2149374885-1-1200x800.webp

Ada yang sudah rutin berolahraga dan merasa pola makannya cukup terjaga, tetapi angka di timbangan tidak banyak berubah. Situasi ini sering menimbulkan pertanyaan: apakah usahanya sudah benar, atau justru ada yang terlewat? Padahal, perubahan tubuh tidak selalu ditunjukkan oleh penurunan berat badan, melainkan oleh perbaikan komposisi tubuh.

Apa Itu Body Recomposition?

Body recomposition adalah proses mengurangi lemak tubuh sekaligus meningkatkan atau mempertahankan massa otot dalam waktu yang bersamaan. Tujuannya bukan hanya membuat tubuh lebih ringan, tetapi juga lebih kuat, kencang, dan bugar.

Dalam proses ini, angka timbangan bisa saja tidak banyak berubah karena lemak berkurang dan otot bertambah secara bersamaan. Inilah alasan mengapa seseorang bisa terlihat lebih ramping dan fit meskipun berat badannya relatif sama.

Apa Itu Komposisi Tubuh?

Tubuh manusia tidak hanya terdiri dari berat badan semata, melainkan dari berbagai komponen seperti lemak, otot, air, dan jaringan lainnya. Perbandingan dari komponen-komponen inilah yang disebut sebagai komposisi tubuh.

Dua orang bisa memiliki berat badan yang sama, tetapi terlihat sangat berbeda karena komposisi tubuhnya tidak sama. Oleh karena itu, berat badan tidak cukup untuk menggambarkan kondisi tubuh secara menyeluruh.

Bagaimana Komposisi Tubuh yang Ideal?

Komposisi tubuh yang ideal tidak memiliki satu angka pasti karena dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, serta tingkat aktivitas fisik seseorang. Secara umum, komposisi tubuh yang baik ditandai dengan persentase lemak yang seimbang, massa otot yang cukup, dan kemampuan tubuh menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa mudah lelah.

Pada orang dewasa, kisaran lemak tubuh yang dianggap sehat biasanya berada sekitar 14–24% pada laki-laki dan 21–31% pada perempuan, meskipun rentang ini dapat berbeda tergantung usia, kondisi kebugaran, dan faktor individu lainnya. 

Manfaat Body Recomposition

Body recomposition dapat memberikan beberapa manfaat berikut:

1. Meningkatkan Kekuatan dan Daya Tahan Tubuh

Massa otot yang lebih baik membantu tubuh menjadi lebih kuat, stabil, dan tidak mudah lelah saat beraktivitas.

2. Mendukung Metabolisme yang Lebih Efisien

Otot berperan dalam penggunaan energi, sehingga semakin baik massa otot, metabolisme tubuh cenderung bekerja lebih optimal.

3. Mengurangi Risiko Diet Ekstrem

Fokus pada komposisi tubuh membantu menghindari pola diet yang terlalu ketat dan tidak berkelanjutan.

4. Membentuk Tubuh Lebih Proporsional

Tubuh terlihat lebih kencang dan seimbang meskipun angka timbangan tidak berubah secara drastis.

Cara Melakukan Body Recomposition

Untuk mencapai perubahan komposisi tubuh, diperlukan kombinasi strategi makan, latihan, dan pemulihan yang berjalan konsisten. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Cukupi Asupan Protein

Protein membantu pembentukan sekaligus pemeliharaan massa otot selama proses penurunan lemak.

2. Lakukan Latihan Kekuatan secara Rutin

Latihan beban merangsang pertumbuhan otot dan membantu tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi.

3. Atur Asupan Kalori secara Seimbang

Hindari defisit kalori yang terlalu ekstrem agar tubuh tetap memiliki energi untuk membangun dan mempertahankan otot.

4. Jaga Kualitas Tidur dan Kelola Stres

Pemulihan yang baik berperan penting dalam proses perbaikan jaringan otot dan keseimbangan hormon.

Kesalahan dalam Body Recomposition yang Umum Dilakukan

Selain strategi makan dan latihan, ada dua faktor penting yang sering diabaikan dalam proses body recomposition.

1. Terlalu Cepat Mengubah Program

Body recomposition merupakan proses bertahap. Terlalu sering mengganti pola makan atau program latihan dapat membuat tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi dan menunjukkan progres nyata.

2. Mengabaikan Istirahat

Tubuh memerlukan waktu istirahat setelah latihan untuk memperbaiki jaringan otot yang bekerja dan membangun massa otot secara efektif. Kurang tidur atau jarang memberi jeda latihan dapat menghambat proses tersebut.

Berapa Lama Proses Body Recomposition?

Body recomposition merupakan proses bertahap yang memerlukan konsistensi.

Perubahan biasanya mulai terlihat dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan, tergantung kondisi awal tubuh, pola makan, dan intensitas latihan.

Hasil body recomposition biasanya lebih terlihat dari perubahan ukuran tubuh, kekuatan, dan kebiasaan sehari-hari dibandingkan dari angka timbangan.

Cara Mengukur Keberhasilan Body Recomposition

Keberhasilan body recomposition dapat dilihat dari beberapa hal berikut: 

  • Lingkar tubuh yang berubah
  • Otot yang terasa lebih kuat
  • Performa latihan yang meningkat
  • Pakaian yang terasa lebih longgar atau lebih pas
  • Tingkat energi yang lebih stabil

Anda bisa mengestimasi body fat Anda melalui tautan ini atau berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik/layanan yang menyediakan analisa komposisi tubuh.

Jika Ingin Body Recomposition, Harus ke Dokter Apa?

Jika ingin menjalani body recomposition secara lebih terarah, berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik dapat menjadi langkah yang tepat.

Dokter akan mengevaluasi kondisi kesehatan secara menyeluruh, termasuk komposisi tubuh, riwayat medis, dan kebutuhan energi harian sebelum menyusun strategi yang aman dan sesuai. Ahli gizi juga dapat membantu merancang pola makan yang lebih detail dan terukur agar hasil yang dicapai optimal serta berkelanjutan.

Mau Body Recomposition? Jangan Ragu ke Dokter Spesialis Gizi Klinik!

Anda mau body recomposition untuk mewujudkan body goals atau demi kesehatan? Jika iya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis gizi klinik yang bisa membantu Anda dalam mengatasi skinny fat. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! (Bisa telekonsultasi)


bru-no-blood-pressure-1584223_1280-1200x900.webp

Bulan puasa adalah momen istimewa bagi umat Muslim untuk meningkatkan ibadah dan menjaga kesehatan secara menyeluruh. Namun, pasti ada pertanyaan seperti apakah MCU (Medical Check Up) aman dan perlu dilakukan saat bulan puasa? Kalau di luar bulan puasa, umumnya pagi hari menjadi waktu ideal untuk MCU. Apakah di bulan puasa juga sama, atau malah berbeda?

Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang MCU di bulan puasa, manfaatnya, jenis pemeriksaan yang ideal untuk dilakukan,, serta tips agar tetap nyaman menjalani MCU saat berpuasa.

Apa Itu MCU (Medical Check Up)?

Medical Check Up (MCU) adalah serangkaian pemeriksaan kesehatan menyeluruh untuk mendeteksi kondisi tubuh secara dini, bahkan sebelum muncul gejala penyakit.

MCU biasanya meliputi:

  • Pemeriksaan fisik umum
  • Tes darah lengkap
  • Cek gula darah
  • Tes kolesterol
  • Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal
  • Rontgen dada
  • Rekam jantung (EKG)

Pemeriksaan ini penting untuk mendeteksi risiko penyakit seperti diabetes, hipertensi, gangguan jantung, hingga masalah metabolisme.

Apakah MCU Boleh Dilakukan saat sedang Berpuasa?

MCU itu boleh dan aman untuk dilakukan saat berpuasa, dengan beberapa catatan.

Sebagian besar tes dalam MCU tidak membatalkan puasa, termasuk:

  • Pengambilan sampel darah
  • Pemeriksaan tekanan darah
  • EKG
  • Rontgen

Namun, ada beberapa jenis pemeriksaan yang mungkin perlu dijadwalkan ulang atau dilakukan setelah berbuka, terutama jika membutuhkan konsumsi cairan atau makanan sebelumnya.

Manfaat MCU di Bulan Puasa

1. Hasil Gula Darah Lebih Akurat

Saat puasa, tubuh berada dalam kondisi tanpa asupan makanan selama 8-14 jam. Hal ini ideal untuk pemeriksaan gula darah puasa (GDP), sehingga hasilnya lebih akurat.

2. Deteksi Dini Gangguan Metabolik

Puasa memengaruhi metabolisme tubuh. Dengan melakukan MCU, Anda bisa mengetahui bagaimana tubuh beradaptasi selama berpuasa.

3. Evaluasi Kondisi Penyakit Kronis

Bagi penderita diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung, MCU saat puasa membantu dokter mengevaluasi apakah kondisi tubuh Anda tetap stabil.

Jenis Pemeriksaan MCU yang Cocok saat Puasa

Berikut beberapa pemeriksaan yang sangat cocok dilakukan saat bulan puasa:

1. Tes Gula Darah Puasa

Ideal dilakukan setelah 8-10 jam tidak makan. Atau 8-10 jam setelah sahur. Jika terlalu dekat dengan jarak makan, maka jadi tes gula darah sewaktu.

2. Tes Profil Lipid (Kolesterol)

Puasa membantu mendapatkan hasil panel kolesterol yang lebih valid.

3. Pemeriksaan Asam Urat

Tes asam urat biasanya memerlukan kondisi puasa agar hasil optimal.

4. Tes Fungsi Hati dan Ginjal

Tes fungsi hati dan ginjal tidak memerlukan konsumsi makanan sebelumnya.

Kapan Waktu Terbaik MCU Saat Puasa?

Waktu terbaik melakukan MCU saat puasa adalah 8-10 jam setelah makan sahur, terutama MCU yang butuh puasa seperti tes gula darah, kolesterol, dsb. Sebaiknya dilakukan 10 jam setelah sahur. Contoh jika Anda sahur jam 4 pagi, maka MCU ini dilakukan jam 2 siang.

Selsiih 8-10 jam ini dilakukan agar hasilnya tetap akurat, tidak ada data yang menunjukkan hipo (terlalu sedikit/rendah).

Tips Aman Melakukan MCU di Bulan Puasa

1. Perbanyak Cairan Saat Sahur dan Berbuka

Pastikan tubuh cukup terhidrasi sebelum menjalani pemeriksaan.

2. Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang

Hindari makanan terlalu manis atau berlemak saat sahur. Pakai prinsip gizi seimbang, perbanyak serat dan protein.

3. Konsultasikan dengan Dokter

Jika Anda memiliki kondisi medis tertentu, konsultasi dengan dokter sebelum melakukan MCU sangat disarankan.

Siapa yang Disarankan Melakukan MCU Saat Puasa?

MCU saat bulan puasa sangat dianjurkan bagi:

  • Karyawan yang membutuhkan pemeriksaan rutin, terutama di bulan puasa
  • Penderita penyakit kronis seperti diabetes, kolesterol tinggi, dsb.
  • Orang dengan riwayat keluarga diabetes atau jantung
  • Orang berusia di atas 30 tahun atau 40 tahun

Pemeriksaan rutin minimal setahun sekali membantu menjaga kesehatan jangka panjang.

MCU di Bulan Puasa bisa Dilakukan!

MCU di bulan puasa bukan hanya aman, tetapi juga bisa memberikan hasil yang optimal, terutama pemeriksaan yang membutuhkan puasa sebelum prosedurnya dan MCU yang tidak mengharuskan puasa sebelum dilakukan. Dengan persiapan yang tepat, Anda tetap bisa menjalankan ibadah puasa sekaligus menjaga kesehatan sekaligus.

Jangan tunda pemeriksaan kesehatan Anda. Bulan puasa justru  bisa menjadi momen terbaik untuk memulai gaya hidup yang lebih sehat dan lebih sadar dengan kondisi kesehatan tubuh.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia layanan MCU. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


34777-_1_-1200x800.webp

Sekilas terlihat kurus, tetapi perut tampak buncit, tubuh terasa kurang bertenaga, dan lemak mudah menumpuk di area tertentu. Kondisi ini sering membuat seseorang bingung karena berat badan terlihat normal, bahkan cenderung rendah, tetapi bentuk tubuh dan kondisi kesehatannya tidak sejalan. Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah skinny fat.

Skinny fat cukup sering terjadi dan kerap tidak disadari, karena banyak orang hanya berpatokan pada angka timbangan. Padahal, kondisi ini berkaitan erat dengan komposisi tubuh dan kesehatan jangka panjang.

Apa Itu Skinny Fat?

Skinny fat adalah kondisi ketika berat badan terlihat normal atau cenderung kurus, tetapi persentase lemak tubuh relatif tinggi dan massa otot rendah. Akibatnya, tubuh tampak kurang kencang, terutama di area perut, lengan, atau paha.

Pada kondisi ini, seseorang bisa terlihat ramping saat berpakaian, tetapi memiliki penumpukan lemak di dalam tubuh, termasuk lemak visceral yang berada di sekitar organ dalam.

Penyebab Skinny Fat

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kondisi ini antara lain:

1. Pola Makan Tidak Seimbang

Asupan protein yang rendah serta konsumsi makanan tinggi gula dan lemak dapat meningkatkan lemak tubuh tanpa diimbangi pembentukan massa otot.

2. Kurang Latihan Kekuatan

Hanya mengandalkan latihan kardio tanpa latihan beban membuat massa otot tidak berkembang optimal, sehingga komposisi tubuh menjadi kurang seimbang.

3. Gaya Hidup Sedentari

Kebiasaan duduk terlalu lama dan kurang bergerak dalam aktivitas sehari-hari dapat menyebabkan rendahnya massa otot dan meningkatnya penumpukan lemak.

4. Faktor Genetik 

Faktor bawaan juga dapat memengaruhi distribusi lemak dan kemampuan tubuh membentuk otot. Pada sebagian orang, lemak cenderung lebih mudah menumpuk di area perut.

Bahaya Skinny Fat

Meskipun terlihat tidak gemuk, kondisi skinny fat tetap perlu diwaspadai. Penumpukan lemak, terutama di area perut, berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan metabolik seperti resistensi insulin, diabetes, dan penyakit jantung.

Selain itu, massa otot yang rendah juga dapat memengaruhi kekuatan tubuh, stamina, dan postur. Tubuh cenderung lebih mudah lelah dan kurang bertenaga karena tidak memiliki cukup jaringan otot untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

Cara Mengetahui Apakah Mengalami Skinny Fat atau Tidak

Skinny fat tidak dapat dinilai hanya dari angka timbangan. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:

  • Tubuh terlihat kurus tetapi perut membuncit
  • Otot kurang terlihat
  • Kekuatan fisik relatif rendah
  • Lingkar perut cenderung tinggi meskipun berat badan normal

Untuk memastikan kondisi ini secara lebih objektif, diperlukan pengukuran komposisi tubuh, seperti persentase lemak dan massa otot. Anda bisa menghitung estimasi body fat Anda pada tautan ini.

Cara Mengatasi Skinny Fat

Mengatasi skinny fat bukan berfokus pada menurunkan berat badan, melainkan memperbaiki komposisi tubuh dengan meningkatkan massa otot dan mengurangi lemak. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Latihan Kekuatan Secara Rutin

Lakukan latihan beban 3–4 kali per minggu untuk meningkatkan massa otot dan memperbaiki komposisi tubuh.

2. Cukupi Asupan Protein

Pastikan konsumsi protein harian cukup agar tubuh memiliki bahan baku untuk membentuk dan mempertahankan otot.

3. Pantau Komposisi Tubuh

Fokus pada perubahan lingkar tubuh dan kekuatan fisik, bukan sekadar angka berat badan.

Cara Mencegah Skinny Fat

Pencegahan dapat dilakukan dengan membangun kebiasaan hidup yang mendukung keseimbangan antara lemak dan otot. Beberapa langkah berikut dapat diterapkan:

1. Jaga Pola Makan Seimbang

Konsumsi makanan dengan komposisi karbohidrat, protein, lemak sehat, dan serat yang cukup untuk menjaga keseimbangan lemak dan otot.

2. Penuhi Kebutuhan Protein Harian

Asupan protein yang cukup membantu mempertahankan massa otot dan mencegah dominasi lemak tubuh.

3. Rutin Latihan Kekuatan

Latihan beban secara teratur membantu menjaga dan meningkatkan massa otot meskipun berat badan tetap normal.

4. Tetap Aktif Bergerak

Hindari terlalu lama duduk dan biasakan tubuh aktif dalam aktivitas sehari-hari.

5. Cukupi Waktu Istirahat 

Tidur yang cukup membantu menjaga keseimbangan hormon yang berperan dalam metabolisme dan pembentukan otot.

Jika Mengalami Skinny Fat, Sebaiknya ke Dokter Apa?

Perbaikan komposisi tubuh untuk mengatasi skinny fat dapat dilakukan dengan berkonsultasi ke dokter spesialis gizi klinik atau ahli gizi. Tenaga profesional dapat membantu menyusun pola makan dan program aktivitas fisik yang tepat untuk meningkatkan massa otot serta menurunkan lemak tubuh secara aman dan terarah.

Jangan Ragu ke Dokter Spesialis Gizi Klinik jika Mengalami Skinny Fat

Anda sedang mengalami skinny fat, berat badan ideal, tetapi persentase lemak tinggi dan perut buncit? Jika iya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis gizi klinik yang bisa membantu Anda dalam mengatasi skinny fat. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! (Bisa telekonsultasi)


2149229154-_1_.webp

Banyak yang merasa bingung ketika sudah berusaha menjaga pola makan dan rutin berolahraga, tetapi angka di timbangan justru naik. Kondisi ini sering menimbulkan kekhawatiran seolah usaha yang dilakukan gagal. Padahal, kenaikan berat badan di awal perubahan gaya hidup tidak selalu berarti program diet dan olahraga berjalan salah.

Penyebab Sudah Diet dan Olahraga, Tapi Berat Badan Malah Naik

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa berat badan justru meningkat meskipun sudah berusaha menjalani gaya hidup lebih sehat:

1. Proses Adaptasi Tubuh

Di awal perubahan gaya hidup, tubuh masih beradaptasi dengan pola makan dan aktivitas baru. Proses ini bisa membuat berat badan bisa naik-turun terlebih dahulu sebelum mulai turun secara bertahap.

2. Retensi Cairan

Saat mulai berolahraga, terutama latihan kekuatan, otot mengalami proses pemulihan dan peradangan ringan. Kondisi ini membuat tubuh menahan lebih banyak cairan sementara waktu sehingga angka timbangan dapat meningkat.

3. Massa Otot Bertambah

Latihan beban membantu membentuk dan meningkatkan massa otot. Karena otot lebih padat dibandingkan lemak, berat badan bisa naik meskipun komposisi tubuh sebenarnya membaik.

4. Asupan Kalori Berlebih tanpa Disadari

Merasa sudah rutin berolahraga kadang membuat seseorang lebih longgar dalam mengatur makan. Tanpa disadari, asupan kalori tetap melebihi kebutuhan harian, sehingga berat badan justru naik.

Apa yang Harus Dilakukan jika Sudah Diet dan Olahraga, tapi Berat Badan Malah Naik?

Jika mengalami kondisi ini, tidak perlu langsung panik. Beberapa langkah berikut dapat dilakukan:

1. Evaluasi Pola Makan

Periksa kembali porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi. Pastikan asupan kalori sesuai kebutuhan tubuh, bukan hanya mengandalkan rasa sudah “makan sehat”.

2. Perhatikan Komposisi Tubuh, Bukan Hanya Timbangan

Lingkar perut, perubahan ukuran pakaian, atau persentase lemak tubuh sering menjadi indikator yang lebih menggambarkan progres dibandingkan angka timbangan saja.

3. Konsisten 

Perubahan komposisi tubuh membutuhkan waktu. Lemak tidak berkurang dalam hitungan hari, sehingga konsistensi menjadi kunci utama. Anda bisa menggunakan analisa komposisi tubuh atau memakai kalkulator body fat untuk evaluasi berkala.

4. Cukup Istirahat dan Kelola Stres

Tidur yang cukup dan stres yang terkontrol membantu menjaga keseimbangan hormon yang berperan dalam metabolisme dan pengaturan berat badan.

5. Variasikan Program Latihan

Jika sudah lama melakukan jenis olahraga yang sama, tubuh bisa menjadi terbiasa sehingga pembakaran energi tidak lagi optimal. Mencoba variasi latihan atau menyesuaikan intensitas dapat membantu tubuh kembali bekerja lebih efektif.

Jika sudah Diet dan Olahraga, tapi Berat Badan malah dan terus Naik, Harus Konsultasi ke Dokter Apa?

Jika kenaikan berat badan terjadi terus-menerus meskipun sudah menjaga pola makan dan olahraga secara konsisten, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter umum terlebih dahulu.

Dokter dapat membantu mengevaluasi kemungkinan penyebab medis, seperti gangguan hormon atau metabolisme. Jika diperlukan, pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam atau dokter spesialis gizi klinik untuk penanganan lebih lanjut.

Konsultasi dengan ahli gizi juga dapat membantu menyusun pola makan yang lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan tubuh.

Jangan Ragu ke Dokter Spesialis Gizi Klinik jika sudah Diet dan Olahraga, tapi Berat Badan malah dan terus Naik,

Anda sudah berusaha keras untuk diet dan olahraga, tetapi berat badan malah hingga merasa frustasi? Jika iya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis gizi klinik yang bisa membantu Anda dalam mengatasi masalah seputar berat badan seperti sudah diet dan olahraga, tapi berat badan malah naik. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! (Bisa telekonsultasi)


9940-1200x800.webp

Perut yang tampak membuncit sering menjadi keluhan banyak orang, baik laki-laki mau pun perempuan. Tidak sedikit yang merasa berat badannya sebenarnya tidak terlalu berlebih, tetapi bagian perut justru terlihat lebih besar dan sulit dikecilkan. Kondisi ini kerap dianggap sekadar masalah penampilan, padahal perut buncit juga dapat berkaitan dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Apa Itu Perut Buncit?

Secara sederhana, perut buncit adalah kondisi ketika area perut tampak menonjol akibat penumpukan lemak, gas, atau kombinasi keduanya. 

Penumpukan lemak di sekitar perut, terutama yang berada di sekitar organ dalam (lemak visceral), perlu lebih diwaspadai karena berkaitan erat dengan berbagai gangguan metabolik.

Penyebab Perut Buncit

Munculnya perut buncit biasanya bukan disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan hasil dari kebiasaan sehari-hari yang berlangsung dalam waktu lama. Beberapa hal berikut sering menjadi pemicunya:

1. Pola Makan Tinggi Kalori, Gula, dan Lemak

Asupan kalori berlebih, terutama dari makanan tinggi gula dan lemak jenuh, mendorong tubuh menyimpan kelebihan energi sebagai lemak, termasuk di area perut.

2. Kurang Aktivitas Fisik

Terlalu lama duduk dan jarang bergerak membuat pembakaran energi menurun sehingga lemak lebih mudah menumpuk.

3. Stres dan Kurang Tidur

Stres berkepanjangan dan kualitas tidur yang buruk dapat memengaruhi hormon pengatur nafsu makan dan penyimpanan lemak, yang akhirnya meningkatkan risiko perut buncit.

4. Gangguan Pencernaan

Kembung, sembelit, atau penumpukan gas juga bisa membuat perut tampak membesar. Kondisi ini biasanya bersifat sementara dan membaik setelah fungsi pencernaan kembali normal.

Bahaya Perut Buncit

Meski sering dianggap sepele, perut buncit bukan hanya masalah estetika. Lemak visceral berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit metabolik seperti diabetes, penyakit jantung, dan gangguan tekanan darah. 

Semakin besar lingkar perut, semakin tinggi pula risiko kesehatan yang dapat muncul. Selain itu, kondisi ini juga dapat memengaruhi kenyamanan bergerak serta menurunkan rasa percaya diri.

Cara Mengatasi Perut Buncit

Mengurangi perut buncit tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi memerlukan perubahan kebiasaan yang konsisten. Beberapa langkah berikut dapat membantu:

1. Perbaiki Pola Makan

Kurangi makanan tinggi gula dan lemak jenuh, serta perbanyak asupan serat, protein, dan makanan utuh. Pola makan seimbang membantu mengurangi penumpukan lemak secara bertahap.

2. Tingkatkan Aktivitas Fisik

Olahraga yang melibatkan seluruh tubuh, seperti jalan cepat, bersepeda, atau latihan kekuatan, membantu membakar lemak sekaligus menjaga massa otot.

Cara Mencegah Perut Buncit

Pada dasarnya, pencegahan dilakukan dengan prinsip yang sama seperti pengelolaannya, yaitu menjaga keseimbangan antara asupan dan aktivitas. Berikut kebiasaan yang dapat diterapkan:

1. Jaga Pola Makan Seimbang

Konsumsi makanan dengan komposisi karbohidrat, protein, lemak sehat, serta serat yang cukup.

2. Kontrol Porsi Makan

Hindari kebiasaan makan berlebihan, terutama makanan tinggi gula dan lemak.

3. Rutin Bergerak dan Berolahraga

Aktivitas fisik membantu menjaga metabolisme tetap aktif dan mencegah penumpukan lemak, terutama jika sehari-hari lebih banyak duduk.

Apakah Mengecilkan Perut Itu Bisa Dilakukan?

Perlu dipahami bahwa mengecilkan perut tidak dapat dilakukan dengan cara menghilangkan lemak hanya di satu area tubuh saja. Tubuh bekerja sebagai satu sistem, sehingga proses pembakaran lemak terjadi secara menyeluruh, bukan terpisah di bagian tertentu.

Konsep spot reduction, yaitu upaya menghilangkan lemak hanya di area perut melalui latihan tertentu (seperti sit up), tidak sepenuhnya tepat. Latihan tersebut memang membantu menguatkan dan membentuk otot perut, tetapi tidak secara langsung menghilangkan lemak yang menutupinya. Saat berat badan turun melalui pola makan yang lebih terkontrol dan aktivitas fisik yang rutin, lemak akan berkurang bertahap di seluruh tubuh, termasuk di area perut.

Jika Perut Buncit, Sebaiknya ke Dokter Apa?

Jika perut buncit disertai keluhan seperti nyeri atau kembung yang tidak membaik, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter umum untuk memastikan tidak ada kondisi medis tertentu yang mendasarinya.

Untuk pengelolaan berat badan dan pengaturan pola makan, konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik atau ahli gizi dapat membantu menyusun rencana yang lebih terarah dan aman.

Jangan Ragu ke Dokter Spesialis Gizi Klinik jika Perut Buncit

Anda sedang mengalami perut buncit, merasa frustasi, dan ingin menurunkan berat badan/mengecilkan perut? Jika iya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis gizi klinik yang bisa membantu Anda dalam mengatasi kondisi perut buncit. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! (Bisa telekonsultasi)


16671-_1_.webp

Berat badan yang turun cepat sering terasa menyenangkan. Namun rasa puas itu kadang tidak bertahan lama. Setelah diet dihentikan, berat badan justru kembali naik, bahkan bisa lebih tinggi dari sebelumnya. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai diet yoyo. 

Apa Itu Diet Yoyo?

Diet yoyo adalah kondisi ketika berat badan turun dalam waktu relatif singkat, lalu naik kembali setelah diet dihentikan. Siklus ini bisa terjadi berulang kali, sehingga berat badan terus naik dan turun seperti gerakan yoyo.

Penyebab Diet Yoyo?

Penyebab utama diet yoyo adalah pola diet yang terlalu ketat dan tidak realistis. Beberapa faktor yang sering memicu kondisi ini antara lain:

  • Membatasi makan secara berlebihan
  • Menghindari banyak jenis makanan

Pembatasan yang terlalu ekstrem dapat membuat asupan energi menjadi sangat rendah. Dalam kondisi ini, tubuh akan beradaptasi dengan memperlambat metabolisme sebagai bentuk perlindungan.

Saat diet dihentikan dan pola makan kembali seperti sebelumnya, tubuh cenderung menyimpan energi lebih banyak sebagai cadangan. Akibatnya, berat badan lebih mudah naik kembali.

Ciri-ciri Mengalami Diet Yoyo

Diet yoyo biasanya ditandai dengan beberapa hal berikut:

1. Berat Badan Turun Cepat Lalu Naik Kembali Dalam Waktu Singkat

Penurunan berat badan yang terjadi secara drastis seringnya tidak bertahan lama. Setelah diet dihentikan, berat badan dapat kembali naik karena tubuh beradaptasi dengan menyimpan lebih banyak energi.

2. Rasa Lapar Berlebihan Setelah Menghentikan Diet

Pembatasan makan yang ketat dapat meningkatkan rasa lapar. Ketika diet berakhir, keinginan makan menjadi lebih kuat dan sulit dikendalikan.

3. Mudah Lelah 

Asupan energi yang terlalu rendah selama diet dapat membuat tubuh terasa lemas dan cepat lelah saat beraktivitas.

4. Muncul Perasaan Bersalah, Stres, Atau Tidak Percaya Diri

Siklus naik turun berat badan dapat memengaruhi kondisi psikologis dan menimbulkan perasaan gagal mempertahankan hasil diet.

Bahaya Diet Yoyo

Diet yoyo dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan. 

Secara fisik, pembatasan energi yang terlalu drastis dapat membuat tubuh kehilangan massa otot dan terasa lebih cepat lelah. Jika siklus ini terjadi berulang, tubuh akan beradaptasi dengan memperlambat metabolisme sebagai bentuk perlindungan. Akibatnya, penurunan berat badan di kemudian hari bisa menjadi lebih sulit.

Dari sisi psikologis, diet yoyo juga dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan makanan.  Perasaan gagal mempertahankan hasil diet bisa memicu stres dan frustrasi.

Cara Mencegah Diet Yoyo

Mengatasi diet yoyo membutuhkan pendekatan yang lebih realistis dan berkelanjutan. Fokus utama sebaiknya bukan pada penurunan berat badan yang cepat, melainkan pada perbaikan pola makan dan gaya hidup secara konsisten.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Atur Porsi Makan 

Mulailah dengan menata ulang porsi makan, bukan memangkasnya secara ekstrem. Mengurangi sedikit demi sedikit jauh lebih mudah dipertahankan dibandingkan langsung makan sangat sedikit lalu tidak kuat menjalaninya.

2. Konsumsi Makanan yang Seimbang

Jangan menghilangkan satu kelompok makanan secara total. Tubuh tetap membutuhkan karbohidrat, protein, dan lemak dalam jumlah yang cukup agar rasa kenyang lebih stabil dan tidak mudah “balas dendam” setelah diet selesai.

3. Lakukan Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik membantu menjaga massa otot dan mendukung metabolisme. Tidak harus olahraga berat setiap hari. Pilih jenis olahraga yang dapat dilakukan secara rutin. 

Jika Mengalami Diet Yoyo, Sebaiknya ke Dokter Apa?

Jika mengalami diet yoyo berulang, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan yang tepat.

Dokter spesialis gizi klinik atau ahli gizi dapat membantu mengevaluasi pola makan, riwayat penurunan berat badan, serta kondisi kesehatan secara menyeluruh. Dari hasil evaluasi tersebut, akan disusun rencana makan yang lebih realistis, aman, dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Jangan Ragu ke Dokter Spesialis Gizi Klinik jika Mengalami Diet Yoyo

Anda sedang mengalami diet yoyo atau merasa berat badan turun dan naik dengan cepat sampai merasa frustasi? Jika iya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis gizi klinik yang bisa membantu Anda dalam mengatasi diet yoyo. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! (Bisa telekonsultasi)


84583-_1_-1200x800.webp

Olahraga membuat tubuh lebih sehat, bugar, dan kuat. Namun, masih banyak orang yang lupa atau menunda minum setelah olahraga. Padahal, kebiasaan ini bisa menimbulkan berbagai dampak buruk bagi tubuh, mulai dari dehidrasi ringan hingga gangguan fungsi organ. Ditambah dengan orang yang bangga tidak minum saat atau setelah olahraga.

Jadi, apa saja bahaya tidak minum setelah olahraga? Berikut bahayanya!

Bahaya Tidak Minum Setelah Olahraga

Tidak segera minum setelah berolahraga dapat memicu berbagai masalah kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

1. Dehidrasi

Dehidrasi adalah risiko paling umum jika tidak minum setelah olahraga. Berikut gejala dehidrasi setelah olahraga

  • Haus berlebihan
  • Mulut dan bibir kering
  • Urin (pipis) berwarna kuning pekat
  • Pusing dan lemas

Jika hal ini dibiarkan, dehidrasi dapat mengganggu kinerja jantung dan ginjal. Jadi, ada organ dalam yang terancam jika Anda tidak minum setelah olahraga, apalagi jika Anda berolahraga dengan tipe endurance.

2. Kram dan Nyeri Otot

Kurangnya cairan dan elektrolit membuat otot lebih mudah mengalami kram, terutama setelah latihan intensitas sedang hingga berat. 

3. Penurunan Performa Fisik

Tidak minum setelah olahraga menyebabkan suplai oksigen dan nutrisi ke otot menurun, sehingga tubuh terasa cepat lelah dan performa olahraga berikutnya ikut menurun.

4. Gangguan Fungsi Ginjal

Ginjal membutuhkan cairan yang cukup untuk menyaring zat sisa. Kurang minum setelah olahraga dapat meningkatkan risiko:

  • Urin pekat
  • Batu ginjal
  • Gangguan fungsi ginjal pada kondisi ekstrem

Tidak salah jika banyak pihak/nakes yang mengatakan bahwa ginjal bisa terganggu jika Anda berolahraga tanpa minum (saat atau pun setelah).

5. Pusing dan Penurunan Tekanan Darah

Kehilangan cairan tanpa penggantian yang cukup dapat menurunkan volume darah, sehingga memicu pusing, mual, bahkan risiko pingsan.

6. Proses Pemulihan Menjadi Lebih Lama

Tanpa hidrasi yang baik, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk memperbaiki jaringan otot dan mengembalikan energi setelah olahraga.

Jika pemulihan berlangsung lebih lama, maka Anda butuh waktu leibh lama juga untuk bisa latihan lebih berat lagi seperti anaerobik (HIIT) atau latihan interval run/tempo run.

Siapa yang Paling Berisiko Jika Tidak Minum Setelah Olahraga?

Tidak semua orang memiliki risiko yang sama. Namun, beberapa kalangan ini memiliki risiko tinggi pada kesehatan jika tiadk minum setelah olahraga.

1. Atlet dan Pelari Jarak Jauh

Atlet endurance kehilangan cairan lebih banyak, sehingga kebutuhan minumnya lebih tinggi. Jadi, jangan sampai sudah lari lebih dari 10 km, tetapi tidak minum sama sekali.

2. Orang dengan Aktivitas Fisik Berat

Pekerja lapangan atau mereka yang berolahraga di cuaca panas lebih rentan mengalami dehidrasi. Jika tidak minum, akan ada banyak gangguan kesehatan.

3. Lansia

Lansia yang berolahraga tentu menjadi teladan. Namun, kebutuhan cairan tetap harus dijaga.

Rasa haus pada lansia sering berkurang, sehingga risiko tidak minum setelah olahraga menjadi lebih besar. Karena itu, perlu minum tanpa muncul rasa haus terlebih dahulu.

Kapan dan Berapa Banyak Harus Minum Setelah Olahraga?

Minum setelah olahraga sebaiknya dilakukan segera. Jangan menunggu haus dahulu baru mau minum air.

Waktu terbaik minum setelah olahraga adalah dalam 30 menit pertama setelah selesai olahraga dan dilanjutkan secara bertahap hingga warna urin kembali jernih (putih).

Untuk olahraga intensitas ringan hingga sedang, air putih cukup, tetapi jika olahraganya di atas 60 menit, sebaiknya Anda minum minuman elektrolit/isotonik, terutama jika banyak berkeringat.

Segera Minum setelah Berolahraga!

Tidak minum setelah olahraga bukanlah kebiasaan sepele Bahkan hal ini sebaiknya jangan dibanggakan (tidak minum setelah olahraga) karena ada bahaya untuk kesehatan. 

Dehidrasi, kram otot, penurunan performa, hingga gangguan ginjal dapat terjadi jika tubuh kekurangan cairan. Oleh karena itu, pastikan Anda selalu minum setelah olahraga untuk menjaga kesehatan dan mempercepat pemulihan tubuh.

Pilihannya, Anda bisa minum air putih jika olahraga ringan-sedang dengan durasi kurang dari satu jam dan minuman elektrolit/isotonik jika olahraga dengan intensitas berat atau durasi lebih dari satu jam, apalagi jika mengeluarkan banyak keringat.


21914-_1_-1200x800.webp

Telinga kemasukan kapas cotton bud adalah kondisi yang mungkin terjadi, terutama saat membersihkan telinga sendiri di rumah. 

Banyak orang tidak sadar bahwa ujung kapas cotton bud bisa terlepas dan tertinggal di dalam liang telinga, padahal hal ini berpotensi menimbulkan gangguan pada kesehatan telinga. Bagaimana kapas tersebut bisa masuk ke telinga? Apa gejalanya? Lalu, apa yang harus dilakukan?

Bagaimana Kapas Cotton Bud Bisa Masuk ke Telinga?

Kapas cotton bud bisa masuk ke telinga karena beberapa hal berikut:

  • Cotton bud didorong terlalu dalam ke liang telinga
  • Gerakan tiba-tiba saat membersihkan telinga
  • Kualitas cotton bud yang kurang baik sehingga kapas mudah lepas
  • Membersihkan telinga anak tanpa posisi yang stabi

Ada banyak proses, meski yang jelas, hal ini berbahaya untuk kesehatan telinga, baik itu telinga anak-anak atau pun orang dewasa.

Siapa yang Paling Berisiko Mengalami Telinga Kemasukan Kapas Cotton Bud?

Beberapa kelompok yang lebih berisiko mengalami telinga kemasukan kapas cotton bud antara lain:

  • Anak-anak
  • Lansia
  • Orang yang sering membersihkan telinga sendiri
  • Pengguna cotton bud, terutama yang memakainya setiap hari

Bahaya Telinga Kemasukan Kapas Cotton Bud

Jika tidak segera ditangani, kapas cotton bud yang tertinggal di telinga dapat menyebabkan berbagai masalah. Masalah tersebut adalah:

1. Infeksi Telinga

Kapas yang tertinggal dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri dan jamur, sehingga bisa memicu otitis eksterna atau infeksi telinga luar.

2. Gangguan Pendengaran

Kapas cotton bud yang menyumbat liang telinga bisa menyebabkan pendengaran terasa berkurang atau suara terasa kurang terdengar. Jadi, kapas cotton bud bisa menyebabkan gangguan pendengaran.

3. Nyeri dan Iritasi Telinga

Benda asing di telinga, termasuk kapas cotton bud dapat mengiritasi dinding liang telinga, menimbulkan rasa nyeri, gatal, hingga peradangan.

4. Risiko Luka hingga Gendang Telinga

Jika kapas cotton bud didorong lebih dalam saat mencoba mengeluarkannya sendiri, ada risiko luka pada liang telinga bahkan robeknya gendang telinga.

Tanda dan Gejala Telinga Kemasukan Kapas Cotton Bud

Kenali gejalanya agar bisa segera mencari pertolongan medis. Baik itu gejala ringan atau pun berat, sangat dianjurkan untuk konsultasi ke dokter spesialis THT.

1. Gejala Ringan

  • Telinga terasa penuh atau tersumbat
  • Pendengaran berkurang
  • Rasa tidak nyaman di telinga 

2. Gejala Berat

  • Nyeri telinga yang semakin hebat
  • Keluar cairan atau nanah dari telinga
  • Pusing atau vertigo
  • Telinga berdenging 

Cara Mengatasi Telinga Kemasukan Kapas Cotton Bud

a. Hindari Beberapa Hal

Penanganan harus dilakukan dengan cara yang aman agar tidak menimbulkan komplikasi.

Jika telinga kemasukan kapas cotton bud, hindari hal-hal berikut:

  • Mengorek telinga dengan benda keras atau runcing 
  • Mendorong cotton bud lebih dalam 
  • Meneteskan cairan sembarangan tanpa anjuran medis 

b. Berkonsultasi dengan Dokter Spesialis THT

Segera periksa ke dokter spesialis THT jika:

  • Kapas cotton bud-nya tidak bisa dikeluarkan sendiri 
  • Telinga terasa nyeri atau berdarah 
  • Pendengaran menurun, misalnya suara terasa kurang terdengar 
  • Kasus telinga kemasukan cotton bud terjadi pada anak 

Dokter spesialis THT akan mengeluarkan kapas menggunakan alat khusus secara aman dan minim risiko.

Cara Mencegah Telinga Kemasukan Kapas Cotton Bud

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Berikut cara agar telinga tidak kemasukan kapas cotton bud.

1. Hindari Membersihkan Telinga Terlalu Dalam

Liang telinga memiliki mekanisme pembersihan alami. Justru, membersihkan telinga di area terlalu dalam justru berisiko mendorong kotoran dan benda asing masuk ke telinga. 

Lebih baik untuk membersihkan telinga bagian luar saja.

2. Gunakan Cotton Bud dengan Aman

Jika tetap ingin menggunakan cotton bud:

  • Bersihkan hanya bagian luar telinga saja
  • Jangan memasukkan cotton bud ke dalam liang telinga
  • Pilih cotton bud berkualitas baik, hati-hati jika sudah ada indikasi robekan kapas

3. Rutin Periksa Telinga ke Dokter

Pemeriksaan telinga secara berkala ke dokter THT membantu menjaga kesehatan telinga dan mencegah masalah serius.

Setelahnya, Anda bisa irigasi telinga rutin di dokter spesialis THT.

Hati-Hati jika Membersihkan Telinga dengan Cotton Bud

Telinga kemasukan kapas cotton bud adalah kondisi yang mungkin untuk terjadi dan berpotensi berbahaya pada kesehatan telinga jika ditangani dengan cara yang salah. 

Hindari mengeluarkan kapas sendiri dengan cara sembarangan dan segera konsultasikan ke dokter THT untuk penanganan yang aman.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis THT. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


21911-2-1200x800.webp

Mengorek telinga sudah menjadi kebiasaan banyak orang, baik menggunakan cotton bud hingga alat logam kecil. Padahal, kebiasaan ini menyimpan berbagai risiko kesehatan. Niatnya membersihkan, justru mengorek telinga dapat membahayakan kesehatan.

Mengapa Banyak Orang Sering Mengorek Telinga?

Mengapa ya orang-orang sampai banyak sekali yang suka mengorek telinga sampai jadi kebiasaan yang dianggap lumrah? Jawabannya adalah karena rasa gatal, tidak nyaman, atau anggapan bahwa telinga harus selalu bersih membuat banyak orang terbiasa mengorek telinga. 

Serumen atau kotoran telinga sebenarnya berfungsi melindungi telinga dari debu, kuman, dan benda asing, serta membantu menjaga kelembapan liang telinga agar tidak kering dan iritasi. Jaid, mengoreknya secara “manual” justru bisa menimbulkan masalah.

Bahaya Mengorek Telinga Terlalu Sering, Ditambah dengan Cara yang Salah

Mengorek telinga terlalu sering, apalagi dengan cara yang salah, dapat menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan telinga. Berikut bahayanya:

1. Risiko Luka dan Infeksi Telinga

Alat atau jari yang dimasukkan ke dalam telinga dapat melukai kulit liang telinga yang tipis dan sensitif. Luka kecil ini bisa menjadi pintu masuk bagi bakteri dan jamur, sehingga meningkatkan risiko infeksi telinga luar (otitis eksterna).

Jadi, mengorek telinga bisa berbahaya karena dapat menyebabkan infeksi.

2. Kotoran Telinga Semakin Masuk ke Dalam

Alih-alih keluar, mengorek telinga justru sering mendorong kotoran semakin ke dalam mendekati gendang telinga. Bukannya kotoran telinga jadi bersih karena dikorek, justru ternyata kotorannya semakin dalam, sehingga terjadi gangguan pendengaran.

3. Iritasi dan Rasa Gatal Berkepanjangan

Mengorek telinga dapat menghilangkan lapisan pelindung alami pada kulit telinga. Akibatnya, telinga menjadi kering, iritasi, dan terasa semakin gatal, sehingga memicu keinginan untuk mengorek lebih sering.

Jadi, jangan heran kalau habis mengorek telinga, malah muncul iritasi, atau timbul rasa gatal, sehingga ada keinginan untuk mengorek telinga lagi.

4. Risiko Robeknya Gendang Telinga

Jika pengorekan telinga ini dilakukan terlalu dalam atau tidak sengaja tersentak, alat pengorek telinga atau jari bisa melukai hingga merobek gendang telinga. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri hebat pada telinga, gangguan pendengaran, dan muncul infeksi serius. 

Tanda-Tanda Telinga Bermasalah Akibat dari Mengorek Telinga 

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai setelah sering mengorek telinga antara lain (tanda telinga bermasalah): 

1. Nyeri atau Perih pada Telinga

Rasa sakit bisa menandakan adanya luka atau peradangan pada liang telinga.

2. Telinga Berdengung atau Fungsi Pendengaran Mengalami Penurunan

Sumbatan kotoran atau kerusakan pada telinga akibat mengorek dapat menyebabkan telinga berdengung dan muncul gangguan pendengaran.

Seharusnya, tanda-tanda ini akan terlihat dengan tes audiometri.

3. Keluar Cairan dari Telinga

Cairan bening, kekuningan, atau berbau bisa menjadi tanda infeksi yang membutuhkan penanganan medis. Segera ke dokter spesialis THT jika muncul hal seperti ini ya.

Cara Aman Membersihkan Telinga

Daripada mengorek telinga, ada cara yang lebih aman untuk menjaga kebersihan telinga.

1. Biarkan Telinga Membersihkan Diri Sendiri

Pada umumnya, kotoran telinga akan keluar dengan sendirinya melalui gerakan rahang saat mengunyah atau berbicara. Jadi, ada prosedur alaminya tanpa perlu mengorek telinga untuk mengatasi kotoran.

2. Bersihkan Bagian Luar Telinga Saja

Cukup bersihkan bagian luar telinga dengan kain lembut dan kering setelah mandi. Telinga bagian dalam tidak perlu dibersihkan, apalagi kalau pembersihan telinganya menggunakan alat/jari.

3. Periksa ke Dokter Jika Telinga Tersumbat

Jika telinga terasa penuh, pendengaran menurun, atau sering gatal, sebaiknya periksa ke dokter, terutama dokter spesialis THT, untuk mendapatkan pembersihan telinga yang aman, sesuai dengan prosedur medis.

Kapan Harus ke Dokter karena Masalah Telinga?

Segera konsultasi ke dokter spesialis THT jika mengalami masalah pada telinga seperti nyeri telinga hebat, telinga berdarah, keluar cairan, atau pendengaran menurun setelah mengorek telinga, serta kotoran telinga menumpuk. Penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi lebih lanjut.

Jangan Mengorek Telinga 

Mengorek telinga memiliki lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya. Mungkin akan terasa kalau kotoran telinga makin sedikit saat telinga dikorek, padahal kenyataannya, ternyata kotorannya justru makin ke dalam telinga.

Jika muncul gangguan pendengaran, iritasi dan perih, bahkan keluar cairan dari telinga setelah mengorek. Segera ke dokter spesialis THT untuk penanganan lebih lanjut.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis THT dan layanan seputar telinga seperti irigasi telinga (pembersihan telinga) dan audiometri (cek kualitas pendengaran). Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


15383-_2_-1200x800.webp

Telinga kotor tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan dari segi estetika, tetapi juga bisa mengganggu kualitas dari pendengaran. Ada orang-orang yang bahkan membiarkan kotorannya menumpuk hingga akhirnya dibersihkan lewat irigasi telinga. Ada juga yang membersihkannya sendiri.

Pertanyaannya, apa penyebab dari telinga kotor? Bagaimana solusinya?

Apa Itu Telinga Kotor?

Telinga kotor sebenarnya adalah penumpukan serumen atau kotoran telinga yang diproduksi secara alami oleh tubuh. Serumen pada telinga memiliki fungsi penting, antara lain:

  • Melindungi saluran telinga dari debu dan kuman
  • Menjaga kelembapan kulit telinga
  • Mencegah masuknya benda asing ke telinga

Masalahnya muncul ketika serumennya mengeras atau menumpuk, sehingga telinga menjadi kotor dan pendengaran mengalami gangguan.

Apakah Telinga Kotor itu Berbahaya?

Pada kondisi tertentu, telinga kotor dapat menyebabkan:

  • Penurunan pendengaran untuk sementara waktu
  • Rasa penuh atau tersumbat
  • Nyeri telinga
  • Infeksi telinga luar

Jadi apakah telinga kotor berbahaya? Tergantung dari gangguan yang muncul setelah telinganya kotor. Karena itu, sebaiknya rutin melakukan pembersihan telinga.

Penyebab Telinga Menjadi Kotor

Penumpukan kotoran telinga dapat terjadi karena beberapa faktor. Yaitu:

1. Produksi Serumen Berlebih

Sebagian orang secara alami memproduksi serumen lebih banyak sehingga mudah menumpuk. Jadi, ada beberapa orang yang memang telinganya lebih mudah mengalami penumpukan kotoran. Mirip dengan orang yang lebih mudah muncul karang giginya.

2. Kebiasaan Membersihkan Telinga dengan Cara yang Salah

Membersihkan telinga dengan cara yang salah seperti menggunakan cotton bud justru dapat:

  • Mendorong kotoran lebih dalam ke bagian dalam telinganya
  • Menyebabkan sumbatan 
  • Melukai saluran telinga

3. Faktor Usia dan Bentuk Saluran Telinga

Lansia dan orang dengan saluran telinga sempit lebih rentan mengalami telinga yang kotor.

Ciri-Ciri Telinga Kotor

Telinga kotor memiliki gejala yang cukup khas. Beberapa tanda telinga kotor meliputi:

  • Pendengaran terasa berkurang (jadi merasa budeg)
  • Telinga terasa penuh atau ada yang terasa tersumbat
  • Telinga berdenging
  • Terdapat gatal atau rasa yang tidak nyaman

Kapan harus ke Dokter Terkait Telinga Kotor?

Segera periksakan ke dokter jika telinga kotor disertai:

  • Nyeri hebat
  • Keluar cairan atau nanah
  • Pusing atau vertigo

Anda bisa ke dokter spesialis THT untuk menangani gejala dan masalah tersebut.

Cara Membersihkan Telinga Kotor yang Aman

Membersihkan telinga harus dilakukan dengan cara yang tepat agar tidak menimbulkan masalah.

1. Cara Alami Membersihkan Telinga dengan Aman

Beberapa cara pembersihan telinga yang relatif aman secara alami adalah::

  • Membersihkan bagian luar telinga saja
  • Menggunakan obat tetes telinga sesuai anjuran
  • Membiarkan telinga membersihkan diri secara alami

Untuk pembersihan telinga kotor, terutama yang kotorannya ada di bagian dalam telinga, sangat dianjurkan untuk menggunakan prosedur irigasi telinga yang dilakukan oleh dokter spesialis THT.

2. Cara Membersihkan Telinga yang Tidak Dianjurkan

Hindari membersihkan telinga dengan:

  • Cotton bud
  • Penjepit atau benda keras
  • Lilin telinga (ear candle)

Cara di atas tidak dianjurkan karena rawan ada yang tertinggal di dalam, bahkan menyebabkan infeksi, bahkan kotorannya makin ke dalam telinga, bukan justru dikeluarkan.

Jika Kondisi Telinga Kotor, Harus ke Dokter Apa?

Jika telinga kotor hingga terasa tersumbat, dan tidak membaik, bahkan terjadi gangguan pendengaran, sebaiknya periksa ke tenaga medis, yaitu dokter spesialis THT. Dokter spesialis THT dapat:

  • Melihat kondisi saluran telinga dengan alat khusus
  • Membersihkan kotoran telinga secara aman dengan alat-alat kesehatan 
  • Menangani infeksi pada telinga jika ditemukan

Metode pembersihan telinga ada banyak, antara lain:

  • Irigasi telinga
  • Suction atau dengan kata lain, penyedotan
  • Alat khusus di bawah penglihatan langsung

Cara Mencegah Telinga Kotor (Tips Menjaga Kebersihan Telinga)

Mencegah lebih baik daripada mengobati, berikut cara mencegah telinga kotor:

Beberapa cara untuk menjaga kebersihan telinga, antara lain::

  • Hindari kebiasaan mengorek telinga, baik itu dengan jari atau pun alat seperti cotton bud
  • Gunakan penutup telinga ketika berada di lingkungan berdebu
  • Kontrol rutin ke dokter spesialis THT jika sering mengalami sumbatan
  • Kurangi pemakaian earphone
  • Rutin membersihkan earphone

Telinga Kotor dan Mengganggu Pendengaran? Ayo ke Dokter Spesialis THT

Telinga kotor adalah kondisi umum yang bisa terjadi pada siapa saja. Namun, jika sudah mengganggu pendengaran, bahkan menumpuk kotorannya, sebaiknya segera ke dokter spesialis THT untuk dilakukan pembersihan telinga.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia layanan irigasi telinga (pembersihan telinga) yang dilakukan oleh dokter spesialis THT.

Ingin membersihkan telinga/irigasi telinga? Yuk klik tautan ini!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.