Sering Ngompol pada Penderita Diabetes – Penyebab, dan Cara Mengatasinya

September 17, 2025 by Primecare Clinic
6972-_1_-1200x801.webp

Sering ngompol sering dialami oleh anak-anak saat tidur, terutama pada anak yang belum lulus toilet training. Namun, bagaimana jika orang dewasa sering ngompol?

Sering ngompol pada orang dewasa menandakan adanya masalah, terutama pada saluran kencing. Pada penderita diabetes, ngompol bisa menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada sistem saraf dan kerusakan ginjal akibat kadar gula darah yang tidak terkontrol.

Apakah penderita diabetes selalu mengalami gejala sering ngompol dan bagaimana mengatasinya? Artikel ini akan membahas mengenai gejala sering ngompol pada penderita diabetes, penyebab, serta cara mencegah dan mengatasinya. 

Apa itu Gejala Sering Ngompol pada Penderita Diabetes?

Ngompol dikenal dengan istilah medis inkontinensia urin atau enuresis, yaitu kondisi saat seseorang tidak mampu mengendalikan buang air kecil sehingga terjadi kebocoran urin atau kencing tanpa disadari.

Normalnya, urin yang dihasilkan oleh ginjal akan ditampung di kandung kemih. Saat kandung kemih penuh, saraf akan mengirimkan sinyal ke otak agar tubuh merasa ingin buang air kecil. Ketika tubuh sudah siap untuk kencing, otot kandung kemih akan berkontraksi dan otot sfingter atau katup uretra yang menahan urin terbuka. Dengan demikian urin dapat keluar melalui uretra.

Namun, ketika kandung kemih penuh tetapi seseorang memilih untuk menahan kencing, maka otot kandung kemih akan tetap rileks, sedangkan otot sfingter berkontraksi agar urin tidak keluar. Mekanisme ini melibatkan koordinasi saraf antara kandung kemih, otak, dan otot panggul.

Pada penderita diabetes, proses tersebut bisa terganggu karena adanya kerusakan saraf akibat kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang. Akibatnya, kemampuan untuk menahan kencing menurun, sehingga urin keluar tanpa disadari dan memicu sering ngompol.

Apakah Sering Ngompol Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Sering ngompol bisa dialami oleh penderita diabetes karena kadar gula darah yang tidak terkontrol sehingga cenderung tinggi terus-menerus. Walau begitu, sering ngompol juga bisa disebabkan oleh berbagai faktor lain selain diabetes. Berikut beberapa penyebab sering ngompol selain diabetes:

1. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Saluran kemih dapat terinfeksi oleh bakteri, virus, dan jamur. Infeksi menyebabkan terjadinya peradangan pada kandung kemih. dapat membuat seseorang sulit menahan buang air kecil, sehingga meningkatkan risiko ngompol.

2. Pembesaran Prostat pada Pria

Pembesaran kelenjar prostat pada pria dapat menekan saluran kemih. Kondisi ini bisa menyebabkan penderita sulit menahan kencing, sehingga mudah ngompol. 

3. Otot Kandung Kemih Melemah

Otot kandung kemih dapat melemah seiring bertambahnya usia. Akibatnya, kandung kemih sulit menahan urin dalam waktu lama, sehingga urin bisa keluar tiba-tiba.

4. Efek Obat-obatan Tertentu

Beberapa jenis obat, seperti obat diuretik dan obat hipertensi dapat menyebabkan meningkatnya produksi urin. Hal ini bisa menyebabkan kandung kemih cepat penuh dan memicu ngompol.

5. Minum Terlalu Banyak

Terlalu banyak minum air, teh, kopi, atau minuman beralkohol sebelum tidur bisa membuat kandung kemih lebih cepat penuh. Apalagi minuman yang mengandung kafein mempunyai efek diuretik, yaitu meningkatkan produksi urin. Akibatnya, risiko ngompol di malam hari atau saat tidur pun meningkat.

Dengan demikian, sering ngompol tidak selalu menjadi gejala diabetes. Untuk Memastikan penyebabnya, diperlukan pemeriksaan medis yang lebih lengkap. 

Penyebab Sering Ngompol pada Penderita Diabetes

Pada penderita diabetes, gejala sering ngompol biasanya dialami oleh penderita yang tidak rutin mengontrol kadar gula darahnya sehingga terjadi komplikasi kerusakan organ. Berikut berbagai faktor yang menyebabkan gejala sering ngompol pada penderita diabetes: 

1. Kadar Gula Darah Tinggi (Hiperglikemia)

Saat kadar gula dalam darah terlalu tinggi, ginjal akan berusaha membuang kelebihan gula melalui urin. Proses ini membuat produksi urin meningkat, sehingga penderita diabetes lebih sering merasa ingin kencing dan berpotensi sering ngompol terutama di malam hari.

2. Kerusakan Saraf (Neuropati Diabetik)

Diabetes yang tidak terkontrol dapat merusak saraf yang mengatur fungsi kandung kemih. Akibatnya, penderita diabetes tidak merasa ingin kencing saat kandung kemih penuh, sehingga urin keluar tanpa disadari.

Kerusakan saraf pada kandung kemih juga menyebabkan kandung kemih dan otot sfingter tidak bisa menahan kencing. 

3. Infeksi Saluran Kemih (ISK) 

Penderita diabetes lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih. Berulang kali mengalami ISK bisa menyebabkan peradangan pada saluran kencing. Akibatnya, kemampuan menahan kencing terganggu.

4. Obesitas

Orang dengan obesitas atau kelebihan berat badan lebih berisiko terkena diabetes tipe 2. Di samping itu, obesitas juga meningkatkan risiko inkontinensia urin. 

Berat badan berlebih menyebabkan tekanan pada otot dasar panggul lebih besar. Hal itu dapat memicu gangguan otot panggul dalam mengontrol buang air kecil. 

Apakah Sering Ngompol pada Penderita Diabetes itu Berbahaya

Sering ngompol tidak menyebabkan bahaya secara langsung. Namun, pada penderita diabetes sering ngompol bisa menjadi tanda adanya komplikasi. Kondisi bisa ini berbahaya karena:

  • Menandakan gula darah tidak terkontrol
  • Risiko infeksi saluran kemih meningkat dan jika terjadi berulang dapat menyebabkan masalah pada saluran kemih.
  • Mengganggu kualitas tidur karena sering terbangun karena ngompol. Penderita bisa mengalami gangguan tidur yang berimbas pada kelelahan.
  • Mengindikasi komplikasi diabetes berupa kerusakan saraf pada saluran kemih yang harus ditangani segera.

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Ngompol pada Penderita Diabetes

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan penderita diabetes untuk mencegah atau mengurangi risiko sering ngompol, yaitu:

  • Mengontrol gula darah agar tetap dalam batas normal dengan pola makan sehat, olahraga, dan konsumsi obat sesuai anjuran dokter.
  • Mengatur asupan cairan, menghindari minum berlebihan sebelum tidur, terutama minuman berkafein atau alkohol.
  • Latihan otot panggul atau senam kegel untuk memperkuat otot panggul yang berperan dalam kontrol kandung kemih.

Kapan Penderita Diabetes atau Orang yang Sering Ngompol Harus ke Dokter?

Sering ngompol yang terjadi berulang bukanlah kondisi normal dan perlu diperiksakan ke dokter. Seseorang yang sering ngompol disarankan segera berkonsultasi ke dokter jika:

  • Ngompol terjadi hampir setiap hari.
  • Disertai gejala lain seperti sering haus, penurunan berat badan drastis, atau kelelahan ekstrem.
  • Terdapat rasa sakit atau perih saat buang air kecil karena mengindikasikan ISK.

Jika mengalami beberapa gejala di atas, jangan ragu untuk segera periksa ke dokter. Kamu bisa konsultasi dengan dokter penyakit dalam, khususnya spesialis endokrinologi untuk mengontrol kadar gula darah. 

Jika dicurigai adanya masalah pada saluran kemih, maka bisa konsultasi dengan dokter urologi. Kamu juga bisa konsultasi dengan dokter saraf jika dicurigai ada kerusakan saraf akibat diabetes.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.