5 Cara Menurunkan HbA1C dengan Sehat

September 18, 2025 by Primecare Clinic
936-_1_-1200x800.webp

Apakah kamu pernah mendengar istilah HbA1C? Untuk mendiagnosis diabetes tidak hanya dari pemeriksaan kadar gula darah puasa atau gula darah sewaktu, tetapi juga bisa dengan pemeriksaan kadar HbA1C. Pemeriksaan HbA1C dapat memberikan gambaran kadar gula darah dalam 2-3 bulan terakhir.

Jadi, apa itu HbA1C dan bagaimana tes ini bisa memberikan gambaran tentang kadar gula darah? Yuk, kita pahami bersama di artikel ini! 

Apa itu HbA1C?

HbA1C (hemoglobin A1C) atau sering disebut juga dengan hemoglobin terglikasi adalah hemoglobin yang berikatan dengan glukosa. Hemoglobin adalah protein yang terdapat di dalam sel darah merah. 

Ketika kadar gula darah terlalu tinggi, maka glukosa bisa menempel pada rantai hemoglobin pada bagian yang disebut N-terminal valine pada rantai beta hemoglobin. Proses ini menyebabkan hemoglobin terglikasi dan membentuk HbA1C. 

Tes gula darah sewaktu atau gula darah puasa hanya menggambarkan kondisi saat itu. Sedangkan tes HbA1C memberikan gambaran kadar gula darah selama 2-3 bulan ke belakang. Sel darah merah rata-rata bertahan hidup sekitar 2–3 bulan maka kadar HbA1C mencerminkan rata-rata kadar gula darah dalam kurun waktu tersebut.

Kadar Normal HbA1C 

Pemeriksaan HbA1C dilakukan dengan mengambil sampel darah dari pembuluh darah, lalu diperiksa di laboratorium. Kadar HbA1C digunakan untuk mendiagnosis diabetes serta menilai efektivitas pengobatan diabetes. Menurut Perkumpulan Endokrin Indonesia (PERKENI) tahun 2021, klasifikasi kadar HbA1C adalah:

  • Normal: kurang dari 5,7%
  • Prediabetes: 5,7% – 6,4%
  • Diabetes: 6,5% ke atas. 

Semakin tinggi kadar HbA1C, mengindikasikan semakin banyak hemoglobin yang berikatan dengan glukosa dan semakin tinggi pula risiko terjadinya komplikasi akibat diabetes. 

Bagaimana Cara Menurunkan HbA1C dengan Sehat

Untuk menurunkan HbA1C membutuhkan perubahan gaya hidup yang konsisten. Berikut beberapa cara menurunkan HbA1C:

1. Mengatur Pola Makan Sehat

Peningkatan kadar HbA1C berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi. Oleh karena itu, untuk menurunkan HbA1C memerlukan perubahan pola makan.

Penderita diabetes dianjurkan untuk mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah, seperti sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Untuk sumber karbohidrat, batasi konsumsi karbohidrat sederhana seperti nasi putih, roti tawar, atau minuman manis. Pilihlah karbohidrat kompleks misalnya nasi merah.

Selain itu hindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan lemak trans, seperti daging berlemak dan susu fullcream. 

Untuk sumber protein, pilihlah protein yang baik, misalnya ikan, udang, cumi, daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu dan tempe.

2. Olahraga Teratur

Olahraga atau aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa menjadi sumber energi, sehingga menurunkan kadar gula darah. Selain itu, olahraga juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin.

Olahraga yang dianjurkan adalah sebanyak 3-5 kali per minggu dengan durasi 30-40 menit dalam setiap sesi olahraga. Olahraga yang dianjurkan adalah olahraga aerobik dengan intensitas sedang seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang. 

3. Mengelola Berat Badan

Berat badan berlebih atau obesitas meningkatkan risiko kenaikan kadar gula darah. Oleh karena itu, penurunan berat badan dapat memberi dampak signifikan dalam menurunkan gula darah dan kadar HbA1C.

4. Mengonsumsi Obat Sesuai Resep

Dokter akan mempertimbangkan untuk memberikan obat penurun kadar gula darah ketika seseorang didiagnosis diabetes. Terapi obat-obatan diberikan dengan tetap mempertahankan pola hidup sehat seperti yang sudah dijelaskan di atas. 

Dokter akan mempertimbangkan untuk memberikan terapi insulin jika kadar HbA1c saat diperiksa lebih dari 7.5% dan sudah menggunakan satu atau dua obat antidiabetes oral, serta saat kadar HbA1C > 9 %.

Konsumsilah obat-obatan sesuai dengan yang dianjurkan oleh dokter. Hindari menambah atau mengurangi dosis tanpa konsultasi dengan dokter. 

5. Mengelola Stres dan Tidur Cukup

Stres dan kurang tidur bisa meningkatkan hormon yang berpengaruh pada kenaikan gula darah. Oleh karena itu, mengelola stres dan cukup tidur dapat membantu menjaga kadar gula darah. Cobalah melakukan teknik relaksasi, meditasi, dan tidur 7–8 jam per malam. 

Perlu dipahami bahwa menurunkan kadar HbA1C dengan sehat bukan hanya soal menekan angka, tetapi juga membangun kebiasaan hidup yang mendukung kesehatan jangka panjang.

Berapa Penurunan HbA1C yang Normal? 

Menurunkan HbA1C harus dilakukan dengan hati-hati. Target penurunannya ditetapkan oleh dokter dengan memeriksa kondisi pasien secara menyeluruh, meliputi apakah terdapat risiko hipoglikemia atau adanya komplikasi lain. 

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) tahun 2021 menetapkan target HbA1C pada pasien diabetes tipe 2 adalah kurang dari 7% atau disesuaikan dengan kondisi klinik setiap pasien. Penurunan HbA1C kurang dari 6,5 % dapat meningkatkan risiko hipoglikemia.

American Diabetes Association (ADA) tahun 2022 merekomendasikan penurunan kadar HbA1C hingga di bawah 7% jika tidak terdapat risiko hipoglikemia, tidak memiliki kondisi pemberat seperti masalah jantung, ginjal atau hipertensi dan tidak ada risiko komplikasi diabetes. 

Dengan begitu, target penurunan HbA1C harus disesuaikan dengan kondisi medis individual dan secara bertahap. Dokter akan menyesuaikan target dengan kondisi masing-masing pasien agar aman dan menghindari penurunan drastis yang dapat mengakibatkan hipoglikemia. 

Kapan Harus Tes HbA1C? 

Pemeriksaan HbA1C dilakukan untuk diagnosis diabetes dan mengevaluasi efektivitas pengobatan penderita diabetes. Tes ini dapat dilakukan 3-6 bulan sekali. 

Pada orang sehat tanpa diabetes direkomendasikan untuk melakukan tes HbA1C 1-2 kali dalam setahun, terutama jika memiliki faktor risiko seperti obesitas, pola hidup tidak sehat, serta keluarga memiliki riwayat diabetes. 

Pada penderita diabetes yang sedang dalam pengobatan, dianjurkan untuk melakukan tes HbA1C 3-6 bulan sekali. Hal ini dilakukan untuk melihat efek pengobatan. Dokter dapat mempertimbangkan dosis dan jenis obat melalui pemeriksaan HbA1C. 

Namun, tes HbA1C tidak dianjurkan pada beberapa kondisi yang dapat memengaruhi hasil HbA1C, yaitu penderita anemia defisiensi besi, anemia hemolitik, thalasemia, dan baru mendapat transfusi darah.

Jika kamu ingin melakukan tes HbA1C, kamu bisa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar mendapat rekomendasi yang sesuai.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang bisa membantu Anda untuk menurunkan kadar HbA1C. 

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.