Bagi pasangan yang sedang menjalani program hamil, salah satu situasi yang cukup membingungkan adalah ketika berbagai pemeriksaan sudah dilakukan dan hasilnya dinyatakan normal, tetapi kehamilan tetap belum terjadi.
Ovulasi tampak baik. Saluran telur tidak menunjukkan sumbatan. Pemeriksaan sperma juga berada dalam batas yang dianggap normal. Namun, setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun mencoba, kehamilan belum juga terjadi.
Kondisi seperti ini dikenal sebagai unexplained infertility (UI) atau infertilitas yang belum dapat dijelaskan penyebabnya.
Istilah ini sebenarnya bukan berarti dokter tidak menemukan apa pun. UI merupakan diagnosis eksklusi, yaitu diagnosis yang diberikan setelah evaluasi standar tidak menemukan penyebab infertilitas yang jelas. European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) juga menekankan bahwa UI merupakan diagnosis eksklusi dan bahwa masih terdapat banyak aspek biologis yang belum dapat dinilai melalui pemeriksaan rutin.
Apa Itu Unexplained Infertility (Infertilitas Idiopatik)?
Secara sederhana, unexplained infertility adalah kondisi ketika pasangan mengalami kesulitan memperoleh kehamilan meskipun pemeriksaan dasar kesuburan pada kedua pasangan tidak menemukan penyebab yang jelas.
Infertilitas secara umum didefinisikan sebagai belum terjadinya kehamilan setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual secara rutin tanpa kontrasepsi.
Pada pasangan dengan UI, pemeriksaan standar biasanya menunjukkan:
- wanita mengalami ovulasi;
- setidaknya terdapat satu saluran telur (fallopian tube) yang terbuka;
- tidak ditemukan kelainan anatomi utama yang dapat menjelaskan infertilitas;
- dan pemeriksaan semen pria menunjukkan jumlah serta motilitas sperma yang memadai.
ASRM memperkirakan bahwa hingga sekitar 30% pasangan yang mengalami infertilitas dapat dikategorikan sebagai unexplained infertility setelah evaluasi standar.
Namun, angka tersebut bukan berarti 30% dari seluruh pasangan di masyarakat mengalami UI. Angka tersebut merujuk pada proporsi di antara pasangan yang sudah menjalani evaluasi infertilitas.
Bagaimana Kasus Unexplained Infertility di Indonesia?
Di Indonesia, masalah infertilitas merupakan bagian dari persoalan kesehatan reproduksi yang cukup penting. Namun, data nasional yang secara khusus menggambarkan prevalensi unexplained infertility masih terbatas.
Hal ini berbeda dengan negara-negara yang memiliki angka fertilitas nasional yang lebih terintegrasi.
Karena itu, kurang tepat apabila mengatakan bahwa “sekian persen pasangan di Indonesia mengalami unexplained infertility” tanpa menyebutkan sumber dan populasi penelitian yang digunakan.
Selain itu, jumlah kasus yang terdiagnosis dapat dipengaruhi oleh:
- akses terhadap dokter spesialis;
- ketersediaan pemeriksaan fertilitas;
- kemampuan melakukan analisis semen;
- akses terhadap pemeriksaan patensi tuba;
- keterjangkauan program fertilitas;
- serta kapan pasangan memutuskan untuk mencari pertolongan medis.
Dengan kata lain, kasus unexplained fertiliyu di Indonesia kemungkinan cukup sering ditemukan di klinik fertilitas, tetapi angka nasional yang benar-benar representatif masih belum tersedia dengan baik.
Secara global, ASRM menyebutkan bahwa hingga 30% pasangan infertil dapat memperoleh diagnosis unexplained infertility setelah evaluasi standar. Angka tersebut dapat menjadi gambaran umum, tetapi tidak boleh langsung dianggap sebagai prevalensi Indonesia.
Pemeriksaan Standar yang Sudah Dinyatakan Normal
Sebelum dokter menyebut suatu pasangan mengalami unexplained infertility, pemeriksaan dasar harus dilakukan terlebih dahulu.
Secara umum, evaluasi mencakup kedua pasangan, karena infertilitas bukan hanya masalah wanita atau pria.
1. Pada wanita
Dokter akan mengevaluasi beberapa hal, termasuk:
a. Ovulasi
Apakah ovarium melepaskan sel telur secara teratur?
Hal ini dapat dinilai berdasarkan riwayat siklus menstruasi dan, bila diperlukan, pemeriksaan hormonal atau pemantauan ovulasi dengan USG.
b. Saluran telur
Pemeriksaan seperti HSG (hysterosalpingography) atau metode lain dapat digunakan untuk menilai apakah tuba falopi terbuka.
Setidaknya satu tuba yang terbuka diperlukan agar sperma dan sel telur dapat bertemu secara alami.
c. Rahim dan anatomi reproduksi
USG dapat membantu melihat kondisi rahim dan ovarium serta mendeteksi kelainan anatomi tertentu.
2. Pada pria
Pemeriksaan utama adalah analisis semen/sperma.
Pemeriksaan ini dapat menilai:
- volume semen;
- konsentrasi/jumlah sperma;
- motilitas;
- morfologi;
- serta parameter lainnya.
Jika seluruh evaluasi dasar tersebut tidak menunjukkan kelainan yang dapat menjelaskan mengapa kehamilan belum terjadi, barulah dokter dapat mempertimbangkan diagnosis unexplained infertility.
Kemungkinan Faktor Tersembunyi Penyebab Infertilitas
Pertanyaan yang sering muncul adalah:
“Kalau semua pemeriksaan normal, sebenarnya masalahnya ada di mana?”
Inilah bagian yang membuat UI cukup kompleks.
Pemeriksaan standar tidak mampu menilai seluruh proses reproduksi.
Kehamilan membutuhkan serangkaian proses yang sangat kompleks:
ovulasi → pertemuan sperma dan sel telur → fertilisasi → perkembangan embrio → transportasi embrio → implantasi → perkembangan kehamilan.
Gangguan pada salah satu tahap tersebut dapat menyebabkan kehamilan tidak terjadi.
Beberapa kemungkinan faktor yang tidak selalu dapat diketahui melalui pemeriksaan standar antara lain:
a. Kualitas sperma yang tidak sepenuhnya tergambarkan
Analisis semen memberikan informasi penting, tetapi tidak menggambarkan seluruh fungsi sperma.
Misalnya, pemeriksaan rutin tidak secara langsung menjawab seluruh aspek seperti kemampuan sperma melakukan fertilisasi atau integritas materi genetik sperma.
Namun, pemeriksaan tambahan seperti sperm DNA fragmentation tidak otomatis diperlukan pada semua pasangan dengan unexplained infertility. Pemeriksaan tambahan harus dipilih berdasarkan kondisi klinis dan guideline yang berlaku.
b. Kualitas sel telur
Jumlah dan keberadaan folikel tidak selalu menggambarkan kualitas oosit secara sempurna.
Usia wanita merupakan salah satu faktor yang sangat penting karena kualitas oosit cenderung menurun seiring bertambahnya usia.
c. Gangguan pada proses fertilisasi
Sperma mungkin memiliki jumlah dan motilitas yang baik, tetapi proses interaksi antara sperma dan sel telur tetap dapat mengalami hambatan.
d. Gangguan implantasi
Setelah fertilisasi, embrio masih harus berkembang dan berhasil menempel pada lapisan rahim.
Proses implantasi melibatkan interaksi kompleks antara embrio dan endometrium yang tidak seluruhnya dapat dinilai melalui pemeriksaan rutin.
e. Endometriosis ringan
Endometriosis yang minimal atau ringan terkadang tidak mudah teridentifikasi melalui pemeriksaan rutin dan dapat berkontribusi terhadap gangguan fertilitas pada sebagian wanita.
Namun, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa semua UI disebabkan oleh endometriosis tersembunyi.
f. Faktor biologis yang belum dapat diperiksa secara rutin
Masih banyak aspek reproduksi manusia yang belum dapat diukur secara akurat melalui pemeriksaan klinis sehari-hari.
Inilah salah satu alasan mengapa ESHRE menyebutkan bahwa pada UI terdapat banyak pemeriksaan tambahan yang bukti manfaatnya masih terbatas atau kualitas buktinya rendah.
Jadi, “unexplained” bukan berarti tidak ada penyebab biologis. Bisa saja penyebabnya ada, tetapi teknologi pemeriksaan saat ini belum mampu mengidentifikasinya secara rutin.
Pilihan Program Hamil untuk Pasangan dengan Unexplained Infertility
Diagnosis UI bukan berarti pasangan tidak memiliki peluang untuk mendapatkan kehamilan.
Justru karena tidak ditemukan gangguan spesifik yang dapat langsung diperbaiki, pengobatan biasanya dilakukan berdasarkan probabilitas keberhasilan dan karakteristik pasangan, termasuk usia wanita, lama infertilitas, hasil pemeriksaan, serta preferensi pasangan.
a. Menunggu secara terencana (expectant management)
Pada pasangan dengan prognosis yang masih baik, dokter dapat mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan terhadap kehamilan alami selama periode tertentu.
Keputusan ini sangat dipengaruhi oleh usia wanita dan lamanya pasangan mengalami infertilitas.
Semakin bertambah usia wanita, semakin penting mempertimbangkan waktu karena fertilitas wanita mengalami penurunan seiring usia.
b. Stimulasi ovarium + IUI
Salah satu terapi yang sering digunakan adalah:
- ovarian stimulation (OS) + intrauterine insemination (IUI).
Pada terapi ini, dokter memberikan obat untuk membantu perkembangan folikel, kemudian sperma yang telah diproses dimasukkan langsung ke dalam rahim pada waktu yang tepat.
Tujuannya adalah:
- meningkatkan peluang tersedianya sel telur untuk dibuahi;
- dan meningkatkan jumlah sperma motil yang berada lebih dekat dengan lokasi fertilisasi.
Menurut guideline ASRM, OS-IUI dengan obat oral seperti clomiphene atau letrozole umumnya menjadi pilihan awal pada banyak pasangan dengan unexplained infertility, biasanya selama sekitar 3–4 siklus sebelum mempertimbangkan IVF bila belum berhasil.
C. IVF (In Vitro Fertilization)
Jika beberapa siklus terapi sebelumnya tidak berhasil, dokter dapat merekomendasikan IVF atau bayi tabung.
Pada IVF, proses fertilisasi dilakukan di laboratorium. Sel telur diambil dari ovarium, kemudian dipertemukan dengan sperma. Embrio yang berkembang selanjutnya ditransfer ke dalam rahim.
IVF memungkinkan dokter melewati beberapa tahapan yang sebelumnya harus terjadi secara alami.
Namun, IVF lebih invasif, membutuhkan biaya lebih besar, dan memiliki risiko tersendiri sehingga tidak selalu menjadi pilihan pertama untuk semua pasangan dengan unexplained infertility.
Apakah semua pasangan harus melalui Inseminasi sebelum IVF?
Tidak selalu.
Usia wanita merupakan salah satu pertimbangan yang sangat penting.
Pada wanita yang lebih muda, strategi beberapa siklus OS-IUI sebelum IVF sering menjadi pilihan. Namun, pada wanita dengan usia lebih lanjut atau kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan IVF lebih awal karena waktu menjadi faktor yang sangat penting.
ASRM menyebutkan bahwa pada wanita ≥38 tahun, IVF lebih awal dapat memberikan waktu yang lebih singkat menuju kehamilan dibandingkan strategi yang memulai dengan beberapa siklus OS-IUI.
Karena itu, tidak ada satu “program hamil” yang cocok untuk semua pasangan dengan unexplained infertility.
Harus ke Dokter Apa Jika Ada Indikasi Unexplained Infertility?
Jika pasangan sudah mencoba mendapatkan kehamilan selama 12 bulan atau lebih tanpa kontrasepsi tetapi belum berhasil, sebaiknya jangan hanya memeriksakan salah satu pihak.
Evaluasi idealnya dilakukan bersama-sama antara pria dan wanita.
Untuk wanita, dokter yang paling tepat adalah:
Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Sp.OG) yang memiliki kompetensi/konsentrasi di bidang fertilitas dan endokrinologi reproduksi.
Dokter tersebut dapat melakukan evaluasi ovulasi, rahim, ovarium, tuba falopi, serta menentukan apakah pasangan membutuhkan terapi seperti stimulasi ovarium, IUI, atau IVF.
Untuk pria, evaluasi dapat dilakukan oleh dokter spesialis andrologi.
Hal ini penting karena hasil analisis semen yang normal tidak selalu berarti seluruh aspek fungsi reproduksi pria sudah pasti optimal.
Pada akhirnya, dokter akan mengintegrasikan hasil pemeriksaan kedua pasangan, bukan justru mencari “siapa yang salah”.
Jangan Ragu untuk Tes Kesuburan
Unexplained infertility bukan berarti Anda tidak akan bisa punya keturunan.
Usaha yang bisa dilakukan adalah konsultasi ke dokter terkait kesuburan seperti dokter spesialis andrologi dan dokter spesialis obgyn, serta melakukan tes kesuburan pria dan wanita.
Tersedia dokter spesialis andrologi dan dokter spesialis obgyn, serta tes kesuburan di Primecare Clinic Jakarta. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!













