2148129939-1-1200x800.webp

October 30, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Bagi penderita diabetes, menjaga pola makan bukan sekadar kewajiban, tetapi langkah penting untuk mendukung kualitas hidup yang lebih baik. Setiap pilihan makanan, terutama sumber karbohidrat, memiliki peran besar dalam menjaga kestabilan kadar gula darah. Salah satu pilihan yang kerap direkomendasikan adalah nasi merah. 

Apakah Penderita Diabetes Boleh Makan Nasi Merah?

Nasi merah dapat menjadi pilihan cerdas bagi penderita diabetes. Kandungan seratnya yang tinggi membantu memperlambat penyerapan glukosa, sehingga mencegah lonjakan gula darah setelah makan. 

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Nasi Merah

Nasi merah mengandung karbohidrat kompleks, serat, vitamin B, magnesium, serta antioksidan yang baik untuk melindungi sel tubuh. Kandungan serat yang melimpah membuat tubuh mencerna nasi merah lebih lambat, sehingga energi dilepaskan secara bertahap dan kadar gula darah tetap terkendali.

Secara ilmiah, indeks glikemik (IG) nasi merah berada di kisaran 55 dengan beban glikemik sekitar 38. Angka ini menunjukkan bahwa nasi merah memberikan dampak yang lebih stabil terhadap kadar gula darah dibanding nasi putih. 

Manfaat Nasi Merah untuk Penderita Diabetes

Nasi merah tidak hanya membantu mengatur kadar gula darah, tetapi juga memberi manfaat tambahan untuk kesehatan secara keseluruhan. Di antaranya:

1. Membantu Mengontrol Kadar Gula Darah

Serat dalam nasi merah membantu memperlambat penyerapan gula sehingga kadar glukosa darah lebih stabil setelah makan.

2. Menjaga Kesehatan Jantung

Kandungan magnesium dan antioksidan membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan mendukung kesehatan pembuluh darah — penting karena diabetes sering dikaitkan dengan risiko penyakit jantung.

3. Memberikan Energi yang Lebih Stabil

Nasi merah melepaskan energi secara bertahap, sehingga membantu tubuh tetap bertenaga lebih lama tanpa memicu rasa lemas akibat penurunan gula darah mendadak.

Cara Makan Nasi Merah untuk Penderita Diabetes

Untuk mendapatkan manfaat optimal dari nasi merah, berikut beberapa cara yang perlu diperhatikan:

1. Atur Porsi 

Idealnya, cukup sekitar 1 centong nasi per waktu makan untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. 

2. Kombinasikan dengan Protein dan Sayuran

Tambahkan lauk seperti ikan, tempe, ayam tanpa kulit, serta sayuran hijau untuk membantu menjaga kestabilan gula darah.

3. Jangan Makan Terlalu Cepat

Mengunyah dengan perlahan membantu tubuh mengenali rasa kenyang lebih baik dan mencegah lonjakan gula darah mendadak.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Meski pola makan sudah diperhatikan, penderita diabetes tetap perlu waspada jika kadar gula darah sering naik turun tanpa sebab yang jelas. Jika hal-hal tersebut terjadi, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) untuk evaluasi kadar gula dan penyesuaian terapi obat. Selain itu, temui dokter gizi klinik (Sp.GK) untuk menyesuaikan rencana makan yang lebih tepat. 

Konsultasi dan Pemantauan Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


64596-_1_-1200x800.webp

October 30, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Menjalani hidup dengan diabetes bukan berarti harus menghindari semua makanan dengan rasa manis. Hal yang perlu diperhatikan adalah mengatur jenis, jumlah, dan waktu konsumsi agar kadar gula darah tetap terkendali. Salah satu buah manis yang sering menimbulkan pertanyaan di kalangan penderita diabetes adalah kurma.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Kurma?

Jawabannya: boleh, asalkan dikonsumsi dalam jumlah wajar dan dengan cara yang tepat. Kurma mengandung gula alami, namun juga kaya akan zat gizi penting seperti serat, kalium, magnesium, dan antioksidan yang justru dapat mendukung kesehatan.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Kurma

Selain mengandung gula alami, kurma juga kaya serat pangan, mineral, dan antioksidan yang berperan menjaga kesehatan serta membantu tubuh memproses gula dengan lebih seimbang.

Namun, penting untuk diketahui bahwa setiap jenis kurma memiliki efek yang berbeda terhadap kadar gula darah karena perbedaan nilai indeks glikemik (GI) dan beban glikemik (GL). 

Berikut kisaran nilai GI dan GL beberapa jenis kurma:

  1. Sukkary: GI 43, GL 6
  2. Medjool: GI 55, GL 8
  3. Lulu: GI 54, GL 8
  4. Khalas: GI 52, GL 8
  5. Ajwa: GI 60, GL 9

Perbedaan nilai GI dan GL ini menggambarkan seberapa cepat kadar gula darah meningkat setelah mengonsumsi kurma. Semakin rendah nilainya, semakin lambat peningkatan gula darah, sehingga lebih aman bagi penderita diabetes.

Manfaat Kurma untuk Penderita Diabetes

Berikut dua manfaat kurma, khususnya bagi penderita diabetes:

1. Memberi Energi dengan Cepat

Bagi penderita diabetes, kurma bisa membantu mengatasi rasa lelah atau menjadi pilihan camilan setelah beraktivitas fisik, asalkan dikonsumsi dalam jumlah kecil dan tidak berlebihan.

2. Membantu Menjaga Kadar Gula Darah

Meski rasanya manis, kurma tergolong aman bagi penderita diabetes. Kandungan antioksidannya berperan dalam membantu tubuh mengontrol kadar gula dan mengurangi risiko resistensi insulin. Namun, tetap batasi asupan manis lainnya saat mengonsumsi kurma agar kadar gula darah tetap seimbang.

Cara Makan Kurma yang Aman untuk Penderita Diabetes

Agar kurma tetap aman dan memberikan manfaat bagi tubuh, perhatikan beberapa hal berikut:

1. Pilih Jenis Kurma dengan IG Rendah

Utamakan memilih kurma yang memiliki indeks glikemik lebih rendah, sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.

2. Batasi Porsi

Nikmati kurma secukupnya, sekitar 1-3 butir per hari. Jumlah ini sudah cukup untuk menikmati rasa manis kurma tanpa membuat kadar gula darah melonjak.

3. Makan Secara Bertahap

Jika ingin mengonsumsi lebih dari satu butir kurma, beri jeda sekitar 30–60 menit di antara setiap buah. Cara ini membantu tubuh memproses gula secara lebih perlahan dan menjaga kadar gula darah tetap stabil.

4. Kombinasikan dengan Makanan Lain

Konsumsi kurma bersama sumber protein atau lemak sehat seperti kacang dan yogurt.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter apabila kadar gula darah sering naik turun meski pola makan sudah diatur. Temui dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) untuk penyesuaian terapi obat, serta dokter gizi klinik (Sp.GK) untuk menyesuaikan kembali pola makan agar lebih sesuai dengan kondisi tubuh.

Konsultasi dan Pemantauan Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148377383-1-1200x675.webp

October 29, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Rempah-rempah memainkan peran penting dalam menambah cita rasa sekaligus mendukung kesehatan tubuh. Bagi penderita diabetes, rempah bisa menjadi bagian dari pola makan yang sehat karena rendah karbohidrat dan kaya senyawa bioaktif. 

Namun, dengan memilih jenis rempah dan cara penggunaannya yang tepat, manfaatnya bisa maksimal.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Rempah

Sebagian besar rempah, seperti kayu manis, kunyit, jahe, dan cengkeh, mengandung karbohidrat sangat rendah dengan indeks glikemik yang rendah, sehingga aman bagi penderita diabetes karena tidak memicu lonjakan kadar gula darah. Selain itu, rempah-rempah kaya akan antioksidan, polifenol, dan senyawa antiinflamasi yang mendukung fungsi metabolisme tubuh secara sehat.

Manfaat Rempah untuk Penderita Diabetes

Beberapa rempah telah diteliti memiliki efek positif bagi pengelolaan diabetes:

1. Kayu manis

Kayu manis mengandung senyawa aktif seperti cinnamaldehyde dan polyphenol yang dapat meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin. Hal ini membantu sel-sel tubuh mengambil glukosa dari darah lebih efisien, sehingga kadar gula darah menurun setelah makan.

2. Kunyit

Kurkumin merupakan komponen utama kunyit yang memiliki aktivitas antiinflamasi dan antioksidan. Efek antiinflamasi tersebut berperan dalam memperbaiki sensitivitas insulin dan metabolisme glukosa yang terganggu akibat inflamasi kronis.

3. Jahe

Jahe mengandung gingerol dan shogaol, yang membantu menurunkan kadar gula darah dengan meningkatkan absorpsi glukosa oleh sel dan mengurangi peradangan. Jahe juga membantu memperbaiki profil lipid, sehingga menurunkan risiko komplikasi kardiovaskular.

4. Cengkeh 

Cengkeh dikenal kaya akan senyawa antioksidan. Antioksidan membantu mengurangi stres oksidatif, yaitu kerusakan sel akibat radikal bebas, yang dapat memperburuk resistensi insulin dan komplikasi diabetes.

Cara Makan Rempah untuk Penderita Diabetes

Beberapa cara berikut dapat membantu rempah memberi manfaat optimal bagi kadar gula darah:

1. Gunakan Secukupnya

Gunakan rempah untuk memberi aroma dan rasa pada masakan atau minuman, tanpa menambahkan gula atau kalori lain.

2. Padukan dengan Makanan Seimbang

Kombinasikan rempah dengan makanan tinggi serat, seperti sayuran, biji-bijian, atau sumber protein, agar pengaruhnya terhadap gula darah tetap stabil.

3. Variasi Jenis Rempah

Ganti jenis rempah secara berkala untuk memperoleh berbagai senyawa bioaktif dan manfaat kesehatan yang berbeda dari tiap rempah.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika setelah menambahkan rempah ke dalam makanan muncul gejala seperti kadar gula tidak stabil, sering haus, sering buang air kecil, lelah, atau pusing. 

Konsultasi dapat dilakukan dengan dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) untuk evaluasi kadar gula dan pengaturan obat, serta dokter gizi klinik (Sp.GK) untuk mendapatkan panduan penggunaan rempah yang aman dan pola makan seimbang.

Konsultasi dan Pemantauan Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


105512-_1_-1200x800.webp

October 29, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Banyak orang mengenal kayu manis sebagai bumbu dapur yang harum dan manis. Di balik aromanya yang khas, rempah ini ternyata menyimpan potensi untuk membantu mengendalikan kadar gula darah. Tak heran, kayu manis sering disebut-sebut sebagai salah satu bahan alami yang bisa mendukung pengelolaan diabetes.

Bolehkah Penderita Diabetes Konsumsi Kayu Manis?

Bagi penderita diabetes, kayu manis bisa menjadi tambahan yang aman dan bermanfaat dalam pola makan jika digunakan dengan bijak. Beberapa studi menunjukkan bahwa kayu manis dapat membantu menurunkan kadar glukosa darah puasa dan meningkatkan kerja insulin. Meski demikian, bukan berarti kayu manis dapat menggantikan obat diabetes. Jumlah dan cara konsumsinya tetap perlu diperhatikan agar aman dan efektif.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Kayu Manis

Kayu manis bukan sumber makronutrien utama seperti karbohidrat, protein, atau lemak. Indeks glikemik (IG) kayu manis sekitar 5, yang termasuk dalam kategori rendah. Nilai ini menunjukkan bahwa kayu manis tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah ketika dikonsumsi.

Selain itu, kayu manis kaya akan senyawa bioaktif seperti polifenol dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan dan antiinflamasi. 

Manfaat Kayu Manis untuk Penderita Diabetes

Beberapa penelitian menunjukkan kayu manis berpotensi membantu mengelola diabetes melalui beberapa mekanisme:

1. Meningkatkan Sensitivitas Insulin 

Senyawa aktif dalam kayu manis membantu sel-sel tubuh merespons insulin dengan lebih efektif, sehingga kadar gula darah dapat lebih terkontrol.

2. Mengontrol Gula Darah setelah Makan

Kayu manis dapat memperlambat pengosongan lambung dan menghambat penyerapan glukosa dari makanan, sehingga membantu mencegah lonjakan gula darah setelah makan.

3. Sebagai Antioksidan dan Antiinflamasi

Kandungan polifenol dalam kayu manis berperan dalam mengurangi stres oksidatif dan peradangan, yaitu dua kondisi yang sering meningkat pada penderita diabetes.

Cara Mengonsumsi Kayu Manis bagi Penderita Diabetes

Agar kayu manis dapat memberikan manfaat secara optimal, perhatikan beberapa tips berikut:

1. Gunakan Secukupnya

Tambahkan kayu manis untuk memberi aroma dan rasa pada kopi, teh, atau makanan, sesuai selera.

2. Tambahkan ke dalam Makanan Berserat

Tambahkan kayu manis ke dalam makanan tinggi serat, seperti oatmeal, bubur gandum, atau smoothie buah. Serat membantu memperlambat penyerapan gula, sehingga efek kayu manis lebih optimal dan gula darah tetap stabil setelah makan.

3. Variasikan Cara Konsumsi

Gunakan kayu manis batang untuk seduhan dan bubuk untuk campuran makanan. Variasi ini membantu mendapatkan manfaat yang serupa sekaligus menambah variasi pengalaman konsumsi.

4. Hindari Interaksi Obat

Jangan mengonsumsi kayu manis bersamaan dengan obat diabetes tanpa pengawasan dokter, karena dapat memengaruhi kerja obat dan gula darah.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Sebelum menambahkan kayu manis ke makanan atau minuman, penderita diabetes sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter gizi klinik atau ahli gizi, supaya penggunaannya aman dan sesuai kondisi tubuh. Selain itu, segera temui dokter spesialis penyakit dalam jika kadar gula darah sulit dikontrol, untuk evaluasi gula darah dan pengaturan obat yang tepat.

Konsultasi dan Pemantauan Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148755010-_1_.webp

October 29, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Alkohol sering disebut sebagai “minuman keras” karena dapat menyebabkan mabuk jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu. Selain itu, alkohol juga termasuk zat adiktif yang dapat menyebabkan kecanduan. 

Sebagian orang mengonsumsi alkohol untuk menenangkan pikiran atau sekadar untuk kesenangan. Namun, konsumsi alkohol bisa berdampak buruk bagi kesehatan dan memperburuk kondisi diabetes, lho! Simak penjelasannya di artikel ini ya! 

Apakah Penderita Diabetes Boleh Minum Alkohol?

Penderita diabetes tidak disarankan untuk minum alkohol meskipun ada yang menyebutkan bahwa konsumsi terbatas diperbolehkan. Namun, dengan mempertimbangkan manfaatnya yang sangat kecil dibandingkan dengan risikonya, maka sebaiknya penderita diabetes menghindari alkohol sama sekali. 

Alkohol dapat mengganggu pengaturan gula darah oleh hati (liver). Hati berperan dalam menjaga kestabilan gula darah dengan memecah glikogen menjadi glukosa ketika kadar gula darah turun.

Alkohol yang masuk ke dalam tubuh harus dipecah oleh hati. Karena itu, hati lebih fokus memecah alkohol dan menunda pelepasan glukosa ke darah. Hal ini bisa menyebabkan hipoglikemia (gula darah rendah), terutama pada penderita yang menggunakan insulin atau obat diabetes.

Selain itu, alkohol juga dapat mengganggu kerja beberapa obat diabetes sehingga efek obatnya akan berkurang. Dengan begitu, gula darah tidak terkontrol dengan baik dan bisa menyebabkan hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi.

Beberapa jenis minuman beralkohol mengandung gula dan karbohidrat tinggi, yang  dapat memperparah kondisi hiperglikemia. Kombinasi efek ini dapat membuat kadar gula darah naik turun tidak menentu, sehingga kontrol diabetes menjadi sulit dilakukan. 

Karena beberapa efek alkohol tersebut, penderita diabetes sebaiknya tidak mengonsumsi minuman beralkohol. 

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Minuman Beralkohol

Indeks glikemik minuman beralkohol berbeda-beda tergantung dari jenisnya. Pada umumnya, minuman beralkohol memiliki indeks glikemik yang tinggi karena melalui proses fermentasi. Bir memiliki indeks glikemik 70, sedangkan anggur merah lebih rendah, yaitu 25-30. 

Alkohol mengandung 7 kalori per gram, tanpa kandungan gizi lain. Sebagian besar minuman beralkohol juga tinggi kalori dan karbohidrat, terutama bir. 

Perlu diingat meskipun beberapa alkohol memiliki indeks glikemik rendah, hal ini tidak berarti aman bagi penderita diabetes. 

Bahaya Mengonsumsi Alkohol bagi Penderita Diabetes

Alkohol dapat memengaruhi metabolisme tubuh. Bagi penderita diabetes, mengonsumsi alkohol dapat memicu beberapa bahaya berikut:

a. Hipoglikemia

Ketika alkohol masuk ke dalam tubuh, hati akan memprioritaskan pemecahan alkohol dan menunda pelepasan glukosa ke darah. Akibatnya, kadar gula darah dapat turun drastis, bahkan berjam-jam setelah berhenti minum alkohol.

Pada penderita yang menggunakan insulin atau obat diabetes, kondisi ini dapat menyebabkan hipoglikemia berat yang berpotensi menyebabkan kehilangan kesadaran.

b. Hiperglikemia dan Berat Badan Naik

Beberapa jenis minuman beralkohol mengandung gula tambahan dan karbohidrat tinggi. Konsumsi alkohol juga dapat memicu rasa lapar palsu, sehingga seseorang makan lebih banyak dari biasanya. Hal ini menyebabkan kenaikan kadar gula darah dan berat badan. 

c. Kerusakan Hati dan Pankreas

Hati dan pankreas adalah organ yang berperan penting dalam pengaturan gula darah. Konsumsi alkohol jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati, perlemakan hati, hepatitis alkoholik, dan sirosis. 

Selain itu, konsumsi alkohol dalam jangka panjang dapat menyebabkan pankreatitis (radang pankreas). Kerusakan hati dan pankreas menyebabkan pengaturan gula darah semakin kacau sehingga gula darah tidak terkontrol. 

d. Interaksi dengan Obat Diabetes

Alkohol dapat berinteraksi dengan obat diabetes sehingga menurunkan efektivitasnya. Hal itu akan mengganggu kontrol gula darah penderita diabetes. 

e. Gangguan Saraf dan Jantung

Penderita diabetes memiliki risiko komplikasi neuropati diabetik (kerusakan saraf) dan penyakit jantung. Alkohol dapat memperburuk kondisi tersebut.

Apakah Ada Cara Aman Minum Alkohol bagi Penderita Diabetes?

Meski ada yang menyebutkan bahwa konsumsi minuman beralkohol diperbolehkan asal masih dalam batas aman, kenyataannya tidak ada konsumsi alkohol yang benar-benar aman bagi penderita diabetes.

Setiap tubuh penderita diabetes merespon alkohol secara berbeda. Bahkan jumlah kecil alkohol sekalipun dapat menimbulkan dampak buruk. Karena itu, cara paling aman adalah tidak minum alkohol sama sekali. 

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi ke dokter jika mengalami hal berikut:

  • Gula darah turun atau naik drastis setelah minum alkohol.
  • Muncul gejala seperti pusing berat, gemetar, lemas, sering buang air kecil, sering haus, atau kehilangan kesadaran.
  • Gula darah sulit dikontrol meski sudah mengikuti pola makan dan terapi obat.

Penderita diabetes harus rutin kontrol ke dokter agar kadar gula darahnya tetap dalam batas normal.

Konsultasi dan Pemantauan Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


6962-_1_-1200x765.webp

October 28, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Banyak orang yang menganggap jika kadar gula tinggi melebihi normal berarti terkena diabetes. Padahal, ada kondisi yang disebut prediabetes. Prediabetes dan diabetes adalah dua kondisi yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah di atas normal. Lalu apa bedanya? Mari kita pahami bersama di artikel ini! 

Perbedaan Prediabetes dan Diabetes

Prediabetes adalah kondisi ketika kadar gula darah seseorang sudah lebih tinggi dari normal, tetapi belum cukup tinggi untuk dikategorikan sebagai diabetes. Prediabetes bisa dianggap sebagai peringatan dini bahwa tubuh mulai mengalami gangguan dalam mengatur kadar gula darah. Jika tidak ditangani, prediabetes berisiko berkembang menjadi diabetes tipe 2 dalam beberapa bulan atau tahun.

Sementara itu, diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi karena gangguan insulin, baik produksinya yang kurang, atau terjadi resistensi insulin.

Perbedaan utama prediabetes dan diabetes adalah kadar gula darahnya, seperti yang tercantum pada tabel berikut:

 

Gula Darah Puasa

(mg/dL)

Gula Darah 2 Jam Setelah Makan (mg/dL) 
Normal70-9970-139
Prediabetes100-125140-199
Diabetes126 ke atas200 ke atas

 

Prediabetes tidak selalu menimbulkan gejala. Jika muncul gejala, maka gejala tersebut diakibatkan oleh kadar gula darah yang tinggi terus menerus, yaitu mudah lelah, sering lapar, sering haus, dan sering kencing.

Sedangkan, pada penderita diabetes gejala bisa muncul akibat hiperglikemia jangka panjang serta gejala lain jika terjadi komplikasi. Beberapa gejala yang bisa dialami penderita diabetes adalah:

Banyak orang dengan prediabetes dan diabetes tipe 2 tidak menyadari gejala-gejala tersebut hingga kadar gula darah sudah sangat tinggi dan terjadi komplikasi. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin penting dilakukan untuk deteksi dini. Seperti MCU diabetes/pemeriksaan gula darah.

Harus ke Dokter Apa Jika Mengalami Diabetes atau Prediabetes?

Jika kamu mengalami prediabetes atau diabetes, maka sebaiknya segera konsultasi dengan dokter. Beberapa dokter yang bisa dikunjungi adalah:

1. Dokter Umum

Jika baru pertama kali mengetahui hasil gula darah tinggi, kamu bisa mulai dengan berkonsultasi ke dokter umum di fasilitas kesehatan tingkat primer. Dokter akan membantu menilai apakah kadar gula darah tersebut termasuk prediabetes atau diabetes. 

Dokter umum juga bisa memberikan saran awal mengenai pola makan, aktivitas fisik, dan gaya hidup yang perlu diubah. Jika diperlukan, dokter umum juga dapat memberikan rujukan ke dokter spesialis untuk penanganan lebih lanjut. 

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika mengalami kadar gula darah tinggi dan tidak kunjung membaik meski sudah menjalani pola hidup sehat, maka sebaiknya kamu berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam, khususnya subspesialis endokrin, metabolik, dan diabetes.

Dokter spesialis penyakit dalam akan melakukan beberapa pemeriksaan seperti mengevaluasi kadar gula darah dan HbA1c, serta memantau kemungkinan komplikasi seperti gangguan ginjal, saraf, jantung, dan penglihatan. Kemudian dokter akan memberikan obat-obatan sesuai dengan kadar gula darah dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. 

3. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Selain dengan obat-obatan, pengaturan asupan makanan juga menjadi kunci utama dalam mengontrol kadar gula darah. Dokter spesialis gizi klinik dapat membantu menyusun rencana diet untuk menurunkan kadar gula darah. 

Kebutuhan kalori akan dihitung berdasarkan berat badan, aktivitas fisik, usia, jenis kelamin, serta kondisi kesehatan lainnya. Dengan pemantauan oleh dokter gizi, kamu dapat menjaga pola makan yang seimbang sesuai dengan kebutuhan.

4. Dokter Spesialis Mata

Diabetes dapat memengaruhi kesehatan mata, terutama retina. Kadar gula darah tinggi yang berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah di retina atau disebut retinopati diabetik. 

Karena itu, penderita diabetes perlu rutin memeriksakan mata ke dokter spesialis mata, terutama bila muncul gejala seperti pandangan kabur, penurunan ketajaman penglihatan, atau muncul bayangan titik-titik di lapang pandang. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berujung pada kebutaan.

5. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner karena kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah jantung. Oleh sebab itu, konsultasi ke dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sangat disarankan, terutama bagi pasien yang juga memiliki tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, atau sering merasakan nyeri dada.

6. Dokter Spesialis Saraf

Kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan saraf atau neuropati diabetik. Gejalanya meliputi kesemutan, rasa terbakar, nyeri, atau mati rasa pada tangan dan kaki.

Dokter spesialis saraf berperan dalam menilai tingkat kerusakan saraf dan memberikan terapi untuk mengurangi gejala serta membantu memulihkan fungsi saraf yang terganggu.

7. Dokter Spesialis Bedah

Jika pasien mengalami luka pada kaki atau bagian tubuh lain yang sulit sembuh, terutama pada penderita diabetes, maka dokter spesialis bedah berperan penting dalam perawatan luka tersebut. Tindakan medis bisa berupa pembersihan luka (debridement), pengangkatan jaringan mati, hingga amputasi bila sudah terjadi gangren.

Konsultasi dan Pemantauan Diabetes/Prediabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


26670-_1_-1200x800.webp

October 28, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Bagi penderita diabetes, memilih pemanis yang tepat sangat penting untuk menjaga kadar gula darah. Salah satu yang sering dipertanyakan adalah sukralosa, pemanis buatan yang umum digunakan sebagai pengganti gula. 

Berbeda dengan sukrosa, sukralosa tidak mengandung kalori dan tidak menaikkan kadar gula darah, sehingga umumnya aman untuk dikonsumsi.

Meski demikian, penggunaan berlebihan tetap tidak disarankan, karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pemanis buatan dalam  jangka panjang memiliki efek samping bagi kesehatan.

Sukralosa sebagai Pemanis Alternatif bagi Penderita Diabetes

Sukralosa menjadi salah satu pilihan pemanis alternatif yang populer karena manisnya mirip gula biasa, namun tidak menambah kalori. Pemanis ini aman digunakan oleh penderita diabetes karena tidak menyebabkan lonjakan gula darah, sehingga bisa membantu menjaga kestabilan kadar glukosa. 

Selain itu, sukralosa memiliki keunggulan praktis karena tahan terhadap panas, sehingga dapat digunakan dalam memasak maupun membuat minuman panas tanpa kehilangan rasa manisnya. 

Jika digunakan dengan tepat, sukralosa memungkinkan penderita diabetes tetap menikmati rasa manis dalam makanan atau minuman tanpa menimbulkan risiko berlebihan terhadap kesehatan.

Cara Mengonsumsi Sukralosa bagi Penderita Diabetes

Untuk menggunakan sukralosa dengan aman dan tetap mendapat manfaatnya, ada beberapa hal penting yang sebaiknya diperhatikan:

1. Batasi Jumlah

Gunakan sukralosa secukupnya, misalnya hanya untuk memberi sedikit rasa manis pada kopi, teh, atau camilan. Batasi jumlahnya agar keinginan untuk mengonsumsi makanan manis lain tetap terkendali, sehingga pola makan lebih seimbang dan gula darah tidak mudah naik.

2. Perhatikan Tubuh

Amati bagaimana tubuh merespons sukralosa. Beberapa orang mungkin mengalami gangguan pencernaan. Jika muncul ketidaknyamanan, sebaiknya kurangi jumlah atau hentikan penggunaannya sementara.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter jika kadar gula darah sering tidak stabil meski sudah mengatur makanan dan pemanis, atau muncul gejala seperti sering haus, sering buang air kecil, lelah, atau pusing. 

Konsultasi bisa dilakukan dengan dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) untuk mengevaluasi gula darah dan pengaturan obat, serta dokter gizi klinik (Sp.GK) untuk mendapatkan panduan pola makan dan penggunaan pemanis alternatif agar tetap aman bagi kadar gula darah.

Konsultasi dan Pemantauan Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


4704-1-1200x800.webp

October 28, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Minuman bersoda identik dengan sensasi manis dan menyegarkan, terutama saat cuaca panas. Namun, di balik kesegarannya, soda termasuk salah satu minuman yang paling berisiko bagi penderita diabetes karena kandungan gulanya sangat tinggi.

Bolehkah Penderita Diabetes Minum Soda?

Secara medis, penderita diabetes tidak disarankan mengonsumsi soda biasa (regular soda). Satu kaleng soda berukuran 330 ml dapat mengandung sekitar 35–40 gram gula. Jumlah ini sudah mendekati bahkan melebihi batas konsumsi gula harian yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan RI, yaitu maksimal 50 gram per hari.

Kandungan gula yang tinggi menyebabkan kadar glukosa darah naik drastis dalam waktu singkat, memaksa pankreas bekerja ekstra memproduksi insulin. Selain itu, jika dikonsumsi rutin, soda juga dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, penumpukan lemak di hati, obesitas, dan gangguan metabolisme lainnya.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Soda

Dari sisi gizi, soda hampir tidak memiliki manfaat. Komposisinya umumnya hanya air berkarbonasi, gula, pewarna, pengawet, dan perisa buatan. Minuman ini tidak mengandung protein, lemak sehat, serat, vitamin, maupun mineral dalam jumlah berarti.

Indeks glikemik (IG) soda tergolong sedang hingga tinggi. Karena tidak mengandung serat atau lemak yang dapat memperlambat penyerapan, beban glikemiknya (BG) juga tinggi, sehingga memicu lonjakan gula darah dengan cepat.

Adakah Cara Minum Soda yang Aman untuk Penderita Diabetes?

Pada dasarnya, tidak ada cara yang benar-benar aman untuk mengonsumsi soda bagi penderita diabetes. Jika sangat ingin, pilihan paling bijak adalah soda tanpa gula dalam jumlah sangat terbatas dan tidak dikonsumsi setiap hari.

Meskipun bebas gula, soda diet biasanya mengandung pemanis buatan untuk memberikan rasa manis. Pemanis buatan ini bisa memiliki efek samping jika dikonsumsi terus menerus dalam jangka panjang, sehingga konsumsi tetap harus dibatasi.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter bila setelah minum soda kadar gula darah meningkat tajam, muncul gejala seperti sering haus, buang air kecil berlebihan, kelelahan, atau pusing.

Penderita diabetes disarankan rutin memantau kondisi kesehatannya bersama dokter spesialis penyakit dalam. Selain itu, dokter gizi klinik dapat membantu menyesuaikan pola makan dan minuman agar tetap aman bagi kadar gula darah.

Konsultasi dan Pemantauan Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


38628-_1_-1200x801.webp

October 28, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Teh menjadi salah satu minuman yang paling sering dikonsumsi, baik saat pagi untuk memulai hari maupun sore untuk bersantai. Aromanya yang khas dan rasanya yang menenangkan membuat banyak orang menjadikannya bagian dari rutinitas harian. Meski begitu, bagi penderita diabetes, kebiasaan ini tidak bisa dilakukan sembarangan.

Bolehkah Penderita Diabetes Minum Teh?

Penderita diabetes boleh minum teh, asalkan tidak diberi tambahan gula atau pemanis tinggi kalori. Teh tanpa gula justru bisa memberikan manfaat kesehatan karena mengandung antioksidan alami seperti polifenol dan katekin. Zat ini dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi stres oksidatif, dua faktor penting dalam menjaga kestabilan kadar gula darah.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah cara penyajiannya. Teh yang diberi gula pasir, madu, atau susu kental manis bisa meningkatkan asupan gula berlebih dan menyebabkan lonjakan glukosa darah, terutama jika diminum setiap hari.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Teh

Teh tanpa pemanis memiliki indeks glikemik (IG) sebesar 0, karena tidak mengandung karbohidrat yang dapat meningkatkan kadar gula darah. Setiap jenis teh memiliki komponen aktif yang berbeda, sehingga manfaatnya bagi tubuh juga dapat bervariasi.

1. Teh Hijau

Teh hijau kaya katekin, yaitu antioksidan yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan lemak tubuh. Konsumsi teh hijau secara teratur akan mendukung keseimbangan metabolisme tubuh.

2. Teh Hitam

Teh hitam mengandung theaflavin dan thearubigin yang memperlambat penyerapan glukosa di usus. Kandungan ini membantu menjaga kestabilan kadar gula darah setelah makan dan mendukung fungsi metabolik tubuh.

3. Teh Oolong

Teh oolong mengandung katekin dalam jumlah sedang. Kandungan ini membuat teh oolong berpotensi membantu mencegah komplikasi diabetes yang berkaitan dengan kesehatan kardiovaskular.

Namun, beberapa penelitian juga menemukan bahwa konsumsi teh oolong dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 di kemudian hari. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan manfaatnya. 

4. Teh Herbal

Teh herbal seperti chamomile dan rosella bebas kafein, sehingga aman bagi individu yang sensitif terhadap kafein. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa chamomile dapat membantu memperbaiki kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2.

Cara Minum Teh yang Aman untuk Penderita Diabetes

Agar teh tetap memberi manfaat tanpa mengganggu kadar gula darah, beberapa hal berikut bisa diterapkan:

1. Pilih Teh Tanpa Gula

Nikmati teh dalam bentuk aslinya tanpa tambahan pemanis. Jika ingin sedikit rasa manis, gunakan pemanis alami rendah kalori seperti stevia agar kadar gula darah tetap terjaga.

2. Hindari Teh Kemasan

Teh manis kemasan umumnya mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi. Sebaiknya seduh teh sendiri agar komposisi dan kadar gulanya lebih terkontrol.

3. Batasi Konsumsi 1–2 Cangkir Per Hari

Minum teh secukupnya setiap hari. Terlalu banyak teh, terutama yang mengandung kafein, dapat menyebabkan jantung berdebar dan mengganggu kualitas tidur.

4. Variasikan Jenis Teh

Sesekali pilih jenis teh yang berbeda untuk memperoleh manfaat yang beragam. 

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter jika setelah minum teh muncul gejala seperti jantung berdebar, sulit tidur, mual, atau kadar gula darah tidak stabil.

Penderita diabetes disarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk evaluasi pengaturan kadar gula darah, serta dengan dokter gizi klinik untuk mendapatkan panduan jenis minuman dan pola makan yang sesuai dengan kondisi tubuh.

Konsultasi dan Pemantauan Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


135682-2-1200x798.webp

October 24, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Tentu menjadi sebuah pertanyaan besar mengapa kadar gula darah naik setelah bangun pagi, padahal kita baru saja tidur dengan durasi 6-9 jam yang artinya tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam pencernaan kita selama itu. Lalu, apakah kondisi tersebut berbahaya? 

Kondisi Gula Darah Naik Setelah Bangun Pagi

Gula darah naik setelah bangun pagi adalah hal yang biasa terjadi karena merupakan fenomena alami tubuh yang berkaitan dengan ritme sirkadian. Hal ini tentunya juga terjadi pada penderita diabetes. Kondisi ini perlu dipahami dan dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan komplikasi di masa mendatang.

Apakah Normal Gula Darah Naik Setelah Bangun Pagi?

Ya, hal tersebut adalah hal yang normal terjadi karena kondisi alamiah tubuh sebagai respons terhadap jam biologis tubuh. Namun, jika hasil pengukuran menunjukkan angka yang berlebihan maka perlu diwaspadai. Hal ini juga berlaku bagi penderita diabetes. Jika sudah rutin melakukan pengecekan dan pencatatan kenaikan kadar gula darah setelah bangun tidur dan didapatkan hasil yang naik secara signifikan, tentunya ini menjadi hal yang perlu diwaspadai oleh pasien. 

Penyebab Gula Darah Naik Setelah Bangun Pagi

1. Pengeluaran hormon antagonis insulin pada malam hari

Contoh hormon antagonis insulin adalah hormon pertumbuhan dan kortisol dimana keduanya dikeluarkan dari tubuh pada malam hari. Hormon kortisol akan merangsang tubuh mempersiapkan energi untuk pergerakan tubuh sehingga memberikan sinyal pada tubuh untuk memproduksi glukosa sehingga akan meningkatkan gula darah pada pagi hari. 

2. Resistensi insulin yang berhubungan dengan sindrom metabolik

Hal ini terjadi pada penderita diabetes yang kemudian memberikan sinyal kepada tubuh bahwa tubuh kekurangan glukosa sehingga tubuh perlu untuk memproduksi glukosa dan terjadilah hiperglikemia.

3. Dawn Phenomenon dan Somogyi Effect 

Dawn Phenomenon diperkenalkan oleh Dr. Schmidt yang mengemukakan bahwa kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) yang terjadi pada pagi hari disebabkan karena penurunan kadar insulin yang dikeluarkan pada malam hari dan meningkatkan konsentrasi hormon antagonis insulin (contoh: hormon pertumbuhan dan kortisol). Jadi, pada dawn phenomenon tidak terjadi episode kadar gula darah turun (hipoglikemia).

Somogyi effect merupakan teori yang diajukan oleh Dr. Michael Somogyi. Dia menyatakan bahwa hiperglikemia pada pagi hari terjadi karena reaksi tubuh terhadap hipoglikemia. Ketika gula darah turun pada tengah malam, menyebabkan proses pemecahan gula otot sehingga menyebabkan hiperglikemia. Namun, beberapa penelitian yang dilakukan dengan menggunakan continuous glucose monitoring (CGM) membantah teori ini sehingga teori ini masih diperdebatkan di kalangan peneliti.

Berbahayakah Gula Darah Naik Setelah Bangun Pagi?

Peningkatan kadar gula darah yang signifikan dapat menjadi hal yang berbahaya bagi kesehatan. Bagi orang sehat, hal ini dapat menjadi tanda waspada adanya penyakit metabolik. Bagi penderita diabetes yang kadar gula darahnya meningkat signifikan setelah bangun tidur, perlu melakukan evaluasi terapinya, baik terapi modifikasi gaya hidup maupun terapi obat. Jika kondisi ini diabaikan, maka dapat menimbulkan komplikasi seperti, neuropati (gangguan saraf), gangguan jantung, retinopati (gangguan penglihatan), dan gagal ginjal. 

Cara Mencegah/Mengatasi Gula Darah Naik Setelah Bangun Pagi

1. Atur pola makan saat makan malam

Mengatur pola makan pada malam hari dengan tidak makan terlalu larut dan makan makanan yang mengandung gizi seimbang. Hindari konsumsi karbohidrat terlalu banyak.

2. Olahraga

Olahraga dapat membantu menurunkan kadar gula darah karena glukosa digunakan untuk metabolisme tubuh selama olahraga. Pada penderita diabetes, olahraga juga bermanfaat untuk meningkatkan sensitivitas insulin. 

3. Melakukan pengecekan dan pencatatan kadar gula darah

Pada penderita diabetes yang rutin melakukan pengecekan kadar gula darah secara mandiri, dapat melakukan pengukuran kadar gula darah sebelum, di antara siklus tidur, dan setelah bangun pagi. Kemudian, lakukan pencatatan. Pengecekan kadar gula darah dapat dilakukan dengan bantuan alat blood glucose meter (BGM) atau continuous glucose monitoring (CGM). Dari hasil tersebut, dapat dikumpulkan dan dilihat bagaimana pola kadar gula darah sebelum, di antara siklus tidur, dan setelah bangun pagi. 

4. Mengidentifikasi Penyebab

Bagi pasien diabetes yang sudah melakukan pengukuran dan pencatatan kadar gula darah sebelum dan sesudah bangun tidur, dapat melakukan evaluasi, seperti makanan apa saja dan seberapa banyak yang dikonsumsi sebelum tidur, penggunaan obat, terutama pada pasien yang menggunakan terapi insulin, apakah pemilihan terapinya sudah tepat atau belum.

Kapan harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika mengalami kenaikan gula darah setelah bangun tidur yang signifikan atau drastis, Anda disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter di bawah ini:

1. Dokter Umum

Sebagai skrining awal terjadinya kenaikan gula darah saat bangun pagi, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter umum di fasilitas kesehatan pertama. 

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Anda juga bisa langsung berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk keluhan ini. Di samping itu, jika di fasilitas kesehatan pertama Anda didiagnosis diabetes, biasanya Anda akan dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait adanya komplikasi atau tidak.  

Konsultasi Gula Darah di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah atau mengalami prediabetes/diabetes, konsultasikan di Primecare Clinic. 

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.