Anak Tidak Sengaja Menelan Air saat Berenang – Penyebab, Bahaya, dan Apa yang harus Dilakukan

June 6, 2026 by Primecare Clinic
56044-1-1200x800.webp

Menelan air secara tidak sengaja (water swallowing) adalah sering terjadi pada anak-anak saat bermain di air, terutama saat berenang. Berdasarkan studi epidemiologi, anak-anak cenderung menelan air dua hingga empat kali lebih banyak daripada orang dewasa saat berenang. Anak-anak, terutama balita, belum memiliki kontrol motorik dan koordinasi pernapasan yang sempurna seperti orang dewasa.

Penyebab Anak Tidak Sengaja Menelan Air saat Berenang

Beberapa penyebab yang dapat menyebabkan anak tidak sengaja menelan air saat berenang antara lain:

1. Refleks menyelam

Pada bayi, ada refleks alami menahan napas saat wajah terkena air, namun refleks ini memudar seiring bertambahnya usia. Hal ini bisa menyebabkan anak-anak sering kali membuka mulut di waktu yang salah, baik karena panik, terlalu bersemangat, atau saat mencoba bernapas ketika berenang.

2. Kemampuan berenang yang belum matang

Anak mungkin belum menguasai teknik mengambil napas (menoleh atau mengangkat kepala) dan membuang napas (bubbling) dengan benar.

3. Bermain terlalu aktif

Berbicara, tertawa, berteriak, atau bercanda bersama teman di dalam air membuat mulut sering terbuka.

4. Gaya sentrifugal/cipratan air

Cipratan air dari orang lain di sekitar anak bisa langsung masuk ke mulut tanpa bisa dicegah.

5. Kelelahan atau panik

Ketika anak mulai lelah, posisi kepala mereka cenderung lebih rendah di permukaan air. Jika panik (misalnya karena tersedak sedikit atau terpleset), mereka akan reflek membuka mulut untuk meraup udara, namun justru menelan lebih banyak air.

Bahaya Anak Menelan Air saat Berenang

Bahaya atau risiko yang mungkin dapat terjadi ketika anak menelan air ketika berenang bisa bermacam-macam, seringkali tergantung tempat anak berenang, misalnya:

  1. Di kolam renang yang mengandung banyak klorin, menelan air dalam jumlah sedikit biasanya hanya memicu mual, muntah ringan, atau sakit perut. Jika kolam baru saja diberi bahan kimia dosis tinggi, dapat menyebabkan iritasi dinding lambung yang lebih parah. Bisa saja anak tertelan parasit yang tahan akan klorin, seperti Cryptosporidium yang bisa menyebabkan diare parah selama berhari-hari.
  2. Di sungai atau danau, biasanya mengandung air tawar dan berpotensi mengandung bakteri, parasit, amuba, dan polutan limbah. Anak bisa mengalami muntaber (muntah dan diare), demam, dan kram perut dalam waktu 1-3 hari setelah berenang.
  3. Di laut yang kaya akan garam (natrium klorida) dan bakteri laut (contoh: Vibrio), tertelan air laut dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan dehidrasi cepat, haus ekstrem, dan gangguan ginjal, karena konsentrasi garam air laut yang lebih tinggi daripada cairan tubuh dapat menarik air keluar dari sel tubuh. Selain itu, anak juga berisiko mengalami hipernatremia (peningkatan kadar garam pada darah) yang bisa memicu pusing, lemas, hingga kejang.

Terlepas dari lokasinya, jika air bukan masuk ke lambung melainkan terhirup ke paru-paru, anak berisiko mengalami kondisi fatal yang dikenal sebagai immersion syndrome atau gangguan pernapasan sekunder. Gejalanya meliputi: batuk terus-menerus, sesak napas, dada kembang kempis dengan cepat, lemas ekstrem, atau bibir membiru beberapa jam setelah berenang.

Apa yang harus dilakukan jika anak tidak sengaja menelan air saat berenang?

Jika Anda menemukan anak tidak sengaja menelan atau tersedak air, lakukan langkah-langkah berikut:

  1. Pindahkan ke tempat aman: Segera angkat anak dari air dan dudukkan di tempat yang kering dan stabil.
  2. Tenangkan anak: Kepanikan akan membuat napas mereka semakin tidak teratur. Ajak mereka menarik napas dalam-dalam lewat hidung dan buang lewat mulut.
  3. Biarkan batuk: Jika anak terbatuk, jangan dilarang. Batuk adalah refleks alami tubuh untuk mengeluarkan air yang salah masuk ke saluran pernapasan.
  4. Bilas tenggorokan dengan air putih: Berikan beberapa teguk air putih bersih untuk membilas sisa klorin atau rasa asin di tenggorokan mereka.
  5. Pantau selama 24-48 jam: Perhatikan apakah muncul gejala “red flag” seperti batuk yang memburuk, sesak napas, lesu yang tidak biasa, demam, atau muntah terus-menerus. Jika gejala ini muncul, segera bawa anak ke instalasi gawat darurat (IGD).
  6. Menjelaskan cara pencegahan agar anak tidak menelan air saat berenang di kemudian hari

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Berikut langkah preventif yang bisa diterapkan parent/pelatih:

  • Ajarkan teknik bubbling: Ajarkan anak sejak dini bahwa saat wajah berada di dalam air, mulut harus tertutup dan udara ditiupkan keluar melalui hidung atau mulut (membuat gelembung).
  • Gunakan alat bantu yang tepat: Berikan pelampung lengan (puddle jumper) atau rompi renang yang menjaga posisi kepala anak tetap berada di atas permukaan air dengan stabil selama mereka belum mahir.
  • Aturan “mulut tertutup”: Buat kesepakatan atau permainan edukatif sebelum berenang, misalnya “aturan gembok mulut” saat menyelam atau saat air sedang berombak.
  • Batasi waktu berenang: Anak yang lelah lebih rentan kehilangan kendali motorik. Batasi sesi berenang anak (misal maksimal 45–60 menit) lalu ajak beristirahat.
  • Pastikan orang dewasa selalu berada dalam jangkauan tangan dari anak-anak yang belum mahir berenang, sehingga jika mereka mulai tersedak, bantuan bisa langsung diberikan dalam waktu lebih cepat.

Pastikan Penanganan yang Tepat ketika Anak Tidak Sengaja Menelan Air saat Berenang

Selain upaya pencegahan, jangan lupa untuk lakukan penanganan yang tepat jika anak tidak sengaja menelan air saat berenang. Jika kondisi memburuk, segera bawa anak ke dokter spesialis anak atau UGD terdekat.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis anak. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Sumber:

World Health Organization (WHO). Guidelines for Safe Recreational Water Environments. 

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Cryptosporidium (Crypto) and Recreational Water. CDC Healthy Swimming. 

Dufour, A. P., et al. (2017). Volume of Water Swallowed Voluntarily and Involuntarily During Recreational Water Activities. Journal of Water and Health, 15(1), 1-10. 

Szpilman, D., et al. (2012). Drowning. New England Journal of Medicine, 366(22), 2102-2110. 

Yoder, J., et al. (2012). Primary Amebic Meningoencephalitis Deaths Associated with Recreational Water. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR). 

primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.