1331-_1_-1200x800.webp

September 15, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Perut kembung adalah masalah yang sering dialami banyak orang. Kembung bisa disebabkan oleh banyak faktor, misalnya kebiasaan makan yang tidak sehat, gangguan pencernaan, dan penyakit tertentu. 

Penderita diabetes dapat mengalami gejala sering kembung yang disebabkan oleh gangguan pencernaan atau komplikasi jangka panjang diabetes. Lalu, apakah sering kembung pada diabetes berbahaya dan bagaimana mengatasinya? Mari kita pahami bersama di artikel ini! 

Apa itu Gejala Sering Kembung pada Penderita Diabetes?

Kembung adalah kondisi ketika terjadi penumpukan gas pada sistem pencernaan. Pada penderita diabetes kembung bisa berlangsung lebih lama dan sering kambuh.

Tanda-tanda yang sering dirasakan saat kembung antara lain perut terasa sakit, penuh, sesak, cepat kenyang meski baru makan sedikit, sering bersendawa, sering buang angin, serta perut terasa keras.

Berbeda dengan kembung biasa yang biasanya hilang setelah buang angin atau sendawa, kembung pada penderita diabetes sering datang berulang. Kondisi ini bisa berkaitan dengan komplikasi diabetes seperti gastroparesis yang menyebabkan waktu pengosongan lambung lebih lama sehingga memicu rasa kembung. 

Apakah Sering Kembung Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Kembung tidak selalu menjadi gejala diabetes. Kembung adalah gangguan pencernaan yang bisa dialami siapa saja, tidak hanya pada penderita diabetes. Ada banyak penyebab lain yang dapat menimbulkan kembung, antara lain:

  • Konsumsi makanan dan minuman yang dapat menghasilkan gas seperti minuman bersoda, kol, brokoli, ubi, kentang, dan makanan tinggi lemak.
  • Kebiasaan makan terlalu cepat sehingga banyak udara ikut tertelan.
  • Intoleransi laktosa yang menyebabkan perut tidak bisa mencerna laktosa yang biasanya terkandung dalam susu.
  • Sindrom iritasi usus besar (IBS) yang sering menimbulkan kembung berulang.
  • Stres dan kecemasan yang dapat memengaruhi kerja sistem pencernaan.

Penyebab Sering Kembung pada Penderita Diabetes

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penderita diabetes sering mengalami kembung, antara lain:

1. Gastroparesis

Gastroparesis adalah gangguan pada lambung yang menyebabkan gerakan otot lambung melambat sehingga waktu pengosongan lambung lebih lama. Normalnya, makanan yang masuk ke lambung akan dicerna lalu diteruskan ke usus dengan bantuan kontraksi otot lambung. Proses ini diatur oleh saraf vagus. 

Diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan saraf, termasuk saraf vagus. Akibatnya, kontraksi otot lambung terganggu dan lambung kesulitan mengosongkan makanan ke usus halus. Makanan pun tertahan di lambung lebih lama. Hal ini bisa menyebabkan rasa penuh, mual, dan kembung.

2. Efek Samping Obat Diabetes

Beberapa obat antidiabetes, seperti metformin dan acarbose memiliki efek samping berupa gangguan pencernaan. Gejala yang bisa dialami yaitu kembung, diare, dan sakit perut.

3. Perubahan Pola Makan

Penderita diabetes dianjurkan untuk memperbaiki pola makan, salah satunya memperbanyak konsumsi makanan berserat. Menambah asupan serat secara drastis dapat menyebabkan perut terasa kembung.

Apakah Sering Kembung pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Kembung yang sesekali muncul biasanya tidak berbahaya. Namun, bila keluhan ini terjadi terus-menerus pada penderita diabetes, hal tersebut dapat menandakan adanya komplikasi serius seperti gastroparesis atau masalah pada usus.

Gastroparesis bisa menyebabkan gangguan penyerapan zat gizi karena makanan tidak dicerna dengan baik. Selain itu, kembung yang disertai gejala lain seperti muntah, penurunan berat badan, atau nyeri perut parah bisa menjadi tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Kembung pada Penderita Diabetes

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau mencegah kembung, antara lain:

  • Mengatur pola makan, makan dalam porsi kecil tapi lebih sering agar lambung tidak bekerja terlalu berat.
  • Menghindari makanan pemicu gas seperti soda, makanan berlemak tinggi, bawang, kubis, atau makanan pedas.
  • Mengunyah makanan dengan baik untuk mengurangi udara yang ikut tertelan.
  • Mengontrol kadar gula darah secara rutin agar sistem pencernaan tetap stabil.
  • Mengonsumsi probiotik untuk membantu menyeimbangkan flora usus.
  • Olahraga ringan seperti berjalan kaki setelah makan dapat membantu pergerakan usus dan mencegah gas terperangkap.
  • Konsultasi terkait obat diabetes jika metformin atau obat lain memicu kembung. Dokter mungkin akan menyesuaikan dosis atau mengganti dengan alternatif obat yang lebih sesuai.

Kapan Harus ke Dokter?

Kembung pada penderita diabetes perlu mendapat perhatian medis bila disertai dengan gejala berikut:

  • Kembung terjadi terus-menerus meski sudah mengubah pola makan.
  • Disertai mual, muntah, atau kesulitan menelan makanan.
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
  • Rasa penuh atau nyeri di perut semakin parah.
  • Gula darah sulit dikendalikan akibat pola makan yang terganggu.

Penderita diabetes sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam, khususnya konsultan endokrinologi. Jika gejala yang dirasakan lebih banyak pada saluran pencernaan, maka bisa juga konsultasi ke dokter spesialis gastroenterologi. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan konsultasi dan manajemen diabetes secara holistik. Anda bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik untuk penanganan diabetes secara menyeluruh. 

Primecare Clinic juga menyediakan layanan CGM untuk memantau kadar gula darah sepanjang waktu tanpa harus tusuk berulang kali. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 


21731-_1_-1200x800.webp

September 15, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Pusing adalah keluhan yang sering dianggap sepele dan sering dialami banyak orang. Penyebab pusing ada banyak, mulai dari yang ringan hingga masalah kesehatan yang serius. 

Pada penderita diabetes, rasa pusing yang muncul berulang kali bisa menjadi sinyal bahwa kadar gula darah sedang tidak stabil atau adanya komplikasi. Sering pusing tidak boleh diabaikan karena dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, hingga memicu risiko kesehatan yang lebih parah.

Apakah sering pusing selalu menjadi diabetes dan apakah berbahaya? Artikel ini akan membahas lebih jauh mengenai pusing pada penderita diabetes, penyebabnya, tingkat bahayanya, cara mengatasi, serta kapan waktu yang tepat untuk memeriksakan diri ke dokter.

Apa itu Gejala Sering Pusing pada Penderita Diabetes?

Pusing pada penderita diabetes adalah kondisi ketika kepala terasa ringan, berputar, atau bahkan seperti melayang. Pada penderita diabetes, gejala ini biasanya berkaitan dengan kadar gula darah yang tidak stabil, baik terlalu tinggi (hiperglikemia) maupun terlalu rendah (hipoglikemia).

Selain itu, pusing juga bisa timbul karena adanya gangguan pada sistem saraf otonom yang terjadi karena kadar gula darah tidak terkontrol dalam jangka panjang. Beberapa penyakit akibat komplikasi diabetes juga dapat menyebabkan rasa pusing. 

Apakah Sering Pusing Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Penderita diabetes bisa mengalami gejala sering pusing jika kadar gula darahnya tidak stabil. Namun, sering pusing tidak selalu berkaitan langsung dengan diabetes. Banyak faktor lain yang dapat menyebabkan pusing, misalnya:

  • Kurang tidur atau kelelahan.
  • Dehidrasi karena saat tubuh kekurangan cairan maka aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk otak akan berkurang.
  • Tekanan darah rendah dan tekanan darah tinggi.
  • Masalah telinga bagian dalam yang mengakibatkan gangguan sistem keseimbangan di telinga, seperti pada vertigo.
  • Efek samping obat, misalnya obat anti kejang, antidepresan, dan obat penenang.
  • Stres dan kecemasan yang berlebih. 
  • Gangguan peredaran darah ke otak misalnya pada penyakit jantung dan stroke. 

Oleh karena itu, jika seseorang sering mengalami pusing, belum tentu berarti menderita diabetes. Diperlukan pemeriksaan medis lebih lengkap untuk memastikan penyebabnya. Namun, pada penderita diabetes, pusing yang muncul berulang kali lebih sering berhubungan dengan gula darah yang tidak terkendali atau komplikasi tertentu.

Penyebab Sering Pusing pada Penderita Diabetes

Ada beberapa penyebab pusing yang sering dialami penderita diabetes, di antaranya:

1. Fluktuasi Gula Darah

Gula darah yang naik-turun drastis dapat memengaruhi fungsi otak dan sistem saraf sehingga memicu rasa pusing.

2. Hipoglikemia (Kadar Gula Darah Rendah) 

Hipoglikemia adalah ketika kadar gula darah kurang dari 70 mg/dL. Penderita diabetes dapat mengalami hipoglikemia karena penggunaan insulin atau obat diabetes, tetapi tidak diimbangi dengan asupan makanan yang cukup.

Hipoglikemia menyebabkan otak tidak cukup mendapatkan energi. Kondisi ini sering menimbulkan pusing mendadak, keringat dingin, hingga penurunan kesadaran atau pingsan.

3. Hiperglikemia (Kadar Gula Darah Tinggi)

Hiperglikemia terjadi ketika kadar gula darah puasa (GDP) ≥126 mg/dL atau gula darah sewaktu (GDS) ≥200 mg/dL. Kadar gula darah yang terlalu tinggi membuat tubuh mengalami dehidrasi dan sirkulasi darah terganggu. Hal tersebut dapat menimbulkan gejala pusing.

4. Neuropati

Penderita diabetes yang gula darahnya tidak terkontrol dalam jangka panjang bisa mengalami komplikasi berupa kerusakan saraf yang disebut neuropati. Jika terjadi kerusakan saraf yang mengatur tekanan darah dapat menyebabkan tekanan darah turun tiba-tiba saat berdiri dan memicu pusing. Kondisi ini disebut hipotensi ortostatik.

5. Komplikasi Diabetes Kronis

Diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai komplikasi berupa kerusakan pembuluh darah dan saraf. 

Gangguan tersebut dalam menimbulkan komplikasi pada organ yang terganggu fungsinya. Misalnya jika terdapat kerusakan pada pembuluh darah otak, maka  aliran darah ke otak akan terganggu. Komplikasi tersebut dapat menimbulkan berbagai gejala, salah satunya sering pusing. 

Apakah Sering Pusing pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Sering pusing pada penderita diabetes bisa berbahaya jika dibiarkan tanpa penanganan. Beberapa bahaya yang mungkin timbul antara lain:

  • Risiko jatuh dan cedera akibat kehilangan keseimbangan.
  • Tanda hipoglikemia berat yang dapat menyebabkan kejang, kehilangan kesadaran, bahkan koma jika tidak segera ditangani
  • Kemungkinan adanya komplikasi serius seperti gangguan jantung, stroke, atau gagal ginjal.
  • Penurunan kualitas hidup karena penderita sulit beraktivitas normal akibat sering merasa pusing dan tidak stabil.

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Pusing pada Penderita Diabetes

Untuk mengurangi risiko pusing, penderita diabetes dapat melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Mengontrol kadar gula darah dengan pola makan seimbang, olahraga teratur, dan penggunaan obat sesuai anjuran dokter.
  2. Rutin memonitor gula darah, Anda bisa memakai CGM untuk memonitor gula darah sepanjang hari tanpa harus berulang kali tusuk jarum untuk mengetahui berapa kadar gula darah
  3. Mencukupi kebutuhan cairan agar tubuh tidak dehidrasi.
  4. Mengubah posisi tubuh secara perlahan, misalnya saat bangun dari tidur atau duduk, lakukan secara bertahap agar tidak terjadi penurunan tekanan darah mendadak.
  5. Menghindari konsumsi alkohol dan rokok, yang bisa memperburuk sirkulasi darah.
  6. Mengelola stres melalui relaksasi, meditasi, atau aktivitas yang menenangkan.
  7. Konsultasi dengan dokter jika pusing masih berlanjut setelah melakukan penanganan di rumah.

Kapan Penderita Diabetes atau Orang yang Mengalami sering Pusing Harus ke Dokter?

Rasa pusing kerap datang tiba-tiba, tetapi tidak selalu berbahaya dan cukup dengan penanganan di rumah. Namun, Anda harus segera mencari pertolongan medis bila mengalami kondisi berikut:

  • Pusing datang tiba-tiba dan sangat hebat.
  • Pusing disertai penurunan kesadaran, kejang, atau kebingungan.
  • Pusing disertai gejala lain seperti nyeri dada, sesak napas, bicara pelo, atau kelemahan pada satu sisi tubuh (tanda stroke).
  • Pusing sering muncul setelah minum obat diabetes tertentu.
  • Pusing disertai mual muntah terus menerus. 
  • Pusing tidak membaik meski sudah cukup istirahat, makan serta minum.

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi ke dokter penyakit dalam atau spesialis endokrin untuk mengelola kadar gula darah dan mencegah komplikasi.

Jika pusing disertai gangguan pada telinga atau keseimbangan, bisa juga konsultasi dengan dokter spesialis THT. Sementara jika pusing disertai keluhan jantung, seperti nyeri dada atau sesak napas, pemeriksaan ke dokter jantung sangat dianjurkan.

Jika pusing disertai gejala lemah salah satu sisi anggota gerak dan bicara pelo maka konsultasikan ke dokter saraf karena merupakan gejala stroke. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes agar Anda bisa menurunkan kadar HbA1C Anda. Selain itu, Anda bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 


2150775186-_1_-1200x800.webp

September 12, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Gula (glukosa) adalah sumber energi utama pada sel-sel tubuh sehingga glukosa memegang peranan penting dalam metabolisme tubuh. Semakin bertambah usia, tubuh kita mengalami proses aging/penuaan yang berpengaruh pada metabolisme dalam tubuh. Oleh sebab itu, sangat penting menjaga kadar gula darah dalam rentang normal.

Apa Itu Kadar Gula Darah?

Kadar gula darah adalah ukuran konsentrasi gula (glukosa) yang beredar dalam aliran darah. Gula menjadi sumber energi utama bagi sel-sel tubuh. Oleh karena itu, kadar gula darah juga diatur oleh tubuh sedemikian rupa agar tetap dalam rentang normal. 

Salah satu faktor yang memengaruhi kadar gula dalam darah selain makanan yang kita makan adalah hormon insulin. Hormon ini bekerja mengatur kadar gula darah dengan cara mengikat reseptor di sel target dimana akan terjadi metabolisme nutrisi yang tersedia. Dengan demikian, jika terjadi resistensi insulin (yang biasanya terjadi pada pasien diabetes), hal ini akan mengganggu kadar gula dalam darah. 

Berapa Kadar Gula Darah Normal Orang Berusia 50 Tahun?

Kadar gula darah tidak secara spesifik dibedakan berdasarkan usia, tetapi pemeriksaan kadar gula darah dibagi menjadi beberapa jenis pemeriksaan, yaitu:

1. Gula darah sewaktu (GDS) diperiksa tanpa melihat kapan terakhir pasien makan. 

Nilai normalnya: <200 mg/dL.

2. Gula darah puasa (GDP) diperiksa ketika pasien melakukan puasa selama 8-10 jam dan biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum sarapan.

Nilai normal: 70-100 mg/dL.

3. Gula darah 2 jam post prandial (GD2PP): pemeriksaan dilakukan 2 jam setelah pasien makan dengan kandungan 75 g karbohidrat.

Nilai normal: <140 mg/dL.

Untuk skrining diabetes pada usia 50 tahun dapat ditambahkan pemeriksaan HbA1C dengan nilai normal HbA1C adalah <5,7. Nantinya, pemeriksaan ini dapat menjadi salah satu acuan diagnosis penyakit diabetes. Namun, ada beberapa kondisi dimana nilai HbA1C tidak dapat dijadikan alat diagnosis mau pun evaluasi, seperti anemia, riwayat transfusi 2-3 bulan terakhir, atau pun gangguan ginjal.

Bahaya Gula Darah Tidak Normal Ketika Berusia 50 Tahun

Kondisi kadar gula darah yang tidak normal akan menimbulkan masalah kesehatan yang dapat membahayakan kondisi tubuh, seperti:

a. Kondisi hiperglikemia

Hiperglikemia sangat berkaitan erat dengan diabetes. Jika tidak diterapi dengan baik, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi yang dapat mengakibatkan kematian. Contoh keadaan darurat yang terjadi karena hiperglikemia pada diabetes adalah terjadinya krisis hiperglikemia berupa ketoasidosis diabetik (KAD) atau status hiperglikemia hiperosmolar (SHH).

Selain itu, komplikasi lainnya yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien diabetes adalah:

  • Neuropati (gangguan saraf)
  • Retinopati (ganggaun penglihatan)
  • Gagal ginjal
  • Gangguan jantung
  • Luka sulit sembuh yang biasanya terjadi sindrom kaki diabetik

b. Kondisi hipoglikemia 

Kondisi ini terjadi jika kadar gula darah menunjukkan angka <70 mg/dL. Gejala hipoglikemia dapat berupa gejala ringan seperti, pusing, mata berkunang-kunang, lemas, berkeringat, dan lainnya. Sedangkan, kondisi yang lebih berbahaya yang dapat terjadi pada hipoglikemia adalah terjadinya penurunan kesadaran. Jika tidak ditangani dengan baik, maka dapat berakhir dengan kematian.  

Cara Menjaga Kadar Gula Darah Normal Ketika Usia Menyentuh 50 Tahun

Ketika menyentuh usia 50 tahun, terjadi penuaan yang mengubah komposisi tubuh dan proses metabolisme. Oleh sebab itu, sangat penting menjaga kadar gula darah di usia 50 tahun. Beberapa langkah di bawah ini dapat dilakukan agar kadar gula darah tetap normal, di antaranya:

1. Mengatur pola makan

  1. Pilih makanan yang mengandung gizi seimbang.
  2. Batasi asupan gula dari makanan dan minuman.
  3. Hindari makanan yang banyak mengandung karbohidrat olahan dan lemak jenuh, dan minim gizi, seperti gorengan.

2. Menerapkan pola hidup sehat

  1. Hindari merokok atau berhenti sama sekali.
  2. Hindari minuman beralkohol karena dapat menyebabkan hipoglikemia. 
  3. Rutin berolahraga karena aktivitas fisik dapat menurunkan risiko penyakit metabolik. Durasi olahraga yang dianjurkan adalah 150 menit setiap minggu. Olahraga yang dapat dilakukan adalah aktivitas fisik dengan intensitas ringan-sedang, seperti berjalan cepat.

Kapan Harus Cek Gula Darah Ketika Usia Sudah Menginjak 50 Tahun?

Pada orang yang sudah menginjak usia 50 tahun, perlu perhatian khusus terhadap kesehatan. Penurunan metabolisme tubuh karena penuaan adalah hal yang lazim terjadi sehingga dibutuhkan pengecekan kadar gula darah untuk memantau dan sebagai skrining kesehatan. Berikut adalah kondisi yang dapat menjadi acuan untuk memeriksa kadar gula darah, di antaranya:

  1. Mengalami keluhan, seperti mudah haus dan lapar, sering buang air kecil, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  2. Kurangnya aktivitas fisik sehari-hari
  3. Memiliki riwayat penyakit diabetes dalam keluarga
  4. Adanya akantosis nigrikans, yaitu kondisi kulit yang berubah menjadi kehitaman, menebal dan bertekstur, dan biasanya terdapat di area lipatan, terutama di leher.

Anda bisa mengecek gula darah secara real-time dan kontinu dengan CGM. Teknologi ini memungkinkan Anda memantau gula darah seperti memantau total jarak lari yang ditempuh dengan aplikasi lari.

Anda juga bisa mengecek risiko diabetes dengan kalkulator di link ini.

Kapan Perlu Konsultasi Gula Darah ke Dokter?

Jika orang berusia 50 tahun sudah melakukan pengecekan gula darah dan didapat hasil yang tidak normal, maka ia perlu berkonsultasi dengan dokter, terlebih jika terjadi beberapa kondisi seperti di bawah ini:

  1. Jika didapatkan hasil cek gula darah menunjukkan hiperglikemia, baik itu disertai dengan keluhan seperti, mudah haus dan lapar, sering buang air kecil atau penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya atau pun tidak, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam.
  2. Jika pengecekan gula darah tidak normal disertai adanya hipertensi, sebaiknya melakukan pemeriksaan ke dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam untuk penegakan diagnosis dan pemberian terapi yang sesuai. 
  3. Ketika pasien sudah didiagnosis diabetes dengan berat badan overweight atau obesitas, maka perlu berkonsultasi dengan dokter gizi klinik untuk membantu program penurunan berat badan. 
  4. Jika pasien yang sudah didiagnosis diabetes mengalami kondisi tidak sadarkan diri, sesak napas, terdapat tanda dehidrasi, segera bawa pasien ke fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan instalasi gawat darurat (IGD) untuk mendapatkan penanganan segera. 
  5. Jika didapatkan pemeriksaan kadar gula darah plasma (pemeriksaan laboratorium) hasilnya normal, maka perlu dilakukan pemeriksaan ulang setiap 3 tahun. Jika hasil pemeriksaannya menunjukkan prediabetes, lakukan pemeriksaan ulang setiap 1 tahun.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Yuk Cek Gula Darah secara Berkala!

Cek gula darah secara berkala penting untuk memastikan tidak ada masalah pada kadar gula darah Anda (terlalu tinggi atau terlalu rendah). Sekarang, Anda bisa menggunakan teknologi CGM untuk memantau kadar gula darah tanpa harus tusuk jari terlebih dahulu, sehingga pemantauan gula darah menjadi lebih mudah dan praktis. Analoginya seperti Anda mengecek seberapa jauh Anda berlari dengan aplikasi lari.

Primecare Clinic memiliki CGM dalam program manajemen diabetesnya. Tertarik untuk mengecek gula darah dengan mudah dan praktis dengan CGM? Yuk klik tautan ini!


2150756370-_1_-1200x798.webp

September 12, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Gula (glukosa) adalah sumber energi utama pada sel-sel tubuh, terutama sel otak sehingga glukosa memegang peranan penting dalam metabolisme tubuh. 

Meskipun memiliki peranan penting, kadar gula darah harus dijaga dalam kondisi euglikemia (kondisi kadar gula darah normal) karena jika mengalami kelebihan atau kekurangan gula darah akan menimbulkan masalah metabolisme dan akhirnya menyebabkan penyakit lain, seperti diabetes, Cushing sindrom, dan lain-lain.  

Apa Itu Kadar Gula Darah?

Kadar gula darah adalah ukuran konsentrasi gula (glukosa) yang beredar dalam aliran darah. Pemeriksaan kadar gula darah dapat menjadi skrining untuk melihat adanya kelainan dari berbagai organ, seperti pankreas, hati, usus halus, dan sel tubuh. 

Masing-masing organ tubuh tersebut memiliki keterkaitan dengan gula darah sehingga kadar gula darah yang tidak normal dapat menjadi warning sign/tanda bahaya dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Berapa Kadar Gula Darah Normal Wanita?

Meskipun pada studi atau literatur tidak disebutkan secara spesifik perbedaan kadar gula darah pria dan wanita, tetapi pemeriksaan gula darah dibagi menjadi beberapa jenis dan memiliki nilai normal yang berbeda pula. Berikut adalah nilai normal beberapa jenis pemeriksaan gula darah pada wanita:

1. Gula darah sewaktu (GDS) diperiksa tanpa melihat kapan terakhir pasien makan. 

Nilai normalnya: <200 mg/dL.

2. Gula darah puasa (GDP) diperiksa ketika pasien melakukan puasa selama 8-10 jam dan biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum sarapan.

Nilai normal: 70-100 mg/dL.

3. Gula darah 2 jam post prandial (GD2PP): pemeriksaan dilakukan 2 jam setelah pasien makan dengan kandungan 75 g karbohidrat.

Nilai normal: <140 mg/dL.

Bahaya Gula Darah Tidak Normal pada Wanita

Pada wanita, kondisi gula darah yang tidak normal akan menimbulkan masalah kesehatan yang dapat membahayakan kondisi tubuh, seperti:

a. Bahaya Hiperglikemia bagi Wanita

Hiperglikemia adalah kondisi dimana kadar gula darah melebihi batas normal dari pemeriksaan gula darah. Hiperglikemia sangat berkaitan dengan diabetes dan komplikasinya. Komplikasi inilah yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas (kematian). Berdasarkan data WHO, sejak tahun 2000, angka mortalitas pada diabetes terus meningkat. 

Pada wanita, salah satu gejala diabetes yang mungkin sangat mengganggu kenyamanan adalah pruritus vulva (gatal di area luar kemaluan). Selain itu, kondisi hiperglikemia dapat berkaitan dengan adanya kelainan masalah reproduksi, seperti Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) dan dapat menjadi masalah infertilitas. 

b. Bahaya Hipoglikemia bagi Wanita

Kebalikan dari hiperglikemia, hipoglikemia adalah kondisi menurunnya kadar gula dalam darah.

Hipoglikemia ini dapat dibagi menjadi tiga derajat, yaitu:

  • Level 1: kadar gula darah <70 – 54 mg/dL 
  • Level 2: kadar gula darah 54 mg/dL 
  • Level 3: adanya perubahan mental dan atau status fisik yang membutuhkan pendampingan, terlepas dari angka kadar gula darahnya. Kondisi ini sangat perlu ditangani sesegera mungkin.

Cara Menjaga Kadar Gula Darah Normal bagi Wanita

Menjaga kadar gula darah tetap normal penting dilakukan untuk mencegah penyakit metabolik yang dapat menyebabkan komplikasi di masa depan. Kadar gula darah sangat dipengaruhi oleh faktor yang mengendalikan produksi gula dan penggunaan energi dari gula. Oleh karena itu, penting untuk mengatur asupan gula dan perilaku yang berkaitan dengan penggunaan energi. Berikut ini, langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kadar gula darah tetap normal, yakni:

1. Mengatur pola makan

  1. Pilih makanan yang mengandung diet seimbang.
  2. Kurangi makanan atau minuman yang terlalu manis.
  3. Hindari makanan yang banyak mengandung karbohidrat olahan dan lemak jenuh, tetapi minim gizi, seperti gorengan.

2. Menerapkan pola hidup sehat

  1. Berhenti atau kurangi merokok karena dapat meningkatkan kadar gula darah.
  2. Hindari minuman beralkohol karena dapat menyebabkan hipoglikemia. 
  3. Lakukan aktivitas fisik secara rutin. Olahraga dapat membantu penggunaan glukosa lebih efektif dan dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Olahraga dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan fisik dengan durasi yang disarankan adalah 150 menit per minggu. Joging, jalan cepat, dan latihan beban dapat menjadi pilihan untuk berolahraga. 

Kapan Harus Cek Gula Darah?

Wanita perlu mewaspadai beberapa kondisi yang menjadi tanda yang mengarah kepada tidak normalnya kadar gula dalam darah. Berikut beberapa hal yang dapat menjadi acuan kapan wanita perlu melakukan pemeriksaan gula darah, yaitu:

  1. Mengalami gejala, seperti mudah haus dan lapar, sering buang air kecil, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  2. Kurangnya aktivitas fisik sehari-hari.
  3. Memiliki riwayat penyakit diabetes dalam keluarga.
  4. Wanita dengan berat badan kategori overweight dan obesitas. Kedua hal ini dapat menjadi risiko terjadinya PCOS yang berkaitan dengan kondisi resisten insulin dan menyebabkan adanya hiperglikemia.
  5. Memiliki riwayat hiperglikemia dan merencanakan kehamilan
  6. Wanita yang pernah melahirkan bayi dengan BBL >4 kg
  7. Wanita yang memiliki riwayat diabetes melitus gestasional (diabetes yang didiagnosis pada kehamilan trimester 2 dan 3 tanpa ada riwayat diabetes sebelumnya).
  8. Adanya akantosis nigrikans, yaitu kondisi kulit yang berubah menjadi kehitaman, menebal dan bertekstur, dan biasanya terdapat di area lipatan, terutama di leher

Anda juga bisa mengecek gula darah secara terus-terusan tanpa tusuk jarum lewat teknologi seperti CGM. Teknologi tersebut memungkinkan Anda memantau gual darah Anda seperti memantau jarak lari Anda dengan aplikasi lari.

Anda bisa mengecek risiko diabetes dengan kalkulator pada tautan ini.

Kapan Wanita Perlu Konsultasi Gula Darahnya ke Dokter?

Pada wanita, beberapa kondisi terkait gula darahnya diharuskan untuk berkonsultasi dengan dokter, di antaranya:

  1. Ketika didapatkan hasil cek gula menunjukkan hiperglikemia, baik itu disertai dengan gejala seperti, mudah haus dan lapar, sering buang air kecil atau penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya ataupun tidak, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam.
  2. Wanita yang mengalami siklus haid yang tidak teratur karena dapat mengarah pada diagnosis PCOS, maka disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis obstetri ginekologi (obgyn).
  3. Wanita hamil yang mengalami diabetes gestasional perlu melakukan konsultasi rutin dengan dokter spesialis obgyn, terutama pada kehamilan usia 34-36 minggu dilakukan setiap minggu sampai melahirkan.
  4. Wanita yang  sudah didiagnosis diabetes dan merencanakan kehamilan perlu mendapat pemeriksaan dan konseling mata yang komprehensif oleh dokter spesialis mata ke untuk mendeteksi kemungkinan adanya retinopati diabetik.
  5. Jika didapatkan hasil pemeriksaan tekanan darah berupa hipertensi, sebaiknya melakukan pemeriksaan ke dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam untuk penegakan diagnosis dan pemberian terapi yang sesuai. 
  6. Jika wanita mengalami hiperglikemia, sulit untuk mengontrol makan, dan status indeks massa tubuhnya masuk ke dalam kategori overweight atau obesitas, dapat berkonsultasi ke dokter gizi klinik untuk perbaikan pola makan dan aktivitas fisik agar mendapatkan status gizi dan indeks massa tubuh yang normal.
  7. Jika wanita mengalami hipoglikemia berulang dan ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri, maka dapat dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Yuk Cek Gula Darah secara Berkala!

Cek gula darah secara berkala penting untuk memastikan tidak ada masalah pada kadar gula darah Anda (terlalu tinggi atau terlalu rendah). Sekarang, Anda bisa menggunakan teknologi CGM untuk memantau kadar gula darah tanpa harus tusuk jari terlebih dahulu, sehingga pemantauan gula darah menjadi lebih mudah dan praktis. Analoginya seperti Anda mengecek seberapa jauh Anda berlari dengan aplikasi lari.

Primecare Clinic memiliki CGM dalam program manajemen diabetesnya. Tertarik untuk mengecek gula darah dengan mudah dan praktis dengan CGM? Yuk klik tautan ini!


6858-1-1200x801.webp

September 11, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Jagung manis sering jadi camilan favorit banyak orang. Rasanya yang legit, teksturnya renyah, dan mudah diolah membuatnya disukai semua kalangan. Namun, konsumsinya sering menimbulkan keraguan bagi penderita diabetes. Jagung merupakan sumber karbohidrat, sehingga dikhawatirkan dapat membuat kadar gula darah naik.

Apakah Penderita Diabetes Boleh Makan Jagung Manis? 

Jagung manis tetap bisa dikonsumsi oleh penderita diabetes, tetapi dengan kontrol porsi yang tepat. Kuncinya adalah mengatur jumlah dan frekuensi konsumsi agar kadar gula darah tetap stabil.

Jika dikonsumsi secara berlebihan atau tanpa pengaturan porsi, jagung manis dapat membuat gula darah melonjak. Hal ini karena tubuh penderita diabetes memiliki keterbatasan dalam memproduksi atau menggunakan insulin secara optimal, sehingga lonjakan gula darah lebih mudah terjadi.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Jagung Manis

Jagung manis mengandung sejumlah zat gizi penting. Dalam 100 gram jagung manis, terdapat sekitar 96 kalori, 3,4 gram protein, 18,6 gram karbohidrat, dan 1,5 gram lemak. Indeks glikemiknya berkisar di angka 48, termasuk dalam kategori rendah. Artinya, kenaikan kadar gula darah terjadi secara lebih lambat dibandingkan makanan sumber karbohidrat lainnya seperti nasi putih atau roti putih.

Meskipun demikian, kandungan karbohidrat dalam jagung manis tetap harus diperhitungkan dalam total asupan harian penderita diabetes. Jika memahami kandungan gizi ini, penderita diabetes bisa tetap memasukkan jagung manis ke dalam pola makan mereka tanpa khawatir gula darah naik drastis.

Cara Aman Mengonsumsi Jagung Manis bagi Penderita Diabetes

Beberapa strategi berikut dapat membantu penderita diabetes menikmati jagung manis tanpa menyebabkan lonjakan gula darah:

1. Perhatikan Porsi

Jangan sampai makan jagung manis dalam porsi besar sekaligus. Batasi sekitar 3–4 sendok makan jagung pipil atau setengah tongkol ukuran sedang per sajian.

2. Kombinasikan dengan Protein atau Serat

Makan jagung manis bersamaan dengan sumber protein, seperti telur dan kacang-kacangan, atau sayuran dapat memperlambat penyerapan gula ke dalam darah. Kombinasi ini juga membantu memberikan rasa kenyang lebih lama dan memberikan energi lebih stabil.

3. Hindari Penambahan Gula

Jagung manis sebaiknya dikonsumsi tanpa mentega, sirup, atau gula agar efeknya pada gula darah lebih terkendali.

Kapan Harus ke Dokter?

Setiap penderita diabetes memiliki kondisi yang berbeda. Jika setelah makan jagung manis gula darah cenderung naik tinggi atau sulit dikendalikan, segera lakukan konsultasi. 

Diskusikan dengan dokter penyakit dalam atau minta panduan khusus dari dokter gizi klinik maupun ahli gizi. Mereka dapat membantu menyesuaikan porsi, frekuensi, bahkan memberikan alternatif menu lain yang lebih aman sesuai kebutuhan tubuh.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan manajemen diabetes (ada CGM) secara menyeluruh untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik untuk mengontrol kadar gula darah. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


159-_1_-1200x800.webp

September 11, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Gula (glukosa) adalah substrat metabolik yang menjadi sumber energi utama pada jaringan tubuh yang dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi dan faktor hormon, seperti insulin, glukagon, kortisol, dan hormon lainnya. Oleh karena itu, pemeriksaan kadar gula darah dapat dilakukan sebagai prosedur skrining untuk mengetahui indikasi adanya kelainan pada sel, hormon, atau organ tubuh. 

Apa Itu Kadar Gula Darah?

Kadar gula darah adalah ukuran konsentrasi gula dalam aliran darah yang dibentuk dari penguraian karbohidrat dan pemecahan glikogen (cadangan energi) dalam hati. Nilai kadar gula darah normal dipertahankan oleh faktor-faktor yang mengendalikan produksi dan penggunaan gula di tubuh. 

Pemeriksaan kadar gula darah dapat digunakan untuk menunjukkan adanya kelainan sel pankreas dalam memproduksi hormon insulin, ketidakmampuan usus halus dalam menyerap gula, tidak optimalnya sel tubuh menggunakan gula sebagai sumber energi, atau kegagalan hati dalam memecah glikogen. Selain itu, perubahan kadar nilai gula darah juga dapat terjadi pada  penyakit lain, seperti pada penyakit Cushing dan penyakit Addison.

Berapa Kadar Gula Darah Normal Pria?

Kadar gula darah memiliki beberapa nilai pengukuran berdasarkan waktu makan pasien. Perbedaan waktu pengukuran ini memiliki nilai normal yang berbeda. Berikut adalah nilai normal beberapa jenis pemeriksaan gula darah pada pria:

1. Gula darah sewaktu (GDS) diperiksa tanpa melihat kapan terakhir pasien makan. 

Nilai normalnya: <200 mg/dL.

2. Gula darah puasa (GDP) diperiksa ketika pasien melakukan puasa selama 8-10 jam dan biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum sarapan.

Nilai normal: 70-100 mg/dL.

3. Gula darah 2 jam post prandial (GD2PP): pemeriksaan dilakukan 2 jam setelah pasien makan dengan kandungan 75 g karbohidrat.

Nilai normal: <140 mg/dL.

Bahaya Gula Darah Tidak Normal pada Pria

Gula darah yang tidak normal dapat dimasukkan ke dalam kategori berikut:

a. Hiperglikemia

Hiperglikemia adalah kondisi dimana kadar gula darah melebihi batas normal dari pemeriksaan gula darah yang sudah dijelaskan sebelumnya.  

Bahaya yang dapat terjadi ketika pasien mengalami hiperglikemia adalah diabetes dan komplikasinya, seperti gangguan saraf, gangguan mata, gagal jantung, gagal ginjal. Pada pria, kondisi ini juga dapat menimbulkan komplikasi berupa disfungsi ereksi. 

b. Hipoglikemia 

Hipoglikemia adalah kondisi menurunnya kadar gula dalam darah dengan nilai <70 mg/dL. 

Tanda  hipoglikemia yang dapat dirasakan oleh pasien di antaranya adalah rasa lapar, gelisah, lemah, lesu, pusing, pandangan kabur. Selain itu, kondisi ini menjadi bahaya karena dapat menyebabkan hilangnya kesadaran sehingga jika pasien ditemukan dalam keadaan tidak sadar, harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan yang memiliki fasilitas instalasi gawat darurat (IGD).

Cara Menjaga Kadar Gula Darah Normal pada Pria

Menjaga kadar gula darah tetap normal sangat penting. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyakit metabolik yang dapat menyebabkan komplikasi di kemudian hari. Seperti yang telah dijelaskan di awal, bahwa kadar gula darah sangat dipengaruhi oleh faktor yang mengendalikan produksi dan penggunaan energi dari gula sehingga beberapa hal di bawah ini dapat dilakukan untuk mempertahankan kadar gula normal, yaitu:

1. Perbaikan pola makan

  1. Pilih makanan yang mengandung diet seimbang.
  2. Kurangi makanan atau minuman yang terlalu manis.
  3. Hindari makanan yang banyak mengandung karbohidrat olahan dan lemak jenuh, tetapi minim gizi, seperti gorengan.

2. Menerapkan pola hidup sehat

  1. Mengurangi atau berhenti merokok karena dapat meningkatkan kadar gula darah.
  2. Menghindari minuman beralkohol karena dapat menyebabkan hipoglikemia. 
  3. Lakukan aktivitas fisik secara rutin. Aktivitas fisik dapat menambah penggunaan glukosa pada tubuh dan meningkatkan sensitivitas insulin. Durasi yang dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik adalah 150 menit per minggu dengan intensitas ringan beratnya yang dapat disesuaikan dengan usia dan adanya penyakit penyerta lainnya. Contoh aktivitas fisik yang dapat dilakukan adalah, olahraga aerobik, berjalan cepat, atau resistance training (latihan beban). 

Kapan Harus Cek Gula Darah?

Pada pria ada beberapa kondisi dimana harus waspada terhadap kadar gula dalam darahnya. Tujuannya untuk mengetahui apakah ada kelainan/penyakit seperti prediabetes atau diabetes. Ketika ditemukan kelainan lebih cepat, dapat segera pula dilakukan pencegahan penyakit menjadi lebih parah atau terjadinya komplikasi.

Berikut beberapa hal yang dapat menjadi acuan kapan pria perlu melakukan pemeriksaan gula darah, yaitu:

  1. Jika mengalami gejala seperti berikut, mudah haus dan lapar, sering buang air kecil, atau penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
  2. Aktivitas fisik yang kurang
  3. Memiliki riwayat penyakit diabetes dalam keluarga
  4. Pria dengan berat badan kategori obesitas
  5. Memiliki tanda yang disebut akantosis nigrikans atau kondisi kulit yang berubah menjadi kehitaman, menebal dan bertekstur, dan biasanya terdapat di area lipatan, terutama di leher.

Terdapat juga teknologi CGM, sehingga Anda bisa mengecek gula darah secara kontinu tanpa harus tusuk jari untuk mengetahui kadar gula darah Anda.

Anda juga bisa mengecek risiko diabetes dengan kalkulator di tautan ini.

Kapan Pria Perlu Konsultasi terkait Gula Darahnya ke Dokter?

Ketika pria sudah melakukan pengecekan gula darah, baik itu secara sederhana dengan menggunakan glukometer ataupun melakukan pengecekan di laboratorium dan didapatkan hasil kadar gula darah tidak normal, maka pria harus berkonsultasi dengan dokter. 

Selain itu, beberapa kondisi di bawah ini juga dapat menjadi acuan kapan pria harus berkonsultasi dengan dokter, yaitu: 

  1. Ketika didapatkan hasil cek gula darah melebihi normal/hiperglikemia baik itu disertai dengan gejala seperti, mudah haus dan lapar, sering buang air kecil atau penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya ataupun tidak, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam.
  2. Jika pernah melakukan pemeriksaan tekanan darah dan didapatkan hasil yang tinggi, pria perlu melakukan pemeriksaan ke dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam.
  3. Jika pasien mengalami hiperglikemia, sulit untuk mengontrol makan, dan status indeks massa tubuhnya masuk ke dalam kategori overweight atau obesitas, selain berkonsultasi ke dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam, pria juga dapat berkonsultasi ke dokter gizi klinik untuk diberikan saran berupa perbaikan pola makan dan gaya hidup.
  4. Jika pria memiliki riwayat hipoglikemia yang sudah didiagnosis diabetes, atau riwayat hipoglikemia berulang, lalu mengalami kondisi tidak sadarkan diri, lalu dapat dibawa ke fasilitas kesehatan/rumah sakit dengan pelayanan IGD agar dapat segera ditangani kondisi kegawatannya.

Yuk Cek Gula Darah secara Berkala!

Cek gula darah secara berkala penting untuk memastikan tidak ada masalah pada kadar gula darah Anda (terlalu tinggi atau terlalu rendah). Sekarang, Anda bisa menggunakan teknologi CGM untuk memantau kadar gula darah tanpa harus tusuk jari terlebih dahulu, sehingga pemantauan gula darah menjadi lebih mudah dan praktis. Analoginya seperti Anda mengecek seberapa jauh Anda berlari dengan aplikasi lari.

Primecare Clinic memiliki CGM dalam program manajemen diabetesnya. Tertarik untuk mengecek gula darah dengan mudah dan praktis dengan CGM? Yuk klik tautan ini!


10427-_1_-1200x801.webp

September 11, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Apakah kamu pernah buang air kecil lebih sering karena banyak minum atau saat cuaca dingin? Hal itu masih tergolong normal. Frekuensi kencing yang normal dalam sehari adalah 4-8 kali, dengan volume urin antara 400-2000 mL per hari. 

Kamu harus waspada jika sering kencing tanpa ada penyebab yang jelas. Pasalnya, beberapa penyakit dapat menyebabkan gejala sering kencing, salah satunya penyakit diabetes. 

Lalu, apakah sering kencing selalu menjadi gejala diabetes dan bagaimana cara mengatasinya? Cek faktanya di artikel ini, ya! 

Apa itu Gejala Sering Kencing pada Penderita Diabetes?

Gejala sering kencing atau dalam bahasa medis disebut poliuria, dapat muncul pada beberapa penyakit, salah satunya diabetes. Pada penderita, sering kencing merupakan gejala yang kerap muncul. Hal ini terjadi akibat kadar gula darah yang tinggi.

Saat kadar gula dalam aliran darah terlalu tinggi, ginjal akan berusaha menyaring dan membuang kelebihan gula melalui urin. Proses ini menarik lebih banyak cairan tubuh sehingga jumlah urin yang diproduksi meningkat. Akibatnya, penderita diabetes sering merasa ingin buang air kecil, terutama di malam hari (nokturia).

Gejala sering kencing (poliuria) pada diabetes biasanya disertai gejala lain, yaitu sering haus (polidipsia) dan cepat lapar (polifagia). Ketiga gejala tersebut sering disebut sebagai “tiga P” pada diabetes. 

Apakah Sering Kencing Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Sering kencing tidak selalu disebabkan oleh diabetes. Banyak faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang sering kencing. Beberapa penyebab lain yang perlu diketahui antara lain:

1. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang terjadi pada saluran kencing mulai dari uretra, kandung kemih, ureter, dan ginjal. ISK dapat menyebabkan rasa ingin kencing terus-menerus disertai nyeri saat buang air kecil, serta perubahan pada urin misalnya berbau menyengat, keruh, atau berwarna merah.

2. Pembesaran Prostat 

Pembesaran prostat dapat menimbulkan gejala lebih sering buang air kecil, terutama malam hari. Biasanya juga disertai gejala buang air kecil tidak tuntas, aliran urin lemah, serta harus mengejan saat kencing.

Prostat yang membesar menekan uretra sehingga aliran urine terganggu dan kandung kemih terasa selalu penuh. Namun, pada beberapa kasus penderita BPH justru tidak bisa kencing karena uretra tertekan sehingga urin tidak bisa lewat. 

3. Kehamilan

Pada ibu hamil, rahim yang membesar dapat menekan kandung kemih. Tekanan ini membuat ibu hamil sering buang air kecil, terutama di trimester awal dan akhir kehamilan.

4. Konsumsi Makanan dan Minuman Mengandung Kafein

Kafein yang terkandung dalam kopi, teh, atau minuman energi bersifat diuretik, yaitu meningkatkan produksi urin. Akibatnya, seseorang jadi lebih sering kencing setelah mengonsumsinya.

Jadi, sering kencing tidak selalu berarti diabetes. Namun, jika keluhan ini berlangsung lama atau disertai gejala lain seperti haus berlebihan, penurunan berat badan, atau nyeri saat kencing, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

Penyebab Sering Kencing pada Penderita Diabetes

Pada penderita diabetes, gejala sering kencing umumnya terjadi akibat kadar gula darah yang terlalu tinggi (hiperglikemia). Saat kadar gula darah melebihi batas normal, ginjal akan bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan gula melalui urin.

Gula dalam urin menarik lebih banyak cairan tubuh sehingga jumlah urin yang keluar bertambah banyak. Proses ini dikenal dengan istilah osmotic diuresis

Selain itu, penderita diabetes juga berisiko mengalami kerusakan saraf yang disebut neuropati diabetik. Jika terjadi kerusakan saraf pada sistem urogenital, yaitu organ yang terlibat dalam sistem kemih, maka kandung kemih tidak bisa bekerja optimal. Akibatnya, penderita kesulitan menahan kencing atau merasa kandung kemih tidak pernah benar-benar kosong.

Tak hanya itu, kadar gula tinggi dalam urin membuat penderita diabetes lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih (ISK). ISK akan memicu gejala sering kencing dan rasa nyeri saat kencing. 

Apakah Sering Kencing pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Sebenarnya, sering kencing bukan hal yang membahayakan secara langsung. Namun, sering kencing tidak boleh dianggap sepele karena bisa menjadi tanda tingginya kadar gula darah.

Sering kencing juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas tidur karena sering terbangun untuk kencing. Jika sering kencing tidak segera ditangani maka bisa mengakibatkan dehidrasi atau kekurangan cairan. 

Karena itu, penderita diabetes tidak boleh mengabaikan gejala sering kencing dan segera periksakan ke dokter. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Kencing pada Penderita Diabetes

Pada penderita diabetes, gejala sering kencing diakibatkan oleh tingginya kadar gula darah. Maka langkah pencegahan dan penanganan terutama berfokus pada pengendalian kadar gula darah. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

  • Mengatur pola makan dengan membatasi asupan gula tambahan, memilih sumber karbohidrat kompleks, perbanyak sayur, buah dan protein tanpa lemak. 
  • Rutin berolahraga karena aktivitas fisik membantu meningkatkan sensitivitas insulin sehingga kadar gula darah lebih stabil.
  • Minum obat sesuai resep dokter agar kadar gula darah terkendali.
  • Minum air sesuai dengan kebutuhan, hindari minuman manis atau berkafein yang dapat memperburuk gejala sering kencing.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami sering kencing tanpa penyebab yang jelas dengan disertai beberapa gejala di bawah, maka segera periksakan diri ke dokter:

  • Rasa haus berlebihan dan tidak kunjung hilang.
  • Penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas.
  • Urin berbusa, berdarah, atau berbau tidak normal.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Sering terbangun di malam hari untuk kencing hingga mengganggu tidur.
  • Mengalami tanda dehidrasi berat seperti mulut kering, pusing, dan lemas

Bagi penderita diabetes, sebaiknya rutin memeriksakan diri ke dokter penyakit dalam khususnya dokter spesialis endokrin untuk memantau kondisi gula darah dan fungsi ginjal. 

Jika ada keluhan tambahan seperti nyeri saat kencing, bisa juga berkonsultasi ke dokter urologi. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan manajemen diabetes (ada CGM) secara menyeluruh. Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik untuk mengontrol kadar gula darah dan menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


24913-1-1-1200x715.webp

September 10, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Mengatur asupan makanan bukan hanya soal jenis makanan yang dikonsumsi, tetapi juga kapan waktu makan dilakukan. Bagi penderita diabetes, menjaga jam makan sama pentingnya dengan memilih makanan yang tepat. 

Pola makan yang teratur membantu tubuh menjaga kestabilan kadar gula darah, menyediakan energi yang cukup sepanjang hari, dan mencegah komplikasi jangka panjang, termasuk kerusakan saraf, gangguan ginjal, serta penyakit jantung.

Perbedaan Jam Makan Orang Sehat dan Penderita Diabetes

Pada orang sehat, tubuh memiliki kemampuan fleksibel untuk menyesuaikan kadar gula darah setelah makan, berkat produksi insulin yang normal. Sementara itu, penderita diabetes mengalami gangguan dalam memproduksi atau menggunakan insulin, sehingga tubuh tidak bisa menyesuaikan gula darah secara optimal.

Jika jadwal makan tidak teratur, kadar gula darah bisa melonjak tinggi (hiperglikemia) atau turun drastis (hipoglikemia). Misalnya, jika seseorang melewatkan sarapan, kadar gula darah bisa turun di pagi hari, menyebabkan rasa lemas, pusing, dan sulit berkonsentrasi. Sebaliknya, makan terlalu banyak di satu bisa membuat gula darah melonjak.

Pentingnya Jam Makan Bagi Penderita Diabetes

Menjaga pola makan pada jam yang teratur membantu tubuh mempertahankan kestabilan kadar gula darah sepanjang hari. Pola makan yang konsisten juga mendukung efektivitas obat diabetes atau insulin yang sedang digunakan. Maka dari itu, energi tubuh lebih terjaga, risiko rasa lemas, pusing, atau lapar berlebihan dapat dikurangi, dan mencegah fluktuasi gula darah yang membahayakan.

Selain itu, menjaga jam makan membuat penderita diabetes lebih mudah memantau asupan kalori, karbohidrat, dan lemak. Hal ini sangat penting untuk mengontrol berat badan, yang juga berperan dalam menurunkan risiko komplikasi jantung dan penyakit metabolik lain.

Risiko Jika Jam Makan Tidak Teratur bagi Penderita Diabetes

Ketika penderita diabetes sering melewatkan jam makan atau makan secara tidak konsisten, kadar gula darah bisa menjadi tidak terkontrol. 

Dalam jangka panjang, pola makan yang berantakan memperbesar risiko komplikasi, seperti kerusakan saraf, ginjal, hingga jantung.

Tips Mengoptimalkan Jam Makan bagi Penderita Diabetes

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu menjaga jam makan tetap teratur sekaligus mengontrol kadar gula darah:

1. Buat Jadwal Makan Harian

Tentukan waktu makan utama dan waktu konsumsi camilan. Pola ini membuat tubuh terbiasa dan mempermudah pengaturan gula darah.

2. Jangan Lewatkan Sarapan

Sarapan penting untuk menjaga kadar gula darah sejak pagi, memberi energi untuk memulai aktivitas, dan mencegah rasa lapar berlebihan di siang hari.

3. Atur Porsi Sesuai Kebutuhan

Makan dengan porsi sedang secara konsisten lebih dianjurkan dibanding porsi besar sekaligus. Cara ini membantu mencegah lonjakan gula darah secara tajam.

4. Kombinasikan dengan Aktivitas Fisik

Olahraga secara rutin, seperti jalan kaki setelah makan membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi dan menurunkan risiko gula darah naik terlalu tinggi.

5. Gunakan Pengingat

Setel alarm atau buat catatan harian untuk memastikan jam makan tidak terlewat, terutama bagi yang sibuk atau mudah lupa.

Kapan Harus ke Dokter

Segera konsultasikan dengan dokter gizi klinik atau ahli gizi jika kadar gula darah sulit dikendalikan meski sudah menjaga jam makan. Pengukuran gula darah bisa dilakukan dengan CGM (continuous glucose monitoring) agar tidak perlu tusuk berulang kali.

Pendampingan dari dokter gizi klinik atau ahli gizi dapat membantu memberikan panduan pola makan dan jadwal makan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan program manajemen diabetes (ada CGM) secara menyeluruh untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik untuk mengontrol kadar gula darah. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


6442-_1_-1200x800.webp

September 10, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diare merupakan masalah pencernaan yang cukup sering terjadi pada siapa saja. Diare bisa disebabkan oleh infeksi, intoleransi makanan atau minuman, efek samping obat, serta penyakit pencernaan misalnya irritable bowel syndrome. 

Pada penderita diabetes, diare bisa menjadi gejala komplikasi akibat gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang. Karena itu, diare pada diabetes harus diwaspadai.

Apa kaitan antara diare dan diabetes, serta bagaimana cara mengatasinya? Berikut penjelasannya!

Apa itu Diare pada Penderita Diabetes?

Diare adalah kondisi di mana seseorang buang air besar (BAB) lebih dari tiga kali dalam sehari, dengan tekstur feses yang lebih cair. Diare akut terjadi jika diare berlangsung tidak lebih dari 14 hari, sedangkan diare kronis terjadi jika lebih dari 14 hari.

Pada penderita diabetes diare bisa terjadi karena masalah pencernaan, efek samping obat, atau karena komplikasi yang disebut neuropati otonom diabetik. Untuk membedakan apakah diare pada penderita diabetes adalah diare biasa atau akibat kondisi diabetes, maka diperlukan pemeriksaan yang lebih lengkap oleh dokter. 

Apakah Diare Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Tidak semua diare berkaitan dengan diabetes. Banyak faktor lain yang bisa menyebabkan diare. Berikut beberapa penyebab diare selain diabetes:

  • Infeksi virus atau bakteri misalnya rotavirus, norovirus, atau bakteri E. coli dan Salmonella yang sering menyebabkan gejala pencernaan termasuk diare. 
  • Keracunan makanan karena mengonsumsi makanan yang terkontaminasi sehingga memicu diare.
  • Alergi atau intoleransi makanan, misalnya intoleransi laktosa atau alergi gluten dapat menyebabkan masalah pencernaan termasuk diare. 
  • Efek samping obat, beberapa jenis antibiotik, obat kanker, dan obat diabetes bisa menyebabkan efek samping diare.
  • Gangguan pencernaan kronis seperti sindrom iritasi usus besar atau penyakit radang usus. 

Dengan demikian, diare tidak selalu menjadi tanda diabetes. Namun, jika penderita diabetes mengalami diare berulang atau kronis, kondisi tersebut bisa berhubungan dengan komplikasi diabetes atau efek pengobatan diabetes yang sedang dijalani.

Penyebab Diare pada Penderita Diabetes

Ada beberapa penyebab yang dapat memicu diare pada penderita diabetes, antara lain:

1. Neuropati Otonom Diabetik

Neuropati otonom diabetik adalah kerusakan saraf otonom akibat penyakit diabetes yang tidak terkontrol dalam jangka panjang. Saraf otonom adalah sistem saraf yang mengatur fungsi kardiovaskular, pencernaan, kandung kemih, serta fungsi seksual.

Diare pada diabetes bisa disebabkan karena adanya kerusakan saraf di sistem pencernaan. Akibatnya, gerakan usus menjadi tidak normal dan bisa mengakibatkan diare berulang.

2. Efek Samping Obat Diabetes

Salah satu obat diabetes, yaitu metformin dapat menimbulkan efek samping berupa diare. Pada sebagian penderita, diare bisa muncul pada awal penggunaan obat atau ketika dosisnya dinaikkan terlalu cepat. 

3. Infeksi Saluran Pencernaan

Penderita diabetes lebih rentan terkena infeksi baik infeksi bakteri, virus, atau parasit karena sistem imun yang melemah. Infeksi pada saluran pencernaan dapat menyebabkan diare. 

Apakah Diare pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Diare bisa menjadi kondisi yang berbahaya bila tidak segera ditangani. Cairan yang banyak keluar saat diare dapat menyebabkan dehidrasi, jika tidak segera mendapat penanganan dapat mengganggu keseimbangan elektrolit.

Pada penderita diabetes, diare kronis dapat meningkatkan risiko komplikasi lain seperti gangguan ginjal dan kardiovaskular. Diare kronis juga menjadi tanda adanya gangguan saraf pencernaan dan infeksi yang membutuhkan penanganan medis.

Cara Mencegah dan Mengatasi Diare pada Penderita Diabetes

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi diare pada penderita diabetes, yaitu:

  • Mengatur pola makan dengan menghindari makanan pedas, berlemak, terlalu manis, serta menjaga kebersihan makanan agar tidak terkontaminasi kuman yang dapat memicu diare.
  • Menyesuaikan pengobatan jika obat tertentu misalnya metformin menyebabkan diare, konsultasikan dengan dokter untuk menyesuaikan dosis atau mengganti obat.
  • Jika mengalami diare, perbanyak minum air putih agar tidak terjadi dehidrasi.
  • Mengonsumsi probiotik untuk membantu menjaga bakteri baik di usus.
  • Mengontrol kadar gula darah dengan pola makan sehat, olahraga, dan minum obat sesuai anjuran dokter untuk mencegah komplikasi diabetes, salah satunya neuropati otonom diabetik. 

Kapan Penderita Diabetes atau Orang dengan Diare Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami diare dan disertai beberapa gejala di bawah, maka segera periksa ke dokter:

  • Diare berlangsung lebih dari 3 hari dan tidak membaik. 
  • Terdapat tanda dehidrasi seperti mulut kering, jarang buang air kecil, lemas, pusing dan penurunan kesadaran. 
  • Diare disertai gejala lain seperti muntah terus-menerus dan demam tinggi. 
  • Feses bercampur lendir, darah, atau berwarna hitam pekat.

Untuk menangani masalah diare, kamu bisa periksa ke dokter umum. Jika diperlukan, dokter umum akan merujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. Namun, jika mengalami diare disertai tanda dehidrasi berat, maka segera pergi ke IGD terdekat agar mendapatkan terapi agar dehidrasi tidak berlanjut dan bertambah parah. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan manajemen diabetes (ada CGM) secara menyeluruh untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik untuk mengontrol kadar gula darah. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


18846-_1_.webp

September 10, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Susu dikenal sebagai sumber protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang penting untuk kesehatan tulang dan metabolisme tubuh. Namun, banyak penderita diabetes merasa ragu untuk mengonsumsinya karena khawatir dengan kandungan gula di dalamnya.

Apakah Penderita Diabetes Boleh Minum Susu?

Faktanya, penderita diabetes masih boleh minum susu. Laktosa dalam susu adalah gula alami yang masih boleh dikonsumsi penderita diabetes, asalkan jumlahnya tidak berlebihan. Namun, yang lebih penting diperhatikan adalah jenis susunya, karena sebagian produk mengandung gula tambahan yang bisa membuat gula darah cepat meningkat.

Jenis Susu yang Aman untuk Penderita Diabetes

Beberapa jenis susu berikut dapat menjadi pilihan yang lebih aman untuk penderita diabetes:

1. Susu Khusus Diabetes

Susu jenis ini sudah diformulasikan rendah indeks glikemik, diperkaya serat, protein, dan lemak sehat untuk membantu mengontrol gula darah.

2. Susu Nabati Unsweetened

Susu nabati tanpa tambahan pemanis tambahan dapat memberikan variasi protein dan kalsium, tetapi kandungan karbohidrat tiap jenis susu berbeda, sehingga tetap perlu diperhatikan porsinya.

3. Susu Rendah Lemak atau Skim

Susu jenis ini lebih aman untuk gula darah sekaligus membantu menjaga kesehatan jantung karena rendah lemak jenuh.

Jenis Susu yang Sebaiknya Dihindari Penderita Diabetes

Beberapa jenis susu tidak disarankan karena bisa membuat kadar gula darah lebih sulit stabil dan meningkatkan risiko komplikasi diabetes.

1. Susu Full Cream dalam Jumlah Banyak

Konsumsi susu full cream secara berlebihan bisa menambah asupan lemak jenuh Kondisi ini berbahaya karena penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung akibat gula darah yang tidak stabil, sehingga lemak jenuh bisa semakin memperparah kerusakan pembuluh darah.

2. Susu Berperisa Manis

Susu dengan tambahan rasa seperti cokelat, stroberi, atau vanilla biasanya mengandung gula tambahan. Kandungan ini bisa memicu gula darah naik lebih cepat. 

3. Susu Kental Manis

Susu kental manis memiliki kadar gula yang sangat tinggi sehingga membuat penderita diabetes kesulitan mengendalikan gula darah. 

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Susu

Dalam 100 gram susu sapi, terkandung sekitar 53 kalori (222 kJ), 3 gram protein, 5 gram karbohidrat, dan 2,5 gram lemak. Susu juga mengandung vitamin dan mineral penting, terutama kalsium serta vitamin D, yang berperan dalam menjaga kesehatan tulang.

Indeks glikemik (IG) susu sapi berada di kisaran 31, termasuk kategori rendah. Meski begitu, ketika susu diberi tambahan gula, sirup, atau perisa manis, beban glikemiknya meningkat, sehingga lonjakan gula darah bisa menjadi lebih cepat dan tinggi.

Cara Aman Minum Susu untuk Penderita Diabetes

Penderita diabetes tetap bisa menikmati susu, asal memperhatikan porsinya dan jenis yang dipilih. Beberapa langkah berikut dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil:

1. Pilih Susu Khusus Diabetes

Selain membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, susu khusus diabetes juga bisa memberi rasa aman karena formulanya sudah disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

2. Batasi Porsi

Konsumsi sekitar 1 gelas kecil (200 ml) per hari atau sesuai arahan tenaga kesehatan.

3. Pilih Susu Tanpa Pemanis Tambahan

Hindari susu dengan rasa manis tambahan atau susu kental manis karena bisa membuat kadar gula darah melonjak lebih cepat.

4. Kombinasikan dengan Makanan Berserat

Minum susu bersama oatmeal, roti gandum, atau buah rendah gula lebih baik daripada mencampurnya dengan minuman manis.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera temui dokter jika setelah mengonsumsi susu kadar gula darah terasa sulit dikendalikan, atau muncul gejala seperti sering buang air kecil, cepat lelah, rasa haus berlebihan, atau berat badan turun tanpa sebab.

Dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu mengevaluasi kondisi lebih lanjut. Selain itu, penderita diabetes juga bisa berkonsultasi dengan dokter gizi klinik atau ahli gizi untuk mendapatkan panduan minum susu yang lebih sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare clinic menyediakan layanan manajemen diabetes bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik serta terdapat CGM dalam programnya. Program ini bisa membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C dan mengelola gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut. 


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.