Primecare Clinic sedang mengadakan promo di bulan April-Juni 2026 yaitu promo:

  1. Paket MCU anak basic
  2. Paket MCU anak advanced
  3. Skrining asma anak
  4. Skrining kesiapan sekolah
  5. Tes minat bakat anak
  6. Tes IQ anak
  7. Tes kesiapan anak masuk sekolah
  8. Vaksin PCV 13
  9. Paket vaksin flu + PCV 13
  10. Vaksin umroh dan haji (meningitis dan polio)
  11. Skrining paru (basic dan advanced)
  12. Konsultasi gizi dengan dokter spesialis gizi klinik
  13. Irigasi (pembersihan) telinga
  14. USG payudara + pap smear

Tertarik dengan promo ini? Ayo klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


1277.webp

Puasa sering dianggap sebagai cara alami untuk menurunkan berat badan. Frekuensi makan jadi berkurang, sehingga wajar ada asumsi kalau berat badan akan turun. Terkadang realitanya justru sebaliknya. Sudah puasa, tapi berat badan malah naik.

Anda mengalami hal ini? Tenang, Anda tidak sendirian kok. Ada beberapa alasan logis kenapa berat badan bisa bertambah selama puasa. Yuk kita bahas satu per satu, lengkap dengan cara mengatasinya!

Penyebab Sudah Puasa Tapi Berat Badan Malah Naik?

Puasa bisa membantu untuk menciptakan kondisi defisit kalori karena frekuensi makan lebih sedikit. Namun dalam praktiknya, pola makan saat berbuka dan sahur sangat menentukan hasil akhirnya.

Berikut beberapa penyebab mengapa sudah puasa, tapi berat badan malah naik:

1. Kalori Tetap Surplus saat Buka Puasa

Puasa bukan berarti langsung kurus ya. Jika Anda mengalami surplus kalori setelah buka puasa, wajar kalau berat badan naik. Terutama kalau makan dalam porsi besar ketika jam buka puasa dan lanjut makan malam lagi sebelum tidur.

Total kalori harian bisa tetap lebih tinggi dari kebutuhan tubuh. Kelebihan kalori inilah yang akan disimpan sebagai lemak, atau dengan kata lain kondisi surplus kalori.

Walaupun hanya makan dua kali sehari, kalau porsinya besar dan tinggi lemak serta gula, berat badan tetap bisa naik. Terutama jika kebutuhan kalori harian (TDEE) Anda tidak terlalu besar.

2. Terlalu Banyak Gula dan Karbohidrat Sederhana

Kolak, es buah, teh manis, sirup, kue manis, hingga minuman kemasan bisa jadi menu favorit berbuka karena manis. Masalahnya, makanan dan minuman tinggi gula menyebabkan lonjakan insulin yang cepat.

Saat insulin tinggi, tubuh lebih mudah menyimpan energi dalam bentuk lemak, terutama jika tidak diimbangi aktivitas fisik yang cukup.

Selain itu, gula dan karbohidrat sederhana juga membuat kamu cepat lapar lagi, sehingga cenderung makan lebih banyak di malam hari. Tidak lupa gula punya kalori yang cukup besar jika dikonsumsi berlebihan.

3. Pola Makan “Balas Dendam” Alias Emotional Eating

Karena merasa seharian tidak makan, banyak orang tanpa sadar menerapkan emotional eating. Pikiran seperti:

  • “Tadi kan sudah puasa, jadi ya tidak masalah dong makan banyak.”
  • “Mumpung buka, sekalian puas-puasin untuk makan banyak”

Akhirnya justru membuat kalori tidak terkontrol dan berujung surplus kalori. Padahal tubuh tidak benar-benar butuh kalori yang banyak.

4. Aktivitas Fisik Menurun

Saat puasa, sebagian orang jadi lebih pasif seperti:

  • Lebih banyak duduk
  • Mengurangi olahraga
  • Malas bergerak karena takut lemas

Padahal penurunan aktivitas berarti pembakaran kalori juga turun. Jika asupan tetap tinggi, surplus kalori semakin besar. 

Tetap dianjurkan untuk beraktivitas fisik saat puasa, misalnya sebelum berbuka, setelah salat tarawih, dan sebelum sahur.

5. Retensi Air (Berat Air, Bukan Lemak)

Terkadang berat badan naik 1-2 kg dalam beberapa hari. Namun, peningkatan berat badan ini belum tentu peningkatan lemak.

Konsumsi tinggi karbohidrat dan garam membuat tubuh menyimpan lebih banyak cairan, sehingga terjadi retensi cairan

Artinya, kenaikan berat badan cepat sering kali hanya karena air, bukan lemak.

Untuk analisa lebih lengkap, harus memakai analisa komposisi tubuh dengan timbangan khusus.

Kesalahan Umum saat Puasa yang Bikin Berat Badan Naik

Berikut kesalahan yang sering tidak disadari, sehingga berat badan naik meski sudah puasa:

1. Melewatkan Sahur

Tidak sahur membuat tubuh sangat lapar saat berbuka. Akibatnya, kamu cenderung makan berlebihan dan sulit mengontrol porsi. Ujungnya surplus kalori dan berat badan naik.

Selain itu, sahur juga penting untuk menjaga energi dan metabolisme tetap stabil sepanjang hari. 

2. Kurang Protein

Protein membantu mempertahankan massa otot dan membuat kenyang lebih lama. Jika asupan protein rendah, tubuh bisa kehilangan otot. Padahal otot berperan besar dalam pembakaran kalori. 

Protein juga membantu dalam puasa karena membuat rasa kenyang terasa lebih lama.

3. Minuman Tinggi Gula

Minuman sering jadi sumber kalori tersembunyi. Segelas minuman manis bisa mengandung 150-300 kalori tanpa memberikan rasa kenyang yang berarti. Jangan lupa untuk mengecek kandungan gula di label informasi gizi.

Cara Puasa Agar Berat Badan Turun, Bukan Naik

Kalau tujuanmu ingin tetap fit atau bahkan menurunkan berat badan saat puasa, ini strategi yang bisa kamu terapkan:

1. Atur Total Kalori Harian

Puasa tetap bergantung pada keseimbangan energi. Kamu tetap perlu memperhatikan porsi makan. Karena itu, agar tidak mengalami kenaikan berat badan, Anda harus defisit kalori atau maintenance.

Pengaturan total kalori harian bisa dilakukan dengan:

  1. Mengetahui TDEE (bisa Anda hitung di tautan ini)
  2. Meal prep dengan baik, meal plan bisa konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik

2. Prioritaskan Protein saat Sahur dan Berbuka

Contoh sumber protein:

  • Telur
  • Dada ayam
  • Ikan
  • Tahu dan tempe
  • Greek yogurt

Protein membantu kenyang lebih lama dan menjaga massa otot.

Sumber serat seperti buah dan sayur juga bisa membantu menjaga kenyang terasa lebih lama.

3. Batasi Gorengan dan Gula

Gorengan dan gula tidak harus hilang sepenuhnya. Tapi batasi frekuensinya.

Misalnya:

  • Cukup 1 gorengan, bukan 4-5 gorengan ketika buka atau sahur
  • Ganti teh manis dengan air putih atau infused water
  • Kurangi sirup berlebihan
  • Batasi minuman bersoda

4. Tetap Aktif Bergerak

Kamu bisa mencoba:

  • Jalan kaki 20-30 menit sebelum berbuka
  • Latihan ringan setelah salat tarawih
  • Stretching atau bodyweight training ringan

Olahraga ringan tetap aman selama tidak berlebihan.

5. Perhatikan Pola Tidur

Kurang tidur bisa mengganggu hormon lapar (ghrelin) dan hormon kenyang (leptin). Akibatnya Anda jadi lebih mudah lapar dan sulit mengontrol makan.

Jangan begadang terlalu malam kecuali dengan tujuan ibadah.

Hati-Hati Surplus Kalori saat Puasa

Sudah puasa tapi berat badan malah naik bukan hal yang aneh. Penyebab utamanya biasanya bukan karena puasanya, melainkan pola makan dan gaya hidup, sehingga terjadi surplus kalori

Puasa bisa membantu menurunkan berat badan jika:

  • Kalori tetap terkontrol, sehingga terjadi defisit kalori
  • Protein cukup
  • Aktivitas fisik tetap ada
  • Asupan tinggi kalori seperti gula dan gorengan dibatasi

Jadi, kalau timbangan naik saat puasa, jangan langsung panik. Evaluasi pola makan dan aktivitasmu dulu. Dengan sedikit penyesuaian, puasa justru bisa jadi momen yang baik untuk memperbaiki komposisi tubuh.

Anda juga bisa konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik jika punya keluhan tersebut.

Tersedia dokter spesialis gizi klinik di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


37310-_1_-1200x800.webp

Gonore atau kencing nanah adalah salah satu penyakit menular seksual (PMS) yang perlu ditangani dengan cepat dan tepat. Masalahnya, kalau mau konsultasi gonore harus ke dokter apa? Berikut adalah jawabannya!

Konsultasi Gonore ke Dokter Apa?

Jika Anda mencurigai adanya infeksi gonore, misalnya karena kencing bernanah, segera periksakan diri ke dokter berikut ini:

1. Dokter Umum

Dokter umum bisa menjadi langkah pertama untuk konsultasi gonore. 

Dokter umum akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta merujuk ke dokter spesialis bila diperlukan.

2. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK) adalah pilihan utama untuk menangani gonore. 

Dokter spesialis ini berpengalaman dalam diagnosis dan pengobatan penyakit menular seksual, termasuk pemeriksaan laboratorium dan pemberian antibiotik yang sesuai.

Sub spesialis di dokter kulit, seperti Sp.DVE (spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika) juga bisa menangani gonore.

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika gonore menimbulkan komplikasi atau terjadi bersamaan dengan penyakit lain, dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu Anda untuk penanganan lebih lanjut.

4. Dokter Spesialis Obgyn (Khusus Wanita)

Wanita dengan keluhan gonore dapat berkonsultasi ke dokter spesialis obgyn (Sp.OG). Terutama jika terjadi gejala gonore di vagina atau keputihan.

Pemeriksaan untuk Diagnosis Gonore

Untuk mendiagnosa gonore, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Tes urin
  • Pemeriksaan cairan dari uretra, vagina, anus, atau tenggorokan
  • Tes laboratorium untuk mendeteksi bakteri gonore
  • Tes khusus seperti VDRL

Mengapa Gonore harus Segera Ditangani?

Gonore yang tidak ditangani dengan segera atau tidak kunjung diobati dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:

  • Infertilitas baik itu pada pria ataupun wanita
  • Infeksi panggul pada wanita
  • Penyebaran infeksi gonore  ke organ lain

Segera Konsultasi ke Dokter jika Terjadi Gejala/Terinfeksi Gonore

Jadi, jika Anda mencurigai adanya gejala gonore atau sudah terkonfirmasi infeksi gonore, segeralah ke dokter. Dokter umum dan dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK atau Sp.DVE) bisa jadi opsi pertama yang bagus untuk konsultasi.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia dokter umum, dokter spesialis kulit dan kelamin (termasuk Sp.DVE), dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter spesialis obgyn. Ingin konsultasi dengan dokter tersebut terkait gonore? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


843-_1_-1200x800.webp

Ketan hitam sering dikonsumsi sebagai bubur atau diolah menjadi berbagai kue tradisional. Teksturnya yang pulen dan rasanya yang khas membuat bahan pangan ini populer sebagai hidangan selingan maupun makanan penutup.

Namun bagi penderita diabetes, konsumsi ketan hitam perlu diperhatikan karena beras ketan tetap merupakan sumber karbohidrat yang dapat memengaruhi kadar gula darah, terutama bila dikonsumsi dalam porsi besar atau diolah dengan tambahan gula.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Ketan Hitam?

Penderita diabetes masih boleh mengonsumsi ketan hitam, asalkan porsinya dibatasi dan cara penyajiannya diperhatikan. Dalam jumlah wajar dan sebagai bagian dari pola makan seimbang, ketan hitam dapat dikonsumsi sesekali, bukan sebagai menu harian atau sumber karbohidrat utama.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Ketan Hitam

Ketan hitam mengandung pigmen antosianin, yaitu senyawa alami yang memberi warna ungu kehitaman. Secara umum, ketan hitam mengandung karbohidrat, serat pangan, protein, serta beberapa mineral. Kandungan serat dan pigmen antosianin ini berperan dalam memperlambat penyerapan karbohidrat dan mendukung aktivitas antioksidan di dalam tubuh.

Data indeks glikemik ketan hitam memang masih terbatas dan dapat bervariasi tergantung cara pengolahan. Oleh karena itu, meskipun ketan hitam memiliki kandungan gizi tambahan dibandingkan nasi putih, pengaturan porsi tetap menjadi faktor utama bagi penderita diabetes.

Bahaya Makan Ketan Hitam Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Jika dikonsumsi dalam porsi besar atau terlalu sering, ketan hitam dapat memicu beberapa risiko berikut:

1. Meningkatkan Asupan Kalori

Sebagian besar olahan ketan hitam, seperti bubur atau kue tradisional umumnya menggunakan tambahan gula dan santan. Hal ini membuat total kalori lebih tinggi dan berpotensi memicu kenaikan berat badan jika dikonsumsi terlalu sering.

2. Memicu Lonjakan Gula Darah

Karbohidrat pada ketan hitam akan dipecah menjadi glukosa di dalam tubuh. Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, kadar gula darah dapat meningkat lebih cepat setelah makan.

3. Mengganggu Kontrol Diabetes

Kenaikan gula darah yang berulang setelah makan dapat membuat pengendalian diabetes menjadi kurang stabil dan berpotensi meningkatkan risiko komplikasi metabolik dalam jangka panjang.

Cara Makan Ketan Hitam yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap dapat menikmati ketan hitam tanpa mengganggu kontrol gula darah, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:

1. Batasi Porsi dan Frekuensi

Ketan hitam sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah kecil dan hanya dikonsumsi sesekali saja.

2. Kurangi atau Hindari Gula Tambahan

Jika dimasak menjadi bubur atau dessert, penggunaan gula sebaiknya dibatasi. Penambahan gula dapat membuat lonjakan gula darah lebih tinggi.

3. Pilih Pendamping yang Lebih Sehat

Penggunaan santan sebaiknya dibatasi atau diganti dengan bahan yang lebih rendah lemak untuk menekan asupan kalori berlebih.

  • Perhatikan Respons Gula Darah

Jika memungkinkan, cek gula darah setelah makan untuk melihat bagaimana tubuh merespons makanan ini.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes disarankan berkonsultasi ke dokter apabila gula darah meningkat tajam setelah mengonsumsi ketan hitam. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk evaluasi kondisi dan terapi yang dijalani, serta dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik untuk menentukan pola makan dan porsi yang aman sesuai kebutuhan tubuh.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!



Primecare Clinic sedang mengadakan promo di bulan Januari-Maret 2026 yaitu promo:

  1. Paket vaksin influenza + vaksin pneumonia (di klinik dan homecare)
  2. Vaksin pneumonia
  3. Paket vaksin meningitis dan polio
  4. Premarital check up (MCU pranikah)
  5. Paket skrining paru (basic)
  6. Paket skrining TBC
  7. Paket konsultasi gizi (konsultasi dokter spesialis gizi, pembuatan meal planning, dan analisa komposisi tubuh)
  8. Paket irigasi/pembersihan telinga (termasuk administrasi, konsultasi dokter spesialis THT, dan pembersihan 2 telinga)
  9. USG payudara + pap smear
  10. Homecare infus anti hangover (hangover remedy) untuk area DKI Jakarta
  11. Homecare infus untuk nyeri haid (menstrual remedy) untuk area DKI Jakarta
  12. Homecare infus GERD dan demam area DKI Jakarta

Tertarik dengan promo ini? Ayo klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


1729845-1200x699.webp

Melakukan medical check up (MCU) secara berkala sangat penting untuk memantau kondisi kesehatan. Namun, banyak orang masih bingung apakah perlu puasa sebelum MCU, berapa lama waktunya, dan pemeriksaan apa saja yang mewajibkan puasa sebelum MCU dilaksanakan. 

Artikel ini akan membahas seputar puasa sebelum MCU, cek apa saja yang perlu puasa, dan apa yang harus dilakukan jika terlanjur/tidak sengaja makan/minum sebelum MCU.

Apa Itu Puasa Sebelum Medical Check Up?

Puasa sebelum MCU adalah sebuah kegiatan di mana seseorang tidak mengonsumsi makanan dan minuman tertentu selama beberapa jam sebelum menjalani pemeriksaan medis (MCU).

Tujuan dari puasa ini adalah agar hasil tes tidak terpengaruh oleh aktivitas metabolisme setelah makan dan minum. Jadi, hasil MCU akurat dan tidak ada noise dalam datanya yang bisa mengakibatkan salah interpretasi.

Kenapa Harus Puasa Sebelum MCU?

1. Menghindari Hasil Tes yang Tidak Akurat

Makanan dan minuman yang dikonsumsi bisa memengaruhi:

  • kadar gula darah
  • kadar kolesterol dan trigliserida
  • fungsi ginjal dan hati 

Jika tidak puasa, hasil dari pemeriksaan di atas bisa menunjukkan angka yang lebih tinggi atau lebih rendah dari kondisi yang sebenarnya.

2. Mengoptimalkan Deteksi Masalah Kesehatan

Dengan puasa, dokter dapat melihat kondisi tubuh dalam keadaan stabil, sehingga diagnosis bisa lebih akurat.

Contoh Pemeriksaan pada MCU yang Pasiennya Diwajibkan Berpuasa

1. Tes Darah

Beberapa jenis tes darah yang membutuhkan puasa:

Puasa membantu mendapatkan gambaran metabolik yang akurat.

2. Tes Urin

Walau tidak semua tes urin membutuhkan puasa, beberapa rumah sakit/klinik akan menyarankan puasa.

3. USG Abdomen/Perut

Untuk USG perut bagian atas (abdomen), pasien biasanya diminta puasa agar:

  • kantong empedu (gallbladder) mengembang optimal
  • gas di usus yang bisa menghalangi visualisasi organ bisa berkurang jumlahnya

Berapa Lama Durasi Puasa Sebelum MCU?

a. Durasi Puasa Ideal

Umumnya dibutuhkan puasa sekitar 10-12 jam sebelum melakukan MCU. Durasi puasa ini tergantung dari tes yang akan dilakukan pada MCU.

b. Aturan Minum Saat Puasa

Sebagian besar fasilitas kesehatan mengizinkan minum air putih selama puasa. Hindari minuman ini sebelum MCU:

  • Kopi
  • Teh
  • Jus
  • Minuman manis
  • Minuman berwarna

Air putih akan membantu mencegah dehidrasi dan mempermudah pengambilan sampel darah.

Tips Puasa Sebelum Medical Check Up

a. Hindari Makanan Berlemak dan Alkohol Sehari Sebelumnya

Makanan berlemak dapat meningkatkan trigliserida, sementara alkohol memengaruhi fungsi liver. Jadi, hindari makanan/minuman tersebut sebelum MCU, terutama pemeriksaan kolesterol dan fungsi hati.

b. Tidur Cukup

Kurang tidur bisa memengaruhi kadar gula darah dan tekanan darah.

c. Jangan Melakukan Aktivitas Fisik Berat Malam Sebelum MCU

Aktivitas fisik yang intens seperti HIIT, lari interval, dll. dapat memengaruhi beberapa parameter darah.

Apakah Boleh Minum Obat saat Puasa MCU?

Jika Anda mengonsumsi obat rutin (misalnya obat darah tinggi), maka konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau pihak laboratorium. Beberapa obat boleh diminum, sementara obat  lainnya perlu ditunda beberapa jam hingga pemeriksaan selesai.

Apakah Boleh untuk Tidak Puasa Sebelum MCU?

Tidak semua paket MCU mewajibkan puasa. Namun, jika pemeriksaan melibatkan profil lipid atau glukosa, puasa wajib dilakukan untuk menghindari hasil yang menyesatkan.

Bagaimana jika Terlanjur Makan/Minum sebelum MCU?

Jika kasusnya demikian, maka segera kabari tenaga kesehatan/dokter. Kemungkinan besar prosedur MCU yang akan dilakukan akan ditunda. Jika Anda tidak jujur bahwa telah makan/minum sebelum MCU yang mengharuskan puasa terlebih dahulu, maka hasil MCU Anda akan tidak akurat.

Jangan Lupa Puasa untuk MCU yang Wajib Berpuasa Sebelumnya

Puasa sebelum medical check up (MCU) sangat penting untuk memastikan bahwa hasil pemeriksaan dari MCU tersebut akurat. Umumnya, durasi puasa adalah 10-12 jam, dan umumnya hanya air putih saja yang diperbolehkan untuk dikonsumsi. 

Dengan persiapan yang tepat, Anda dapat memperoleh hasil MCU yang optimal dan membantu dokter memberikan diagnosis yang akurat.

Tersedia MCU di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jika Anda tertarik untuk MCU, klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148540717-1-1200x1200.webp

Berhenti merokok adalah langkah besar menuju hidup yang lebih sehat. Namun banyak orang bingung harus mulai dari mana dan dokter apa yang tepat untuk dikunjungi saat ingin berhenti merokok. Artikel ini membahas jenis dokter yang dapat membantu, layanan yang biasanya tersedia, serta kapan Anda perlu mendapatkan bantuan profesional.

Dokter Apa yang Bisa Membantu Anda Berhenti Merokok?

1. Dokter Umum

Dokter umum adalah titik awal terbaik bagi banyak orang. Mereka dapat:

  • Menilai kondisi kesehatan awal Anda
  • Memberikan saran untuk bisa berhenti merokok
  • Meresepkan terapi pengganti nikotin atau obat yang sesuai dengan kebutuhan Anda
  • Merujuk Anda ke dokter spesialis lain jika diperlukan

Dokter umum memahami kondisi tubuh secara menyeluruh, sehingga bisa membantu menentukan metode berhenti merokok yang aman.

2. Dokter Spesialis Paru (Pulmonolog)

Jika Anda sudah merokok lama atau memiliki gejala seperti batuk kronis, sesak napas, atau sering infeksi saluran napas, dokter paru adalah pilihan tepat.

Mereka bisa:

  • Mengevaluasi kesehatan paru-paru
  • Memberikan program berhenti merokok yang lebih terarah
  • Mendeteksi dini masalah pada paru-paru akibat dari merokok

3. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater)

Merokok tidak hanya soal kebiasaan fisik, tetapi juga terkait kecanduan nikotin yang mempengaruhi otak. Psikiater dapat membantu terutama bila Anda:

  • Mengalami kecemasan saat mencoba berhenti (Anda bisa melakukan anxiety test di tautan ini).
  • Kesulitan mengendalikan dorongan untuk merokok
  • Membutuhkan terapi pengobatan yang membantu mengurangi craving (keinginan) untuk merokok

Psikiater juga bisa memberikan terapi perilaku untuk membantu perubahan kebiasaan jangka panjang.

Kapan Harus ke Dokter untuk Berhenti Merokok?

1. Anda merasa sulit berhenti sendiri

Jika sudah berkali-kali mencoba berhenti dengan kemampuan Anda sendiri, tapi ujungnya selalu kembali merokok, bantuan profesional seperti dokter akan dapat meningkatkan peluang Anda untuk berhasil dalam berhenti merokok.

2. Muncul gejala kesehatan yang mengganggu aktivitas Anda

Gejala seperti batuk berkepanjangan, dada terasa sesak, atau stamina menurun, serta aktivitas lain bisa menjadi sinyal tubuh perlu evaluasi medis.

3. Anda membutuhkan panduan obat yang aman

Beberapa obat atau terapi pengganti nikotin memiliki aturan pemakaian tertentu. Konsultasi dokter memastikan penggunaannya aman dan sesuai kondisi Anda.

Apa yang Biasanya Dilakukan saat Konsultasi ke Dokter Terkait Berhenti Merokok?

1. Pemeriksaan kondisi kesehatan awal

Dokter akan menilai riwayat merokok, kesehatan paru, kebiasaan harian, serta faktor pemicu.

2. Diskusi metode berhenti merokok yang cocok

Metode berhenti merokok dapat meliputi:

  • Terapi penggantian nikotin (NRT)
  • Obat tertentu (sesuai kebutuhan medis)
  • Konseling perilaku
  • Pendampingan secara berkala
  • Metode lain, sesuai rekomendasi dokter

3. Rencana berhenti merokok yang terstruktur

Dokter akan membuat rencana berhenti merokok bertahap sesuai kondisi kesehatan Anda.

Mau Berhenti Merokok, Ayo Konsultasi dengan Dokter

Kalau mau berhenti merokok, maka Anda bisa meminta bantuan profesional untuk membantu usaha Anda yang hebat tersebut.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter umum, spesialis paru, dan kejiwaan (psikiater). Tertarik untuk konsultasi dengan mereka? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


65509-_1_-1200x800.webp

Kapan ya harus ke dokter spesialis kulit dan kelamin? Apakah ketika jerawat mulai mengganggu? Ada ruam yang bikin gatal-gatal terus? Mulai muncul gejala alergi?

Berikut adalah tanda dan gejala serta momen di mana Anda harus ke dokter spesialis kulit dan kelamin!

Tanda dan Gejala yang Memerlukan Pemeriksaan ke Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

1. Masalah Kulit yang Tidak Membaik Setelah Perawatan Mandiri

Jika Anda sudah mencoba obat bebas atau perawatan rumahan selama beberapa minggu namun kondisi tetap sama, memburuk, atau kambuh berulang, sebaiknya konsultasi ke dokter. Kondisi seperti dermatitis, jerawat berat, hingga infeksi kulit memerlukan penanganan profesional.

2. Ruam Kulit yang Tidak Diketahui Penyebabnya

Ruam mendadak yang disertai gatal, perih, atau perubahan warna kulit dapat menandakan alergi, infeksi, atau gangguan imun. Pemeriksaan dokter penting untuk menentukan penyebab pasti.

3. Benjolan, Bercak, atau Luka di Area Genital

Luka yang tidak sembuh, benjolan, atau bercak di area genital bisa disebabkan infeksi menular seksual (IMS) atau kondisi lain yang perlu ditangani dengan cepat oleh dokter spesialis kulit.

4. Kasus Jerawat Berat atau hingga Mengganggu Kepercayaan Diri

Apabila jerawat meradang atau meninggalkan bekas, dokter spesialis kulit dapat memberikan terapi yang lebih kuat seperti antibiotik, retinoid, atau perawatan tindakan.

Pada kasus jika jerawat berdampak pada kesehatan mental/kepercayaan diri, konsultasi dokter sangat dianjurkan untuk mendapatkan perawatan yang tepat dan efektif.

5. Mengalami Infeksi Menular Seksual

Jika Anda mengalami infeksi menular seksual seperti penyakit raja singa, herpes, dan infeksi menular seksual lainnya, maka konsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin bisa membantu.

6. Terdapat Infeksi Jamur dan Bakteri

Kondisi seperti panu, kurap, kandidiasis, ataupun impetigo bisa memerlukan obat resep agar cepat sembuh dan tidak menyebar.

7. Autoimun Kulit

Penyakit autoimun pada kulit seperti psoriasis, lupus, vitiligo, dan eksim berat membutuhkan pemantauan dan terapi jangka panjang dari dokter spesialis kulit. Jadi, jika mengalami autoimun pada kulit, segera ke dokter spesialis kulit ya.

Kapan Harus Segera ke Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin?

Terdapat kondisi dimana Anda harus segera ke dokter spesialis kulit dan kelamin, yaitu:

  • Luka genital yang tidak sembuh dalam seminggu hingga dua minggu
  • Demam yang disertai ruam
  • Nyeri hebat atau bengkak pada area genital atau selangkangan
  • Kulit melepuh dan menyebar cepat
  • Reaksi alergi berat setelah penggunaan produk tertentu seperti skin care atau produk untuk membersihkan diri

Jika muncul tanda-tanda tersebut, segera konsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin untuk mencegah komplikasi.

Tersedia Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Primecare Clinic

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis kulit dan kelamin. Ingin konsultasi masalah kesehatan seputar kelamin/kulit Anda dengan dokter spesialis kulit atau dermatologi? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!



Banyak orang masih bingung mengenai perbedaan dokter spesialis gizi klinik dan ahli gizi. Padahal, keduanya memiliki peran penting namun berbeda dalam menjaga kesehatan dan menangani masalah seputar gizi.

Artikel ini akan membahas secara lengkap perbedaan dari dua profesi tersebut. Berikut penjelasannya!

Apa Itu Dokter Spesialis Gizi Klinik?

Dokter spesialis gizi klinik (Sp.GK) adalah dokter umum yang melanjutkan pendidikan spesialis di bidang gizi. Mereka memiliki kemampuan untuk menilai gangguan gizi sebagai bagian dari penyakit medis.

Apa saja Keahlian Dokter Spesialis Gizi Klinik?

Keahlian dokter spesialis gizi klinik meliputi:

  • Melakukan diagnosis medis terkait masalah gizi
  • Menentukan terapi nutrisi untuk pasien dengan kondisi medis yang kompleks
  • Memberikan nutrisi enteral dan parenteral (nutrisi lewat selang atau infus).
  • Meresepkan obat, suplemen, dan pemeriksaan penunjang.
  • Menangani pasien dengan penyakit kronis atau kritis.

Apa Itu Ahli Gizi?

Ahli gizi (nutrisionis/dietisien) adalah tenaga kesehatan yang fokus pada ilmu nutrisi, diet, dan pola makan. Mereka bukan dokter, tetapi memiliki keahlian profesional dalam mengatur kebutuhan gizi individu maupun kelompok.

Apa saja Keahlian Ahli Gizi?

Berikut adalah keahlian dari ahli gizi:

  • Mengkaji status gizi tanpa diagnosis medis.
  • Menyusun menu diet atau meal planning berdasarkan diagnosis dari dokter.
  • Memberikan konseling dan edukasi gizi
  • Mengatur program gizi di rumah sakit, sekolah, atau masyarakat
  • Membantu pasien menerapkan pola makan sehat di kehidupan sehari-hari

Perbedaan Antara Dokter Spesialis Gizi Klinik dan Ahli Gizi

Berikut perbedaan lengkap keduanya:

a. Latar Belakang Pendidikan

 

AspekDokter Spesialis Gizi KlinikAhli Gizi
PendidikanDokter umum + PPDS gizi klinikS1 Gizi atau D3 Gizi + profesi dietisien (opsional)

b. Kewenangan

 

AspekDokter Spesialis Gizi KlinikAhli Gizi
Diagnosis medisBisaTidak bisa
Meresepkan obatBisaTidak bisa
Nutrisi enteral/parenteralMenentukan & mengawasiTidak menetapkan
Edukasi dietBisaBisa
Penyusunan meal planBisaBisa, bahkan lebih dominan

Dari tabel di atas, kewenangan dokter spesialis gizi klinik lebih banyak karena bisa diagnosis medis, meresepkan obat, dan menentukan nutrisi enteral/parenteral.

c. Peran di Pelayanan Kesehatan

Dokter spesialis gizi klinik menangani pasien dengan masalah gizi terkait penyakit (diabetes, ginjal, kanker, obesitas dengan komplikasi, malnutrisi, pasien ICU). Sementara itu, ahli gizi menangani edukasi, manajemen diet, pengaturan menu, program gizi masyarakat, serta pendampingan pola makan sehat.

Kapan Sebaiknya ke Dokter Spesialis Gizi Klinik?

Berikut kondisi di mana Anda sebaiknya ke dokter spesialis gizi klinik:

  • Anda memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, gagal ginjal, atau penyakit hati
  • Membutuhkan asupan zat gizi lewat selang/infus
  • Mengalami malnutrisi, obesitas dengan komplikasi, atau gangguan metabolik
  • Sedang dirawat di rumah sakit atau ICU

Kapan Sebaiknya ke Ahli Gizi?

Konsultasi dengan ahli gizi jika Anda:

  • Ingin menurunkan atau menaikkan berat badan dengan kondisi tanpa komplikasi penyakit
  • Membutuhkan menu diet harian atau meal plan, terlepas apa pun tujuan kesehatan Anda
  • Ingin memperbaiki pola makan keluarga
  • Membutuhkan edukasi gizi dalam program kesehatan masyarakat

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primecare Clinic

Jika masalah gizi Anda berkaitan dengan penyakit medis serta masalah gizi dan tujuan seperti menurunkan berat badan, maka dokter spesialis gizi klinik bisa jadi opsi. Ahli gizi juga bisa jadi opsi jika penurunan berat badan tanpa komplikasi medis.

Keduanya sama-sama tenaga kesehatan profesional yang bisa membantu Anda untuk menangani masalah gizi Anda.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan terdapat dokter spesialis gizi klinik. Yuk klik tautan ini untuk informasi selengkapnya terkait konsultasi dokter spesialis gizi klinik di Primecare Clinic!


2147752659-_1_-1200x800.webp

Minuman isotonik sering dipandang sebagai penyelamat setelah olahraga karena bisa menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Rasanya manis dan menyegarkan, membuat banyak orang mudah tergoda untuk meminumnya. 

Bolehkah Penderita Diabetes Minum Minuman Isotonik?

Minuman isotonik tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi penderita diabetes. Kandungan gula yang tinggi dapat dengan cepat menaikkan kadar gula darah, sehingga sebaiknya dihindari atau diganti dengan minuman rendah gula atau air putih, bahkan setelah olahraga atau berkeringat.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Minuman Isotonik

Minuman isotonik atau sports drink umumnya mengandung karbohidrat sederhana dalam bentuk gula, natrium, kalium, dan elektrolit lain yang membantu menggantikan cairan tubuh dan mineral yang hilang saat berkeringat. Selain itu, beberapa produk juga menambahkan magnesium atau kalsium, meski dalam jumlah kecil.

Dari sisi gula darah, minuman isotonik memiliki indeks glikemik (IG) tinggi, yaitu sekitar 75i. Untuk penderita diabetes, hal ini berarti risiko lonjakan gula darah lebih besar meski volume konsumsi biasanya kecil.

Bahaya Konsumsi Minuman Isotonik bagi Penderita Diabetes

Minuman isotonik memang membantu mengembalikan elektrolit, namun bagi penderita diabetes, konsumsinya dapat menimbulkan beberapa risiko:

1. Lonjakan Gula Darah

Gula dalam minuman isotonik diserap dengan cepat oleh tubuh karena IG tinggi. Konsumsinya bisa menyebabkan gula darah naik drastis, apalagi jika diminum di luar konteks olahraga atau aktivitas berat.

2. Meningkatkan Asupan Kalori

Meski volumenya kecil, kandungan gula bisa menambah kalori harian. Jika dikonsumsi tanpa kebutuhan energi yang seimbang, risiko kenaikan berat badan meningkat, yang berdampak pada sensitivitas insulin.

3. Memicu Ketergantungan Minuman Manis

Rasa manis yang mudah diterima tubuh dapat membuat seseorang terbiasa mengonsumsi minuman tinggi gula, sehingga kebiasaan ini sulit dikendalikan.

Cara Minum Minuman Isotonik dengan Aman bagi Penderita Diabetes

Jika ingin tetap mengonsumsi minuman isotonik karena kebutuhan tertentu, beberapa strategi berikut bisa diterapkan:

1. Batasi Porsi dan Frekuensi

Hanya konsumsi ketika benar-benar diperlukan, misalnya setelah olahraga intens dengan keringat banyak. Hindari minum minuman isotonik secara rutin di luar aktivitas fisik berat.

2. Pilih Varian Rendah atau Tanpa Tambahan Gula

Beberapa merek menawarkan versi rendah gula atau bebas gula tambahan. Ini lebih aman untuk gula darah, meski tetap harus dikontrol porsinya.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu jika ingin mengonsumsi minuman isotonik. Dokter atau ahli gizi dapat membantu menilai apakah minuman tersebut aman untuk dikonsumsi, menentukan porsi yang tepat, atau memberikan alternatif hidrasi yang lebih aman.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.