September 18, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Mengatur asupan makanan merupakan bagian penting dalam mengelola diabetes. Salah satu panduan yang banyak digunakan adalah indeks glikemik (IG). Konsep ini membantu mengenali seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat dapat menaikkan kadar gula darah. 

Apa Itu Indeks Glikemik?

Indeks glikemik adalah angka yang menunjukkan seberapa cepat karbohidrat dalam makanan diubah menjadi glukosa dalam darah. Skala ini biasanya berkisar dari 0 hingga 100. 

Makanan dengan nilai IG tinggi, seperti roti putih atau minuman manis, menyebabkan lonjakan gula darah lebih cepat. Sebaliknya, makanan dengan IG rendah, seperti kacang-kacangan dan sayuran, membuat kadar gula darah naik lebih perlahan.

Bagi penderita diabetes, lonjakan gula darah yang berulang-ulang dapat memengaruhi sensitivitas insulin dan meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu, mereka perlu menjaga agar makanan yang dikonsumsi memiliki IG rendah.

Makanan dengan Indeks Glikemik Rendah

Beberapa makanan memiliki indeks glikemik rendah dan bisa menjadi pilihan aman untuk penderita diabetes:

1. Sayuran Hijau

Sayuran memiliki IG rendah, misalnya brokoli mentah (IG 15) dan bayam (IG 15–20). Selain itu, sayuran hijau kaya serat, tinggi antioksidan, serta rendah kalori sehingga membantu menjaga gula darah tetap stabil.

2. Buah Utuh

Beberapa buah tergolong IG rendah, misalnya apel (IG 36), jeruk (IG 43), dan pir (IG 38). Buah utuh kaya vitamin, mineral, dan serat alami yang memperlambat penyerapan gula.

3. Kacang-Kacangan

Kacang merah (IG 24) dan lentil (IG 32) termasuk sumber karbohidrat rendah IG. Kandungan proteinnya mendukung rasa kenyang lebih lama dan menjaga metabolisme tetap seimbang.

4. Biji-Bijian Utuh

Oatmeal (IG 55) dan quinoa (IG 53) merupakan pilihan karbohidrat sehat. Serat larutnya membantu mengontrol gula darah sekaligus mendukung kesehatan pencernaan.

5. Susu Skim dan Olahannya

Susu skim (IG 32) dan yogurt tanpa tambahan gula (IG 35) bisa jadi sumber protein sekaligus kalsium. Kandungan gizinya membantu menjaga kesehatan tulang dan mendukung pengendalian gula darah.

Manfaat Makanan dengan Indeks Glikemik Rendah bagi Penderita Diabetes

Makanan dengan indeks glikemik rendah memberikan manfaat dalami pengelolaan diabetes sehari-hari:

1. Kadar Gula Darah Lebih Stabil

Makanan rendah IG membuat tubuh menyerap glukosa secara perlahan. Kondisi ini membantu mencegah lonjakan gula darah setelah makan dan menjaga kadar gula tetap berada dalam batas aman lebih lama.

2. Sensitivitas Insulin Meningkat

Asupan makanan rendah IG membantu tubuh merespons insulin dengan lebih baik. Insulin dapat bekerja lebih efektif untuk mengatur gula darah, sehingga risiko resistensi insulin berkurang.

3. Berat Badan Lebih Mudah Terkendali

Makanan rendah IG umumnya tinggi serat dan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama. Efek ini mengurangi keinginan ngemil berlebihan dan membantu menjaga asupan kalori tetap seimbang.

4. Risiko Komplikasi Lebih Rendah

Gula darah yang stabil berhubungan erat dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Konsumsi makanan rendah IG dapat membantu menurunkan risiko hipertensi, kolesterol tinggi, hingga penyakit kardiovaskuler yang sering menjadi komplikasi pada diabetes.

Cara Mengonsumsi Makanan dengan Indeks Glikemik Rendah

Berikut beberapa cara yang tepat dalam mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah:

1. Kombinasikan dengan Protein dan Lemak Sehat

Mengonsumsi karbohidrat dengan lauk seperti ikan, ayam tanpa kulit, kacang, atau alpukat membuat penyerapan glukosa lebih lambat sehingga gula darah tetap terkontrol.

2. Pilih Makanan Utuh Dibanding yang Diproses

Buah segar lebih baik dibanding jus dengan tambahan gula. Begitu juga nasi merah atau oatmeal lebih sehat dibanding produk instan yang sudah banyak diproses.

3. Perhatikan Ukuran Porsi

Makanan rendah IG tetap bisa menaikkan gula darah jika dikonsumsi berlebihan. Oleh karena, itu kontrol porsi makan agar gula darah tetap terkendali.

4. Atur Waktu Makan Secara Teratur

Makan dengan jadwal yang konsisten membantu gula darah tidak naik turun terlalu tajam. Pola makan teratur juga membuat tubuh lebih mudah menyeimbangkan energi sepanjang hari.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang bisa membantu Anda untuk menurunkan kadar HbA1C.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


936-_1_-1200x800.webp

September 18, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Apakah kamu pernah mendengar istilah HbA1C? Untuk mendiagnosis diabetes tidak hanya dari pemeriksaan kadar gula darah puasa atau gula darah sewaktu, tetapi juga bisa dengan pemeriksaan kadar HbA1C. Pemeriksaan HbA1C dapat memberikan gambaran kadar gula darah dalam 2-3 bulan terakhir.

Jadi, apa itu HbA1C dan bagaimana tes ini bisa memberikan gambaran tentang kadar gula darah? Yuk, kita pahami bersama di artikel ini! 

Apa itu HbA1C?

HbA1C (hemoglobin A1C) atau sering disebut juga dengan hemoglobin terglikasi adalah hemoglobin yang berikatan dengan glukosa. Hemoglobin adalah protein yang terdapat di dalam sel darah merah. 

Ketika kadar gula darah terlalu tinggi, maka glukosa bisa menempel pada rantai hemoglobin pada bagian yang disebut N-terminal valine pada rantai beta hemoglobin. Proses ini menyebabkan hemoglobin terglikasi dan membentuk HbA1C. 

Tes gula darah sewaktu atau gula darah puasa hanya menggambarkan kondisi saat itu. Sedangkan tes HbA1C memberikan gambaran kadar gula darah selama 2-3 bulan ke belakang. Sel darah merah rata-rata bertahan hidup sekitar 2–3 bulan maka kadar HbA1C mencerminkan rata-rata kadar gula darah dalam kurun waktu tersebut.

Kadar Normal HbA1C 

Pemeriksaan HbA1C dilakukan dengan mengambil sampel darah dari pembuluh darah, lalu diperiksa di laboratorium. Kadar HbA1C digunakan untuk mendiagnosis diabetes serta menilai efektivitas pengobatan diabetes. Menurut Perkumpulan Endokrin Indonesia (PERKENI) tahun 2021, klasifikasi kadar HbA1C adalah:

  • Normal: kurang dari 5,7%
  • Prediabetes: 5,7% – 6,4%
  • Diabetes: 6,5% ke atas. 

Semakin tinggi kadar HbA1C, mengindikasikan semakin banyak hemoglobin yang berikatan dengan glukosa dan semakin tinggi pula risiko terjadinya komplikasi akibat diabetes. 

Bagaimana Cara Menurunkan HbA1C dengan Sehat

Untuk menurunkan HbA1C membutuhkan perubahan gaya hidup yang konsisten. Berikut beberapa cara menurunkan HbA1C:

1. Mengatur Pola Makan Sehat

Peningkatan kadar HbA1C berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi. Oleh karena itu, untuk menurunkan HbA1C memerlukan perubahan pola makan.

Penderita diabetes dianjurkan untuk mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah, seperti sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Untuk sumber karbohidrat, batasi konsumsi karbohidrat sederhana seperti nasi putih, roti tawar, atau minuman manis. Pilihlah karbohidrat kompleks misalnya nasi merah.

Selain itu hindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan lemak trans, seperti daging berlemak dan susu fullcream. 

Untuk sumber protein, pilihlah protein yang baik, misalnya ikan, udang, cumi, daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu dan tempe.

2. Olahraga Teratur

Olahraga atau aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa menjadi sumber energi, sehingga menurunkan kadar gula darah. Selain itu, olahraga juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin.

Olahraga yang dianjurkan adalah sebanyak 3-5 kali per minggu dengan durasi 30-40 menit dalam setiap sesi olahraga. Olahraga yang dianjurkan adalah olahraga aerobik dengan intensitas sedang seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang. 

3. Mengelola Berat Badan

Berat badan berlebih atau obesitas meningkatkan risiko kenaikan kadar gula darah. Oleh karena itu, penurunan berat badan dapat memberi dampak signifikan dalam menurunkan gula darah dan kadar HbA1C.

4. Mengonsumsi Obat Sesuai Resep

Dokter akan mempertimbangkan untuk memberikan obat penurun kadar gula darah ketika seseorang didiagnosis diabetes. Terapi obat-obatan diberikan dengan tetap mempertahankan pola hidup sehat seperti yang sudah dijelaskan di atas. 

Dokter akan mempertimbangkan untuk memberikan terapi insulin jika kadar HbA1c saat diperiksa lebih dari 7.5% dan sudah menggunakan satu atau dua obat antidiabetes oral, serta saat kadar HbA1C > 9 %.

Konsumsilah obat-obatan sesuai dengan yang dianjurkan oleh dokter. Hindari menambah atau mengurangi dosis tanpa konsultasi dengan dokter. 

5. Mengelola Stres dan Tidur Cukup

Stres dan kurang tidur bisa meningkatkan hormon yang berpengaruh pada kenaikan gula darah. Oleh karena itu, mengelola stres dan cukup tidur dapat membantu menjaga kadar gula darah. Cobalah melakukan teknik relaksasi, meditasi, dan tidur 7–8 jam per malam. 

Perlu dipahami bahwa menurunkan kadar HbA1C dengan sehat bukan hanya soal menekan angka, tetapi juga membangun kebiasaan hidup yang mendukung kesehatan jangka panjang.

Berapa Penurunan HbA1C yang Normal? 

Menurunkan HbA1C harus dilakukan dengan hati-hati. Target penurunannya ditetapkan oleh dokter dengan memeriksa kondisi pasien secara menyeluruh, meliputi apakah terdapat risiko hipoglikemia atau adanya komplikasi lain. 

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) tahun 2021 menetapkan target HbA1C pada pasien diabetes tipe 2 adalah kurang dari 7% atau disesuaikan dengan kondisi klinik setiap pasien. Penurunan HbA1C kurang dari 6,5 % dapat meningkatkan risiko hipoglikemia.

American Diabetes Association (ADA) tahun 2022 merekomendasikan penurunan kadar HbA1C hingga di bawah 7% jika tidak terdapat risiko hipoglikemia, tidak memiliki kondisi pemberat seperti masalah jantung, ginjal atau hipertensi dan tidak ada risiko komplikasi diabetes. 

Dengan begitu, target penurunan HbA1C harus disesuaikan dengan kondisi medis individual dan secara bertahap. Dokter akan menyesuaikan target dengan kondisi masing-masing pasien agar aman dan menghindari penurunan drastis yang dapat mengakibatkan hipoglikemia. 

Kapan Harus Tes HbA1C? 

Pemeriksaan HbA1C dilakukan untuk diagnosis diabetes dan mengevaluasi efektivitas pengobatan penderita diabetes. Tes ini dapat dilakukan 3-6 bulan sekali. 

Pada orang sehat tanpa diabetes direkomendasikan untuk melakukan tes HbA1C 1-2 kali dalam setahun, terutama jika memiliki faktor risiko seperti obesitas, pola hidup tidak sehat, serta keluarga memiliki riwayat diabetes. 

Pada penderita diabetes yang sedang dalam pengobatan, dianjurkan untuk melakukan tes HbA1C 3-6 bulan sekali. Hal ini dilakukan untuk melihat efek pengobatan. Dokter dapat mempertimbangkan dosis dan jenis obat melalui pemeriksaan HbA1C. 

Namun, tes HbA1C tidak dianjurkan pada beberapa kondisi yang dapat memengaruhi hasil HbA1C, yaitu penderita anemia defisiensi besi, anemia hemolitik, thalasemia, dan baru mendapat transfusi darah.

Jika kamu ingin melakukan tes HbA1C, kamu bisa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar mendapat rekomendasi yang sesuai.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang bisa membantu Anda untuk menurunkan kadar HbA1C. 

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


5133-1-1.webp

September 17, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Menjaga berat badan tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik, melainkan juga menyangkut kondisi kesehatan secara keseluruhan. Bagi penderita diabetes, berat badan ideal memiliki peran khusus dalam membantu tubuh mengontrol kadar gula darah, menjaga metabolisme tetap seimbang, sekaligus mengurangi risiko komplikasi jangka panjang.

Apa Itu Berat Badan Ideal?

Berat badan ideal adalah kondisi ketika berat tubuh berada pada rentang yang sehat sesuai dengan tinggi badan dan komposisi tubuh seseorang. Berat badan ideal tidak selalu identik dengan tubuh kurus, melainkan kondisi ketika proporsi lemak, otot, dan cairan tubuh seimbang sehingga organ-organ bisa bekerja dengan baik.

Pada penderita diabetes, mencapai berat badan ideal menjadi penting karena kelebihan atau kekurangan berat badan sama-sama bisa memengaruhi kestabilan gula darah. Ketika berat badan berlebih, tubuh biasanya mengalami resistensi insulin, sedangkan ketika terlalu rendah, tubuh bisa kehilangan massa otot yang penting untuk metabolisme. Punya berat badan berlebih juga memiliki risiko diabetes yang lebih tinggi.

Cara Menghitung Berat Badan Ideal Penderita Diabetes

Berat badan ideal sering dihitung dengan rumus Berat Badan Ideal (BBI). Rumus ini berbeda antara pria serta wanita. 

  • Pria: (Tinggi badan – 100) – (10% × (Tinggi badan – 100)
  • Wanita: (Tinggi badan – 100) – (15% × (Tinggi badan – 100)

Rumus ini memberi gambaran berapa angka berat badan yang dianggap ideal. Namun, angka tersebut tidak harus dijadikan patokan mutlak. Selama Indeks Massa Tubuh (IMT) berada di rentang normal 18,5–24,9 kg/m^2, kondisi tubuh biasanya masih tergolong aman.

Meski begitu, pada penderita diabetes, menilai berat badan tidak cukup hanya dari BBI atau IMT. Keduanya belum bisa menggambarkan distribusi lemak tubuh, terutama lemak perut yang sangat berpengaruh terhadap resistensi insulin. Oleh karena itu, selain mempertahankan IMT dalam rentang normal, penderita diabetes perlu memperhatikan lingkar perut juga.  Lingkar perut yang sehat berada di angka <90 cm untuk pria dan <80 cm untuk wanita.

Anda bisa mengetahui IMT lewat kalkulator pada tautan ini.

Manfaat Berat Badan Ideal bagi Penderita Diabetes

Berat badan yang terjaga di rentang ideal memberikan banyak keuntungan, yaitu:

1. Gula Darah Lebih Stabil

Berat badan ideal membuat insulin bekerja lebih efektif dalam mengatur kadar gula darah.

2. Risiko Komplikasi Berkurang 

Jika berat badan ideal, tekanan darah, kolesterol, serta fungsi jantung lebih terkendali, sehingga risiko penyakit kardiovaskular lebih rendah.

3. Tubuh Lebih Bertenaga 

Aktivitas sehari-hari bisa dilakukan tanpa cepat lelah, kualitas tidur lebih baik, dan mood lebih stabil.

4. Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Kondisi fisik yang sehat bisa berdampak positif pada mental dan kualitas hidup.

Cara Mencapai dan Menjaga Berat Badan Ideal bagi Penderita Diabetes

Menjaga berat badan tidak berarti harus diet ekstrem atau menahan lapar berlebihan. Penderita diabetes bisa melakukannya dengan langkah yang lebih seimbang:

1. Atur Pola Makan 

Konsumsi makanan bergizi seimbang dengan memperhatikan jenis, jumlah, dan waktu makan. Porsi karbohidrat sebaiknya dikendalikan, lebih banyak serat, protein tanpa lemak, dan lemak sehat.

2. Tetap Aktif Bergerak 

Olahraga teratur, seperti jalan cepat, bersepeda, atau senam ringan, membantu membakar kalori sekaligus meningkatkan sensitivitas insulin.

3. Kendalikan Porsi dan Jadwal Makan 

Makan dalam porsi lebih kecil namun teratur bisa membantu mencegah lonjakan gula darah mendadak. Anda bisa menghitung BMR atau basal metabolic rate di tautan ini.

4. Kelola Stres dan Tidur Cukup

Kurang tidur atau stres bisa memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan gula darah, sehingga berat badan lebih sulit dikendalikan.

Bahaya Berat Badan Tidak Ideal bagi Penderita Diabetes

Berat badan yang tidak sesuai rentang ideal bisa menimbulkan berbagai masalah bagi penderita diabetes:

1. Berat Badan Berlebih 

Kondisi ini memperburuk resistensi insulin, meningkatkan risiko hipertensi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung. Gula darah pun menjadi lebih sulit terkendali.

2. Berat Badan Kurang 

Berat badan terlalu rendah bisa membuat tubuh kekurangan cadangan energi dan massa otot. Hal ini dapat memengaruhi kekuatan tubuh, membuat lebih mudah lelah, serta menyulitkan pengendalian gula darah.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan konsultasi dan manajemen diabetes secara holistik. Anda bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik untuk penanganan diabetes secara menyeluruh.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 


159-_2_-_1_-1200x800.webp

September 17, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Gula (glukosa) adalah sumber energi utama pada sel-sel tubuh dan memegang peranan penting dalam metabolisme tubuh. 

Seiring bertambahnya usia, terjadi penurunan fungsi fisiologis tubuh sehingga individu berusia 60 tahun ke atas (lansia) memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit metabolik dan degeneratif, seperti diabetes, kardiovaskular (penyakit jantung), gangguan kognitif, dan disabilitas fisik. Oleh sebab itu, penting bagi lansia untuk rutin memeriksakan kesehatannya ke fasilitas kesehatan terdekat. 

Apa Itu Kadar Gula Darah?

Kadar gula darah adalah jumlah gula (glukosa) yang terdapat di dalam darah. Tubuh manusia melalui beberapa mekanisme metabolisme akan menjaga kadar gula darah tetap normal. 

Beberapa faktor yang memengaruhi kadar gula darah adalah asupan makanan, hormon-hormon seperti insulin dan glukagon, dan aktivitas beberapa organ lainnya. Dengan demikian, pemeriksaan kadar gula darah dapat menjadi prosedur skrining awal untuk mengetahui adanya penyakit metabolik.

Berapa Kadar Gula Darah Normal Individu Berusia 60 Tahun?

Kadar gula darah tidak secara spesifik dibedakan berdasarkan usia, kecuali pada anak-anak. Namun, pada usia 40 tahun ke atas, penting untuk lebih mewaspadai kadar gula darah yang menjadi tanda awal adanya penyakit diabetes. Di bawah ini adalah angka kadar gula darah normal, yaitu:

1. Gula darah sewaktu (GDS) dilakukan kapan saja, tanpa melihat kapan terakhir pasien makan. 

Nilai normal: <200 mg/dL.

2. Gula darah puasa (GDP) diperiksa ketika pasien melakukan puasa selama 8-10 jam. Pemeriksaan biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum sarapan.

Nilai normal: 70-100 mg/dL.

3. Gula darah 2 jam post prandial (GD2PP): pemeriksaan dilakukan 2 jam setelah pasien makan dengan kandungan 75 g karbohidrat.

Nilai normal: <140 mg/dL.

Bahaya Gula Darah Tidak Normal Ketika Berusia 60 Tahun

Baik kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) maupun kadar gula darah rendah (hipoglikemia) sama-sama akan menunjukkan tanda dan gejala yang akan dirasakan pasien. Jika tidak diatasi atau dilakukan terapi dengan sesuai, maka dapat menimbulkan bahaya komplikasi yang dapat menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan mortalitas (angka kematian). Berikut adalah gejala dan komplikasi yang terjadi pada kondisi kadar gula darah tidak normal.

a. Kondisi hiperglikemia

Lansia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit metabolik, salah satunya diabetes. Pada diabetes, terjadi kenaikan kadar gula darah (hiperglikemia) akibat beberapa sebab. Jika kondisi ini tidak dikontrol atau diterapi, maka akan menyebabkan berbagai komplikasi, di antaranya:

  • Stroke
  • Neuropati (gangguan saraf),
  • Gagal jantung dan dapat juga mengakibatkan serangan jantung 
  • Gagal ginjal
  • Retinopati (ganggaun penglihatan) dan  dapat mengakibatkan kebutaan
  • Gangguan pembuluh darah
  • Luka sulit sembuh yang biasanya terjadi pada sindrom kaki diabetik. Bahkan, jika tidak diterapi dengan baik dapat dilakukan amputasi.

b. Kondisi hipoglikemia 

Hipoglikemia adalah kondisi kadar gula darah <70 mg/dL. Hipoglikemia rentan terjadi pada lansia yang sudah didiagnosis diabetes atau bagi individu penyintas diabetes yang mengonsumsi obat antidiabetes (OAD) jenis insulin dan sulfonilurea. Beberapa gejala dan keluhan yang dapat dirasakan lansia yang mengalami hipoglikemia adalah berkeringat, pusing atau sakit kepala, rasa mual, kebingungan, pandangan kabur, bahkan dapat mengalami kondisi yang lebih berbahaya, seperti kehilangan kesadaran dan kejang.

Cara Menjaga Kadar Gula Darah Normal Ketika Menyentuh Usia 60 Tahun

Memasuki usia 60 tahun, terjadi penuaan yang mengubah komposisi tubuh dan proses metabolisme. Dengan kondisi seperti ini, diharapkan lansia tidak menerapkan sedentary lifestyle (gaya hidup yang minim aktivitas fisik) dan gaya hidup tidak sehat lainnya yang dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Oleh sebab itu, langka-langkah di bawah ini dapat dilakukan untuk menjaga kadar gula darah tetap normal, yaitu:

  1. Konsumsi makanan sehat.
  1. Selalu tersedia buah dan sayur saat makan tiga sampai lima kali (termasuk snack time) setiap hari.
  2. Kurangi asupan gula dan garam.
  3. Hindari makanan yang mengandung lemak jenuh. 
  4. Menjaga berat badan dalam rentang normal
  5. Melakukan aktivitas fisik. Olahraga dilakukan setidaknya 30 menit setiap hari selama minimal lima hari dalam satu minggu dengan intensitas ringan-sedang, seperti jalan cepat atau bersepeda santai. Banyak aktivitas fisik dapat mengontrol berat badan dan meningkatkan sensitivitas insulin. 
  6. Hindari rokok dan konsumsi minuman beralkohol
  7. Kelola stres dengan baik.
  8. Rutin melakukan cek gula darah. Anda bisa memakai CGM untuk memantau gula darah secara real time tanpa harus tusuk berulang kali.

Kapan Harus Cek Gula Darah Ketika Usia Sudah Menginjak 60 Tahun?

Dengan terjadinya penurunan fungsi fisiologis tubuh pada usia yang semakin tua, individu yang memasuki masa lansia harus selalu menjaga kesehatannya. Salah satu caranya dengan mengecek kadar gula darah. Beberapa kondisi di bawah ini dapat menjadi acuan kapan lansia perlu melakukan pemeriksaan kadar gula darah agar terhindar dari penyakit metabolik, yaitu: 

  1. Memiliki riwayat diabetes pada keluarga
  2. Berat badan berlebihan atau obesitas
  3. Kurangnya aktivitas fisik
  4. Sering mengonsumsi makanan yang tidak sehat
  5. Mengalami tanda dan gejala diabetes, seperti berikut:
  1. Nafsu makan bertambah, sering merasa lapar dan haus
  2. Sering merasa kelelahan
  3. Frekuensi buang air kecil yang lebih sering
  4. Pandangan kabur
  5. Kehilangan sensasi/gejala saraf, seperti kesemutan dan baal di tangan dan kaki.
  6. Jika didapatkan pemeriksaan kadar gula darah plasma (pemeriksaan laboratorium) hasilnya normal, maka perlu dilakukan pemeriksaan ulang setiap 3 tahun. Jika hasil pemeriksaannya menunjukkan prediabetes, lakukan pemeriksaan ulang setiap 1 tahun. 

Anda bisa memakai CGM untuk memantau kadar gula darah secara kontinu, sehingga tidak perlu tusuk tiap pagi, siang, atau waktu kapan pun. Pemantauan real time ini dapat membantu Anda mengawasi kadar gula darah secara real time

Selain itu, Anda juga bisa mengecek risiko diabetes dengan kalkulator pada tautan ini.

Kapan Perlu Konsultasi Gula Darah ke Dokter?

Lansia yang mengalami gejala yang mengarah pada kondisi diabetes dan komplikasinya, seperti yang sudah dijelaskan di atas, baik itu sudah melakukan pemeriksaan gula darah atau belum, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam.

Bagi lansia yang berkonsultasi dengan dokter umum di fasilitas pelayanan kesehatan primer, seperti puskesmas atau klinik umum dan diagnosis diabetes, perlu dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan untuk mendapatkan pelayanan dokter spesialis penyakit dalam. 

Jika diperlukan, dokter penyakit dalam akan merujuk pasien lansia ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi untuk mendapatkan pelayanan dokter subspesialis endokrin dan metabolisme diabetes.

Ketika terjadi gejala hipoglikemia atau hasil pengecekan kadar gula darah <70 mg/dL, seperti pusing, lemas, jantung berdebar cepat, pandangan kabur, disarankan juga untuk berkonsultasi dengan dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam. 

Jika kondisi yang terjadi bersifat gawat darurat, seperti kehilangan kesadaran, kejang, maka pasien perlu dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) agar segera mendapatkan pertolongan.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Yuk Cek Gula Darah secara Berkala!

Cek gula darah secara berkala penting untuk memastikan tidak ada masalah pada kadar gula darah Anda (terlalu tinggi atau terlalu rendah). Sekarang, Anda bisa menggunakan teknologi CGM untuk memantau kadar gula darah tanpa harus tusuk jari terlebih dahulu, sehingga pemantauan gula darah menjadi lebih mudah dan praktis. Analoginya seperti Anda mengecek seberapa jauh Anda berlari dengan aplikasi lari.

Primecare Clinic memiliki CGM dalam program manajemen diabetesnya. Tertarik untuk mengecek gula darah dengan mudah dan praktis dengan CGM? Yuk klik tautan ini!


6972-_1_-1200x801.webp

September 17, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Sering ngompol sering dialami oleh anak-anak saat tidur, terutama pada anak yang belum lulus toilet training. Namun, bagaimana jika orang dewasa sering ngompol?

Sering ngompol pada orang dewasa menandakan adanya masalah, terutama pada saluran kencing. Pada penderita diabetes, ngompol bisa menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada sistem saraf dan kerusakan ginjal akibat kadar gula darah yang tidak terkontrol.

Apakah penderita diabetes selalu mengalami gejala sering ngompol dan bagaimana mengatasinya? Artikel ini akan membahas mengenai gejala sering ngompol pada penderita diabetes, penyebab, serta cara mencegah dan mengatasinya. 

Apa itu Gejala Sering Ngompol pada Penderita Diabetes?

Ngompol dikenal dengan istilah medis inkontinensia urin atau enuresis, yaitu kondisi saat seseorang tidak mampu mengendalikan buang air kecil sehingga terjadi kebocoran urin atau kencing tanpa disadari.

Normalnya, urin yang dihasilkan oleh ginjal akan ditampung di kandung kemih. Saat kandung kemih penuh, saraf akan mengirimkan sinyal ke otak agar tubuh merasa ingin buang air kecil. Ketika tubuh sudah siap untuk kencing, otot kandung kemih akan berkontraksi dan otot sfingter atau katup uretra yang menahan urin terbuka. Dengan demikian urin dapat keluar melalui uretra.

Namun, ketika kandung kemih penuh tetapi seseorang memilih untuk menahan kencing, maka otot kandung kemih akan tetap rileks, sedangkan otot sfingter berkontraksi agar urin tidak keluar. Mekanisme ini melibatkan koordinasi saraf antara kandung kemih, otak, dan otot panggul.

Pada penderita diabetes, proses tersebut bisa terganggu karena adanya kerusakan saraf akibat kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang. Akibatnya, kemampuan untuk menahan kencing menurun, sehingga urin keluar tanpa disadari dan memicu sering ngompol.

Apakah Sering Ngompol Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Sering ngompol bisa dialami oleh penderita diabetes karena kadar gula darah yang tidak terkontrol sehingga cenderung tinggi terus-menerus. Walau begitu, sering ngompol juga bisa disebabkan oleh berbagai faktor lain selain diabetes. Berikut beberapa penyebab sering ngompol selain diabetes:

1. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Saluran kemih dapat terinfeksi oleh bakteri, virus, dan jamur. Infeksi menyebabkan terjadinya peradangan pada kandung kemih. dapat membuat seseorang sulit menahan buang air kecil, sehingga meningkatkan risiko ngompol.

2. Pembesaran Prostat pada Pria

Pembesaran kelenjar prostat pada pria dapat menekan saluran kemih. Kondisi ini bisa menyebabkan penderita sulit menahan kencing, sehingga mudah ngompol. 

3. Otot Kandung Kemih Melemah

Otot kandung kemih dapat melemah seiring bertambahnya usia. Akibatnya, kandung kemih sulit menahan urin dalam waktu lama, sehingga urin bisa keluar tiba-tiba.

4. Efek Obat-obatan Tertentu

Beberapa jenis obat, seperti obat diuretik dan obat hipertensi dapat menyebabkan meningkatnya produksi urin. Hal ini bisa menyebabkan kandung kemih cepat penuh dan memicu ngompol.

5. Minum Terlalu Banyak

Terlalu banyak minum air, teh, kopi, atau minuman beralkohol sebelum tidur bisa membuat kandung kemih lebih cepat penuh. Apalagi minuman yang mengandung kafein mempunyai efek diuretik, yaitu meningkatkan produksi urin. Akibatnya, risiko ngompol di malam hari atau saat tidur pun meningkat.

Dengan demikian, sering ngompol tidak selalu menjadi gejala diabetes. Untuk Memastikan penyebabnya, diperlukan pemeriksaan medis yang lebih lengkap. 

Penyebab Sering Ngompol pada Penderita Diabetes

Pada penderita diabetes, gejala sering ngompol biasanya dialami oleh penderita yang tidak rutin mengontrol kadar gula darahnya sehingga terjadi komplikasi kerusakan organ. Berikut berbagai faktor yang menyebabkan gejala sering ngompol pada penderita diabetes: 

1. Kadar Gula Darah Tinggi (Hiperglikemia)

Saat kadar gula dalam darah terlalu tinggi, ginjal akan berusaha membuang kelebihan gula melalui urin. Proses ini membuat produksi urin meningkat, sehingga penderita diabetes lebih sering merasa ingin kencing dan berpotensi sering ngompol terutama di malam hari.

2. Kerusakan Saraf (Neuropati Diabetik)

Diabetes yang tidak terkontrol dapat merusak saraf yang mengatur fungsi kandung kemih. Akibatnya, penderita diabetes tidak merasa ingin kencing saat kandung kemih penuh, sehingga urin keluar tanpa disadari.

Kerusakan saraf pada kandung kemih juga menyebabkan kandung kemih dan otot sfingter tidak bisa menahan kencing. 

3. Infeksi Saluran Kemih (ISK) 

Penderita diabetes lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih. Berulang kali mengalami ISK bisa menyebabkan peradangan pada saluran kencing. Akibatnya, kemampuan menahan kencing terganggu.

4. Obesitas

Orang dengan obesitas atau kelebihan berat badan lebih berisiko terkena diabetes tipe 2. Di samping itu, obesitas juga meningkatkan risiko inkontinensia urin. 

Berat badan berlebih menyebabkan tekanan pada otot dasar panggul lebih besar. Hal itu dapat memicu gangguan otot panggul dalam mengontrol buang air kecil. 

Apakah Sering Ngompol pada Penderita Diabetes itu Berbahaya

Sering ngompol tidak menyebabkan bahaya secara langsung. Namun, pada penderita diabetes sering ngompol bisa menjadi tanda adanya komplikasi. Kondisi bisa ini berbahaya karena:

  • Menandakan gula darah tidak terkontrol
  • Risiko infeksi saluran kemih meningkat dan jika terjadi berulang dapat menyebabkan masalah pada saluran kemih.
  • Mengganggu kualitas tidur karena sering terbangun karena ngompol. Penderita bisa mengalami gangguan tidur yang berimbas pada kelelahan.
  • Mengindikasi komplikasi diabetes berupa kerusakan saraf pada saluran kemih yang harus ditangani segera.

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Ngompol pada Penderita Diabetes

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan penderita diabetes untuk mencegah atau mengurangi risiko sering ngompol, yaitu:

  • Mengontrol gula darah agar tetap dalam batas normal dengan pola makan sehat, olahraga, dan konsumsi obat sesuai anjuran dokter.
  • Mengatur asupan cairan, menghindari minum berlebihan sebelum tidur, terutama minuman berkafein atau alkohol.
  • Latihan otot panggul atau senam kegel untuk memperkuat otot panggul yang berperan dalam kontrol kandung kemih.

Kapan Penderita Diabetes atau Orang yang Sering Ngompol Harus ke Dokter?

Sering ngompol yang terjadi berulang bukanlah kondisi normal dan perlu diperiksakan ke dokter. Seseorang yang sering ngompol disarankan segera berkonsultasi ke dokter jika:

  • Ngompol terjadi hampir setiap hari.
  • Disertai gejala lain seperti sering haus, penurunan berat badan drastis, atau kelelahan ekstrem.
  • Terdapat rasa sakit atau perih saat buang air kecil karena mengindikasikan ISK.

Jika mengalami beberapa gejala di atas, jangan ragu untuk segera periksa ke dokter. Kamu bisa konsultasi dengan dokter penyakit dalam, khususnya spesialis endokrinologi untuk mengontrol kadar gula darah. 

Jika dicurigai adanya masalah pada saluran kemih, maka bisa konsultasi dengan dokter urologi. Kamu juga bisa konsultasi dengan dokter saraf jika dicurigai ada kerusakan saraf akibat diabetes.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


12498-_1_-1200x800.webp

September 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Pernahkah kamu merasakan sensasi seperti ditusuk jarum halus di tangan atau kaki yang datang tiba-tiba? Kondisi tersebut yang disebut kesemutan. Kesemutan dapat terjadi pada siapa saja, biasanya hanya muncul sebentar karena posisi tubuh yang salah saat duduk atau tidur.

Bagi penderita diabetes sering kesemutan bisa menjadi tanda adanya kerusakan saraf akibat komplikasi diabetes yang disebut neuropati diabetes. Jika tidak diatasi, kerusakan saraf dapat bertambah parah dan menimbulkan komplikasi lain yang lebih berbahaya.

Namun, apakah sering kesemutan selalu menjadi gejala diabetes dan bagaimana mengatasinya? Yuk, kita pahami bersama di artikel ini!

Apa itu Gejala Kesemutan pada Penderita Diabetes?

Sering kesemutan pada penderita diabetes biasanya disebabkan oleh neuropati diabetik, yaitu kerusakan saraf yang dipicu oleh tingginya kadar gula darah dalam jangka panjang.

Rasa kesemutan seringnya dirasakan di tangan dan kaki. Berbeda dengan kesemutan biasa yang hilang setelah mengubah posisi tubuh, kesemutan pada penderita diabetes sering berlangsung lebih lama dan tidak kunjung membaik.

Awalnya, rasa kesemutan mungkin hanya terasa ringan dan muncul sesekali. Bila kadar gula darah tidak terkendali, maka kerusakan saraf semakin parah. Akibatnya, rasa kesemutan bisa semakin sering, menetap, bahkan disertai gejala lain seperti rasa nyeri, mati rasa, atau kelemahan otot. 

Apakah Kesemutan Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Penderita diabetes dapat merasakan gejala sering kesemutan. Namun, kesemutan tidak selalu disebabkan oleh diabetes. Banyak faktor lain yang dapat menyebabkan kesemutan, berikut beberapa penyebab kesemutan:

1. Kurang Vitamin B12

Vitamin B12 penting untuk menjaga kesehatan saraf. Kekurangan vitamin B12 bisa memicu gangguan saraf yang ditandai dengan kesemutan, mati rasa, atau kelemahan otot.

2. Tekanan pada Saraf

Saraf pada bagian tubuh tertentu dapat tertekan karena posisi tubuh. Duduk bersila terlalu lama, tangan dan kaki yang tertindih saat tidur, atau jongkok terlalu lama bisa menekan saraf. Hal ini menyebabkan kesemutan sementara yang biasanya hilang setelah memperbaiki posisi tubuh.

3. Cedera atau Kerusakan Saraf

Kerusakan saraf dapat terjadi akibat cedera misalnya kecelakaan, jatuh, atau cedera tulang belakang yang dapat menekan saraf. Adanya kerusakan saraf menimbulkan berbagai gejala salah satunya kesemutan. 

4. Penyakit Saraf

Ada berbagai penyakit yang menyerang sistem saraf seperti stroke, multiple sclerosis, atau neuropati akibat infeksi. Beberapa penyakit saraf tersebut juga dapat menimbulkan gejala kesemutan. Selain kesemutan, biasanya disertai gejala lain seperti kelemahan otot, gangguan keseimbangan, dan mati rasa. 

Jadi, mengalami kesemutan tidak selalu berarti seseorang terkena diabetes. Namun, bagi penderita diabetes yang sering merasa kesemutan harus lebih waspada karena bisa menjadi tanda komplikasi. 

Penyebab Kesemutan pada Penderita Diabetes

Sering kesemutan pada penderita diabetes bisa diakibatkan oleh kerusakan saraf akibat komplikasi diabetes yang disebut neuropati diabetik.

Gula darah yang terus tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil yang bertugas mengantarkan oksigen dan nutrisi ke saraf. Ketika saraf kekurangan oksigen dan nutrisi, maka fungsinya akan terganggu. Jika terjadi dalam waktu yang lama bisa memicu kerusakan saraf.

Selain itu, kondisi hiperglikemia yang terjadi dalam jangka panjang dapat mengganggu senyawa kimia yang terlibat dalam fungsi sistem saraf dan dapat merusak struktur saraf. Kerusakan ini menimbulkan iritasi dan peradangan sehingga penderita diabetes merasakan gejala seperti kesemutan atau sensasi seperti ditusuk jarum.

Apakah Kesemutan pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Kesemutan pada penderita diabetes bisa menjadi tanda adanya kerusakan saraf sehingga perlu segera ditangani. Jika tidak, kerusakan bisa bertambah parah dan menjadi permanen.

Kerusakan saraf yang lebih parah bisa menyebabkan mati rasa, sehingga penderita tidak bisa merasakan sakit ketika ada luka di tubuh. Hal ini mengakibatkan luka tidak mendapat penanganan segera dan bertambah parah.

Selain itu, gangguan saraf jangka panjang dapat menyebabkan gangguan mobilitas karena kerusakan saraf yang lebih parah menyebabkan kelemahan otot. Kerusakan saraf juga dapat menyebabkan rasa nyeri pada tangan atau kaki. Berbagai faktor tersebut bisa mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga kualitas hidup menurun. 

Dengan demikian sering kesemutan tidak boleh dianggap setelah karena bisa menandakan komplikasi serius pada penderita diabetes. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Kesemutan pada Penderita Diabetes

Langkah utama dalam mencegah dan mengatasi kesemutan pada penderita diabetes adalah dengan mengontrol kadar gula darah agar tetap stabil. Beberapa cara yang bisa dilakukan meliputi:

  • Mengatur pola makan sehat dengan konsumsi makanan rendah gula, tinggi serat, serta cukup protein.
  • Rutin berolahraga seperti jalan kaki atau bersepeda karena aktivitas fisik dapat meningkatkan sirkulasi darah dan sensitivitas insulin.
  • Mengonsumsi obat sesuai resep dokter. 
  • Hindari merokok dan alkohol karena mempercepat kerusakan saraf dan memperburuk aliran darah.

Kapan Harus ke Dokter?

Kesemutan yang muncul sesekali dan mereda setelah mengubah posisi tubuh biasanya tidak berbahaya. Namun, penderita diabetes atau siapa saja yang sering mengalami kesemutan tanpa penyebab jelas perlu segera berkonsultasi ke dokter, terutama jika disertai dengan gejala berikut:

  • Kesemutan yang terus-menerus atau semakin parah.
  • Rasa nyeri, terbakar, atau kelemahan otot yang menyertai kesemutan.
  • Kesulitan berjalan atau melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Terdapat luka di yang tidak sembuh-sembuh.
  • Perubahan warna kulit, kaki terasa dingin, atau kehilangan sensasi sentuhan.

Kamu bisa konsultasi dengan berbagai dokter, sesuaikan dengan keluhan yang dialami. Beberapa dokter yang bisa dikunjungi antara lain:

  • Dokter spesialis penyakit dalam untuk mengontrol gula darah dan mengelola diabetes secara keseluruhan.
  • Dokter spesialis saraf bila gejala neuropati sudah mengganggu aktivitas, terutama jika disertai gejala lain seperti kelemahan otot atau kelemahan anggota gerak satu sisi. 
  • Dokter bedah jika ada luka atau infeksi yang sulit sembuh.
  • Dokter spesialis gizi klinik untuk membantu membuat panduan diet sehat untuk mengontrol gula darah. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


135700-_1_-1200x798.webp

September 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Gula (glukosa) adalah sumber energi utama pada sel-sel tubuh dan memegang peranan penting dalam metabolisme tubuh. Namun, meskipun begitu, tidak lantas membuat kita jadi harus banyak mengonsumsi gula karena akan menyebabkan kondisi hiperglikemia dan menimbulkan masalah penyakit metabolik. 

Apa Itu Kadar Gula Darah?

Kadar gula darah adalah jumlah gula (glukosa) yang terdapat di dalam darah. Gula menjadi sumber energi utama untuk metabolisme tubuh. 

Kelebihan atau kekurangan gula darah dapat dapat mengindikasikan adanya kelainan atau penyakit tertentu. Oleh sebab itu, menjaga kadar gula darah pada usia 40 tahun sangat penting untuk kesehatan dan mencegah penyakit penyakit metabolik. 

Salah satu penyakit yang berkaitan erat dengan kadar gula darah adalah diabetes dimana terjadi kondisi hiperglikemia (kadar gula darah meningkat dari normal) yang diakibatkan oleh berbagai sebab.  

Berapa Kadar Gula Darah Normal Individu Berusia 40 Tahun?

Kadar gula darah tidak secara spesifik dibedakan berdasarkan usia. Dalam hal pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit, beberapa pemeriksaan gula darah dilakukan dengan berpedoman pada nilai normal seperti di bawah ini:

1. Gula darah sewaktu (GDS) diperiksa tanpa melihat kapan terakhir pasien makan

Nilai normal: <200 mg/dL.

2. Gula darah puasa (GDP) diperiksa ketika pasien melakukan puasa selama 8-10 jam. Pemeriksaan biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum sarapan

Nilai normal: 70-100 mg/dL.

3. Gula darah 2 jam post prandial (GD2PP): pemeriksaan dilakukan 2 jam setelah pasien makan dengan kandungan 75 g karbohidrat

Nilai normal: <140 mg/dL.

Warning Sign Gula Darah di Usia 40 Tahun

Pada usia 40 tahun, penting juga untuk mengetahui nilai-nilai yang menjadi warning sign, ketika kondisi berikut: 

  1. GDP: 100-125 mg/dL
  2. GD2PP: 140-199 mg/dL 

Jika terdapat hasil pemeriksaan laboratorium seperti di atas, maka dapat dikategorikan sebagai prediabetes. 

Bahaya Gula Darah Tidak Normal ketika Berusia 40 Tahun

Kondisi hiperglikemia (kadar gula darah melebihi normal) dan hipoglikemia (kadar gula darah kurang dari normal) dapat menimbulkan gejala-gejala yang dapat menurunkan kualitas hidup. Selain itu, kedua kondisi ini dapat menimbulkan bahaya yang diakibatkan karena berbagai komplikasi. Mari kita simak apa saja bahaya yang dapat ditimbulkan dari kondisi hiperglikemia dan hipoglikemia, yaitu:

a. Kondisi hiperglikemia

Hiperglikemia sangat berkaitan erat dengan diabetes. Banyak faktor yang terjadi pada perjalanan penyakit diabetes, di antaranya kurangnya sensitivitas hormon insulin yang dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab, di antaranya asupan gula yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama dan kelebihan berat badan atau obesitas. Jika hal ini tidak segera diterapi dan diperbaiki, maka akan menimbulkan bahaya dari komplikasi penyakit diabetes, seperti: 

  • Neuropati (gangguan saraf)
  • Retinopati (ganggaun penglihatan)
  • Gagal ginjal
  • Gagal jantung
  • Luka sulit sembuh yang biasanya terjadi sindrom kaki diabetik

b. Kondisi hipoglikemia 

Hipoglikemia dapat menimbulkan tanda dan gejala berdasarkan derajat keparahannya. Contoh gejala ringan misalnya, terjadi pusing, berkeringat, mata berkunang-kunang. Gejala yang lebih berat dapat terjadi kehilangan kemampuan berpikir dan berfungsi secara normal, bahkan dapat menyebabkan kondisi tidak sadarkan diri. ‘

Pada usia 40 tahun, penting juga untuk mengetahui nilai-nilai yang menjadi warning sign, ketika kondisi berikut: 

  1. GDP: 100-125 mg/dL
  2. GD2PP: 140-199 mg/dL
  3. HbA1C: 5,7-6,4%

Jika terdapat hasil pemeriksaan laboratorium seperti di atas, maka dapat dikategorikan sebagai prediabetes.

Cara Menjaga Kadar Gula Darah Normal Ketika Usia 40 Tahun

Menginjak usia 40 tahun biasanya individu sedang berada pada masa emas produktivitas dalam pekerjaan sehingga memungkinkan dirinya menjalani gaya hidup kurang sehat, seperti kurangnya olahraga, pola makan yang tidak sehat, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, sangat penting bagi individu yang masuk dalam kategori usia 40 tahun untuk menjaga kadar gula daranya dalam rentang normal. Beberapa langkah di bawah ini dapat dilakukan agar gula darah normal tetap terjaga, di antaranya:

  1. Konsumsi makanan sehat.

    Beberapa tips memilih makanan agar dapat menjaga kadar gula darah, yaitu:

  1. Karbohidrat sederhana cepat menaikkan kadar gula darah sehingga jika pasien memiliki hiperglikemia harus mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat sederhana, seperti kue, selai, biskuit, dan lain-lain.
  2. Karbohidrat kompleks dengan kualitas gizi yang baik, seperti buah, whole grain/ biji-bijian utuh, yogurt plain/tawar dapat meningkatkan kadar gula darah, tetapi dalam waktu yang lebih lama. 
  3. Protein, lemak, dan serat juga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berefek pada kadar gula darah. 
  4. Sebaiknya konsumsi minuman yang tidak berkalori. Kurangi mengonsumsi minuman berkalori. 

Tips lainnya:

  1. Rutin berolahraga dengan durasi olahraga yang dianjurkan adalah 150 menit setiap minggu. Contoh Olahraga yang dapat dilakukan adalah berjalan cepat, jogging, dan latihan beban bergantung pada kondisi fisik individu.
  2. Menjaga berat badan tetap ideal
  3. Hindari merokok dan minuman beralkohol.
  4. Kelola stres dengan baik karena stres dapat meningkatkan hormon kortisol yang dapat meningkatkan kadar gula darah.

Kapan Harus Cek Gula Darah Ketika Usia Sudah Menginjak 40 Tahun?

Memasuki usia 40 tahun sangat rentan terjadi penyakit degeneratif maupun penyakit metabolik. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya risiko penyakit metabolik adalah dengan pengecekan gula darah, terlebih jika individu memiliki gejala atau faktor risiko seperti di bawah ini:

  1. Mengalami keluhan, seperti mudah haus dan lapar, sering buang air kecil, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau pandangan kabur.
  2. Kurangnya aktivitas fisik sehari-hari.
  3. Memiliki riwayat penyakit diabetes dalam keluarga.
  4. Adanya akantosis nigrikans, yaitu kondisi kulit yang berubah menjadi kehitaman, menebal dan bertekstur, dan biasanya terdapat di area lipatan, terutama di leher.

Agar tidak repot tusuk berulang kali untuk mengecek gula darah, Anda bisa menggunakan CGM.

Anda juga bisa mengecek risiko diabetes dengan kalkulator pada tautan ini.

Kapan Perlu Konsultasi tentang Gula Darah ke Dokter?

Pemantauan kadar gula darah juga menjadi sarana untuk memastikan kadar gula darah berada dalam rentang normal. Namun, jika didapati hasil pengecekan gula darah tidak normal, apalagi mengalami hiperglikemia dan beberapa gejala, seperti:

  1. Mudah haus dan lapar,
  2. Sering buang air kecil,
  3. Berat badan turun tanpa sebab,
  4. Pandangan kabur,
  5. Terdapat gejala gangguan saraf, seperti baal, kesemutan, nyeri saraf,

maka disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam. 

Ketika terjadi hal sebaliknya atau gejala hipoglikemia seperti yang telah dijelaskan di poin sebelumnya, disarankan juga untuk berkonsultasi dengan dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam. Jika kondisi yang terjadi bersifat gawat darurat, seperti kehilangan kesadaran, maka pasien perlu dibawa ke instalasi gawat darurat agar segera mendapatkan pertolongan.

Selain itu, individu berusia 40 tahun yang mengeluhkan kesulitan menerapkan gaya hidup sehat, berat badan berlebih, atau obesitas dapat berkonsultasi dengan dokter gizi klinik untuk mendapatkan panduan untuk penurunan berat badan. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Yuk Cek Gula Darah secara Berkala!

Cek gula darah secara berkala penting untuk memastikan tidak ada masalah pada kadar gula darah Anda (terlalu tinggi atau terlalu rendah). Sekarang, Anda bisa menggunakan teknologi CGM untuk memantau kadar gula darah tanpa harus tusuk jari terlebih dahulu, sehingga pemantauan gula darah menjadi lebih mudah dan praktis. Analoginya seperti Anda mengecek seberapa jauh Anda berlari dengan aplikasi lari.

Primecare Clinic memiliki CGM dalam program manajemen diabetesnya. Tertarik untuk mengecek gula darah dengan mudah dan praktis dengan CGM? Yuk klik tautan ini!


2148704927-_1_-1200x960.webp

September 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Merasa kedinginan wajar terjadi bila cuaca sedang dingin atau berada dalam ruangan ber-AC. Namun, jika Anda sering kedinginan ketika cuaca cenderung panas, maka bisa menjadi tanda adanya masalah pada tubuh. 

Sering kedinginan bisa menjadi gejala beberapa penyakit. Penderita diabetes juga dapat mengalami gejala sering kedinginan walau suhu lingkungan tidak dingin. 

Namun, apakah sering kedinginan selalu menjadi gejala diabetes? Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai gejala sering kedinginan pada penderita diabetes, penyebabnya, bahayanya, hingga cara mengatasinya. 

Apa itu Gejala Sering Kedinginan pada Penderita Diabetes?

Sering kedinginan pada penderita diabetes adalah kondisi saat tubuh merasakan dingin secara berlebihan atau tidak wajar, meskipun berada di lingkungan dengan suhu normal. Rasa dingin ini biasanya muncul di bagian tangan dan kaki, tetapi bisa juga menyebar ke seluruh tubuh, kadang disertai menggigil. 

Pada penderita diabetes, sering kedinginan dapat menjadi tanda adanya gangguan peredaran darah, kerusakan saraf (neuropati diabetik), atau masalah metabolisme akibat kadar gula darah yang tidak stabil.

Apakah Sering Kedinginan Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Sering kedinginan tidak selalu berarti seseorang menderita diabetes. Ada berbagai kondisi lain yang dapat menyebabkan seseorang sering kedinginan, yaitu:

1. Hipotiroidisme

Hipotiroidisme adalah penyakit yang menyebabkan kelenjar tiroid kurang aktif sehingga produksi hormon tiroid berkurang. Hormon tiroid berperan penting dalam mengatur metabolisme tubuh. Saat metabolisme melambat, produksi energi menurun sehingga tubuh lebih mudah merasa dingin, bahkan ketika suhu sekitar normal.

2. Anemia

Anemia terjadi karena kadar hemoglobin di bawah normal. Jika hemoglobin berkurang, maka menyebabkan distribusi oksigen ke jaringan tubuh terganggu. Akibatnya, tubuh kesulitan mempertahankan suhu normal sehingga sering merasa dingin, terutama di tangan dan kaki.

3. Gangguan Sirkulasi Darah

Gangguan sirkulasi darah, misalnya karena penyakit jantung atau penyumbatan pembuluh darah dapat menyebabkan darah tidak mengalir lancar ke tubuh. Hal ini membuat badan merasa kedinginan. 

4. Malnutrisi atau Kurang Gizi

Orang dengan gizi kurang biasanya memiliki berat badan rendah atau sangat kurus, serta lapisan lemaknya sedikit. Lemak tubuh berfungsi untuk menjaga suhu tubuh. Karena itu, orang yang kurang gizi bisa mengalami gejala sering kedinginan. 

Selain itu, zat gizi digunakan tubuh untuk menghasilkan energi. Kekurangan kalori dapat menurunkan metabolisme sehingga tubuh tidak cukup menghasilkan panas dan merasa kedinginan. 

5. Infeksi atau Penyakit Kronis

Beberapa infeksi dan penyakit kronis dapat mengganggu fungsi pengaturan suhu tubuh dan membuat seseorang mudah menggigil. Penyakit kronis lain, misalnya gagal ginjal, juga bisa menyebabkan tubuh merasa dingin karena terganggunya metabolisme tubuh.

Penyebab Sering Kedinginan pada Penderita Diabetes

Pada penderita diabetes, sering kedinginan dapat disebabkan oleh kadar gula darah yang rendah atau karena komplikasi diabetes. Berikut beberapa faktor yang dapat menyebabkan sering kedinginan pada penderita diabetes:

1. Neuropati Diabetik

Neuropati diabetik adalah kerusakan saraf karena tingginya kadar gula darah dalam jangka waktu lama. Kerusakan saraf tersebut dapat mengganggu sinyal saraf yang mengatur sensasi suhu. Hal ini dapat membuat penderita diabetes sering merasa kedinginan, terutama pada tangan dan kaki.

2. Gangguan Sirkulasi Darah

 Diabetes dapat menyebabkan peredaran darah terganggu. Kadar gula darah yang tinggi terus-menerus dapat merusak pembuluh darah, sehingga aliran darah ke tubuh berkurang, terutama pada ekstremitas atau anggota gerak. Akibatnya, tubuh terasa dingin walaupun cuaca normal.

3. Gula Darah Rendah (Hipoglikemia)

Penderita diabetes yang menggunakan obat diabetes baik insulin atau obat oral dapat mengalami hipoglikemia jika tidak diikuti dengan konsumsi makanan yang cukup.

Saat kadar gula darah turun hingga mengalami hipoglikemia, tubuh tidak memiliki cukup energi untuk mempertahankan suhu normal. Karena itu penderita diabetes merasa menggigil atau kedinginan.

4. Gangguan Metabolisme

Kadar gula darah yang tidak stabil bisa memengaruhi metabolisme tubuh. Metabolisme yang melambat membuat tubuh lebih mudah merasa dingin.

Apakah Sering Kedinginan pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Sering kedinginan pada penderita diabetes bisa menjadi tanda adanya masalah serius atau komplikasi. Jika penyebab kedinginan nya adalah gangguan organ tubuh akibat komplikasi, maka tidak boleh diabaikan. 

Berikut berbagai bahaya yang bisa timbul jika gejala tersebut diabaikan:

  • Kerusakan saraf yang semakin parah, bisa menyebabkan mati rasa, sering kesemutan, atau sering merasakan nyeri di tangan dan kaki. 
  • Komplikasi kardiovaskuler yang dapat mengganggu peredaran darah sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
  • Jika kedinginan disebabkan oleh hipoglikemia penderita bisa mengalami kejang atau kehilangan kesadaran bila tidak segera ditangani.
  • Menurunnya kualitas hidup karena rasa dingin yang terus menerus membuat penderita diabetes sulit beraktivitas, lemas, dan cepat lelah. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Kedinginan pada Penderita Diabetes

Berikut beberapa cara untuk mencegah dan mengatasi sering kedinginan pada penderita diabetes:

  • Mengontrol dan menjaga kadar gula darah agar tetap normal melalui pola makan sehat, olahraga teratur, dan patuh minum obat sesuai anjuran dokter.
  • Melakukan aktivitas fisik seperti berjalan kaki, senam, atau yoga dapat melancarkan aliran darah ke seluruh tubuh.
  • Menggunakan pakaian hangat atau selimut jika cuaca dingin atau tubuh mudah merasa dingin. 
  • Menerapkan pola makan sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, zat besi, dan vitamin untuk mendukung metabolisme tubuh.
  • Berhenti merokok karena merokok dapat mempersempit pembuluh darah dan memperburuk sirkulasi darah. 

Kapan Harus ke Dokter?

Penderita diabetes atau siapa pun yang sering merasa kedinginan di saat cuaca tidak dingin atau cenderung panas sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter, terutama jika gejala disertai dengan:

  • Rasa dingin ekstrem yang tidak kunjung hilang meski sudah mengenakan pakaian hangat.
  • Tangan dan kaki sering mati rasa atau kesemutan.
  • Ada luka pada bagian tubuh yang sulit sembuh.
  • Gejala disertai pusing, lemah, gemetar, keringat dingin, dan penurunan kesadaran.
  • Disertai nyeri dada, detak jantung tidak teratur, dada berdebar atau sesak napas.

Jika Anda mengalami beberapa gejala di atas, segera konsultasi ke dokter. Berikut dokter yang bisa dikunjungi:

  • Dokter penyakit dalam, khususnya spesialis endokrinologi untuk mengontrol diabetes dan kadar gula darah.
  • Dokter saraf jika disertai keluhan saraf seperti tangan dan kaki mati rasa, sering kesemutan, kebas, atau ada kelemahan salah satu anggota gerak.
  • Dokter jantung bila ada keluhan nyeri dada, detak jantung tidak beraturan, dan sesak napas. 
  • Dokter gizi untuk membantu mengatur pola makan agar sesuai dengan kebutuhan. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes. Anda bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis gizi klinik di program ini. Program manajemen diabetes ini dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C.

Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


19090-1-1200x800.webp

September 15, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Ngemil sering menjadi bagian kecil yang mewarnai rutinitas sehari-hari. Ada yang menjadikannya teman kerja atau sekadar pengganjal perut di tengah kesibukan.

Kegiatan ini memang terasa sulit dilewatkan. Namun, bagi penderita diabetes, ngemil sering dipandang berisiko karena setiap makanan yang masuk berpengaruh pada kadar gula darah. 

Bolehkah Penderita Diabetes Ngemil?

Jawabannya: boleh. Ngemil bukanlah suatu hal yang dilarang bagi penderita diabetes. Selama pilihan camilannya sehat dan porsinya terkontrol, aktivitas ini bisa masuk ke dalam pola makan harian. 

Bahkan, ngemil bisa berfungsi sebagai penjaga stabilitas kadar gula darah, terutama ketika jeda antara makan utama cukup panjang. Misalnya, seseorang yang sarapan pukul 7 pagi dan baru makan siang pukul 1 siang akan membutuhkan camilan sekitar pukul 10 agar tubuh tidak kehabisan energi.

Hal yang perlu diperhatikan adalah apa yang dimakan dan seberapa banyak porsinya. Sebungkus keripik dengan kandungan natrium dan lemak tinggi jelas berbeda dampaknya dibanding seporsi buah segar yang kaya serat. Jadi, bukan soal ngemil boleh atau tidak, melainkan bagaimana cara menyiasatinya agar tetap aman.

Cara Ngemil yang Sehat untuk Penderita Diabetes

Ngemil sehat berarti memilih makanan yang tidak membuat gula darah melonjak cepat, tetapi tetap memberi rasa puas. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

1. Porsi Kecil

Camilan sebaiknya hanya sebagai selingan ringan, bukan pengganti makan utama. Porsi yang terkontrol membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil tanpa memberikan beban kalori berlebih.

2. Atur Waktu dengan Bijak 

Ngemil paling baik dilakukan di sela jam makan besar, misalnya antara sarapan dan makan siang. Hindari ngemil terlalu dekat dengan waktu makan utama atau menjelang tidur.

3. Perhatikan Kandungan Gizi 

Pilih camilan yang mengandung serat, protein, atau lemak sehat sehingga energi yang dilepas lebih stabil. Hindari camilan tinggi gula sederhana yang bisa membuat kadar gula darah melonjak dengan cepat.

4. Seimbangkan dengan Aktivitas Fisik

Ngemil sebaiknya diimbangi dengan pergerakan, walau hanya jalan santai atau aktivitas ringan lainnya.

5. Konsisten dengan Pola Makan

Ngemil sebaiknya direncanakan sebagai bagian dari pola makan harian. Jika tidak diperhitungkan sejak awal, camilan bisa menjadi tambahan energi yang tidak terkontrol dan menyulitkan pengendalian diabetes.

Manfaat Ngemil yang Sehat bagi Penderita Diabetes

Ngemil yang sehat bisa menjadi strategi penting untuk menjaga kondisi tubuh tetap prima. Berikut beberapa manfaat ngemil yang bisa didapatkan:

1. Menjaga Kadar Gula Darah Stabil

Ngemil sehat membantu mencegah lonjakan atau penurunan drastis kadar gula darah, terutama di antara jam makan besar.

2. Mencegah Hipoglikemia

Camilan membantu mencegah gula darah turun terlalu rendah sehingga tubuh terhindar dari rasa lemas, gemetar, atau pusing.

3. Mengendalikan Rasa Lapar

Konsumsi camilan membuat perut tidak terlalu kosong, sehingga porsi makan saat jam makan utama lebih mudah dikendalikan.

4. Melengkapi Asupan Gizi 

Camilan sehat bisa menjadi salah satu cara untuk menambah serat, protein, vitamin, atau mineral yang mungkin kurang dari menu utama.

5. Mendukung Energi dan Aktivitas Harian

Pasokan energi yang stabil membuat tubuh tetap bertenaga sepanjang hari.

Risiko Ngemil Berlebihan dan Tidak Sehat bagi Penderita Diabetes

Ngemil berlebihan atau jika dilakukan tanpa aturan bisa membawa dampak negatif bagi tubuh. Berikut beberapa risiko yang bisa terjadi:

1. Kenaikan Berat Badan

Kalori ekstra dari camilan yang berlebihan mudah menumpuk menjadi lemak. Kondisi ini memperburuk resistensi insulin, sehingga tubuh semakin sulit mengendalikan gula darah. 

2. Lonjakan Gula Darah

Camilan manis atau tinggi karbohidrat sederhana membuat kadar gula darah naik drastis lalu turun cepat. Akibatnya tubuh terasa lemas, mengantuk, atau bahkan mudah lapar kembali.

3. Risiko Komplikasi Jangka Panjang

Lonjakan gula darah yang terjadi berulang kali akibat ngemil yang tidak beraturan bisa merusak pembuluh darah, saraf, hingga organ vital seperti jantung dan ginjal.

4. Pola Makan Jadi Tidak Teratur

Ngemil tanpa kendali sering membuat rencana makan berantakan. Asupan energi menjadi sulit dipantau, sehingga lebih mudah terjadi kelebihan kalori.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami lonjakan gula darah dalam jumlah besar setelah ngemil, maka kamu dianjurkan untuk ke dokter seperti dokter umum/dokter spesialis penyakit dalam. Untuk pemanatauan gula darah, kamu bisa memakai CGM agar bisa memantau gula darah secara real time tanpa harus tusuk jari.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan manajemen diabetes (ada CGM) secara menyeluruh. Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik untuk mengontrol kadar gula darah dan menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


1052-_1_-1200x953.webp

September 15, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Keju menjadi salah satu makanan favorit banyak orang karena rasanya gurih, teksturnya lembut, dan mudah dikombinasikan dengan berbagai hidangan. Namun, bagi penderita diabetes, muncul keraguan apakah konsumsi keju aman.

Apakah Penderita Diabetes Boleh Makan Keju?

Kabar baiknya, keju dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes. Keju mengandung karbohidrat dalam jumlah yang sangat sedikit, sehingga tidak menyebabkan kenaikan gula darah yang signifikan. Namun, bukan berarti penderita diabetes bisa mengonsumsinya tanpa batas. Hal yang perlu diperhatikan adalah jenis keju, porsi, serta frekuensi konsumsinya.

Beberapa jenis keju, terutama yang tinggi lemak jenuh, bisa meningkatkan risiko kolesterol tinggi dan penyakit jantung. Hal ini penting dicermati karena penderita diabetes lebih rentan terhadap gangguan kardiovaskuler. Jadi, meski aman dari sisi gula darah, konsumsi berlebihan tetap dapat membawa risiko lain.

Kandungan Zat Gizi dan Indeks Glikemik Keju

Keju kaya akan berbagai zat gizi yang bermanfaat, mulai dari protein, kalsium, vitamin B12, fosfor, hingga sejumlah mineral penting lainnya. Sebagai gambaran, dalam 100 gram keju cheddar terdapat sekitar 400 Kkal energi, 3.09 gram karbohidrat, 22.87 gram protein, dan 33.31 gram lemak.

Dari kandungan tersebut, terlihat jelas bahwa karbohidrat dalam keju sangat rendah. Indeks glikemik (IG) keju bahkan mendekati nol, artinya hampir tidak memengaruhi kenaikan kadar gula darah. Namun, kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi perlu diperhatikan, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar.

Cara Aman Mengonsumsi Keju bagi Penderita Diabetes

Berikut beberapa cara yang bisa membantu agar keju tetap aman dan sehat untuk dikonsumsi penderita diabetes:

1. Perhatikan Jenis Keju

Tidak semua keju punya kandungan gizi yang sama. Keju segar seperti ricotta, mozzarella, atau cottage cheese umumnya lebih rendah lemak dibandingkan keju olahan atau keju tua (aged cheese). Pilihan ini lebih aman karena mengurangi asupan lemak jenuh yang berlebihan.

2. Batasi Porsi

Meski indeks glikemiknya rendah, keju tetap tinggi kalori. Bagi penderita diabetes, menjaga porsi berarti juga mencegah kenaikan berat badan yang sering menjadi faktor tambahan dalam pengendalian gula darah.

3. Kombinasikan dengan Makanan Berserat

Mengonsumsi keju bersama sayuran hijau, tomat, atau biji-bijian utuh seperti roti gandum bisa membantu memperlambat penyerapan nutrisi. Serat berperan menjaga kadar gula darah tetap stabil dan membuat rasa kenyang lebih lama. Jadi, alih-alih dimakan sendiri, lebih baik keju dijadikan pelengkap salad atau topping pada makanan sehat lainnya.

4. Hindari Keju Olahan Tinggi Garam

Beberapa keju olahan dalam kemasan siap saji biasanya ditambah natrium yang cukup tinggi. Konsumsi berlebihan bisa meningkatkan risiko hipertensi, yang merupakan salah satu komplikasi yang sering muncul pada penderita diabetes. Jika ingin makan keju, pilih varian rendah garam atau batasi frekuensinya agar tekanan darah tetap terjaga.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika setelah mengonsumsi keju muncul kesulitan mengontrol kadar gula darah, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis. 

Dokter spesialis penyakit dalam dapat memberikan penilaian terkait kondisi gula darah. Selain itu, konsultasi dengan dokter gizi klinik atau ahli gizi untuk menentukan jenis keju, porsi, serta frekuensi konsumsi yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan manajemen diabetes (ada CGM) secara menyeluruh. Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik untuk mengontrol kadar gula darah dan menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.