Sering Kencing pada Penderita Diabetes: Penyebab dan Cara Mengatasinya

September 11, 2025 by Primecare Clinic
10427-_1_-1200x801.webp

Apakah kamu pernah buang air kecil lebih sering karena banyak minum atau saat cuaca dingin? Hal itu masih tergolong normal. Frekuensi kencing yang normal dalam sehari adalah 4-8 kali, dengan volume urin antara 400-2000 mL per hari. 

Kamu harus waspada jika sering kencing tanpa ada penyebab yang jelas. Pasalnya, beberapa penyakit dapat menyebabkan gejala sering kencing, salah satunya penyakit diabetes. 

Lalu, apakah sering kencing selalu menjadi gejala diabetes dan bagaimana cara mengatasinya? Cek faktanya di artikel ini, ya! 

Apa itu Gejala Sering Kencing pada Penderita Diabetes?

Gejala sering kencing atau dalam bahasa medis disebut poliuria, dapat muncul pada beberapa penyakit, salah satunya diabetes. Pada penderita, sering kencing merupakan gejala yang kerap muncul. Hal ini terjadi akibat kadar gula darah yang tinggi.

Saat kadar gula dalam aliran darah terlalu tinggi, ginjal akan berusaha menyaring dan membuang kelebihan gula melalui urin. Proses ini menarik lebih banyak cairan tubuh sehingga jumlah urin yang diproduksi meningkat. Akibatnya, penderita diabetes sering merasa ingin buang air kecil, terutama di malam hari (nokturia).

Gejala sering kencing (poliuria) pada diabetes biasanya disertai gejala lain, yaitu sering haus (polidipsia) dan cepat lapar (polifagia). Ketiga gejala tersebut sering disebut sebagai “tiga P” pada diabetes. 

Apakah Sering Kencing Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Sering kencing tidak selalu disebabkan oleh diabetes. Banyak faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang sering kencing. Beberapa penyebab lain yang perlu diketahui antara lain:

1. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang terjadi pada saluran kencing mulai dari uretra, kandung kemih, ureter, dan ginjal. ISK dapat menyebabkan rasa ingin kencing terus-menerus disertai nyeri saat buang air kecil, serta perubahan pada urin misalnya berbau menyengat, keruh, atau berwarna merah.

2. Pembesaran Prostat 

Pembesaran prostat dapat menimbulkan gejala lebih sering buang air kecil, terutama malam hari. Biasanya juga disertai gejala buang air kecil tidak tuntas, aliran urin lemah, serta harus mengejan saat kencing.

Prostat yang membesar menekan uretra sehingga aliran urine terganggu dan kandung kemih terasa selalu penuh. Namun, pada beberapa kasus penderita BPH justru tidak bisa kencing karena uretra tertekan sehingga urin tidak bisa lewat. 

3. Kehamilan

Pada ibu hamil, rahim yang membesar dapat menekan kandung kemih. Tekanan ini membuat ibu hamil sering buang air kecil, terutama di trimester awal dan akhir kehamilan.

4. Konsumsi Makanan dan Minuman Mengandung Kafein

Kafein yang terkandung dalam kopi, teh, atau minuman energi bersifat diuretik, yaitu meningkatkan produksi urin. Akibatnya, seseorang jadi lebih sering kencing setelah mengonsumsinya.

Jadi, sering kencing tidak selalu berarti diabetes. Namun, jika keluhan ini berlangsung lama atau disertai gejala lain seperti haus berlebihan, penurunan berat badan, atau nyeri saat kencing, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

Penyebab Sering Kencing pada Penderita Diabetes

Pada penderita diabetes, gejala sering kencing umumnya terjadi akibat kadar gula darah yang terlalu tinggi (hiperglikemia). Saat kadar gula darah melebihi batas normal, ginjal akan bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan gula melalui urin.

Gula dalam urin menarik lebih banyak cairan tubuh sehingga jumlah urin yang keluar bertambah banyak. Proses ini dikenal dengan istilah osmotic diuresis

Selain itu, penderita diabetes juga berisiko mengalami kerusakan saraf yang disebut neuropati diabetik. Jika terjadi kerusakan saraf pada sistem urogenital, yaitu organ yang terlibat dalam sistem kemih, maka kandung kemih tidak bisa bekerja optimal. Akibatnya, penderita kesulitan menahan kencing atau merasa kandung kemih tidak pernah benar-benar kosong.

Tak hanya itu, kadar gula tinggi dalam urin membuat penderita diabetes lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih (ISK). ISK akan memicu gejala sering kencing dan rasa nyeri saat kencing. 

Apakah Sering Kencing pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Sebenarnya, sering kencing bukan hal yang membahayakan secara langsung. Namun, sering kencing tidak boleh dianggap sepele karena bisa menjadi tanda tingginya kadar gula darah.

Sering kencing juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas tidur karena sering terbangun untuk kencing. Jika sering kencing tidak segera ditangani maka bisa mengakibatkan dehidrasi atau kekurangan cairan. 

Karena itu, penderita diabetes tidak boleh mengabaikan gejala sering kencing dan segera periksakan ke dokter. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Kencing pada Penderita Diabetes

Pada penderita diabetes, gejala sering kencing diakibatkan oleh tingginya kadar gula darah. Maka langkah pencegahan dan penanganan terutama berfokus pada pengendalian kadar gula darah. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

  • Mengatur pola makan dengan membatasi asupan gula tambahan, memilih sumber karbohidrat kompleks, perbanyak sayur, buah dan protein tanpa lemak. 
  • Rutin berolahraga karena aktivitas fisik membantu meningkatkan sensitivitas insulin sehingga kadar gula darah lebih stabil.
  • Minum obat sesuai resep dokter agar kadar gula darah terkendali.
  • Minum air sesuai dengan kebutuhan, hindari minuman manis atau berkafein yang dapat memperburuk gejala sering kencing.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami sering kencing tanpa penyebab yang jelas dengan disertai beberapa gejala di bawah, maka segera periksakan diri ke dokter:

  • Rasa haus berlebihan dan tidak kunjung hilang.
  • Penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas.
  • Urin berbusa, berdarah, atau berbau tidak normal.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Sering terbangun di malam hari untuk kencing hingga mengganggu tidur.
  • Mengalami tanda dehidrasi berat seperti mulut kering, pusing, dan lemas

Bagi penderita diabetes, sebaiknya rutin memeriksakan diri ke dokter penyakit dalam khususnya dokter spesialis endokrin untuk memantau kondisi gula darah dan fungsi ginjal. 

Jika ada keluhan tambahan seperti nyeri saat kencing, bisa juga berkonsultasi ke dokter urologi. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan manajemen diabetes (ada CGM) secara menyeluruh. Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik untuk mengontrol kadar gula darah dan menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 

primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.