135682-2-1200x798.webp

October 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Tentu menjadi sebuah pertanyaan besar mengapa kadar gula darah naik setelah bangun pagi, padahal kita baru saja tidur dengan durasi 6-9 jam yang artinya tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam pencernaan kita selama itu. Lalu, apakah kondisi tersebut berbahaya? 

Kondisi Gula Darah Naik Setelah Bangun Pagi

Gula darah naik setelah bangun pagi adalah hal yang biasa terjadi karena merupakan fenomena alami tubuh yang berkaitan dengan ritme sirkadian. Hal ini tentunya juga terjadi pada penderita diabetes. Kondisi ini perlu dipahami dan dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan komplikasi di masa mendatang.

Apakah Normal Gula Darah Naik Setelah Bangun Pagi?

Ya, hal tersebut adalah hal yang normal terjadi karena kondisi alamiah tubuh sebagai respons terhadap jam biologis tubuh. Namun, jika hasil pengukuran menunjukkan angka yang berlebihan maka perlu diwaspadai. Hal ini juga berlaku bagi penderita diabetes. Jika sudah rutin melakukan pengecekan dan pencatatan kenaikan kadar gula darah setelah bangun tidur dan didapatkan hasil yang naik secara signifikan, tentunya ini menjadi hal yang perlu diwaspadai oleh pasien. 

Penyebab Gula Darah Naik Setelah Bangun Pagi

1. Pengeluaran hormon antagonis insulin pada malam hari

Contoh hormon antagonis insulin adalah hormon pertumbuhan dan kortisol dimana keduanya dikeluarkan dari tubuh pada malam hari. Hormon kortisol akan merangsang tubuh mempersiapkan energi untuk pergerakan tubuh sehingga memberikan sinyal pada tubuh untuk memproduksi glukosa sehingga akan meningkatkan gula darah pada pagi hari. 

2. Resistensi insulin yang berhubungan dengan sindrom metabolik

Hal ini terjadi pada penderita diabetes yang kemudian memberikan sinyal kepada tubuh bahwa tubuh kekurangan glukosa sehingga tubuh perlu untuk memproduksi glukosa dan terjadilah hiperglikemia.

3. Dawn Phenomenon dan Somogyi Effect 

Dawn Phenomenon diperkenalkan oleh Dr. Schmidt yang mengemukakan bahwa kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) yang terjadi pada pagi hari disebabkan karena penurunan kadar insulin yang dikeluarkan pada malam hari dan meningkatkan konsentrasi hormon antagonis insulin (contoh: hormon pertumbuhan dan kortisol). Jadi, pada dawn phenomenon tidak terjadi episode kadar gula darah turun (hipoglikemia).

Somogyi effect merupakan teori yang diajukan oleh Dr. Michael Somogyi. Dia menyatakan bahwa hiperglikemia pada pagi hari terjadi karena reaksi tubuh terhadap hipoglikemia. Ketika gula darah turun pada tengah malam, menyebabkan proses pemecahan gula otot sehingga menyebabkan hiperglikemia. Namun, beberapa penelitian yang dilakukan dengan menggunakan continuous glucose monitoring (CGM) membantah teori ini sehingga teori ini masih diperdebatkan di kalangan peneliti.

Berbahayakah Gula Darah Naik Setelah Bangun Pagi?

Peningkatan kadar gula darah yang signifikan dapat menjadi hal yang berbahaya bagi kesehatan. Bagi orang sehat, hal ini dapat menjadi tanda waspada adanya penyakit metabolik. Bagi penderita diabetes yang kadar gula darahnya meningkat signifikan setelah bangun tidur, perlu melakukan evaluasi terapinya, baik terapi modifikasi gaya hidup maupun terapi obat. Jika kondisi ini diabaikan, maka dapat menimbulkan komplikasi seperti, neuropati (gangguan saraf), gangguan jantung, retinopati (gangguan penglihatan), dan gagal ginjal. 

Cara Mencegah/Mengatasi Gula Darah Naik Setelah Bangun Pagi

1. Atur pola makan saat makan malam

Mengatur pola makan pada malam hari dengan tidak makan terlalu larut dan makan makanan yang mengandung gizi seimbang. Hindari konsumsi karbohidrat terlalu banyak.

2. Olahraga

Olahraga dapat membantu menurunkan kadar gula darah karena glukosa digunakan untuk metabolisme tubuh selama olahraga. Pada penderita diabetes, olahraga juga bermanfaat untuk meningkatkan sensitivitas insulin. 

3. Melakukan pengecekan dan pencatatan kadar gula darah

Pada penderita diabetes yang rutin melakukan pengecekan kadar gula darah secara mandiri, dapat melakukan pengukuran kadar gula darah sebelum, di antara siklus tidur, dan setelah bangun pagi. Kemudian, lakukan pencatatan. Pengecekan kadar gula darah dapat dilakukan dengan bantuan alat blood glucose meter (BGM) atau continuous glucose monitoring (CGM). Dari hasil tersebut, dapat dikumpulkan dan dilihat bagaimana pola kadar gula darah sebelum, di antara siklus tidur, dan setelah bangun pagi. 

4. Mengidentifikasi Penyebab

Bagi pasien diabetes yang sudah melakukan pengukuran dan pencatatan kadar gula darah sebelum dan sesudah bangun tidur, dapat melakukan evaluasi, seperti makanan apa saja dan seberapa banyak yang dikonsumsi sebelum tidur, penggunaan obat, terutama pada pasien yang menggunakan terapi insulin, apakah pemilihan terapinya sudah tepat atau belum.

Kapan harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika mengalami kenaikan gula darah setelah bangun tidur yang signifikan atau drastis, Anda disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter di bawah ini:

1. Dokter Umum

Sebagai skrining awal terjadinya kenaikan gula darah saat bangun pagi, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter umum di fasilitas kesehatan pertama. 

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Anda juga bisa langsung berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk keluhan ini. Di samping itu, jika di fasilitas kesehatan pertama Anda didiagnosis diabetes, biasanya Anda akan dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait adanya komplikasi atau tidak.  

Konsultasi Gula Darah di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah atau mengalami prediabetes/diabetes, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2149168885-1-1200x801.webp

October 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Tenis dikenal sebagai olahraga yang memadukan kecepatan, ketepatan, dan ketahanan. Bukan hanya sekadar permainan rekreasi, tenis juga termasuk aktivitas fisik yang sangat baik untuk menjaga kebugaran dan kesehatan jantung.

Namun, bagi penderita diabetes mungkin muncul pertanyaan, “Apakah penderita diabetes aman bermain tenis?” Mari kita pahami lebih dalam di artikel ini! 

Apakah Penderita Diabetes Boleh Main Tenis?

Banyak penderita diabetes ragu untuk berolahraga intens seperti tenis karena takut kadar gula darahnya turun drastis atau justru melonjak.

Pada dasarnya, penderita diabetes boleh main tenis jika kadar gula darahnya sudah stabil dan tidak terdapat komplikasi atau kondisi medis lain yang dapat menyebabkan cedera dan memburuknya kondisi diabetes selama bermain tenis. 

Salah satu pemain tenis profesional dari Jerman, Alexander Zverev, didiagnosis mengalami diabetes tipe 1 pada umur 4 tahun. Alexander Zverev bisa menjadi inspirasi bahwa menderita diabetes tetap bisa bermain tenis, bahkan menjadi pemain profesional. Namun, tentu saja dengan syarat dan pengawasan yang ketat. 

Penderita diabetes yang ingin mulai olahraga tenis sebaiknya konsultasi ke dokter terlebih dahulu. Hal ini penting untuk memastikan kondisi jantung, saraf, mata, gula darah, sendi dan otot dalam keadaan baik, terutama bila sudah lama tidak berolahraga.

Pemeriksaan dan pemantauan ini penting dilakukan untuk menilai apakah kondisi tubuh memungkinkan untuk bermain tenis dengan aman. 

Tips Main Tenis bagi Penderita Diabetes

Agar dapat bermain tenis dengan aman dan menyenangkan, penderita diabetes perlu memperhatikan kondisinya sebelum, saat, dan setelah main tenis. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

1. Sebelum Bermain Tenis

  1. Cek kadar gula darah, pastikan kadar glukosa dalam rentang aman untuk bermain tenis, yaitu antara 100–250 mg/dL
  2. Makan dengan porsi seimbang, jangan bermain dalam kondisi perut kosong karena berisiko terjadi hipoglikemia saat bermain tenis. 
  3. Lakukan pemanasan misalnya peregangan ringan dan jogging kecil selama 5–10 menit untuk menyiapkan otot dan sendi.
  4. Gunakan perlengkapan yang sesuai termasuk sepatu yang empuk dan nyaman untuk mencegah luka kaki. Ingat, luka kecil bisa menjadi serius pada penderita diabetes.
  5. Siapkan air dan camilan manis untuk berjaga-jaga jika terjadi hipoglikemia (gula darah turun tiba-tiba).
  6. Anda juga bisa memakai CGM untuk pemantauan gula darah secara real time

2. Selama Bermain Tenis

  1. Perhatikan intensitas, mulailah dengan durasi singkat misalnya 30–45 menit dan hindari bermain terlalu lama tanpa istirahat.
  2. Minum secara teratur untuk mencegah dehidrasi karena dehidrasi dapat memengaruhi kadar gula darah dan meningkatkan risiko kelelahan.
  3. Kenali tanda-tanda hipoglikemia seperti pusing, gemetar, lemas, atau berkeringat dingin. Segera berhenti bermain dan konsumsi makanan manis jika muncul tanda hipoglikemia. 
  4. Gunakan pelindung kaki dan tangan untuk mencegah luka atau kapalan yang sulit sembuh.

3. Sesudah Bermain Tenis

  1. Lakukan pendinginan untuk menurunkan detak jantung secara bertahap.
  2. Cek kembali kadar gula darah karena setelah olahraga, gula darah bisa turun. 
  3. Konsumsi makanan untuk pemulihan energi dan mengembalikan cadangan glukosa, pilih karbohidrat kompleks dan protein tanpa lemak. 
  4. Periksa kondisi kaki untuk memastikan tidak ada lecet, luka, atau iritasi setelah bermain. Bila ada, segera bersihkan dan obati.

Manfaat Main Tenis bagi Penderita Diabetes

Bermain tenis secara teratur dapat memberikan dampak positif bagi penderita diabetes. Berikut beberapa manfaatnya:

1. Menurunkan Kadar Gula Darah

 Aktivitas fisik seperti tenis membantu otot menggunakan glukosa untuk energi, sehingga kadar gula dalam darah menurun secara alami.

2. Meningkatkan Sensitivitas Insulin

Tenis menggabungkan gerakan lari di lapangan dan gerakan mengayun untuk memukul bola. Aktivitas aerobik dapat meningkatkan sensitivitas insulin sehingga pengaturan gula darah bisa membaik. 

3. Menjaga Berat Badan Ideal

Bermain tenis membakar kalori cukup banyak, tergantung intensitasnya. Ini membantu mencegah obesitas yang merupakan faktor risiko diabetes tipe 2.

4. Meningkatkan Kesehatan Jantung dan Paru-paru

Gerakan lari dalam tenis melatih daya tahan jantung dan paru, serta membantu menurunkan tekanan darah dan kolesterol jahat.

5. Memperkuat Otot dan Tulang

Gerakan memukul dan melompat meningkatkan massa otot serta kepadatan tulang sehingga meningkatkan kebugaran. 

6. Mengurangi Stres dan Memperbaiki Suasana Hati

Tenis membantu tubuh melepaskan hormon endorfin yang menimbulkan rasa bahagia dan relaksasi. Kondisi psikologis yang baik sangat membantu menjaga kestabilan gula darah.

Jadi, penderita diabetes boleh main tenis selama kondisinya stabil dan tidak ada komplikasi. Bahkan, bermain tenis memberikan berbagai manfaat bagi penderita diabetes. Jangan lupa untuk rutin memantau kadar gula darah untuk mencegah komplikasi!

Konsultasi Gula Darah di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah atau mengalami prediabetes/diabetes, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM). 

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2150756393-_1_-1200x798.webp

October 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Normalnya, setelah makan kadar gula darah akan naik karena adanya asupan makanan yang berubah menjadi senyawa gula dalam tubuh kita. Namun, kondisi sebaliknya dapat juga terjadi. Hipoglikemia atau kadar gula darah turun dari normal dapat terjadi setelah makan. Bagaimana hal itu dapat terjadi?

Gula Darah Turun Setelah Makan

Secara klinis, hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah <70 mg/dL. Kondisi gula darah turun setelah makan dikenal sebagai hipoglikemia reaktif. Kondisi ini dapat terjadi 2 sampai 5 jam setelah makan. Ada beberapa bentuk dari hipoglikemia reaktif, yaitu:

  1. Early Postprandially Reactive Hypoglycemia: terjadi di awal 1-2 jam setelah makan. Hal ini dapat terjadi karena percepatan pengosongan lambung atau efek inkretin (hormon yang menstimulasi pengeluaran insulin) yang berlebihan.
  2. Idiopathic Postprandially Reactive Hypoglycemia: terjadi pada 3 jam setelah makan. Tipe ini biasanya tidak menyebabkan diabetes.
  3. Late Postprandially Reactive Hypoglycemia: terjadi 3-5 jam setelah setelah makan. kondisi ini sebagian disebabkan oleh sindrom resistensi insulin. Hal ini dapat terjadi karena terlambatnya pengeluaran insulin.

Apakah Gula Darah Turun Setelah Makan Itu Normal? 

Secara umum, kadar gula darah akan naik selama 1-2 jam setelah makan. Nilai normal kadar gula darah setelah makan (postprandial) adalah <140 mg/dL. Jika gula darah turun hingga mencapai nilai 55 mg/dL atau kurang, kondisi tersebut tidak normal. Hal ini perlu diwaspadai jika terjadi.

Penyebab Gula Darah Turun Setelah Makan

Penyebab gula darah turun setelah makan dapat dikategorikan menjadi:

1. Penyebab umum 

  1. Terjadinya peningkatan pengeluaran hormon insulin sebagai respons dari asupan makanan yang mengandung glukosa.
  2. Percepatan pengosongan lambung

2. Penyebab Terkait Kondisi Prediabetes/Diabetes:

  1. Pada fase pertama pengeluaran insulin terjadi hambatan yang menyebabkan terjadinya kadar gula darah naik. Hal ini menstimulasi pengeluaran hormon insulin fase kedua yang berlebihan sehingga menyebabkan hipoglikemia reaktif yang dapat menjadi prediktor diabetes.
  2. Pada penderita diabetes, penyebab umum penurunan kadar gula darah setelah makan  yang rendah adalah penggunaan obat antidiabetes.
  3. Gastroparesis dimana terjadi gangguan pada otot lambung yang dapat memperlambat makanan masuk ke usus halus. 

Apakah Gula Darah Turun Setelah Makan Itu Berbahaya? 

Kondisi kadar gula darah yang terjadi secara terus-menerus secara umum dianggap berbahaya.

Bagi individu yang sehat yang mengalami hipoglikemia reaktif, terutama yang terjadi secara lambat (setelah 4 atau 5 jam), memiliki bahaya jangka panjang karena:

  • Terjadinya resistensi insulin: Hipoglikemia yang terjadi pada jam ke-4 atau ke-5 (Late Postprandially Reactive Hypoglycemia) lebih berkaitan dengan kondisi resisten insulin yang dapat berkembang menjadi diabetes.
  • Prediktor diabetes tipe 2 (T2DM): Hipoglikemia reaktif postprandial, terutama setelah 4 jam, dapat memprediksi perkembangan diabetes. Kasus-kasus ini dapat dianggap sebagai prediabetes reaktif hipoglikemia.
  • Peningkatan risiko penyakit kardiovaskular: pada prediabetes, hipoglikemia reaktif dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian karena penyakit kardiovaskular secara signifikan dibandingkan pasien dengan gula darah normal.

Bagi Penderita Diabetes:

Pada penderita diabetes, kadar gula darah turun perlu diwaspadai karena pengelolaan kadar gula darah puasa dan postprandial sangat penting untuk menyesuaikan dosis obat diabetes dengan benar dengan tujuan untuk mencegah komplikasi.

Cara Mencegah/Mengatasi Gula Darah Turun Berlebihan Setelah Makan

Pencegahan dan pengelolaan hipoglikemia reaktif berfokus pada mengubah gaya hidup dan terapi obat jika dibutuhkan. 

  • Mengubah gaya hidup selalu disarankan sebagai langkah pencegahan utama diabetes, yaitu dengan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan juga dapat memilih makanan yang baik untuk mikrobiota usus, serta rutin melakukan olahraga 150 menit per minggu.
  • Mengunyah dan makan lebih lambat dapat mengurangi lonjakan glukosa reaktif setelah makan.
  • Bagi penderita diabetes: mengubah jenis dan waktu makan dan pengobatan harus dipertimbangkan.
  • Jika didapatkan kondisi prediabetes (pasien dengan hiperglikemia, tetapi belum masuk diagnosis diabetes) dapat diberikan terapi obat yang sesuai dengan kondisi pasien ketika berkonsultasi dengan dokter.

Kemana Pasien Harus Berkonsultasi Jika Gula Darah Turun Signifikan/Drastis Setelah Makan?

1. Dokter Umum

Sebagai langkah awal, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter umum di fasilitas layanan primer. Jika dibutuhkan, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter yang menangani pasien diabetes dewasa. Penderita diabetes atau individu yang mengalami penurunan kadar gula darah pada pemeriksaan mandiri atau laboratorium dapat berkonsultasi terkait keluhannya.

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrin, Metabolik, Dan Diabetes

Masalah turunnya kadar gula darah setelah makan yang drastis dan terus-menerus, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam subspesialis endokrin, metabolik, dan diabetes untuk mendapat pengobatan lebih lanjut.

Konsultasi Gula Darah di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


942-1-1-1200x800.webp

October 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Banyak orang sering mengira bahwa gula darah tinggi dan diabetes adalah hal yang sama. Kedua kondisi tersebut memang saling berkaitan, tetapi sebenarnya adalah kondisi yang berbeda. 

Gula darah tinggi atau disebut juga hiperglikemia bisa menjadi tanda awal dari diabetes, tetapi tidak semua orang yang mengalami gula darah tinggi langsung dikategorikan sebagai penderita diabetes.

Apa perbedaan gula darah tinggi dan diabetes? Yuk, pahami di artikel ini. 

Perbedaan Diabetes dan Gula Darah Tinggi

Gula darah tinggi (hiperglikemia) adalah kondisi ketika kadar glukosa darah meningkat di atas batas normal, yaitu di atas 140 mg/dL setelah makan atau di atas 125 mg/dL saat puasa.

Gula darah tinggi bisa terjadi sementara lalu kembali normal. Beberapa faktor yang bisa menyebabkan gula darah tinggi yaitu:

  • Mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat atau gula
  • Stres baik fisik maupun emosional
  • Kurang aktivitas fisik
  • Efek samping obat tertentu, misalnya kortikosteroid
  • Penyakit akut seperti infeksi
  • Gangguan produksi insulin dan resistensi insulin. 

Gula darah tinggi bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya gangguan metabolisme glukosa. Jika berlangsung terus-menerus tanpa penanganan, hiperglikemia dapat berkembang menjadi diabetes. Pernah mengalami gula darah tinggi juga merupakan faktor risiko diabetes.

Berbeda dengan gula darah tinggi yang biasanya bersifat sementara, diabetes melitus adalah penyakit kronis yang ditandai oleh tingginya kadar gula darah akibat gangguan produksi insulin pada DM tipe 1 dan resistensi insulin pada DM tipe 2.

Diagnosis diabetes ditegakkan bila kadar glukosa darah puasa ≥126 mg/dL, hasil tes HbA1c ≥6,5%, atau kadar gula darah sewaktu ≥200 mg/dL, serta bisa disertai gejala khas seperti sering buang air kecil, haus berlebih, dan penurunan berat badan tanpa sebab. 

Gula Darah TinggiDiabetes
Sifat kondisiSementara, bisa membaik dengan perubahan gaya hidup dan obatKronis, berlangsung lama dan memerlukan pengobatan jangka panjang
PenyebabPola makan tinggi gula, stres, infeksi, obat tertentu, gangguan insulinGangguan produksi insulin dan resistensi insulin
Kadar gula darahBiasanya hanya meningkat sesaat dan kembali normal setelah ditanganiBisa meningkat terus-menerus bila tidak dikontrol
GejalaLemas, sering haus, mudah lapar, tapi bisa hilang setelah memperbaiki pola hidup atau konsumsi obatSering buang air kecil, haus berlebihan, berat badan turun, lemas, luka sulit sembuh
PemeriksaanGula darah puasa, gula darah 2 jam setelah makanPemeriksaan gula darah puasa, HbA1c, dan tes toleransi glukosa
Risiko Jangka PanjangDapat berkembang menjadi diabetes jika tidak dikontrolKomplikasi dan kerusakan organ lain jika tidak dikontrol (mata, ginjal, jantung, saraf)

Jadi, diabetes dan gula darah tinggi adalah kondisi yang mirip dan bisa saling berkaitan. Seseorang bisa mengalami gula darah tinggi baik dengan diabetes atau tanpa diabetes. Jika tidak disebabkan oleh diabetes, kondisi gula darah tinggi hanya sementara dan bisa kembali normal.

Harus ke Dokter Apa Jika Mengalami Diabetes atau Gula Darah Tinggi? 

Jika kamu mempunyai kadar gula darah tinggi atau baru didiagnosis diabetes, maka kamu bisa ke beberapa dokter berikut untuk konsultasi:

1. Dokter Umum

Untuk konsultasi awal, pasien bisa konsultasi ke dokter umum di fasilitas kesehatan primer. Dokter umum akan melakukan pemeriksaan dasar, misalnya memeriksa ulang kadar gula, apakah masih tinggi atau tidak.

Dari hasil tersebut, dokter akan menentukan apakah peningkatan gula darah bersifat sementara atau sudah mengarah ke diabetes. Selain pemeriksaan, dokter umum juga bisa memberikan saran awal seperti mengatur pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, serta mengelola stres dan waktu tidur.

Bila kadar gula darah tetap tinggi atau disertai gejala khas diabetes, dokter umum akan merujuk ke dokter spesialis penyakit dalam.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika ingin langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis, pasien bisa ke dokter spesialis penyakit dalam. Di sini, biasanya dokter akan memeriksa kondisi pasien secara menyeluruh, termasuk menilai apakah sudah terjadi komplikasi. 

Dokter akan menentukan pengobatan yang sesuai, serta memantau efek obat terhadap kadar gula darah. Pasien harus rutin kontrol agar kadar gula darah tetap stabil dan komplikasi dapat dicegah sedini mungkin.

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes

Bila kondisi pasien tidak mengalami perbaikan setelah pengobatan selama 3 bulan atau lebih, serta mengalami komplikasi misalnya ketoasidosis atau Hyperglycemic Hyperosmolar State (HHS), pasien bisa dirujuk ke dokter Spesialis penyakit dalam sub endokrin metabolik diabetes. Dokter ini memiliki keahlian di bidang hormon dan metabolisme tubuh.

4. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Peran dokter spesialis gizi klinik sangat penting dalam pengelolaan diabetes karena makanan memiliki pengaruh besar terhadap kadar gula darah. Dokter spesialis gizi klinik akan membantu pasien menentukan kebutuhan kalori harian berdasarkan berat badan, usia, aktivitas, dan kondisi kesehatan. Pasien akan diberikan rekomendasi diet dengan porsi karbohidrat, protein, dan lemak yang sesuai. 

5. Dokter Spesialis Mata

Mata adalah salah satu organ yang bisa terdampak oleh diabetes. Gula darah yang terus-menerus tinggi dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah di retina mata. Hal ini menyebabkan komplikasi yang disebut retinopati diabetik. 

Karena itu, penderita diabetes perlu konsultasi ke dokter spesialis mata untuk memeriksa kondisi mata, khususnya retina. Gejala retinopati diabetik yang bisa dialami pasien antara lain penurunan tajam penglihatan, pandangan kabur, serta muncul bayangan titik-titik dalam pandangan. Jika komplikasi ini tidak ditangani bisa menyebabkan kebutaan. 

6. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Diabetes meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat memicu kerusakan pembuluh darah di jantung. Oleh karena itu, pasien dengan kadar gula darah tinggi perlu periksa ke dokter jantung, terutama bila memiliki riwayat tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi atau mengalami gejala nyeri dada. 

7. Dokter Spesialis Saraf

Kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak saraf, kondisi ini disebut neuropati diabetik. Gejalanya berupa kesemutan, rasa terbakar, nyeri, atau mati rasa. Dokter saraf akan membantu mengevaluasi tingkat kerusakan saraf dan memberikan pengobatan untuk mengurangi nyeri serta memperbaiki fungsi saraf. Jadi, penderita diabetes bisa ke dokter saraf jika mengalami gejala ini.

8. Dokter Spesialis Bedah

Jika pasien diabetes mengalami luka pada kaki atau bagian tubuh lain yang sulit sembuh, maka dokter bedah berperan dalam penanganannya. Tindakan yang dilakukan tergantung pada kondisi lukanya.

Dokter bedah mungkin akan melakukan pembersihan luka (debridement), mengangkat jaringan mati, atau amputasi jika sudah terjadi gangrene. 

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Pemantauan gula darah berkelanjutan akan bermanfaat secara optimal jika disertai pendampingan dan edukasi dari tenaga medis yang berpengalaman.

Mulailah memahami pola gula darahmu lebih awal sebelum gejala muncul, cegah komplikasi sedini mungkin, dan nikmati hidup yang lebih sehat, aman, serta terkontrol bersama Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Klik tautan ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang program manajemen diabetes dan layanan CGM di Primecare Clinic!


34323-1-1200x800.webp

October 23, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Karbohidrat sering dianggap sebagai musuh bagi penderita diabetes. Padahal, karbohidrat tetap dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi utama, terutama untuk otak dan sistem saraf. 

Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019 dari Kementerian Kesehatan RI, kebutuhan karbohidrat harian orang dewasa sehat berkisar antara 45–65% dari total energi harian. Jika kebutuhan energi seseorang adalah 2.000 kkal per hari, maka jumlah karbohidrat idealnya sekitar 225-325 gram per hari.

Kebutuhan Karbohidrat Harian untuk Penderita Diabetes

Bagi penderita diabetes, kebutuhan karbohidrat sebenarnya tidak jauh berbeda dengan orang sehat. Perbedaannya terletak pada pemilihan jenis dan pengaturannya agar kadar gula darah tetap stabil.

Penderita diabetes dianjurkan untuk memilih sumber karbohidrat kompleks dan tinggi serat, seperti nasi merah, oat, kentang rebus, atau roti gandum. Jenis karbohidrat ini dicerna lebih lambat sehingga membantu menjaga kestabilan gula darah dan memberikan rasa kenyang lebih lama.

Cara Memenuhi Kebutuhan Karbohidrat bagi Penderita Diabetes

Agar kebutuhan karbohidrat tetap tercukupi tanpa meningkatkan risiko lonjakan gula darah, beberapa langkah berikut bisa diterapkan:

1. Pilih Sumber Karbohidrat Kompleks

Pilih makanan seperti nasi merah, beras cokelat, ubi, jagung, atau quinoa. Jenis karbohidrat ini dicerna tubuh secara perlahan, sehingga dapat membantu menjaga kestabilan gula darah dan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama.

2. Konsumsi Serat Cukup Setiap Hari

Penuhi kebutuhan serat dari sayuran, buah rendah gula seperti apel, pir, dan pepaya, serta kacang-kacangan untuk membantu memperlambat penyerapan glukosa..

3. Batasi Gula Sederhana dan Makanan Olahan

Kurangi konsumsi minuman manis, kue, atau sereal instan yang tinggi gula tambahan untuk membantu menekan risiko lonjakan gula darah.

4. Perhatikan Porsi dan Waktu Makan

Sebar porsi karbohidrat secara merata dalam tiga kali makan utama dan dua kali camilan. Pola makan teratur membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil sepanjang hari.

5. Kombinasikan dengan Protein dan Lemak Sehat

Lengkapi sumber karbohidrat dengan lauk tinggi protein seperti ikan, telur, tempe, atau tambahan lemak sehat dari alpukat dan kacang-kacangan untuk membantu menjaga kestabilan gula darah.

Bahaya Jika Kebutuhan Karbohidrat Tidak Terpenuhi

Mengurangi asupan karbohidrat secara berlebihan dapat membuat tubuh kekurangan energi dan mengganggu fungsi metabolisme. Pada penderita diabetes, kondisi ini berisiko menyebabkan hipoglikemia, yaitu kadar gula darah yang terlalu rendah. Gejalanya bisa berupa pusing, gemetar, jantung berdebar, hingga kehilangan kesadaran jika tidak segera ditangani.

Selain itu, ketika tubuh kekurangan karbohidrat, ia akan beralih menggunakan lemak dan protein sebagai sumber energi utama. Jika berlangsung terus-menerus, proses ini dapat meningkatkan kadar keton dalam darah dan berujung pada kondisi ketoasidosis diabetik yang dapat membahayakan kesehatan.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Jika kadar gula darah terus naik turun meski sudah menjaga pola makan, atau muncul gejala seperti sering lemas, berkeringat dingin, dan pandangan berkunang-kunang, segera konsultasikan dengan tenaga medis.

Pemeriksaan dan pendampingan oleh dokter spesialis penyakit dalam dan dokter gizi klinik sangat penting untuk menyesuaikan kebutuhan karbohidrat, pola makan, dan terapi obat agar gula darah tetap terkontrol dengan baik.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah atau mengalami diabetes, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM). 

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


56107-1-1200x800.webp

October 23, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Normalnya kadar gula darah pada pemeriksaan acak adalah <200 mg/dL. Jika didapatkan hasil melebihi angka tersebut, perlu dilakukan pemeriksaan gula darah lanjutan di laboratorium yang meliputi, gula darah puasa (GDP), gula darah 2 jam setelah makan (GDPP), dan HbA1C. Jika hasil pemeriksaan gula darah menunjukkan melebihi nilai normal dapatkan dikatakan hiperglikemia. Selanjutnya, jika hasil pemeriksaan gula darah memenuhi kriteria diagnosis menurut dokter, maka pasien dapat didiagnosis sebagai diabetes. 

Terapi diabetes mengharuskan pasien rutin mengonsumsi obat sehingga dibutuhkan kepatuhan dan komitmen yang kuat pada pasien. Salah satu obat yang digunakan adalah insulin. Jika pasien sering melewatkan penggunaan insulin, hal itu bisa berdampak buruk pada perkembangan diabetesnya dan menyebabkan komplikasi akut, yaitu diabetes ketoasidosis (DKA) dan status hiperglikemia hiperosmolar (SHH).

Disclaimer: Anda bisa mengecek risiko diabetes Anda dengan kalkulator pada tautan ini.

Potensi Penyebab Gula Darah Naik Sampai 500 mg/dL

Kenaikan gula darah yang ekstrem hingga 500 mg/dL pada penderita diabetes merupakan komplikasi yang dapat terjadi dan disertai dengan adanya keton yang disebut Diabetes Ketoasidosis (DKA). Rentang kadar gula darah pada DKA adalah 300-600 mg/dL. Penyebab paling umum terjadinya DKA adalah kekurangan insulin relatif atau absolut. Kekurangan insulin ini diperparah oleh kondisi dehidrasi dan asidosis.

Pemicu umum yang menyebabkan kenaikan gula darah pada DKA, meliputi:

1. Ketidakpatuhan pasien terhadap terapi insulin

Ini adalah faktor yang umum menyebabkan DKA. Bentuk ketidakpatuhan pada pasien adalah melewatkan suntikan insulin, dosis insulin yang salah, atau pompa insulin yang tersumbat. 

2. Infeksi

Penyakit infeksi yang terjadi pada pasien diabetes dapat menyebabkan stres katabolik yang kemudian berisiko berkembang menjadi DKA. Jenis infeksi yang sering terjadi adalah pneumonia dan infeksi saluran kemih. 

3. Penyakit akut, cedera, pembedahan

Hal ini juga menyebabkan tubuh mengalami stres katabolik yang dapat berkembang menjadi DKA.  

4. Penyakit lain 

Penyakit lain yang dapat memicu DKA, yaitu serangan jantung dan stroke.

5. Penggunaan alkohol atau obat-obatan terlarang

Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan dapat menyebabkan DKA. 

6. Konsumsi obat tertentu

Beberapa obat dapat memengaruhi metabolisme karbohidrat dan memicu DKA, seperti obat diuretik (obat untuk gangguan ginjal dan jantung) atau kortikosteroid (obat anti radang).

Apa Saja Gejala Jika Gula Darah Naik Sampai 500 mg/dL?

Perkembangan DKA berjalan lambat. Namun, DKA adalah kondisi emergensi yang dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui gejala apa saja yang menyertai agar caregiver dan keluarga sadar bahwa pasien harus segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. 

Gejala awal dapat berupa:

  1. Terasa sangat haus
  2. Buang air kecil lebih sering dari biasanya

Gejala lainnya dapat segera muncul, yaitu:

  1. Bernapas cepat dan dalam yang membuat pasien sulit bernapas
  2. Mulut dan kulit kering karena terjadi dehidrasi
  3. Napas berbau seperti buah-buahan yang disebut dengan napas Kussmaul.
  4. Nyeri kepala
  5. Nyeri otot dan terjadi kekakuan otot
  6. Terasa lelah
  7. Mual dan muntah.
  8. Nyeri perut

Bahaya Gula Darah Naik Sampai 500 mg/dL

Kadar gula darah 500 mg/dL menunjukkan terjadinya krisis hiperglikemia. Kondisi ini harus segera ditangani  karena merupakan komplikasi diabetes yang mengancam jiwa.

Bahaya utama dari gula darah yang sangat tinggi dan DKA, di antaranya:

1. Asidosis Metabolik dan Ketonemia

Tubuh mulai membakar lemak untuk energi, menghasilkan keton yang berlebihan, membuat darah menjadi lebih asam (asidosis metabolik). Kadar keton yang tinggi dapat meracuni tubuh.

2. Dehidrasi berat

Gula darah yang tinggi menyebabkan kondisi diuresis osmotik (sering buang air kecil), yang mengakibatkan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Dehidrasi yang parah dapat menyebabkan hipotensi (tekanan darah rendah) dan jika tidak segera ditangani akan berakibat kematian.

3. Ketidakseimbangan Elektrolit

Pasien DKA sering mengalami penurunan elektrolit, seperti kalium sehingga menyebabkan hipokalemia berat. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kelemahan otot, irama jantung tidak teratur, dan henti jantung. Selain itu, dapat juga terjadi kekurangan magnesium dan fosfat.

4. Koma Diabetik

Pada DKA dapat terjadi penurunan kesadaran yang disebut dengan koma diabetik dan berisiko mengakibatkan kematian.

5. Pembengkakan Otak

Ini adalah penyebab utama kematian pada kasus DKA, terutama pada pasien berusia muda. 

6. Risiko Peradangan dan Kardiovaskular

Hiperglikemia menyebabkan kondisi peradangan yang berat dan peningkatan senyawa peradangan, serta faktor risiko kardiovaskular.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Gula Darah Naik Sampai 500 mg/dL?

Jika didapatkan hasil pengukuran gula darah mencapai 500 mg/dL atau ditemukan keluhan/gejala seperti yang telah dibahas sebelumnya, segera bawa pasien ke instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit agar segera mendapat terapi yang meliputi: 

  1. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui adanya keton atau tidak
  2. Rehidrasi untuk mengganti cairan yang hilang (dehidrasi) karena seringnya buang air kecil dan membantu mengencerkan kelebihan glukosa di dalam darah.
  3. Pemberian elektrolit akibat banyaknya elektrolit yang keluar bersamaan dengan urin.
  4. Pemberian Insulin untuk menekan kadar gula darah yang sangat tinggi.
  5. Pemberian obat medis lainnya yang dapat menjadi penyebab terjadinya diabetes ketoasidosis, seperti antibiotik untuk infeksi.

Konsultasi Gula Darah di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148694289-_1_.webp

October 22, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Olahraga dapat memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, baik bagi individu yang sehat maupun yang sudah mengidap penyakit tertentu, seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung. Selain menjadi cara pencegahan terhadap penyakit, bahkan olahraga juga sering menjadi bagian dari terapi pada penyakit metabolik ataupun penyakit degeneratif. Pada diabetes, bahkan aktivitas fisik merupakan pilar utama dalam terapi diabetes karena dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Namun, setelah olahraga gula darah dapat mengalami penurunan. Lantas, apakah hal ini normal terjadi?

Kondisi Gula Darah Turun Setelah Olahraga

Efek kadar gula darah naik turun dapat bervariasi bergantung pada jenis olahraga yang dilakukan, lamanya durasi olahraga, dan konsumsi makanan atau obat sebelum berolahraga. Olahraga dapat menurunkan kadar gula darah sampai 24 jam atau lebih setelah berolahraga. Jenis olahraga yang berbeda mengakibatkan kondisi kadar gula darah setelahnya, seperti pada olahraga intensitas sedang seperti aerobik dapat menyebabkan penurunan kadar glukosa setelah sesi latihan. Kondisi lainnya, misal pada penderita diabetes yang mengonsumsi insulin dan obat golongan sulfonilurea sangat berisiko mengalami hipoglikemia jika insulin atau karbohidrat tidak disesuaikan dengan olahraga. 

Apakah Gula Darah Turun Setelah Olahraga Itu Normal? 

Penurunan gula darah merupakan respons fisiologis yang normal dari otot yang bekerja karena otot mengambil glukosa untuk digunakan sebagai energi. Namun, apakah penurunan tersebut dianggap normal bergantung pada tingkat penurunan dan status kesehatan individu:

  • Pada individu sehat (non-diabetes): Selama olahraga intensitas sedang, terjadi homeostasis 

(proses stabilisasi) glukosa dimana tubuh akan merespons penggunaan glukosa oleh otot ketika berolahraga yang menyebabkan penurunan kadar gula darah. Selanjutnya, tubuh akan melakukan metabolisme untuk menaikkan kembali kadar gula darah. 

  • Pada penderita diabetes (terutama pengguna insulin atau obat oral golongan sulfonilurea): Penurunan yang signifikan hingga mencapai kondisi kadar gula darah turun merupakan risiko nyata dan hambatan utama terhadap kepatuhan berolahraga. 

Penyebab Gula Darah Turun Setelah Olahraga

Penyebab utama gula darah turun setelah olahraga, terutama hingga mencapai tingkat hipoglikemia, meliputi:

1. Peningkatan efek insulin

Olahraga dapat meningkatkan proses metabolisme protein yang berkaitan dengan insulin sehingga meningkatkan efek (sensitivitas) insulin. Insulin akan bekerja untuk menurunkan kadar gula dalam darah.

2. Penggunaan glukosa sebagai energi

Ketika terjadi kontraksi otot saat berolahraga, sel tubuh akan menyerap glukosa dan menggunakannya sebagai energi. 

3. Melewatkan waktu makan

Tidak tercukupinya kebutuhan glukosa untuk memenuhi kebutuhan metabolisme saat olahraga.

4. Berolahraga dengan durasi yang panjang. 

Semakin banyaknya penggunaan glukosa yang dibutuhkan.

5. Penggunaan obat penurun glukosa

Pada penderita diabetes, konsumsi obat insulin atau golongan sulfonilurea (obat antidiabetes oral yang bekerja dengan merangsang pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin) meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia.

6. Olahraga pada sore atau malam hari

Olahraga yang dilakukan pada sore atau malam hari meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia nokturnal (saat tidur), yang merupakan risiko umum pada penderita diabetes tipe 1.

Apakah Gula Darah Turun Setelah Olahraga Itu Berbahaya? 

Ya, pada penderita diabetes, jika penurunan kadar gula darah mencapai tingkat hipoglikemia yang tidak terkontrol, hal itu dapat berbahaya yang dapat mengakibatkan:

1. Meningkatkan angka kematian

Episode hipoglikemia berat (terutama yang terjadi pada malam hari) berhubungan dengan kenaikan risiko kematian. 

2. Hambatan Psikologis

Pada pasien diabetes tipe 1, rasa takut akan terjadinya hipoglikemia akan menurunkan motivasi dan menjadi hambatan dalam berolahraga, sedangkan olahraga merupakan hal yang penting dalam terapi diabetes.

3. Gangguan Hormonal

Penderita diabetes yang mengonsumsi insulin kehilangan respons normal pada hormon (seperti penurunan insulin) yang seharusnya mencegah penurunan glukosa berlebihan semakin membuat pasien rentan terhadap hipoglikemia.

Sementara itu, pada individu sehat, sistem hormonal biasanya bekerja secara efektif untuk mengimbangi penggunaan glukosa selama aktivitas fisik intensitas sedang sehingga mencegah penurunan berlebihan yang signifikan dan berbahaya. Oleh karena itu, bahaya penurunan drastis biasanya tidak terjadi pada orang yang sehat dan tidak menggunakan obat penurun gula darah. Namun, jika terjadi gejala hipoglikemia berat dapat membahayakan karena dapat mengakibatkan kehilangan kemampuan berpikir dan berfungsi secara normal, bahkan dapat menyebabkan kondisi tidak sadarkan diri. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Gula Darah Turun Berlebihan Setelah Olahraga

Salah satu cara untuk mencegah dan mengatasi turunnya kadar gula darah setelah olahraga pada penderita diabetes adalah dengan rutin mengecek kadar gula darah secara mandiri untuk mengevaluasi jenis olahraga pada tiap individu dan melihat pola bagaimana respons tubuh. Pengecekan kadar gula darah dapat dilakukan dengan metode 15-15, yaitu sebagai berikut:

  1. Lakukan pengecekan gula darah.
  2. Jika hasilnya 100 mg/dL atau kurang, makan 15-20 gr karbohidrat untuk meningkatkan kadar gula darah.
  3. Cek kembali gula darah setelah 15 menit. Jika hasilnya masih di bawah 100 mg/dL, konsumsi lagi karbohidrat lainnya sebesar 15 gr.
  4. Ulangi setiap 15 menit sampai kadar gula darah minimal 100 mg/dL.
  5. Jika ingin melanjutkan sesi olahraga/latihan, istirahat terlebih dahulu dan dapat mengecek kembali kadar gula darah. Jika gula darah sudah mencapai 100 mg/dL, olahraga dapat dilanjutkan kembali. 

Selain mengecek kadar gula darah secara mandiri dengan menggunakan blood glucose meter (BGM), pasien dapat menggunakan continuous glucose meter (CGM) yang dapat memantau kadar gula darah selama 24 jam. Tentu ini sangat memudahkan pasien untuk merinci secara detail kadar gula darahnya pada waktu-waktu tertentu yang dibutuhkan.

Selain itu, pada penderita diabetes, terutama yang mengonsumsi obat insulin dan golongan sulfonilurea, dapat melakukan tips berikut:

  1. Penyesuaian obat dengan mengurangi dosis insulin. Sebaiknya hal ini dikonsultasikan dengan dokter.
  2. Pemilihan jenis olahraga. Melakukan olahraga ketahanan (resistensi) sebelum olahraga aerobik dapat mengurangi risiko hipoglikemia karena olahraga ketahanan dikategorikan sebagai olahraga intensitas berat yang cenderung menyebabkan kenaikan kadar gula darah. 

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika hipoglikemia terus-menerus terjadi saat olahraga rutin, Anda dapat  konsultasi ke dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam atau subspesialis endokrin, metabolisme, dan diabetes agar dilakukan evaluasi terhadap dosis obat, jenis olahraga, dan konsumsi makanan sebelum dan sesudah olahraga. Jika dibutuhkan, dokter akan merujuk pasien untuk program olahraga lainnya ke dokter spesialis dengan bidang yang sesuai. 

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan layanan konsultasi dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes (ada CGM) untuk pengelolaan diabetes yang tepat untukmu. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


2270677-_1_-1200x675.webp

October 22, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Banyak penderita diabetes yang bertanya-tanya, “Apakah harus minum obat seumur hidup dan apakah boleh berhenti minum obat jika gula darah sudah stabil?” Mengonsumsi obat-obatan terus-menerus setiap hari tentu terasa melelahkan.

Keinginan untuk berhenti minum obat memang wajar, terutama ketika hasil pemeriksaan gula darah menunjukkan perbaikan yang signifikan dan gula darah sudah stabil. Akan tetapi, menghentikan obat diabetes tanpa anjuran dan pengawasan dokter bisa berbahaya untuk kesehatan.

Jadi, apakah boleh berhenti minum obat diabetes setelah gula darah stabil? Simak faktanya berikut ini! 

Apakah Bisa Berhenti Minum Obat Diabetes Setelah Gula Darah Stabil? 

Boleh atau tidaknya penderita diabetes berhenti minum obat tergantung pada tipe diabetes dan kondisi masing-masing individu. 

Penderita diabetes tipe 1 mengalami gangguan dalam produksi insulin, sehingga jumlah insulin tidak cukup atau sama sekali tidak ada. Karena itu, penderita diabetes tipe 1 harus mendapat suntikan insulin seumur hidup untuk menjaga kadar gula darah. 

Sementara itu, penderita diabetes tipe 2 bisa berhenti minum obat dengan syarat tertentu. Dokter mungkin akan mempertimbangkan untuk menghentikan obat-obatan jika sudah mencapai kondisi remisi. 

Remisi Diabetes

Menurut konsensus internasional yang berjudul “Consensus Report: Definition and Interpretation of Remission in Type 2 Diabetes“ oleh MAtthew C Riddle et al tahun 2021, remisi diabetes adalah kondisi ketika pasien diabetes tipe 2 berhasil mempertahankan kadar gula darah normal tanpa obat. 

Dalam konsensus tersebut, remisi dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

a. Remisi Parsial

Gula darah berada di bawah ambang batas diabetes tetapi masih di atas nilai normal, misalnya glukosa puasa 100–125 mg/dL tanpa obat selama setidaknya 1 tahun.

b. Remisi Lengkap

Gula darah dalam rentang normal, yaitu gula darah puasa <100 mg/dL dan HbA1c <5.7% tanpa obat selama minimal 1 tahun.

c. Remisi Berkelanjutan (Sustained Remission)

Kondisi remisi lengkap yang bertahan setidaknya 5 tahun tanpa terapi.

Konsensus tersebut menyederhanakan istilah ini untuk memudahkan penerapan klinis dengan menekankan satu definisi praktis, yaitu HbA1c <6.5% selama ≥3 bulan tanpa obat. 

Namun, penting untuk dipahami bahwa remisi tidak sama dengan sembuh permanen. Tubuh penderita diabetes masih memiliki kecenderungan untuk mengalami resistensi insulin atau gangguan metabolisme glukosa. Kadar gula darah bisa kembali meningkat jika gaya hidup tidak dijaga.

Karena itu, penderita diabetes tipe 2 harus melakukan perubahan gaya hidup meliputi diet sehat, olahraga rutin, dan menurunkan berat badan untuk menstabilkan gula darah.

Keputusan untuk berhenti minum obat harus dilakukan berdasarkan evaluasi medis menyeluruh, termasuk pemeriksaan HbA1c, kadar glukosa puasa, dan pemantauan berkelanjutan.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kestabilan metabolik yang baik, dokter akan menurunkan dosis obat secara bertahap sambil memantau kadar gula secara rutin. 

Risiko Stop Minum Obat Diabetes Tanpa Konsultasi Dokter

Menghentikan obat diabetes tanpa konsultasi dokter dapat berbahaya karena gula darah bisa naik lagi sewaktu-waktu. Beberapa risiko yang dapat terjadi jika stop minum obat diabetes secara sembarangan antara lain:

  • Kenaikan gula darah secara tiba-tiba yang dapat memicu gejala seperti lemas, sering buang air kecil, sering haus, penglihatan kabur, dan sering kesemutan.
  • Penyakit diabetes kembali kambuh terutama bila memiliki pola makan tidak sehat dan jarang berolahraga.
  • Komplikasi jangka panjang, seperti kerusakan ginjal (nefropati diabetik), kerusakan saraf (neuropati), dan kerusakan pembuluh darah yang memicu penyakit jantung dan stroke.

Cara Stop Minum Obat Diabetes dengan Tepat Setelah Gula Darah Stabil 

Menghentikan obat diabetes tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba. Ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan agar prosesnya aman dan terkendali:

a. Konsultasi dan Evaluasi rutin

Sebelum berhenti minum obat diabetes, langkah pertama adalah berkonsultasi dengan dokter yang menangani. Dokter akan mengevaluasi kondisi pasien secara menyeluruh.

Beberapa pemeriksaan mungkin perlu dilakukan, yaitu kadar gula puasa, gula 2 jam setelah makan, dan HbA1c. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan bahwa kestabilan gula darah bukan hanya sementara, melainkan hasil dari perubahan jangka panjang.

b. Penghentian Dilakukan Secara Bertahap

Jika dokter menilai bahwa kondisi pasien memenuhi syarat untuk mengurangi obat, maka dosis akan dikurangi secara perlahan sambil memantau hasil pemeriksaan. Misalnya, obat diminum setengah dosis selama beberapa minggu sambil melihat apakah kadar gula tetap stabil. Bila gula darah stabil dalam jangka beberapa bulan, dokter dapat mempertimbangkan untuk menghentikan obat. 

c. Pemantauan Gula Darah Secara Rutin

Ketika diabetes tipe 2 mencapai kondisi remisi dan penggunaan obat dihentikan, pasien tetap harus memantau kadar gula darah secara rutin. Pemeriksaan yang dilakukan adalah HbA1c atau kadar gula darah puasa. 

Penggunaan Continuous Glucose Monitoring (CGM) juga bisa dipertimbangkan untuk memantau kadar gula. Dengan CGM memungkinkan pasien dan dokter melihat fluktuasi gula darah setiap waktu sehingga perubahan bisa terdeteksi lebih cepat. Dengan pemantauan ini risiko hiperglikemia mendadak dapat diminimalkan.

d. Pertahankan Gaya Hidup Sehat

Obat hanya salah satu bagian dari terapi diabetes. Untuk menjaga kestabilan gula darah, penderita diabetes harus mempertahankan gaya hidup sehat, seperti:

  • Menerapkan pola makan sehat dan seimbang. Konsultasikan dengan ahli gizi untuk mendapat rekomendasi diet yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. 
  • Rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu. 
  • Mengelola stres dan tidur cukup
  • Menghindari konsumsi alkohol dan rokok

Tanpa disiplin dalam melakukan gaya hidup sehat, kadar gula darah akan mudah kembali meningkat meskipun sempat stabil sebelumnya.

e. Kontrol Berkala

Penderita diabetes tipe 2 yang sudah berhenti minum obat tetap perlu kontrol berkala setiap 3–6 bulan. Hal ini penting untuk memastikan kadar gula darah tetap normal dan mendeteksi jika terjadi kenaikan kembali. Dokter juga akan mengevaluasi fungsi organ lain seperti ginjal, mata, dan saraf yang bisa terpengaruh oleh diabetes.

Konsultasi dan Pemantauan Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


6486014-_1_-1200x900.webp

October 22, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Tentu kita sudah sering mendengar atau mengetahui bahaya merokok untuk kesehatan. Rokok mengandung 7.000 komponen kimia yang dapat menyebabkan kanker dan masalah kesehatan lainnya, baik itu bagi perokok aktif maupun perokok pasif.  Meskipun risiko kesehatan yang dihadapi sangat besar, jumlah perokok di kalangan penderita diabetes cenderung mirip dengan populasi umum. Lalu, apa bahayanya merokok bagi penderita diabetes? Mari disimak jawabannya.

Penyebab Potensi Mengapa Penderita Diabetes Masih Merokok

Merokok dapat meningkatkan risiko diabetes sebesar 30-40% dibandingkan dengan individu yang tidak merokok. Merokok merupakan faktor risiko diabetes yang dapat diubah. Namun, tidak mudah untuk menghentikan kebiasaan merokok, terlebih jika aktivitas merokok dimulai pada usia muda. Beberapa faktor yang berpotensi menjadi penyebab sulitnya penderita diabetes untuk berhenti merokok meliputi:

a. Aspek psikologis kecanduan 

Merokok dapat menimbulkan kecanduan karena zat yang terkandung di dalamnya. Kecanduan tembakau menyulitkan pelakunya untuk berhenti merokok sehingga dibutuhkan motivasi yang kuat dan intervensi yang komprehensif untuk keberhasilan program berhenti merokok. Perokok bisa saja sudah berhenti merokok dan kemudian kembali merokok karena efek kecanduan tersebut. 

b. Kurangnya dukungan penghentian aktivitas merokok

Terkadang, untuk menambah motivasi berhenti merokok membutuhkan dukungan dari eksternal, seperti keluarga, teman, lingkungan yang kondusif agar tidak terpapar kembali dengan rokok. Namun, hal itu seringkali tidak didapatkan oleh pasien sehingga keinginan untuk merokok muncul kembali. 

c. Belum ada intervensi penghentian merokok yang efektif 

Kendala lain terhadap pengobatan penghentian merokok adalah belum adanya cara atau intervensi yang efektif untuk program penghentian merokok pada pasien diabetes . 

Bahaya Merokok Bagi Penderita Diabetes

Tingginya kandungan nikotin dari rokok dapat menurunkan respons sel terhadap insulin sehingga kadar gula darah meningkat. Oleh karena itu, merokok akan memperburuk kondisi dan meningkatkan risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien diabetes yang tidak merokok.

a. Penyakit jantung

Merokok dapat meningkatkan kolesterol dan menurunkan kolesterol baik. Risiko penyakit kardiovaskular pada pasien diabetes yang merokok adalah 1,44 kali lebih tinggi

b. Tekanan darah tinggi

Pasien yang menderita diabetes dan merokok memiliki risiko lebih tinggi terhadap kerusakan pembuluh darah akibat peradangan, yang menyebabkan pembuluh darah mengeras dan meningkatkan tekanan darah tinggi

c. Gangguan dan penyakit ginjal

Merokok merupakan faktor risiko terjadi dan berkembangnya nefropati (gangguan ginjal) diabetik dan gagal ginjal. Pasien yang merokok dan memiliki diabetes lebih mungkin mengalami adanya protein dalam urin dan gagal ginjal terminal

d. Gangguan mata

Merokok dapat merusak pembuluh darah retina yang meningkatkan risiko retinopati diabetik dan kehilangan penglihatan

e. Sirkulasi darah yang buruk dan dapat menyebabkan amputasi

Merokok dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah yang menyebabkan berkurangnya sirkulasi darah ke area tertentu. Adanya ulkus (luka) pada kaki sering ditemukan pada penderita diabetes. Merokok dapat memperparah kondisi peradangannya sehingga keadaan ulkus semakin parah dan meningkatkan risiko amputasi. 

f. Gangguan saraf

Merokok berkaitan dengan peradangan yang menyebabkan kerusakan pada saraf dan menimbulkan gejala, seperti nyeri, kebas, kesemutan

Cara Mengurangi/Berhenti Merokok Bagi Penderita Diabetes

Berhenti merokok tentu menjadi salah satu usaha terbaik untuk menjaga kesehatan dan menghindari bahaya atau komplikasi diabetes. Namun, tentu tidak semudah itu untuk menghentikan aktivitas merokok karena sifatnya yang candu. Diperlukan strategi tertentu agar berhasil untuk berhenti merokok. Berikut tips dan strategi yang bisa dilakukan oleh pasien untuk berhenti merokok, yaitu:

a. Mengetahui manfaat berhenti merokok

Selain bahaya dan komplikasi yang mengintai pada penderita diabetes yang merokok, manfaat lain dari tidak merokok adalah diabetes lebih terkontrol, mengurangi keriput di wajah, mengurangi masalah pernapasan, mengurangi paparan asap rokok di rumah. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi untuk berhenti merokok.

b. Tulis alasan berhenti merokok 

Tuliskan alasan berhenti merokok dan dapat ditempel di tempat yang sering dilalui agar terus termotivasi untuk berhenti merokok. 

c. Singkirkan pemicu merokok

Buang rokok, korek atau pemantik api, dan asbak sebagai bentuk komitmen berhenti merokok.

d. Berhenti merokok secara bertahap 

Jika pasien mengalami kesulitan untuk berhenti merokok, coba lakukan secara bertahap dalam beberapa minggu

e. Gunakan pengganti rokok

Pengganti rokok yang dapat menjadi alternatif adalah seperti permen karet, permen pelega tenggorokan. Namun, hal ini juga perlu dikonsultasikan dengan dokter apakah pengganti alternatif tersebut bukan merupakan kontraindikasi bagi pasien.

f. Dapat mengikuti konseling atau hipnosis untuk berhenti merokok

Pemerintah melalui kementerian kesehatan membuka layanan konseling bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok melalui telepon tidak berbayar. Selain itu, proses berhenti merokok dapat dilakukan menggunakan metode hipnoterapi atau terapi hipnosis yang dapat dibantu oleh pakar hipnoterapi.

Bagaimana Jika Penderita Diabetes Tidak Bisa Berhenti Merokok? 

Jika pasien mengalami kesulitan besar untuk berhenti merokok yang berkelanjutan atau berisiko tinggi untuk kambuh, dokter harus mempertimbangkan strategi alternatif berdasarkan pengurangan risiko.

a. Dukungan klinis

Dokter harus mengevaluasi kebutuhan untuk meresepkan obat dalam pengobatan kecanduan nikotin untuk mengurangi gejala putus nikotin yang mungkin terjadi, seperti depresi, cemas dan gelisah, mudah marah dan tersinggung, peningkatan nafsu makan, dan lain-lain. Dokter juga tidak perlu ragu untuk merujuk pasien ke pusat spesialis dan melakukan tindak lanjut pada proses pengobatan mereka.

b. Kolaborasi interdisipliner

Perlu adanya kolaborasi interdisipliner di antara para profesional kesehatan untuk menerapkan strategi berbasis bukti untuk perubahan perilaku dalam manajemen diabetes, terutama terkait rokok.

Bagi caregiver (perawat) dan keluarga pasien dapat melakukan beberapa hal berikut untuk mendukung penderita diabetes berhenti merokok dan menyediakan lingkungan yang lebih sehat baik bagi pasien maupun anggota keluarga lain:

a. Menciptakan lingkungan bebas asap rokok

Caregiver dan keluarga harus menyadari bahwa paparan asap rokok pasif juga dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 pada usia yang lebih muda dan memperburuk komplikasi terkait diabetes.

b. Beri dukungan

Selalu beri dukungan dan motivasi untuk pasien. Mintalah dukungan dan pengertian  dari kerabat lainnya dan teman. Dapat juga mempertimbangkan untuk berhenti merokok bersama sebagai bentuk dukungan dan kesadaran akan kesehatan.

c. Edukasi dan kesadaran

Caregiver dan keluarga juga harus meningkatkan kesadaran tentang bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan tembakau dan paparan rokok bagi perokok pasif sehubungan dengan diabetes tipe 2, serta manfaat berhenti merokok.

Konsultasi dan Pemantauan Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148694277-1-1200x1200.webp

October 22, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Lari jarak jauh seperti 5K, 10K, half marathon (21 km), hingga full marathon (42 km), kini menjadi salah satu olahraga yang populer. Selain menyehatkan tubuh, olahraga ini juga memberi kepuasan tersendiri bagi banyak orang ketika mencapai target.

Namun, bagi penderita diabetes mungkin muncul pertanyaan, “Apakah penderita diabetes boleh lari jarak jauh?” Artikel ini akan menjelaskan tentang lari jarak jauh bagi penderita diabetes, apa saja risikonya, serta tips jika ingin ikut lari jarak jauh. Simak hingga selesai, ya!

Apakah Penderita Diabetes Boleh Lari Jarak Jauh? 

Pada dasarnya, penderita diabetes boleh melakukan olahraga intensitas sedang hingga tinggi, termasuk lari jarak jauh. Namun, dengan syarat tertentu, selama kondisi kesehatan dan gula darah stabil, penderita diabetes boleh lari jarak jauh.

Berdasarkan pedoman PERKENI, aktivitas fisik adalah salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes tipe 2. Pasien diabetes yang masih muda dan memiliki kebugaran yang baik dapat melakukan latihan aerobik intensitas ringan hingga berat. 

Sebelum berolahraga, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kadar gula darah. Jika kadar gula darah kurang dari 100 mg/dL sebaiknya mengonsumsi karbohidrat terlebih dahulu. Sebaliknya, jika kadar gula darah melebihi 250 mg/dL, olahraga sebaiknya ditunda hingga kadar glukosa terkendali.

Olahraga seperti lari jarak jauh meningkatkan penggunaan glukosa oleh otot sebagai sumber energi, sehingga membantu menurunkan kadar gula darah dan memperbaiki sensitivitas insulin.

Namun, penting untuk menyesuaikan jenis dan jarak lari dengan kondisi tubuh serta pengalaman berolahraga. Untuk pemula, sebaiknya mulai dari jarak pendek. Setelah tubuh beradaptasi dan kadar gula darah tetap stabil, kamu bisa menambah jarak secara bertahap ke 10 km, half marathon, hingga full marathon.

Sebelum memulai lari jarak jauh, sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter dan lakukan pemeriksaan secara menyeluruh meliputi kondisi jantung, ginjal, dan saraf. Jika terdapat masalah kesehatan dapat meningkatkan risiko cedera saat berlari.

Risiko Lari Jarak Jauh Tanpa Persiapan yang Tepat bagi Penderita Diabetes

Meski bermanfaat, lari jarak jauh bisa menimbulkan risiko kesehatan dan cedera jika dilakukan tanpa persiapan yang baik. Beberapa risiko yang bisa terjadi antara lain:

a. Hipoglikemia (Kadar Gula Darah Rendah)

Selama berlari, otot menggunakan glukosa sebagai bahan bakar. Jika glukosa di otot sudah habis, tubuh akan menggunakan glukosa darah sebagai energi. Akibatnya, kadar gula darah akan turun selama lari. Selain itu, pada penderita diabetes yang menggunakan insulin atau obat diabetes lain berisiko mengalami penurunan kadar gula dengan drastis. 

Penurunan gula darah meningkat terutama saat lari melebihi 30–60 menit tanpa asupan karbohidrat tambahan. Gejala hipoglikemia meliputi gemetar, lemas, berkeringat dingin, dan hingga kehilangan kesadaran.

b. Hiperglikemia (Gula Darah Tinggi)

Lari jarak jauh bisa menyebabkan dehidrasi dan dapat memicu peningkatan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol, yang dapat meningkatkan kadar gula darah. Hal ini sering terjadi bila lari dilakukan tanpa hidrasi yang cukup atau dalam kondisi kurang tidur.

c. Dehidrasi dan Ketidakseimbangan Elektrolit

Saat berlari jarak jauh, kehilangan cairan meningkat melalui keringat, sehingga risiko dehidrasi meningkat.

d. Cedera

Penderita diabetes yang memiliki komplikasi seperti neuropati atau kerusakan saraf berisiko terjadi cedera. Neuropati diabetik dapat mengurangi sensasi pada kaki.

Akibatnya, luka lecet atau cedera kecil bisa tidak terasa dan berujung infeksi. Lari jarak jauh bisa memperburuk risiko ini terutama jika tidak menggunakan sepatu yang nyaman dan sesuai untuk lari. 

e. Kelelahan 

Lari jarak jauh tanpa asupan gizi yang baik dapat membuat tubuh kehabisan energi lebih cepat. Kekurangan karbohidrat sebelum dan selama lari akan mempersulit tubuh mempertahankan kestabilan glukosa darah.

Tips Sebelum, Saat, dan Sesudah Berlari Jarak Jauh bagi Penderita Diabetes

Untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan manfaat yang didapat saat lari jarak jauh, berikut beberapa tips penting yang dapat diikuti penderita diabetes:

1. Cek Gula Darah Sebelum Mulai Lari

Selalu periksa kadar glukosa sebelum berlari. Jika gula darah di bawah 100 mg/dL makanlah camilan berkarbohidrat seperti pisang, roti gandum, atau biskuit untuk mencegah hipoglikemia. Jika gula darah terlalu tinggi, yaitu lebih dari 250 mg/dL, lebih baik tunda lari jarak jauh. 

2. Pilih Waktu dan Kondisi yang Nyaman

Hindari berlari di bawah terik matahari karena meningkatkan risiko dehidrasi. Waktu terbaik untuk latihan biasanya pagi atau sore hari saat suhu lebih sejuk dan stabil.

3. Lakukan Pemanasan Terlebih Dahulu

Luangkan waktu 5–10 menit untuk pemanasan. Gerakan ringan seperti jalan cepat atau peregangan anggota tubuh dapat membantu tubuh menyesuaikan diri dan mencegah cedera otot.

4. Bawa Sumber Karbohidrat Cepat Serap

 Saat berlari, selalu siapkan camilan yang mengandung karbohidrat untuk carbo-loading saat lari, misalnya energy bar, pisang, atau minuman isotonik. Ketika energi mulai terasa berkurang, segera konsumsi makanan atau minuman tersebut. 

5. Waspadai Tanda-Tanda Hipoglikemia

Jika muncul gejala seperti pusing, gemetar, keringat dingin, atau lemas, segera berhenti berlari. Konsumsi sumber karbohidrat cepat serap dan beristirahat hingga kondisi membaik.

6. Gunakan Sepatu yang Nyaman

 Pilih sepatu lari dengan bantalan empuk dan ukuran pas. Penderita diabetes harus ekstra hati-hati terhadap luka di kaki, karena penyembuhannya bisa lebih lama.

7. Pantau Kadar Gula Darah Setelah Berlari

Setelah selesai lari, cek kembali kadar glukosa darah untuk memastikan tetap stabil. Catat hasilnya agar kamu bisa memantau respons tubuh terhadap lari jarak jauh.

Anda juga bisa memakai CGM untuk memantau gula darah secara real time.

8. Isi Ulang Energi dengan Makanan Bergizi

 Setelah berlari, makanlah makanan seimbang yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, dan serat, misalnya nasi merah dengan dada ayam dan sayuran. Jangan lupa minum cukup air untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang.

9. Akhiri dengan Pendinginan 

 Pendinginan membantu menurunkan detak jantung secara perlahan dan menjaga kelenturan otot. Lakukan peregangan ringan selama 5–10 menit agar tubuh pulih lebih cepat.

Manfaat Lari Jarak Jauh bagi Penderita Diabetes

Jika dilakukan dengan benar, lari jarak jauh memberi banyak manfaat bagi penderita diabetes, berikut beberapa manfaatnya:

1. Meningkatkan Sensitivitas Insulin

Aktivitas aerobik yang konsisten membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Dengan begitu metabolisme gula darah bisa menjadi lebih baik. 

2. Menjaga Berat Badan Ideal

Lari jarak jauh dapat membakar kalori tinggi dan membantu menurunkan lemak. Dengan begitu bisa membantu menurunkan berat badan dan menjaga berat badan ideal. 

3. Menyehatkan Jantung 

Penderita diabetes berisiko tinggi mengalami penyakit jantung. Lari bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah, serta memperbaiki kadar kolesterol baik (HDL).

4. Mengurangi Stres

Olahraga memicu pelepasan endorfin, hormon yang menimbulkan perasaan bahagia dan menurunkan stres. Stres adalah salah satu faktor risiko yang memperburuk diabetes. Dengan olahraga, termasuk lari jarak jauh, tingkat stres bisa berkurang.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Pemantauan gula darah berkelanjutan akan bermanfaat secara optimal jika disertai pendampingan dan edukasi dari tenaga medis yang berpengalaman.

Mulailah memahami pola gula darahmu lebih awal sebelum gejala muncul, cegah komplikasi sedini mungkin, dan nikmati hidup yang lebih sehat, aman, serta terkontrol bersama Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Klik tautan ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang program manajemen diabetes dan layanan CGM di Primecare Clinic!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.