Primecare Clinic sedang mengadakan promo di bulan Januari-Maret 2026 yaitu promo:

  1. Paket vaksin influenza + vaksin pneumonia (di klinik dan homecare)
  2. Vaksin pneumonia
  3. Paket vaksin meningitis dan polio
  4. Premarital check up (MCU pranikah)
  5. Paket skrining paru (basic)
  6. Paket skrining TBC
  7. Paket konsultasi gizi (konsultasi dokter spesialis gizi, pembuatan meal planning, dan analisa komposisi tubuh)
  8. Paket irigasi/pembersihan telinga (termasuk administrasi, konsultasi dokter spesialis THT, dan pembersihan 2 telinga)
  9. USG payudara + pap smear
  10. Homecare infus anti hangover (hangover remedy) untuk area DKI Jakarta
  11. Homecare infus untuk nyeri haid (menstrual remedy) untuk area DKI Jakarta
  12. Homecare infus GERD dan demam area DKI Jakarta

Tertarik dengan promo ini? Ayo klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


849-1200x800.webp

Radang amandel atau tonsilitis adalah kondisi umum yang sering dialami anak-anak maupun orang dewasa. Rasanya pasti tidak enak, apalagi jika sampai mengganggu pernapasan dan aktivitas sehari-hari, rasanya mau cepat sembuh saja.

Pertanyaannya, kalau lagi radang amandel, harus ke dokter apa? Berikut dokter yang bisa menangani radang amandel.

Kalau Radang Amandel ke Dokter Apa?

Terdapat dua pilihan dokter jika Anda mengalami radang amandel, yaitu:

1. Dokter Umum

Dokter umum adalah pilihan pertama yang bisa Anda kunjungi jika mengalami radang amandel ringan hingga sedang, misalnya gejala baru hanya nyeri sedikit pada tenggorokan. Dokter umum dapat:

  • Melakukan pemeriksaan fisik
  • Memberikan obat pereda nyeri, demam, atau antibiotik jika diperlukan
  • Menentukan apakah pasien perlu dirujuk ke dokter spesialis

2. Dokter Spesialis THT

Jika radang amandel sering kambuh, berlangsung lama, atau menimbulkan komplikasi, dokter umum biasanya akan merujuk pasien ke dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan).

Dokter THT bisa menangani hal ini terkait radang amandel:

  • Radang amandel yang bersifat kronis
  • Radang amandel yang sering kambuh
  • Amandel membesar hingga mengganggu pernapasan
  • Pertimbangan untuk perlu adanya tindakan operasi amandel (tonsilektomi)

Kapan Harus Segera ke Dokter Terkait Radang Amandel?

Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami kondisi berikut ketika radang amandel:

  • Demam tinggi lebih dari 3 hari
  • Nyeri menelan yang semakin parah, bahkan hingga sulit untuk makan dan minum
  • Sulit bernapas
  • Radang amandel sering kambuh dalam setahun
  • Amandelnya mengeluarkan nanah

Baik itu dokter umum atau dokter spesialis THT, bisa jadi rujukan untuk konsultasi terkait gejala ini.

Apakah jika Radang Amandel, maka pasti harus Operasi?

Tidak semua radang amandel memerlukan operasi. Operasi amandel biasanya disarankan oleh dokter jika Anda mengalami hal ini:

  • Radang amandel kambuh lebih dari 5-7 kali setahun
  • Amandel sangat besar, sehingga mengganggu pernapasan
  • Terjadi komplikasi serius

Keputusan operasi amandel pastinya akan ditentukan oleh dokter spesialis THT setelah pemeriksaan komprehensif dilakukan.

Jangan Ragu untuk Konsultasi Terkait Radang Amandel ke Dokter

Jika Anda mengalami radang amandel, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter. Pilihannya bisa ke dokter umum atau dokter spesialis THT, tergantung gejala yang dirasakan. Tenang saja, tidak semua radang amandel perlu tindakan operasi.

Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan memiliki dokter umum dan dokter spesialis THT. Klik tautan ini jika Anda ingin konsultasi terkait radang amandel!


2147766689-1-1200x1200.webp

Telat haid sering kali menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi perempuan yang siklus menstruasinya teratur, pasti kaget dan cemas ketika haidnya telat. Pertanyaan-pertanyaan seperti “apakah saya hamil?”, “kok gak haid ya, apa ada masalah” cukup menghantui dan mengganggu pikiran.

Faktanya, kondisi telat haid tidak hanya disebabkan oleh kehamilan, tetapi ada berbagai kondisi lainnya. Pertanyaannya kalau mau periksa telat haid, ke dokter apa? Ini jawabannya!

Telat Haid, harus Periksa ke Dokter Apa?

Berikut adalah dokter yang bisa Anda kunjungi terkait keluhan telat haid:

1. Dokter Umum 

Dokter umum bisa menjadi pilihan pertama untuk kasus telat haid jika:

  • Telat haid terjadi sesekali atau pertama kali terjadi
  • Tidak ada keluhan berat lainnya
  • Ingin pemeriksaan awal atau tes kehamilan

Dokter umum dapat melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan merujuk ke dokter spesialis bila diperlukan.

2. Dokter Spesialis Kandungan (Sp.OG)

Dokter spesialis kandungan/obgyn adalah pilihan utama jika:

  • Telat haid telah terjadi lebih dari 2 bulan
  • Siklus haid tidak teratur dalam waktu lama
  • Ada nyeri perut bawah, perdarahan abnormal, atau keputihan tidak normal
  • Program hamil
  • Hasil tes kehamilan positif atau meragukan, misalnya positif samar

Dokter kandungan dapat melakukan USG, pemeriksaan hormon, dan evaluasi organ reproduksi secara menyeluruh untuk kasus telat haid.

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam 

Dalam beberapa kasus, telat haid berkaitan dengan hormon, seperti:

  • Gangguan tiroid
  • Diabetes
  • Gangguan metabolik

Jika dicurigai adanya masalah hormon, maka dokter spesialis obgyn atau dokter umum bisa merujuk Anda ke dokter spesialis penyakit dalam.

Kapan jika Telat Haid, harus Segera ke Dokter?

Segera periksakan diri ke dokter jika telat haid disertai keluhan ini:

  • Nyeri perut hebat
  • Perdarahan di luar jadwal haid
  • Mual muntah berat
  • Berat badan naik atau turun drastis
  • Tumbuh jerawat parah atau rambut berlebih (indikasi gejala PCOS)

Semakin cepat ke dokter, semakin baik. Hal ini karena deteksi penyakit bisa dilakukan lebih awal.

Bagaimana jika Telat Haid, tetapi Tes Kehamilan Negatif?

Jika tes kehamilan negatif, tetapi haid masih telat atau belum terjadi, maka:

  • Ulangi tes setelah 7 hari
  • Periksa ke dokter spesialis obgyn

Jangan Ragu untuk Konsultasi dengan Dokter jika Telat Haid

Dokter umum, dokter spesialis obgyn, atau dokter spesialis penyakit dalam bisa jadi opsi jika terjadi kondisi telat haid, terutama jika telat haid ini pertama kali terjadi dan disertai gejala berat seperti perdarahan.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis obgyn, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter umum. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya jika Anda ingin konsultasi terkait telat haid.



Dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan) berperan penting dalam menangani berbagai gangguan yang berkaitan dengan pernapasan, pendengaran, suara, hingga keseimbangan tubuh, sesuai dengan spesialisasinya yaitu telinga, hidung, dan tenggorokan. Jika ada masalah di seputar bagian tubuh tersebut, jangan ragu untuk konsultasi dengan mereka.

Pertanyaannya, kapan harus ke dokter spesialis THT? Ini jawabannya!

Kapan Harus ke Dokter Spesialis THT?

Tidak semua keluhan pada THT harus langsung ke dokter spesialis. Namun, ada kondisi tertentu yang sebaiknya segera diperiksakan.

1. Kapan Telinga perlu Diperiksa ke Dokter Spesialis THT?

Segera ke dokter spesialis THT jika telinga Anda mengalami hal ini:

  • Nyeri telinga hebat atau berkepanjangan
  • Keluar cairan atau nanah dari telinga
  • Telinga berdenging terus-menerus (tinnitus)
  • Penurunan pendengaran mendadak
  • Merasa berputar (indikasi vertigo)

2. Kapan Hidung perlu Diperiksa ke Dokter Spesialis THT?

Beberapa keluhan hidung yang memerlukan pemeriksaan dokter spesialis THT adalah:

  • Hidung tersumbat lebih dari 10 hari
  • Mimisan sering atau sulit berhenti
  • Nyeri wajah dan kepala akibat sinus
  • Ingus berwarna kuning kehijauan, disertai dengan demam
  • Ada dugaan timbulnya polip hidung

3. Kapan Tenggorokan perlu Diperiksa ke Dokter Spesialis THT?

Periksakan tenggorokan Anda ke dokter spesialis THT jika Anda mengalami:

  • Sakit tenggorokan lebih dari satu minggu
  • Sulit menelan atau terasa mengganjal
  • Suara serak atau bindeng lebih dari dua minggu
  • Amandel membesar dan bengkak, bahkan sering kambuh
  • Batuk kronis (terus-menerus) tanpa sebab jelas

Apakah Harus ke Dokter Umum Dulu, atau bisa Langsung ke Dokter Spesialis THT?

Pada keluhan ringan seperti flu biasa atau sakit tenggorokan ringan, dokter umum harusnya sudah cukup, Namun, Anda sebaiknya ke dokter spesialis THT jika keluhan di bawah ini tidak membaik setelah 3-5 hari

  • Gejala semakin berat, misalnya tenggorokan terus merah tanpa adanya indikasi radang akan berkurang dalam waktu dekat
  • Keluhan pada telinga, hidung, atau pun tenggorokan sering kambuh

Jangan Ragu untuk Konsultasi dengan Dokter Spesialis THT

Jadi, Anda tidak perlu ragu untuk konsultasi dengan dokter spesialis THT, terutama jika ada keluhan pada telinga, hidung, atau pun tenggorokan Anda, apalagi jika keluhannya sering kambuh dan terasa sangat berat.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis THT serta layanannya seperti irigasi telinga dan audiometri. Klik tautan ini jika Anda tertarik untuk konsultasi dengan dokter spesialis THT!


40329-_1_-1200x801.webp

January 7, 2026 Primecare ClinicDiabetes

Jeruk termasuk buah yang cukup sering dikonsumsi sehari-hari. Rasanya yang manis dan sedikit asam membuatnya terasa menyegarkan. Meski begitu, bagi penderita diabetes, konsumsi jeruk tetap perlu diperhatikan agar tidak mengganggu kestabilan gula darah.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Jeruk?

Secara umum, penderita diabetes tetap boleh makan jeruk selama porsinya terkontrol. Jeruk tergolong buah dengan indeks glikemik rendah, sehingga tidak langsung memicu lonjakan gula darah yang drastis bila dikonsumsi dalam jumlah wajar. Meski begitu, pengaturan porsi dan keseimbangan menu harian tetap perlu diperhatikan.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Jeruk

Satu buah jeruk mengandung vitamin C, serat, antioksidan, serta karbohidrat dari gula alami buah. 

Bagi penderita diabetes, kandungan serat ini penting karena membantu memperlambat penyerapan glukosa di usus, sehingga kenaikan gula darah berlangsung lebih bertahap. Selain itu, kandungan vitamin C dan antioksidan pada jeruk membantu menjaga kesehatan sel dan daya tahan tubuh. Hal ini bermanfaat bagi penderita diabetes yang lebih rentan mengalami peradangan dan masalah metabolik.

Indeks glikemik jeruk berada di kisaran 35, sehingga termasuk kategori rendah. Dalam porsi yang wajar, beban glikemiknya juga rendah, yaitu sekitar 4,1. Artinya, jeruk umumnya tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang besar.

Bahaya Makan Jeruk Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Walaupun jeruk termasuk buah yang relatif aman, konsumsi yang berlebihan tetap bisa memengaruhi kadar gula darah. Beberapa risiko yang mungkin terjadi antara lain:

1. Kontrol Gula Darah Jadi Kurang Stabil

Pada sebagian penderita diabetes, konsumsi buah manis secara berlebihan dapat membuat kadar gula darah lebih sulit diprediksi dan tidak konsisten.

2. Gula Darah Naik Setelah Makan

Jika jeruk dikonsumsi dalam jumlah besar, asupan gula total meningkat sehingga kadar gula darah bisa ikut naik.

Cara Makan Jeruk yang Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap aman dikonsumsi, jeruk sebaiknya dikonsumsi dengan cara berikut:

1. Konsumsi Jeruk Utuh, Bukan Jus

Jeruk utuh mengandung serat yang membantu memperlambat penyerapan gula, sehingga lebih ramah bagi gula darah dibandingkan jus.

2. Batasi Porsi

Satu buah jeruk ukuran sedang per hari umumnya sudah cukup untuk mendapatkan manfaat tanpa meningkatkan gula darah secara berlebihan.

3. Hindari Penambahan Gula atau Sirup

Tambahan pemanis hanya akan meningkatkan kadar gula darah dan menghilangkan manfaat sehat dari buah.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi ke dokter apabila gula darah sulit dikendalikan setelah mengonsumsi jeruk. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk mengevaluasi kondisi gula darah dan terapi yang sedang dijalani. Selain itu, porsi buah yang aman juga sebaiknya dikonsultasikan dengan ahli gizi atau dokter gizi, agar pola makan tetap seimbang dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


486-_1_-1200x800.webp

Memeriksa kesehatan payudara sangat penting untuk mendeteksi masalah sejak dini, seperti benjolan, nyeri, perubahan bentuk, bahkan hingga masalah kesehatan seperti kanker. Masalahnya, kalau mau periksa payudara harus ke dokter apa? Berikut jawabannya!

Dokter Apa saja yang bisa Menangani Masalah Payudara?

1. Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi (Obgyn)

Selain pemeriksaan kehamilan, keluhan di sekitar vagina seperti keputihan, dokter spesialis obgyn juga bisa menangani pemeriksaan pada payudara.

2. Dokter Umum

Dokter umum cocok jadi pilihan awal jika Anda belum mengetahui permasalahan pasti, sehingga ingin cek payudara saja sebagai permulaan.

3. Dokter Spesialis Bedah (Bedah Umum / Bedah Onkologi)

Anda bisa dirujuk ke dokter bedah jika terjadi keluhan atau gejala seperti perubahan bentuk, benjolan, keluar cairan dari puting tanpa sebab yang jelas, dll.

Mereka ahli dalam mendiagnosis kelainan pada payudara dan melakukan tindakan seperti biopsi atau operasi bila memang diperlukan.

4. Dokter Spesialis Onkologi

Dokter spesialis onkologi adalah dokter spesialis kanker. Anda bisa dirujuk ke mereka jika mengalami kanker payudara atau terapi kanker.

5. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi (SpPD-KHOM)

Jika kondisi terkait kanker payudara membutuhkan pengobatan lanjutan seperti kemoterapi, dokter spesialis penyakit dalam ini dapat menangani terapi tersebut.

Jenis Pemeriksaan Payudara yang Dilakukan Dokter

1. Pemeriksaan Fisik Payudara

Pemeriksaan fisik ini mencakup pemeriksaan benjolan, perubahan kulit, atau kelainan lainnya pada payudara jika ditemukan.

2. USG Payudara

USG payudara ini menggunakan USG (bukan X-ray). Umumnya, pemeriksaan ini dilakukan setelah konsultasi dengan dokter umum dan Anda mendapatkan surat pengantar untuk pemeriksaan dengan USG payudara.

3. Mammografi

Mammografi adalah pemeriksaan yang berbeda dengan payudara. Pemeriksaan ini bisa dipakai untuk memeriksa indikasi kanker payudara.

4. Biopsi Payudara

Jika dari pemeriksaan lewat USG atau mamografi menemukan kelainan, dokter mungkin menyarankan biopsi untuk menegakkan diagnosis terkait masalah pada payudara Anda.

Kapan harus Periksa Payudara?

Anda sebaiknya segera ke dokter jika terdapat kondisi ini pada payudara Anda:

  • Benjolan pada payudara atau ketiak
  • Nyeri payudara yang tidak kunjung hilang
  • Puting mengeluarkan darah
  • Perubahan bentuk atau ukuran payudara
  • Permukaan kulit menyerupai kulit jeruk
  • Terjadi perubahan posisi atau bentuk puting

Jangan Ragu untuk Periksa Payudara

Jangan ragu untuk memeriksakan payudara Anda dengan dokter, baik itu dokter umum atau pun dokter spesialis. Setelah konsultasi, Anda akan diarahkan untuk pemeriksaan seperti fisik, USG, mammografi, atau bahkan biopsi.

Pemeriksaan payudara ini penting untuk mendeteksi dini penyakit serta mencegah hal yang tidak diinginkan. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Di Primecare Clinic tersedia dokter spesialis obgyn dan dokter umum. Tersedia juga layanan pemeriksaan payudara, yaitu USG payudara. Ingin konsultasi dengan dokter untuk periksa payudara atau USG payudara? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148875858-1-1200x864.webp

Keputihan adalah hal normal, tetapi bisa menjadi tanda masalah kesehatan bila muncul perubahan warna, bau, jumlah, atau disertai gejala lain. 

Pertanyaannya, kalau mau konsultasi seputar masalah keputihan itu harus ke dokter apa ya? Ini jawabannya!

Dokter yang Tepat untuk Periksa Keputihan

1. Dokter Kandungan (Spesialis Obgyn)

Dokter kandungan atau Sp.OG adalah pilihan paling tepat untuk memeriksa keputihan, terutama jika keputihan disebabkan oleh masalah pada organ reproduksi seperti vagina, serviks, atau rahim.

Konsultasikan masalah keputihan Anda dengan dokter kandungan jika:

  • Keputihan berbau menyengat
  • Berwarna kuning, hijau, atau kecokelatan
  • Menggumpal seperti susu basi
  • Disertai gatal, nyeri, atau perih
  • Disertai perdarahan
  • Keputihan terus-menerus atau berulang

2. Dokter Kulit dan Kelamin (Sp.KK)

Jika keputihan dicurigai terkait dengan infeksi menular seksual (IMS) atau masalah kulit di area genital, dokter spesialis kulit dan kelamin dapat menjadi pilihan.

Masalah keputihan cocok untuk dikonsultasikan dengan dokter spesialis kulit dan kelamin jika:

  • Ada luka, ruam, atau benjolan di area vagina
  • Muncul gejala terkait infeksi menular seksual 
  • Keputihan terjadi setelah kontak seksual berisiko seperti tanpa pengaman 

3. Dokter Umum

Bila gejala masih ringan atau Anda membutuhkan pemeriksaan awal, dokter umum juga bisa membantu sebelum merujuk ke spesialis.

Anda bisa konsultasi masalah terkait keputihan dengan dokter umum jika:

  • Keputihan baru terjadi pertama kali
  • Gejala belum parah
  • Ingin pemeriksaan dan saran awal terkait masalah keputihan Anda

Kapan Masalah Keputihan harus Dikonsultasikan dengan Dokter?

Beberapa kondisi keputihan ini menjadi tanda bahwa Anda harus segera ke dokter:

  • Bau amis atau busuk
  • Warna kuning, hijau, atau abu-abu
  • Tekstur berbusa atau menggumpal
  • Disertai gatal, nyeri, atau perih saat berkemih
  • Jumlahnya sangat banyak

Jika Anda mengalami salah satunya saja dari kondisi di atas, sebaiknya segera periksa ke dokter.

Persiapan Sebelum Periksa ke Dokter terkait Keputihan

1. Catat Gejala yang Dialami

Catat gejala terkait keputihan seperti:

  • Kapan keputihan mulai muncul
  • Warna dan bau
  • Apakah keputihannya disertai gatal atau nyeri

2. Hindari Membersihkan Vagina Berlebihan

Douching atau penggunaan cairan pembersih sebelum pemeriksaan bisa mengganggu hasil diagnosis terkait keputihan.

3. Bawa Riwayat Pengobatan

Jika Anda pernah menggunakan obat tertentu terkait masalah keputihan atau kewanitaan, maka informasikan ke dokter. Hal ini penting agar dokter bisa memberikan pengobatan yang tepat untuk Anda.

Jangan Ragu untuk Periksa Terkait Keputihan ke Dokter

Kalau Anda ingin periksa keputihan, maka dokter yang paling tepat adalah dokter kandungan (Sp.OG). Namun, dokter kulit dan kelamin (Sp.KK) juga bisa menjadi pilihan bila masalah keputihan ini berkaitan dengan masalah kulit atau infeksi menular seksual (IMS). Sementara itu, untuk keluhan ringan, Anda bisa mulai dengan cara berkonsultasi dengan dokter umum.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis obgyn, kulit dan kelamin, serta dokter umum. Tertarik untuk konsultasi terkait keputihan Anda? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


3215-1-1200x1200.webp

January 6, 2026 Primecare ClinicDiabetes

Kebab dikenal sebagai hidangan daging yang gurih dengan tambahan sayuran, roti, dan saus yang membuat rasanya semakin kaya. Namun, bagi penderita diabetes, kombinasi bahan tersebut terkadang membuat ragu, terutama karena sebagian isinya dapat berpengaruh pada kenaikan gula darah.

Bolehkah Penderita Diabetes Makan Kebab?

Penderita diabetes pada dasarnya tetap boleh mengonsumsi kebab, selama porsinya terkontrol dan pemilihan bahan serta cara penyajiannya diperhatikan. 

Daging pada kebab, seperti sapi, ayam, kambing atau domba, merupakan sumber protein yang tidak secara langsung menaikkan kadar gula darah. Namun, bagian lain dari kebab, seperti tortilla, saus yang tinggi gula, serta tambahan lemak dapat memengaruhi kadar gula darah dan kesehatan metabolik jika dikonsumsi berlebihan.

Zat Gizi dan Indeks Glikemik Kebab

Kandungan gizi kebab sangat dipengaruhi oleh bahan-bahan yang digunakan di dalamnya. Biasanya, satu porsi kebab terdiri dari daging panggang sebagai sumber protein utama, disertai sayuran seperti selada, tomat, atau timun. Protein dalam daging membantu mempertahankan massa otot sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama, sementara sayuran menyumbang serat, vitamin, dan mineral yang baik untuk kesehatan pencernaan.

Kebab umumnya disajikan bersama roti tortilla yang menjadi sumber karbohidrat. Bagian inilah yang dapat meningkatkan kadar gula darah, tergantung jenis dan jumlah roti yang digunakan. Selain itu, kebab sering diberi tambahan saus yang mungkin mengandung gula, sehingga ikut memengaruhi total kalori dan kandungan lemak dalam satu porsi.

Dari sisi indeks glikemik (IG), kebab tidak bisa dinilai dari satu bahan saja karena merupakan kombinasi makanan. Roti tortilla atau pita umumnya memiliki IG sedang, sementara kandungan protein dan lemak dalam daging serta saus dapat memperlambat penyerapan glukosa. Oleh karena itu, beban glikemik (BG) kebab sangat bergantung pada ukuran porsi dan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi.

Bahaya Makan Kebab Secara Berlebihan bagi Penderita Diabetes

Jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam porsi besar, kebab dapat meningkatkan beberapa risiko berikut:

1. Meningkatkan Asupan Lemak Jenuh

Beberapa jenis daging yang digunakan dalam kebab, seperti domba atau daging sapi berlemak, mengandung lemak jenuh dalam jumlah lebih tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, asupan lemak jenuh ini dapat meningkatkan kadar kolesterol darah dan risiko penyakit jantung. 

Risiko tersebut perlu lebih diantisipasi pada penderita diabetes, karena sejak awal memiliki kerentanan terhadap gangguan kardiovaskular.

2. Menyebabkan Lonjakan Gula Darah

Karbohidrat dari roti tortilla atau pita tetap dapat memengaruhi kadar gula darah. Risiko lonjakan gula darah akan semakin besar jika porsinya terlalu banyak atau ditambah saus manis dalam jumlah berlebihan. anpa pengaturan porsi yang baik, kadar gula darah dapat meningkat signifikan setelah makan.

3. Mengandung Sodium yang Tinggi

Sebagian kebab juga menggunakan bumbu atau saus dengan kadar garam yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, asupan sodium dapat meningkatkan tekanan darah. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi penderita diabetes, karena hipertensi merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memperburuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Cara Makan Kebab dengan Aman bagi Penderita Diabetes

Agar tetap dapat menikmati kebab tanpa mengganggu kontrol gula darah, beberapa langkah berikut dapat membantu:

1. Pilih Daging yang Lebih Rendah Lemak

Daging ayam tanpa kulit umumnya mengandung lemak jenuh lebih rendah dibandingkan daging berlemak seperti domba atau sapi. 

2. Perhatikan Ukuran Porsi Roti

Pilih porsi roti yang tidak terlalu besar. Jika memungkinkan, gunakan tortilla yang terbuat dari gandum utuh, karena kandungan seratnya lebih tinggi dan peningkatan gula darah cenderung berlangsung lebih lambat.

3. Batasi Saus Tinggi Gula dan Lemak

Beberapa jenis saus, seperti saus manis atau mayones, mengandung kalori, gula, dan lemak yang cukup tinggi. Sebaiknya gunakan dalam jumlah kecil saja, atau pilih saus berbahan yoghurt yang umumnya lebih rendah lemak.

4. Tambahkan Sayuran Lebih Banyak

Isi kebab dengan lebih banyak sayuran seperti selada, tomat, atau timun. Kandungan serat pada sayuran dapat membantu memperlambat penyerapan gula sekaligus menjaga rasa kenyang lebih lama.

5. Hindari Makan Bersamaan dengan Sumber Karbohidrat Tinggi Lainnya

Usahakan tidak mengonsumsi kebab bersamaan dengan makanan atau minuman tinggi gula dan karbohidrat, seperti kentang goreng atau minuman manis. Langkah ini membantu menjaga total asupan karbohidrat tetap terkendali dalam satu waktu makan.

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi ke dokter apabila setelah mengonsumsi kebab, gula darah sulit terkendali. Kondisi ini perlu dievaluasi untuk memastikan pola makan dan terapi yang dijalankan sudah sesuai dengan kebutuhan tubuh. Konsultasi dapat dilakukan dengan dokter spesialis penyakit dalam, serta ahli gizi atau dokter gizi untuk membantu merancang pola makan yang aman dan seimbang.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Jika Anda mengalami kesulitan mengontrol gula darah, mengalami gula darah tinggi, atau mengalami diabetes, konsultasikan masalah tersebut di Primecare Clinic. 

Primecare clinic menyediakan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan program manajemen diabetes yang lengkap, termasuk Continuous Glucose Monitoring (CGM).  Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Jangan tunggu sampai muncul gejala dan komplikasi, mulailah memantau gula darah sejak secara rutin dan konsultasi dengan dokter terkait. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


1394-_1_-1200x800.webp

Ketika GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) sering kambuh, banyak orang bingung harus memeriksakan diri ke dokter apa. Penanganan yang tepat sangat penting agar gejala tidak semakin parah dan kualitas hidup tetap terjaga.

Berikut dokter yang bisa Anda kunjungi jika GERD kambuh!

Dokter Apa yang  Bisa Menangani Keluhan GERD Kambuh?

1. Dokter Umum

Dokter umum bisa jadi pilihan jika GERD kambuh, terutama untuk penanganan awal. Mereka bisa mendiagnosis serta memberikan obat untuk mengatasi GERD/asam lambung.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Internis

Dokter spesialis penyakit dalam adalah pilihan dokter spesialis yang cocok untuk menangani GERD yang kambuh. Mereka dapat:

  • Mendiagnosis penyebab GERD
  • Memberikan obat antasida, PPI, atau H2 blocker
  •  Menyusun rencana perawatan jangka panjang terkait GERD

Biasanya, pasien akan dirujuk ke spesialis gastroenterologi lebih lanjut jika diperlukan.

3. Dokter Spesialis Gastroenterologi (Pencernaan)

Jika GERD sudah kronis, sering kambuh, atau tidak membaik setelah pemberian obat, maka Anda sebaiknya menemui dokter gastroenterologi. Mereka dapat melakukan:

  • Pemeriksaan endoskopi
  • Evaluasi kerusakan esofagus
  • Penanganan komplikasi seperti Barrett’s esophagus atau esofagitis

Dokter spesialis ini adalah dokter yang cocok jika GERD-nya sudah parah dan gejalanya berat.

Kapan Harus ke Dokter Karena GERD?

1. Gejala GERD Sering Kambuh

GERD sering kambuh seperti mules lebih dari dua kali seminggu atau regurgitasi (makanan kembali ke kerongkongan) asam terus-menerus, maka Anda bisa segera ke konsultasi dengan dokter.

2. Sudah Minum Obat Bebas, tetapi Tidak Membantu

Jika antasida atau obat lambung yang diberikan sebagai perawatan awal sudah tidak mempan, evaluasi lebih lanjut dengan dokter, baik itu evaluasi oleh dokter umum atau dokter spesialis.

3. Ada Tambahan Gejala yang Mengkhawatirkan

Jika ada tambahan gejala seperti sulit menelan, nyeri dada yang tidak biasa, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, muntah darah, atau tinja berwarna hitam. Maka, segera ke dokter untuk penanganan agar komplikasi bisa ditangani sesegera mungkin.

Pemeriksaan yang Biasanya Dilakukan Dokter Terkait GERD

Terdapat tiga pemeriksaan yang biasanya dilakukan oleh dokter untuk memeriksa GERD, misalnya:

1. Endoskopi Saluran Cerna Atas

Pemeriksaan ini (endoskopi) berfungsi untuk melihat langsung kondisi esofagus dan lambung.

2. Tes pH 24 Jam

Tes ini akan mengukur intensitas dan frekuensi asam lambung yang naik ke esofagus (kerongkongan).

3. Manometri Esofagus

Manometri berfungsi untuk memeriksa fungsi otot esofagus (kerongkongan).

GERD Kambuh? Ayo Segera ke Dokter!

Jika GERD kambuh, Anda sebaiknya segera ke dokter, baik itu dokter umum atau pun dokter spesialis penyakit dalam.

Di Primecare Clinic tersedia dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, serta homecare suntik GERD untuk menangani keluhan GERD Anda. GERD Anda kambuh? Ayo klik tautan ini!


1729845-1200x699.webp

Melakukan medical check up (MCU) secara berkala sangat penting untuk memantau kondisi kesehatan. Namun, banyak orang masih bingung apakah perlu puasa sebelum MCU, berapa lama waktunya, dan pemeriksaan apa saja yang mewajibkan puasa sebelum MCU dilaksanakan. 

Artikel ini akan membahas seputar puasa sebelum MCU, cek apa saja yang perlu puasa, dan apa yang harus dilakukan jika terlanjur/tidak sengaja makan/minum sebelum MCU.

Apa Itu Puasa Sebelum Medical Check Up?

Puasa sebelum MCU adalah sebuah kegiatan di mana seseorang tidak mengonsumsi makanan dan minuman tertentu selama beberapa jam sebelum menjalani pemeriksaan medis (MCU).

Tujuan dari puasa ini adalah agar hasil tes tidak terpengaruh oleh aktivitas metabolisme setelah makan dan minum. Jadi, hasil MCU akurat dan tidak ada noise dalam datanya yang bisa mengakibatkan salah interpretasi.

Kenapa Harus Puasa Sebelum MCU?

1. Menghindari Hasil Tes yang Tidak Akurat

Makanan dan minuman yang dikonsumsi bisa memengaruhi:

  • kadar gula darah
  • kadar kolesterol dan trigliserida
  • fungsi ginjal dan hati 

Jika tidak puasa, hasil dari pemeriksaan di atas bisa menunjukkan angka yang lebih tinggi atau lebih rendah dari kondisi yang sebenarnya.

2. Mengoptimalkan Deteksi Masalah Kesehatan

Dengan puasa, dokter dapat melihat kondisi tubuh dalam keadaan stabil, sehingga diagnosis bisa lebih akurat.

Contoh Pemeriksaan pada MCU yang Pasiennya Diwajibkan Berpuasa

1. Tes Darah

Beberapa jenis tes darah yang membutuhkan puasa:

Puasa membantu mendapatkan gambaran metabolik yang akurat.

2. Tes Urin

Walau tidak semua tes urin membutuhkan puasa, beberapa rumah sakit/klinik akan menyarankan puasa.

3. USG Abdomen/Perut

Untuk USG perut bagian atas (abdomen), pasien biasanya diminta puasa agar:

  • kantong empedu (gallbladder) mengembang optimal
  • gas di usus yang bisa menghalangi visualisasi organ bisa berkurang jumlahnya

Berapa Lama Durasi Puasa Sebelum MCU?

a. Durasi Puasa Ideal

Umumnya dibutuhkan puasa sekitar 10-12 jam sebelum melakukan MCU. Durasi puasa ini tergantung dari tes yang akan dilakukan pada MCU.

b. Aturan Minum Saat Puasa

Sebagian besar fasilitas kesehatan mengizinkan minum air putih selama puasa. Hindari minuman ini sebelum MCU:

  • Kopi
  • Teh
  • Jus
  • Minuman manis
  • Minuman berwarna

Air putih akan membantu mencegah dehidrasi dan mempermudah pengambilan sampel darah.

Tips Puasa Sebelum Medical Check Up

a. Hindari Makanan Berlemak dan Alkohol Sehari Sebelumnya

Makanan berlemak dapat meningkatkan trigliserida, sementara alkohol memengaruhi fungsi liver. Jadi, hindari makanan/minuman tersebut sebelum MCU, terutama pemeriksaan kolesterol dan fungsi hati.

b. Tidur Cukup

Kurang tidur bisa memengaruhi kadar gula darah dan tekanan darah.

c. Jangan Melakukan Aktivitas Fisik Berat Malam Sebelum MCU

Aktivitas fisik yang intens seperti HIIT, lari interval, dll. dapat memengaruhi beberapa parameter darah.

Apakah Boleh Minum Obat saat Puasa MCU?

Jika Anda mengonsumsi obat rutin (misalnya obat darah tinggi), maka konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau pihak laboratorium. Beberapa obat boleh diminum, sementara obat  lainnya perlu ditunda beberapa jam hingga pemeriksaan selesai.

Apakah Boleh untuk Tidak Puasa Sebelum MCU?

Tidak semua paket MCU mewajibkan puasa. Namun, jika pemeriksaan melibatkan profil lipid atau glukosa, puasa wajib dilakukan untuk menghindari hasil yang menyesatkan.

Bagaimana jika Terlanjur Makan/Minum sebelum MCU?

Jika kasusnya demikian, maka segera kabari tenaga kesehatan/dokter. Kemungkinan besar prosedur MCU yang akan dilakukan akan ditunda. Jika Anda tidak jujur bahwa telah makan/minum sebelum MCU yang mengharuskan puasa terlebih dahulu, maka hasil MCU Anda akan tidak akurat.

Jangan Lupa Puasa untuk MCU yang Wajib Berpuasa Sebelumnya

Puasa sebelum medical check up (MCU) sangat penting untuk memastikan bahwa hasil pemeriksaan dari MCU tersebut akurat. Umumnya, durasi puasa adalah 10-12 jam, dan umumnya hanya air putih saja yang diperbolehkan untuk dikonsumsi. 

Dengan persiapan yang tepat, Anda dapat memperoleh hasil MCU yang optimal dan membantu dokter memberikan diagnosis yang akurat.

Tersedia MCU di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jika Anda tertarik untuk MCU, klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.