3400-_1_-1200x800.webp

Tantrum pada anak adalah hal yang umum terjadi, terutama pada usia balita. Namun, ketika anak sering tantrum dengan intensitas berlebihan, durasi lama, atau sampai membahayakan diri sendiri dan orang lain, orang tua tentu akan khawatir dan mencari solusi. Pertanyaannya kapan anak yang sering tantrum, terutama sudah “berlebihan” harus dibawa ke psikolog anak?

Kapan Harus ke Psikolog Anak terkait Anak sering Tantrum?

Berikut beberapa kondisi yang menjadi sinyal kuat bahwa Anda harus membawa anak Anda ke psikolog anak terkait tantrum.

1. Tantrum Sangat Sering dan Intens

Jika dalam seminggu anak mengalami tantrum berat seperti melempar barang, menyakiti orang lain dengan frekuensi lebih dari 3-4 kali, ini bisa menjadi tanda masalah regulasi emosi.

2. Anak Sulit Tenang meski Sudah Dicoba untuk Ditenangkan dengan Berbagai Cara

Anak tidak bisa ditenangkan meski sudah dipeluk, diajak bicara, atau dialihkan perhatiannya.

3. Ada Keterlambatan Perkembangan

Keterlambatan pada tumbuh kembang seperti keterlambatan bicara, kesulitan interaksi sosial, atau tidak merespons saat dipanggil.

4. Mengganggu Aktivitas Sekolah atau Sosial

Guru, teman sekolah, atau orang di lingkungan sekitar mengeluhkan perilaku anak yang sulit dikontrol di sekolah, tempat bermain, hingga lingkungan tetangga/komplek/pemukiman.

5. Orang Tua Merasa Kewalahan, bahkan Menyerah

Jika orang tua merasa stres berat, marah berlebihan, atau kehilangan cara menghadapi anak,  bahkan sudah merasa menyerah untuk menghadapi masalah tantrum pada anak, maka anak sebaiknya dibawa ke psikolog anak.

Bagaimana Kondisi Tantrum Di mana Anak perlu Dibawa ke Psikolog Anak?

Ciri-ciri tantrum di mana anak sebaiknya perlu dibawa ke psikolog adalah sebagai berikut:

  • Terjadi hampir setiap hari
  • Durasi lebih dari 20-30 menit (durasinya panjang)
  • Anak melukai diri sendiri seperti membenturkan kepala ke dinding dan menggigit tangan sendiri
  • Bersikap sangat agresif terhadap orang lain, seperti memukul, menendang, atau meludah
  • Terjadi pada anak usia di atas 5 tahun secara intens

Jika tantrum dengan ciri-ciri yang disebutkan di atas ini muncul, sebaiknya orang tua mulai mempertimbangkan konsultasi dengan psikolog anak.

Apa yang Akan Dilakukan Psikolog Anak terkait Masalah Anak yang Tantrum?

Saat berkonsultasi, psikolog anak biasanya akan:

1. Melakukan Wawancara dengan Orang Tua

Membahas pola asuh, rutinitas anak, riwayat perkembangan, dan situasi keluarga.

2. Observasi Perilaku Anak

Melihat bagaimana anak bermain, berinteraksi, dan merespons instruksi.

3. Tes Psikologis Jika Diperlukan

Untuk menilai aspek kognitif, emosional, dan sosial anak. Psikolog anak mungkin akan memberikan tes psikologis/asesmen.

Hasil tes/asesmen akan membantu dalam menentukan apakah tantrum masih dalam batas normal atau memerlukan intervensi khusus.

Jangan Ragu Membawa Anak yang Tantrum ke Psikolog Anak

Tantrum itu manusiawi pada anak karena belum mengerti bagaimana cara meregulasi emosi. Namun, jika tantrumnya berdurasi panjang, sampai menyakiti diri sendiri dan orang lain, bahkan membuat orang tua turut stres dan menyerah untuk menghadapi tantrumnya. Sebaiknya jangan ragu membawa anak Anda ke psikolog anak. Hal ini demi kebaikan anak Anda serta Anda sendiri.

Tersedia psikolog anak di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


645-1-1200x800.webp

Banyak orang merasa tidak perlu melakukan Medical Check Up (MCU) karena merasa tubuhnya sehat dan tidak memiliki keluhan apa pun atau memang takut menghadapi kenyataan kalau ada penyakit di dalam tubuhnya. Pertanyaannya, apakah orang sehat tetap perlu MCU? Seberapa penting?

Apakah Orang Sehat Perlu MCU?

Jawabannya perlu, bahkan waktu terbaik untuk MCU adalah saat badan masih sehat atau sedang merasa sehat. Tujuan MCU adalah deteksi dini dan pencegahan penyakit, jadi justru sebaiknya dilakukan saat sehat secara rutin. Tidak harus tunggu ada diagnosa penyakit dulu dari dokter.

Mengapa Orang Sehat Tetap Perlu MCU?

1. Banyak Penyakit Tidak Bergejala di Awal

Beberapa penyakit kronis sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal atau dijuluki silent killer, seperti:

  • Diabetes melitus
  • Hipertensi
  • Dislipidemia
  • Penyakit ginjal kronis

Seseorang bisa merasa sehat, tetapi hasil pemeriksaan menunjukkan adanya gangguan metabolik atau organ tertentu. Misal, tubuh terasa fit, padahal gula darah lebih dari 200 mg/dL.

2. Deteksi Dini = Pengobatan Lebih Mudah

Semakin cepat suatu penyakit terdeteksi, semakin besar peluang untuk:

  • Mengontrol penyakitnya tanpa pengobatan dengan metode yang mahal
  • Mencegah komplikasi
  • Mengurangi biaya pengobatan secara jangka panjang

Misalnya, gula darah yang mulai meningkat masih bisa dikontrol dengan perubahan gaya hidup (misal pola makan piring T atau prinsip 3J) tanpa harus langsung minum obat penurun gula darah, bahkan pemakaian insulin.

3. Mengetahui Faktor Risiko Pribadi

MCU membantu Anda dalam mengetahui risiko terhadap:

  • Penyakit jantung
  • Stroke
  • Gangguan metabolik
  • Gangguan fungsi organ

Data ini penting untuk menentukan pola makan, olahraga, dan gaya hidup yang tepat untuk Anda.

4. Membentuk Kebiasaan Preventif yang Sehat

Melakukan MCU rutin membantu membangun pola pikir preventif (pencegahan), bukan reaktif (mengobati setelah sakit).

Jadi, setelah MCU, Anda akan membentuk kebiasaan preventif seperti:

  1. Berjemur setiap pagi
  2. Rutin beraktivitas fisik minimal 150 menit dalam seminggu atau 30 menit per hari
  3. Menerapkan mindful eating
  4. Tidur yang cukup dan berkualitas

Siapa yang Wajib MCU Rutin?

Walaupun semua orang sehat dianjurkan untuk MCU, beberapa kelompok lebih dianjurkan, yaitu:

1. Berusia di Atas 30 Tahun

Risiko penyakit metabolik mulai meningkat seiring menuanya tubuh. Ketika berusia 30 tahun atau lebih, MCU rutin sebaiknya dilakukan.

2. Memiliki Riwayat Penyakit dalam Keluarga

Jika orang tua atau saudara kandung memiliki:

  • Diabetes
  • Hipertensi
  • Penyakit jantung
  • Stroke

Maka risiko Anda juga lebih tinggi untuk mengidap penyakit yang sama, sehingga MCU rutin sebaiknya dilakukan.

3. Menerapkan Gaya Hidup Kurang Sehat

Orang sehat/merasa sehat, tetapi memiliki kebiasaan atau gaya hidup seperti:

  • Jarang olahraga
  • Merokok
  • Sering atau rutin konsumsi makanan tinggi lemak/minuman tinggi gula
  • Stres kronis dan tidak dikelola dengan baik
  • Kurang tidur

Sebaiknya MCU rutin untuk monitoring kesehatan tubuh.

Seberapa Sering Orang Sehat Perlu MCU?

Berikut rekomendasi frekuensi MCU

  • Usia 20-30 tahun: setiap 1-2 tahun
  • Usia 30-40 tahun: setahun sekali
  • Di atas 40 tahun: minimal setahun sekali (atau sesuai saran dokter)

Namun, frekuensi bisa berbeda tergantung kondisi individu. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan informasi tentang kapan harus MCU yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.

Apakah MCU Bisa Mencegah Penyakit pada Orang yang Sehat?

MCU tidak secara langsung mencegah penyakit pada orang yang sehat, tetapi membantu dalam:

  • Mengidentifikasi faktor risiko penyakit
  • Memberi kesempatan untuk intervensi dini, sehingga penyakit bisa dicegah
  • Menghindari komplikasi berat

MCU adalah bagian dari strategi pencegahan jangka panjang atau dengan kata lain investasi kesehatan untuk masa tua.

Orang Sehat tetap Perlu MCU!

Orang sehat tetap perlu MCU. Justru saat merasa sehat adalah waktu terbaik untuk memeriksa kondisi tubuh agar penyakit bisa dicegah lebih awal (usaha preventif).

Banyak penyakit kronis tidak menunjukkan gejala di tahap awal. Dengan MCU rutin, Anda bisa:

  • Mendeteksi penyakit lebih dini
  • Mencegah komplikasi
  • Menjaga kualitas hidup jangka panjang

Ingat bahwa merasa sehat belum tentu benar-benar sehat secara medis. Bisa jadi badan terasa sehat, padahal gula darah tinggi atau ada masalah pada organ dalam tubuh.

Di Primecare Clinic tersedia berbagai paket MCU. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


4130-_1_-1200x800.webp

Menjelang hari pernikahan, banyak calon pengantin melakukan berbagai perawatan untuk tampil maksimal dan agar tidak mudah lelah karena acara pernikahan berlangsung seharian.

Artikel ini akan membahas secara lengkap manfaat, jenis, hingga tips aman melakukan suntik vitamin sebelum hari bahagia Anda. Berikut penjelasannya!

Apa Itu Suntik Vitamin?

Suntik vitamin adalah metode pemberian suplementasi vitamin secara langsung ke dalam tubuh melalui injeksi atau infus. Berbeda dengan suplemen yang dikonsumsi lewat mulut (oral), metode ini memungkinkan vitamin dan mineral diserap lebih cepat dan efektif oleh tubuh.

Biasanya, suntik vitamin mengandung kombinasi seperti:

  • Vitamin C
  • Vitamin B kompleks
  • Glutathione
  • Kolagen
  • Multivitamin

Manfaat Suntik Vitamin Sebelum Menikah

1. Mencerahkan Kulit Secara Cepat

Suntik vitamin, terutama yang mengandung vitamin C dan glutathione akan membantu dalam mencerahkan kulit. Bagi pengantin, efeknya adalah kulit mereka bisa lebih glowing.

2. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Persiapan pernikahan bisa sangat melelahkan, belum lagi acara di hari h nanti. Suntik vitamin membantu menjaga imun tubuh agar tetap fit dan tidak mudah sakit.

Pastinya Anda tidak mau sakit di hari spesial Anda bukan?

3. Mengurangi Stres dan Kelelahan

Vitamin B kompleks dalam suntikan dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan energi, dan menjaga agar mood tetap stabil.

Hari spesial jelas butuh energi lebih banyak dan mood lebih stabil.

Jenis Suntik Vitamin yang Bisa Digunakan oleh Calon Pengantin

1. Suntik Vitamin C

Suntik vitamin C berfungsi sebagai antioksidan yang membantu melawan radikal bebas dan meningkatkan kecerahan kulit.

2. Suntik Glutathione

Suntik ini dikenal sebagai “whitening injection” yang membantu mencerahkan kulit secara lebih merata.

3. Suntik Kolagen

Suntik kolagen bisa membantu meningkatkan elastisitas kulit dan mengurangi tanda-tanda penuaan.

4. Infus Vitamin (Vitamin Drip)

Biasanya kombinasi beberapa vitamin yang diberikan melalui infus untuk hasil yang lebih menyeluruh.

Kapan Waktu Terbaik Melakukan Suntik Vitamin bagi Calon Pengantin?

1. 1-3 Bulan Sebelum Pernikahan

Waktu ideal 1-3 bulan untuk memulai perawatan kulit agar hasilnya optimal dan terlihat alami. Namun, jangan lupa bahwa Anda hanya bisa sering suntik vitamin atau suntik vitamin berkali-kali dalam sebulan.

2. Sesuai Anjuran Dokter

Dokter bisa membantu untuk memberikan rekomendasi. Anda bisa konsultasi dengan dokter umum terkait suntik vitamin sebelum menikah.

Tips Aman Suntik Vitamin Sebelum Menikah

1. Konsultasi dengan Dokter

Pastikan Anda mengetahui kondisi tubuh dan kebutuhan vitamin yang tepat. Dokter umum bisa membantu Anda untuk menangani hal ini.

2. Pilih Klinik Terpercaya

Utamakan keamanan dan kualitas layanan. Pilih klinik yang menyediakan layanan suntik vitamin dan berpengalaman di sana, contohnya adalah Primecare Clinic.

3. Kombinasikan dengan Pola Hidup Sehat

Selain suntik vitamin, kombinasikan juga dengan pola hidup sehat seperti:

  • Pola makan sehat
  • Tidur cukup
  • Minum air yang cukup

Suntik Vitamin bisa Bermanfaat untuk Calon Pengantin

Suntik vitamin bagi calon pengantin bisa membantu mereka dalam kesehatan kulit dan menjaga imunitas serta stamina, apalagi acara pernikahan umumnya berlangsung seharian.

Tersedia suntik vitamin dan immune booster di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, dan Tebet, Jakarta Selatan. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148149944-_1_-1200x800.webp

Setelah liburan, umumnya orang-orang kembali ke rutinitas biasa sebelum liburan seperti bekerja atau berbisnis. Sayangnya, kembali ke rutinitas juga perlu proses. Terkadang badan masih lemas karena capek di perjalanan atau imunitas berkurang.

Karena itu, artikel ini akan membahas manfaat, jenis, hingga tips aman melakukan suntik vitamin setelah liburan atau libur panjang.

Manfaat Suntik Vitamin Setelah Liburan

1. Meningkatkan Energi Tubuh

Suntik vitamin bisa membantu dalam meningkatkan energi dan mengatasi rasa lelah setelah perjalanan panjang.

Jadi, suntik vitamin ini cocok jika Anda baru liburan panjang, terutama setelah liburan dari luar negeri atau menggunakan moda transportasi darat yang menghabiskan waktu di kendaraan lebih dari sehari. Apalagi jika jarak pulang dan kembali bekerja/berbisnis cukup dekat.

2. Mencerahkan Kulit Kusam

Paparan sinar matahari selama liburan bisa membuat kulit menjadi gelap dan kusam. Suntik vitamin bisa membantu dalam mencerahkan kulit yang gelap dan kusam saat liburan di daerah yang banyak paparan sinar matahari.

3. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Setelah liburan, imun jadi rentan karena kelelahan. Suntik vitamin dapat membantu untuk memperkuat sistem imun.

Jenis Suntik Vitamin yang Direkomendasikan

1. Suntik Vitamin C

Suntik vitamin C membantu untuk kesehatan kulit dan meningkatkan imunitas.

2. Suntik Vitamin B Kompleks

Suntik vitamin B cocok untuk mengatasi kelelahan dan menjaga metabolisme tubuh.

3. Infus Vitamin (Vitamin Drip)

Multivitamin atau infus berbagai vitamin cocok untuk pemulihan tubuh secara menyeluruh.

Kapan Waktu Terbaik Melakukan Suntik Vitamin?

1. Segera Setelah Liburan

Idealnya, Anda bisa segera suntik vitamin, seperti 1-3 hari setelah sampai di rumah untuk mempercepat pemulihan tubuh.

2. Saat Tubuh Mulai Terasa Lelah

Jika Anda merasa kondisi sedang drop, kurang fit, atau kulit terlihat kusam bisa menjadi momen yang tepat.

Kalau Anda ragu, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter umum terlebih dahulu sebelum suntik vitamin.

Tips Aman Suntik Vitamin Setelah Liburan

1. Pilih Klinik Terpercaya

Pastikan klinik memiliki izin resmi dan tenaga medis profesional yang berpengalaman dalam layanan suntik vitamin. Contoh kliniknya adalah Primecare Clinic.

2. Konsultasi Sebelum Tindakan

Anda bisa konsultasi dengan dokter umum agar suntik vitamin bisa menyesuaikan dengan kebutuhan tubuh Anda.

3. Kombinasikan dengan Gaya Hidup Sehat

Suntik vitamin sebaiknya dikombinasikan dengan gaya hidup sehat, seperti:

  • Minum air putih dan cukup/penuhi kebutuhan cairan tubuh
  • Pola makan gizi seimbang
  • Tidur berkualitas 

Suntik Vitamin bisa Dilakukan setelah Liburan

Suntik vitamin setelah liburan bisa dilakukan untuk meningkatkan energi, mencerahkan kulit, dan memperkuat daya tahan tubuh. Prosedur tersebut relevan, terutama jika Anda lelah di perjalanan, takut tubuh drop, sebentar lagi akan kembali bekerja/berbisnis, atau liburan di daerah dengan banyak paparan sinar matahari.

Tersedia suntik vitamin dan immune booster di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, dan Tebet, Jakarta Selatan. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


18239-_1_-1200x801.webp

Medical Check Up (MCU) adalah pemeriksaan kesehatan yang umum dilakukan. Pasti, ada pertanyaan seperti berapa lama hasilnya keluar? Atau mengapa tidak instan hasilnya? Berikut jawaban atas pertanyaan tersebut.

Berapa Lama Hasil MCU Keluar Secara Umum?

Secara umum, hasil MCU akan keluar dalam waktu 1 hingga 5 hari kerja. Pada pemeriksaan tertentu, hasil bahkan bisa diterima di hari yang sama.

Mengapa Ada MCU yang Hasilnya Tidak bisa Langsung Keluar?

Tidak semua pemeriksaan bisa langsung keluar hasilnya seperti gula darah puasa/sewaktu. Beberapa tes membutuhkan:

  • Proses analisis laboratorium lanjutan
  • Interpretasi oleh dokter atau dokter spesialis
  • Penggabungan seluruh hasil menjadi laporan MCU lengkap

Lama Hasil MCU Berdasarkan Jenis Pemeriksaan

1. Hasil MCU pemeriksaan darah

  • Tes darah rutin seperti tes darah lengkap, gula darah, kolesterol: ± 1 hari
  • Tes fungsi hati dan ginjal: 1-2 hari
  • Tes khusus seperti hormon atau tumor marker: 2-5 hari

2. Hasil MCU rontgen dan USG

  • Rontgen dada (thorax): bisa keluar di hari yang sama atau 1 hari
  • USG perut (abdomen): umumnya hasil bisa keluar hari yang sama, tergantung antrean dan dokter radiologi

3. Hasil MCU EKG dan treadmill

  • EKG: Hasil bisa keluar langsung atau di hari yang sama
  • Treadmill test: hasil keluar di hari yang sama dengan ada kesimpulan dokter

4. Hasil MCU paket lengkap

Untuk MCU paket lengkap, hasil biasanya keluar dalam waktu 2-5 hari kerja. Hasil MCU lengkap bisa keluar lebih dari sehari karena menunggu seluruh pemeriksaan selesai dan ditinjau oleh dokter.

Faktor yang Memengaruhi Lama Keluarnya Hasil MCU

1. Jenis Paket MCU yang dipilih

Semakin lengkap paket MCU, semakin banyak jenis pemeriksaan yang dilakukan, sehingga waktu yang dibutuhkan hingga hasilnya keluar cenderung lebih lama.

2. Pemeriksaan Tambahan atau Lanjutan

Jika ditemukan hasil yang tidak normal dan perlu pemeriksaan tambahan atau pasien ada keinginan untuk ada pemeriksaan tambahan (add on), waktu keluarnya hasil MCU bisa bertambah.

3. Fasilitas dan Sistem Klinik atau Rumah Sakit

Setiap fasilitas kesehatan memiliki sistem laboratorium dan alur kerja yang berbeda, sehingga memengaruhi berapa lama hasil MCU keluar.

Apakah Hasil MCU Bisa Keluar di Hari yang Sama?

Jawabannya bisa, tergantung jenis MCU-nya. Umumnya, hasil MCU bisa keluar di hari yang sama jika hanya mencakup:

Untuk MCU yang banyak pemeriksaan sekaligus, umumnya hasil lengkap baru keluar setelah beberapa hari.

Cara Mendapatkan Hasil MCU Lebih Cepat

1. Pilih Paket MCU Sesuai Kebutuhan

Jika hanya butuh skrining dasar, pilih paket MCU sederhana agar hasilnya lebih cepat keluar.

2. Datang Pagi saat Pemeriksaan

Datang lebih awal membantu proses pemeriksaan dan analisis laboratorium berjalan lebih optimal. Selain itu, MCU juga waktu optimalnya pagi karena sudah puasa 12 jam, terutama jika MCU-nya berkaitan dengan metabolik seperti gula darah dan kolesterol.

3. Tanyakan estimasi hasil sejak awal

Pastikan menanyakan estimasi waktu keluarnya hasil MCU sebelum pemeriksaan dilakukan agar sesuai ekspektasi.

Apa yang harus Dilakukan setelah Hasil MCU Keluar?

Jawabannya tergantung dari bagaimana hasil MCU-nya. Jika normal, maka Anda bisa mempertahankan gaya hidup sehat yang Anda lakukan. Namun, jika tidak normal, maka berkonsultasi dengan dokter jadi opsi yang bagus.

Terlepas apa pun hasilnya, Anda sebaiknya berkonsultsai dengan dokter setelah hasil MCU keluar. Tidak hanya untuk interpretasi hasil MCU saja, tetapi juga mendapat saran yang tepat setelah MCU.

Pilih MCU sesuai dengan Kebutuhan Anda

Secara umum, hasil MCU keluar dalam waktu 1-5 hari kerja, tergantung jenis pemeriksaan dan paket MCU yang dipilih. Untuk mengetahui Anda sebaiknya MCU apa, maka Anda bisa konsultasi ke dokter terlebih dahulu.

Di Primecare Clinic, tersedia paket MCU. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


121212-2-1200x893.webp

Kolesterol tinggi sering disebut sebagai silent killer karena kerap tidak menimbulkan gejala yang jelas. Banyak orang baru menyadari kadar kolesterolnya tinggi setelah melakukan tes darah atau ketika sudah muncul komplikasi serius seperti penyakit jantung dan stroke. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda kolesterol naik sedini mungkin.

Walau sering tanpa gejala, beberapa tanda berikut bisa menjadi indikasi kadar kolesterol tinggi:

1. Mudah Lelah

Kolesterol tinggi dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah, sehingga aliran darah menjadi tidak lancar. Akibatnya, tubuh terasa cepat lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat. 

2. Nyeri Dada

Penumpukan plak kolesterol di arteri jantung dapat menyebabkan nyeri dada atau angina. Kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanda awal penyakit jantung.

3. Sering Kesemutan

Aliran darah yang tidak lancar akibat penyumbatan pembuluh darah dapat menyebabkan kesemutan, terutama pada tangan dan kaki.

4. Sakit Kepala Bagian Belakang

Kolesterol tinggi dapat memicu tekanan darah tinggi, sehingga menimbulkan sakit pada kepala di bagian belakang.

5. Muncul Benjolan Lemak pada Bagian Tubuh Tertentu

Xanthoma adalah benjolan lemak di bawah kulit yang biasanya muncul di sekitar mata, siku, lutut, tangan, atau kaki. Ini merupakan tanda visual bahwa kolesterol sedang sangat tinggi.

6. Lingkaran Putih di Kornea (Arcus Senilis)

Munculnya lingkaran putih atau abu-abu di sekitar kornea mata dapat menjadi tanda kadar kolesterol tinggi, terutama pada usia muda. Meski umumnya, gejala ini terjadi pada usia 40-an ke atas.

7. Tengkuk/Pundak Terasa Berat

Karena ada penyumbatan pada pembuluhdarah, tengkuk/pundak jadi terasa berat.

Penyebab Kolesterol Naik

Berikut beberapa faktor yang menyebabkan kolesterol naik

1. Pola Makan Tidak Sehat

Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans seperti gorengan, makanan cepat saji, dan daging berlemak dapat meningkatkan LDL atau kolesterol jahat.

2. Kurang Aktivitas Fisik

Jarang berolahraga dapat menurunkan kadar HDL (kolesterol baik) dan meningkatkan LDL (kolesterol jahat).

3. Obesitas

Berat badan berlebih berkontribusi pada peningkatan kadar LDL dalam darah.

4. Kebiasaan Merokok

Merokok menurunkan kadar HDL dan merusak dinding pembuluh darah.

5. Faktor Keturunan

Riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi serupa.

Kapan Harus Periksa Kadar Kolesterol?

Umumnya, cek kolesterol dilakukan 4-6 tahun sekali, tetapi frekuensi bisa lebih sering jika faktor risiko tinggi, atau disarankan oleh dokter.

Kapan harus ke Dokter jika Muncul Tanda Kolesterol Naik?

Anda sebaiknya segera ke dokter jika mengalami gejala berikut:

  1. Nyeri dada
  2. Pusing hebat
  3. Kesemutan atau mati rasa
  4. Muncul benjolan lemak di kulit
  5. Hasil tes kolesterol tidak normal

Kalau Kadar Kolesterol Naik, harus ke Dokter Apa?

1. Dokter Umum

Dokter umum jadi pilihan pertama jika kolesterol naik. Mereka akan memberikan arahan kepada Anda atau merujuk ke dokter spesialis penyakit dalam jika diperlukan, membacakan hasil cek kolesterol, meresepkan obat penurun kolesterol, dsb.

Ke dokter umum cocok jika kolesterol belum terlalu tinggi dan belum muncul gejala, atau baru pertama kali menghadapi masalah terkait kolesterol.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika kolesterolnya naik tinggi, Anda sebaiknya ke dokter spesialis penyakit dalam, terutama jika disertai penyakit lain seperti diabetes dan penyakit metabolik lainnya.

3. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Jika gejala yang muncul pada kolesterol naik meliputi jantung seperti nyeri dada, maka Anda sebaiknya ke dokter spesialis jantung dan pembuluh darah atau kardiolog. Terutama jika Anda punya riwayat serangan jantung.

4. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Dokter spesialis gizi klinik cocok untuk Anda yang butuh pendampingan makan karena kolesterol naik. Mereka akan memberikan meal plan yang cocok sesuai dengan kondisi kolesterol Anda.

Muncul Tanda Kolesterol Naik? Jangan Ragu ke Dokter!

Tanda kolesterol naik sering kali tidak disadari hingga menimbulkan komplikasi serius. Beberapa gejala seperti nyeri dada, mudah lelah, kesemutan, dan munculnya benjolan lemak perlu diwaspadai. 

Jika muncul tandanya, jangan ragu untuk ke dokter. Anda juga bisa cek kolesterol untuk memastikan.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis jantung, dan dokter spesialis gizi klinik serta panel untuk cek kolesterol. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


42030-2-1200x856.webp

Puasa, berat badan turun. Namun, ketika lebaran, berat badan malah naik lagi. Fenomena berat badan naik setelah lebaran bisa terjadi karena beberapa hal dan tentunya membuat frustasi.

Apa penyebabnya? Apa yang harus dilakukan?

Tanda Berat Badan Naik setelah Lebaran

Berikut tanda berat badan naik setelah lebaran:

  1. Lingkar badan seperti lingkar perut dan pinggang meningkat
  2. Pakaian yang biasa dipakai jadi terasa sempit
  3. Lemak di perut terlihat
  4. Komentar dari beberapa orang menunjukkan bahwa Anda mengalami naik berat badan

Penyebab Berat Badan Naik Setelah Lebaran

Kenaikan berat badan setelah Lebaran biasanya dipicu oleh perubahan pola makan dan aktivitas selama libur panjang. Yaitu makan lebih banyak daripada biasanya, sehingga terjadi surplus kalori:

1. Konsumsi Makanan Tinggi Kalori

Makanan khas Lebaran umumnya mengandung tinggi lemak, santan, dan gula. Konsumsi berlebihan pada makanan ini dapat meningkatkan asupan kalori harian secara signifikan. Apalagi jika Anda tidak berolahraga dan tidak menerapkan mindful eating.

2. Frekuensi Makan Lebih Sering

Selain makan utama, camilan seperti kue kering dan minuman manis juga sering dikonsumsi sepanjang hari. Akhirnya, terjadi surplus kalori tanpa sadar.

3. Kurangnya Aktivitas Fisik

Libur panjang membuat banyak orang lebih jarang bergerak atau berolahraga, sehingga kalori yang masuk tidak terbakar optimal. Bersilaturahmi juga umumnya dilakukan dengan kendaraan, sehingga posisi badan cenderung statis sepanjang hari. 

“Capek di jalan”, jadi malas untuk beraktivitas fisik atau olahraga. 

4. Retensi Cairan

Makanan tinggi garam dapat menyebabkan tubuh menahan cairan, sehingga berat badan terlihat naik dalam waktu singkat karena terjadi retensi cairan. Ini bisa terjadi jika Anda mengonsumsi banyak makanan tinggi garam.

Apakah Berat Badan Naik Setelah Lebaran Berbahaya?

Kenaikan berat badan dalam jangka pendek umumnya tidak langsung berbahaya. Namun, jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko seperti:

1. Risiko Penyakit Metabolik

Berat badan di atas berat badan ideal dapat memicu gangguan seperti:

  • Kolesterol tinggi
  • Gula darah meningkat
  • Tekanan darah tinggi

2. Penumpukan Lemak Visceral

Lemak yang menumpuk di area perut (lemak visceral) meningkatkan risiko penyakit seperti penyakit jantung dan diabetes.

3. Kehilangan Kepercayaan Diri

Untuk yang berhasil menurunkan berat badan ketika bulan puasa, kenaikan berat badan berlebihan ketika lebaran dapat menganggu kepercayaan diri, sehingga proses diet terganggu.

Apa yang harus Dilakukan ketika Berat Badan Naik setelah Lebaran?

Berikut hal yang harus Anda lakukan kalau berat badan naik setelah lebaran:

1. Atur Pola Makan 

Atur pola makan dan terapkan mindful eating. Beberapa hal ini juga bisa diterapkan:

  • Batasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak
  • Perbanyak konsumsi sayur, buah, dan protein tanpa lemak serta sumber serat
  • Hindari potensi mindless eating seperti makan sambil menonton

2. Tingkatkan Aktivitas Fisik

Mulailah dengan olahraga ringan seperti:

  • Jalan kaki atau jogging 30 menit per hari
  • Bersepeda santai
  • Latihan beban dengan intensitas ringan di rumah

Untuk yang rutin olahraga sebelum puasa, Anda bisa mencoba untuk merutinkan kembali kebiasaan tersebut.

3. Perbanyak Minum Air Putih

Air membantu metabolisme tubuh dan mengurangi rasa lapar berlebih.

4. Tidur yang Cukup

Kurang tidur dapat memengaruhi hormon lapar (ghrelin) dan meningkatkan keinginan makan.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter kalau Berat Badan Naik setelah Lebaran?

Jika kenaikan berat badan disertai gejala tertentu, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan kesehatan. Gejala ini meliputi:

  • Berat badan naik drastis dalam waktu singkat
  • Mudah lelah atau sesak
  • Lingkar perut meningkat signifikan
  • Riwayat kolesterol, diabetes, atau hipertensi

Kalau Berat Badan Naik setelah Lebaran, harus ke Dokter Apa?

Berikut beberapa jenis dokter yang bisa membantu sesuai kondisi Anda:

1. Dokter Umum

Dokter umum adalah pilihan pertama yang paling tepat.

Peran dokter umum dalam kasus ini:

  • Melakukan pemeriksaan awal
  • Mengevaluasi kondisi kesehatan secara keseluruhan
  • Memberikan saran pola makan dan gaya hidup
  • Memberikan rujukan ke dokter spesialis jika diperlukan

Dokter umum cocok jika Anda baru pertama mengalami keluhan ini.

2. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Jika kenaikan berat badan cukup signifikan  atau ingin program diet yang terarah, Anda bisa berkonsultasi ke dokter spesialis gizi klinik.

Dokter spesialis gizi klinik bisa membantu dalam:

  • Menyusun program diet sesuai kondisi tubuh
  • Mengatur kebutuhan kalori harian
  • Membantu menurunkan berat badan secara aman

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika berat badan naik disertai gangguan kesehatan, dokter penyakit dalam bisa menjadi pilihan.

Kondisi yang bisa ditangani dokter spesialis penyakit dalam:

  • Kolesterol tinggi
  • Gula darah tinggi
  • Tekanan darah tinggi
  • Gangguan metabolik

Dokter spesialis penyakit dalam jika Anda punya penyakit bawaan/komorbid sebelumnya.

Berat Badan Naik Signifikan setelah Lebaran? Jangan Ragu untuk Konsultasi dengan Dokter

Kalau berat badan naik signifikan setelah lebaran, jangan ragu untuk ke dokter ya. Mereka bisa membantu Anda untuk menurunkan berat badan serta melakukan pemeriksaan terkait kenaikan berat badan yang Anda alami.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter umum, dokter spesialis gizi klinik, dan dokter spesialis penyakit dalam. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


3135-1-1200x675.webp

Setelah merayakan Lebaran dengan berbagai hidangan lezat seperti opor ayam, rendang, dan kue manis, serta makanan khas daerah lainnya sesuai tujuan mudik, penting untuk kembali memperhatikan kondisi tubuh. 

Konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan kolesterol selama hari raya bisa berdampak pada kesehatan jika Anda sering binge eating atau mindless eating, apalagi jika jadi semacam “balas dendam” karena makan cukup berkurang dan berat badan turun ketika bulan puasa.

Jadi, harus apa setelah lebaran? Salah satunya adalah MCU.

Mengapa Perlu Medical Check Up Setelah Lebaran?

Berikut alasan mengapa Anda perlu MCU setelah lebaran:

1. Pola Makan Tidak Teratur

Selama Lebaran, orang-orang cenderung makan berlebihan dan tidak terjadwal karena banyak bersilaturahmi ke rumah saudara/keluarga. Apalagi, banyak sekali makanan enak yang dimasak, tentu tidak enak kalau dihabiskan.

2. Risiko Penyakit Tertentu Meningkat karena Konsumsi Makanan secara Berlebihan

Konsumsi makanan tertentu seperti gula, garam, dan lemak secara berlebihan bisa meningkatkan risiko penyakit ini:

  • Kolesterol tinggi
  • Diabetes
  • Tekanan darah tinggi

3. Deteksi Dini 

MCU membantu mendeteksi masalah kesehatan sejak dini sebelum menjadi serius. Terutama jika Anda mengalami kenaikan berat badan atau berat badan kembali ke seperti semula setelah turun di bulan Ramadan.

Jenis Pemeriksaan Lab/MCU yang Direkomendasikan Setelah Lebaran

1. Pemeriksaan Gula Darah

Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui apakah kadar gula darah meningkat setelah konsumsi makanan dan minuman manis selama Lebaran.

2. Cek Kolesterol

Lemak jenuh dari makanan khas lebaran dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Karena itu, Anda bisa cek kolesterol lengkap jika banyak mengonsumsi makanan berlemak, terutama lemak jenuh.

3. Tes Fungsi Hati

Makanan berlemak dan konsumsi obat-obatan dapat memengaruhi kesehatan hati. Karena itu, MCU ini direkomendasikan.

4. Pemeriksaan Tekanan Darah

Makanan tinggi garam bisa meningkatkan tekanan darah. Jika Anda banyak mengonsumsi makanan tinggi garam, maka pemeriksaan tekanan darah bisa dilakukan.

5. Indeks Massa Tubuh (BMI) dan Komposisi Tubuh

BMI bisa diukur setelah lebaran untuk mengetahui apakah berat badan sudah ideal atau tidak setelah lebaran. Lebih komprehensif, Anda juga bisa melakukan analisa komposisi tubuh untuk mengecek apakah terjadi peningkatan/kehilangan lemak atau otot.

Pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan konsultasi ke dokter spesialis gizi klinik.

Kapan Waktu Terbaik Melakukan MCU setelah Lebaran?

Waktu ideal untuk MCU adalah 1-2 minggu setelah Lebaran agar kondisi tubuh sudah kembali stabil dan hasil pemeriksaan lebih akurat. 

Jangan lupa untuk puasa sebelum MCU, terutama pada MCU yang mengharuskan untuk puasa terlebih dahulu agar hasilnya lebih akurat.

Siapa yang Direkomendasikan untuk MCU setelah Lebaran?

Sebenarnya semua orang bisa melakukan MCU setelah lebaran, tetapi orang-orang dengan kondisi ini, sebaiknya MCU setelah lebaran:

  1. Mengalami kenaikan berat badan signifikan atau berhasil turun berat badan, tetapi naik lagi setelah lebaran (diet yoyo)
  2. Melakukan mindless eating saat lebaran seperti makan dan minum berlebihan, terutama pada makanan dan minuman yang mengandung GGL (gula, garam, dan lemak)
  3. Merasa ada masalah kesalahan tertentu setelah lebaran (konsultasi dengan dokter umum terlebih dahulu direkomendasikan)
  4. Untuk konteks Indonesia, pegawai perusahaan biasanya resign setelah Ramadan/Lebaran dan mencari pekerjaan baru. Terdapat perusahaan yang mewajibkan calon karyawannya MCU terlebih dahulu sebagai syarat rekrutmen, sehingga melakukan MCU adalah langkah yang tepat jika Anda ingin melamar ke perusahaan tertentu (setelah lembar MCU yang harus dilakukan diberikan dari perusahaan)

MCU saat Lebaran sangat Direkomendasikan

MCU atau pemeriksaan setelah lebaran adalah langkah yang strategis untuk menjaga kesehatan, terutama setelah lebaran di mana porsi makan bisa mengalami kenaikan, sehingga perlu ada pemantauan parameter tertentu seperti gula darah, kolesterol, dan berat badan/komposisi tubuh.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia paket MCU. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


16819-1-1200x801.webp

Hasil Medical Check Up (MCU) mungkin saja tidak semua normal yang artinya ada satu atau beberapa parameter pemeriksaan kesehatan yang berada di luar nilai rujukan (normal). Ini tidak selalu berarti penyakit serius, tapi perlu ditindaklanjuti agar tidak jadi masalah besar. 

Hasil tidak normal tidak sebaiknya dibaca dan diinterpretasi sendiri, harus dibacakan dan diinterpretasikan oleh dokter agar informasinya akurat. Tapi, harus ke dokter mana? 

Kalau Hasil MCU Tidak Normal, Harus ke Dokter Apa?

Pemilihan dokter tergantung jenis temuan abnormal di hasil MCU kamu.

1. Dokter Umum

Dokter umum jadi opsi pertama untuk dikunjungi jika ada hasil tidak normal pada MCU. Mereka cocok untuk hasil MCU yang:

  • Hasil abnormal ringan (nilai tidak jauh dari rujukan)
  • Tidak ada keluhan serius pada tubuh
  • Butuh penjelasan hasil lab
  • Butuh rujukan ke dokter spesialis yang tepat

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Kalau yang bermasalah adalah hasil MCU dari organ dalam atau metabolik, biasanya Anda akan diarahkan ke dokter spesialis penyakit dalam.

Dokter spesialis penyakit dalam bisa membantu hasil mengecek MCU dalam aspek:

  • Gula darah tinggi/diabetes
  • Kolesterol dan trigliserida 
  • Asam urat tinggi
  • Fungsi ginjal 
  • Enzim hati
  • Tekanan darah 

Namun, ada juga rujukan dokter spesialis yang cocok berdasarkan hasil MCU.

Rujukan Dokter Spesialis Lain Berdasarkan Hasil MCU

1. Dokter Spesialis Jantung (Kardiolog)

Konsultasi dokter spesialis jantung cocok jika ada emuan tidak normal pada MCU yang terkait jantung dan pembuluh darah. Contohnya:

  • EKG tidak normal
  • Disertai nyeri dada
  • Tekanan darah sangat tinggi
  • Riwayat penyakit jantung

2. Dokter Spesialis Paru

Untuk hasil pemeriksaan paru dan pernapasan seperti spirometri, skrining TB, dsb. Anda perlu ke dokter spesialis paru jika:

  • Rontgen dada (thorax) tidak normal
  • Batuk lama
  • Sesak napas
  • Hasil spirometri tidak normal

3. Dokter Spesialis Saraf

Anda bisa ke dokter spesialis saraf terkait keluhan yang berkaitan dengan saraf seperti:

  • Sering pusing berat
  • Kebas atau kesemutan
  • Hasil pemeriksaan neurologis abnormal
  • Riwayat stroke

4. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Dokter spesialis gizi klinik cocok kalau hasil MCU menunjukkan masalah berat badan dan pola makan. Contohnya:

  • Obesitas
  • Kolesterol tinggi
  • Gula darah prediabetes
  • Program diet secara medis atau manajemen berat badan (weight loss, weight gain)

Alur Ideal dalam Menindaklanjuti Hasil MCU yang Tidak Normal

Jika hasil MCU tidak normal, alur yang bisa Anda pakai:

  1. Konsultasi ke dokter umum
  2. Evaluasi hasil lab dan radiologi (dibacakan oleh dokter)
  3. Dapat rujukan ke dokter spesialis tertentu sesuai temuan
  4. Lakukan pemeriksaan lanjutan bila perlu, apalagi jika direkomendasikan oleh dokter
  5. Jalani terapi dan perubahan gaya hidup sesuai dengan saran/rekomendasi dokter

Hasil MCU Tidak Normal, tetapi Tidak Ada Gejala, Apakah Tetap Perlu ke Dokter?

Jawabannya tetap perlu. Banyak penyakit kronis (hipertensi, diabetes, kolesterol) awalnya tanpa gejala tapi terdeteksi dari MCU.

Berikut lokasi jika Anda telat konsultasi ke dokter, apalagi ketika hasil MCU tidak normal:

  • Penyakit makin parah
  • Terlambat ditangani
  • Biaya pengobatan lebih besar
  • Risiko komplikasi jangka panjang

Apakah Perlu MCU Ulang jika Hasil Tidak Normal?

Tergantung temuan. Dokter bisa menyarankan tes ulang setelah perbaikan pola makan atau istirahat. Termasuk jika ada kondisi seperti Anda MCU saat haid (terlanjur) atau tidak berpuasa, tetapi lupa memberitahukan nakesnya.

Jangan Lupa untuk Berkonsultasi dengan Dokter jika Hasil MCU Tidak Normal

Hasil MCU tidak normal bukan buat ditakuti, tapi jadi pengingat awal buat jaga kesehatan kita. 

Jika hasil MCU tidak normal, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter umum, kemudian dirujuk ke dokter spesialis jika hasil MCU-nya merujuk ke organ atau penyakit tertentu. Lebih baik jangan tunda konsultasi agar komplikasi atau penyakit bisa dicegah lebih awal.

Tersedia dokter umum dan dokter spesialis di Primecare Clinic. Anda mau konsultasi ke dokter umum atau spesialis? Yuk klik tautan ini!


2148439186-_1_-1200x800.webp

Mengalami menstruasi 2 kali dalam sebulan sering membuat khawatir, apalagi jika siklus menstruasi biasanya panjang seperti 30-35 hari. 

Banyak wanita langsung bertanya-tanya, apakah menstruasi 2 kali dalam sebulan itu normal atau justru menjadi pertanda adanya masalah kesehatan? Siklus haid memang bisa berubah-ubah, tetapi jika terjadi terlalu sering, maka penting untuk memahami penyebabnya.

Apakah Mungkin untuk Menstruasi 2 Kali dalam Sebulan?

Secara umum, siklus menstruasi normal berlangsung sekitar 21-35 hari. Jika siklus menstruasi Anda pendek seperti 21 hari, secara kalender masih mungkin untuk menstruasi 2 kali dalam sebulan.

Penyebab Menstruasi 2 Kali dalam Sebulan

1. Siklus Menstruasi Pendek (Normal)

Jika siklus Anda pendek seperti 21 hari, maka dalam satu bulan kalender bisa terjadi dua kali haid. Ini masih tergolong normal selama:

  • Polanya teratur
  • Tidak disertai nyeri hebat
  • Tidak ada perdarahan berlebihan

2. Perubahan Hormon

Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron dapat menyebabkan perdarahan di luar jadwal.

Beberapa pemicunya:

  • Stres berat
  • Kurang tidur
  • Perubahan berat badan drastis
  • Olahraga ekstrem

3. Masa Pubertas atau Perimenopause

Remaja yang baru mulai haid dan wanita usia 40-an tahun menjelang menopause sering mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur.

Fluktuasi hormon pada masa perimenopause dapat menyebabkan siklus lebih pendek atau perdarahan lebih sering dari biasanya.

4. Penggunaan Kontrasepsi Hormonal

Pil KB, suntik KB, atau implan dapat menyebabkan spotting atau perdarahan, terutama pada 3-6 bulan pertama penggunaan.

5. Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)

Polycystic Ovary Syndrome atau PCOS dapat menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur, termasuk haid lebih sering atau jadi jarang menstruasi.

Gejala lain PCOS:

  • Jerawat parah
  • Pertumbuhan rambut berlebih pada bagian tubuh
  • Berat badan sulit turun
  • Siklus menstruasi yang tidak konsisten

6. Gangguan Tiroid

Masalah pada kelenjar tiroid bisa memengaruhi hormon reproduksi dan menyebabkan perubahan pada siklus menstruasi.

7. Polip atau Miom Rahim

Pertumbuhan jinak di rahim dapat memicu perdarahan di luar jadwal menstruasi normal.

Kapan harus Waspada jika Terjadi Menstruasi 2 kali dalam Sebulan?

Segera konsultasi ke dokter spesialis obgyn jika mengalami:

  • Perdarahan sangat banyak (ganti pembalut tiap 1-2 jam)
  • Nyeri hebat yang tidak biasa
  • Siklus menstruasi sangat kacau selama lebih dari 3 bulan
  • Terjadi perdarahan setelah berhubungan intim
  • Pusing atau lemas berlebihan

Penanganan Menstruasi 2 Kali dalam Sebulan

Penanganan hal ini tergantung penyebabnya. Anda harus berkonsultasi dengan dokter spesialis obgyn untuk masalah ini.

a. Jika Karena Stres

Umumnya, dokter akan menyarankan perubahan gaya hidup seperti:

  • Perbaiki pola tidur
  • Kelola stres
  • Konsumsi makanan bergizi

b. Jika Karena Gangguan Hormonal

Dokter mungkin menyarankan:

  • Tes hormon
  • USG panggul
  • Terapi hormon

Apakah jika Menstruasi 2 Kali dalam Sebulan, bisa Hamil?

Anda tetap bisa hamil meski menstruasi 2 kali dalam sebulan. Ovulasi bisa tetap terjadi meskipun siklus menstruasi tidak teratur. Bahkan pada siklus pendek, masa subur bisa lebih cepat dari perkiraan. Anda bisa mengetahui masa subur Anda dengan kalkulator masa subur pada tautan ini.

Jika Anda tidak merencanakan kehamilan, gunakan kontrasepsi ketika berhubungan intim.

Menstruasi 2 kali dalam Sebulan bisa jadi Normal, bisa jadi Tanda Masalah Kesehatan

Menstruasi 2 kali dalam sebulan bisa saja normal jika siklus menstruasi Anda memang pendek. Namun, jika terjadi tiba-tiba, ditambah dengan disertai nyeri hebat, atau berlangsung lama, sebaiknya periksa ke dokter spesialis obgyn untuk memastikan tidak ada gangguan hormonal atau kondisi medis tertentu.

Memahami pola siklus menstruasi sendiri adalah kunci. Jadi, catat jadwal menstruasi setiap bulan agar perubahan pada siklus bisa terdeteksi lebih cepat.

Jika Anda khawatir dengan keluhan ini, tersedia dokter spesialis obgyn di Primecare Clinic. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.