Apakah Penderita Diabetes Boleh Berhenti Minum Obat Diabetes setelah Gula Darah Stabil?

Banyak penderita diabetes yang bertanya-tanya, “Apakah harus minum obat seumur hidup dan apakah boleh berhenti minum obat jika gula darah sudah stabil?” Mengonsumsi obat-obatan terus-menerus setiap hari tentu terasa melelahkan.
Keinginan untuk berhenti minum obat memang wajar, terutama ketika hasil pemeriksaan gula darah menunjukkan perbaikan yang signifikan dan gula darah sudah stabil. Akan tetapi, menghentikan obat diabetes tanpa anjuran dan pengawasan dokter bisa berbahaya untuk kesehatan.
Jadi, apakah boleh berhenti minum obat diabetes setelah gula darah stabil? Simak faktanya berikut ini!
Apakah Bisa Berhenti Minum Obat Diabetes Setelah Gula Darah Stabil?
Boleh atau tidaknya penderita diabetes berhenti minum obat tergantung pada tipe diabetes dan kondisi masing-masing individu.
Penderita diabetes tipe 1 mengalami gangguan dalam produksi insulin, sehingga jumlah insulin tidak cukup atau sama sekali tidak ada. Karena itu, penderita diabetes tipe 1 harus mendapat suntikan insulin seumur hidup untuk menjaga kadar gula darah.
Sementara itu, penderita diabetes tipe 2 bisa berhenti minum obat dengan syarat tertentu. Dokter mungkin akan mempertimbangkan untuk menghentikan obat-obatan jika sudah mencapai kondisi remisi.
Remisi Diabetes
Menurut konsensus internasional yang berjudul “Consensus Report: Definition and Interpretation of Remission in Type 2 Diabetes“ oleh MAtthew C Riddle et al tahun 2021, remisi diabetes adalah kondisi ketika pasien diabetes tipe 2 berhasil mempertahankan kadar gula darah normal tanpa obat.
Dalam konsensus tersebut, remisi dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Remisi Parsial
Gula darah berada di bawah ambang batas diabetes tetapi masih di atas nilai normal, misalnya glukosa puasa 100–125 mg/dL tanpa obat selama setidaknya 1 tahun.
b. Remisi Lengkap
Gula darah dalam rentang normal, yaitu gula darah puasa <100 mg/dL dan HbA1c <5.7% tanpa obat selama minimal 1 tahun.
c. Remisi Berkelanjutan (Sustained Remission)
Kondisi remisi lengkap yang bertahan setidaknya 5 tahun tanpa terapi.
Konsensus tersebut menyederhanakan istilah ini untuk memudahkan penerapan klinis dengan menekankan satu definisi praktis, yaitu HbA1c <6.5% selama ≥3 bulan tanpa obat.
Namun, penting untuk dipahami bahwa remisi tidak sama dengan sembuh permanen. Tubuh penderita diabetes masih memiliki kecenderungan untuk mengalami resistensi insulin atau gangguan metabolisme glukosa. Kadar gula darah bisa kembali meningkat jika gaya hidup tidak dijaga.
Karena itu, penderita diabetes tipe 2 harus melakukan perubahan gaya hidup meliputi diet sehat, olahraga rutin, dan menurunkan berat badan untuk menstabilkan gula darah.
Keputusan untuk berhenti minum obat harus dilakukan berdasarkan evaluasi medis menyeluruh, termasuk pemeriksaan HbA1c, kadar glukosa puasa, dan pemantauan berkelanjutan.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kestabilan metabolik yang baik, dokter akan menurunkan dosis obat secara bertahap sambil memantau kadar gula secara rutin.
Risiko Stop Minum Obat Diabetes Tanpa Konsultasi Dokter
Menghentikan obat diabetes tanpa konsultasi dokter dapat berbahaya karena gula darah bisa naik lagi sewaktu-waktu. Beberapa risiko yang dapat terjadi jika stop minum obat diabetes secara sembarangan antara lain:
- Kenaikan gula darah secara tiba-tiba yang dapat memicu gejala seperti lemas, sering buang air kecil, sering haus, penglihatan kabur, dan sering kesemutan.
- Penyakit diabetes kembali kambuh terutama bila memiliki pola makan tidak sehat dan jarang berolahraga.
- Komplikasi jangka panjang, seperti kerusakan ginjal (nefropati diabetik), kerusakan saraf (neuropati), dan kerusakan pembuluh darah yang memicu penyakit jantung dan stroke.
Cara Stop Minum Obat Diabetes dengan Tepat Setelah Gula Darah Stabil
Menghentikan obat diabetes tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba. Ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan agar prosesnya aman dan terkendali:
a. Konsultasi dan Evaluasi rutin
Sebelum berhenti minum obat diabetes, langkah pertama adalah berkonsultasi dengan dokter yang menangani. Dokter akan mengevaluasi kondisi pasien secara menyeluruh.
Beberapa pemeriksaan mungkin perlu dilakukan, yaitu kadar gula puasa, gula 2 jam setelah makan, dan HbA1c. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan bahwa kestabilan gula darah bukan hanya sementara, melainkan hasil dari perubahan jangka panjang.
b. Penghentian Dilakukan Secara Bertahap
Jika dokter menilai bahwa kondisi pasien memenuhi syarat untuk mengurangi obat, maka dosis akan dikurangi secara perlahan sambil memantau hasil pemeriksaan. Misalnya, obat diminum setengah dosis selama beberapa minggu sambil melihat apakah kadar gula tetap stabil. Bila gula darah stabil dalam jangka beberapa bulan, dokter dapat mempertimbangkan untuk menghentikan obat.
c. Pemantauan Gula Darah Secara Rutin
Ketika diabetes tipe 2 mencapai kondisi remisi dan penggunaan obat dihentikan, pasien tetap harus memantau kadar gula darah secara rutin. Pemeriksaan yang dilakukan adalah HbA1c atau kadar gula darah puasa.
Penggunaan Continuous Glucose Monitoring (CGM) juga bisa dipertimbangkan untuk memantau kadar gula. Dengan CGM memungkinkan pasien dan dokter melihat fluktuasi gula darah setiap waktu sehingga perubahan bisa terdeteksi lebih cepat. Dengan pemantauan ini risiko hiperglikemia mendadak dapat diminimalkan.
d. Pertahankan Gaya Hidup Sehat
Obat hanya salah satu bagian dari terapi diabetes. Untuk menjaga kestabilan gula darah, penderita diabetes harus mempertahankan gaya hidup sehat, seperti:
- Menerapkan pola makan sehat dan seimbang. Konsultasikan dengan ahli gizi untuk mendapat rekomendasi diet yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
- Rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu.
- Mengelola stres dan tidur cukup
- Menghindari konsumsi alkohol dan rokok
Tanpa disiplin dalam melakukan gaya hidup sehat, kadar gula darah akan mudah kembali meningkat meskipun sempat stabil sebelumnya.
e. Kontrol Berkala
Penderita diabetes tipe 2 yang sudah berhenti minum obat tetap perlu kontrol berkala setiap 3–6 bulan. Hal ini penting untuk memastikan kadar gula darah tetap normal dan mendeteksi jika terjadi kenaikan kembali. Dokter juga akan mengevaluasi fungsi organ lain seperti ginjal, mata, dan saraf yang bisa terpengaruh oleh diabetes.
Konsultasi dan Pemantauan Diabetes di Primecare Clinic
Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.
Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

