5518-_1_-1200x800.webp

Merasa cepat lapar setelah makan merupakan salah satu tantangan yang sering dialami saat menjalani diet. Baru beberapa jam setelah makan, keinginan untuk ngemil sudah muncul kembali.

Padahal, tidak semua makanan memberikan rasa kenyang yang sama.

Semangkuk makanan yang kaya protein dan serat dapat membuat seseorang merasa kenyang lebih lama dibandingkan makanan dengan jumlah kalori yang sama tetapi rendah protein dan serat. Selain kandungan zat gizi, tekstur, volume, viskositas, dan kecepatan pengosongan lambung juga dapat memengaruhi bagaimana tubuh merasakan kenyang.

Karena itu, memilih makanan yang dapat membantu mempertahankan rasa kenyang dapat menjadi salah satu strategi untuk mengontrol asupan makanan dan mendukung program pengelolaan berat badan.

Lalu, makanan apa saja yang dapat membuat kenyang lebih lama? Mengapa protein dan serat dapat membantu mengurangi rasa lapar? Dan apakah makanan tinggi protein dan serat cocok untuk semua orang?

Mengapa Makanan Tertentu Bisa Menahan Lapar Lebih Lama?

Rasa lapar dan kenyang merupakan hasil interaksi yang kompleks antara otak, saluran pencernaan, hormon, kandungan zat gizi, serta karakteristik fisik makanan.

Setelah makanan masuk ke dalam tubuh, lambung dan usus akan mengirimkan berbagai sinyal ke otak.

Sinyal tersebut membantu tubuh menentukan apakah seseorang masih membutuhkan makanan atau sudah cukup makan.

Beberapa faktor yang dapat membuat makanan terasa lebih mengenyangkan antara lain:

  •         Kandungan protein.
  •         Kandungan serat.
  •         Volume makanan.
  •         Kandungan air.
  •         Tekstur makanan.
  •         Viskositas makanan.
  •         Kecepatan makanan meninggalkan lambung.
  •         Kandungan energi dan komposisi makanan.

Protein, misalnya, dapat meningkatkan rasa kenyang dan menurunkan rasa lapar dalam beberapa penelitian. Meta-analisis uji terkontrol menemukan bahwa konsumsi protein secara akut dapat meningkatkan rasa kenyang serta menurunkan rasa lapar dan keinginan untuk makan. 

Sementara itu, serat dapat membantu meningkatkan rasa kenyang melalui beberapa mekanisme, meskipun efeknya berbeda-beda tergantung jenis serat dan karakteristik makanan. 

Dengan demikian, tidak hanya jumlah makanan yang menentukan kenyang, tetapi juga jenis dan karakteristik makanan tersebut.

Apa Manfaat Makanan yang Membuat Rasa Kenyang Lebih Lama?

Memilih makanan yang lebih mengenyangkan dapat memberikan beberapa manfaat, terutama bagi orang yang sedang berusaha mengatur pola makan.

1. Membantu mengontrol rasa lapar

Makanan yang mengandung protein dan serat dapat membantu seseorang merasa kenyang lebih lama sehingga jarak antarwaktu makan dapat terasa lebih nyaman.

2. Membantu mengurangi keinginan ngemil

Jika rasa kenyang bertahan lebih lama, seseorang mungkin menjadi lebih mudah mengontrol camilan di antara waktu makan.

Namun, rasa lapar tetap merupakan hal normal dan tidak perlu selalu ditekan.

3. Membantu mengontrol asupan kalori

Makanan yang mengenyangkan dapat membantu seseorang mengonsumsi makanan dalam jumlah yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.

Hal ini dapat bermanfaat dalam program penurunan berat badan karena keberhasilan diet bukan hanya bergantung pada jenis makanan, tetapi juga kemampuan mempertahankan pola makan dalam jangka panjang.

4. Membantu menjaga kualitas pola makan

Makanan tinggi protein dan serat umumnya berasal dari kelompok makanan yang juga menyediakan berbagai zat gizi penting.

Contohnya adalah ikan, telur, kacang-kacangan, sayuran, buah, dan biji-bijian utuh.

5. Membantu mempertahankan massa otot saat diet

Protein memiliki peran penting dalam mempertahankan dan membangun massa otot.

Hal ini menjadi semakin penting ketika seseorang sedang mengurangi asupan kalori untuk menurunkan berat badan.

Namun, kebutuhan protein setiap orang berbeda dan sebaiknya disesuaikan dengan usia, berat badan, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, serta tujuan diet.

Apa Saja Makanan Tinggi Protein yang Membantu Menahan Lapar?

Protein merupakan salah satu zat gizi yang cukup konsisten dikaitkan dengan peningkatan rasa kenyang.

Beberapa pilihan makanan tinggi protein yang dapat dimasukkan ke dalam pola makan antara lain:

1. Telur

Telur merupakan sumber protein yang praktis dan mudah diolah.

Untuk mendapatkan makanan yang lebih mengenyangkan, telur dapat dikombinasikan dengan sayuran dan sumber karbohidrat yang sesuai kebutuhan.

2. Ikan

Ikan merupakan sumber protein berkualitas tinggi.

Beberapa jenis ikan juga mengandung asam lemak omega-3 yang bermanfaat sebagai bagian dari pola makan sehat.

3. Ayam tanpa kulit

Ayam dapat menjadi sumber protein yang relatif tinggi dengan kandungan lemak yang dapat dikontrol melalui cara memasak.

Memilih ayam yang dipanggang, direbus, atau dikukus dapat membantu mengurangi tambahan minyak dibandingkan ayam yang digoreng.

4. Daging tanpa lemak

Daging sapi tanpa lemak dapat menjadi sumber protein, zat besi, vitamin B12, dan berbagai zat gizi lainnya.

Perhatikan ukuran porsi dan cara pengolahannya.

5. Tahu dan tempe

Tahu dan tempe merupakan sumber protein nabati yang mudah ditemukan dan dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari.

Keduanya dapat dipadukan dengan sayuran dan sumber karbohidrat sesuai kebutuhan.

6. Kacang-kacangan

Kacang merah, kacang hijau, kacang kedelai, lentil, dan jenis kacang lainnya mengandung protein sekaligus serat.

Namun, kacang juga mengandung kalori sehingga tetap perlu memperhatikan porsinya.

7. Yogurt tinggi protein

Yogurt dapat menjadi pilihan camilan atau bagian dari sarapan.

Pilih produk dengan kandungan gula tambahan yang tidak terlalu tinggi sesuai kebutuhan.

Apa Saja Makanan Tinggi Serat yang Membantu Menahan Lapar?

Serat merupakan bagian dari makanan nabati yang tidak dicerna sepenuhnya oleh tubuh.

Serat memiliki berbagai jenis dan sifat. Ada serat yang larut dalam air dan dapat membentuk struktur seperti gel atau meningkatkan viskositas isi saluran pencernaan.

Beberapa makanan tinggi serat yang dapat membantu meningkatkan rasa kenyang antara lain:

  •         Oatmeal.
  •         Gandum utuh.
  •         Barley.
  •         Kacang merah.
  •         Kacang hijau.
  •         Lentil.
  •         Kacang-kacangan.
  •         Brokoli.
  •         Wortel.
  •         Kol.
  •         Buncis.
  •         Alpukat.
  •         Apel.
  •         Pir.
  •         Jambu biji.
  •         Buah beri.
  •         Chia seed.

Namun, perlu diingat bahwa tidak semua jenis serat memiliki efek yang sama terhadap rasa kenyang.

Penelitian menunjukkan bahwa serat yang memiliki karakteristik lebih kental atau viscous, seperti beta-glucan pada oat dan barley, dapat lebih sering dikaitkan dengan penurunan nafsu makan dibandingkan beberapa jenis serat yang kurang kental. 

Karena itu, kualitas dan jenis serat juga perlu diperhatikan, bukan hanya jumlah gram serat.

Mengapa Protein Bisa Membuat Kenyang Lebih Lama?

Setelah makanan berprotein masuk ke saluran pencernaan, tubuh akan menghasilkan berbagai sinyal hormonal yang berhubungan dengan rasa kenyang.

Protein juga dapat memengaruhi hormon yang berkaitan dengan nafsu makan.

Dalam meta-analisis uji terkontrol, konsumsi protein secara akut dikaitkan dengan penurunan ghrelin serta peningkatan beberapa sinyal gastrointestinal yang berhubungan dengan rasa kenyang, termasuk CCK dan GLP-1. 

Secara sederhana:

Protein → sinyal kenyang meningkat → rasa lapar dapat berkurang → lebih mudah mengontrol asupan makanan.

Namun, efek ini tidak berarti bahwa semakin tinggi protein selalu semakin baik.

Kebutuhan protein tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Mengapa Serat Bisa Membantu Mempertahankan Rasa Kenyang?

Serat dapat memberikan rasa kenyang melalui beberapa mekanisme.

Pertama, serat dapat meningkatkan volume makanan tanpa menambahkan energi dalam jumlah yang sama seperti makanan tinggi lemak.

Contohnya, sayuran dan buah mengandung banyak air dan serat sehingga memberikan volume yang cukup besar.

Kedua, beberapa jenis serat larut dapat meningkatkan viskositas isi saluran pencernaan.

Ketiga, serat tertentu dapat difermentasi oleh bakteri usus dan menghasilkan metabolit yang dapat berinteraksi dengan sistem pengaturan nafsu makan.

Namun, efek serat terhadap rasa kenyang tidak selalu sama.

Dalam systematic review, hanya sebagian dari intervensi serat yang menunjukkan penurunan nafsu makan atau asupan energi secara akut. 

Karena itu, jangan menganggap bahwa setiap makanan yang diberi label “tinggi serat” otomatis membuat kenyang lebih lama.

Apa Itu Viskositas Makanan dan Mengapa Berhubungan dengan Rasa Kenyang?

Viskositas secara sederhana dapat dipahami sebagai tingkat kekentalan suatu makanan atau cairan.

Air memiliki viskositas rendah.

Sementara itu, makanan yang lebih kental seperti oatmeal yang dimasak, bubur yang kental, atau makanan yang mengandung serat pembentuk gel memiliki viskositas yang lebih tinggi.

Karakteristik fisik makanan ini dapat memengaruhi proses pencernaan dan pengosongan lambung.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan yang lebih kental dapat memperlambat pengosongan lambung dan meningkatkan sensasi kenyang, meskipun hubungan antara viskositas dan gastric emptying sangat kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor. 

Meta-analisis mengenai tekstur makanan juga menemukan bahwa makanan yang lebih padat dan lebih kental dapat meningkatkan beberapa ukuran rasa kenyang dibandingkan makanan yang lebih cair atau kurang kental. 

Apa Hubungan Gastric Emptying Rate dengan Rasa Kenyang?

Gastric emptying rate adalah kecepatan makanan meninggalkan lambung dan masuk ke usus.

Secara sederhana:

Makanan masuk → lambung mengolah makanan → makanan secara bertahap masuk ke usus → proses pencernaan berlanjut.

Kecepatan proses tersebut dapat memengaruhi sinyal kenyang.

Makanan yang berada lebih lama di lambung dapat memberikan rangsangan mekanis dan hormonal yang membantu mempertahankan rasa kenyang.

Namun, lambatnya pengosongan lambung bukan berarti selalu lebih sehat.

Kecepatan gastric emptying dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk komposisi makanan, struktur makanan, ukuran partikel, kandungan lemak, protein, serat, dan kondisi fisiologis seseorang. 

Karena itu, tidak tepat jika seseorang sengaja mencari makanan yang “paling lama berada di lambung” hanya untuk menahan lapar.

Yang lebih penting adalah memilih makanan dengan komposisi gizi yang seimbang.

Apa Kesalahan Memilih Makanan Saat Diet yang Bikin Cepat Lapar?

Ada beberapa kesalahan yang cukup sering terjadi saat seseorang sedang diet.

1. Hanya mengurangi porsi tanpa memperhatikan komposisi makanan

Makan dalam jumlah sangat sedikit tetapi hampir seluruhnya terdiri dari karbohidrat sederhana dapat membuat seseorang lebih cepat lapar.

Lebih baik membangun makanan yang terdiri dari sumber protein, sayuran atau buah, sumber karbohidrat, dan lemak sehat dalam jumlah sesuai kebutuhan.

2. Menghindari protein

Sebagian orang yang diet hanya fokus mengurangi nasi atau karbohidrat, tetapi tidak memperhatikan kecukupan protein.

Padahal, protein dapat membantu meningkatkan rasa kenyang.

3. Menganggap semua makanan rendah kalori pasti mengenyangkan

Tidak selalu.

Makanan atau minuman yang sangat rendah kalori tetapi volumenya kecil dapat membuat seseorang tetap merasa lapar.

4. Terlalu banyak mengonsumsi makanan cair

Minuman umumnya lebih cepat dikonsumsi dan dapat memiliki efek kenyang yang berbeda dibandingkan makanan padat.

Smoothie, jus, atau minuman lainnya juga dapat mengandung kalori cukup tinggi jika ditambahkan gula, susu, madu, atau bahan lain.

5. Hanya makan salad tanpa protein

Salad memang dapat menjadi pilihan sehat.

Namun, salad yang hanya terdiri dari sayuran tanpa sumber protein dapat kurang mengenyangkan bagi sebagian orang.

Tambahkan sumber protein seperti telur, ayam, ikan, tahu, tempe, atau kacang-kacangan sesuai kebutuhan.

6. Menghindari semua lemak

Lemak merupakan salah satu makronutrien yang dibutuhkan tubuh.

Yang perlu diperhatikan adalah jumlah dan jenisnya.

Menghilangkan semua lemak dari makanan tidak diperlukan dan dapat membuat pola makan menjadi kurang seimbang.

7. Mengandalkan camilan “diet” tanpa memperhatikan komposisinya

Produk yang memiliki label seperti “low fat”, “high fiber”, atau “healthy snack” belum tentu rendah kalori atau paling mengenyangkan.

Selalu perhatikan keseluruhan komposisi dan ukuran porsinya.

Bagaimana Cara Membuat Menu yang Lebih Mengenyangkan?

Salah satu cara sederhana adalah menggunakan konsep:

Protein + serat + karbohidrat berkualitas + lemak dalam jumlah sesuai kebutuhan.

Contohnya:

Sarapan

Oatmeal + yogurt tinggi protein + buah + sedikit kacang.

Makan siang

Nasi secukupnya + ikan atau ayam + sayuran dalam jumlah cukup.

Makan malam

Nasi atau sumber karbohidrat lain sesuai kebutuhan + tahu/tempe/ikan + banyak sayuran.

Camilan

Buah + yogurt atau buah + segenggam kecil kacang.

Tujuannya bukan membuat makanan menjadi sangat rendah kalori, tetapi membuat setiap waktu makan memberikan kombinasi zat gizi yang membantu kenyang sekaligus memenuhi kebutuhan tubuh.

Meski demikian, karena setiap orang punya kebutuhan dan kondisi yang berbeda, ada baiknya setiap menu dikonsultasikan ke dokter spesialis gizi klinik terlebih dahulu

Apakah Makanan yang Membuat Kenyang Lebih Lama Cocok untuk Semua Orang?

Tidak selalu.

Walaupun makanan tinggi protein dan serat dapat menjadi pilihan yang baik bagi banyak orang, kebutuhan setiap individu berbeda.

Beberapa kondisi memerlukan penyesuaian khusus.

Orang dengan gangguan pencernaan

Peningkatan serat secara tiba-tiba dapat menyebabkan kembung, gas, atau perubahan pola buang air besar pada sebagian orang.

Karena itu, peningkatan serat sebaiknya dilakukan secara bertahap dan disertai asupan cairan yang cukup.

1. Orang dengan penyakit ginjal

Kebutuhan protein dan beberapa jenis makanan perlu disesuaikan pada orang dengan penyakit ginjal tertentu.

Jangan meningkatkan asupan protein secara signifikan tanpa berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

2. Orang dengan gangguan pengosongan lambung

Pada kondisi seperti gastroparesis, pengaturan jenis, tekstur, volume, dan kandungan serat makanan mungkin memerlukan pendekatan khusus.

Makanan yang sangat tinggi serat atau sangat lambat dicerna tidak selalu cocok untuk kondisi tersebut.

3. Orang yang memiliki alergi atau intoleransi makanan

Tidak semua sumber protein atau serat dapat dikonsumsi oleh setiap orang.

Pilihan makanan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

4. Lansia atau orang dengan kebutuhan nutrisi khusus

Pada lansia tertentu, terlalu berfokus pada makanan yang sangat rendah kalori atau sangat tinggi serat dapat membuat kebutuhan energi dan zat gizi lebih sulit terpenuhi.

Karena itu, strategi diet harus mempertimbangkan kondisi individu, bukan hanya rasa kenyang.

Apakah Makanan yang Mengenyangkan Pasti Membuat Berat Badan Turun?

Tidak.

Ini merupakan hal yang penting untuk dipahami.

Makanan yang mengenyangkan dapat membantu seseorang mengontrol asupan, tetapi tidak secara otomatis menyebabkan penurunan berat badan.

Jumlah energi yang dikonsumsi tetap penting.

Contohnya, kacang-kacangan merupakan makanan bergizi dan mengandung protein serta serat, tetapi juga memiliki kepadatan energi yang cukup tinggi.

Jika dikonsumsi dalam jumlah sangat besar, total kalorinya tetap dapat menjadi tinggi.

Jadi, prinsipnya bukan:

“Makan sebanyak mungkin makanan tinggi serat dan protein.”

Melainkan:

“Pilih makanan yang memberikan rasa kenyang sekaligus sesuai dengan kebutuhan energi dan zat gizi tubuh.”

Bagaimana Cara Menahan Lapar Tanpa Harus Terus Makan?

Jika Anda sering merasa lapar saat diet, jangan langsung menyimpulkan bahwa Anda harus menahan lapar lebih kuat.

Coba evaluasi beberapa hal:

  •         Apakah setiap makan sudah mengandung sumber protein?
  •         Apakah konsumsi sayur dan buah cukup?
  •         Apakah asupan serat ditingkatkan secara bertahap?
  •         Apakah Anda terlalu banyak mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula?
  •         Apakah porsi makanan utama terlalu kecil?
  •         Apakah Anda kurang tidur?
  •         Apakah aktivitas fisik meningkat tetapi asupan tidak disesuaikan?
  •         Apakah Anda sedang menjalani diet yang terlalu ketat?

Kurang tidur, misalnya, dapat memengaruhi regulasi nafsu makan dan membuat seseorang lebih sulit mengontrol keinginan makan.

Karena itu, mengatasi rasa lapar tidak selalu hanya dengan mengubah makanan.

Tidur yang cukup, aktivitas fisik, pengelolaan stres, dan pola makan yang teratur juga penting.

Kapan Rasa Lapar Perlu Diperiksakan?

Rasa lapar merupakan hal normal.

Namun, rasa lapar yang sangat berlebihan atau terus-menerus meskipun sudah makan cukup dapat memerlukan evaluasi, terutama jika disertai gejala lain.

Konsultasikan dengan dokter jika rasa lapar berlebihan disertai:

  •         Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
  •         Sangat sering haus.
  •         Sering buang air kecil.
  •         Mudah lelah.
  •         Jantung berdebar.
  •         Gemetar.
  •         Berkeringat berlebihan.
  •         Gangguan tidur.
  •         Perubahan berat badan yang signifikan.
  •         Gangguan menstruasi.

Keluhan tersebut dapat memiliki banyak penyebab dan tidak selalu berarti terdapat gangguan tertentu.

Dokter dapat melakukan evaluasi berdasarkan gejala dan riwayat kesehatan untuk menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kesimpulan

Makanan yang membuat kenyang lebih lama dapat menjadi salah satu strategi yang membantu mengontrol rasa lapar dan mendukung program pengelolaan berat badan.

Protein dan serat merupakan dua komponen penting yang dapat membantu meningkatkan rasa kenyang. Protein dapat memengaruhi berbagai sinyal hormonal yang berkaitan dengan nafsu makan, sedangkan beberapa jenis serat dapat meningkatkan volume makanan, memperlambat proses pencernaan, dan meningkatkan viskositas isi saluran pencernaan. 

Pilihan makanan yang dapat dimasukkan ke dalam pola makan antara lain telur, ikan, ayam, tahu, tempe, kacang-kacangan, oatmeal, sayuran, dan buah.

Selain kandungan zat gizi, tekstur, viskositas, dan gastric emptying rate juga dapat memengaruhi rasa kenyang. Makanan yang lebih padat atau kental pada beberapa penelitian cenderung memberikan rasa kenyang yang lebih besar dibandingkan makanan yang lebih cair. 

Namun, makanan yang mengenyangkan tidak otomatis membuat berat badan turun.

Yang paling penting adalah membangun pola makan yang seimbang, sesuai kebutuhan energi, cukup protein dan serat, serta dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Jika Anda sering merasa sangat lapar saat menjalani diet atau kesulitan mengontrol asupan makanan, konsultasikan dengan dokter atau dokter spesialis gizi klinik untuk mendapatkan evaluasi dan pengaturan pola makan yang sesuai dengan kondisi tubuh Anda.

Di Primecare Clinic Jakarta Selatan, tersedia weight loss program yang didampingi dokter spesialis gizi klinik. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2149195200-_1_-1200x801.webp

Terdapat berbagai jenis dari kelainan sperma. Berikut penjelasannya:

Definisi oligozoospermia, asthenozoospermia, dan teratozoospermia berdasarkan World Health Organization Laboratory Manual for the Examination and Processing of human semen pada tahun 2010:

  • Oligozoospermia: Konsentrasi sperma normalnya sebesar 15 juta/mL atau di rentang 12-16 juta/mL, dengan jumlah hitung sperma normal 39 juta/mL per ejakulasi. Konsentrasi sperma kurang dari 15 juta/mL atau jumlah total sperma kurang dari 39 juta/mL per ejakulasi disebut dengan Oligozoospermia. Oligozoospermia dikategorikan sebagai berat jika konsentrasi sperma kurang dari 5 juta/mL dan sangat berat jika konsentrasi sperma kurang dari 1 juta/mL. Bila tidak ditemukan sperma sama sekali, maka disebut sebagai azoospermia.
  • Asthenozoospermia: Jumlah spermatozoa yang menunjukkan motilitas atau kemampuan bergerak normalnya sebesar 40%, dengan motilitas progresif sebesar 31-34%. Beberapa laboratorium menyebutkan nilai rujukan sebesar minimal 60%. Bila spermatozoa yang menunjukkan motilitas progresif kurang dari 32% maka bisa disebut sebagai Asthenozoospermia. Asthenozoospermia absolut terjadi ketika tidak ada satu pun sperma yang bergerak, namun sperma tersebut tetap viabel atau masih dapat bertahan hidup.
  • Teratozoospermia: pada analisis sperma, nilai rujukan untuk bentuk atau morfologi sperma biasanya sebesar 30%. Bila jumlah sperma dengan morfologi atau bentuk yang normal kurang dari 4% maka sudah bisa disebut sebagai Teratozoospermia. Kelainan bentuk pada sperma meliputi:
  • Kelainan pada kepala: Kepala yang terlalu besar, kecil, meruncing atau tidak simetris, yang menghalangi penetrasi sel telur secara tepat.
  • Kelainan pada leher/bagian tengah: Distribusi mitokondria yang tidak merata atau tipis, sehingga sperma kekurangan energi yang dibutuhkan untuk bergerak.
  • Kelainan pada ekor: Ekor yang melingkar, bengkok, pendek, atau berjumlah lebih dari satu, yang menghambat sperma untuk bergerak maju.

Bila ketiga kondisi tersebut ditemukan dari hasil analisis sperma maka bisa disebut sebagai oligo-astheno-teratozoospermia.

Penyebab Utama Kerusakan Morphology dan Motility Sperma

Kelainan pada morfologi dan motilitas sperma dapat disebabkan oleh banyak faktor, baik faktor kelainan medis maupun faktor lingkungan. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan gangguan fungsi pada testis, peningkatan zat spesies oksigen reaktif/reactive oxygen species (ROS) yang bisa merusak sel, ketidakseimbangan hormon, dan gangguan perkembangan sperma, sehingga bisa mempengaruhi morfologi dan motilitas sperma.

Penyebab atau faktor yang dapat menyebabkan kerusakan morfologi dan motilitas sperma antara lain:

  • Varikokel, pelebaran pembuluh darah vena pada kantung testis
  • Celiac disease, penyakit autoimun yang menyerang usus halus
  • Crohn’s disease, peradangan kronis pada saluran pencernaan
  • Infeksi pada organ reproduksi pria
  • Trauma pada testis
  • Infeksi pada saluran kemih pria
  • Faktor genetik
  • Faktor usia (> 50 tahun)
  • Pola gaya hidup, seperti merokok, konsumsi alkohol, obesitas, kurang aktivitas olahraga, dan stres psikologis
  • Faktor lingkungan seperti paparan panas dan paparan bahan kimia atau toksin

Dampak Varikokel dan Gangguan Hormonal Terhadap Parameter Sperma

Varikokel adalah salah satu penyebab tersering gangguan kesuburan pada pria. Beberapa studi menunjukkan bahwa pelebaran pembuluh darah vena pada varikokel menyebabkan peningkatan suhu, peningkatan ROS, dan menurunkan asupan oksigen pada testis yang mempengaruhi berbagai parameter sperma seperti volume semen dan konsentrasi sperma, jumlah total sperma, motilitas total, motilitas progresif, dan morfologi sperma.

Studi tinjauan sistematik dan meta analisis oleh Agarwal et al. (2016) menunjukkan bahwa varikokel tidak mempengaruhi volume air mani secara signifikan namun berdampak negatif terhadap sebagian besar parameter sperma lainnya, seperti:

  • Penurunan jumlah total sperma
  • Penurunan motilitas sperma
  • Perubahan bentuk sperma menjadi abnormal

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa varikokel memiliki dampak negatif pada kesehatan sperma yang berujung pada infertilitas atau gangguan kesuburan.

Gangguan hormonal pada pria

Hormon-hormon yang dapat mempengaruhi kesuburan pria antara lain follicle-stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH), testosteron, anti-Mullerian hormone (AMH), prolaktin dan thyroid-stimulating hormone (TSH). 

Perubahan pada hormon-hormon tersebut bisa mempengaruhi tingkat kesuburan pria termasuk mengubah kualitas sperma, seperti perubahan pada produksi sperma dan mengubah fragmen DNA sperma.

  1. Kadar testosteron rendah disertai kadar FSH dan LH tinggi mengarah pada kondisi hipogonadisme hipergonadotropik primer, di mana sel Leydig pada testis (kelenjar kelamin pria) tidak dapat memproduksi testosteron dengan baik, yang memicu peningkatan FSH dan LH serta berkurangnya produksi sperma.
  2. Kadar testosteron rendah disertai kadar FSH dan LH normal atau rendah: mengindikasikan hipogonadisme sekunder. Pada kondisi ini disarankan untuk periksa kadar prolaktin, karena prolaktin bisa menekan kadar testosteron sehingga produksi sperma juga menurun.
  3. Kadar testosteron dan LH normal disertai kadar FSH tinggi mengarah pada kegagalan pembentukan sperma sehingga jumlah total sperma menurun, dapat menyebabkan azoospermia atau oligozoospermia berat. 
  4. Kadar testosteron, LH, dan FSH yang normal menunjukkan perlunya evaluasi lebih lanjut, bergantung pada hasil analisis air mani dan temuan pemeriksaan fisik. Jika ditemukan azoospermia dengan ukuran testis normal, kemungkinan azoospermia disebabkan oleh adanya sumbatan pada saluran testis (azoospermia obstruktif atau sperma tersumbat).
  5. Kadar testosteron dan LH tinggi disertai kadar FSH normal: disebabkan oleh resistensi androgen parsial, suatu kondisi langka ketika tubuh pada laki-laki tidak merespon terhadap hormon androgen, menyebabkan kondisi fisik menyerupai wanita atau ambigu walau lahir dengan kromosom laki-laki (XY).
  6. Kadar prolaktin tinggi bisa menyebabkan gangguan konsentrasi dan motilitas pada sperma.
  7. Kadar TSH tinggi dengan disertai peningkatan kadar T3 dan T4 pada pasien dengan hipotiroid dapat berpengaruh terhadap hitung sperma total, morfologi sperma, dan motilitas sperma.
  8. Kadar AMH tinggi diduga berperan terhadap spermatogenesis atau pembentukan sperma sehingga diperkirakan memberi dampak yang baik terhadap parameter sperma seperti jumlah, konsentrasi, morfologi, dan motilitas sperma, walaupun cara kerjanya dibutuhkan studi lebih lanjut.

Metode Diagnosis dan Pilihan Terapi Infertilitas Pria (PPSA, ICSI, dan Suplementasi)

Metode diagnosis yang digunakan untuk mengetahui faktor penyebab infertilitas pria yaitu:

  • Analisis sperma: ini merupakan pemeriksaan yang paling umum dilakukan untuk mengetahui parameter sperma, meliputi jumlah total sperma, volume ejakulat atau air mani, konsentrasi sperma, morfologi, dan motilitas sperma
  • Antisperm Antibodies (ASA): bila dicurigai adanya penggumpalan sperma atau asthenozoospermia dengan konsentrasi sperma normal
  • Tes fragmen DNA: untuk melihat keutuhan DNA pada sperma
  • Skrining genetik dan pemeriksaan kromosom: pada kasus azoospermia atau oligozoospermia berat, karena kelainan kromosom lebih sering ditemukan pada pria dengan infertilitas (hingga 15%) dibandingkan pada pria dengan kesuburan normal (sekitar 0,6%).
  • Pemeriksaan kadar hormon: bila diduga ada gangguan pada hormon
  • Pemeriksaan ultrasound: bila diduga ada masalah pada kelenjar kelamin pria seperti varikokel, misalnya USG skrotum atau Transrectal Ultrasound (TRUS)

Pilihan terapi atau tatalaksana untuk menangani infertilitas pria antara lain

Perubahan gaya hidup

  • Berhenti merokok
  • Membatasi atau menghentikan konsumsi alkohol
  • Menerapkan pola makan yang lebih bergizi
  • Menurunkan berat badan jika pasien mengalami obesitas
  • Meningkatkan aktivitas fisik
  • Menghindari pelumas buatan yang berpotensi beracun saat berhubungan intim
  • Mengurangi stres
  • Menghindari penggunaan obat-obatan tanpa indikasi
  • Menghindari paparan pestisida dan logam berat, seperti timbal, merkuri, boron, dan kadmium; serta menghindari segala paparan bahan kimia yang tidak perlu.

Terapi hormonal

Terapi hormon diberikan berdasarkan gangguan sperma dan kadar hormon yang menyertai pada pasien. Terapi hormonal meliputi:

  • Aromatase inhibitor: dapat memperbaiki parameter sperma namun belum terbukti meningkatkan peluang hamil
  • Clomiphene: dapat meningkatkan hormon FSH dan LH untuk membantu pembentukan sperma
  • Tamoxifen: meningkatkan hormon FSH dan LH untuk membantu pembentukan sperma, baik diberikan pada pasien dengan oligozoospermia

Antioksidan

Karena masalah sperma sering disebabkan oleh banyaknya zat ROS atau radikal bebas yang menyebabkan kerusakan sel, suplemen antioksidan bisa menjadi pilihan sebagai terapi tambahan bagi pasien dengan gangguan pada parameter sperma. Antioksidan yang dapat dikonsumsi yaitu:

  • Coenzyme Q10 (CoQ10): memperbaiki kualitas sperma secara keseluruhan dengan menurunkan stres oksidatif dan memperbaiki motilitas, morfologi, serta konsentrasi sperma pada air mani.
  • Asam folat: memperbaiki struktur DNA dan RNA sperma serta meningkatkan motilitas sperma, umumnya diberikan bersamaan dengan zinc.
  • L-carnitine: meningkatkan motilitas, memperbaiki morfologi, serta membantu pematangan sperma.
  • N-acetylcysteine (NAC): meningkatkan jumlah sperma, meningkatkan motilitas, mengurangi morfologi abnormal, menurunkan pemecahan DNA, memperbaiki aktivitas akrosom, serta berperan sebagai antioksidan yang efektif dalam air mani.
  • Vitamin C: melindungi DNA pada sperma dari kerusakan dan menambah kekentalan sperma
  • Vitamin D: membantu dalam motilitas sperma
  • Likopen: antioksidan karotenoid dan pigmen organik yang memberikan warna kuning, oranye, atau merah pada buah dan sayuran. Likopen secara alami ditemukan pada wortel, semangka merah muda, jeruk bali merah, aprikot, dan tomat.
  • Zinc: membantu proses pematangan sperma dan perkembangan testis, serta melindungi dari paparan zat besi berat, biasanya diberikan bersama dengan asam folat
  • Selenium: bila diberikan bersama NAC juga berperan dalam meningkatkan jumlah sperma serta memperbaiki motilitas dan morfologi sperma serta meningkatkan kadar hormon testosteron

Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI)

ICSI adalah teknik pembuahan tingkat lanjut yang bisa menjadi pilihan sebagai bagian dari siklus IVF (In Vitro Fertilization atau bayi tabung). Teknik ini sangat bermanfaat bagi pasangan yang menghadapi masalah kesuburan terkait sperma, seperti morfologi sperma yang buruk, motilitas rendah, atau riwayat kesulitan pembuahan sebelumnya. Pada ICSI, ahli embriologi memilih satu sel sperma dan menyuntikkannya secara langsung ke dalam sitoplasma sel telur, sehingga dapat melewati berbagai hambatan biologis yang mungkin menghalangi terjadinya pembuahan secara alami.

Pendekatan ini dapat meningkatkan peluang keberhasilan pembuahan pada kasus-kasus di mana IVF konvensional mungkin kurang efektif akibat masalah yang berkaitan dengan sperma. ICSI tidak menjamin keberhasilan dalam setiap kasus namun metode ini tetap menjadi salah satu prosedur yang paling banyak digunakan dan diteliti untuk mengatasi masalah kesuburan pada pria.

Tatalaksana pembedahan

  1. Varicocele Repair (VR)

Varicocele Repair (VR) atau varicocelectomy adalah prosedur bedah pada kondisi varikokel yang merupakan salah satu penyebab tersering kelainan pada sperma. Prosedur VR dilakukan dengan cara mengikat atau menutup pembuluh darah vena yang melebar. VR dapat dilakukan secara bedah terbuka (open surgery), bedah mikroskopik, atau laparoskopi. 

Banyak studi yang menyebutkan bahwa terapi pembedahan VR ini berdampak positif terhadap perbaikan parameter sperma. European Academy of Andrology juga memberikan rekomendasi kuat terhadap VR sebagai tindakan utama untuk mengatasi masalah kesuburan pria yang disebabkan oleh varikokel.

  1. Transurethral Resection of the Ejaculatory Ducts (TURED)

TURED adalah prosedur pembedahan invasif minimal yang dilakukan dengan cara memberikan sayatan kecil (reseksi) pada area verumontanum (bagian di dalam uretra tempat saluran ejakulasi keluar) untuk membuka jalan keluar cairan mani yang tersumbat, dipandu dengan alat TRUS. TURED merupakan salah satu tatalaksana pilihan utama bagi pasien dengan gangguan sperma akibat adanya sumbatan pada saluran testis. 

Cara mengetahui kelainan pada sperma (sperm analysis)

Analisis sperma adalah pemeriksaan penunjang utama untuk mengetahui kesehatan sperma dan kesuburan pria secara keseluruhan. Caranya adalah mengambil dua sampel terpisah dengan jeda minimal satu minggu, dengan waktu idealnya satu bulan. Pasien diminta untuk tidak melakukan aktivitas seksual (abstinens) selama 3 hari sebelum pengambilan sampel sperma. Analisis sperma sangat membantu dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tingkat keparahan faktor infertilitas yang berasal dari pria.

Berdasarkan panduan dari WHO pada tahun 2010, parameter sperma yang dinilai pada pemeriksaan analisis sperma meliputi:

  • Volume ejakulat/air mani: 1,5 mL (1,5–5 mL). 
  • pH: normalnya lebih dari 7,2.
  • Konsentrasi sperma: 15 juta/mL (12–16). Nilai acuan umum adalah lebih dari 20 juta/mL.
  • Jumlah total sperma: 39 juta/ejakulat (33–46 juta).
  • Morfologi sperma: lebih dari 4% bentuk normal. Nilai acuan umum adalah lebih dari 30%.
  • Motilitas: 40% (38%–42%). Nilai rujukan umum adalah 60%. 
  • Vitalitas: 58% hidup (55%–63%).
  • Motilitas progresif: 32% (31%–34%).
  • Motilitas total: lebih dari 40%. Nilai rujukan yang umum adalah lebih dari 60%. 
  • Pergerakan maju (forward progression): normalnya lebih dari grade 2. Klasifikasinya meliputi:
  • Grade 4: Pergerakan cepat dan maju ke depan di mana sperma bergerak dalam arah lurus.
  • Grade 3: Sperma bergerak maju namun dengan kecepatan lebih lambat dan/atau dalam arah melengkung.
  • Grade 2: Sperma bergerak lambat dan dengan arah yang tidak menentu.
  • Grade 1: Sperma bergerak namun tidak menunjukkan kemajuan ke depan.
  • Grade 0: Sperma tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan.
  • Fruktosa seminal: lebih dari 13 µmol/ejakulat.
  • Likuifaksi (proses alami perubahan konsistensi air mani dari yang awalnya kental atau berbentuk seperti agar-agar saat baru diejakulasi, menjadi cair kembali):  durasi normal 20 hingga 30 menit.

Bila ditemukan perubahan atau penurunan nilai rujukan pada parameter sperma tersebut, dokter mungkin akan mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan seperti uji hormon, uji antibodi antisperma dan pemeriksaan ada/tidaknya varikokel.

Harus ke dokter apa untuk mengatasi kelainan sperma

Bagi para pria bisa berkonsultasi kepada dokter spesialis Andrologi yang bisa membantu memberikan tatalaksana yang tepat untuk mengatasi kelainan pada sperma terkait jumlah atau konsentrasi dan/atau bentuk sperma yang bisa menimbulkan masalah pada kesuburan pria.

Jangan Ragu untuk Analisis Sperma dan Konsultasi ke Dokter

Kelainan sperma secara komprehensif tidak bisa didiagnosis secara kasat mata. Jadi, jangan ragu untuk melakukan analisis sperma dan konsultasi dengan dokter spesialis andrologi.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia dokter spesialis andrologi dan analisis sperma. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Referensi:

Adyatma Teja Kusuma. (2025). Microscopic Image of Sperm Motility and Morphology in A Hospital in Yogyakarta . Indonesian Andrology and Biomedical Journal, 6(2). https://doi.org/10.20473/iabj.v6i2.75660 

Agarwal, A., Cannarella, R., Saleh, R., Boitrelle, F., Gül, M., Toprak, T., Salvio, G., Arafa, M., Russo, G. I., Harraz, A. M., Singh, R., Garrido, N., Hamoda, T. A. A., Rambhatla, A., Kavoussi, P., Kuroda, S., Çalik, G., Saini, P., Ceyhan, E., Dimitriadis, F., … Shah, R. (2023). Impact of Varicocele Repair on Semen Parameters in Infertile Men: A Systematic Review and Meta-Analysis. The world journal of men’s health, 41(2), 289–310. https://doi.org/10.5534/wjmh.220142 

Agarwal, A., Sharma, R., Harlev, A., & Esteves, S. C. (2016). Effect of varicocele on semen characteristics according to the new 2010 World Health Organization criteria: a systematic review and meta-analysis. Asian journal of andrology, 18(2), 163–170. 

Bahrami, Z., Daeifarshbaf, N., Amjadi, F., & Aflatoonian, R. (2023). The effects of hormonal changes on sperm DNA integrity in oligoasthenoteratospermia individuals: A case-control study. International journal of reproductive biomedicine, 20(12), 999–1006. https://doi.org/10.18502/ijrm.v20i12.12560 https://doi.org/10.4103/1008-682X.172638 

Chamanmalik, S. I., Nerli, R. B., & Umarane, P. (2025). Lifestyle and hormonal factors affecting semen quality and sperm DNA integrity: A cross-sectional study. Oncoscience, 12, 115–129. https://doi.org/10.18632/oncoscience.627 

Colpi, G. M., Francavilla, S., Haidl, G., Link, K., Behre, H. M., Goulis, D. G., Krausz, C., & Giwercman, A. (2018). European Academy of Andrology guideline Management of oligo‐astheno‐teratozoospermia. Andrology, 6(4), 513–524. https://doi.org/10.1111/andr.12502

Leslie, S. W., Soon-Sutton, T. L., & Khan, M. A. (2026, June 19). Male infertility. StatPearls – NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562258/

Concept Fertility. (2026, January 28). Teratozoospermia (Abnormal sperm morphology). Concept Fertility -. https://www.conceptfertility.co.uk/fertility-testing-info/causes-of-male-infertility/poor-sperm-morphology/


a-1200x798.webp

Testosteron rendah dapat berpengaruh buruk terhadap kualitas hidup pria. Hal ini bahkan dapat berpengaruh juga terhadap orang lain di sekitar pria tersebut, termasuk pasangannya sendiri.

Apa ciri utama testosteron rendah pada pria? Bagaimana dampaknya dan apa penyebabnya? Lalu, bagaimana solusinya?

Ciri-Ciri Utama Hormon Testosteron Rendah (Low T) pada Pria

Manifestasi klinis testostron rendah pada pria mencakup domain seksual, fisik, dan psikologis:

1. Domain Seksual

Penurunan libido (gairah seksual), disfungsi ereksi, berkurangnya frekuensi ereksi spontan pagi hari (morning erection), serta penurunan volume ejakulat.

2. Domain Fisik

Penurunan massa dan kekuatan otot, peningkatan akumulasi lemak tubuh (terutama area abdominal/visceral), ginekomastia (pembesaran jaringan payudara), kelelahan kronis, serta berkurangnya bulu tubuh.

3. Domain Psikologis & Kognitif

Perubahan suasana hati (mood swings), iritabilitas, depresi ringan, serta penurunan konsentrasi dan motivasi kerja.

Dampak Testosteron Rendah Terhadap Kesuburan dan Produksi Sperma

Testosteron Intratesticular (ITT) yang diproduksi oleh sel Leydig sangat krusial untuk menjaga kelangsungan proses spermatogenesis di dalam tubulus seminiferus.

  1. Spermatogenesis Terganggu: Rendahnya kadar testosteron mengganggu diferensiasi dan pematangan sel sperma, yang memicu terjadinya oligozoospermia (jumlah sperma sedikit), asthenozoospermia (motilitas buruk), hingga azoospermia (tidak ada sperma dalam ejakulat).
  2. Dampak Kehilangan Sinyal Gonadotropin: Jika kadar testosteron rendah disebabkan oleh gangguan pada aksis hipotalamus-hipofisis (hipogonadisme sekunder), kadar LH dan FSH yang rendah memicu atrofi seluler pada testis dan menghentikan produksi sperma.

Penyebab Alami dan Medis Menurunnya Kadar Hormon Testosteron

Penurunan kadar testosteron dapat terjadi akibat proses biologis alami seiring bertambahnya usia, maupun akibat adanya gangguan patologis pada sistem organ reproduksi dan hormonal.

1. Penyebab Alami (Fisiologis Penuaan)

Seiring bertambahnya usia (Age-Related Testosterone Decline atau Late-Onset Hypogonadism), produksi testosteron secara alami mengalami penurunan gradual sekitar 1% per tahun setelah pria memasuki usia 30 tahun. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi dan jumlah sel Leydig di dalam testis yang bertugas memproduksi testosteron, serta menurunnya sensitivitas sinyal hormonal dari otak (hipotalamus dan hipofisis) yang mengatur produksi hormon tersebut.

2. Penyebab Medis Primer (Gangguan pada Testis)

Terjadi ketika kerusakan langsung menimpa organ testis sehingga tidak mampu memproduksi testosteron meskipun mendapat sinyal yang cukup dari otak. Kondisi ini dapat dipicu oleh peradangan testis (orchitis akibat infeksi mumps/gondongan), trauma atau cedera fisik pada testis, varikokel berat, riwayat testis tidak turun (kriptorkismus), serta efek samping terapi medis seperti radiasi pelvis atau kemoterapi.

3. Penyebab Medis Sekunder (Gangguan pada Aksis Otak)

Terjadi ketika organ testis sebenarnya normal, namun kelenjar hipotalamus atau hipofisis di otak gagal mengirimkan sinyal (Luteinizing Hormone / LH) untuk merangsang produksi testosteron. Penyebab utamanya meliputi obesitas viseral (jaringan lemak berlebih mengubah testosteron menjadi estrogen via enzim aromatase), diabetes mellitus tipe 2, sindrom metabolik, tumor atau peradangan pada kelenjar hipofisis, serta penyakit sistemik kronis.

4. Penyebab Iatrogenik dan Efek Samping Obat

Penurunan kadar testosteron juga sering dipicu oleh konsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, seperti penggunaan kortikosteroid, obat-obatan opiat/analgetik dosis tinggi, serta penggunaan steroid anabolik eksogen (Anabolic-Androgenic Steroids) yang menekan fungsi aksis hormonal alami tubuh melalui mekanisme umpan balik negatif.

Bahaya Membiarkan Testosteron Rendah Tanpa Penanganan

Membiarkan kondisi Low T kronis tanpa evaluasi medis meningkatkan risiko morbiditas jangka panjang:

  1. Sistem Skeletal: Meningkatnya risiko osteopenia dan osteoporosis, yang signifikan meningkatkan frekuensi fraktur patologis pada pria usia lanjut.
  2. Sistem Metabolik & Kardiovaskular: Terjadinya resistensi insulin, peningkatan risiko Diabetes Mellitus Tipe 2, profil lipid aterogenik (penurunan HDL, peningkatan LDL), serta peningkatan risiko penyakit jantung koroner.
  3. Kualitas Hidup & Kesehatan Mental: Peningkatan angka kejadian depresi mayor, penurunan fungsi kognitif, dan frailitas (frailty syndrome) pada lansia.

Cara Meningkatkan Hormon Testosteron Secara Alami Lewat Gaya Hidup

Modifikasi gaya hidup terbukti efektif meningkatkan kadar testosteron endogen, khususnya pada pasien dengan hipogonadisme sekunder akibat masalah metabolik:

1. Latihan Beban & HIIT

Resistance training (seperti compound lifts) merangsang sekresi hormon anabolik dan meningkatkan sensitivitas insulin otot.

2. Penurunan Berat Badan

Mengurangi massa lemak viseral secara langsung dan penurunan berat badan menekan aktivitas enzim aromatase, sehingga mencegah degradasi testosteron menjadi estradiol.

3. Optimalkan Tidur

Puncak sekresi testosteron terjadi saat fase Rapid Eye Movement (REM). Tidur berkualitas 7-8 jam tiap malam menjaga ritme sirkadian hormon.

4. Gizi Seimbang

Kecukupan asupan mikronutrien seperti Seng (Zinc), Vitamin D3, serta lemak sehat (monounsaturated & polyunsaturated fats) yang menjadi prekursor sintesis kolesterol steroid.

Cara meningkatkan hormon testosteron lewat terapi medis (TRT, dsb.)

Jika intervensi gaya hidup tidak mencukupi dan kriteria klinis terpenuhi, terapi medis dapat diindikasikan:

  • Testosterone Replacement Therapy (TRT): Diberikan via injeksi intramuskular (Testosterone Undecanoate / Enanthate), gel topikal, atau patch. Perlu ke dokter spesialis andrologi untuk terapi ini.
  • Terapi Preservasi Fertilitas: Pada pria yang ingin mempertahankan kesuburan, digunakan agen penghasil testosteron endogen seperti Human Chorionic Gonadotropin (hCG) atau Selective Estrogen Receptor Modulators (SERM) seperti Clomiphene Citrate untuk merangsang produksi testosteron alami testis tanpa mematikan produksi sperma.

Harus ke dokter apa jika mengalami testosteron rendah

Pria yang mengeluhkan gejala testosteron rendah disarankan untuk berkonsultasi dengan:

  1. Spesialis Andrologi (Sp.And): Pakar utama dalam evaluasi hormon reproduksi pria, penanganan disfungsi seksual, gangguan fertilitas, dan manajemen TRT/hCG.
  2. Spesialis Endokrinologi (Sp.PD-KEMD): Untuk penanganan kasus yang disertai gangguan metabolik berat, kelainan kelenjar hipofisis, atau diabetes.
  3. Spesialis Urologi (Sp.U): Untuk skrining keamanan prostat (PSA dan evaluasi klinis) sebelum dan selama terapi hormonal.

Jangan Ragu Cek Testosteron Berkala 

Testosteron rendah pada pria dapat mengganggu dan menurunkan kualitas hidup. Karena itu, jangan ragu untuk cek tesosteron berkala. Jika testosteron rendah, maka konsultasi ke dokter spesialis andrologi.

Di Primecare Clinic Jakarat, tersedia dokter spesialis andrologi, cek hormon testosteron, dan TRT. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2149195199-_1_-1200x801.webp

Jumlah sperma menjadi perhatian ketika sedang terapi atau berencana untuk memiliki keturunan.

Berapa jumlah sperma normal? Bagiamana cara mengetahuinya?

Berapa Jumlah Sperma Normal dalam Sekali Ejakulasi?

Jumlah hitung sperma normal 39 juta/mL per ejakulasi dengan volume air mani sekitar 1-5 ml per ejakulasi.

Bagaimana cara mengetahui jumlah sperma?

Cara mengetahui jumlah sperma adalah dengan pemeriksaan analisis sperma di laboratorium. Selain melihat jumlah sperma, analisis sperma juga digunakan untuk melihat apakah ada gangguan pada bentuk (morfologi) dan kemampuan bergerak (motilitas) sel sperma serta pH, warna, dan volume cairan semen/air mani pria.

Agar kualitas semen yang diperiksa baik, yang perlu dilakukan pasien yaitu:

  • Hindari ejakulasi selama 2 hingga 7 hari sebelum pemeriksaan.
  • Hindari alkohol, kafein, serta obat-obatan seperti kokain dan ganja selama dua hingga lima hari sebelum pemeriksaan.
  • Hentikan penggunaan obat herbal apa pun sesuai dengan instruksi penyedia layanan kesehatan Anda.
  • Hindari penggunaan obat hormon apa pun sesuai dengan instruksi penyedia layanan kesehatan Anda.

Cara pemeriksaan analisis sperma adalah sebagai berikut:

  • Semen dapat diambil dengan cara ejakulasi melalui masturbasi.
  • Sampel semen dikumpulkan di dalam suatu wadah steril tertutup pada suhu ruangan (20-25ºC). Hindari menempatkan sampel di lingkungan terlalu dingin atau panas karena hasil yang didapat bisa menjadi tidak akurat.
  • Setelah itu, sampel semen dibawa ke laboratorium untuk dilakukan analisis dalam waktu 30-60 menit.
  • Sampel ditempatkan di dalam inkubator pada suhu 37ºC selama 30 hingga 60 menit agar terjadi likuifaksi sebelum dianalisis. Likuifaksi adalah proses perubahan tekstur air mani dari kental menjadi lebih encer.
  • Analisis sperma dilakukan untuk melihat jumlah sperma dan parameter air mani dan sperma lainnya, seperti pH, volume, morfologi, motilitas, vitalitas, kadar fruktosa, serta tanda-tanda infeksi.

Bagaimana jika jumlah sperma lebih dari normal?

Jumlah sperma bisa didapatkan lebih dari normal bila didapatkan sebesar lebih dari 200 juta per mL volume air mani atau semen. Kondisi ini disebut sebagai Polyzoospermia. Polyzoospermia jarang sekali terjadi dibandingkan kondisi jumlah sperma rendah (Oligozoospermia) namun diduga juga dapat meningkatkan risiko infertilitas atau kemandulan. Penyebabnya antara lain:

  • Abstinensi terlalu lama (lebih dari 7 hari) sebelum melakukan pemeriksaan analisis sperma, sehingga bisa menimbulkan hasil yang bias.
  • Ketidakseimbangan hormon
  • Dehidrasi, yang menyebabkan peningkatan konsentrasi sperma pada volume air mani yang lebih sedikit
  • Riwayat penggunaan obat-obatan tertentu yang memicu spermatogenesis

Standar Hitungan Jumlah Sperma Sehat Menurut Medis

Berdasarkan guideline WHO:

  • Konsentrasi sperma normal yaitu lebih dari 15 juta/mL, dengan rentang rata-rata 20 hingga 200 juta/mL. Pada sebagian besar laboratorium, nilai normal yang ditetapkan sebesar > 20 juta/mL. Jumlah sperma normal dalam sekali ejakulasi sebesar 39 juta/mL per ejakulasi dengan volume air mani sekitar 1-5 ml per ejakulasi.
  • Bila konsentrasi sperma kurang dari 15 juta/mL atau jumlah total sperma kurang dari 39 juta/mL per ejakulasi, maka seseorang dapat dikatakan memiliki jumlah sperma sedikit atau disebut sebagai Oligozoospermia.
  • Bila konsentrasi sperma lebih dari 200 juta per mL, maka disebut sebagai Polyzoospermia atau jumlah sperma berlebih.

Penyebab Jumlah Sperma Sedikit (Oligozoospermia)

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan jumlah sperma sedikit antara lain:

  • Varikokel. Pelebaran pembuluh darah vena pada varikokel menyebabkan peningkatan suhu, peningkatan ROS (Reactive Oxygen Species), dan menurunkan asupan oksigen pada testis yang mempengaruhi berbagai parameter sperma, termasuk menurunnya jumlah sperma secara signifikan.
  • Gangguan hormon, misalnya: gangguan produksi hormon testosteron yang menyebabkan peningkatan kadar follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH), yang dapat ditemukan pada sindrom Klinefelter
  • Sumbatan pada organ reproduksi pria
  • Infeksi pada saluran kemih pria
  • Faktor usia (> 50 tahun)
  • Penyakit kronis, seperti Diabetes Mellitus
  • Paparan radiasi
  • Faktor genetik 

Perbedaan Jumlah Sperma Sedikit dengan Sperma Kosong

Pada kondisi sperma sedikit atau oligozoospermia, sperma masih didapat ditemukan walau konsentrasinya di bawah normal. Oligozoospermia dikategorikan sebagai berat jika konsentrasi sperma kurang dari 5 juta/mL dan sangat berat jika konsentrasi sperma kurang dari 1 juta/mL. Pada kondisi sperma kosong atau Azoospermia, tidak ditemukan sperma sama sekali di dalam cairan ejakulat yang diperiksa di laboratorium.

Kebiasaan Sehari-hari yang Tanpa Disadari Menurunkan Jumlah Sperma

Pengaruh gaya hidup juga bisa menjadi faktor yang dapat menurunkan jumlah sperma, seperti:

  • Merokok, karena dapat meningkatkan zat ROS yang berpotensi merusak pembentukan DNA sperma
  • Konsumsi alkohol yang dapat mempengaruhi perubahan produksi hormon yang berperan dalam pembentukan sperma
  • Terlalu sering makan makanan junk food yang dapat menurunkan kualitas sperma
  • Obesitas, karena cadangan jaringan lemak berlebih yang memicu perubahan hormon testosteron menjadi estrogen yang bisa menyebabkan turunnya produksi sperma
  • Gaya hidup yang kurang aktif atau sedentary life, yang bisa menurunkan aktivitas aliran darah termasuk ke organ reproduksi pria
  • Kurang tidur yang bisa mempengaruhi keseimbangan hormon dan menurunkan produksi sperma
  • Stres psikologis yang menyebabkan sistem saraf otonom menekan produksi hormon-hormon yang berperan pada kesuburan pria
  • Paparan radiasi atau panas pada daerah kelamin pria, misalnya:
  • Menaruh alat elektronik di dekat alat kelamin pria seperti handphone di kantong celana atau memangku laptop
  • Gesekan antara alat kelamin pria dengan kursi saat bersepeda dengan intensitas tinggi
  • Terlalu sering mandi air panas atau sauna
  • Celana yang terlalu ketat yang dapat meningkatkan suhu di sekitar alat kelamin pria

Cara agar jumlah sperma normal

Untuk mencegah terjadinya kelainan jumlah sperma, berbagai cara dapat dilakukan bagi pria, yaitu:

1. Menurunkan berat badan

Obesitas atau kelebihan berat badan dapat menyebabkan rendahnya jumlah sperma. Cobalah untuk menjaga gaya hidup sehat melalui pola makan yang baik dan olahraga.

Turunkan berat badan, bisa dengan program atau defisit kalori.

2. Memperbaiki pola makan atau mengonsumsi suplemen vitamin

Anda dapat melakukan pemeriksaan darah untuk melihat apakah ada kekurangan vitamin. Dokter dapat menyarankan penambahan jenis makanan tertentu ke dalam pola makan Anda atau penggunaan suplemen untuk membantu memulihkan kadar vitamin dan mineral. 

3. Menghindari konsumsi zat-zat tertentu secara berlebihan

Seperti konsumsi alkohol yang berlebihan, penggunaan obat-obatan terlarang, atau penggunaan tembakau.

4. Mengganti pakaian dalam

Pergantian pakaian dalam dengan mengenakan celana dalam model boxer yang longgar dan berbahan katun.

Harus ke dokter apa untuk mengetahui jumlah sperma

Dokter spesialis Andrologi dapat membantu Anda untuk melakukan pemeriksaan mengenai jumlah sperma serta memberikan terapi yang tepat untuk meningkatkan jumlah sperma yang bisa meningkatkan kesuburan pria.

Jangan Ragu untuk Melakukan Pemeriksaan Sperma

Jika sedang ingin memiliki keturunan atau pemeriksaan kesuburan, jangan ragu untuk konsultasi dengan dokter spesialis andrologi dan analisis sperma.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia dokter spesialis andrologi dan layanan analisis sperma. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Referensi:

Agarwal, A., Sharma, R., Harlev, A., & Esteves, S. C. (2016). Effect of varicocele on semen characteristics according to the new 2010 World Health Organization criteria: a systematic review and meta-analysis. Asian journal of andrology, 18(2), 163–170. 

Chertoff, J. (2025, May 22). What is a typical sperm count? Healthline. https://www.healthline.com/health/mens-health/normal-sperm-count

Durairajanayagam D. (2018). Lifestyle causes of male infertility. Arab journal of urology, 16(1), 10–20. https://doi.org/10.1016/j.aju.2017.12.004 

Glezerman, M., Bernstein, D., Zakut, C., Misgav, N., & Insler, V. (1982). Polyzoospermia: a definite pathologic entity. Fertility and Sterility, 38(5), 605–608. https://doi.org/10.1016/s0015-0282(16)46642-2

Leslie, S. W., Soon-Sutton, T. L., & Khan, M. A. (2026, June 19). Male infertility. StatPearls – NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562258/

Semen analysis and test results. (2017, July 3). Healthline. https://www.healthline.com/health/semen-analysis


2149195206-_2_-1200x801.webp

Ejaculatory Anhedonia (ejakulasi tanpa orgasme) dan aspermia (kondisi tidak tersedianya semen saat ejakulasi) merupakan dua gangguan ejakulasi terpisah yang sering membingungkan pasien.

Ejakulasi normal terdiri dari dua fase yang terkoordinasi oleh sistem saraf otonom: emisi (pencampuran cairan semen di uretra posterior) dan ekspulsi (Penyemprotan keluar melalui meatus uretra). Ketika ekspulsi tidak membuahkan keluarnya cairan semen sama sekali, kondisi ini dikenal secara klinis sebagai dry ejaculation (ejakulasi kering)

Mekanisme Retrograde Ejaculation (Sperma Masuk ke Kandung Kemih)

Pada kondisi ejakulasi kering yang paling sering ditemui, penyebab utamanya adalah Retrograde Ejaculation (RE).

[Emisi Semen ke Uretra Posterior]

               │

               ▼

[Normal: Bladder Neck Tertutup] ────► [Ejakulasi Antegrade (Keluarnya Semen)]

               │

               ▼ (Jika Gangguan/Terbuka)

[Retrograde Ejaculation: Semen Masuk ke Kandung Kemih]

  • Kondisi Normal: Leher kandung kemih (internal urethral sphincter) menutup rapat melalui kontraksi simpatis saat emisi, memaksa semen mengalir ke depan melalui uretra posterior.
  • Kondisi Patologis: Jika sfingter internal gagal menutup atau mengalami trauma struktur, jalur bertekanan rendah menuju kandung kemih membuat semen terdorong mundur masuk ke dalam urin [high confidence: Pengisian sfingter diatur oleh reseptor alfa-1 adrenergik].

Gangguan Saraf dan Efek Samping Obat-obatan Terhadap Fungsi Ejakulasi

Fungsi ejakulasi sangat bergantung pada integritas persarafan simpatis (T10–L2) dan somatic (S2–S4). 

 

KategoriPenyebab / AgenMekanisme Kerusakan
Neuropati / Kerusakan SarafDiabetes Mellitus, Multiple Sclerosis, Cedera Tulang BelakangAutonomic neuropathy merusak transmisi sinyal simpatis ke sfingter internal kandung kemih.
Trauma BedahTransurethral Resection of the Prostate (TURP), Diseksi Kelenjar Getah Bening Retroperitoneal (RPLND)Kerusakan fisik pada leher kandung kemih atau serat saraf simpatis lumbal.
Obat Alfa-BlockerTamsulosin, SilodosinMemblokir reseptor Alpha-1A-adrenergik di leher kandung kemih dan vesikula seminalis, memicu relaksasi sfingter atau anejakulasi.
Obat Psikotropika & AntihipertensiSSRI (e.g., Sertraline), Antipsikotik, ClonidineMenekan dorongan sentral ejakulasi atau memblokir transmisi noradrenergik 

Penanganan Medis dan Diagnostic Test untuk Masalah Ejakulasi Kering

Pendekatan klinis dilakukan bertahap untuk mendiagnosis lokasi kegagalan (apakah retrograde, anejakulasi, atau obstruksi saluran).

  1. Analisis Urin Pasca-Ejakulasi (Post-Ejaculatory Urinalysis / PEU): Pasien diminta berkemih segera setelah ejakulasi. Penemuan ≥ 10-15 sperma per high-power field (HPF) dalam urin mengkonfirmasi diagnosis retrograde ejaculation 
  2. Evaluasi Hormonal & Transrectal Ultrasound (TRUS): Memeriksa kadar testosteron/FSH dan mengeliminasi obstruksi duktus ejakulatorius atau agenesis vesikula seminalis.

Pilihan Terapi:

  • Farmakologis: Penggunaan simpatomimetik seperti Pseudoephedrine atau Imipramine untuk meningkatkan tonus leher kandung kemih (efektif terutama pada kasus neuropati ringan atau idiopatik).
  • Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB): Jika pasien menghendaki keturunan, sperma diambil dari urin pasca-ejakulasi (sperm retrieval from urine) yang telah disesuaikan pH-nya, kemudian digunakan untuk prosedur IVF/ICSI

Apakah ejakulasi kering berbahaya bagi kesehatan atau kesuburan pria?

Bagi Kesehatan Umum: Ejakulasi kering tidak berbahaya bagi organ dalam dan tidak menyebabkan pembedahan retensi cairan semen beracun di dalam tubuh. Semen yang masuk ke kandung kemih akan terbuang secara alami saat berkemih tanpa merusak kandung kemih.

Bagi Kesuburan: Berdampak signifikan (Infertilitas). Tanpa semen antegrade, deposisi sperma ke dalam vagina tidak dapat terjadi secara alami.

Harus ke dokter apa jika mengalami ejakulasi kering?

Pasien yang mengalami ejakulasi kering, ejakulasi anhedonia, atau aspermia sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan:

  • Spesialis Andrologi (Sp.And): Dokter spesialis yang memfokuskan penanganan pada sistem reproduksi pria, gangguan ejakulasi, dan infertilitas pria.
  • Spesialis Urologi (Sp.U) Konsultan Andrologi/Urologi Reproduksi: Terutama jika ada riwayat operasi prostat, saluran kemih, atau kelainan anatomi.

Jangan Ragu untuk Ke Dokter jika Mengalami Ejakulasi Kering

Ejakulasi kering memiliki dampak signifikan terhadap kesuburan pria. Jadi, jangan ragu ke dokter spesialis andrologi jika mengalami ejakulasi kering.

Tersedia dokter spesialis andrologi di Primecare Clinic Jakarta. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2149195217-_1_-1200x801.webp

Apa yang Terjadi pada Sperma Penumpukan (Sperm Retention) di Dalam Epididimis ketika tidak ejakulasi dalam sebulan?

Jika tidak ejakulasi selama sebulan, sperma tidak akan terus menumpuk tanpa batas di epididimis. Tubuh memiliki mekanisme untuk mengatur dan mendaur ulang sperma yang sudah tua.

Apa yang terjadi di epididimis jika Sperma Tidak Dikeluarkan dalam Sebulan?

  1. Sperma tetap diproduksi
    • Testis terus menghasilkan spermatozoa.
    • Sperma kemudian mengalami pematangan dan disimpan terutama di epididimis.
  2. Kapasitas penyimpanan terbatas
    • Epididimis bukan tempat penyimpanan permanen. Ketika sperma yang lebih lama tidak dikeluarkan, tubuh secara bertahap akan memecah dan menyerap kembali sel sperma tersebut.
  3. Sperma yang lebih tua mengalami degradasi
    • Sperma yang tidak digunakan dapat mengalami penurunan kualitas seiring waktu.
    • Sel-sel dan komponennya kemudian diproses kembali oleh jaringan epididimis dan sistem imun.
  4. Produksi menyesuaikan kebutuhan
    • Tubuh tidak harus terus meningkatkan jumlah sperma secara tidak terbatas. Produksi, penyimpanan, dan penguraian sperma berlangsung sebagai proses yang dinamis.
  5. Kadang terjadi ejakulasi spontan
    • Sebagian pria dapat mengalami emisi nokturnal (mimpi basah) ketika tidak melakukan ejakulasi dalam waktu lama, meskipun hal ini tidak selalu terjadi.

Apakah tidak ejakulasi dalam sebulan berbahaya bagi pria?

Pada umumnya, tidak ejakulasi selama sebulan tidak menyebabkan sperma “menumpuk sampai penuh” atau merusak epididimis. Sperma yang tidak dikeluarkan akan secara bertahap mengalami degradasi dan diserap kembali oleh tubuh.

Mekanisme Daur Ulang Mandiri (Apoptosis dan Phagocytosis) Sperma Tua oleh Tubuh

Tubuh memiliki mekanisme homeostasis sperma untuk menangani spermatozoa yang sudah tua, rusak, atau tidak digunakan. Dua proses penting yang terlibat adalah apoptosis dan fagositosis, terutama di lingkungan testis dan epididimis.

1. Apoptosis: sperma mengalami kematian sel terprogram

Sperma yang mengalami kerusakan atau sudah melewati masa fungsionalnya dapat mengalami perubahan yang mengarah pada apoptosis (programmed cell death).

Pada tingkat sel, proses ini dapat melibatkan:

  • perubahan pada membran sel,
  • perubahan fungsi mitokondria,
  • aktivasi jalur molekuler apoptosis,
  • fragmentasi DNA,
  • dan akhirnya pemecahan sel menjadi bagian-bagian yang lebih mudah ditangani tubuh.

Apoptosis berbeda dari sel yang sekadar “mati karena menumpuk”; ini merupakan mekanisme biologis yang teratur dan dikendalikan.

2. Fagositosis: sisa sperma dibersihkan

Setelah spermatozoa mengalami kerusakan atau kematian, komponen selnya perlu dibersihkan. Sel fagosit, termasuk makrofag dalam jaringan tertentu, dapat mengenali dan menelan material seluler yang perlu dieliminasi.

Secara sederhana:

Sperma tua/rusak → tanda permukaan berubah → dikenali sistem pembersihan → difagositosis → dipecah → komponennya didaur ulang atau dimetabolisme.

Di epididimis, proses ini juga melibatkan sel epitel epididimis, yang memiliki peran penting dalam mempertahankan lingkungan epididimis dan menangani spermatozoa yang sudah tua atau mengalami kerusakan.

3. Bagaimana jika tidak ejakulasi selama sebulan?

Tidak terjadi situasi seperti “epididimis penuh lalu sperma meledak”. Produksi sperma dan eliminasi sperma merupakan proses yang berlangsung terus-menerus.

Sperma yang tidak diejakulasikan dapat:

  • tetap berada sementara dalam sistem reproduksi,
  • mengalami penuaan atau degradasi,
  • kemudian dieliminasi dan komponennya diproses kembali oleh tubuh,
  • sementara produksi sperma baru tetap berlangsung.

Sebagian pria juga dapat mengalami emisi nokturnal (mimpi basah), tetapi ini tidak wajib terjadi.

4. Apakah semua sperma tua langsung mengalami apoptosis?

Tidak sesederhana itu. Apoptosis adalah salah satu mekanisme, tetapi eliminasi spermatozoa juga melibatkan perubahan membran, pengenalan oleh sel epididimis, fagositosis, dan proses degradasi lainnya. Selain itu, sperma matang merupakan sel yang sangat khusus dan memiliki kemampuan terbatas untuk melakukan proses seluler seperti sel tubuh biasa.

Efek Abstinensi Panjang (Sebulan) Terhadap DNA Fragmentation Index (DFI) Sperma

DNA Fragmentation Index (DFI) menggambarkan proporsi spermatozoa yang memiliki DNA terfragmentasi. Hubungan antara lama abstinensi dan DFI tidak sepenuhnya sederhana, tetapi secara umum penelitian menunjukkan bahwa abstinensi yang lebih lama cenderung meningkatkan fragmentasi DNA dibandingkan abstinensi yang lebih singkat. Namun, ada satu hal penting: data penelitian umumnya tidak menguji abstinensi tepat 30 hari. Sebagian besar penelitian membandingkan beberapa hari abstinensi, sehingga kita tidak bisa mengatakan secara pasti bahwa DFI akan naik sekian persen setelah tepat satu bulan.

Mengapa abstinensi panjang dapat meningkatkan fragmentasi DNA?

Sperma yang berada lebih lama dalam sistem reproduksi pria dapat mengalami paparan lebih lama terhadap stres oksidatif (ROS) dan proses penuaan seluler. Jika kerusakan oksidatif melebihi kemampuan sistem perlindungan antioksidan, DNA sperma dapat mengalami kerusakan.

Secara konseptual:

Abstinensi panjang → lebih banyak sperma tua/terakumulasi → paparan stres oksidatif lebih lama → sebagian sperma mengalami kerusakan DNA → DFI dapat meningkat.

Ini berbeda dengan jumlah sperma: abstinensi lebih lama biasanya dapat meningkatkan volume semen dan konsentrasi/jumlah sperma, tetapi peningkatan kuantitas tersebut tidak berarti kualitas DNA ikut membaik. Meta-analisis uji terkontrol menemukan abstinensi lebih lama berkaitan dengan konsentrasi sperma lebih tinggi tetapi juga SDF/fragmentasi DNA lebih tinggi dan motilitas progresif lebih rendah.

Untuk satu bulan, sebaiknya tidak membuat kesimpulan seperti “DFI pasti sangat tinggi”. Bukti ilmiah yang tersedia lebih kuat untuk menunjukkan arah hubungan antara abstinensi lebih panjang dan DFI, bukan menentukan angka DFI setelah 30 hari.

Bahkan sebuah meta-analisis besar tahun 2024 menemukan bahwa pada pria sehat, perbedaan durasi abstinensi berkaitan dengan perubahan DFI, tetapi penulis menekankan adanya faktor pengganggu dan bahwa hubungan kausal tidak dapat dipastikan sepenuhnya. Sebaliknya, tinjauan sistematis lain menemukan bahwa beberapa faktor seperti merokok, varikokel, gangguan toleransi glukosa, usia, dan paparan polusi juga dapat berpengaruh terhadap DFI, sehingga lama abstinensi bukan satu-satunya penentu. 

Untuk pemeriksaan semen, WHO merekomendasikan pengambilan sampel setelah 2–7 hari abstinensi, bukan setelah abstinensi selama sebulan. 

Mengapa tidak sebaiknya analisis sperma setelah tidak ejakulasi selama sebulan

Karena analisis sperma (semen analysis) bertujuan menghasilkan gambaran yang dapat dibandingkan dengan nilai rujukan, sedangkan abstinensi selama sebulan terlalu lama dan dapat mengubah beberapa parameter sperma.

Mengapa tidak ejakulasi dalam 1 bulan kurang ideal?

  • Sperma yang lebih tua lebih banyak terakumulasi. Semakin lama tidak ejakulasi, semakin banyak spermatozoa yang telah berada di saluran reproduksi lebih lama dan mengalami proses penuaan/degradasi.
  • Motilitas dapat menurun. Abstinensi yang panjang dalam sejumlah penelitian dikaitkan dengan penurunan motilitas progresif.
  • Fragmentasi DNA dapat meningkat. Lama abstinensi yang lebih panjang cenderung dikaitkan dengan peningkatan sperm DNA fragmentation (SDF/DFI), meskipun besar efeknya berbeda antarindividu.
  • Jumlah dan konsentrasi dapat terlihat lebih tinggi. Ini bisa membuat hasil tampak “bagus” dari sisi kuantitas, tetapi tidak selalu berarti kualitas sperma lebih baik.
  • Hasil menjadi kurang representatif untuk kondisi standar. Laboratorium menggunakan periode abstinensi tertentu agar hasil dapat dibandingkan dengan nilai referensi dan pemeriksaan sebelumnya.

WHO merekomendasikan 2–7 hari abstinensi sebelum pengumpulan sampel untuk analisis semen standar.

Mitos vs Fakta Dampak Menahan Ejakulasi Terhadap Kesehatan Prostat

Secara umum, tidak ejakulasi selama beberapa waktu tidak terbukti menyebabkan prostat “penuh”, rusak, atau keracunan sperma. Prostat bukan tempat penyimpanan sperma utama; sperma terutama disimpan dan dimatangkan di epididimis, sedangkan prostat menghasilkan sebagian cairan semen. 

Jadi, apakah menahan ejakulasi sebulan berbahaya?

Pada pria sehat, abstinensi selama sebulan pada umumnya bukan kondisi yang diketahui secara langsung merusak prostat. Tubuh tetap mengatur produksi dan eliminasi sperma. Sebagian pria mungkin mengalami ejakulasi spontan/mimpi basah, sementara yang lain tidak.

Jika muncul nyeri panggul/perineum, nyeri saat buang air kecil atau ejakulasi, darah dalam urine/semen, kesulitan buang air kecil, atau demam, itu bukan sesuatu yang sebaiknya dianggap sebagai efek normal dari “menahan sperma” dan perlu dievaluasi secara medis.


2149214357-_1_-1200x800.webp

Sperma terus diproduksi oleh tubuh pria untuk kelangsungan reproduksi. Namun, apakah sperma bisa habis? Apalagi jika pria sering ejakulasi? Berikut jawabannya!

Apakah Sperma Bisa Habis?

Secara umum, sperma tidak akan habis secara permanen hanya karena pria sering ejakulasi. Tubuh pria yang sehat terus memproduksi sel sperma melalui proses yang disebut spermatogenesis, yaitu pembentukan sperma di dalam testis.

Berbeda dengan sel telur pada perempuan yang memiliki cadangan terbatas sejak lahir, sistem reproduksi pria memproduksi sel sperma baru secara berkelanjutan setelah pubertas. Proses ini berlangsung sepanjang kehidupan reproduktif pria, meskipun kecepatannya dapat berubah seiring pertambahan usia dan kondisi kesehatan.

Namun, bukan berarti jumlah sperma selalu sama pada setiap ejakulasi. Setelah ejakulasi, tubuh memerlukan waktu untuk mengumpulkan kembali komponen cairan semen dan mempertahankan jumlah sperma yang dikeluarkan pada ejakulasi berikutnya.

Jika seorang pria mengalami ejakulasi beberapa kali dalam sehari, volume air mani dan jumlah total sperma dalam setiap ejakulasi berikutnya dapat menurun sementara. Kondisi ini merupakan respons fisiologis yang wajar dan tidak berarti testis berhenti memproduksi sperma.

Hal penting lainnya adalah membedakan antara sperma dan air mani. Sperma merupakan sel reproduksi pria yang berfungsi membuahi sel telur, sedangkan air mani atau semen adalah cairan ejakulasi yang membawa sperma bersama sekresi dari kelenjar reproduksi, seperti vesikula seminalis dan prostat.

Oleh karena itu, air mani yang tampak lebih sedikit tidak selalu berarti produksi sel sperma menurun secara permanen. Sebaliknya, volume semen yang tampak normal juga tidak menjamin jumlah dan kualitas sperma berada dalam rentang normal.

Jika seorang pria mengalami kesulitan mendapatkan keturunan, penilaian kesuburan tidak cukup dilakukan berdasarkan volume air mani atau frekuensi ejakulasi saja. Pemeriksaan analisis semen diperlukan untuk menilai konsentrasi, jumlah total, motilitas, dan morfologi sperma.

Mekanisme Spermatogenesis: Proses Produksi Sperma Berkelanjutan di Testis

Spermatogenesis adalah proses pembentukan dan pematangan sel sperma yang berlangsung di tubulus seminiferus, yaitu saluran-saluran kecil di dalam testis. Proses ini dimulai saat pubertas dan berlanjut sepanjang kehidupan pria, dengan kapasitas produksi yang dapat berubah sesuai usia dan kondisi tubuh.

Secara sederhana, proses spermatogenesis dapat dibagi menjadi beberapa tahap.

Tahap 1: Pembentukan sel awal sperma

Proses dimulai dari sel yang disebut spermatogonia. Sel-sel ini berada di dalam tubulus seminiferus dan membelah untuk mempertahankan populasi sel induk sekaligus menghasilkan sel yang akan berkembang menjadi sperma.

Tahap 2: Pembelahan dan pembentukan sel sperma muda

Sebagian spermatogonia berkembang menjadi spermatosit yang kemudian menjalani pembelahan meiosis. Melalui proses ini, jumlah kromosom berkurang menjadi setengah, sehingga sel yang dihasilkan memiliki 23 kromosom dan siap melanjutkan perkembangan menjadi sel reproduksi pria.

Tahap 3: Pembentukan bentuk sperma

Sel hasil pembelahan berkembang menjadi spermatid, kemudian mengalami perubahan bentuk melalui proses yang disebut spermiogenesis. Pada tahap ini, sel mulai membentuk kepala, bagian tengah, dan ekor yang diperlukan untuk pergerakan.

Tahap 4: Pematangan di epididimis

Sperma yang baru terbentuk dilepaskan ke dalam saluran reproduksi dan menuju epididimis, yaitu saluran berkelok di bagian belakang testis. Di sinilah sperma mengalami pematangan lebih lanjut dan memperoleh kemampuan bergerak yang lebih baik.

Tahap 5: Ejakulasi

Ketika ejakulasi terjadi, sperma bergerak melalui saluran reproduksi dan bercampur dengan cairan dari kelenjar reproduksi untuk membentuk air mani. Cairan ini kemudian dikeluarkan melalui uretra.

Secara keseluruhan, pembentukan sperma hingga tahap akhir memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga bulan, termasuk pematangan dan perjalanan melalui epididimis. Artinya, sperma yang dikeluarkan hari ini merupakan hasil proses biologis yang sudah berlangsung selama beberapa waktu sebelumnya.

Produksi yang berkelanjutan inilah yang memungkinkan pria tetap menghasilkan sperma meskipun mengalami ejakulasi secara rutin. Namun, produksi sperma bukan proses yang tidak terbatas dalam arti kapasitasnya selalu maksimal. Gangguan hormonal, penyakit tertentu, paparan panas berlebihan, obat-obatan tertentu, serta kerusakan jaringan testis dapat mengurangi produksinya.

Perbedaan Volume Cairan Ejakulasi yang Menurun dan Produksi Sel Sperma

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap bahwa air mani yang keluar lebih sedikit berarti tubuh sedang kehabisan sperma. Padahal, volume cairan ejakulasi dan jumlah sel sperma merupakan dua parameter yang berbeda.

Air mani sebagian besar terdiri atas cairan yang diproduksi oleh vesikula seminalis dan kelenjar prostat. Sel sperma hanya merupakan salah satu komponennya. Karena itu, perubahan volume ejakulasi tidak selalu mencerminkan perubahan produksi sperma di testis.

Sebagai contoh, seorang pria yang ejakulasi dua kali dalam waktu berdekatan mungkin mendapati bahwa volume air mani pada ejakulasi kedua lebih sedikit. Hal ini dapat terjadi karena cairan dari kelenjar reproduksi belum terkumpul kembali dalam jumlah yang sama seperti sebelumnya. Jumlah total sperma dalam ejakulasi tersebut juga dapat berkurang sementara.

Sebaliknya, pria yang tidak ejakulasi selama beberapa hari dapat mengeluarkan volume semen dan jumlah total sperma yang lebih besar pada ejakulasi berikutnya. Namun, volume atau jumlah sperma yang lebih besar tidak otomatis berarti kualitas sperma lebih baik.

Berikut perbedaan keduanya.

AspekVolume cairan ejakulasiProduksi sel sperma
Sumber utamaCairan dari vesikula seminalis dan prostat, serta komponen dari saluran reproduksiTestis, khususnya tubulus seminiferus
Faktor yang memengaruhiFrekuensi ejakulasi, fungsi kelenjar reproduksi, hidrasi, dan kondisi medis tertentuFungsi testis, hormon, usia, penyakit, dan faktor lingkungan
Perubahan setelah ejakulasi berulangDapat berkurang sementaraJumlah sperma per ejakulasi dapat menurun sementara, meskipun produksi terus berlangsung
Cara menilaiPengukuran volume semenAnalisis semen untuk menilai konsentrasi dan jumlah total sperma, serta parameter lainnya

Volume semen yang rendah secara berulang perlu dievaluasi, terutama jika disertai kesulitan mendapatkan keturunan, perubahan ejakulasi, atau keluhan lain. Penyebabnya dapat beragam, mulai dari gangguan pengeluaran semen, ejakulasi retrograd, sumbatan saluran reproduksi, hingga gangguan hormonal.

Dengan demikian, jangan langsung menyimpulkan bahwa produksi sperma menurun hanya berdasarkan tampilan atau banyaknya cairan ejakulasi.

Pengaruh Frekuensi Ejakulasi Harian terhadap Kuantitas dan Kualitas Sperma

Apakah ejakulasi setiap hari berbahaya bagi kesuburan pria? Jawabannya, tidak selalu. Pada pria yang sehat, ejakulasi harian umumnya tidak menyebabkan penurunan kesuburan secara permanen.

Meski demikian, frekuensi ejakulasi dapat memengaruhi beberapa parameter sperma pada setiap ejakulasi.

A. Jumlah total sperma per ejakulasi dapat menurun

Ketika ejakulasi dilakukan berulang kali dalam waktu berdekatan, tubuh memiliki waktu yang lebih singkat untuk mengumpulkan sperma dan cairan semen sebelum ejakulasi berikutnya.

Sebuah penelitian yang mengamati ejakulasi harian selama dua minggu menemukan bahwa volume semen dan jumlah total sperma per ejakulasi menurun selama periode tersebut. Namun, sejumlah parameter lain, termasuk motilitas, morfologi, dan viabilitas sperma, relatif tidak berubah secara bermakna dalam kelompok yang diteliti. Temuan ini menunjukkan bahwa jumlah sperma yang keluar dalam satu kali ejakulasi dapat berubah tanpa berarti kemampuan tubuh memproduksi sperma telah berhenti.

B. Kualitas sperma tidak selalu menurun akibat ejakulasi harian

Kualitas sperma tidak hanya dinilai berdasarkan jumlahnya. Motilitas, bentuk, viabilitas, dan integritas DNA juga dapat berperan dalam kemampuan sperma membuahi sel telur.

Pada sebagian pria, terutama yang memiliki parameter sperma normal, penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi dan motilitas sperma dapat tetap berada dalam rentang normal meskipun ejakulasi terjadi setiap hari. Di sisi lain, pengaruh frekuensi ejakulasi terhadap kualitas sperma dapat berbeda pada setiap individu. 

Karena itu, tidak tepat menyatakan bahwa semakin jarang ejakulasi, semakin baik kualitas sperma. Pantang ejakulasi terlalu lama juga dapat meningkatkan volume dan jumlah sperma dalam satu sampel, tetapi tidak selalu memberikan keuntungan pada semua parameter kualitas sperma.

C. Bagaimana jika sedang menjalani program hamil?

Bagi pasangan yang sedang berusaha mendapatkan kehamilan secara alami, hubungan seksual setiap satu hingga dua hari selama masa subur dapat membantu mengoptimalkan peluang kehamilan. Pasangan tidak perlu membatasi hubungan seksual hanya karena khawatir sperma akan habis.

Namun, jika pria diketahui memiliki kelainan sperma tertentu atau pasangan sedang menjalani IUI maupun IVF, dokter dapat memberikan rekomendasi waktu ejakulasi yang disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan atau tindakan.

Perlu dibedakan pula antara pantang ejakulasi untuk pemeriksaan analisis semen dan frekuensi hubungan seksual untuk mendapatkan kehamilan. Untuk pemeriksaan analisis semen, laboratorium biasanya meminta pantang ejakulasi selama dua hingga tujuh hari agar hasil pemeriksaan dapat dibandingkan dengan standar yang digunakan. Instruksi laboratorium tetap harus diikuti.

Faktor Usia dan Kesehatan yang Memengaruhi Kapasitas Produksi Sperma

Meskipun produksi sperma berlangsung secara berkelanjutan, kapasitas reproduksi pria tidak selalu sama sepanjang hidup. Usia, keseimbangan hormon, kondisi testis, dan gaya hidup dapat memengaruhi jumlah maupun kualitas sperma.

A. Faktor usia

Produksi sperma dapat berlangsung hingga usia lanjut. Namun, kemampuan reproduksi pria dapat mengalami perubahan seiring bertambahnya usia.

Pada sebagian pria, pertambahan usia berkaitan dengan penurunan motilitas dan perubahan morfologi sperma, peningkatan kerusakan DNA sperma, serta perubahan hormonal. Besarnya perubahan tersebut bervariasi antarindividu dan tidak berarti setiap pria yang lebih tua pasti mengalami infertilitas.

Selain itu, usia ayah yang lebih lanjut dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa kelainan genetik baru pada keturunan. Oleh karena itu, usia tetap menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam evaluasi kesuburan pria.

B. Gangguan hormon

Produksi sperma membutuhkan koordinasi hormon dari otak dan testis, terutama hormon luteinizing hormone (LH), follicle-stimulating hormone (FSH), dan testosteron.

Gangguan pada sistem hormon tersebut dapat menghambat spermatogenesis. Salah satu contohnya adalah hipogonadisme, yaitu kondisi ketika produksi hormon seks tidak mencukupi untuk kebutuhan tubuh.

Penting diketahui bahwa penggunaan testosteron dari luar tubuh, termasuk terapi testosteron tertentu dan steroid anabolik, justru dapat menekan hormon yang diperlukan untuk produksi sperma. Pada sebagian pria, kondisi ini bahkan dapat menyebabkan jumlah sperma menjadi sangat rendah atau tidak ditemukan dalam semen.

Karena itu, pria yang sedang merencanakan keturunan sebaiknya tidak menggunakan testosteron atau obat peningkat massa otot berbasis hormon tanpa evaluasi dokter.

C. Penyakit dan gangguan pada testis

Beberapa kondisi medis dapat memengaruhi kemampuan testis memproduksi sperma, misalnya:

  • Varikokel, yaitu pelebaran pembuluh darah vena di sekitar testis.
  • Infeksi tertentu yang menyebabkan peradangan pada testis atau saluran reproduksi.
  • Riwayat cedera atau operasi pada testis dan saluran reproduksi.
  • Testis tidak turun ke skrotum saat masa kanak-kanak.
  • Kelainan genetik atau gangguan hormonal tertentu.

Dampaknya bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan. Sebagian kondisi dapat ditangani, sedangkan kondisi lainnya memerlukan evaluasi fertilitas yang lebih mendalam.

D. Gaya hidup dan paparan lingkungan

Kebiasaan sehari-hari juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi pria. Faktor yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Merokok: berkaitan dengan kualitas semen yang lebih buruk pada sebagian pria.
  • Konsumsi alkohol berlebihan: dapat mengganggu fungsi hormonal dan kesehatan reproduksi.
  • Obesitas: dapat berkaitan dengan perubahan hormon dan penurunan kualitas semen.
  • Paparan panas berlebihan pada testis: dapat mengganggu proses pembentukan sperma, terutama jika berlangsung berulang atau berkepanjangan.
  • Obat dan zat tertentu: termasuk steroid anabolik serta beberapa obat yang dapat memengaruhi fungsi reproduksi.
  • Pola hidup yang kurang sehat: dapat berkontribusi terhadap gangguan kesehatan metabolik yang turut memengaruhi kesuburan.

Menjaga berat badan yang sehat, menghindari rokok dan steroid anabolik tanpa indikasi medis, membatasi alkohol, serta mengelola penyakit kronis merupakan langkah yang masuk akal untuk mendukung kesehatan reproduksi.

Kapan perlu memeriksakan diri ke dokter?

Pria sebaiknya mempertimbangkan evaluasi medis jika mengalami volume semen yang terus-menerus sangat sedikit, tidak dapat ejakulasi, terdapat nyeri atau pembengkakan pada testis, atau mengalami kesulitan mendapatkan keturunan.

Secara umum, evaluasi infertilitas dianjurkan apabila pasangan belum mendapatkan kehamilan setelah 12 bulan melakukan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih awal jika terdapat faktor risiko atau masalah reproduksi yang diketahui.

Dokter spesialis andrologi dapat menyarankan analisis semen dan jika diperlukan, pemeriksaan hormon atau pemeriksaan tambahan untuk mencari penyebab gangguan kesuburan. 

Jangan Ragu untuk ke Dokter jika Ada Masalah Terkait Sperma/Kesuburan Pria

Sperma memang secara natural tidaka akan habis diproduksi tubuh pria. Namun, perlu analisis lebih lanjut tentang kualitas speramnya.

Di Primecare Clinic tersedia dokter spesialis andrologi dan analisis sperma. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Referensi medis

  1. Mayo Clinic. Male masturbation: Does frequency affect male fertility?
  2. American Society for Reproductive Medicine (ASRM). Optimizing natural fertility: A committee opinion
  3. Mayorga-Torres BJM, et al. Influence of ejaculation frequency on seminal parameters. Reproductive Biology and Endocrinology. 2015.
  4. Hanson BM, et al. The impact of ejaculatory abstinence on semen analysis parameters: a systematic review. Journal of Assisted Reproduction and Genetics. 2018.
  5. Mayo Clinic. Low sperm count: Symptoms and causes.

2149214332-_1_-1200x800.webp

Salah satu layanan yang ada di dokter spesialis andrologi adalah sperm washing atau cuci sperma. Wah, apa itu “cuci” sperma? Apa tujuannya? Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa Itu Prosedur Cuci Sperma (Sperm Washing)?

Sperm washing adalah prosedur laboratorium yang bertujuan memisahkan sel sperma dari cairan semen (seminal plasma), sel-sel lain, dan sisa komponen yang tidak dibutuhkan dalam proses reproduksi berbantu. Prosedur ini juga membantu memperoleh sampel sperma dengan karakteristik motilitas atau kemampuan bergerak yang sesuai untuk tindakan selanjutnya.

Dalam kondisi alami, sperma dikeluarkan bersama cairan semen yang mengandung berbagai zat, termasuk protein, enzim, dan komponen lain dari sistem reproduksi pria. Dalam prosedur tertentu, khususnya inseminasi intrauterin, cairan semen tidak dapat langsung dimasukkan ke dalam rahim karena dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan.

Melalui sperm washing, laboratorium memproses sampel semen untuk mendapatkan fraksi sperma yang lebih sesuai dengan kebutuhan prosedur reproduksi berbantu.

Penting untuk dipahami bahwa sperm washing bukanlah metode untuk memperbaiki seluruh kelainan sperma. Prosedur ini tidak dapat menjamin bahwa sperma yang diperoleh bebas dari kerusakan DNA, kelainan genetik, atau seluruh faktor yang dapat memengaruhi kesuburan.

Apa Tujuan Sperm Washing?

Secara umum, sperm washing memiliki beberapa tujuan penting dalam program hamil.

1. Memisahkan sperma dari cairan semen

Cairan semen dipisahkan karena komposisinya tidak sesuai untuk dimasukkan langsung ke dalam rongga rahim pada prosedur inseminasi intrauterin atau intrauterine insemination (IUI).

2. Memilih sperma dengan pergerakan yang lebih baik

Metode tertentu dapat membantu memisahkan sperma yang bergerak aktif dari sperma yang tidak bergerak atau bergerak kurang baik. Hal ini penting karena kemampuan bergerak membantu sperma mencapai dan membuahi sel telur.

3. Mengurangi komponen seluler yang tidak diperlukan

Proses pengolahan dapat mengurangi keberadaan sel darah putih, sel-sel mati, dan debris atau sisa sel, bergantung pada metode yang digunakan dan kondisi sampel awal.

4. Menyiapkan sperma untuk prosedur reproduksi berbantu

Sampel hasil pencucian dapat digunakan untuk IUI, fertilisasi in vitro (in vitro fertilization atau IVF), maupun injeksi sperma ke dalam sel telur (intracytoplasmic sperm injection atau ICSI), sesuai dengan rencana dokter.

Dengan demikian, tujuan utama sperm washing bukan sekadar meningkatkan jumlah sperma, melainkan mempersiapkan sampel agar lebih sesuai untuk tindakan reproduksi yang akan dilakukan.

Indikasi Medis yang Memerlukan Prosedur Cuci Sperma

Tidak semua pria yang sedang menjalani program hamil memerlukan sperm washing. Kebutuhan prosedur ini ditentukan berdasarkan kondisi sperma, faktor kesuburan pasangan, serta jenis tindakan yang direncanakan.

Beberapa kondisi yang dapat menjadi indikasi meliputi:

1. Program inseminasi intrauterin (IUI)

Sperm washing merupakan bagian penting dari persiapan sperma untuk IUI. Sampel sperma perlu diproses sebelum dimasukkan ke dalam rongga rahim agar cairan semen tidak ikut dimasukkan.

2. Jumlah atau motilitas sperma yang kurang optimal

Pada pria dengan jumlah sperma rendah (oligozoospermia) atau pergerakan sperma yang kurang baik (asthenozoospermia), teknik pengolahan tertentu dapat membantu memperoleh fraksi sperma yang masih bergerak aktif. Namun, manfaatnya bergantung pada jumlah dan kualitas sperma yang tersedia setelah proses pencucian.

3. Persiapan untuk IVF atau ICSI

Dalam program bayi tabung, sperma umumnya perlu diproses sebelum digunakan untuk fertilisasi. Teknik yang dipilih bergantung pada apakah sperma akan dipertemukan dengan sel telur di laboratorium atau disuntikkan langsung ke dalam sel telur melalui ICSI.

4. Sampel semen dengan banyak sel darah putih atau debris

Jika ditemukan banyak sel darah putih (leukosit) atau sisa sel dalam sampel, pemrosesan dapat membantu mengurangi komponen tersebut. Akan tetapi, peningkatan leukosit juga dapat menandakan peradangan atau infeksi yang memerlukan evaluasi dan penanganan tersendiri.

5. Kondisi khusus yang membutuhkan pemisahan sperma dari komponen semen tertentu

Dalam situasi tertentu, sperm washing dapat menjadi bagian dari protokol reproduksi berbantu yang disesuaikan dengan kondisi medis pasien. Pemilihan metode harus dilakukan oleh tim medis dan laboratorium yang berpengalaman.

Perlu dicatat bahwa gangguan kesuburan pria tidak selalu dapat diatasi dengan sperm washing. Jika terdapat gangguan produksi sperma yang berat, sumbatan saluran reproduksi, atau kelainan lain yang mendasari, pasien mungkin memerlukan pemeriksaan dan penanganan tambahan.

Tahapan dan Metode Utama Sperm Washing di Laboratorium

Prosedur sperm washing dilakukan oleh tenaga laboratorium embriologi atau andrologi yang terlatih di fasilitas reproduksi berbantu. Secara umum, prosesnya meliputi beberapa tahapan berikut.

Tahap 1: Pengambilan sampel semen

Pria diminta memberikan sampel semen, umumnya melalui masturbasi ke dalam wadah steril yang disediakan klinik. Pasien akan mendapat petunjuk mengenai lama pantang ejakulasi dan cara pengumpulan sampel sesuai protokol klinik.

Tahap 2: Pemeriksaan awal sampel

Laboratorium mengevaluasi karakteristik semen, seperti volume, konsentrasi sperma, motilitas, dan parameter lain sesuai kebutuhan. Hasil pemeriksaan ini membantu menentukan metode pengolahan yang paling sesuai.

Tahap 3: Pemisahan dan pemilihan sperma

Laboratorium menggunakan teknik tertentu untuk memisahkan sperma yang diinginkan dari cairan semen dan komponen lainnya.

Tahap 4: Pencucian dan pengumpulan sperma

Fraksi sperma yang telah dipilih diproses lebih lanjut menggunakan media khusus. Sampel kemudian dikumpulkan dalam volume yang sesuai untuk tindakan reproduksi berbantu.

Tahap 5: Evaluasi hasil akhir

Laboratorium memeriksa kembali parameter sperma setelah pengolahan, terutama jumlah sperma yang masih bergerak aktif. Hasil ini menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan apakah sampel dapat digunakan untuk tindakan yang direncanakan.

Metode Sperm Washing

Terdapat tiga metode utama yang lazim digunakan.

A. Metode Swim-Up

Prinsip: memilih sperma berdasarkan kemampuan berenang aktif.

Pada metode ini, sampel semen ditempatkan bersama media khusus. Sperma yang mampu bergerak aktif akan berenang menuju lapisan media di atasnya. Laboratorium kemudian mengambil bagian tersebut untuk memperoleh fraksi sperma yang diinginkan.

Metode ini sering digunakan ketika sampel memiliki karakteristik awal yang relatif baik. Namun, jumlah sperma yang berhasil diperoleh dapat berkurang selama proses seleksi.

B. Metode Density Gradient Centrifugation

Metode ini menggunakan media dengan tingkat kepadatan berbeda. Sampel semen diletakkan di atas lapisan media tersebut, kemudian diproses menggunakan alat sentrifugasi.

Sperma dengan karakteristik tertentu akan terkumpul pada bagian bawah tabung, sementara sebagian cairan semen, sel lain, dan debris tertinggal pada lapisan berbeda. Fraksi yang terkumpul kemudian dicuci kembali sebelum digunakan.

Teknik ini dapat bermanfaat pada sampel dengan karakteristik sperma yang kurang optimal, meskipun pemilihannya tetap bergantung pada hasil pemeriksaan awal.

C. Metode Simple Washing

Pada metode ini, sampel semen dicampur dengan media pencuci khusus dan kemudian disentrifugasi. Sperma dikumpulkan pada bagian bawah tabung, sedangkan cairan di bagian atas dibuang. Proses pencucian dapat diulang sesuai protokol laboratorium.

Metode ini relatif sederhana dan dapat digunakan pada kondisi sampel tertentu. Akan tetapi, kemampuan seleksinya berbeda dari metode swim-up maupun density gradient centrifugation.

Pemilihan metode tidak dilakukan berdasarkan anggapan bahwa satu teknik selalu paling baik. Karakteristik sampel dan tujuan prosedur menjadi pertimbangan utama. 

Manfaat dan Tingkat Keberhasilan Sperm Washing pada Program Hamil

Manfaat utama sperm washing adalah menyiapkan sperma agar sesuai untuk prosedur reproduksi berbantu. Proses ini dapat membantu meningkatkan proporsi sperma yang bergerak aktif dalam sampel akhir, mengurangi cairan semen, dan menghilangkan sebagian komponen seluler yang tidak dibutuhkan.

Namun, ada hal penting yang perlu dipahami: keberhasilan sperm washing tidak sama dengan keberhasilan kehamilan.

Sperm washing merupakan tahap persiapan, bukan prosedur yang secara langsung menjamin terjadinya pembuahan atau kehamilan. Keberhasilan program hamil dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

  • Usia dan kualitas sel telur pasangan perempuan.
  • Jumlah serta motilitas sperma yang tersedia setelah pencucian.
  • Kondisi saluran reproduksi perempuan, termasuk keterbukaan tuba falopi pada program IUI.
  • Penyebab infertilitas dan lamanya pasangan mengalami kesulitan mendapatkan kehamilan.
  • Jenis tindakan reproduksi berbantu yang digunakan.
  • Faktor klinis lain serta protokol yang diterapkan oleh fasilitas fertilitas.

Pada program IUI, kualitas dan jumlah sperma motil setelah pengolahan menjadi salah satu pertimbangan penting. Jika jumlah sperma motil yang diperoleh sangat rendah, dokter dapat mempertimbangkan pilihan terapi lain.

Sementara itu, pada IVF atau ICSI, sperma hasil pengolahan digunakan dalam proses fertilisasi di laboratorium. Hasil akhirnya tetap dipengaruhi oleh kualitas sperma dan sel telur, perkembangan embrio, serta faktor lain yang berkaitan dengan implantasi dan kehamilan.

Bukti penelitian juga belum menunjukkan bahwa satu metode pencucian sperma selalu menghasilkan angka kehamilan atau kelahiran hidup yang lebih tinggi dibandingkan metode lainnya. Tinjauan Cochrane mengenai teknik persiapan sperma untuk IUI menemukan bahwa bukti perbandingan metode swim-up, density gradient, dan pencucian sederhana masih terbatas. Karena itu, angka keberhasilan sebaiknya ditanyakan kepada dokter berdasarkan usia pasangan, diagnosis infertilitas, hasil analisis semen, serta angka keberhasilan klinik untuk jenis tindakan yang direncanakan, bukan berdasarkan prosedur sperm washing semata. 

Perbedaan Sperm Washing untuk IUI dan IVF

Walaupun sama-sama memerlukan persiapan sperma, penggunaan sperm washing pada IUI dan IVF memiliki tujuan lanjutan yang berbeda.

AspekIUI (Intrauterine Insemination)IVF (In Vitro Fertilization)
Lokasi pembuahanDi dalam tubuh perempuanDi laboratorium
Tujuan pengolahan spermaMenyiapkan sperma untuk dimasukkan ke dalam rahimMenyiapkan sperma untuk proses fertilisasi sel telur di laboratorium
Proses selanjutnyaSperma dimasukkan ke dalam rahim menggunakan kateter kecilSperma dipertemukan dengan sel telur atau digunakan untuk ICSI
Peran jumlah sperma motilSangat penting dalam menentukan kelayakan IUIDipertimbangkan bersama karakteristik sperma dan metode fertilisasi
Faktor keberhasilanKualitas sperma, ovulasi, kondisi tuba falopi, usia perempuan, dan faktor lainnyaKualitas sperma dan sel telur, fertilisasi, perkembangan embrio, serta faktor lainnya

Sperm Washing pada IUI

Pada IUI, sampel sperma yang telah diproses dimasukkan langsung ke dalam rongga rahim melalui kateter saat waktu ovulasi yang tepat. Karena sperma ditempatkan di dalam rahim, cairan semen tidak boleh ikut dimasukkan begitu saja.

Prosedur ini membantu menyiapkan sperma yang bergerak aktif agar dapat melanjutkan perjalanan menuju tuba falopi, tempat pembuahan biasanya terjadi.

Namun, IUI tidak selalu menjadi pilihan terbaik bagi semua pasangan. Jika terdapat gangguan kesuburan yang berat atau kondisi lain yang mengurangi peluang keberhasilan IUI, dokter dapat merekomendasikan IVF.

Sperm Washing pada IVF

Dalam program IVF atau bayi tabung, sperma juga diproses untuk memperoleh sampel yang sesuai sebelum digunakan untuk fertilisasi.

Terdapat dua pendekatan yang umum dilakukan:

  • Fertilisasi konvensional: sperma ditempatkan bersama sel telur di laboratorium sehingga proses pembuahan berlangsung secara alami pada lingkungan yang terkontrol.
  • ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection): satu sperma dipilih dan disuntikkan langsung ke dalam sel telur menggunakan peralatan mikroskopis.

ICSI sering dipertimbangkan pada kondisi tertentu, misalnya faktor infertilitas pria yang berat atau riwayat fertilisasi yang kurang berhasil. Pemilihannya tetap bergantung pada evaluasi dokter.

Dengan demikian, perbedaan utamanya bukan sekadar teknik pencucian sperma, melainkan tujuan penggunaan sampel setelah proses tersebut selesai.

Faktor yang Memengaruhi Kualitas Sperma Hasil Prosedur Washing

Kualitas sperma setelah proses washing tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat laboratorium. Kondisi awal sperma dan proses pengolahannya juga berperan penting.

1. Kualitas sperma sebelum pengolahan

Jumlah sperma, motilitas, morfologi atau bentuk sperma, serta viabilitas atau kemampuan hidup sperma akan memengaruhi hasil akhir. Jika jumlah sperma motil sejak awal sangat rendah, jumlah yang berhasil dikumpulkan setelah pencucian juga dapat terbatas.

2. Metode sperm washing yang digunakan

Metode swim-up, density gradient centrifugation, dan simple washing memiliki prinsip seleksi yang berbeda. Laboratorium memilih metode berdasarkan kondisi sampel dan kebutuhan prosedur reproduksi.

3. Lama pantang ejakulasi

Lama pantang ejakulasi dapat memengaruhi volume semen, konsentrasi sperma, motilitas, dan beberapa parameter kualitas sperma lainnya. Karena itu, pasien sebaiknya mengikuti instruksi klinik mengenai waktu ejakulasi terakhir sebelum pengambilan sampel.

4. Usia dan kondisi kesehatan pria

Usia, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, penggunaan obat atau zat tertentu, paparan panas berlebihan, serta kondisi medis yang mendasari dapat memengaruhi kualitas sperma. Faktor-faktor tersebut perlu dievaluasi sebagai bagian dari penanganan infertilitas pria.

5. Kualitas proses laboratorium

Penggunaan media yang sesuai, pengendalian suhu, teknik pemrosesan, kebersihan, dan kompetensi tenaga laboratorium berperan dalam menjaga kualitas sampel. Prosedur harus dilakukan sesuai standar laboratorium reproduksi.

6. Integritas DNA sperma

Sperma yang bergerak aktif belum tentu memiliki DNA yang sepenuhnya normal. Sperm washing dapat membantu memilih sperma berdasarkan karakteristik tertentu, tetapi tidak menjamin bahwa seluruh sperma yang diperoleh bebas dari kerusakan DNA atau kelainan genetik.

Oleh sebab itu, hasil pemeriksaan semen sebelum dan sesudah pengolahan perlu diinterpretasikan secara menyeluruh. Jika ditemukan kelainan sperma, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan tambahan sesuai indikasi.

Sperm Washing Dilakukan oleh Dokter Apa?

Sperm washing merupakan prosedur laboratorium yang biasanya dilakukan di klinik fertilitas atau pusat reproduksi berbantu.

Beberapa tenaga medis dan profesional yang berperan dalam proses ini antara lain:

1. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas dan endokrinologi reproduksi

Dokter ini berperan dalam mengevaluasi kesuburan pasangan, menentukan apakah IUI atau IVF sesuai untuk kondisi pasien, serta menyusun rencana terapi.

2. Dokter spesialis urologi atau andrologi

Dokter yang menangani kesehatan reproduksi pria berperan dalam mengevaluasi kelainan sperma, gangguan produksi sperma, masalah hormonal, maupun kelainan pada saluran reproduksi pria. Di Indonesia, layanan terkait dapat melibatkan dokter spesialis andrologi atau dokter yang memiliki keahlian khusus di bidang andrologi.

3. Embriolog atau tenaga laboratorium reproduksi berbantu

Embriolog atau tenaga laboratorium yang terlatih bertanggung jawab atas pemrosesan sampel sperma, pemilihan metode pencucian, pemeriksaan hasil akhir, dan penyiapan sampel untuk tindakan yang direncanakan sesuai kewenangan serta protokol fasilitas.

Janga Ragu untuk Konsultasi

Jika Anda dan pasangan sedang menjalani program hamil, langkah awal yang tepat adalah berkonsultasi dengan dokter fertilitas seperti dokter spesialis andrologi. Bila ditemukan masalah pada sperma, dokter dapat mengarahkan pemeriksaan lebih lanjut atau merujuk ke dokter yang menangani kesehatan reproduksi pria.

Di Primecare Clinic Jakarta Selatan, tersedia layanan sperm washing dan dokter spesialis andrologi. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Referensi medis

  1. American Society for Reproductive Medicine (ASRM). Comprehensive Guidance for Human Embryology and Andrology Laboratories: Management and Operations (2022). https://www.asrm.org/
  2. Cochrane. Semen preparation techniques for intrauterine insemination. https://www.cochrane.org/evidence/CD004507_semen-preparation-techniques-intrauterine-insemination
  3. NHS. Intrauterine insemination (IUI). https://www.nhs.uk/tests-and-treatments/intrauterine-insemination-iui/
  4. European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE). Recommendations on Good Practice in the IVF Laboratory (2026). https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC13429877/


Flu merupakan salah satu penyakit yang sering dialami oleh banyak orang, terutama saat daya tahan tubuh menurun atau terjadi perubahan cuaca. 

Gejalanya dapat berupa demam, pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, batuk, sakit kepala, hingga nyeri otot. Meskipun sering dianggap sebagai penyakit ringan, flu terkadang dapat menimbulkan komplikasi yang memerlukan penanganan medis.

Lantas, kalau sakit flu, harus ke dokter apa? Secara umum, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter umum atau dokter spesialis untuk orang dewasa. Sementara itu, anak-anak yang mengalami gejala flu dapat diperiksa oleh dokter umum atau dokter spesialis anak. 

Jika flu disertai keluhan tertentu, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan ke dokter spesialis lain sesuai kebutuhan.

Agar tidak salah memilih layanan kesehatan, simak panduan lengkap mengenai dokter yang tepat untuk mengatasi flu, gejala yang perlu diwaspadai, dan kapan Anda harus segera mendapatkan pertolongan medis berikut ini.

Kalau Sakit Flu, Harus ke Dokter Apa?

Pemilihan dokter untuk menangani flu bergantung pada usia pasien, tingkat keparahan gejala, serta kondisi kesehatan yang mendasarinya. Berikut beberapa pilihan dokter yang dapat Anda kunjungi.

1. Dokter Umum untuk Gejala Flu Ringan

Dokter umum biasanya menjadi pilihan pertama ketika Anda mengalami gejala flu, seperti pilek, batuk, sakit tenggorokan, demam ringan, atau badan terasa pegal.

Dokter umum dapat melakukan pemeriksaan fisik, menilai tingkat keparahan gejala, memberikan pengobatan sesuai kebutuhan, serta menentukan apakah Anda memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Anda dapat berkonsultasi dengan dokter umum jika mengalami kondisi berikut:

  • Hidung berair atau tersumbat.
  • Batuk dan sakit tenggorokan.
  • Demam ringan hingga sedang.
  • Sakit kepala dan nyeri otot.
  • Badan terasa lemas atau tidak nyaman.
  • Gejala flu yang tidak kunjung membaik.

Dokter juga akan mempertimbangkan kemungkinan penyakit lain yang memiliki gejala serupa, seperti COVID-19, sinusitis, atau infeksi saluran pernapasan lainnya.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk Orang Dewasa

Dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) dapat menjadi pilihan bagi orang dewasa yang mengalami flu dengan gejala lebih berat, memiliki penyakit penyerta, atau membutuhkan evaluasi medis lebih lanjut.

Pemeriksaan oleh dokter spesialis penyakit dalam dapat dipertimbangkan jika Anda memiliki kondisi seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit paru kronis, atau gangguan sistem kekebalan tubuh.

Dokter akan menilai apakah infeksi saluran pernapasan berisiko memperburuk penyakit yang sudah ada dan menentukan penanganan yang sesuai.

Namun, Anda tidak harus langsung menemui dokter spesialis penyakit dalam untuk setiap kasus flu. Untuk gejala ringan tanpa komplikasi, dokter umum biasanya sudah memadai sebagai pemeriksaan awal.

3. Dokter Spesialis Anak untuk Anak yang Mengalami Flu

Jika anak mengalami flu, Anda dapat membawanya ke dokter umum atau dokter spesialis anak (Sp.A). Dokter spesialis anak memiliki keahlian dalam mengevaluasi gejala infeksi dan menentukan penanganan yang sesuai dengan usia serta kondisi anak.

Segera periksakan anak apabila mengalami gejala berikut:

  • Demam yang disertai kondisi tubuh sangat lemas.
  • Tidak mau minum atau menunjukkan tanda dehidrasi.
  • Napas cepat atau terlihat kesulitan bernapas.
  • Demam yang menetap atau kondisi semakin memburuk.
  • Bayi berusia di bawah tiga bulan dengan suhu tubuh 38°C atau lebih.

Bayi berusia di bawah tiga bulan yang mengalami demam 38°C atau lebih perlu segera mendapatkan evaluasi medis. Jangan menunda pemeriksaan hanya karena gejala awal tampak seperti flu biasa.

4. Dokter Spesialis THT untuk Keluhan Hidung dan Tenggorokan Tertentu

Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT-KL) dapat membantu jika keluhan pada hidung, telinga, atau tenggorokan berlangsung lama, berulang, atau memerlukan pemeriksaan khusus.

Konsultasi dengan dokter spesialis THT dapat dipertimbangkan apabila Anda mengalami:

  • Hidung tersumbat berkepanjangan.
  • Nyeri atau tekanan pada wajah yang menetap.
  • Keluhan telinga yang disertai nyeri atau gangguan pendengaran.
  • Sakit tenggorokan berulang atau sulit menelan.
  • Gejala yang mengarah pada gangguan sinus dan memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Perlu diketahui bahwa pilek akibat flu biasa tidak selalu memerlukan pemeriksaan ke dokter THT. Dokter umum dapat melakukan pemeriksaan awal dan memberikan rujukan jika diperlukan.

5. Dokter Spesialis Paru untuk Keluhan Pernapasan

Jika flu disertai batuk berkepanjangan atau keluhan pernapasan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut, dokter dapat menyarankan konsultasi dengan dokter spesialis paru (Sp.P).

Pemeriksaan lebih lanjut dapat diperlukan jika Anda mengalami batuk yang tidak kunjung membaik, memiliki penyakit paru kronis, atau dicurigai mengalami komplikasi seperti pneumonia.

Namun, jika Anda mengalami sesak napas berat, bibir kebiruan, nyeri dada berat, atau penurunan kesadaran, jangan menunggu jadwal dokter spesialis. Segera cari pertolongan di instalasi gawat darurat (IGD).

Kapan Harus ke Dokter Saat Mengalami Flu?

Tidak semua kasus flu membutuhkan pemeriksaan medis. Gejala ringan biasanya dapat ditangani di rumah dengan istirahat cukup, minum air yang memadai, dan perawatan sesuai kebutuhan.

Namun, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami kondisi berikut.

1. Gejala Flu Tidak Kunjung Membaik

Sebagian besar gejala flu dapat membaik dalam beberapa hari hingga sekitar satu minggu, meskipun batuk dan rasa lelah terkadang bertahan lebih lama.

Periksakan diri jika gejala tidak membaik, berlangsung lebih lama dari yang diharapkan, atau justru semakin berat. Dokter dapat mengevaluasi kemungkinan penyebab lain atau komplikasi.

2. Demam Tinggi atau Berkepanjangan

Demam dapat terjadi saat tubuh melawan infeksi virus. Namun, demam tinggi, demam yang menetap, atau demam yang kembali muncul setelah kondisi sempat membaik perlu dievaluasi oleh tenaga medis.

Jangan hanya mengandalkan obat penurun demam apabila kondisi tubuh terus memburuk.

3. Batuk Semakin Berat atau Disertai Sesak Napas

Batuk merupakan salah satu gejala yang umum terjadi saat flu. Akan tetapi, batuk yang semakin berat, nyeri dada, atau kesulitan bernapas dapat menandakan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Segera cari pertolongan medis jika Anda mengalami sesak napas berat, nyeri dada yang berat, kebingungan, atau penurunan kesadaran. Jangan menunda ke IGD untuk menunggu konsultasi rutin.

4. Memiliki Penyakit Penyerta

Orang dengan penyakit kronis atau daya tahan tubuh yang lemah berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi influenza.

Kelompok yang perlu lebih waspada meliputi:

  • Lansia berusia 65 tahun ke atas.
  • Anak kecil, terutama anak di bawah lima tahun.
  • Ibu hamil.
  • Penderita asma atau penyakit paru kronis.
  • Penderita diabetes dan penyakit jantung.
  • Orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.

Jika Anda termasuk kelompok tersebut dan mengalami gejala yang mengarah pada influenza, sebaiknya hubungi dokter sejak awal. 

Obat antivirus influenza dapat memberikan manfaat lebih besar jika dimulai sedini mungkin, terutama dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul, meskipun pada kondisi tertentu pengobatan tetap dapat bermanfaat setelah periode tersebut.

Kesimpulan

Kalau sakit flu, Anda dapat memulai pemeriksaan dengan dokter umum. 

Untuk orang dewasa yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut, dokter spesialis penyakit dalam dapat menjadi pilihan. 

Anak-anak dapat diperiksa oleh dokter umum atau dokter spesialis anak, sedangkan keluhan hidung, tenggorokan, atau pernapasan tertentu mungkin memerlukan konsultasi dengan dokter THT atau dokter spesialis paru.

Jika gejala flu ringan, Anda dapat beristirahat dan melakukan perawatan mandiri di rumah. Namun, apabila gejala semakin berat, tidak kunjung membaik, atau disertai tanda bahaya seperti sesak napas dan nyeri dada berat, segera cari pertolongan medis.

Memilih dokter yang tepat sejak awal dapat membantu Anda mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai, sekaligus mengurangi risiko komplikasi akibat infeksi saluran pernapasan.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter umum dan dokter spesialis. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2769-1-1-1200x675.webp

Influenza atau flu merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Meskipun sering dianggap sebagai penyakit ringan, flu dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan kondisi medis tertentu.

Salah satu cara untuk membantu melindungi diri dari influenza adalah dengan mendapatkan vaksin flu secara rutin. Namun, tahukah Anda bahwa vaksin flu tersedia dalam formulasi 3 strain dan 4 strain?

Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus influenza. 

Perbedaan utamanya terletak pada jumlah dan jenis strain virus yang dicakup oleh vaksin. Lantas, apa perbedaan vaksin flu 3 strain dan 4 strain, serta mana yang lebih sesuai untuk Anda?

Apa Itu Vaksin Flu 3 Strain?

Vaksin flu 3 strain, yang juga dikenal sebagai vaksin influenza trivalen, merupakan vaksin yang dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap tiga jenis virus influenza.

Secara umum, vaksin ini mencakup:

  • Dua strain virus influenza A, yaitu A(H1N1) dan A(H3N2).
  • Satu strain virus influenza B.

Komposisi vaksin influenza diperbarui secara berkala berdasarkan pemantauan virus yang beredar dan rekomendasi organisasi kesehatan. Tujuannya adalah agar vaksin dapat memberikan perlindungan yang relevan terhadap strain influenza yang diperkirakan akan menyebar.

Dengan mencakup tiga strain virus, vaksin flu 3 strain membantu sistem kekebalan tubuh mengenali virus-virus tersebut sehingga tubuh lebih siap melawan infeksi apabila terpapar.

Apa Itu Vaksin Flu 4 Strain?

Vaksin flu 4 strain atau vaksin influenza kuadrivalen merupakan vaksin yang sebelumnya dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap empat jenis virus influenza.

Formulasi klasik vaksin ini mencakup:

  • Dua strain virus influenza A, yaitu A(H1N1) dan A(H3N2).
  • Dua strain virus influenza B, yaitu dari garis keturunan B/Victoria dan B/Yamagata.

Penambahan satu strain influenza B pada formulasi klasik tersebut bertujuan memperluas cakupan perlindungan, khususnya ketika garis keturunan virus influenza B yang beredar berbeda dari strain yang diperkirakan dominan.

Namun, perkembangan virus influenza membuat komposisi vaksin terus dievaluasi. Untuk musim influenza 2025–2026 dan seterusnya, sejumlah otoritas kesehatan, termasuk WHO dan FDA Amerika Serikat, telah mengadopsi formulasi trivalen tanpa komponen B/Yamagata karena tidak ada virus influenza B/Yamagata yang terkonfirmasi beredar secara alami sejak Maret 2020.

Oleh karena itu, vaksin dengan empat strain tidak otomatis lebih unggul daripada vaksin tiga strain. Kesesuaian komposisi vaksin dengan virus yang beredar juga perlu dipertimbangkan.

Perbedaan Vaksin Flu 3 Strain dan 4 Strain

Perbedaan kedua jenis vaksin ini dapat dilihat dari beberapa aspek berikut.

AspekVaksin Flu 3 StrainVaksin Flu 4 Strain
Istilah medisTrivalenKuadrivalen
Jumlah strain dalam formulasi klasik3 strain4 strain
Cakupan virus influenza A2 strain2 strain
Cakupan virus influenza B1 strain2 strain
TujuanMembantu melindungi dari tiga strain influenzaFormulasi klasiknya menambahkan satu strain influenza B
Pertimbangan pemilihanKesesuaian dengan rekomendasi dan komposisi vaksin terkiniKesesuaian komposisi dengan virus yang beredar dan ketersediaan produk

Catatan penting: Tabel ini menjelaskan perbedaan formulasi klasik. Komposisi aktual vaksin dapat berbeda menurut musim, negara, dan produk yang tersedia. Sejak komponen B/Yamagata tidak lagi direkomendasikan dalam formulasi vaksin influenza rutin oleh sejumlah otoritas kesehatan, vaksin trivalen menjadi formulasi yang digunakan dalam rekomendasi terkini di banyak wilayah.

Apakah Vaksin Flu 4 Strain Lebih Efektif daripada 3 Strain?

Banyak orang beranggapan bahwa vaksin dengan empat strain pasti memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan vaksin dengan tiga strain. Namun, anggapan tersebut tidak selalu tepat.

Pada awalnya, vaksin flu 4 strain dikembangkan untuk mencakup dua garis keturunan influenza B, yaitu B/Victoria dan B/Yamagata. Penambahan ini bertujuan mengurangi risiko ketidaksesuaian antara strain influenza B dalam vaksin dan strain yang beredar di masyarakat.

Akan tetapi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), komponen B/Yamagata tidak lagi dianggap perlu dalam formulasi vaksin influenza rutin karena tidak ditemukan bukti konfirmasi peredaran alami virus tersebut sejak Maret 2020. Oleh sebab itu, WHO merekomendasikan formulasi trivalen untuk musim influenza 2026 di belahan bumi selatan. Sumber: WHO.

Artinya, jumlah strain bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas perlindungan vaksin. Faktor lain yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Kesesuaian komposisi vaksin dengan virus influenza yang sedang beredar.
  • Pembaruan komposisi vaksin berdasarkan rekomendasi terbaru.
  • Usia dan kondisi kesehatan penerima vaksin.
  • Ketersediaan serta persetujuan vaksin di wilayah setempat.

Untuk itu, perlu konsultasi dengan dokter umum atau dokter spesialis anak (jika yang ingin divaksin adalah anak).

Apakah Vaksin Flu 3 Strain dan 4 Strain Memiliki Efek Samping Berbeda?

Kedua formulasi dapat menimbulkan efek samping ringan yang umumnya bersifat sementara. Efek samping yang dapat terjadi meliputi:

  • Nyeri, kemerahan, atau pembengkakan di tempat suntikan.
  • Demam ringan.
  • Nyeri otot.
  • Sakit kepala.
  • Rasa lelah.

Efek samping tersebut merupakan respons yang dapat terjadi setelah vaksinasi dan biasanya membaik dalam beberapa hari. Reaksi alergi berat sangat jarang terjadi, tetapi membutuhkan pertolongan medis segera.

Tidak tepat untuk menyimpulkan bahwa vaksin 3 strain pasti memiliki efek samping lebih sedikit atau bahwa vaksin 4 strain lebih berbahaya hanya berdasarkan jumlah strainnya. Keamanan perlu dinilai berdasarkan jenis produk, karakteristik penerima, dan data yang tersedia.

Tips Memilih Vaksin Flu yang Tepat

Sebelum mendapatkan vaksin influenza, ada beberapa hal yang dapat Anda pertimbangkan.

1. Periksa komposisi dan tahun formulasi vaksin

Pastikan vaksin yang digunakan sesuai dengan formulasi musim influenza terbaru yang direkomendasikan dan disetujui untuk penggunaannya.

Umumnya, dokter atau suster akan memberikan informasi vaksinnya sebelum melakukan penyuntikan.

2. Sesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan

Tidak semua produk vaksin memiliki indikasi penggunaan yang sama untuk setiap kelompok usia. Konsultasikan pilihan vaksin dengan dokter, terutama untuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan kondisi medis tertentu.

Misalnya, untuk anak, maka harus ke dokter spesialis anak dulu.

3. Pertimbangkan ketersediaan vaksin

Vaksin yang tersedia dapat berbeda di setiap negara atau fasilitas kesehatan. 

aksin dengan formulasi terbaru yang sesuai rekomendasi merupakan salah satu pertimbangan penting dalam pemilihan.

4. Jangan menunda vaksinasi hanya karena perbedaan jumlah strain

Jika Anda memenuhi syarat untuk vaksinasi, tanyakan kepada dokter mengenai vaksin yang sesuai dan tersedia. Jangan menganggap vaksin dengan tiga strain otomatis kurang efektif daripada vaksin dengan empat strain.

Kesimpulan

Perbedaan utama vaksin flu 3 strain dan 4 strain terletak pada jumlah komponen virus influenza yang dicakup. Vaksin trivalen mencakup dua strain influenza A dan satu strain influenza B, sedangkan formulasi kuadrivalen klasik mencakup dua strain influenza A dan dua strain influenza B.

Meskipun vaksin 4 strain pada awalnya menawarkan cakupan terhadap dua garis keturunan influenza B, perkembangan epidemiologi influenza membuat komponen B/Yamagata tidak lagi direkomendasikan dalam formulasi vaksin rutin oleh WHO.

Dengan demikian, vaksin flu 4 strain tidak selalu lebih baik daripada vaksin flu 3 strain. Pemilihan vaksin sebaiknya didasarkan pada komposisi terbaru, rekomendasi kesehatan, ketersediaan produk, serta kondisi penerima vaksin.

Untuk menentukan vaksin influenza yang paling sesuai bagi Anda dan keluarga, konsultasikan dengan dokter umum terlebih dahulu.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia vaksin flu. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.