74-1200x900.webp

Apakah dokter menyarankan Anda atau kerabat Anda untuk menjalani Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)? Bagi sebagian orang, istilah medis ini mungkin terdengar asing. Namun, bagi wanita hamil atau individu yang berisiko tinggi terkena diabetes, tes ini adalah prosedur standar yang sangat krusial.

Berbeda dengan tes gula darah biasa, TTGO memberikan gambaran yang jauh lebih akurat tentang bagaimana tubuh Anda memproses gula setelah makan. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai apa itu TTGO.

Apa itu Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)?

Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) atau Oral Glucose Tolerance Test (OGTT) adalah prosedur medis yang digunakan untuk mengukur kemampuan dalam menyerap glukosa (gula) setelah Anda mengonsumsi cairan dengan kadar gula tinggi dalam jumlah tertentu.

Jika tes gula darah puasa hanya menunjukkan kondisi “statis” kadar gula saat tubuh tidak mendapat asupan, TTGO justru bertindak sebagai “tes beban”. 

Tes beban ini memaksa pankreas bekerja melepaskan insulin, sehingga dokter dapat melihat secara dinamis seberapa cepat dan efisien tubuh Anda menurunkan kadar gula darah tersebut kembali ke batas normal.

Mengapa TTGO Sangat Penting?

TTGO utamanya digunakan untuk mendiagnosis tiga kondisi klinis berikut:

1. Diabetes Melitus Tipe 2

Tes ini sangat sensitif untuk mendeteksi diabetes pada tahap awal, bahkan ketika hasil tes gula darah puasa seseorang masih terlihat normal atau berada di ambang batas (borderline).

Meski demikian, terdapat tes lain seperti HbA1C untuk umum (non ibu hamil)

2. Prediabetes (Impaired Glucose Tolerance)

Prediabetes adalah kondisi di mana kadar gula darah sudah lebih tinggi dari normal, tetapi belum cukup tinggi untuk dikategorikan sebagai diabetes tipe 2. 

Mengetahui kondisi prediabetes melalui TTGO sangat penting karena kondisi ini masih bisa disembuhkan melalui perubahan pola hidup dan diet yang tepat.

3. Diabetes Gestasional (Diabetes pada Masa Kehamilan)

Ibu hamil sangat rentan mengalami resistensi insulin akibat perubahan hormon kehamilan. Skrining diabetes gestasional biasanya diwajibkan bagi ibu hamil pada usia kandungan antara 24 hingga 28 minggu dengan menggunakan prosedur TTGO ini demi mencegah komplikasi pada janin dan proses persalinan.

Prosedur dan Persiapan Sebelum Menjalani TTGO

Untuk memastikan hasil tes akurat dan tidak mengalami bias, ada beberapa protokol persiapan yang wajib diikuti oleh pasien:

a. Persiapan Sebelum Tes

1. Berpuasa

Pasien diwajibkan berpuasa selama minimal 8 hingga 12 jam sebelum tes dimulai. Selama berpuasa, Anda hanya diperbolehkan meminum air putih.

Mirip dengan puasa sebelum MCU pada umumnya.

2. Aktivitas Normal

Dalam 3 hari sebelum tes, pasien disarankan untuk mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah cukup seperti biasa dan tidak melakukan olahraga ekstrem yang tidak biasa dilakukan.

b. Langkah-Langkah Saat Tes Berlangsung

1. Pengambilan Sampel Darah Pertama (Puasa)

Petugas medis akan mengambil sampel darah Anda untuk mengukur kadar gula darah awal (kondisi puasa).

2. Meminum Larutan Glukosa

Anda akan diminta meminum segelas cairan manis khusus yang mengandung sekitar 75 gram glukosa murni dan dilarutkan dalam air 250 mL (untuk dewasa) . Cairan ini harus dihabiskan dalam waktu 5 menit.

3. Masa Tunggu

Anda akan diminta menunggu. Namun, tidak diperbolehkan makan, merokok, atau melakukan aktivitas fisik berat selama masa tunggu.

4. Pengambilan Sampel Darah Kedua (dan Ketiga)

Sampel darah akan diambil kembali setelah 2 jam (setelah Anda konsumsi larutan glukosa). 

TTGO itu Penting

TTGO itu penting untuk memeriksa atau diagnosis penyakit seperti diabetes gestasional. Jadi, ikuti prosedur ini jika disarankan oleh dokter.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia layanan TTGO. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya.



Primecare Clinic sedang mengadakan promo di bulan Juli-September 2026. Promonya adalah sebagai berikut:

Promo Q3 di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

1. Vaksin pneumonia dan flu
2. Paket vaksin flu (10 orang) dengan harga Rp 450.000 per pax
3. MCU 40
4. MCU di rumah
5. Paket MCU anak (basic dan advanced, tersedia tes minat bakat, tes IQ, dan tes kesiapan masuk sekolah)

Promo Q3 di Primecare Clinic cabang Tebet, Jakarta Selatan

1. Program penurunan berat badan/weightloss
2. Paket vaksin umroh dan haji (vaksin meningitis dan vaksin polio)
3. Paket suntuk dan infus vitamin 3x
4. Paket MCU

Promo Q3 di Primecare Clinic: Corporate/Korporat/Perusahaan

  1. GTO (suntik vitamin di kantor dengan minimal 10 orang di satu tempat)
  2. Program penurunan berat badan/weightloss
  3. Vaksin pneumonia dan flu
  4. Paket vaksin flu (10 orang) dengan harga Rp 450.000 per pax

Promo Lainnya

1. Paket for her MCU wanita (USG payudara dan pap smear)
2. Konsultasi gizi
3. MCU pre marital (MCU pranikah) dan tes kesuburan (pria dan wanita)
4. Vaksin MMR (campak) untuk dewasa
5. Irigasi telinga dengan dokter spesialis THT
6. Infus zat besi
7. Paket vaksin umroh (meningitis dan polio)
8. Skrining paru (basic) dan TBC
9. Home care suntik vitamin
10. Paket fototerapi

Tertarik dengan promo di Primecare Clinic? Ayo klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

program penurunan berat badan primecare clinic jakarta

 


89-1-1200x795.webp

Medical check up (MCU) merupakan pemeriksaan kesehatan menyeluruh yang sering dilakukan untuk kebutuhan kerja, asuransi, sekolah, maupun pemantauan kesehatan rutin. Namun, tidak sedikit orang yang baru menyadari telah menjadwalkan MCU setelah melakukan donor darah. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah sebenarnya boleh MCU setelah donor darah?

Pada dasarnya, MCU tetap bisa dilakukan setelah donor darah. Akan tetapi, donor darah dapat memengaruhi beberapa hasil pemeriksaan, terutama pemeriksaan darah lengkap. Karena itu, penting untuk mengetahui jarak waktu ideal antara donor darah dan MCU agar hasil pemeriksaan lebih akurat.

Apakah Boleh MCU Setelah Donor Darah?

Secara umum, seseorang tetap diperbolehkan menjalani medical check up setelah donor darah. Donor darah bukan kondisi yang berbahaya dan tubuh biasanya mampu menyesuaikan diri kembali setelah kehilangan sekitar 450–500 ml darah.

Namun, perlu dipahami bahwa beberapa komponen dalam darah dapat mengalami perubahan sementara setelah donor darah. Akibatnya, hasil MCU tertentu mungkin tidak menggambarkan kondisi tubuh sebenarnya.

Karena itu, bila MCU dilakukan untuk kebutuhan penting seperti pemeriksaan kerja, asuransi, atau evaluasi penyakit tertentu, sebaiknya pemeriksaan tidak dilakukan terlalu dekat dengan jadwal donor darah.

Apa Pengaruh Donor Darah terhadap Hasil MCU?

Donor darah dapat memengaruhi beberapa parameter pemeriksaan laboratorium, terutama yang berkaitan dengan darah dan kondisi tubuh secara umum.

1. Kadar Hemoglobin Bisa Menurun

Setelah donor darah, kadar hemoglobin dapat turun sementara karena tubuh kehilangan sebagian sel darah merah. Hal ini dapat menyebabkan hasil MCU menunjukkan Hb sedikit rendah atau tampak seperti anemia ringan.

2. Hasil Darah Lengkap Bisa Berubah

Pemeriksaan darah lengkap dalam MCU, seperti hematokrit dan jumlah sel darah merah, juga dapat mengalami perubahan sementara setelah donor darah.

3. Tubuh Bisa Lebih Mudah Lelah

Sebagian orang merasa sedikit lemas, pusing, atau kurang fit setelah donor darah. Kondisi ini dapat memengaruhi pemeriksaan fisik maupun kebugaran saat MCU.

4. Risiko Hasil Pemeriksaan Menjadi Kurang Akurat

Jika MCU dilakukan terlalu cepat setelah donor darah, dokter mungkin akan mendapatkan gambaran kondisi tubuh yang tidak sepenuhnya mencerminkan keadaan normal sehari-hari.

Kapan Sebaiknya MCU Dilakukan Setelah Donor Darah?

Idealnya, medical check up dilakukan setelah tubuh memiliki waktu cukup untuk memulihkan volume darah dan kadar hemoglobin.

Untuk pemeriksaan kesehatan rutin, banyak tenaga medis menyarankan memberi jeda sekitar:

  • 24–48 jam untuk pemulihan cairan tubuh
  • 1–2 minggu agar kondisi tubuh lebih stabil
  • Sekitar 4–8 minggu bila ingin hasil hemoglobin dan sel darah merah kembali optimal, terutama untuk MCU yang sangat bergantung pada pemeriksaan darah lengkap

Semakin lengkap paket MCU yang dijalani, semakin disarankan untuk memberi jeda lebih lama setelah donor darah agar hasil laboratorium lebih akurat.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Sudah Terlanjur Donor Darah tetapi Sudah Reservasi MCU?

Jika sudah terlanjur donor darah sementara jadwal MCU sudah dekat, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Informasikan kepada Petugas atau Dokter

Sampaikan bahwa Anda baru saja donor darah, termasuk kapan donor dilakukan. Informasi ini penting agar dokter dapat membantu menginterpretasikan hasil pemeriksaan dengan lebih tepat.

2. Pertimbangkan Menunda MCU

Bila MCU dilakukan untuk kebutuhan penting seperti tes kerja atau evaluasi kesehatan tertentu, mempertimbangkan penjadwalan ulang dapat menjadi pilihan terbaik.

3. Perbanyak Istirahat dan Cairan

Pastikan tubuh cukup istirahat dan minum air putih yang cukup setelah donor darah untuk membantu pemulihan tubuh.

4. Konsumsi Makanan Kaya Zat Besi

Makanan seperti daging merah, hati, bayam, kacang-kacangan, dan telur dapat membantu pembentukan sel darah merah setelah donor darah.

5. Jangan Panik Jika Hb Sedikit Turun

Penurunan ringan hemoglobin setelah donor darah merupakan hal yang cukup wajar dan biasanya akan membaik seiring waktu.

Donor Darah bisa Memengaruhi MCU

MCU setelah donor darah sebenarnya tetap boleh dilakukan. Namun, donor darah dapat memengaruhi beberapa hasil pemeriksaan, terutama kadar hemoglobin dan pemeriksaan darah lengkap. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil MCU yang lebih akurat, sebaiknya beri jeda beberapa hari hingga beberapa minggu setelah donor darah, tergantung jenis pemeriksaan yang dijalani.

Jika sudah memiliki jadwal MCU setelah donor darah, jangan lupa memberi tahu dokter atau petugas kesehatan agar hasil pemeriksaan dapat dievaluasi dengan lebih tepat.

Tersedia paket MCU di Primecare Clinic. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148381587-_1_.webp

Sebagian perempuan mungkin pernah mengalami menstruasi yang tidak kunjung selesai. Awalnya dikira haid biasa, tapi darah terus keluar selama berminggu-minggu atau bahkan hampir setiap hari. Kondisi ini tentu bisa membuat khawatir dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dalam dunia medis, perdarahan haid yang terlalu banyak atau berlangsung terlalu lama disebut menorrhagia. Kondisi ini bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari perubahan hormon, stres, hingga gangguan pada rahim atau hormon reproduksi.

Lalu, kapan haid terus-menerus masih dianggap normal, dan kapan perlu diperiksa ke dokter?

Apa Itu Menorrhagia?

Menorrhagia adalah kondisi ketika menstruasi berlangsung terlalu lama atau darah haid keluar dalam jumlah berlebihan. Pada beberapa orang, darah bisa keluar terus selama lebih dari seminggu dan membuat tubuh terasa lemas karena kehilangan banyak darah.

Kondisi ini tidak sama dengan siklus haid yang memang panjang. Menorrhagia biasanya sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, misalnya harus sering ganti pembalut, mudah bocor, atau tubuh terasa cepat lelah.

Berapa Lama Haid Bisa Disebut Menorrhagia?

Normalnya, menstruasi berlangsung sekitar 2-7 hari. Jika perdarahan berlangsung lebih dari 7 hari, kondisi tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai menorrhagia.

Selain durasi, jumlah darah yang keluar juga perlu diperhatikan. Beberapa tanda haid yang terlalu banyak atau terlalu lama antara lain:

  • Harus mengganti pembalut setiap 1-2 jam karena penuh
  • Haid berlangsung lebih dari 7 hari
  • Keluar gumpalan darah besar
  • Harus bangun malam untuk ganti pembalut
  • Darah haid sampai mengganggu aktivitas sehari-hari

Apa Bahaya Haid Terus-Menerus?

Haid yang berlangsung terlalu lama tidak boleh dianggap sepele. Bila tubuh terus kehilangan darah dalam jumlah banyak, risiko anemia bisa meningkat.

Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah akibat perdarahan terus-menerus. Kondisi ini dapat menyebabkan:

  • Tubuh terasa lemas
  • Cepat capek
  • Pusing atau berkunang-kunang
  • Wajah tampak pucat
  • Jantung berdebar
  • Sesak saat beraktivitas

Selain itu, haid berkepanjangan juga bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan tertentu yang perlu ditangani lebih lanjut.

Penyebab Haid Terus-Menerus

Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan haid berlangsung terlalu lama, di antaranya:

1. Perubahan Hormon

Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron dapat menyebabkan lapisan rahim menebal sehingga perdarahan menjadi lebih lama.

2. PCOS

Sindrom ovarium polikistik atau PCOS dapat mengganggu proses ovulasi dan membuat menstruasi menjadi tidak teratur atau berkepanjangan.

3. Miom Rahim

Miom adalah pertumbuhan jaringan jinak di rahim yang cukup sering menyebabkan haid lebih lama dan lebih banyak.

4. Adenomiosis

Kondisi ini terjadi ketika jaringan dinding rahim tumbuh ke otot rahim dan dapat menyebabkan nyeri haid serta perdarahan berkepanjangan.

5. Endometriosis

Endometriosis dapat menyebabkan nyeri haid berat dan perdarahan menstruasi yang tidak normal.

6. Gangguan Tiroid

Hormon tiroid juga berpengaruh terhadap siklus menstruasi. Bila terganggu, menstruasi bisa menjadi lebih panjang atau tidak teratur.

7. Penggunaan KB Tertentu

Beberapa alat kontrasepsi seperti IUD non hormonal dapat menyebabkan darah haid lebih banyak atau lebih lama pada sebagian wanita.

8. Gangguan Pembekuan Darah

Pada beberapa kasus, gangguan pembekuan darah membuat perdarahan lebih sulit berhenti sehingga haid berlangsung lebih lama.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksa ke dokter bila mengalami kondisi berikut:

  • Haid berlangsung lebih dari 7 hari
  • Darah keluar sangat banyak
  • Harus ganti pembalut setiap 1-2 jam
  • Tubuh terasa sangat lemas atau pusing
  • Keluar gumpalan darah besar terus-menerus
  • Perdarahan terjadi hampir setiap hari
  • Nyeri haid sangat berat
  • Siklus haid berubah drastis

Pemeriksaan penting dilakukan untuk mencari tahu penyebab perdarahan dan mencegah komplikasi seperti anemia.

Harus Periksa ke Dokter Apa jika Haid Terus-Menerus?

Kalau mengalami haid terus-menerus, kamu bisa periksa ke dokter umum terlebih dahulu atau langsung ke dokter spesialis kandungan dan kebidanan (Sp.OG).

Dokter biasanya akan menanyakan pola menstruasi, riwayat kesehatan, penggunaan KB, hingga melakukan pemeriksaan tambahan seperti USG atau tes darah bila diperlukan.

Cara Mencegah Haid Terus-Menerus

Tidak semua kasus bisa dicegah, tetapi beberapa hal berikut dapat membantu menjaga kesehatan reproduksi dan kestabilan hormon:

  • Menjaga berat badan ideal
  • Mengelola stres dengan baik
  • Tidur cukup
  • Mengonsumsi makanan bergizi
  • Rutin olahraga ringan
  • Tidak menggunakan obat hormonal sembarangan
  • Rutin kontrol bila memiliki gangguan hormon atau masalah rahim

Selain itu, mencatat siklus menstruasi setiap bulan juga penting agar perubahan pola haid lebih mudah dikenali sejak awal. Anda bisa menggunakan kalkulator masa subur ini untuk mengecek siklus haid.

Kesimpulan

Haid terus-menerus atau menorrhagia adalah kondisi ketika menstruasi berlangsung terlalu lama atau darah haid keluar berlebihan. Kondisi ini bisa disebabkan oleh perubahan hormon, PCOS, miom, endometriosis, hingga gangguan kesehatan tertentu lainnya.

Kalau haid berlangsung lebih dari 7 hari, darah keluar sangat banyak, atau tubuh terasa lemas dan pusing, sebaiknya jangan ditunda untuk periksa ke dokter agar penyebabnya bisa diketahui dan ditangani dengan tepat.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis obgyn. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!



Primecare Clinic sedang mengadakan promo di bulan April-Juni 2026 yaitu promo:

  1. Paket MCU anak basic
  2. Paket MCU anak advanced
  3. Skrining asma anak
  4. Skrining kesiapan sekolah
  5. Tes minat bakat anak
  6. Tes IQ anak
  7. Tes kesiapan anak masuk sekolah
  8. Vaksin PCV 13
  9. Paket vaksin flu + PCV 13
  10. Vaksin umroh dan haji (meningitis dan polio)
  11. Skrining paru (basic dan advanced)
  12. Konsultasi gizi dengan dokter spesialis gizi klinik
  13. Irigasi (pembersihan) telinga
  14. USG payudara + pap smear

Tertarik dengan promo ini? Ayo klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


1277.webp

Puasa sering dianggap sebagai cara alami untuk menurunkan berat badan. Frekuensi makan jadi berkurang, sehingga wajar ada asumsi kalau berat badan akan turun. Terkadang realitanya justru sebaliknya. Sudah puasa, tapi berat badan malah naik.

Anda mengalami hal ini? Tenang, Anda tidak sendirian kok. Ada beberapa alasan logis kenapa berat badan bisa bertambah selama puasa. Yuk kita bahas satu per satu, lengkap dengan cara mengatasinya!

Penyebab Sudah Puasa Tapi Berat Badan Malah Naik?

Puasa bisa membantu untuk menciptakan kondisi defisit kalori karena frekuensi makan lebih sedikit. Namun dalam praktiknya, pola makan saat berbuka dan sahur sangat menentukan hasil akhirnya.

Berikut beberapa penyebab mengapa sudah puasa, tapi berat badan malah naik:

1. Kalori Tetap Surplus saat Buka Puasa

Puasa bukan berarti langsung kurus ya. Jika Anda mengalami surplus kalori setelah buka puasa, wajar kalau berat badan naik. Terutama kalau makan dalam porsi besar ketika jam buka puasa dan lanjut makan malam lagi sebelum tidur.

Total kalori harian bisa tetap lebih tinggi dari kebutuhan tubuh. Kelebihan kalori inilah yang akan disimpan sebagai lemak, atau dengan kata lain kondisi surplus kalori.

Walaupun hanya makan dua kali sehari, kalau porsinya besar dan tinggi lemak serta gula, berat badan tetap bisa naik. Terutama jika kebutuhan kalori harian (TDEE) Anda tidak terlalu besar.

2. Terlalu Banyak Gula dan Karbohidrat Sederhana

Kolak, es buah, teh manis, sirup, kue manis, hingga minuman kemasan bisa jadi menu favorit berbuka karena manis. Masalahnya, makanan dan minuman tinggi gula menyebabkan lonjakan insulin yang cepat.

Saat insulin tinggi, tubuh lebih mudah menyimpan energi dalam bentuk lemak, terutama jika tidak diimbangi aktivitas fisik yang cukup.

Selain itu, gula dan karbohidrat sederhana juga membuat kamu cepat lapar lagi, sehingga cenderung makan lebih banyak di malam hari. Tidak lupa gula punya kalori yang cukup besar jika dikonsumsi berlebihan.

3. Pola Makan “Balas Dendam” Alias Emotional Eating

Karena merasa seharian tidak makan, banyak orang tanpa sadar menerapkan emotional eating. Pikiran seperti:

  • “Tadi kan sudah puasa, jadi ya tidak masalah dong makan banyak.”
  • “Mumpung buka, sekalian puas-puasin untuk makan banyak”

Akhirnya justru membuat kalori tidak terkontrol dan berujung surplus kalori. Padahal tubuh tidak benar-benar butuh kalori yang banyak.

4. Aktivitas Fisik Menurun

Saat puasa, sebagian orang jadi lebih pasif seperti:

  • Lebih banyak duduk
  • Mengurangi olahraga
  • Malas bergerak karena takut lemas

Padahal penurunan aktivitas berarti pembakaran kalori juga turun. Jika asupan tetap tinggi, surplus kalori semakin besar. 

Tetap dianjurkan untuk beraktivitas fisik saat puasa, misalnya sebelum berbuka, setelah salat tarawih, dan sebelum sahur.

5. Retensi Air (Berat Air, Bukan Lemak)

Terkadang berat badan naik 1-2 kg dalam beberapa hari. Namun, peningkatan berat badan ini belum tentu peningkatan lemak.

Konsumsi tinggi karbohidrat dan garam membuat tubuh menyimpan lebih banyak cairan, sehingga terjadi retensi cairan

Artinya, kenaikan berat badan cepat sering kali hanya karena air, bukan lemak.

Untuk analisa lebih lengkap, harus memakai analisa komposisi tubuh dengan timbangan khusus.

Kesalahan Umum saat Puasa yang Bikin Berat Badan Naik

Berikut kesalahan yang sering tidak disadari, sehingga berat badan naik meski sudah puasa:

1. Melewatkan Sahur

Tidak sahur membuat tubuh sangat lapar saat berbuka. Akibatnya, kamu cenderung makan berlebihan dan sulit mengontrol porsi. Ujungnya surplus kalori dan berat badan naik.

Selain itu, sahur juga penting untuk menjaga energi dan metabolisme tetap stabil sepanjang hari. 

2. Kurang Protein

Protein membantu mempertahankan massa otot dan membuat kenyang lebih lama. Jika asupan protein rendah, tubuh bisa kehilangan otot. Padahal otot berperan besar dalam pembakaran kalori. 

Protein juga membantu dalam puasa karena membuat rasa kenyang terasa lebih lama.

3. Minuman Tinggi Gula

Minuman sering jadi sumber kalori tersembunyi. Segelas minuman manis bisa mengandung 150-300 kalori tanpa memberikan rasa kenyang yang berarti. Jangan lupa untuk mengecek kandungan gula di label informasi gizi.

Cara Puasa Agar Berat Badan Turun, Bukan Naik

Kalau tujuanmu ingin tetap fit atau bahkan menurunkan berat badan saat puasa, ini strategi yang bisa kamu terapkan:

1. Atur Total Kalori Harian

Puasa tetap bergantung pada keseimbangan energi. Kamu tetap perlu memperhatikan porsi makan. Karena itu, agar tidak mengalami kenaikan berat badan, Anda harus defisit kalori atau maintenance.

Pengaturan total kalori harian bisa dilakukan dengan:

  1. Mengetahui TDEE (bisa Anda hitung di tautan ini)
  2. Meal prep dengan baik, meal plan bisa konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik

2. Prioritaskan Protein saat Sahur dan Berbuka

Contoh sumber protein:

  • Telur
  • Dada ayam
  • Ikan
  • Tahu dan tempe
  • Greek yogurt

Protein membantu kenyang lebih lama dan menjaga massa otot.

Sumber serat seperti buah dan sayur juga bisa membantu menjaga kenyang terasa lebih lama.

3. Batasi Gorengan dan Gula

Gorengan dan gula tidak harus hilang sepenuhnya. Tapi batasi frekuensinya.

Misalnya:

  • Cukup 1 gorengan, bukan 4-5 gorengan ketika buka atau sahur
  • Ganti teh manis dengan air putih atau infused water
  • Kurangi sirup berlebihan
  • Batasi minuman bersoda

4. Tetap Aktif Bergerak

Kamu bisa mencoba:

  • Jalan kaki 20-30 menit sebelum berbuka
  • Latihan ringan setelah salat tarawih
  • Stretching atau bodyweight training ringan

Olahraga ringan tetap aman selama tidak berlebihan.

5. Perhatikan Pola Tidur

Kurang tidur bisa mengganggu hormon lapar (ghrelin) dan hormon kenyang (leptin). Akibatnya Anda jadi lebih mudah lapar dan sulit mengontrol makan.

Jangan begadang terlalu malam kecuali dengan tujuan ibadah.

Hati-Hati Surplus Kalori saat Puasa

Sudah puasa tapi berat badan malah naik bukan hal yang aneh. Penyebab utamanya biasanya bukan karena puasanya, melainkan pola makan dan gaya hidup, sehingga terjadi surplus kalori

Puasa bisa membantu menurunkan berat badan jika:

  • Kalori tetap terkontrol, sehingga terjadi defisit kalori
  • Protein cukup
  • Aktivitas fisik tetap ada
  • Asupan tinggi kalori seperti gula dan gorengan dibatasi

Jadi, kalau timbangan naik saat puasa, jangan langsung panik. Evaluasi pola makan dan aktivitasmu dulu. Dengan sedikit penyesuaian, puasa justru bisa jadi momen yang baik untuk memperbaiki komposisi tubuh.

Anda juga bisa konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik jika punya keluhan tersebut.

Tersedia dokter spesialis gizi klinik di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


37310-_1_-1200x800.webp

Gonore atau kencing nanah adalah salah satu penyakit menular seksual (PMS) yang perlu ditangani dengan cepat dan tepat. Masalahnya, kalau mau konsultasi gonore harus ke dokter apa? Berikut adalah jawabannya!

Konsultasi Gonore ke Dokter Apa?

Jika Anda mencurigai adanya infeksi gonore, misalnya karena kencing bernanah, segera periksakan diri ke dokter berikut ini:

1. Dokter Umum

Dokter umum bisa menjadi langkah pertama untuk konsultasi gonore. 

Dokter umum akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta merujuk ke dokter spesialis bila diperlukan.

2. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK) adalah pilihan utama untuk menangani gonore. 

Dokter spesialis ini berpengalaman dalam diagnosis dan pengobatan penyakit menular seksual, termasuk pemeriksaan laboratorium dan pemberian antibiotik yang sesuai.

Sub spesialis di dokter kulit, seperti Sp.DVE (spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika) juga bisa menangani gonore.

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika gonore menimbulkan komplikasi atau terjadi bersamaan dengan penyakit lain, dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu Anda untuk penanganan lebih lanjut.

4. Dokter Spesialis Obgyn (Khusus Wanita)

Wanita dengan keluhan gonore dapat berkonsultasi ke dokter spesialis obgyn (Sp.OG). Terutama jika terjadi gejala gonore di vagina atau keputihan.

Pemeriksaan untuk Diagnosis Gonore

Untuk mendiagnosa gonore, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Tes urin
  • Pemeriksaan cairan dari uretra, vagina, anus, atau tenggorokan
  • Tes laboratorium untuk mendeteksi bakteri gonore
  • Tes khusus seperti VDRL

Mengapa Gonore harus Segera Ditangani?

Gonore yang tidak ditangani dengan segera atau tidak kunjung diobati dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:

  • Infertilitas baik itu pada pria ataupun wanita
  • Infeksi panggul pada wanita
  • Penyebaran infeksi gonore  ke organ lain

Segera Konsultasi ke Dokter jika Terjadi Gejala/Terinfeksi Gonore

Jadi, jika Anda mencurigai adanya gejala gonore atau sudah terkonfirmasi infeksi gonore, segeralah ke dokter. Dokter umum dan dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK atau Sp.DVE) bisa jadi opsi pertama yang bagus untuk konsultasi.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia dokter umum, dokter spesialis kulit dan kelamin (termasuk Sp.DVE), dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter spesialis obgyn. Ingin konsultasi dengan dokter tersebut terkait gonore? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


843-_1_-1200x800.webp

Ketan hitam sering dikonsumsi sebagai bubur atau diolah menjadi berbagai kue tradisional. Teksturnya yang pulen dan rasanya yang khas membuat bahan pangan ini populer sebagai hidangan selingan maupun makanan penutup.

Namun bagi penderita diabetes, konsumsi ketan hitam perlu diperhatikan karena beras ketan tetap merupakan sumber karbohidrat yang dapat memengaruhi kadar gula darah, terutama bila dikonsumsi dalam porsi besar atau diolah dengan tambahan gula.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Ketan Hitam?

Penderita diabetes masih boleh mengonsumsi ketan hitam, asalkan porsinya dibatasi dan cara penyajiannya diperhatikan. Dalam jumlah wajar dan sebagai bagian dari pola makan seimbang, ketan hitam dapat dikonsumsi sesekali, bukan sebagai menu harian atau sumber karbohidrat utama.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Ketan Hitam

Ketan hitam mengandung pigmen antosianin, yaitu senyawa alami yang memberi warna ungu kehitaman. Secara umum, ketan hitam mengandung karbohidrat, serat pangan, protein, serta beberapa mineral. Kandungan serat dan pigmen antosianin ini berperan dalam memperlambat penyerapan karbohidrat dan mendukung aktivitas antioksidan di dalam tubuh.

Data indeks glikemik ketan hitam memang masih terbatas dan dapat bervariasi tergantung cara pengolahan. Oleh karena itu, meskipun ketan hitam memiliki kandungan gizi tambahan dibandingkan nasi putih, pengaturan porsi tetap menjadi faktor utama bagi penderita diabetes.

Bahaya Makan Ketan Hitam Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Jika dikonsumsi dalam porsi besar atau terlalu sering, ketan hitam dapat memicu beberapa risiko berikut:

1. Meningkatkan Asupan Kalori

Sebagian besar olahan ketan hitam, seperti bubur atau kue tradisional umumnya menggunakan tambahan gula dan santan. Hal ini membuat total kalori lebih tinggi dan berpotensi memicu kenaikan berat badan jika dikonsumsi terlalu sering.

2. Memicu Lonjakan Gula Darah

Karbohidrat pada ketan hitam akan dipecah menjadi glukosa di dalam tubuh. Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, kadar gula darah dapat meningkat lebih cepat setelah makan.

3. Mengganggu Kontrol Diabetes

Kenaikan gula darah yang berulang setelah makan dapat membuat pengendalian diabetes menjadi kurang stabil dan berpotensi meningkatkan risiko komplikasi metabolik dalam jangka panjang.

Cara Makan Ketan Hitam yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap dapat menikmati ketan hitam tanpa mengganggu kontrol gula darah, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:

1. Batasi Porsi dan Frekuensi

Ketan hitam sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah kecil dan hanya dikonsumsi sesekali saja.

2. Kurangi atau Hindari Gula Tambahan

Jika dimasak menjadi bubur atau dessert, penggunaan gula sebaiknya dibatasi. Penambahan gula dapat membuat lonjakan gula darah lebih tinggi.

3. Pilih Pendamping yang Lebih Sehat

Penggunaan santan sebaiknya dibatasi atau diganti dengan bahan yang lebih rendah lemak untuk menekan asupan kalori berlebih.

  • Perhatikan Respons Gula Darah

Jika memungkinkan, cek gula darah setelah makan untuk melihat bagaimana tubuh merespons makanan ini.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes disarankan berkonsultasi ke dokter apabila gula darah meningkat tajam setelah mengonsumsi ketan hitam. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk evaluasi kondisi dan terapi yang dijalani, serta dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik untuk menentukan pola makan dan porsi yang aman sesuai kebutuhan tubuh.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!



Primecare Clinic sedang mengadakan promo di bulan Januari-Maret 2026 yaitu promo:

  1. Paket vaksin influenza + vaksin pneumonia (di klinik dan homecare)
  2. Vaksin pneumonia
  3. Paket vaksin meningitis dan polio
  4. Premarital check up (MCU pranikah)
  5. Paket skrining paru (basic)
  6. Paket skrining TBC
  7. Paket konsultasi gizi (konsultasi dokter spesialis gizi, pembuatan meal planning, dan analisa komposisi tubuh)
  8. Paket irigasi/pembersihan telinga (termasuk administrasi, konsultasi dokter spesialis THT, dan pembersihan 2 telinga)
  9. USG payudara + pap smear
  10. Homecare infus anti hangover (hangover remedy) untuk area DKI Jakarta
  11. Homecare infus untuk nyeri haid (menstrual remedy) untuk area DKI Jakarta
  12. Homecare infus GERD dan demam area DKI Jakarta

Tertarik dengan promo ini? Ayo klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


1729845-1200x699.webp

Melakukan medical check up (MCU) secara berkala sangat penting untuk memantau kondisi kesehatan. Namun, banyak orang masih bingung apakah perlu puasa sebelum MCU, berapa lama waktunya, dan pemeriksaan apa saja yang mewajibkan puasa sebelum MCU dilaksanakan. 

Artikel ini akan membahas seputar puasa sebelum MCU, cek apa saja yang perlu puasa, dan apa yang harus dilakukan jika terlanjur/tidak sengaja makan/minum sebelum MCU.

Apa Itu Puasa Sebelum Medical Check Up?

Puasa sebelum MCU adalah sebuah kegiatan di mana seseorang tidak mengonsumsi makanan dan minuman tertentu selama beberapa jam sebelum menjalani pemeriksaan medis (MCU).

Tujuan dari puasa ini adalah agar hasil tes tidak terpengaruh oleh aktivitas metabolisme setelah makan dan minum. Jadi, hasil MCU akurat dan tidak ada noise dalam datanya yang bisa mengakibatkan salah interpretasi.

Kenapa Harus Puasa Sebelum MCU?

1. Menghindari Hasil Tes yang Tidak Akurat

Makanan dan minuman yang dikonsumsi bisa memengaruhi:

  • kadar gula darah
  • kadar kolesterol dan trigliserida
  • fungsi ginjal dan hati 

Jika tidak puasa, hasil dari pemeriksaan di atas bisa menunjukkan angka yang lebih tinggi atau lebih rendah dari kondisi yang sebenarnya.

2. Mengoptimalkan Deteksi Masalah Kesehatan

Dengan puasa, dokter dapat melihat kondisi tubuh dalam keadaan stabil, sehingga diagnosis bisa lebih akurat.

Contoh Pemeriksaan pada MCU yang Pasiennya Diwajibkan Berpuasa

1. Tes Darah

Beberapa jenis tes darah yang membutuhkan puasa:

Puasa membantu mendapatkan gambaran metabolik yang akurat.

2. Tes Urin

Walau tidak semua tes urin membutuhkan puasa, beberapa rumah sakit/klinik akan menyarankan puasa.

3. USG Abdomen/Perut

Untuk USG perut bagian atas (abdomen), pasien biasanya diminta puasa agar:

  • kantong empedu (gallbladder) mengembang optimal
  • gas di usus yang bisa menghalangi visualisasi organ bisa berkurang jumlahnya

Berapa Lama Durasi Puasa Sebelum MCU?

a. Durasi Puasa Ideal

Umumnya dibutuhkan puasa sekitar 10-12 jam sebelum melakukan MCU. Durasi puasa ini tergantung dari tes yang akan dilakukan pada MCU.

b. Aturan Minum Saat Puasa

Sebagian besar fasilitas kesehatan mengizinkan minum air putih selama puasa. Hindari minuman ini sebelum MCU:

  • Kopi
  • Teh
  • Jus
  • Minuman manis
  • Minuman berwarna

Air putih akan membantu mencegah dehidrasi dan mempermudah pengambilan sampel darah.

Tips Puasa Sebelum Medical Check Up

a. Hindari Makanan Berlemak dan Alkohol Sehari Sebelumnya

Makanan berlemak dapat meningkatkan trigliserida, sementara alkohol memengaruhi fungsi liver. Jadi, hindari makanan/minuman tersebut sebelum MCU, terutama pemeriksaan kolesterol dan fungsi hati.

b. Tidur Cukup

Kurang tidur bisa memengaruhi kadar gula darah dan tekanan darah.

c. Jangan Melakukan Aktivitas Fisik Berat Malam Sebelum MCU

Aktivitas fisik yang intens seperti HIIT, lari interval, dll. dapat memengaruhi beberapa parameter darah.

Apakah Boleh Minum Obat saat Puasa MCU?

Jika Anda mengonsumsi obat rutin (misalnya obat darah tinggi), maka konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau pihak laboratorium. Beberapa obat boleh diminum, sementara obat  lainnya perlu ditunda beberapa jam hingga pemeriksaan selesai.

Apakah Boleh untuk Tidak Puasa Sebelum MCU?

Tidak semua paket MCU mewajibkan puasa. Namun, jika pemeriksaan melibatkan profil lipid atau glukosa, puasa wajib dilakukan untuk menghindari hasil yang menyesatkan.

Bagaimana jika Terlanjur Makan/Minum sebelum MCU?

Jika kasusnya demikian, maka segera kabari tenaga kesehatan/dokter. Kemungkinan besar prosedur MCU yang akan dilakukan akan ditunda. Jika Anda tidak jujur bahwa telah makan/minum sebelum MCU yang mengharuskan puasa terlebih dahulu, maka hasil MCU Anda akan tidak akurat.

Jangan Lupa Puasa untuk MCU yang Wajib Berpuasa Sebelumnya

Puasa sebelum medical check up (MCU) sangat penting untuk memastikan bahwa hasil pemeriksaan dari MCU tersebut akurat. Umumnya, durasi puasa adalah 10-12 jam, dan umumnya hanya air putih saja yang diperbolehkan untuk dikonsumsi. 

Dengan persiapan yang tepat, Anda dapat memperoleh hasil MCU yang optimal dan membantu dokter memberikan diagnosis yang akurat.

Tersedia MCU di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jika Anda tertarik untuk MCU, klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.