84583-_1_-1200x800.webp

Olahraga membuat tubuh lebih sehat, bugar, dan kuat. Namun, masih banyak orang yang lupa atau menunda minum setelah olahraga. Padahal, kebiasaan ini bisa menimbulkan berbagai dampak buruk bagi tubuh, mulai dari dehidrasi ringan hingga gangguan fungsi organ. Ditambah dengan orang yang bangga tidak minum saat atau setelah olahraga.

Jadi, apa saja bahaya tidak minum setelah olahraga? Berikut bahayanya!

Bahaya Tidak Minum Setelah Olahraga

Tidak segera minum setelah berolahraga dapat memicu berbagai masalah kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

1. Dehidrasi

Dehidrasi adalah risiko paling umum jika tidak minum setelah olahraga. Berikut gejala dehidrasi setelah olahraga

  • Haus berlebihan
  • Mulut dan bibir kering
  • Urin (pipis) berwarna kuning pekat
  • Pusing dan lemas

Jika hal ini dibiarkan, dehidrasi dapat mengganggu kinerja jantung dan ginjal. Jadi, ada organ dalam yang terancam jika Anda tidak minum setelah olahraga, apalagi jika Anda berolahraga dengan tipe endurance.

2. Kram dan Nyeri Otot

Kurangnya cairan dan elektrolit membuat otot lebih mudah mengalami kram, terutama setelah latihan intensitas sedang hingga berat. 

3. Penurunan Performa Fisik

Tidak minum setelah olahraga menyebabkan suplai oksigen dan nutrisi ke otot menurun, sehingga tubuh terasa cepat lelah dan performa olahraga berikutnya ikut menurun.

4. Gangguan Fungsi Ginjal

Ginjal membutuhkan cairan yang cukup untuk menyaring zat sisa. Kurang minum setelah olahraga dapat meningkatkan risiko:

  • Urin pekat
  • Batu ginjal
  • Gangguan fungsi ginjal pada kondisi ekstrem

Tidak salah jika banyak pihak/nakes yang mengatakan bahwa ginjal bisa terganggu jika Anda berolahraga tanpa minum (saat atau pun setelah).

5. Pusing dan Penurunan Tekanan Darah

Kehilangan cairan tanpa penggantian yang cukup dapat menurunkan volume darah, sehingga memicu pusing, mual, bahkan risiko pingsan.

6. Proses Pemulihan Menjadi Lebih Lama

Tanpa hidrasi yang baik, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk memperbaiki jaringan otot dan mengembalikan energi setelah olahraga.

Jika pemulihan berlangsung lebih lama, maka Anda butuh waktu leibh lama juga untuk bisa latihan lebih berat lagi seperti anaerobik (HIIT) atau latihan interval run/tempo run.

Siapa yang Paling Berisiko Jika Tidak Minum Setelah Olahraga?

Tidak semua orang memiliki risiko yang sama. Namun, beberapa kalangan ini memiliki risiko tinggi pada kesehatan jika tiadk minum setelah olahraga.

1. Atlet dan Pelari Jarak Jauh

Atlet endurance kehilangan cairan lebih banyak, sehingga kebutuhan minumnya lebih tinggi. Jadi, jangan sampai sudah lari lebih dari 10 km, tetapi tidak minum sama sekali.

2. Orang dengan Aktivitas Fisik Berat

Pekerja lapangan atau mereka yang berolahraga di cuaca panas lebih rentan mengalami dehidrasi. Jika tidak minum, akan ada banyak gangguan kesehatan.

3. Lansia

Lansia yang berolahraga tentu menjadi teladan. Namun, kebutuhan cairan tetap harus dijaga.

Rasa haus pada lansia sering berkurang, sehingga risiko tidak minum setelah olahraga menjadi lebih besar. Karena itu, perlu minum tanpa muncul rasa haus terlebih dahulu.

Kapan dan Berapa Banyak Harus Minum Setelah Olahraga?

Minum setelah olahraga sebaiknya dilakukan segera. Jangan menunggu haus dahulu baru mau minum air.

Waktu terbaik minum setelah olahraga adalah dalam 30 menit pertama setelah selesai olahraga dan dilanjutkan secara bertahap hingga warna urin kembali jernih (putih).

Untuk olahraga intensitas ringan hingga sedang, air putih cukup, tetapi jika olahraganya di atas 60 menit, sebaiknya Anda minum minuman elektrolit/isotonik, terutama jika banyak berkeringat.

Segera Minum setelah Berolahraga!

Tidak minum setelah olahraga bukanlah kebiasaan sepele Bahkan hal ini sebaiknya jangan dibanggakan (tidak minum setelah olahraga) karena ada bahaya untuk kesehatan. 

Dehidrasi, kram otot, penurunan performa, hingga gangguan ginjal dapat terjadi jika tubuh kekurangan cairan. Oleh karena itu, pastikan Anda selalu minum setelah olahraga untuk menjaga kesehatan dan mempercepat pemulihan tubuh.

Pilihannya, Anda bisa minum air putih jika olahraga ringan-sedang dengan durasi kurang dari satu jam dan minuman elektrolit/isotonik jika olahraga dengan intensitas berat atau durasi lebih dari satu jam, apalagi jika mengeluarkan banyak keringat.


21914-_1_-1200x800.webp

Telinga kemasukan kapas cotton bud adalah kondisi yang mungkin terjadi, terutama saat membersihkan telinga sendiri di rumah. 

Banyak orang tidak sadar bahwa ujung kapas cotton bud bisa terlepas dan tertinggal di dalam liang telinga, padahal hal ini berpotensi menimbulkan gangguan pada kesehatan telinga. Bagaimana kapas tersebut bisa masuk ke telinga? Apa gejalanya? Lalu, apa yang harus dilakukan?

Bagaimana Kapas Cotton Bud Bisa Masuk ke Telinga?

Kapas cotton bud bisa masuk ke telinga karena beberapa hal berikut:

  • Cotton bud didorong terlalu dalam ke liang telinga
  • Gerakan tiba-tiba saat membersihkan telinga
  • Kualitas cotton bud yang kurang baik sehingga kapas mudah lepas
  • Membersihkan telinga anak tanpa posisi yang stabi

Ada banyak proses, meski yang jelas, hal ini berbahaya untuk kesehatan telinga, baik itu telinga anak-anak atau pun orang dewasa.

Siapa yang Paling Berisiko Mengalami Telinga Kemasukan Kapas Cotton Bud?

Beberapa kelompok yang lebih berisiko mengalami telinga kemasukan kapas cotton bud antara lain:

  • Anak-anak
  • Lansia
  • Orang yang sering membersihkan telinga sendiri
  • Pengguna cotton bud, terutama yang memakainya setiap hari

Bahaya Telinga Kemasukan Kapas Cotton Bud

Jika tidak segera ditangani, kapas cotton bud yang tertinggal di telinga dapat menyebabkan berbagai masalah. Masalah tersebut adalah:

1. Infeksi Telinga

Kapas yang tertinggal dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri dan jamur, sehingga bisa memicu otitis eksterna atau infeksi telinga luar.

2. Gangguan Pendengaran

Kapas cotton bud yang menyumbat liang telinga bisa menyebabkan pendengaran terasa berkurang atau suara terasa kurang terdengar. Jadi, kapas cotton bud bisa menyebabkan gangguan pendengaran.

3. Nyeri dan Iritasi Telinga

Benda asing di telinga, termasuk kapas cotton bud dapat mengiritasi dinding liang telinga, menimbulkan rasa nyeri, gatal, hingga peradangan.

4. Risiko Luka hingga Gendang Telinga

Jika kapas cotton bud didorong lebih dalam saat mencoba mengeluarkannya sendiri, ada risiko luka pada liang telinga bahkan robeknya gendang telinga.

Tanda dan Gejala Telinga Kemasukan Kapas Cotton Bud

Kenali gejalanya agar bisa segera mencari pertolongan medis. Baik itu gejala ringan atau pun berat, sangat dianjurkan untuk konsultasi ke dokter spesialis THT.

1. Gejala Ringan

  • Telinga terasa penuh atau tersumbat
  • Pendengaran berkurang
  • Rasa tidak nyaman di telinga

2. Gejala Berat

  • Nyeri telinga yang semakin hebat
  • Keluar cairan atau nanah dari telinga
  • Pusing atau vertigo
  • Telinga berdenging

Cara Mengatasi Telinga Kemasukan Kapas Cotton Bud

a. Hindari Beberapa Hal

Penanganan harus dilakukan dengan cara yang aman agar tidak menimbulkan komplikasi.

Jika telinga kemasukan kapas cotton bud, hindari hal-hal berikut:

  • Mengorek telinga dengan benda keras atau runcing

  • Mendorong cotton bud lebih dalam

  • Meneteskan cairan sembarangan tanpa anjuran medis

b. Berkonsultasi dengan Dokter Spesialis THT

Segera periksa ke dokter spesialis THT jika:

  • Kapas cotton bud-nya tidak bisa dikeluarkan sendiri

  • Telinga terasa nyeri atau berdarah

  • Pendengaran menurun, misalnya suara terasa kurang terdengar

  • Kasus telinga kemasukan cotton bud terjadi pada anak

Dokter spesialis THT akan mengeluarkan kapas menggunakan alat khusus secara aman dan minim risiko.

Cara Mencegah Telinga Kemasukan Kapas Cotton Bud

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Berikut cara agar telinga tidak kemasukan kapas cotton bud.

1. Hindari Membersihkan Telinga Terlalu Dalam

Liang telinga memiliki mekanisme pembersihan alami. Justru, membersihkan telinga di area terlalu dalam justru berisiko mendorong kotoran dan benda asing masuk ke telinga. 

Lebih baik untuk membersihkan telinga bagian luar saja.

2. Gunakan Cotton Bud dengan Aman

Jika tetap ingin menggunakan cotton bud:

  • Bersihkan hanya bagian luar telinga saja
  • Jangan memasukkan cotton bud ke dalam liang telinga
  • Pilih cotton bud berkualitas baik, hati-hati jika sudah ada indikasi robekan kapas

3. Rutin Periksa Telinga ke Dokter

Pemeriksaan telinga secara berkala ke dokter THT membantu menjaga kesehatan telinga dan mencegah masalah serius.

Hati-Hati jika Membersihkan Telinga dengan Cotton Bud

Telinga kemasukan kapas cotton bud adalah kondisi yang mungkin untuk terjadi dan berpotensi berbahaya pada kesehatan telinga jika ditangani dengan cara yang salah. 

Hindari mengeluarkan kapas sendiri dengan cara sembarangan dan segera konsultasikan ke dokter THT untuk penanganan yang aman.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis THT. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


21911-2-1200x800.webp

Mengorek telinga sudah menjadi kebiasaan banyak orang, baik menggunakan cotton bud hingga alat logam kecil. Padahal, kebiasaan ini menyimpan berbagai risiko kesehatan. Niatnya membersihkan, justru mengorek telinga dapat membahayakan kesehatan.

Mengapa Banyak Orang Sering Mengorek Telinga?

Mengapa ya orang-orang sampai banyak sekali yang suka mengorek telinga sampai jadi kebiasaan yang dianggap lumrah? Jawabannya adalah karena rasa gatal, tidak nyaman, atau anggapan bahwa telinga harus selalu bersih membuat banyak orang terbiasa mengorek telinga. 

Serumen atau kotoran telinga sebenarnya berfungsi melindungi telinga dari debu, kuman, dan benda asing, serta membantu menjaga kelembapan liang telinga agar tidak kering dan iritasi. Jaid, mengoreknya secara “manual” justru bisa menimbulkan masalah.

Bahaya Mengorek Telinga Terlalu Sering, Ditambah dengan Cara yang Salah

Mengorek telinga terlalu sering, apalagi dengan cara yang salah, dapat menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan telinga. Berikut bahayanya:

1. Risiko Luka dan Infeksi Telinga

Alat atau jari yang dimasukkan ke dalam telinga dapat melukai kulit liang telinga yang tipis dan sensitif. Luka kecil ini bisa menjadi pintu masuk bagi bakteri dan jamur, sehingga meningkatkan risiko infeksi telinga luar (otitis eksterna).

Jadi, mengorek telinga bisa berbahaya karena dapat menyebabkan infeksi.

2. Kotoran Telinga Semakin Masuk ke Dalam

Alih-alih keluar, mengorek telinga justru sering mendorong kotoran semakin ke dalam mendekati gendang telinga. Bukannya kotoran telinga jadi bersih karena dikorek, justru ternyata kotorannya semakin dalam, sehingga terjadi gangguan pendengaran.

3. Iritasi dan Rasa Gatal Berkepanjangan

Mengorek telinga dapat menghilangkan lapisan pelindung alami pada kulit telinga. Akibatnya, telinga menjadi kering, iritasi, dan terasa semakin gatal, sehingga memicu keinginan untuk mengorek lebih sering.

Jadi, jangan heran kalau habis mengorek telinga, malah muncul iritasi, atau timbul rasa gatal, sehingga ada keinginan untuk mengorek telinga lagi.

4. Risiko Robeknya Gendang Telinga

Jika pengorekan telinga ini dilakukan terlalu dalam atau tidak sengaja tersentak, alat pengorek telinga atau jari bisa melukai hingga merobek gendang telinga. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri hebat pada telinga, gangguan pendengaran, dan muncul infeksi serius. 

Tanda-Tanda Telinga Bermasalah Akibat dari Mengorek Telinga 

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai setelah sering mengorek telinga antara lain (tanda telinga bermasalah): 

1. Nyeri atau Perih pada Telinga

Rasa sakit bisa menandakan adanya luka atau peradangan pada liang telinga.

2. Telinga Berdengung atau Fungsi Pendengaran Mengalami Penurunan

Sumbatan kotoran atau kerusakan pada telinga akibat mengorek dapat menyebabkan telinga berdengung dan muncul gangguan pendengaran.

Seharusnya, tanda-tanda ini akan terlihat dengan tes audiometri.

3. Keluar Cairan dari Telinga

Cairan bening, kekuningan, atau berbau bisa menjadi tanda infeksi yang membutuhkan penanganan medis. Segera ke dokter spesialis THT jika muncul hal seperti ini ya.

Cara Aman Membersihkan Telinga

Daripada mengorek telinga, ada cara yang lebih aman untuk menjaga kebersihan telinga.

1. Biarkan Telinga Membersihkan Diri Sendiri

Pada umumnya, kotoran telinga akan keluar dengan sendirinya melalui gerakan rahang saat mengunyah atau berbicara. Jadi, ada prosedur alaminya tanpa perlu mengorek telinga untuk mengatasi kotoran.

2. Bersihkan Bagian Luar Telinga Saja

Cukup bersihkan bagian luar telinga dengan kain lembut dan kering setelah mandi. Telinga bagian dalam tidak perlu dibersihkan, apalagi kalau pembersihan telinganya menggunakan alat/jari.

3. Periksa ke Dokter Jika Telinga Tersumbat

Jika telinga terasa penuh, pendengaran menurun, atau sering gatal, sebaiknya periksa ke dokter, terutama dokter spesialis THT, untuk mendapatkan pembersihan telinga yang aman, sesuai dengan prosedur medis.

Kapan Harus ke Dokter karena Masalah Telinga?

Segera konsultasi ke dokter spesialis THT jika mengalami masalah pada telinga seperti nyeri telinga hebat, telinga berdarah, keluar cairan, atau pendengaran menurun setelah mengorek telinga, serta kotoran telinga menumpuk. Penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi lebih lanjut.

Jangan Mengorek Telinga 

Mengorek telinga memiliki lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya. Mungkin akan terasa kalau kotoran telinga makin sedikit saat telinga dikorek, padahal kenyataannya, ternyata kotorannya justru makin ke dalam telinga.

Jika muncul gangguan pendengaran, iritasi dan perih, bahkan keluar cairan dari telinga setelah mengorek. Segera ke dokter spesialis THT untuk penanganan lebih lanjut.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis THT dan layanan seputar telinga seperti irigasi telinga (pembersihan telinga) dan audiometri (cek kualitas pendengaran). Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


15383-_2_-1200x800.webp

Telinga kotor tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan dari segi estetika, tetapi juga bisa mengganggu kualitas dari pendengaran. Ada orang-orang yang bahkan membiarkan kotorannya menumpuk hingga akhirnya dibersihkan lewat irigasi telinga. Ada juga yang membersihkannya sendiri.

Pertanyaannya, apa penyebab dari telinga kotor? Bagaimana solusinya?

Apa Itu Telinga Kotor?

Telinga kotor sebenarnya adalah penumpukan serumen atau kotoran telinga yang diproduksi secara alami oleh tubuh. Serumen pada telinga memiliki fungsi penting, antara lain:

  • Melindungi saluran telinga dari debu dan kuman
  • Menjaga kelembapan kulit telinga
  • Mencegah masuknya benda asing ke telinga

Masalahnya muncul ketika serumennya mengeras atau menumpuk, sehingga telinga menjadi kotor dan pendengaran mengalami gangguan.

Apakah Telinga Kotor itu Berbahaya?

Pada kondisi tertentu, telinga kotor dapat menyebabkan:

  • Penurunan pendengaran untuk sementara waktu
  • Rasa penuh atau tersumbat
  • Nyeri telinga
  • Infeksi telinga luar

Jadi apakah telinga kotor berbahaya? Tergantung dari gangguan yang muncul setelah telinganya kotor. Karena itu, sebaiknya rutin melakukan pembersihan telinga.

Penyebab Telinga Menjadi Kotor

Penumpukan kotoran telinga dapat terjadi karena beberapa faktor. Yaitu:

1. Produksi Serumen Berlebih

Sebagian orang secara alami memproduksi serumen lebih banyak sehingga mudah menumpuk. Jadi, ada beberapa orang yang memang telinganya lebih mudah mengalami penumpukan kotoran. Mirip dengan orang yang lebih mudah muncul karang giginya.

2. Kebiasaan Membersihkan Telinga dengan Cara yang Salah

Membersihkan telinga dengan cara yang salah seperti menggunakan cotton bud justru dapat:

  • Mendorong kotoran lebih dalam ke bagian dalam telinganya
  • Menyebabkan sumbatan 
  • Melukai saluran telinga

3. Faktor Usia dan Bentuk Saluran Telinga

Lansia dan orang dengan saluran telinga sempit lebih rentan mengalami telinga yang kotor.

Ciri-Ciri Telinga Kotor

Telinga kotor memiliki gejala yang cukup khas. Beberapa tanda telinga kotor meliputi:

  • Pendengaran terasa berkurang (jadi merasa budeg)
  • Telinga terasa penuh atau ada yang terasa tersumbat
  • Telinga berdenging
  • Terdapat gatal atau rasa yang tidak nyaman

Kapan harus ke Dokter Terkait Telinga Kotor?

Segera periksakan ke dokter jika telinga kotor disertai:

  • Nyeri hebat
  • Keluar cairan atau nanah
  • Pusing atau vertigo

Anda bisa ke dokter spesialis THT untuk menangani gejala dan masalah tersebut.

Cara Membersihkan Telinga Kotor yang Aman

Membersihkan telinga harus dilakukan dengan cara yang tepat agar tidak menimbulkan masalah.

1. Cara Alami Membersihkan Telinga dengan Aman

Beberapa cara pembersihan telinga yang relatif aman secara alami adalah::

  • Membersihkan bagian luar telinga saja
  • Menggunakan obat tetes telinga sesuai anjuran
  • Membiarkan telinga membersihkan diri secara alami

Untuk pembersihan telinga kotor, terutama yang kotorannya ada di bagian dalam telinga, sangat dianjurkan untuk menggunakan prosedur irigasi telinga yang dilakukan oleh dokter spesialis THT.

2. Cara Membersihkan Telinga yang Tidak Dianjurkan

Hindari membersihkan telinga dengan:

  • Cotton bud
  • Penjepit atau benda keras
  • Lilin telinga (ear candle)

Cara di atas tidak dianjurkan karena rawan ada yang tertinggal di dalam, bahkan menyebabkan infeksi, bahkan kotorannya makin ke dalam telinga, bukan justru dikeluarkan.

Jika Kondisi Telinga Kotor, Harus ke Dokter Apa?

Jika telinga kotor hingga terasa tersumbat, dan tidak membaik, bahkan terjadi gangguan pendengaran, sebaiknya periksa ke tenaga medis, yaitu dokter spesialis THT. Dokter spesialis THT dapat:

  • Melihat kondisi saluran telinga dengan alat khusus
  • Membersihkan kotoran telinga secara aman dengan alat-alat kesehatan 
  • Menangani infeksi pada telinga jika ditemukan

Metode pembersihan telinga ada banyak, antara lain:

  • Irigasi telinga
  • Suction atau dengan kata lain, penyedotan
  • Alat khusus di bawah penglihatan langsung

Cara Mencegah Telinga Kotor (Tips Menjaga Kebersihan Telinga)

Mencegah lebih baik daripada mengobati, berikut cara mencegah telinga kotor:

Beberapa cara untuk menjaga kebersihan telinga, antara lain::

  • Hindari kebiasaan mengorek telinga, baik itu dengan jari atau pun alat seperti cotton bud
  • Gunakan penutup telinga ketika berada di lingkungan berdebu
  • Kontrol rutin ke dokter spesialis THT jika sering mengalami sumbatan
  • Kurangi pemakaian earphone
  • Rutin membersihkan earphone

Telinga Kotor dan Mengganggu Pendengaran? Ayo ke Dokter Spesialis THT

Telinga kotor adalah kondisi umum yang bisa terjadi pada siapa saja. Namun, jika sudah mengganggu pendengaran, bahkan menumpuk kotorannya, sebaiknya segera ke dokter spesialis THT untuk dilakukan pembersihan telinga.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia layanan irigasi telinga (pembersihan telinga) yang dilakukan oleh dokter spesialis THT.

Ingin membersihkan telinga/irigasi telinga? Yuk klik tautan ini!


15875-1-1200x800.webp

Sudah menjaga pola makan, rutin bergerak, dan merasa diet berjalan cukup konsisten, tetapi angka di timbangan tidak berubah sama sekali. Kondisi ini sering membuat frustasi dan menimbulkan rasa ingin menyerah. 

Situasi seperti ini cukup umum terjadi dalam proses penurunan berat badan dan dikenal sebagai fase plateau atau berat badan stuck.

Apa Itu Fase Plateau?

Fase plateau adalah kondisi ketika berat badan tidak lagi turun meskipun pola makan dan aktivitas fisik masih dilakukan seperti sebelumnya. Pada fase ini, tubuh seakan “berhenti” merespons usaha penurunan berat badan yang sedang dijalani.

Kondisi ini bukan tanda kegagalan, melainkan bagian alami dari proses adaptasi tubuh. Seiring berkurangnya berat badan, kebutuhan energi tubuh juga ikut berubah, sehingga strategi yang awalnya efektif bisa menjadi kurang optimal.

Penyebab Berat Badan Stuck

Salah satu penyebab utama fase plateau adalah penurunan kebutuhan kalori seiring turunnya berat badan. Tubuh menjadi lebih efisien dalam menggunakan energi, sehingga pembakaran kalori tidak sebesar sebelumnya.

Selain itu, asupan kalori yang tidak disadari meningkat, kurang variasi aktivitas fisik, atau kelelahan tubuh akibat diet terlalu ketat juga dapat memicu berat badan stuck. Stres dan kurang tidur turut berperan karena dapat memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan penyimpanan lemak.

Berapa Lama Fase Plateau Berlangsung?

Lama fase plateau bisa berbeda pada setiap orang. Pada sebagian orang, kondisi ini berlangsung singkat dan membaik dengan sedikit penyesuaian. Pada lainnya, fase plateau bisa bertahan lebih lama, terutama jika tubuh benar-benar membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Ciri-ciri Berat Badan Stuck

Ciri paling jelas dari fase plateau adalah angka timbangan yang tidak berubah dalam waktu tertentu. Namun, tanda lain juga bisa muncul, seperti lingkar tubuh yang tidak banyak berubah, motivasi yang menurun, atau tubuh terasa lebih cepat lelah meskipun pola makan dan aktivitas masih sama.

Pada kondisi ini, sebagian orang juga mulai merasa frustasi karena usaha yang dilakukan tidak menunjukkan hasil seperti sebelumnya.

Cara Mengatasi Berat Badan Stuck

Cara mengatasi fase plateau adalah dengan melakukan evaluasi pola makan dan akativitas yang saat ini dilakukan. Berikut hal yang bisa dilakukan:

1. Mengatur Ulang Porsi Makan

Seiring turunnya berat badan, kebutuhan kalori tubuh ikut berubah. Evaluasi kembali porsi makan membantu mencegah asupan kalori yang tanpa disadari sudah terlalu tinggi.

2. Memastikan Asupan Protein Cukup

Asupan protein yang cukup akan mendukung metabolisme tetap optimal saat diet.

3. Menambah Variasi Aktivitas Fisik

Melakukan jenis olahraga yang sama terus-menerus dapat membuat tubuh beradaptasi. Menambah variasi, intensitas, atau durasi aktivitas fisik dapat kembali merangsang pembakaran energi.

4. Memperbaiki Kualitas Tidur 

Kurang tidur dapat mengganggu hormon pengatur nafsu makan dan metabolisme. Tidur yang cukup dan berkualitas membantu tubuh bekerja lebih efisien dalam mengatur berat badan.

5. Memberi Tubuh Waktu Istirahat dari Defisit Kalori (Diet Break)

Diet break membantu mengurangi stres metabolik akibat defisit kalori berkepanjangan. Cara ini juga dapat membantu menjaga kepatuhan diet dalam jangka panjang.

Cara Mencegah Fase Plateau atau Berat Badan Stuck

Pencegahan fase plateau dapat dilakukan dengan cara berikut:

1. Menerapkan Pola Penurunan Berat Badan yang Realistis Sejak Awal

Target penurunan berat badan yang terlalu agresif meningkatkan risiko plateau. Pendekatan bertahap lebih mudah dipertahankan dan ramah bagi tubuh.

2. Menghindari Diet Ekstrem

Pembatasan makan yang terlalu ketat dapat memperlambat metabolisme. Diet ekstrem juga meningkatkan risiko kehilangan massa otot dan kelelahan.

3. Menjaga Pola Makan Seimbang

Asupan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang seimbang membantu fungsi tubuh tetap optimal. Pola makan seimbang juga lebih mudah dijalani dalam jangka panjang.

4. Menyesuaikan Kebutuhan Kalori

Kebutuhan kalori dapat berubah seiring perubahan berat badan dan aktivitas. Penyesuaian secara berkala membantu menjaga defisit kalori tetap efektif tanpa berlebihan.

Jangan hanya fokus pada timbangan, tetapi fokus pada perubahan kebiasaan. Pendekatan ini membuat proses penurunan berat badan lebih stabil dan berkelanjutan.

Anda bisa mengestimasi kebutuhan kalori Anda dengan tautan ini.

Jika Mengalami Berat Badan Stuck, Sebaiknya ke Dokter Apa?

Jika mengalami berat badan stuck, apalagi jika disertai keluhan lain seperti tubuh sangat lemas, pusing, atau gangguan kesehatan tertentu, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. 

Konsultasi dengan dokter gizi atau ahli gizi dapat membantu menyusun strategi penurunan berat badan yang lebih sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pendampingan profesional akan membantu memastikan proses yang dijalani tetap aman dan efektif.

Konsultasi Gizi jika Berat Badan Stuck atau Berada di Fase Pleateau

Di saat sedang mengalami berat badan stuck atau fase plateau, sebaiknya konsultasi ke dokter spesialis gizi klinik agar dapat melewati fase ini dengan sehat dan tidak yoyo atau relapse.

Di Primecare Clinic tersedia dokter spesialis gizi klinik. Anda bisa konsultasi dengan dokter tersebut jika berat badan stuck/tidak kunjung turun atau masalah lain seputar berat badan. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


19336-_1_-1200x801.webp

Medical Check Up (MCU) sering menjadi syarat penting untuk pekerjaan, pendidikan, atau keperluan asuransi. Namun, tidak sedikit orang yang ragu untuk melakukan MCU karena sedang flu. Pertanyaannya, apakah boleh MCU saat flu, atau sebaiknya ditunda hingga sembuh dulu?

Apakah Boleh MCU Saat Flu?

Secara umum, MCU tetap boleh dilakukan saat flu ringan, tetapi ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan.

1. Flu Ringan Masih Memungkinkan MCU

Jika flu hanya berupa pilek ringan tanpa demam tinggi, MCU biasanya tetap bisa dilakukan. Namun, hasil beberapa pemeriksaan bisa sedikit terpengaruh.

2. Flu Sedang hingga Berat Sebaiknya Menunda MCU

Jika flu disertai demam, batuk berat, nyeri badan, atau lemas, sebaiknya MCU ditunda sampai kondisi membaik agar hasil pemeriksaan lebih akurat. 

Sebaiknya, konsultasi ke dokter dulu jika Anda sedang flu sebelum melakukan MCU. 

Pengaruh Flu terhadap Hasil MCU

Flu dapat memengaruhi beberapa parameter dalam pemeriksaan kesehatan. Contohnya:

1. Hasil Tes Darah Bisa Tidak Akurat

Infeksi virus seperti flu dapat meningkatkan kadar sel darah putih, sehingga hasil tes darah tidak mencerminkan kondisi normal tubuh pada bagian sel darah putih.

2. Pemeriksaan Rontgen Dada Bisa Terganggu

Batuk atau infeksi saluran pernapasan dapat menyebabkan bayangan tertentu pada rontgen dada yang bisa rawan disalahartikan sebagai gangguan paru.

3. Tekanan Darah dan Detak Jantung Bisa Berubah

Saat sakit, tekanan darah dan denyut jantung bisa meningkat akibat stres tubuh melawan infeksi. Jadi, ada data yang tidak akurat.

Risiko Melakukan MCU Saat Flu

Jadi, selain hasil yang kurang optimal, ada beberapa risiko lain yang perlu diperhatikan:

1. Hasil MCU Tidak Valid

MCU saat flu bisa menghasilkan temuan sementara yang sebenarnya akan hilang setelah sembuh. Contohnya adalah kenaikan sel darah putih dan tekanan darah.

2. Risiko Menularkan ke Orang Lain

Flu adalah penyakit menular. Jadi, jika Anda memaksakan untuk melakukan MCU saat flu , maka akan ada risiko penularan virus ke tenaga medis atau pasien lain.

Jadi, Bagaimana Cara agar MCU Optimal?

Agar hasil MCU akurat dan optimal, waktu pemeriksaan sangat penting. Disarankan untuk:

1. MCU Setelah Flu Sembuh Total

Disarankan melakukan MCU setelah flu benar-benar sembuh, biasanya 3-7 hari setelah gejalanya hilang.

2. Kondisi Tubuh Harus Fit dan Stabil

Pastikan tubuh tidak demam, tidak sedang mengonsumsi obat flu tertentu, dan cukup istirahat sebelum MCU. Jadi, MCU-nya bisa optimal.

Kapan Tetap Harus MCU Meski Sedang Flu?

Dalam kondisi tertentu, MCU tidak bisa ditunda. Misalnya, jika MCU bersifat darurat atau sudah jelas ada deadline-nya, seperti batas waktu kerja atau pendidikan. Pada kasus ini, informasikan kondisi flu kepada petugas medis sebelum pemeriksaan.

Anda juga sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Mereka dapat menentukan apakah MCU tetap dilanjutkan atau sebagian pemeriksaan perlu dijadwalkan ulang.

MCU Saat Sehat Lebih Baik, Kecuali Ada Keadaan Terdesak

MCU saat flu ringan masih boleh dilakukan, tetapi lebih baik MCU saat sehat agar hasil MCU-nya akurat dan optimal. Namun, jika ada kondisi terdesak, jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter dan mengabari tenaga kesehatan tentang flu yang Anda alami sebelum MCU.

Di Primecare Clinic tersedia MCU. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


52-1-1200x800.webp

Medical Check Up (MCU) sering menjadi syarat kerja, pendidikan, atau pemeriksaan kesehatan rutin seperti MCU setiap tahunnya. Namun, tidak sedikit perempuan yang ragu menjalani MCU karena sedang menstruasi. Pertanyaannya, apakah boleh MCU saat haid?

Apakah MCU Saat Haid Diperbolehkan?

Secara umum, MCU tetap boleh dilakukan saat haid. Namun, hasil beberapa jenis pemeriksaan bisa terpengaruh oleh kondisi haid, sehingga ada juga MCU yang tidak boleh dilakukan saat haid.

Untuk itu, perlu adanya komunikasi antara pasien dengan dokter/petugas kesehatan agar MCU-nya jelas apakah boleh dilakukan saat haid.

Pemeriksaan MCU yang bisa Dilakukan saat Haid

Tidak semua tes dalam MCU terpengaruh oleh kondisi haid. Berikut beberapa check up atau cek laboratorium yang bisa dilakukan saat haid:

1. Pemeriksaan Fisik Umum

Pemeriksaan fisik umum seperti:

  • Pengukuran tekanan darah
  • Berat dan tinggi badan
  • Pemeriksaan mata dan pendengaran (seperti audiometri)
  • Skrining jantung dan paru (misal spirometri)

Tidak dipengaruhi oleh siklus menstruasi dan tetap bisa dilakukan seperti biasa.

2. Tes Darah Rutin

Sebagian besar tes darah masih dapat dilakukan saat haid, contohnya:

  • Gula darah (puasa, sewaktu, dsb.)
  • Cek kolesterol
  • Fungsi hati
  • Fungsi ginjal

Sebagai catatan, pada sebagian perempuan, kadar hemoglobin (Hb) bisa sedikit lebih rendah saat haid karena perdarahan menstruasi. Jadi, dikembalikan lagi ketika konsultasi dengan dokter, terutama jika pemeriksaannya berkaitan dengan hemoglobin.

Pemeriksaan MCU yang Sebaiknya Ditunda saat Haid

Beberapa jenis pemeriksaan memang kurang disarankan dilakukan saat haid karena hasilnya bisa menjadi tidak akurat. Berikut contoh cek lab atau pemeriksaannya:

1. Tes Urin

Tes urin saat haid berisiko tercampur dengan darah menstruasi, sehingga dapat menyebabkan:

  • Hasil positif palsu darah dalam urine
  • Kesalahan interpretasi untuk penyakit infeksi saluran kemih

Pemeriksaan urine sebaiknya dilakukan setelah haid sudah selesai. Jangan lupa untuk update kondisi Anda dengan dokter jika mau tes urin.

2. Pap Smear dan Pemeriksaan Organ Reproduksi

Untuk pemeriksaan seperti:

  • Pap smear
  • IVA test
  • Pemeriksaan ginekologi

Sebaiknya ditunda karena darah haid dapat mengganggu visualisasi dan keakuratan hasil pemeriksaan.

3. USG Payudara

USG payudara juga termasuk pemeriksaan yang sebaiknya ditunda jika sedang haid. Hal ini karena haid bisa menyebabkan fluktuasi hormon, sehingga payudara mengalami pembengkakan, mengencang, terasa nyeri, hingga jaringan pada payudara bisa tidak terlihat jelas, sehingga hasil USG-nya kurang akurat.

Apakah Hasil MCU saat Haid bisa Tidak Akurat?

Jadi, intinya, haid bisa memengaruhi beberapa hasil MCU, terutama:

  • Hemoglobin (Hb)
  • Pemeriksaan urin
  • Tes yang berhubungan dengan organ reproduksi

Karena itu, penting untuk memberi tahu petugas medis bahwa Anda sedang menstruasi agar hasil dapat diinterpretasikan dengan tepat, atau dilakukan penundaan agar hasil yang didapatkan lebih akurat.

Kapan Waktu Terbaik Melakukan MCU bagi Perempuan?

Waktu terbaik melakukan MCU adalah 2-7 hari setelah haid selesai dengan kondisi tubuh lebih stabil agar risiko hasil tidak akurat jadi lebih kecil.

Namun, jika MCU bersifat mendesak (misalnya untuk syarat kerja), pemeriksaan tetap dapat dilakukan dengan catatan tertentu. Tentu hal ini harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.

Tips MCU saat sedang Haid

Agar pemeriksaan tetap optimal meski sedang haid, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:

1. Sampaikan Kondisi Haid ke Petugas

Jangan ragu untuk memberi tahu bahwa Anda sedang haid ke:

  • Dokter
  • Perawat
  • Petugas laboratorium

Informasi ini membantu penyesuaian pemeriksaan dan interpretasi hasil.

2. Gunakan Pembalut yang Nyaman

Pilih pembalut yang:

  • Daya serap baik
  • Tidak mengganggu aktivitas pemeriksaan

Hal ini penting untuk kenyamanan selama MCU.

MCU saat Haid: Ada Pemeriksaan yang Bisa dan Tidak Bisa Dilakukan

Ada pemeriksaan yang bisa dilakukan dan sebaiknya tidak dilakukan saat haid. Untuk itu, penting agar Anda berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum melakukan MCU.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, dan Tebet, Jakarta Selatan tersedia layanan MCU, klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


545-_1_-1200x800.webp

Eksim atau dermatitis adalah kondisi peradangan kulit yang sering menyebabkan gatal, kemerahan, kulit kering, hingga bersisik. Pastinya kondisi ini sangat tidak nyaman, apalagi jika dilihat di cermin.

Pertanyaannya, kalau periksa eksim harus ke dokter apa? Berikut jawabannya! 

Dokter yang Tepat untuk Menangani Kasus Eksim

Jawaban paling tepat untuk pertanyaan kalau periksa eksim harus ke dokter apa adalah dokter spesialis kulit dan kelamin (SpKK) dan dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika (Sp.DVE)

1. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Sp.KK) dan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika (Sp.DVE)

Dokter Sp.KK dan Sp.DVE memiliki keahlian khusus dalam menangani berbagai penyakit kulit, termasuk eksim. Dokter spesialis tersebut dapat:

  • Menentukan jenis eksim yang dialami
  • Mengidentifikasi faktor penyebab eksim
  • Memberikan obat topikal atau oral yang sesuai dengan kondisi eksim
  • Menyusun rencana perawatan penanganan eksim untuk jangka panjang 

Apakah Bisa ke Dokter Umum Terlebih Dahulu untuk Konsultasi Terkait Eksim?

Ya, Anda bisa memulai pemeriksaan ke dokter umum, terutama jika gejala eksim ini masih ringan. Dokter umum dapat memberikan pengobatan awal dan akan merujuk ke dokter kulit jika:

  • Eksim tidak kunjung membaik
  • Gejala eksim semakin parah
  • Eksim sering kambuh
  • Eksim mulai mengganggu aktivitas sehari-hari

Kapan Harus Segera Periksa ke Dokter terkait Eksim?

1. Eksim Semakin Parah dan Tidak Membaik

Jika keluhan tidak membaik setelah perawatan mandiri atau obat bebas atau gejalanya semakin parah, sebaiknya segera konsultasi ke dokter spesialis kulit. 

2. Muncul Gejala Infeksi

Gejala infeksi meliputi:

  • Nanah
  • Nyeri hebat
  • Demam
  • Kulit terasa hangat dan bengkak

Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera. Jangan tunda untuk segera ke dokter spesialis kulit.

3. Kasus Eksim pada Anak dan Bayi

Eksim pada bayi dan anak sebaiknya ditangani langsung oleh dokter agar terapi aman dan sesuai usia.

Jangan Ragu untuk Ke Dokter untuk Menangani Eksim

Untuk menangani eksim, Anda bisa ke dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK) atau dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika (Sp.DVE). Namun, Anda bisa ke dokter umum dulu jika gejalanya masih ringan. 

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK) di cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dan dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika (Sp.DVE) di cabang Tebet, Jakarta Selatan. Klik tautan ini untuk konsultasi lebih lanjut!


1303-1200x801.webp

Benjolan di leher sering menimbulkan kekhawatiran pada diri, terutama jika bisulnya tidak kunjung hilang, apalagi dalam waktu yang lama. 

Masalahnya, harus ke dokter apa jika ada benjolan di leher? Berikut jawabannya, jangan khawatir ya!

Harus ke Dokter Apa Jika Ada Benjolan di Leher?

Pemilihan dokter bergantung pada hasil pemeriksaan awal dan penyebab dari benjolannya. Berikut daftar dokter yang bisa Anda kunjungi jika terdapat benjolan di leher Anda.

1. Dokter Umum

Dokter umum merupakan pilihan pertama untuk pemeriksaan benjolan di leher. 

Dokter umum akan melakukan pemeriksaan awal dan memberikan rujukan ke dokter spesialis bila diperlukan.

2. Dokter Spesialis THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan)

Dokter spesialis THT menangani benjolan yang berkaitan pada leher di bagian samping. 

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika benjolan diduga penyebabnya adalah penyakit yang bersifat sistemik, infeksi kronis, atau terjadi gangguan kekebalan tubuh, maka dokter spesialis penyakit dalam atau internis akan melakukan evaluasi lebih lanjut terkait bisulnya.

4. Dokter Spesialis Bedah

Dokter spesialis bedah diperlukan jika benjolan mengalami kasus berikut ini:

  1. Tidak kunjung mengecil
  2. Terus membesar, 
  3. Membutuhkan tindakan biopsi dan pengangkatan

5. Dokter Spesialis Onkologi

Apabila karena bisul ini terdapat kecurigaan adanya kanker leher, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis onkologi untuk penanganan khusus.

Apakah Benjolan di Leher Berbahaya?

Tidak semua benjolan di leher berbahaya. Sebagian besar disebabkan oleh infeksi dan dapat sembuh dengan pengobatan yang tepat. Namun, benjolan yang menetap atau memburuk tetap perlu evaluasi medis.

Karena argumen inilah, lebih baik jika ada benjol di leher, konsultasi ke dokter umum dulu untuk penanganan awal.

Ciri-Ciri Benjolan di Leher yang Perlu Diwaspadai, sehingga Anda perlu ke Dokter

Segera periksakan diri ke dokter jika benjolan di leher memiliki ciri-ciri berikut ini:

  • Tidak hilang lebih dari 2-3 minggu
  • Bertambah besar
  • Terasa keras
  • Sulit untuk digerakkan
  • Tidak ada sakit atau nyeri, tetapi ada terus
  • Disertai demam berkepanjangan, penurunan berat badan, atau keringat di malam hari
  • Menyebabkan kesulitan menelan

Jangan Ragu untuk Konsultasi Terkait Bisul di Leher

Jika Anda mengalami benjolan di leher dan bertanya harus ke dokter apa jika ada benjolan di leher, sebaiknya kunjungi dokter umum terlebih dahulu untuk pemeriksaan awal. Selanjutnya, dokter umum akan merujuk ke dokter spesialis yang sesuai dengan diagnosa yang mereka lakukan. Pemeriksaan bisul yang mencurigakan akan membantu mencegah risiko penyakit yang lebih serius.

Tersedia Dokter Umum dan Dokter Spesialis di Primecare Clinic

Saat ini, tersedia dokter umum dan dokter spesialis di Primecare Clinic, baik itu cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru atau pun di cabang Tebet, Jakarta Selatan (Khusus dokter spesialis THT hanya tersedia di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan). Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya terkait jadwal dan reservasi.


37310-_1_-1200x800.webp

Gonore atau kencing nanah adalah salah satu penyakit menular seksual (PMS) yang perlu ditangani dengan cepat dan tepat. Masalahnya, kalau mau konsultasi gonore harus ke dokter apa? Berikut adalah jawabannya!

Konsultasi Gonore ke Dokter Apa?

Jika Anda mencurigai adanya infeksi gonore, misalnya karena kencing bernanah, segera periksakan diri ke dokter berikut ini:

1. Dokter Umum

Dokter umum bisa menjadi langkah pertama untuk konsultasi gonore. 

Dokter umum akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta merujuk ke dokter spesialis bila diperlukan.

2. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK) adalah pilihan utama untuk menangani gonore. 

Dokter spesialis ini berpengalaman dalam diagnosis dan pengobatan penyakit menular seksual, termasuk pemeriksaan laboratorium dan pemberian antibiotik yang sesuai.

Sub spesialis di dokter kulit, seperti Sp.DVE (spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika) juga bisa menangani gonore.

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika gonore menimbulkan komplikasi atau terjadi bersamaan dengan penyakit lain, dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu Anda untuk penanganan lebih lanjut.

4. Dokter Spesialis Obgyn (Khusus Wanita)

Wanita dengan keluhan gonore dapat berkonsultasi ke dokter spesialis obgyn (Sp.OG). Terutama jika terjadi gejala gonore di vagina atau keputihan.

Pemeriksaan untuk Diagnosis Gonore

Untuk mendiagnosa gonore, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Tes urin
  • Pemeriksaan cairan dari uretra, vagina, anus, atau tenggorokan
  • Tes laboratorium untuk mendeteksi bakteri gonore
  • Tes khusus seperti VDRL

Mengapa Gonore harus Segera Ditangani?

Gonore yang tidak ditangani dengan segera atau tidak kunjung diobati dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:

  • Infertilitas baik itu pada pria ataupun wanita
  • Infeksi panggul pada wanita
  • Penyebaran infeksi gonore  ke organ lain

Segera Konsultasi ke Dokter jika Terjadi Gejala/Terinfeksi Gonore

Jadi, jika Anda mencurigai adanya gejala gonore atau sudah terkonfirmasi infeksi gonore, segeralah ke dokter. Dokter umum dan dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK atau Sp.DVE) bisa jadi opsi pertama yang bagus untuk konsultasi.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia dokter umum, dokter spesialis kulit dan kelamin (termasuk Sp.DVE), dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter spesialis obgyn. Ingin konsultasi dengan dokter tersebut terkait gonore? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.