2150766934-_1_-1200x800.webp

October 20, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Banyak orang tidak menyadari ketika kadar gula darahnya sudah termasuk kriteria prediabetes. Pasalnya, prediabetes memang sering tidak menimbulkan gejala. Wajar saja jika seseorang terkejut ketika didiagnosis prediabetes karena merasa sehat-sehat saja. 

Kabar baiknya, prediabetes bisa disembuhkan dengan melakukan perubahan gaya hidup dan rutin memantau kadar gula darah. Kondisi ini bukanlah penentu bahwa seseorang akan terkena diabetes, melainkan peringatan dini agar segera mengambil tindakan. 

Bagaimana cara menyembuhkan prediabetes? Simak penjelasannya berikut! 

Prediabetes Bisa Disembuhkan

Prediabetes terjadi ketika kadar gula darah berada di atas normal, tetapi belum cukup tinggi untuk disebut diabetes tipe 2. Seseorang dikatakan mengalami prediabetes jika:

  • Kadar gula darah puasa: 100-125 mg/dL
  • Kadar gula darah 2 jam setelah makan: 140-199 mg/dL
  • Kadar HbA1c: 5,7-6,4 %.

Prediabetes tidak bersifat permanen. Sebuah jurnal penelitian menerangkan bahwa prediabetes bisa sembuh dan tidak berkembang menjadi diabetes melalui perubahan gaya hidup.

Jurnal tersebut membandingkan efek perubahan gaya hidup, penggunaan obat diabetes, dan obat herbal Cina. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang menjalani perubahan gaya hidup seperti menurunkan berat badan, memperbaiki pola makan, rutin berolahraga, dan memantau gula darah memiliki peluang lebih dari dua kali lipat untuk kembali ke kadar gula normal dibanding kelompok kontrol.

Program intensif yang menggabungkan diet sehat, olahraga teratur, dan penurunan berat badan meningkatkan kemungkinan kondisi prediabetes menjadi normoglikemia (kadar gula normal) secara signifikan. 

Durasi dan intensitas intervensi memengaruhi hasil, semakin lama dan konsisten dalam mengikuti program gaya hidup sehat, semakin besar peluang sembuhnya prediabetes.

Artinya, prediabetes bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah peringatan untuk mengembalikan gula darah ke kondisi normal sebelum terlambat.

Cara Sembuh dari Prediabetes

Proses sembuh dari prediabetes berfokus pada intervensi gaya hidup. Berikut beberapa langkah penting yang terbukti efektif:

1. Kelola Berat Badan

Menurunkan berat badan adalah salah satu langkah penting untuk mencegah diabetes tipe 2. Penurunan berat badan sekitar 5% dari berat badan awal bisa menurunkan risiko diabetes hingga  50%. Kurangi porsi makan, pilih makanan sehat, dan perbanyak aktivitas fisik untuk membantu penurunan berat badan. 

2. Terapkan Pola Makan Sehat

Pola makan berperan besar dalam menjaga kadar gula darah. Kurangi konsumsi makanan dan minuman manis, serta batasi lemak jenuh dan garam. Pilihlah karbohidrat kompleks yang tinggi serat seperti roti gandum, beras merah, oats, pasta gandum, dan kacang-kacangan.

Batasi porsi karbohidrat dan jangan melewatkan waktu makan agar gula darah tetap terkontrol. Tambahkan sayur dan buah setiap hari untuk memenuhi kebutuhan serat, vitamin, dan mineral tubuh.

3. Kurangi Lemak Jenuh

Lemak jenuh berlebih dapat meningkatkan kadar kolesterol dan risiko penyakit jantung. Sebagai gantinya, pilih lemak tak jenuh tunggal seperti minyak zaitun, susu rendah lemak dan daging tanpa lemak, serta hindari daging olahan seperti sosis. Cara memasak juga penting, usahakan untuk memanggang, mengukus, atau merebus daripada menggoreng.

4. Aktif Bergerak Setiap Hari

Aktivitas fisik rutin membantu tubuh menggunakan glukosa dengan lebih efisien, meningkatkan sensitivitas insulin, membantu menjaga berat badan tetap stabil. Cobalah untuk berolahraga setidaknya 150 menit per minggu. Anda bisa mulai dengan aktivitas intensitas sedang seperti berjalan cepat, berenang, atau bersepeda.

5. Tidur Cukup dan Kelola Stres

Kurang tidur dan stres dapat meningkatkan kadar hormon kortisol yang dapat memengaruhi kadar gula darah. Pastikan tidur 7–8 jam per malam dan lakukan teknik relaksasi seperti meditasi atau yoga untuk mengelola stres. 

6. Rutin Memantau Kadar Gula Darah

Penderita prediabetes harus rutin memantau kadar gula darah. Dengan pemantauan rutin, penderita prediabetes bisa mengetahui seberapa efektif perubahan gaya hidup yang dilakukan. Jika gula darah masih di atas normal, Anda bisa segera mengambil tindakan dan konsultasi ke dokter. 

Pentingnya Pemantauan Gula Darah dan CGM bagi Penderita Prediabetes

Seperti yang sudah disebutkan di atas, pemantauan kadar gula darah adalah langkah penting dalam proses penyembuhan prediabetes. Prediabetes kerap tidak menimbulkan gejala, jadi memeriksakan gula darah adalah kunci dalam mengetahui kondisi ini.

Banyak orang baru menyadari kenaikan gula darah setelah kondisi sudah berkembang menjadi diabetes atau saat sudah muncul komplikasi. Dengan pemantauan yang rutin, perubahan kecil bisa segera terdeteksi sebelum menjadi masalah besar.

Salah satu cara untuk memantau gula darah adalah dengan menggunakan Continuous Glucose Monitoring (CGM). CGM adalah alat untuk mengukur kadar gula yang bekerja 24 jam, bahkan saat tidur tanpa perlu menusuk jari berulang kali. CGM mengukur kadar gula di cairan antar sel yang memiliki kadar gula mirip dengan gula darah. 

Berbeda dengan tes gula darah konvensional, CGM memberikan data real-time yang menunjukkan bagaimana pola makan, aktivitas, dan stres bisa memengaruhi kadar gula darah sepanjang hari.

Manfaat utama CGM untuk penderita prediabetes antara lain:

  • Memberikan gambaran lengkap tentang pola fluktuasi gula darah.
  • Membantu memahami makanan atau aktivitas apa yang paling mempengaruhi kadar gula.
  • Mengidentifikasi waktu tertentu ketika gula darah sering naik, misalnya setelah makan malam atau saat stres.
  • Mempermudah dokter dalam menilai efektivitas perubahan gaya hidup dan membuat rencana penanganan yang lebih personal.

Bagaimana CGM Membantu dalam Penyembuhan Prediabetes? 

CGM bisa membantu proses penyembuhan prediabetes dengan:

1. Memberi Data Gula Darah Secara Real-Time

CGM (Continuous Glucose Monitoring) membantu memantau kadar gula darah secara terus-menerus selama 24 jam. Dengan alat ini, Anda bisa melihat perubahan kadar gula darah setiap beberapa menit.

Data real-time ini membantu mengenali kapan gula darah naik, misal setelah makan atau turun setelah beraktivitas. Dengan begitu, Anda dapat menyesuaikan pola makan dan gaya hidup untuk menjaga kadar gula tetap stabil.

2. Mengenali Pemicu Lonjakan Gula Darah

CGM membantu menemukan penyebab lonjakan gula darah yang mungkin tidak disadari sebelumnya. Anda bisa mengetahui makanan atau kebiasaan tertentu yang membuat gula darah naik, misalnya porsi karbohidrat besar, kurang tidur, atau stres. 

Dengan mengetahui pemicunya, Anda bisa melakukan perubahan dan lebih berhati-hati agar kadar gula tetap terkendali.

3. Meningkatkan Kesadaran dan Motivasi

Salah satu manfaat besar CGM adalah meningkatkan kesadaran diri dan motivasi untuk hidup sehat. Melihat grafik gula darah yang turun setelah olahraga atau tetap stabil setelah makan sehat bisa memberikan motivasi untuk terus menjaga pola hidup sehat. 

Biasanya, seseorang akan lebih mudah disiplin jika melihat efek langsung dari setiap tindakan yang mereka lakukan terhadap kadar gula darahnya.

4. Membantu Dokter dan Ahli Gizi Memberi Saran yang Tepat

Data yang dikumpulkan dari CGM bisa diberikan ke dokter atau ahli gizi. Dengan begitu, dokter dapat memberikan rekomendasi yang lebih personal dan akurat. Dengan melihat pola gula darah harian, dokter dan ahli gizi dapat menyesuaikan rencana diet, aktivitas fisik, dan waktu makan agar hasilnya lebih optimal untuk menurunkan kadar gula darah agar dalam batas normal.

5. Mencegah Perkembangan ke Diabetes Tipe 2

Dengan pemantauan ketat dan perubahan gaya hidup yang dilakukan berdasarkan data CGM, kadar gula darah dapat dikontrol dengan lebih baik. Hal ini tidak hanya membantu mengembalikan kondisi prediabetes menjadi normal, tetapi juga mencegah berkembangnya penyakit menjadi diabetes tipe 2.

Pemantauan Gula Darah di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemeriksaan dan program manajemen gula darah, termasuk pemantauan gula darah dengan CGM (Continuous Glucose Monitoring).

Konsultasikan kondisi Anda sekarang di Primecare Clinic sebelum muncul gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 


1925-_1_-1200x800.webp

October 17, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Penderita diabetes menghadapi tantangan besar dalam menjaga kadar gula darah tetap stabil. Salah satu langkah penting yang dapat dilakukan adalah mengontrol asupan gula secara cermat. Saat ini, banyak orang mulai beralih ke pemanis buatan sebagai alternatif yang dianggap lebih aman untuk menggantikan gula biasa.

Amankah Pemanis Buatan untuk Penderita Diabetes?

Pemanis buatan boleh dikonsumsi oleh penderita diabetes asal digunakan sesuai anjuran. Pemanis ini adalah bahan pengganti gula yang memberikan rasa manis tanpa kalori atau dengan kalori yang sangat rendah, sehingga tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah secara langsung. 

Beberapa jenis pemanis buatan telah mendapatkan persetujuan untuk konsumsi manusia dari badan pengawas seperti BPOM, WHO, dan FDA, termasuk untuk penggunaan oleh penderita diabetes. Namun, keamanan pemanis buatan tetap bergantung pada jumlah dan frekuensi konsumsinya, karena efeknya dapat berbeda pada setiap individu.

Jenis Pemanis Buatan yang Aman untuk Penderita Diabetes

Berikut beberapa jenis pemanis buatan yang dinilai aman dan sering digunakan::

1. Aspartam

Memiliki tingkat kemanisan sekitar 200 kali lebih tinggi daripada gula pasir. Aspartam tidak menambah kalori, tetapi kurang stabil pada suhu tinggi.

2. Sukralosa

Rasanya mirip gula pasir, tahan panas, dan bisa digunakan untuk membuat kue atau minuman panas. Sukralosa tidak memengaruhi kadar gula darah dan hampir tidak mengandung kalori..

3. Sakarin

Pemanis ini sekitar 300 kali lebih manis daripada gula. Aman untuk penderita diabetes jika dikonsumsi dalam jumlah kecil dan sesuai takaran yang dianjurkan.

4. Acesulfame-K (Acesulfame Potassium)

Stabil pada suhu tinggi, sehingga sering digunakan dalam produk olahan seperti yogurt rendah gula atau minuman ringan bebas kalori.

5. Stevia

Meskipun berasal dari tumbuhan, stevia sering digolongkan bersama pemanis buatan karena efeknya serupa, yaitu  manis tanpa kalori dan tidak meningkatkan kadar gula darah. 

Cara Mengonsumsi Pemanis Buatan yang Aman untuk Penderita Diabetes

Agar tetap aman dan memberikan manfaat optimal, pemanis buatan perlu digunakan secara bijak. Beberapa panduan berikut bisa diterapkan:

1. Gunakan Sesuai Batas Aman Harian

Setiap jenis pemanis memiliki Acceptable Daily Intake (ADI) yang ditetapkan WHO. Mengikuti batas ini membantu menjaga keamanan dan mengoptimalkan manfaat pemanis buatan.

2. Periksa Label Kemasan

Pastikan produk yang dikonsumsi benar-benar bebas gula dan tidak mengandung campuran karbohidrat sederhana seperti maltodekstrin atau dekstrosa. Baca label dengan cermat untuk memilih produk yang aman bagi gula darah.

3. Hindari Konsumsi Berlebihan

Konsumsi pemanis buatan dalam takaran yang tepat membantu mendapatkan manfaat maksimal. Sebaliknya, penggunaan yang berlebihan berisiko menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

Bahaya Mengonsumsi Pemanis Buatan Secara Berlebihan

Meskipun tidak menaikkan gula darah secara langsung, penggunaan pemanis buatan secara berlebihan dapat menimbulkan efek negatif. Berikut beberapa di antaranya:

  1. Meningkatkan keinginan untuk mengonsumsi makanan manis, sehingga bisa berujung pada konsumsi gula atau karbohidrat berlebih.
  2. Pada sebagian orang, menimbulkan gejala ringan seperti sakit kepala, mual, atau reaksi alergi.

Oleh karena itu, pemanis buatan sebaiknya tidak dijadikan pengganti seluruh sumber gula alami, namun digunakan sebagai alat bantu untuk menjaga pola makan tetap seimbang.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Jika setelah mengonsumsi pemanis buatan muncul gejala seperti sakit kepala berkepanjangan, gangguan pencernaan, atau kadar gula darah tetap tidak stabil meski pola makan sudah dijaga, segera konsultasikan dengan tenaga medis.

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk evaluasi terapi dan pengaturan kadar gula darah, serta ke dokter gizi klinik untuk menyesuaikan penggunaan pemanis buatan dengan kebutuhan gizi harian dan menjaga pola makan tetap seimbang.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM). 

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


1126-_1_-1200x702.webp

October 17, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Memilih pemanis yang tepat menjadi perhatian penting bagi mereka yang hidup dengan diabetes. Gula biasa, yang sering digunakan sehari-hari, ternyata bisa menyebabkan kadar gula darah melonjak dengan cepat, sehingga menimbulkan kekhawatiran tersendiri.Tak heran, jika banyak orang mulai mencari alternatif yang lebih aman dan ramah bagi tubuh. 

Salah satu pilihan yang kian populer adalah stevia, pemanis alami yang dipercaya mampu memberikan rasa  manis tanpa menimbulkan lonjakan gula darah seperti gula konvensional.

Bolehkan Penderita Diabetes Mengonsumsi Stevia?

Ya, penderita diabetes boleh mengonsumsi stevia. Stevia berasal dari daun tanaman Stevia rebaudiana, yang mengandung senyawa pemanis alami bernama steviol glikosida. Senyawa ini rasanya 200-300 kali lebih manis dari gula pasir, tetapi tidak mengandung kalori dan tidak meningkatkan kadar glukosa darah.

Badan kesehatan dunia seperti WHO (World Health Organization) dan FDA (Food and Drug Administration) juga telah menyatakan bahwa stevia aman dikonsumsi dalam batas wajar. Selain aman, stevia juga bisa menjadi bagian dari strategi menjaga pola makan sehat dan mengontrol asupan kalori harian.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Stevia

Stevia hampir tidak mengandung kalori, karbohidrat, lemak, maupun protein, dengan indeks glikemik 0. Artinya, stevia tidak menyebabkan lonjakan gula darah dan aman digunakan tanpa memengaruhi kadar insulin.

Namun, beberapa produk komersial yang berlabel “mengandung stevia” sering dicampur dengan bahan tambahan seperti maltodekstrin atau dekstrosa. Campuran ini bisa menambah kalori dan memengaruhi gula darah, sehingga penting bagi penderita diabetes untuk selalu membaca label kemasan dengan cermat sebelum membeli.

Cara Mengonsumsi Stevia yang Aman untuk Penderita Diabetes 

Agar manfaat stevia tetap optimal dan aman bagi penderita diabetes, beberapa langkah berikut bisa diterapkan:

1. Gunakan Sesuai Kebutuhan

Meskipun tidak menaikkan gula darah, konsumsi stevia sebaiknya tidak berlebihan. Batas aman harian (ADI) menurut FAO/WHO adalah 4 mg per kilogram berat badan per hari.

2. Perhatikan Jenis Produknya

Pilih stevia murni tanpa tambahan gula, maltodekstrin, atau bahan lainnya. Pilih produk murni dengan label “100% Pure Stevia Extract” untuk mendapatkan manfaat optimal.

3. Hindari Penggunaan Berlebihan 

Stevia sebaiknya digunakan sebagai alat bantu menjaga pola makan sehat, bukan sebagai alasan untuk tetap mengonsumsi makanan tinggi gula atau karbohidrat sederhana.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Jika setelah menggunakan stevia muncul gejala seperti pusing, mual, atau kadar gula darah tetap tidak stabil meski pola makan sudah dijaga, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis. 

Pemeriksaan oleh dokter spesialis penyakit dalam maupun dokter gizi klinik akan membantu menilai apakah penggunaan stevia sudah sesuai dengan kondisi tubuh dan kebutuhan harian.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM). 

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


3105-1-1200x800.webp

October 17, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Bubur kacang hijau kerap menjadi menu favorit untuk sarapan atau camilan hangat di pagi maupun malam hari. Teksturnya lembut, rasanya manis, dan sering dianggap sehat karena terbuat dari bahan alami. Namun, rasa manis dari bubur kacang hijau sering menimbulkan kekhawatiran bagi yang perlu menjaga kadar gula darah.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Bubur Kacang Hijau?

Jawabannya: boleh, asalkan dikonsumsi dengan cara dan porsi yang tepat. Masalah utama bukan pada kacang hijaunya, melainkan pada cara pengolahan bubur yang sering ditambah gula pasir, santan, atau bahan lainnya yang bisa membuat gula darah melonjak.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Bubur Kacang Hijau

Kacang hijau mengandung protein nabati, serat, zat besi, magnesium, dan folat yang berperan penting dalam menjaga fungsi metabolisme tubuh. Kandungan seratnya membantu memperlambat penyerapan glukosa, sehingga kadar gula darah lebih mudah terkontrol.

Indeks glikemik (IG) kacang hijau tergolong rendah, sekitar 25. Namun, saat diolah menjadi bubur dengan tambahan gula dan santan, beban glikemiknya bisa meningkat. Akibatnya, tubuh menyerap glukosa lebih cepat dan kadar gula darah dapat naik lebih tinggi. Oleh karena itu, cara pengolahan bubur menjadi faktor penting yang menentukan apakah makanan ini tetap aman bagi penderita diabetes.

Cara Makan Bubur Kacang Hijau yang Aman untuk Penderita Diabetes

Supaya bubur kacang hijau tetap aman, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan: 

1. Batasi Porsi

Cukup konsumsi sekitar setengah mangkuk sedang agar asupan karbohidrat tidak berlebihan dan kadar gula darah tetap stabil.

2. Kurangi atau Ganti Pemanis

Gunakan gula dalam jumlah sangat terbatas atau pilih pemanis alami rendah kalori seperti stevia untuk menjaga cita rasa manis tanpa meningkatkan gula darah.

3. Gunakan Santan Encer atau Tanpa Santan

Jika tetap ingin rasa gurih, gunakan santan encer atau ganti dengan susu rendah lemak. Alternatif ini membantu menjaga cita rasa hidangan, serta menjaga keseimbangan kadar lemak dan gula darah.

4. Kombinasikan dengan Sumber Protein dan Serat

Tambahkan sedikit taburan biji chia atau biji-bijian lainnya untuk meningkatkan kandungan serat dan protein. Hal ini membantu memperlambat penyerapan gula dan membuat kenyang lebih lama.

Kapan Penderita Diabetes Perlu ke Dokter?

Jika kadar gula darah sulit dikendalikan meskipun sudah menjaga pola makan, atau muncul gejala seperti sering haus, cepat lelah, penglihatan kabur, dan luka sulit sembuh, segera lakukan pemeriksaan ke dokter.

Konsultasi dengan dokter penyakit dalam sangat disarankan agar dapat dievaluasi lebih lanjut dan mendapatkan pengobatan yang sesuai.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Gula Darah di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2150756363-1-1200x798.webp

October 17, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Kadar gula darah yang tinggi atau hiperglikemia adalah kondisi yang perlu diwaspadai. Normalnya, kadar gula darah puasa adalah 70-99 mg/dL dan gula darah dua jam setelah makan antara 70-139 mg/dL.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah yang sangat tinggi, bahkan mencapai 400 mg/dL atau lebih maka harus segera ditangani. Gula darah naik sampai 400 mg/dL bisa mengindikasikan adanya gangguan tubuh dalam pengendalian gula darah. Jika dibiarkan dan tidak ditangani dengan tepat, bisa menyebabkan berbagai komplikasi. 

Apa saja penyebab gula darah naik sampai 400 mg/dL, apa risikonya, dan bagaimana penanganannya? Simak faktanya berikut! 

Disclaimer: Anda bisa mengecek risiko diabetes Anda dengan kalkulator pada tautan ini.

Penyebab Gula Darah Naik Sampai 400 mg/dL

Kadar gula darah yang melonjak drastis hingga 400 mg/dL bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Berikut beberapa faktor risiko dan penyebabnya:

a. Konsumsi Makanan Tinggi Gula atau Karbohidrat Berlebihan

Sering mengonsumsi makanan atau minuman manis dapat menyebabkan gula darah melonjak. Kondisi ini bisa bertambah buruk bila terjadi masalah pada insulin, yaitu jumlahnya tidak cukup atau adanya resistensi insulin. 

b. Stres

Kondisi stres baik karena sakit, infeksi, maupun tekanan emosional dapat meningkatkan kadar hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Hormon-hormon ini dapat menyebabkan kenaikan kadar gula darah karena memicu hati melepaskan glukosa lebih banyak ke dalam darah.

c. Penyakit Tertentu

Ada beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kadar gula darah naik, misalnya penyakit hipotiroid, PCOS, dan cushing syndrome. Beberapa penyakit tersebut dapat menyebabkan gangguan hormonal, yang pada akhirnya bisa memicu kenaikan kadar gula darah. 

d. Gangguan Insulin

Pada orang dengan diabetes tipe 2, sensitivitas tubuh terhadap insulin menurun atau disebut resistensi insulin. Pada kondisi ini, insulin masih diproduksi, tetapi tubuh tidak mampu menggunakannya dengan efektif. Akibatnya gula darah tidak bisa diubah menjadi energi dan tetap ikut aliran darah.

Pada diabetes tipe 1, produksi insulin tidak cukup atau bahkan tidak diproduksi sama sekali. Dengan begitu, metabolisme glukosa akan terganggu dan menyebabkan kadar gula darah naik. 

e. Tidak Minum Obat atau Insulin Sesuai Anjuran

Bagi penderita diabetes, ketidakpatuhan dalam minum obat atau menyuntik insulin adalah penyebab paling umum dari lonjakan gula darah. Jika obat diminum tidak teratur atau dosisnya terlewat, maka kadar glukosa tidak terkendali dan terjadi hiperglikemia.

Mengapa Gula Darah Bisa Naik Sampai 400 mg/dL, tetapi Tidak Ada Gejala?

Hiperglikemia dan diabetes bisa menimbulkan beberapa gejala seperti mudah lelah, sering haus, sering lapar, dan sering minum. Namun, gejala ini tidak selalu muncul.

Banyak orang yang mengalami hiperglikemia, bahkan gula darah naik sampai 400 mg/dL tapi tidak merasakan gejala apapun sampai terjadi komplikasi.

Hal ini terjadi karena peningkatan kadar gula darah biasanya berkembang secara perlahan. Saat kadar gula meningkat sedikit demi sedikit, tubuh beradaptasi dengan kondisi tersebut sehingga gejala seperti sering buang air kecil, haus berlebihan, atau cepat lelah tidak terasa begitu nyata.

Beberapa orang juga memiliki ambang ginjal yang lebih tinggi. Glukosa darah tidak langsung keluar lewat urin meski kadar gula darah sudah tinggi. Karena belum terjadi kehilangan cairan yang signifikan, gejala khas hiperglikemia pun bisa saja tidak muncul.

Selain itu, fungsi insulin mungkin masih ada meskipun tidak optimal. Dengan begitu, kadar gula tetap tinggi tetapi tidak cukup menimbulkan gangguan metabolik berat seperti ketoasidosis.

Banyak orang yang hidup bertahun-tahun dengan hiperglikemia tanpa disadari. Kondisi ini diperparah oleh kurangnya pemeriksaan rutin dan anggapan bahwa tidak ada gejala berarti sehat.

Karena itu, pemeriksaan gula darah secara berkala sangat penting, terutama bagi yang memiliki faktor risiko seperti berat badan berlebih, riwayat keluarga diabetes, dan sedentary lifestyle atau gaya hidup kurang aktif. Deteksi dini membantu mencegah komplikasi serius akibat gula darah tinggi yang tidak terkontrol.

Bahaya Gula Darah Naik Sampai 400 mg/dL

Gula darah yang mencapai 400 mg/dL bisa berbahaya jika tidak segera ditangani. Kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi berbahaya, antara lain:

a. Ketoasidosis Diabetik (DKA)

Ketika tubuh tidak bisa menggunakan glukosa menjadi sumber energi, maka tubuh akan mengolah lemak untuk mendapat energi. Proses ini akan menghasilkan keton. Penumpukan keton ini membuat darah menjadi asam dan dapat menyebabkan koma bahkan kematian jika tidak segera ditangani.

b. Sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar (HHS)

Kadar gula darah tinggi bisa menyebabkan dehidrasi berat, penurunan kesadaran, dan kegagalan organ.

c. Kerusakan Organ

Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah. Jika kerusakan pembuluh darah terjadi di ginjal, mata, dan saraf, maka dapat menyebabkan gagal ginjal, kerusakan mata, dan kerusakan saraf.

d. Risiko Penyakit Jantung dan Stroke

Gula darah tinggi juga dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Jika yang terganggu adalah pembuluh darah di jantung dan otak, maka meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. 

Apa yang Harus Dilakukan Jika Gula Darah Naik Sampai 400 mg/dL?

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah mencapai 400 mg/dL, kamu perlu waspada, tetapi jangan panik. Berikut langkah yang perlu dilakukan:

a. Cek Ulang Hasilnya

Mengulangi pemeriksaan diperlukan untuk memastikan hasil pemeriksaan akurat. Gunakan alat pengukur gula darah yang sudah dikalibrasi atau lakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam pengukuran.

b. Segera Konsultasi ke Dokter

Gula darah di atas 400 mg/dL perlu evaluasi medis segera. Dokter akan memeriksa kondisi secara keseluruhan dan memberikan obat atau insulin. Jika diperlukan, mungkin kamu akan diminta untuk rawat inap untuk memantau kondisi hingga stabil. Jangan coba-coba mengonsumsi obat tanpa arahan dari dokter.

c. Perbanyak Minum Air Putih

Gula darah tinggi bisa memicu dehidrasi. Minum air putih juga membantu tubuh membuang kelebihan gula melalui urin. 

d. Hindari Makanan dan Minuman Manis

Karena gula darah sudah amat tinggi, maka kamu harus mulai memperbaiki pola makan. Kurangi konsumsi makanan dan minuman manis. Perbanyak makanan tinggi serat dan pilih makanan dengan indeks glikemik yang rendah seperti sayuran hijau, buah dan protein tanpa lemak.

e. Evaluasi gaya hidup

Selain memperbaiki pola makan, kamu juga harus mengevaluasi gaya hidup. Mulailah untuk beraktivitas fisik secara rutin, hindari rokok, dan alkohol.

Kadar gula darah 400 mg/dL bukan hal sepele. Meskipun tidak ada gejala dan merasa baik-baik saja, kondisi ini bisa berbahaya bila dibiarkan tanpa penanganan. Segera periksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Gula Darah di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


5254575-_2_-_1_-1200x900.webp

October 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Prediabetes adalah kondisi saat gula darah sudah lebih tinggi dari batas normal, tapi belum cukup tinggi untuk disebut diabetes. Prediabetes biasanya tidak menimbulkan gejala yang jelas, sehingga banyak orang yang tidak menyadari bahwa kadar gula darahnya sudah masuk kriteria prediabetes. Padahal, kondisi ini bisa menjadi peringatan dini bahwa tubuh mulai kesulitan mengatur kadar gula darah. Jika tidak dikontrol, prediabetes bisa berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Salah satu cara paling efektif untuk mengontrol prediabetes dan mencegah menjadi diabetes tipe 2 adalah dengan memantau kadar gula darah secara rutin. Apa saja manfaat memantau gula darah bagi penderita prediabetes? Simak penjelasan berikut! 

Mengapa Penderita Prediabetes Perlu Mengecek Gula Darah Secara Rutin? 

Pada kondisi prediabetes, tubuh sudah menunjukkan tanda-tanda awal adanya gangguan dalam mengatur gula darah. Meski belum separah diabetes, kondisi ini menandakan bahwa sel-sel tubuh mulai tidak sensitif terhadap insulin, atau disebut dengan resistensi insulin.

Insulin adalah hormon yang mengatur kadar gula dalam darah. Jika sel-sel tubuh resisten terhadap insulin, maka gula darah tidak bisa masuk ke dalam sel. Akibatnya, gula tetap berada di aliran darah dan gula darah bisa meningkat perlahan tanpa disadari.

Jika prediabetes tidak dipantau, kadar gula darah bisa semakin tinggi dan berkembang menjadi diabetes. Pemantauan gula darah secara rutin dapat memberikan beberapa manfaat bagi penderita diabetes, yaitu:

1. Membantu Mencegah Perkembangan ke Diabetes Tipe 2

Pemeriksaan gula darah secara rutin memungkinkan deteksi dini perubahan kadar gula darah. Dengan mengetahui tren peningkatan gula darah, Anda bisa konsultasi dengan dokter sehingga mendapatkan penanganan agar prediabetes tidak berkembang menjadi diabetes tipe 2. 

2. Menjadi Indikator Gaya Hidup

Hasil pemantauan gula darah dapat menunjukkan bagaimana efek pola makan, olahraga, dan gaya hidup yang sedang dijalankan terhadap kadar gula darah. Jika kadar gula semakin naik, maka diperlukan tindakan lain untuk mengontrol kadar gula darah.

3. Membantu Dokter Memberikan Penanganan yang Tepat

Data kadar gula darah membantu dokter dalam memberikan saran atau terapi yang sesuai, termasuk penyesuaian diet, aktivitas fisik, atau pemeriksaan lanjutan bila diperlukan.

4. Meningkatkan Kesadaran terhadap Kondisi Tubuh

Dengan rutin memeriksa kadar gula, penderita prediabetes menjadi lebih peka terhadap sinyal tubuhnya. Kesadaran ini dapat mendorong perilaku hidup yang lebih sehat.

5. Mengurangi Risiko Komplikasi Metabolik

Menjaga kadar gula tetap terkendali membantu melindungi tubuh dari berbagai komplikasi jangka panjang akibat gula darah yang tidak terkontrol seperti gangguan jantung, pembuluh darah, ginjal, dan saraf.

Seberapa Sering Penderita Prediabetes Perlu Mengecek Gula Darah

Frekuensi pemeriksaan kadar gula darah tergantung pada kondisi masing-masing individu. Jika kadar gula darah cenderung tinggi terus-menerus, maka frekuensi pemeriksaan bisa lebih sering. 

Bagi orang yang didiagnosis prediabetes, pemeriksaan bisa dilakukan lebih sering, misalnya setiap beberapa hari sekali untuk melihat kadar gula darah harian. Setelah kondisi lebih stabil, pemeriksaan bisa dilakukan setiap 1–2 minggu sebagai pemantauan berkala.

Intinya, semakin rutin memantau kadar gula darah, semakin mudah untuk mendeteksi ketika kadar gula darah tidak normal. Dengan begitu, langkah penanganan bisa diambil secepat mungkin. 

Mengenal CGM (Continuous Glucose Monitoring) dan Keunggulannya

Continuous Glucose Monitoring (CGM) adalah alat yang dapat memantau kadar gula darah secara terus-menerus selama 24 jam penuh. Alat ini terdiri dari sensor kecil yang dipasang di bawah kulit, biasanya di lengan atau perut. Sensor ini berfungsi untuk mengukur kadar gula dari cairan antar sel atau interstitial fluid. 

Sensor CGM bisa dikoneksikan dengan gadget, misalnya smartphone. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui kadar gula darah secara real-time dan memantau fluktuasi kadar gula darah sepanjang hari. 

CGM memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan pemeriksaan gula darah metode lain, yaitu:

1. Pemantauan Real-time

Dengan CGM, kadar gula darah bisa dipantau setiap beberapa menit tanpa harus menusuk jari berulang kali. 

2. Data Lengkap dan Berkelanjutan

CGM menampilkan grafik yang menunjukkan bagaimana kadar gula berubah sepanjang hari. Dengan begitu, kamu bisa mencatat kapan saja dan dalam kondisi apa gula darah biasanya naik.

Data ini dapat digunakan untuk menentukan pola makan, aktivitas fisik, dan faktor lain yang memengaruhi kadar gula darah sehingga bisa melakukan modifikasi gaya hidup.

3. Peringatan Otomatis

CGM memberikan notifikasi jika kadar gula darah terlalu tinggi atau rendah. Dengan begitu, kamu bisa segera mengambil tindakan sebelum gejala muncul. 

4. Meningkatkan Pemahaman Terhadap Tubuh

Dengan memahami data yang diberikan oleh CGM, kamu bisa mengetahui apa saja yang dapat meningkatkan gula darah. Misalnya, gula darah melonjak tinggi setelah makan makanan tertentu. Maka, sebaiknya menghindari makanan tersebut dan menggantinya dengan makanan yang lebih sehat. Data ini dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan manajemen gula darah yang tepat. 

Manfaat CGM untuk Penderita Prediabetes

Bagi penderita prediabetes, CGM bisa menjadi alarm dalam mengelola gaya hidup dan mencegah perkembangan penyakit menjadi diabetes tipe 2. Berikut beberapa manfaat CGM untuk penderita prediabetes:

1. Mendeteksi Lonjakan Gula Darah 

CGM membantu mengetahui kapan kadar gula darah mulai naik dan memberikan peringatan ketika naik tajam. Mengetahui kenaikan gula darah sejak awal bisa menjadi alarm untuk lebih waspada dalam mengontrol gula darah sehingga tidak berkembang menjadi diabetes tipe 2.

2. Membantu Memilih Makanan yang Lebih Tepat

Dengan data dari CGM, kamu bisa membuat catatan tentang pengaruh makanan yang dikonsumsi terhadap kadar gula darah. Dengan begitu, kamu bisa memahami makanan yang aman dan yang perlu dihindari.

3. Meningkatkan Motivasi untuk Hidup Sehat

Melihat perubahan kadar gula secara langsung setelah olahraga atau makan sehat bisa menjadi motivasi kuat untuk mempertahankan kebiasaan baik tersebut.

4. Mempermudah Dokter Dalam Memberikan Terapi

Data dari CGM bisa digunakan oleh dokter untuk memberikan saran yang lebih tepat. Dokter dapat menilai pola gula darah pasien dan memberikan rekomendasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Dengan beberapa manfaat di atas, CGM dapat membantu penderita prediabetes dalam mengontrol gula darah sehingga tidak berlanjut menjadi diabetes tipe 2.

Pemantauan Gula Darah di Primecare Clinic

Jika kamu membutuhkan pemantauan gula darah secara rutin, Anda bisa datang ke Primecare Clinic.

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan layanan konsultasi dokter spesialis penyakit dalam, program manajemen diabetes, dan pemantauan gula darah (ada CGM) untuk pengelolaan gula darah yang tepat untukmu.

Jangan tunggu gejala muncul! Yuk, periksa kadar gula darah secara rutin! Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya.


2148247245-_1_-1200x801.webp

October 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Kurangnya olahraga atau aktivitas fisik merupakan salah satu faktor risiko terjadinya beberapa penyakit, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Hal ini karena kurangnya pemanfaatan glukosa ataupun lemak oleh sel tubuh yang didapat dari asupan makanan. Selain itu, aktivitas fisik juga merupakan salah satu pilar dalam manajemen beberapa penyakit metabolik seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Namun, setelah berolahraga gula darah cenderung mengalami kenaikan. Mengapa hal ini dapat terjadi? Mari kita simak jawabannya.  

Kondisi Gula Darah Naik Setelah Olahraga 

Kenaikan kadar gula darah selama dan setelah berolahraga biasanya terjadi ketika melakukan olahraga intensitas tinggi, seperti High-Intensity Exercise (HIE) atau olahraga jenis HIIT. Kenaikan kadar gula darah pada olahraga jenis ini, terjadi baik pada orang sehat maupun pada penderita diabetes karena beberapa faktor. 

Sementara itu, olahraga jenis aerobik intensitas sedang, seperti jalan cepat atau joging umumnya bekerja sebaliknya, yaitu menurunkan kadar gula darah dalam jangka panjang. Proses metabolisme glukosa saat olahraga aerobik dapat menurunkan kadar HbA1C (gambaran rata-rata kadar gula darah dalam tiga bulan terakhir) dan meningkatkan sensitivitas insulin. 

Apakah Gula Darah Naik Setelah Olahraga Normal?

Kenaikan kadar gula darah setelah berolahraga intensitas tinggi adalah hal yang normal karena merupakan respons fisiologis tubuh. Pada orang sehat hal ini bersifat sementara dan akan kembali normal. Namun, hal ini perlu diwaspadai pada penderita diabetes karena dapat menjadi evaluasi terkait aktivitas fisik apa yang tepat untuk keberhasilan terapi diabetes. 

Penyebab Gula Darah Naik Setelah Olahraga

Beberapa penyebab yang dapat meningkatkan kadar gula darah naik setelah berolahraga, yaitu asupan makanan sebelum olahraga dan proses yang terjadi pada saat olahraga intensitas tinggi. Makanan yang dikonsumsi sebelum olahraga dapat menjadi penyebab gula darah naik, terlebih jika mengonsumsi banyak karbohidrat sebelum melakukan olahraga.

Pada olahraga intensitas tinggi, glukosa adalah satu-satunya bahan bakar sumber energi. Pada keadaan ini tubuh juga menghasilkan hormon stres lebih banyak, yaitu hormon katekolamin. Kondisi ini menyebabkan produksi glukosa meningkat tujuh hingga delapan kali lipat, sedangkan penggunaan glukosanya hanya tiga sampai empat kali lipat. Pada orang yang sehat, akan terjadi peningkatan kadar gula darah selama sesi olahraga dan setelah berolahraga. Kondisi ini dapat bertahan selama 1 jam. Setelahnya, tubuh akan menstimulasi hormon insulin yang akan bekerja untuk menurunkan kadar gula darah kembali. 

Apakah Gula Darah Naik Setelah Olahraga Itu Berbahaya?

Pada orang yang sehat, kenaikan kadar gula darah setelah berolahraga jenis tertentu adalah hal yang normal karena merupakan respons fisiologis tubuh dan tubuh akan meregulasi kembali sehingga kondisi ini tidaklah berbahaya. 

Bagi penderita diabetes, olahraga intensitas tinggi yang dapat meningkatkan kadar gula darah, dapat memberikan efek dua mata pisau karena dapat berguna untuk mengurangi risiko hipoglikemia pada penderita diabetes yang menggunakan terapi insulin. Di sisi lain, olahraga jenis ini dapat juga terjadi risiko cedera pada tulang dan otot bagi yang sebelumnya menjalankan gaya hidup sedentary (gaya hidup dengan minimal aktivitas fisik) dan juga komplikasi kardiovaskular. Oleh karena itu, bagi penderita diabetes sebaiknya perlu melakukan konsultasi pada dokter ketika akan memilih jenis olahraga. 

Cara Mencegah/Mengatasi Gula Darah Naik Setelah Olahraga

Karena pada orang yang sehat kondisi naiknya kadar gula darah setelah berolahraga akan kembali normal, maka hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan secara berlebihan. Namun, bagi penderita diabetes, beberapa tips di bawah ini dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi kondisi naiknya gula darah setelah berolahraga, di antaranya:

  1. Pertimbangkan untuk melakukan olahraga jenis aerobik dengan intensitas sedang atau latihan beban dengan beban yang ringan.
  2. Lakukan teknik relaksasi seperti pernapasan terukur, visualisasi, atau meditasi sebelum dan selama latihan untuk meminimalkan efek hormon adrenalin/katekolamin.
  3. Sebelum olahraga, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kadar gula darah mandiri. Jika didapatkan hasil kadar gula darah >250 mg/dL sebaiknya pasien menunda olahraga. 
  4. Pertimbangkan untuk menggeser jadwal olahraga menjadi sore hari karena adanya Dawn Phenomena/Fenomena Fajar yang dapat meningkatkan kadar gula darah secara alami pada pagi hari, biasanya terjadi pada jam 04.00-08.00, sehingga dapat meningkatkan kadar gula darah lebih tinggi saat olahraga di pagi hari
  5. Hindari makanan yang mengandung banyak karbohidrat sebelum dan selama  olahraga. Sebagai gantinya, dapat dicoba untuk mengonsumsi yogurt  atau selai kacang. 
  6. Pantau gula darah secara real-time dengan teknologi CGM

Jika Gula Darah Naik Signifikan setelah Olahraga, harus ke Dokter Apa?

Jika mengalami kenaikan gula darah yang signifikan setelah melakukan olahraga, Anda disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter di bawah ini:

1. Dokter Umum

Sebagai skrining awal terjadinya kenaikan gula darah setelah olahraga, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter umum di fasilitas kesehatan pertama. 

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Anda juga bisa langsung berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk keluhan ini. Sementara itu, jika sebelumnya di fasilitas kesehatan pertama Anda sudah didiagnosis diabetes, biasanya Anda akan dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam untuk dilakukan evaluasi lebih lanjut terkait adanya komplikasi atau tidak.  

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Anda bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


2148504662-_1_-1200x675.webp

October 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Naiknya kadar gula darah pada pasien diabetes dapat menjadi kondisi yang sering terjadi dengan berbagai sebab di antaranya, saat bangun tidur, aktivitas fisik, dan efek samping obat antidiabetes (OAD) seperti insulin dan golongan sulfonilurea. Namun, ada kondisi dimana pasien sering mengalami gangguan yang ditandai dengan terjadinya episode hiperglikemia dan hipoglikemia. Kondisi ini disebut sebagai ‘brittle diabetes’. Untuk lebih jelasnya, kita simak pembahasan berikut.

Apa Itu Brittle Diabetes?

Istilah brittle diabetes pertama kali diperkenalkan oleh Woodyatt pada tahun 1934 yang digambarkan sebagai kondisi kadar gula darah yang tidak stabil dengan rentang yang lebar. Perubahannya bisa menyebabkan kondisi hipoglikemia dan hiperglikemia yang tinggi sehingga dapat menyebabkan diabetik ketoasidosis. Kondisi ini termasuk langka, dapat berulang kali terjadi, dan membutuhkan perawatan di rumah sakit. 

Gejala Brittle Diabetes

Karena terjadinya fluktuasi dengan rentang yang lebar, pasien dapat mengalami kondisi hiperglikemia maupun hipoglikemia dengan gejala masing-masing seperti berikut:

 

Gejala HiperglikemiaGejala hipoglikemia
Sering haus dan mudah laparPucat
Sering buang air kecilRasa lapar
Lemah badanTerasa lemas dan tidak bertenaga
KesemutanPusing
Mata kaburGangguan kognitif

 

Selain itu, pada brittle diabetes dapat terjadi hiperglikemia yang tinggi dan menyebabkan  ketoasidosis diabetik dengan gejala, seperti mual dan muntah, tubuh terasa lemas, sakit kepala, sesak napas, dan lain-lain sehingga perlu penanganan segera di rumah sakit.

Penyebab Brittle Diabetes

Penyebab brittle diabetes dapat bersifat multifaktorial, termasuk kondisi psikologis atau kejiwaan pasien. Selain itu, kondisi medis lain yang menyertai penyakit diabetes dapat menyebabkan brittle diabetes. Di bawah ini adalah penyebab brittle diabetes berdasarkan efek yang ditimbulkan, dapat berupa terjadinya hiperglikemia, hipoglikemia, atau menyebabkan keduanya, yaitu:

1. Kondisi yang menyebabkan hiperglikemia/ketoasidosis

  1. Endokrinopati (gangguan hormonal), seperti yang terjadi pada Sindrom Cushing, akromegali, atau tirotoksikosis (kondisi medis karena kelebihan hormon tiroid).
  2. Infeksi sistemik

2. Kondisi yang menyebabkan hipoglikemia

  1. Diabetik gastroparesis: kondisi dimana otot-otot lambung melemah sehingga terjadi pengosongan lambung yang lambat atau berhenti sama sekali.
  2. Sindrom Lipodistrofi: kondisi medis yang ditandai dengan distribusi lemak yang abnormal.
  3. Penyakit Celiac atau gangguan malabsorbsi lain yang tidak terobati sehingga mengganggu penyerapan di usus.

3. Kondisi yang menyebabkan hiperglikemia/hipoglikemia

  1. Masalah psikologis, seperti bulimia (kelainan makan)
  2. Demensia dan kelainan kognitif lainnya
  3. Kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang
  4. Ketergantungan obat steroid

Cara Mencegah/Mengatasi Brittle Diabetes

Sesuai dengan penjelasan di atas tentang penyebab brittle diabetes dengan berbagai sebab maka pencegahan dan manajemen brittle diabetes perlu dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu pendekatan psikologis, medis, dan perubahan gaya hidup seperti yang diuraikan di bawah ini:

1. Pendekatan Psikologis

  • Mengelola stres
  • Berkonsultasi ke psikiater/psikolog, terutama yang memiliki pemahaman di bidang penyakit diabetes
  • Menawarkan konseling keluarga bagi yang membutuhkan karena pasien sangat membutuhkan dukungan dari keluarga maupun kerabat lainnya

2. Pendekatan Medis

  • Penggunaan terapi insulin
  • Melakukan pemantauan glukosa mandiri

3. Pendekatan Gaya Hidup

  • Konsumsi makanan yang mengandung diet seimbang
  • Olahraga rutin dapat menurunkan kadar gula darah dengan cara meningkatkan sensitivitas insulin dan penggunaan glukosa yang maksimal di dalam sel. Durasi olahraga yang dianjurkan adalah 150 menit per minggu.
  • Hindari konsumsi alkohol

Brittle Diabetes dengan Kondisi Lainnya 

Brittle diabetes bukanlah sebuah jenis dari diabetes, melainkan sebuah keadaan yang cukup langka terjadi pada pasien dengan diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2. 

1. Diabetes tipe 1

Dalam sebuah jurnal disebutkan bahwa Brittle Diabetes adalah kejadian yang terjadi pada pasien diabetes tipe 1 yang ditandai dengan adanya ketidakstabilan glikemik yang berat karena pasien sangat bergantung pada insulin.

2. Diabetes tipe 2

Brittle diabetes dapat juga terjadi pada diabetes tipe 2 yang menggunakan terapi insulin karena dapat meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia. 

3. Prediabetes

Prediabetes adalah kondisi dimana kadar gula darah melebihi normal, tetapi belum bisa didiagnosis sebagai diabetes. Dalam beberapa jurnal, tidak disebutkan adanya keterkaitan antara prediabetes dengan brittle diabetes karena brittle diabetes hanya terjadi pada pasien yang sudah didiagnosis diabetes tipe 1 ataupun diabetes tipe 2.

Jika Mengalami Brittle Diabetes, harus ke Dokter Apa?

Naik turun kadar gula darah adalah hal yang biasa terjadi pada pasien diabetes dengan berbagai sebab, terutama pada pasien diabetes tipe 2 yang mengonsumsi terapi insulin. Namun, kondisi brittle diabetes tidak dapat disepelekan. Oleh karena itu, pasien disarankan untuk segera berkonsultasi jika pernah mengalami episode hiperglikemia dan hipoglikemia dengan rentang kadar gula darah yang lebar atau mengalami gejala hiperglikemia/hipoglikemia yang cukup sering. Dalam menangani kasus brittle diabetes ini, pasien perlu mendapatkan terapi dari beberapa bidang kedokteran, di antaranya:

1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Kondisi brittle diabetes merupakan kondisi yang tidak umum terjadi pada pasien diabetes sehingga perlu penanganan dari dokter spesialis penyakit dalam. Pada kondisi kasus dengan penyulit lainnya atau keadaan berulang, pasien akan dirujuk ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes. 

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes 

Pada kasus brittle diagnosis yang berulang atau yang disebabkan karena adanya gangguan hormon pasien dapat berkonsultasi dengan dokter subspesialis endokrinologi, metabolik, dan diabetes karena dokter ini berfokus pada masalah hormon, metabolisme, dan diabetes.

3. Tim ahli lainnya

Dalam melakukan terapi untuk pasien diabetes, terlebih dengan kondisi khusus seperti brittle diabetes ini, diperlukan tata laksana penyakit dengan multidisiplin ilmu. Oleh karena itu, pasien perlu dirujuk atau berkonsultasi dengan dokter atau ahli di bidang lainnya, seperti:

a. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Dokter gizi klinik bisa membantu dalam mengatur pola makan dan memberikan rencana makan dengan gizi seimbang.

b. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) atau Psikolog

Salah satu penyebab terjadinya brittle diabetes adalah masalah psikologis, seperti faktor stres, depresi, gangguan makan (contoh: bulimia) sehingga dibutuhkan pendampingan untuk masalah kejiwaan/psikologis ini (dokter spesialis jiwa/psikiater atau psikolog). 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Anda bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


7767188-1200x798.webp

October 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Resistensi insulin adalah kondisi ketika tubuh tidak merespon insulin dengan normal. Kondisi ini erat kaitannya dengan penyakit diabetes tipe 2, sindrom metabolik, hingga penyakit jantung. 

Resistensi insulin tidak menimbulkan gejala yang khas, karena itu banyak orang baru mengetahui dirinya mengalami resistensi insulin setelah berkembang menjadi diabetes tipe 2 dan setelah muncul komplikasi. Lalu apa penyebab resistensi insulin dan bagaimana cara mengatasinya? Cari tahu jawabannya di artikel ini, ya! 

Apa itu Resistensi Insulin?

Resistensi insulin adalah kondisi ketika sel-sel tubuh tidak merespon insulin sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh. 

Insulin adalah hormon pencernaan yang diproduksi oleh pankreas. Insulin berfungsi untuk membantu sel tubuh menyerap glukosa dari darah untuk dijadikan energi. 

Ketika kita mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, tubuh akan memecah karbohidrat menjadi gula sederhana, yaitu glukosa. Kemudian glukosa akan masuk ke pembuluh darah sehingga kadar gula darah meningkat.

Ketika kadar gula darah meningkat, pankreas akan menghasilkan insulin. Kemudian, insulin akan bekerja dengan membawa glukosa di aliran darah agar masuk ke dalam sel-sel tubuh. Dengan begitu, kadar gula darah akan kembali turun. 

Namun, pada resistensi insulin, sel-sel tubuh tidak merespon insulin dengan baik. Akibatnya, glukosa sulit masuk ke dalam sel dan tetap berada di aliran darah. Kadar gula darah pun akan semakin meningkat. 

Ketika kadar gula darah tetap tinggi, pankreas berusaha memproduksi lebih banyak insulin untuk mengatasi hal ini. Lama-kelamaan, gula darah akan semakin menumpuk di pembuluh darah dan dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Faktor Risiko Resistensi Insulin

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami resistensi insulin, yaitu:

1. Berat Badan Berlebih dan Obesitas

Berat badan berlebih dan obesitas, terutama obesitas sentral dapat meningkatkan risiko resistensi insulin.

2. Pola Makan Tinggi Kalori dan Gula

Sering mengonsumsi makanan dan minuman manis, serta makanan tinggi lemak jenuh dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan menurunkan sensitivitas insulin.

3. Kurang Aktivitas Fisik

Olahraga terbukti dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Ketika jarang olahraga, maka otot yang jarang digunakan tidak maksimal dalam menyerap glukosa. Hal itu dapat menyebabkan kadar gula dalam darah tetap tinggi dan memicu resistensi insulin. 

4. Faktor genetik

Seseorang yang mempunyai riwayat keluarga menderita diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi mengalami resistensi insulin.

5. Pertambahan Usia

Sensitivitas insulin cenderung menurun seiring bertambahnya usia, sehingga risiko resistensi insulin meningkat.

6. Kondisi Medis Tertentu

Sindrom ovarium polikistik (PCOS), hipertensi, serta kadar kolesterol yang tidak normal (dislipidemia) sering dikaitkan dengan resistensi insulin.

Bahaya Resistensi Insulin

Resistensi insulin bukanlah kondisi yang bisa dianggap sepele. Jika dibiarkan, resistensi insulin dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti:

1. Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

Resistensi insulin membuat tubuh kesulitan menggunakan gula darah dengan efektif, sehingga kadar glukosa terus meningkat dan akhirnya berkembang menjadi diabetes tipe 2.

2. Memicu Obesitas dan Sindrom Metabolik

Resistensi insulin memicu pankreas untuk terus memproduksi insulin. Akibatnya kadar insulin semakin tinggi. Kondisi hiperinsulinemia atau kadar insulin yang tinggi akan mendorong penyimpanan lemak lebih banyak sehingga memicu obesitas dan sindrom metabolik. 

3. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Resistensi insulin dapat memicu peradangan dan gangguan pembuluh darah. Hal itu dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

4. Aterosklerosis (Penyempitan Pembuluh Darah)

Kadar gula darah tinggi dan lemak yang tidak seimbang dapat menumpuk di dinding pembuluh darah arteri. Penumpukan lemak ini dapat membentuk plak yang menyumbat aliran darah dan menyebabkan aterosklerosis.

5. Gangguan Fungsi Hati

Resistensi insulin juga memicu penyimpanan lemak di hati. Penumpukan lemak berlebih di hati bisa berkembang menjadi sirosis.

6. Masalah Kesuburan 

Pada wanita, resistensi insulin sering dikaitkan dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS) yang mengganggu siklus haid dan menurunkan kesuburan. Pada pria, resistensi insulin dapat menyebabkan gangguan ereksi. 

7. Luka Sulit Sembuh

Gula darah tinggi yang disebabkan oleh resistensi insulin dapat merusak saraf dan pembuluh darah. Akibatnya, aliran darah ke jaringan terganggu dan jika ada luka maka lebih lama sembuh.

Cara Mengecek Resistensi Insulin

Resistensi insulin tidak menimbulkan gejala yang khas. Gejala bisa muncul pada kondisi hiperglikemia atau ketika sudah menjadi diabetes tipe 2. Beberapa gejala yang bisa muncul yaitu mudah lelah, sering lapar, sering haus, sering kencing, dan muncul bercak hitam di lipatan kulit yang disebut acanthosis nigricans.

Untuk mengecek resistensi insulin, ada beberapa tes yang bisa dilakukan yaitu:

1. Hyperinsulinemic Euglycemic Clamp (HIEC)

Tes ini dianggap sebagai standar emas untuk mengukur sensitivitas insulin, namun memerlukan biaya yang tinggi. Tes ini memerlukan infus insulin dan glukosa, pemantauan glukosa darah dan laju infus glukosa atau glucose infusion rate (GIR) dalam keadaan stabil (steady-state).

2. Insulin Tolerance Test (ITT)

Tes ini mengukur seberapa cepat glukosa darah turun setelah pemberian insulin suntikan cepat (bolus). Namun, tes ini memiliki kekurangan seperti risiko hipoglikemia dan penggunaan dosis insulin yang tinggi.

3. Insulin Suppression Test (IST)

Tes ini menggunakan somatostatin untuk menekan insulin endogen dan mengukur respon glukosa darah. Lebih sederhana dibanding HIEC tapi tetap tidak mudah untuk penggunaan klinis umum. 

4. HOMA-IR (Homeostasis Model Assessment of Insulin Resistance)

Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan tidak langsung dengan menggunakan data glukosa dan insulin darah puasa, lalu dihitung menggunakan rumus: HOMA-IR = (Glukosa puasa × Insulin puasa) ÷ 22,5.

5. QUICKI (Quantitative Insulin Sensitivity Check Index)

Pemeriksaan ini juga merupakan pemeriksaan tidak langsung menggunakan indeks alternatif berbasis puasa yang juga menggabungkan data glukosa dan insulin.

6. Indeks TyG (Triglyceride-Glukosa)

Tes ini menggabungkan kadar glukosa puasa dan trigliserida. Lebih terjangkau karena tidak selalu membutuhkan pengukuran insulin.

7. Biomarker Tambahan 

Penggunaan adiponektin, leptin dan rasio antara adiponektin dan leptin sebagai biomarker yang mungkin menjadi alternatif atau pendukung dalam menilai resistensi insulin.

Pada umumnya, pemeriksaan di atas jarang digunakan di fasilitas kesehatan. Tes yang sering digunakan adalah pemeriksaan kadar gula darah yang secara tidak langsung dapat menggambarkan sensitivitas insulin. Jika kadar gula darah tinggi, maka dapat dicurigai terjadi resistensi insulin.

Cara Mencegah Resistensi Insulin

Pencegahan resistensi insulin adalah dengan pola hidup sehat. Beberapa langkah yang bisa dilakukan yaitu:

1. Menjaga Berat Badan Ideal

 Menjaga berat badan agar mencapai indeks massa tubuh yang ideal dapat mencegah resistensi insulin. Pada orang yang kelebihan berat badan atau obesitas, menurunkan 5–10% berat badan dapat meningkatkan sensitivitas insulin secara signifikan.

2. Aktif Bergerak

Olahraga rutin, seperti jalan cepat, jogging, bersepeda, atau berenang dapat membantu otot menggunakan glukosa lebih baik.

3. Mengatur Pola Makan

Perbanyak konsumsi sayur, buah, protein tanpa lemak, biji-bijian utuh, dan kurangi makanan olahan serta gula tambahan.

4. Mengurangi Stres dan Tidur cukup

Stres kronis dan kurang tidur dapat meningkatkan hormon kortisol yang berhubungan dengan resistensi insulin.

Cara Mengatasi Resistensi Insulin

Jika mengalami resistensi insulin yang berakibat pada naiknya kadar gula darah, maka perlu ditangani dengan segera agar tidak berkembang menjadi diabetes tipe 2 dan komplikasinya. Beberapa langkah pengelolaan yang bisa dilakukan yaitu:

  • Perubahan gaya hidup dengan mengatur diet, rutin berolahraga, hindari merokok, cukup tidur, dan mengelola stres. 
  • Jika diperlukan, dokter akan meresepkan obat seperti untuk membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengendalikan kadar gula darah. 
  • Pemantauan rutin dengan mengecek kadar gula darah secara berkala untuk memantau perkembangan kondisi. Anda bisa memakai CGM untuk memantau gula darah secara real-time

Jika Mengalami Resistensi Insulin, Harus ke Dokter Apa?

Jika Anda curiga mengalami  resistensi insulin, maka Anda bisa berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam, khususnya spesialis endokrinologi. Dokter ini berpengalaman menangani gangguan metabolik dan hormonal, termasuk resistensi insulin dan diabetes.

Selain itu, Anda juga bisa konsultasi dengan dokter gizi untuk membantu menyusun rencana diet yang tepat. Jika mengalami resistensi insulin yang berhubungan dengan PCOS, maka bisa konsultasi dengan dokter kandungan. 

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Anda bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan layanan konsultasi dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes (ada CGM) untuk pengelolaan diabetes yang tepat untukmu. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


2148502989-_1_-1200x1200.webp

October 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Bagi penderita diabetes, minum obat secara teratur adalah bagian penting dalam mengontrol kadar gula darah. Namun, terkadang kadar gula darah tetap tinggi meskipun sudah minum obat. Hal tersebut bisa membuat penderita diabetes kebingungan bahkan frustasi.

Faktanya, kadar gula darah yang tetap tinggi meski sudah minum obat bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pola makan, aktivitas fisik, dan kondisi tubuh. Karena itu, penting untuk memahami penyebabnya agar penderita diabetes tidak mengambil langkah yang salah, seperti menambah dosis obat tanpa arahan dokter.

Nah, untuk memahami penyebab dan bagaimana cara mengatasi kadar gula darah yang tetap tinggi setelah minum obat, simak artikel ini sampai selesai, ya!

Mengapa Gula Darah Tetap Tinggi Meski Sudah Minum Obat Diabetes? 

Gula darah tetap tinggi meski sudah minum obat bukan berarti obat tidak efektif. Kadar gula darah dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain itu, efektivitas obat diabetes juga dipengaruhi oleh kondisi tubuh dan adanya interaksi dengan obat lain. 

Berikut beberapa penyebab gula darah tetap tinggi meski sudah minum obat diabetes:

a. Pola Makan Tidak Terkontrol

Obat diabetes tidak bisa sepenuhnya menjaga gula darah dalam batas normal jika pola makan tidak dikontrol. Jika setelah minum obat diabetes penderita tetap mengonsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat dalam porsi besar, minum minuman manis, atau mengonsumsi makanan tinggi lemak, maka kadar gula darah tetap bisa melonjak.

b. Waktu Minum Obat Tidak Tepat

Obat diabetes ada banyak jenisnya. Beberapa obat diabetes harus diminum sebelum makan, ada juga yang sesudah makan. Jika waktu minum obat tidak sesuai, maka bisa memengaruhi efektivitasnya. 

c. Dosis Obat Kurang Sesuai

Kebutuhan dosis obat diabetes setiap orang berbeda, tergantung kadar gula darah, penyakit penyerta, dan kondisi masing-masing individu.

Dosis yang terlalu rendah tidak cukup untuk menurunkan kadar gula darah hingga ke batas normal. Biasanya, dokter akan menyesuaikan dosis secara bertahap berdasarkan hasil pemeriksaan gula darah rutin.

d. Resistensi Insulin Bertambah Parah

Pada penderita diabetes tipe 2, terjadi resistensi insulin. Resistensi insulin menyebabkan tubuh tidak merespon insulin dengan baik sehingga gula darah tidak bisa masuk ke dalam sel untuk diubah menjadi energi. 

Seiring waktu, resistensi insulin bisa memburuk dan bertambah parah. Akibatnya, semakin banyak gula darah yang tidak bisa masuk ke dalam sel dan ikut di dalam aliran darah. Kadar gula darah pun terus meningkat. Pada kondisi ini, obat yang sebelumnya efektif menjadi kurang ampuh karena kondisinya bertambah parah. 

e. Kurang Aktivitas Fisik

Kurang aktivitas fisik juga membuat gula darah sulit turun. Olahraga membantu sel tubuh menggunakan glukosa sebagai energi. Selain itu, olahraga juga bisa meningkatkan sensitivitas insulin. Dengan begitu, aktivitas fisik dapat membantu penurunan kadar gula darah. 

f. Stres dan Kurang Tidur

Stres dan kurang tidur juga bisa memengaruhi kadar gula darah. Ketika stres dan kurang tidur, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol. Hormon ini dapat meningkatkan kadar gula darah, bahkan ketika sudah minum obat diabetes.

g. Pengaruh Penyakit Lain atau Obat Lain

Beberapa penyakit, seperti infeksi berat, hipotiroid, cushing syndrome, dan PCOS dapat menyebabkan kenaikan kadar gula darah.

Selain itu, beberapa jenis obat, seperti kortikosteroid, obat antipsikotik, dan obat hipertensi tertentu bisa menghambat kerja obat diabetes. Karena itu, konsultasikan kepada dokter sebelum minum obat lain agar tidak mengganggu kerja obat diabetes. 

Kapan Kondisi Disebut “Sudah Minum Obat tapi Gula Darah Tetap Tinggi”?

Sebagian besar obat oral diabetes mulai bekerja sekitar satu sampai dua jam setelah diminum. Namun, efektivitas obat diabetes berbeda-beda tergantung kondisi kesehatan masing-masing, dosis obat, dan jenis obatnya.

Untuk mengetahui apakah gula darah tetap tinggi setelah minum obat, maka perlu pemeriksaan gula darah secara rutin. Anda bisa memeriksa kadar gula darah puasa atau dua jam setelah makan. Selain itu, Anda juga bisa menggunakan teknologi CGM untuk memantau kadar gula darah secara real-time.

Bandingkan gula darah sebelum pengobatan dan saat pengobatan, apakah ada perbaikan kadar gula darah atau justru bertambah naik. 

Biasanya, efek pengobatan akan terlihat setelah beberapa bulan konsumsi obat secara rutin. Perlu diingat bahwa pengobatan diabetes harus diiringi dengan gaya hidup sehat untuk hasil yang optimal

Apa yang Harus Dilakukan Jika Gula Darah Tetap Tinggi Setelah Minum Obat? 

Jika gula darah tetap tinggi setelah minum obat, jangan panik, mengganti obat, atau menambah dosis obat sendiri. Berikut langkah-langkah yang bisa Anda lakukan:

a. Evaluasi Pola Makan

Perhatikan kembali pola makan, meliputi jenis makanan, porsi, dan waktu makan. Kurangi porsi karbohidrat sederhana seperti nasi putih atau roti manis.

Gantikan dengan sumber karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang, atau oatmeal. Tambahkan makanan yang mengandung serat seperti sayur dan buah. Untuk sumber protein, pilih protein tanpa lemak.

Untuk mendapat rekomendasi diet yang lebih personal, Anda bisa konsultasi dengan ahli gizi atau dokter spesialis gizi klinik. 

b. Evaluasi Aktivitas Fisik dan Gaya hidup

Faktor lain yang memengaruhi gula darah adalah aktivitas fisik serta gaya hidup. Coba lihat kembali apakah sudah melakukan aktivitas fisik secara rutin selama pengobatan diabetes.

Selain itu, merokok dan konsumsi alkohol juga dapat memperburuk kondisi diabetes. Hindari rokok dan alkohol agar gula darah tidak semakin naik. 

Tak kalah penting, perhatikan kembali pola tidur dan tingkat stres. Perbaiki kualitas tidur dan lakukan manajemen stres agar kadar gula darah tidak melonjak. 

c. Pastikan Obat Diminum Sesuai Petunjuk Dokter

Banyak pasien yang tidak sadar minum obat tidak sesuai jadwal, misalnya lupa minum sebelum makan atau melewatkan dosis. Pastikan waktu konsumsi benar sesuai jenis obatnya. Agar tidak terlewat, kamu bisa memasang alarm atau minta bantuan orang terdekat untuk menjadi pengawas minum obat. 

d. Jangan Ubah Dosis Tanpa Konsultasi

Menambah atau mengganti dosis sendiri bisa berbahaya. Jika gula darah tidak kunjung turun, segera konsultasikan dengan dokter. Dokter mungkin akan menyesuaikan dosis, mengganti jenis obat, atau menambahkan terapi insulin jika diperlukan.

Bahaya Mengonsumsi Obat Diabetes Secara Sembarangan

Banyak orang merasa khawatir ketika gula darah tidak turun, lalu menambah dosis atau mencoba obat lain tanpa konsultasi dengan dokter. Padahal, tindakan ini bisa berakibat fatal.

Beberapa bahaya yang bisa timbul jika minum obat diabetes secara sembarangan adalah:

a. Risiko Hipoglikemia (Gula darah Terlalu Rendah)

Menambah dosis obat tanpa pengawasan bisa menyebabkan gula darah turun drastis. Gejala hipoglikemia meliputi gemetar, pusing, lemas, keringat dingin, bahkan pingsan. Kondisi ini bisa mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.

b. Gangguan Fungsi Ginjal dan Hati

Beberapa obat diabetes diproses melalui ginjal dan hati. Mengonsumsi obat dengan dosis yang tidak sesuai bisa memperberat kerja organ-organ tersebut.

c. Efek Samping dan Interaksi Obat

Setiap obat memiliki potensi interaksi dengan obat lain. Mengonsumsi sembarang obat tanpa resep dokter bisa menimbulkan efek samping dan interaksi obat yang tidak terduga.

Gula darah yang tetap tinggi meski sudah minum obat bukan berarti pengobatan gagal. Banyak faktor yang dapat memengaruhi hasil pengobatan diabetes. Konsultasikan kepada dokter jika kadar gula darah tetap tinggi meski sudah minum obat, ya!

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.