545-_1_-1200x800.webp

Eksim atau dermatitis adalah kondisi peradangan kulit yang sering menyebabkan gatal, kemerahan, kulit kering, hingga bersisik. Pastinya kondisi ini sangat tidak nyaman, apalagi jika dilihat di cermin.

Pertanyaannya, kalau periksa eksim harus ke dokter apa? Berikut jawabannya! 

Dokter yang Tepat untuk Menangani Kasus Eksim

Jawaban paling tepat untuk pertanyaan kalau periksa eksim harus ke dokter apa adalah dokter spesialis kulit dan kelamin (SpKK) dan dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika (Sp.DVE)

1. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Sp.KK) dan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika (Sp.DVE)

Dokter Sp.KK dan Sp.DVE memiliki keahlian khusus dalam menangani berbagai penyakit kulit, termasuk eksim. Dokter spesialis tersebut dapat:

  • Menentukan jenis eksim yang dialami
  • Mengidentifikasi faktor penyebab eksim
  • Memberikan obat topikal atau oral yang sesuai dengan kondisi eksim
  • Menyusun rencana perawatan penanganan eksim untuk jangka panjang 

Apakah Bisa ke Dokter Umum Terlebih Dahulu untuk Konsultasi Terkait Eksim?

Ya, Anda bisa memulai pemeriksaan ke dokter umum, terutama jika gejala eksim ini masih ringan. Dokter umum dapat memberikan pengobatan awal dan akan merujuk ke dokter kulit jika:

  • Eksim tidak kunjung membaik
  • Gejala eksim semakin parah
  • Eksim sering kambuh
  • Eksim mulai mengganggu aktivitas sehari-hari

Kapan Harus Segera Periksa ke Dokter terkait Eksim?

1. Eksim Semakin Parah dan Tidak Membaik

Jika keluhan tidak membaik setelah perawatan mandiri atau obat bebas atau gejalanya semakin parah, sebaiknya segera konsultasi ke dokter spesialis kulit. 

2. Muncul Gejala Infeksi

Gejala infeksi meliputi:

  • Nanah
  • Nyeri hebat
  • Demam
  • Kulit terasa hangat dan bengkak

Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera. Jangan tunda untuk segera ke dokter spesialis kulit.

3. Kasus Eksim pada Anak dan Bayi

Eksim pada bayi dan anak sebaiknya ditangani langsung oleh dokter agar terapi aman dan sesuai usia.

Jangan Ragu untuk Ke Dokter untuk Menangani Eksim

Untuk menangani eksim, Anda bisa ke dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK) atau dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika (Sp.DVE). Namun, Anda bisa ke dokter umum dulu jika gejalanya masih ringan. 

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK) di cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dan dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika (Sp.DVE) di cabang Tebet, Jakarta Selatan. Klik tautan ini untuk konsultasi lebih lanjut!


1303-1200x801.webp

Benjolan di leher sering menimbulkan kekhawatiran pada diri, terutama jika bisulnya tidak kunjung hilang, apalagi dalam waktu yang lama. 

Masalahnya, harus ke dokter apa jika ada benjolan di leher? Berikut jawabannya, jangan khawatir ya!

Harus ke Dokter Apa Jika Ada Benjolan di Leher?

Pemilihan dokter bergantung pada hasil pemeriksaan awal dan penyebab dari benjolannya. Berikut daftar dokter yang bisa Anda kunjungi jika terdapat benjolan di leher Anda.

1. Dokter Umum

Dokter umum merupakan pilihan pertama untuk pemeriksaan benjolan di leher. 

Dokter umum akan melakukan pemeriksaan awal dan memberikan rujukan ke dokter spesialis bila diperlukan.

2. Dokter Spesialis THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan)

Dokter spesialis THT menangani benjolan yang berkaitan pada leher di bagian samping. 

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika benjolan diduga penyebabnya adalah penyakit yang bersifat sistemik, infeksi kronis, atau terjadi gangguan kekebalan tubuh, maka dokter spesialis penyakit dalam atau internis akan melakukan evaluasi lebih lanjut terkait bisulnya.

4. Dokter Spesialis Bedah

Dokter spesialis bedah diperlukan jika benjolan mengalami kasus berikut ini:

  1. Tidak kunjung mengecil
  2. Terus membesar, 
  3. Membutuhkan tindakan biopsi dan pengangkatan

5. Dokter Spesialis Onkologi

Apabila karena bisul ini terdapat kecurigaan adanya kanker leher, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis onkologi untuk penanganan khusus.

Apakah Benjolan di Leher Berbahaya?

Tidak semua benjolan di leher berbahaya. Sebagian besar disebabkan oleh infeksi dan dapat sembuh dengan pengobatan yang tepat. Namun, benjolan yang menetap atau memburuk tetap perlu evaluasi medis.

Karena argumen inilah, lebih baik jika ada benjol di leher, konsultasi ke dokter umum dulu untuk penanganan awal.

Ciri-Ciri Benjolan di Leher yang Perlu Diwaspadai, sehingga Anda perlu ke Dokter

Segera periksakan diri ke dokter jika benjolan di leher memiliki ciri-ciri berikut ini:

  • Tidak hilang lebih dari 2-3 minggu
  • Bertambah besar
  • Terasa keras
  • Sulit untuk digerakkan
  • Tidak ada sakit atau nyeri, tetapi ada terus
  • Disertai demam berkepanjangan, penurunan berat badan, atau keringat di malam hari
  • Menyebabkan kesulitan menelan

Jangan Ragu untuk Konsultasi Terkait Bisul di Leher

Jika Anda mengalami benjolan di leher dan bertanya harus ke dokter apa jika ada benjolan di leher, sebaiknya kunjungi dokter umum terlebih dahulu untuk pemeriksaan awal. Selanjutnya, dokter umum akan merujuk ke dokter spesialis yang sesuai dengan diagnosa yang mereka lakukan. Pemeriksaan bisul yang mencurigakan akan membantu mencegah risiko penyakit yang lebih serius.

Tersedia Dokter Umum dan Dokter Spesialis di Primecare Clinic

Saat ini, tersedia dokter umum dan dokter spesialis di Primecare Clinic, baik itu cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru atau pun di cabang Tebet, Jakarta Selatan (Khusus dokter spesialis THT hanya tersedia di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan). Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya terkait jadwal dan reservasi.


2149175169-_1_-1200x800.webp

Susah tidur atau insomnia adalah masalah yang sering dialami banyak orang. Kondisi ini tidak hanya membuat tubuh lelah, tetapi juga dapat mengganggu konsentrasi, emosi, dan kesehatan secara keseluruhan. Lalu, kalau susah tidur atau insomnia harus ke dokter apa? Jawabannya tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.

Apa Itu Insomnia?

Insomnia adalah gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan untuk mulai tidur, sering terbangun di malam hari, atau bangun terlalu pagi dan sulit tidur kembali. Jika berlangsung lama, insomnia dapat menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Contohnya, kebugaran tubuh Anda bisa berkurang banyak jika terlalu sering begadang akibat dari insomnia.

Kalau Susah Tidur (Insomnia) Harus ke Dokter Apa?

Pemilihan dokter tergantung pada penyebab insomnia dan keluhan yang ada berbarengan dengan kondisi insomnia.

1. Dokter Umum

Dokter umum adalah pilihan pertama jika Anda mengalami susah tidur. Dokter akan mengevaluasi pola tidur, gaya hidup, serta kondisi medis dasar yang mungkin memicu insomnia. Mereka juga bisa memberikan rujukan ke dokter spesialis.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika insomnia diduga berkaitan dengan penyakit kronis seperti gangguan tiroid, diabetes, atau penyakit jantung, dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu Anda untuk penanganan lebih lanjut.

3. Dokter Spesialis Saraf

Insomnia yang disertai sakit kepala kronis, gangguan saraf, atau kelainan tidur tertentu dapat ditangani oleh dokter spesialis saraf atau neurologis.

4. Dokter Spesialis Kejiwaan (Psikiater)

Jika susah tidur berkaitan dengan stres berat, kecemasan, depresi, atau gangguan mental lainnya, psikiater atau dokter spesialis kejiwaan adalah pilihan yang tepat.

5. Dokter Spesialis Kedokteran Tidur

Pada kasus tertentu, misalnya insomnia berat atau gangguan tidur yang kompleks, dokter spesialis kedokteran tidur dapat melakukan pemeriksaan lanjutan. 

Kapan Harus ke Dokter jika Terjadi Insomnia atau Susah Tidur?

Segera konsultasikan ke dokter jika gejala insomnia terjadi pada Anda:

  • Berlangsung lebih dari 2-3 minggu
  • Mengganggu aktivitas dan pekerjaan Anda
  • Disertai perubahan mood, kecemasan, atau depresi
  • Tidak membaik meski sudah mencoba memperbaiki pola tidur

Jika sudah mengalami salah satu dari empat poin di atas, Anda bisa segera ke dokter, baik itu dokter umum atau dokter spesialis.

Anda juga bisa mengecek kualitas tidur Anda dengan tes kualitas tidur pada tautan ini.

Jangan Ragu ke Dokter jika Mengalami Susah Tidur/Insomnia

Jadi, jika Anda mengalami susah tidur/insomnia dalam waktu lama, mengganggu aktivitas, ditambah ada perubahan mood, serta sudah mencoba berbagai usaha, tetapi tidurnya tidak kunjung membaik, maka jangan ragu untuk ke dokttker.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis saraf, dan dokter spesialis kejiwaan (psikiater). Klik tautan ini untuk konsultasi dengan mereka jika mengalami susah tidur/insomnia!


20056-1-1200x801.webp

Alergi bisa dialami siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Gejalanya pun beragam, mulai dari gatal-gatal, bersin terus-menerus, hingga sesak napas. Tentu saja gejala alergi ini mengganggu kehidupan sehari-hari. Namun, masih banyak orang yang bingung, kalau periksa alergi, harusi ke dokter apa.

Artikel ini akan membantu Anda memahami pilihan dokter yang tepat, jenis pemeriksaan alergi, dan kapan sebaiknya segera ke fasilitas kesehatan.

Mengapa Perlu Periksa Alergi ke Dokter?

Alergi adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti debu, makanan, atau bulu hewan.

Jika tidak ditangani dengan tepat, alergi dapat:

  • Mengganggu aktivitas sehari-hari
  • Menjadi semakin parah
  • Menyebabkan komplikasi seperti asma atau infeksi kulit

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui dokter yang tepat untuk memeriksa alergi yang Anda alami.

Periksa Alergi ke Dokter Apa?

Jawabannya, tergantung pada usia pasien dan gejala yang dialami. Berikut penjelasannya.

1. Dokter Umum

Dokter umum adalah pilihan pertama yang paling mudah diakses. Anda bisa ke dokter umum untuk cek alergi jika:

  • Gejala alergi masih ringan
  • Baru pertama kali mengalami reaksi alergi
  • Membutuhkan rujukan ke dokter spesialis

Dokter umum dapat memberikan obat awal dan menentukan apakah perlu pemeriksaan lanjutan serta rujukan ke dokter spesialis.

2. Dokter Spesialis Alergi dan Imunologi

Jika alergi sering kambuh atau cukup berat, dokter spesialis alergi dan imunologi adalah pilihan terbaik. Dokter spesialis ini dapat menangani kasus:

  • Alergi makanan
  • Alergi obat
  • Alergi debu, serbuk sari, dan tungau
  • Reaksi alergi berat (anafilaksis)

Dokter spesialis ini juga dapat melakukan tes alergi untuk mengetahui penyebab pastinya.

3. Dokter Spesialis Anak (untuk Anak-anak)

Untuk bayi dan anak-anak, sebaiknya periksa alergi ke dokter spesialis anak. Dokter spesialis anak cocok menangani kasus alergi pada anak, seperti kasus:

  • Alergi susu atau makanan tertentu
  • Ruam kulit berulang
  • Batuk atau pilek alergi

Dokter spesialis anak akan menyesuaikan penanganan alergi sesuai dengan usia dan kondisi tumbuh kembang anak.

4. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Jika alergi muncul pada kulit, seperti eksim, biduran, atau ruam merah, dokter spesialis kulit bisa menjadi pilihan. Masalah terkait alergi yang bisa ditangani meliputi:

  • Alergi kulit
  • Dermatitis atopik
  • Gatal kronis

Jenis Pemeriksaan/Tes Alergi yang Umum Dilakukan

Setelah menentukan periksa alergi ke dokter apa, dokter mungkin menyarankan beberapa tes berikut.

1. Tes Tusuk Kulit (Skin Prick Test)

Tes ini paling sering digunakan untuk mendeteksi alergi. Cara kerjanya adalah sebagai berikut:

  • Zat alergen diteteskan ke kulit
  • Kulit ditusuk ringan
  • Reaksi diamati dalam 15–20 menit

2. Tes Darah 

Tes darah akan dilakukan jika tes kulit tidak memungkinkan. Misalnya karena:

  • Pasien memiliki penyakit kulit berat
  • Sedang mengonsumsi obat tertentu
  • Risiko reaksi alergi tinggi

3. Tes Eliminasi Makanan

Tes ini umum dilakukan pada kasus alergi makanan. Prosedurnya adalah:

  • Menghindari makanan tertentu
  • Mengamati perubahan gejala
  • Tes ini dilakukan dengan adanya pengawasan dari dokter

Kapan Harus Segera ke Dokter Terkait Alergi?

Segera periksakan diri jika alergi disertai:

  • Sesak napas
  • Pembengkakan wajah atau bibir
  • Pusing atau pingsan
  • Muntah hebat setelah makan makanan tertentu

Gejala tersebut bisa menandakan reaksi alergi berat dan memerlukan penanganan dengan cepat dan sesegera mungkin.

Tips Sebelum Periksa Alergi ke Dokter

Agar pemeriksaan lebih efektif, Anda bisa melakukan hal berikut:

  • Catat gejala yang muncul dan kapan terjadinya
  • Ingat makanan atau lingkungan sebelum gejala muncul
  • Bawa daftar obat yang sedang dikonsumsi
  • Jangan menghentikan obat tanpa arahan dokter

Jangan Ragu untuk Ke Dokter Terkait Alergi

Terdapat banyak pilihan dokter untuk menangani kasus alergi, baik itu dokter umum dan dokter spesialis. Jangan ragu untuk ke dokter jika muncul alergi, terutama jika gejala alerginya telah mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan menimbulkan gejala berat seperti sesak napas.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia dokter umum, dokter spesialis anak, dan dokter spesialis kulit dan kelamin, serta layanan tes alergi. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


125027-1200x800.webp

Pemeriksaan feses adalah salah satu tes laboratorium yang sering direkomendasikan dokter untuk mengetahui kondisi saluran pencernaan. 

Tes ini dilakukan dengan menganalisis sampel tinja guna mendeteksi infeksi, gangguan pencernaan, hingga tanda penyakit serius. Lalu, kapan sebaiknya feses diperiksa (cek lab)? Ini jawabannya!

Apa Itu Pemeriksaan Feses?

Pemeriksaan feses adalah pemeriksaan medis untuk menilai kandungan dalam tinja, seperti bakteri, parasit, darah, lemak, atau zat tertentu yang tidak normal. Hasil tes ini membantu dokter menentukan penyebab gangguan pencernaan yang dialami pasien.

Tujuan Pemeriksaan Feses

Pemeriksaan feses bertujuan untuk:

  • Mengetahui penyebab diare atau konstipasi berkepanjangan
  • Mendeteksi infeksi saluran cerna
  • Menilai gangguan penyerapan nutrisi
  • Mendeteksi perdarahan saluran cerna
  • Membantu diagnosis penyakit tertentu, seperti kolitis atau kanker usus

Jenis-Jenis Pemeriksaan Feses

Ada beberapa jenis pemeriksaan feses yang umum dilakukan, tergantung keluhan dan indikasi medis. Berikut jenis-jenisnya:

1. Pemeriksaan Feses Rutin

Pemeriksaan ini menilai:

  • Konsistensi dan warna tinja
  • Kandungan lendir atau darah
  • Adanya parasit atau telur cacing

Biasanya pemeriksaan feses rutin digunakan sebagai pemeriksaan awal untuk mendeteksi apakah ada gangguan pencernaan.

2. Tes Darah Samar dalam Feses (FOBT)

Tes ini bertujuan mendeteksi darah yang tidak terlihat secara kasat mata dalam tinja. Pemeriksaan ini sering digunakan sebagai skrining awal dari:

  • Perdarahan saluran cerna
  • Polip usus
  • Kanker kolorektal

3. Kultur Feses

Kultur feses dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri penyebab infeksi, seperti Salmonella, Shigella, atau E. coli. 

Pemeriksaan feses jenis ini biasanya dianjurkan pada pasien dengan keluhan diare berat atau berkepanjangan.

4. Pemeriksaan Lemak Feses

Tes ini menilai kadar lemak dalam tinja untuk mendeteksi gangguan penyerapan zat gizi seperti pada pasien dengan penyakit celiac atau gangguan pankreas.

Kapan Pemeriksaan Feses Diperlukan?

1. Keluhan Pencernaan yang Berkepanjangan

Dokter biasanya menyarankan pemeriksaan feses jika muncul gejala:

  • Diare yang berlangsung lebih dari 3 hari
  • Konstipasi kronis
  • Nyeri perut berulang bahkan hebat
  • Perut kembung secara berlebihan

2. Tinja Tidak Normal

Segera periksa jika tinja:

  • Berwarna hitam atau merah (ada indikasi BAB berdarah)
  • Berlendir
  • Berbau sangat menyengat
  • Berminyak dan sulit dibersihkan

3. Penurunan Berat Badan Tanpa Sebab Jelas

Pemeriksaan feses dapat membantu mencari penyebab gangguan penyerapan zat gizi atau penyakit tertentu pada saluran cerna.

Prosedur Pemeriksaan Feses

1. Pengambilan Sampel Feses

Pengambilan sampelfeses  biasanya dilakukan sendiri di rumah dengan langkah:

  • Menggunakan wadah steril dari laboratorium
  • Ambil tinja secukupnya, hindari tercampur urin atau air agar tidak terkontaminasi
  • Tutup rapat wadah
  • Segera bawa ke laboratorium, sesuai dengan petunjuk dari dokter

2. Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Pemeriksaan Feses

Beberapa pemeriksaan feses mengharuskan pasien untuk:

  • Menghindari obat tertentu
  • Tidak mengonsumsi makanan tertentu sementara
  • Mengikuti instruksi dokter atau petugas laboratorium

Karena itu, konsultasi ke dokter penting sebelum cek feses, jadi jangan lupa untuk mencatat ya apa saja yang harus dihindari.

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Feses

1. Hasil Normal

Jika tidak ditemukan darah, parasit, bakteri berbahaya, atau zat abnormal, maka hasil pemeriksaan dinyatakan normal.

2. Hasil Tidak Normal

Hasil tidak normal bisa menunjukkan:

  • Infeksi bakteri atau parasit
  • Perdarahan saluran cerna
  • Gangguan pencernaan dan penyerapan
  • Penyakit inflamasi usus

Dokter akan mengaitkan hasil tes dengan gejala dan pemeriksaan lain.

Ke Dokter Apa untuk Mendapatkan Pemeriksaan Feses?

1. Dokter Umum

Dokter umum dapat memberikan rujukan awal dan menjelaskan hasil pemeriksaan feses secara sederhana.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau Gastroenterologi

Jika ditemukan kelainan atau keluhan berlanjut, pasien biasanya dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam, khususnya konsultan saluran cerna.

Jangan Ragu untuk Melakukan Pemeriksaan Feses, Terutama jika Dokter Menyarankan

Pemeriksaan feses adalah cek laboratorium yang penting untuk membantu diagnosis berbagai gangguan pencernaan, mulai dari infeksi ringan hingga penyakit serius. 

Pemeriksaan ini sederhana, aman, dan bisa memberikan informasi berharga bagi dokter. Jika Anda mengalami keluhan pencernaan yang tidak kunjung membaik, jangan ragu untuk berkonsultasi dan menjalani pemeriksaan sesuai anjuran medis.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter umum dan dokter spesialis serta cek laboratorium, termasuk pemeriksaan feses. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


44703-_1_-1200x800.webp

Asam lambung naik sering menimbulkan keluhan tidak nyaman, bahkan menyakitkan seperti nyeri ulu hati, mual, dada terasa panas, hingga rasa asam di mulut. 

Banyak orang masih bingung, periksa asam lambung ke dokter apa agar mendapatkan penanganan yang tepat. Artikel ini akan membantu Anda memahami pilihan dokter yang tepat terkait periksa asam lambung.

Kapan Harus Periksa Asam Lambung Naik ke Dokter?

Asam lambung naik sebaiknya tidak dianggap sepele, terutama jika keluhan sering kambuh atau semakin parah. Beberapa kondisi ini mengharuskan Anda segera ke dokter:

  • Nyeri dada hebat
  • Berat badan turun tanpa sebab
  • Muntah darah atau feses berwarna hitam
  • Gejala tidak membaik meski sudah minum obat

Periksa Asam Lambung Naik harus ke Dokter Apa?

Kalau mau periksa asam lambung naik, Anda bisa ke dokter ini:

1. Dokter Umum 

Dokter umum adalah pilihan pertama ketika asam lambung kambuh, mereka bisa menangani:

  • Keluhan asam lambung ringan hingga sedang
  • Pemeriksaan awal dan pemberian obat
  • Rujukan ke dokter spesialis jika diperlukan

Dokter umum biasanya akan mengevaluasi pola makan, stres, dan gaya hidup pasien.

2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Jika keluhan sering kambuh atau berat, dokter umum akan merujuk ke dokter spesialis penyakit dalam.

Peran dokter spesialis penyakit dalam terkait asam lambung adalah::

  • Menangani maag kronis dan GERD
  • Memberikan terapi jangka panjang
  • Menentukan pemeriksaan lanjutan

3. Dokter Spesialis Gastroenterologi

Untuk kasus asam lambung yang lebih kompleks, pasien akan ditangani oleh dokter spesialis gastroenterologi (subspesialis pencernaan).

Dokter spesialis gastroenterologi akan menangani:

  • GERD berat
  • Tukak lambung
  • Radang kerongkongan
  • Infeksi Helicobacter pylori

Apa yang Dilakukan ketika Pemeriksaan Asam Lambung?

1. Wawancara dan Pemeriksaan Fisik

Dokter akan menanyakan tentang hal ini:

  • Pola makan
  • Riwayat penyakit
  • Frekuensi dan tingkat keparahan gejala

Jawab pertanyaan dari dokter dengan jujur dan sesuai kondisi agar penanganan bisa tepat.

2. Pemeriksaan Penunjang

Beberapa pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan adalah:

  • Endoskopi lambung
  • Tes H. pylori
  • USG atau rontgen (jika diperlukan)
  • Tes pH asam lambung

Umumnya, pemeriksaan ini dilakukan setelah konsultasi lebih lanjut.

Sebelum Periksa Asam Lambung ke Dokter, harus Menyiapkan Apa?

Anda bisa mencatat gejala yang dirasakan, hindari makanan pemicu asam lambung naik, serta ingat/catat riwayat obat yang pernah dikonsumsi.

Jangan Ragu ke Dokter untuk Periksa Asam Lambung

Jadi, kalau mau periksa asam lambung, harus ke dokter apa? Jawabannya tergantung pada tingkat keparahan serta ketersediaan dokter. Baik itu dokter umum atau dokter spesialis, keduanya bisa jadi pilihan.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia dokter umum dan dokter spesialis penyakit dalam untuk konsultasi seputar asam lambung, ditambah dengan promo homecare gastric relieve yang bermanfaat untuk meredakan gejala asam lambung naik/GERD. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


67131-1-1200x800.webp

Rambut rontok bisa terjadi pada baik itu laki-laki dan perempuan. Terkadang, rambut rontok ini bisa membuat stres. Bahkan, ada momen di mana Anda sebaiknya ke dokter karena masalah rambut rontok.

Pertanyaannya, kalau rambut rontok, maka harus ke dokter apa? Ini dia jawabannya!

Periksa Rambut Rontok, harus ke Dokter Apa?

1. Dokter Spesialis Kulit (Dermatolog)

Dokter spesialis kulit atau dermatolog adalah dokter utama yang menangani masalah rambut dan kulit kepala. Masalah pada rambut dan kepala ini meliputi:

  • Rambut rontok secara berlebihan
  • Ketombe dalam jumlah banyak
  • Alopecia (kebotakan)
  • Radang pada kulit kepala
  • Kulit kepala mengalami infeksi jamur atau bakteri 

Dermatolog atau dokter spesialis kulit dapat mendiagnosis penyebab kerontokan rambut  dan memberikan terapi, mulai dari obat luar, obat oral (melalui mulut), hingga tindakan medis.

2. Dokter Umum

Jika Anda belum yakin penyebab kerontokan pada rambut, maka Anda bisa mulai lewat berkonsultasi dengan dokter umum.

Dokter umum akan menilai kondisi awal dan menentukan apakah Anda perlu dirujuk ke dokter kulit atau spesialis lainnya, sesuai dengan penyebab dari rambut rontok.

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau Endokrinolog

Kerontokan rambut juga bisa saja disebabkan oleh gangguan hormon, seperti:

  • Tiroid (hipotiroid(kekurangan hormon tiroid) atau hipertiroid (kelebihan hormon tiroid))
  • PCOS (khusus perempuan)
  • Ketidakseimbangan hormon androgen

Jika dokter curiga ada masalah terkait hormon,, Anda bisa dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam atau dokter spesialis endokrin.

4. Dokter Spesialis Gizi Klinik

Rambut rontok juga dapat terjadi karena tubuh kekurangan zat gizi. Zat gizi tersebut adalah:

  • Zat besi
  • Zinc (seng)
  • Protein
  • Vitamin D
  • Vitamin B kompleks
  • Vitamin A
  • Vitamin E
  • Biotin

Konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik bisa membantu memperbaiki pola makan dan asupan zat gizi yang bisa mendukung pertumbuhan rambut dan mencegah kasus rambut rontok.

Berbagai Jenis Pemeriksaan untuk Rambut Rontok

Berikut ini adalah berbagai jenis pemeriksaan untuk rambut rontok

1. Pemeriksaan Fisik Kulit Kepala

Pemeriksaan ini akan menilai kondisi kulit kepala, ketebalan rambut, area yang menipis, dan kemungkinan terjadinya infeksi.

2. Trichoscopy

Pemeriksaan ini menggunakan alat pembesar untuk melihat akar rambut dan struktur kulit kepala secara detail, sehingga diagnosa penyebab rambut rontok bisa diketahui.

3. Tes Darah

Tes darah untuk kasus rambut rontok bisa dilakukan untuk memeriksa:

  • Kadar hormon
  • Fungsi tiroid
  • Kadar hemoglobin dan zat besi
  • Vitamin D dan B12

Hal ini sesuai dengan sub penjelasan pada dokter spesialis gizi dan dokter spesialis penyakit dalam di atas. Kekurangan zat gizi dan gangguan hormon akan menyebabkan rambut rontok.

4. Biopsi Kulit Kepala

Pada kasus tertentu seperti alopecia scarring, dokter dapat mengambil sedikit sampel kulit kepala untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kapan Harus Memeriksakan Rambut Rontok ke Dokter?

Anda sebaiknya segera ke dokter terkait rambut rontok ketika memiliki kondisi berikut:

  • Rambut rontok dengan kecepatan rontok yang sangat tinggi, lebih dari 100 helai per hari
  • Timbul kebotakan berbentuk lingkaran (alopecia areata)
  • Rambut menipis dengan cepat dan dalam waktu singkat
  • Ada kemerahan, gatal, atau luka di kulit kepala
  • Kerontokan rambut terjadi setelah melahirkan, stres berat, atau penyakit tertentu
  • Rambut rontok ini membuat Anda tidak percaya diri atau cemas, bahkan tidak mau beraktivitas (gangguan pada aktivitas sehari-hari)

Jangan Ragu untuk Konsultasi ke Dokter Terkait Rambut Rontok

Terdapat banyak pilihan dokter jika Anda mengalami masalah rambut rontok, yaitu dokter umum, dokter spesialis kulit/dermatolog, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter spesialis gizi klinik. Jangan ragu untuk konsultasi dengan mereka.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter umum dan dokter spesialis (kulit/dermatolog, penyakit dalam, dan gizi), baik itu di cabang Panglima Polim Kebayoran Baru, atau pun Tebet, Jakarta Selatan. Anda ingin konsultasi terkait rambut rontok? Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Note: Dokter spesialis gizi hanya tersedia di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.


849-1200x800.webp

Radang amandel atau tonsilitis adalah kondisi umum yang sering dialami anak-anak maupun orang dewasa. Rasanya pasti tidak enak, apalagi jika sampai mengganggu pernapasan dan aktivitas sehari-hari, rasanya mau cepat sembuh saja.

Pertanyaannya, kalau lagi radang amandel, harus ke dokter apa? Berikut dokter yang bisa menangani radang amandel.

Kalau Radang Amandel ke Dokter Apa?

Terdapat dua pilihan dokter jika Anda mengalami radang amandel, yaitu:

1. Dokter Umum

Dokter umum adalah pilihan pertama yang bisa Anda kunjungi jika mengalami radang amandel ringan hingga sedang, misalnya gejala baru hanya nyeri sedikit pada tenggorokan. Dokter umum dapat:

  • Melakukan pemeriksaan fisik
  • Memberikan obat pereda nyeri, demam, atau antibiotik jika diperlukan
  • Menentukan apakah pasien perlu dirujuk ke dokter spesialis

2. Dokter Spesialis THT

Jika radang amandel sering kambuh, berlangsung lama, atau menimbulkan komplikasi, dokter umum biasanya akan merujuk pasien ke dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan).

Dokter THT bisa menangani hal ini terkait radang amandel:

  • Radang amandel yang bersifat kronis
  • Radang amandel yang sering kambuh
  • Amandel membesar hingga mengganggu pernapasan
  • Pertimbangan untuk perlu adanya tindakan operasi amandel (tonsilektomi)

Kapan Harus Segera ke Dokter Terkait Radang Amandel?

Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami kondisi berikut ketika radang amandel:

  • Demam tinggi lebih dari 3 hari
  • Nyeri menelan yang semakin parah, bahkan hingga sulit untuk makan dan minum
  • Sulit bernapas
  • Radang amandel sering kambuh dalam setahun
  • Amandelnya mengeluarkan nanah

Baik itu dokter umum atau dokter spesialis THT, bisa jadi rujukan untuk konsultasi terkait gejala ini.

Apakah jika Radang Amandel, maka pasti harus Operasi?

Tidak semua radang amandel memerlukan operasi. Operasi amandel biasanya disarankan oleh dokter jika Anda mengalami hal ini:

  • Radang amandel kambuh lebih dari 5-7 kali setahun
  • Amandel sangat besar, sehingga mengganggu pernapasan
  • Terjadi komplikasi serius

Keputusan operasi amandel pastinya akan ditentukan oleh dokter spesialis THT setelah pemeriksaan komprehensif dilakukan.

Jangan Ragu untuk Konsultasi Terkait Radang Amandel ke Dokter

Jika Anda mengalami radang amandel, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter. Pilihannya bisa ke dokter umum atau dokter spesialis THT, tergantung gejala yang dirasakan. Tenang saja, tidak semua radang amandel perlu tindakan operasi.

Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan memiliki dokter umum dan dokter spesialis THT. Klik tautan ini jika Anda ingin konsultasi terkait radang amandel!


2147766689-1-1200x1200.webp

Telat haid sering kali menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi perempuan yang siklus menstruasinya teratur, pasti kaget dan cemas ketika haidnya telat. Pertanyaan-pertanyaan seperti “apakah saya hamil?”, “kok gak haid ya, apa ada masalah” cukup menghantui dan mengganggu pikiran.

Faktanya, kondisi telat haid tidak hanya disebabkan oleh kehamilan, tetapi ada berbagai kondisi lainnya. Pertanyaannya kalau mau periksa telat haid, ke dokter apa? Ini jawabannya!

Telat Haid, harus Periksa ke Dokter Apa?

Berikut adalah dokter yang bisa Anda kunjungi terkait keluhan telat haid:

1. Dokter Umum 

Dokter umum bisa menjadi pilihan pertama untuk kasus telat haid jika:

  • Telat haid terjadi sesekali atau pertama kali terjadi
  • Tidak ada keluhan berat lainnya
  • Ingin pemeriksaan awal atau tes kehamilan

Dokter umum dapat melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan merujuk ke dokter spesialis bila diperlukan.

2. Dokter Spesialis Kandungan (Sp.OG)

Dokter spesialis kandungan/obgyn adalah pilihan utama jika:

  • Telat haid telah terjadi lebih dari 2 bulan
  • Siklus haid tidak teratur dalam waktu lama
  • Ada nyeri perut bawah, perdarahan abnormal, atau keputihan tidak normal
  • Program hamil
  • Hasil tes kehamilan positif atau meragukan, misalnya positif samar

Dokter kandungan dapat melakukan USG, pemeriksaan hormon, dan evaluasi organ reproduksi secara menyeluruh untuk kasus telat haid.

3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam 

Dalam beberapa kasus, telat haid berkaitan dengan hormon, seperti:

  • Gangguan tiroid
  • Diabetes
  • Gangguan metabolik

Jika dicurigai adanya masalah hormon, maka dokter spesialis obgyn atau dokter umum bisa merujuk Anda ke dokter spesialis penyakit dalam.

Kapan jika Telat Haid, harus Segera ke Dokter?

Segera periksakan diri ke dokter jika telat haid disertai keluhan ini:

  • Nyeri perut hebat
  • Perdarahan di luar jadwal haid
  • Mual muntah berat
  • Berat badan naik atau turun drastis
  • Tumbuh jerawat parah atau rambut berlebih (indikasi gejala PCOS)

Semakin cepat ke dokter, semakin baik. Hal ini karena deteksi penyakit bisa dilakukan lebih awal.

Bagaimana jika Telat Haid, tetapi Tes Kehamilan Negatif?

Jika tes kehamilan negatif, tetapi haid masih telat atau belum terjadi, maka:

  • Ulangi tes setelah 7 hari
  • Periksa ke dokter spesialis obgyn

Jangan Ragu untuk Konsultasi dengan Dokter jika Telat Haid

Dokter umum, dokter spesialis obgyn, atau dokter spesialis penyakit dalam bisa jadi opsi jika terjadi kondisi telat haid, terutama jika telat haid ini pertama kali terjadi dan disertai gejala berat seperti perdarahan.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, dan Tebet, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis obgyn, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter umum. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya jika Anda ingin konsultasi terkait telat haid.



Dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan) berperan penting dalam menangani berbagai gangguan yang berkaitan dengan pernapasan, pendengaran, suara, hingga keseimbangan tubuh, sesuai dengan spesialisasinya yaitu telinga, hidung, dan tenggorokan. Jika ada masalah di seputar bagian tubuh tersebut, jangan ragu untuk konsultasi dengan mereka.

Pertanyaannya, kapan harus ke dokter spesialis THT? Ini jawabannya!

Kapan Harus ke Dokter Spesialis THT?

Tidak semua keluhan pada THT harus langsung ke dokter spesialis. Namun, ada kondisi tertentu yang sebaiknya segera diperiksakan.

1. Kapan Telinga perlu Diperiksa ke Dokter Spesialis THT?

Segera ke dokter spesialis THT jika telinga Anda mengalami hal ini:

  • Nyeri telinga hebat atau berkepanjangan
  • Keluar cairan atau nanah dari telinga
  • Telinga berdenging terus-menerus (tinnitus)
  • Penurunan pendengaran mendadak
  • Merasa berputar (indikasi vertigo)

2. Kapan Hidung perlu Diperiksa ke Dokter Spesialis THT?

Beberapa keluhan hidung yang memerlukan pemeriksaan dokter spesialis THT adalah:

  • Hidung tersumbat lebih dari 10 hari
  • Mimisan sering atau sulit berhenti
  • Nyeri wajah dan kepala akibat sinus
  • Ingus berwarna kuning kehijauan, disertai dengan demam
  • Ada dugaan timbulnya polip hidung

3. Kapan Tenggorokan perlu Diperiksa ke Dokter Spesialis THT?

Periksakan tenggorokan Anda ke dokter spesialis THT jika Anda mengalami:

  • Sakit tenggorokan lebih dari satu minggu
  • Sulit menelan atau terasa mengganjal
  • Suara serak atau bindeng lebih dari dua minggu
  • Amandel membesar dan bengkak, bahkan sering kambuh
  • Batuk kronis (terus-menerus) tanpa sebab jelas

Apakah Harus ke Dokter Umum Dulu, atau bisa Langsung ke Dokter Spesialis THT?

Pada keluhan ringan seperti flu biasa atau sakit tenggorokan ringan, dokter umum harusnya sudah cukup, Namun, Anda sebaiknya ke dokter spesialis THT jika keluhan di bawah ini tidak membaik setelah 3-5 hari

  • Gejala semakin berat, misalnya tenggorokan terus merah tanpa adanya indikasi radang akan berkurang dalam waktu dekat
  • Keluhan pada telinga, hidung, atau pun tenggorokan sering kambuh

Jangan Ragu untuk Konsultasi dengan Dokter Spesialis THT

Jadi, Anda tidak perlu ragu untuk konsultasi dengan dokter spesialis THT, terutama jika ada keluhan pada telinga, hidung, atau pun tenggorokan Anda, apalagi jika keluhannya sering kambuh dan terasa sangat berat.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis THT serta layanannya seperti irigasi telinga dan audiometri. Klik tautan ini jika Anda tertarik untuk konsultasi dengan dokter spesialis THT!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.