Berkeringat adalah mekanisme tubuh untuk menurunkan dan menjaga suhu tubuh agar tetap stabil. Pasalnya, suhu tubuh yang terlalu tinggi dapat berbahaya bagi tubuh. Tubuh akan mengeluarkan keringat ketika cuaca panas, saat berolahraga atau aktivitas fisik, serta saat sedang gugup.
Namun, kamu perlu waspada jika sering berkeringat, bahkan ketika sedang santai, cuaca sejuk dan tidak panas. Sering berkeringat bisa menjadi gejala adanya masalah kesehatan, salah satunya diabetes. Apakah kondisi ini berbahaya dan bagaimana mengatasinya? Yuk, cek faktanya di artikel ini!
Apa itu Gejala Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes?
Sering berkeringat pada penderita diabetes adalah kondisi saat tubuh memproduksi keringat berlebih tanpa pemicu yang jelas. Dalam bahasa medis, sering berkeringat berlebih tanpa sebab yang jelas disebut hiperhidrosis.
Berkeringat adalah salah satu cara tubuh untuk menjaga suhu agar tetap stabil. Di kulit kita terdapat ribuan kelenjar keringat yang berfungsi untuk mengeluarkan cairan ke permukaan kulit. Proses ini diatur oleh bagian otak yang bertugas mengatur suhu tubuh.
Ketika suhu tubuh meningkat, baik karena cuaca panas, aktivitas fisik, atau kondisi emosional seperti stres, otak akan mengirim sinyal ke sistem saraf yang mengatur produksi keringat. Sinyal ini kemudian merangsang kelenjar keringat untuk memproduksi cairan. Saat keringat keluar ke permukaan kulit, suhu tubuh pun ikut turun.
Selain dipengaruhi oleh suhu dan aktivitas fisik, keringat juga bisa dipicu oleh perubahan hormon dan kadar gula darah. Penderita diabetes dapat mengalami gejala sering berkeringat terutama pada kondisi hipoglikemia, yaitu saat kadar gula darah terlalu rendah.
Apakah Sering Berkeringat Selalu Menjadi Gejala Diabetes?
Penderita diabetes tidak selalu mengalami gejala sering berkeringat. Selain itu, sering berkeringat juga dapat disebabkan oleh berbagai penyebab. Berikut beberapa penyebab seseorang sering berkeringat:
1. Cuaca Panas dan Aktivitas Fisik
Saat suhu lingkungan tinggi, tubuh banyak bergerak, dan beraktivitas, kelenjar keringat akan bekerja lebih aktif untuk menjaga suhu tubuh tetap normal.
2. Stres, Cemas, atau Gugup
Beberapa orang bisa mengeluarkan keringat berlebih saat sedang stres, cemas, atau gugup. Kondisi emosi tertentu dapat merangsang saraf yang mengatur produksi keringat. Akibatnya, keringat muncul, biasanya di telapak tangan atau wajah.
3. Perubahan Hormon
Perubahan hormon juga bisa menjadi penyebab seseorang sering berkeringat, misalnya, pada wanita yang memasuki masa menopause. Ketika memasuki masa menopause, salah satu gejala yang sering muncul adalah hot flashes. Kondisi ini ditandai dengan rasa panas yang tiba-tiba timbul, disertai dengan keringat berlebih.
Selain itu, penyakit penyakit hipertiroid juga dapat memicu keringat berlebih. Hipertiroid adalah kondisi medis yang menyebabkan kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid terlalu banyak. Akibatnya, metabolisme tubuh bekerja terlalu cepat dan membuat seseorang berkeringat lebih sering.
4. Infeksi
Penyakit yang diakibatkan infeksi bakteri, virus, maupun parasit dapat menimbulkan gejala sering berkeringat. Kondisi ini adalah mekanisme tubuh dalam melawan infeksi. Saat sistem imun melawan infeksi, suhu tubuh akan meningkat.
Salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan sering berkeringat pada malam hari adalah Tuberkulosis (TBC). Pada penyakit TBC, biasanya juga disertai gejala batuk yang lama tidak sembuh, penurunan berat badan, serta sesak napas.
Jadi, jika seseorang sering berkeringat, bukan berarti menderita diabetes. Untuk mengetahui penyebab sering berkeringat, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Penyebab Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes
Penderita diabetes bisa sering berkeringat ketika kadar gula darah terlalu rendah atau hipoglikemia. Kondisi hipoglikemia dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makan atau karena obat.
Ketika kadar gula darah sangat rendah, maka sistem saraf otonom akan aktif. Sistem saraf ini bertugas meregulasi beberapa fungsi tubuh, salah satunya mengatur produksi keringat. Oleh karena itu, produksi keringat akan meningkat ketika kadar gula darah rendah.
Selain itu, penderita diabetes dapat mengalami komplikasi kerusakan saraf. Jika saraf yang mengontrol kelenjar keringat rusak, dapat mengakibatkan gangguan produksi keringat. Gejala yang dapat timbul adalah keringat berlebih.
Apakah Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?
Sering berkeringat pada penderita diabetes tidak selalu berbahaya jika hanya muncul sesekali, misalnya karena cuaca panas atau aktivitas fisik yang berat.
Namun, keringat berlebih bisa menjadi tanda bahaya pada kondisi hipoglikemia. Pada kondisi ini, biasanya disertai gejala lain seperti lemas, pusing, badan gemetar, jantung berdebar, tampak bingung, dan penurunan kesadaran.
Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes
Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba untuk mencegah dan mengatasi munculnya keringat berlebih:
- Mengontrol kadar gula darah secara teratur dengan rutin periksa ke dokter, menjaga pola makan, serta mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter.
- Makan tepat waktu dan jangan telat makan karena bisa memicu hipoglikemia.
- Pilih makanan sehat dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks, protein, sayur, dan buah agar kadar gula darah stabil.
- Gunakan pakaian yang nyaman, pilih bahan yang menyerap keringat.
- Mengelola stres dengan melakukan aktivitas yang menenangkan, seperti olahraga, relaksasi, dan meditasi.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kamu mengalami gejala sering berkeringat dan disertai beberapa kondisi di bawah, maka segera periksakan diri ke dokter:
- Keringat muncul terus-menerus tanpa pemicu jelas.
- Keringat disertai gejala hipoglikemia, yaitu gemetar, pusing, jantung berdebar, atau lemas.
- Keringat berlebihan yang membuat sulit tidur atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Terdapat tanda komplikasi diabetes seperti kesemutan, mati rasa, atau luka sulit sembuh.
Dokter yang tepat untuk dikunjungi adalah dokter penyakit dalam, khususnya spesialis endokrin, karena ahli dalam menangani diabetes dan gangguan hormon. Jika dicurigai ada kerusakan saraf, maka bisa berkonsultasi dengan dokter saraf untuk penanganan lebih lanjut.
Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?
Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.
Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.
Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.
Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.
“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.
Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.
Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.
Manajemen Diabetes di Primecare Clinic
Jika kamu membutuhkan solusi untuk manajemen diabetes, program manajemen diabetes di Primecare Clinic bisa menjadi solusi yang tepat. Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu mengelola gula darah dan gejala diabetes, serta menurunkan kadar HbA1C. Terdapat juga CGM dalam programnya. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!
