Kram Otot pada Penderita Diabetes – Penyebab, Solusi, dan harus ke Dokter Apa?

Diabetes adalah penyakit metabolik yang dikarakteristikkan dengan tingginya kadar gula darah karena turunnya produksi insulin, atau terjadi resisten insulin, atau keduanya.
Jika tidak ditangani dengan tepat, diabetes dapat berkembang dan menimbulkan komplikasi pada berbagai organ, seperti jantung, ginjal, dan mata.
Diabetes juga dapat memberikan dampak pada organ lain, misalnya pada otot dan tulang (muskuloskeletal). Beberapa dampak muskuloskeletal yang dapat terjadi adalah kram otot, infark otot, gangguan saraf pada kaki atau tangan, dan lain sebagainya.
Kram otot adalah gejala umum yang sering dialami oleh penderita diabetes. Kram otot adalah gejala umum yang sering dialami oleh penderita diabetes. Mengapa hal itu bisa terjadi? Mari kita simak jawabannya.
Fenomena Kram Otot pada Penderita Diabetes
Kram otot didefinisikan sebagai kontraksi otot yang terjadi secara tiba-tiba, menyakitkan, dan tidak disengaja.
Kram otot pada penderita diabetes lebih sering dialami oleh penderita diabetes tipe 2 daripada tipe 1. Rasa nyeri yang dialami oleh penderita diabetes akibat kram otot cenderung lebih parah daripada yang dialami oleh orang sehat.
Otot yang paling sering mengalami kram adalah otot pada kaki. Gejala yang ditimbulkan berupa rasa nyeri pada otot sampai adanya sensasi nyeri seperti terbakar.
Jika tidak ditangani dengan baik, masalah kram otot ini akan menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan, termasuk fungsi fisik, nyeri di tubuh, kesehatan umum, dan fungsi sosial.
Penyebab Kram Otot pada Penderita Diabetes
Penyebab kram otot pada penderita diabetes bersifat beragam dan sering kali multifaktorial.
Penyebab utama kram otot pada penderita diabetes meliputi:
1. Neuropati perifer (gangguan pada saraf tepi)
Neuropati merupakan komplikasi diabetes dan menjadi penyebab kram otot yang cukup sering terjadi pada penderita diabetes. Neuropati perifer juga dapat berkembang menjadi osteoartropati diabetes (penyakit degeneratif pada sendi).
2. Penyakit vaskular (pembuluh darah)
Pada diabetes, dapat terjadi komplikasi pada pembuluh darah, misalnya penyakit insufisiensi arteri perifer atau penyakit vaskular perifer dapat menyebabkan kram otot karena sirkulasi darah ke otot terhambat
3. Efek samping obat
Beberapa pasien diabetes dapat disertai dengan kondisi dislipidemia (kondisi kadar lemak dalam darah tidak normal) sehingga pasien harus mengonsumsi obat jenis statin. Obat jenis ini dapat menyebabkan kram otot karena mengurangi kadar Coenzyme Q10.
Selain itu, pasien diabetes yang mengalami komplikasi pada organ jantung dan ginjal dan mengonsumsi obat diuretik, seperti hidroklorotiazid, juga dapat menyebabkan kram pada otot kaki.
4. Kondisi medis lain yang menyertai
Kondisi medis lain seperti pada pasien gagal ginjal yang membutuhkan tindakan hemodialisis (cuci darah) dapat mengalami kram otot saat menjelang akhir tindakan cuci darah.
Cara Mengatasi Kram Otot pada Penderita Diabetes
Penting untuk mendeteksi penyebab anatomi dan metabolik yang mendasari kram otot pada pasien diabetes sebelum merencanakan pengobatan. Penanganan kram otot pada diabetes meliputi, penanganan ketika nyeri itu terjadi dan mengatasi penyebab utamanya (diabetes).
a. Penanganan ketika nyeri
- Kram otot sering kali dapat hilang dengan sendirinya tanpa perawatan medis khusus.
- Tindakan yang dapat dilakukan untuk menghentikan kram otot akut adalah dengan meregangkan atau memanjangkan otot yang kram.
- Jika terasa nyeri, dapat diberikan obat salep antinyeri.
b. Mengatasi Penyebab Utama
- Kontrol glikemik: Kontrol gula darah yang baik dapat menghambat atau memperlambat perkembangan penyakit pada pembuluh darah kecil, termasuk neuropati, sehingga secara asumsi juga akan memperlambat komplikasi seperti kram otot.
- Neuropati Perifer: diberikan terapi yang sesuai dengan hasil konsultasi ke dokter.
- Penyakit pembuluh darah: jika ditemukan adanya komplikasi di pembuluh darah, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis bedah umum atau bedah vaskular untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan lanjutan.
c. Terapi obat dan suplemen
Jika gejala dirasakan terus-menerus maka pasien dapat mengonsumsi obat atau suplemen untuk menghilangkan, mengurangi, atau mencegah terjadinya kram otot. Obat dan suplemen dapat berupa suplemen L-karnitin, vitamin B-kompleks, Pregabalin, atau Gabapentin. Sebaiknya pasien berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat dan suplemen tersebut.
Kapan Penderita Diabetes Harus ke Dokter?
Penderita diabetes disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk terapi diabetes rutin dan segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala yang parah atau mengancam jiwa.
Berikut adalah kondisi terkait kram otot atau kondisi muskuloskeletal yang memerlukan konsultasi atau penanganan medis profesional:
- Kram otot yang bersifat terus-menerus dan menyebabkan kecacatan.
- Infark otot diabetik. Kondisi ini jarang terjadi, tetapi berpotensi menyebabkan kelumpuhan dan mengancam jiwa. Gejalanya adalah nyeri dan bengkak selama beberapa hari hingga minggu pada otot yang terkena.
- Kecurigaan infeksi berat: Jika penderita diabetes mengalami demam disertai nyeri sendi dan/atau tulang dapat menjadi tanda bahaya adanya infeksi berat, seperti osteomielitis/artritis septik yang memerlukan penanganan medis segera.
- Komplikasi pada neuromuskuloskeletal (saraf, otot, dan tulang) yang memerlukan terapi lanjutan, misalnya sindrom carpal tunnel (CTS) yang parah, Flexor Tenosynovitis (trigger finger), atau Dupuytren’s Contracture yang memerlukan suntikan obat antiradang atau intervensi bedah.
Kalau Penderita Diabetes Mengalami Kram Otot, harus ke Dokter Apa?
Dokter Spesialis yang dapat dikunjungi jika pasien diabetes mengalami kram otot adalah:
1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Subspesialis Endokrin dan Metabolik
Spesialisasi ini berfokus pada diagnosis dan pengelolaan diabetes mellitus, termasuk kontrol glikemik, pemberian obat, evaluasi pengobatan diabetes yang merupakan kunci untuk memperlambat perkembangan komplikasi seperti neuropati yang menyebabkan kram.
2. Dokter Spesialis Neurologi
Kram otot seringkali merupakan gejala neurologis, terutama jika disebabkan karena adanya gangguan saraf. Oleh karena itu, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
3. Dokter Spesialis Bedah Umum/Bedah Vaskular
Jika terjadi komplikasi diabetes yang menyerang pembuluh darah, seperti peripheral arterial disease (PAD atau insufisiensi arteri perifer dapat dirujuk ke dokter bedah umum atau bedah vaskular untuk dilakukan pemeriksaan dan pemberian terapi yang tepat.
4. Dokter Spesialis Ortopedi
Jika dibutuhkan tindakan medis pada kondisi muskuloskeletal parah yang menyertai diabetes, seperti kasus Carpal Tunnel Syndrome yang memerlukan pembedahan, atau untuk intervensi bedah pada Dupuytren’s Contracture atau Tenosynovitis, pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis ortopedi.
Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic
Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes yang dapat membantumu untuk menurunkan kadar HbA1C. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.
Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.
Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

