Berat Badan Naik pada Penderita Diabetes – Penyebab, Solusi, dan harus ke Dokter Apa?

November 19, 2025 by Primecare Clinic
2694-_1_-1200x800.webp

Diabetes adalah penyakit metabolik kronik yang ditandai dengan terjadinya kadar gula darah dalam darah. Hal ini terjadi karena menurunnya produksi hormon insulin, terjadinya resisten insulin atau keduanya. 

Beberapa gejala khas pada diabetes, yaitu polidipsi (sering minum), poliuri (sering buang air kecil), dan polifagi (sering makan), dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Namun, ternyata pada penderita diabetes dapat terjadi fenomena sebaliknya, dimana terjadi kenaikan berat badan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Yuk, simak jawabannya.

Fenomena Berat Badan Terus Naik pada Penderita Diabetes

Berat badan sangat memengaruhi metabolisme tubuh seseorang, terlebih jika mengalami obesitas. Obesitas seringkali dikaitkan dengan masalah kesehatan, terutama terkait penyakit metabolik dan kardiovaskular. Obesitas menjadi faktor risiko kedua jenis penyakit tersebut. Oleh karena itu, beberapa poin dari manajemen terapi penyakit tersebut adalah perubahan gaya hidup sehat berupa pengaturan diet dan aktivitas fisik yang tepat untuk program penurunan berat badan. Pada penderita diabetes, penurunan berat badan terbukti dapat meningkatkan sensitivitas insulin. 

Tidak mudah bagi penderita diabetes untuk mengubah gaya hidup, terlebih jika sebelumnya sering menerapkan gaya hidup tidak sehat. Intervensi gaya hidup sehat ini tentu memiliki dampak yang bagus untuk penurunan berat badan, tetapi tidak mudah dicapai dan sulit juga untuk mempertahankannya dalam jangka waktu yang lama. Ada pula fenomena terjadinya kenaikan berat badan pada penderita diabetes. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya jenis obat antidiabetes (OAD) yang dikonsumsi oleh penderita diabetes. 

Penyebab Berat Badan Terus Naik pada Penderita Diabetes

Kenaikan berat badan pada penderita diabetes disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya, seperti di bawah ini: 

1. Obat Antidiabetes 

Beberapa jenis OAD memiliki efek samping berupa kenaikan berat badan. Apa saja obatnya? Berikut jenis OAD yang dapat meningkatkan berat badan, yaitu:

a. Insulin

Obat jenis ini sangat berisiko terhadap kejadian hipoglikemia sehingga ketika kadar gula darah menjadi rendah maka tubuh akan menstimulasi nafsu makan untuk menaikkan kadar gula darah. Selain itu, insulin dapat menghambat terjadinya pemecahan lemak dan mendorong terjadinya pembentukan lemak.

b. Sulfoniurea

Sama seperti insulin, obat golongan ini memiliki risiko hipoglikemia sehingga dapat menstimulasi untuk makan dan berefek mengalami peningkatan berat badan. 

c. Thiazolidinedion

Obat antidiabetes ini meningkatkan perubahan sel lemak dalam tubuh. Obat ini juga memiliki efek samping meningkatkan jumlah volume plasma darah yang mengakibatkan peningkatan berat badan. 

2. Usia

Penderita diabetes dengan usia kurang dari 65 tahun cenderung dapat mengalami kenaikan berat badan. 

3. Merokok

Perokok aktif lebih mungkin mengalami kenaikan berat badan. 

4. Status kadar HbA1c

Kadar HbA1c adalah profil gula darah yang dapat menggambarkan kondisi gula darah selama 2-3 bulan belakangan. Pasien dengan kadar HbA1c >7,2% cenderung mengalami kenaikan berat badan. 

Cara Mengatasi Berat Badan Terus Naik pada Penderita Diabetes

Pada prinsipnya, program penurunan berat pada penderita diabetes tidak terlalu jauh dengan program berat badan pada orang normal. Program ini menekankan pada perubahan gaya hidup yang lebih sehat dan tambahan terapi obat bagi penderita diabetes untuk mengontrol gula darahnya. Langkah-langkah yang harus dilakukan meliputi:

1. Aktivitas fisik 

Aktivitas fisik sebaiknya dilakukan secara rutin dan konsisten untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan membantu menurunkan berat badan. Aktivitas fisik yang efektif harus mencakup kombinasi seimbang antara latihan aerobik (daya tahan) untuk meningkatkan kesehatan kardiovaskular, latihan resistensi (kekuatan) untuk mempertahankan massa otot, dan latihan fleksibilitas (peregangan).

Durasi aktivitas fisik yang dianjurkan adalah 150 menit per minggu. Namun, rencana latihan dapat berkembang secara bertahap selama 12–24 minggu dari 20 menit/hari selama 4 hari/minggu menjadi 60 menit/hari selama 5–6 hari/minggu.

Selain itu, penting untuk mempertahankan durasi aktivitas fisik sebanyak 300 menit per minggu, dengan penekanan pada latihan ketahanan (resistensi) karena pada penyakit diabetes diketahui memperburuk kehilangan otot akibat penuaan.

2. Nutrisi (Diet)

Pasien disarankan untuk melakukan konsultasi dengan dokter gizi atau ahli nutrisi. Terapi nutrisi meliputi evaluasi kebutuhan kalori pasien, termasuk riwayat diet dan mengidentifikasi hambatan potensial untuk mengikuti rencana terapi nutrisi.

Nantinya, setiap pasien akan mendapatkan rencana makan yang rendah kalori berdasarkan jenis kelamin, tinggi badan, dan asupan energi sebelumnya.

3. Penyesuaian Obat Antidiabetes

Pasien harus berkonsultasi dengan dokter untuk mengevaluasi obat yang berpotensi meningkatkan berat badan di awal program terapi. Evaluasi ini meliputi, apakah jenis obat dapat diganti, apakah dosisnya dapat disesuaikan, atau menghentikan obat yang memiliki efek samping menaikkan berat badan. 

Bagi pasien yang menggunakan insulin, penyesuaian insulin dapat diubah menjadi penggunaan insulin kerja lama yang memiliki efek penambahan berat badan lebih sedikit (misalnya, insulin detemir, insulin degludec, dan insulin glargine U-300). Untuk menghindari konsumsi makanan yang tidak perlu akibat hipoglikemia, pasien disarankan untuk memberikan insulin kerja pendek segera setelah makan atau dalam waktu 20 menit setelah memulai makan.

4. Operasi Bariatrik

Operasi bariatrik dapat dipertimbangkan sebagai pilihan untuk penderita diabetes tipe 2  dengan obesitas kelas 2 dan 3 yang tidak dapat menurunkan berat badan setelah 6 bulan intervensi gaya hidup secara intensif.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter? 

Penderita diabetes sebaiknya melakukan kontrol rutin yang sudah dijadwalkan oleh dokter. Namun, beberapa kondisi di bawah ini dapat menjadi acuan untuk pasien menjadwalkan konsultasi dengan dokter, di antaranya:

  • Saat memulai atau menyesuaikan pengobatan
  • Untuk mengevaluasi kadar gula darah rutin
  • Jika mengalami kesulitan untuk mengontrol berat badan
  • Kontrol gula darah yang buruk atau kesulitan mengendalikan gula darah meski sudah melakukan terapi

Kalau Penderita Diabetes Mengalami Berat Badan terus Naik harus ke Dokter Apa?

Adapun dokter spesialis yang tepat untuk menangani pasien dengan diabetes usia dewasa adalah:

1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Untuk pengendalian glikemik dan pencegahan terhadap komplikasi, penderita diabetes dapat berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam. 

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrin Metabolisme Diabetes

Jika penderita diabetes mengalami beberapa kondisi abnormal, seperti tidak ada hasil pemeriksaan laboratorium yang turun dalam 3 bulan; tidak tercapainya target dalam terapi AOD tunggal dan kombinasi selama 3 bulan, dan lain-lain maka pasien perlu dirujuk ke dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes.

3. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Konsultasi dengan dokter gizi dilakukan untuk program penurunan berat badan dan rencana diet secara tepat.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.