai gangguan metabolik berat, kelainan kelenjar hipofisis, atau diabetes.
  3. Spesialis Urologi (Sp.U): Untuk skrining keamanan prostat (PSA dan evaluasi klinis) sebelum dan selama terapi hormonal.

Jangan Ragu Cek Testosteron Berkala 

Testosteron rendah pada pria dapat mengganggu dan menurunkan kualitas hidup. Karena itu, jangan ragu untuk cek tesosteron berkala. Jika testosteron rendah, maka konsultasi ke dokter spesialis andrologi.

Di Primecare Clinic Jakarat, tersedia dokter spesialis andrologi, cek hormon testosteron, dan TRT. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2149195199-_1_-1200x801.webp

Jumlah sperma menjadi perhatian ketika sedang terapi atau berencana untuk memiliki keturunan.

Berapa jumlah sperma normal? Bagiamana cara mengetahuinya?

Berapa Jumlah Sperma Normal dalam Sekali Ejakulasi?

Jumlah hitung sperma normal 39 juta/mL per ejakulasi dengan volume air mani sekitar 1-5 ml per ejakulasi.

Bagaimana cara mengetahui jumlah sperma?

Cara mengetahui jumlah sperma adalah dengan pemeriksaan analisis sperma di laboratorium. Selain melihat jumlah sperma, analisis sperma juga digunakan untuk melihat apakah ada gangguan pada bentuk (morfologi) dan kemampuan bergerak (motilitas) sel sperma serta pH, warna, dan volume cairan semen/air mani pria.

Agar kualitas semen yang diperiksa baik, yang perlu dilakukan pasien yaitu:

  • Hindari ejakulasi selama 2 hingga 7 hari sebelum pemeriksaan.
  • Hindari alkohol, kafein, serta obat-obatan seperti kokain dan ganja selama dua hingga lima hari sebelum pemeriksaan.
  • Hentikan penggunaan obat herbal apa pun sesuai dengan instruksi penyedia layanan kesehatan Anda.
  • Hindari penggunaan obat hormon apa pun sesuai dengan instruksi penyedia layanan kesehatan Anda.

Cara pemeriksaan analisis sperma adalah sebagai berikut:

  • Semen dapat diambil dengan cara ejakulasi melalui masturbasi.
  • Sampel semen dikumpulkan di dalam suatu wadah steril tertutup pada suhu ruangan (20-25ºC). Hindari menempatkan sampel di lingkungan terlalu dingin atau panas karena hasil yang didapat bisa menjadi tidak akurat.
  • Setelah itu, sampel semen dibawa ke laboratorium untuk dilakukan analisis dalam waktu 30-60 menit.
  • Sampel ditempatkan di dalam inkubator pada suhu 37ºC selama 30 hingga 60 menit agar terjadi likuifaksi sebelum dianalisis. Likuifaksi adalah proses perubahan tekstur air mani dari kental menjadi lebih encer.
  • Analisis sperma dilakukan untuk melihat jumlah sperma dan parameter air mani dan sperma lainnya, seperti pH, volume, morfologi, motilitas, vitalitas, kadar fruktosa, serta tanda-tanda infeksi.

Bagaimana jika jumlah sperma lebih dari normal?

Jumlah sperma bisa didapatkan lebih dari normal bila didapatkan sebesar lebih dari 200 juta per mL volume air mani atau semen. Kondisi ini disebut sebagai Polyzoospermia. Polyzoospermia jarang sekali terjadi dibandingkan kondisi jumlah sperma rendah (Oligozoospermia) namun diduga juga dapat meningkatkan risiko infertilitas atau kemandulan. Penyebabnya antara lain:

  • Abstinensi terlalu lama (lebih dari 7 hari) sebelum melakukan pemeriksaan analisis sperma, sehingga bisa menimbulkan hasil yang bias.
  • Ketidakseimbangan hormon
  • Dehidrasi, yang menyebabkan peningkatan konsentrasi sperma pada volume air mani yang lebih sedikit
  • Riwayat penggunaan obat-obatan tertentu yang memicu spermatogenesis

Standar Hitungan Jumlah Sperma Sehat Menurut Medis

Berdasarkan guideline WHO:

  • Konsentrasi sperma normal yaitu lebih dari 15 juta/mL, dengan rentang rata-rata 20 hingga 200 juta/mL. Pada sebagian besar laboratorium, nilai normal yang ditetapkan sebesar > 20 juta/mL. Jumlah sperma normal dalam sekali ejakulasi sebesar 39 juta/mL per ejakulasi dengan volume air mani sekitar 1-5 ml per ejakulasi.
  • Bila konsentrasi sperma kurang dari 15 juta/mL atau jumlah total sperma kurang dari 39 juta/mL per ejakulasi, maka seseorang dapat dikatakan memiliki jumlah sperma sedikit atau disebut sebagai Oligozoospermia.
  • Bila konsentrasi sperma lebih dari 200 juta per mL, maka disebut sebagai Polyzoospermia atau jumlah sperma berlebih.

Penyebab Jumlah Sperma Sedikit (Oligozoospermia)

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan jumlah sperma sedikit antara lain:

  • Varikokel. Pelebaran pembuluh darah vena pada varikokel menyebabkan peningkatan suhu, peningkatan ROS (Reactive Oxygen Species), dan menurunkan asupan oksigen pada testis yang mempengaruhi berbagai parameter sperma, termasuk menurunnya jumlah sperma secara signifikan.
  • Gangguan hormon, misalnya: gangguan produksi hormon testosteron yang menyebabkan peningkatan kadar follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH), yang dapat ditemukan pada sindrom Klinefelter
  • Sumbatan pada organ reproduksi pria
  • Infeksi pada saluran kemih pria
  • Faktor usia (> 50 tahun)
  • Penyakit kronis, seperti Diabetes Mellitus
  • Paparan radiasi
  • Faktor genetik 

Perbedaan Jumlah Sperma Sedikit dengan Sperma Kosong

Pada kondisi sperma sedikit atau oligozoospermia, sperma masih didapat ditemukan walau konsentrasinya di bawah normal. Oligozoospermia dikategorikan sebagai berat jika konsentrasi sperma kurang dari 5 juta/mL dan sangat berat jika konsentrasi sperma kurang dari 1 juta/mL. Pada kondisi sperma kosong atau Azoospermia, tidak ditemukan sperma sama sekali di dalam cairan ejakulat yang diperiksa di laboratorium.

Kebiasaan Sehari-hari yang Tanpa Disadari Menurunkan Jumlah Sperma

Pengaruh gaya hidup juga bisa menjadi faktor yang dapat menurunkan jumlah sperma, seperti:

  • Merokok, karena dapat meningkatkan zat ROS yang berpotensi merusak pembentukan DNA sperma
  • Konsumsi alkohol yang dapat mempengaruhi perubahan produksi hormon yang berperan dalam pembentukan sperma
  • Terlalu sering makan makanan junk food yang dapat menurunkan kualitas sperma
  • Obesitas, karena cadangan jaringan lemak berlebih yang memicu perubahan hormon testosteron menjadi estrogen yang bisa menyebabkan turunnya produksi sperma
  • Gaya hidup yang kurang aktif atau sedentary life, yang bisa menurunkan aktivitas aliran darah termasuk ke organ reproduksi pria
  • Kurang tidur yang bisa mempengaruhi keseimbangan hormon dan menurunkan produksi sperma
  • Stres psikologis yang menyebabkan sistem saraf otonom menekan produksi hormon-hormon yang berperan pada kesuburan pria
  • Paparan radiasi atau panas pada daerah kelamin pria, misalnya:
  • Menaruh alat elektronik di dekat alat kelamin pria seperti handphone di kantong celana atau memangku laptop
  • Gesekan antara alat kelamin pria dengan kursi saat bersepeda dengan intensitas tinggi
  • Terlalu sering mandi air panas atau sauna
  • Celana yang terlalu ketat yang dapat meningkatkan suhu di sekitar alat kelamin pria

Cara agar jumlah sperma normal

Untuk mencegah terjadinya kelainan jumlah sperma, berbagai cara dapat dilakukan bagi pria, yaitu:

1. Menurunkan berat badan

Obesitas atau kelebihan berat badan dapat menyebabkan rendahnya jumlah sperma. Cobalah untuk menjaga gaya hidup sehat melalui pola makan yang baik dan olahraga.

Turunkan berat badan, bisa dengan program atau defisit kalori.

2. Memperbaiki pola makan atau mengonsumsi suplemen vitamin

Anda dapat melakukan pemeriksaan darah untuk melihat apakah ada kekurangan vitamin. Dokter dapat menyarankan penambahan jenis makanan tertentu ke dalam pola makan Anda atau penggunaan suplemen untuk membantu memulihkan kadar vitamin dan mineral. 

3. Menghindari konsumsi zat-zat tertentu secara berlebihan

Seperti konsumsi alkohol yang berlebihan, penggunaan obat-obatan terlarang, atau penggunaan tembakau.

4. Mengganti pakaian dalam

Pergantian pakaian dalam dengan mengenakan celana dalam model boxer yang longgar dan berbahan katun.

Harus ke dokter apa untuk mengetahui jumlah sperma

Dokter spesialis Andrologi dapat membantu Anda untuk melakukan pemeriksaan mengenai jumlah sperma serta memberikan terapi yang tepat untuk meningkatkan jumlah sperma yang bisa meningkatkan kesuburan pria.

Jangan Ragu untuk Melakukan Pemeriksaan Sperma

Jika sedang ingin memiliki keturunan atau pemeriksaan kesuburan, jangan ragu untuk konsultasi dengan dokter spesialis andrologi dan analisis sperma.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia dokter spesialis andrologi dan layanan analisis sperma. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Referensi:

Agarwal, A., Sharma, R., Harlev, A., & Esteves, S. C. (2016). Effect of varicocele on semen characteristics according to the new 2010 World Health Organization criteria: a systematic review and meta-analysis. Asian journal of andrology, 18(2), 163–170. 

Chertoff, J. (2025, May 22). What is a typical sperm count? Healthline. https://www.healthline.com/health/mens-health/normal-sperm-count

Durairajanayagam D. (2018). Lifestyle causes of male infertility. Arab journal of urology, 16(1), 10–20. https://doi.org/10.1016/j.aju.2017.12.004 

Glezerman, M., Bernstein, D., Zakut, C., Misgav, N., & Insler, V. (1982). Polyzoospermia: a definite pathologic entity. Fertility and Sterility, 38(5), 605–608. https://doi.org/10.1016/s0015-0282(16)46642-2

Leslie, S. W., Soon-Sutton, T. L., & Khan, M. A. (2026, June 19). Male infertility. StatPearls – NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562258/

Semen analysis and test results. (2017, July 3). Healthline. https://www.healthline.com/health/semen-analysis


2769-1-1-1200x675.webp

Influenza atau flu merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Meskipun sering dianggap sebagai penyakit ringan, flu dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan kondisi medis tertentu.

Salah satu cara untuk membantu melindungi diri dari influenza adalah dengan mendapatkan vaksin flu secara rutin. Namun, tahukah Anda bahwa vaksin flu tersedia dalam formulasi 3 strain dan 4 strain?

Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus influenza. 

Perbedaan utamanya terletak pada jumlah dan jenis strain virus yang dicakup oleh vaksin. Lantas, apa perbedaan vaksin flu 3 strain dan 4 strain, serta mana yang lebih sesuai untuk Anda?

Apa Itu Vaksin Flu 3 Strain?

Vaksin flu 3 strain, yang juga dikenal sebagai vaksin influenza trivalen, merupakan vaksin yang dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap tiga jenis virus influenza.

Secara umum, vaksin ini mencakup:

  • Dua strain virus influenza A, yaitu A(H1N1) dan A(H3N2).
  • Satu strain virus influenza B.

Komposisi vaksin influenza diperbarui secara berkala berdasarkan pemantauan virus yang beredar dan rekomendasi organisasi kesehatan. Tujuannya adalah agar vaksin dapat memberikan perlindungan yang relevan terhadap strain influenza yang diperkirakan akan menyebar.

Dengan mencakup tiga strain virus, vaksin flu 3 strain membantu sistem kekebalan tubuh mengenali virus-virus tersebut sehingga tubuh lebih siap melawan infeksi apabila terpapar.

Apa Itu Vaksin Flu 4 Strain?

Vaksin flu 4 strain atau vaksin influenza kuadrivalen merupakan vaksin yang sebelumnya dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap empat jenis virus influenza.

Formulasi klasik vaksin ini mencakup:

  • Dua strain virus influenza A, yaitu A(H1N1) dan A(H3N2).
  • Dua strain virus influenza B, yaitu dari garis keturunan B/Victoria dan B/Yamagata.

Penambahan satu strain influenza B pada formulasi klasik tersebut bertujuan memperluas cakupan perlindungan, khususnya ketika garis keturunan virus influenza B yang beredar berbeda dari strain yang diperkirakan dominan.

Namun, perkembangan virus influenza membuat komposisi vaksin terus dievaluasi. Untuk musim influenza 2025–2026 dan seterusnya, sejumlah otoritas kesehatan, termasuk WHO dan FDA Amerika Serikat, telah mengadopsi formulasi trivalen tanpa komponen B/Yamagata karena tidak ada virus influenza B/Yamagata yang terkonfirmasi beredar secara alami sejak Maret 2020.

Oleh karena itu, vaksin dengan empat strain tidak otomatis lebih unggul daripada vaksin tiga strain. Kesesuaian komposisi vaksin dengan virus yang beredar juga perlu dipertimbangkan.

Perbedaan Vaksin Flu 3 Strain dan 4 Strain

Perbedaan kedua jenis vaksin ini dapat dilihat dari beberapa aspek berikut.

AspekVaksin Flu 3 StrainVaksin Flu 4 Strain
Istilah medisTrivalenKuadrivalen
Jumlah strain dalam formulasi klasik3 strain4 strain
Cakupan virus influenza A2 strain2 strain
Cakupan virus influenza B1 strain2 strain
TujuanMembantu melindungi dari tiga strain influenzaFormulasi klasiknya menambahkan satu strain influenza B
Pertimbangan pemilihanKesesuaian dengan rekomendasi dan komposisi vaksin terkiniKesesuaian komposisi dengan virus yang beredar dan ketersediaan produk

Catatan penting: Tabel ini menjelaskan perbedaan formulasi klasik. Komposisi aktual vaksin dapat berbeda menurut musim, negara, dan produk yang tersedia. Sejak komponen B/Yamagata tidak lagi direkomendasikan dalam formulasi vaksin influenza rutin oleh sejumlah otoritas kesehatan, vaksin trivalen menjadi formulasi yang digunakan dalam rekomendasi terkini di banyak wilayah.

Apakah Vaksin Flu 4 Strain Lebih Efektif daripada 3 Strain?

Banyak orang beranggapan bahwa vaksin dengan empat strain pasti memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan vaksin dengan tiga strain. Namun, anggapan tersebut tidak selalu tepat.

Pada awalnya, vaksin flu 4 strain dikembangkan untuk mencakup dua garis keturunan influenza B, yaitu B/Victoria dan B/Yamagata. Penambahan ini bertujuan mengurangi risiko ketidaksesuaian antara strain influenza B dalam vaksin dan strain yang beredar di masyarakat.

Akan tetapi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), komponen B/Yamagata tidak lagi dianggap perlu dalam formulasi vaksin influenza rutin karena tidak ditemukan bukti konfirmasi peredaran alami virus tersebut sejak Maret 2020. Oleh sebab itu, WHO merekomendasikan formulasi trivalen untuk musim influenza 2026 di belahan bumi selatan. Sumber: WHO.

Artinya, jumlah strain bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas perlindungan vaksin. Faktor lain yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Kesesuaian komposisi vaksin dengan virus influenza yang sedang beredar.
  • Pembaruan komposisi vaksin berdasarkan rekomendasi terbaru.
  • Usia dan kondisi kesehatan penerima vaksin.
  • Ketersediaan serta persetujuan vaksin di wilayah setempat.

Untuk itu, perlu konsultasi dengan dokter umum atau dokter spesialis anak (jika yang ingin divaksin adalah anak).

Apakah Vaksin Flu 3 Strain dan 4 Strain Memiliki Efek Samping Berbeda?

Kedua formulasi dapat menimbulkan efek samping ringan yang umumnya bersifat sementara. Efek samping yang dapat terjadi meliputi:

  • Nyeri, kemerahan, atau pembengkakan di tempat suntikan.
  • Demam ringan.
  • Nyeri otot.
  • Sakit kepala.
  • Rasa lelah.

Efek samping tersebut merupakan respons yang dapat terjadi setelah vaksinasi dan biasanya membaik dalam beberapa hari. Reaksi alergi berat sangat jarang terjadi, tetapi membutuhkan pertolongan medis segera.

Tidak tepat untuk menyimpulkan bahwa vaksin 3 strain pasti memiliki efek samping lebih sedikit atau bahwa vaksin 4 strain lebih berbahaya hanya berdasarkan jumlah strainnya. Keamanan perlu dinilai berdasarkan jenis produk, karakteristik penerima, dan data yang tersedia.

Tips Memilih Vaksin Flu yang Tepat

Sebelum mendapatkan vaksin influenza, ada beberapa hal yang dapat Anda pertimbangkan.

1. Periksa komposisi dan tahun formulasi vaksin

Pastikan vaksin yang digunakan sesuai dengan formulasi musim influenza terbaru yang direkomendasikan dan disetujui untuk penggunaannya.

Umumnya, dokter atau suster akan memberikan informasi vaksinnya sebelum melakukan penyuntikan.

2. Sesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan

Tidak semua produk vaksin memiliki indikasi penggunaan yang sama untuk setiap kelompok usia. Konsultasikan pilihan vaksin dengan dokter, terutama untuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan kondisi medis tertentu.

Misalnya, untuk anak, maka harus ke dokter spesialis anak dulu.

3. Pertimbangkan ketersediaan vaksin

Vaksin yang tersedia dapat berbeda di setiap negara atau fasilitas kesehatan. 

aksin dengan formulasi terbaru yang sesuai rekomendasi merupakan salah satu pertimbangan penting dalam pemilihan.

4. Jangan menunda vaksinasi hanya karena perbedaan jumlah strain

Jika Anda memenuhi syarat untuk vaksinasi, tanyakan kepada dokter mengenai vaksin yang sesuai dan tersedia. Jangan menganggap vaksin dengan tiga strain otomatis kurang efektif daripada vaksin dengan empat strain.

Kesimpulan

Perbedaan utama vaksin flu 3 strain dan 4 strain terletak pada jumlah komponen virus influenza yang dicakup. Vaksin trivalen mencakup dua strain influenza A dan satu strain influenza B, sedangkan formulasi kuadrivalen klasik mencakup dua strain influenza A dan dua strain influenza B.

Meskipun vaksin 4 strain pada awalnya menawarkan cakupan terhadap dua garis keturunan influenza B, perkembangan epidemiologi influenza membuat komponen B/Yamagata tidak lagi direkomendasikan dalam formulasi vaksin rutin oleh WHO.

Dengan demikian, vaksin flu 4 strain tidak selalu lebih baik daripada vaksin flu 3 strain. Pemilihan vaksin sebaiknya didasarkan pada komposisi terbaru, rekomendasi kesehatan, ketersediaan produk, serta kondisi penerima vaksin.

Untuk menentukan vaksin influenza yang paling sesuai bagi Anda dan keluarga, konsultasikan dengan dokter umum terlebih dahulu.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia vaksin flu. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


224-1200x782.webp

Terdapat anggapan bahwa konsumsi kedelai dapat menurunkan kesuburan pria. Apakah benar demikian? Atau anggapan ini hanya mitos saja?

Mengapa Terdapat Anggapan Bahwa Kedelai dapat Menurunkan Kesuburan Pria?

Kekhawatiran ini muncul karena kedelai mengandung isoflavon seperti genistein, daidzein, dan glycitein. Isoflavon disebut fitoestrogen karena struktur kimianya dapat berinteraksi dengan reseptor estrogen. Namun, fitoestrogen bukan berarti sama dengan estrogen manusia, dan efek biologisnya jauh lebih kompleks. 

Bukti manusia juga secara umum tidak menunjukkan bahwa konsumsi kedelai menyebabkan penurunan kualitas semen yang konsisten. Tinjauan komprehensif terhadap penelitian klinis dan observasional melaporkan tidak adanya efek merugikan yang jelas terhadap sperma atau parameter semen pria. 

Berdasarkan bukti manusia yang tersedia, tidak ada dasar kuat untuk menyatakan bahwa pria sehat harus menghindari makanan kedelai hanya karena kandungan isoflavonnya. Bahkan tinjauan terhadap data klinis menyimpulkan bahwa bukti yang tersedia tidak menunjukkan dampak merugikan terhadap hormon reproduksi maupun parameter sperma pada pria. 

Kedelai mengandung fitoestrogen, tetapi “fitoestrogen” ≠ estrogen manusia. Pada pria dewasa, penelitian klinis secara keseluruhan tidak menunjukkan bahwa konsumsi kedelai/isoflavon dalam jumlah yang lazim menurunkan testosteron atau secara bermakna merusak kualitas sperma. 

Analisis Hasil Clinical Trials Terkait Dampak Isoflavon Terhadap Testosteron

Berdasarkan clinical trials yang telah dikumpulkan dalam meta-analisis, tidak ada bukti bahwa konsumsi soy/isoflavon secara signifikan menurunkan testosteron total maupun testosteron bebas pada pria. Hasil ini tetap tidak berubah ketika studi dianalisis berdasarkan durasi atau dosis isoflavon. 

Batas Aman Konsumsi Olahan Kedelai Harian pada Pria

Untuk pria dewasa sehat, tidak ada batas maksimum universal yang ditetapkan khusus dalam satuan “berapa gram tahu/tempe per hari”. Bukti klinis justru menunjukkan bahwa konsumsi kedelai dalam pola makan normal tidak terbukti menurunkan testosteron. Meta-analisis 41 studi pada 1.753 pria tidak menemukan perubahan bermakna pada testosteron total maupun testosteron bebas, termasuk ketika dianalisis berdasarkan dosis dan durasi konsumsi.  

Mitos vs Fakta Ilmiah Pengaruh Kedelai Terhadap Kualitas Sperma

Kedelai dalam bentuk makanan tidak memiliki bukti kuat menyebabkan penurunan kualitas sperma pada pria sehat. Randomized clinical trial tidak menemukan efek buruk yang bermakna pada konsentrasi, jumlah, motilitas, maupun morfologi sperma, sementara meta-analisis data klinis juga tidak menemukan efek hormonal yang mendukung mekanisme “fitoestrogen → testosteron turun → sperma rusak”. 

Yang masih perlu dibedakan adalah konsumsi makanan kedelai biasa versus paparan isoflavon dalam dosis sangat tinggi atau suplemen terkonsentrasi. Data untuk paparan ekstrem jauh lebih terbatas.

Kedelai Tidak Terbukti secara Konsisten dapat Merusak Kualitas Sperma

Jadi, jika fokus Anda adalah kesuburan pria, bukti saat ini lebih tepat dirangkum sebagai: kedelai bukan faktor yang terbukti secara konsisten merusak kualitas sperma, meskipun terdapat beberapa temuan observasional yang membuat penelitian lebih lanjut tetap relevan.


2149230681-1-1200x857.webp

Ketahanan hidup spermatozoa di luar tubuh manusia (extracorporeal environment) sangat tergantung pada ketersediaan medium cair dan kondisi mikroklimat eksternal. Sperma tidak memiliki mekanisme proteksi seluler terhadap dehidrasi, sehingga kelangsungan hidupnya berbanding lurus dengan tingkat kelembaban medium pengangkutnya (semen) 

Drying Rate dan Daya Tahan Sperma di Luar Lingkungan Biologis

Proses pengeringan semen (semen drying rate) merupakan faktor pembatas utama (rate-limiting factor) bagi kelangsungan hidup sel sperma di luar lingkungan biologis.

  • Mekanisme Kematian akibat Desikasi: Cairan semen kaya akan fruktosa, sitrat, dan enzim penyangga. Ketika terpapar udara bebas, evaporasi air menyebabkan hiperosmolaritas drastis pada medium. Kondisi hipertonik ini menarik air dari dalam sel sperma secara osmotik, memicu kerusakan membran sel (lipid peroxidation), pvembengkakan organel, dan kematian seluler ireversibel.
  • Daya Tahan Saat Kering: Begitu cairan semen mengering sepenuhnya di permukaan mana pun, 100% sel sperma dianggap mati dan tidak dapat diaktifkan kembali (non-viable).

 

Perbedaan Lifespan Sperma di Permukaan Kering vs Lingkungan Lembap

 

Lingkungan PaparanEstimasi Lifespan Sel SpermaFaktor Penentu Utama
Permukaan Kering (Kulit, kain, meja, tisu)Beberapa menit (segera mati begitu semen mengering)Evaporasi cepat air substrat & kerusakan membran sel akibat desikasi.
Lingkungan Lembab / Basah (Air hangat, kondom, sampel wadah steril)beberapa jam (hingga 2–4 jam jika suhu dan kelembapan stabil)Membran sel terhidrasi; penurunan bertahap terjadi akibat deplesi ATP intraseluler.
Saluran Reproduksi Wanita (Serviks & Uterus)3 hingga 5 hariNutrisi dari mukus serviks, suhu optimal (37oC), dan lingkungan pH penyangga.

 

Pengaruh Suhu Eksternal dan Paparan Udara Terhadap Motilitas Sperma

Motilitas sperma (kemampuan bergerak) sangat peka terhadap perubahan fisiko-kimia lingkungan eksternal:

  • Stres Oksidatif akibat Oksigen Air: Paparan langsung terhadap udara meningkatkan konsentrasi Reactive Oxygen Species (ROS). ROS merusak mitokondria pada bagian leher sperma (midpiece), yang merupakan pusat produksi ATP. Akibatnya, gerak cambuk flagela melambat hingga berhenti total (asthenozoospermia).
  • Pengaruh Suhu Extrem:
    • Suhu Dingin (<20 derajat Celsius): Memperlambat metabolisme sperma dan menghentikan motilitas sementara, tetapi jika dibekukan secara tidak terkontrol (tanpa krioprotektan), kristal es akan merusak membran sel.
    • Suhu Panas (>40 derajat Celsius): Mempercepat denaturasi protein struktural dan enzim motilitas, memicu kematian seluler dalam hitungan menit.
    • Air Sabun / Kolam Renang Klorin: Kaporit, klorin, dan surfaktan sabun menghancurkan lapisan membran fosfolipid sperma secara instan melalui reaksi lisis osmotik dan kimiawi

Mitos Risiko Kehamilan dari Sperma yang Menempel di Permukaan Luar

Risiko terjadinya kehamilan dari sperma yang menempel pada benda mati, pakaian, tangan, atau air kolam adalah mendekati nol (praktis tidak mungkin).

Untuk membuahi sel telur, sperma membutuhkan kondisi spesifik:

  • Jumlah & Motilitas Dekat Target: Terdeposisi langsung di dalam vagina (ejakulasi vaginal) agar dapat berenang menembus kanalis servikalis.
  • Kapasitasi: Proses perubahan biokimia sperma yang hanya terjadi saat berinteraksi dengan cairan saluran reproduksi wanita.
  • Integritas Medium: Sperma yang terpapar udara luar telah kehilangan motilitas progresifnya sebelum mampu menjangkau serviks, apalagi menembus pakaian tebal atau bertahan di dalam air mandi/kolam.

Tanda sperma masih hidup/mati

Secara kasat mata (makroskopis), tidak ada indikator visual yang 100% akurat untuk memastikan viabilitas sperma individu. Namun, parameter berikut dapat dijadikan acuan:

1. Tanda Makroskopis (Fisik)

  • Kemungkinan Masih Ada yang Hidup: Semen masih berbentuk cairan kental/basah, baru saja dikeluarkan (<15-30 menit), dan berada pada suhu tubuh/ruang yang terlindung dari evaporasi.
  • Pasti Mati: Semen telah mengering, mengeras, memutih/berkerak pada permukaan kain atau kulit.

2. Tanda Mikroskopis (Pemeriksaan Laboratorium)

  • Uji Motilitas: Sperma hidup menunjukkan gerakan flagela progresif (maju) atau non-progresif di bawah mikroskop.
  • Eosin-Nigrosin Staining (Vitality Test): Mewarnai sperma. Membran sperma mati yang rusak akan menyerap warna merah (eosin/pink), sedangkan sperma hidup menolak zat warna dan tetap berwarna putih/transparan

Perlu Analisis Sperma untuk Pemeriksaan Lebih Lanjut

Untuk pemeriksaan dan kepastian apakah sperma hidup/mati atau kualitasnya, maka perlu analisis sperma. Apalagi, kualitas sperma tidak bisa dilihat dan dinilai secara kasat mata saja.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia layanan analisis sperma. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


22666-1-1200x779.webp

Apakah Anda pernah mendengar tentang andropause? Berbeda dengan menopause.

Apa perbedaannya dan gejalanya? Lalu harus ke dokter apa jika mengalami andropause?

Apa Itu Andropause? 

Andropause atau yang secara medis lebih tepat dinamakan Late-Onset Hypogonadism (LOH) atau Age-Related Testosterone Decline—merupakan kondisi klinis dan biologis pada pria paruh baya hingga lanjut usia yang ditandai dengan penurunan kadar hormon testosteron serum yang disertai dengan gejala klinis tertentu 

Perbedaan Andropause dengan Menopause 

Meskipun sering dijuluki sebagai “menopause pria”, kedua kondisi ini memiliki mekanisme fisiologis yang sangat berbeda:

ParameterMenopause (Wanita)Andropause / LOH (Pria)
Pola Penurunan HormonTajam dan drastis (drastic drop) dalam waktu relatif singkat.Gradual dan perlahan (~1% per tahun setelah usia 30 tahun).
Keterbatasan ReproduksiBerhentinya fungsi reproduksi secara total (cessation of fertility).Fungsi reproduksi (produksi sperma) tetap ada, meski kualitas dan kuantitasnya menurun.
Kepastian Terjadinyadialami oleh 100% wanita menopause.Hanya dialami oleh sekitar 20–40% pria lansia (tidak semua pria mengalami LOH bergejala).
Penanda Biologis UtamaBerhentinya siklus menstruasi (amenore).Tidak ada penanda biologis tunggal yang mendadak.

Gejala andropause

Gejala LOH terbagi menjadi tiga domain utama:

1. Domain Seksual

Penurunan libido (gairah seksual), penurunan frekuensi ereksi spontan pagi hari (morning erection), dan disfungsi ereksi.

2. Domain Fisik

Penurunan massa dan kekuatan otot, peningkatan lemak visceral/abdominal, penurunan kepadatan tulang (osteopenia/osteoporosis), mudah lelah, dan berkurangnya bulu tubuh.

3. Domain Psikologis & Kognitif

Perubahan suasana hati (irritabilitas), depresi ringan, penurunan motivasi, gangguan tidur (insomnia), serta penurunan fokus/konsentrasi.

Bagaimana Perubahan Kadar Hormon Testosteron Seiring Bertambahnya Usia?

Produksi testosteron mencapai puncaknya pada masa remaja akhir hingga usia 20-an.

  • Laju Penurunan: Mulai usia 30–40 tahun, kadar testosteron total menurun sekitar 1% per tahun, sedangkan testosteron bebas (free testosterone) turun sekitar 1.2–2% per tahun akibat peningkatan kadar Sex Hormone-Binding Globulin (SHBG) [high confidence].
  • Mekanisme Penurunan: Penurunan ini dipengaruhi oleh kombinasi penuaan sel Leydig di testis (penurunan responsivitas) serta perubahan pada aksis hipotalamus-hipofisis (penurunan sekresi LH pulsatil).

Dampak Age-Related Testosterone Decline Terhadap Massa Otot dan Libido

Massa Otot (Sarcopenia): Testosteron bersifat anabolik; hormon ini merangsang sintesis protein otot dan proliferasi sel satelit otot. Penurunan kadar tes-tosteron menggeser keseimbangan ke arah katabolisme, memicu atrofi serat otot tipe II, penurunan kekuatan genggaman, dan peningkatan deposit lemak intramuskular.

Libido: Testosteron bekerja pada SSP (khususnya area preoptik medial hipotalamus) untuk memodulasi gairah seksual. Penurunan kadar testosteron bebas mengurangi densitas reseptor androgen sentral, yang secara langsung menurunkan dorongan seksual dan sensitivitas rangsangan.

Pencegahan lewat gaya hidup dan Terapi Medis untuk Mengatasi Gejala Andropause

1. Modifikasi Gaya Hidup

  • Latihan Beban (Resistance Training): Stimulus mekanis dari latihan beban merangsang pemeliharaan massa otot dan sekresi testosteron fisiologis.
  • Manajemen Berat Badan: Obesitas mempercepat konversi testosteron menjadi estrogen via enzim aromatase di jaringan adiposa visceral. Menurunkan lemak tubuh menurunkan aktivitas aromatase.
  • Nutrisi & Tidur: Asupan mikronutrien memadai (Seng, Vitamin D) serta tidur berkualitas 7–8 jam (puncak sekresi testosteron terjadi saat tidur REM).

2. Terapi Medis

  • Testosterone Replacement Therapy (TRT): Diberikan hanya jika pasien memenuhi kriteria: gejala klinis LOH (+) DAN kadar testosteron serum total terbukti rendah (<300 ng/dL) pada setidaknya dua kali pemeriksaan pagi hari.
  • Bentuk TRT: Injeksi (intramuskular), gel topikal, atau implan.
  • Risiko/Evaluasi TRT: Memerlukan pemantauan hematokrit (risiko polisitemia), pemeriksaan PSA (Prostate-Specific Antigen), serta evaluasi fungsi hati dan profil lipid secara berkala.

Apakah andropause benar-benar dapat dicegah?

Penurunan kadar testosteron akibat proses penuaan biologis tidak dapat dihentikan 100%. Namun, gejala klinis LOH (andropause bergejala) sangat dapat dicegah dan diminimalkan.

Sebagian besar kasus LOH berat dipicu atau diperburuk oleh sindrom metabolik, diabetes tipe 2, obesitas, dan gaya hidup sedenter (secondary hypogonadism). Dengan menjaga komposisi tubuh dan kebugaran metabolik, seorang pria dapat mempertahankan kadar testosteron bebas dalam rentang fungsi normal hingga usia lanjut.

Jika mengalami andropause, harus ke dokter apa?

Jika mengalami gejala andropause yang mengganggu kualitas hidup, pasien disarankan untuk berkonsultasi dengan:

  • Dokter Spesialis Andrologi (Sp.And): Pakar utama dalam gangguan hormon reproduksi pria, penuaan pria (male aging), disfungsi seksual, dan manajemen TRT.
  • Dokter Spesialis Endokrinologi (Sp.PD-KEMD): Untuk evaluasi aksis hormonal terpadu, terutama jika disertai komplikasi metabolik seperti diabetes mellitus.
  • Dokter Spesialis Urologi (Sp.U): Terutama untuk evaluasi kesehatan prostat sebelum dan selama menjalani terapi penggantian testosteron.

Jangan Ragu untuk ke Dokter jika Mengalami Andropause

Jika mengalami gejala andropause, jangan ragu untuk ke dokter spesialis untuk mendapatkan terapi yang tepat.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia dokter speisalis andrologi dan TRT (testosterone replacement therapy). Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


128-1-1200x800.webp

Pernah merasa ingin makan makanan manis, gurih, atau berlemak setelah hari yang melelahkan? Atau ingin makan meskipun sebenarnya tidak lapar? Lalu merasa bersalah setelah makan?

Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan stress eating, yaitu kecenderungan makan sebagai respons terhadap stres atau emosi, bukan semata-mata karena kebutuhan energi tubuh. Stress eating merupakan bagian dari emotional eating dan dapat menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan berat badan.

Hubungan Antara Stres, Hormon Kortisol, dan Keinginan Makan

Saat mengalami stres, tubuh mengaktifkan sistem respons stres yang melibatkan HPA axis dan hormon kortisol. Respons setiap orang berbeda: sebagian orang dapat kehilangan nafsu makan, sementara sebagian lainnya justru lebih sering merasa ingin makan.

Stres yang berlangsung lama dapat berkaitan dengan meningkatnya keinginan terhadap makanan yang highly palatable, seperti makanan manis, gurih, atau berlemak. Namun, hubungan antara kortisol, stres, nafsu makan, dan berat badan cukup kompleks serta dipengaruhi oleh tidur, aktivitas fisik, pola makan, kondisi psikologis, dan faktor individu.

Ciri-Ciri Stress Eating

Stress eating tidak selalu berarti makan dalam jumlah sangat banyak. Beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain:

  • Keinginan makan muncul saat stres, cemas, bosan, marah, atau sedih.
  • Makan meskipun tidak benar-benar lapar secara fisik.
  • Lebih sering mencari makanan tertentu ketika sedang tertekan.
  • Menginginkan makanan yang sangat palatable, seperti makanan manis, gorengan, atau makanan cepat saji.
  • Makan untuk mendapatkan rasa nyaman atau mengalihkan pikiran.
  • Sulit berhenti meskipun sudah kenyang.
  • Merasa bersalah setelah makan dan kemudian mengulangi pola yang sama saat stres berikutnya.

Sesekali makan makanan favorit setelah hari yang melelahkan merupakan hal yang normal. Yang perlu diperhatikan adalah ketika makanan menjadi cara utama untuk menghadapi stres dan pola tersebut terjadi berulang kali.

Mekanisme Comfort Food dalam Mempengaruhi Dopamin Otak dan Mengapa Jadi Makanan dalam Stress Eating

Mengapa saat stres kita sering menginginkan cokelat, es krim, keripik, gorengan, atau makanan cepat saji?

Makanan yang sangat palatable dapat memberikan pengalaman menyenangkan dan mengaktifkan sistem reward otak. Dopamin merupakan salah satu neurotransmiter yang berperan dalam sistem tersebut.

Jika seseorang berulang kali menggunakan makanan untuk mendapatkan rasa nyaman saat stres, hubungan antara stres → makan → rasa nyaman dapat semakin kuat. Akibatnya, makanan tertentu dapat menjadi respons yang semakin otomatis ketika menghadapi tekanan emosional.

Namun, rasa nyaman tersebut biasanya hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan sumber stres. Karena itu, pola yang sama dapat kembali muncul pada situasi berikutnya.

Bahaya Stress Eating

Stress eating yang terjadi sesekali tidak otomatis menyebabkan masalah kesehatan. Namun, jika berulang dan menyebabkan asupan energi berlebih, beberapa dampak dapat terjadi:

1. Meningkatkan risiko kenaikan berat badan

Makanan yang sering dipilih saat stress eating cenderung tinggi energi dan sangat palatable. Jika dikonsumsi berlebihan secara berulang, total asupan energi dapat meningkat, sehingga berat badan naik secara tidak sehat.

2. Membuat penurunan berat badan lebih sulit

Stress eating dapat mengganggu pengaturan asupan energi dan membuat seseorang kesulitan mempertahankan pola makan yang sudah direncanakan dan akhirnya berat badan sulit untuk turun.

3. Membentuk siklus stres dan makan

Pola stres → ingin makan → merasa nyaman sementara → merasa bersalah → stres kembali dapat membuat makanan semakin sering digunakan sebagai mekanisme menghadapi emosi.

4. Berkaitan dengan pola makan yang bermasalah

Emotional eating memiliki hubungan dengan stres, kecemasan, depresi, overweight, dan obesitas. Namun, stress eating tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan mental atau gangguan makan.

Strategi Menghentikan Kebiasaan Stress Eating

Mengatasi stress eating bukan hanya dengan mengatakan “jangan makan”. Beberapa strategi yang dapat dilakukan:

1. Kenali pemicunya

Catat kapan keinginan makan muncul, apa yang sedang dirasakan, makanan apa yang dicari, dan apakah benar-benar lapar atau sedang mencari rasa nyaman.

2. Jangan terlalu membatasi makanan

Diet yang terlalu ketat dapat membuat pola makan sulit dipertahankan. Pola makan yang seimbang dan fleksibel lebih realistis untuk jangka panjang.

3. Cari comfort selain makanan

Cobalah berjalan kaki, mendengarkan musik, berbicara dengan teman, melakukan latihan pernapasan, mindfulness, atau beristirahat ketika tubuh memang membutuhkan tidur.

4. Tetap makan secara teratur

Jangan sengaja melewatkan makan untuk “mengganti” makanan yang sudah dikonsumsi. Rasa lapar yang terlalu kuat dapat membuat seseorang semakin sulit mengendalikan pilihan dan jumlah makanan.

5. Buat lingkungan makanan yang mendukung

Jika makanan tertentu menjadi pemicu, hindari menyimpannya dalam jumlah besar. Siapkan alternatif yang lebih mengenyangkan seperti buah, yogurt, telur, atau makanan tinggi protein dan serat.

6. Fokus pada pola, bukan kesempurnaan

Satu episode stress eating tidak berarti seluruh program diet gagal. Kembali ke pola makan normal pada waktu makan berikutnya dan evaluasi pemicunya.

Intervensi yang melibatkan self-regulation, penetapan tujuan, pemantauan perilaku, dan pendekatan psikologis dapat membantu mengurangi emotional eating dan mendukung pengelolaan berat badan.

Harus ke Dokter Apa Jika Stress Eating Sulit Diatasi?

Jika stress eating sering terjadi dan sulit dikendalikan, dokter umum dapat menjadi titik awal untuk mengevaluasi pola makan, berat badan, tidur, aktivitas fisik, kondisi medis, serta faktor psikologis.

Jika terdapat masalah emosional yang signifikan, kehilangan kontrol saat makan, atau kecurigaan terhadap binge eating maupun gangguan makan lainnya, pasien dapat dirujuk ke psikolog klinis atau psikiater.

Dokter spesialis gizi klinik juga dapat membantu menyusun pola makan dan strategi pengelolaan berat badan yang sesuai kondisi pasien.

Dalam banyak kasus, pendekatan terbaik dapat melibatkan beberapa aspek sekaligus: pola makan, stres, perilaku, tidur, aktivitas fisik, dan kondisi metabolik.

Kesimpulan

Stress eating bukan sekadar masalah kurang disiplin. Stres dapat memengaruhi nafsu makan, sistem reward, pilihan makanan, dan kebiasaan makan. Mengenali pemicu, membangun pola makan yang lebih teratur, serta mencari cara lain untuk menghadapi stres dapat membantu memutus siklus tersebut.

Jika stress eating mulai mengganggu kesehatan atau program penurunan berat badan, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan penyebab dan strategi yang sesuai.

Primecare Clinic menyediakan konsultasi dokter, pemeriksaan Body Composition Analysis (BCA), serta Program Weight Loss yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Referensi

  1. Dakanalis A, Mentzelou M, Papadopoulou SK, et al. The association of emotional eating with overweight/obesity, depression, anxiety/stress, and dietary patterns: a review of the current clinical evidence. Nutrients. 2023;15(5):1173.
  2. Power D, Jones A, Keyworth C, et al. Emotional Eating Interventions for Adults Living With Overweight and Obesity: A Systematic Review and Meta-Analysis of Behaviour Change Techniques. J Hum Nutr Diet. 2025;38(1).
  3. Schneider KL, et al. Emotional Eating Interventions for Adults Living with Overweight or Obesity: A Systematic Review and Meta-Analysis. Int J Environ Res Public Health. 2023;20(3):2722.
  4. The global prevalence of emotional eating in overweight and obese populations: a systematic review and meta-analysis. Br J Psychol. 2025.

5133-1-1.webp

Berat badan dapat berubah setiap hari akibat makanan, garam, aktivitas, hormon, dan perubahan cairan tubuh. Karena itu, kenaikan beberapa ratus gram tidak selalu berarti tubuh sedang menambah lemak.

Namun, jika berat badan terus meningkat selama beberapa minggu atau bulan, terutama disertai lingkar pinggang yang bertambah dan perubahan pola hidup, kondisi tersebut perlu diperhatikan. Angka timbangan sebaiknya dilihat bersama dengan perubahan komposisi dan distribusi lemak tubuh.

Perubahan Fisik yang Menandakan Penumpukan Lemak Tubuh

Beberapa perubahan fisik yang dapat mengindikasikan peningkatan massa lemak antara lain:

  • Lingkar pinggang semakin besar.
  • Celana atau pakaian terasa lebih sempit.
  • Perut semakin menonjol.
  • Lingkar paha, lengan, atau area tubuh lainnya meningkat.
  • Bentuk wajah atau tubuh terlihat semakin berisi.

Namun, perubahan berat badan tidak selalu disebabkan oleh lemak. Orang yang baru melakukan latihan kekuatan, misalnya, dapat mengalami peningkatan berat badan karena bertambahnya massa otot.

Karena itu, berat badan sebaiknya dievaluasi bersama lingkar pinggang dan pemeriksaan komposisi tubuh bila tersedia. BMI juga tidak sebaiknya digunakan sebagai satu-satunya indikator karena tidak menggambarkan distribusi lemak tubuh.

Indikator Visceral Fat vs Subcutaneous Fat dari Bentuk Tubuh

Subcutaneous fat atau lemak subkutan adalah lemak yang berada di bawah kulit dan dapat terasa sebagai jaringan lunak pada perut, paha, lengan, atau pinggul.

Sementara itu, visceral fat berada di sekitar organ dalam rongga perut dan tidak dapat dinilai secara akurat hanya dengan melihat atau mencubit perut.

Salah satu indikator sederhana untuk melihat peningkatan lemak abdominal adalah lingkar pinggang. Pada populasi Asia, batas yang umum digunakan adalah >90 cm pada laki-laki dan >80 cm pada perempuan.

Bentuk tubuh seperti apple-shaped dapat memberikan petunjuk adanya penumpukan lemak di area perut, tetapi tidak dapat menentukan jumlah visceral fat secara pasti. Pemeriksaan seperti BIA dapat memberikan estimasi komposisi tubuh, sedangkan CT atau MRI dapat menilai distribusi lemak secara lebih langsung dalam kondisi klinis tertentu.

Perbedaan Kenaikan Berat Badan Akibat Lemak vs Water Retention (Retensi Air)

Kenaikan akibat lemak biasanya berlangsung secara bertahap dan dapat disertai peningkatan lingkar pinggang serta persentase lemak tubuh.

Sebaliknya, retensi air dapat menyebabkan berat badan berubah lebih cepat. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh:

  • Konsumsi makanan tinggi garam.
  • Perubahan konsumsi karbohidrat.
  • Perubahan hormonal.
  • Perubahan aktivitas atau rutinitas olahraga.
  • Perjalanan jauh atau duduk terlalu lama.
  • Kondisi medis tertentu.

Jadi, kenaikan 1–2 kg dalam waktu singkat tidak otomatis berarti penambahan lemak. Namun, jika berat badan terus meningkat selama beberapa minggu atau bulan, terutama disertai lingkar pinggang yang bertambah, perlu dilakukan evaluasi.

Jika kenaikan berat badan terjadi sangat cepat dan disertai bengkak, sesak napas, atau perut membesar, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.

Perbedaan Kenaikan Berat Badan yang Sehat dan Tidak Sehat

Kenaikan berat badan tidak selalu buruk. Seseorang yang melakukan latihan kekuatan dan memperbaiki asupan nutrisi dapat mengalami peningkatan berat badan karena bertambahnya massa otot.

Sebaliknya, kenaikan berat badan lebih perlu diperhatikan jika terjadi tanpa direncanakan dan disertai:

  • Lingkar pinggang semakin besar.
  • Persentase lemak tubuh meningkat.
  • Aktivitas fisik menurun.
  • Pola makan semakin tidak teratur.
  • Sering makan berlebihan atau stress eating.
  • Kualitas tidur memburuk.
  • Tekanan darah atau gula darah meningkat.
  • Kemampuan beraktivitas menurun.

Pedoman obesitas terbaru juga menekankan bahwa evaluasi berat badan perlu mempertimbangkan pola makan, aktivitas fisik, tidur, obat-obatan, kondisi metabolik, serta faktor lain yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

Kapan Sebaiknya Waspada Ketika Berat Badan Naik?

Mulai lebih waspada jika:

1. Berat badan terus meningkat

Bukan hanya naik-turun harian, tetapi menunjukkan tren naik selama beberapa minggu atau bulan.

2. Lingkar pinggang ikut bertambah

Peningkatan lingkar pinggang dapat menunjukkan bertambahnya lemak abdominal.

3. Berat badan naik tanpa penyebab yang jelas

Perlu dipertimbangkan faktor seperti perubahan pola makan, aktivitas, tidur, obat-obatan, hormon, atau kondisi medis tertentu.Kenaikan terjadi sangat cepat

Terutama jika disertai pembengkakan atau sesak napas.Disertai perubahan kesehatan lainnya

Misalnya tekanan darah atau gula darah meningkat, mendengkur semakin berat, mudah mengantuk, nyeri sendi, atau kemampuan aktivitas menurun.

Langkah Awal yang Harus Dilakukan Saat Menyadari Berat Badan Mulai Naik

Jangan langsung melakukan diet ekstrem. Langkah pertama adalah memastikan apakah benar terdapat tren kenaikan berat badan.

1. Pantau berat badan

Gunakan timbangan yang sama dan ukur dalam kondisi yang relatif sama. Fokus pada tren, bukan satu angka.

2. Ukur lingkar pinggang

Pengukuran lingkar pinggang memberikan informasi tambahan mengenai perubahan lemak abdominal.

3. Evaluasi pola makan

Perhatikan apakah porsi makan, ngemil, minuman manis, makan di luar, atau stress eating meningkat.

4. Evaluasi aktivitas dan tidur

Penurunan aktivitas serta kurang tidur dapat memengaruhi pola makan dan pengelolaan berat badan.

5. Periksa komposisi tubuh

Jika tersedia, Body Composition Analysis (BCA) dapat membantu melihat perubahan massa lemak dan komponen tubuh lainnya.

6. Evaluasi lebih awal

Jangan menunggu sampai berat badan naik terlalu jauh. Identifikasi penyebab dan melakukan perubahan lebih awal dapat membantu mencegah kenaikan berlanjut.

Harus ke Dokter Apa Jika Khawatir Berat Badan Mulai Naik?

Dokter umum dapat menjadi titik awal untuk mengevaluasi tren berat badan, lingkar pinggang, pola makan, aktivitas, tidur, obat-obatan, tekanan darah, dan faktor metabolik.

Jika membutuhkan pengelolaan berat badan yang lebih komprehensif, dokter spesialis gizi klinik dapat membantu menyusun strategi nutrisi dan penurunan berat badan.

Jika ditemukan dugaan gangguan hormonal atau metabolik, dokter dapat mempertimbangkan rujukan ke dokter spesialis penyakit dalam, khususnya subspesialis endokrin-metabolik.

Sementara itu, jika kenaikan berat badan berkaitan dengan stress eating, binge eating, atau masalah psikologis, psikolog klinis atau psikiater dapat dilibatkan.

Dengan demikian, dokter yang tepat bergantung pada penyebab dan kondisi yang menyertai kenaikan berat badan.

Kesimpulan

Kenaikan berat badan tidak selalu berarti penambahan lemak. Namun, tren berat badan yang terus meningkat, lingkar pinggang yang bertambah, serta perubahan pola makan, aktivitas, tidur, atau kesehatan dapat menjadi tanda bahwa sudah waktunya melakukan evaluasi.

Memantau berat badan, lingkar pinggang, dan komposisi tubuh dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap dibandingkan hanya melihat angka timbangan.

Jika berat badan mulai meningkat dan sulit dikendalikan, konsultasi dengan dokter dapat membantu mencari penyebab serta menentukan strategi pengelolaan berat badan yang sesuai.

Ingin konsultasi ke dokter terkait peningkatan berat badan? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa. Kepmenkes No. HK.01.07/Menkes/509/2025.
  2. American Diabetes Association Professional Practice Committee. Screening, Diagnosis, Evaluation, and Staging of Obesity in Adults: Standards of Care in Overweight and Obesity—2026. Diabetes Care. 2026.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil Utama SKI 2023: Obesitas Sentral. 2024.

2068-1-1200x801.webp

Lingkungan kantor menjadi salah satu tempat yang memungkinkan flu menular dengan cepat. Aktivitas bekerja dalam satu ruangan, berinteraksi dengan banyak orang, hingga menggunakan fasilitas bersama membuat karyawan lebih sering melakukan kontak dengan orang maupun benda di sekitarnya.

Flu dapat menular melalui partikel pernapasan ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Risiko penularan juga dapat meningkat ketika banyak orang berada dalam ruangan tertutup dan berdekatan dalam waktu yang cukup lama.

Lantas, apa saja yang membuat flu mudah menular di kantor dan bagaimana cara mencegahnya?

Apa yang Membuat Flu Mudah Menular di Kantor?

Beberapa kondisi di lingkungan kerja dapat meningkatkan peluang terjadinya penularan flu, terutama ketika banyak orang beraktivitas bersama dalam satu tempat.

1. Ruangan Tertutup dengan AC

Kantor umumnya menggunakan AC dan memiliki jendela yang jarang dibuka. Kondisi ini membuat aktivitas berlangsung di dalam ruangan secara terus-menerus.

AC sendiri bukan penyebab langsung flu. Namun, ketika banyak orang berada dalam ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang kurang optimal, paparan partikel pernapasan dari orang yang sedang sakit dapat lebih mudah terjadi.

Karena itu, pengelolaan ventilasi dan kualitas udara di ruang kerja menjadi salah satu bagian penting dalam membantu mengurangi risiko penularan penyakit pernapasan.

2. Kontak Dekat dengan Rekan Kerja

Interaksi langsung merupakan bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas di kantor. Meeting, diskusi, makan bersama, hingga percakapan di meja kerja membuat karyawan dapat berada dalam jarak dekat satu sama lain.

Jika salah satu orang sedang mengalami infeksi saluran pernapasan, kontak dekat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penularan melalui partikel pernapasan.

3. Penggunaan Fasilitas Bersama

Karyawan biasanya menggunakan berbagai fasilitas secara bergantian, seperti gagang pintu, tombol lift, meja, dispenser, peralatan dapur, hingga perangkat kantor.

Virus pernapasan tertentu juga dapat berpindah melalui tangan yang kemudian menyentuh wajah, terutama hidung, mulut, atau mata. Karena itu, menjaga kebersihan tangan dan permukaan yang sering disentuh tetap penting untuk membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit.

4. Kondisi Tubuh yang Kurang Fit

Kurang tidur, kelelahan, pola makan yang kurang baik, dan stres dapat memengaruhi kondisi tubuh. Ketika seseorang sedang tidak dalam kondisi optimal, tubuh dapat lebih rentan terhadap infeksi.

Namun, kondisi tubuh yang kurang fit bukan penyebab langsung flu. Flu disebabkan oleh infeksi virus influenza, sedangkan kondisi tubuh dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kerentanan seseorang terhadap infeksi.

Mengapa Flu yang Menular Dapat Merugikan Karyawan dan Perusahaan?

Flu mungkin terlihat seperti penyakit ringan. Namun, ketika penularan terjadi di lingkungan kantor, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu orang.

1. Produktivitas Karyawan Dapat Menurun

Karyawan yang sedang flu dapat mengalami berbagai gejala seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, atau tubuh terasa lemas.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang kesulitan berkonsentrasi dan tidak dapat bekerja secara optimal. Bahkan ketika tetap masuk kantor, karyawan yang sedang sakit dapat mengalami penurunan produktivitas.

Jika tempat kerjanya perlu HSE yang ketat, karyawan yang sakit bisa rentan mengalami kecelakaan kerja karena tidak fokus/konsentrasi. Hal ini berbahaya bagi karyawan yang sakit, karyawan lain, serta reputasi perusahaan.

2. Risiko Penularan kepada Karyawan Lain

Karyawan yang tetap bekerja ketika sedang mengalami infeksi dapat berinteraksi dengan banyak orang sepanjang hari.

Akibatnya, penyakit yang awalnya dialami satu orang dapat menyebar kepada rekan kerja lainnya, terutama di lingkungan dengan banyak aktivitas tatap muka.

3. Meningkatnya Ketidakhadiran Karyawan

Jika beberapa karyawan mengalami sakit secara bersamaan, jumlah ketidakhadiran dapat meningkat.

Hal ini dapat memengaruhi pembagian workload dari pekerjaan, jadwal meeting, pelayanan kepada pelanggan, hingga penyelesaian tugas dalam tim.

4. Aktivitas Tim Dapat Terganggu

Ketika anggota tim harus beristirahat karena sakit, pekerjaan tertentu mungkin perlu dialihkan kepada karyawan lain.

Jika terjadi pada beberapa orang sekaligus, beban kerja dapat berubah dan koordinasi pekerjaan menjadi lebih sulit.

Tips Mencegah Penularan Flu di Kantor

Pencegahan penularan flu tidak hanya menjadi tanggung jawab karyawan yang sedang sakit. Perusahaan dan seluruh karyawan dapat berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.

1. Biasakan Mencuci Tangan

Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir secara rutin, terutama setelah batuk atau bersin, setelah menggunakan fasilitas bersama, sebelum makan, dan setelah dari toilet.

Jika sabun dan air tidak tersedia, hand sanitizer dapat digunakan sebagai alternatif.

2. Terapkan Etika Batuk dan Bersin

Saat batuk atau bersin, tutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau bagian dalam siku.

Jika menggunakan tisu, segera buang ke tempat sampah dan cuci tangan setelahnya. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi penyebaran partikel pernapasan di lingkungan kerja.

3. Hindari Kontak Dekat dengan Orang Lain Ketika Sedang Sakit

Karyawan yang sedang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan sebaiknya mengurangi kontak dekat dengan orang lain.

Jika memungkinkan, bekerja dari rumah (WFH) atau beristirahat (sick leave) dapat menjadi pilihan agar pemulihan lebih optimal sekaligus mengurangi risiko menularkan penyakit kepada rekan kerja.

4. Jaga Kebersihan Fasilitas Bersama

Bersihkan permukaan yang sering disentuh secara rutin, seperti gagang pintu, meja, tombol lift, perangkat kerja, dan fasilitas lain yang digunakan bersama.

Kebiasaan ini dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan kerja dan mengurangi potensi penyebaran berbagai penyakit infeksi.

5. Pastikan Sirkulasi Udara Tetap Baik

Selain menggunakan AC, perhatikan juga ventilasi dan sirkulasi udara di ruang kerja.

Pengelolaan udara yang baik dapat membantu mengurangi penumpukan partikel pernapasan di dalam ruangan, terutama ketika banyak orang beraktivitas bersama.

6. Jaga Kondisi Tubuh

Tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, melakukan aktivitas fisik, dan menjaga kebersihan diri merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehat.

Menjaga kondisi tubuh tetap baik dapat membantu tubuh menjalankan fungsi pertahanannya terhadap berbagai infeksi.

7. Lakukan Vaksinasi Flu Secara Rutin

Vaksinasi influenza dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu mengurangi risiko terkena flu dan komplikasinya. Vaksin flu umumnya diberikan secara rutin setiap tahun karena virus influenza terus mengalami perubahan dan komposisi vaksin dapat diperbarui untuk menyesuaikan dengan virus yang diperkirakan beredar.

Bagi karyawan yang memiliki mobilitas tinggi atau sering berinteraksi dengan banyak orang di lingkungan kerja, vaksinasi flu dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan selama bekerja.

Meski demikian, vaksin flu tidak memberikan perlindungan terhadap seluruh penyebab batuk, pilek, atau infeksi saluran pernapasan lainnya. Karena itu, vaksinasi tetap perlu disertai dengan kebiasaan pencegahan lainnya.

8. Jangan Memaksakan Diri Masuk Kantor Saat Sakit

Merasa harus tetap masuk kantor ketika sedang flu dapat meningkatkan risiko menularkan penyakit kepada orang lain.

Jika mengalami gejala yang cukup mengganggu aktivitas, sebaiknya beristirahat dan mengurangi kontak dengan orang lain. Bila diperlukan, konsultasikan kondisi tersebut dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Anda juga bisa melakukan tes influenza A/B untuk mendeteksi adanya flu.

Kapan Sebaiknya Karyawan Memeriksakan Diri?

Sebagian besar kasus infeksi saluran pernapasan dapat membaik dengan istirahat dan perawatan yang sesuai. Namun, jangan abaikan gejala yang berat atau semakin memburuk.

Segera cari pertolongan medis apabila mengalami gejala seperti kesulitan bernapas, nyeri dada, penurunan kesadaran, dehidrasi berat, atau kondisi yang terasa semakin parah.

Jika gejala flu berulang, berlangsung cukup lama, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan juga dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.

Lindungi Kesehatan Karyawan Anda dari Penularan Flu di Kantor

Kantor merupakan tempat berbagai orang dengan kondisi kesehatan yang berbeda berinteraksi setiap hari. Karena itu, mencegah penularan flu membutuhkan kebiasaan sederhana yang dilakukan bersama.

Mulai dari menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga sirkulasi udara, membersihkan fasilitas bersama, hingga melakukan vaksinasi flu secara rutin, setiap langkah dapat berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.

Perusahaan juga dapat mendukung kesehatan karyawan dengan menyediakan akses terhadap layanan kesehatan dan vaksinasi yang sesuai dengan kebutuhan.

Primecare Clinic menyediakan layanan kesehatan yang dapat mendukung kebutuhan kesehatan individu maupun perusahaan, termasuk layanan vaksinasi untuk membantu karyawan tetap sehat dan produktif.

Butuh layanan vaksin untuk korporat/perusahaan atau vaksin flu untuk individu? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


18259-1-1200x800.webp

Ketika ingin menurunkan berat badan, sebagian orang mungkin tergoda untuk mengurangi jumlah makanan secara drastis agar berat badan turun lebih cepat.

Salah satu metode yang memang dapat menghasilkan penurunan berat badan dalam waktu relatif singkat adalah Very Low-Calorie Diet (VLCD).

Namun, VLCD bukan sekadar “diet dengan makan sangat sedikit”. Metode ini merupakan intervensi diet yang sangat rendah kalori dan pada penggunaannya perlu memperhatikan kecukupan nutrisi serta kondisi kesehatan seseorang.

Karena itu, VLCD tidak dianjurkan untuk dilakukan sendiri tanpa pengawasan tenaga kesehatan.

Lalu, apa sebenarnya VLCD? Siapa yang mungkin membutuhkan metode ini dan bagaimana cara menjalaninya dengan aman?

Apa Itu Very Low-Calorie Diet (VLCD)?

Very Low-Calorie Diet atau VLCD adalah pola diet yang menyediakan kurang dari 800 kilokalori (kkal) per hari. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhan energi harian kebanyakan orang dewasa.

VLCD biasanya menggunakan formula atau meal replacement yang dirancang agar meskipun jumlah kalorinya sangat rendah, kebutuhan nutrisi tertentu tetap dapat dipenuhi.

Karena asupan energi sangat rendah, VLCD dapat menghasilkan penurunan berat badan yang lebih cepat dibandingkan diet dengan pembatasan kalori yang lebih moderat.

Namun, metode ini bukan ditujukan untuk digunakan dalam jangka panjang. Guideline NICE merekomendasikan VLCD hanya sebagai bagian dari program manajemen berat badan yang komprehensif, dengan durasi tidak lebih dari 12 minggu dan disertai dukungan serta pemantauan klinis.

Jadi, VLCD berbeda dengan sekadar memutuskan untuk makan sesedikit mungkin.

Bagaimana Prosedur VLCD Dilakukan?

VLCD sebaiknya dilakukan sebagai bagian dari program penurunan berat badan yang terstruktur.

Sebelum memulai, dokter akan menilai kondisi kesehatan dan menentukan apakah metode ini memang sesuai.

Secara umum, tahapan VLCD dapat meliputi:

1. Evaluasi Kondisi Kesehatan

Dokter dapat melakukan evaluasi terhadap:

  • Berat badan dan indeks massa tubuh (IMT)
  • Lingkar pinggang
  • Riwayat penyakit
  • Obat-obatan yang sedang dikonsumsi
  • Pola makan dan aktivitas fisik
  • Kondisi metabolik seperti gula darah, tekanan darah, dan profil lipid bila diperlukan
  • Faktor lain yang dapat memengaruhi keamanan program

Evaluasi ini penting karena penurunan berat badan yang cepat dapat memengaruhi kondisi kesehatan dan kebutuhan obat tertentu.

2. Menentukan Target dan Durasi

VLCD bukan program yang dilakukan tanpa batas waktu.

Dokter akan menentukan apakah diperlukan penurunan berat badan secara cepat dan berapa lama VLCD akan dilakukan.

Guideline NICE merekomendasikan diet sangat rendah energi seperti VLCD untuk penggunaan jangka pendek, maksimal sekitar 12 minggu.

3. Menggunakan Formula atau Meal Replacement yang Sesuai

Karena jumlah kalori sangat rendah, makanan yang dikonsumsi perlu dirancang agar tetap menyediakan nutrisi penting.

Pada beberapa program, sebagian besar atau seluruh kebutuhan makanan dapat berasal dari produk meal replacement yang diformulasikan secara khusus.

Hal ini berbeda dengan sekadar mengurangi porsi makanan biasa hingga kurang dari 800 kkal per hari.

4. Melakukan Pemantauan Secara Berkala

Selama program, kondisi pasien perlu dipantau.

Pemantauan dapat mencakup perubahan berat badan, kondisi fisik, tekanan darah, gula darah, keluhan yang muncul, serta respons terhadap obat-obatan bila pasien memiliki penyakit tertentu.

5. Melakukan Transisi ke Pola Makan Jangka Panjang

VLCD tidak berhenti ketika target berat badan tercapai.

Setelah periode VLCD selesai, pola makan perlu diperluas secara bertahap menuju pola makan yang lebih seimbang dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. NICE secara khusus merekomendasikan adanya dukungan dan edukasi mengenai pengenalan kembali berbagai jenis makanan setelah diet sangat rendah kalori.

Siapa Saja yang Membutuhkan Metode VLCD?

VLCD bukan metode yang diperlukan oleh semua orang yang ingin menurunkan berat badan.

Metode ini umumnya dipertimbangkan pada orang dengan obesitas yang memiliki kebutuhan medis untuk menurunkan berat badan secara cepat.

Contohnya adalah seseorang yang memiliki obesitas dan perlu menurunkan berat badan dalam waktu relatif singkat untuk membantu membuat prosedur atau operasi tertentu menjadi lebih aman dan memungkinkan.

Pada kondisi tertentu, penurunan berat badan yang signifikan juga dapat memberikan manfaat terhadap masalah kesehatan yang berkaitan dengan obesitas.

Namun, keputusan untuk menggunakan VLCD harus dibuat setelah penilaian medis.

Memiliki berat badan berlebih tidak otomatis berarti seseorang membutuhkan VLCD.

Untuk banyak orang, pola makan dengan defisit kalori yang lebih moderat dan perubahan gaya hidup secara bertahap justru lebih sesuai untuk mencapai dan mempertahankan berat badan dalam jangka panjang.

Apakah Semua Orang Boleh Menjalani VLCD?

Tidak.

Karena VLCD sangat membatasi asupan energi, metode ini tidak cocok untuk semua orang.

Kondisi seperti kehamilan dan menyusui merupakan contoh keadaan yang tidak sesuai untuk VLCD sebagai metode penurunan berat badan. Beberapa guideline juga menekankan perlunya kehati-hatian pada kondisi medis tertentu dan pentingnya evaluasi sebelum memulai program.

Orang yang memiliki penyakit tertentu atau sedang menggunakan obat, terutama obat untuk diabetes dan tekanan darah, juga memerlukan pengawasan lebih ketat karena kebutuhan atau dosis obat dapat berubah seiring dengan penurunan berat badan dan perubahan asupan makanan.

Karena itu, jangan memulai VLCD hanya berdasarkan rekomendasi dari media sosial atau pengalaman orang lain.

Apa Bahaya Menjalani VLCD Tanpa Pengawasan Dokter Gizi atau Ahli Gizi?

VLCD dapat memberikan hasil yang cepat, tetapi semakin rendah asupan kalori, semakin penting memastikan kebutuhan nutrisi dan kondisi kesehatan tetap terpantau.

Beberapa masalah yang dapat terjadi antara lain:

1. Kekurangan Nutrisi

Jika seseorang hanya mengurangi makanan tanpa memperhatikan komposisi nutrisi, tubuh dapat kekurangan protein, vitamin, mineral, atau zat gizi lainnya.

Inilah salah satu alasan VLCD medis menggunakan formula atau perencanaan diet yang dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi meskipun kalorinya sangat rendah.

2. Lemas dan Sulit Beraktivitas

Asupan energi yang sangat rendah dapat menyebabkan tubuh terasa lemas, mudah lelah, pusing, atau sulit melakukan aktivitas sehari-hari.

Keluhan seperti konstipasi, mual, diare, rambut rontok, dan rasa lebih mudah kedinginan juga dapat terjadi pada diet sangat rendah kalori.

3. Kehilangan Massa Otot

Penurunan berat badan yang cepat tidak hanya berasal dari lemak.

Sebagian massa bebas lemak juga dapat ikut berkurang. Karena itu, pemenuhan protein, pemantauan komposisi tubuh, serta strategi aktivitas fisik yang sesuai dapat menjadi bagian penting dari program.

4. Batu Empedu

Penurunan berat badan yang cepat dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu.

Risiko ini telah dikaitkan dengan VLCD maupun metode lain yang menyebabkan penurunan berat badan secara cepat.

5. Perubahan Gula Darah dan Tekanan Darah

Pada pasien yang mengonsumsi obat diabetes atau obat tekanan darah, perubahan asupan makanan dan penurunan berat badan dapat menyebabkan kebutuhan obat berubah.

Tanpa pemantauan, kondisi seperti gula darah terlalu rendah atau tekanan darah terlalu rendah dapat terjadi pada sebagian pasien.

6. Berat Badan Mudah Naik Kembali

Salah satu tantangan VLCD adalah mempertahankan hasil setelah diet selesai.

Jika setelah VLCD seseorang langsung kembali ke pola makan sebelumnya tanpa strategi pemeliharaan, berat badan dapat kembali meningkat.

Karena itu, fase transisi dan pemeliharaan sama pentingnya dengan fase VLCD itu sendiri.

Bagaimana Cara Aman Transisi dari VLCD ke Pola Makan Normal?

Setelah menjalani VLCD, seseorang mungkin merasa khawatir bahwa makan kembali akan langsung membuat berat badan naik.

Padahal, tubuh memang perlu kembali mendapatkan variasi makanan yang lebih luas.

Transisi sebaiknya dilakukan secara terencana dan dengan pendampingan tenaga kesehatan, bukan dengan langsung kembali ke pola makan sebelum diet.

1. Jangan Langsung Kembali ke Pola Makan Lama

Tujuan setelah VLCD bukan kembali ke kebiasaan makan sebelum program.

Pola makan perlu diarahkan menjadi pola yang seimbang dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

2. Tambahkan Jenis Makanan Secara Bertahap

Setelah fase VLCD selesai, jenis dan jumlah makanan dapat diperluas sesuai rencana yang diberikan dokter atau ahli gizi.

Pola makan dapat mulai mencakup berbagai sumber protein, sayur, buah, karbohidrat, dan lemak sehat dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.

3. Tetap Perhatikan Porsi

Setelah terbiasa dengan asupan kalori yang sangat rendah, penting untuk memahami kembali ukuran porsi yang sesuai.

Bukan berarti harus terus makan sangat sedikit, tetapi jumlah makanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi dan target pemeliharaan berat badan.

4. Pertahankan Kebiasaan Sehat

Pola makan seimbang, aktivitas fisik sesuai kemampuan, tidur cukup, dan pengelolaan stres tetap menjadi bagian penting setelah VLCD.

Tujuannya adalah agar berat badan yang sudah turun dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

5. Lakukan Pemantauan Berat Badan

Sedikit perubahan berat badan setelah transisi tidak selalu berarti program gagal.

Tubuh mengalami perubahan ketika asupan makanan kembali meningkat, termasuk perubahan cairan dan isi saluran cerna.

Yang lebih penting adalah melihat tren berat badan dari waktu ke waktu dan melakukan penyesuaian jika berat badan terus meningkat.

Jangan Menerapkan VLCD tanpa Pendampingan Dokter

Jika ingin menurunkan berat badan, jangan diet sembarangan seperti VLCD karena banyak risiko kesehatannya. Apalagi jika dilakukan tanpa pendampingan dokter.

Lebih baik, turun berat badan dengan pendampingan tenaga kesehatan profesional seperti dokter spesialis gizi klinik.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia program penurunan berat badan dengan pendampingan dokter spesialis gizi klinik. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.