Apakah Penderita Diabetes Boleh Makan Martabak Manis? Ini Jawabannya!

Martabak manis adalah salah satu jajanan paling populer di Indonesia. Aromanya menggoda, teksturnya lembut, dan topping-nya melimpah. Sayangnya, di balik kenikmatan itu, martabak manis bukanlah pilihan aman bagi penderita diabetes.
Bolehkan Penderita Diabetes Makan Martabak Manis?
Jawabannya adalah sebaiknya tidak. Martabak manis mengandung karbohidrat sederhana, gula, serta lemak jenuh dalam jumlah tinggi. Kombinasi ini bisa membuat kadar gula darah melonjak tajam dan meningkatkan risiko komplikasi jika dikonsumsi oleh penderita diabetes.
Kandungan Gizi dan Indeks Glikemik Martabak Manis
Martabak manis biasanya dibuat dari tepung terigu, telur, gula pasir, margarin, serta berbagai topping seperti cokelat, meses, keju, dan susu kental manis. Dari sisi gizi, makanan ini sangat tinggi kalori dan gula, tetapi rendah serat serta protein. Hampir semua bahan di dalamnya berkontribusi terhadap kenaikan gula darah yang cepat. Berikut beberapa di antaranya:
- Tepung terigu memiliki indeks glikemik tinggi sehingga cepat menaikkan kadar glukosa darah.
- Gula pasir, susu kental manis, dan topping manis seperti meses atau cokelat mempercepat lonjakan karena kandungan sukrosanya yang tinggi.
- Margarin tidak meningkatkan gula darah secara langsung karena indeks glikemiknya rendah, tetapi tetap menyumbang lemak jenuh yang berisiko bagi kesehatan jantung.
Kombinasi bahan-bahan tersebut membuat beban glikemik martabak manis sangat tinggi, sehingga sebaiknya dihindari oleh penderita diabetes.
Cara Makan Martabak Manis untuk Penderita Diabetes yang Aman
Tidak ada cara aman untuk menikmati martabak manis bagi penderita diabetes. Bahkan dalam porsi kecil sekalipun, lonjakan gula darah tetap berisiko terjadi. Oleh karena itu, martabak manis termasuk makanan yang sebaiknya dihindari penderita diabetes.
Sebagai gantinya, penderita diabetes bisa memilih camilan yang lebih sehat, seperti buah dengan indeks glikemik rendah untuk tetap bisa menikmati rasa manis tanpa membahayakan kesehatan.
Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?
Jika kamu penderita diabetes dan mengalami gejala seperti gula darah melonjak tajam setelah mengonsumsi makanan manis, termasuk martabak manis, segera periksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam. Jangan abaikan tanda-tanda seperti tubuh lemas, jantung berdebar, sering merasa haus, atau buang air kecil berlebihan.
Selain itu, konsultasikan juga dengan dokter gizi klinik atau ahli gizi untuk mendapatkan panduan pola makan yang tepat.
Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?
Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.
Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.
Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.
Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.
“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.
Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.
Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.
Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic
Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.
Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.
Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


