852-_1_-1200x900.webp

November 20, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Pemeriksaan HbA1c atau Hemoglobin A1c  menjadi salah satu parameter penting untuk menilai kontrol gula darah dalam jangka panjang. Tes ini bukan hanya digunakan oleh pasien diabetes, tetapi juga untuk masyarakat umum untuk skrining risiko diabetes.

Namun, salah satu kondisi yang cukup sering menimbulkan kebingungan adalah ketika seseorang mendapatkan hasil HbA1c tinggi, tetapi pemeriksaan gula darahnya normal. Hal tersebut membuat pasien bertanya-tanya, “Apakah saya menderita diabetes atau tidak?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita bahas arti dari HbA1c yang tinggi, mengapa hal itu bisa terjadi meskipun gula darah tampak normal, dan apa langkah yang sebaiknya dilakukan.

Apa Arti dari HbA1c Tinggi? 

HbA1c adalah pemeriksaan laboratorium yang mengukur persentase hemoglobin yang mengalami glikasi, yaitu hemoglobin yang terikat dengan glukosa. Hemoglobin adalah protein yang memberikan warna merah pada sel darah merah. 

Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan glukosa menempel pada hemoglobin, yang disebut glycated hemoglobin atau hemoglobin terglikasi. Sel darah merah memiliki usia rata-rata 90 hingga 120 hari, karena itu hasil HbA1c menggambarkan rata-rata gula darah selama 3 bulan terakhir.

Kadar HbA1c tinggi mengindikasikan bahwa rata-rata gula darah selama 3 bulan terakhir cenderung tinggi sehingga terjadi penempelan glukosa pada hemoglobin membentuk HbA1c. 

Berikut klasifikasi pemeriksaan HbA1c:

  • Normal < 5,7%
  • Prediabetes: 5,7% – 6,4%
  • Diabetes ≥ 6,5%

Pada pasien diabetes yang sedang menjalani pengobatan, target HbA1c adalah di bawah 7%. Namun, target ini bisa berbeda tergantung kondisi dan penyakit penyerta pada masing-masing pasien. 

Pada pasien tertentu seperti lansia, pasien dengan penyakit komorbid, atau risiko hipoglikemia tinggi, target bisa lebih longgar, misalnya < 7,5% atau < 8%, tergantung kondisi klinisnya.

Mengapa HbA1c Bisa Tinggi Tapi Gula Darah Normal?

Hasil pemeriksaan HbA1c menunjukkan angka yang tinggi tetapi kadar gula darah normal bisa menimbulkan kebingungan. Namun, hal ini bisa saja terjadi karena beberapa faktor. Berikut beberapa penyebabnya:

1. Fluktuasi Gula Darah

Seseorang bisa saja memiliki gula darah puasa yang normal, tetapi mengalami lonjakan signifikan 1–2 jam setelah makan. Lonjakan ini sering tidak terdeteksi karena pemeriksaan hanya dilakukan saat kondisi puasa atau pemeriksaan sewaktu yang tidak mewakili kadar gula darah sepanjang hari. Lonjakan gula darah setelah makan yang berulang dapat meningkatkan rata-rata glukosa jangka panjang sehingga menaikkan HbA1c.

2. Umur Sel Darah Merah Lebih Lama

Masa hidup sel darah merah yang lebih panjang membuat hemoglobin lebih lama terpapar glukosa sehingga HbA1c naik, meski kadar gula sebenarnya dalam batas normal.

3. Kelainan Darah

Beberapa penyakit yang berhubungan dengan hemoglobin dan sel darah merah dapat memengaruhi hasil pemeriksaan HbA1c dan menyebabkan nilai HbA1c yang tinggi secara palsu.

Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kenaikan HbA1c adalah anemia defisiensi besi, anemia akibat infeksi, anemia akibat tumor, serta kelainan hemoglobin thalasemia dan kekurangan vitamin B12. 

4. Penggunaan Obat Tertentu

Beberapa obat dapat meningkatkan gula darah sesekali sehingga menaikkan HbA1c, seperti:

  • Kortikosteroid
  • Antipsikotik
  • Obat kemoterapi tertentu
  • Imunosupresan

5. Hemoglobin Lebih Mudah Terglikasi

Beberapa orang memiliki kecenderungan biologis atau genetik yang menyebabkan hemoglobin lebih mudah mengalami glikasi. Akibatnya, HbA1c tampak tinggi meskipun gula darah normal.

Apa yang Harus Dilakukan Jika HbA1c Tinggi Tapi Gula Darah Normal?

Jika nilai HbA1c tinggi tetapi gula darah terlihat normal, maka perlu dilakukan pemeriksaan ulang atau pemeriksaan lanjutan untuk memastikan hasilnya. Sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk mendapatkan rekomendasi pemeriksaan dan penanganan yang tepat. 

Dokter biasanya akan mengevaluasi pola gula darah harian, terutama gula darah setelah makan, karena lonjakan yang tidak terukur dapat membuat HbA1c meningkat. 

Pemeriksaan tambahan seperti continuous glucose monitoring (CGM) atau pemantauan gula darah mandiri selama beberapa hari dapat dilakukan untuk membantu melihat pola fluktuasi gula darah yang tidak tertangkap oleh pemeriksaan sewaktu.

Selain itu, dokter mungkin menilai kondisi lain seperti anemia, defisiensi zat besi, masalah pada sel darah merah, serta konsumsi obat-obatan yang dapat memengaruhi kadar HbA1c. Jika kecurigaan mengarah pada faktor biologis individu, misalnya hemoglobin yang lebih mudah terglikasi, maka dokter dapat menilai kontrol gula darah berdasarkan pola gula harian, bukan hanya mengandalkan nilai HbA1c.

Dengan evaluasi yang tepat, dokter dapat memberikan rekomendasi yang lebih akurat untuk pengobatan dan pemantauan selanjutnya.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148933281-_1_-1200x973.webp

November 19, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Bakso adalah salah satu makanan yang hampir selalu bisa dinikmati dalam berbagai situasi. Kuah hangat, rasa gurih, dan pilihan daging yang beragam membuat makanan ini digemari banyak orang.  

Namun ketika seseorang hidup dengan diabetes, muncul kekhawatiran kecil setiap kali melihat semangkuk bakso: 

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Bakso?

Kabar baiknya, bakso bukan makanan yang harus langsung dihindari. Daging sapi, ayam, maupun ikan yang menjadi bahan utama bakso pada dasarnya mengandung protein tinggi dan karbohidrat rendah, sehingga tidak otomatis menyebabkan lonjakan gula darah. 

Justru hal yang perlu lebih diperhatikan bukan dagingnya, melainkan komponen lain yang menyertainya, seperti jumlah tepung dalam adonan, tambahan karbohidrat seperti mi atau bihun, serta penggunaan saus yang cenderung tinggi gula.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Bakso

Kandungan gizi bakso dapat berbeda-beda tergantung jenis daging yang digunakan, jumlah tepung, serta cara pengolahannya. Namun secara umum, bakso merupakan sumber protein yang cukup baik dan mengandung zat besi, terutama jika dibuat dari daging sebagai komponen utama.

Jika bakso dibuat dengan proporsi daging yang tinggi dan minim atau tanpa tepung, nilai indeks glikemiknya (IG) akan sangat rendah, bahkan bisa mendekati 0, karena bakso tersebut tidak mengandung karbohidrat. 

Di sisi lain, banyak jenis bakso komersial juga mengandung lemak, karbohidrat, dan natrium dalam jumlah yang cukup tinggi akibat penambahan tepung, penyedap, serta garam selama proses pembuatan. Dalam hal ini, IG dan beban glikemiknya tentu akan meningkat dan perlu lebih diperhatikan oleh penderita diabetes.

Cara Makan Bakso yang Aman untuk Penderita Diabetes

Agar bakso tetap aman dikonsumsi oleh penderita diabetes, beberapa hal berikut perlu diperhatikan:

1. Pilih Bakso dengan Kandungan Daging Tinggi 

Utamakan bakso yang minim tepung atau berbahan daging sebagai komposisi utama. Kandungan karbohidratnya lebih rendah sehingga tidak cepat menaikkan gula darah.

2. Batasi Konsumsi Kuah

Kuah bakso yang dijual biasanya tinggi garam dan penyedap. Terlalu banyak garam bisa memengaruhi tekanan darah, sementara penyedap tertentu dapat memicu rasa lapar berlebih.

3. Tambah Sayuran dalam Porsi yang Cukup

Sayuran seperti sawi, kubis, atau tauge dapat menambah asupan serat. Serat membantu memperlambat penyerapan glukosa, sehingga gula darah lebih stabil setelah makan. 

4. Hindari Tambahan Makanan Tinggi Karbohidrat

Tambahan seperti mie putih, bihun, atau nasi sebaiknya dibatasi. Jika ingin tetap memakai pendamping, pilih porsi kecil dan imbangi dengan sayuran lebih banyak.

5. Perhatikan Porsi dan Frekuensi Makan

Makan bakso dalam jumlah terlalu banyak atau terlalu sering tetap bisa berdampak pada gula darah, terutama jika baksonya mengandung tepung, kuahnya asin dan ada tambahkan sumber karbohidrat lain.

Kapan Penderita Diabetes Harus Ke Dokter?

Meski bakso bisa dinikmati dengan cara yang lebih aman, respons tubuh setiap penderita diabetes bisa berbeda-beda. 

Jika setelah mengonsumsi bakso kadar gula darah cenderung melonjak atau muncul keluhan yang tidak biasa, segera konsultasi dengan dokter penyakit dalam untuk memastikan tidak ada masalah yang perlu ditangani. 

Selain itu, diskusikan dengan ahli gizi atau dokter gizi juga pola makan yang lebih sesuai, sehingga hidangan favorit tetap dapat dinikmati tanpa mengganggu kestabilan gula darah.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


27363-1-1200x800.webp

November 19, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Ceker ayam menjadi favorit banyak orang karena teksturnya yang kenyal dan rasa gurihnya yang khas. Namun, penderita diabetes perlu memperhatikan cara mengolah dan porsi konsumsinya, karena hal-hal tersebut bisa memengaruhi kadar gula darah.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Ceker Ayam?

Boleh, selama dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan cara yang sehat. Ceker ayam rendah karbohidrat sehingga tidak secara langsung menaikkan gula darah. Masalah biasanya muncul dari cara memasaknya. Ceker yang digoreng, dilapisi tepung, atau dimasak dengan saus manis dapat membuat kalori dan lemak meningkat, yang akhirnya berpengaruh pada kadar gula darah dan kolesterol.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Ceker Ayam 

Ceker ayam sebagian besar terdiri dari protein dan kolagen, dengan kadar lemak sedang. Karbohidratnya sangat rendah, sehingga nilai indeks glikemik (IG) juga rendah dan hampir tidak berpengaruh pada gula darah. 

Di samping itu, ceker mengandung berbagai mineral penting seperti kalsium, fosfor, dan zat besi mendukung kesehatan tulang dan jaringan ikat. Namun, kandungan kolesterolnya cukup tinggi, sehingga sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan.

Manfaat Ceker Ayam bagi Penderita Diabetes

Ceker ayam mengandung kolagen yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan sendi dan jaringan ikat. Selain itu, kandungan mineral seperti kalsium dan fosfor juga mendukung kesehatan tulang. Manfaat ini dapat membantu penderita diabetes yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah pada tulang dan sendi.

Bahaya Makan Ceker Ayam Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Meskipun ceker ayam rendah karbohidrat, konsumsi berlebihan tetap membawa risiko bagi penderita diabetes:

1. Meningkatkan Kadar Kolesterol

Ceker ayam mengandung kolesterol yang cukup tinggi. Konsumsi berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, sehingga menambah risiko penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah.

2. Menambah Asupan Lemak

Jika ceker dimasak dengan kulit atau digoreng, kandungan lemak jenuh meningkat. Lemak jenuh dapat memperburuk sensitivitas insulin dan mempersulit kontrol gula darah.

3. Risiko Kenaikan Berat Badan

Porsi besar ceker ayam menambah asupan kalori yang tidak terasa mengenyangkan. Akibatnya, risiko kenaikan berat badan dan resistensi insulin meningkat, yang bisa memperburuk kondisi diabetes.

Cara Makan Ceker Ayam yang Aman bagi Penderita Diabetes

Berikut beberapa strategi agar ceker ayam tetap aman:

1. Batasi Jumlah

Konsumsi idealnya 2–3 potong per porsi dan tidak setiap hari untuk mengontrol asupan kalori dan kolesterol.

2. Pilih Cara Masak Sehat

Rebus, kukus, atau masak dalam kuah bening lebih aman dibanding digoreng atau dimasak dengan saus manis.

3. Konsumsi dengan Sayuran

Tambahkan sayuran tinggi serat agar penyerapan glukosa lebih lambat dan gula darah lebih stabil.

Kapan Penderita Diabetes Harus Ke Dokter?

Penderita diabetes perlu memantau konsumsi ceker ayam, terutama jika muncul gejala seperti gula darah sering naik atau kolesterol tinggi. Dokter penyakit dalam membantu mengelola kondisi diabetes, sedangkan ahli gizi atau dokter gizi membantu menyesuaikan pola makan agar tetap aman, termasuk mengatur porsi dan cara pengolahan ceker ayam.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2694-_1_-1200x800.webp

November 19, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diabetes adalah penyakit metabolik kronik yang ditandai dengan terjadinya kadar gula darah dalam darah. Hal ini terjadi karena menurunnya produksi hormon insulin, terjadinya resisten insulin atau keduanya. 

Beberapa gejala khas pada diabetes, yaitu polidipsi (sering minum), poliuri (sering buang air kecil), dan polifagi (sering makan), dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Namun, ternyata pada penderita diabetes dapat terjadi fenomena sebaliknya, dimana terjadi kenaikan berat badan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Yuk, simak jawabannya.

Fenomena Berat Badan Terus Naik pada Penderita Diabetes

Berat badan sangat memengaruhi metabolisme tubuh seseorang, terlebih jika mengalami obesitas. Obesitas seringkali dikaitkan dengan masalah kesehatan, terutama terkait penyakit metabolik dan kardiovaskular. Obesitas menjadi faktor risiko kedua jenis penyakit tersebut. Oleh karena itu, beberapa poin dari manajemen terapi penyakit tersebut adalah perubahan gaya hidup sehat berupa pengaturan diet dan aktivitas fisik yang tepat untuk program penurunan berat badan. Pada penderita diabetes, penurunan berat badan terbukti dapat meningkatkan sensitivitas insulin. 

Tidak mudah bagi penderita diabetes untuk mengubah gaya hidup, terlebih jika sebelumnya sering menerapkan gaya hidup tidak sehat. Intervensi gaya hidup sehat ini tentu memiliki dampak yang bagus untuk penurunan berat badan, tetapi tidak mudah dicapai dan sulit juga untuk mempertahankannya dalam jangka waktu yang lama. Ada pula fenomena terjadinya kenaikan berat badan pada penderita diabetes. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya jenis obat antidiabetes (OAD) yang dikonsumsi oleh penderita diabetes. 

Penyebab Berat Badan Terus Naik pada Penderita Diabetes

Kenaikan berat badan pada penderita diabetes disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya, seperti di bawah ini: 

1. Obat Antidiabetes 

Beberapa jenis OAD memiliki efek samping berupa kenaikan berat badan. Apa saja obatnya? Berikut jenis OAD yang dapat meningkatkan berat badan, yaitu:

a. Insulin

Obat jenis ini sangat berisiko terhadap kejadian hipoglikemia sehingga ketika kadar gula darah menjadi rendah maka tubuh akan menstimulasi nafsu makan untuk menaikkan kadar gula darah. Selain itu, insulin dapat menghambat terjadinya pemecahan lemak dan mendorong terjadinya pembentukan lemak.

b. Sulfoniurea

Sama seperti insulin, obat golongan ini memiliki risiko hipoglikemia sehingga dapat menstimulasi untuk makan dan berefek mengalami peningkatan berat badan. 

c. Thiazolidinedion

Obat antidiabetes ini meningkatkan perubahan sel lemak dalam tubuh. Obat ini juga memiliki efek samping meningkatkan jumlah volume plasma darah yang mengakibatkan peningkatan berat badan. 

2. Usia

Penderita diabetes dengan usia kurang dari 65 tahun cenderung dapat mengalami kenaikan berat badan. 

3. Merokok

Perokok aktif lebih mungkin mengalami kenaikan berat badan. 

4. Status kadar HbA1c

Kadar HbA1c adalah profil gula darah yang dapat menggambarkan kondisi gula darah selama 2-3 bulan belakangan. Pasien dengan kadar HbA1c >7,2% cenderung mengalami kenaikan berat badan. 

Cara Mengatasi Berat Badan Terus Naik pada Penderita Diabetes

Pada prinsipnya, program penurunan berat pada penderita diabetes tidak terlalu jauh dengan program berat badan pada orang normal. Program ini menekankan pada perubahan gaya hidup yang lebih sehat dan tambahan terapi obat bagi penderita diabetes untuk mengontrol gula darahnya. Langkah-langkah yang harus dilakukan meliputi:

1. Aktivitas fisik 

Aktivitas fisik sebaiknya dilakukan secara rutin dan konsisten untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan membantu menurunkan berat badan. Aktivitas fisik yang efektif harus mencakup kombinasi seimbang antara latihan aerobik (daya tahan) untuk meningkatkan kesehatan kardiovaskular, latihan resistensi (kekuatan) untuk mempertahankan massa otot, dan latihan fleksibilitas (peregangan).

Durasi aktivitas fisik yang dianjurkan adalah 150 menit per minggu. Namun, rencana latihan dapat berkembang secara bertahap selama 12–24 minggu dari 20 menit/hari selama 4 hari/minggu menjadi 60 menit/hari selama 5–6 hari/minggu.

Selain itu, penting untuk mempertahankan durasi aktivitas fisik sebanyak 300 menit per minggu, dengan penekanan pada latihan ketahanan (resistensi) karena pada penyakit diabetes diketahui memperburuk kehilangan otot akibat penuaan.

2. Nutrisi (Diet)

Pasien disarankan untuk melakukan konsultasi dengan dokter gizi atau ahli nutrisi. Terapi nutrisi meliputi evaluasi kebutuhan kalori pasien, termasuk riwayat diet dan mengidentifikasi hambatan potensial untuk mengikuti rencana terapi nutrisi.

Nantinya, setiap pasien akan mendapatkan rencana makan yang rendah kalori berdasarkan jenis kelamin, tinggi badan, dan asupan energi sebelumnya.

3. Penyesuaian Obat Antidiabetes

Pasien harus berkonsultasi dengan dokter untuk mengevaluasi obat yang berpotensi meningkatkan berat badan di awal program terapi. Evaluasi ini meliputi, apakah jenis obat dapat diganti, apakah dosisnya dapat disesuaikan, atau menghentikan obat yang memiliki efek samping menaikkan berat badan. 

Bagi pasien yang menggunakan insulin, penyesuaian insulin dapat diubah menjadi penggunaan insulin kerja lama yang memiliki efek penambahan berat badan lebih sedikit (misalnya, insulin detemir, insulin degludec, dan insulin glargine U-300). Untuk menghindari konsumsi makanan yang tidak perlu akibat hipoglikemia, pasien disarankan untuk memberikan insulin kerja pendek segera setelah makan atau dalam waktu 20 menit setelah memulai makan.

4. Operasi Bariatrik

Operasi bariatrik dapat dipertimbangkan sebagai pilihan untuk penderita diabetes tipe 2  dengan obesitas kelas 2 dan 3 yang tidak dapat menurunkan berat badan setelah 6 bulan intervensi gaya hidup secara intensif.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter? 

Penderita diabetes sebaiknya melakukan kontrol rutin yang sudah dijadwalkan oleh dokter. Namun, beberapa kondisi di bawah ini dapat menjadi acuan untuk pasien menjadwalkan konsultasi dengan dokter, di antaranya:

  • Saat memulai atau menyesuaikan pengobatan
  • Untuk mengevaluasi kadar gula darah rutin
  • Jika mengalami kesulitan untuk mengontrol berat badan
  • Kontrol gula darah yang buruk atau kesulitan mengendalikan gula darah meski sudah melakukan terapi

Kalau Penderita Diabetes Mengalami Berat Badan terus Naik harus ke Dokter Apa?

Adapun dokter spesialis yang tepat untuk menangani pasien dengan diabetes usia dewasa adalah:

1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Untuk pengendalian glikemik dan pencegahan terhadap komplikasi, penderita diabetes dapat berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam. 

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrin Metabolisme Diabetes

Jika penderita diabetes mengalami beberapa kondisi abnormal, seperti tidak ada hasil pemeriksaan laboratorium yang turun dalam 3 bulan; tidak tercapainya target dalam terapi AOD tunggal dan kombinasi selama 3 bulan, dan lain-lain maka pasien perlu dirujuk ke dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes.

3. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Konsultasi dengan dokter gizi dilakukan untuk program penurunan berat badan dan rencana diet secara tepat.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2310-_1_-1200x801.webp

November 19, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diabetes adalah penyakit metabolik yang dikarakteristikkan dengan tingginya kadar gula darah karena turunnya produksi insulin, atau terjadi resisten insulin, atau keduanya. 

Jika tidak ditangani dengan tepat, diabetes dapat berkembang dan menimbulkan komplikasi pada berbagai organ, seperti jantung, ginjal, dan mata. 

Diabetes juga dapat memberikan dampak pada organ lain, misalnya pada otot dan tulang (muskuloskeletal). Beberapa dampak muskuloskeletal  yang dapat terjadi adalah kram otot, infark otot, gangguan saraf pada kaki atau tangan, dan lain sebagainya. 

Kram otot adalah gejala umum yang sering dialami oleh penderita diabetes. Kram otot adalah gejala umum yang sering dialami oleh penderita diabetes. Mengapa hal itu bisa terjadi? Mari kita simak jawabannya.

Fenomena Kram Otot pada Penderita Diabetes

Kram otot didefinisikan sebagai kontraksi otot yang terjadi secara tiba-tiba, menyakitkan, dan tidak disengaja. 

Kram otot pada penderita diabetes lebih sering dialami oleh penderita diabetes tipe 2 daripada tipe 1. Rasa nyeri yang dialami oleh penderita diabetes akibat kram otot cenderung lebih parah daripada yang dialami oleh orang sehat. 

Otot yang paling sering mengalami kram adalah otot pada kaki. Gejala yang ditimbulkan berupa rasa nyeri pada otot sampai adanya sensasi nyeri seperti terbakar. 

Jika tidak ditangani dengan baik, masalah kram otot ini akan menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan, termasuk fungsi fisik, nyeri di tubuh, kesehatan umum, dan fungsi sosial. 

Penyebab Kram Otot pada Penderita Diabetes

Penyebab kram otot pada penderita diabetes bersifat beragam dan sering kali multifaktorial.

Penyebab utama kram otot pada penderita diabetes meliputi:

1. Neuropati perifer (gangguan pada saraf tepi)

Neuropati merupakan komplikasi diabetes dan menjadi penyebab kram otot yang cukup sering terjadi pada penderita diabetes. Neuropati perifer juga dapat berkembang menjadi osteoartropati diabetes (penyakit degeneratif pada sendi).

2. Penyakit vaskular (pembuluh darah)

Pada diabetes, dapat terjadi komplikasi pada pembuluh darah, misalnya penyakit insufisiensi arteri perifer atau penyakit vaskular perifer dapat menyebabkan kram otot karena sirkulasi darah ke otot terhambat

3. Efek samping obat 

Beberapa pasien diabetes dapat disertai dengan kondisi dislipidemia (kondisi kadar lemak dalam darah tidak normal) sehingga pasien harus mengonsumsi obat jenis statin. Obat jenis ini dapat menyebabkan kram otot karena mengurangi kadar Coenzyme Q10.

Selain itu, pasien diabetes yang mengalami komplikasi pada organ jantung dan ginjal dan  mengonsumsi obat diuretik, seperti hidroklorotiazid, juga dapat menyebabkan kram pada otot kaki.

4. Kondisi medis lain yang menyertai

Kondisi medis lain seperti pada pasien gagal ginjal yang membutuhkan tindakan hemodialisis (cuci darah) dapat mengalami kram otot saat menjelang akhir tindakan cuci darah. 

Cara Mengatasi Kram Otot pada Penderita Diabetes

Penting untuk mendeteksi penyebab anatomi dan metabolik yang mendasari kram otot pada pasien diabetes sebelum merencanakan pengobatan. Penanganan kram otot pada diabetes meliputi, penanganan ketika nyeri itu terjadi dan mengatasi penyebab utamanya (diabetes). 

a. Penanganan ketika nyeri 

  1. Kram otot sering kali dapat hilang dengan sendirinya tanpa perawatan medis khusus.
  2. Tindakan yang dapat dilakukan untuk menghentikan kram otot akut adalah dengan meregangkan atau memanjangkan otot yang kram.
  3. Jika terasa nyeri, dapat diberikan obat salep antinyeri.

b. Mengatasi Penyebab Utama

  1. Kontrol glikemik: Kontrol gula darah yang baik dapat menghambat atau memperlambat perkembangan penyakit pada pembuluh darah kecil, termasuk neuropati, sehingga secara asumsi juga akan memperlambat komplikasi seperti kram otot.
  2. Neuropati Perifer: diberikan terapi yang sesuai dengan hasil konsultasi ke dokter.
  3. Penyakit pembuluh darah: jika ditemukan adanya komplikasi di pembuluh darah, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis bedah umum atau bedah vaskular untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan lanjutan.

c. Terapi obat dan suplemen

Jika gejala dirasakan terus-menerus maka pasien dapat mengonsumsi obat atau suplemen untuk menghilangkan, mengurangi, atau mencegah terjadinya kram otot. Obat dan suplemen dapat berupa suplemen L-karnitin, vitamin B-kompleks, Pregabalin, atau Gabapentin. Sebaiknya pasien berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat dan suplemen tersebut. 

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk terapi diabetes rutin dan segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala yang parah atau mengancam jiwa.

Berikut adalah kondisi terkait kram otot atau kondisi muskuloskeletal yang memerlukan konsultasi atau penanganan medis profesional:

  1. Kram otot yang bersifat terus-menerus dan menyebabkan kecacatan.
  2. Infark otot diabetik. Kondisi ini jarang terjadi, tetapi berpotensi menyebabkan kelumpuhan dan mengancam jiwa. Gejalanya adalah nyeri dan bengkak selama beberapa hari hingga minggu pada otot yang terkena. 
  3. Kecurigaan infeksi berat: Jika penderita diabetes mengalami demam disertai nyeri sendi dan/atau tulang dapat menjadi tanda bahaya adanya infeksi berat, seperti osteomielitis/artritis septik yang memerlukan penanganan medis segera. 
  4. Komplikasi pada neuromuskuloskeletal (saraf, otot, dan tulang) yang memerlukan terapi lanjutan, misalnya sindrom carpal tunnel (CTS) yang parah, Flexor Tenosynovitis (trigger finger), atau Dupuytren’s Contracture yang memerlukan suntikan obat antiradang atau intervensi bedah.

Kalau Penderita Diabetes Mengalami Kram Otot, harus ke Dokter Apa?

Dokter Spesialis yang dapat dikunjungi jika pasien diabetes mengalami kram otot adalah:

1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Subspesialis Endokrin dan Metabolik

Spesialisasi ini berfokus pada diagnosis dan pengelolaan diabetes mellitus, termasuk kontrol glikemik, pemberian obat, evaluasi pengobatan diabetes yang merupakan kunci untuk memperlambat perkembangan komplikasi seperti neuropati yang menyebabkan kram.

2. Dokter Spesialis Neurologi 

Kram otot seringkali merupakan gejala neurologis, terutama jika disebabkan karena adanya gangguan saraf. Oleh karena itu, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

3. Dokter Spesialis Bedah Umum/Bedah Vaskular

Jika terjadi komplikasi diabetes yang menyerang pembuluh darah, seperti peripheral arterial disease (PAD atau insufisiensi arteri perifer dapat dirujuk ke dokter bedah umum atau bedah vaskular untuk dilakukan pemeriksaan dan pemberian terapi yang tepat. 

4. Dokter Spesialis Ortopedi

Jika dibutuhkan tindakan medis pada kondisi muskuloskeletal parah yang menyertai diabetes, seperti kasus Carpal Tunnel Syndrome yang memerlukan pembedahan, atau untuk intervensi bedah pada Dupuytren’s Contracture atau Tenosynovitis, pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis ortopedi.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


6215-1-1200x801.webp

November 18, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Cumi sering menjadi pilihan lauk karena rasanya yang gurih dan fleksibel untuk diolah ke berbagai menu. Namun, bagi penderita diabetes, konsumsi makanan laut seperti cumi kerap menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait risiko kenaikan gula darah atau kadar kolesterol. 

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Cumi?

Cumi pada dasarnya termasuk makanan yang cukup aman untuk penderita diabetes. Kandungan karbohidratnya sangat rendah, sementara proteinnya tinggi sehingga dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Kombinasi ini membuat cumi tidak memberikan efek langsung terhadap lonjakan gula darah. 

Namun, yang perlu lebih diperhatikan bukanlah cumi-nya, melainkan cara pengolahannya. Cumi yang digoreng tepung, dimasak dengan bumbu manis, atau disajikan dalam porsi besar dapat meningkatkan asupan lemak, kalori, maupun gula, sehingga berpotensi memengaruhi kontrol gula darah.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemi Cumi

Cumi memiliki profil gizi yang cukup baik dan dapat menjadi pilihan lauk yang aman bagi penderita diabetes. Dalam 100 gram cumi segar, kandungan proteinnya berada di kisaran 16 gram, sementara kadar lemaknya relatif rendah, hanya sekitar 1-1,4 gram. Jumlah karbohidratnya pun sangat kecil, sekitar 1-2 gram per porsi.

Selain itu, cumi juga kaya akan berbagai vitamin dan mineral penting seperti vitamin B12, vitamin B2, vitamin C, zat besi, selenium, dan fosfor. Kandungan kolesterolnya memang cukup tinggi, namun umumnya masih dapat diterima bila dikonsumsi dalam porsi wajar dan tidak terlalu sering.

Karbohidrat yang sangat rendah membuat nilai indeks glikemik cumi berada pada kategori rendah. Karakteristik tersebut menjadikan cumi aman dikonsumsi penderita diabetes, selama cara pengolahan dan porsinya tetap diperhatikan.

Cara Makan Cumi yang Aman untuk Penderita Diabetes

Untuk memastikan cumi tetap aman dikonsumsi, beberapa langkah berikut bisa diterapkan:

1. Pilih Metode Masak yang Tepat

Cara memasak cumi sangat menentukan dampaknya terhadap kesehatan. Pilihan yang lebih aman meliputi menumis dengan sedikit minyak, memasak dengan kuah atau kaldu, memanggang, merebus, atau mengukus. 

Sebaliknya, cumi goreng tepung, cumi crispy, serta tumisan dengan minyak berlebihan sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan asupan lemak dan kalori.

2. Batasi Penggunaan Bumbu Manis

Hidangan cumi yang dimasak dengan kecap manis, saus manis, madu, atau gula dapat meningkatkan kadar gula darah. Penggunaan bahan-bahan tersebut sebaiknya dibatasi atau diganti dengan bumbu yang lebih aman, seperti bawang, rempah, dan cabai.

3. Perhatikan Kadar Kolesterol

Cumi memiliki kandungan kolesterol yang cukup tinggi, sehingga konsumsinya tidak disarankan setiap hari, terutama bagi penderita diabetes yang juga memiliki riwayat kolesterol tinggi. 

4. Atur Porsi 

Pengaturan porsi membantu mencegah asupan kalori dan kolesterol yang berlebihan.

Kapan Penderita Diabetes Perlu ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter penyakit dalam jika setelah mengonsumsi cumi muncul tanda gula darah naik secara tidak normal, agar mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat. 

Selain itu, lakukan konsultasi dengan ahli gizi atau dokter gizi untuk menyesuaikan pola makan dengan kondisi tubuh sehingga konsumsi makanan favorit tetap aman dan seimbang.


the-level-of-sugar-in-the-blood-3310318_1280-1200x800.webp

November 18, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Kadar gula darah yang normal adalah 70-99 mg/dL saat puasa, antara 70-139 mg/dL dua jam setelah makan, serta kurang dari 200 mg/dL untuk pemeriksaan gula darah sewaktu. 

Kadar gula darah naik mencapai 600 mg/dL adalah kondisi darurat yang tidak boleh diabaikan. Lonjakan gula darah yang ekstrem ini dapat membahayakan fungsi organ tubuh dan berisiko menyebabkan penurunan kesadaran hingga koma.

Apa penyebab gula darah melonjak hingga 600 mg/dL? Berikut penjelasan mengenai penyebab, bahaya yang menyertai, serta apa yang harus dilakukan bila seseorang mengalami kenaikan gula darah hingga 600 mg/dL.

Penyebab Gula Darah Naik sampai 600 mg/dL

Kadar gula darah yang naik hingga 600 mg/dL dapat disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari pola hidup, gangguan hormon, serta penyakit tertentu. Beberapa faktor yang paling sering memicu lonjakan gula darah meliputi:

a. Masalah pada Hormon insulin

Insulin adalah hormon berperan penting dalam metabolisme glukosa. Insulin membantu glukosa dari aliran darah masuk ke dalam sel untuk diubah dimetabolisme.

Bila terjadi masalah pada hormon insulin, maka proses pemasukan glukosa ke dalam sel akan terganggu sehingga glukosa tetap berada di aliran darah. Hal ini akan menyebabkan kadar gula darah semakin naik.

Masalah insulin yang sering terjadi adalah produksinya yang tidak mencukupi atau bahkan tidak ada sama sekali, seperti pada diabetes tipe 1. Sedangkan pada diabetes tipe 2, terjadi resistensi insulin sehingga fungsi insulin tidak maksimal. 

Bila kondisi ini tidak segera ditangani, maka metabolisme glukosa akan terus terganggu dan menyebabkan lonjakan gula darah, bahkan hingga mencapai 600 mg/dL

b. Infeksi atau Penyakit Akut

Beberapa penyakit atau infeksi dapat memicu kondisi hiperglikemia lewat peningkatan hormon stres. Stres akibat infeksi atau penyakit tertentu menyebabkan respon hormonal berupa peningkatan katekolamin, kortisol dan growth hormon yang selanjutnya meningkatkan proses lipolisis, menurunkan produksi insulin dan menyebabkan resistensi insulin perifer. Mekanisme tersebut menyebabkan pasien mengalami hiperglikemia atau peningkatan kadar gula darah. 

c. Penggunaan Obat Tertentu

Beberapa obat diketahui dapat menaikkan gula darah, yaitu

  • Obat golongan kortikosteroid yang dikenal sebagai antiradang (misalnya prednisone)
  • Obat hipertensi golongan diuretik tiazid
  • Obat antipsikotik
  • Obat imunosupresif

Obat-obatan ini dapat memicu hiperglikemia berat, terutama pada seseorang yang sudah memiliki risiko diabetes.

d. Konsumsi Makanan Tinggi Gula

Sering mengonsumsi makanan berkarbohidrat sederhana dapat meningkatkan kadar gula darah. Apalagi jika tidak diimbangi dengan olahraga, sehingga gula yang dikonsumsi tidak dimetabolisme semua menjadi energi.

Terlalu sering mengonsumsi makanan manis meningkatkan risiko resistensi insulin yang kemudian bisa berkembang menjadi diabetes tipe 2.

e. Tidak Mengonsumsi Obat Diabetes Sesuai Resep

Bagi penderita diabetes yang sedang dalam pengobatan, baik minum obat oral atau menggunakan suntikan insulin, maka harus mengonsumsi obat sesuai dengan yang dianjurkan oleh dokter. Melewatkan dosis obat dapat menyebabkan kenaikan kadar gula darah, apalagi jika disertai dengan pola makan tidak sehat dan tinggi gula.

Mengapa Gula Darah Bisa Naik Sampai 600 mg/dL?

Pada kondisi normal, hormon insulin akan membantu memindahkan glukosa dari aliran darah ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Namun ketika jumlah insulin kurang atau tidak bekerja dengan baik, glukosa tidak dapat masuk ke sel sehingga menumpuk di dalam darah.

Akibatnya, sel-sel tubuh tidak mendapat cukup energi karena glukosa tidak dapat masuk. Pada kondisi ini, tubuh dapat salah menafsirkan kondisi tersebut sebagai “kekurangan energi” dan merespons dengan memproduksi glukosa lebih banyak melalui organ hati. Akibatnya, gula darah terus naik, bahkan bisa mencapai 600 mg/dL atau lebih.

Kondisi tersebut bisa diperburuk dengan faktor risiko dan penyebab yang sudah disebutkan di atas, baik karena adanya penyakit, infeksi, stres, atau penggunaan obat-obatan tertentu. 

Apakah Gula Darah 600 mg/dL Pasti Menandakan Diabetes?

Gula darah setinggi 600 mg/dL bisa berkaitan dengan diabetes, tetapi tidak selalu berarti seseorang sudah lama menderita diabetes. Banyak pasien yang baru mengetahui dirinya mengalami diabetes ketika memeriksakan diri karena gula darah sangat tinggi.

Gula darah melonjak hingga 600 mg/dL juga bisa diakibatkan oleh stres hiperglikemia akibat infeksi atau penyakit berat, efek obat-obatan, serta pola hidup tidak sehat dalam jangka panjang. 

Bahaya Gula Darah Naik Hingga 600 mg/dL

Kadar gula darah sangat tinggi dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius. Salah satu kondisi yang paling perlu diwaspadai adalah Sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar (SHH) atau Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS).

SHH adalah kondisi darurat yang biasanya terjadi pada orang dengan diabetes tipe 2. Ciri utamanya adalah:

  • Gula darah sangat tinggi >600 mg/dL
  • Dehidrasi berat
  • Tidak ada tanda ketosis, salah satunya napas berbau asam
  • Gangguan kesadaran hingga koma

Kadar gula yang sangat tinggi menyebabkan darah menjadi kental. Tubuh akan merespon kondisi ini dengan berusaha membuang kelebihan gula melalui urin. Akibatnya tubuh kehilangan banyak cairan. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan ginjal, ketidakseimbangan elektrolit, hingga penurunan kesadaran. 

Angka kematian SHH cukup tinggi, terutama pada lansia atau pasien yang memiliki penyakit lain. Oleh karena itu, jika gula darah mencapai 600 mg/dL harus segera mendapat penanganan. 

Apa yang Harus Dilakukan jika Gula Darah Mencapai 600 mg/dL?

Gula darah mencapai 600 mg/dL bukanlah kondisi yang bisa ditangani sendiri di rumah dan harus mendapat penanganan medis. Segera ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) agar mendapat penanganan medis meliputi:

  • Pemberian cairan infus untuk mengatasi dehidrasi
  • Pemberian suntikan insulin untuk menurunkan gula darah secara terkontrol
  • Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah untuk memeriksa fungsi fungsi ginjal dan kondisi metabolik.

Dokter akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk mengetahui penyebabnya sehingga dapat memberikan pengobatan yang tepat.

Perlu diingat bahwa menjaga gula darah agar normal bukanlah penanganan sesaat. Ketika gula darah sudah kembali normal, maka perlu pemeliharaan jangka panjang meliputi pengobatan rutin, mengubah pola makan menjadi pola makan sehat sesuai dengan kebutuhan gizi, dan olahraga pada pasien yang masih bisa beraktivitas secara normal. 

Konsultasi Gula Darah di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


46530-1-1200x801.webp

November 17, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Gorengan selalu menggoda dengan teksturnya yang renyah dan rasa gurih yang sulit ditolak. Namun, penderita diabetes perlu tahu bagaimana gorengan bisa memengaruhi gula darah dan kondisi kesehatan mereka.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Gorengan?

Jawabannya: boleh, tetapi tidak dianjurkan dan harus sangat dibatasi.

Gorengan mengandung tepung (karbohidrat tinggi) dan kalori yang cukup besar. Kombinasi ini membuat gorengan mudah meningkatkan gula darah, apalagi jika dikonsumsi bersama nasi, mie, atau minuman manis.

Jadi, penderita diabetes boleh mencicipi sesekali, tetapi bukan makanan yang boleh dikonsumsi rutin.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Gorengan

Gorengan umumnya memiliki kandungan tinggi kalori, karbohidrat, dan lemak, tergantung jenis dan bahan yang digunakan. Sebagian besar gorengan terbuat dari tepung, seperti tepung terigu, yang memiliki indeks glikemik (IG) cukup tinggi.

Proses penggorengan dalam minyak panas dapat meningkatkan jumlah lemak tidak sehat, termasuk lemak trans, yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan jantung dan metabolisme, khususnya pada penderita diabetes. 

Oleh karena itu, gorengan tidak begitu  direkomendasikan dikonsumsi oleh penderita diabetes. Jika ingin tetap mengonsumsinya, sebaiknya gunakan tepung alternatif dan metode memasak yang lebih sehat.

Bahaya Makan Gorengan Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Konsumsi gorengan secara berlebihan membawa sejumlah risiko serius bagi penderita diabetes, antara lain:

1. Meningkatkan Gula Darah

Tepung dalam gorengan cepat diubah menjadi glukosa, sehingga gula darah bisa naik drastis.

2. Meningkatkan Kolesterol dan Risiko Jantung

Gorengan tinggi lemak dan kalori, sehingga dapat meningkatkan kolesterol total, trigliserida, dan memperbesar risiko penyakit jantung, yang sudah lebih rentan dialami penderita diabetes.

3. Menambah Berat Badan

Gorengan umumnya tinggi kalori, namun tidak membuat kenyang lebih lama, sehingga dapat mendorong makan berlebihan dan meningkatkan risiko obesitas, yang menjadi salah satu faktor utama memburuknya kondisi diabetes.

4. Memicu Peradangan

Minyak yang digunakan berulang kali menghasilkan radikal bebas dan produk oksidasi lemak, memperburuk peradangan, yang dapat memengaruhi metabolisme tubuh.

Cara Makan Gorengan yang Aman bagi Penderita Diabetes

Untuk tetap bisa menikmati gorengan tanpa membahayakan gula darah, berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan:

1. Batasi Jumlah

Konsumsi gorengan sebaiknya dibatasi maksimal satu potong per kali makan dan tidak dilakukan setiap hari. 

2. Serap Minyak Berlebih

Gunakan tisu untuk menyerap minyak setelah menggoreng. Langkah ini tidak menghilangkan semua lemak, tetapi dapat mengurangi jumlah minyak yang masuk ke tubuh.

3. Coba Metode Memasak Lebih Sehat

Gunakan alternatif pengolahan seperti air fryer. Gorengan tetap renyah, tetapi risiko kenaikan gula darah dan konsumsi lemak berlebih bisa ditekan.

4. Pilih Waktu Makan yang Tepat

Konsumsi gorengan bersamaan dengan makanan utama. Kombinasikan dengan sayuran atau sumber serat lainnya untuk membantu mencegah lonjakan gula darah dan mengurangi risiko makan berlebihan.

Kapan Penderita Diabetes Harus Ke Dokter?

Meskipun gorengan dapat dinikmati sesekali dengan strategi yang tepat, penderita diabetes tetap perlu memantau respons tubuh terhadap makanan ini. Segera periksakan diri ke dokter jika sering mengalami lonjakan gula darah setelah mengonsumsi gorengan. 

Dokter penyakit dalam dapat membantu manajemen diabetes secara tepat, sementara ahli gizi atau dokter gizi bisa menyusun pola makan yang aman, termasuk mengatur konsumsi gorengan dan makanan tinggi lemak atau tepung lainnya.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


8270-1-1200x800.jpg

November 17, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diabetes adalah penyakit metabolik yang dikarakteristikkan dengan tingginya kadar gula dalam darah karena turunnya produksi insulin, atau terjadi resisten insulin, atau keduanya. 

Jika tidak ditangani dengan tepat, diabetes akan menimbulkan berbagai macam komplikasi pada beberapa organ, seperti pada mata, jantung, ginjal, dan lain sebagainya. 

Tidak hanya itu, komplikasi lain yang dapat terjadi adalah berbagai masalah pada gigi dan mulut, salah satunya bau mulut pada penderita diabetes. Mengapa hal ini dapat terjadi? Yuk, kita simak jawabannya. 

Fenomena Bau Mulut pada Penderita Diabetes

Bau mulut, atau dalam bahasa medis disebut halitosis, adalah bau tidak sedap yang muncul saat mengembuskan napas. 

Bau mulut ini dapat terjadi lebih sering pada penderita diabetes akibat beberapa faktor, salah satunya kenaikan kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) yang dapat memengaruhi kondisi gigi dan mulut. 

Pada sebuah penelitian disebutkan bahwa hampir setengah (sebanyak 49,3%) dari subjek penelitian yang mengalami bau mulut adalah penderita diabetes. Tentu saja hal ini memperkuat hubungan antara bau mulut dan penyakit diabetes. 

Penyebab Bau Mulut pada Penderita Diabetes

Berbagai penyakit gigi dan mulut dapat menjangkiti penderita diabetes, termasuk bau mulut. Kadar gula darah tinggi pada penderita diabetes menjadi bagian dari pemicu berbagai masalah pada gigi dan mulut. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Berikut penjelasannya:

1. Penurunan aliran air liur

Hiperglikemia dapat menyebabkan gangguan pada fungsi kelenjar air liur sehingga terjadi penurunan aliran saliva (air liur). Aliran air liur yang menurun dapat berkontribusi pada perkembangan bakteri dan bau tidak sedap pada mulut.

2. Penyakit periodontal (penyakit gigi dan jaringan di sekitarnya)

Kadar gula yang tinggi memicu pertumbuhan bakteri di mulut. Bakteri ini dapat menyebabkan plak pada gigi. Jika plak ini tidak dibersihkan dapat menyebabkan kerusakan gigi dan penyakit gusi yang selanjutnya mengakibatkan bau mulut.

Selain itu, aktivitas bakteri yang mencerna glukosa atau partikel makanan akan mengeluarkan gas yang berbau. 

3. Peningkatan kadar keton

Karena adanya proses metabolisme yang berubah, kadar badan keton dalam aliran darah meningkat pada pasien diabetes. Hal inilah yang menyebabkan munculnya bau mulut yang berbau buah. Bau buah ini akan sangat tercium ketika pasien mengalami komplikasi akut berupa diabetes ketoasidosis.   

4. Peningkatan kadar senyawa organik volatil 

Senyawa organik volatil adalah senyawa organik yang mudah menguap ke udara, termasuk fenol, ammonia, dan aseton. Pada penderita diabetes, senyawa ini meningkat dan dapat menyebabkan bau mulut. 

Cara Mengatasi Bau Mulut pada Penderita Diabetes

Penanganan bau mulut pada penderita diabetes melibatkan kombinasi antara pengendalian penyakit diabetes agar kontrol glikemiknya baik dan juga perawatan pada rongga mulut, baik gigi, gusi, dan lidah. Di bawah ini beberapa cara untuk mengatasi bau mulut pada diabetes, yaitu:

1. Kontrol glikemik yang baik

Kondisi kadar gula darah meningkat memiliki beberapa dampak pada area mulut seperti penurunan aliran air liur yang mengakibatkan terjadinya bau mulut. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kadar gula darah, kadar HbA1c, dan memantau adanya badan keton yang menyebabkan bau buah pada penderita diabetes.

2. Menjaga kebersihan gigi dan mulut

Menjaga kebersihan mulut berlaku bagi semua orang, tidak hanya penderita diabetes. Hal ini dapat dilakukan dengan rajin menyikat gigi dengan benar dan menggunakan pasta gigi berfluoride, minimal saat pagi hari dan malam hari sebelum tidur untuk membantu menghilangkan sisa makanan. Selain sikat gigi, menggunakan obat kumur dan dental flossing dapat mencegah aktivitas bakteri pada gigi dan mulut. 

3. Minum yang cukup

Minum yang cukup dapat menghidrasi area mulut sehingga area dalam mulut lembab, tidak terjadi penurunan aliran air liur, dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang menyebabkan bau mulut. 

4. Hindari makanan pemicu

Beberapa makanan memiliki bau yang tajam dan meninggalkan bau di mulut, seperti bawang dan rempah-rempah tertentu. Mengonsumsi makanan seperti ini dapat memperparah kondisi bau mulut pada penderita diabetes. 

5. Hentikan merokok

Bagi penderita diabetes yang merokok dianjurkan untuk berhenti merokok. Selain banyaknya dampak buruk merokok yang mengakibatkan kerusakan pada organ seperti jantung dan paru-paru, tentu merokok akan berdampak buruk pada kondisi diabetes. Merokok juga dapat memperburuk kondisi bau mulut pada penderita diabetes. 

6. Rutin periksa gigi

Rutin melakukan pemeriksaan gigi ke dokter gigi atau ke dokter gigi spesialis bergantung pada kondisi gigi dan mulut sesuai anjuran dokter gigi. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi kondisi gigi dan mulut akibat kadar gula darah yang tinggi. 

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes harus segera ke dokter jika mengalami hal di bawah ini:

  • Kontrol gula darah yang buruk. Jika pasien rutin mengonsumsi obat antidiabetes dan rutin memonitor gula darah, tetapi didapatkan hasil yang kurang optimal dapat menjadi indikator pasien harus berkonsultasi dengan dokter. 
  • Terjadi komplikasi seperti, gangguan saraf pada kaki atau tangan, pandangan kabur, luka yang tidak kunjung sembuh.
  • Terjadi komplikasi akut, seperti  diabetes ketoasidosis dengan gejala mual, muntah, sesak napas, bau mulut seperti buah-buahan, dehidrasi, sakit kepala, dan lain sebagainya.
  • Jika bau mulut tetap ada, meski sudah melakukan beberapa cara untuk menghilangkannya dan melakukan perawatan mulut yang baik di rumah.

Lalu, penderita diabetes dapat berkonsultasi dengan beberapa dokter terkait dengan keluhannya dan sebagai bentuk pencegahan berbagai komplikasi, termasuk bau mulut, di antaranya: 

1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Untuk pengendalian glikemik dan pencegahan terhadap komplikasi, penderita diabetes dapat berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam. 

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrin Metabolisme Diabetes

Jika penderita diabetes mengalami beberapa kondisi abnormal seperti, tidak adanya penurunan hasil pemeriksaan laboratorium pada diabetes dalam 3 bulan; tidak tercapainya target dalam terapi antidiabetes (AOD) tunggal dan kombinasi selama 3 bulan, dan lain-lain maka pasien perlu dirujuk ke dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes.

3. Dokter Gigi Umum

Penderita diabetes sangat perlu untuk melakukan kunjungan rutin ke dokter gigi karena adanya manifestasi klinis pada mulut yang sering dialami oleh pasien diabetes. Hal ini tentu dapat mencegah komplikasi atau kerusakan pada gigi dan mulut bertambah parah. Disarankan rutin melakukan pemeriksaan gigi setiap 6 bulan sekali atau sesuai anjuran dokter gigi. 

4. Dokter Gigi Spesialis Periodonsia 

Pada penderita diabetes yang rentan mengalami masalah pada gigi dan mulut, terutama penyakit gigi dan jaringan di sekitarnya melingkupi gusi dan tulang pendukungnya yang dapat menjadi sumber bakteri penyebab bau mulut dapat berkonsultasi dengan dokter gigi spesialis periodonsia untuk mengevaluasi apakah ada kerusakan pada gigi, gusi, atau area di sekitarnya. 

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


36029-_1_-1200x800.webp

November 17, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Agar-agar sering dijadikan camilan karena rasanya lezat, rendah kalori, dan mudah dibuat. Namun, banyak penderita diabetes masih bingung apakah makanan ini benar-benar aman dikonsumsi, terutama karena sering disajikan dengan tambahan gula.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Agar-Agar? 

Ya, penderita diabetes boleh makan agar-agar. Camilan ini pada dasarnya aman, asalkan cara pengolahannya diperhatikan. 

Hal yang perlu diwaspadai bukan agar-agarnya, melainkan pemanis dan bahan tambahan seperti gula pasir, sirup, susu kental manis, atau topping manis lainnya yang dapat meningkatkan gula darah. 

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Agar-Agar 

Meskipun belum ditemukan data resmi mengenai indeks glikemik (IG) agar-agar polos, kandungan gizinya menunjukkan bahwa makanan ini kemungkinan memiliki IG yang sangat rendah. 

Agar-agar polos memiliki kandungan gizi yang sangat sederhana. Komponen yang paling menonjol adalah seratnya, terutama serat jenis agarosa dan agaropektin. Kedua jenis serat ini membantu memberi rasa kenyang lebih lama serta memperlambat penyerapan glukosa di dalam tubuh, sehingga mendukung kontrol gula darah.

Cara Makan Agar-Agar yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar-agar bisa menjadi camilan yang aman, tetapi cara pengolahannya tetap perlu diperhatikan agar tidak memengaruhi gula darah. Berikut beberapa panduan yang bisa diterapkan:

1. Pilih Agar-Agar Plain

Pilih jenis agar-agar plain yang tidak mengandung gula tambahan, pewarna berlebihan, atau campuran pemanis.

2. Gunakan Pemanis Rendah Kalori

Jika ingin agar-agar terasa manis tanpa meningkatkan gula darah, gunakan pemanis rendah kalori sebagai pengganti gula biasa.

3. Tambahkan Buah dengan Indeks Glikemik Rendah

Agar-agar bisa terasa lebih segar dan bernutrisi dengan tambahan buah. Pilih buah yang indeks glikemiknya rendah agar tetap aman bagi kadar gula darah, seperti stroberi, blueberry, dan kiwi. 

4. Konsumsi dalam Porsi Wajar

Meskipun agar-agar rendah kalori dan relatif aman, porsinya tetap perlu diperhatikan. Mengonsumsi dalam jumlah berlebihan tetap dapat memengaruhi asupan karbohidrat harian

Kapan Penderita Diabetes Harus Ke Dokter?

Meski agar-agar aman dikonsumsi, kondisi tubuh setiap penderita diabetes bisa berbeda. Kalau mulai muncul keluhan seperti gula darah yang naik tiba-tiba, segera temui dokter penyakit dalam untuk evaluasi lebih lanjut. Selain itu, konsultasikan juga pola makan dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik agar pengaturannya lebih sesuai dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan harian.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.