Apakah Orang Kurus Bisa Kena Diabetes? Ini Jawabannya!

November 21, 2025 by Primecare Clinic
2149229155-_1_-1200x800.webp

Diabetes merupakan penyakit metabolik kronis yang menjadi perhatian global. Seiring bertambahnya angka kejadian obesitas, meningkat pula angka kejadian diabetes. Oleh karena itu, diabetes seringkali dikaitkan dengan penderita obesitas. 

Secara teori, obesitas dapat menyebabkan resistensi insulin yang kemudian dapat berkembang menjadi diabetes. Lantas, apakah orang dengan berat badan normal atau kurang tidak akan mengalami diabetes? Yuk, kita simak jawabannya.

Apakah Orang Kurus Bisa Kena Diabetes?

Ya, orang kurus atau orang dengan berat badan normal dapat menderita diabetes. Perjalanan penyakit diabetes pada orang kurus berbeda dengan diabetes tipe 2 pada orang dengan obesitas. Pasien diabetes dengan obesitas diakibatkan karena adanya resistensi insulin sehingga glukosa sulit masuk ke dalam sel, lalu  menumpuk di dalam darah. Pada pasien diabetes yang kurus, kelainan utama yang menyebabkan kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) adalah gangguan pengeluaran hormon insulin pankreas yang sebagian disebabkan oleh berkurangnya massa sel beta pankreas.

Penyebab Diabetes pada Orang Kurus

Penyebab diabetes pada orang kurus bersifat multifaktorial, baik yang bersifat internal maupun eksternal pasien. Beberapa faktor tersebut, yaitu:

1. Distribusi lemak tubuh

Distribusi lemak pada area perut, yang biasa disebut dengan lemak viseral bisa menjadi prediktor diabetes tipe 2 yang lebih kuat daripada indeks massa tubuh (IMT).

Selain itu, penyakit perlemakan hati non-alkohol biasanya berkaitan dengan obesitas, tetapi penyakit ini juga bisa berkembang pada orang dengan IMT normal dan bisa menjadi faktor risiko terjadinya diabetes pada orang yang kurus. 

2. Berkurangnya massa otot (sarkopenia)

Sarkopenia adalah kelainan pada otot yang ditandai dengan penurunan massa dan/atau kekuatan otot, serta terjadinya penurunan kualitas otot. 

Kondisi ini menjadi faktor risiko terjadinya diabetes pada orang yang kurus karena otot rangka merupakan jaringan yang paling sensitif terhadap insulin dengan cara membuang 70-90% glukosa setelah makan. 

3. Faktor Genetik

Modulator genetik juga dapat memengaruhi penurunan fungsi sel beta pada kelompok diabetes dengan berat badan normal.

4. Malnutrisi 

Kekurangan atau kelebihan gizi pada masa pertumbuhan awal kehidupan memiliki pengaruh terhadap terjadinya gangguan metabolik pada saat dewasa. Kekurangan gizi, terutama kekurangan protein selama masa pertumbuhan dapat memicu terjadinya diabetes tipe 2 pada orang yang kurus ketika dewasa dan sering terjadi di negara berkembang. 

5. Perilaku dan gaya hidup tidak sehat

Konsumsi alkohol dan merokok merupakan penyebab terjadinya diabetes pada orang yang kurus. Konsumsi alkohol kronis dapat menginduksi gangguan fungsi dan kematian sel beta pankreas (sel yang memproduksi insulin). Selain itu, paparan terhadap perokok pasif dan aktif memiliki hubungan dengan risiko terjadinya diabetes.

Terapi Bagi Orang yang Kurus dan Menderita Diabetes

Secara umum, terapi pada diabetes meliputi terapi dengan obat dan perubahan gaya hidup.

1. Obat Antidiabetes

Terapi obat diberikan bersamaan dengan perubahan gaya hidup. Terdapat dua jenis obat antidiabetes (OAD), yaitu obat oral (yang diminum) dan suntikan. Jenis obat yang diberikan bergantung pada hasil evaluasi dokter. 

2. Gaya hidup sehat

a. Pola makan

Perlu adanya keseimbangan makronutrien pada makanan dengan kalori yang cukup. Bagi pasien diabetes yang kurus, kebutuhan kalorinya ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan berat badan.

b. Aktivitas fisik

Aktivitas fisik sebaiknya tetap dilakukan karena merupakan salah satu pilar pengelolaan pasien diabetes. Dianjurkan melakukan olahraga teratur 3-5 hari setiap minggu selama sekitar 30-45 menit dengan total per minggu sebanyak 150 menit. 

Kapan Pasien Diabetes Harus ke Dokter?

Beberapa kondisi di bawah ini dapat menjadi acuan kapan pasien diabetes perlu berkonsultasi dengan dokter, di antaranya:

  • Pasien diabetes harus melakukan kontrol rutin minimal satu bulan sekali, baik itu oleh dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, atau pun dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes bergantung pada kondisi pasien dan status rujukannya. 
  • Jika pasien mengalami komplikasi akut, seperti hipoglikemia, sesak napas, tidak sadarkan diri, berat badan yang menurun dengan cepat dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan sekunder atau tersier untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesegera mungkin. 
  • Jika didapatkan gejala yang mengarah pada komplikasi lainnya, seperti neuropati atau retinopati diabetes, maka pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis berdasarkan jenis komplikasinya.
  • Jika diperlukan, kontrol berat badan juga dilakukan untuk mengevaluasi apakah berat badan pasien sudah sesuai dengan target dokter. 

Selain berkonsultasi dengan dokter umum, penanganan diabetes lebih lanjut dapat dilakukan dengan berkonsultasi ke dokter spesialis, terutama untuk kasus diabetes dengan kondisi tertentu. Dokter spesialis yang dapat menanganinya adalah: 

1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Pelayanan dokter spesialis penyakit dalam dilakukan sebagai skrining awal dan pemeriksaan lebih lengkap. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi adanya komplikasi atau tidak.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrin Metabolisme Diabetes

Jika pada pasien ditemukan salah satu dari beberapa komplikasi, seperti:

  1. adanya komplikasi akut berupa ketoasidosis atau hyperglycemic/hyperosmolar state
  2. tidak adanya penurunan hasil pemeriksaan laboratorium pada diabetes dalam 3 bulan; 
  3. tidak tercapainya target dalam terapi antidiabetes (AOD) tunggal dan kombinasi selama 3 bulan, dan lain-lain 

maka pasien perlu dirujuk ke dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes.

3. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Jika pasien diabetes mengalami underweight (berat badan kurang), tentu membutuhkan pola makan khusus yang dapat diberikan oleh dokter spesialis gizi klinik agar kebutuhan kalorinya dapat tercukupi dan tetap sesuai pola makan sehat sebagai terapi diabetes.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.