2147752659-_1_-1200x800.webp

Minuman isotonik sering dipandang sebagai penyelamat setelah olahraga karena bisa menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Rasanya manis dan menyegarkan, membuat banyak orang mudah tergoda untuk meminumnya. 

Bolehkah Penderita Diabetes Minum Minuman Isotonik?

Minuman isotonik tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi penderita diabetes. Kandungan gula yang tinggi dapat dengan cepat menaikkan kadar gula darah, sehingga sebaiknya dihindari atau diganti dengan minuman rendah gula atau air putih, bahkan setelah olahraga atau berkeringat.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Minuman Isotonik

Minuman isotonik atau sports drink umumnya mengandung karbohidrat sederhana dalam bentuk gula, natrium, kalium, dan elektrolit lain yang membantu menggantikan cairan tubuh dan mineral yang hilang saat berkeringat. Selain itu, beberapa produk juga menambahkan magnesium atau kalsium, meski dalam jumlah kecil.

Dari sisi gula darah, minuman isotonik memiliki indeks glikemik (IG) tinggi, yaitu sekitar 75i. Untuk penderita diabetes, hal ini berarti risiko lonjakan gula darah lebih besar meski volume konsumsi biasanya kecil.

Bahaya Konsumsi Minuman Isotonik bagi Penderita Diabetes

Minuman isotonik memang membantu mengembalikan elektrolit, namun bagi penderita diabetes, konsumsinya dapat menimbulkan beberapa risiko:

1. Lonjakan Gula Darah

Gula dalam minuman isotonik diserap dengan cepat oleh tubuh karena IG tinggi. Konsumsinya bisa menyebabkan gula darah naik drastis, apalagi jika diminum di luar konteks olahraga atau aktivitas berat.

2. Meningkatkan Asupan Kalori

Meski volumenya kecil, kandungan gula bisa menambah kalori harian. Jika dikonsumsi tanpa kebutuhan energi yang seimbang, risiko kenaikan berat badan meningkat, yang berdampak pada sensitivitas insulin.

3. Memicu Ketergantungan Minuman Manis

Rasa manis yang mudah diterima tubuh dapat membuat seseorang terbiasa mengonsumsi minuman tinggi gula, sehingga kebiasaan ini sulit dikendalikan.

Cara Minum Minuman Isotonik dengan Aman bagi Penderita Diabetes

Jika ingin tetap mengonsumsi minuman isotonik karena kebutuhan tertentu, beberapa strategi berikut bisa diterapkan:

1. Batasi Porsi dan Frekuensi

Hanya konsumsi ketika benar-benar diperlukan, misalnya setelah olahraga intens dengan keringat banyak. Hindari minum minuman isotonik secara rutin di luar aktivitas fisik berat.

2. Pilih Varian Rendah atau Tanpa Tambahan Gula

Beberapa merek menawarkan versi rendah gula atau bebas gula tambahan. Ini lebih aman untuk gula darah, meski tetap harus dikontrol porsinya.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu jika ingin mengonsumsi minuman isotonik. Dokter atau ahli gizi dapat membantu menilai apakah minuman tersebut aman untuk dikonsumsi, menentukan porsi yang tepat, atau memberikan alternatif hidrasi yang lebih aman.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!



Primecare Clinic sedang mengadakan promo di bulan Desember 2025-Januari 2026, yaitu promo pada paket:

  1. Immune booster/suntik vitamin di klinik
  2. Vaksin meningitis + polio
  3. MCU (cek kolesterol, diabetes, ginjal, metabolik)
  4. MCU usia 40+ (berlaku untuk usia mulai dari 27 tahun)
  5. Vaksin flu & vaksin pneumonia
  6. Homecare suntik GERD
  7. Homecare suntik demam
  8. Homecare immune booster/suntik vitamin
  9. Homecare vaksin flu
  10. Homecare vaksin pneumonia
  11. Suntik vitamin di kantor (minimal 10 orang, khusus kantor di DKI Jakarta)
  12. Irigasi/pembersihan telinga
  13. Konsultasi gizi (dengand dokter spesialis gizi klinik)
  14. USG payudara + pap smear

Tertarik dengan promo paket ini? Ayo klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Primecare Clinic promo paket suntik demam & GERD di rumah (homecare) Primecare Clinic promo paket immune booster/suntik vitamin di rumah (homecare)Primecare Clinic promo paket suntik vitamin di kantor Primecare Clinic promo paket homecare vaksin flu dan pneumonia sekeluarga

promo paket vaksin flu & pneumonia di Primecare Clinic paket vaksin umroh (meningitis + polio) di Primecare Clinic paket promo immune booster/suntik vitamin di Primecare Clinic

paket medical check up akhir tahun (kolesterol, diabetes, ginjal, metabolik) Jakarta


2149456734-1-1200x800.webp

Berkeringat adalah mekanisme tubuh untuk menurunkan dan menjaga suhu tubuh agar tetap stabil. Pasalnya, suhu tubuh yang terlalu tinggi dapat berbahaya bagi tubuh. Tubuh akan mengeluarkan keringat ketika cuaca panas, saat berolahraga atau aktivitas fisik, serta saat sedang gugup. 

Namun, kamu perlu waspada jika sering berkeringat, bahkan ketika sedang santai, cuaca sejuk dan tidak panas. Sering berkeringat bisa menjadi gejala adanya masalah kesehatan, salah satunya diabetes. Apakah kondisi ini berbahaya dan bagaimana mengatasinya? Yuk, cek faktanya di artikel ini!

Apa itu Gejala Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes?

Sering berkeringat pada penderita diabetes adalah kondisi saat tubuh memproduksi keringat berlebih tanpa pemicu yang jelas. Dalam bahasa medis, sering berkeringat berlebih tanpa sebab yang jelas disebut hiperhidrosis

Berkeringat adalah salah satu cara tubuh untuk menjaga suhu agar tetap stabil. Di kulit kita terdapat ribuan kelenjar keringat yang berfungsi untuk mengeluarkan cairan ke permukaan kulit. Proses ini diatur oleh bagian otak yang bertugas mengatur suhu tubuh. 

Ketika suhu tubuh meningkat, baik karena cuaca panas, aktivitas fisik, atau kondisi emosional seperti stres, otak akan mengirim sinyal ke sistem saraf yang mengatur produksi keringat. Sinyal ini kemudian merangsang kelenjar keringat untuk memproduksi cairan. Saat keringat keluar ke permukaan kulit, suhu tubuh pun ikut turun. 

Selain dipengaruhi oleh suhu dan aktivitas fisik, keringat juga bisa dipicu oleh perubahan hormon dan kadar gula darah. Penderita diabetes dapat mengalami gejala sering berkeringat terutama pada kondisi hipoglikemia, yaitu saat kadar gula darah terlalu rendah.

Apakah Sering Berkeringat Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Penderita diabetes tidak selalu mengalami gejala sering berkeringat. Selain itu, sering berkeringat juga dapat disebabkan oleh berbagai penyebab. Berikut beberapa penyebab seseorang sering berkeringat:

1. Cuaca Panas dan Aktivitas Fisik

Saat suhu lingkungan tinggi, tubuh banyak bergerak, dan beraktivitas, kelenjar keringat akan bekerja lebih aktif untuk menjaga suhu tubuh tetap normal.

2. Stres, Cemas, atau Gugup

Beberapa orang bisa mengeluarkan keringat berlebih saat sedang stres, cemas, atau gugup. Kondisi emosi tertentu dapat merangsang saraf yang mengatur produksi keringat. Akibatnya, keringat muncul, biasanya di telapak tangan atau wajah.

3. Perubahan Hormon

Perubahan hormon juga bisa menjadi penyebab seseorang sering berkeringat, misalnya, pada wanita yang memasuki masa menopause. Ketika memasuki masa menopause, salah satu gejala yang sering muncul adalah hot flashes. Kondisi ini ditandai dengan rasa panas yang tiba-tiba timbul, disertai dengan keringat berlebih. 

Selain itu, penyakit penyakit hipertiroid juga dapat memicu keringat berlebih. Hipertiroid adalah kondisi medis yang menyebabkan kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid terlalu banyak. Akibatnya, metabolisme tubuh bekerja terlalu cepat dan membuat seseorang berkeringat lebih sering.

4. Infeksi

Penyakit yang diakibatkan infeksi bakteri, virus, maupun parasit dapat menimbulkan gejala sering berkeringat. Kondisi ini adalah mekanisme tubuh dalam melawan infeksi. Saat sistem imun melawan infeksi, suhu tubuh akan meningkat.

Salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan sering berkeringat pada malam hari adalah Tuberkulosis (TBC). Pada penyakit TBC, biasanya juga disertai gejala batuk yang lama tidak sembuh, penurunan berat badan, serta sesak napas. 

Jadi, jika seseorang sering berkeringat, bukan berarti menderita diabetes. Untuk mengetahui penyebab sering berkeringat, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Penyebab Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes

Penderita diabetes bisa sering berkeringat ketika kadar gula darah terlalu rendah atau hipoglikemia. Kondisi hipoglikemia dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makan atau karena obat. 

Ketika kadar gula darah sangat rendah, maka sistem saraf otonom akan aktif. Sistem saraf ini bertugas meregulasi beberapa fungsi tubuh, salah satunya mengatur produksi keringat. Oleh karena itu, produksi keringat akan meningkat ketika kadar gula darah rendah. 

Selain itu, penderita diabetes dapat mengalami komplikasi kerusakan saraf. Jika saraf yang mengontrol kelenjar keringat rusak, dapat mengakibatkan gangguan produksi keringat. Gejala yang dapat timbul adalah keringat berlebih. 

Apakah Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Sering berkeringat pada penderita diabetes tidak selalu berbahaya jika hanya muncul sesekali, misalnya karena cuaca panas atau aktivitas fisik yang berat. 

Namun, keringat berlebih bisa menjadi tanda bahaya pada kondisi hipoglikemia. Pada kondisi ini, biasanya disertai gejala lain seperti lemas, pusing, badan gemetar, jantung berdebar, tampak bingung, dan penurunan kesadaran. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes

Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba untuk mencegah dan mengatasi munculnya keringat berlebih:

  • Mengontrol kadar gula darah secara teratur dengan rutin periksa ke dokter, menjaga pola makan, serta mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter. 
  • Makan tepat waktu dan jangan telat makan karena bisa memicu hipoglikemia.
  • Pilih makanan sehat dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks, protein, sayur, dan buah agar kadar gula darah stabil.
  • Gunakan pakaian yang nyaman, pilih bahan yang menyerap keringat.
  • Mengelola stres dengan melakukan aktivitas yang menenangkan, seperti olahraga, relaksasi, dan meditasi. 

Kapan Harus ke Dokter? 

Jika kamu mengalami gejala sering berkeringat dan disertai beberapa kondisi di bawah, maka segera periksakan diri ke dokter:

  • Keringat muncul terus-menerus tanpa pemicu jelas.
  • Keringat disertai gejala hipoglikemia, yaitu gemetar, pusing, jantung berdebar, atau lemas.
  • Keringat berlebihan yang membuat sulit tidur atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Terdapat tanda komplikasi diabetes seperti kesemutan, mati rasa, atau luka sulit sembuh.

Dokter yang tepat untuk dikunjungi adalah dokter penyakit dalam, khususnya spesialis endokrin, karena ahli dalam menangani diabetes dan gangguan hormon. Jika dicurigai ada kerusakan saraf, maka bisa berkonsultasi dengan dokter saraf untuk penanganan lebih lanjut. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu membutuhkan solusi untuk manajemen diabetes, program manajemen diabetes di Primecare Clinic bisa menjadi solusi yang tepat. Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu mengelola gula darah dan gejala diabetes, serta menurunkan kadar HbA1C. Terdapat juga CGM dalam programnya.  Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 


44266-_1_-1200x800.webp

Menurunnya selera makan kerap menjadi gejala yang luput diperhatikan oleh penderita diabetes. Sebagian mengira kondisi ini hanya efek samping obat atau sekadar masalah pencernaan biasa. Padahal, turunnya selera makan bisa jadi petunjuk bahwa tubuh sedang mengalami ketidakseimbangan metabolik yang lebih serius.

Apa itu Gejala Nafsu Makan Menurun pada Penderita Diabetes?

Pada dasarnya, penurunan nafsu makan adalah salah satu keluhan yang bisa muncul akibat gangguan metabolisme pada diabetes. Gejala nafsu makan menurun biasanya ditandai dengan rasa cepat kenyang meskipun hanya makan dalam porsi kecil. Sebagian orang juga merasakan berkurangnya minat terhadap makanan, bahkan makanan yang biasanya disukai. 

Kondisi ini sering membuat penderita melewatkan jam makan karena tidak muncul rasa lapar. Akibatnya, tubuh bisa terasa lemas karena kekurangan energi, dan dalam jangka panjang berat badan dapat turun tanpa sebab yang jelas. Tingkat keparahannya berbeda pada tiap orang, ada yang hanya mengalami sedikit penurunan selera makan, namun ada juga yang sampai kesulitan menjaga asupan nutrisi harian.

Apakah Nafsu Makan Menurun Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Tidak selalu. Nafsu makan menurun bisa disebabkan oleh berbagai faktor umum, misalnya stres berkepanjangan, infeksi yang sedang dialami tubuh, gangguan pencernaan, hingga efek samping obat-obatan tertentu. Pada kondisi ini, penurunan selera makan biasanya hanya bersifat sementara dan akan membaik setelah penyebab utamanya teratasi.

Namun, ketika hal ini terjadi pada penderita diabetes, situasinya bisa lebih kompleks. Nafsu makan yang berkurang sering berkaitan dengan kadar gula darah yang tidak stabil. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menjadi sinyal adanya masalah dalam pengendalian penyakit atau bahkan tanda awal komplikasi. 

Penyebab Nafsu Makan Menurun pada Penderita Diabetes

Normalnya, tubuh memiliki sistem yang rapi untuk mengatur rasa lapar. Ketika cadangan energi mulai menipis, otak akan menerima sinyal dari hormon dan kadar gula darah untuk memicu rasa lapar. Setelah makan, sinyal tersebut mereda, digantikan rasa kenyang. 

Pada penderita diabetes, mekanisme ini bisa terganggu. Kadar gula darah yang tinggi atau tidak stabil dapat menyebabkan otak salah membaca sinyal tubuh. Akibatnya, seseorang bisa merasa cepat kenyang, kehilangan selera makan, atau bahkan tidak merasa lapar sama sekali meski tubuh sebenarnya masih kekurangan energi. Kondisi ini membingungkan, karena di satu sisi kebutuhan energi tetap ada, tetapi alarm alami tubuh untuk makan tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Apakah Nafsu Makan Menurun pada Penderita Diabetes Berbahaya?

Penurunan nafsu makan pada penderita diabetes bukan hal yang bisa disepelekan. Ketika asupan makanan berkurang, tubuh otomatis kehilangan sumber energi dan nutrisi penting. Kondisi ini bisa membuat kadar gula darah semakin sulit dikendalikan, memicu hipoglikemia, hingga dalam kasus yang lebih berat menimbulkan komplikasi berbahaya seperti ketoasidosis diabetik (KAD). 

Jika berlangsung dalam jangka panjang, malnutrisi juga bisa terjadi dan membuat tubuh semakin rentan sakit serta menurunkan kualitas hidup sehari-hari.

Cara Mencegah atau Mengatasi Nafsu Makan Menurun pada Penderita Diabetes

Menurunnya nafsu makan bisa membuat penderita diabetes kesulitan menjaga asupan gizi. Berikut beberapa langkah yang bisa membantu tubuh tetap mendapat energi dan nutrisi yang dibutuhkan:

1. Makan Teratur Meski Porsi Kecil

Menjaga jam makan tetap konsisten membantu tubuh terbiasa menerima asupan energi. Porsi yang tidak terlalu besar juga lebih mudah ditoleransi ketika selera makan sedang menurun.

2. Pilih Makanan Bergizi dan Mudah Dicerna

Utamakan sumber protein, serat, serta vitamin dan mineral dari makanan yang tidak terlalu berat di perut, sehingga tubuh tetap mendapat nutrisi lengkap tanpa merasa cepat mual.

3. Tambahkan Camilan Sehat di Antara Waktu Makan

Saat sulit mengonsumsi makanan utama dalam jumlah banyak, camilan seperti buah, yogurt tanpa gula, atau kacang-kacangan bisa menjadi solusi untuk menjaga energi tetap stabil.

4. Kelola Stres dengan Baik

Stres seringkali dapat memperburuk selera makan. Melakukan aktivitas yang menenangkan seperti jalan santai, meditasi, atau hobi menyenangkan dapat membantu memperbaiki nafsu makan.

5. Konsultasi dengan Ahli Gizi atau Dokter Gizi

Jika kesulitan mengatur pola makan sendiri, ahli gizi dapat membantu merancang menu harian yang sesuai dengan kondisi tubuh dan kebutuhan energi penderita diabetes. 

Dokter gizi juga bisa membantu dalam hal ini.

Kapan harus ke Dokter?

Penurunan nafsu makan perlu segera ditangani jika disertai gejala lain seperti mual, muntah, penurunan berat badan drastis, atau gula darah yang tidak stabil. 

Pada kondisi ini, penderita diabetes sebaiknya memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam. Dokter akan membantu mencari tahu penyebabnya sekaligus memberi penanganan yang tepat. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare clinic menyediakan layanan manajemen diabetes bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik serta terdapat CGM dalam programnya. Program ini bisa membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C dan mengelola gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut. 


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.