6442-_1_-1200x800.webp

September 10, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diare merupakan masalah pencernaan yang cukup sering terjadi pada siapa saja. Diare bisa disebabkan oleh infeksi, intoleransi makanan atau minuman, efek samping obat, serta penyakit pencernaan misalnya irritable bowel syndrome. 

Pada penderita diabetes, diare bisa menjadi gejala komplikasi akibat gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang. Karena itu, diare pada diabetes harus diwaspadai.

Apa kaitan antara diare dan diabetes, serta bagaimana cara mengatasinya? Berikut penjelasannya!

Apa itu Diare pada Penderita Diabetes?

Diare adalah kondisi di mana seseorang buang air besar (BAB) lebih dari tiga kali dalam sehari, dengan tekstur feses yang lebih cair. Diare akut terjadi jika diare berlangsung tidak lebih dari 14 hari, sedangkan diare kronis terjadi jika lebih dari 14 hari.

Pada penderita diabetes diare bisa terjadi karena masalah pencernaan, efek samping obat, atau karena komplikasi yang disebut neuropati otonom diabetik. Untuk membedakan apakah diare pada penderita diabetes adalah diare biasa atau akibat kondisi diabetes, maka diperlukan pemeriksaan yang lebih lengkap oleh dokter. 

Apakah Diare Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Tidak semua diare berkaitan dengan diabetes. Banyak faktor lain yang bisa menyebabkan diare. Berikut beberapa penyebab diare selain diabetes:

  • Infeksi virus atau bakteri misalnya rotavirus, norovirus, atau bakteri E. coli dan Salmonella yang sering menyebabkan gejala pencernaan termasuk diare. 
  • Keracunan makanan karena mengonsumsi makanan yang terkontaminasi sehingga memicu diare.
  • Alergi atau intoleransi makanan, misalnya intoleransi laktosa atau alergi gluten dapat menyebabkan masalah pencernaan termasuk diare. 
  • Efek samping obat, beberapa jenis antibiotik, obat kanker, dan obat diabetes bisa menyebabkan efek samping diare.
  • Gangguan pencernaan kronis seperti sindrom iritasi usus besar atau penyakit radang usus. 

Dengan demikian, diare tidak selalu menjadi tanda diabetes. Namun, jika penderita diabetes mengalami diare berulang atau kronis, kondisi tersebut bisa berhubungan dengan komplikasi diabetes atau efek pengobatan diabetes yang sedang dijalani.

Penyebab Diare pada Penderita Diabetes

Ada beberapa penyebab yang dapat memicu diare pada penderita diabetes, antara lain:

1. Neuropati Otonom Diabetik

Neuropati otonom diabetik adalah kerusakan saraf otonom akibat penyakit diabetes yang tidak terkontrol dalam jangka panjang. Saraf otonom adalah sistem saraf yang mengatur fungsi kardiovaskular, pencernaan, kandung kemih, serta fungsi seksual.

Diare pada diabetes bisa disebabkan karena adanya kerusakan saraf di sistem pencernaan. Akibatnya, gerakan usus menjadi tidak normal dan bisa mengakibatkan diare berulang.

2. Efek Samping Obat Diabetes

Salah satu obat diabetes, yaitu metformin dapat menimbulkan efek samping berupa diare. Pada sebagian penderita, diare bisa muncul pada awal penggunaan obat atau ketika dosisnya dinaikkan terlalu cepat. 

3. Infeksi Saluran Pencernaan

Penderita diabetes lebih rentan terkena infeksi baik infeksi bakteri, virus, atau parasit karena sistem imun yang melemah. Infeksi pada saluran pencernaan dapat menyebabkan diare. 

Apakah Diare pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Diare bisa menjadi kondisi yang berbahaya bila tidak segera ditangani. Cairan yang banyak keluar saat diare dapat menyebabkan dehidrasi, jika tidak segera mendapat penanganan dapat mengganggu keseimbangan elektrolit.

Pada penderita diabetes, diare kronis dapat meningkatkan risiko komplikasi lain seperti gangguan ginjal dan kardiovaskular. Diare kronis juga menjadi tanda adanya gangguan saraf pencernaan dan infeksi yang membutuhkan penanganan medis.

Cara Mencegah dan Mengatasi Diare pada Penderita Diabetes

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi diare pada penderita diabetes, yaitu:

  • Mengatur pola makan dengan menghindari makanan pedas, berlemak, terlalu manis, serta menjaga kebersihan makanan agar tidak terkontaminasi kuman yang dapat memicu diare.
  • Menyesuaikan pengobatan jika obat tertentu misalnya metformin menyebabkan diare, konsultasikan dengan dokter untuk menyesuaikan dosis atau mengganti obat.
  • Jika mengalami diare, perbanyak minum air putih agar tidak terjadi dehidrasi.
  • Mengonsumsi probiotik untuk membantu menjaga bakteri baik di usus.
  • Mengontrol kadar gula darah dengan pola makan sehat, olahraga, dan minum obat sesuai anjuran dokter untuk mencegah komplikasi diabetes, salah satunya neuropati otonom diabetik. 

Kapan Penderita Diabetes atau Orang dengan Diare Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami diare dan disertai beberapa gejala di bawah, maka segera periksa ke dokter:

  • Diare berlangsung lebih dari 3 hari dan tidak membaik. 
  • Terdapat tanda dehidrasi seperti mulut kering, jarang buang air kecil, lemas, pusing dan penurunan kesadaran. 
  • Diare disertai gejala lain seperti muntah terus-menerus dan demam tinggi. 
  • Feses bercampur lendir, darah, atau berwarna hitam pekat.

Untuk menangani masalah diare, kamu bisa periksa ke dokter umum. Jika diperlukan, dokter umum akan merujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. Namun, jika mengalami diare disertai tanda dehidrasi berat, maka segera pergi ke IGD terdekat agar mendapatkan terapi agar dehidrasi tidak berlanjut dan bertambah parah. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan layanan manajemen diabetes (ada CGM) secara menyeluruh untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik untuk mengontrol kadar gula darah. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya. 


18846-_1_.webp

September 10, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Susu dikenal sebagai sumber protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang penting untuk kesehatan tulang dan metabolisme tubuh. Namun, banyak penderita diabetes merasa ragu untuk mengonsumsinya karena khawatir dengan kandungan gula di dalamnya.

Apakah Penderita Diabetes Boleh Minum Susu?

Faktanya, penderita diabetes masih boleh minum susu. Laktosa dalam susu adalah gula alami yang masih boleh dikonsumsi penderita diabetes, asalkan jumlahnya tidak berlebihan. Namun, yang lebih penting diperhatikan adalah jenis susunya, karena sebagian produk mengandung gula tambahan yang bisa membuat gula darah cepat meningkat.

Jenis Susu yang Aman untuk Penderita Diabetes

Beberapa jenis susu berikut dapat menjadi pilihan yang lebih aman untuk penderita diabetes:

1. Susu Khusus Diabetes

Susu jenis ini sudah diformulasikan rendah indeks glikemik, diperkaya serat, protein, dan lemak sehat untuk membantu mengontrol gula darah.

2. Susu Nabati Unsweetened

Susu nabati tanpa tambahan pemanis tambahan dapat memberikan variasi protein dan kalsium, tetapi kandungan karbohidrat tiap jenis susu berbeda, sehingga tetap perlu diperhatikan porsinya.

3. Susu Rendah Lemak atau Skim

Susu jenis ini lebih aman untuk gula darah sekaligus membantu menjaga kesehatan jantung karena rendah lemak jenuh.

Jenis Susu yang Sebaiknya Dihindari Penderita Diabetes

Beberapa jenis susu tidak disarankan karena bisa membuat kadar gula darah lebih sulit stabil dan meningkatkan risiko komplikasi diabetes.

1. Susu Full Cream dalam Jumlah Banyak

Konsumsi susu full cream secara berlebihan bisa menambah asupan lemak jenuh Kondisi ini berbahaya karena penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung akibat gula darah yang tidak stabil, sehingga lemak jenuh bisa semakin memperparah kerusakan pembuluh darah.

2. Susu Berperisa Manis

Susu dengan tambahan rasa seperti cokelat, stroberi, atau vanilla biasanya mengandung gula tambahan. Kandungan ini bisa memicu gula darah naik lebih cepat. 

3. Susu Kental Manis

Susu kental manis memiliki kadar gula yang sangat tinggi sehingga membuat penderita diabetes kesulitan mengendalikan gula darah. 

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Susu

Dalam 100 gram susu sapi, terkandung sekitar 53 kalori (222 kJ), 3 gram protein, 5 gram karbohidrat, dan 2,5 gram lemak. Susu juga mengandung vitamin dan mineral penting, terutama kalsium serta vitamin D, yang berperan dalam menjaga kesehatan tulang.

Indeks glikemik (IG) susu sapi berada di kisaran 31, termasuk kategori rendah. Meski begitu, ketika susu diberi tambahan gula, sirup, atau perisa manis, beban glikemiknya meningkat, sehingga lonjakan gula darah bisa menjadi lebih cepat dan tinggi.

Cara Aman Minum Susu untuk Penderita Diabetes

Penderita diabetes tetap bisa menikmati susu, asal memperhatikan porsinya dan jenis yang dipilih. Beberapa langkah berikut dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil:

1. Pilih Susu Khusus Diabetes

Selain membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, susu khusus diabetes juga bisa memberi rasa aman karena formulanya sudah disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

2. Batasi Porsi

Konsumsi sekitar 1 gelas kecil (200 ml) per hari atau sesuai arahan tenaga kesehatan.

3. Pilih Susu Tanpa Pemanis Tambahan

Hindari susu dengan rasa manis tambahan atau susu kental manis karena bisa membuat kadar gula darah melonjak lebih cepat.

4. Kombinasikan dengan Makanan Berserat

Minum susu bersama oatmeal, roti gandum, atau buah rendah gula lebih baik daripada mencampurnya dengan minuman manis.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera temui dokter jika setelah mengonsumsi susu kadar gula darah terasa sulit dikendalikan, atau muncul gejala seperti sering buang air kecil, cepat lelah, rasa haus berlebihan, atau berat badan turun tanpa sebab.

Dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu mengevaluasi kondisi lebih lanjut. Selain itu, penderita diabetes juga bisa berkonsultasi dengan dokter gizi klinik atau ahli gizi untuk mendapatkan panduan minum susu yang lebih sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare clinic menyediakan layanan manajemen diabetes bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik serta terdapat CGM dalam programnya. Program ini bisa membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C dan mengelola gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut. 


2150408461-_1_-_1_-1200x800.webp

September 10, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Pola makan sehat merupakan salah satu terapi yang harus dijalankan oleh penderita diabetes. Makanan dan minuman yang akan dikonsumsi oleh penderita diabetes sangat perlu diperhatikan karena akan memengaruhi kadar gula dalam darah dan juga proses metabolismenya. Oleh sebab itu, banyak makanan dan minuman yang sebaiknya tidak dikonsumsi oleh penderita diabetes untuk tetap menjaga kadar gula dalam kondisi normal. Air es tentu menjadi minuman primadona, terutama di kala cuaca panas. Namun, apakah air es boleh dikonsumsi oleh penderita diabetes? 

Apakah Penderita Diabetes Boleh Minum Air Es?

Ya, penderita diabetes boleh minum air es. 

Karena adanya pembatasan konsumsi makanan dan minuman pada pasien diabetes, air es ini dapat menjadi alternatif cara minum air putih agar terasa lebih segar. 

Penderita diabetes sangat dibatasi untuk mengonsumsi minuman dingin berperisa karena dikhawatirkan akan menambah kalori yang nantinya akan meningkatkan kadar gula dalam darahnya. Sebaliknya, mengonsumsi air es sangat aman karena pada dasarnya air es adalah air putih dingin yang memiliki nilai 0 kalori. 

Zat Gizi, Indeks Glikemik, dan Beban Glikemik Air Es

Air es atau air putih dingin tidak memiliki kandungan gizi makro, seperti karbohidrat, protein, lemak sehingga air putih mengandung 0 kalori. Walaupun begitu, ada jenis air putih yang memiliki kandungan gizi mikro, seperti mineral dalam jumlah sedikit yang sering disebut air mineral. Kandungan gizi mineral ini tidak lantas menambahkan nilai kalori pada air putih.

Berapa nilai indeks glikemik dan beban glikemik air putih? Sebelumnya, kita ketahui dahulu apa itu  indeks glikemik dan beban glikemik. Indeks glikemik adalah pengukuran seberapa cepat makanan/minuman yang mengandung karbohidrat dapat meningkatkan kadar gula darah. Indeks glikemik memiliki rentang nilai 0-100. Sementara, beban glikemik air adalah perhitungan indeks glikemik disertai jumlah porsi karbohidrat yang dikonsumsi. Karena air putih tidak mengandung karbohidrat, maka nilai  indeks glikemik dan beban glikemiknya adalah 0. 

Cara Minum Air Es Untuk Penderita Diabetes Yang Aman

Seringkali pasien diabetes merasa bosan dengan air es dan ingin mengonsumsi minuman segar lainnya, tetapi tentunya dengan pilihan yang tetap aman untuk dikonsumsi. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengonsumsi air es yang aman bagi penderita diabetes, yaitu:

  1. Untuk mendapatkan cita rasa atau sensasi berbeda ketika minum air putih, pasien dapat memilih air putih karbonasi (sparkling water).
  2. Campurkan air es dengan perasan lemon. Hal ini dapat memberikan sensasi rasa segar di mulut. Akan tetapi, perlu diperhatikan jumlah dan frekuensi konsumsinya. 
  3. Buat menjadi infused water dengan menambahkan potongan buah atau sayur, seperti jeruk, buah beri-berian, timun, peach/persik, daun mint, atau herbal segar lainnya. Setelah air sudah dicampurkan dengan potongan buah ataupun tambahan lain, infused water dapat disimpan dahulu di dalam lemari pendingin agar aroma dan rasanya menyatu. 

Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?

Penderita diabetes yang sudah terdiagnosis oleh dokter harus mengonsumsi obat antidiabetes setiap hari sehingga sangat perlu untuk rutin ke dokter. Selain itu, dibutuhkan juga terapi non farmakologis, seperti perubahan gaya hidup. 

Untuk memantau kondisi pasien, makan pasien perlu untuk berkonsultasi ke dokter dengan kondisi seperti di bawah ini:

  1. Pasien diabetes harus melakukan kontrol rutin minimal satu bulan sekali, baik itu oleh dokter umum, atau dokter spesialis penyakit dalam, atau pun dokter subspesialis endokrin metabolisme diabetes bergantung pada kondisi pasien dan status rujukannya. 
  2. Pasien yang mengalami kesulitan mengatur pola makan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik untuk mendapatkan informasi tentang diet yang sesuai dengan kebutuhan gizi harian dan pembatasan kalori yang dibutuhkan. Selain itu, pasien juga bisa mendapatkan saran terkait aktivitas fisik yang dapat menunjang pola hidup sehat. 
  3. Jika pasien mengalami komplikasi akut, seperti hipoglikemia, sesak napas, tidak sadarkan diri, berat badan yang menurun dengan cepat dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan sekunder atau tersier untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesegera mungkin. 
  4. Jika didapatkan gejala yang mengarah pada komplikasi lainnya, seperti neuropati (gangguan saraf) atau retinopati (gangguan pada retina mata) diabetes, maka pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis berdasarkan jenis komplikasinya. Misalnya, jika ada gangguan saraf, maka sebaiknya ke dokter saraf.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare clinic menyediakan layanan manajemen diabetes bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik serta terdapat CGM dalam programnya. Program ini bisa membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C dan mengelola gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut. 


2149456734-1-1200x800.webp

Berkeringat adalah mekanisme tubuh untuk menurunkan dan menjaga suhu tubuh agar tetap stabil. Pasalnya, suhu tubuh yang terlalu tinggi dapat berbahaya bagi tubuh. Tubuh akan mengeluarkan keringat ketika cuaca panas, saat berolahraga atau aktivitas fisik, serta saat sedang gugup. 

Namun, kamu perlu waspada jika sering berkeringat, bahkan ketika sedang santai, cuaca sejuk dan tidak panas. Sering berkeringat bisa menjadi gejala adanya masalah kesehatan, salah satunya diabetes. Apakah kondisi ini berbahaya dan bagaimana mengatasinya? Yuk, cek faktanya di artikel ini!

Apa itu Gejala Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes?

Sering berkeringat pada penderita diabetes adalah kondisi saat tubuh memproduksi keringat berlebih tanpa pemicu yang jelas. Dalam bahasa medis, sering berkeringat berlebih tanpa sebab yang jelas disebut hiperhidrosis

Berkeringat adalah salah satu cara tubuh untuk menjaga suhu agar tetap stabil. Di kulit kita terdapat ribuan kelenjar keringat yang berfungsi untuk mengeluarkan cairan ke permukaan kulit. Proses ini diatur oleh bagian otak yang bertugas mengatur suhu tubuh. 

Ketika suhu tubuh meningkat, baik karena cuaca panas, aktivitas fisik, atau kondisi emosional seperti stres, otak akan mengirim sinyal ke sistem saraf yang mengatur produksi keringat. Sinyal ini kemudian merangsang kelenjar keringat untuk memproduksi cairan. Saat keringat keluar ke permukaan kulit, suhu tubuh pun ikut turun. 

Selain dipengaruhi oleh suhu dan aktivitas fisik, keringat juga bisa dipicu oleh perubahan hormon dan kadar gula darah. Penderita diabetes dapat mengalami gejala sering berkeringat terutama pada kondisi hipoglikemia, yaitu saat kadar gula darah terlalu rendah.

Apakah Sering Berkeringat Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Penderita diabetes tidak selalu mengalami gejala sering berkeringat. Selain itu, sering berkeringat juga dapat disebabkan oleh berbagai penyebab. Berikut beberapa penyebab seseorang sering berkeringat:

1. Cuaca Panas dan Aktivitas Fisik

Saat suhu lingkungan tinggi, tubuh banyak bergerak, dan beraktivitas, kelenjar keringat akan bekerja lebih aktif untuk menjaga suhu tubuh tetap normal.

2. Stres, Cemas, atau Gugup

Beberapa orang bisa mengeluarkan keringat berlebih saat sedang stres, cemas, atau gugup. Kondisi emosi tertentu dapat merangsang saraf yang mengatur produksi keringat. Akibatnya, keringat muncul, biasanya di telapak tangan atau wajah.

3. Perubahan Hormon

Perubahan hormon juga bisa menjadi penyebab seseorang sering berkeringat, misalnya, pada wanita yang memasuki masa menopause. Ketika memasuki masa menopause, salah satu gejala yang sering muncul adalah hot flashes. Kondisi ini ditandai dengan rasa panas yang tiba-tiba timbul, disertai dengan keringat berlebih. 

Selain itu, penyakit penyakit hipertiroid juga dapat memicu keringat berlebih. Hipertiroid adalah kondisi medis yang menyebabkan kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid terlalu banyak. Akibatnya, metabolisme tubuh bekerja terlalu cepat dan membuat seseorang berkeringat lebih sering.

4. Infeksi

Penyakit yang diakibatkan infeksi bakteri, virus, maupun parasit dapat menimbulkan gejala sering berkeringat. Kondisi ini adalah mekanisme tubuh dalam melawan infeksi. Saat sistem imun melawan infeksi, suhu tubuh akan meningkat.

Salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan sering berkeringat pada malam hari adalah Tuberkulosis (TBC). Pada penyakit TBC, biasanya juga disertai gejala batuk yang lama tidak sembuh, penurunan berat badan, serta sesak napas. 

Jadi, jika seseorang sering berkeringat, bukan berarti menderita diabetes. Untuk mengetahui penyebab sering berkeringat, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Penyebab Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes

Penderita diabetes bisa sering berkeringat ketika kadar gula darah terlalu rendah atau hipoglikemia. Kondisi hipoglikemia dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makan atau karena obat. 

Ketika kadar gula darah sangat rendah, maka sistem saraf otonom akan aktif. Sistem saraf ini bertugas meregulasi beberapa fungsi tubuh, salah satunya mengatur produksi keringat. Oleh karena itu, produksi keringat akan meningkat ketika kadar gula darah rendah. 

Selain itu, penderita diabetes dapat mengalami komplikasi kerusakan saraf. Jika saraf yang mengontrol kelenjar keringat rusak, dapat mengakibatkan gangguan produksi keringat. Gejala yang dapat timbul adalah keringat berlebih. 

Apakah Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Sering berkeringat pada penderita diabetes tidak selalu berbahaya jika hanya muncul sesekali, misalnya karena cuaca panas atau aktivitas fisik yang berat. 

Namun, keringat berlebih bisa menjadi tanda bahaya pada kondisi hipoglikemia. Pada kondisi ini, biasanya disertai gejala lain seperti lemas, pusing, badan gemetar, jantung berdebar, tampak bingung, dan penurunan kesadaran. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Sering Berkeringat pada Penderita Diabetes

Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba untuk mencegah dan mengatasi munculnya keringat berlebih:

  • Mengontrol kadar gula darah secara teratur dengan rutin periksa ke dokter, menjaga pola makan, serta mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter. 
  • Makan tepat waktu dan jangan telat makan karena bisa memicu hipoglikemia.
  • Pilih makanan sehat dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks, protein, sayur, dan buah agar kadar gula darah stabil.
  • Gunakan pakaian yang nyaman, pilih bahan yang menyerap keringat.
  • Mengelola stres dengan melakukan aktivitas yang menenangkan, seperti olahraga, relaksasi, dan meditasi. 

Kapan Harus ke Dokter? 

Jika kamu mengalami gejala sering berkeringat dan disertai beberapa kondisi di bawah, maka segera periksakan diri ke dokter:

  • Keringat muncul terus-menerus tanpa pemicu jelas.
  • Keringat disertai gejala hipoglikemia, yaitu gemetar, pusing, jantung berdebar, atau lemas.
  • Keringat berlebihan yang membuat sulit tidur atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Terdapat tanda komplikasi diabetes seperti kesemutan, mati rasa, atau luka sulit sembuh.

Dokter yang tepat untuk dikunjungi adalah dokter penyakit dalam, khususnya spesialis endokrin, karena ahli dalam menangani diabetes dan gangguan hormon. Jika dicurigai ada kerusakan saraf, maka bisa berkonsultasi dengan dokter saraf untuk penanganan lebih lanjut. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Jika kamu membutuhkan solusi untuk manajemen diabetes, program manajemen diabetes di Primecare Clinic bisa menjadi solusi yang tepat. Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu mengelola gula darah dan gejala diabetes, serta menurunkan kadar HbA1C. Terdapat juga CGM dalam programnya.  Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 


2149442353-_1_.webp

September 9, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Madu sering dianggap sebagai pemanis alami yang lebih sehat dibandingkan gula pasir. Rasanya manis, teksturnya kental, dan sudah sejak lama digunakan sebagai campuran makanan maupun minuman. Namun, bagi penderita diabetes, madu tetap bisa memengaruhi kadar gula darah. Oleh karena itu, konsumsi madu tetap perlu diperhatikan.

Apakah Penderita Diabetes Boleh Minum Madu?

Secara umum, penderita diabetes masih boleh mengonsumsi madu, tetapi jumlah dan frekuensinya harus sangat diperhatikan. Madu tetap mengandung gula sederhana, seperti fruktosa dan glukosa yang dapat memengaruhi kadar gula darah. Bedanya dengan gula pasir, madu juga memiliki sejumlah kecil vitamin, mineral, serta antioksidan. Jadi, madu bisa dipilih sebagai pemanis alternatif, bukan dikonsumsi tanpa batas.

Jenis Madu yang Aman Dikonsumsi oleh Penderita Diabetes

Madu murni tanpa tambahan pemanis buatan atau gula tambahan relatif lebih aman bagi penderita diabetes. 

Madu murni biasanya memiliki kandungan fruktosa yang lebih tinggi. Fruktosa bekerja lebih lambat dibanding glukosa dalam menaikkan gula darah, sehingga efeknya pada penderita diabetes cenderung lebih terkendali.

Jenis Madu yang Sebaiknya Dihindari oleh Penderita Diabetes

Madu olahan yang sudah dicampur dengan gula tambahan atau sirup glukosa sebaiknya dihindari. Produk seperti ini biasanya dijual dalam kemasan dengan harga lebih murah dan memiliki rasa manis yang terlalu kuat hingga menyerupai sirup. 

Jika dikonsumsi, madu campuran dapat memicu lonjakan gula darah dengan cepat, bahkan efeknya bisa sama dengan mengonsumsi gula pasir.

Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Madu

Dalam satu sendok makan madu (sekitar 21 gram), terkandung sekitar 64 kalori dan 17 gram karbohidrat. Indeks glikemik (IG) madu berada di angka 60, yang termasuk kategori moderat. Artinya, madu tetap bisa memengaruhi kadar gula darah, meski kenaikannya tidak secepat gula pasir. Meski begitu, jika dikonsumsi berlebihan, efeknya pada gula darah tetap terasa signifikan.

Cara Aman Mengonsumsi Madu untuk Penderita Diabetes

Penderita diabetes masih bisa mengonsumsi madu, tetapi porsinya perlu dibatasi dan cara penggunaannya harus tepat. Berikut beberapa panduan yang bisa diperhatikan:

1. Batasi Porsi

Cukup 1 sendok teh per hari. Takaran ini cukup memberi rasa manis tanpa meningkatkan risiko lonjakan gula darah berlebihan.

2. Gunakan sebagai Pengganti, Bukan Tambahan

Jika menambahkan madu ke dalam teh atau makanan lain, jangan lagi menambahkan gula pasir. Hal ini mencegah asupan gula harian menjadi berlebih.

3. Kombinasikan dengan Makanan Berserat

Konsumsi madu bersama makanan yang kaya serat, seperti roti gandum atau oatmeal dapat membantu memperlambat penyerapan gula dalam tubuh.

4. Pilih Madu Murni

Pastikan madu yang dipilih asli dan tidak dicampur dengan pemanis tambahan. Perhatikan label kemasan agar kualitasnya lebih terjamin.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera temui dokter spesialis penyakit dalam jika konsumsi madu membuat kadar gula darah sulit dikontrol, atau muncul gejala seperti cepat lelah, sering buang air kecil, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas

Kamu juga bisa berdiskusi dengan dokter gizi klinik atau ahli gizi untuk mendapatkan panduan konsumsi pemanis yang aman sesuai kebutuhan tubuh.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare clinic menyediakan layanan manajemen diabetes bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik serta terdapat CGM dalam programnya. Program ini bisa membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C dan mengelola gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut. 


2150288270-_1_-1200x800.webp

September 9, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Rasa lapar merupakan cara alami tubuh memberi sinyal bahwa energi perlu diisi kembali. Dalam kondisi normal, setelah seseorang makan, kebutuhan energi terpenuhi dan rasa lapar mereda. Namun, pada diabetes, mekanisme ini bisa terganggu. Rasa lapar bisa muncul lebih sering, lebih kuat, bahkan tidak hilang meskipun sudah makan cukup.  Kondisi ini dapat menjadi tanda bahwa tubuh sedang mengalami gangguan metabolik yang perlu diperhatikan lebih serius.

Apa Itu Gejala Sering Lapar pada Penderita Diabetes?

Sering lapar pada penderita diabetes dikenal dengan istilah polifagia. Kondisi ini bukan sekadar rasa lapar biasa, melainkan dorongan makan yang terus ada meski perut sudah terisi. 

Apakah Sering Lapar Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Jawabannya, tidak selalu. Rasa lapar berlebih bisa timbul karena banyak faktor lain, seperti kurang tidur, aktivitas fisik yang sangat intens, stres berkepanjangan, atau pola makan tinggi gula sederhana yang membuat gula darah cepat naik lalu turun kembali. 

Namun, ketika rasa lapar ini muncul terus-menerus dan disertai gejala khas diabetes lain, misalnya sering haus (polidipsia), sering buang air kecil (poliuria), serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, maka kondisi tersebut perlu diwaspadai sebagai tanda awal diabetes.

Penyebab Sering Lapar pada Penderita Diabetes

Pada penderita diabetes, polifagia muncul karena sel tubuh tidak dapat menyerap glukosa dengan optimal akibat resistensi insulin atau kekurangan insulin. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan tubuh tetap “terkunci” di dalam darah. Otak pun salah menangkap sinyal, mengira tubuh kekurangan energi, lalu memicu rasa lapar berulang. Jika tidak dikendalikan, penderita bisa terjebak dalam lingkaran makan berlebihan tetapi tetap merasa lemas.

Apakah Sering Lapar pada Penderita Diabetes Berbahaya?

Rasa lapar yang terus-menerus pada penderita diabetes sebaiknya tidak dianggap remeh. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat mendorong seseorang untuk makan berlebihan, sehingga kadar gula darah semakin sulit dikendalikan dan lebih mudah mengalami fluktuasi berbahaya.

Dalam jangka panjang, ketidakstabilan gula darah bisa menimbulkan kerusakan pada saraf, ginjal, hingga pembuluh darah. Pola makan berlebih juga berpotensi menyebabkan obesitas, yang akan memperburuk resistensi insulin dan memperbesar risiko komplikasi diabetes.

Cara Mencegah atau Mengatasi Sering Lapar pada Penderita Diabetes

Supaya rasa lapar berlebihan tidak mengganggu, berikut beberapa langkah yang dapat membantu menyeimbangkan energi dan mengontrol kadar gula darah:

1. Pilih Makanan dengan Indeks Glikemik Rendah

Makanan jenis ini dicerna lebih lambat, sehingga rasa kenyang bisa bertahan lebih lama dan kadar gula darah lebih stabil.

2. Perbanyak Asupan Serat

Sayuran, buah rendah gula, dan biji-bijian utuh membantu memperlambat penyerapan glukosa serta menjaga pencernaan tetap sehat.

3. Bagi Porsi Makan Jadi Lebih Kecil

Makan dengan porsi kecil namun lebih sering membuat tubuh tetap mendapat pasokan energi tanpa menyebabkan lonjakan gula darah besar.

4. Tidur Cukup dan Kelola Stres

Kualitas tidur dan kondisi emosional memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar, sehingga penting untuk dijaga.

5. Konsultasi dengan Ahli Gizi

Pendampingan dari tenaga profesional membantu menyesuaikan pola makan sesuai kebutuhan tubuh dan kondisi kesehatan masing-masing seperti ahli gizi dan dokter gizi.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam jika rasa lapar terus-menerus muncul tanpa penyebab yang jelas. Waspadai kondisi ini terutama bila disertai penurunan berat badan drastis, sering buang air kecil, rasa haus berlebihan, atau kadar gula darah yang sulit dikontrol. 

Jika masalah berkaitan dengan pola makan, temui dokter gizi klinik atau ahli gizi untuk mendapatkan dukungan yang tepat.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare clinic menyediakan layanan manajemen diabetes bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik serta terdapat CGM dalam programnya. Program ini bisa membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C dan mengelola gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut. 


CGM.webp

September 8, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Diabetes adalah penyakit yang disebabkan oleh kadar gula darah yang tinggi. Penderita diabetes harus memantau gula darahnya secara rutin.

Pemantauan ini dilakukan untuk mencegah komplikasi akibat gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang. Selain itu, memantau gula darah secara rutin juga penting mengetahui efek pola makan, aktivitas, dan efektivitas obat-obatan terhadap kadar gula darah.

Alat pemeriksaan kadar gula darah yang sering digunakan adalah cara konvensional dengan mengambil sampel darah lalu diperiksa di laboratorium atau menggunakan finger stick blood glucose.

Sekarang, sudah ada inovasi terbaru untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari, lho. Alat yang digunakan bernama Continuous Glucose Monitoring (CGM) atau pemantauan glukosa secara terus-menerus. Apakah kamu sudah mengenal alat ini? Yuk kita pahami bersama di artikel ini.

Apa itu Continuous Glucose Monitoring (CGM)?

Continuous Glucose Monitoring (CGM) adalah alat medis yang digunakan untuk memantau kadar gula darah secara terus-menerus selama 24 jam. Teknologi ini dinilai lebih praktis dan informatif dibandingkan metode cek gula darah manual menggunakan jarum dan strip.

Continuous Glucose Monitoring menggunakan sensor kecil yang dipasang di bawah kulit, biasanya di lengan atau perut. Sensor ini dapat dihubungkan ke perangkat gadget atau aplikasi smartphone. Dengan begitu kamu bisa mendapat informasi tentang kadar gula darah sepanjang hari tanpa ditusuk berkali-kali. 

Continuous Glucose Monitoring bekerja dengan mengukur kadar glukosa di cairan interstisial, yaitu cairan antar sel. CGM tidak mengukur langsung dari darah, tetapi hasilnya tetap akurat untuk memantau gula darah.

Fungsi Continuous Glucose Monitoring (CGM)

Continuous glucose monitoring berfungsi sebagai alat untuk memantau kadar gula darah. Tak hanya itu, CGM juga memiliki beberapa fungsi lain, yaitu:

1. Memantau Kadar Gula Darah Secara Real-time

Sensor CGM yang dipasang di bawah kulit dapat mengukur kadar gula darah secara real-time. CGM memberikan data kadar glukosa setiap beberapa menit, sehingga penderita diabetes dapat mengetahui perubahan kadar gula darah tanpa harus melakukan tes tusuk jari berkali-kali.

2. Mendeteksi Fluktuasi Gula Darah

Kadar gula darah bisa berubah-ubah sepanjang waktu tergantung pada pola makan, aktivitas, serta konsumsi obat-obatan. CGM dapat mendeteksi fluktuasi kadar gula darah melalui sensornya. 

Kamu akan mendapat data berupa grafik yang menampilkan naik-turunnya kadar gula darah sepanjang hari. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui kapan saja gula darah naik atau turun serta faktor apa yang memengaruhinya. 

3. Memberikan Peringatan Dini

Continuous glucose monitoring dilengkapi dengan alarm yang akan berbunyi ketika gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia) atau terlalu rendah (hipoglikemia). Dengan begitu risiko komplikasi bisa dicegah lebih dini. 

4. Membantu Evaluasi Pengobatan Diabetes

Data kadar gula darah dari CGM bisa digunakan dokter untuk menyesuaikan dosis obat diabetes, pola makan, serta gaya hidup yang lebih sesuai dengan kondisi pasien.

Prosedur Pemakaian Continuous Glucose Monitoring (CGM)

Pemakaian CGM cukup sederhana. Kamu bisa memasang sendiri atau dengan bantuan tenaga kesehatan. Berikut prosedur pemakaian CGM:

1. Pemasangan Sensor

Sensor CGM dipasang di bawah kulit, biasanya di area perut atau lengan. Sensor dipasang menggunakan alat khusus yang minim rasa sakit. Sebelum memasang sensor, bersihkan area kulit tempat sensor akan dipasang menggunakan kapas alkohol. 

Sensor tersebut tersambung pada patch yang direkatkan ke kulit agar sensor tidak bergeser. Sensor ini berfungsi untuk mendeteksi kadar glukosa dalam cairan sel tubuh secara terus-menerus.

2. Sinkronisasi dengan Aplikasi atau Perangkat

CGM biasanya terhubung dengan aplikasi di perangkat, misalnya smartphone. Kamu perlu melakukan sinkronisasi agar data kadar glukosa bisa dipantau secara real-time dan tersimpan di aplikasi untuk analisis lebih lanjut.

Baca petunjuk yang tertera di kemasan CGM untuk mengetahui petunjuk pemasangan dan sinkronisasi ke aplikasi. Beberapa CGM memerlukan pemanasan selama beberapa menit sebelum mengukur gula darah. 

3. Kalibrasi

Beberapa jenis CGM membutuhkan kalibrasi dengan memeriksa gula darah secara manual menggunakan glukometer, terutama pada awal pemakaian.

4.Penggantian Sensor

Sensor CGM harus diganti dalam beberapa hari, biasanya setiap 7–14 hari tergantung jenis CGM yang dipakai. Proses penggantian dilakukan dengan cara yang sama seperti pemasangan awal.

Manfaat/Kelebihan Continuous Glucose Monitoring

CGM mempunyai banyak manfaat dibandingkan cek gula darah manual, berikut beberapa di antaranya:

  • Memberikan informasi kadar gula secara real-time sepanjang hari tanpa harus sering menusuk jari.
  • Memantau tren gula darah, yaitu fluktuasi kadar gula darah sepanjang hari, bahkan saat tidur dan beraktivitas.
  • Membantu memantau efek makanan, olahraga, dan obat-obatan terhadap kadar gula darah.
  • Memberikan data kadar gula darah yang bisa digunakan oleh dokter untuk menganalisis dan menentukan strategi pengobatan yang lebih tepat.
  • Mencegah kejadian emergensi yang diakibatkan kadar gula darah melonjak tinggi atau justru turun drastis dengan alarm yang terdapat pada CGM. 
  • Tidak perlu tusuk berulang kali seperti cek kadar gula darah konvensional

Kapan Harus Pakai CGM?

Continuous Glucose Monitoring sebaiknya digunakan oleh penderita diabetes. Beberapa kondisi di bawah juga perlu dipertimbangkan untuk memakai CGM:

  • Memiliki kondisi prediabetes, yaitu ketika kadar gula darah sudah mulai melebihi normal tapi belum setinggi pada diabetes. Kondisi ini bisa berlanjut menjadi diabetes jika tidak segera ditangani. 
  • Mempunyai berat badan berlebih atau obesitas sehingga berisiko lebih tinggi mengalami diabetes.
  • Penderita diabetes yang sedang pengobatan dan membutuhkan pemantauan secara intensif.

Siapa yang Cocok Memakai CGM?

Berikut beberapa kriteria yang cocok untuk  memakai CGM:

1. Penderita Diabetes Tipe 1

Penderita diabetes tipe 1 disebabkan oleh kelainan pada pankreas sehingga menghasilkan insulin dalam jumlah sedikit atau tidak sama sekali. Oleh karena itu, penderita diabetes memerlukan pemantauan kadar gula darah yang lebih ketat. CGM membantu mendeteksi fluktuasi gula darah sehingga risiko hipoglikemia atau hiperglikemia bisa lebih cepat dicegah.

2. Penderita Diabetes Tipe 2

Penderita diabetes tipe 2, terutama yang kadar gula darahnya belum terkontrol harus rutin memeriksakan kadar gula darahnya. Hal ini diperlukan untuk mengetahui efektivitas terapi dan menyesuaikan pengobatan. CGM dapat membantu mempermudah pemantauan kadar gula darah. 

3. Ibu Hamil dengan Diabetes Gestasional

Ibu hamil dengan diabetes memerlukan kontrol gula darah yang sangat ketat untuk mencegah komplikasi pada ibu dan janin. CGM membantu memantau kadar gula darah selama kehamilan. 

Continuous Glucose Monitoring (CGM) adalah teknologi yang sangat membantu penderita diabetes dalam memantau kadar gula darah selama 24 jam penuh. Dengan begitu CGM dapat mengurangi risiko komplikasi akibat gula darah yang tinggi atau rendah, serta mempermudah pengelolaan terapi.

Opini Dokter tentang CGM

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Primecare Clinic Memiliki Program Manajemen Diabetes yang Memakai CGM dalam Programnya

Sebagai informasi, Primecare Clinic memiliki program manajemen diabetes di mana terdapat CGM dalam programnya. Program ini dapat membantumu untuk mengelola gejala diabetes dan menurunkan kadar HbA1C-mu.

Kalau kamu ingin informasi selengkapnya terkait program ini atau CGM, ayo klik tautan ini!


1019-_1_-1200x800.webp

September 8, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Mudah lelah adalah kondisi dimana terjadi kelelahan fisik dan/atau mental yang dapat terjadi karena berbagai sebab, di antaranya aktivitas fisik yg berlebihan, sakit fisik atau mental, atau ketika dalam kondisi stres. 

Kondisi mudah lelah ini tidak selalu dapat diatasi dengan istirahat atau tidur, terlebih jika gejala ini menjadi gejala penyakit fisik, salah satunya diabetes. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui darimana munculnya gejala mudah lelah ini.

Apa Itu Gejala Mudah Lelah Penderita Diabetes?

Gejala mudah lelah pada diabetes diistilahkan sebagai Sindrom Kelelahan Diabetes. Keluhan mudah lelah adalah keluhan yang sering dirasakan oleh penderita diabetes. 

Mudah lelah pada diabetes dihubungkan dengan beberapa faktor, yaitu faktor fisiologi dimana terjadinya hiperglikemia dan/atau hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula darah menurun dari normal yang biasanya disebabkan oleh insulin atau obat antidiabetes lainnya yang memiliki efek samping hipoglikemia. 

Perubahan metabolisme gula darah pada kedua kondisi tersebut berpengaruh terhadap terjadinya gejala mudah lelah.

Faktor lainnya, yaitu fenomena psikologis, seperti distres diabetes dan depresi. Hal ini berkaitan dengan bagaimana pasien mengatur dirinya dalam kondisi sakit. Kurangnya energi dan motivasi dapat menyebabkan distres diabetes. Selain itu, dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa penderita diabetes memiliki kemungkinan dua kali lipat lebih besar mengalami depresi dibanding populasi umum dan hal ini berkaitan dengan gejala mudah lelah.

Selain dua faktor di atas, faktor gaya hidup juga sangat berkaitan dengan gejala mudah lelah. Peningkatan indeks massa tubuh (IMT) dan aktivitas fisik yang kurang dapat memiliki hubungan yang kuat dengan gejala mudah lelah pada penderita diabetes.

Apakah Mudah Lelah Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Tidak. Mudah lelah tidak selalu menjadi gejala pada diabetes. Mudah lelah merupakan gejala yang umum dan nonspesifik dari berbagai penyakit, termasuk pada penderita diabetes. 

Pada sebuah penelitian epidemiologi, angka kejadian mudah lelah pada penderita diabetes tipe 2 sebesar 61%. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak semua pasien mengalami gejala mudah lelah. 

Penyebab Mudah Lelah pada Penderita Diabetes

Mudah lelah pada diabetes dapat disebabkan oleh dua penyebab utama, yakni: 

1. Penyebab non-endokrin 

  1. Gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik atau olahraga, kurangnya tidur yang berkualitas, konsumsi alkohol, atau kelebihan kafein. 
  2. Pola makan yang tidak tepat, seperti kelebihan asupan kalori, pembatasan kalori yang berlebihan, atau kekurangan protein.
  3. Kondisi medis tertentu, seperti anemia, distres diabetes, dan defisiensi vitamin.

2. Penyebab endokrin 

  1. Kondisi yang berkaitan dengan glikemik, seperti hiperglikemia kronis, tingginya HbA1c dengan kadar gula normal, atau hipoglikemia berulang, serta variabilitas glikemik (fluktuasi kadar gula darah yg terjadi secara cepat dalam hitungan menit atau jam). 
  2. Komplikasi diabetes, seperti nefropati (gangguan ginjal), gagal jantung, neuropati (gangguan saraf), atau miopati (gangguan/penyakit pada otot).

Apakah Gejala Mudah Lelah pada Penderita Diabetes itu Berbahaya?

Mudah lelah dapat menjadi hal yang lazim terjadi pada penderita diabetes, tetapi perlu juga menjadi tanda waspada. Perlu menjadi perhatian khusus jika pasien mengalami mudah lelah terus-menerus, atau gejala mudah lelah yang disertai dengan gejala yang mengkhawatirkan seperti sesak napas atau nyeri dada, dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Pencegahan dan Terapi untuk Gejala Mudah Lelah pada Penderita Diabetes

Karena mudah lelah dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup, maka perlu dilakukan pencegahan dan terapi agar pasien dapat memperbaiki kualitas hidupnya. Pencegahan dan terapi ini, di antaranya:

1. Perubahan Gaya Hidup

Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan rasa “kelelahan” meskipun, tidur malamnya normal. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi pasien diabetes untuk melakukan aktivitas fisik. Rutin melakukan aktivitas fisik menunjukkan adanya peningkatan kapasitas aerobik dan massa otot, meningkatkan penggunaan substrat metabolik untuk energi, dan meningkatkan mood atau suasana hati.

2. Pengaturan Pola Makan

Pengaturan pola makan pada pasien diabetes memiliki banyak manfaat, di antaranya untuk program penurunan berat badan jika pasien mengalami overweight atau obesitas, mengurangi asupan kalori yang berlebihan, juga berguna untuk mengontrol gula darah agar selalu dalam kadar normal. 

3. Manajemen Stres

Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah psikologis dalam sindrom kelelahan diabetes, yaitu: 

  1. meningkatkan persepsi diri, 
  2. meningkatkan kemampuan dalam coping mechanism (cara mengatasi masalah/stres dan mengatur emosi yang tidak nyaman/stabil), misal dengan cara melakukan hobi, mencari aktivitas yang menyenangkan, 
  3. meminimalkan ketidaknyamanan akibat perubahan, 
  4. memanfaatkan dukungan eksternal, misal dengan bergabung dalam komunitas. 

4. Skrining Komplikasi Diabetes

Beberapa penyebab mudah lelah pada diabetes adalah komplikasi penyakit sehingga perlu dilakukan skrining untuk mengetahui salah satu penyebab gejala mudah lelah.

Kapan Penderita Diabetes yang Mengalami Mudah Lelah Harus ke Dokter?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa kondisi mudah lelah pada penderita diabetes harus diwaspadai. Ketika pasien atau keluarga pasien menemukan salah satu tanda bahaya, maka pasien diharuskan berkonsultasi ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat. Di bawah ini, beberapa kondisi dimana pasien perlu melakukan konsultasi dengan dokter, yaitu: 

  1. Jika gejala dirasakan terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, pasien dapat bertemu dengan dokter penanggung jawab pelayanan yang menangani pasien selama pengobatan, baik oleh dokter umum ataupun dokter spesialis penyakit dalam. 

Jika ditemukan pasien mengalami gejala yang menunjukkan ke arah komplikasi, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis sesuai kecurigaan komplikasinya, seperti gejala neuropati akan dirujuk ke dokter spesialis saraf, gejala gagal jantung berat akan dirujuk ke dokter spesialis jantung, gejala gagal ginjal yang sudah perlu penanganan lebih lanjut dapat dirujuk ke dokter penyakit dalam subspesialis ginjal hipertensi.

  1. Kesulitan dalam mengatur gaya hidup sehat, baik itu berkaitan dengan pola makan maupun aktivitas fisik. Jika terjadi hal ini, penderita diabetes dapat berkonsultasi dengan dokter gizi klinik.
  2. Jika pasien atau keluarga pasien merasakan gejala psikologis, seperti depresi, kurang berminat terhadap hal yang biasanya menyenangkan untuk dirinya, sedih terus-menerus, pasien dapat berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater (dokter spesialis kedokteran jiwa). 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Primecare Clinic Memiliki Program Manajemen Diabetes

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes (terdapat CGM) yang dapat membantumu mengelola gula darah dan gejala diabetes, serta menurunkan kadar HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 


22-_1_-1200x800.webp

September 8, 2025 Primecare ClinicDiabetes

Rasa haus terjadi ketika tubuh kehilangan cairan. Rasa haus biasanya muncul setelah berolahraga, beraktivitas, puasa, atau saat cuaca panas. Normalnya, rasa haus akan menghilang setelah kita minum air putih dengan cukup.

Jika rasa haus muncul terus-menerus meski sudah banyak minum, hal ini bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan, salah satunya diabetes. Artikel ini akan membahas mengenai gejala sering haus pada diabetes, penyebabnya, serta kapan harus segera periksa ke dokter.

Apa Itu Gejala Sering Haus pada Penderita Diabetes?

Dalam dunia medis, gejala sering haus disebut polidipsia. Penderita diabetes dapat mengalami gejala sering haus walaupun sudah banyak minum air putih. 

Kondisi ini terjadi karena kadar gula darah yang tinggi. Ginjal akan bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan gula darah melalui air kencing atau urin. 

Akibatnya, tubuh kehilangan banyak cairan dan menimbulkan rasa haus yang berlebihan. Karena itu, penderita diabetes masih merasa sering haus meskipun sudah minum cukup air. 

Apakah Sering Haus Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Rasa sering haus adalah salah satu gejala yang bisa dirasakan oleh penderita diabetes. Namun, sering haus tidak selalu menjadi gejala diabetes. Rasa haus berlebihan juga bisa disebabkan oleh berbagai faktor selain diabetes, seperti:

1. Dehidrasi

Dehidrasi adalah kondisi saat tubuh kekurangan cairan, sehingga menyebabkan rasa haus. Dehidrasi bisa terjadi karena kurang minum, banyak berkeringat, diare, muntah-muntah, serta aktivitas fisik yang berat.

2. Konsumsi Makanan Asin

Makanan asin mengandung garam atau natrium. Sering mengonsumsi makanan asin dapat membuat kadar natrium dalam darah meningkat. Hal itu menyebabkan tubuh membutuhkan lebih banyak air untuk menyeimbangkannya.

3. Olahraga atau Aktivitas Fisik Berat

Saat berolahraga atau melakukan aktivitas fisik yang berat, tubuh mengeluarkan cairan melalui keringat. Akibatnya, cairan tubuh akan berkurang dan menimbulkan rasa haus.

4. Kondisi Medis Tertentu

Ada berbagai kondisi medis yang menyebabkan gejala sering haus. Beberapa penyakit yang menyebabkan sering haus antara lain diabetes insipidus, anemia, dan ketoasidosis diabetik. 

Rasa haus yang normal akan hilang setelah cukup minum air. Karena itu, jika seseorang tetap merasa sering haus walaupun sudah banyak minum, maka sebaiknya segera konsultasi dengan dokter agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Penyebab sering Haus pada Penderita Diabetes

Pada penderita diabetes, penyebab rasa sering haus adalah karena kadar gula darah yang tinggi atau hiperglikemia. Saat kadar gula darah tinggi, tubuh berusaha membuang kelebihan glukosa melalui urine. Cairan tubuh pun ikut terbuang dan menyebabkan rasa haus.

Penderita diabetes biasanya juga mengalami gejala sering buang air kecil atau disebut poliuria. Hal ini terjadi karena ginjal berusaha mengeluarkan gula berlebih bersama urin sehingga sering merasakan ingin buang air kecil. Hal ini dapat membuat tubuh kekurangan cairan.

Apakah sering Haus pada Penderita Diabetes Berbahaya?

Sering haus pada penderita diabetes bisa menjadi tanda bahwa gula darah tidak terkontrol. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berbahaya karena bisa menyebabkan komplikasi serius seperti kerusakan ginjal, dehidrasi berat, dan kerusakan saraf.

Cara Mencegah dan Mengatasi sering Haus pada Penderita Diabetes

Untuk mengurangi rasa haus berlebihan, penderita diabetes dapat melakukan beberapa langkah berikut:

1. Mengontrol Kadar Gula Darah

Penderita diabetes harus mengontrol kadar gula darahnya dengan pola makan sehat, olahraga teratur, dan obat-obatan sesuai anjuran dokter.

2. Memperbanyak Konsumsi Air Putih

Penderita diabetes bisa mengalami gejala sering kencing yang menyebabkan cairan tubuh banyak keluar. Agar tidak dehidrasi, maka cukupi kebutuhan cairan sesuai kebutuhan.

3. Menghindari Makanan Terlalu Asin atau Pedas

Makanan asin atau pedas dapat menyebabkan rasa haus. Jadi hindari makanan tersebut dan gantilah dengan makanan sehat.

Kapan Harus ke Dokter?

Penderita diabetes atau orang yang mengalami rasa haus berlebihan sebaiknya segera ke dokter jika mengalami kondisi berikut:

  • Rasa haus tidak berkurang meski sudah minum cukup air.
  • Disertai gejala lain seperti sering buang air kecil, lemas, kelelahan berlebih, diare, muntah terus menerus, atau penurunan berat badan yang drastis.
  • Timbul tanda dehidrasi berat, seperti mulut kering, pusing, dan lemas. 

Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk mengatasi masalah gula darah. Namun, jika terdapat kondisi darurat seperti dehidrasi berat, sangat lemas, atau penurunan kesadaran segera ke IGD terdekat untuk mendapatkan pertolongan. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes (terdapat CGM) yang dapat membantumu mengelola gula darah dan gejala diabetes, serta menurunkan kadar HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 


44266-_1_-1200x800.webp

Menurunnya selera makan kerap menjadi gejala yang luput diperhatikan oleh penderita diabetes. Sebagian mengira kondisi ini hanya efek samping obat atau sekadar masalah pencernaan biasa. Padahal, turunnya selera makan bisa jadi petunjuk bahwa tubuh sedang mengalami ketidakseimbangan metabolik yang lebih serius.

Apa itu Gejala Nafsu Makan Menurun pada Penderita Diabetes?

Pada dasarnya, penurunan nafsu makan adalah salah satu keluhan yang bisa muncul akibat gangguan metabolisme pada diabetes. Gejala nafsu makan menurun biasanya ditandai dengan rasa cepat kenyang meskipun hanya makan dalam porsi kecil. Sebagian orang juga merasakan berkurangnya minat terhadap makanan, bahkan makanan yang biasanya disukai. 

Kondisi ini sering membuat penderita melewatkan jam makan karena tidak muncul rasa lapar. Akibatnya, tubuh bisa terasa lemas karena kekurangan energi, dan dalam jangka panjang berat badan dapat turun tanpa sebab yang jelas. Tingkat keparahannya berbeda pada tiap orang, ada yang hanya mengalami sedikit penurunan selera makan, namun ada juga yang sampai kesulitan menjaga asupan nutrisi harian.

Apakah Nafsu Makan Menurun Selalu Menjadi Gejala Diabetes?

Tidak selalu. Nafsu makan menurun bisa disebabkan oleh berbagai faktor umum, misalnya stres berkepanjangan, infeksi yang sedang dialami tubuh, gangguan pencernaan, hingga efek samping obat-obatan tertentu. Pada kondisi ini, penurunan selera makan biasanya hanya bersifat sementara dan akan membaik setelah penyebab utamanya teratasi.

Namun, ketika hal ini terjadi pada penderita diabetes, situasinya bisa lebih kompleks. Nafsu makan yang berkurang sering berkaitan dengan kadar gula darah yang tidak stabil. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menjadi sinyal adanya masalah dalam pengendalian penyakit atau bahkan tanda awal komplikasi. 

Penyebab Nafsu Makan Menurun pada Penderita Diabetes

Normalnya, tubuh memiliki sistem yang rapi untuk mengatur rasa lapar. Ketika cadangan energi mulai menipis, otak akan menerima sinyal dari hormon dan kadar gula darah untuk memicu rasa lapar. Setelah makan, sinyal tersebut mereda, digantikan rasa kenyang. 

Pada penderita diabetes, mekanisme ini bisa terganggu. Kadar gula darah yang tinggi atau tidak stabil dapat menyebabkan otak salah membaca sinyal tubuh. Akibatnya, seseorang bisa merasa cepat kenyang, kehilangan selera makan, atau bahkan tidak merasa lapar sama sekali meski tubuh sebenarnya masih kekurangan energi. Kondisi ini membingungkan, karena di satu sisi kebutuhan energi tetap ada, tetapi alarm alami tubuh untuk makan tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Apakah Nafsu Makan Menurun pada Penderita Diabetes Berbahaya?

Penurunan nafsu makan pada penderita diabetes bukan hal yang bisa disepelekan. Ketika asupan makanan berkurang, tubuh otomatis kehilangan sumber energi dan nutrisi penting. Kondisi ini bisa membuat kadar gula darah semakin sulit dikendalikan, memicu hipoglikemia, hingga dalam kasus yang lebih berat menimbulkan komplikasi berbahaya seperti ketoasidosis diabetik (KAD). 

Jika berlangsung dalam jangka panjang, malnutrisi juga bisa terjadi dan membuat tubuh semakin rentan sakit serta menurunkan kualitas hidup sehari-hari.

Cara Mencegah atau Mengatasi Nafsu Makan Menurun pada Penderita Diabetes

Menurunnya nafsu makan bisa membuat penderita diabetes kesulitan menjaga asupan gizi. Berikut beberapa langkah yang bisa membantu tubuh tetap mendapat energi dan nutrisi yang dibutuhkan:

1. Makan Teratur Meski Porsi Kecil

Menjaga jam makan tetap konsisten membantu tubuh terbiasa menerima asupan energi. Porsi yang tidak terlalu besar juga lebih mudah ditoleransi ketika selera makan sedang menurun.

2. Pilih Makanan Bergizi dan Mudah Dicerna

Utamakan sumber protein, serat, serta vitamin dan mineral dari makanan yang tidak terlalu berat di perut, sehingga tubuh tetap mendapat nutrisi lengkap tanpa merasa cepat mual.

3. Tambahkan Camilan Sehat di Antara Waktu Makan

Saat sulit mengonsumsi makanan utama dalam jumlah banyak, camilan seperti buah, yogurt tanpa gula, atau kacang-kacangan bisa menjadi solusi untuk menjaga energi tetap stabil.

4. Kelola Stres dengan Baik

Stres seringkali dapat memperburuk selera makan. Melakukan aktivitas yang menenangkan seperti jalan santai, meditasi, atau hobi menyenangkan dapat membantu memperbaiki nafsu makan.

5. Konsultasi dengan Ahli Gizi atau Dokter Gizi

Jika kesulitan mengatur pola makan sendiri, ahli gizi dapat membantu merancang menu harian yang sesuai dengan kondisi tubuh dan kebutuhan energi penderita diabetes. 

Dokter gizi juga bisa membantu dalam hal ini.

Kapan harus ke Dokter?

Penurunan nafsu makan perlu segera ditangani jika disertai gejala lain seperti mual, muntah, penurunan berat badan drastis, atau gula darah yang tidak stabil. 

Pada kondisi ini, penderita diabetes sebaiknya memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam. Dokter akan membantu mencari tahu penyebabnya sekaligus memberi penanganan yang tepat. 

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Manajemen Diabetes di Primecare Clinic

Primecare clinic menyediakan layanan manajemen diabetes bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik serta terdapat CGM dalam programnya. Program ini bisa membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C dan mengelola gejala diabetes. Klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut. 


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.