9 Mitos Diabetes yang Populer dan Faktanya

October 15, 2025 by Primecare Clinic
4180689-_1_.webp

Diabetes termasuk penyakit kronis yang dapat menyebabkan banyak komplikasi jika tidak ditangani dengan tepat. Sayangnya, banyak yang belum memiliki pemahaman yang tepat tentang diabetes. Bahkan, masih banyak masyarakat yang percaya dengan berbagai mitos yang berisiko menyesatkan.

Padahal, memahami fakta yang benar tentang diabetes sangat penting agar penderita diabetes bisa mendapatkan penanganan dengan lebih baik dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Berikut sembilan mitos diabetes yang sering muncul di masyarakat, beserta fakta dan penjelasannya.

Mitos 1: Ada dua jenis diabetes, yaitu diabetes basah dan diabetes kering

Fakta:

Dalam dunia medis, tidak ada istilah “diabetes basah” atau “diabetes kering”. Istilah ini muncul di masyarakat karena perbedaan kondisi luka pada penderita diabetes.

“Diabetes basah” biasanya dipakai untuk menggambarkan penderita yang memiliki luka yang sulit sembuh, cenderung basah, dan bernanah. Sementara “diabetes kering” merujuk pada penderita diabetes yang tidak memiliki luka.

Menurut PERKENI tahun 2021, diabetes diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:

a. Diabetes Tipe 1

Diabetes tipe 1 disebabkan oleh masalah pada sel beta pankreas sehingga produksi insulin terganggu. 

b. Diabetes Tipe 2

Diabetes tipe 2 disebabkan oleh penurunan produksi insulin secara bertahap atau resistensi insulin yang menyebabkan tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Biasanya diabetes tipe 2 berkembang secara bertahap dan lebih sering terjadi pada orang dewasa dan lanjut usia.

c. Diabetes Gestasional

Diabetes yang didiagnosis pada trimester kedua atau ketiga kehamilan, dimana sebelum kehamilan tidak menderita diabetes. 

d. Diabetes Tipe Spesifik yang Berkaitan dengan Penyebab Lain

Diabetes tipe ini berkaitan dengan kondisi medis lainnya yang menyebabkan gangguan insulin. Beberapa penyebabnya adalah:

  • penyakit pankreas eksokrin, misalnya, fibrosis kistik atau pankreatitis.
  • Kelainan genetik, misalnya sindrom diabetes monogenik
  • Penggunaan obat atau zat kimia tertentu seperti glukokortikoid

Mitos 2: Diabetes hanya terjadi pada orang yang sudah tua

Fakta:

Diabetes bukan penyakit orang tua. Orang usia muda, bahkan anak-anak bisa terkena diabetes. Pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, dan stres meningkatkan risiko terkena diabetes pada semua usia.

Mitos 3: Orang dengan diabetes tidak boleh makan buah sama sekali

Fakta:

Buah tidak perlu dihindari sepenuhnya. Meski buah mengandung gula alami yang disebut fruktosa, buah juga kaya serat, vitamin, dan antioksidan. Kandungan gizi tersebut justru membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. 

Yang perlu diingat adalah pilihlah buah dengan indeks glikemik rendah seperti apel, jeruk, pir, pepaya, atau stroberi. Batasi porsi makannya, misalnya satu apel sedang atau satu cangkir potongan pepaya per makan. Hindari jus buah yang ditambah gula atau pemanis tambahan. 

Mitos 4: Diabetes disebabkan karena terlalu banyak makan gula

Fakta:

Makan gula berlebihan memang tidak baik dan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya diabetes, terutama diabetes tipe 2. Namun, hal itu bukan satu-satunya penyebab diabetes.

Pada diabetes tipe 1, penyebabnya adalah gangguan pada pankreas dalam menghasilkan insulin. Sedangkan pada diabetes tipe 2, faktor utamanya adalah resistensi insulin yang dipicu oleh kelebihan berat badan, pola makan tinggi kalori, kurang aktivitas fisik, dan faktor genetik.

Mitos 5: Kalau sudah minum obat diabetes, maka tidak perlu menjaga pola makan lagi

Fakta:

Obat diabetes berfungsi mengontrol kadar gula darah, bukan menyembuhkan diabetes. Obat-obatan diabetes tidak bisa menggantikan gaya hidup sehat. Jika pola makan tetap tidak sehat, kadar gula tetap bisa melonjak tinggi walau sudah rutin minum obat.

Manajemen diabetes yang efektif meliputi pola makan sehat dan seimbang, olahraga teratur, penggunaan obat-obatan jika diperlukan, serta pemantauan gula darah. Hal tersebut harus dilakukan secara konsisten. 

Mitos 6: Luka pada penderita diabetes pasti harus diamputasi

Fakta:

Tidak semua luka pada penderita diabetes harus berakhir dengan amputasi. Luka yang sulit sembuh terjadi karena aliran darah terganggu dan adanya kerusakan saraf (neuropati). Jika luka mendapat perawatan yang tepat sejak dini, luka bisa sembuh tanpa perlu tindakan amputasi.

Amputasi diperlukan jika terdapat jaringan yang sudah menghitam atau gangrene dan tidak bisa lagi disembuhkan. Amputasi bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi ke jaringan sekitarnya. 

Agar tidak terjadi luka, lakukan pencegahan penting seperti berikut:

  • Periksa kaki dan anggota badan lain setiap hari untuk mendeteksi adanya luka kecil.
  • Gunakan alas kaki yang nyaman dan tidak sempit.
  • Jaga gula darah agar tetap normal.

Mitos 7: Obat diabetes menyebabkan gagal ginjal

Fakta:

Mitos ini adalah salah satu mitos yang berbahaya karena membuat banyak pasien berhenti minum obat tanpa arahan dokter.

Padahal, yang menyebabkan gagal ginjal bukanlah obatnya, melainkan kadar gula darah tinggi yang dibiarkan terlalu lama. Gula darah yang tidak terkontrol akan merusak pembuluh darah di ginjal sehingga menyebabkan gangguan pada ginjal.

Obat diabetes justru membantu melindungi ginjal dengan menjaga gula darah agar tetap normal. Beberapa obat, mungkin perlu disesuaikan dosisnya bila fungsi ginjal sudah menurun. Namun, pengaturan dosis, jenis, dan jadwal konsumsi obat harus dalam pengawasan dokter. Jadi, jangan pernah berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter yang menangani.

Mitos 8: Orang dengan diabetes tidak boleh olahraga

Fakta:

Olahraga adalah salah satu manajemen diabetes. Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi, meningkatkan sensitivitas insulin, dan menjaga berat badan ideal.

Walau begitu, olahraga harus dilakukan dengan aman dan tidak berlebihan. Olahraga berlebihan dapat menyebabkan kelelahan dan penurunan kadar gula darah hingga hipoglikemia. 

Sesuaikan jenis olahraga dengan kemampuan tubuh masing-masing. Kamu bisa minta rekomendasi kepada dokter yang menangani. 

Untuk permulaan, pilih aktivitas ringan hingga sedang seperti jalan kaki, bersepeda, berenang, atau yoga. Sebaiknya pantau gula darah sebelum dan sesudah olahraga untuk mencegah hipoglikemia. Kamu bisa menggunakan Continuous Glucose Monitoring (CGM) untuk memantau gula darah secara real-time

Mitos 9: Diabetes bisa disembuhkan dengan obat herbal atau ramuan tradisional

Fakta:

Beberapa tanaman seperti pare, daun insulin, atau kayu manis dipercaya dapat membantu menurunkan gula darah, tapi efeknya tidak sekuat obat medis. 

Meskipun obat herbal memiliki potensi manfaat, obat ini juga berpotensi menimbulkan efek samping. Saat ini, pengetahuan mengenai efek fisiologis dari sebagian besar obat herbal yang banyak digunakan masih terbatas, sehingga belum dapat dipastikan apakah obat-obat tersebut bermanfaat atau berbahaya. 

Masalahnya, banyak pasien berhenti minum obat dokter dan menggantinya dengan ramuan herbal tanpa pengawasan. Akibatnya, gula darah melonjak tanpa disadari dan menimbulkan komplikasi.

Jika ingin memakai obat herbal, sebaiknya diskusikan dulu dengan dokter agar penggunaannya aman dan tidak mengganggu kerja obat diabetes lainnya.

Mitos-mitos seputar diabetes sering terdengar meyakinkan karena sudah diwariskan turun-temurun. Namun, mempercayainya tanpa dasar medis justru bisa memperburuk kondisi. 

Jadi, jika mendapat suatu informasi tentang diabetes, kamu harus memastikan dulu faktanya dan jangan langsung percaya. Tanyakan pada ahlinya atau cari sumber informasi yang valid seperti jurnal kesehatan. 

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic adalah klinik diabetes yang menyediakan layanan konsultasi dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes (ada CGM) untuk pengelolaan diabetes yang tepat untukmu.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 

primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.