2150408461-_1_-_1_-1200x800.webp

September 10, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Pola makan sehat merupakan salah satu terapi yang harus dijalankan oleh penderita diabetes. Makanan dan minuman yang akan dikonsumsi oleh penderita diabetes sangat perlu diperhatikan karena akan memengaruhi kadar gula dalam darah dan juga proses metabolismenya. Oleh sebab itu, banyak makanan dan minuman yang sebaiknya tidak dikonsumsi oleh penderita diabetes untuk tetap menjaga kadar gula dalam kondisi normal. Air es tentu menjadi minuman primadona, terutama di kala cuaca panas. Namun, apakah air es boleh dikonsumsi oleh penderita diabetes? 

Apakah Penderita Diabetes Boleh Minum Air Es?

Ya, penderita diabetes boleh minum air es. 

Karena adanya pembatasan konsumsi makanan dan minuman pada pasien diabetes, air es ini dapat menjadi alternatif cara minum air putih agar terasa lebih segar. 

Penderita diabetes sangat dibatasi untuk mengonsumsi minuman dingin berperisa karena dikhawatirkan akan menambah kalori yang nantinya akan meningkatkan kadar gula dalam darahnya. Sebaliknya, mengonsumsi air es sangat aman karena pada dasarnya air es adalah air putih dingin yang memiliki nilai 0 kalori. 

Zat Gizi, Indeks Glikemik, dan Beban Glikemik Air Es

Air es atau air putih dingin tidak memiliki kandungan gizi makro, seperti karbohidrat, protein, lemak sehingga air putih mengandung 0 kalori. Walaupun begitu, ada jenis air putih yang memiliki kandungan gizi mikro, seperti mineral dalam jumlah sedikit yang sering disebut air mineral. Kandungan gizi mineral ini tidak lantas menambahkan nilai kalori pada air putih.

Berapa nilai indeks glikemik dan beban glikemik air putih? Sebelumnya, kita ketahui dahulu apa itu  indeks glikemik dan beban glikemik. Indeks glikemik adalah pengukuran seberapa cepat makanan/minuman yang mengandung karbohidrat dapat meningkatkan kadar gula darah. Indeks glikemik memiliki rentang nilai 0-100. Sementara, beban glikemik air adalah perhitungan indeks glikemik disertai jumlah porsi karbohidrat yang dikonsumsi. Karena air putih tidak mengandung karbohidrat, maka nilai  indeks glikemik dan beban glikemiknya adalah 0. 

Cara Minum Air Es Untuk Penderita Diabetes Yang Aman

Seringkali pasien diabetes merasa bosan dengan air es dan ingin mengonsumsi minuman segar lainnya, tetapi tentunya dengan pilihan yang tetap aman untuk dikonsumsi. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengonsumsi air es yang aman bagi penderita diabetes, yaitu:

  1. Untuk mendapatkan cita rasa atau sensasi berbeda ketika minum air putih, pasien dapat memilih air putih karbonasi (sparkling water).
  2. Campurkan air es dengan perasan lemon. Hal ini dapat memberikan sensasi rasa segar di mulut. Akan tetapi, perlu diperhatikan jumlah dan frekuensi konsumsinya. 
  3. Buat menjadi infused water dengan menambahkan potongan buah atau sayur, seperti jeruk, buah beri-berian, timun, peach/persik, daun mint, atau herbal segar lainnya. Setelah air sudah dicampurkan dengan potongan buah ataupun tambahan lain, infused water dapat disimpan dahulu di dalam lemari pendingin agar aroma dan rasanya menyatu. 

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes yang sudah terdiagnosis oleh dokter harus mengonsumsi obat antidiabetes setiap hari sehingga sangat perlu untuk rutin ke dokter. Selain itu, dibutuhkan juga terapi non farmakologis, seperti perubahan gaya hidup. 

Untuk memantau kondisi pasien, makan pasien perlu untuk berkonsultasi ke dokter dengan kondisi seperti di bawah ini:

  1. Pasien diabetes harus melakukan kontrol rutin minimal satu bulan sekali, baik itu oleh dokter umum, atau dokter spesialis penyakit dalam, atau pun dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes bergantung pada kondisi pasien dan status rujukannya. 
  2. Pasien yang mengalami kesulitan mengatur pola makan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik untuk mendapatkan informasi tentang diet yang sesuai dengan kebutuhan gizi harian dan pembatasan kalori yang dibutuhkan. Selain itu, pasien juga bisa mendapatkan saran terkait aktivitas fisik yang dapat menunjang pola hidup sehat. 
  3. Jika pasien mengalami komplikasi akut, seperti hipoglikemia, sesak napas, tidak sadarkan diri, berat badan yang menurun dengan cepat dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan sekunder atau tersier untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesegera mungkin. 
  4. Jika didapatkan gejala yang mengarah pada komplikasi lainnya, seperti neuropati (gangguan saraf) atau retinopati (gangguan pada retina mata) diabetes, maka pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis berdasarkan jenis komplikasinya. Misalnya, jika ada gangguan saraf, maka sebaiknya ke dokter saraf.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare clinic menyediakan layanan manajemen diabetes bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik serta terdapat CGM dalam programnya. Program ini bisa membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C dan mengelola gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut. 


2149442353-_1_.webp

September 9, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Madu sering dianggap sebagai pemanis alami yang lebih sehat dibandingkan gula pasir. Rasanya manis, teksturnya kental, dan sudah sejak lama digunakan sebagai campuran makanan maupun minuman. Namun, bagi penderita diabetes, madu tetap bisa memengaruhi kadar gula darah. Oleh karena itu, konsumsi madu tetap perlu diperhatikan.

Apakah Penderita Diabetes Boleh Minum Madu?

Secara umum, penderita diabetes masih boleh mengonsumsi madu, tetapi jumlah dan frekuensinya harus sangat diperhatikan. Madu tetap mengandung gula sederhana, seperti fruktosa dan glukosa yang dapat memengaruhi kadar gula darah. Bedanya dengan gula pasir, madu juga memiliki sejumlah kecil vitamin, mineral, serta antioksidan. Jadi, madu bisa dipilih sebagai pemanis alternatif, bukan dikonsumsi tanpa batas.

Jenis Madu yang Aman Dikonsumsi oleh Penderita Diabetes

Madu murni tanpa tambahan pemanis buatan atau gula tambahan relatif lebih aman bagi penderita diabetes. 

Madu murni biasanya memiliki kandungan fruktosa yang lebih tinggi. Fruktosa bekerja lebih lambat dibanding glukosa dalam menaikkan gula darah, sehingga efeknya pada penderita diabetes cenderung lebih terkendali.

Jenis Madu yang Sebaiknya Dihindari oleh Penderita Diabetes

Madu olahan yang sudah dicampur dengan gula tambahan atau sirup glukosa sebaiknya dihindari. Produk seperti ini biasanya dijual dalam kemasan dengan harga lebih murah dan memiliki rasa manis yang terlalu kuat hingga menyerupai sirup. 

Jika dikonsumsi, madu campuran dapat memicu lonjakan gula darah dengan cepat, bahkan efeknya bisa sama dengan mengonsumsi gula pasir.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Madu

Dalam satu sendok makan madu (sekitar 21 gram), terkandung sekitar 64 kalori dan 17 gram karbohidrat. Indeks glikemik (IG) madu berada di angka 60, yang termasuk kategori moderat. Artinya, madu tetap bisa memengaruhi kadar gula darah, meski kenaikannya tidak secepat gula pasir. Meski begitu, jika dikonsumsi berlebihan, efeknya pada gula darah tetap terasa signifikan.

Cara Aman Mengonsumsi Madu untuk Penderita Diabetes

Penderita diabetes masih bisa mengonsumsi madu, tetapi porsinya perlu dibatasi dan cara penggunaannya harus tepat. Berikut beberapa panduan yang bisa diperhatikan:

1. Batasi Porsi

Cukup 1 sendok teh per hari. Takaran ini cukup memberi rasa manis tanpa meningkatkan risiko lonjakan gula darah berlebihan.

2. Gunakan sebagai Pengganti, Bukan Tambahan

Jika menambahkan madu ke dalam teh atau makanan lain, jangan lagi menambahkan gula pasir. Hal ini mencegah asupan gula harian menjadi berlebih.

3. Kombinasikan dengan Makanan Berserat

Konsumsi madu bersama makanan yang kaya serat, seperti roti gandum atau oatmeal dapat membantu memperlambat penyerapan gula dalam tubuh.

4. Pilih Madu Murni

Pastikan madu yang dipilih asli dan tidak dicampur dengan pemanis tambahan. Perhatikan label kemasan agar kualitasnya lebih terjamin.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera temui dokter spesialis penyakit dalam jika konsumsi madu membuat kadar gula darah sulit dikontrol, atau muncul gejala seperti cepat lelah, sering buang air kecil, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas

Kamu juga bisa berdiskusi dengan dokter gizi klinik atau ahli gizi untuk mendapatkan panduan konsumsi pemanis yang aman sesuai kebutuhan tubuh.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare clinic menyediakan layanan manajemen diabetes bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik serta terdapat CGM dalam programnya. Program ini bisa membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C dan mengelola gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut. 


2150288270-_1_-1200x800.webp

September 9, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Rasa lapar merupakan cara alami tubuh memberi sinyal bahwa energi perlu diisi kembali. Dalam kondisi normal, setelah seseorang makan, kebutuhan energi terpenuhi dan rasa lapar mereda. Namun, pada diabetes, mekanisme ini bisa terganggu. Rasa lapar bisa muncul lebih sering, lebih kuat, bahkan tidak hilang meskipun sudah makan cukup.  Kondisi ini dapat menjadi tanda bahwa tubuh sedang mengalami gangguan metabolik yang perlu diperhatikan lebih serius.

Apa Itu Gejala Sering Lapar pada Penderita Diabetes?

Sering lapar pada penderita diabetes dikenal dengan istilah polifagia. Kondisi ini bukan sekadar rasa lapar biasa, melainkan dorongan makan yang terus ada meski perut sudah terisi. 

Apakah Sering Lapar Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Jawabannya, tidak selalu. Rasa lapar berlebih bisa timbul karena banyak faktor lain, seperti kurang tidur, aktivitas fisik yang sangat intens, stres berkepanjangan, atau pola makan tinggi gula sederhana yang membuat gula darah cepat naik lalu turun kembali. 

Namun, ketika rasa lapar ini muncul terus-menerus dan disertai gejala khas diabetes lain, misalnya sering haus (polidipsia), sering buang air kecil (poliuria), serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, maka kondisi tersebut perlu diwaspadai sebagai tanda awal diabetes.

Penyebab Sering Lapar pada Penderita Diabetes

Pada penderita diabetes, polifagia muncul karena sel tubuh tidak dapat menyerap glukosa dengan optimal akibat resistensi insulin atau kekurangan insulin. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan tubuh tetap “terkunci” di dalam darah. Otak pun salah menangkap sinyal, mengira tubuh kekurangan energi, lalu memicu rasa lapar berulang. Jika tidak dikendalikan, penderita bisa terjebak dalam lingkaran makan berlebihan tetapi tetap merasa lemas.

Apakah Sering Lapar pada Penderita Diabetes Berbahaya?

Rasa lapar yang terus-menerus pada penderita diabetes sebaiknya tidak dianggap remeh. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat mendorong seseorang untuk makan berlebihan, sehingga kadar gula darah semakin sulit dikendalikan dan lebih mudah mengalami fluktuasi berbahaya.

Dalam jangka panjang, ketidakstabilan gula darah bisa menimbulkan kerusakan pada saraf, ginjal, hingga pembuluh darah. Pola makan berlebih juga berpotensi menyebabkan obesitas, yang akan memperburuk resistensi insulin dan memperbesar risiko komplikasi diabetes.

Cara Mencegah atau Mengatasi Sering Lapar pada Penderita Diabetes

Supaya rasa lapar berlebihan tidak mengganggu, berikut beberapa langkah yang dapat membantu menyeimbangkan energi dan mengontrol kadar gula darah:

1. Pilih Makanan dengan Indeks Glikemik Rendah

Makanan jenis ini dicerna lebih lambat, sehingga rasa kenyang bisa bertahan lebih lama dan kadar gula darah lebih stabil.

2. Perbanyak Asupan Serat

Sayuran, buah rendah gula, dan biji-bijian utuh membantu memperlambat penyerapan glukosa serta menjaga pencernaan tetap sehat.

3. Bagi Porsi Makan Jadi Lebih Kecil

Makan dengan porsi kecil namun lebih sering membuat tubuh tetap mendapat pasokan energi tanpa menyebabkan lonjakan gula darah besar.

4. Tidur Cukup dan Kelola Stres

Kualitas tidur dan kondisi emosional memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar, sehingga penting untuk dijaga.

5. Konsultasi dengan Ahli Gizi

Pendampingan dari tenaga profesional membantu menyesuaikan pola makan sesuai kebutuhan tubuh dan kondisi kesehatan masing-masing seperti ahli gizi dan dokter gizi.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam jika rasa lapar terus-menerus muncul tanpa penyebab yang jelas. Waspadai kondisi ini terutama bila disertai penurunan berat badan drastis, sering buang air kecil, rasa haus berlebihan, atau kadar gula darah yang sulit dikontrol. 

Jika masalah berkaitan dengan pola makan, temui dokter gizi klinik atau ahli gizi untuk mendapatkan dukungan yang tepat.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare clinic menyediakan layanan manajemen diabetes bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik serta terdapat CGM dalam programnya. Program ini bisa membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C dan mengelola gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut. 


CGM.webp

September 8, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diabetes adalah penyakit yang disebabkan oleh kadar gula darah yang tinggi. Penderita diabetes harus memantau gula darahnya secara rutin.

Pemantauan ini dilakukan untuk mencegah komplikasi akibat gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang. Selain itu, memantau gula darah secara rutin juga penting mengetahui efek pola makan, aktivitas, dan efektivitas obat-obatan terhadap kadar gula darah.

Alat pemeriksaan kadar gula darah yang sering digunakan adalah cara konvensional dengan mengambil sampel darah lalu diperiksa di laboratorium atau menggunakan finger stick blood glucose.

Sekarang, sudah ada inovasi terbaru untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari, lho. Alat yang digunakan bernama Continuous Glucose Monitoring (CGM) atau pemantauan glukosa secara terus-menerus. Apakah kamu sudah mengenal alat ini? Yuk kita pahami bersama di artikel ini.

Apa itu Continuous Glucose Monitoring (CGM)?

Continuous Glucose Monitoring (CGM) adalah alat medis yang digunakan untuk memantau kadar gula darah secara terus-menerus selama 24 jam. Teknologi ini dinilai lebih praktis dan informatif dibandingkan metode cek gula darah manual menggunakan jarum dan strip.

Continuous Glucose Monitoring menggunakan sensor kecil yang dipasang di bawah kulit, biasanya di lengan atau perut. Sensor ini dapat dihubungkan ke perangkat gadget atau aplikasi smartphone. Dengan begitu kamu bisa mendapat informasi tentang kadar gula darah sepanjang hari tanpa ditusuk berkali-kali. 

Continuous Glucose Monitoring bekerja dengan mengukur kadar glukosa di cairan interstisial, yaitu cairan antar sel. CGM tidak mengukur langsung dari darah, tetapi hasilnya tetap akurat untuk memantau gula darah.

Fungsi Continuous Glucose Monitoring (CGM)

Continuous glucose monitoring berfungsi sebagai alat untuk memantau kadar gula darah. Tak hanya itu, CGM juga memiliki beberapa fungsi lain, yaitu:

1. Memantau Kadar Gula Darah Secara Real-time

Sensor CGM yang dipasang di bawah kulit dapat mengukur kadar gula darah secara real-time. CGM memberikan data kadar glukosa setiap beberapa menit, sehingga penderita diabetes dapat mengetahui perubahan kadar gula darah tanpa harus melakukan tes tusuk jari berkali-kali.

2. Mendeteksi Fluktuasi Gula Darah

Kadar gula darah bisa berubah-ubah sepanjang waktu tergantung pada pola makan, aktivitas, serta konsumsi obat-obatan. CGM dapat mendeteksi fluktuasi kadar gula darah melalui sensornya. 

Kamu akan mendapat data berupa grafik yang menampilkan naik-turunnya kadar gula darah sepanjang hari. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui kapan saja gula darah naik atau turun serta faktor apa yang memengaruhinya. 

3. Memberikan Peringatan Dini

Continuous glucose monitoring dilengkapi dengan alarm yang akan berbunyi ketika gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia) atau terlalu rendah (hipoglikemia). Dengan begitu risiko komplikasi bisa dicegah lebih dini. 

4. Membantu Evaluasi Pengobatan Diabetes

Data kadar gula darah dari CGM bisa digunakan dokter untuk menyesuaikan dosis obat diabetes, pola makan, serta gaya hidup yang lebih sesuai dengan kondisi pasien.

Prosedur Pemakaian Continuous Glucose Monitoring (CGM)

Pemakaian CGM cukup sederhana. Kamu bisa memasang sendiri atau dengan bantuan tenaga kesehatan. Berikut prosedur pemakaian CGM:

1. Pemasangan Sensor

Sensor CGM dipasang di bawah kulit, biasanya di area perut atau lengan. Sensor dipasang menggunakan alat khusus yang minim rasa sakit. Sebelum memasang sensor, bersihkan area kulit tempat sensor akan dipasang menggunakan kapas alkohol. 

Sensor tersebut tersambung pada patch yang direkatkan ke kulit agar sensor tidak bergeser. Sensor ini berfungsi untuk mendeteksi kadar glukosa dalam cairan sel tubuh secara terus-menerus.

2. Sinkronisasi dengan Aplikasi atau Perangkat

CGM biasanya terhubung dengan aplikasi di perangkat, misalnya smartphone. Kamu perlu melakukan sinkronisasi agar data kadar glukosa bisa dipantau secara real-time dan tersimpan di aplikasi untuk analisis lebih lanjut.

Baca petunjuk yang tertera di kemasan CGM untuk mengetahui petunjuk pemasangan dan sinkronisasi ke aplikasi. Beberapa CGM memerlukan pemanasan selama beberapa menit sebelum mengukur gula darah. 

3. Kalibrasi

Beberapa jenis CGM membutuhkan kalibrasi dengan memeriksa gula darah secara manual menggunakan glukometer, terutama pada awal pemakaian.

4.Penggantian Sensor

Sensor CGM harus diganti dalam beberapa hari, biasanya setiap 7–14 hari tergantung jenis CGM yang dipakai. Proses penggantian dilakukan dengan cara yang sama seperti pemasangan awal.

Manfaat/Kelebihan Continuous Glucose Monitoring

CGM mempunyai banyak manfaat dibandingkan cek gula darah manual, berikut beberapa di antaranya:

  • Memberikan informasi kadar gula secara real-time sepanjang hari tanpa harus sering menusuk jari.
  • Memantau tren gula darah, yaitu fluktuasi kadar gula darah sepanjang hari, bahkan saat tidur dan beraktivitas.
  • Membantu memantau efek makanan, olahraga, dan obat-obatan terhadap kadar gula darah.
  • Memberikan data kadar gula darah yang bisa digunakan oleh dokter untuk menganalisis dan menentukan strategi pengobatan yang lebih tepat.
  • Mencegah kejadian emergensi yang diakibatkan kadar gula darah melonjak tinggi atau justru turun drastis dengan alarm yang terdapat pada CGM. 
  • Tidak perlu tusuk berulang kali seperti cek kadar gula darah konvensional

Kapan Harus Pakai CGM?

Continuous Glucose Monitoring sebaiknya digunakan oleh penderita diabetes. Beberapa kondisi di bawah juga perlu dipertimbangkan untuk memakai CGM:

  • Memiliki kondisi prediabetes, yaitu ketika kadar gula darah sudah mulai melebihi normal tapi belum setinggi pada diabetes. Kondisi ini bisa berlanjut menjadi diabetes jika tidak segera ditangani. 
  • Mempunyai berat badan berlebih atau obesitas sehingga berisiko lebih tinggi mengalami diabetes.
  • Penderita diabetes yang sedang pengobatan dan membutuhkan pemantauan secara intensif.

Siapa yang Cocok Memakai CGM?

Berikut beberapa kriteria yang cocok untuk  memakai CGM:

1. Penderita Diabetes Tipe 1

Penderita diabetes tipe 1 disebabkan oleh kelainan pada pankreas sehingga menghasilkan insulin dalam jumlah sedikit atau tidak sama sekali. Oleh karena itu, penderita diabetes memerlukan pemantauan kadar gula darah yang lebih ketat. CGM membantu mendeteksi fluktuasi gula darah sehingga risiko hipoglikemia atau hiperglikemia bisa lebih cepat dicegah.

2. Penderita Diabetes Tipe 2

Penderita diabetes tipe 2, terutama yang kadar gula darahnya belum terkontrol harus rutin memeriksakan kadar gula darahnya. Hal ini diperlukan untuk mengetahui efektivitas terapi dan menyesuaikan pengobatan. CGM dapat membantu mempermudah pemantauan kadar gula darah. 

3. Ibu Hamil dengan Diabetes Gestasional

Ibu hamil dengan diabetes memerlukan kontrol gula darah yang sangat ketat untuk mencegah komplikasi pada ibu dan janin. CGM membantu memantau kadar gula darah selama kehamilan. 

Continuous Glucose Monitoring (CGM) adalah teknologi yang sangat membantu penderita diabetes dalam memantau kadar gula darah selama 24 jam penuh. Dengan begitu CGM dapat mengurangi risiko komplikasi akibat gula darah yang tinggi atau rendah, serta mempermudah pengelolaan terapi.

Opini Dokter tentang CGM

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Primecare Clinic Memiliki Program Manajemen Diabetes yang Memakai CGM dalam Programnya

Sebagai informasi, Primecare Clinic memiliki program manajemen diabetes di mana terdapat CGM dalam programnya. Program ini dapat membantumu untuk mengelola gejala diabetes dan menurunkan kadar HbA1C-mu.

Kalau kamu ingin informasi selengkapnya terkait program ini atau CGM, ayo klik tautan ini!


1019-_1_-1200x800.webp

September 8, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Mudah lelah adalah kondisi dimana terjadi kelelahan fisik dan/atau mental yang dapat terjadi karena berbagai sebab, di antaranya aktivitas fisik yg berlebihan, sakit fisik atau mental, atau ketika dalam kondisi stres. 

Kondisi mudah lelah ini tidak selalu dapat diatasi dengan istirahat atau tidur, terlebih jika gejala ini menjadi gejala penyakit fisik, salah satunya diabetes. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui darimana munculnya gejala mudah lelah ini.

Apa Itu Gejala Mudah Lelah Penderita Diabetes?

Gejala mudah lelah pada diabetes diistilahkan sebagai Sindrom Kelelahan Diabetes. Keluhan mudah lelah adalah keluhan yang sering dirasakan oleh penderita diabetes. 

Mudah lelah pada diabetes dihubungkan dengan beberapa faktor, yaitu faktor fisiologi dimana terjadinya hiperglikemia dan/atau hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula darah menurun dari normal yang biasanya disebabkan oleh insulin atau obat antidiabetes lainnya yang memiliki efek samping hipoglikemia. 

Perubahan metabolisme gula darah pada kedua kondisi tersebut berpengaruh terhadap terjadinya gejala mudah lelah.

Faktor lainnya, yaitu fenomena psikologis, seperti distres diabetes dan depresi. Hal ini berkaitan dengan bagaimana pasien mengatur dirinya dalam kondisi sakit. Kurangnya energi dan motivasi dapat menyebabkan distres diabetes. Selain itu, dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa penderita diabetes memiliki kemungkinan dua kali lipat lebih besar mengalami depresi dibanding populasi umum dan hal ini berkaitan dengan gejala mudah lelah.

Selain dua faktor di atas, faktor gaya hidup juga sangat berkaitan dengan gejala mudah lelah. Peningkatan indeks massa tubuh (IMT) dan aktivitas fisik yang kurang dapat memiliki hubungan yang kuat dengan gejala mudah lelah pada penderita diabetes.

Apakah Mudah Lelah Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Tidak. Mudah lelah tidak selalu menjadi gejala pada diabetes. Mudah lelah merupakan gejala yang umum dan nonspesifik dari berbagai penyakit, termasuk pada penderita diabetes. 

Pada sebuah penelitian epidemiologi, angka kejadian mudah lelah pada penderita diabetes tipe 2 sebesar 61%. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak semua pasien mengalami gejala mudah lelah. 

Penyebab Mudah Lelah pada Penderita Diabetes

Mudah lelah pada diabetes dapat disebabkan oleh dua penyebab utama, yakni: 

1. Penyebab non-endokrin 

  1. Gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik atau olahraga, kurangnya tidur yang berkualitas, konsumsi alkohol, atau kelebihan kafein. 
  2. Pola makan yang tidak tepat, seperti kelebihan asupan kalori, pembatasan kalori yang berlebihan, atau kekurangan protein.
  3. Kondisi medis tertentu, seperti anemia, distres diabetes, dan defisiensi vitamin.

2. Penyebab endokrin 

  1. Kondisi yang berkaitan dengan glikemik, seperti hiperglikemia kronis, tingginya HbA1c dengan kadar gula normal, atau hipoglikemia berulang, serta variabilitas glikemik (fluktuasi kadar gula darah yg terjadi secara cepat dalam hitungan menit atau jam). 
  2. Komplikasi diabetes, seperti nefropati (gangguan ginjal), gagal jantung, neuropati (gangguan saraf), atau miopati (gangguan/penyakit pada otot).

Apakah Gejala Mudah Lelah pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Mudah lelah dapat menjadi hal yang lazim terjadi pada penderita diabetes, tetapi perlu juga menjadi tanda waspada. Perlu menjadi perhatian khusus jika pasien mengalami mudah lelah terus-menerus, atau gejala mudah lelah yang disertai dengan gejala yang mengkhawatirkan seperti sesak napas atau nyeri dada, dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Pencegahan dan Terapi untuk Gejala Mudah Lelah pada Penderita Diabetes

Karena mudah lelah dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup, maka perlu dilakukan pencegahan dan terapi agar pasien dapat memperbaiki kualitas hidupnya. Pencegahan dan terapi ini, di antaranya:

1. Perubahan Gaya Hidup

Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan rasa “kelelahan” meskipun, tidur malamnya normal. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi pasien diabetes untuk melakukan aktivitas fisik. Rutin melakukan aktivitas fisik menunjukkan adanya peningkatan kapasitas aerobik dan massa otot, meningkatkan penggunaan substrat metabolik untuk energi, dan meningkatkan mood atau suasana hati.

2. Pengaturan Pola Makan

Pengaturan pola makan pada pasien diabetes memiliki banyak manfaat, di antaranya untuk program penurunan berat badan jika pasien mengalami overweight atau obesitas, mengurangi asupan kalori yang berlebihan, juga berguna untuk mengontrol gula darah agar selalu dalam kadar normal. 

3. Manajemen Stres

Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah psikologis dalam sindrom kelelahan diabetes, yaitu: 

  1. meningkatkan persepsi diri, 
  2. meningkatkan kemampuan dalam coping mechanism (cara mengatasi masalah/stres dan mengatur emosi yang tidak nyaman/stabil), misal dengan cara melakukan hobi, mencari aktivitas yang menyenangkan, 
  3. meminimalkan ketidaknyamanan akibat perubahan, 
  4. memanfaatkan dukungan eksternal, misal dengan bergabung dalam komunitas. 

4. Skrining Komplikasi Diabetes

Beberapa penyebab mudah lelah pada diabetes adalah komplikasi penyakit sehingga perlu dilakukan skrining untuk mengetahui salah satu penyebab gejala mudah lelah.

Kapan Penderita Diabetes yang Mengalami Mudah Lelah Harus ke Dokter?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa kondisi mudah lelah pada penderita diabetes harus diwaspadai. Ketika pasien atau keluarga pasien menemukan salah satu tanda bahaya, maka pasien diharuskan berkonsultasi ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat. Di bawah ini, beberapa kondisi dimana pasien perlu melakukan konsultasi dengan dokter, yaitu: 

  1. Jika gejala dirasakan terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, pasien dapat bertemu dengan dokter penanggung jawab pelayanan yang menangani pasien selama pengobatan, baik oleh dokter umum ataupun dokter spesialis penyakit dalam. 

Jika ditemukan pasien mengalami gejala yang menunjukkan ke arah komplikasi, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis sesuai kecurigaan komplikasinya, seperti gejala neuropati akan dirujuk ke dokter spesialis saraf, gejala gagal jantung berat akan dirujuk ke dokter spesialis jantung, gejala gagal ginjal yang sudah perlu penanganan lebih lanjut dapat dirujuk ke dokter penyakit dalam subspesialis ginjal hipertensi.

  1. Kesulitan dalam mengatur gaya hidup sehat, baik itu berkaitan dengan pola makan maupun aktivitas fisik. Jika terjadi hal ini, penderita diabetes dapat berkonsultasi dengan dokter gizi klinik.
  2. Jika pasien atau keluarga pasien merasakan gejala psikologis, seperti depresi, kurang berminat terhadap hal yang biasanya menyenangkan untuk dirinya, sedih terus-menerus, pasien dapat berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater (dokter spesialis kedokteran jiwa). 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Primecare Clinic Memiliki Program Manajemen Diabetes

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes (terdapat CGM) yang dapat membantumu mengelola gula darah dan gejala diabetes, serta menurunkan kadar HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 


22-_1_-1200x800.webp

September 8, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Rasa haus terjadi ketika tubuh kehilangan cairan. Rasa haus biasanya muncul setelah berolahraga, beraktivitas, puasa, atau saat cuaca panas. Normalnya, rasa haus akan menghilang setelah kita minum air putih dengan cukup.

Jika rasa haus muncul terus-menerus meski sudah banyak minum, hal ini bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan, salah satunya diabetes. Artikel ini akan membahas mengenai gejala sering haus pada diabetes, penyebabnya, serta kapan harus segera periksa ke dokter.

Apa Itu Gejala Sering Haus pada Penderita Diabetes?

Dalam dunia medis, gejala sering haus disebut polidipsia. Penderita diabetes dapat mengalami gejala sering haus walaupun sudah banyak minum air putih. 

Kondisi ini terjadi karena kadar gula darah yang tinggi. Ginjal akan bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan gula darah melalui air kencing atau urin. 

Akibatnya, tubuh kehilangan banyak cairan dan menimbulkan rasa haus yang berlebihan. Karena itu, penderita diabetes masih merasa sering haus meskipun sudah minum cukup air. 

Apakah Sering Haus Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Rasa sering haus adalah salah satu gejala yang bisa dirasakan oleh penderita diabetes. Namun, sering haus tidak selalu menjadi gejala diabetes. Rasa haus berlebihan juga bisa disebabkan oleh berbagai faktor selain diabetes, seperti:

1. Dehidrasi

Dehidrasi adalah kondisi saat tubuh kekurangan cairan, sehingga menyebabkan rasa haus. Dehidrasi bisa terjadi karena kurang minum, banyak berkeringat, diare, muntah-muntah, serta aktivitas fisik yang berat.

2. Konsumsi Makanan Asin

Makanan asin mengandung garam atau natrium. Sering mengonsumsi makanan asin dapat membuat kadar natrium dalam darah meningkat. Hal itu menyebabkan tubuh membutuhkan lebih banyak air untuk menyeimbangkannya.

3. Olahraga atau Aktivitas Fisik Berat

Saat berolahraga atau melakukan aktivitas fisik yang berat, tubuh mengeluarkan cairan melalui keringat. Akibatnya, cairan tubuh akan berkurang dan menimbulkan rasa haus.

4. Kondisi Medis Tertentu

Ada berbagai kondisi medis yang menyebabkan gejala sering haus. Beberapa penyakit yang menyebabkan sering haus antara lain diabetes insipidus, anemia, dan ketoasidosis diabetik. 

Rasa haus yang normal akan hilang setelah cukup minum air. Karena itu, jika seseorang tetap merasa sering haus walaupun sudah banyak minum, maka sebaiknya segera konsultasi dengan dokter agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Penyebab sering Haus pada Penderita Diabetes

Pada penderita diabetes, penyebab rasa sering haus adalah karena kadar gula darah yang tinggi atau hiperglikemia. Saat kadar gula darah tinggi, tubuh berusaha membuang kelebihan glukosa melalui urine. Cairan tubuh pun ikut terbuang dan menyebabkan rasa haus.

Penderita diabetes biasanya juga mengalami gejala sering buang air kecil atau disebut poliuria. Hal ini terjadi karena ginjal berusaha mengeluarkan gula berlebih bersama urin sehingga sering merasakan ingin buang air kecil. Hal ini dapat membuat tubuh kekurangan cairan.

Apakah sering Haus pada Penderita Diabetes Berbahaya?

Sering haus pada penderita diabetes bisa menjadi tanda bahwa gula darah tidak terkontrol. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berbahaya karena bisa menyebabkan komplikasi serius seperti kerusakan ginjal, dehidrasi berat, dan kerusakan saraf.

Cara Mencegah dan Mengatasi sering Haus pada Penderita Diabetes

Untuk mengurangi rasa haus berlebihan, penderita diabetes dapat melakukan beberapa langkah berikut:

1. Mengontrol Kadar Gula Darah

Penderita diabetes harus mengontrol kadar gula darahnya dengan pola makan sehat, olahraga teratur, dan obat-obatan sesuai anjuran dokter.

2. Memperbanyak Konsumsi Air Putih

Penderita diabetes bisa mengalami gejala sering kencing yang menyebabkan cairan tubuh banyak keluar. Agar tidak dehidrasi, maka cukupi kebutuhan cairan sesuai kebutuhan.

3. Menghindari Makanan Terlalu Asin atau Pedas

Makanan asin atau pedas dapat menyebabkan rasa haus. Jadi hindari makanan tersebut dan gantilah dengan makanan sehat.

Kapan Harus ke Dokter?

Penderita diabetes atau orang yang mengalami rasa haus berlebihan sebaiknya segera ke dokter jika mengalami kondisi berikut:

  • Rasa haus tidak berkurang meski sudah minum cukup air.
  • Disertai gejala lain seperti sering buang air kecil, lemas, kelelahan berlebih, diare, muntah terus menerus, atau penurunan berat badan yang drastis.
  • Timbul tanda dehidrasi berat, seperti mulut kering, pusing, dan lemas. 

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk mengatasi masalah gula darah. Namun, jika terdapat kondisi darurat seperti dehidrasi berat, sangat lemas, atau penurunan kesadaran segera ke IGD terdekat untuk mendapatkan pertolongan. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes (terdapat CGM) yang dapat membantumu mengelola gula darah dan gejala diabetes, serta menurunkan kadar HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 


64128-_1_-1200x800.webp

September 8, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Apakah kamu mudah mengantuk walaupun sudah cukup tidur? Mudah mengantuk bisa disebabkan dari hal yang wajar seperti kurang tidur, kurang istirahat dan kelelahan karena banyaknya aktivitas. Namun, mudah mengantuk juga bisa menjadi gejala adanya masalah pada tubuh. 

Pada penderita diabetes, mudah mengantuk dan rasa kantuk yang berlebihan bisa menjadi tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Kondisi ini bisa terkait dengan kadar gula darah yang tidak stabil.

Lalu, bagaimana membedakannya dengan rasa kantuk yang masih normal, bagaimana cara mengatasinya, dan kapan harus ke dokter? Mari kita pahami bersama di artikel ini! 

Apa Itu Gejala Mudah Mengantuk pada Penderita Diabetes?

Mudah mengantuk pada penderita diabetes adalah rasa lelah berlebihan yang membuat seseorang sering mengantuk dan ingin tidur, meskipun sudah cukup istirahat.

Pada penderita diabetes, gejala ini bisa muncul karena kadar gula darah yang terlalu tinggi (hiperglikemia) maupun terlalu rendah (hipoglikemia).

Apakah Mudah Mengantuk Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Penderita diabetes memang bisa mengalami gejala mudah mengantuk. Namun, jika seseorang mudah mengantuk bukan berarti pasti menderita diabetes. Jadi, mudah mengantuk tidak selalu menjadi gejala diabetes.

Rasa kantuk yang berlebih juga bisa disebabkan oleh faktor lain, seperti:

  • Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk dan kelelahan. 
  • Mengalami sleep apnea, yaitu gangguan tidur yang menyebabkan gangguan napas saat sedang tidur.
  • Mengalami gangguan tidur, misalnya narkolepsi yaitu gangguan sistem saraf yang menyebabkan seseorang mudah mengantuk.
  • Kelainan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroidisme. 
  • Efek samping obat-obatan. 

Penyebab Mudah Mengantuk pada Penderita Diabetes

Penderita diabetes dapat mengalami gejala mudah mengantuk. Ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan rasa kantuk sering muncul. Beberapa penyebab utama rasa kantuk berlebihan pada penderita diabetes antara lain:

1. Kadar Gula Darah Tinggi (Hiperglikemia) 

Penderita diabetes mengalami masalah dalam metabolisme glukosa. Akibatnya, gula darah tidak dapat dimetabolisme menjadi energi dan tetap beredar di aliran darah.

Hal tersebut menyebabkan tubuh tidak mendapat cukup energi. Akibatnya, tubuh akan terasa lemas dan cenderung mengantuk terus-menerus.

Gula darah yang tinggi juga dapat menyebabkan komplikasi. Salah satu komplikasi yang mungkin terjadi adalah ketoasidosis diabetik. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran pada penderitanya.

2. Kadar Gula Darah Rendah (Hipoglikemia) 

Gula darah yang terlalu rendah atau hipoglikemia juga dapat menyebabkan seseorang mudah mengantuk. Gula darah yang turun drastis dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi. Akibatnya,  penderita merasa lemas dan mudah mengantuk.

3. Gangguan Tidur Akibat Diabetes

Penderita diabetes dapat mengalami gejala sering kencing pada malam hari. Hal ini bisa mengganggu kualitas tidurnya. Selain itu, diabetes juga dapat menyebabkan kerusakan saraf atau neuropati. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa nyeri seperti tangan terasa kesemutan, nyeri, atau mati rasa. Jika rasa nyeri muncul pada malam hari, maka bisa menyebabkan susah tidur.

Apakah Mudah Mengantuk pada Penderita Diabetes Itu Berbahaya?

Mudah mengantuk bisa menjadi hal yang normal, tapi bisa juga menjadi tanda bahaya yang tidak bisa dianggap sepele. Rasa mudah mengantuk yang normal akan menghilang ketika sudah cukup tidur dan istirahat.

Jika seseorang mengalami rasa kantuk berlebih walaupun sudah cukup tidur, maka perlu diwaspadai. Apalagi jika rasa kantuk berlebihan dan cenderung tidur sepanjang hari.

Pada penderita diabetes, hal ini bisa menjadi tanda kadar gula darah yang tidak terkontrol, baik terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Dalam jangka panjang hal itu dapat meningkatkan risiko komplikasi serius seperti kerusakan saraf, ginjal, dan jantung.

Cara Mencegah dan Mengatasi Mudah Mengantuk pada Penderita Diabetes

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa kantuk berlebihan pada penderita diabetes, yaitu:

  • Mengontrol gula darah melalui pola makan sehat, olahraga, dan minum obat sesuai anjuran dokter.
  • Menjaga pola tidur yaitu dengan tidur cukup 7–8 jam setiap harinya.
  • Mengatur pola makan sehat dengan menghindari makanan tinggi gula, serta memperbanyak konsumsi serat, protein, dan karbohidrat kompleks.
  • Rutin olahraga, aktivitas fisik membantu meningkatkan energi dan memperbaiki kualitas tidur.
  • Mengelola stres dengan relaksasi, meditasi, atau konsultasi dengan ahlinya. 

Kapan Harus ke Dokter?

Penderita diabetes atau siapa saja yang mengalami mudah mengantuk perlu segera berkonsultasi ke dokter jika:

  • Rasa kantuk muncul terus-menerus meski sudah cukup tidur dan istirahat. 
  • Rasa mudah mengantuk disertai gejala lain seperti sering haus, sering buang air kecil, penurunan berat badan drastis. 
  • Mengantuk dan cenderung tidur sepanjang hari yang mengindikasikan adanya penurunan tingkat kesadaran.

Jika seseorang mengalami gejala di atas, maka segera konsultasikan ke dokter. Kamu bisa ke dokter umum terlebih dahulu untuk pemeriksaan awal. Jika diperlukan, dokter umum akan memberikan rujukan ke dokter spesialis. Pada kondisi diabetes, kamu bisa konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam untuk mengontrol gula darah. 

Jika curiga ada kondisi gawat darurat seperti cenderung tidur terus menerus, maka segera bawa ke IGD terdekat. Kondisi penurunan kesadaran perlu dilakukan penanganan dengan segera. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare clinic menyediakan layanan manajemen diabetes (ada CGM) bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Program ini bisa membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C dan mengelola gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut. 


diabetes-777001_1280-1200x800.webp

September 4, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Apakah kamu pernah mendengar istilah prediabetes? Prediabetes adalah kondisi yang bisa menjadi “lampu kuning” sebelum berlanjut menjadi diabetes. Sayangnya, banyak orang yang tidak sadar ketika mengalami prediabetes karena tidak menimbulkan gejala yang khas. 

Padahal, jika terdeteksi lebih awal, kondisi prediabetes masih bisa dicegah agar tidak berkembang menjadi diabetes. Karena itu, kamu perlu mengenali prediabetes agar dapat melakukan pencegahan. Yuk, kenali lebih dalam tentang prediabetes di artikel ini!

Apa Itu Prediabetes?

Prediabetes adalah kondisi saat kadar gula darah seseorang sudah lebih tinggi dari normal, tetapi belum cukup tinggi untuk dikategorikan sebagai diabetes tipe 2.

Prediabetes bisa menjadi sinyal awal yang menunjukkan bahwa tubuh mulai mengalami resistensi insulin sehingga proses metabolisme gula darah terganggu. Gula darah pun menumpuk di aliran darah dan menyebabkan kadar gula darah meningkat. 

Berdasarkan Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) tahun 2021, seseorang dikategorikan mengalami prediabetes jika:

  • Kadar gula darah puasa (GDP): 100–125 mg/dl
  • Kadar gula darah 2 jam setelah makan atau pada tes toleransi glukosa oral (TTGO): 140–199 mg/dL
  • Nilai HbA1c: 5,7–6,4%

Diagnosis prediabetes dilakukan dengan pemeriksaan kadar gula darah atau HbA1c. Oleh karena itu, kamu perlu periksa kadar gula darah secara rutin. 

Apakah Prediabetes bisa Sembuh dan Kembali Normal?

Kabar baiknya, prediabetes bisa sembuh dan kembali normal sehingga tidak berlanjut menjadi diabetes. Namun, perlu usaha yang konsisten dengan melakukan perubahan gaya hidup agar kadar gula darah bisa kembali normal. 

Berikut kriteria kadar gula darah yang normal menurut PERKENI 2021:

  • Glukosa darah puasa: 70-99 mg/dL
  • Tes toleransi glukosa oral 2 jam: 70-139  mg/dL
  • HbA1c: < 5,7%.

Cara agar Kondisi Prediabetes bisa Kembali Normal

Prediabetes bisa kembali normal dengan melakukan perubahan gaya hidup menjadi gaya hidup sehat secara konsisten. Berikut beberapa cara agar prediabetes bisa dikendalikan dan kadar gula darah kembali normal:

1. Menurunkan Berat Badan

Berat badan berlebih atau obesitas adalah salah satu faktor risiko terjadinya prediabetes dan diabetes. Menurunkan berat badan agar kembali normal dapat menurunkan risiko berkembangnya prediabetes menjadi diabetes tipe 2.

2. Mengatur Pola Makan

Untuk menurunkan kadar gula darah, bukan berarti harus puasa atau sama sekali menghindari makanan yang mengandung gula. Namun, kamu harus mengetahui kebutuhan asupan harian dan jangan mengonsumsi makanan atau minuman melebihi kebutuhan. 

Konsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah seperti sayur, biji-bijian utuh, dan protein tanpa lemak. Kurangi asupan gula tambahan dan karbohidrat olahan agar kadar gula darah tidak melonjak. 

3. Olahraga Teratur

Aktivitas fisik adalah salah satu langkah penting dalam mencegah diabetes. Selain untuk menjaga kebugaran, aktivitas fisik atau olahraga juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin. Dengan begitu dapat membantu mengontrol kadar gula darah.

Aktivitas fisik yang dianjurkan berupa latihan fisik yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang seperti jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Perlu diingat bahwa kegiatan sehari-hari tidak termasuk dalam latihan fisik. 

Aktivitas fisik atau olahraga yang direkomendasikan adalah 150 menit per minggu yang dapat dibagi menjadi 3-5 kali per minggu dengan masing-masing sesi olahraga selama 30-45 menit.

4. Pantau Kadar Gula Darah Secara Rutin

Rutin memeriksakan kadar gula darah membantu mengetahui perkembangan dan efektivitas perubahan gaya hidup. Dengan begitu, kamu bisa menyesuaikan diet dan olahraga sesuai kebutuhan. 

Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan agar Prediabetes bisa Menjadi Normal?

Waktu yang dibutuhkan agar prediabetes kembali normal bisa berbeda-beda. Hal ini tergantung pada berbagai faktor seperti usia, genetik, serta seberapa serius seseorang menerapkan perubahan gaya hidup.

Biasanya, kadar gula darah bisa kembali normal dalam beberapa bulan dengan pola makan sehat, rutin olahraga, dan gaya hidup sehat.

Apakah bisa Kembali Mengalami Prediabetes Lagi setelah Sembuh?

Ya, seseorang yang sudah sembuh dari prediabetes tetap memiliki risiko untuk kembali mengalami prediabetes. Hal ini biasanya terjadi jika kembali menerapkan pola hidup tidak sehat.

Perlu dipahami bahwa kadar gula darah bisa naik atau turun. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah pola hidup. Oleh karena itu, meskipun kadar gula darah sudah normal, penting untuk tetap menjaga berat badan ideal, pola makan sehat, aktivitas fisik rutin, dan pemeriksaan kesehatan rutin.

Prediabetes Harus Konsultasi ke Dokter Apa?

Untuk konsultasi awal, penderita prediabetes bisa periksa ke dokter umum untuk mendapatkan arahan lebih lanjut. Jika dibutuhkan, dokter umum akan merujuk ke dokter spesialis, khususnya dokter spesialis penyakit dalam. 

Jika ingin langsung ke dokter spesialis, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam. Biasanya, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh termasuk tes laboratorium.

Jika mengalami prediabetes, dokter juga akan memberikan panduan gizi, rekomendasi aktivitas fisik, dan pengobatan jika diperlukan. Penderita prediabetes harus rutin kontrol untuk mengetahui perkembangan kondisinya dan mencegah diabetes tipe 2.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Primecare Clinic Memiliki Program Manajemen Diabetes 

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes (ada CGM) yang dapat membantumu mengelola gula darah dan gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 


subagus-indra-XkaqvzSOgvE-unsplash-1200x1800.webp

September 4, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Soto ayam sering dianggap sebagai pilihan makanan yang sehat. Kuah bening yang hangat, potongan ayam tanpa kulit, serta tambahan sayuran membuatnya terlihat menarik untuk siapapun, termasuk penderita diabetes.

Namun, faktanya beberapa bahan dalam soto ayam tetap bisa memengaruhi kadar gula darah bila tidak dikendalikan dengan baik.

Apakah Penderita Diabetes Boleh Makan Soto Ayam?

Penderita diabetes tetap bisa menikmati soto ayam, dengan catatan porsi dan pilihan bahan pelengkapnya diperhatikan. Sekilas, soto ayam memang terlihat lebih sehat, tetapi tambahan seperti nasi putih, soun, atau kentang tetap berisiko memicu lonjakan gula darah bila dikonsumsi terlalu banyak.

Indeks Glikemik Bahan pada Soto Ayam

Untuk memahami pengaruh soto ayam terhadap gula darah, mari perhatikan beberapa bahan utamanya:

1. Nasi Putih atau Soun (Mie Putih)

Kedua bahan ini merupakan sumber utama karbohidrat dengan indeks glikemik tergolong sedang hingga tinggi. Oleh karena itu, jika dikonsumsi dalam porsi terlalu besar bisa cepat meningkatkan kadar gula darah.

2. Ayam

Berbeda dengan karbohidrat, ayam berperan sebagai sumber protein hewani yang bisa membantu memperlambat penyerapan gula dari makanan.

3. Kuah Soto

Sering dianggap aman, padahal kuah bening bisa mengandung natrium (garam) cukup tinggi. Jika dimasak dengan santan, kadar lemak jenuh pun meningkat. Sebaiknya kuah tetap dikonsumsi dalam jumlah terbatas, ya.

4. Telur Rebus

Telur rebus juga merupakan tambahan protein dan lemak sehat yang relatif aman untuk penderita diabetes, asalkan jumlahnya tidak berlebihan.

5. Tauge dan Kol

Tauge dan kol adalah sayuran yang kaya akan serat, vitamin, dan mineral. Kandungan serat berperan penting dalam memperlambat peningkatan kadar gula darah.

6. Bawang Goreng

Meskipun dapat meningkatkan aroma dan rasa makanan, bawang goreng mengandung kalori dan lemak yang cukup tinggi, sehingga sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah yang tidak berlebihan.

Tips Makan Soto Ayam yang Aman untuk Penderita Diabetes

Meski ada potensi risiko, bukan berarti penderita diabetes harus menjauhi soto ayam sepenuhnya. Beberapa hal yang bisa diperhatikan antara lain:

1. Batasi Karbohidrat

Kurangi porsi nasi atau pilih setengah saja. Jika menggunakan soun, jangan ditambah nasi agar tidak dobel karbohidrat.

2. Perbanyak Sayuran

Tambahkan tauge, kol, atau sayuran lain untuk meningkatkan serat yang bermanfaat memperlambat kenaikan gula darah.

3. Pilih Ayam Tanpa Kulit

Daging ayam memberi asupan protein yang membantu mencegah terjadinya lonjakan gula darah.

4. Hati-hati dengan Kuah 

Kuah bening lebih baik daripada santan, namun tetap sebaiknya dikonsumsi secukupnya dan tidak terlalu banyak menambahkan minyak atau sambal.

5. Kurangi Bawang Goreng

Cukup gunakan sedikit saja untuk aroma, agar tidak menambah kalori berlebih.

6. Atur Frekuensi

Penderita diabetes boleh menikmati soto ayam sesekali. Namun, tidak disarankan menjadi menu harian.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika setelah makan soto ayam, penderita diabetes mengalami gejala lonjakan gula darah yang cukup terasa, segera periksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu, konsultasikan juga dengan dokter gizi klinik guna memperoleh panduan pola makan yang lebih aman dan sesuai kondisi tubuh.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Primecare Clinic Memiliki Program Manajemen Diabetes 

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang memiliki program manajemen diabetes (ada CGM). Program ini bisa membantumu untuk mengelola gejala diabetes seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


966-1-1200x800.webp

September 3, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Memiliki kulit normal dan sehat adalah keinginan bagi semua orang. Kulit dapat dikatakan normal jika dalam kondisi seimbang dimana kulit dalam keadaan tidak kering dan juga tidak berminyak. Sayangnya, tidak semua orang dapat memiliki kulit yang normal dan sehat karena adanya kondisi tertentu, salah satunya yaitu kondisi kulit kering.

Masalah pada kulit kering biasanya terjadi karena kurangnya hidrasi sehingga kelembapan pada kulit berkurang yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Kondisi kulit kering juga sering menjadi gejala yang menyertai beberapa penyakit, salah satunya adalah diabetes. 

Apa itu Kulit Kering pada Penderita Diabetes?

Kulit kering adalah kondisi yang sering terjadi pada penderita diabetes yang diakibatkan oleh beberapa faktor. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus karena penderita diabetes rentan terkena infeksi. Infeksi pada kulit nantinya dapat menjadi komplikasi kulit yang lebih parah sehingga perlu mendapat perawatan dan terapi yang tepat.

Apakah Kulit Kering selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Tidak, kulit kering tidak selalu ditemukan pada penderita diabetes. Selain diabetes, kondisi kulit kering sering ditemukan pada orang normal yang mengalami kehilangan kelembapan kulit. Akan tetapi, kulit kering sering menjadi gejala yang dirasakan oleh penderita diabetes karena beberapa sebab. 

Penyebab Kulit Kering pada Penderita Diabetes

Beberapa penyebab kulit kering pada penderita diabetes saling berhubungan, adalah:

1. Sirkulasi darah yang kurang baik

Meningkatnya kadar gula dalam darah menyebabkan gangguan sirkulasi darah ke kulit dan terjadi penarikan cairan dari sel dimana kedua hal ini menyebabkan dehidrasi sehingga kulit menjadi kering.

2. Neuropati otonom 

Neuropati otonom (gangguan saraf) merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien diabetes. Salah satu penyebab kerusakan saraf dapat juga disebabkan karena tingginya kadar gula dalam darah. Hal ini menyebabkan menurunnya produksi keringat sehingga kulit kehilangan kelembapan dan menjadi kering.

Apa Bahaya Kulit Kering pada Penderita Diabetes?

Sebetulnya, kulit kering tidak memberikan efek yang berbahaya secara langsung. Namun, kulit kering yang tidak dirawat dengan baik dapat memperparah kondisi yang kemudian menimbulkan komplikasi. Berikut beberapa kondisi yang dapat memicu bahayanya kulit kering pada penderita diabetes jika tidak dirawat dengan tepat, yaitu:

1. Rasa gatal yang dapat mengiritasi kulit

Kulit kering dapat menimbulkan rasa gatal yang kadang sulit dikontrol untuk tidak menggaruknya. Aktivitas menggaruk pada kulit kering dapat berbahaya karena dapat menyebabkan rusaknya skin barrier kulit dan membuat kulit mudah terluka.

2. Dapat memicu infeksi

Pasien diabetes sangat rentan terhadap infeksi. Kondisi dimana terdapat robekan kulit atau kulit pecah-pecah yang disebabkan oleh kulit kering dapat memudahkan kulit yang luka tadi menjadi port de entry (jalur masuk) bagi mikroba penyebab infeksi. 

3. Komplikasi

Karena pasien diabetes memiliki kadar gula yang tinggi dalam darah, proses perbaikan luka akan berjalan lambat dan kemampuan imunitas tubuh yang digunakan untuk melawan bakteri menurun. Jika infeksi tidak ditangani dengan cepat dan tepat, hal ini dapat menimbulkan komplikasi yang lebih parah.

Salah satu komplikasi yang sering terjadi pada penderita diabetes adalah kaki diabetik yang dapat berkembang menjadi ulkus diabetik. Kondisi ini dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, serta menurunkan kualitas hidup pasien.

Pencegahan dan Terapi untuk Kulit Kering pada Penderita Diabetes

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki tekstur kulit agar terhindar dari kulit kering. Selain itu, beberapa tips di bawah ini juga bisa menjadi manajemen terapi pada penderita diabetes yang mengalami kulit kering, di antaranya: 

1. Kontrol gula darah

Bagi penderita diabetes, salah satu target terapi obat antidiabetes (OAD) adalah mengontrol kondisi hiperglikemia yang nantinya dapat mengurangi aktivitas penarikan cairan dari sel sehingga mencegah terjadinya dehidrasi pada kulit.

2. Gunakan pelembab setiap hari

Beberapa tips yang dapat digunakan dalam memilih pelembab, di antaranya:

  1. Gunakan krim atau salep karena dapat memberikan efek healing lebih baik daripada lotion untuk kulit kering.
  2. Pilih krim atau salep yang mengandung ceramide, tetapi tidak mengandung pewangi (fragrance)
  3. Gunakan krim atau salep setelah mandi, berenang, dan kapan pun merasa kering.
  4. Pada saat sebelum tidur, untuk kondisi tumit pecah-pecah dapat melakukan tips di bawah ini:
  • menggunakan krim yang mengandung urea 10-25%. 
  • setelahnya, dapat juga ditambahkan salep/krim lainnya, seperti petroleum jelly.
  • selanjutnya, gunakan kaus kaki katun ketika tidur untuk menjaga kelembapan telapak kaki.

3. Gunakan sabun dengan formula bahan yang lembut

Sabun dengan bahan antiseptik dapat mengiritasi kulit yang sensitif sehingga dapat memperparah kondisi kulit kering. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk memilih sabun dengan formula bahan yang lembut.

4. Berikan penanganan segera pada kulit yang luka

Penanganan awal kulit yang luka adalah dengan membersihkan luka menggunakan air bersih atau cairan NaCl 0,9%. Kemudian gunakan salep antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi pada kulit yang dapat menyebabkan komplikasi. 

5. Melakukan perawatan pada kaki

  1. Potong kuku secara teratur untuk menjaga kuku agar tidak panjang dengan tujuan untuk menghindari infeksi di bawah kuku dan mencegah terjadinya iritasi jika tidak sengaja menggaruk akibat rasa gatal yang mengganggu.
  2. Perhatikan adanya kalus. Jika terdapat kalus pada telapak kaki segera lakukan perawatan medis agar tidak menimbulkan retakan/kulit pecah-pecah yang dapat menjadi jalur masuk infeksi. 

Kapan Penderita Diabetes dengan Kulit Kering Perlu ke Dokter?

Beberapa kondisi kulit kering pada penderita diabetes membutuhkan penanganan khusus yang tidak dapat dilakukan di rumah, di antaranya: 

1. Jika kulit kering tidak kunjung membaik dan menimbulkan rasa tidak nyaman

Biasanya terapi kulit kering berupa pemberian pelembab dapat diresepkan oleh dokter umum ataupun dokter spesialis penyakit dalam. Namun, jika kondisi ini tidak kunjung membaik dapat dirujuk ke dokter spesialis dermatologi. 

2. Adanya tanda atau gejala yang mengarah pada infeksi kulit

Beberapa kondisi komplikasi akibat infeksi kulit seperti selulitis, pasien dapat diberikan rujukan ke dokter spesialis bedah untuk diperiksa dan diterapi lebih lanjut.

3. Luka yang tidak sembuh atau memburuk

Jika pasien sudah melakukan perawatan luka di rumah atas anjuran dokter, tetapi kondisi lukanya tidak membaik dan cenderung bertambah parah, seperti adanya nanah pada luka, terdapat kerak berwarna kekuningan maka pasien dapat memeriksakan kembali kondisi lukanya ke dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), baik itu oleh dokter umum ataupun dokter spesialis penyakit dalam, dimana pasien melakukan kontrol rutin. 

Jika kondisi luka bertambah parah dan menimbulkan komplikasi, seperti ulkus diabetik yang dalam maka pasien akan dirujuk ke dokter spesialis bedah untuk dilakukan prosedur perawatan luka yang lebih lanjut.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan program manajemen diabetes (tersedia CGM) dan layanan dokter spesialis untuk diabetes seperti penyakit dalam, gizi klinik, kulit, dsb. Kalau kamu memiliki diabetes dan tertarik untuk tahu lebih lanjut terkait layanan dokter dan program manajemen diabetes, klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.