46817-_1_-1200x800.webp

January 26, 2026 Primecare ClinicVaksin

Mungkin banyak orang yang mengira bahwa vaksin hepatitis B hanya diberikan kepada anak-anak. Sebenarnya, orang dewasa juga bisa vaksin hepatitis B, bahkan ada banyak manfaatnya. 

Jadi, siapa saja orang dewasa yang perlu vaksin hepatitis B? Bagaimana jadwal pemberiannya?

Apa Itu Vaksin Hepatitis B?

Vaksin Hepatitis B adalah vaksin yang berfungsi merangsang sistem imun untuk membentuk antibodi terhadap virus Hepatitis B, sehingga Anda bisa terlindungi dari infeksi hepatitis B.

Mengapa Orang Dewasa Perlu Vaksin Hepatitis B?

Banyak orang mengira vaksin Hepatitis B hanya untuk anak-anak. Faktanya, orang dewasa tetap berisiko tertular atau terinfeksi, terutama mereka yang aktif secara sosial, bekerja di sektor tertentu, atau sering bepergian.

Dengan vaksin hepatitis B, Anda bisa melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar Anda dari hepatitis B. Termasuk aman dari infeksi hepatitis B jika sering berpergian ke luar negeri, terutama daerah dengan sanitasi yang buruk.

Siapa yang Perlu Vaksin Hepatitis B untuk Orang Dewasa?

Berikut ini adalah kelompok orang dewasa yang direkomendasikan menerima vaksin Hepatitis B:

1. Orang Dewasa yang Belum Pernah Vaksin Hepatitis B atau Tidak Yakin dengan Status Vaksinasinya

Semua orang dewasa yang belum pernah menerima vaksin hepatitis B atau tidak yakin dengan status vaksinasinya.

2. Tenaga Kesehatan

Dokter, perawat, bidan, petugas laboratorium, atau staf administrasi di fasilitas kesehatan. Mereka rentan terkena infeksi hepatitis B, sehingga perlu perlindungan, yaitu dengan vaksin.

3. Pasangan atau Keluarga Pasien Hepatitis B

Orang yang tinggal serumah dengan penderita hepatitis B berisiko tertular, karena itu penting untuk vaksin hepatitis B.

4. Pelaku Perjalanan ke Negara Endemik Hepatitis B

Anda yang ingin ke negara dengan angka infeksi Hepatitis B tinggi tentu memerlukan perlindungan ekstra. Karena itu vaksin hepatitis B menjadi proteksi yang bagus untuk Anda.

5. Orang dengan Risiko Tertentu

Orang dengan risiko:

  • Mengidap diabetes
  • Memiliki penyakit ginjal kronis atau menjalani hemodialisis
  • Menggunakan narkoba via jarum suntik
  • Melakukan hubungan seksual yang berisiko

Sebaiknya mendapatkan vaksin hepatitis B.

Jadwal Vaksin Hepatitis B untuk Dewasa

Ada beberapa skema yang bisa digunakan, tergantung kondisi kesehatan dan jenis vaksin.

1. Jadwal Standar (0, 1, 6 bulan)

  • Dosis 1: Hari pertama
  • Dosis 2: 1 bulan setelah dosis pertama
  • Dosis 3: 6 bulan setelah dosis pertama

Ini merupakan jadwal yang paling umum untuk diimplementasikan.

2. Jadwal Cepat (0, 1, 2, 12 bulan)

Jadwal ini biasanya dipakai untuk kelompok rentan seperti tenaga kesehatan profesional.

3. Jadwal Super Cepat (0, 7, 21 hari + booster 12 bulan)

Jadwal ini biasanya dilakukan untuk pelancong, backpacker, atau orang yang ingin pergi ke luar negeri, terutama ke negara dengan sanitasi yang buruk atau banyak sekali kasus hepatitis B.

Efektivitas Vaksin Hepatitis B

Vaksin ini memiliki tingkat efektivitas tinggi dengan 90-95% penerima vaksin dewasa membentuk kekebalan penuh. Perlindungan dari vaksin ini bisa bertahan puluhan tahun dan booster tidak selalu diperlukan, kecuali untuk kelompok dengan risiko tinggi.

Efek Samping Vaksin Hepatitis B

Efek samping vaksin hepatitis B biasanya ringan, mencakup:

  • Nyeri atau kemerahan di area suntikan
  • Demam ringan
  • Pusing atau kelelahan
  • Nyeri otot

Efek samping berat apakah ada? Ada, tetapi kasusnya sangat jarang terjadi. 

Apakah Vaksin Hepatitis B Aman untuk Semua Orang Dewasa?

Secara umum vaksin hepatitis B aman untuk kalangan orang dewasa, tetapi sebaiknya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter jika Anda:

  • Sedang hamil
  • Punya alergi berat terhadap komponen vaksin
  • Sedang mengalami infeksi berat atau demam tinggi

Berapa Harga Vaksin Hepatitis B untuk Dewasa?

Harga bervariasi tergantung fasilitas kesehatan dan jenis vaksin. Di Primecare Clinic, harga vaksin hepatitis B adalah 248,000-461,000 rupiah, tergantung merek vaksinnya.

Kalau mau Vaksin Hepatitis B untuk Dewasa, harus ke Dokter Apa?

Dokter umum bisa melakukan vaksinasi hepatitis B untuk Anda yang sudah berusia dewasa. Berbeda dengan vaksin hepatitis B yang harus dilakukan dengan dokter spesialis anak.

Yuk Vaksin Hepatitis B!

Vaksin Hepatitis B adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang, terutama bagi orang dewasa yang belum pernah menerima vaksin sebelumnya. Dengan efektivitas tinggi, jadwal fleksibel, dan efek samping minimal, vaksin ini menjadi investasi kesehatan yang sangat berharga.

Jika Anda belum vaksin, segera konsultasikan dengan klinik atau fasilitas kesehatan terdekat untuk jadwal dan ketersediaan vaksin. 

Tersedia vaksin hepatitis B untuk orang dewasa di Primecare Clinic. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2852-1-1200x800.webp

January 22, 2026 Primecare ClinicDiabetes

Jengkol dikenal dengan aroma yang kuat dan rasa khas yang sering memunculkan pro dan kontra. Di balik karakteristik tersebut, jengkol kerap dikonsumsi sebagai lauk oleh sebagian masyarakat karena cita rasanya yang unik.

Namun bagi penderita diabetes, konsumsi jengkol tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kadar gula darah jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Jengkol?

Penderita diabetes masih boleh mengonsumsi jengkol, selama jumlahnya tidak berlebihan dan cara pengolahannya tepat. Jengkol memang bukan makanan manis, tetapi tetap mengandung karbohidrat yang dapat memengaruhi kadar gula darah apabila dikonsumsi dalam porsi besar.

Artinya, jengkol tidak perlu dihindari sepenuhnya, namun konsumsinya sebaiknya dibatasi dan tidak dijadikan lauk utama yang dikonsumsi terlalu sering.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Jengkol

Jengkol mengandung karbohidrat, protein nabati, serat, serta beberapa mineral seperti kalium. Kandungan serat di dalamnya berperan dalam memperlambat penyerapan glukosa ke dalam darah, sehingga kenaikan gula darah tidak terjadi terlalu cepat.

Data indeks glikemik jengkol secara spesifik masih terbatas. Namun, karena jengkol bukan termasuk karbohidrat olahan seperti nasi putih atau tepung, respons kenaikan gula darahnya cenderung lebih lambat. Meski demikian, beban glikemik tetap dapat meningkat jika jengkol dikonsumsi dalam jumlah besar. 

Manfaat Jengkol bagi Penderita Diabetes

Beberapa sumber menyebutkan bahwa jengkol memiliki potensi manfaat jika dikonsumsi dalam jumlah wajar, di antaranya:

1. Membantu Menjaga Kadar Gula Darah

Penelitian awal, terutama pada studi hewan, menunjukkan bahwa jengkol berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah dengan mendukung kerja insulin. Namun, temuan ini masih memerlukan penelitian lanjutan pada manusia.

2. Mengandung Antioksidan

Jengkol mengandung senyawa antioksidan seperti flavonoid dan polifenol yang berperan dalam melawan stres oksidatif. Kondisi stres oksidatif diketahui berhubungan dengan risiko komplikasi pada diabetes.

Perlu ditekankan bahwa manfaat tersebut tidak menjadikan jengkol sebagai makanan terapi, melainkan hanya bagian dari variasi menu jika dikonsumsi dengan bijak.

Bahaya Makan Jengkol Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Jika dikonsumsi secara berlebihan, jengkol dapat menimbulkan beberapa risiko, terutama bagi penderita diabetes:

1. Kenaikan Gula Darah

Asupan karbohidrat yang berlebihan tetap dapat memicu lonjakan gula darah, terutama jika jengkol dikonsumsi bersama nasi dalam porsi besar dan bersama makanan tinggi indeks glikemik lainnya.

2. Gangguan Ginjal

Jengkol mengandung asam jengkolat, senyawa yang dapat membentuk kristal dan membebani kerja ginjal bila dikonsumsi dalam jumlah banyak. Risiko ini lebih perlu diperhatikan pada penderita diabetes yang sudah memiliki gangguan fungsi ginjal.

Cara Makan Jengkol yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar konsumsi jengkol tetap relatif aman, beberapa hal berikut dapat diperhatikan:

1. Batasi Porsi dan Frekuensi

Jengkol sebaiknya dikonsumsi dalam porsi kecil dan tidak terlalu sering.

2. Perhatikan Cara Pengolahan

Hindari olahan jengkol dengan santan kental, gula, atau kecap manis berlebihan. Pilih olahan dengan bumbu minimal.

3. Atur Kombinasi Makanan

Jangan mengonsumsi jengkol bersamaan dengan nasi dalam jumlah besar. Mengombinasikannya dengan sayur dan sumber protein dapat membantu menjaga kestabilan gula darah.

4. Perhatikan Respons Tubuh

Setiap orang bisa memiliki respons gula darah yang berbeda. Jika setelah makan jengkol gula darah cenderung meningkat, konsumsinya perlu dikurangi atau dihindari.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes disarankan berkonsultasi ke dokter apabila gula darah sering meningkat setelah mengonsumsi jengkol. Dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu mengevaluasi kontrol diabetes secara keseluruhan. 

Selain itu, konsultasi dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik dapat membantu menyusun porsi dan pola makan yang lebih aman serta sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


85732-1-1200x800.webp

January 22, 2026 Primecare ClinicDiabetes

Kue sering hadir dalam berbagai momen, mulai dari camilan harian hingga acara keluarga dan perayaan tertentu. Teksturnya yang lembut dan rasa manisnya membuat kue mudah disukai banyak orang. Namun, bagi penderita diabetes, konsumsi kue kerap menimbulkan dilema karena umumnya mengandung gula dan tepung dalam jumlah cukup tinggi.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Kue?

Penderita diabetes tidak harus sepenuhnya menghindari kue, tetapi konsumsinya perlu dibatasi dengan cermat. Sebagian besar kue dibuat dari tepung halus dan gula, dua komponen yang dapat meningkatkan kadar gula darah dalam waktu relatif cepat.

Jika dikonsumsi sesekali, dalam porsi kecil, dan sebagai bagian dari pola makan yang terkontrol, kue masih dapat dinikmati. 

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Kue

Secara umum, kue mengandung karbohidrat dari tepung dan gula sebagai komponen utama, lemak dari mentega atau margarin, protein dalam jumlah kecil dari telur atau susu, serta kandungan serat pada kue umumnya rendah. 

Sebagian besar kue memiliki indeks glikemik (IG) tinggi, sehingga dapat meningkatkan gula darah dengan cepat setelah dikonsumsi. Kondisi ini membuat kue perlu dikonsumsi secara hati-hati oleh penderita diabetes.

Bahaya Makan Kue Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Konsumsi kue berlebihan dapat menimbulkan beberapa risiko berikut:

1. Gula Darah Mudah Naik

Kombinasi tepung dan gula membuat kue mudah meningkatkan kadar gula darah setelah makan, terutama jika dikonsumsi tanpa pendamping makanan berserat atau protein.

2. Kontrol Diabetes Jadi Kurang Stabil

Konsumsi kue yang terlalu sering dapat membuat pola gula darah sulit diprediksi, sehingga menyulitkan pengelolaan diabetes dalam jangka panjang.

3. Asupan Kalori Berlebih

Banyak kue mengandung kalori tinggi dari gula dan lemak. Jika dikonsumsi berulang, hal ini dapat memicu kenaikan berat badan, yang berkaitan erat dengan resistensi insulin.

Cara Makan Kue yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap bisa menikmati kue tanpa memperburuk kondisi gula darah, beberapa hal berikut perlu diperhatikan.

1. Batasi Porsi

Cukup satu potong kecil dan tidak perlu menambah porsi kedua. Porsi merupakan faktor utama yang memengaruhi respons gula darah.

2. Perhatikan Jenis Kue

Jika memungkinkan, pilih kue dengan kandungan gula lebih rendah, menggunakan tepung gandum, atau memiliki tambahan serat seperti kacang atau biji-bijian.

3. Jangan Dijadikan Camilan Harian

Kue sebaiknya hanya dikonsumsi sesekali, bukan sebagai camilan rutin setiap hari.

4. Hindari Kombinasi dengan Minuman Manis

Mengonsumsi kue bersama teh manis atau minuman manis lain akan meningkatkan total asupan gula dalam satu waktu.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi ke dokter apabila gula darah sulit terkendali setelah mengonsumsi kue. Evaluasi dapat dilakukan bersama dokter spesialis penyakit dalam untuk menilai kondisi metabolik dan terapi yang sedang dijalani. Selain itu, konsultasi dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik juga penting untuk membantu menentukan porsi makanan manis yang masih aman dan menyusun pola makan yang lebih sesuai dengan kondisi tubuh.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


82046-_1_-1200x800.webp

January 22, 2026 Primecare ClinicDiabetes

Biskuit sering dipilih sebagai camilan karena mudah disimpan dan tersedia dalam berbagai situasi. Namun di balik kepraktisannya, biskuit umumnya dibuat dari tepung halus, gula, dan lemak tambahan yang dapat memengaruhi kadar gula darah jika dikonsumsi tanpa kontrol.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Biskuit?

Penderita diabetes masih boleh mengonsumsi biskuit, dengan catatan jumlah dan jenisnya dikontrol dengan cermat. Sebagian besar biskuit merupakan produk olahan yang mengandung karbohidrat sederhana, sehingga berpotensi meningkatkan gula darah lebih cepat.

Jika dikonsumsi sesekali dalam porsi kecil, biskuit masih dapat masuk dalam pola makan penderita diabetes. Namun, kebiasaan ngemil biskuit tanpa perhitungan porsi dapat membuat gula darah lebih sulit dikendalikan.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Biskuit

Secara umum, biskuit mengandung karbohidrat sebagai komponen utama, lemak dari margarin atau mentega, serta protein dan serat dalam jumlah kecil. 

Sebagian besar biskuit memiliki indeks glikemik sedang hingga tinggi, tergantung pada kandungan gula, jenis tepung, dan teksturnya. Biskuit yang manis dan renyah cenderung lebih cepat dicerna sehingga dapat meningkatkan gula darah lebih cepat. Beban glikemiknya juga dapat menjadi tinggi jika dikonsumsi dalam porsi besar atau berulang dalam satu hari.

Bahaya Makan Biskuit Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Konsumsi biskuit berlebihan dapat menimbulkan beberapa risiko berikut:

1. Pola Gula Darah Menjadi Sulit Diprediksi

Konsumsi biskuit yang terlalu sering, meskipun dalam porsi kecil, dapat memicu kenaikan gula darah berulang dalam sehari. Kondisi ini membuat pengelolaan gula darah menjadi kurang stabil dan lebih sulit dikendalikan dalam jangka panjang.

2. Risiko Kenaikan Berat Badan yang Memengaruhi Sensitivitas Insulin

Biskuit menyumbang kalori tambahan tanpa memberi rasa kenyang yang bertahan lama. Jika dikonsumsi secara rutin, asupan energi harian dapat meningkat tanpa disadari, sehingga berisiko memicu kenaikan berat badan dan menurunkan sensitivitas insulin.

Cara Makan Biskuit yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap aman dikonsumsi, beberapa prinsip berikut perlu diperhatikan.

1. Tentukan Porsi Sejak Awal

Ambil satu hingga dua keping saja, lalu simpan kembali kemasannya. Cara ini membantu mencegah makan berlebihan tanpa sadar.

2. Perhatikan Komposisi, Bukan Hanya Rasa 

Pilih biskuit dengan kandungan gula lebih rendah, menggunakan gandum utuh, dan memiliki serat lebih tinggi dibanding biskuit biasa.

3. Hindari Kombinasi dengan Minuman Manis

Teh manis, kopi susu, atau minuman berpemanis akan menambah beban gula secara signifikan saat dikonsumsi bersama biskuit.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi ke dokter apabila gula darah sulit dikendalikan setelah mengonsumsi biskuit. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk mengevaluasi kondisi metabolik dan pengobatan yang dijalani. 

Selain itu, konsultasi dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik dapat membantu menentukan jenis dan porsi camilan yang lebih aman agar pola makan tetap seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


67131-1-1200x800.webp

Rambut rontok bisa terjadi pada baik itu laki-laki dan perempuan. Terkadang, rambut rontok ini bisa membuat stres. Bahkan, ada momen di mana Anda sebaiknya ke dokter karena masalah rambut rontok.

Pertanyaannya, kalau rambut rontok, maka harus ke dokter apa? Ini dia jawabannya!

Periksa Rambut Rontok, harus ke Dokter Apa?

1. Dokter Spesialis Kulit (Dermatolog)

Dokter spesialis kulit atau dermatolog adalah dokter utama yang menangani masalah rambut dan kulit kepala. Masalah pada rambut dan kepala ini meliputi:

  • Rambut rontok secara berlebihan
  • Ketombe dalam jumlah banyak
  • Alopecia (kebotakan)
  • Radang pada kulit kepala
  • Kulit kepala mengalami infeksi jamur atau bakteri 

Dermatolog atau dokter spesialis kulit dapat mendiagnosis penyebab kerontokan rambut  dan memberikan terapi, mulai dari obat luar, obat oral (melalui mulut), hingga tindakan medis.

2. Dokter Umum

Jika Anda belum yakin penyebab kerontokan pada rambut, maka Anda bisa mulai lewat berkonsultasi dengan dokter umum.

Dokter umum akan menilai kondisi awal dan menentukan apakah Anda perlu dirujuk ke dokter kulit atau spesialis lainnya, sesuai dengan penyebab dari rambut rontok.

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau Endokrinolog

Kerontokan rambut juga bisa saja disebabkan oleh gangguan hormon, seperti:

  • Tiroid (hipotiroid(kekurangan hormon tiroid) atau hipertiroid (kelebihan hormon tiroid))
  • PCOS (khusus perempuan)
  • Ketidakseimbangan hormon androgen

Jika dokter curiga ada masalah terkait hormon,, Anda bisa dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam atau dokter spesialis endokrin.

4. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Rambut rontok juga dapat terjadi karena tubuh kekurangan zat gizi. Zat gizi tersebut adalah:

  • Zat besi
  • Zinc (seng)
  • Protein
  • Vitamin D
  • Vitamin B kompleks
  • Vitamin A
  • Vitamin E
  • Biotin

Konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik bisa membantu memperbaiki pola makan dan asupan zat gizi yang bisa mendukung pertumbuhan rambut dan mencegah kasus rambut rontok.

Berbagai Jenis Pemeriksaan untuk Rambut Rontok

Berikut ini adalah berbagai jenis pemeriksaan untuk rambut rontok

1. Pemeriksaan Fisik Kulit Kepala

Pemeriksaan ini akan menilai kondisi kulit kepala, ketebalan rambut, area yang menipis, dan kemungkinan terjadinya infeksi.

2. Trichoscopy

Pemeriksaan ini menggunakan alat pembesar untuk melihat akar rambut dan struktur kulit kepala secara detail, sehingga diagnosa penyebab rambut rontok bisa diketahui.

3. Tes Darah

Tes darah untuk kasus rambut rontok bisa dilakukan untuk memeriksa:

  • Kadar hormon
  • Fungsi tiroid
  • Kadar hemoglobin dan zat besi
  • Vitamin D dan B12

Hal ini sesuai dengan sub penjelasan pada dokter spesialis gizi dan dokter spesialis penyakit dalam di atas. Kekurangan zat gizi dan gangguan hormon akan menyebabkan rambut rontok.

4. Biopsi Kulit Kepala

Pada kasus tertentu seperti alopecia scarring, dokter dapat mengambil sedikit sampel kulit kepala untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kapan Harus Memeriksakan Rambut Rontok ke Dokter?

Anda sebaiknya segera ke dokter terkait rambut rontok ketika memiliki kondisi berikut:

  • Rambut rontok dengan kecepatan rontok yang sangat tinggi, lebih dari 100 helai per hari
  • Timbul kebotakan berbentuk lingkaran (alopecia areata)
  • Rambut menipis dengan cepat dan dalam waktu singkat
  • Ada kemerahan, gatal, atau luka di kulit kepala
  • Kerontokan rambut terjadi setelah melahirkan, stres berat, atau penyakit tertentu
  • Rambut rontok ini membuat Anda tidak percaya diri atau cemas, bahkan tidak mau beraktivitas (gangguan pada aktivitas sehari-hari)

Jangan Ragu untuk Konsultasi ke Dokter Terkait Rambut Rontok

Terdapat banyak pilihan dokter jika Anda mengalami masalah rambut rontok, yaitu dokter umum, dokter spesialis kulit/dermatolog, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter spesialis gizi klinik. Jangan ragu untuk konsultasi dengan mereka.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter umum dan dokter spesialis (kulit/dermatolog, penyakit dalam, dan gizi), baik itu di cabang Panglima Polim Kebayoran Baru, atau pun Tebet, Jakarta Selatan. Anda ingin konsultasi terkait rambut rontok? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Note: Dokter spesialis gizi hanya tersedia di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.


1279-1-1200x960.webp

January 20, 2026 Primecare ClinicDiabetes

Sushi dikenal sebagai salah satu makanan khas Jepang yang populer di banyak negara, termasuk Indonesia. Kombinasi nasi, ikan, dan sayuran membuat sushi sering dianggap sebagai pilihan makan yang relatif sehat. Namun, bagi penderita diabetes, komposisi nasi dan cara penyajiannya tetap perlu menjadi perhatian khusus.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Sushi?

Secara umum penderita diabetes tetap boleh mengonsumsi sushi, selama porsinya terkontrol dan jenis sushi yang dipilih lebih sehat. Nasi sushi biasanya dicampur cuka dan terkadang ada tambahan gula, sehingga tetap berpotensi meningkatkan gula darah. 

Meski begitu, kandungan ikan dan sayuran di dalam sushi dapat memberikan protein dan serat yang membantu menyeimbangkan respons gula darah. Oleh karena itu, pemilihan jenis sushi dan pengaturan porsi menjadi hal yang penting.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Sushi

Kandungan gizi sushi sangat bergantung pada jenis dan cara penyajiannya. Secara umum, sushi mengandung nasi putih sebagai sumber karbohidrat, ikan atau seafood sebagai sumber protein dan lemak sehat, serta sayuran seperti timun dan rumput laut. Pada beberapa jenis sushi, terdapat pula tambahan saus seperti mayones atau saus manis yang dapat meningkatkan kandungan kalori dan gula.

Berdasarkan beberapa data, indeks glikemik sushi dapat berada di kisaran sedang, tergantung pada jenis sushi dan jumlah nasi yang digunakan. Penambahan cuka pada nasi sushi memang dapat sedikit membantu memperlambat respons glikemik, namun hal ini tidak menghilangkan efek karbohidrat dari nasi putih itu sendiri.

Bahaya Makan Sushi Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah besar, sushi dapat meningkatkan beberapa risiko berikut:

1. Lonjakan Gula Darah

Dominasi nasi pada sushi dapat menyebabkan peningkatan gula darah yang cukup signifikan, terutama pada sushi roll dengan porsi nasi lebih banyak dibandingkan isiannya.

2. Asupan Kalori Berlebih

Jenis sushi tertentu mengandung mayones, saus manis, atau digoreng (tempura). Hal ini meningkatkan kalori dan lemak, yang dapat berdampak pada kenaikan berat badan bila dikonsumsi berlebihan.

3. Asupan Natrium Tinggi

Kecap asin (soy sauce) yang biasa digunakan sebagai cocolan mengandung natrium tinggi. Asupan garam berlebih dapat meningkatkan tekanan darah, yang perlu diwaspadai pada penderita diabetes.

4. Risiko Keamanan Pangan

Pada sushi berbahan ikan mentah, terdapat potensi paparan bakteri atau parasit jika tidak diolah dengan higienis. Hal ini perlu diperhatikan terutama pada individu dengan sistem imun yang lebih rentan.

Cara Makan Sushi dengan Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap dapat menikmati sushi tanpa mengganggu kontrol gula darah, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:

1. Batasi Porsi

Konsumsi sushi dalam jumlah wajar untuk menjaga asupan karbohidrat tetap terkendali.

2. Pilih Jenis Sushi yang Lebih Sehat

Utamakan sushi dengan lebih banyak ikan dan sayuran, pilih sushi dengan porsi nasi lebih sedikit. Hindari sushi goreng atau yang menggunakan saus manis.

3. Gunakan Kecap Asin Secukupnya

Batasi penggunaan kecap asin, dan pilih versi rendah natrium jika tersedia.

4. Perhatikan Kombinasi Menu

Sebaiknya hindari mengombinasikan sushi dengan sumber karbohidrat lain atau minuman manis dalam satu waktu makan.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes disarankan berkonsultasi ke dokter apabila gula darah meningkat setelah mengonsumsi sushi. Konsultasi dapat dilakukan dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk evaluasi kondisi medis, serta dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik untuk membantu mengatur pola makan yang sesuai.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2150408142-_1_-1200x800.webp

January 20, 2026 Primecare ClinicDiabetes

Kacang goreng sering menjadi camilan yang mudah ditemui di berbagai situasi. Rasanya gurih dan teksturnya renyah membuat kacang goreng kerap dianggap camilan “ringan”, padahal kandungan kalorinya cukup tinggi.

Pola makan sedikit demi sedikit juga membuat konsumsi kacang goreng sering tidak disadari jumlahnya. Kondisi inilah yang kemudian menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi penderita diabetes yang perlu mengontrol asupan harian dengan lebih cermat.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Kacang Goreng?

Penderita diabetes pada dasarnya masih boleh mengonsumsi kacang goreng. Kacang termasuk bahan pangan dengan indeks glikemik rendah dan mengandung protein serta lemak yang dapat membantu menahan rasa lapar. 

Masalah utama kacang goreng bukan pada kandungan gulanya, melainkan pada kalori dan lemak yang meningkat akibat proses penggorengan. Jika dikonsumsi berlebihan, asupan energi bisa meningkat tanpa disadari dan berdampak pada pengendalian gula darah serta berat badan.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Kacang Goreng

Kacang tanah mengandung kombinasi zat gizi yang cukup lengkap. Di dalamnya terdapat protein nabati yang membantu memberi rasa kenyang, lemak tak jenuh yang berperan dalam menjaga kesehatan jantung, serta serat yang dapat memperlambat penyerapan glukosa ke dalam darah.

Selain itu, kacang juga mengandung beberapa vitamin B dan mineral seperti magnesium, yang berperan dalam metabolisme energi dan pengaturan gula darah.

Berdasarkan data yang tersedia, indeks glikemik kacang tanah berada di kisaran 15, sehingga tidak menyebabkan kenaikan gula darah secara cepat. Beban glikemiknya juga tergolong rendah, yakni sekitar 2,4, jika dikonsumsi dalam porsi kecil.

Meski demikian, ketika kacang diolah dengan cara digoreng, kandungan lemak dan kalorinya meningkat. Oleh karena itu, konsumsinya tetap perlu dibatasi.

Bahaya Makan Kacang Goreng Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah besar, kacang goreng dapat menimbulkan beberapa risiko berikut:

1. Kenaikan Berat Badan

Rasa gurih dan teksturnya yang renyah membuat kacang goreng mudah dikonsumsi berlebihan. Asupan kalori yang meningkat tanpa disadari dapat memperburuk resistensi insulin, sehingga pengendalian gula darah menjadi lebih sulit.

2. Asupan garam berlebih

Sebagian kacang goreng ditambahkan garam dalam jumlah cukup tinggi. Konsumsi natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, yang sering menjadi kondisi penyerta pada penderita diabetes dan dapat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular.

Cara Makan Kacang Goreng dengan Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap dapat dikonsumsi tanpa mengganggu kontrol gula darah, beberapa hal berikut dapat diperhatikan:

1. Batasi Porsi Konsumsi

Kacang goreng sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah kecil, misalnya sekitar satu genggam kecil, untuk membantu membatasi asupan kalori.

2. Pilih Kacang yang Tidak Terlalu Asin

Kacang goreng dengan kandungan garam tinggi sebaiknya dihindari agar asupan natrium tetap terkendali.

3. Perhatikan Kualitas Minyak Goreng

Hindari kacang yang digoreng menggunakan minyak berkualitas buruk atau minyak yang digunakan berulang kali, karena lemak tidak sehat dapat berdampak negatif pada metabolisme dan kesehatan jantung.

4. Hindari Kombinasi dengan Camilan Tinggi Kalori

Mengonsumsi kacang goreng bersamaan dengan makanan tinggi gula atau lemak dapat membuat asupan energi melonjak tanpa disadari.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi ke dokter jika gula darah sering meningkat setelah mengonsumsi kacang goreng. 

Konsultasi dapat dilakukan dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk evaluasi kondisi diabetes secara menyeluruh, serta dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik untuk membantu menyesuaikan pola makan yang aman dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!



January 15, 2026 Primecare ClinicDiabetes

Cilok merupakan jajanan berbahan dasar tepung tapioka yang dikenal dengan teksturnya yang kenyal. Makanan ini mudah ditemukan di berbagai daerah dan sering disajikan dengan saus kacang, saus sambal, atau kecap. 

Bagi sebagian orang, cilok terasa mengenyangkan meski porsinya terlihat kecil. Namun bagi penderita diabetes, makanan berbahan tepung seperti cilok kerap menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi memengaruhi kadar gula darah.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Cilok?

Penderita diabetes masih boleh mengonsumsi cilok, tetapi dengan batasan ketat. Cilok termasuk makanan yang hampir seluruh kandungannya berupa karbohidrat sederhana, sehingga dapat meningkatkan gula darah dengan cepat jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Jika dikonsumsi sesekali, dalam porsi kecil, dan tidak menjadi camilan rutin, cilok masih bisa dinikmati. Namun, secara umum cilok bukan pilihan camilan yang dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Cilok

Bahan utama cilok adalah tepung tapioka yang mengandung karbohidrat tinggi dengan kandungan serat yang sangat rendah. Cilok umumnya hanya mengandung sedikit protein dan hampir tidak menyumbang vitamin maupun mineral dalam jumlah bermakna, kecuali jika ditambahkan isian tertentu seperti daging atau ayam.

Berdasarkan data yang tersedia, tepung tapioka memiliki indeks glikemik yang tinggi (85) sehingga karbohidrat di dalamnya mudah diubah menjadi glukosa di dalam tubuh. Dalam porsi yang cukup besar, beban glikemik cilok juga dapat menjadi tinggi dan memicu lonjakan gula darah setelah makan.

Selain itu, penggunaan saus pendamping seperti saus kacang, saus manis, atau kecap dapat menambah asupan gula dan kalori, sehingga dampaknya terhadap gula darah menjadi lebih besar.

Bahaya Makan Cilok Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam porsi besar, cilok dapat menimbulkan beberapa risiko berikut.

1. Lonjakan Gula Darah 

Kandungan karbohidrat sederhana yang tinggi membuat cilok dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat, terutama jika dikonsumsi tanpa pendamping protein atau serat.

2. Kontrol Gula Darah Menjadi Kurang Stabil

Konsumsi camilan tinggi karbohidrat sederhana secara berulang dapat membuat pola gula darah sulit dikendalikan dalam jangka panjang.

3. Asupan Kalori Bertambah Tanpa Nilai Gizi Seimbang

Cilok relatif tinggi kalori tetapi rendah zat gizi penting. Jika sering dikonsumsi, makanan ini dapat menggantikan asupan makanan yang lebih bergizi.

Cara Makan Cilok yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar risiko terhadap gula darah dapat diminimalkan, beberapa hal berikut perlu diperhatikan.

1. Batasi Porsi

Cilok sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah sangat terbatas, misalnya hanya 1-2 butir.

2. Perhatikan Saus Pendamping

Batasi penggunaan saus kacang, saus manis, atau kecap karena dapat memperbesar lonjakan gula darah.

3. Jangan Dijadikan Camilan Rutin

Cilok sebaiknya dikonsumsi hanya sesekali, saat benar-benar sedang menginginkannya, bukan sebagai camilan yang sering atau harian.

4. Kombinasikan dengan Protein atau Serat

Jika tersedia, pilih cilok dengan isian daging atau ayam. Kandungan protein dapat membantu memperlambat penyerapan glukosa. Alternatifnya, cilok bisa dikonsumsi setelah makan utama yang sudah mengandung protein dan serat.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi ke dokter apabila gula darah tidak terkendali setelah mencoba mengonsumsi cilok. Evaluasi dapat dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam untuk menilai kontrol diabetes dan pengobatan yang sedang dijalani. 

Selain itu, konsultasi dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik dapat membantu menyusun pilihan camilan yang lebih aman dan sesuai dengan kondisi gula darah masing-masing.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


843-_1_-1200x800.webp

Ketan hitam sering dikonsumsi sebagai bubur atau diolah menjadi berbagai kue tradisional. Teksturnya yang pulen dan rasanya yang khas membuat bahan pangan ini populer sebagai hidangan selingan maupun makanan penutup.

Namun bagi penderita diabetes, konsumsi ketan hitam perlu diperhatikan karena beras ketan tetap merupakan sumber karbohidrat yang dapat memengaruhi kadar gula darah, terutama bila dikonsumsi dalam porsi besar atau diolah dengan tambahan gula.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Ketan Hitam?

Penderita diabetes masih boleh mengonsumsi ketan hitam, asalkan porsinya dibatasi dan cara penyajiannya diperhatikan. Dalam jumlah wajar dan sebagai bagian dari pola makan seimbang, ketan hitam dapat dikonsumsi sesekali, bukan sebagai menu harian atau sumber karbohidrat utama.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Ketan Hitam

Ketan hitam mengandung pigmen antosianin, yaitu senyawa alami yang memberi warna ungu kehitaman. Secara umum, ketan hitam mengandung karbohidrat, serat pangan, protein, serta beberapa mineral. Kandungan serat dan pigmen antosianin ini berperan dalam memperlambat penyerapan karbohidrat dan mendukung aktivitas antioksidan di dalam tubuh.

Data indeks glikemik ketan hitam memang masih terbatas dan dapat bervariasi tergantung cara pengolahan. Oleh karena itu, meskipun ketan hitam memiliki kandungan gizi tambahan dibandingkan nasi putih, pengaturan porsi tetap menjadi faktor utama bagi penderita diabetes.

Bahaya Makan Ketan Hitam Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Jika dikonsumsi dalam porsi besar atau terlalu sering, ketan hitam dapat memicu beberapa risiko berikut:

1. Meningkatkan Asupan Kalori

Sebagian besar olahan ketan hitam, seperti bubur atau kue tradisional umumnya menggunakan tambahan gula dan santan. Hal ini membuat total kalori lebih tinggi dan berpotensi memicu kenaikan berat badan jika dikonsumsi terlalu sering.

2. Memicu Lonjakan Gula Darah

Karbohidrat pada ketan hitam akan dipecah menjadi glukosa di dalam tubuh. Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, kadar gula darah dapat meningkat lebih cepat setelah makan.

3. Mengganggu Kontrol Diabetes

Kenaikan gula darah yang berulang setelah makan dapat membuat pengendalian diabetes menjadi kurang stabil dan berpotensi meningkatkan risiko komplikasi metabolik dalam jangka panjang.

Cara Makan Ketan Hitam yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap dapat menikmati ketan hitam tanpa mengganggu kontrol gula darah, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:

1. Batasi Porsi dan Frekuensi

Ketan hitam sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah kecil dan hanya dikonsumsi sesekali saja.

2. Kurangi atau Hindari Gula Tambahan

Jika dimasak menjadi bubur atau dessert, penggunaan gula sebaiknya dibatasi. Penambahan gula dapat membuat lonjakan gula darah lebih tinggi.

3. Pilih Pendamping yang Lebih Sehat

Penggunaan santan sebaiknya dibatasi atau diganti dengan bahan yang lebih rendah lemak untuk menekan asupan kalori berlebih.

  • Perhatikan Respons Gula Darah

Jika memungkinkan, cek gula darah setelah makan untuk melihat bagaimana tubuh merespons makanan ini.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes disarankan berkonsultasi ke dokter apabila gula darah meningkat tajam setelah mengonsumsi ketan hitam. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk evaluasi kondisi dan terapi yang dijalani, serta dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik untuk menentukan pola makan dan porsi yang aman sesuai kebutuhan tubuh.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


4010-1-1200x801.webp

January 13, 2026 Primecare ClinicDiabetes

Nasi goreng merupakan salah satu hidangan yang sangat akrab di meja makan masyarakat Indonesia. Rasanya gurih, aromanya menggugah selera, dan mudah dipadukan dengan berbagai lauk. Namun, penggunaan nasi sebagai bahan utama serta proses memasak dengan minyak dan kecap membuat nasi goreng perlu dikonsumsi dengan lebih hati-hati oleh penderita diabetes.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Nasi Goreng?

Penderita diabetes masih boleh mengonsumsi nasi goreng, tetapi tidak secara bebas. Nasi goreng tetap merupakan sumber karbohidrat utama yang dapat meningkatkan kadar gula darah, terutama jika porsinya besar atau dimasak dengan banyak minyak dan tambahan kecap manis.

Jika dikonsumsi sesekali, dengan porsi terkontrol dan komposisi yang lebih seimbang, nasi goreng masih dapat masuk dalam pola makan penderita diabetes. Kuncinya ada pada pengaturan porsi dan cara pengolahannya.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Nasi Goreng

Komponen utama nasi goreng adalah nasi putih, yang termasuk sumber karbohidrat dengan indeks glikemik relatif tinggi. Selain itu, nasi goreng juga mengandung lemak dari minyak goreng, protein dari telur atau lauk tambahan, serta natrium dari bumbu dan kecap.

Indeks glikemik nasi goreng dapat bervariasi tergantung bahan dan cara memasaknya. Penambahan protein dan lemak dapat sedikit memperlambat penyerapan glukosa. Namun, beban glikemik tetap dapat menjadi tinggi apabila porsi nasi yang digunakan cukup besar.

Bahaya Makan Nasi Goreng Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam porsi besar, nasi goreng dapat menimbulkan beberapa risiko berikut:

1. Lonjakan Gula Darah Setelah Makan

Nasi putih sebagai bahan utama akan diubah menjadi glukosa di dalam tubuh. Porsi besar dapat menyebabkan kenaikan gula darah yang cukup signifikan setelah makan.

2. Kontrol Diabetes Menjadi Kurang Optimal

Gula darah yang sering melonjak setelah makan dapat menyulitkan pengelolaan diabetes dalam jangka panjang dan meningkatkan risiko komplikasi metabolik.

3. Asupan Lemak dan Kalori Berlebih

Penggunaan minyak yang banyak membuat nasi goreng tinggi kalori. Jika dikonsumsi berlebihan, kondisi ini dapat memicu kenaikan berat badan dan memperburuk resistensi insulin.

Cara Makan Nasi Goreng yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap dapat menikmati nasi goreng tanpa mengganggu kontrol gula darah, beberapa hal berikut perlu diperhatikan:

1. Batasi Porsi Nasi

Pengurangan jumlah nasi merupakan langkah utama untuk menekan asupan karbohidrat dan mencegah lonjakan gula darah.

2. Kurangi Minyak dan Kecap Manis

Minyak dan kecap manis sebaiknya digunakan secukupnya. Kecap manis mengandung gula tambahan, sedangkan minyak berlebih meningkatkan asupan kalori yang dapat memengaruhi kontrol gula darah.

3. Tambahkan Protein dan Sayuran

Penambahan protein seperti telur, ayam tanpa kulit, tahu, atau tempe membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Sayuran seperti kol, wortel, atau buncis menambah asupan serat yang berperan dalam memperlambat penyerapan glukosa.

4. Hindari Pendamping Tinggi Karbohidrat

Kondimen tambahan seperti kerupuk, bihun, dan mie (biasanya di nasi goreng mawut) sebaiknya dihindari agar total asupan karbohidrat dalam satu waktu makan tidak berlebihan.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes disarankan berkonsultasi ke dokter apabila gula darah sering meningkat tajam setelah mengonsumsi nasi goreng. 

Evaluasi dapat dilakukan dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk menilai kontrol gula darah dan pengobatan yang dijalani. Selain itu, konsultasi dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik dapat membantu menentukan porsi dan komposisi nasi goreng yang lebih aman agar pola makan tetap seimbang dan sesuai dengan kondisi tubuh.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.