4779-_1_-1200x800.webp

Puasa, baik puasa Ramadan maupun puasa sunnah, sering membuat orang ragu untuk berolahraga. Banyak yang khawatir olahraga saat puasa bisa menyebabkan lemas, dehidrasi, atau bahkan membahayakan kesehatan.

Padahal, olahraga saat puasa tetap boleh dan aman, asalkan dilakukan dengan cara dan waktu yang tepat.

Apakah Boleh Olahraga Ssat Puasa?

Olahraga saat puasa diperbolehkan untuk orang dengan kondisi sehat. Tubuh memiliki cadangan energi berupa glikogen dan lemak yang tetap bisa digunakan meskipun tidak makan dan minum sementara.

Kalau sakit, sebaiknya tidak berolahraga, apalagi sambil puasa.

Siapa yang perlu Hati-Hati jika Mau Olahraga saat Puasa?

Beberapa orang perlu berkonsultasi ke dokter sebelum olahraga saat puasa, seperti:

  • Penderita diabetes
  • Orang dengan tekanan darah rendah
  • Penderita penyakit jantung
  • Orang yang mudah pusing atau pingsan saat puasa

Tentunya hal ini dilakukan demi keamanan karena olahraga dilakukan agar tubuh lebih sehat. Olahraga itu untuk sehat, bukan untuk mencari penyakit dan membahayakan diri sendiri.

Manfaat Olahraga Saat Puasa

1. Membantu Pembakaran Lemak

Saat puasa, kadar glukosa menurun sehingga tubuh lebih banyak menggunakan lemak sebagai sumber energi. Hal ini membuat olahraga saat puasa berpotensi membantu dalam menurunkan kadar lemak tubuh. Jadi, olahraga membantu defisit kalori serta fat loss.

2. Menjaga Massa Otot

Dengan jenis olahraga yang tepat, puasa tidak selalu menyebabkan otot menyusut. Olahraga ringan seperti latihan kekuatan intensitas rendah dapat membantu menjaga massa otot.

3. Menjaga Kesehatan Mental

Olahraga juga membantu dalam manajemen stres dan peningkatan kualitas tidur.

Waktu Terbaik Olahraga Saat Puasa

1. Menjelang Berbuka Puasa

Waktu ini sering dianggap paling ideal karena:

  • Tubuh sudah mendekati waktu makan
  • Risiko dehidrasi lebih singkat
  • Cairan dan energi bisa segera diganti saat berbuka

Jenis olahraga yang cocok ketika menjelang buka puasa adalah:

  • Jalan cepat
  • Bersepeda santai
  • Latihan beban ringan

2. Olahraga Setelah Berbuka Puasa

Olahraga sebaiknya dilakukan 1–2 jam setelah berbuka agar Anda tidak sakit perut, terutama untuk:

  • Olahraga intensitas sedang
  • Latihan kardio yang lebih berat

Pastikan tubuh sudah mendapat cairan dan energi yang cukup, tetapi jarak olahraga dengan makan/minum tidak berjarak terlalu dekat.

3. Olahraga Sebelum Sahur

Olahraga sebelum sahur umumnya tidak disarankan karena risiko:

  • Dehidrasi lebih lama
  • Lemas sepanjang hari
  • Penurunan konsentrasi

Namun, kembali lagi disesuaikan dengan kondisi tubuh Anda. Yang pasti, jangan olahraga intensitas tinggi sebelum berpuasa agar tidak lemas.

Jenis Olahraga yang Dianjurkan Saat Puasa

1. Olahraga Ringan hingga Sedang

Jenis olahraga yang aman saat puasa meliputi:

  • Jalan kaki
  • Yoga
  • Stretching
  • Pilates ringan

2. Latihan Kekuatan

Latihan kekuatan tetap boleh dilakukan dengan catatan:

  • Intensitas diturunkan
  • Durasi lebih singkat
  • Fokus pada teknik, bukan beban berat

Risiko Olahraga Saat Puasa Jika Tidak Tepat

1. Dehidrasi dan Hipoglikemia

Olahraga berlebihan saat puasa dapat menyebabkan:

  • Pusing
  • Lemas
  • Keringat berlebihan
  • Gula darah turun

Jika muncul gejala ini, sebaiknya hentikan olahraga.

2. Tanda Harus Berhenti Olahraga

Segera berhenti olahraga jika:

  • Pandangan berkunang-kunang
  • Jantung berdebar tidak normal
  • Mual atau ingin pingsan

Tips Aman Olahraga Saat Puasa

1. Perhatikan Asupan Saat Sahur dan Berbuka

Pastikan sahur dan berbuka mengandung:

  • Karbohidrat kompleks
  • Protein cukup
  • Cairan yang cukup

Hindari makanan terlalu manis atau berminyak yang berlebihan.

2. Dengarkan Sinyal Tubuh

Tidak perlu memaksakan diri. Menurunkan intensitas olahraga saat puasa bukan berarti malas, tetapi bentuk adaptasi tubuh.

Kesimpulan Olahraga Saat Puasa Boleh Asal Kondisi Fit dan Waktunya Tepat

Olahraga saat puasa boleh dan aman, bahkan bermanfaat, jika dilakukan dengan:

  • Momen yang pas
  • Intensitas yang sesuai
  • Asupan gizi yang cukup

Jika memiliki kondisi medis tertentu, konsultasikan terlebih dahulu ke dokter agar olahraga saat puasa tetap aman dan optimal. Kasus akan berbeda jika Anda adalah seorang atlet.


2150227209-1-1200x801.jpg

Medical Check Up (MCU) sering dibutuhkan untuk keperluan kerja, pendidikan, atau evaluasi kesehatan rutin. Namun, bagi ibu menyusui, sering muncul pertanyaan “apakah aman melakukan MCU saat menyusui?” Jawabannya adalah boleh, dengan beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan.

Apakah MCU Aman Dilakukan Saat Menyusui?

Terdapat MCU aman yang dilakukan saat menyusui. Proses menyusui tidak menjadi penghalang untuk pemeriksaan kesehatan. 

Namun, tidak semua jenis pemeriksaan dalam MCU sepenuhnya bisa dilakukan untuk ibu menyusui, terutama pemeriksaan yang melibatkan obat, zat kontras, atau radiasi.

Jenis Pemeriksaan MCU yang Aman untuk Ibu Menyusui

Sebagian besar pemeriksaan standar dalam MCU tetap aman dan tidak memengaruhi ASI.

1. Pemeriksaan Fisik dan Anamnesis

Pemeriksaan seperti:

  • Tekanan darah
  • Berat dan tinggi badan
  • Pemeriksaan jantung dan paru
  • Wawancara riwayat kesehatan

aman dilakukan dan tidak berpengaruh terhadap produksi mau pun kualitas ASI.

2. Tes Darah 

Tes darah yang umumnya aman saat menyusui meliputi:

  • Gula darah
  • Kolesterol
  • Fungsi hati
  • Fungsi ginjal
  • Hemoglobin (Hb)

Pengambilan darah tidak mempengaruhi ASI dan tidak memerlukan penghentian menyusui. Namun, jangan lupa bahwa tes seperti gula darah dan kolesterol diminta puasa terlebih dahulu, sehingga konsultasi dulu dengan dokter apa yang harus dilakukan sebelum tes.

3. Pemeriksaan Urin dan Feses

Tes urin dan feses aman dilakukan selama menyusui, dengan catatan ibu tidak mengonsumsi obat tertentu.

Pemeriksaan MCU yang Perlu Perhatian saat Menyusui

Beberapa pemeriksaan memerlukan pertimbangan khusus karena berpotensi memengaruhi ASI atau kenyamanan ibu.

1. Pemeriksaan Rontgen dan Radiasi

Rontgen dada umumnya aman bagi ibu menyusui karena:

  • Tidak memengaruhi ASI
  • Tidak memerlukan penghentian menyusui

Namun, jika menggunakan zat kontras, saran dari dokter sangat dianjurkan.

2. Pemeriksaan dengan Zat Kontras

Pada pemeriksaan seperti:

  • CT scan dengan kontras
  • MRI dengan kontras

Sebagian kecil zat kontras bisa masuk ke ASI. Biasanya tetap aman, tetapi dokter mungkin menyarankan:

  • Menunda atau stop menyusui untuk sementara
  • Memerah dan membuang ASI dalam waktu tertentu

3. Tes Hormon dan Pemeriksaan Payudara

Saat menyusui:

  • Hormon prolaktin meningkat
  • Payudara lebih sensitif

Hal ini bisa memengaruhi interpretasi hasil tes hormon atau pemeriksaan payudara, sehingga perlu diberi catatan khusus. Karena itu, pemeriksaan seperti USG payudara sebaiknya tidak dilakukan saat sedang kondisi menyusui.

Apakah MCU Saat Menyusui Memengaruhi ASI?

Terdapat berbagai catatan seperti:

1. Produksi ASI Tetap Aman

MCU tidak menyebabkan ASI berkurang, selama:

  • Ibu tetap makan dan minum dengan cukup
  • Tidak stres secara berlebihan
  • Tidak mengonsumsi obat yang menghambat produksi ASI

2. Obat Tertentu Perlu Diwaspadai

Jika MCU melibatkan:

  • Obat tertentu
  • Suntikan
  • Zat kimia

Pastikan untuk memberi tahu dokter agar diberikan pilihan pemeriksaan yang aman untuk ASI.

Waktu Terbaik Melakukan MCU Saat Menyusui

Tidak ada waktu khusus untuk MCU untuk ibu menyusui, tetapi,  waktu terbaik adalah:

  • Ibu sedang dalam kondisi fit/prima secara fisik/mental
  • Setelah menyusui atau memerah ASI agar lebih nyaman

Tips MCU untuk Ibu Menyusui

Agar pemeriksaan MCU, lakukan beberapa hal berikut.

1. Informasikan Status Menyusui ke Dokter/Tenaga Kesehatan

Selalu beri tahu dokter dan petugas laboratorium bahwa Anda:

  • Sedang menyusui
  • Memiliki bayi usia tertentu

Ini penting untuk keamanan Anda sendiri dan akurasi pemeriksaan.

2. Bawa Perlengkapan Menyusui

Jika MCU memakan waktu lama, maka bawa beberapa hal ini:

  • Pompa ASI
  • ASI perah dan botol penyimpanan

Hal ini membantu menjaga jadwal menyusui tetap optimal, sehingga MCU tidak mengganggu Anda dalam menyusui anak Anda.

Jangan Lupa untuk Mengabari Dokter jika Anda dalam Kondisi Menyusui sebelum MCU

Pada dasarnya, hal yang terbaik yang bisa Anda lakukan sebelum MCU adalah memberi tahu dokter bahwa Anda sedang menyusui. Hal ini akan memberikan dokter saran pemeriksaan/check up yang cocok Anda, baik itu dari segi keamanan serta akurasi hasil.

Di Primecare Clinic, tersedia paket MCU dengan konsultasi dokter. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


1277.webp

Puasa sering dianggap sebagai cara alami untuk menurunkan berat badan. Frekuensi makan jadi berkurang, sehingga wajar ada asumsi kalau berat badan akan turun. Terkadang realitanya justru sebaliknya. Sudah puasa, tapi berat badan malah naik.

Anda mengalami hal ini? Tenang, Anda tidak sendirian kok. Ada beberapa alasan logis kenapa berat badan bisa bertambah selama puasa. Yuk kita bahas satu per satu, lengkap dengan cara mengatasinya!

Penyebab Sudah Puasa Tapi Berat Badan Malah Naik?

Puasa bisa membantu untuk menciptakan kondisi defisit kalori karena frekuensi makan lebih sedikit. Namun dalam praktiknya, pola makan saat berbuka dan sahur sangat menentukan hasil akhirnya.

Berikut beberapa penyebab mengapa sudah puasa, tapi berat badan malah naik:

1. Kalori Tetap Surplus saat Buka Puasa

Puasa bukan berarti langsung kurus ya. Jika Anda mengalami surplus kalori setelah buka puasa, wajar kalau berat badan naik. Terutama kalau makan dalam porsi besar ketika jam buka puasa dan lanjut makan malam lagi sebelum tidur.

Total kalori harian bisa tetap lebih tinggi dari kebutuhan tubuh. Kelebihan kalori inilah yang akan disimpan sebagai lemak, atau dengan kata lain kondisi surplus kalori.

Walaupun hanya makan dua kali sehari, kalau porsinya besar dan tinggi lemak serta gula, berat badan tetap bisa naik. Terutama jika kebutuhan kalori harian (TDEE) Anda tidak terlalu besar.

2. Terlalu Banyak Gula dan Karbohidrat Sederhana

Kolak, es buah, teh manis, sirup, kue manis, hingga minuman kemasan bisa jadi menu favorit berbuka karena manis. Masalahnya, makanan dan minuman tinggi gula menyebabkan lonjakan insulin yang cepat.

Saat insulin tinggi, tubuh lebih mudah menyimpan energi dalam bentuk lemak, terutama jika tidak diimbangi aktivitas fisik yang cukup.

Selain itu, gula dan karbohidrat sederhana juga membuat kamu cepat lapar lagi, sehingga cenderung makan lebih banyak di malam hari. Tidak lupa gula punya kalori yang cukup besar jika dikonsumsi berlebihan.

3. Pola Makan “Balas Dendam” Alias Emotional Eating

Karena merasa seharian tidak makan, banyak orang tanpa sadar menerapkan emotional eating. Pikiran seperti:

  • “Tadi kan sudah puasa, jadi ya tidak masalah dong makan banyak.”
  • “Mumpung buka, sekalian puas-puasin untuk makan banyak”

Akhirnya justru membuat kalori tidak terkontrol dan berujung surplus kalori. Padahal tubuh tidak benar-benar butuh kalori yang banyak.

4. Aktivitas Fisik Menurun

Saat puasa, sebagian orang jadi lebih pasif seperti:

  • Lebih banyak duduk
  • Mengurangi olahraga
  • Malas bergerak karena takut lemas

Padahal penurunan aktivitas berarti pembakaran kalori juga turun. Jika asupan tetap tinggi, surplus kalori semakin besar. 

Tetap dianjurkan untuk beraktivitas fisik saat puasa, misalnya sebelum berbuka, setelah salat tarawih, dan sebelum sahur.

5. Retensi Air (Berat Air, Bukan Lemak)

Terkadang berat badan naik 1-2 kg dalam beberapa hari. Namun, peningkatan berat badan ini belum tentu peningkatan lemak.

Konsumsi tinggi karbohidrat dan garam membuat tubuh menyimpan lebih banyak cairan, sehingga terjadi retensi cairan

Artinya, kenaikan berat badan cepat sering kali hanya karena air, bukan lemak.

Untuk analisa lebih lengkap, harus memakai analisa komposisi tubuh dengan timbangan khusus.

Kesalahan Umum saat Puasa yang Bikin Berat Badan Naik

Berikut kesalahan yang sering tidak disadari, sehingga berat badan naik meski sudah puasa:

1. Melewatkan Sahur

Tidak sahur membuat tubuh sangat lapar saat berbuka. Akibatnya, kamu cenderung makan berlebihan dan sulit mengontrol porsi. Ujungnya surplus kalori dan berat badan naik.

Selain itu, sahur juga penting untuk menjaga energi dan metabolisme tetap stabil sepanjang hari. 

2. Kurang Protein

Protein membantu mempertahankan massa otot dan membuat kenyang lebih lama. Jika asupan protein rendah, tubuh bisa kehilangan otot. Padahal otot berperan besar dalam pembakaran kalori. 

Protein juga membantu dalam puasa karena membuat rasa kenyang terasa lebih lama.

3. Minuman Tinggi Gula

Minuman sering jadi sumber kalori tersembunyi. Segelas minuman manis bisa mengandung 150-300 kalori tanpa memberikan rasa kenyang yang berarti. Jangan lupa untuk mengecek kandungan gula di label informasi gizi.

Cara Puasa Agar Berat Badan Turun, Bukan Naik

Kalau tujuanmu ingin tetap fit atau bahkan menurunkan berat badan saat puasa, ini strategi yang bisa kamu terapkan:

1. Atur Total Kalori Harian

Puasa tetap bergantung pada keseimbangan energi. Kamu tetap perlu memperhatikan porsi makan. Karena itu, agar tidak mengalami kenaikan berat badan, Anda harus defisit kalori atau maintenance.

Pengaturan total kalori harian bisa dilakukan dengan:

  1. Mengetahui TDEE (bisa Anda hitung di tautan ini)
  2. Meal prep dengan baik, meal plan bisa konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik

2. Prioritaskan Protein saat Sahur dan Berbuka

Contoh sumber protein:

  • Telur
  • Dada ayam
  • Ikan
  • Tahu dan tempe
  • Greek yogurt

Protein membantu kenyang lebih lama dan menjaga massa otot.

Sumber serat seperti buah dan sayur juga bisa membantu menjaga kenyang terasa lebih lama.

3. Batasi Gorengan dan Gula

Gorengan dan gula tidak harus hilang sepenuhnya. Tapi batasi frekuensinya.

Misalnya:

  • Cukup 1 gorengan, bukan 4-5 gorengan ketika buka atau sahur
  • Ganti teh manis dengan air putih atau infused water
  • Kurangi sirup berlebihan
  • Batasi minuman bersoda

4. Tetap Aktif Bergerak

Kamu bisa mencoba:

  • Jalan kaki 20-30 menit sebelum berbuka
  • Latihan ringan setelah salat tarawih
  • Stretching atau bodyweight training ringan

Olahraga ringan tetap aman selama tidak berlebihan.

5. Perhatikan Pola Tidur

Kurang tidur bisa mengganggu hormon lapar (ghrelin) dan hormon kenyang (leptin). Akibatnya Anda jadi lebih mudah lapar dan sulit mengontrol makan.

Jangan begadang terlalu malam kecuali dengan tujuan ibadah.

Hati-Hati Surplus Kalori saat Puasa

Sudah puasa tapi berat badan malah naik bukan hal yang aneh. Penyebab utamanya biasanya bukan karena puasanya, melainkan pola makan dan gaya hidup, sehingga terjadi surplus kalori

Puasa bisa membantu menurunkan berat badan jika:

  • Kalori tetap terkontrol, sehingga terjadi defisit kalori
  • Protein cukup
  • Aktivitas fisik tetap ada
  • Asupan tinggi kalori seperti gula dan gorengan dibatasi

Jadi, kalau timbangan naik saat puasa, jangan langsung panik. Evaluasi pola makan dan aktivitasmu dulu. Dengan sedikit penyesuaian, puasa justru bisa jadi momen yang baik untuk memperbaiki komposisi tubuh.

Anda juga bisa konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik jika punya keluhan tersebut.

Tersedia dokter spesialis gizi klinik di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


39150-1200x800.webp

Telinga kemasukan serangga memang bikin panik, apalagi sensasinya yang tidak nyaman seperti ada yang bergerak di telinga dan ada gangguan pada pendengeran. Serangga tidak sengaja masuk ke telinga bisa terjadi saat tidur, beraktivitas di luar ruangan, atau berada di lingkungan lembap dan gelap.

Apa Jenis Serangga yang sering Masuk ke Telinga?

Umumnya, serangga kecil rawan masuk ke telinga

  • Nyamuk
  • Semut
  • Lalat kecil
  • Serangga yang aktif malam hari

Mengapa Serangga Bisa Masuk ke Telinga?

Berikut beberapa penyebab serangga bisa masuk ke telinga

  • Tertarik oleh panas tubuh
  • Tertarik cahaya saat malam
  • Lingkungan kamar lembap atau gelap
  • Tidur di lantai atau tanpa penutup telinga

Ciri-Ciri Telinga Kemasukan Serangga

Kondisi ini biasanya terasa sangat mengganggu dan bikin panik.Berikut ciri-ciri serangga masuk ke telinga:

a. Gejala Umum yang Dirasakan jika Serangga Masuk ke Telinga

  • Ada sensasi bergerak di telinga
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman
  • Suara berdengung atau gemerisik
  • Telinga terasa penuh
  • Panik atau cemas berlebihan (karena takut ada serangga yang masuk ke telinga)

b. Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai

  • Nyeri hebat dan tidak tertahankan
  • Keluar darah dari telinga
  • Pusing atau mual
  • Gangguan pendengaran mendadak
  • Nyeri menjalar ke kepala

Bahaya jika Serangga Masuk ke Telinga

Jika tidak ditangani dengan benar, serangga di telinga bisa memicu masalah serius. Antara lain:

1. Risiko Infeksi Telinga

Serangga membawa kuman dan bisa melukai saluran telinga saat bergerak, sehingga bisa memicu infeksi.

2. Risiko Luka pada Gendang Telinga

Gerakan serangga atau upaya mengeluarkan secara paksa bisa melukai gendang telinga.

3. Risiko Gangguan Pendengaran

Jika gendang telinga terluka atau terjadi infeksi karena serangga, pendengaran bisa terganggu.

Cara Mengeluarkan Serangga dari Telinga dengan Aman

Berikut cara mengeluarkan serangga dari telinga

1. Posisikan Kepala dengan Benar

  • Miringkan kepala ke sisi telinga yang kemasukan serangga
  • Biarkan serangga keluar sendiri bila masih hidup

2. Hindari Mengorek Telinga

  • Jangan pakai cotton bud, apalagi untuk mengorek telinga
  • Jangan masukkan benda tajam seperti penjepit rambut
  • Bisa mendorong serangga makin dalam

Lebih baik ke dokter spesialis THT secepatnya untuk mengeluarkan serangga.

Kapan Harus ke Dokter Spesialis THT?

Kalau upaya mengeluarkan serangga dari telinga secara mandiri tidak berhasil, segera minta bantuan medis, yaitu dokter spesialis THT.

Kondisi dimana Anda harus segera Dokter Spesialis THT

Serangga tidak kunjung keluar dari telinga, ditambah dengan kondisi:

  • Nyeri hebat
  • Telinga berdarah
  • Pendengaran menurun
  • Pusing atau mual

Dokter spesialis THT akan menggunakan alat khusus untuk mengeluarkan serangga dengan aman tanpa melukai telinga.

Cara Mencegah Telinga Kemasukan Serangga

Lebih baik mencegah daripada panik di tengah malam. Berikut cara agar serangga tidak masuk ke telinga.

1. Tips Pencegahan di Rumah

  • Gunakan kelambu saat tidur
  • Jaga kebersihan kamar
  • Tutup ventilasi yang terbuka
  • Hindari tidur di lantai, apalagi jika semut sering muncul di lantai Anda
  • Jangan tidur sambil bersender di dinding yang banyak/sering ada semutnya

2. Pencegahan Saat Beraktivitas di Luar

  • Pakai penutup telinga saat camping
  • Gunakan lotion anti-nyamuk
  • Hindari tidur di tempat terbuka tanpa pelindung
  • Jangan tidur di alam bebas tanpa proteksi telinga

Apakah Serangga yang Masuk ke Telinga bisa Tembus Sampai ke Otak?

Faktanya, struktur telinga memiliki gendang telinga yang menghalangi serangga masuk ke dalam otak. Jadi, serangga tidak akan masuk sampai ke otak.

Apakah Serangga di Telinga Bisa Keluar Sendiri?

Bisa, terutama jika serangga masih hidup dan telinga dimiringkan ke bawah. Namun, jika tidak kunjung keluar, segera ke dokter spesialis THT untuk pengeluaran serangga secara medis.

Lebih Baik ke Dokter Spesialis THT jika Serangga Masuk ke Telinga Anda

Telinga kemasukan serangga memang bikin panik, tapi umumnya tidak berbahaya jika ditangani dengan benar. Hindari mengorek telinga dan segera ke dokter spesialis THT jika muncul nyeri hebat, perdarahan, atau gangguan pendengaran.

Tersedia dokter spesialis THT di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2148495879-_1_-1200x800.webp

Kondom adalah alat kontrasepsi yang efektif untuk mencegah kehamilan dan penularan infeksi menular seksual (IMS). Namun, dalam beberapa kasus, kondom bisa tertinggal di dalam vagina setelah berhubungan intim. 

Kondisi ini cukup sering membuat panik, terutama jika Anda sedang tidak ada rencana untuk hamil.

Apa penyebab kondom tertinggal di dalam vagina dan bagaimana cara mengatasinya?

Kondisi Kondom Tertinggal di Dalam Vagina?

Kondom tertinggal di dalam vagina adalah kondisi ketika kondom terlepas dari penis dan tidak ikut keluar bersama penis setelah hubungan seksual selesai. 

Kondom bisa berada di dalam liang vagina dalam posisi terlipat atau menggulung.

Apakah Kondom yang Tertinggal di Dalam Vagina bisa Masuk ke Perut?

Jawabannya tidak, karena secara anatomi, vagina memiliki ujung tertutup (serviks), sehingga kondom tidak mungkin “hilang” atau masuk ke dalam perut. Namun, kondom yang tertinggal di dalam vagina tetap perlu dikeluarkan karena bisa menimbulkan risiko kesehatan.

Penyebab Kondom Tertinggal di Dalam Vagina

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kondom tertinggal di dalam vagina. Yaitu:

1. Ukuran Kondom Tidak Sesuai

Kondom yang terlalu besar atau longgar lebih mudah terlepas ketika penetrasi atau saat penis ditarik keluar setelah ejakulasi.

2. Kehilangan Ereksi Setelah Ejakulasi

Jika ereksi berkurang sebelum ejakulasi, maka kondom bisa tertinggal di dalam vagina. Kasus yang sama jika kehilangan ereksi setelah ejakulasi, tetapi penis tidak kunjung ditarik dari dalam vagina.

3. Kurang Pelumas atau Terlalu Licin

Kurangnya pelumas meningkatkan gesekan, sementara pelumas berlebihan di bagian luar kondom dapat membuat kondom mudah melorot.

4. Posisi Hubungan Seksual Tertentu

Beberapa posisi hubungan seksual dengan penetrasi dalam atau perubahan sudut yang ekstrem bisa meningkatkan risiko kondom terlepas.

Risiko Kondom Tertinggal di Dalam Vagina

Walau sering tidak langsung berbahaya, kondom yang tertinggal tetap berisiko jika dibiarkan. Risiko ini tidak hanya risiko hamil yang tidak direncanakan.

1. Risiko Infeksi

Kondom yang tertinggal terlalu lama dapat memicu:

  • Keputihan tidak normal
  • Bau tidak sedap
  • Infeksi vagina atau bakteri

2. Risiko Kehamilan yang Tidak Direncanakan

Jika kondom tertinggal di dalam vagina pada kasus pria sudah ejakulasi, sperma bisa keluar dari kondom dan meningkatkan risiko kehamilan.

3. Risiko Infeksi Menular Seksual (IMS)

Jika kondom terlepas, termasuk tertinggal di dalam vagina, perlindungan terhadap IMS menjadi tidak optimal.

Cara Mengeluarkan Kondom yang Tertinggal di Dalam Vagina

Jika Anda menyadari kondom tertinggal di dalam vagina, tetap tenang dan lakukan langkah berikut.

1. Cara Mengeluarkan Sendiri dengan Aman

  • Cuci tangan terlebih dahulu
  • Berjongkok atau duduk di toilet
  • Gunakan jari yang bersih untuk meraih dan menarik kondom secara perlahan
  • Jangan menggunakan benda tajam atau alat asing

Cara ini bisa dilakukan sendiri atau dibantu pasangan.

Jika sulit untuk mengeluarkan/mengambil sendiri, segeralah ke dokter spesialis obgyn.

Kapan Harus ke Dokter terkait Masalah Kondom Tertinggal di Dalam Vagina?

Segera periksa ke dokter atau bidan jika:

  • Kondom tidak bisa dijangkau dengan jari
  • Muncul nyeri, perdarahan, atau bau menyengat
  • Kondom tertinggal di dalam vagina dengan durasi lebih dari 24 jam
  • Ada kekhawatiran kehamilan atau IMS

Tenaga medis dapat mengeluarkan kondom dengan alat khusus secara cepat dan aman.

Apakah Perlu Kontrasepsi Darurat jika Kondom Tertinggal di Dalam?

1. Kondom Tertinggal di Dalam Vagina dan Risiko Hamil

Jika kondom tertinggal setelah ejakulasi dan tidak direncanakan untuk hamil, pertimbangkan kontrasepsi darurat (morning after pill) yang digunakan maksimal 3-5 hari setelah hubungan seksual, tergantung jenisnya. Namun, obat ini hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Konsultasi ke dokter spesialis obgyn untuk mendapatkan saran terkait kondisi ini.

2. Perlukah Tes Kehamilan atau IMS jika Kondom Tertinggal di Dalam?

Tidak harus, sebaiknya tes kehamilan sebaiknya dilakukan jika terlambat haid dan tes IMS (infeksi menular seksual) seperti VDRL disarankan untuk dilakukan jika hubungan seksualnya berisiko atau muncul gejala penyakit tertentu,

Cara Mencegah Kondom Tertinggal di Dalam Vagina

Lebih baik mencegah. Berikut cara agar kondom tidak tertinggal di dalam vagina.

1. Pilih Ukuran Kondom yang Tepat

Gunakan kondom yang sesuai ukuran dan terasa pas saat digunakan. Jika kondomnya longgar atau terlalu besar, lebih baik tidak digunakan. Coba tes berbagai kondom untuk menemukan ukuran yang pas.

2. Pegang Pangkal Kondom Saat Menarik Penis Keluar

Memegang pangkal kondom ketika mau orgasme/ejakulasi bisa dilakukan membantu mencegah kondom tertinggal di dalam vagina. Namun, hati-hati jika kuku tajam/panjang, kondomnya bisa sobek/bocor.

3. Gunakan Pelumas dengan Benar

Gunakan pelumas berbahan dasar air dan secukupnya, hindari pelumas berlebihan di bagian luar kondom.

4. Periksa Kondom Setelah Berhubungan

Tentu saja, pastikan bahwa Anda selalu mengecek apakah kondom keluar utuh setelah selesai berhubungan intim. Tidak hanya memastikan kondomnya bocor atau tidak.

Apakah jika Kondom Tertinggal di dalam Vagina, maka Wanita Pasti akan Hamil?

Jawabannya belum tentu karena terdapat masa subur dan masa tidak subur bagi wanita. Meski demikian, akan selalu ada peluang kehamilan jika ejakulasi dilakukan di dalam vagina, saat hubungan seksualnya dilakukan di masa subur atau pun tidak subur karena sperma bisa hidup di dalam vagina untuk beberapa hari. 

Untuk konsultasi masalah ini, bisa dilakukan dengan dokter spesialis obgyn.

Kondom Tertinggal di dalam Vagina bisa Ditangani

Kondom tertinggal di dalam vagina memang bisa membuat panik, apalagi jika sedang berencana untuk menunda dalam memiliki keturunan, tetapi bukan kondisi darurat jika ditangani dengan benar. 

Kondom yang tertinggal di dalam vagina tidak akan masuk ke dalam perut, namun tetap perlu dikeluarkan secepatnya untuk mencegah infeksi dan risiko kehamilan. Jika kesulitan untuk mengambil kondomnya atau muncul keluhan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis obgyn.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis obgyn. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


522.webp

Terdapat perbedaan pendapat tentang suntik di bulan puasa, apakah membatalkan puasa atau tidak. Untuk suntik vitamin di bulan puasa, jadi kapan waktu yang pas? Apakah ada tipsnya? 

Waktu Terbaik untuk Suntik Vitamin/Immune Booster di Bulan Puasa: Di Malam Hari

Di bulan puasa, Anda bisa melakukan suntik vitamin/immune booster di malam hari, tepatnya 1-2 jam setelah berbuka puasa. Jadi jam 7-8 malam adalah waktu ideal. Hal ini karena suntik vitamin/immune booster masih terdapat perbedaan pendapat apakah membatalkan puasa atau tidak. Jadi, lebih aman untuk suntik vitamin/immune booster setelah berbuka puasa.

Jadi, Anda bisa melakukan suntik vitamin/immune booster setelah selesai salat isya/salat tarawih. 

Tips Suntik Vitamin/Immune Booster di Bulan Puasa

a. Buka Puasa dengan Segera ketika Masuk Waktunya

Karena harus makan dulu 1-2 jam sebelum suntik vitamin/immune booster, maka segera berbuka puasa ketika waktunya tiba tanpa harus menunggu. 

b. Mencari Klinik yang Menyediakan Suntik Vitamin/Immune Booster di Malam Hari

Tidak semua klinik buka sampai malam. Karena itu, cari klinik yang menyediakan suntik vitamin/immune booster di malam hari. Primecare Clinic termasuk dalam klinik yang menyediakan layanan tersebut (cabang Panglima Polim dan Tebet, Jakarta Selatan).

Suntik Vitamin/Immune Booster bisa Anda Lakukan setelah Berbuka Puasa

Jadi, Anda masih bisa suntik vitamin/immune booster di bulan puasa. Amannya, dilakukan setelah jam berbuka, 1-2 jam setelah berbuka puasa. Tidak hanya di bulan Ramadan, tips ini juga bisa Anda terapkan jika menerapkan puasa lain seperti puasa Senin/Kamis atau puasa lainnya.

Di Primecare Clinic, tersedia layanan suntik vitamin/immune booster. Layanan ini tersedia di klinik (cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, dan Tebet, Jakarta Selatan) serta homecare (tindakan dilakukan di rumah Anda). Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2150456140-1-1200x800.webp

Tekanan darah turun setelah olahraga sering membuat sebagian orang merasa pusing, lemas, atau bahkan hampir pingsan.

Sebenarnya tekanan darah turun setelah olahraga adalah fenomena yang cukup umum, terutama setelah aktivitas fisik intens, misalnya race lari jarak 5k atau 10k yang umumnya pelari berlari di zone 4 sampai zone 5. Namun, penting untuk memahami apakah tekanan darah turun setelah olahraga masih normal atau justru perlu diwaspadai.

Berikut penjelasan lengkap dari tekanan darah turun setelah olahraga.

Fenomena Tekanan Darah Turun Setelah Olahraga

Tekanan darah turun setelah olahraga dikenal sebagai hipotensi pasca-olahraga. Kondisi ini terjadi ketika tekanan darah menurun secara signifikan setelah berhenti beraktivitas fisik, akibat pelebaran pembuluh darah dan perubahan aliran darah.

Contoh kasusnya, Anda mungkin pernah mengecek tekanan darah setelah race lari, kemudian mini MCU, dan menemukan bahwa tekanan darah menurun.

Penyebab Tekanan Darah Turun Setelah Olahraga

Berikut ini adalah faktor-faktor yang dapat menyebabkan tekanan darah turun setelah olahraga.

1. Pelebaran Pembuluh Darah

Saat berolahraga, pembuluh darah melebar untuk meningkatkan aliran darah ke otot. 

Jadi, setelah olahraga selesai, pembuluh darah yang belum menyempit kembali dengan cepat, sehingga tekanan darah bisa menurun. Tekanan dipengaruhi area permukaan, karena itu makin lebar pembuluh darah, semakin kecil tekanan darahnya.

2. Pendinginan yang Tidak Cukup

Berhenti olahraga secara tiba-tiba, apalagi tanpa pendinginan dapat menyebabkan darah menumpuk di kaki, sehingga menurunkan tekanan darah. Anda bisa melakukan elevasi agar darah bisa kembali ke jantung.

Lakukan pendinginan dengan benar setelah selesai olahraga. Tidak hanya untuk tujuan agar tekanan darah tidak menurun, tetapi juga mencegah terjadinya cedera.

3. Dehidrasi

Kekurangan cairan akibat banyak berkeringat dapat mengurangi volume darah. Akibatnya, tekanan darah menurun.

4. Olahraga Terlalu Berat atau Terlalu Lama

Aktivitas fisik yang melebihi kemampuan tubuh dapat memicu penurunan tekanan darah setelah olahraga. 

Karena itu, penting untuk memantau detak jantung per menit Anda. Jika Anda tidak punya jam tangan untuk memantau detak jantung per menit, gunakan skala RPE. Skala RPE bernilai 1-10 dengan 1 adalah rasa yang paling tidak capek dan 10 adalah skala di mana Anda sangat lelah bahkan tidak bisa berbicara saat beraktivitas fisik.

5. Kondisi Medis Tertentu

Anemia, gangguan jantung, atau penggunaan obat tekanan darah dapat meningkatkan risiko hipotensi pasca-olahraga. Karena itu, ada baiknya melakukan MCU atau cek lab sebelum berolahraga, apalagi jika Anda baru mulai berolahraga atau ingin mengikuti event olahraga tertentu.

Gejala Tekanan Darah Turun Setelah Olahraga

Penurunan tekanan darah dapat menimbulkan berbagai keluhan.

1. Pusing 

Gejala paling umum adalah pusing. Penyebabnya adalah aliran darah ke otak yang menurun sementara.

2. Lemas dan Berkeringat Dingin

Tubuh terasa lemah dan muncul keringat dingin meski sudah berhenti berolahraga. Ini adalah gejala tekanan darah turun.

3. Pandangan Kabur

Ketika tekanan darah turun terlalu berlebihan, penglihatan bisa menjadi gelap atau berkunang-kunang. Jika Anda masih beraktivitas fisik ketika ada gejala ini, lebih baik stop dan cari pertolongan medis.

4. Mual atau Hampir Pingsan

Pada kondisi yang lebih berat, seseorang bisa merasa mual hingga hampir kehilangan kesadaran. Jangan lanjutkan olahraga jika mengalami gejala ini.

Cara Mengatasi Tekanan Darah Turun Setelah Olahraga

Beberapa langkah berikut dapat membantu mengatasi dan mencegah kondisi ini.

1. Lakukan Pendinginan Secara Bertahap

Jangan langsung berhenti atau berhenti mendadak setelah olahraga. Coba lakukan jalan santai dan pendinginan selama 5-10 menit.

2. Cukupi Asupan Cairan

Minum air putih sebelum, selama, dan setelah olahraga untuk mencegah dehidrasi. Minuman isotonik juga bisa menjadi opsi, terutama jika olahraganya bersifat endurance

3. Duduk atau Berbaring Saat Pusing

Jika merasa pusing, segera duduk atau berbaring dengan posisi kaki lebih tinggi atau dengan kata lain elevasi. 

4. Atur Intensitas Olahraga

Sesuaikan jenis dan durasi olahraga dengan kondisi tubuh dan tingkat kebugaran. Jangan langsung HIIT jika Anda baru mulai berolahraga.

5. Jaga Pola Makan

Pola makan berpengaruh terhadap tekanan darah.

6. Ke Dokter atau Minum Obat

Anda bisa juga ke dokter atau minum obat. Racikan alami penurun darah tinggi bisa dipakai jika dokter merekomendasikan.

Kapan Harus ke Dokter Terkait Tekanan Darah Turun setelah Olahraga?

Segera konsultasikan ke dokter jika tekanan darah turun setelah olahraga:

  • Terjadi berulang kali
  • Ada riwayat disertai pingsan atau blackout
  • Nyeri dada atau sesak napas
  • Memiliki riwayat penyakit jantung atau tekanan darah

Untuk saat race lari, Anda bisa mengunjungi tenda terdekat jika mengalami tekanan darah menurun seperti terjadi mual, pusing, dan pandangan kabur. Jangan paksakan diri, dengarkan sinyal dari tubuh Anda.

Opsi dokter yang bisa Anda kunjungi jika ada keluhan tekanan darah turun setelah olahraga, antara lain:

Stop Olahraga jika Gejala Tekanan Darah Turun Mulai Muncul

Tekanan darah turun setelah olahraga umumnya masih normal dan dapat dicegah dengan pendinginan yang tepat serta asupan cairan yang cukup. Namun, jika kondisi ini sering terjadi atau menimbulkan gejala berat, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan tidak ada masalah kesehatan yang serius.

Lebih lanjut, jika gejala ini terjadi saat Anda berolahraga atau kompetisi seperti race, ada baiknya berhenti terlebih dahulu dan mencari pertolongan medis demi keselamatan. 

Di Primecare Clinic, tersedia dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter spesialis penyakit jantung. Anda bisa berkonsultasi dengan Anda terkait jantung serta tekanan darah. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


16829-1-1200x801.webp

Pemeriksaan fisik oleh dokter merupakan langkah penting dalam dunia medis untuk menilai kondisi kesehatan seseorang yang umumnya dilakukan setelah obrolan sebentar antara dokter dengan pasien.

Prosedur pemeriksaan fisik biasanya dilakukan baik saat pemeriksaan rutin maupun ketika pasien mengalami keluhan tertentu, serta bagian dari MCU (medical check up). Dengan pemeriksaan fisik, dokter dapat mendeteksi masalah kesehatan sejak dini dan menentukan tindakan medis yang tepat.

Apa Itu Pemeriksaan Fisik oleh Dokter?

Pemeriksaan fisik adalah evaluasi menyeluruh terhadap kondisi tubuh pasien yang dilakukan secara langsung oleh dokter. Biasanya, pemeriksaan ini adalah langkah awal yang dilakukan oleh dokter, sebelum pemeriksaan lanjutan.

Anda pasti pernah diketuk lututnya atau perutnya oleh dokter, itu adalah bagian dari pemeriksaan fisik.

Tujuan Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik memiliki beberapa tujuan utama, antara lain:

  • Menilai kondisi kesehatan secara umum
  • Mengidentifikasi tanda-tanda penyakit
  • Menentukan diagnosis awal
  • Memantau perkembangan penyakit atau efektivitas pengobatan

Kapan Pemeriksaan Fisik Dilakukan?

Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dalam berbagai kondisi oleh dokter, misalnya:

  • MCU (medical check up)
  • Saat pasien mengalami keluhan tertentu, misalnya dada kiri sakit
  • Sebelum tindakan medis atau operasi
  • Evaluasi lanjutan pada pasien dengan penyakit kronis

Tahapan Pemeriksaan Fisik oleh Dokter

Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis agar hasilnya akurat dan menyeluruh. Berikut ini adalah tahapan pemeriksaan fisik:

1. Anamnesis (Wawancara Medis)

Sebelum pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan anamnesis atau wawancara, wawancara ini akan menggali:

  • Keluhan utama pasien
  • Riwayat penyakit yang sebelumnya pernah diderita
  • Riwayat penyakit pada keluarga jika ada
  • Gaya hidup serta kebiasaan

2. Pemeriksaan Tanda Vital

Tanda vital merupakan indikator dasar kondisi tubuh pasien yang meliputi:

  • Tekanan darah
  • Denyut nadi
  • Suhu tubuh
  • Laju pernapasan

3. Pemeriksaan Fisik Menyeluruh

Pada tahap ini, dokter akan memeriksa bagian tubuh tertentu sesuai kebutuhan medis. Beberapa pemeriksaannya adalah pada:

a. Pemeriksaan Kepala dan Leher

Dokter memeriksa mata, telinga, hidung, mulut, dan leher untuk mendeteksi infeksi, pembengkakan, atau kelainan lainnya.

b. Pemeriksaan Dada dan Paru-Paru

Pemeriksaan ini bertujuan menilai fungsi pernapasan dan kondisi jantung menggunakan beberapa metode, yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.

c. Pemeriksaan Perut

Dokter akan memeriksa perut untuk mengetahui kondisi organ dalam seperti hati, limpa, dan usus. Anda pasti pernah ditekan, ini adalah bentuk pemeriksaan abdomen, yaitu perkusi abdomen.

d. Pemeriksaan Ekstremitas dan Saraf

Pemeriksaan dilakukan untuk menilai kekuatan otot, refleks, koordinasi, serta adanya pembengkakan atau kelainan pada tangan dan kaki.Contohnya adalah mengetuk lutut untuk mengecek refleks (refleks patella).

Manfaat Pemeriksaan Fisik Secara Rutin

Melakukan pemeriksaan fisik secara rutin memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Yaitu:

1. Deteksi Dini Penyakit

Pemeriksaan fisik membantu menemukan tanda awal penyakit sebelum muncul gejala yang serius. MCU bisa melakukan hal ini, tetapi sebelum MCU, pastinya akan ada pemeriksaan fisik dulu oleh dokter agar MCU-nya tepat.

2. Pencegahan Komplikasi

Dengan diagnosis lebih cepat seperti dengan pemeriksaan fisik, risiko komplikasi dapat diminimalkan melalui penanganan yang tepat.

3. Pemantauan Kesehatan Jangka Panjang

Pemeriksaan fisik secara rutin memungkinkan dokter memantau perubahan kondisi kesehatan dari waktu ke waktu.

Pemeriksaan Fisik itu Penting

Pemeriksaan fisik oleh dokter merupakan langkah penting dalam menjaga dan memantau kesehatan tubuh. 

Jadi, jangan heran jika Anda akan mendapatkan ketukan di lutut, ketukan di perut, pengecekan suhu, dsb. Karena itu adalah bagian dari pemeriksaan fisik.


2148113554-_1_-1200x801.webp

Berpuasa di bulan Ramadan berarti menahan haus dan lapar dari waktu subuh hingga magrib. Meski tidak minum dalam periode tersebut, menjaga kecukupan cairan tubuh (hidrasi) sangat penting supaya tubuh tetap sehat, berenergi, dan tidak mengalami dehidrasi selama beribadah dan beraktivitas. Berikut tips praktis untuk hidrasi ketika puasa Ramadan.

Mengapa Hidrasi Itu Penting Selama Puasa?

Saat berpuasa, tubuh tidak menerima asupan cairan selama lebih dari 12 jam (untuk di Indonesia). Ini bisa membuat tubuh kehilangan cairan lewat keringat, napas, dan urin. Kekurangan cairan yang tidak diatasi dapat menyebabkan:

  • Rasa haus berlebihan
  • Mulut kering, kepala pusing
  • Urine berwarna gelap
  • Kelelahan atau lemas
  • Gangguan konsentrasi
    (beberapa tanda ini juga disebutkan dalam literatur Kemenkes) (Keslan)

Karena itu, menjaga hidrasi sejak berbuka puasa di waktu magrib hingga waktu sahur (biasanya dekat azan subuh) menjadi sangat penting untuk kesehatan selama Ramadan.

Kebutuhan Cairan Tubuh saat Puasa Ramadan

Menurut pedoman dari Kemenkes, tubuh tetap mendapat asupan cairan setidaknya 8 gelas air per hari selama Ramadan. Asupan ini bisa dicapai dengan strategi minum yang teratur di sela waktu berbuka hingga sahur.

Tips Minum 2-4-2

Kemenkes menyarankan pola 2-4-2 untuk membantu tubuh tetap terhidrasi meski waktu minum terbatas, 2-4-2 adalah:

  • 2 gelas air putih saat berbuka puasa
  • 4 gelas air putih di malam hari setelah berbuka hingga sebelum tidur. 2 gelas saat makan dan 2 gelas sebelum tidur
  • 2 gelas air putih saat sahur 


Pola 2-4-2 bisa membantu memenuhi kebutuhan cairan harian sekitar 8 gelas.

Pola tersebut juga membantu tubuh menyerap air secara bertahap, hingga mengurangi risiko gangguan pencernaan atau kembung.

Tips Praktis Menjaga Hidrasi Saat Puasa

Berikut beberapa langkah sederhana namun efektif yang kamu bisa lakukan.

1. Minum Teratur, Bukan Sekali Banyak

Jangan langsung minum dalam jumlah banyak. Sebaiknya bagi asupan airmu secara bertahap dalam beberapa waktu jika sudah berbuka hingga sebelum sahur. Ini membantu tubuh menyerap air lebih baik dan menjaga keseimbangan cairan. 

Ingat pola 2-4-2, pada 4, dibagi lagi menjadi 2 gelas saat makan malam dan 2 gelas sebelum tidur.

2. Pilih Air Putih dan Cairan Sehat

Air putih adalah pilihan terbaik untuk hidrasi. Kamu juga bisa menambahkan cairan lain yang menyehatkan, seperti:

  • Air kelapa (mengandung elektrolit alami)
  • Jus buah tanpa gula tambahan
  • Sup hangat yang kaya air

3. Batasi Minuman Berkafein/Kandungan Gula Tinggi

Btasi minuman berkafein seperti kopi dan teh atau minuman dengan kandungan gula tinggi karena bisa meningkatkan risiko dehidrasi. 

4. Konsumsi Makanan Kaya akan Kandungan Air

Makanan tertentu dapat membantu hidrasi, yaitu makanan yang mengandung banyak air, contohnya adalah:

  • Buah-buahan seperti semangka dan melon
  • Sayuran seperti timun
  • Makanan berkuah seperti sup dan soto 

Konsumsi makanan dengan kandungan air yang tinggi ini saat sahur dan berbuka dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh. 

5. Hindari Makanan Tinggi Garam dan Gula

Makanan tinggi garam dan tinggi  gula dapat membuat tubuh cepat merasa haus.

 Mengurangi makanan dengan tipe seperti ini bisa mengurangi rasa haus yang berlebihan selama siang hari.

6. Hindari Aktivitas Berat di Siang Hari

Aktivitas fisik berat di bawah terik matahari dapat mempercepat penguapan cairan tubuh. 

Jika kamu ingin beraktivitas fisik, pilihlah ringan hingga sedang seperti jalan santai menjelang berbuka atau setelah maghrib. Namun, untuk pekerjaan yang memerlukan tenaga fisik seperti kuli angkut, pekerja lapangan, dsb., sebaiknya berkonsultasi dengan dokter agar bisa mendapatkan saran terbaik terkait hidrasi agar pekerjaan tidak terganggu.

Kalau Anda olahraga malam seperti setelah salat Tarawih, Anda bisa mengonsumsi minuman isotonik setelah berolahraga, terutama jika olahraganya adalah kardio seperti lari.

Cara Mengenali Dehidrasi saat Puasa

Meski sudah berusaha menjaga cairan, tubuh bisa tetap mengalami dehidrasi jika asupan tidak sesuai kebutuhan, termasuk saat puasa. Beberapa gejala dehidrasi saat puasa adalah:

  • Mulut dan bibir sangat kering
  • Urin berwarna kuning gelap
  • Kepala pusing atau lemas
  • Gejala lelah berlebihan

Jika mengalami gejala ini, perhatikan asupan cairan saat malam hari/sesudah berbuka dan ketika sahur.

Terapkan Pola 2-4-2 Sebagai Acuan

Menjaga asupan cairan tubuh masih sangat bisa dilakukan saat puasa Ramadan. Terapkan pola 2-4-2, makan makanan dengan kadar air tinggi, dan batasi konsumsi minuman berkafein. 

Dengan strategi hidrasi yang tepat, Anda bisa beribadah dan beraktivitas dengan maksimal.


57409-_1_-1200x494.webp

Mengikuti race marathon, baik itu full marathon atau pun half marathon membutuhkan persiapan fisik yang matang. Selain latihan dan asupan zat gizi yang benar, medical check up menjadi langkah penting untuk memastikan tubuh siap untuk marathon. 

Mengapa Medical Check Up Penting Sebelum Marathon?

Marathon adalah olahraga endurance dengan durasi yang sangat panjang. Jika Anda berlari dengan pace 7 kecil saja saat full marathon, maka Anda kemungkinan finish dalam waktu 5 jam. Tanpa kondisi tubuh yang optimal, risiko cedera hingga kejadian medis serius bisa meningkat.

1. Mencegah Risiko Serangan Jantung Saat Lari

Bisa ada peluang kasus kolaps saat full marathon disebabkan gangguan jantung yang tidak terdeteksi. Medical check up membantu menilai fungsi jantung sebelum tubuh dipaksa bekerja maksimal.

2. Menilai Kesiapan Fisik Secara Menyeluruh

Tidak semua orang yang rutin lari, maka otomatis siap untuk marathon. Pemeriksaan medis memastikan kondisi darah, paru-paru, ginjal dan organ vital aman untuk marathon.

3. Memberi Rekomendasi Latihan yang Lebih Aman

Hasil medical check up dapat menjadi dasar dokter untuk memberi saran intensitas latihan, waktu istirahat, dan target lomba yang realistis. 

Listen to your body dengan MCU.

Siapa yang Wajib Melakukan Medical Check Up Sebelum Marathon?

Meski dianjurkan untuk semua pelari, ada kelompok tertentu yang sangat disarankan melakukan pemeriksaan medis agar race bisa dilakukan dengan optimal dan meminimalkan risiko:

1. Pelari Pemula atau Pertama Kali Ikut Marathon

Pelari pemula umumnya belum mengenal batas kemampuan tubuhnya. Medical check up bisa membantu dalam mengurangi risiko overtraining dan cedera serius. Terutama ketika ingin mendaftar half atau full marathon.

2. Pelari Usia di Atas 35 Tahun

Risiko penyakit jantung meningkat seiring usia, sehingga pemeriksaan kesehatan menjadi langkah krusial sebelum mengikuti lomba jarak jauh. Tentu kita menginginkan finish strong, bukan kolaps karena masalah jantung ketika race. Jadi, untuk pelari, terutama kategori master, sebaiknya MCU sebelum lari.

3. Pelari dengan Riwayat Penyakit Tertentu

Jika memiliki riwayat hipertensi, diabetes, asma, atau penyakit jantung, maka medical check up sebelum marathon wajib dilakukan demi keamanan. 

Anda tentu ingin berakhir di garis finish, bukan berakhir DNF di ambulans akibat penyakit yang tidak terdeteksi karena tidak MCU terlebih dahulu.

Jenis Pemeriksaan Medical Check Up untuk Pelari Marathon

Paket medical check up untuk pelari biasanya disesuaikan dengan kebutuhan olahraga endurance. Berikut ini beberapa MCU yang umumnya dilakukan untuk pelari:

1. Pemeriksaan Jantung (EKG dan Treadmill Test)

EKG menilai aktivitas listrik jantung, sementara treadmill test mengevaluasi respons jantung saat diberi beban fisik. 

2. Tes Darah Lengkap

Tes darah membantu mendeteksi anemia, gangguan elektrolit, kadar gula darah, kolesterol, dan fungsi ginjal.

Ingat bahwa lari half marathon dan full marathon itu durasinya panjang. Pasti akan berpengaruh ke organ seperti jantung, hati, dan ginjal.

3. Pemeriksaan Paru dan Pernapasan

Tes fungsi paru penting untuk memastikan kapasitas oksigen cukup selama lari jarak jauh. 

4. Pemeriksaan Tekanan Darah dan Indeks Massa Tubuh

Hipertensi dan berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko cedera serta komplikasi saat lomba. Jadi, pemeriksaan ini penting untuk dilakukan.

5. Tes VO2Max

Tes VO2max biasanya juga dilakukan untuk pelari. Tes ini berbeda dengan treadmill test meski umumnya sama-sama dilakukan di treadmill.

Kapan Waktu Ideal Medical Check Up Sebelum Marathon?

1. 4-8 Minggu Sebelum Hari Perlombaan

Rentang waktu 4-8 minggu sebelum hari perlombaan adalah waktu ideal untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki kondisi kesehatan bila ditemukan masalah kesehatan. 

Jangan sampai sudah dekat hari h justru baru MCU.

2. Ulangi Pemeriksaan Jika Ada Keluhan

Jika muncul gejala seperti nyeri dada, sesak napas, atau pusing saat latihan, pemeriksaan ulang sebaiknya dilakukan, terutama jika dokter berkata demikian setelah konsultasi.

Tips Menjalani Medical Check Up Sebelum Marathon

Agar hasil MCU akurat, berikut tips yang bisa Anda lakukan:

1. Hindari Latihan Berat Sehari Sebelum MCU

Latihan intens dapat memengaruhi hasil tes darah dan jantung. Jadi, jangan tempo run, lactate treshold, atau interval run H-1 MCU ya.

2. Sampaikan Riwayat Latihan, Cedera, dan Target Marathon

Informasi ini membantu dokter menilai apakah target lomba sesuai dengan kondisi tubuh. Jadi, jangan sampai memaksakan diri untuk mencapai target yang tidak realistis. Yang terpenting adalah finish strong.

3. Ikuti Rekomendasi Dokter dengan Disiplin

Jika dokter menyarankan penyesuaian latihan atau istirahat, sebaiknya Anda patuhi demi keselamatan dan agar tujuan marathon tercapai.

MCU sebelum Marathon Itu Penting

Medical check up sebelum marathon bukan hanya formalitas, tetapi langkah penting untuk menjaga keselamatan dan performa pelari, bahkan kalau bisa harus dilakukan, terutama untuk level pemula atau pelari rekreasional.

MCU dilakukan bukan karena khawatir berlebihan, tetapi bentuk tanggung jawab agar bisa finish strong ketika race nanti.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia paket medical check up. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.