Mudah Lelah pada Penderita Diabetes – Penyebab dan Pencegahannya

September 8, 2025 by Primecare Clinic
1019-_1_-1200x800.webp

Mudah lelah adalah kondisi dimana terjadi kelelahan fisik dan/atau mental yang dapat terjadi karena berbagai sebab, di antaranya aktivitas fisik yg berlebihan, sakit fisik atau mental, atau ketika dalam kondisi stres. 

Kondisi mudah lelah ini tidak selalu dapat diatasi dengan istirahat atau tidur, terlebih jika gejala ini menjadi gejala penyakit fisik, salah satunya diabetes. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui darimana munculnya gejala mudah lelah ini.

Apa Itu Gejala Mudah Lelah Penderita Diabetes?

Gejala mudah lelah pada diabetes diistilahkan sebagai Sindrom Kelelahan Diabetes. Keluhan mudah lelah adalah keluhan yang sering dirasakan oleh penderita diabetes. 

Mudah lelah pada diabetes dihubungkan dengan beberapa faktor, yaitu faktor fisiologi dimana terjadinya hiperglikemia dan/atau hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula darah menurun dari normal yang biasanya disebabkan oleh insulin atau obat antidiabetes lainnya yang memiliki efek samping hipoglikemia. 

Perubahan metabolisme gula darah pada kedua kondisi tersebut berpengaruh terhadap terjadinya gejala mudah lelah.

Faktor lainnya, yaitu fenomena psikologis, seperti distres diabetes dan depresi. Hal ini berkaitan dengan bagaimana pasien mengatur dirinya dalam kondisi sakit. Kurangnya energi dan motivasi dapat menyebabkan distres diabetes. Selain itu, dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa penderita diabetes memiliki kemungkinan dua kali lipat lebih besar mengalami depresi dibanding populasi umum dan hal ini berkaitan dengan gejala mudah lelah.

Selain dua faktor di atas, faktor gaya hidup juga sangat berkaitan dengan gejala mudah lelah. Peningkatan indeks massa tubuh (IMT) dan aktivitas fisik yang kurang dapat memiliki hubungan yang kuat dengan gejala mudah lelah pada penderita diabetes.

Apakah Mudah Lelah Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Tidak. Mudah lelah tidak selalu menjadi gejala pada diabetes. Mudah lelah merupakan gejala yang umum dan nonspesifik dari berbagai penyakit, termasuk pada penderita diabetes. 

Pada sebuah penelitian epidemiologi, angka kejadian mudah lelah pada penderita diabetes tipe 2 sebesar 61%. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak semua pasien mengalami gejala mudah lelah. 

Penyebab Mudah Lelah pada Penderita Diabetes

Mudah lelah pada diabetes dapat disebabkan oleh dua penyebab utama, yakni: 

1. Penyebab non-endokrin 

  1. Gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik atau olahraga, kurangnya tidur yang berkualitas, konsumsi alkohol, atau kelebihan kafein. 
  2. Pola makan yang tidak tepat, seperti kelebihan asupan kalori, pembatasan kalori yang berlebihan, atau kekurangan protein.
  3. Kondisi medis tertentu, seperti anemia, distres diabetes, dan defisiensi vitamin.

2. Penyebab endokrin 

  1. Kondisi yang berkaitan dengan glikemik, seperti hiperglikemia kronis, tingginya HbA1c dengan kadar gula normal, atau hipoglikemia berulang, serta variabilitas glikemik (fluktuasi kadar gula darah yg terjadi secara cepat dalam hitungan menit atau jam). 
  2. Komplikasi diabetes, seperti nefropati (gangguan ginjal), gagal jantung, neuropati (gangguan saraf), atau miopati (gangguan/penyakit pada otot).

Apakah Gejala Mudah Lelah pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Mudah lelah dapat menjadi hal yang lazim terjadi pada penderita diabetes, tetapi perlu juga menjadi tanda waspada. Perlu menjadi perhatian khusus jika pasien mengalami mudah lelah terus-menerus, atau gejala mudah lelah yang disertai dengan gejala yang mengkhawatirkan seperti sesak napas atau nyeri dada, dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Pencegahan dan Terapi untuk Gejala Mudah Lelah pada Penderita Diabetes

Karena mudah lelah dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup, maka perlu dilakukan pencegahan dan terapi agar pasien dapat memperbaiki kualitas hidupnya. Pencegahan dan terapi ini, di antaranya:

1. Perubahan Gaya Hidup

Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan rasa “kelelahan” meskipun, tidur malamnya normal. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi pasien diabetes untuk melakukan aktivitas fisik. Rutin melakukan aktivitas fisik menunjukkan adanya peningkatan kapasitas aerobik dan massa otot, meningkatkan penggunaan substrat metabolik untuk energi, dan meningkatkan mood atau suasana hati.

2. Pengaturan Pola Makan

Pengaturan pola makan pada pasien diabetes memiliki banyak manfaat, di antaranya untuk program penurunan berat badan jika pasien mengalami overweight atau obesitas, mengurangi asupan kalori yang berlebihan, juga berguna untuk mengontrol gula darah agar selalu dalam kadar normal. 

3. Manajemen Stres

Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah psikologis dalam sindrom kelelahan diabetes, yaitu: 

  1. meningkatkan persepsi diri, 
  2. meningkatkan kemampuan dalam coping mechanism (cara mengatasi masalah/stres dan mengatur emosi yang tidak nyaman/stabil), misal dengan cara melakukan hobi, mencari aktivitas yang menyenangkan, 
  3. meminimalkan ketidaknyamanan akibat perubahan, 
  4. memanfaatkan dukungan eksternal, misal dengan bergabung dalam komunitas. 

4. Skrining Komplikasi Diabetes

Beberapa penyebab mudah lelah pada diabetes adalah komplikasi penyakit sehingga perlu dilakukan skrining untuk mengetahui salah satu penyebab gejala mudah lelah.

Kapan Penderita Diabetes yang Mengalami Mudah Lelah Harus ke Dokter?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa kondisi mudah lelah pada penderita diabetes harus diwaspadai. Ketika pasien atau keluarga pasien menemukan salah satu tanda bahaya, maka pasien diharuskan berkonsultasi ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat. Di bawah ini, beberapa kondisi dimana pasien perlu melakukan konsultasi dengan dokter, yaitu: 

  1. Jika gejala dirasakan terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, pasien dapat bertemu dengan dokter penanggung jawab pelayanan yang menangani pasien selama pengobatan, baik oleh dokter umum ataupun dokter spesialis penyakit dalam. 

Jika ditemukan pasien mengalami gejala yang menunjukkan ke arah komplikasi, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis sesuai kecurigaan komplikasinya, seperti gejala neuropati akan dirujuk ke dokter spesialis saraf, gejala gagal jantung berat akan dirujuk ke dokter spesialis jantung, gejala gagal ginjal yang sudah perlu penanganan lebih lanjut dapat dirujuk ke dokter penyakit dalam subspesialis ginjal hipertensi.

  1. Kesulitan dalam mengatur gaya hidup sehat, baik itu berkaitan dengan pola makan maupun aktivitas fisik. Jika terjadi hal ini, penderita diabetes dapat berkonsultasi dengan dokter gizi klinik.
  2. Jika pasien atau keluarga pasien merasakan gejala psikologis, seperti depresi, kurang berminat terhadap hal yang biasanya menyenangkan untuk dirinya, sedih terus-menerus, pasien dapat berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater (dokter spesialis kedokteran jiwa). 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Primecare Clinic Memiliki Program Manajemen Diabetes

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes (terdapat CGM) yang dapat membantumu mengelola gula darah dan gejala diabetes, serta menurunkan kadar HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 

primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.