Apakah Penderita Diabetes Boleh Makan Ketupat? Ini Jawabannya!

October 16, 2025 by Primecare Clinic
1249-1-1200x800.webp

Ketupat adalah makanan khas yang identik dengan momen perayaan, terutama Lebaran. Dibuat dari beras putih yang dimasak dalam anyaman janur, ketupat menjadi pelengkap berbagai hidangan seperti opor ayam atau rendang. Atau bisa juga menjadi sumber energi utama dalam menu lontong sayur Namun, bagi penderita diabetes, ketupat sering menimbulkan keraguan karena berbahan dasar beras putih yang dikenal cepat meningkatkan kadar gula darah.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Ketupat?

Jawabannya: boleh, tetapi harus dengan pengaturan yang tepat.

Ketupat tetap bisa dinikmati oleh penderita diabetes selama porsinya dikontrol dan dikombinasikan dengan lauk yang seimbang. Kuncinya bukan menghindari sepenuhnya, melainkan memahami seberapa banyak dan dengan apa makanan itu dikonsumsi.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Ketupat

Dari sisi gizi, ketupat mengandung karbohidrat, sedikit protein, dan hampir tidak memiliki serat maupun lemak. Karena dibuat tanpa tambahan minyak atau bahan lain, kalorinya tergolong rendah. Namun, efeknya terhadap gula darah tetap perlu diperhatikan.

Indeks glikemik (IG) beras putih sebagai bahan utama ketupat berada di angka 70, termasuk kategori tinggi. Oleh karena itu, jika dikonsumsi berlebihan, kadar gula darah dapat meningkat dengan cepat.

Cara Makan Ketupat yang Aman untuk Penderita Diabetes 

Menikmati ketupat tetap bisa menjadi bagian dari perayaan, asalkan cara makannya diatur dengan bijak. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:

1. Batasi Porsi

Cukup konsumsi ½–1 potong kecil ketupat setiap kali makan. Batasi agar total karbohidrat tidak melebihi kebutuhan harian.

2. Kombinasikan dengan Lauk Berprotein

Lauk seperti ayam tanpa kulit, tahu, tempe, atau telur rebus dapat membantu memperlambat penyerapan glukosa sehingga gula darah lebih stabil.

3. Tambahkan Sayuran Berserat

Tambahkan sayur berserat seperti sayur labu atau sayur kacang panjang untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.

4. Batasi Kuah Santan Kental

Pilih kuah yang lebih encer dan tidak terlalu berminyak. Santan yang terlalu pekat bisa meningkatkan kalori serta kadar lemak jenuh, sehingga berisiko mengganggu kestabilan gula darah dan kesehatan jantung.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Jika setelah makan ketupat kadar gula darah terasa meningkat, tubuh cepat lelah, sering haus, atau jantung berdebar, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam. Konsultasi juga dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik untuk menyesuaikan pola makan agar tetap aman dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 

primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.