HbA1c Tinggi Tapi Gula Darah Normal – Apa Artinya?

Pemeriksaan HbA1c atau Hemoglobin A1c menjadi salah satu parameter penting untuk menilai kontrol gula darah dalam jangka panjang. Tes ini bukan hanya digunakan oleh pasien diabetes, tetapi juga untuk masyarakat umum untuk skrining risiko diabetes.
Namun, salah satu kondisi yang cukup sering menimbulkan kebingungan adalah ketika seseorang mendapatkan hasil HbA1c tinggi, tetapi pemeriksaan gula darahnya normal. Hal tersebut membuat pasien bertanya-tanya, “Apakah saya menderita diabetes atau tidak?”
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita bahas arti dari HbA1c yang tinggi, mengapa hal itu bisa terjadi meskipun gula darah tampak normal, dan apa langkah yang sebaiknya dilakukan.
Apa Arti dari HbA1c Tinggi?
HbA1c adalah pemeriksaan laboratorium yang mengukur persentase hemoglobin yang mengalami glikasi, yaitu hemoglobin yang terikat dengan glukosa. Hemoglobin adalah protein yang memberikan warna merah pada sel darah merah.
Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan glukosa menempel pada hemoglobin, yang disebut glycated hemoglobin atau hemoglobin terglikasi. Sel darah merah memiliki usia rata-rata 90 hingga 120 hari, karena itu hasil HbA1c menggambarkan rata-rata gula darah selama 3 bulan terakhir.
Kadar HbA1c tinggi mengindikasikan bahwa rata-rata gula darah selama 3 bulan terakhir cenderung tinggi sehingga terjadi penempelan glukosa pada hemoglobin membentuk HbA1c.
Berikut klasifikasi pemeriksaan HbA1c:
- Normal < 5,7%
- Prediabetes: 5,7% – 6,4%
- Diabetes ≥ 6,5%
Pada pasien diabetes yang sedang menjalani pengobatan, target HbA1c adalah di bawah 7%. Namun, target ini bisa berbeda tergantung kondisi dan penyakit penyerta pada masing-masing pasien.
Pada pasien tertentu seperti lansia, pasien dengan penyakit komorbid, atau risiko hipoglikemia tinggi, target bisa lebih longgar, misalnya < 7,5% atau < 8%, tergantung kondisi klinisnya.
Mengapa HbA1c Bisa Tinggi Tapi Gula Darah Normal?
Hasil pemeriksaan HbA1c menunjukkan angka yang tinggi tetapi kadar gula darah normal bisa menimbulkan kebingungan. Namun, hal ini bisa saja terjadi karena beberapa faktor. Berikut beberapa penyebabnya:
1. Fluktuasi Gula Darah
Seseorang bisa saja memiliki gula darah puasa yang normal, tetapi mengalami lonjakan signifikan 1–2 jam setelah makan. Lonjakan ini sering tidak terdeteksi karena pemeriksaan hanya dilakukan saat kondisi puasa atau pemeriksaan sewaktu yang tidak mewakili kadar gula darah sepanjang hari. Lonjakan gula darah setelah makan yang berulang dapat meningkatkan rata-rata glukosa jangka panjang sehingga menaikkan HbA1c.
2. Umur Sel Darah Merah Lebih Lama
Masa hidup sel darah merah yang lebih panjang membuat hemoglobin lebih lama terpapar glukosa sehingga HbA1c naik, meski kadar gula sebenarnya dalam batas normal.
3. Kelainan Darah
Beberapa penyakit yang berhubungan dengan hemoglobin dan sel darah merah dapat memengaruhi hasil pemeriksaan HbA1c dan menyebabkan nilai HbA1c yang tinggi secara palsu.
Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kenaikan HbA1c adalah anemia defisiensi besi, anemia akibat infeksi, anemia akibat tumor, serta kelainan hemoglobin thalasemia dan kekurangan vitamin B12.
4. Penggunaan Obat Tertentu
Beberapa obat dapat meningkatkan gula darah sesekali sehingga menaikkan HbA1c, seperti:
- Kortikosteroid
- Antipsikotik
- Obat kemoterapi tertentu
- Imunosupresan
5. Hemoglobin Lebih Mudah Terglikasi
Beberapa orang memiliki kecenderungan biologis atau genetik yang menyebabkan hemoglobin lebih mudah mengalami glikasi. Akibatnya, HbA1c tampak tinggi meskipun gula darah normal.
Apa yang Harus Dilakukan Jika HbA1c Tinggi Tapi Gula Darah Normal?
Jika nilai HbA1c tinggi tetapi gula darah terlihat normal, maka perlu dilakukan pemeriksaan ulang atau pemeriksaan lanjutan untuk memastikan hasilnya. Sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk mendapatkan rekomendasi pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Dokter biasanya akan mengevaluasi pola gula darah harian, terutama gula darah setelah makan, karena lonjakan yang tidak terukur dapat membuat HbA1c meningkat.
Pemeriksaan tambahan seperti continuous glucose monitoring (CGM) atau pemantauan gula darah mandiri selama beberapa hari dapat dilakukan untuk membantu melihat pola fluktuasi gula darah yang tidak tertangkap oleh pemeriksaan sewaktu.
Selain itu, dokter mungkin menilai kondisi lain seperti anemia, defisiensi zat besi, masalah pada sel darah merah, serta konsumsi obat-obatan yang dapat memengaruhi kadar HbA1c. Jika kecurigaan mengarah pada faktor biologis individu, misalnya hemoglobin yang lebih mudah terglikasi, maka dokter dapat menilai kontrol gula darah berdasarkan pola gula harian, bukan hanya mengandalkan nilai HbA1c.
Dengan evaluasi yang tepat, dokter dapat memberikan rekomendasi yang lebih akurat untuk pengobatan dan pemantauan selanjutnya.
Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic
Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.
Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.
Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


