2148504662-_1_-1200x675.webp

October 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Naiknya kadar gula darah pada pasien diabetes dapat menjadi kondisi yang sering terjadi dengan berbagai sebab di antaranya, saat bangun tidur, aktivitas fisik, dan efek samping obat antidiabetes (OAD) seperti insulin dan golongan sulfonilurea. Namun, ada kondisi dimana pasien sering mengalami gangguan yang ditandai dengan terjadinya episode hiperglikemia dan hipoglikemia. Kondisi ini disebut sebagai ‘brittle diabetes’. Untuk lebih jelasnya, kita simak pembahasan berikut.

Apa Itu Brittle Diabetes?

Istilah brittle diabetes pertama kali diperkenalkan oleh Woodyatt pada tahun 1934 yang digambarkan sebagai kondisi kadar gula darah yang tidak stabil dengan rentang yang lebar. Perubahannya bisa menyebabkan kondisi hipoglikemia dan hiperglikemia yang tinggi sehingga dapat menyebabkan diabetik ketoasidosis. Kondisi ini termasuk langka, dapat berulang kali terjadi, dan membutuhkan perawatan di rumah sakit. 

Gejala Brittle Diabetes

Karena terjadinya fluktuasi dengan rentang yang lebar, pasien dapat mengalami kondisi hiperglikemia maupun hipoglikemia dengan gejala masing-masing seperti berikut:

 

Gejala HiperglikemiaGejala hipoglikemia
Sering haus dan mudah laparPucat
Sering buang air kecilRasa lapar
Lemah badanTerasa lemas dan tidak bertenaga
KesemutanPusing
Mata kaburGangguan kognitif

 

Selain itu, pada brittle diabetes dapat terjadi hiperglikemia yang tinggi dan menyebabkan  ketoasidosis diabetik dengan gejala, seperti mual dan muntah, tubuh terasa lemas, sakit kepala, sesak napas, dan lain-lain sehingga perlu penanganan segera di rumah sakit.

Penyebab Brittle Diabetes

Penyebab brittle diabetes dapat bersifat multifaktorial, termasuk kondisi psikologis atau kejiwaan pasien. Selain itu, kondisi medis lain yang menyertai penyakit diabetes dapat menyebabkan brittle diabetes. Di bawah ini adalah penyebab brittle diabetes berdasarkan efek yang ditimbulkan, dapat berupa terjadinya hiperglikemia, hipoglikemia, atau menyebabkan keduanya, yaitu:

1. Kondisi yang menyebabkan hiperglikemia/ketoasidosis

  1. Endokrinopati (gangguan hormonal), seperti yang terjadi pada Sindrom Cushing, akromegali, atau tirotoksikosis (kondisi medis karena kelebihan hormon tiroid).
  2. Infeksi sistemik

2. Kondisi yang menyebabkan hipoglikemia

  1. Diabetik gastroparesis: kondisi dimana otot-otot lambung melemah sehingga terjadi pengosongan lambung yang lambat atau berhenti sama sekali.
  2. Sindrom Lipodistrofi: kondisi medis yang ditandai dengan distribusi lemak yang abnormal.
  3. Penyakit Celiac atau gangguan malabsorbsi lain yang tidak terobati sehingga mengganggu penyerapan di usus.

3. Kondisi yang menyebabkan hiperglikemia/hipoglikemia

  1. Masalah psikologis, seperti bulimia (kelainan makan)
  2. Demensia dan kelainan kognitif lainnya
  3. Kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang
  4. Ketergantungan obat steroid

Cara Mencegah/Mengatasi Brittle Diabetes

Sesuai dengan penjelasan di atas tentang penyebab brittle diabetes dengan berbagai sebab maka pencegahan dan manajemen brittle diabetes perlu dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu pendekatan psikologis, medis, dan perubahan gaya hidup seperti yang diuraikan di bawah ini:

1. Pendekatan Psikologis

  • Mengelola stres
  • Berkonsultasi ke psikiater/psikolog, terutama yang memiliki pemahaman di bidang penyakit diabetes
  • Menawarkan konseling keluarga bagi yang membutuhkan karena pasien sangat membutuhkan dukungan dari keluarga maupun kerabat lainnya

2. Pendekatan Medis

  • Penggunaan terapi insulin
  • Melakukan pemantauan glukosa mandiri

3. Pendekatan Gaya Hidup

  • Konsumsi makanan yang mengandung diet seimbang
  • Olahraga rutin dapat menurunkan kadar gula darah dengan cara meningkatkan sensitivitas insulin dan penggunaan glukosa yang maksimal di dalam sel. Durasi olahraga yang dianjurkan adalah 150 menit per minggu.
  • Hindari konsumsi alkohol

Brittle Diabetes dengan Kondisi Lainnya 

Brittle diabetes bukanlah sebuah jenis dari diabetes, melainkan sebuah keadaan yang cukup langka terjadi pada pasien dengan diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2. 

1. Diabetes tipe 1

Dalam sebuah jurnal disebutkan bahwa Brittle Diabetes adalah kejadian yang terjadi pada pasien diabetes tipe 1 yang ditandai dengan adanya ketidakstabilan glikemik yang berat karena pasien sangat bergantung pada insulin.

2. Diabetes tipe 2

Brittle diabetes dapat juga terjadi pada diabetes tipe 2 yang menggunakan terapi insulin karena dapat meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia. 

3. Prediabetes

Prediabetes adalah kondisi dimana kadar gula darah melebihi normal, tetapi belum bisa didiagnosis sebagai diabetes. Dalam beberapa jurnal, tidak disebutkan adanya keterkaitan antara prediabetes dengan brittle diabetes karena brittle diabetes hanya terjadi pada pasien yang sudah didiagnosis diabetes tipe 1 ataupun diabetes tipe 2.

Jika Mengalami Brittle Diabetes, harus ke Dokter Apa?

Naik turun kadar gula darah adalah hal yang biasa terjadi pada pasien diabetes dengan berbagai sebab, terutama pada pasien diabetes tipe 2 yang mengonsumsi terapi insulin. Namun, kondisi brittle diabetes tidak dapat disepelekan. Oleh karena itu, pasien disarankan untuk segera berkonsultasi jika pernah mengalami episode hiperglikemia dan hipoglikemia dengan rentang kadar gula darah yang lebar atau mengalami gejala hiperglikemia/hipoglikemia yang cukup sering. Dalam menangani kasus brittle diabetes ini, pasien perlu mendapatkan terapi dari beberapa bidang kedokteran, di antaranya:

1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Kondisi brittle diabetes merupakan kondisi yang tidak umum terjadi pada pasien diabetes sehingga perlu penanganan dari dokter spesialis penyakit dalam. Pada kondisi kasus dengan penyulit lainnya atau keadaan berulang, pasien akan dirujuk ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes. 

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes 

Pada kasus brittle diagnosis yang berulang atau yang disebabkan karena adanya gangguan hormon pasien dapat berkonsultasi dengan dokter subspesialis endokrinologi, metabolik, dan diabetes karena dokter ini berfokus pada masalah hormon, metabolisme, dan diabetes.

3. Tim ahli lainnya

Dalam melakukan terapi untuk pasien diabetes, terlebih dengan kondisi khusus seperti brittle diabetes ini, diperlukan tata laksana penyakit dengan multidisiplin ilmu. Oleh karena itu, pasien perlu dirujuk atau berkonsultasi dengan dokter atau ahli di bidang lainnya, seperti:

a. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Dokter gizi klinik bisa membantu dalam mengatur pola makan dan memberikan rencana makan dengan gizi seimbang.

b. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) atau Psikolog

Salah satu penyebab terjadinya brittle diabetes adalah masalah psikologis, seperti faktor stres, depresi, gangguan makan (contoh: bulimia) sehingga dibutuhkan pendampingan untuk masalah kejiwaan/psikologis ini (dokter spesialis jiwa/psikiater atau psikolog). 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Anda bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


7767188-1200x798.webp

October 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Resistensi insulin adalah kondisi ketika tubuh tidak merespon insulin dengan normal. Kondisi ini erat kaitannya dengan penyakit diabetes tipe 2, sindrom metabolik, hingga penyakit jantung. 

Resistensi insulin tidak menimbulkan gejala yang khas, karena itu banyak orang baru mengetahui dirinya mengalami resistensi insulin setelah berkembang menjadi diabetes tipe 2 dan setelah muncul komplikasi. Lalu apa penyebab resistensi insulin dan bagaimana cara mengatasinya? Cari tahu jawabannya di artikel ini, ya! 

Apa itu Resistensi Insulin?

Resistensi insulin adalah kondisi ketika sel-sel tubuh tidak merespon insulin sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh. 

Insulin adalah hormon pencernaan yang diproduksi oleh pankreas. Insulin berfungsi untuk membantu sel tubuh menyerap glukosa dari darah untuk dijadikan energi. 

Ketika kita mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, tubuh akan memecah karbohidrat menjadi gula sederhana, yaitu glukosa. Kemudian glukosa akan masuk ke pembuluh darah sehingga kadar gula darah meningkat.

Ketika kadar gula darah meningkat, pankreas akan menghasilkan insulin. Kemudian, insulin akan bekerja dengan membawa glukosa di aliran darah agar masuk ke dalam sel-sel tubuh. Dengan begitu, kadar gula darah akan kembali turun. 

Namun, pada resistensi insulin, sel-sel tubuh tidak merespon insulin dengan baik. Akibatnya, glukosa sulit masuk ke dalam sel dan tetap berada di aliran darah. Kadar gula darah pun akan semakin meningkat. 

Ketika kadar gula darah tetap tinggi, pankreas berusaha memproduksi lebih banyak insulin untuk mengatasi hal ini. Lama-kelamaan, gula darah akan semakin menumpuk di pembuluh darah dan dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Faktor Risiko Resistensi Insulin

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami resistensi insulin, yaitu:

1. Berat Badan Berlebih dan Obesitas

Berat badan berlebih dan obesitas, terutama obesitas sentral dapat meningkatkan risiko resistensi insulin.

2. Pola Makan Tinggi Kalori dan Gula

Sering mengonsumsi makanan dan minuman manis, serta makanan tinggi lemak jenuh dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan menurunkan sensitivitas insulin.

3. Kurang Aktivitas Fisik

Olahraga terbukti dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Ketika jarang olahraga, maka otot yang jarang digunakan tidak maksimal dalam menyerap glukosa. Hal itu dapat menyebabkan kadar gula dalam darah tetap tinggi dan memicu resistensi insulin. 

4. Faktor genetik

Seseorang yang mempunyai riwayat keluarga menderita diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi mengalami resistensi insulin.

5. Pertambahan Usia

Sensitivitas insulin cenderung menurun seiring bertambahnya usia, sehingga risiko resistensi insulin meningkat.

6. Kondisi Medis Tertentu

Sindrom ovarium polikistik (PCOS), hipertensi, serta kadar kolesterol yang tidak normal (dislipidemia) sering dikaitkan dengan resistensi insulin.

Bahaya Resistensi Insulin

Resistensi insulin bukanlah kondisi yang bisa dianggap sepele. Jika dibiarkan, resistensi insulin dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti:

1. Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

Resistensi insulin membuat tubuh kesulitan menggunakan gula darah dengan efektif, sehingga kadar glukosa terus meningkat dan akhirnya berkembang menjadi diabetes tipe 2.

2. Memicu Obesitas dan Sindrom Metabolik

Resistensi insulin memicu pankreas untuk terus memproduksi insulin. Akibatnya kadar insulin semakin tinggi. Kondisi hiperinsulinemia atau kadar insulin yang tinggi akan mendorong penyimpanan lemak lebih banyak sehingga memicu obesitas dan sindrom metabolik. 

3. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Resistensi insulin dapat memicu peradangan dan gangguan pembuluh darah. Hal itu dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

4. Aterosklerosis (Penyempitan Pembuluh Darah)

Kadar gula darah tinggi dan lemak yang tidak seimbang dapat menumpuk di dinding pembuluh darah arteri. Penumpukan lemak ini dapat membentuk plak yang menyumbat aliran darah dan menyebabkan aterosklerosis.

5. Gangguan Fungsi Hati

Resistensi insulin juga memicu penyimpanan lemak di hati. Penumpukan lemak berlebih di hati bisa berkembang menjadi sirosis.

6. Masalah Kesuburan 

Pada wanita, resistensi insulin sering dikaitkan dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS) yang mengganggu siklus haid dan menurunkan kesuburan. Pada pria, resistensi insulin dapat menyebabkan gangguan ereksi. 

7. Luka Sulit Sembuh

Gula darah tinggi yang disebabkan oleh resistensi insulin dapat merusak saraf dan pembuluh darah. Akibatnya, aliran darah ke jaringan terganggu dan jika ada luka maka lebih lama sembuh.

Cara Mengecek Resistensi Insulin

Resistensi insulin tidak menimbulkan gejala yang khas. Gejala bisa muncul pada kondisi hiperglikemia atau ketika sudah menjadi diabetes tipe 2. Beberapa gejala yang bisa muncul yaitu mudah lelah, sering lapar, sering haus, sering kencing, dan muncul bercak hitam di lipatan kulit yang disebut acanthosis nigricans.

Untuk mengecek resistensi insulin, ada beberapa tes yang bisa dilakukan yaitu:

1. Hyperinsulinemic Euglycemic Clamp (HIEC)

Tes ini dianggap sebagai standar emas untuk mengukur sensitivitas insulin, namun memerlukan biaya yang tinggi. Tes ini memerlukan infus insulin dan glukosa, pemantauan glukosa darah dan laju infus glukosa atau glucose infusion rate (GIR) dalam keadaan stabil (steady-state).

2. Insulin Tolerance Test (ITT)

Tes ini mengukur seberapa cepat glukosa darah turun setelah pemberian insulin suntikan cepat (bolus). Namun, tes ini memiliki kekurangan seperti risiko hipoglikemia dan penggunaan dosis insulin yang tinggi.

3. Insulin Suppression Test (IST)

Tes ini menggunakan somatostatin untuk menekan insulin endogen dan mengukur respon glukosa darah. Lebih sederhana dibanding HIEC tapi tetap tidak mudah untuk penggunaan klinis umum. 

4. HOMA-IR (Homeostasis Model Assessment of Insulin Resistance)

Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan tidak langsung dengan menggunakan data glukosa dan insulin darah puasa, lalu dihitung menggunakan rumus: HOMA-IR = (Glukosa puasa × Insulin puasa) ÷ 22,5.

5. QUICKI (Quantitative Insulin Sensitivity Check Index)

Pemeriksaan ini juga merupakan pemeriksaan tidak langsung menggunakan indeks alternatif berbasis puasa yang juga menggabungkan data glukosa dan insulin.

6. Indeks TyG (Triglyceride-Glukosa)

Tes ini menggabungkan kadar glukosa puasa dan trigliserida. Lebih terjangkau karena tidak selalu membutuhkan pengukuran insulin.

7. Biomarker Tambahan 

Penggunaan adiponektin, leptin dan rasio antara adiponektin dan leptin sebagai biomarker yang mungkin menjadi alternatif atau pendukung dalam menilai resistensi insulin.

Pada umumnya, pemeriksaan di atas jarang digunakan di fasilitas kesehatan. Tes yang sering digunakan adalah pemeriksaan kadar gula darah yang secara tidak langsung dapat menggambarkan sensitivitas insulin. Jika kadar gula darah tinggi, maka dapat dicurigai terjadi resistensi insulin.

Cara Mencegah Resistensi Insulin

Pencegahan resistensi insulin adalah dengan pola hidup sehat. Beberapa langkah yang bisa dilakukan yaitu:

1. Menjaga Berat Badan Ideal

 Menjaga berat badan agar mencapai indeks massa tubuh yang ideal dapat mencegah resistensi insulin. Pada orang yang kelebihan berat badan atau obesitas, menurunkan 5–10% berat badan dapat meningkatkan sensitivitas insulin secara signifikan.

2. Aktif Bergerak

Olahraga rutin, seperti jalan cepat, jogging, bersepeda, atau berenang dapat membantu otot menggunakan glukosa lebih baik.

3. Mengatur Pola Makan

Perbanyak konsumsi sayur, buah, protein tanpa lemak, biji-bijian utuh, dan kurangi makanan olahan serta gula tambahan.

4. Mengurangi Stres dan Tidur cukup

Stres kronis dan kurang tidur dapat meningkatkan hormon kortisol yang berhubungan dengan resistensi insulin.

Cara Mengatasi Resistensi Insulin

Jika mengalami resistensi insulin yang berakibat pada naiknya kadar gula darah, maka perlu ditangani dengan segera agar tidak berkembang menjadi diabetes tipe 2 dan komplikasinya. Beberapa langkah pengelolaan yang bisa dilakukan yaitu:

  • Perubahan gaya hidup dengan mengatur diet, rutin berolahraga, hindari merokok, cukup tidur, dan mengelola stres. 
  • Jika diperlukan, dokter akan meresepkan obat seperti untuk membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengendalikan kadar gula darah. 
  • Pemantauan rutin dengan mengecek kadar gula darah secara berkala untuk memantau perkembangan kondisi. Anda bisa memakai CGM untuk memantau gula darah secara real-time

Jika Mengalami Resistensi Insulin, Harus ke Dokter Apa?

Jika Anda curiga mengalami  resistensi insulin, maka Anda bisa berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam, khususnya spesialis endokrinologi. Dokter ini berpengalaman menangani gangguan metabolik dan hormonal, termasuk resistensi insulin dan diabetes.

Selain itu, Anda juga bisa konsultasi dengan dokter gizi untuk membantu menyusun rencana diet yang tepat. Jika mengalami resistensi insulin yang berhubungan dengan PCOS, maka bisa konsultasi dengan dokter kandungan. 

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Anda bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan layanan konsultasi dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes (ada CGM) untuk pengelolaan diabetes yang tepat untukmu. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


2148502989-_1_-1200x1200.webp

October 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Bagi penderita diabetes, minum obat secara teratur adalah bagian penting dalam mengontrol kadar gula darah. Namun, terkadang kadar gula darah tetap tinggi meskipun sudah minum obat. Hal tersebut bisa membuat penderita diabetes kebingungan bahkan frustasi.

Faktanya, kadar gula darah yang tetap tinggi meski sudah minum obat bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pola makan, aktivitas fisik, dan kondisi tubuh. Karena itu, penting untuk memahami penyebabnya agar penderita diabetes tidak mengambil langkah yang salah, seperti menambah dosis obat tanpa arahan dokter.

Nah, untuk memahami penyebab dan bagaimana cara mengatasi kadar gula darah yang tetap tinggi setelah minum obat, simak artikel ini sampai selesai, ya!

Mengapa Gula Darah Tetap Tinggi Meski Sudah Minum Obat Diabetes? 

Gula darah tetap tinggi meski sudah minum obat bukan berarti obat tidak efektif. Kadar gula darah dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain itu, efektivitas obat diabetes juga dipengaruhi oleh kondisi tubuh dan adanya interaksi dengan obat lain. 

Berikut beberapa penyebab gula darah tetap tinggi meski sudah minum obat diabetes:

a. Pola Makan Tidak Terkontrol

Obat diabetes tidak bisa sepenuhnya menjaga gula darah dalam batas normal jika pola makan tidak dikontrol. Jika setelah minum obat diabetes penderita tetap mengonsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat dalam porsi besar, minum minuman manis, atau mengonsumsi makanan tinggi lemak, maka kadar gula darah tetap bisa melonjak.

b. Waktu Minum Obat Tidak Tepat

Obat diabetes ada banyak jenisnya. Beberapa obat diabetes harus diminum sebelum makan, ada juga yang sesudah makan. Jika waktu minum obat tidak sesuai, maka bisa memengaruhi efektivitasnya. 

c. Dosis Obat Kurang Sesuai

Kebutuhan dosis obat diabetes setiap orang berbeda, tergantung kadar gula darah, penyakit penyerta, dan kondisi masing-masing individu.

Dosis yang terlalu rendah tidak cukup untuk menurunkan kadar gula darah hingga ke batas normal. Biasanya, dokter akan menyesuaikan dosis secara bertahap berdasarkan hasil pemeriksaan gula darah rutin.

d. Resistensi Insulin Bertambah Parah

Pada penderita diabetes tipe 2, terjadi resistensi insulin. Resistensi insulin menyebabkan tubuh tidak merespon insulin dengan baik sehingga gula darah tidak bisa masuk ke dalam sel untuk diubah menjadi energi. 

Seiring waktu, resistensi insulin bisa memburuk dan bertambah parah. Akibatnya, semakin banyak gula darah yang tidak bisa masuk ke dalam sel dan ikut di dalam aliran darah. Kadar gula darah pun terus meningkat. Pada kondisi ini, obat yang sebelumnya efektif menjadi kurang ampuh karena kondisinya bertambah parah. 

e. Kurang Aktivitas Fisik

Kurang aktivitas fisik juga membuat gula darah sulit turun. Olahraga membantu sel tubuh menggunakan glukosa sebagai energi. Selain itu, olahraga juga bisa meningkatkan sensitivitas insulin. Dengan begitu, aktivitas fisik dapat membantu penurunan kadar gula darah. 

f. Stres dan Kurang Tidur

Stres dan kurang tidur juga bisa memengaruhi kadar gula darah. Ketika stres dan kurang tidur, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol. Hormon ini dapat meningkatkan kadar gula darah, bahkan ketika sudah minum obat diabetes.

g. Pengaruh Penyakit Lain atau Obat Lain

Beberapa penyakit, seperti infeksi berat, hipotiroid, cushing syndrome, dan PCOS dapat menyebabkan kenaikan kadar gula darah.

Selain itu, beberapa jenis obat, seperti kortikosteroid, obat antipsikotik, dan obat hipertensi tertentu bisa menghambat kerja obat diabetes. Karena itu, konsultasikan kepada dokter sebelum minum obat lain agar tidak mengganggu kerja obat diabetes. 

Kapan Kondisi Disebut “Sudah Minum Obat tapi Gula Darah Tetap Tinggi”?

Sebagian besar obat oral diabetes mulai bekerja sekitar satu sampai dua jam setelah diminum. Namun, efektivitas obat diabetes berbeda-beda tergantung kondisi kesehatan masing-masing, dosis obat, dan jenis obatnya.

Untuk mengetahui apakah gula darah tetap tinggi setelah minum obat, maka perlu pemeriksaan gula darah secara rutin. Anda bisa memeriksa kadar gula darah puasa atau dua jam setelah makan. Selain itu, Anda juga bisa menggunakan teknologi CGM untuk memantau kadar gula darah secara real-time.

Bandingkan gula darah sebelum pengobatan dan saat pengobatan, apakah ada perbaikan kadar gula darah atau justru bertambah naik. 

Biasanya, efek pengobatan akan terlihat setelah beberapa bulan konsumsi obat secara rutin. Perlu diingat bahwa pengobatan diabetes harus diiringi dengan gaya hidup sehat untuk hasil yang optimal

Apa yang Harus Dilakukan Jika Gula Darah Tetap Tinggi Setelah Minum Obat? 

Jika gula darah tetap tinggi setelah minum obat, jangan panik, mengganti obat, atau menambah dosis obat sendiri. Berikut langkah-langkah yang bisa Anda lakukan:

a. Evaluasi Pola Makan

Perhatikan kembali pola makan, meliputi jenis makanan, porsi, dan waktu makan. Kurangi porsi karbohidrat sederhana seperti nasi putih atau roti manis.

Gantikan dengan sumber karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang, atau oatmeal. Tambahkan makanan yang mengandung serat seperti sayur dan buah. Untuk sumber protein, pilih protein tanpa lemak.

Untuk mendapat rekomendasi diet yang lebih personal, Anda bisa konsultasi dengan ahli gizi atau dokter spesialis gizi klinik. 

b. Evaluasi Aktivitas Fisik dan Gaya hidup

Faktor lain yang memengaruhi gula darah adalah aktivitas fisik serta gaya hidup. Coba lihat kembali apakah sudah melakukan aktivitas fisik secara rutin selama pengobatan diabetes.

Selain itu, merokok dan konsumsi alkohol juga dapat memperburuk kondisi diabetes. Hindari rokok dan alkohol agar gula darah tidak semakin naik. 

Tak kalah penting, perhatikan kembali pola tidur dan tingkat stres. Perbaiki kualitas tidur dan lakukan manajemen stres agar kadar gula darah tidak melonjak. 

c. Pastikan Obat Diminum Sesuai Petunjuk Dokter

Banyak pasien yang tidak sadar minum obat tidak sesuai jadwal, misalnya lupa minum sebelum makan atau melewatkan dosis. Pastikan waktu konsumsi benar sesuai jenis obatnya. Agar tidak terlewat, kamu bisa memasang alarm atau minta bantuan orang terdekat untuk menjadi pengawas minum obat. 

d. Jangan Ubah Dosis Tanpa Konsultasi

Menambah atau mengganti dosis sendiri bisa berbahaya. Jika gula darah tidak kunjung turun, segera konsultasikan dengan dokter. Dokter mungkin akan menyesuaikan dosis, mengganti jenis obat, atau menambahkan terapi insulin jika diperlukan.

Bahaya Mengonsumsi Obat Diabetes Secara Sembarangan

Banyak orang merasa khawatir ketika gula darah tidak turun, lalu menambah dosis atau mencoba obat lain tanpa konsultasi dengan dokter. Padahal, tindakan ini bisa berakibat fatal.

Beberapa bahaya yang bisa timbul jika minum obat diabetes secara sembarangan adalah:

a. Risiko Hipoglikemia (Gula darah Terlalu Rendah)

Menambah dosis obat tanpa pengawasan bisa menyebabkan gula darah turun drastis. Gejala hipoglikemia meliputi gemetar, pusing, lemas, keringat dingin, bahkan pingsan. Kondisi ini bisa mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.

b. Gangguan Fungsi Ginjal dan Hati

Beberapa obat diabetes diproses melalui ginjal dan hati. Mengonsumsi obat dengan dosis yang tidak sesuai bisa memperberat kerja organ-organ tersebut.

c. Efek Samping dan Interaksi Obat

Setiap obat memiliki potensi interaksi dengan obat lain. Mengonsumsi sembarang obat tanpa resep dokter bisa menimbulkan efek samping dan interaksi obat yang tidak terduga.

Gula darah yang tetap tinggi meski sudah minum obat bukan berarti pengobatan gagal. Banyak faktor yang dapat memengaruhi hasil pengobatan diabetes. Konsultasikan kepada dokter jika kadar gula darah tetap tinggi meski sudah minum obat, ya!

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


14817949-_2_-1200x800.webp

October 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Masyarakat seringkali mengaitkan kondisi kadar gula darah meningkat (hiperglikemia) dengan penyakit diabetes. Hal ini tidak sepenuhnya salah karena diabetes dapat didiagnosis ketika didapatkan kadar gula darah meningkat. 

Namun, tidak semua kondisi hiperglikemia dapat dikatakan diabetes. Untuk dapat mendiagnosis diabetes, ada beberapa pemeriksaan gula darah yang harus dilakukan dan dari hasil pemeriksaan tersebut dokter akan menganalisis diagnosisnya berdasarkan kriteria dalam pedoman penyakit. Agar tahu lebih jelas apa perbedaan hiperglikemia dan diabetes, mari kita simak jawabannya.

Perbedaan Hiperglikemia dan Diabetes

Hiperglikemia adalah kondisi dimana kadar gula dalam darah meningkat yang dapat berkembang menjadi beberapa penyakit. Sementara itu, diabetes adalah penyakit metabolik kronis yang dikarakteristikkan dengan adanya peningkatan kadar gula darah yang dapat disebabkan karena beberapa sebab di antaranya, kurangnya produksi insulin, terjadinya resistensi insulin, kegagalan usus dalam menyerap senyawa gula, atau kegagalan hati dalam memecah glikogen (gula otot), atau sebab lainnya.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pasien yang mengalami diabetes memiliki riwayat hiperglikemia sebelumnya, sedangkan tidak semua hiperglikemia dapat dikatakan diabetes. Kondisi hiperglikemia yang belum masuk ke dalam kategori diabetes dapat juga diklasifikasikan sebagai kondisi prediabetes. Lantas, apakah pasien diabetes tidak lagi mengalami hiperglikemia? Ya, bisa saja jika diabetesnya terkontrol karena sudah diterapi dengan baik.

Diabetes juga dapat ditandai dengan beberapa gejala klasik, seperti mudah lapar, mudah haus, sering buang air kecil (BAK), dan penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya. Selain gejala klasik, dapat juga ditemukan gejala lainnya, seperti lemah badan, kesemutan, pandangan kabur, disfungsi ereksi pada pria, dan gatal pada kemaluan wanita. 

Di samping adanya gejala yang menunjukkan penyakit diabetes, untuk dapat menegakkan diagnosis diabetes dibutuhkan pemeriksaan kadar gula darah dan HbA1c yang dilakukan di laboratorium. Berikut nilai kadar gula darah dan HbA1c untuk menegakkan diagnosis diabetes dan prediabetes.

 

HbA1c (%)Glukosa darah puasa (mg/dL)Glukosa plasma 2 jam setelah makan (mg/dL)
Normal< 5,7709970139
Prediabetes5,76,4 100125140199
Diabetes≥6,5≥126≥200

 

Jika Terjadi Hiperglikemia dan Gejala Diabetes Perlu ke Dokter Apa Saja?

Pasien yang mengalami gejala khas diabetes yang sudah disebutkan di atas atau sudah melakukan pemeriksaan kadar gula darah dan didapatkan hasil berupa hiperglikemia, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat. Dokter yang dapat menangani pasien dengan hiperglikemia dan diabetes adalah:

1. Dokter Umum 

Peran dokter umum dalam penanganan penyakit diabetes sangat penting karena kasus diabetes sederhana tanpa komplikasi dapat dikelola oleh dokter umum di fasilitas kesehatan primer. 

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Pasien juga dapat langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam jika dirasa memiliki gejala diabetes atau mengalami hiperglikemia. Selain itu, jika sebelumnya pasien ditangani oleh dokter umum, pasien perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan yang akan diperiksa oleh dokter spesialis penyakit dalam untuk dilakukan skrining awal dan pemeriksaan lebih lengkap. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi adanya komplikasi. 

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrin Metabolisme Diabetes

Jika pasien telah mendapatkan pelayanan dokter spesialis penyakit dalam dan ditemukan salah satu dari beberapa komplikasi, seperti berikut:

  • adanya komplikasi akut berupa ketoasidosis atau hyperglycemic/hyperosmolar state (HHS),
  • tidak adanya penurunan hasil pemeriksaan laboratorium pada diabetes dalam tiga bulan; 
  • tidak tercapainya target dalam terapi antidiabetes (AOD) tunggal dan kombinasi selama tiga bulan, dan lain sebagainya,

maka pasien perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi untuk mendapatkan pelayanan dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes.

Selain itu, jika dibutuhkan intervensi lain seperti intervensi nutrisi atau didapatkan adanya komplikasi, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis lainnya, seperti:

a. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Seringkali pasien diabetes memiliki berat badan kategori overweight atau obese sehingga dibutuhkan intervensi nutrisi untuk program penurunan berat badan dan pengaturan pola makan sebagai bagian dari terapi pada diabetes. Dokter gizi klinik bisa membantu Anda dalam hal ini.

b. Dokter Spesialis Neurologi

Salah satu komplikasi yang cukup sering terjadi pada pasien diabetes adalah neuropati (gangguan saraf) yang dapat menimbulkan gejala nyeri, kesemutan, baal, dan lain-lain. Jadi, jika Anda mengalami gangguan ini, bisa ke dokter saraf.

c. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Komplikasi lainnya pada diabetes dapat menyerang organ jantung. Jika didapatkan penyulit pada organ jantung yang tidak dapat ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam, maka pasien akan dirujuk ke dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.

d. Dokter Spesialis Mata

Pada pasien diabetes perlu dilakukan evaluasi komprehensif, salah satunya dengan merujuk pasien ke dokter spesialis mata untuk mendeteksi adanya komplikasi retinopati diabetik yang menyerang retina mata dan dapat menyebabkan kebutaan. Gejala retinopati diabetik di antaranya adalah pandangan kabur, floaters (gambaran/bayangan titik-titik kecil yang mengambang pada lapang pandang), dan kehilangan ketajaman visual secara progresif. 

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


197-_1_-1200x800.webp

October 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diabetes adalah salah satu penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan secara menyeluruh. Manajemen diabetes tidak hanya dengan obat-obatan tetapi juga membutuhkan perubahan pola hidup yang konsisten seumur hidup. 

Penderita diabetes harus mengatur pola makan sehat, rutin berolahraga, memantau kadar gula darah, serta menjaga kepatuhan terhadap minum obat atau penggunaan insulin. Semua hal ini bisa menjadi tantangan besar, apalagi jika penderita merasa lelah, jenuh, atau kehilangan motivasi.

Karena itu, adanya caregiver menjadi sangat penting. Caregiver diabetes adalah orang yang mendampingi, merawat, dan memberikan dukungan kepada penderita diabetes, baik secara fisik maupun emosional. Apa saja peran caregiver bagi penderita diabetes dan bagaimana caranya? Simak di artikel ini, ya! 

Apa Itu Caregiver untuk Penderita Diabetes? 

Caregiver adalah seseorang yang memberikan bantuan atau perawatan kepada orang lain yang memiliki keterbatasan dalam mengurus dirinya, misalnya lansia, penyandang disabilitas, dan orang yang mempunyai kondisi medis tertentu.

Caregiver bisa berasal dari tenaga profesional seperti perawat atau seseorang yang terlatih, juga bisa dari orang-orang terdekat seperti pasangan, anak, orang tua, saudara, atau sahabat.

Caregiver bagi penderita diabetes berarti seseorang yang berperan mendampingi, merawat dan memberikan bantuan bagi penderita diabetes. Bantuan yang diberikan meliputi mendampingi pemeriksaan, menjadi pengingat minum obat, menemani aktivitas fisik, serta membantu menjaga pola makan sehat bagi penderita diabetes. 

Pentingnya Caregiver bagi Penderita Diabetes

Mengelola diabetes tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, melainkan merupakan proses seumur hidup. Karena itu, kehadiran caregiver sangat krusial. Beberapa peran penting caregiver antara lain:

1. Meningkatkan Kepatuhan terhadap Pengobatan

Caregiver berperan sebagai pengingat dan pengawas minum obat. Penderita diabetes yang mendapatkan obat-obatan, baik obat yang diminum maupun suntikan insulin, harus minum obat dan menyuntikkan insulin sesuai dengan dosis dan jadwal yang ditentukan oleh dokter.

Jadwal minum obat yang ketat mungkin saja membuat penderita diabetes lupa atau terlewat. Caregiver berperan untuk memastikan penderita diabetes tidak melewatkan jadwal konsumsi obatnya.

2. Membantu Mengatur Pola Makan

Penderita diabetes harus selektif dalam memilih makanan agar kadar gula darahnya stabil dan tidak melonjak. Caregiver bisa membantu menyiapkan menu sehat dan memberikan dukungan saat penderita diabetes kesulitan atau menolak makanan yang tidak sesuai.

3. Memberikan Dukungan Emosional

Diabetes adalah penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan yang konsisten. Selain masalah fisik, penderita diabetes juga rentan mengalami depresi, rasa putus asa, atau kelelahan mental. Di sini caregiver hadir sebagai penyemangat, teman berbagi, dan pendengar yang baik agar penderita diabetes tetap termotivasi menjalani pola hidup sehat dan pengobatan. 

4. Meningkatkan Kualitas Hidup Penderita

Dengan adanya caregiver, penderita diabetes bisa merasa lebih aman, terjaga, dan didukung. Selain itu, dengan terjaganya pola hidup dan pengobatan, maka kualitas hidup penderita diabetes juga akan meningkat. 

Tips Menjadi Caregiver yang Baik bagi Penderita Diabetes

Menjadi caregiver adalah tanggung jawab yang besar. Tidak jarang caregiver juga menghadapi tekanan fisik maupun emosional karena harus selalu siap mendampingi penderita diabetes. Agar peran ini bisa dijalankan dengan baik, berikut beberapa tips yang bisa dicoba:

1. Pelajari Tentang Diabetes

Caregiver sebaiknya memahami tentang kondisi orang yang didampinginya. Bagi caregiver penderita diabetes, maka harus paham tentang diabetes agar semakin mudah memberikan dukungan yang tepat. 

Caregiver diabetes sebaiknya memahami tentang gejala hipoglikemia (gula darah rendah), hiperglikemia (gula darah tinggi), cara mengatasinya serta kapan harus segera dibawa ke dokter. Selain itu, sebaiknya juga paham tentang rekomendasi pola makan, olahraga, serta jadwal minum obat yang diresepkan oleh dokter. 

2. Komunikasi yang Baik

Komunikasi adalah salah satu kunci dalam membangun suatu hubungan, termasuk ketika menjadi caregiver. Cobalah untuk mendengarkan keluhan penderita tanpa menghakimi. Tanyakan kebutuhan mereka dan berikan motivasi secara positif. 

3. Terapkan Gaya Hidup Sehat

Penderita diabetes dianjurkan untuk mengubah pola hidup menjadi pola hidup sehat. Caregiver dapat mendampingi penderita untuk rutin berolahraga dan memilih makanan sehat. Oleh karena itu, lebih baik lagi jika caregiver ikut melakukan pola hidup sehat tersebut agar penderita tidak merasa sendirian.

4. Tingkatkan Kesabaran dan Empati

Penderita diabetes bisa saja mengalami perubahan mood, emosi, atau stres karena penyakitnya atau hal lain. Caregiver perlu memahami hal ini dan memberikan respon dengan sabar serta penuh empati.

5. Jaga Kesehatan Diri Sendiri

Terlalu fokus pada penderita kadang membuat caregiver melupakan kebutuhan dirinya sendiri. Padahal, caregiver yang sehat secara fisik dan mental akan lebih mampu memberikan dukungan yang optimal.

6. Libatkan Tenaga Profesional

Jika kondisi penderita diabetes semakin kompleks dan tidak bisa ditangani sendiri, jangan ragu untuk meminta bantuan dokter atau tenaga kesehatan untuk mendampingi. Hal ini akan meringankan beban caregiver sekaligus memberi perawatan yang lebih menyeluruh.

Menjadi caregiver memang bukan tugas yang mudah. Namun, dengan pendampingan yang tepat, penderita diabetes bisa menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul. Jadi, Anda sebagai caregiver bisa lebih membantu penderita diabetes dengan teknologi ini.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


1249-1-1200x800.webp

October 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Ketupat adalah makanan khas yang identik dengan momen perayaan, terutama Lebaran. Dibuat dari beras putih yang dimasak dalam anyaman janur, ketupat menjadi pelengkap berbagai hidangan seperti opor ayam atau rendang. Atau bisa juga menjadi sumber energi utama dalam menu lontong sayur Namun, bagi penderita diabetes, ketupat sering menimbulkan keraguan karena berbahan dasar beras putih yang dikenal cepat meningkatkan kadar gula darah.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Ketupat?

Jawabannya: boleh, tetapi harus dengan pengaturan yang tepat.

Ketupat tetap bisa dinikmati oleh penderita diabetes selama porsinya dikontrol dan dikombinasikan dengan lauk yang seimbang. Kuncinya bukan menghindari sepenuhnya, melainkan memahami seberapa banyak dan dengan apa makanan itu dikonsumsi.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Ketupat

Dari sisi gizi, ketupat mengandung karbohidrat, sedikit protein, dan hampir tidak memiliki serat maupun lemak. Karena dibuat tanpa tambahan minyak atau bahan lain, kalorinya tergolong rendah. Namun, efeknya terhadap gula darah tetap perlu diperhatikan.

Indeks glikemik (IG) beras putih sebagai bahan utama ketupat berada di angka 70, termasuk kategori tinggi. Oleh karena itu, jika dikonsumsi berlebihan, kadar gula darah dapat meningkat dengan cepat.

Cara Makan Ketupat yang Aman untuk Penderita Diabetes 

Menikmati ketupat tetap bisa menjadi bagian dari perayaan, asalkan cara makannya diatur dengan bijak. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:

1. Batasi Porsi

Cukup konsumsi ½–1 potong kecil ketupat setiap kali makan. Batasi agar total karbohidrat tidak melebihi kebutuhan harian.

2. Kombinasikan dengan Lauk Berprotein

Lauk seperti ayam tanpa kulit, tahu, tempe, atau telur rebus dapat membantu memperlambat penyerapan glukosa sehingga gula darah lebih stabil.

3. Tambahkan Sayuran Berserat

Tambahkan sayur berserat seperti sayur labu atau sayur kacang panjang untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.

4. Batasi Kuah Santan Kental

Pilih kuah yang lebih encer dan tidak terlalu berminyak. Santan yang terlalu pekat bisa meningkatkan kalori serta kadar lemak jenuh, sehingga berisiko mengganggu kestabilan gula darah dan kesehatan jantung.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Jika setelah makan ketupat kadar gula darah terasa meningkat, tubuh cepat lelah, sering haus, atau jantung berdebar, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam. Konsultasi juga dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik untuk menyesuaikan pola makan agar tetap aman dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


21729-_1_-1200x800.webp

October 16, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Gangguan tidur dapat menjadi faktor risiko terjadinya diabetes melitus tipe 2. Hal ini tentu menjadi catatan bagi orang yang sehat untuk tidur normal agar terhindar dari kondisi kesehatan yang buruk. Sementara itu, pada penderita diabetes, merujuk dengan banyaknya penelitian, begadang menjadi hal yang sebaiknya dihindari karena durasi tidur yang pendek menambah risiko terjadinya komplikasi atau perburukan kondisi diabetesnya.

Apakah Penderita Diabetes Boleh Begadang?

Tidak, penderita diabetes dianjurkan untuk tidur cukup dengan durasi 7-8 jam per malam.. Pada orang sehat, begadang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit, salah satunya diabetes sehingga pada orang yang sudah didiagnosis diabetes sangat perlu menjaga gaya hidup sehat, termasuk tidur cukup dan tidak terlalu larut. Hal ini karena begadang memiliki dampak yang tidak baik bagi kesehatan, baik bagi orang yang sehat maupun bagi penderita diabetes. 

Penyebab Penderita Diabetes Begadang 

Penyebab penderita diabetes begadang dapat memiliki hubungan dua arah. Gangguan tidur yang menyebabkan berkurangnya jumlah jam tidur dapat meningkatkan risiko terjadinya perburukan pada perkembangan penyakitnya. Di sisi lain, kondisi diabetes juga dapat mengganggu kondisi saat tidur, misal pada pasien diabetes yang mengalami sumbatan jalan napas pada saat tidur atau mengalami nokturia (buang air kecil di malam hari). Berikut beberapa penyebab penderita diabetes begadang:

1. Gangguan tidur 

Penyakit diabetes seringkali dikaitkan dengan angka kejadian gangguan tidur yang tinggi, meliputi:

a. Insomnia

Insomnia dikarakteristikkan dengan sulitnya memulai dan mempertahankan tidur meskipun memiliki kesempatan yang cukup untuk tidur. Kondisi insomnia juga dikaitkan dengan kondisi kesehatan yang kurang baik, seperti angka HbA1c  (gambaran rata-rata kadar gula darah dalam tiga bulan terakhir) dan gula darah puasa (GDP) yang tinggi.

b. Obstructive Sleep Apnea (OSA)

OSA berkaitan dengan kejadian adanya hambatan bernapas saat tidur yang dapat dikarakteristikkan dengan mendengkur dan tidur tidak nyenyak. Kejadian OSA juga lebih umum terjadi pada orang yang menderita diabetes tipe 2. 

c. Restless Leg Syndrome (RLS)

Gangguan tidur yang disertai adanya pergerakan sebagai respons rasa tidak nyaman pada kaki selama tidur atau keadaan tidak aktif sehingga mengganggu tidur. 

2. Nokturia (buang air kecil di malam hari) dan nyeri saraf 

Kedua hal ini (BAK dan nyeri saraf) dapat menyebabkan penderita diabetes dapat terbangun beberapa kali dalam satu periode tidur. Hal ini tentu akan membuat tidur pasien terganggu, baik secara kualitas maupun kuantitas tidur.

3. Gaya hidup tidak sehat

a. Pekerjaan

Menyelesaikan pekerjaan hingga larut atau kerja shift tentu akan mengakibatkan orang begadang dan tidur dengan durasi yang lebih pendek. 

b. Hiburan

Salah satu kebiasaan yang kurang baik dan mengganggu aktivitas tidur adalah menonton televisi atau menggunakan gadget sebelum tidur. 

Dampak/Bahaya Begadang pada Penderita Diabetes

Jika bagi orang sehat saja begadang memiliki dampak negatif bagi kesehatan, begadang tentunya juga memiliki dampak atau bahaya bagi penderita diabetes, di antaranya: 

1. Gangguan kontrol glikemik

a. Peningkatan kadar HbA1c

Orang yang memiliki kebiasaan tidur dengan durasi yang pendek (<4,5 sampai 6 jam per malam) memiliki kadar HbA1c yang lebih tinggi dibandingkan orang dengan tidur yang normal.

b. Penurunan sensitivitas insulin

Durasi tidur yang sedikit menyebabkan penurunan respons sel β (yang memproduksi insulin) terhadap gula dan mengurangi sensitivitas insulin sehingga nantinya menyebabkan hiperglikemia. 

c. Perubahan hormon metabolik

Kurangnya durasi tidur berkaitan dengan beberapa perubahan hormonal yang dapat berdampak pada resistensi dan pengeluaran insulin, termasuk pengeluaran hormon pertumbuhan pada malam hari. 

2. Meningkatkan risiko komplikasi pada diabetes

Adanya gangguan tidur seperti OSA pada diabetes, dapat meningkatkan angka kejadian gagal jantung dan penyakit arteri koroner. 

3. Menurunkan kualitas hidup

Gangguan tidur yang terjadi pada pasien diabetes menyebabkan tidak tercukupinya kualitas tidur dan  kuantitas waktu tidur yang mengakibatkan penurunan kualitas hidup pada siang hari.

Tips Menghindari Begadang Bagi Penderita Diabetes

Mengetahui dampak begadang yang tidak baik bagi kesehatan, penderita diabetes harus mengubah pola tidurnya agar lebih berkualitas dan menghindari efek jangka panjang yang lebih buruk. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan agar tidur lebih berkualitas, yaitu:

1. Menerapkan sleep hygiene

Sleep hygiene adalah rangkaian tidur yang dapat dilakukan agar tidur lebih berkualitas yang meliputi:

  1. perubahan dalam lingkungan ketika tidur, 
  2. konsisten pada jam tidur dan bangun tidur, 
  3. menghindari kebiasaan yang dapat mengganggu tidur, seperti menonton televisi di kasur dan membuka gadget saat menjelang tidur,
  4. Hindari minuman yang mengandung kafein 4-6 jam sebelum tidur

2. Menurunkan Berat Badan

Penurunan berat badan dapat mengurangi angka kejadian OSA pada pasien diabetes tipe 2.

Kemana Penderita Diabetes Berkonsultasi Jika Mengalami Gangguan Tidur?

Jika kondisi gangguan tidur tidak juga membaik, padahal pasien sudah melakukan beberapa usaha agar tidur lebih cepat dan berkualitas, maka pasien disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter berikut:

1. Dokter Umum

Sebagai langkah awal, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter umum di fasilitas layanan primer. Jika dibutuhkan, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter yang menangani pasien diabetes dewasa. Penderita diabetes dapat berkonsultasi terkait keluhannya. Jika ditemukan komplikasi lain seperti adanya neuropati (kelainan saraf) atau gangguan tidur yang sulit diatasi oleh pasien, dokter dapat merujuk ke dokter spesialis yang berkaitan dengan komplikasinya.

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrin, Metabolik, Dan Diabetes

Karena masalah gangguan tidur ini berkaitan dengan hormon metabolisme, penderita diabetes dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam subspesialis endokrin, metabolik, dan diabetes.

4. Dokter Spesialis Neurologi (Saraf)

Pasien yang mengalami gangguan tidur seperti insomnia dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi untuk dievaluasi adanya kelainan pada saraf.

5. Dokter Spesialis Paru 

Jika pasien didapati mengalami OSA, pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis paru untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


2150775194-_1_-1200x800.webp

October 15, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diabetes adalah salah satu penyakit kronis yang jumlah penderitanya semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Lansia termasuk kelompok dengan risiko tinggi terkena diabetes. Proses penuaan menyebabkan tubuh mengalami berbagai perubahan, termasuk pada metabolisme gula darah.

Lansia yang menderita diabetes lebih berisiko mengalami berbagai komplikasi seperti gangguan jantung, gangguan ginjal, kerusakan saraf, dan gangguan kognitif. Kondisi ini membuat pengelolaan diabetes pada lansia perlu perhatian khusus. 

Karena itu, kita perlu memahami diabetes pada lansia, gejalanya, cara mencegah dan cara menanganinya. Simak di artikel ini, ya! 

Apa itu Diabetes pada Lansia?

Diabetes pada lansia adalah kondisi meningkatnya kadar gula darah, yaitu lebih dari 125 mg/dL saat puasa dan lebih dari 199 mg/dL pada dua jam setelah makan, yang terjadi pada orang berusia lanjut, yaitu di atas 60 tahun. Diabetes pada lansia biasanya adalah diabetes tipe 2. 

Pada usia lanjut, proses metabolisme tubuh melambat, massa otot berkurang, dan terjadi perubahan hormon yang menyebabkan kemampuan tubuh mengatur kadar gula darah menurun.

Selain itu, gaya hidup kurang aktif atau sedentary lifestyle, pola makan tinggi kalori, serta adanya penyakit penyerta seperti hipertensi dan dislipidemia dapat memperburuk kondisi ini. 

Perbedaan Diabetes Lansia dengan Diabetes di Usia Muda

Meskipun diabetes dapat menyerang semua kelompok umur, terdapat beberapa perbedaan penting antara diabetes pada lansia dan usia lebih muda:

1. Gejala Klasik Sering Tidak Muncul

Pada orang muda, gejala khas diabetes seperti sering buang air kecil (poliuria), sering merasa haus (polidipsia), mudah lapar (polifagia), dan penurunan berat badan sering terjadi. 

Namun, pada lansia gejala tersebut tidak selalu ada. Hal ini disebabkan oleh peningkatan ambang ginjal terhadap glukosa dan menurunnya mekanisme rasa haus, sehingga tubuh tidak bereaksi dengan cara yang sama seperti pada orang muda.

Karena gejala khas tidak muncul, banyak lansia baru didiagnosis diabetes setelah mengalami komplikasi seperti neuropati (kesemutan), nefropati (kerusakan ginjal), dan penyakit jantung. 

2. Metabolisme Tubuh

Lansia mengalami penurunan massa otot, penurunan fungsi pankreas, peningkatan resistensi insulin, dan perubahan hormon yang membuat kontrol gula darah lebih sulit.

3. Risiko Komplikasi Lebih Tinggi

Lansia lebih rentan terhadap komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, kerusakan saraf, dan gangguan penglihatan. Kondisi seperti kelemahan tubuh dan penurunan fungsi kognitif juga lebih sering terjadi pada penderita diabetes lanjut usia. 

4. Pengobatan Harus Lebih Hati-hati

Pada pasien muda, target kontrol glikemik bisa lebih ketat, misalnya target HbA1c < 6,5%. Sedangkan pada lansia, target kontrol glikemik bisa lebih longgar menyesuaikan kondisi masing-masing individu untuk menghindari risiko hipoglikemia.

Gejala Diabetes pada Lansia

Gejala diabetes pada lansia seringkali sulit dikenali karena menyerupai tanda penuaan atau penyakit lain. Diabetes pada lansia sering tidak memiliki gejala yang khas. 

Ambang ginjal terhadap glukosa meningkat seiring bertambahnya usia dan mekanisme rasa haus pada lansia menurun, maka gejala khas diabetes, seperti sering buang air kecil dan sering merasa haus, biasanya tidak tampak atau tidak jelas pada orang lanjut usia.

Akibatnya, diagnosis diabetes baru diketahui ketika muncul  komplikasi seperti neuropati (kerusakan saraf), nefropati (kerusakan ginjal), penyakit jantung dan pembuluh darah, serta infeksi saluran kemih atau infeksi kulit yang berulang.

Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk menjaga kualitas hidup dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Walau begitu, beberapa gejala berikut patut diwaspadai jika terjadi:

  • Sering merasa haus dan lapar berlebihan.
  • Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Luka yang lama sembuh.
  • Pandangan kabur.
  • Mudah lelah dan lemas.
  • Gangguan memori atau kebingungan (kadang salah dikira sebagai demensia).

Jika muncul beberapa gejala di atas, segera konsultasikan ke dokter karena bisa menjadi gejala diabetes.

Bahaya Diabetes pada Lansia

Diabetes pada lansia dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius jika tidak dikelola dengan baik, di antaranya:

  • Penyakit jantung dan stroke karena risiko penyakit kardiovaskular meningkat akibat gula darah yang tinggi.
  • Gangguan ginjal (nefropati).
  • Gangguan penglihatan (retinopati) yang dapat menyebabkan kebutaan bila tidak diobati.
  • Neuropati, yaitu kerusakan saraf yang memicu kesemutan, nyeri, atau mati rasa di kaki.
  • Luka yang sulit sembuh bisa berkembang menjadi ulkus diabetik dan infeksi berulang.

Cara Mencegah Diabetes pada Lansia

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah diabetes pada lansia antara lain:

1. Menjaga Pola Makan Sehat

Kurangi konsumsi makanan manis, makanan berlemak jenuh, serta memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung serat dari sayur dan buah.

2. Aktivitas Fisik

Untuk lansia, bisa melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki dan senam lansia.

3. Mengontrol Berat Badan

Usahakan untuk menjaga berat badan agar tidak terjadi obesitas yang menjadi salah satu faktor risiko utama diabetes.

4. Menghindari Rokok dan Alkohol

Rokok dan alkohol dapat meningkatkan risiko resistensi insulin dan komplikasi diabetes.

5. Rutin Cek Kesehatan

Pemeriksaan gula darah berkala membantu deteksi dini jika ada tanda-tanda peningkatan kadar gula.

Cara Mengatasi Diabetes pada Lansia

Jika sudah didiagnosis diabetes oleh dokter, maka manajemen diabetes yang tepat sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:

  • Mengatur pola makan dengan disiplin, konsultasikan ke ahli gizi untuk menentukan jadwal makan dan rekomendasi menu makan yang sesuai.
  • Aktivitas fisik teratur agar sensitivitas insulin meningkat.
  • Minum obat sesuai anjuran dokter, jangan menghentikan atau menambah dosis tanpa pengawasan.
  • Pemantauan gula darah secara teratur bisa menggunakan alat cek gula darah stik atau CGM
  • Perawatan jika terjadi luka karena luka kecil bisa berkembang menjadi infeksi serius.
  • Dukungan keluarga karena lansia dengan diabetes membutuhkan perhatian dan bantuan keluarga untuk menjaga konsistensi pengobatan.

Diabetes pada Lansia, Kapan Harus ke Dokter?

Lansia yang mengalami diabetes harus segera ke dokter jika mengalami beberapa kondisi berikut:

  • Gula darah sering tidak terkontrol, yaitu berada di atas 200 mg/dL atau di bawah 70 mg/dL.
  • Mengalami kebingungan mendadak, sulit berbicara, atau kehilangan kesadaran.
  • Luka yang tidak kunjung sembuh, bernanah, atau membengkak.
  • Muncul tanda komplikasi, misalnya nyeri dada, sesak napas, atau pandangan mendadak kabur.
  • Muncul gejala hipoglikemia seperti keringat dingin, gemetar, lemas, dan pusing yang sering berulang.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2746916-1-1200x800.webp

October 15, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Bubur ayam sering jadi menu andalan banyak orang di pagi hari. Rasanya gurih, hangat, dan mudah dicerna, membuatnya tampak seperti pilihan sarapan yang sehat. Namun, bagi penderita diabetes, menu sederhana ini justru bisa jadi dilema. 

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Bubur Ayam?

Penderita diabetes tetap boleh makan bubur ayam, tetapi porsinya harus dibatasi dan tidak disarankan sebagai makanan utama sehari-hari. Kandungan air dalam bubur memang tinggi, sehingga jumlah nasi yang digunakan sebenarnya tidak banyak. Namun, struktur karbohidratnya yang sudah pecah membuat gula dari bubur lebih cepat masuk ke aliran darah dibandingkan nasi utuh.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Bubur Ayam

Nasi putih sebagai bahan utama bubur memiliki indeks glikemik (IG) sekitar 70, tergolong tinggi.

Satu mangkuk bubur ayam mengandung cukup banyak karbohidrat, sedikit protein, dan hampir tidak memiliki serat, sehingga mudah diserap tubuh.

Topping seperti kerupuk, kecap manis, dan cakwe goreng bisa menambah kalori serta karbohidrat sederhana, yang akhirnya meningkatkan beban glikemik total hidangan dan membuat gula darah lebih cepat naik.

Cara Makan Bubur Ayam yang Aman untuk Penderita Diabetes 

Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan agar kadar gula darah tetap stabil:

1. Batasi Porsi

Cukup konsumsi setengah porsi bubur ayam dan hindari menambah nasi putih lagi. Porsi yang terlalu besar akan membuat karbohidrat yang masuk ke tubuh berlebihan dan memicu lonjakan gula darah.

2. Kurangi Topping Tinggi Gula dan Lemak

Beberapa topping seperti kecap manis, kerupuk, atau cakwe goreng bisa meningkatkan kalori dan beban glikemik hidangan. Nikmati bubur ayam dengan topping secukupnya saja, dan utamakan bahan yang tidak digoreng.

3. Tambahkan Sumber Protein

Perbanyak suwiran ayam rebus, telur rebus, atau tahu agar rasa kenyang bertahan lebih lama. Protein membantu memperlambat penyerapan glukosa dan menjaga gula darah tetap stabil.

4. Lengkapi dengan Sayuran Berserat 

Bubur ayam biasanya rendah serat, jadi tambahkan sayuran sebagai pendamping, meski disajikan terpisah.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Perhatikan bagaimana tubuh bereaksi setelah makan bubur ayam. Jika kadar gula darah naik lebih tinggi dari biasanya, tubuh terasa lemas, sering haus, atau jantung berdebar lebih cepat, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam.

Konsultasi juga dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik untuk menyesuaikan pola makan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan layanan konsultasi dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes (ada CGM) untuk pengelolaan diabetes yang tepat untukmu.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


4180689-_1_.webp

October 15, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diabetes termasuk penyakit kronis yang dapat menyebabkan banyak komplikasi jika tidak ditangani dengan tepat. Sayangnya, banyak yang belum memiliki pemahaman yang tepat tentang diabetes. Bahkan, masih banyak masyarakat yang percaya dengan berbagai mitos yang berisiko menyesatkan.

Padahal, memahami fakta yang benar tentang diabetes sangat penting agar penderita diabetes bisa mendapatkan penanganan dengan lebih baik dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Berikut sembilan mitos diabetes yang sering muncul di masyarakat, beserta fakta dan penjelasannya.

Mitos 1: Ada dua jenis diabetes, yaitu diabetes basah dan diabetes kering

Fakta:

Dalam dunia medis, tidak ada istilah “diabetes basah” atau “diabetes kering”. Istilah ini muncul di masyarakat karena perbedaan kondisi luka pada penderita diabetes.

“Diabetes basah” biasanya dipakai untuk menggambarkan penderita yang memiliki luka yang sulit sembuh, cenderung basah, dan bernanah. Sementara “diabetes kering” merujuk pada penderita diabetes yang tidak memiliki luka.

Menurut PERKENI tahun 2021, diabetes diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:

a. Diabetes Tipe 1

Diabetes tipe 1 disebabkan oleh masalah pada sel beta pankreas sehingga produksi insulin terganggu. 

b. Diabetes Tipe 2

Diabetes tipe 2 disebabkan oleh penurunan produksi insulin secara bertahap atau resistensi insulin yang menyebabkan tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Biasanya diabetes tipe 2 berkembang secara bertahap dan lebih sering terjadi pada orang dewasa dan lanjut usia.

c. Diabetes Gestasional

Diabetes yang didiagnosis pada trimester kedua atau ketiga kehamilan, dimana sebelum kehamilan tidak menderita diabetes. 

d. Diabetes Tipe Spesifik yang Berkaitan dengan Penyebab Lain

Diabetes tipe ini berkaitan dengan kondisi medis lainnya yang menyebabkan gangguan insulin. Beberapa penyebabnya adalah:

  • penyakit pankreas eksokrin, misalnya, fibrosis kistik atau pankreatitis.
  • Kelainan genetik, misalnya sindrom diabetes monogenik
  • Penggunaan obat atau zat kimia tertentu seperti glukokortikoid

Mitos 2: Diabetes hanya terjadi pada orang yang sudah tua

Fakta:

Diabetes bukan penyakit orang tua. Orang usia muda, bahkan anak-anak bisa terkena diabetes. Pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, dan stres meningkatkan risiko terkena diabetes pada semua usia.

Mitos 3: Orang dengan diabetes tidak boleh makan buah sama sekali

Fakta:

Buah tidak perlu dihindari sepenuhnya. Meski buah mengandung gula alami yang disebut fruktosa, buah juga kaya serat, vitamin, dan antioksidan. Kandungan gizi tersebut justru membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. 

Yang perlu diingat adalah pilihlah buah dengan indeks glikemik rendah seperti apel, jeruk, pir, pepaya, atau stroberi. Batasi porsi makannya, misalnya satu apel sedang atau satu cangkir potongan pepaya per makan. Hindari jus buah yang ditambah gula atau pemanis tambahan. 

Mitos 4: Diabetes disebabkan karena terlalu banyak makan gula

Fakta:

Makan gula berlebihan memang tidak baik dan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya diabetes, terutama diabetes tipe 2. Namun, hal itu bukan satu-satunya penyebab diabetes.

Pada diabetes tipe 1, penyebabnya adalah gangguan pada pankreas dalam menghasilkan insulin. Sedangkan pada diabetes tipe 2, faktor utamanya adalah resistensi insulin yang dipicu oleh kelebihan berat badan, pola makan tinggi kalori, kurang aktivitas fisik, dan faktor genetik.

Mitos 5: Kalau sudah minum obat diabetes, maka tidak perlu menjaga pola makan lagi

Fakta:

Obat diabetes berfungsi mengontrol kadar gula darah, bukan menyembuhkan diabetes. Obat-obatan diabetes tidak bisa menggantikan gaya hidup sehat. Jika pola makan tetap tidak sehat, kadar gula tetap bisa melonjak tinggi walau sudah rutin minum obat.

Manajemen diabetes yang efektif meliputi pola makan sehat dan seimbang, olahraga teratur, penggunaan obat-obatan jika diperlukan, serta pemantauan gula darah. Hal tersebut harus dilakukan secara konsisten. 

Mitos 6: Luka pada penderita diabetes pasti harus diamputasi

Fakta:

Tidak semua luka pada penderita diabetes harus berakhir dengan amputasi. Luka yang sulit sembuh terjadi karena aliran darah terganggu dan adanya kerusakan saraf (neuropati). Jika luka mendapat perawatan yang tepat sejak dini, luka bisa sembuh tanpa perlu tindakan amputasi.

Amputasi diperlukan jika terdapat jaringan yang sudah menghitam atau gangrene dan tidak bisa lagi disembuhkan. Amputasi bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi ke jaringan sekitarnya. 

Agar tidak terjadi luka, lakukan pencegahan penting seperti berikut:

  • Periksa kaki dan anggota badan lain setiap hari untuk mendeteksi adanya luka kecil.
  • Gunakan alas kaki yang nyaman dan tidak sempit.
  • Jaga gula darah agar tetap normal.

Mitos 7: Obat diabetes menyebabkan gagal ginjal

Fakta:

Mitos ini adalah salah satu mitos yang berbahaya karena membuat banyak pasien berhenti minum obat tanpa arahan dokter.

Padahal, yang menyebabkan gagal ginjal bukanlah obatnya, melainkan kadar gula darah tinggi yang dibiarkan terlalu lama. Gula darah yang tidak terkontrol akan merusak pembuluh darah di ginjal sehingga menyebabkan gangguan pada ginjal.

Obat diabetes justru membantu melindungi ginjal dengan menjaga gula darah agar tetap normal. Beberapa obat, mungkin perlu disesuaikan dosisnya bila fungsi ginjal sudah menurun. Namun, pengaturan dosis, jenis, dan jadwal konsumsi obat harus dalam pengawasan dokter. Jadi, jangan pernah berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter yang menangani.

Mitos 8: Orang dengan diabetes tidak boleh olahraga

Fakta:

Olahraga adalah salah satu manajemen diabetes. Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi, meningkatkan sensitivitas insulin, dan menjaga berat badan ideal.

Walau begitu, olahraga harus dilakukan dengan aman dan tidak berlebihan. Olahraga berlebihan dapat menyebabkan kelelahan dan penurunan kadar gula darah hingga hipoglikemia. 

Sesuaikan jenis olahraga dengan kemampuan tubuh masing-masing. Kamu bisa minta rekomendasi kepada dokter yang menangani. 

Untuk permulaan, pilih aktivitas ringan hingga sedang seperti jalan kaki, bersepeda, berenang, atau yoga. Sebaiknya pantau gula darah sebelum dan sesudah olahraga untuk mencegah hipoglikemia. Kamu bisa menggunakan Continuous Glucose Monitoring (CGM) untuk memantau gula darah secara real-time

Mitos 9: Diabetes bisa disembuhkan dengan obat herbal atau ramuan tradisional

Fakta:

Beberapa tanaman seperti pare, daun insulin, atau kayu manis dipercaya dapat membantu menurunkan gula darah, tapi efeknya tidak sekuat obat medis. 

Meskipun obat herbal memiliki potensi manfaat, obat ini juga berpotensi menimbulkan efek samping. Saat ini, pengetahuan mengenai efek fisiologis dari sebagian besar obat herbal yang banyak digunakan masih terbatas, sehingga belum dapat dipastikan apakah obat-obat tersebut bermanfaat atau berbahaya. 

Masalahnya, banyak pasien berhenti minum obat dokter dan menggantinya dengan ramuan herbal tanpa pengawasan. Akibatnya, gula darah melonjak tanpa disadari dan menimbulkan komplikasi.

Jika ingin memakai obat herbal, sebaiknya diskusikan dulu dengan dokter agar penggunaannya aman dan tidak mengganggu kerja obat diabetes lainnya.

Mitos-mitos seputar diabetes sering terdengar meyakinkan karena sudah diwariskan turun-temurun. Namun, mempercayainya tanpa dasar medis justru bisa memperburuk kondisi. 

Jadi, jika mendapat suatu informasi tentang diabetes, kamu harus memastikan dulu faktanya dan jangan langsung percaya. Tanyakan pada ahlinya atau cari sumber informasi yang valid seperti jurnal kesehatan. 

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan layanan konsultasi dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes (ada CGM) untuk pengelolaan diabetes yang tepat untukmu.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.