843-_1_-1200x800.webp

Ketan hitam sering dikonsumsi sebagai bubur atau diolah menjadi berbagai kue tradisional. Teksturnya yang pulen dan rasanya yang khas membuat bahan pangan ini populer sebagai hidangan selingan maupun makanan penutup.

Namun bagi penderita diabetes, konsumsi ketan hitam perlu diperhatikan karena beras ketan tetap merupakan sumber karbohidrat yang dapat memengaruhi kadar gula darah, terutama bila dikonsumsi dalam porsi besar atau diolah dengan tambahan gula.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Ketan Hitam?

Penderita diabetes masih boleh mengonsumsi ketan hitam, asalkan porsinya dibatasi dan cara penyajiannya diperhatikan. Dalam jumlah wajar dan sebagai bagian dari pola makan seimbang, ketan hitam dapat dikonsumsi sesekali, bukan sebagai menu harian atau sumber karbohidrat utama.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Ketan Hitam

Ketan hitam mengandung pigmen antosianin, yaitu senyawa alami yang memberi warna ungu kehitaman. Secara umum, ketan hitam mengandung karbohidrat, serat pangan, protein, serta beberapa mineral. Kandungan serat dan pigmen antosianin ini berperan dalam memperlambat penyerapan karbohidrat dan mendukung aktivitas antioksidan di dalam tubuh.

Data indeks glikemik ketan hitam memang masih terbatas dan dapat bervariasi tergantung cara pengolahan. Oleh karena itu, meskipun ketan hitam memiliki kandungan gizi tambahan dibandingkan nasi putih, pengaturan porsi tetap menjadi faktor utama bagi penderita diabetes.

Bahaya Makan Ketan Hitam Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Jika dikonsumsi dalam porsi besar atau terlalu sering, ketan hitam dapat memicu beberapa risiko berikut:

1. Meningkatkan Asupan Kalori

Sebagian besar olahan ketan hitam, seperti bubur atau kue tradisional umumnya menggunakan tambahan gula dan santan. Hal ini membuat total kalori lebih tinggi dan berpotensi memicu kenaikan berat badan jika dikonsumsi terlalu sering.

2. Memicu Lonjakan Gula Darah

Karbohidrat pada ketan hitam akan dipecah menjadi glukosa di dalam tubuh. Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, kadar gula darah dapat meningkat lebih cepat setelah makan.

3. Mengganggu Kontrol Diabetes

Kenaikan gula darah yang berulang setelah makan dapat membuat pengendalian diabetes menjadi kurang stabil dan berpotensi meningkatkan risiko komplikasi metabolik dalam jangka panjang.

Cara Makan Ketan Hitam yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap dapat menikmati ketan hitam tanpa mengganggu kontrol gula darah, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:

1. Batasi Porsi dan Frekuensi

Ketan hitam sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah kecil dan hanya dikonsumsi sesekali saja.

2. Kurangi atau Hindari Gula Tambahan

Jika dimasak menjadi bubur atau dessert, penggunaan gula sebaiknya dibatasi. Penambahan gula dapat membuat lonjakan gula darah lebih tinggi.

3. Pilih Pendamping yang Lebih Sehat

Penggunaan santan sebaiknya dibatasi atau diganti dengan bahan yang lebih rendah lemak untuk menekan asupan kalori berlebih.

  • Perhatikan Respons Gula Darah

Jika memungkinkan, cek gula darah setelah makan untuk melihat bagaimana tubuh merespons makanan ini.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes disarankan berkonsultasi ke dokter apabila gula darah meningkat tajam setelah mengonsumsi ketan hitam. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk evaluasi kondisi dan terapi yang dijalani, serta dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik untuk menentukan pola makan dan porsi yang aman sesuai kebutuhan tubuh.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!



Primecare Clinic sedang mengadakan promo di bulan Januari-Maret 2026 yaitu promo:

  1. Paket vaksin influenza + vaksin pneumonia (di klinik dan homecare)
  2. Vaksin pneumonia
  3. Paket vaksin meningitis dan polio
  4. Premarital check up (MCU pranikah)
  5. Paket skrining paru (basic)
  6. Paket skrining TBC
  7. Paket konsultasi gizi (konsultasi dokter spesialis gizi, pembuatan meal planning, dan analisa komposisi tubuh)
  8. Paket irigasi/pembersihan telinga (termasuk administrasi, konsultasi dokter spesialis THT, dan pembersihan 2 telinga)
  9. USG payudara + pap smear
  10. Homecare infus anti hangover (hangover remedy) untuk area DKI Jakarta
  11. Homecare infus untuk nyeri haid (menstrual remedy) untuk area DKI Jakarta
  12. Homecare infus GERD dan demam area DKI Jakarta

Tertarik dengan promo ini? Ayo klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


1729845-1200x699.webp

Melakukan medical check up (MCU) secara berkala sangat penting untuk memantau kondisi kesehatan. Namun, banyak orang masih bingung apakah perlu puasa sebelum MCU, berapa lama waktunya, dan pemeriksaan apa saja yang mewajibkan puasa sebelum MCU dilaksanakan. 

Artikel ini akan membahas seputar puasa sebelum MCU, cek apa saja yang perlu puasa, dan apa yang harus dilakukan jika terlanjur/tidak sengaja makan/minum sebelum MCU.

Apa Itu Puasa Sebelum Medical Check Up?

Puasa sebelum MCU adalah sebuah kegiatan di mana seseorang tidak mengonsumsi makanan dan minuman tertentu selama beberapa jam sebelum menjalani pemeriksaan medis (MCU).

Tujuan dari puasa ini adalah agar hasil tes tidak terpengaruh oleh aktivitas metabolisme setelah makan dan minum. Jadi, hasil MCU akurat dan tidak ada noise dalam datanya yang bisa mengakibatkan salah interpretasi.

Kenapa Harus Puasa Sebelum MCU?

1. Menghindari Hasil Tes yang Tidak Akurat

Makanan dan minuman yang dikonsumsi bisa memengaruhi:

  • kadar gula darah
  • kadar kolesterol dan trigliserida
  • fungsi ginjal dan hati 

Jika tidak puasa, hasil dari pemeriksaan di atas bisa menunjukkan angka yang lebih tinggi atau lebih rendah dari kondisi yang sebenarnya.

2. Mengoptimalkan Deteksi Masalah Kesehatan

Dengan puasa, dokter dapat melihat kondisi tubuh dalam keadaan stabil, sehingga diagnosis bisa lebih akurat.

Contoh Pemeriksaan pada MCU yang Pasiennya Diwajibkan Berpuasa

1. Tes Darah

Beberapa jenis tes darah yang membutuhkan puasa:

Puasa membantu mendapatkan gambaran metabolik yang akurat.

2. Tes Urin

Walau tidak semua tes urin membutuhkan puasa, beberapa rumah sakit/klinik akan menyarankan puasa.

3. USG Abdomen/Perut

Untuk USG perut bagian atas (abdomen), pasien biasanya diminta puasa agar:

  • kantong empedu (gallbladder) mengembang optimal
  • gas di usus yang bisa menghalangi visualisasi organ bisa berkurang jumlahnya

Berapa Lama Durasi Puasa Sebelum MCU?

a. Durasi Puasa Ideal

Umumnya dibutuhkan puasa sekitar 10-12 jam sebelum melakukan MCU. Durasi puasa ini tergantung dari tes yang akan dilakukan pada MCU.

b. Aturan Minum Saat Puasa

Sebagian besar fasilitas kesehatan mengizinkan minum air putih selama puasa. Hindari minuman ini sebelum MCU:

  • Kopi
  • Teh
  • Jus
  • Minuman manis
  • Minuman berwarna

Air putih akan membantu mencegah dehidrasi dan mempermudah pengambilan sampel darah.

Tips Puasa Sebelum Medical Check Up

a. Hindari Makanan Berlemak dan Alkohol Sehari Sebelumnya

Makanan berlemak dapat meningkatkan trigliserida, sementara alkohol memengaruhi fungsi liver. Jadi, hindari makanan/minuman tersebut sebelum MCU, terutama pemeriksaan kolesterol dan fungsi hati.

b. Tidur Cukup

Kurang tidur bisa memengaruhi kadar gula darah dan tekanan darah.

c. Jangan Melakukan Aktivitas Fisik Berat Malam Sebelum MCU

Aktivitas fisik yang intens seperti HIIT, lari interval, dll. dapat memengaruhi beberapa parameter darah.

Apakah Boleh Minum Obat saat Puasa MCU?

Jika Anda mengonsumsi obat rutin (misalnya obat darah tinggi), maka konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau pihak laboratorium. Beberapa obat boleh diminum, sementara obat  lainnya perlu ditunda beberapa jam hingga pemeriksaan selesai.

Apakah Boleh untuk Tidak Puasa Sebelum MCU?

Tidak semua paket MCU mewajibkan puasa. Namun, jika pemeriksaan melibatkan profil lipid atau glukosa, puasa wajib dilakukan untuk menghindari hasil yang menyesatkan.

Bagaimana jika Terlanjur Makan/Minum sebelum MCU?

Jika kasusnya demikian, maka segera kabari tenaga kesehatan/dokter. Kemungkinan besar prosedur MCU yang akan dilakukan akan ditunda. Jika Anda tidak jujur bahwa telah makan/minum sebelum MCU yang mengharuskan puasa terlebih dahulu, maka hasil MCU Anda akan tidak akurat.

Jangan Lupa Puasa untuk MCU yang Wajib Berpuasa Sebelumnya

Puasa sebelum medical check up (MCU) sangat penting untuk memastikan bahwa hasil pemeriksaan dari MCU tersebut akurat. Umumnya, durasi puasa adalah 10-12 jam, dan umumnya hanya air putih saja yang diperbolehkan untuk dikonsumsi. 

Dengan persiapan yang tepat, Anda dapat memperoleh hasil MCU yang optimal dan membantu dokter memberikan diagnosis yang akurat.

Tersedia MCU di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jika Anda tertarik untuk MCU, klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148540717-1-1200x1200.webp

Berhenti merokok adalah langkah besar menuju hidup yang lebih sehat. Namun banyak orang bingung harus mulai dari mana dan dokter apa yang tepat untuk dikunjungi saat ingin berhenti merokok. Artikel ini membahas jenis dokter yang dapat membantu, layanan yang biasanya tersedia, serta kapan Anda perlu mendapatkan bantuan profesional.

Dokter Apa yang Bisa Membantu Anda Berhenti Merokok?

1. Dokter Umum

Dokter umum adalah titik awal terbaik bagi banyak orang. Mereka dapat:

  • Menilai kondisi kesehatan awal Anda
  • Memberikan saran untuk bisa berhenti merokok
  • Meresepkan terapi pengganti nikotin atau obat yang sesuai dengan kebutuhan Anda
  • Merujuk Anda ke dokter spesialis lain jika diperlukan

Dokter umum memahami kondisi tubuh secara menyeluruh, sehingga bisa membantu menentukan metode berhenti merokok yang aman.

2. Dokter Spesialis Paru (Pulmonolog)

Jika Anda sudah merokok lama atau memiliki gejala seperti batuk kronis, sesak napas, atau sering infeksi saluran napas, dokter paru adalah pilihan tepat.

Mereka bisa:

  • Mengevaluasi kesehatan paru-paru
  • Memberikan program berhenti merokok yang lebih terarah
  • Mendeteksi dini masalah pada paru-paru akibat dari merokok

3. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater)

Merokok tidak hanya soal kebiasaan fisik, tetapi juga terkait kecanduan nikotin yang mempengaruhi otak. Psikiater dapat membantu terutama bila Anda:

  • Mengalami kecemasan saat mencoba berhenti (Anda bisa melakukan anxiety test di tautan ini).
  • Kesulitan mengendalikan dorongan untuk merokok
  • Membutuhkan terapi pengobatan yang membantu mengurangi craving (keinginan) untuk merokok

Psikiater juga bisa memberikan terapi perilaku untuk membantu perubahan kebiasaan jangka panjang.

Kapan Harus ke Dokter untuk Berhenti Merokok?

1. Anda merasa sulit berhenti sendiri

Jika sudah berkali-kali mencoba berhenti dengan kemampuan Anda sendiri, tapi ujungnya selalu kembali merokok, bantuan profesional seperti dokter akan dapat meningkatkan peluang Anda untuk berhasil dalam berhenti merokok.

2. Muncul gejala kesehatan yang mengganggu aktivitas Anda

Gejala seperti batuk berkepanjangan, dada terasa sesak, atau stamina menurun, serta aktivitas lain bisa menjadi sinyal tubuh perlu evaluasi medis.

3. Anda membutuhkan panduan obat yang aman

Beberapa obat atau terapi pengganti nikotin memiliki aturan pemakaian tertentu. Konsultasi dokter memastikan penggunaannya aman dan sesuai kondisi Anda.

Apa yang Biasanya Dilakukan saat Konsultasi ke Dokter Terkait Berhenti Merokok?

1. Pemeriksaan kondisi kesehatan awal

Dokter akan menilai riwayat merokok, kesehatan paru, kebiasaan harian, serta faktor pemicu.

2. Diskusi metode berhenti merokok yang cocok

Metode berhenti merokok dapat meliputi:

  • Terapi penggantian nikotin (NRT)
  • Obat tertentu (sesuai kebutuhan medis)
  • Konseling perilaku
  • Pendampingan secara berkala
  • Metode lain, sesuai rekomendasi dokter

3. Rencana berhenti merokok yang terstruktur

Dokter akan membuat rencana berhenti merokok bertahap sesuai kondisi kesehatan Anda.

Mau Berhenti Merokok, Ayo Konsultasi dengan Dokter

Kalau mau berhenti merokok, maka Anda bisa meminta bantuan profesional untuk membantu usaha Anda yang hebat tersebut.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter umum, spesialis paru, dan kejiwaan (psikiater). Tertarik untuk konsultasi dengan mereka? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


65509-_1_-1200x800.webp

Kapan ya harus ke dokter spesialis kulit dan kelamin? Apakah ketika jerawat mulai mengganggu? Ada ruam yang bikin gatal-gatal terus? Mulai muncul gejala alergi?

Berikut adalah tanda dan gejala serta momen di mana Anda harus ke dokter spesialis kulit dan kelamin!

Tanda dan Gejala yang Memerlukan Pemeriksaan ke Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

1. Masalah Kulit yang Tidak Membaik Setelah Perawatan Mandiri

Jika Anda sudah mencoba obat bebas atau perawatan rumahan selama beberapa minggu namun kondisi tetap sama, memburuk, atau kambuh berulang, sebaiknya konsultasi ke dokter. Kondisi seperti dermatitis, jerawat berat, hingga infeksi kulit memerlukan penanganan profesional.

2. Ruam Kulit yang Tidak Diketahui Penyebabnya

Ruam mendadak yang disertai gatal, perih, atau perubahan warna kulit dapat menandakan alergi, infeksi, atau gangguan imun. Pemeriksaan dokter penting untuk menentukan penyebab pasti.

3. Benjolan, Bercak, atau Luka di Area Genital

Luka yang tidak sembuh, benjolan, atau bercak di area genital bisa disebabkan infeksi menular seksual (IMS) atau kondisi lain yang perlu ditangani dengan cepat oleh dokter spesialis kulit.

4. Kasus Jerawat Berat atau hingga Mengganggu Kepercayaan Diri

Apabila jerawat meradang atau meninggalkan bekas, dokter spesialis kulit dapat memberikan terapi yang lebih kuat seperti antibiotik, retinoid, atau perawatan tindakan.

Pada kasus jika jerawat berdampak pada kesehatan mental/kepercayaan diri, konsultasi dokter sangat dianjurkan untuk mendapatkan perawatan yang tepat dan efektif.

5. Mengalami Infeksi Menular Seksual

Jika Anda mengalami infeksi menular seksual seperti penyakit raja singa, herpes, dan infeksi menular seksual lainnya, maka konsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin bisa membantu.

6. Terdapat Infeksi Jamur dan Bakteri

Kondisi seperti panu, kurap, kandidiasis, ataupun impetigo bisa memerlukan obat resep agar cepat sembuh dan tidak menyebar.

7. Autoimun Kulit

Penyakit autoimun pada kulit seperti psoriasis, lupus, vitiligo, dan eksim berat membutuhkan pemantauan dan terapi jangka panjang dari dokter spesialis kulit. Jadi, jika mengalami autoimun pada kulit, segera ke dokter spesialis kulit ya.

Kapan Harus Segera ke Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin?

Terdapat kondisi dimana Anda harus segera ke dokter spesialis kulit dan kelamin, yaitu:

  • Luka genital yang tidak sembuh dalam seminggu hingga dua minggu
  • Demam yang disertai ruam
  • Nyeri hebat atau bengkak pada area genital atau selangkangan
  • Kulit melepuh dan menyebar cepat
  • Reaksi alergi berat setelah penggunaan produk tertentu seperti skin care atau produk untuk membersihkan diri

Jika muncul tanda-tanda tersebut, segera konsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin untuk mencegah komplikasi.

Tersedia Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Primecare Clinic

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis kulit dan kelamin. Ingin konsultasi masalah kesehatan seputar kelamin/kulit Anda dengan dokter spesialis kulit atau dermatologi? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!



Banyak orang masih bingung mengenai perbedaan dokter spesialis gizi klinik dan ahli gizi. Padahal, keduanya memiliki peran penting namun berbeda dalam menjaga kesehatan dan menangani masalah seputar gizi.

Artikel ini akan membahas secara lengkap perbedaan dari dua profesi tersebut. Berikut penjelasannya!

Apa Itu Dokter Spesialis Gizi Klinik?

Dokter spesialis gizi klinik (Sp.GK) adalah dokter umum yang melanjutkan pendidikan spesialis di bidang gizi. Mereka memiliki kemampuan untuk menilai gangguan gizi sebagai bagian dari penyakit medis.

Apa saja Keahlian Dokter Spesialis Gizi Klinik?

Keahlian dokter spesialis gizi klinik meliputi:

  • Melakukan diagnosis medis terkait masalah gizi
  • Menentukan terapi nutrisi untuk pasien dengan kondisi medis yang kompleks
  • Memberikan nutrisi enteral dan parenteral (nutrisi lewat selang atau infus).
  • Meresepkan obat, suplemen, dan pemeriksaan penunjang.
  • Menangani pasien dengan penyakit kronis atau kritis.

Apa Itu Ahli Gizi?

Ahli gizi (nutrisionis/dietisien) adalah tenaga kesehatan yang fokus pada ilmu nutrisi, diet, dan pola makan. Mereka bukan dokter, tetapi memiliki keahlian profesional dalam mengatur kebutuhan gizi individu maupun kelompok.

Apa saja Keahlian Ahli Gizi?

Berikut adalah keahlian dari ahli gizi:

  • Mengkaji status gizi tanpa diagnosis medis.
  • Menyusun menu diet atau meal planning berdasarkan diagnosis dari dokter.
  • Memberikan konseling dan edukasi gizi
  • Mengatur program gizi di rumah sakit, sekolah, atau masyarakat
  • Membantu pasien menerapkan pola makan sehat di kehidupan sehari-hari

Perbedaan Antara Dokter Spesialis Gizi Klinik dan Ahli Gizi

Berikut perbedaan lengkap keduanya:

a. Latar Belakang Pendidikan

 

AspekDokter Spesialis Gizi KlinikAhli Gizi
PendidikanDokter umum + PPDS gizi klinikS1 Gizi atau D3 Gizi + profesi dietisien (opsional)

b. Kewenangan

 

AspekDokter Spesialis Gizi KlinikAhli Gizi
Diagnosis medisBisaTidak bisa
Meresepkan obatBisaTidak bisa
Nutrisi enteral/parenteralMenentukan & mengawasiTidak menetapkan
Edukasi dietBisaBisa
Penyusunan meal planBisaBisa, bahkan lebih dominan

Dari tabel di atas, kewenangan dokter spesialis gizi klinik lebih banyak karena bisa diagnosis medis, meresepkan obat, dan menentukan nutrisi enteral/parenteral.

c. Peran di Pelayanan Kesehatan

Dokter spesialis gizi klinik menangani pasien dengan masalah gizi terkait penyakit (diabetes, ginjal, kanker, obesitas dengan komplikasi, malnutrisi, pasien ICU). Sementara itu, ahli gizi menangani edukasi, manajemen diet, pengaturan menu, program gizi masyarakat, serta pendampingan pola makan sehat.

Kapan Sebaiknya ke Dokter Spesialis Gizi Klinik?

Berikut kondisi di mana Anda sebaiknya ke dokter spesialis gizi klinik:

  • Anda memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, gagal ginjal, atau penyakit hati
  • Membutuhkan asupan zat gizi lewat selang/infus
  • Mengalami malnutrisi, obesitas dengan komplikasi, atau gangguan metabolik
  • Sedang dirawat di rumah sakit atau ICU

Kapan Sebaiknya ke Ahli Gizi?

Konsultasi dengan ahli gizi jika Anda:

  • Ingin menurunkan atau menaikkan berat badan dengan kondisi tanpa komplikasi penyakit
  • Membutuhkan menu diet harian atau meal plan, terlepas apa pun tujuan kesehatan Anda
  • Ingin memperbaiki pola makan keluarga
  • Membutuhkan edukasi gizi dalam program kesehatan masyarakat

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primecare Clinic

Jika masalah gizi Anda berkaitan dengan penyakit medis serta masalah gizi dan tujuan seperti menurunkan berat badan, maka dokter spesialis gizi klinik bisa jadi opsi. Ahli gizi juga bisa jadi opsi jika penurunan berat badan tanpa komplikasi medis.

Keduanya sama-sama tenaga kesehatan profesional yang bisa membantu Anda untuk menangani masalah gizi Anda.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan terdapat dokter spesialis gizi klinik. Yuk klik tautan ini untuk informasi selengkapnya terkait konsultasi dokter spesialis gizi klinik di Primecare Clinic!


2147752659-_1_-1200x800.webp

Minuman isotonik sering dipandang sebagai penyelamat setelah olahraga karena bisa menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Rasanya manis dan menyegarkan, membuat banyak orang mudah tergoda untuk meminumnya. 

Bolehkah Penderita Diabetes Minum Minuman Isotonik?

Minuman isotonik tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi penderita diabetes. Kandungan gula yang tinggi dapat dengan cepat menaikkan kadar gula darah, sehingga sebaiknya dihindari atau diganti dengan minuman rendah gula atau air putih, bahkan setelah olahraga atau berkeringat.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Minuman Isotonik

Minuman isotonik atau sports drink umumnya mengandung karbohidrat sederhana dalam bentuk gula, natrium, kalium, dan elektrolit lain yang membantu menggantikan cairan tubuh dan mineral yang hilang saat berkeringat. Selain itu, beberapa produk juga menambahkan magnesium atau kalsium, meski dalam jumlah kecil.

Dari sisi gula darah, minuman isotonik memiliki indeks glikemik (IG) tinggi, yaitu sekitar 75i. Untuk penderita diabetes, hal ini berarti risiko lonjakan gula darah lebih besar meski volume konsumsi biasanya kecil.

Bahaya Konsumsi Minuman Isotonik bagi Penderita Diabetes

Minuman isotonik memang membantu mengembalikan elektrolit, namun bagi penderita diabetes, konsumsinya dapat menimbulkan beberapa risiko:

1. Lonjakan Gula Darah

Gula dalam minuman isotonik diserap dengan cepat oleh tubuh karena IG tinggi. Konsumsinya bisa menyebabkan gula darah naik drastis, apalagi jika diminum di luar konteks olahraga atau aktivitas berat.

2. Meningkatkan Asupan Kalori

Meski volumenya kecil, kandungan gula bisa menambah kalori harian. Jika dikonsumsi tanpa kebutuhan energi yang seimbang, risiko kenaikan berat badan meningkat, yang berdampak pada sensitivitas insulin.

3. Memicu Ketergantungan Minuman Manis

Rasa manis yang mudah diterima tubuh dapat membuat seseorang terbiasa mengonsumsi minuman tinggi gula, sehingga kebiasaan ini sulit dikendalikan.

Cara Minum Minuman Isotonik dengan Aman bagi Penderita Diabetes

Jika ingin tetap mengonsumsi minuman isotonik karena kebutuhan tertentu, beberapa strategi berikut bisa diterapkan:

1. Batasi Porsi dan Frekuensi

Hanya konsumsi ketika benar-benar diperlukan, misalnya setelah olahraga intens dengan keringat banyak. Hindari minum minuman isotonik secara rutin di luar aktivitas fisik berat.

2. Pilih Varian Rendah atau Tanpa Tambahan Gula

Beberapa merek menawarkan versi rendah gula atau bebas gula tambahan. Ini lebih aman untuk gula darah, meski tetap harus dikontrol porsinya.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu jika ingin mengonsumsi minuman isotonik. Dokter atau ahli gizi dapat membantu menilai apakah minuman tersebut aman untuk dikonsumsi, menentukan porsi yang tepat, atau memberikan alternatif hidrasi yang lebih aman.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!



Primecare Clinic sedang mengadakan promo di bulan Desember 2025-Januari 2026, yaitu promo pada paket:

  1. Immune booster/suntik vitamin di klinik
  2. Vaksin meningitis + polio
  3. MCU (cek kolesterol, diabetes, ginjal, metabolik)
  4. MCU usia 40+ (berlaku untuk usia mulai dari 27 tahun)
  5. Vaksin flu & vaksin pneumonia
  6. Homecare suntik GERD
  7. Homecare suntik demam
  8. Homecare immune booster/suntik vitamin
  9. Homecare vaksin flu
  10. Homecare vaksin pneumonia
  11. Suntik vitamin di kantor (minimal 10 orang, khusus kantor di DKI Jakarta)
  12. Irigasi/pembersihan telinga
  13. Konsultasi gizi (dengand dokter spesialis gizi klinik)
  14. USG payudara + pap smear

Tertarik dengan promo paket ini? Ayo klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Primecare Clinic promo paket suntik demam & GERD di rumah (homecare) Primecare Clinic promo paket immune booster/suntik vitamin di rumah (homecare)Primecare Clinic promo paket suntik vitamin di kantor Primecare Clinic promo paket homecare vaksin flu dan pneumonia sekeluarga

promo paket vaksin flu & pneumonia di Primecare Clinic paket vaksin umroh (meningitis + polio) di Primecare Clinic paket promo immune booster/suntik vitamin di Primecare Clinic

paket medical check up akhir tahun (kolesterol, diabetes, ginjal, metabolik) Jakarta


2149456734-1-1200x800.webp

Berkeringat adalah mekanisme tubuh untuk menurunkan dan menjaga suhu tubuh agar tetap stabil. Pasalnya, suhu tubuh yang terlalu tinggi dapat berbahaya bagi tubuh. Tubuh akan mengeluarkan keringat ketika cuaca panas, saat berolahraga atau aktivitas fisik, serta saat sedang gugup. 

Namun, kamu perlu waspada jika sering berkeringat, bahkan ketika sedang santai, cuaca sejuk dan tidak panas. Sering berkeringat bisa menjadi gejala adanya masalah kesehatan, salah satunya diabetes. Apakah kondisi ini berbahaya dan bagaimana mengatasinya? Yuk, cek faktanya di artikel ini!

Apa itu Gejala Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes?

Sering berkeringat pada penderita diabetes adalah kondisi saat tubuh memproduksi keringat berlebih tanpa pemicu yang jelas. Dalam bahasa medis, sering berkeringat berlebih tanpa sebab yang jelas disebut hiperhidrosis

Berkeringat adalah salah satu cara tubuh untuk menjaga suhu agar tetap stabil. Di kulit kita terdapat ribuan kelenjar keringat yang berfungsi untuk mengeluarkan cairan ke permukaan kulit. Proses ini diatur oleh bagian otak yang bertugas mengatur suhu tubuh. 

Ketika suhu tubuh meningkat, baik karena cuaca panas, aktivitas fisik, atau kondisi emosional seperti stres, otak akan mengirim sinyal ke sistem saraf yang mengatur produksi keringat. Sinyal ini kemudian merangsang kelenjar keringat untuk memproduksi cairan. Saat keringat keluar ke permukaan kulit, suhu tubuh pun ikut turun. 

Selain dipengaruhi oleh suhu dan aktivitas fisik, keringat juga bisa dipicu oleh perubahan hormon dan kadar gula darah. Penderita diabetes dapat mengalami gejala sering berkeringat terutama pada kondisi hipoglikemia, yaitu saat kadar gula darah terlalu rendah.

Apakah Sering Berkeringat Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Penderita diabetes tidak selalu mengalami gejala sering berkeringat. Selain itu, sering berkeringat juga dapat disebabkan oleh berbagai penyebab. Berikut beberapa penyebab seseorang sering berkeringat:

1. Cuaca Panas dan Aktivitas Fisik

Saat suhu lingkungan tinggi, tubuh banyak bergerak, dan beraktivitas, kelenjar keringat akan bekerja lebih aktif untuk menjaga suhu tubuh tetap normal.

2. Stres, Cemas, atau Gugup

Beberapa orang bisa mengeluarkan keringat berlebih saat sedang stres, cemas, atau gugup. Kondisi emosi tertentu dapat merangsang saraf yang mengatur produksi keringat. Akibatnya, keringat muncul, biasanya di telapak tangan atau wajah.

3. Perubahan Hormon

Perubahan hormon juga bisa menjadi penyebab seseorang sering berkeringat, misalnya, pada wanita yang memasuki masa menopause. Ketika memasuki masa menopause, salah satu gejala yang sering muncul adalah hot flashes. Kondisi ini ditandai dengan rasa panas yang tiba-tiba timbul, disertai dengan keringat berlebih. 

Selain itu, penyakit penyakit hipertiroid juga dapat memicu keringat berlebih. Hipertiroid adalah kondisi medis yang menyebabkan kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid terlalu banyak. Akibatnya, metabolisme tubuh bekerja terlalu cepat dan membuat seseorang berkeringat lebih sering.

4. Infeksi

Penyakit yang diakibatkan infeksi bakteri, virus, maupun parasit dapat menimbulkan gejala sering berkeringat. Kondisi ini adalah mekanisme tubuh dalam melawan infeksi. Saat sistem imun melawan infeksi, suhu tubuh akan meningkat.

Salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan sering berkeringat pada malam hari adalah Tuberkulosis (TBC). Pada penyakit TBC, biasanya juga disertai gejala batuk yang lama tidak sembuh, penurunan berat badan, serta sesak napas. 

Jadi, jika seseorang sering berkeringat, bukan berarti menderita diabetes. Untuk mengetahui penyebab sering berkeringat, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Penyebab Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes

Penderita diabetes bisa sering berkeringat ketika kadar gula darah terlalu rendah atau hipoglikemia. Kondisi hipoglikemia dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makan atau karena obat. 

Ketika kadar gula darah sangat rendah, maka sistem saraf otonom akan aktif. Sistem saraf ini bertugas meregulasi beberapa fungsi tubuh, salah satunya mengatur produksi keringat. Oleh karena itu, produksi keringat akan meningkat ketika kadar gula darah rendah. 

Selain itu, penderita diabetes dapat mengalami komplikasi kerusakan saraf. Jika saraf yang mengontrol kelenjar keringat rusak, dapat mengakibatkan gangguan produksi keringat. Gejala yang dapat timbul adalah keringat berlebih. 

Apakah Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Sering berkeringat pada penderita diabetes tidak selalu berbahaya jika hanya muncul sesekali, misalnya karena cuaca panas atau aktivitas fisik yang berat. 

Namun, keringat berlebih bisa menjadi tanda bahaya pada kondisi hipoglikemia. Pada kondisi ini, biasanya disertai gejala lain seperti lemas, pusing, badan gemetar, jantung berdebar, tampak bingung, dan penurunan kesadaran. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes

Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba untuk mencegah dan mengatasi munculnya keringat berlebih:

  • Mengontrol kadar gula darah secara teratur dengan rutin periksa ke dokter, menjaga pola makan, serta mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter. 
  • Makan tepat waktu dan jangan telat makan karena bisa memicu hipoglikemia.
  • Pilih makanan sehat dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks, protein, sayur, dan buah agar kadar gula darah stabil.
  • Gunakan pakaian yang nyaman, pilih bahan yang menyerap keringat.
  • Mengelola stres dengan melakukan aktivitas yang menenangkan, seperti olahraga, relaksasi, dan meditasi. 

Kapan Harus ke Dokter? 

Jika kamu mengalami gejala sering berkeringat dan disertai beberapa kondisi di bawah, maka segera periksakan diri ke dokter:

  • Keringat muncul terus-menerus tanpa pemicu jelas.
  • Keringat disertai gejala hipoglikemia, yaitu gemetar, pusing, jantung berdebar, atau lemas.
  • Keringat berlebihan yang membuat sulit tidur atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Terdapat tanda komplikasi diabetes seperti kesemutan, mati rasa, atau luka sulit sembuh.

Dokter yang tepat untuk dikunjungi adalah dokter penyakit dalam, khususnya spesialis endokrin, karena ahli dalam menangani diabetes dan gangguan hormon. Jika dicurigai ada kerusakan saraf, maka bisa berkonsultasi dengan dokter saraf untuk penanganan lebih lanjut. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu membutuhkan solusi untuk manajemen diabetes, program manajemen diabetes di Primecare Clinic bisa menjadi solusi yang tepat. Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu mengelola gula darah dan gejala diabetes, serta menurunkan kadar HbA1C. Terdapat juga CGM dalam programnya.  Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 


44266-_1_-1200x800.webp

Menurunnya selera makan kerap menjadi gejala yang luput diperhatikan oleh penderita diabetes. Sebagian mengira kondisi ini hanya efek samping obat atau sekadar masalah pencernaan biasa. Padahal, turunnya selera makan bisa jadi petunjuk bahwa tubuh sedang mengalami ketidakseimbangan metabolik yang lebih serius.

Apa itu Gejala Nafsu Makan Menurun pada Penderita Diabetes?

Pada dasarnya, penurunan nafsu makan adalah salah satu keluhan yang bisa muncul akibat gangguan metabolisme pada diabetes. Gejala nafsu makan menurun biasanya ditandai dengan rasa cepat kenyang meskipun hanya makan dalam porsi kecil. Sebagian orang juga merasakan berkurangnya minat terhadap makanan, bahkan makanan yang biasanya disukai. 

Kondisi ini sering membuat penderita melewatkan jam makan karena tidak muncul rasa lapar. Akibatnya, tubuh bisa terasa lemas karena kekurangan energi, dan dalam jangka panjang berat badan dapat turun tanpa sebab yang jelas. Tingkat keparahannya berbeda pada tiap orang, ada yang hanya mengalami sedikit penurunan selera makan, namun ada juga yang sampai kesulitan menjaga asupan nutrisi harian.

Apakah Nafsu Makan Menurun Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Tidak selalu. Nafsu makan menurun bisa disebabkan oleh berbagai faktor umum, misalnya stres berkepanjangan, infeksi yang sedang dialami tubuh, gangguan pencernaan, hingga efek samping obat-obatan tertentu. Pada kondisi ini, penurunan selera makan biasanya hanya bersifat sementara dan akan membaik setelah penyebab utamanya teratasi.

Namun, ketika hal ini terjadi pada penderita diabetes, situasinya bisa lebih kompleks. Nafsu makan yang berkurang sering berkaitan dengan kadar gula darah yang tidak stabil. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menjadi sinyal adanya masalah dalam pengendalian penyakit atau bahkan tanda awal komplikasi. 

Penyebab Nafsu Makan Menurun pada Penderita Diabetes

Normalnya, tubuh memiliki sistem yang rapi untuk mengatur rasa lapar. Ketika cadangan energi mulai menipis, otak akan menerima sinyal dari hormon dan kadar gula darah untuk memicu rasa lapar. Setelah makan, sinyal tersebut mereda, digantikan rasa kenyang. 

Pada penderita diabetes, mekanisme ini bisa terganggu. Kadar gula darah yang tinggi atau tidak stabil dapat menyebabkan otak salah membaca sinyal tubuh. Akibatnya, seseorang bisa merasa cepat kenyang, kehilangan selera makan, atau bahkan tidak merasa lapar sama sekali meski tubuh sebenarnya masih kekurangan energi. Kondisi ini membingungkan, karena di satu sisi kebutuhan energi tetap ada, tetapi alarm alami tubuh untuk makan tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Apakah Nafsu Makan Menurun pada Penderita Diabetes Berbahaya?

Penurunan nafsu makan pada penderita diabetes bukan hal yang bisa disepelekan. Ketika asupan makanan berkurang, tubuh otomatis kehilangan sumber energi dan nutrisi penting. Kondisi ini bisa membuat kadar gula darah semakin sulit dikendalikan, memicu hipoglikemia, hingga dalam kasus yang lebih berat menimbulkan komplikasi berbahaya seperti ketoasidosis diabetik (KAD). 

Jika berlangsung dalam jangka panjang, malnutrisi juga bisa terjadi dan membuat tubuh semakin rentan sakit serta menurunkan kualitas hidup sehari-hari.

Cara Mencegah atau Mengatasi Nafsu Makan Menurun pada Penderita Diabetes

Menurunnya nafsu makan bisa membuat penderita diabetes kesulitan menjaga asupan gizi. Berikut beberapa langkah yang bisa membantu tubuh tetap mendapat energi dan nutrisi yang dibutuhkan:

1. Makan Teratur Meski Porsi Kecil

Menjaga jam makan tetap konsisten membantu tubuh terbiasa menerima asupan energi. Porsi yang tidak terlalu besar juga lebih mudah ditoleransi ketika selera makan sedang menurun.

2. Pilih Makanan Bergizi dan Mudah Dicerna

Utamakan sumber protein, serat, serta vitamin dan mineral dari makanan yang tidak terlalu berat di perut, sehingga tubuh tetap mendapat nutrisi lengkap tanpa merasa cepat mual.

3. Tambahkan Camilan Sehat di Antara Waktu Makan

Saat sulit mengonsumsi makanan utama dalam jumlah banyak, camilan seperti buah, yogurt tanpa gula, atau kacang-kacangan bisa menjadi solusi untuk menjaga energi tetap stabil.

4. Kelola Stres dengan Baik

Stres seringkali dapat memperburuk selera makan. Melakukan aktivitas yang menenangkan seperti jalan santai, meditasi, atau hobi menyenangkan dapat membantu memperbaiki nafsu makan.

5. Konsultasi dengan Ahli Gizi atau Dokter Gizi

Jika kesulitan mengatur pola makan sendiri, ahli gizi dapat membantu merancang menu harian yang sesuai dengan kondisi tubuh dan kebutuhan energi penderita diabetes. 

Dokter gizi juga bisa membantu dalam hal ini.

Kapan harus ke Dokter?

Penurunan nafsu makan perlu segera ditangani jika disertai gejala lain seperti mual, muntah, penurunan berat badan drastis, atau gula darah yang tidak stabil. 

Pada kondisi ini, penderita diabetes sebaiknya memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam. Dokter akan membantu mencari tahu penyebabnya sekaligus memberi penanganan yang tepat. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare clinic menyediakan layanan manajemen diabetes bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik serta terdapat CGM dalam programnya. Program ini bisa membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C dan mengelola gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut. 


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.