15875-1-1200x800.webp

Sudah menjaga pola makan, rutin bergerak, dan merasa diet berjalan cukup konsisten, tetapi angka di timbangan tidak berubah sama sekali. Kondisi ini sering membuat frustasi dan menimbulkan rasa ingin menyerah. 

Situasi seperti ini cukup umum terjadi dalam proses penurunan berat badan dan dikenal sebagai fase plateau atau berat badan stuck.

Apa Itu Fase Plateau?

Fase plateau adalah kondisi ketika berat badan tidak lagi turun meskipun pola makan dan aktivitas fisik masih dilakukan seperti sebelumnya. Pada fase ini, tubuh seakan “berhenti” merespons usaha penurunan berat badan yang sedang dijalani.

Kondisi ini bukan tanda kegagalan, melainkan bagian alami dari proses adaptasi tubuh. Seiring berkurangnya berat badan, kebutuhan energi tubuh juga ikut berubah, sehingga strategi yang awalnya efektif bisa menjadi kurang optimal.

Penyebab Berat Badan Stuck

Salah satu penyebab utama fase plateau adalah penurunan kebutuhan kalori seiring turunnya berat badan. Tubuh menjadi lebih efisien dalam menggunakan energi, sehingga pembakaran kalori tidak sebesar sebelumnya.

Selain itu, asupan kalori yang tidak disadari meningkat, kurang variasi aktivitas fisik, atau kelelahan tubuh akibat diet terlalu ketat juga dapat memicu berat badan stuck. Stres dan kurang tidur turut berperan karena dapat memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan penyimpanan lemak.

Berapa Lama Fase Plateau Berlangsung?

Lama fase plateau bisa berbeda pada setiap orang. Pada sebagian orang, kondisi ini berlangsung singkat dan membaik dengan sedikit penyesuaian. Pada lainnya, fase plateau bisa bertahan lebih lama, terutama jika tubuh benar-benar membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Ciri-ciri Berat Badan Stuck

Ciri paling jelas dari fase plateau adalah angka timbangan yang tidak berubah dalam waktu tertentu. Namun, tanda lain juga bisa muncul, seperti lingkar tubuh yang tidak banyak berubah, motivasi yang menurun, atau tubuh terasa lebih cepat lelah meskipun pola makan dan aktivitas masih sama.

Pada kondisi ini, sebagian orang juga mulai merasa frustasi karena usaha yang dilakukan tidak menunjukkan hasil seperti sebelumnya.

Cara Mengatasi Berat Badan Stuck

Cara mengatasi fase plateau adalah dengan melakukan evaluasi pola makan dan akativitas yang saat ini dilakukan. Berikut hal yang bisa dilakukan:

1. Mengatur Ulang Porsi Makan

Seiring turunnya berat badan, kebutuhan kalori tubuh ikut berubah. Evaluasi kembali porsi makan membantu mencegah asupan kalori yang tanpa disadari sudah terlalu tinggi.

2. Memastikan Asupan Protein Cukup

Asupan protein yang cukup akan mendukung metabolisme tetap optimal saat diet.

3. Menambah Variasi Aktivitas Fisik

Melakukan jenis olahraga yang sama terus-menerus dapat membuat tubuh beradaptasi. Menambah variasi, intensitas, atau durasi aktivitas fisik dapat kembali merangsang pembakaran energi.

4. Memperbaiki Kualitas Tidur 

Kurang tidur dapat mengganggu hormon pengatur nafsu makan dan metabolisme. Tidur yang cukup dan berkualitas membantu tubuh bekerja lebih efisien dalam mengatur berat badan.

5. Memberi Tubuh Waktu Istirahat dari Defisit Kalori (Diet Break)

Diet break membantu mengurangi stres metabolik akibat defisit kalori berkepanjangan. Cara ini juga dapat membantu menjaga kepatuhan diet dalam jangka panjang.

Cara Mencegah Fase Plateau atau Berat Badan Stuck

Pencegahan fase plateau dapat dilakukan dengan cara berikut:

1. Menerapkan Pola Penurunan Berat Badan yang Realistis Sejak Awal

Target penurunan berat badan yang terlalu agresif meningkatkan risiko plateau. Pendekatan bertahap lebih mudah dipertahankan dan ramah bagi tubuh.

2. Menghindari Diet Ekstrem

Pembatasan makan yang terlalu ketat dapat memperlambat metabolisme. Diet ekstrem juga meningkatkan risiko kehilangan massa otot dan kelelahan.

3. Menjaga Pola Makan Seimbang

Asupan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang seimbang membantu fungsi tubuh tetap optimal. Pola makan seimbang juga lebih mudah dijalani dalam jangka panjang.

4. Menyesuaikan Kebutuhan Kalori

Kebutuhan kalori dapat berubah seiring perubahan berat badan dan aktivitas. Penyesuaian secara berkala membantu menjaga defisit kalori tetap efektif tanpa berlebihan.

Jangan hanya fokus pada timbangan, tetapi fokus pada perubahan kebiasaan. Pendekatan ini membuat proses penurunan berat badan lebih stabil dan berkelanjutan.

Anda bisa mengestimasi kebutuhan kalori Anda dengan tautan ini.

Jika Mengalami Berat Badan Stuck, Sebaiknya ke Dokter Apa?

Jika mengalami berat badan stuck, apalagi jika disertai keluhan lain seperti tubuh sangat lemas, pusing, atau gangguan kesehatan tertentu, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. 

Konsultasi dengan dokter gizi atau ahli gizi dapat membantu menyusun strategi penurunan berat badan yang lebih sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pendampingan profesional akan membantu memastikan proses yang dijalani tetap aman dan efektif.

Konsultasi Gizi jika Berat Badan Stuck atau Berada di Fase Pleateau

Di saat sedang mengalami berat badan stuck atau fase plateau, sebaiknya konsultasi ke dokter spesialis gizi klinik agar dapat melewati fase ini dengan sehat dan tidak yoyo atau relapse.

Di Primecare Clinic tersedia dokter spesialis gizi klinik. Anda bisa konsultasi dengan dokter tersebut jika berat badan stuck/tidak kunjung turun atau masalah lain seputar berat badan. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


19336-_1_-1200x801.webp

Medical Check Up (MCU) sering menjadi syarat penting untuk pekerjaan, pendidikan, atau keperluan asuransi. Namun, tidak sedikit orang yang ragu untuk melakukan MCU karena sedang flu. Pertanyaannya, apakah boleh MCU saat flu, atau sebaiknya ditunda hingga sembuh dulu?

Apakah Boleh MCU Saat Flu?

Secara umum, MCU tetap boleh dilakukan saat flu ringan, tetapi ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan.

1. Flu Ringan Masih Memungkinkan MCU

Jika flu hanya berupa pilek ringan tanpa demam tinggi, MCU biasanya tetap bisa dilakukan. Namun, hasil beberapa pemeriksaan bisa sedikit terpengaruh.

2. Flu Sedang hingga Berat Sebaiknya Menunda MCU

Jika flu disertai demam, batuk berat, nyeri badan, atau lemas, sebaiknya MCU ditunda sampai kondisi membaik agar hasil pemeriksaan lebih akurat. 

Sebaiknya, konsultasi ke dokter dulu jika Anda sedang flu sebelum melakukan MCU. 

Pengaruh Flu terhadap Hasil MCU

Flu dapat memengaruhi beberapa parameter dalam pemeriksaan kesehatan. Contohnya:

1. Hasil Tes Darah Bisa Tidak Akurat

Infeksi virus seperti flu dapat meningkatkan kadar sel darah putih, sehingga hasil tes darah tidak mencerminkan kondisi normal tubuh pada bagian sel darah putih.

2. Pemeriksaan Rontgen Dada Bisa Terganggu

Batuk atau infeksi saluran pernapasan dapat menyebabkan bayangan tertentu pada rontgen dada yang bisa rawan disalahartikan sebagai gangguan paru.

3. Tekanan Darah dan Detak Jantung Bisa Berubah

Saat sakit, tekanan darah dan denyut jantung bisa meningkat akibat stres tubuh melawan infeksi. Jadi, ada data yang tidak akurat.

Risiko Melakukan MCU Saat Flu

Jadi, selain hasil yang kurang optimal, ada beberapa risiko lain yang perlu diperhatikan:

1. Hasil MCU Tidak Valid

MCU saat flu bisa menghasilkan temuan sementara yang sebenarnya akan hilang setelah sembuh. Contohnya adalah kenaikan sel darah putih dan tekanan darah.

2. Risiko Menularkan ke Orang Lain

Flu adalah penyakit menular. Jadi, jika Anda memaksakan untuk melakukan MCU saat flu , maka akan ada risiko penularan virus ke tenaga medis atau pasien lain.

Jadi, Bagaimana Cara agar MCU Optimal?

Agar hasil MCU akurat dan optimal, waktu pemeriksaan sangat penting. Disarankan untuk:

1. MCU Setelah Flu Sembuh Total

Disarankan melakukan MCU setelah flu benar-benar sembuh, biasanya 3-7 hari setelah gejalanya hilang.

2. Kondisi Tubuh Harus Fit dan Stabil

Pastikan tubuh tidak demam, tidak sedang mengonsumsi obat flu tertentu, dan cukup istirahat sebelum MCU. Jadi, MCU-nya bisa optimal.

Kapan Tetap Harus MCU Meski Sedang Flu?

Dalam kondisi tertentu, MCU tidak bisa ditunda. Misalnya, jika MCU bersifat darurat atau sudah jelas ada deadline-nya, seperti batas waktu kerja atau pendidikan. Pada kasus ini, informasikan kondisi flu kepada petugas medis sebelum pemeriksaan.

Anda juga sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Mereka dapat menentukan apakah MCU tetap dilanjutkan atau sebagian pemeriksaan perlu dijadwalkan ulang.

MCU Saat Sehat Lebih Baik, Kecuali Ada Keadaan Terdesak

MCU saat flu ringan masih boleh dilakukan, tetapi lebih baik MCU saat sehat agar hasil MCU-nya akurat dan optimal. Namun, jika ada kondisi terdesak, jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter dan mengabari tenaga kesehatan tentang flu yang Anda alami sebelum MCU.

Di Primecare Clinic tersedia MCU. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


52-1-1200x800.webp

Medical Check Up (MCU) sering menjadi syarat kerja, pendidikan, atau pemeriksaan kesehatan rutin seperti MCU setiap tahunnya. Namun, tidak sedikit perempuan yang ragu menjalani MCU karena sedang menstruasi. Pertanyaannya, apakah boleh MCU saat haid?

Apakah MCU Saat Haid Diperbolehkan?

Secara umum, MCU tetap boleh dilakukan saat haid. Namun, hasil beberapa jenis pemeriksaan bisa terpengaruh oleh kondisi haid, sehingga ada juga MCU yang tidak boleh dilakukan saat haid.

Untuk itu, perlu adanya komunikasi antara pasien dengan dokter/petugas kesehatan agar MCU-nya jelas apakah boleh dilakukan saat haid.

Pemeriksaan MCU yang bisa Dilakukan saat Haid

Tidak semua tes dalam MCU terpengaruh oleh kondisi haid. Berikut beberapa check up atau cek laboratorium yang bisa dilakukan saat haid:

1. Pemeriksaan Fisik Umum

Pemeriksaan fisik umum seperti:

  • Pengukuran tekanan darah
  • Berat dan tinggi badan
  • Pemeriksaan mata dan pendengaran (seperti audiometri)
  • Skrining jantung dan paru (misal spirometri)

Tidak dipengaruhi oleh siklus menstruasi dan tetap bisa dilakukan seperti biasa.

2. Tes Darah Rutin

Sebagian besar tes darah masih dapat dilakukan saat haid, contohnya:

  • Gula darah (puasa, sewaktu, dsb.)
  • Cek kolesterol
  • Fungsi hati
  • Fungsi ginjal

Sebagai catatan, pada sebagian perempuan, kadar hemoglobin (Hb) bisa sedikit lebih rendah saat haid karena perdarahan menstruasi. Jadi, dikembalikan lagi ketika konsultasi dengan dokter, terutama jika pemeriksaannya berkaitan dengan hemoglobin.

Pemeriksaan MCU yang Sebaiknya Ditunda saat Haid

Beberapa jenis pemeriksaan memang kurang disarankan dilakukan saat haid karena hasilnya bisa menjadi tidak akurat. Berikut contoh cek lab atau pemeriksaannya:

1. Tes Urin

Tes urin saat haid berisiko tercampur dengan darah menstruasi, sehingga dapat menyebabkan:

  • Hasil positif palsu darah dalam urine
  • Kesalahan interpretasi untuk penyakit infeksi saluran kemih

Pemeriksaan urine sebaiknya dilakukan setelah haid sudah selesai. Jangan lupa untuk update kondisi Anda dengan dokter jika mau tes urin.

2. Pap Smear dan Pemeriksaan Organ Reproduksi

Untuk pemeriksaan seperti:

  • Pap smear
  • IVA test
  • Pemeriksaan ginekologi

Sebaiknya ditunda karena darah haid dapat mengganggu visualisasi dan keakuratan hasil pemeriksaan.

3. USG Payudara

USG payudara juga termasuk pemeriksaan yang sebaiknya ditunda jika sedang haid. Hal ini karena haid bisa menyebabkan fluktuasi hormon, sehingga payudara mengalami pembengkakan, mengencang, terasa nyeri, hingga jaringan pada payudara bisa tidak terlihat jelas, sehingga hasil USG-nya kurang akurat.

Apakah Hasil MCU saat Haid bisa Tidak Akurat?

Jadi, intinya, haid bisa memengaruhi beberapa hasil MCU, terutama:

  • Hemoglobin (Hb)
  • Pemeriksaan urin
  • Tes yang berhubungan dengan organ reproduksi

Karena itu, penting untuk memberi tahu petugas medis bahwa Anda sedang menstruasi agar hasil dapat diinterpretasikan dengan tepat, atau dilakukan penundaan agar hasil yang didapatkan lebih akurat.

Kapan Waktu Terbaik Melakukan MCU bagi Perempuan?

Waktu terbaik melakukan MCU adalah 2-7 hari setelah haid selesai dengan kondisi tubuh lebih stabil agar risiko hasil tidak akurat jadi lebih kecil.

Namun, jika MCU bersifat mendesak (misalnya untuk syarat kerja), pemeriksaan tetap dapat dilakukan dengan catatan tertentu. Tentu hal ini harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.

Tips MCU saat sedang Haid

Agar pemeriksaan tetap optimal meski sedang haid, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:

1. Sampaikan Kondisi Haid ke Petugas

Jangan ragu untuk memberi tahu bahwa Anda sedang haid ke:

  • Dokter
  • Perawat
  • Petugas laboratorium

Informasi ini membantu penyesuaian pemeriksaan dan interpretasi hasil.

2. Gunakan Pembalut yang Nyaman

Pilih pembalut yang:

  • Daya serap baik
  • Tidak mengganggu aktivitas pemeriksaan

Hal ini penting untuk kenyamanan selama MCU.

MCU saat Haid: Ada Pemeriksaan yang Bisa dan Tidak Bisa Dilakukan

Ada pemeriksaan yang bisa dilakukan dan sebaiknya tidak dilakukan saat haid. Untuk itu, penting agar Anda berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum melakukan MCU.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, dan Tebet, Jakarta Selatan tersedia layanan MCU, klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


545-_1_-1200x800.webp

Eksim atau dermatitis adalah kondisi peradangan kulit yang sering menyebabkan gatal, kemerahan, kulit kering, hingga bersisik. Pastinya kondisi ini sangat tidak nyaman, apalagi jika dilihat di cermin.

Pertanyaannya, kalau periksa eksim harus ke dokter apa? Berikut jawabannya! 

Dokter yang Tepat untuk Menangani Kasus Eksim

Jawaban paling tepat untuk pertanyaan kalau periksa eksim harus ke dokter apa adalah dokter spesialis kulit dan kelamin (SpKK) dan dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika (Sp.DVE)

1. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Sp.KK) dan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika (Sp.DVE)

Dokter Sp.KK dan Sp.DVE memiliki keahlian khusus dalam menangani berbagai penyakit kulit, termasuk eksim. Dokter spesialis tersebut dapat:

  • Menentukan jenis eksim yang dialami
  • Mengidentifikasi faktor penyebab eksim
  • Memberikan obat topikal atau oral yang sesuai dengan kondisi eksim
  • Menyusun rencana perawatan penanganan eksim untuk jangka panjang 

Apakah Bisa ke Dokter Umum Terlebih Dahulu untuk Konsultasi Terkait Eksim?

Ya, Anda bisa memulai pemeriksaan ke dokter umum, terutama jika gejala eksim ini masih ringan. Dokter umum dapat memberikan pengobatan awal dan akan merujuk ke dokter kulit jika:

  • Eksim tidak kunjung membaik
  • Gejala eksim semakin parah
  • Eksim sering kambuh
  • Eksim mulai mengganggu aktivitas sehari-hari

Kapan Harus Segera Periksa ke Dokter terkait Eksim?

1. Eksim Semakin Parah dan Tidak Membaik

Jika keluhan tidak membaik setelah perawatan mandiri atau obat bebas atau gejalanya semakin parah, sebaiknya segera konsultasi ke dokter spesialis kulit. 

2. Muncul Gejala Infeksi

Gejala infeksi meliputi:

  • Nanah
  • Nyeri hebat
  • Demam
  • Kulit terasa hangat dan bengkak

Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera. Jangan tunda untuk segera ke dokter spesialis kulit.

3. Kasus Eksim pada Anak dan Bayi

Eksim pada bayi dan anak sebaiknya ditangani langsung oleh dokter agar terapi aman dan sesuai usia.

Jangan Ragu untuk Ke Dokter untuk Menangani Eksim

Untuk menangani eksim, Anda bisa ke dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK) atau dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika (Sp.DVE). Namun, Anda bisa ke dokter umum dulu jika gejalanya masih ringan. 

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK) di cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dan dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika (Sp.DVE) di cabang Tebet, Jakarta Selatan. Klik tautan ini untuk konsultasi lebih lanjut!


1303-1200x801.webp

Benjolan di leher sering menimbulkan kekhawatiran pada diri, terutama jika bisulnya tidak kunjung hilang, apalagi dalam waktu yang lama. 

Masalahnya, harus ke dokter apa jika ada benjolan di leher? Berikut jawabannya, jangan khawatir ya!

Harus ke Dokter Apa Jika Ada Benjolan di Leher?

Pemilihan dokter bergantung pada hasil pemeriksaan awal dan penyebab dari benjolannya. Berikut daftar dokter yang bisa Anda kunjungi jika terdapat benjolan di leher Anda.

1. Dokter Umum

Dokter umum merupakan pilihan pertama untuk pemeriksaan benjolan di leher. 

Dokter umum akan melakukan pemeriksaan awal dan memberikan rujukan ke dokter spesialis bila diperlukan.

2. Dokter Spesialis THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan)

Dokter spesialis THT menangani benjolan yang berkaitan pada leher di bagian samping. 

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika benjolan diduga penyebabnya adalah penyakit yang bersifat sistemik, infeksi kronis, atau terjadi gangguan kekebalan tubuh, maka dokter spesialis penyakit dalam atau internis akan melakukan evaluasi lebih lanjut terkait bisulnya.

4. Dokter Spesialis Bedah

Dokter spesialis bedah diperlukan jika benjolan mengalami kasus berikut ini:

  1. Tidak kunjung mengecil
  2. Terus membesar, 
  3. Membutuhkan tindakan biopsi dan pengangkatan

5. Dokter Spesialis Onkologi

Apabila karena bisul ini terdapat kecurigaan adanya kanker leher, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis onkologi untuk penanganan khusus.

Apakah Benjolan di Leher Berbahaya?

Tidak semua benjolan di leher berbahaya. Sebagian besar disebabkan oleh infeksi dan dapat sembuh dengan pengobatan yang tepat. Namun, benjolan yang menetap atau memburuk tetap perlu evaluasi medis.

Karena argumen inilah, lebih baik jika ada benjol di leher, konsultasi ke dokter umum dulu untuk penanganan awal.

Ciri-Ciri Benjolan di Leher yang Perlu Diwaspadai, sehingga Anda perlu ke Dokter

Segera periksakan diri ke dokter jika benjolan di leher memiliki ciri-ciri berikut ini:

  • Tidak hilang lebih dari 2-3 minggu
  • Bertambah besar
  • Terasa keras
  • Sulit untuk digerakkan
  • Tidak ada sakit atau nyeri, tetapi ada terus
  • Disertai demam berkepanjangan, penurunan berat badan, atau keringat di malam hari
  • Menyebabkan kesulitan menelan

Jangan Ragu untuk Konsultasi Terkait Bisul di Leher

Jika Anda mengalami benjolan di leher dan bertanya harus ke dokter apa jika ada benjolan di leher, sebaiknya kunjungi dokter umum terlebih dahulu untuk pemeriksaan awal. Selanjutnya, dokter umum akan merujuk ke dokter spesialis yang sesuai dengan diagnosa yang mereka lakukan. Pemeriksaan bisul yang mencurigakan akan membantu mencegah risiko penyakit yang lebih serius.

Tersedia Dokter Umum dan Dokter Spesialis di Primecare Clinic

Saat ini, tersedia dokter umum dan dokter spesialis di Primecare Clinic, baik itu cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru atau pun di cabang Tebet, Jakarta Selatan (Khusus dokter spesialis THT hanya tersedia di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan). Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya terkait jadwal dan reservasi.


37310-_1_-1200x800.webp

Gonore atau kencing nanah adalah salah satu penyakit menular seksual (PMS) yang perlu ditangani dengan cepat dan tepat. Masalahnya, kalau mau konsultasi gonore harus ke dokter apa? Berikut adalah jawabannya!

Konsultasi Gonore ke Dokter Apa?

Jika Anda mencurigai adanya infeksi gonore, misalnya karena kencing bernanah, segera periksakan diri ke dokter berikut ini:

1. Dokter Umum

Dokter umum bisa menjadi langkah pertama untuk konsultasi gonore. 

Dokter umum akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta merujuk ke dokter spesialis bila diperlukan.

2. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK) adalah pilihan utama untuk menangani gonore. 

Dokter spesialis ini berpengalaman dalam diagnosis dan pengobatan penyakit menular seksual, termasuk pemeriksaan laboratorium dan pemberian antibiotik yang sesuai.

Sub spesialis di dokter kulit, seperti Sp.DVE (spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika) juga bisa menangani gonore.

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika gonore menimbulkan komplikasi atau terjadi bersamaan dengan penyakit lain, dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu Anda untuk penanganan lebih lanjut.

4. Dokter Spesialis Obgyn (Khusus Wanita)

Wanita dengan keluhan gonore dapat berkonsultasi ke dokter spesialis obgyn (Sp.OG). Terutama jika terjadi gejala gonore di vagina atau keputihan.

Pemeriksaan untuk Diagnosis Gonore

Untuk mendiagnosa gonore, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Tes urin
  • Pemeriksaan cairan dari uretra, vagina, anus, atau tenggorokan
  • Tes laboratorium untuk mendeteksi bakteri gonore
  • Tes khusus seperti VDRL

Mengapa Gonore harus Segera Ditangani?

Gonore yang tidak ditangani dengan segera atau tidak kunjung diobati dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:

  • Infertilitas baik itu pada pria ataupun wanita
  • Infeksi panggul pada wanita
  • Penyebaran infeksi gonore  ke organ lain

Segera Konsultasi ke Dokter jika Terjadi Gejala/Terinfeksi Gonore

Jadi, jika Anda mencurigai adanya gejala gonore atau sudah terkonfirmasi infeksi gonore, segeralah ke dokter. Dokter umum dan dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK atau Sp.DVE) bisa jadi opsi pertama yang bagus untuk konsultasi.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia dokter umum, dokter spesialis kulit dan kelamin (termasuk Sp.DVE), dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter spesialis obgyn. Ingin konsultasi dengan dokter tersebut terkait gonore? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2149175169-_1_-1200x800.webp

Susah tidur atau insomnia adalah masalah yang sering dialami banyak orang. Kondisi ini tidak hanya membuat tubuh lelah, tetapi juga dapat mengganggu konsentrasi, emosi, dan kesehatan secara keseluruhan. Lalu, kalau susah tidur atau insomnia harus ke dokter apa? Jawabannya tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.

Apa Itu Insomnia?

Insomnia adalah gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan untuk mulai tidur, sering terbangun di malam hari, atau bangun terlalu pagi dan sulit tidur kembali. Jika berlangsung lama, insomnia dapat menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Contohnya, kebugaran tubuh Anda bisa berkurang banyak jika terlalu sering begadang akibat dari insomnia.

Kalau Susah Tidur (Insomnia) Harus ke Dokter Apa?

Pemilihan dokter tergantung pada penyebab insomnia dan keluhan yang ada berbarengan dengan kondisi insomnia.

1. Dokter Umum

Dokter umum adalah pilihan pertama jika Anda mengalami susah tidur. Dokter akan mengevaluasi pola tidur, gaya hidup, serta kondisi medis dasar yang mungkin memicu insomnia. Mereka juga bisa memberikan rujukan ke dokter spesialis.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika insomnia diduga berkaitan dengan penyakit kronis seperti gangguan tiroid, diabetes, atau penyakit jantung, dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu Anda untuk penanganan lebih lanjut.

3. Dokter Spesialis Saraf

Insomnia yang disertai sakit kepala kronis, gangguan saraf, atau kelainan tidur tertentu dapat ditangani oleh dokter spesialis saraf atau neurologis.

4. Dokter Spesialis Kejiwaan (Psikiater)

Jika susah tidur berkaitan dengan stres berat, kecemasan, depresi, atau gangguan mental lainnya, psikiater atau dokter spesialis kejiwaan adalah pilihan yang tepat.

5. Dokter Spesialis Kedokteran Tidur

Pada kasus tertentu, misalnya insomnia berat atau gangguan tidur yang kompleks, dokter spesialis kedokteran tidur dapat melakukan pemeriksaan lanjutan. 

Kapan Harus ke Dokter jika Terjadi Insomnia atau Susah Tidur?

Segera konsultasikan ke dokter jika gejala insomnia terjadi pada Anda:

  • Berlangsung lebih dari 2-3 minggu
  • Mengganggu aktivitas dan pekerjaan Anda
  • Disertai perubahan mood, kecemasan, atau depresi
  • Tidak membaik meski sudah mencoba memperbaiki pola tidur

Jika sudah mengalami salah satu dari empat poin di atas, Anda bisa segera ke dokter, baik itu dokter umum atau dokter spesialis.

Anda juga bisa mengecek kualitas tidur Anda dengan tes kualitas tidur pada tautan ini.

Jangan Ragu ke Dokter jika Mengalami Susah Tidur/Insomnia

Jadi, jika Anda mengalami susah tidur/insomnia dalam waktu lama, mengganggu aktivitas, ditambah ada perubahan mood, serta sudah mencoba berbagai usaha, tetapi tidurnya tidak kunjung membaik, maka jangan ragu untuk ke dokttker.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis saraf, dan dokter spesialis kejiwaan (psikiater). Klik tautan ini untuk konsultasi dengan mereka jika mengalami susah tidur/insomnia!


20056-1-1200x801.webp

Alergi bisa dialami siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Gejalanya pun beragam, mulai dari gatal-gatal, bersin terus-menerus, hingga sesak napas. Tentu saja gejala alergi ini mengganggu kehidupan sehari-hari. Namun, masih banyak orang yang bingung, kalau periksa alergi, harusi ke dokter apa.

Artikel ini akan membantu Anda memahami pilihan dokter yang tepat, jenis pemeriksaan alergi, dan kapan sebaiknya segera ke fasilitas kesehatan.

Mengapa Perlu Periksa Alergi ke Dokter?

Alergi adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti debu, makanan, atau bulu hewan.

Jika tidak ditangani dengan tepat, alergi dapat:

  • Mengganggu aktivitas sehari-hari
  • Menjadi semakin parah
  • Menyebabkan komplikasi seperti asma atau infeksi kulit

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui dokter yang tepat untuk memeriksa alergi yang Anda alami.

Periksa Alergi ke Dokter Apa?

Jawabannya, tergantung pada usia pasien dan gejala yang dialami. Berikut penjelasannya.

1. Dokter Umum

Dokter umum adalah pilihan pertama yang paling mudah diakses. Anda bisa ke dokter umum untuk cek alergi jika:

  • Gejala alergi masih ringan
  • Baru pertama kali mengalami reaksi alergi
  • Membutuhkan rujukan ke dokter spesialis

Dokter umum dapat memberikan obat awal dan menentukan apakah perlu pemeriksaan lanjutan serta rujukan ke dokter spesialis.

2. Dokter Spesialis Alergi dan Imunologi

Jika alergi sering kambuh atau cukup berat, dokter spesialis alergi dan imunologi adalah pilihan terbaik. Dokter spesialis ini dapat menangani kasus:

  • Alergi makanan
  • Alergi obat
  • Alergi debu, serbuk sari, dan tungau
  • Reaksi alergi berat (anafilaksis)

Dokter spesialis ini juga dapat melakukan tes alergi untuk mengetahui penyebab pastinya.

3. Dokter Spesialis Anak (untuk Anak-anak)

Untuk bayi dan anak-anak, sebaiknya periksa alergi ke dokter spesialis anak. Dokter spesialis anak cocok menangani kasus alergi pada anak, seperti kasus:

  • Alergi susu atau makanan tertentu
  • Ruam kulit berulang
  • Batuk atau pilek alergi

Dokter spesialis anak akan menyesuaikan penanganan alergi sesuai dengan usia dan kondisi tumbuh kembang anak.

4. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Jika alergi muncul pada kulit, seperti eksim, biduran, atau ruam merah, dokter spesialis kulit bisa menjadi pilihan. Masalah terkait alergi yang bisa ditangani meliputi:

  • Alergi kulit
  • Dermatitis atopik
  • Gatal kronis

Jenis Pemeriksaan/Tes Alergi yang Umum Dilakukan

Setelah menentukan periksa alergi ke dokter apa, dokter mungkin menyarankan beberapa tes berikut.

1. Tes Tusuk Kulit (Skin Prick Test)

Tes ini paling sering digunakan untuk mendeteksi alergi. Cara kerjanya adalah sebagai berikut:

  • Zat alergen diteteskan ke kulit
  • Kulit ditusuk ringan
  • Reaksi diamati dalam 15–20 menit

2. Tes Darah 

Tes darah akan dilakukan jika tes kulit tidak memungkinkan. Misalnya karena:

  • Pasien memiliki penyakit kulit berat
  • Sedang mengonsumsi obat tertentu
  • Risiko reaksi alergi tinggi

3. Tes Eliminasi Makanan

Tes ini umum dilakukan pada kasus alergi makanan. Prosedurnya adalah:

  • Menghindari makanan tertentu
  • Mengamati perubahan gejala
  • Tes ini dilakukan dengan adanya pengawasan dari dokter

Kapan Harus Segera ke Dokter Terkait Alergi?

Segera periksakan diri jika alergi disertai:

  • Sesak napas
  • Pembengkakan wajah atau bibir
  • Pusing atau pingsan
  • Muntah hebat setelah makan makanan tertentu

Gejala tersebut bisa menandakan reaksi alergi berat dan memerlukan penanganan dengan cepat dan sesegera mungkin.

Tips Sebelum Periksa Alergi ke Dokter

Agar pemeriksaan lebih efektif, Anda bisa melakukan hal berikut:

  • Catat gejala yang muncul dan kapan terjadinya
  • Ingat makanan atau lingkungan sebelum gejala muncul
  • Bawa daftar obat yang sedang dikonsumsi
  • Jangan menghentikan obat tanpa arahan dokter

Jangan Ragu untuk Ke Dokter Terkait Alergi

Terdapat banyak pilihan dokter untuk menangani kasus alergi, baik itu dokter umum dan dokter spesialis. Jangan ragu untuk ke dokter jika muncul alergi, terutama jika gejala alerginya telah mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan menimbulkan gejala berat seperti sesak napas.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia dokter umum, dokter spesialis anak, dan dokter spesialis kulit dan kelamin, serta layanan tes alergi. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


125027-1200x800.webp

Pemeriksaan feses adalah salah satu tes laboratorium yang sering direkomendasikan dokter untuk mengetahui kondisi saluran pencernaan. 

Tes ini dilakukan dengan menganalisis sampel tinja guna mendeteksi infeksi, gangguan pencernaan, hingga tanda penyakit serius. Lalu, kapan sebaiknya feses diperiksa (cek lab)? Ini jawabannya!

Apa Itu Pemeriksaan Feses?

Pemeriksaan feses adalah pemeriksaan medis untuk menilai kandungan dalam tinja, seperti bakteri, parasit, darah, lemak, atau zat tertentu yang tidak normal. Hasil tes ini membantu dokter menentukan penyebab gangguan pencernaan yang dialami pasien.

Tujuan Pemeriksaan Feses

Pemeriksaan feses bertujuan untuk:

  • Mengetahui penyebab diare atau konstipasi berkepanjangan
  • Mendeteksi infeksi saluran cerna
  • Menilai gangguan penyerapan nutrisi
  • Mendeteksi perdarahan saluran cerna
  • Membantu diagnosis penyakit tertentu, seperti kolitis atau kanker usus

Jenis-Jenis Pemeriksaan Feses

Ada beberapa jenis pemeriksaan feses yang umum dilakukan, tergantung keluhan dan indikasi medis. Berikut jenis-jenisnya:

1. Pemeriksaan Feses Rutin

Pemeriksaan ini menilai:

  • Konsistensi dan warna tinja
  • Kandungan lendir atau darah
  • Adanya parasit atau telur cacing

Biasanya pemeriksaan feses rutin digunakan sebagai pemeriksaan awal untuk mendeteksi apakah ada gangguan pencernaan.

2. Tes Darah Samar dalam Feses (FOBT)

Tes ini bertujuan mendeteksi darah yang tidak terlihat secara kasat mata dalam tinja. Pemeriksaan ini sering digunakan sebagai skrining awal dari:

  • Perdarahan saluran cerna
  • Polip usus
  • Kanker kolorektal

3. Kultur Feses

Kultur feses dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri penyebab infeksi, seperti Salmonella, Shigella, atau E. coli

Pemeriksaan feses jenis ini biasanya dianjurkan pada pasien dengan keluhan diare berat atau berkepanjangan.

4. Pemeriksaan Lemak Feses

Tes ini menilai kadar lemak dalam tinja untuk mendeteksi gangguan penyerapan zat gizi seperti pada pasien dengan penyakit celiac atau gangguan pankreas.

Kapan Pemeriksaan Feses Diperlukan?

1. Keluhan Pencernaan yang Berkepanjangan

Dokter biasanya menyarankan pemeriksaan feses jika muncul gejala:

  • Diare yang berlangsung lebih dari 3 hari
  • Konstipasi kronis
  • Nyeri perut berulang bahkan hebat
  • Perut kembung secara berlebihan

2. Tinja Tidak Normal

Segera periksa jika tinja:

  • Berwarna hitam atau merah (ada indikasi BAB berdarah)
  • Berlendir
  • Berbau sangat menyengat
  • Berminyak dan sulit dibersihkan

3. Penurunan Berat Badan Tanpa Sebab Jelas

Pemeriksaan feses dapat membantu mencari penyebab gangguan penyerapan zat gizi atau penyakit tertentu pada saluran cerna.

Prosedur Pemeriksaan Feses

1. Pengambilan Sampel Feses

Pengambilan sampelfeses  biasanya dilakukan sendiri di rumah dengan langkah:

  • Menggunakan wadah steril dari laboratorium
  • Ambil tinja secukupnya, hindari tercampur urin atau air agar tidak terkontaminasi
  • Tutup rapat wadah
  • Segera bawa ke laboratorium, sesuai dengan petunjuk dari dokter

2. Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Pemeriksaan Feses

Beberapa pemeriksaan feses mengharuskan pasien untuk:

  • Menghindari obat tertentu
  • Tidak mengonsumsi makanan tertentu sementara
  • Mengikuti instruksi dokter atau petugas laboratorium

Karena itu, konsultasi ke dokter penting sebelum cek feses, jadi jangan lupa untuk mencatat ya apa saja yang harus dihindari.

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Feses

1. Hasil Normal

Jika tidak ditemukan darah, parasit, bakteri berbahaya, atau zat abnormal, maka hasil pemeriksaan dinyatakan normal.

2. Hasil Tidak Normal

Hasil tidak normal bisa menunjukkan:

  • Infeksi bakteri atau parasit
  • Perdarahan saluran cerna
  • Gangguan pencernaan dan penyerapan
  • Penyakit inflamasi usus

Dokter akan mengaitkan hasil tes dengan gejala dan pemeriksaan lain.

Ke Dokter Apa untuk Mendapatkan Pemeriksaan Feses?

1. Dokter Umum

Dokter umum dapat memberikan rujukan awal dan menjelaskan hasil pemeriksaan feses secara sederhana.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau Gastroenterologi

Jika ditemukan kelainan atau keluhan berlanjut, pasien biasanya dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam, khususnya konsultan saluran cerna.

Jangan Ragu untuk Melakukan Pemeriksaan Feses, Terutama jika Dokter Menyarankan

Pemeriksaan feses adalah cek laboratorium yang penting untuk membantu diagnosis berbagai gangguan pencernaan, mulai dari infeksi ringan hingga penyakit serius. 

Pemeriksaan ini sederhana, aman, dan bisa memberikan informasi berharga bagi dokter. Jika Anda mengalami keluhan pencernaan yang tidak kunjung membaik, jangan ragu untuk berkonsultasi dan menjalani pemeriksaan sesuai anjuran medis.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter umum dan dokter spesialis serta cek laboratorium, termasuk pemeriksaan feses. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


44703-_1_-1200x800.webp

Asam lambung naik sering menimbulkan keluhan tidak nyaman, bahkan menyakitkan seperti nyeri ulu hati, mual, dada terasa panas, hingga rasa asam di mulut. 

Banyak orang masih bingung, periksa asam lambung ke dokter apa agar mendapatkan penanganan yang tepat. Artikel ini akan membantu Anda memahami pilihan dokter yang tepat terkait periksa asam lambung.

Kapan Harus Periksa Asam Lambung Naik ke Dokter?

Asam lambung naik sebaiknya tidak dianggap sepele, terutama jika keluhan sering kambuh atau semakin parah. Beberapa kondisi ini mengharuskan Anda segera ke dokter:

  • Nyeri dada hebat
  • Berat badan turun tanpa sebab
  • Muntah darah atau feses berwarna hitam
  • Gejala tidak membaik meski sudah minum obat

Periksa Asam Lambung Naik harus ke Dokter Apa?

Kalau mau periksa asam lambung naik, Anda bisa ke dokter ini:

1. Dokter Umum 

Dokter umum adalah pilihan pertama ketika asam lambung kambuh, mereka bisa menangani:

  • Keluhan asam lambung ringan hingga sedang
  • Pemeriksaan awal dan pemberian obat
  • Rujukan ke dokter spesialis jika diperlukan

Dokter umum biasanya akan mengevaluasi pola makan, stres, dan gaya hidup pasien.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika keluhan sering kambuh atau berat, dokter umum akan merujuk ke dokter spesialis penyakit dalam.

Peran dokter spesialis penyakit dalam terkait asam lambung adalah::

  • Menangani maag kronis dan GERD
  • Memberikan terapi jangka panjang
  • Menentukan pemeriksaan lanjutan

3. Dokter Spesialis Gastroenterologi

Untuk kasus asam lambung yang lebih kompleks, pasien akan ditangani oleh dokter spesialis gastroenterologi (subspesialis pencernaan).

Dokter spesialis gastroenterologi akan menangani:

  • GERD berat
  • Tukak lambung
  • Radang kerongkongan
  • Infeksi Helicobacter pylori

Apa yang Dilakukan ketika Pemeriksaan Asam Lambung?

1. Wawancara dan Pemeriksaan Fisik

Dokter akan menanyakan tentang hal ini:

  • Pola makan
  • Riwayat penyakit
  • Frekuensi dan tingkat keparahan gejala

Jawab pertanyaan dari dokter dengan jujur dan sesuai kondisi agar penanganan bisa tepat.

2. Pemeriksaan Penunjang

Beberapa pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan adalah:

  • Endoskopi lambung
  • Tes H. pylori
  • USG atau rontgen (jika diperlukan)
  • Tes pH asam lambung

Umumnya, pemeriksaan ini dilakukan setelah konsultasi lebih lanjut.

Sebelum Periksa Asam Lambung ke Dokter, harus Menyiapkan Apa?

Anda bisa mencatat gejala yang dirasakan, hindari makanan pemicu asam lambung naik, serta ingat/catat riwayat obat yang pernah dikonsumsi.

Jangan Ragu ke Dokter untuk Periksa Asam Lambung

Jadi, kalau mau periksa asam lambung, harus ke dokter apa? Jawabannya tergantung pada tingkat keparahan serta ketersediaan dokter. Baik itu dokter umum atau dokter spesialis, keduanya bisa jadi pilihan.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia dokter umum dan dokter spesialis penyakit dalam untuk konsultasi seputar asam lambung, ditambah dengan promo homecare gastric relieve yang bermanfaat untuk meredakan gejala asam lambung naik/GERD. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.