GTM pada Anak – Penyebab, Bahaya, dan Solusinya

GTM atau Gerakan Tutup Mulut adalah kondisi di mana seorang anak menghindar atau menolak makanan yang diberikan. Anak bisa menutup mulutnya dengan rapat, menjauh, menggelengkan kepala, menyemburkan, melepehkan setelah disuapi makanan atau bahkan menangis. GTM sering terjadi pada anak-anak di rentang usia 6 bulan ketika bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI) hingga 3 tahun, dan biasanya memuncak di usia antara 1-2 tahun.
Penyebab GTM pada anak
Penyebab GTM bermacam-macam, antara lain:
1. Bosan dengan menu makanan yang diberikan
Anak bisa merasa bosan karena makanan yang diberikan kurang bervariasi. Selain makanannya, cara penyajian dan tekstur makanan juga dapat mempengaruhi selera anak, sehingga anak menolak untuk makan.
2. Terlalu sering mengemil
Bila anak terlalu sering mengemil, terutama makanan atau minuman yang manis-manis, kebutuhan energi anak akan cepat terpenuhi dengan cemilan sehingga saat sudah masuk waktu makan makanan utama anak sudah kenyang dan tidak mau makan lagi. Ini juga dapat mengganggu jadwal makan yang dapat mempengaruhi kebutuhan nutrisi anak.
3. Anak sedang sakit
Seperti halnya orang dewasa, anak yang sedang sakit juga dapat mengalami penurunan nafsu makan. Kondisi seperti peradangan, gangguan pencernaan, gangguan pernapasan atau nyeri bisa mempengaruhi indra perasa dan penciuman sehingga makanan atau minuman yang dikonsumsi terasa lebih hambar dari biasanya dan sulit untuk ditelan. Selain itu, anak menghabiskan energi lebih untuk melindungi tubuh dari penyakit, sehingga anak merasa lebih lemas dan malas untuk makan.
4. Belum lapar
Bisa jadi, anak menolak makan karena memang belum lapar. Bila itu terjadi, sebaiknya anak tidak perlu dipaksa makan serta mengatur jadwal makan anak (feeding rules).
5. Inappropriate Feeding Practice
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh IDAI, inappropiate feeding practice merupakan penyebab tersering GTM pada anak. Hal ini meliputi perilaku makan yang keliru dan tekstur makan yang tidak sesuai dengan usia anak. Biasanya kondisi ini terjadi pada waktu dimulainya pemberian MPASI. Pemberian makan yang benar harus memperhatikan beberapa hal seperti tepat waktu, kuantitas dan kualitas makanan, kebersihan penyiapan dan penyajian makanan serta harus sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
6. Tumbuh gigi
Ketika anak mengalami tumbuh gigi, gusi pada anak akan membengkak sehingga bisa menimbulkan rasa nyeri atau tidak nyaman pada mulut. Ha l itu bisa menyebabkan anak kehilangan nafsu makan sehingga anak melakukan GTM.
7. Menu makanan baru
Anak akan cenderung menolak sesuatu yang baru, termasuk juga makanan. Ini merupakan respon alami yang dapat terjadi ketika anak mencoba makanan dengan warna, bau, rasa, atau tekstur yang belum familiar.
8. Pertumbuhan anak melambat
Pada waktu bayi, mungkin orang tua mengenal istilah growth spurt yaitu ketika pertumbuhan anak terjadi dengan cepat. Tetapi seiring bertambahnya usia, pertumbuhan anak justru akan semakin melambat. Oleh karena itu, kebutuhan kalori harian anak mungkin akan berkurang, sehingga nafsu makan anak bisa ikut menurun.
9. Anak mulai merasa mandiri
Ketika rasa otonomi atau kemandirian anak mulai berkembang seiring bertambahnya usia, mereka lebih suka makan sendiri dan menjadi selektif dalam memilih makanan. Jika ditekan atau dipaksa untuk makan, rasa kemandirian inilah yang akan menyebabkan anak menolak makan.
10. Terlalu banyak distraksi
Anak akan mudah kehilangan fokus bila banyak distraksi di sekeliling anak, seperti tontonan, gadget atau mainan. Akibatnya, anak lebih tertarik untuk menonton, bermain atau melakukan aktivitas lain yang bisa mengalihkan perhatian anak dari makanan.
Bahaya GTM pada anak
Pada dasarnya, hampir seluruh anak akan mengalami fase GTM. Namun, bukan berarti orang tua bisa mengabaikan GTM pada anak. Selera makan dapat didorong dan penolakan pada jenis makanan tertentu dapat diatasi seiring berjalannya waktu. Orang tua tetap perlu memperkenalkan anak pada makanan yang pernah ditolak agar sistem indera anak terbiasa dengan makanan tersebut. Jika GTM dibiarkan, maka risikonya:
- Anak terus menolak makanan yang sama sepanjang hidupnya, yang menyebabkan pola makan terlalu terbatas
- Anak cenderung menjadi picky eater
- Masalah gizi akibat kebutuhan makronutrien dan/atau mikronutrien yang tidak seimbang yang dapat berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak
Cara mengatasi GTM pada anak
Ketika terjadi GTM pada anak, yang bisa orang tua lakukan antara lain:
- Cobalah untuk bersabar. Mungkin anak harus ditawari makanan beberapa kali dulu bahkan bisa sampai 20 kali hingga anak bersedia untuk makan, terutama bila menu makanan yang diberikan masih baru.
- Ganti tekstur makanan agar anak tidak bosan. Misalnya, anak makan telur rebus dipotong-potong, keesokan harinya anak bisa makan telur lagi namun dengan digoreng.
- Mengubah cara penyajian makanan dengan lebih menarik, misalnya mengganti piring, mangkuk, atau gelas dengan warna dan bentuk yang menarik
- Berikan porsi kecil-kecil dan berilah pujian kepada anak walau hanya mau makan sedikit.
- Bila sampai 10-15 menit anak masih menolak makan, maka hentikan proses makan. Jangan memaksa anak makan atau menghabiskan makanan agar tidak timbul trauma saat makan. Anak bisa mencoba makanan itu lagi di lain waktu.
- Jangan memberikan reaksi berlebihan seperti memarahi anak. Walau bisa membuat orang tua cemas, cobalah untuk tetap tenang.
- Utamakan kebutuhan cairan anak tetap terpenuhi agar tidak terjadi dehidrasi.
Cara mencegah GTM pada anak
Pencegahan GTM dapat dilakukan dengan cara:
- Mengatur jadwal makan anak teratur dalam sehari, yaitu 3 makanan utama diselingi oleh 2 cemilan atau snack sehat. Batasi waktu makan anak yaitu maksimal 30 menit.
- Memberikan lingkungan yang nyaman saat anak makan. Biasakan makan bersama keluarga di meja makan. Jika tidak memungkinkan untuk makan bersama, tetap latih anak makan di meja makan.
- Berikan menu makan yang sama seperti yang dimakan orang tua.
- Mengingatkan anak sekitar 10-15 menit sebelum makan agar anak bisa mempersiapkan diri untuk makan.
- Jangan memberikan minuman lain selain air putih ketika makan agar anak tidak cepat kenyang sebelum makanan habis.
- Jangan menjadikan makanan sebagai hadiah, karena bisa mengubah persepsi anak terkait makanan (misal: makanan yang manis tapi enak adalah hadiah, dan makanan yang sehat tapi kurang enak adalah hukuman), karena dapat berpengaruh terhadap pola makan anak.
Kapan harus ke Dokter Spesialis Anak untuk Menangani Masalah GTM pada Anak?
Orang tua tidak perlu khawatir bila anak mengalami GTM dan bisa berkonsultasi ke dokter spesialis anak bila pada anak GTM disertai gejala seperti:
- Tidak mau makan terus-terusan selama 3-7 hari
- Hanya mau makan kurang dari 20 jenis makanan
- Berat badan tidak naik atau bahkan menurun
- Ada gejala yang menunjukkan anak sedang sakit, seperti demam, sariawan, batuk, pilek, atau tumbuh gigi
- Menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan saat diberi makan misalnya berteriak, melarikan diri, atau melempar barang
Segeralah berobat ke fasilitas kesehatan terdekat bila terjadi tanda bahaya seperti:
- Gejala dehidrasi, misalnya lemas, kurang minum, mata cekung, frekuensi berkemih berkurang, warna urin lebih gelap dan pekat
- Anak tampak lebih lemas, tidak aktif, dan cenderung mengantuk.
GTM pada Anak bisa Diatasi
GTM pada anak memang membuat frustasi, tetapi hal ini bisa diatasi dan dicegah. Jika anak Anda mengalami gejala seperti tidak mau makan secara terus-menerus, sakit, serta reaksi emosional yang berlebihan, maka Anda bisa membawa anak Anda ke dokter spesialis anak.
Di Primecare Clinic tersedia dokter spesialis anak. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!
Sumber:
Leung, A. K., Marchand, V., Sauve, R. S., & Canadian Paediatric Society, Nutrition and Gastroenterology Committee (2012). The ‘picky eater’: The toddler or preschooler who does not eat. Paediatrics & child health, 17(8), 455–460. https://doi.org/10.1093/pch/17.8.455
https://www.childfeedingguide.co.uk/tips/common-feeding-pitfalls/food-refusal/
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/gerakan-tutup-mulut-gtm-pada-batita
https://www.nhs.uk/baby/weaning-and-feeding/fussy-eaters/

