indonesia-6033061_1280-1200x900.webp

September 3, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Mie ayam merupakan salah satu makanan favorit banyak orang. Kuahnya yang gurih, mie yang kenyal, ditambah potongan ayam, sawi, dan pelengkap seperti bakso atau pangsit, membuat siapa pun bisa tergoda. Namun, untuk penderita diabetes, hal ini bisa menjadi dilema.

Apakah Penderita Diabetes Boleh Makan Mie Ayam?

Jawabannya: boleh, tapi dengan syarat tertentu. Diabetes bukan berarti harus berhenti mengonsumsi makanan yang disukai. Hal yang perlu diperhatikan adalah pengaturan porsi, pemilihan bahan, serta frekuensi konsumsinya.

Mie ayam memang mengandung karbohidrat tinggi yang dapat membuat gula darah melonjak lebih cepat. Namun, jika dikonsumsi dengan bijak, mie ayam tetap bisa masuk dalam menu harian sesekali. Jadi, konsumsi mie ayam tidak dilarang, namun cara makannya perlu disesuaikan.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Bahan pada Mie Ayam

Berikut beberapa bahan utama mie ayam dan bagaimana pengaruhnya ketika dikonsumsi:

1. Mie

Mie mengandung karbohidrat dengan indeks glikemik sedang hingga tinggi. Artinya, mie dapat menaikkan kadar gula darah relatif cepat, apalagi jika porsinya banyak dan tidak diimbangi dengan asupan serat.

2. Ayam

Sumber protein hewani yang relatif aman untuk penderita diabetes. Protein dapat membantu memperlambat penyerapan karbohidrat sehingga lonjakan gula darah tidak terlalu tajam, terutama jika ayam dimasak tanpa kulit dan tidak terlalu berlemak.

3. Sawi Hijau

Sawi hijau kaya serat, vitamin, dan mineral. Serat inilah yang membantu memperlambat laju kenaikan gula darah sekaligus menambah rasa kenyang.

4. Bakso

Secara umum mengandung protein, namun pembuatannya ditambah tepung dan lemak jenuh. Beberapa bakso juga tinggi natrium, sehingga jika dikonsumsi berlebihan bisa memengaruhi kesehatan jantung dan tekanan darah.

5. Pangsit Goreng atau Rebus

Pangsit dengan jumlah tepung terigu yang banyak juga dapat memicu naiknya gula darah. Jika digoreng, kandungan lemak dan kalorinya pun lebih tinggi. Artinya, pangsit sebaiknya dibatasi atau bahkan dihindari bila ingin menjaga gula darah tetap stabil.

Berdasarkan komposisi di atas, bisa disimpulkan bahwa mie ayam punya beban glikemik yang cukup tinggi, terutama jika porsinya besar dan didominasi mie.

Cara Makan Mie Ayam yang Aman untuk Penderita Diabetes

Ada beberapa tips agar mie ayam tetap bisa dinikmati tanpa membuat lonjakan gula darah yang drastis:

1. Batasi Porsi Mie

Jangan langsung menghabiskan satu porsi penuh. Bisa dibagi dua dengan teman atau keluarga, atau kombinasikan dengan sumber serat lain seperti sayuran rebus.

2. Tambah Porsi Sayuran

Minta tambahan sawi atau sayuran lain agar serat lebih banyak untuk membantu memperlambat penyerapan glukosa.

3. Pilih Topping dengan Bijak

Ayam tanpa kulit lebih baik dibanding bakso atau pangsit goreng. Kalau ingin tetap makan bakso, batasi porsinya.

4. Perhatikan Frekuensi

Jangan konsumsi terlalu sering. Sesekali boleh, asalkan pola makan sehari-hari tetap seimbang.

5. Kombinasikan dengan Aktivitas Fisik

Setelah makan, lakukan aktivitas ringan seperti berjalan untuk membantu tubuh mengelola gula darah.

Kapan Harus ke Dokter?

Meski sudah berhati-hati, ada kalanya tubuh memberi tanda bahwa gula darah sulit dikendalikan. Jika setelah makan mie ayam muncul tanda gula darah sedang melonjak, segera cari bantuan medis. 

Gejala yang muncul berulang atau tidak membaik perlu segera ditangani. Konsultasikan ke dokter spesialis penyakit dalam untuk evaluasi lebih lanjut. Selain itu, penderita diabetes juga bisa mendapatkan panduan pola makan yang lebih personal dari dokter gizi klinik.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Primecare Clinic Memiliki Program Manajemen Diabetes dan Dokter Spesialis Gizi Klinik

Primecare clinic saat ini memiliki dokter spesialis gizi klinik dan program manajemen diabetes (ada CGM) yang bisa membantu penderita diabetes untuk mengelola gejala diabetes yang dialami. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2149243012-1-1200x801.webp

September 2, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Menurunkan berat badan sering dianggap sebagai pencapaian, apalagi bila terjadi lewat pola makan sehat dan olahraga rutin. Namun, ketika berat badan justru turun tiba-tiba tanpa usaha apa pun, situasi ini perlu dicermati. Salah satu penyebab yang sering tersembunyi di balik kondisi tersebut adalah diabetes.

Mengapa Berat Badan Bisa Turun karena Diabetes?

Secara sederhana, tubuh orang dengan diabetes tidak mampu menggunakan glukosa sebagai sumber energi karena kekurangan insulin atau adanya resistensi insulin. Padahal, glukosa merupakan “bahan bakar utama” bagi sel-sel tubuh. Ketika glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel, tubuh terpaksa mencari sumber energi lain.

Sebagai gantinya, lemak dan otot mulai dipecah untuk dijadikan cadangan energi. Proses pemecahan ini membuat tubuh kehilangan banyak kalori sekaligus cairan, sehingga berat badan turun lebih cepat. Tidak jarang, penurunan berat badan ini terjadi meski porsi makan tetap normal, bahkan lebih banyak dari biasanya.

Perbedaan Berat Badan Turun Normal dan karena Diabetes

Penurunan berat badan yang terjadi secara sehat biasanya berlangsung perlahan. Ada perubahan pola makan, ada rutinitas olahraga, dan tubuh menyesuaikan diri secara bertahap. Biasanya tidak ada keluhan lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Penurunan berat badan yang sehat dilakukan dengan defisit kalori, kondisi makan di atas BMR, tetapi di bawah TDEE (untuk menghitung BMR dan TDEE, klik tautan ini).

Sebaliknya, penurunan berat badan karena diabetes datang tanpa diduga. Berat badan bisa menyusut dengan cepat, padahal porsi makan tidak berkurang, bahkan kadang bertambah. Gejala lain pun sering menyertai, seperti rasa haus yang tak kunjung hilang, frekuensi buang air kecil meningkat, tubuh terasa lelah, atau penglihatan menjadi kabur.

Cara Mendeteksi Berat Badan Turun karena Diabetes

Salah satu tanda yang patut diwaspadai adalah perubahan drastis dalam waktu singkat. Jika berat badan menyusut lebih dari 5–10% dalam beberapa bulan tanpa alasan jelas, kondisi ini tidak boleh dianggap biasa. Apalagi kalau penurunan tersebut datang bersama gejala khas diabetes, seperti rasa haus berlebihan atau tubuh yang terus-menerus lemah.

Cara Mengatasi Berat Badan Turun karena Diabetes

Cara utama untuk menghentikan penurunan berat badan yang tidak wajar adalah dengan mengendalikan kadar gula darah. Saat kadar gula darah terjaga, tubuh bisa kembali menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama sehingga tidak lagi menggunakan cadangan lemak dan otot.

Selain itu, perhatikan pola makan bergizi seimbang dan aktivitas fisik yang sesuai bisa membantu memulihkan energi dan menjaga massa otot. 

Cara Mencegah Berat Badan Turun karena Diabetes

Kabar baiknya, penurunan berat badan akibat diabetes dapat dicegah. Kuncinya ada pada deteksi dini dan gaya hidup yang terjaga. 

1. Periksa Gula Darah secara Berkala

Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi perubahan kadar gula lebih cepat sehingga penanganan bisa dilakukan sejak dini.

2. Terapkan Pola Makan Sehat

Pilih makanan bergizi seimbang, batasi gula tambahan, dan perbanyak konsumsi serat agar kadar gula darah lebih stabil.

3. Bangun Kebiasaan Aktif Bergerak

Aktivitas fisik, seperti jalan kaki atau olahraga ringan, membantu tubuh mengatur kadar gula dan menjaga berat badan tetap sehat.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke dokter gizi klinik jika mengalami penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas, terutama jika terjadi cukup drastis dalam waktu singkat.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Dokter Spesialis Gizi di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami penurunan berat badan dengan jumlah besar tanpa alasan yang jelas, maka kamu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi. Primecare clinic memiliki dokter spesialis gizi untuk menangani masalah seputar berat badan dan penyakit metabolik (diabetes). Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


83205-1200x800.webp

September 2, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diabetes merupakan suatu kumpulan penyakit metabolik yang dikarakteristikkan dengan hiperglikemia yang disebabkan oleh resisten insulin, kelainan sekresi insulin, atau keduanya. Penyakit diabetes saat ini menunjukkan angka kejadian yang meningkat seiring dengan minimnya gaya hidup sehat dan meningkatnya angka obesitas yang menjadi faktor risiko terjadinya diabetes. 

Pasien dengan diabetes sangat rentan mengalami komplikasi. Beberapa komplikasi akan menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien diabetes. Oleh karena itu, sangat penting bagi pasien untuk memodifikasi gaya hidup, mengikuti program terapi yang dianjurkan oleh dokter, dan kontrol rutin ke dokter untuk memantau kondisi pasien.

Perlu ke Dokter Spesialis Apa Saja untuk Mengobati Penyakit Diabetes?

Diabetes seringkali menimbulkan komplikasi jika tidak diterapi dengan baik. Karenanya, dibutuhkan manajemen pencegahan dan terapi yang komprehensif dan terintegrasi pada pasien diabetes untuk menurunkan angka komplikasi dan/atau menurunkan derajat keparahan komplikasi. Untuk menerapkan hal ini, sangat dibutuhkan multidisiplin ilmu spesialisasi kedokteran, di antaranya:

1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Pasien yang dicurigai atau didiagnosis mengalami diabetes pada Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) I oleh dokter umum, perlu dirujuk ke PPK II yang akan ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam untuk dilakukan skrining awal dan pemeriksaan lebih lengkap. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi adanya komplikasi. 

Di Primecare Clinic, dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM adalah dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi di penyakit diabetes.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrin Metabolisme Diabetes

Jika pasien telah mendapatkan pelayanan di PPK II, dan ditemukan salah satu dari beberapa komplikasi, seperti adanya komplikasi akut berupa ketoasidosis; hyperglycemic/hyperosmolar state; tidak adanya penurunan hasil pemeriksaan  laboratorium pada diabetes dalam 3 bulan; tidak tercapainya target dalam terapi antidiabetes (AOD) tunggal dan kombinasi selama 3 bulan, dan lain-lain maka pasien perlu dirujuk ke PPK III untuk mendapatkan pelayanan dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes.

3. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Terapi yang memegang peranan penting selain terapi OAD pada pasien diabetes adalah mengatur pola makan. Untuk memenuhi kebutuhan gizi dengan asupan makanan sehat, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik. 

Dokter spesialis gizi klinik dapat membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan energi total harian yang akan dibagi ke dalam beberapa menu makanan. 

Bagi pasien yang mengalami overweight atau obesitas, selain mengatur pola makan untuk program penurunan berat badan, dokter gizi juga akan mengatur perubahan gaya hidup lainnya seperti, jenis dan frekuensi olahraga.

4. Dokter Spesialis Neurologi/Saraf

Salah satu komplikasi yang cukup sering terjadi pada pasien diabetes adalah neuropati. Neuropati sendiri adalah gangguan saraf di tubuh yang dapat menyebabkan nyeri, kesemutan, baal, dan lain sebagainya.

Pada pasien yang sudah didiagnosis diabetes dapat dilakukan pemeriksaan saraf untuk mengetahui adanya neuropati atau tidak. 

Gejala neuropati pada pasien diabetes di antaranya ialah nyeri seperti rasa terbakar, tersetrum, atau ditusuk-tusuk, gangguan keseimbangan, kesemutan, dan baal. Jika ditemukan beberapa gejala neuropati, pasien akan dirujuk ke dokter saraf untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

5. Dokter Spesialis Jantung

Sindrom koroner akut (SKA) akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner merupakan salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada diabetes. Pasien yang mengalami serangan jantung (SKA) dengan tipe penyumbatan total perlu dirujuk ke dokter spesialis jantung untuk dilakukan percutaneous coronary intervention (PCI) dengan tujuan untuk melancarkan kembali aliran darah pada pembuluh darah koroner.

6. Dokter Spesialis Mata

Evaluasi komprehensif perlu dilakukan pada pasien diabetes, salah satunya dengan merujuk pasien ke dokter spesialis mata untuk dilakukan pemeriksaan funduskopi. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi adanya komplikasi retinopati diabetik yang menyerang retina mata dan dapat menyebabkan kebutaan. 

Gejala retinopati diabetik di antaranya adalah pandangan kabur, floaters (gambaran/bayangan titik-titik kecil yang mengambang pada lapang pandang), dan kehilangan ketajaman visual secara progresif. 

Pasien diabetes wajib melakukan pemeriksaan mata rutin setiap 2 tahun pada pasien tanpa temuan retinopati, sedangkan pada pasien dengan temuan retinopati, pemeriksaan dilakukan 1 tahun sekali. 

Pemeriksaan dapat dilakukan lebih sering pada kondisi retinopati yang bertambah parah. Tingkat keparahan retinopati diabetik dapat dicegah dengan mengontrol kadar gula dan tekanan darah secara rutin. 

7. Dokter Spesialis Bedah

Kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pada diabetes. Pada kasus kaki diabetik dengan ulkus yang dalam akan dirujuk ke dokter bedah untuk dilakukan perawatan luka dan pembuangan jaringan yang mati (nekrosis).

Selain itu, komplikasi lain diabetes yang menyerang pembuluh darah besar, seperti peripheral arterial disease (PAD) dapat dirujuk ke dokter bedah vaskular untuk dilakukan pemeriksaan dan pemberian terapi yang tepat. 

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter? 

  • Pasien diabetes harus melakukan kontrol rutin minimal satu bulan sekali, baik itu oleh dokter umum, atau dokter spesialis penyakit dalam, atau pun dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes bergantung pada kondisi pasien dan status rujukannya. 
  • Jika pasien mengalami komplikasi akut, seperti hipoglikemia, sesak napas, tidak sadarkan diri, berat badan yang menurun dengan cepat dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan sekunder atau tersier untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesegera mungkin. 
  • Jika didapatkan gejala yang mengarah pada komplikasi lainnya, seperti neuropati atau retinopati diabetes, maka pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis berdasarkan jenis komplikasinya.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Kamu bisa konsultasi dengan dokter di Primecare Clinic untuk konsultasi terakit diabetes. Terdapat juga program manajemen diabetes di klinik ini yang bisa membantumu untuk mengontrol gejala diabetes.

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan layanan konsultasi dokter dan program manajemen diabetes untuk pengelolaan diabetes yang tepat untukmu. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


135682-1-1200x798.webp

September 2, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Kuku adalah salah satu bagian tubuh yang bisa menjadi sinyal ketika terdapat masalah kesehatan. Kuku yang sehat berwarna merah muda, tidak rapuh, dan permukaannya rata. 

Perubahan warna kuku (misalnya kuku menjadi kuning atau hitam) yang disertai gejala lain perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanda penyakit tertentu. Kuku hitam dapat menjadi tanda adanya cedera atau masalah kesehatan lain seperti diabetes. 

Untuk memahami penyebab dan cara mengatasi kuku hitam pada diabetes, mari kita baca penjelasannya di bawah. 

Apa itu Kuku Hitam pada Penderita Diabetes?

Kuku hitam pada penderita diabetes adalah kondisi ketika kuku mengalami perubahan warna menjadi gelap hingga kehitaman. Warna hitam ini bisa muncul sebagian atau menutupi seluruh kuku.

Pada penderita diabetes, kuku bisa berubah menjadi hitam akibat cedera sehingga pembuluh darah kecil di jari pecah. Hal ini menyebabkan terjadinya penumpukan darah di bawah kuku. 

Selain itu, kuku hitam juga bisa terjadi karena gangguan sirkulasi darah akibat kadar gula darah yang tidak terkontrol pada penderita diabetes. 

Apakah Kuku Hitam Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Kuku hitam tidak selalu menjadi gejala diabetes. Jika warna kuku berubah menjadi hitam, tidak otomatis menandakan seseorang mengidap diabetes. 

Ada beberapa penyebab kuku menjadi hitam, yaitu:

1. Trauma atau Cedera

Trauma pada jari dan kuku seperti terbentur benda keras, terjepit, atau adanya tekanan misalnya karena sepatu yang sempit dapat menyebabkan memar sehingga kuku terlihat menghitam.

Hal ini terjadi karena pembuluh darah di bawah kuku pecah sehingga terjadi penggumpalan darah di jaringan di bawah kuku. Akibatnya, kuku akan terlihat berwarna hitam. 

2. Infeksi Jamur

Jamur kuku (Onychomycosis) dapat menyebabkan warna kuku berubah menjadi kuning, cokelat, bahkan kehitaman. Kuku rentan terinfeksi jamur karena faktor kebersihan, merokok, daya tahan tubuh lemah, serta pada penderita diabetes. 

3. Melanoma

Melanoma merupakan kanker kulit yang terjadi akibat paparan sinar matahari. Walaupun jarang, melanoma dapat terjadi pada kuku. Melanoma ditandai dengan munculnya bercak atau garis hitam pada kuku.

4. Masalah pada Pembuluh Darah

Adanya masalah pada pembuluh darah bisa menyebabkan gangguan aliran darah. Jika jari-jari tidak mendapat suplai darah yang cukup, maka bisa memicu perubahan warna kuku menjadi kehitaman.

Untuk mengetahui apakah kuku hitam menjadi gejala diabetes atau tidak, perlu konsultasi ke dokter seperti dokter spesialis penyakit dalam.

Penyebab Kuku Hitam pada Penderita Diabetes

Pada penderita diabetes, kuku hitam harus lebih diwaspadai karena bisa menjadi tanda gangguan sirkulasi darah, luka atau infeksi yang sulit sembuh. Beberapa penyebab kuku hitam yang sering dialami penderita diabetes antara lain:

1. Trauma

Penderita diabetes sering mengalami neuropati, yaitu gangguan saraf yang bisa menyebabkan penurunan sensasi tubuh. Akibatnya, penderita diabetes tidak sadar ketika jari kaki luka, terbentur, atau tertekan karena tidak merasakan sakit.

Trauma pada jari dan kuku bisa menyebabkan hematoma atau penggumpalan darah yang lama-kelamaan akan menghitam.

Pada penderita diabetes, sering terjadi luka di kaki karena alas kaki yang tidak nyaman serta tekanan ketika berjalan.

2. Gangguan Sirkulasi Darah

Kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka waktu panjang dapat merusak pembuluh darah dan menyebabkan gangguan sirkulasi darah. Aliran darah yang buruk membuat luka di bawah kuku sulit sembuh. 

Jika tidak segera ditangani, luka akan menghitam dan jaringan disekitarnya bisa mati atau disebut gangrene. Jika jaringan sudah menjadi gangrene maka harus diamputasi agar tidak menyebar lebih luas.

3. Infeksi Jamur Kuku

Penderita diabetes lebih rentan terkena infeksi, termasuk infeksi jamur kuku. Jamur kuku atau Onychomycosis menyebabkan kuku berubah warna menjadi kuning, kehijauan, atau hitam.

Apakah Kuku Hitam pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Kuku hitam pada penderita diabetes bisa berbahaya bila disertai tanda-tanda komplikasi. Pada penderita diabetes, luka kecil bisa berkembang menjadi infeksi yang lebih serius atau bahkan menjadi gangrene (kematian jaringan) jika tidak ditangani dengan tepat.

Oleh karena itu, penderita diabetes harus menghindari luka dan jika terjadi luka maka harus segera diobati dengan tepat. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Kuku Hitam pada Penderita Diabetes

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan penderita diabetes untuk mencegah atau mengatasi kuku hitam, antara lain:

  • Mengontrol kadar gula darah, baik dengan diet atau obat-obatan. Jika kadar gula darah tetap normal maka sirkulasi darah dan daya tahan tubuh akan terjaga dengan baik.
  • Menggunakan alas kaki yang nyaman untuk mengurangi risiko kuku tertekan atau cedera.
  • Merawat kuku dengan benar dengan memotong kuku lurus dan jangan terlalu pendek agar tidak melukai kulit sekitar kuku.
  • Menjaga kebersihan kaki dengan rutin mencuci dan mengeringkan kaki setiap hari untuk mencegah infeksi.
  • Jika terdapat luka di kaki segera periksakan ke fasilitas kesehatan agar luka tidak meluas dan terjadi infeksi yang lebih serius.

Kapan Harus ke Dokter?

Penderita diabetes atau siapa saja yang mengalami kuku hitam sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter jika mengalami gejala berikut:

  • Kuku hitam disertai nyeri, bengkak, atau keluar cairan.
  • Warna hitam semakin meluas atau tidak membaik setelah beberapa minggu.
  • Kuku hitam muncul tanpa sebab yang jelas (tidak ada riwayat trauma, cedera, atau benturan).
  • Ada luka di sekitar kuku yang sulit sembuh dan cenderung basah.
  • Kuku hitam yang disertai gejala lain seperti mati rasa, sering kesemutan, dan kebas. 

Dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kuku hitam tersebut hanya masalah ringan atau tanda penyakit lain yang membutuhkan penanganan medis segera. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam jika kuku hitam disebabkan oleh diabetes. Kadar gula darah yang tinggi harus segera dikontrol agar tidak menyebabkan komplikasi yang lebih berbahaya.

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan layanan konsultasi dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes (ada CGM) untuk pengelolaan diabetes yang tepat untukmu. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


2148504669.webp

September 1, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Kondisi kuku bisa menjadi salah satu cerminan kondisi kesehatan tubuh. Warna, bentuk, dan tekstur kuku dapat berubah jika menderita penyakit tertentu.

Normalnya, kuku tampak berwarna merah muda atau pink yang disebabkan adanya aliran darah di kulit di bawah kuku. Lempeng kuku normalnya sedikit transparan sehingga warna kulit di bawahnya akan terlihat. 

Kuku yang sehat mempunyai permukaan yang halus, rata, dan tidak berlekuk. Kuku juga tidak mudah patah dan bertambah panjang secara konsisten. 

Nah, jika kuku berwarna kuning apakah merupakan gejala diabetes? Yuk, simak penjelasannya! 

Apa itu Kuku Kuning pada Penderita Diabetes? 

Kuku kuning adalah kondisi ketika kuku tangan atau kaki berubah warna menjadi kekuningan. Pada penderita diabetes, perubahan warna kuku bisa terjadi akibat gangguan metabolisme, sirkulasi darah yang kurang optimal, atau infeksi jamur.

Penderita diabetes lebih rentan terkena infeksi, termasuk infeksi jamur pada kuku. Akibatnya, warna kuku menjadi kuning. Tak hanya berubah warna, gejala pada kuku bisa disertai dengan perubahan tekstur kuku seperti menebal, rapuh, atau mudah patah.

Apakah Kuku Kuning Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Tidak, kuku kuning tidak selalu menandakan diabetes. Penyakit diabetes bukan penyebab langsung kuku menjadi kuning. 

Kuku kuning pada penderita diabetes seringnya disebabkan oleh kekebalan tubuh yang cenderung lebih lemah sehingga rentan terkena infeksi jamur kuku. 

Kuku kuning juga bisa disebabkan oleh faktor lain seperti:

1. Infeksi Jamur (Onychomycosis)

Kuku kuning sering disebabkan oleh infeksi jamur kuku atau disebut Onychomycosis. Selain perubahan warna, kuku biasanya tampak tebal, rapuh, dan sulit dipotong.

2. Penyakit Hati

Gangguan fungsi hati misalnya pada penyakit hepatitis atau sirosis dapat menyebabkan “penyakit kuning” atau dalam bahasa medis disebut jaundice atau ikterik.

Pada gangguan hati, biasanya tidak hanya kuku yang menjadi kuning, tetapi juga mata dan kulit.

3. Sindrom Kuku Kuning

Sindrom kuku kuning adalah kondisi langka dan belum diketahui penyebab pastinya. Sindrom ini ditandai dengan kuku berwarna kuning, masalah pada sistem limfatik, dan gangguan pernapasan.

Penyebab Kuku Kuning pada Penderita Diabetes

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penderita diabetes mengalami kuku kuning, di antaranya:

1. Infeksi Jamur (Onychomycosis)

Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi jamur pada kuku. Jamur dapat membuat kuku berubah warna menjadi kuning, menebal, dan rapuh.

2. Gangguan Sirkulasi Darah

Diabetes dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah yang menyebabkan gangguan sirkulasi darah. Jika aliran darah ke jari-jari terganggu, maka area kulit dibawah kuku akan mengalami kerusakan. Hal ini membuat kuku tampak pucat, kusam atau kekuningan.

3. Penumpukan Gula Darah

Kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat memengaruhi produksi kolagen. Kekurangan kolagen dapat menyebabkan kuku rapuh, mudah patah, dan kusam kekuningan.

Apakah Kuku Kuning pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Kuku kuning pada penderita diabetes bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius. Jika disebabkan oleh infeksi jamur, kondisi ini dapat menyebabkan luka di area sekitar kuku. 

Perlu diingat bahwa penderita diabetes lebih sulit sembuh dari luka. Jika terdapat luka di area kaki dan tidak segera diatasi maka dapat meluas dan infeksi dapat menyebar. 

Kuku kuning bukan merupakan kondisi yang dapat membahayakan secara langsung. Namun, tetap harus diperhatikan karena bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Kuku Kuning pada Penderita Diabetes

Berikut beberapa langkah pencegahan dan perawatan kuku yang bisa dilakukan pada penderita diabetes:

  • Menjaga kebersihan kuku dengan rutin memotong kuku dan menjaga kondisi kuku agar tidak selalu basah untuk menghindari infeksi kuku. 
  • Mengontrol gula darah agar tetap stabil untuk mencegah komplikasi pada kulit dan kuku.
  • Menggunakan alas kaki yang nyaman untuk menghindari trauma pada kuku dan jari kaki

Kapan Harus ke Dokter?

Kamu harus segera ke dokter jika mengalami hal berikut:

  • Kuku kuning disertai luka yang sulit sembuh.
  • Kuku terasa nyeri atau bengkak.
  • Ada tanda infeksi seperti keluar cairan, bernanah, atau kulit sekitar kemerahan.

Kamu bisa konsultasi dengan ahli dermatologi untuk keluhan tersebut. 

Namun, jika kuku kuning disertai dengan peningkatan kadar gula darah atau terjadi pada penderita diabetes, maka sebaiknya periksa ke dokter spesialis penyakit dalam untuk mengontrol kadar gula darah dan memastikan tidak ada komplikasi.

Primecare Clinic bisa menjadi solusi jika kamu mengalami masalah gula darah atau diabetes seperti layanan konsultasi dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes (ada CGM). Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut!


7892-1.webp

September 1, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Yoghurt merupakan produk olahan susu yang seringkali dikonsumsi ketika menjalani program penurunan berat badan. Yoghurt dianggap sebagai makanan ‘sehat’ karena mengandung beberapa jenis bakteri yang menjadi sumber probiotik. Belakangan ini, yoghurt menjadi makanan ‘primadona’ di media sosial karena cukup banyak influencer yang memberikan tips mudah cara membuat yoghurt sendiri di rumah. Hal ini tentu memberikan dampak positif bagi masyarakat yang ingin mengonsumsi yoghurt dengan harga yang relatif terjangkau.

Namun, dengan anggapan bahwa yoghurt adalah makanan sehat, apakah yoghurt boleh dikonsumsi oleh penderita diabetes?

Mengenal Diabetes Lebih Jelas

Yuk, kita ketahui dulu apa itu diabetes. Diabetes adalah penyakit kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor bergantung pada tipe diabetes. Dua tipe diabetes yang sering dikenal oleh masyarakat adalah Diabetes Melitus (DM) tipe 1 dan tipe 2. DM tipe 1 adalah kondisi dimana sel pankreas sedikit memproduksi hormon insulin yang berguna untuk menurunkan kadar gula dalam darah, sedangkan DM tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh dan akhirnya menumpuk di dalam pembuluh darah.

DM tipe 2 adalah salah satu penyakit metabolik paling sering di dunia. Salah satu faktor risiko terjadinya DM tipe 2 adalah lifestyle yang buruk, di antaranya obesitas, makan-makanan yang tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik. 

Apa yang Membuat Yoghurt boleh Dikonsumsi oleh Penderita Diabetes?

Dengan memahami bahwa DM tipe 2 adalah penyakit yang memiliki faktor risiko berupa lifestyle yang tidak sehat maka yoghurt bisa menjadi makanan alternatif yang boleh dikonsumsi oleh penderita diabetes. Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa yoghurt memiliki efek terhadap sensitivitas insulin dan dapat menurunkan risiko terjadinya DM tipe 2. 

Produk olahan susu (dairy) mengandung protein tinggi, vitamin (vitamin A dan D), dan beberapa mineral yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti kalsium, magnesium, dan kalium. Selain itu, produk dairy juga mengandung profil asam lemak spesifik dan glikemik index yang rendah. l

Salah satu bentuk produk dairy yang difermentasikan adalah yoghurt. Proses fermentasi ini menjadikan yoghurt memiliki kandungan bakteri probiotik yang berguna di usus yang saat ini dikenal dengan mikrobiota usus (gut microbiota). Bakteri ini dapat mensintesis metabolit baru yg dapat menurunkan resistensi insulin atau meningkatkan sekresi insulin. Probiotik dan kesehatan usus tidak hanya berkaitan dengan risiko DM, melainkan dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular yang merupakan komplikasi dari diabetes.

Tidak hanya itu, probiotik pada yoghurt dapat memproduksi asam lemak rantai pendek yang memiliki efek anti-inflamasi dan sensitivitas insulin. Efek anti inflamasi ini yang nantinya dapat menghambat inflamasi kronik yang sering terjadi pada penderita diabetes tipe 2. 

Yoghurt juga mengandung kalsium yang memiliki peranan dalam proses lipolisis (pemecahan lemak), menghambat proses lipogenesis (pembentukan lemak), dan berperan dalam metabolisme glukosa. Selain kalsium, kandungan vitamin D pada yoghurt berperan penting pada fungsi beta sel pankreas dalam mensekresi insulin.

Selain itu, yoghurt juga termasuk dalam produk dairy yang mengenyangkan, rendah lemak, dan memiliki indeks glikemik yang rendah sehingga dapat menurunkan risiko kegemukan yang dapat memicu terjadinya resistensi insulin. 

Jadi, pada dasarnya, Yoghurt boleh dikonsumsi oleh penderita diabetes. Namun, ada beberapa tips konsumsi yoghurt yang bermanfaat untukmu sebagai penderita diabetes.

Tips Mengonsumsi Yoghurt untuk Pasien Diabetes

a. Pilih Yoghurt Tanpa Pemanis

Pilih yoghurt tanpa tambahan pemanis, seperti plain yoghurt atau Greek yoghurt. Hal ini berdasarkan data penelitian bahwa yoghurt tanpa pemanis memiliki nilai indeks glikemik berkisar antara 16-36, sedangkan yogurt dengan tambahan pemanis memiliki indeks glikemik berkisar antara 40-51 bergantung pada merk yoguhrt yang dikonsumsi.

b. Konsumsi Sesuai Takaran

Yoghurt dapat dikonsumsi secara reguler dengan anjuran jumlah konsumsi sebanyak 80-150 g/hari.

c. Mengonsumsi dengan Makanan Lainnya

Yoghurt dapat dijadikan menu sarapan dengan tambahan/topping lainnya, seperti buah beri-berian (stroberi, raspberry, blackberry) dan satu sendok biji-bijian atau kacang-kacangan. 

Selain menjadi menu sarapan, yoghurt plain atau Greek yoghurt juga dapat dijadikan sebagai kudapan (snack) jika dirasa masih lapar. Kudapan bukan hal yang wajib bagi pasien diabetes, apalagi jika pasien ingin menurunkan berat badan maka perlu mengurangi konsumsi kudapan. Perlu diperhatikan jumlah konsumsi yoghurt per hari jika dikonsumsi dengan frekuensi lebih dari satu kali/hari.

d. Jangan Lupakan Aktivitas Fisik

Jangan lupa untuk tetap mengimbangi dengan aktivitas fisik.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Yoghurt boleh Dikonsumsi oleh Penderita Diabetes!

Dari artikel ini, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, yoghurt boleh dikonsumsi penderita diabetes. Namun, jika kamu ragu, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu, seperti dokter spesialis gizi klinik atau dokter spesialis penyakit dalam.

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan layanan dokter spesialis gizi klinik dan dokter spesialsi penyakit dalam serta program manajemen diabetes (ada CGM). Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.