Diabetes Kering – Gejala dan Pencegahannya

Masyarakat kerap membedakan penyakit diabetes menjadi diabetes kering dan diabetes basah. Padahal kedua istilah tersebut sebenarnya tidak ada dalam dunia medis. Diabetes dibagi menjadi diabetes 1, diabetes 2, diabetes gestasional, dan diabetes tipe spesifik yang berkaitan dengan penyebab lain.
Istilah “diabetes kering” sering muncul di masyarakat untuk menggambarkan kondisi seseorang yang menderita diabetes, tetapi tanpa luka basah yang sulit sembuh. Apa saja gejalanya dan bagaimana mengatasi diabetes kering? Simak jawabannya di artikel ini!
Apa Itu Diabetes Kering?
Secara medis tidak ada istilah “diabetes kering”. Namun, masyarakat menggunakan istilah ini untuk menggambarkan penderita diabetes yang tidak memiliki luka yang cenderung basah dan sulit sembuh.
Diabetes adalah gangguan metabolik yang disebabkan oleh terjadinya resistensi insulin atau gangguan produksi insulin sehingga pengaturan gula darah terganggu dan kadar gula darah meningkat.
Penderita diabetes kering biasanya masih memiliki sistem kekebalan tubuh dan sirkulasi darah yang cukup baik, sehingga luka lebih cepat kering dan jarang terinfeksi. Namun, jika kadar gula darah tetap tinggi maka tetap berisiko mengalami komplikasi jangka panjang seperti kerusakan saraf, ginjal, mata, serta luka yang sulit sembuh.
Gejala dan Ciri-Ciri Diabetes Kering
Gejala diabetes kering sama seperti gejala diabetes pada umumnya, hanya saja tanpa adanya luka atau infeksi kulit yang basah dan sulit sembuh. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:
- Sering merasa haus (polidipsia) dan lapar berlebihan (polifagia)
- Sering buang air kecil (poliuria), terutama pada malam hari
- Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas
- Mudah lelah dan mengantuk
- Kesemutan atau rasa kebas di tangan dan kaki
- Jika terjadi luka, proses penyembuhannya tidak terlalu lama.
Perlu diingat bahwa “diabetes kering” bukan berarti tidak bisa mengalami ulkus diabetikum, yaitu kondisi luka terbuka yang basah dan sulit sembuh. Karena tidak ada luka atau gejala infeksi kulit yang mencolok, banyak orang mengira kondisinya ringan. Penderita “diabetes kering” tetap bisa mengalami luka yang basah jika kadar gulanya tidak dikontrol dan terus tinggi dalam jangka panjang. Anda bisa mengecek risiko diabetes Anda melalui tautan ini.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Diabetes Kering?
Mengalami diabetes kering berarti mengalami diabetes tanpa adanya luka yang sulit sembuh dan cenderung basah. Jika mengalami gejala diabetes kering seperti yang sudah dijelaskan di atas, maka harus konsultasi dengan dokter.
Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kadar gula darah serta pemeriksaan lain untuk mengetahui apakah ada komplikasi. Jika kadar gula darah tinggi, maka dokter akan memberikan obat, baik obat oral maupun insulin.
Jika kadar gula darah terkontrol dan stabil dalam batas normal, maka sirkulasi darah akan tetap terjaga dan kerusakan saraf bisa dihindari. Dengan begitu, jika terjadi luka maka bisa sembuh dan kering.
Cara Mengatasi dan Mencegah Diabetes Kering
Mengatasi diabetes kering berarti mengontrol kadar gula darah agar tetap stabil dalam jangka panjang. Berikut cara mencegah dan mengatasi diabetes kering:
a. Menjaga Pola Makan Sehat
Pola makan adalah salah satu pilar utama dalam manajemen diabetes. Pilih makanan dengan indeks glikemik rendah, seperti beras merah, sayuran, buah berserat tinggi, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Batasi konsumsi gula tambahan, minuman manis, dan makanan olahan.
Jika perlu, konsultasikan dengan dokter spesialis gizi klinik untuk mendapat rekomendasi meal plan yang terpersonalisasi dan sesuai dengan kondisi kesehatan.
b. Rutin Berolahraga
Aktivitas fisik seperti jalan kaki, bersepeda, atau berenang minimal 30 menit sehari sebanyak 5 kali dalam seminggu dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan kadar gula darah.
c. Menjaga Berat Badan
Berat badan berlebih meningkatkan risiko diabetes. Jika mempunyai berat badan berlebih, maka cobalah untuk menurunkannya secara bertahap. Klik tautan ini untuk mengetahui apakah berat badan Anda sudah ideal atau belum.
d. Kelola Stres
Stres juga dapat memicu peningkatan kadar gula darah. Saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol yang dapat memengaruhi kadar gula darah.
e. Periksa Kondisi Kaki Secara Berkala
Kaki adalah bagian tubuh yang sering terluka. Penderita diabetes sering tidak menyadari adanya luka di kaki atau bagian tubuh lain. Karena itu, penting untuk memeriksa kaki dan tubuh apakah ada lecet atau luka. Segera bersihkan dan oleskan salep jika ada luka. Periksakan ke tenaga medis agar mendapat perawatan luka yang tepat.
Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic
Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.
Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.
Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


