Apakah Penderita Diabetes Boleh Makan Keju? Ini Jawabannya!

Keju menjadi salah satu makanan favorit banyak orang karena rasanya gurih, teksturnya lembut, dan mudah dikombinasikan dengan berbagai hidangan. Namun, bagi penderita diabetes, muncul keraguan apakah konsumsi keju aman.
Apakah Penderita Diabetes Boleh Makan Keju?
Kabar baiknya, keju dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes. Keju mengandung karbohidrat dalam jumlah yang sangat sedikit, sehingga tidak menyebabkan kenaikan gula darah yang signifikan. Namun, bukan berarti penderita diabetes bisa mengonsumsinya tanpa batas. Hal yang perlu diperhatikan adalah jenis keju, porsi, serta frekuensi konsumsinya.
Beberapa jenis keju, terutama yang tinggi lemak jenuh, bisa meningkatkan risiko kolesterol tinggi dan penyakit jantung. Hal ini penting dicermati karena penderita diabetes lebih rentan terhadap gangguan kardiovaskuler. Jadi, meski aman dari sisi gula darah, konsumsi berlebihan tetap dapat membawa risiko lain.
Kandungan Zat Gizi dan Indeks Glikemik Keju
Keju kaya akan berbagai zat gizi yang bermanfaat, mulai dari protein, kalsium, vitamin B12, fosfor, hingga sejumlah mineral penting lainnya. Sebagai gambaran, dalam 100 gram keju cheddar terdapat sekitar 400 Kkal energi, 3.09 gram karbohidrat, 22.87 gram protein, dan 33.31 gram lemak.
Dari kandungan tersebut, terlihat jelas bahwa karbohidrat dalam keju sangat rendah. Indeks glikemik (IG) keju bahkan mendekati nol, artinya hampir tidak memengaruhi kenaikan kadar gula darah. Namun, kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi perlu diperhatikan, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar.
Cara Aman Mengonsumsi Keju bagi Penderita Diabetes
Berikut beberapa cara yang bisa membantu agar keju tetap aman dan sehat untuk dikonsumsi penderita diabetes:
1. Perhatikan Jenis Keju
Tidak semua keju punya kandungan gizi yang sama. Keju segar seperti ricotta, mozzarella, atau cottage cheese umumnya lebih rendah lemak dibandingkan keju olahan atau keju tua (aged cheese). Pilihan ini lebih aman karena mengurangi asupan lemak jenuh yang berlebihan.
2. Batasi Porsi
Meski indeks glikemiknya rendah, keju tetap tinggi kalori. Bagi penderita diabetes, menjaga porsi berarti juga mencegah kenaikan berat badan yang sering menjadi faktor tambahan dalam pengendalian gula darah.
3. Kombinasikan dengan Makanan Berserat
Mengonsumsi keju bersama sayuran hijau, tomat, atau biji-bijian utuh seperti roti gandum bisa membantu memperlambat penyerapan nutrisi. Serat berperan menjaga kadar gula darah tetap stabil dan membuat rasa kenyang lebih lama. Jadi, alih-alih dimakan sendiri, lebih baik keju dijadikan pelengkap salad atau topping pada makanan sehat lainnya.
4. Hindari Keju Olahan Tinggi Garam
Beberapa keju olahan dalam kemasan siap saji biasanya ditambah natrium yang cukup tinggi. Konsumsi berlebihan bisa meningkatkan risiko hipertensi, yang merupakan salah satu komplikasi yang sering muncul pada penderita diabetes. Jika ingin makan keju, pilih varian rendah garam atau batasi frekuensinya agar tekanan darah tetap terjaga.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika setelah mengonsumsi keju muncul kesulitan mengontrol kadar gula darah, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Dokter spesialis penyakit dalam dapat memberikan penilaian terkait kondisi gula darah. Selain itu, konsultasi dengan dokter gizi klinik atau ahli gizi untuk menentukan jenis keju, porsi, serta frekuensi konsumsi yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?
Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.
Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.
Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.
Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.
“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.
Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.
Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.
Manajemen Diabetes di Primecare Clinic
Primecare Clinic menyediakan layanan manajemen diabetes (ada CGM) secara menyeluruh. Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik untuk mengontrol kadar gula darah dan menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya.

