Fat Loss: Apa Itu, Bagaimana Cara Membakar Lemak Tanpa Kehilangan Otot, dan Kapan Harus ke Dokter?

Memiliki berat badan yang ideal belum tentu berarti komposisi tubuh sudah sehat. Sebagian orang memiliki berat badan berlebih dan penumpukan lemak di area perut, sementara sebagian lainnya terlihat kurus tetapi memiliki massa otot yang relatif rendah dan persentase lemak tubuh yang cukup tinggi.
Kondisi tersebut membuat istilah fat loss semakin sering dibicarakan, terutama oleh orang yang ingin menurunkan lemak tubuh, memperbaiki bentuk tubuh, dan menjaga kesehatan metabolisme.
Namun, apa sebenarnya fat loss? Apakah fat loss sama dengan menurunkan berat badan? Bagaimana cara membakar lemak tanpa kehilangan massa otot secara berlebihan, dan kapan seseorang perlu memulai program fat loss?
Memahami konsep fat loss dapat membantu Anda memilih metode yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, tanpa harus menjalani diet ekstrem atau olahraga berlebihan.
Apa Itu Fat Loss?
Fat loss adalah proses mengurangi jumlah lemak tubuh, terutama lemak berlebih, dengan tetap berupaya mempertahankan massa otot dan jaringan tubuh lainnya.
Berbeda dengan penurunan berat badan biasa, fat loss berfokus pada perubahan komposisi tubuh, bukan hanya angka yang terlihat di timbangan.
Berat badan seseorang terdiri dari berbagai komponen, termasuk lemak, otot, tulang, organ, dan cairan tubuh. Ketika berat badan turun, perubahan tersebut dapat berasal dari satu atau beberapa komponen tersebut.
Sebagai contoh, seseorang yang mengalami penurunan berat badan 5 kg belum tentu kehilangan 5 kg lemak. Sebagian penurunan berat badan bisa berasal dari cairan tubuh, cadangan glikogen, atau massa otot.
Sebaliknya, seseorang dapat mengalami penurunan lemak sekaligus peningkatan massa otot sehingga angka timbangan hanya berubah sedikit, meskipun komposisi tubuhnya membaik.
Karena itu, tujuan fat loss bukan sekadar membuat berat badan turun secepat mungkin, melainkan mengurangi lemak tubuh dengan cara yang mendukung kesehatan dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Mengapa Fat Loss Penting, Terutama bagi Penderita Obesitas, Overweight, dan Skinny Fat?
Fat loss dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan, tetapi kebutuhan dan pendekatannya berbeda pada setiap orang.
1. Membantu Mengurangi Risiko Kesehatan pada Obesitas dan Overweight
Obesitas dan overweight merupakan kondisi ketika berat badan berada di atas rentang yang dianggap sehat untuk tinggi badan dan karakteristik individu.
Kelebihan lemak tubuh, terutama penumpukan lemak di area perut, berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti:
- Diabetes melitus tipe 2.
- Tekanan darah tinggi.
- Penyakit jantung dan pembuluh darah.
- Gangguan profil kolesterol dan trigliserida.
- Penyakit hati berlemak terkait disfungsi metabolik.
- Gangguan tidur, termasuk sleep apnea.
Pada orang yang mengalami overweight atau obesitas, penurunan lemak tubuh secara bertahap dapat membantu memperbaiki sejumlah faktor risiko metabolik. Bahkan, penurunan berat badan yang tidak terlalu besar dapat memberikan manfaat kesehatan bagi sebagian orang.
Namun, tidak semua orang dengan berat badan berlebih memiliki risiko kesehatan yang sama. Evaluasi sebaiknya juga mempertimbangkan lingkar pinggang, tekanan darah, kadar gula darah, profil lipid, riwayat kesehatan, dan faktor risiko lainnya. <Cite refs={[“turn887918search2″,”turn887918search8”]}/>
2. Membantu Memperbaiki Komposisi Tubuh pada Skinny Fat
Istilah skinny fat sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlihat kurus atau memiliki berat badan normal, tetapi memiliki persentase lemak tubuh relatif tinggi dan massa otot yang rendah.
Istilah ini bukan diagnosis medis resmi. Kondisi komposisi tubuh seseorang perlu dinilai berdasarkan pengukuran dan konteks kesehatannya, bukan hanya penampilan fisik.
Seseorang dengan kondisi tersebut mungkin memiliki berat badan yang terlihat normal, tetapi kurang memiliki kekuatan otot atau memiliki penumpukan lemak di area perut.
Dalam situasi ini, tujuan yang lebih sesuai belum tentu menurunkan berat badan. Membangun massa otot sambil mengurangi lemak tubuh secara bertahap, yang sering disebut body recomposition, dapat menjadi pendekatan yang lebih relevan.
Strateginya dapat mencakup latihan kekuatan, asupan protein yang cukup, pola makan seimbang, dan tidur yang memadai.
3. Membantu Menjaga Fungsi Tubuh dan Kebugaran
Lemak tubuh memiliki fungsi penting, termasuk menyimpan energi, melindungi organ, dan membantu produksi hormon tertentu.
Namun, kelebihan lemak tubuh dapat menimbulkan masalah kesehatan pada sebagian orang, terutama jika disertai gangguan metabolik.
Program fat loss yang direncanakan dengan baik dapat membantu meningkatkan kebugaran, mendukung aktivitas sehari-hari, dan memperbaiki komposisi tubuh.
Yang perlu diingat, tubuh tetap membutuhkan lemak dalam jumlah yang memadai. Oleh karena itu, tujuan fat loss bukan menghilangkan seluruh lemak tubuh, melainkan menjaga komposisi tubuh yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan.
Apa Saja Pilar Penting Membakar Lemak Tanpa Kehilangan Otot secara Berlebihan?
Ketika menjalani fat loss, tantangannya bukan hanya mengurangi lemak tubuh, tetapi juga mempertahankan massa otot.
Jika asupan energi terlalu rendah, protein tidak mencukupi, dan latihan kekuatan tidak dilakukan, penurunan berat badan dapat disertai kehilangan massa otot yang lebih besar.
Untuk mengurangi risiko tersebut, ada beberapa pilar penting yang perlu diperhatikan.
1. Defisit Kalori yang Sesuai Kebutuhan
Defisit kalori terjadi ketika energi yang masuk melalui makanan dan minuman lebih rendah daripada energi yang digunakan tubuh.
Kondisi ini memungkinkan tubuh menggunakan cadangan energi, termasuk lemak tubuh. Namun, defisit yang terlalu besar dapat meningkatkan risiko kehilangan massa otot, kelelahan, dan kekurangan nutrisi.
Karena itu, defisit kalori sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan energi harian, kondisi kesehatan, aktivitas fisik, dan tujuan individu.
Tidak semua orang membutuhkan defisit kalori. Pada orang yang memiliki berat badan normal tetapi massa otot rendah, mempertahankan asupan energi yang memadai sambil menjalani latihan kekuatan dapat lebih sesuai daripada terus mengurangi makanan.
2. Asupan Protein yang Cukup
Protein berperan dalam pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh, termasuk otot.
Saat menjalani fat loss, pemenuhan kebutuhan protein dapat membantu mempertahankan massa otot, terutama jika dikombinasikan dengan latihan kekuatan.
Beberapa sumber protein yang dapat dikonsumsi meliputi:
- Telur, ikan, ayam, dan daging tanpa lemak.
- Tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
- Susu, yoghurt, dan produk olahannya.
- Sumber protein nabati lainnya sesuai kebutuhan.
Jumlah protein yang dibutuhkan setiap orang berbeda, bergantung pada berat badan, usia, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan tujuan latihan.
Pada orang dengan penyakit ginjal atau kondisi medis tertentu, kebutuhan protein perlu disesuaikan dengan rekomendasi dokter gizi atau ahli gizi.
3. Latihan Kekuatan atau Strength Training
Latihan kekuatan merupakan salah satu komponen penting untuk mempertahankan dan membangun massa otot selama fat loss.
Latihan ini dapat dilakukan menggunakan beban bebas, mesin latihan, resistance band, atau berat badan sendiri.
Contohnya meliputi squat, push-up, latihan menarik beban, dan gerakan lain yang melibatkan kelompok otot utama.
Bagi orang dewasa yang sehat, latihan penguatan otot setidaknya dua hari per minggu dapat menjadi target umum. Namun, pemula sebaiknya memulai sesuai kemampuan dan meningkatkan beban secara bertahap. <Cite refs={[“turn887918search3″,”turn887918search7”]}/>
Latihan kekuatan juga tidak harus selalu dilakukan di pusat kebugaran. Program yang sederhana dan konsisten tetap dapat memberikan manfaat jika dilakukan dengan teknik yang benar.
4. Aktivitas Aerobik yang Teratur
Aktivitas aerobik, seperti berjalan cepat, bersepeda, berenang, atau jogging, membantu meningkatkan penggunaan energi dan mendukung kesehatan jantung.
Bagi orang dewasa yang sehat, rekomendasi umum adalah melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu, disertai latihan kekuatan minimal dua hari per minggu.
Target ini bukan keharusan yang harus langsung dicapai oleh semua orang. Jika Anda baru mulai berolahraga atau memiliki kondisi medis tertentu, aktivitas dapat ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan. <Cite refs={[“turn887918search3″,”turn887918search11”]}/>
Perlu dipahami bahwa olahraga tidak harus dilakukan secara berlebihan untuk menghasilkan fat loss. Konsistensi, pemulihan, dan keseimbangan antara asupan energi serta aktivitas lebih penting daripada memaksakan latihan dengan intensitas tinggi setiap hari.
5. Tidur dan Pemulihan yang Cukup
Tidur berperan dalam pengaturan nafsu makan, pemulihan otot, dan kemampuan tubuh menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kurang tidur dapat memengaruhi rasa lapar, pilihan makanan, suasana hati, serta performa latihan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat menyulitkan upaya mengelola berat badan.
Usahakan memiliki jadwal tidur yang teratur dan durasi tidur yang memadai. Bagi kebanyakan orang dewasa, kebutuhan tidur umumnya sekitar 7–9 jam per malam.
Selain itu, berikan waktu pemulihan yang cukup setelah latihan. Tubuh tidak perlu dilatih secara intensif setiap hari untuk mendapatkan manfaatnya.
Bagaimana Cara Fat Loss yang Efektif?
Fat loss yang efektif tidak selalu berarti berat badan turun dengan cepat. Pendekatan yang baik perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh, kebutuhan nutrisi, dan kebiasaan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.
1. Kenali Kondisi Tubuh dan Tentukan Tujuan
Sebelum memulai program fat loss, kenali kondisi tubuh Anda terlebih dahulu.
Hal-hal yang dapat dipertimbangkan meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang, kebiasaan makan, aktivitas fisik, serta riwayat kesehatan.
Jika Anda mengalami obesitas atau overweight, tujuan penurunan lemak dapat dikaitkan dengan perbaikan kesehatan metabolik dan fungsi tubuh.
Sementara itu, jika berat badan normal tetapi massa otot relatif rendah, peningkatan kekuatan dan perbaikan komposisi tubuh mungkin lebih relevan daripada penurunan berat badan.
Menentukan tujuan yang sesuai dapat membantu mencegah pembatasan kalori yang tidak diperlukan.
2. Atur Pola Makan dengan Defisit Kalori yang Wajar
Jika penurunan lemak memang diperlukan, pengaturan asupan kalori dapat menjadi salah satu strategi yang digunakan.
Mulailah dengan mengevaluasi kebiasaan makan, seperti porsi makanan, minuman manis, camilan, dan frekuensi makan di luar rumah.
Anda tidak harus langsung menghilangkan semua makanan favorit. Perubahan kecil yang konsisten dapat membantu membangun pola makan yang lebih seimbang.
Pastikan makanan sehari-hari tetap mencakup karbohidrat, protein, lemak sehat, sayur, dan buah. Hindari pembatasan kalori ekstrem karena dapat meningkatkan risiko kehilangan otot dan kekurangan nutrisi.
3. Penuhi Kebutuhan Protein dan Nutrisi Lainnya
Selain memperhatikan jumlah kalori, pastikan kualitas makanan tetap terjaga.
Protein membantu pemeliharaan otot, sedangkan karbohidrat menyediakan energi untuk aktivitas dan latihan. Lemak juga dibutuhkan untuk fungsi hormon dan penyerapan vitamin tertentu.
Sayur, buah, serta sumber serat lainnya membantu memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, dan serat.
Tidak ada satu pola makan yang paling tepat untuk semua orang. Pilih pola makan yang sesuai dengan kebutuhan, kondisi kesehatan, preferensi, dan kemampuan Anda untuk mempertahankannya. <Cite refs={[“turn887918search3″,”turn887918search8”]}/>
4. Lakukan Latihan Kekuatan secara Konsisten
Jika tujuan Anda adalah membakar lemak tanpa kehilangan banyak otot, latihan kekuatan perlu menjadi bagian dari program.
Untuk pemula, latihan dapat dimulai dengan gerakan dasar yang melibatkan kelompok otot utama. Intensitas dan beban kemudian ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan.
Jika belum terbiasa berolahraga, pelatih kebugaran yang kompeten dapat membantu mempelajari teknik yang benar. Namun, jika Anda memiliki penyakit kronis, cedera, atau gejala tertentu, konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan sebelum memulai program latihan.
5. Tingkatkan Aktivitas Harian
Selain latihan terjadwal, aktivitas sehari-hari juga berkontribusi terhadap penggunaan energi.
Anda dapat membiasakan diri berjalan kaki, menggunakan tangga bila memungkinkan, melakukan peregangan saat bekerja, atau memilih aktivitas yang membuat Anda lebih banyak bergerak.
Aktivitas ringan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu mendukung kesehatan dan pengelolaan berat badan.
6. Hindari Mengandalkan Suplemen Pembakar Lemak
Produk yang dipasarkan sebagai fat burner sering menjanjikan pembakaran lemak dengan cepat. Namun, tidak semua produk memiliki bukti manfaat yang kuat, dan beberapa dapat menimbulkan efek samping.
Produk tertentu dapat mengandung stimulan yang memengaruhi denyut jantung atau tekanan darah, berinteraksi dengan obat, atau memiliki komposisi yang tidak jelas.
Suplemen tidak dapat menggantikan pola makan yang memadai, latihan kekuatan, tidur, dan aktivitas fisik.
Jika Anda mempertimbangkan penggunaan suplemen atau obat penurun berat badan, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, terutama jika memiliki penyakit tertentu atau sedang mengonsumsi obat rutin.
Bagaimana Cara Mengukur Progres Fat Loss yang Akurat?
Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat menjalani fat loss adalah hanya mengandalkan angka timbangan.
Padahal, berat badan dapat berubah karena cairan tubuh, asupan garam, cadangan glikogen, isi saluran pencernaan, dan perubahan hormon.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik, Anda dapat memantau beberapa indikator berikut.
1. Memantau Berat Badan secara Konsisten
Timbangan tetap berguna untuk memantau perubahan berat badan dari waktu ke waktu.
Jika Anda memilih untuk menimbang berat badan, lakukan dalam kondisi yang relatif sama, misalnya pada pagi hari setelah buang air kecil dan sebelum sarapan.
Catat hasilnya secara berkala dan perhatikan tren selama beberapa minggu, bukan hanya perubahan satu hari.
Berat badan yang tidak langsung turun bukan berarti program gagal. Sebaliknya, penurunan berat badan yang sangat cepat juga belum tentu berarti lemak tubuh berkurang secara optimal.
2. Mengukur Lingkar Pinggang
Lingkar pinggang dapat membantu menilai penumpukan lemak di area perut, yang berkaitan dengan risiko gangguan metabolik.
Pengukuran sebaiknya dilakukan secara konsisten, menggunakan pita ukur pada posisi yang sama, dengan postur rileks dan tanpa menarik perut.
Perubahan lingkar pinggang dari waktu ke waktu dapat memberikan informasi tambahan mengenai progres fat loss, meskipun hasilnya juga dapat dipengaruhi oleh kembung dan faktor lainnya.
Interpretasi lingkar pinggang perlu mempertimbangkan jenis kelamin, karakteristik populasi, dan panduan klinis yang digunakan.
3. Memantau Komposisi Tubuh
Jika memungkinkan, komposisi tubuh dapat diperiksa menggunakan metode seperti bioelectrical impedance analysis (BIA) atau dual-energy X-ray absorptiometry (DXA).
Pemeriksaan ini dapat memberikan perkiraan atau pengukuran komposisi tubuh yang lebih terperinci dibandingkan timbangan biasa.
Namun, setiap metode memiliki keterbatasan. Hasil BIA, misalnya, dapat dipengaruhi oleh status hidrasi, makanan, dan waktu pengukuran. DXA juga memiliki keterbatasan serta tidak selalu diperlukan untuk pemantauan rutin.
Untuk membandingkan hasil, gunakan metode dan kondisi pengukuran yang relatif sama. Jangan menganggap setiap perubahan kecil pada persentase lemak sebagai perubahan yang pasti terjadi.
4. Memperhatikan Kekuatan dan Performa Latihan
Performa latihan dapat menjadi indikator tambahan yang bermanfaat, terutama bagi orang yang ingin mempertahankan massa otot.
Perhatikan apakah Anda mampu mempertahankan atau meningkatkan beban latihan, jumlah repetisi, atau kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
Jika berat badan berkurang tetapi kekuatan menurun drastis, tubuh terus-menerus lemas, atau pemulihan semakin buruk, program perlu dievaluasi.
Penurunan kekuatan tidak selalu berarti massa otot hilang, tetapi dapat menjadi tanda bahwa asupan energi, pemulihan, atau beban latihan perlu disesuaikan.
5. Memperhatikan Kondisi Tubuh secara Keseluruhan
Progres fat loss tidak hanya diukur dari bentuk tubuh.
Perhatikan juga energi harian, kualitas tidur, rasa lapar, kebugaran, tekanan darah, dan parameter kesehatan lainnya jika relevan.
Pada orang yang mengalami obesitas atau memiliki risiko metabolik, dokter mungkin menyarankan pemantauan gula darah, profil lipid, dan pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.
Dengan memantau beberapa indikator sekaligus, Anda dapat menilai apakah program yang dilakukan mendukung kesehatan, bukan hanya menghasilkan perubahan penampilan.
Kapan Harus Mulai Fat Loss?
Tidak semua orang perlu memulai program fat loss. Keputusan tersebut sebaiknya didasarkan pada kondisi tubuh, risiko kesehatan, dan tujuan yang ingin dicapai.
1. Jika Mengalami Obesitas atau Overweight
Jika berat badan berada di atas rentang sehat dan disertai penumpukan lemak berlebih, fat loss dapat menjadi bagian dari program pengelolaan berat badan.
Terlebih jika terdapat faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, gula darah meningkat, gangguan kolesterol, atau sleep apnea.
Konsultasi medis dapat membantu menentukan apakah penurunan berat badan diperlukan dan bagaimana melakukannya dengan aman.
2. Jika Memiliki Lingkar Pinggang yang Berlebih
Seseorang dapat memiliki berat badan yang tidak terlalu tinggi, tetapi tetap memiliki penumpukan lemak di area perut.
Karena lemak abdominal berkaitan dengan risiko metabolik, lingkar pinggang dapat menjadi informasi tambahan selain indeks massa tubuh atau IMT.
Namun, pengukuran ini bukan satu-satunya penentu kesehatan. Hasilnya perlu dipertimbangkan bersama faktor risiko dan pemeriksaan lainnya.
3. Jika Memiliki Komposisi Tubuh Skinny Fat
Jika berat badan normal tetapi massa otot relatif rendah, jangan langsung menganggap bahwa Anda harus menurunkan berat badan.
Pada kondisi ini, latihan kekuatan, asupan protein yang cukup, dan pemenuhan energi dapat lebih diutamakan untuk memperbaiki komposisi tubuh.
Fat loss dapat dipertimbangkan jika terdapat lemak berlebih yang memang perlu dikurangi, tetapi defisit kalori tidak selalu diperlukan.
4. Jika Sudah Siap Menjalani Perubahan Gaya Hidup
Program fat loss memerlukan konsistensi dalam pola makan, aktivitas fisik, tidur, dan pemantauan progres.
Jika Anda belum memiliki kebiasaan tersebut, tidak masalah untuk memulai dari langkah kecil, seperti memperbaiki kualitas makanan, berjalan kaki secara teratur, dan membangun rutinitas tidur yang baik.
Anda tidak perlu menunggu sampai memiliki motivasi yang sempurna. Namun, program sebaiknya tetap realistis dan tidak mengganggu kesehatan fisik maupun mental.
Kapan Sebaiknya Tidak Memulai Fat Loss Tanpa Evaluasi Medis?
Jika Anda memiliki berat badan rendah, sedang hamil atau menyusui, masih dalam masa pertumbuhan, mengalami gangguan makan, atau memiliki penyakit tertentu, jangan memulai pembatasan kalori tanpa arahan tenaga kesehatan.
Konsultasi juga diperlukan jika Anda mengalami penurunan berat badan yang tidak disengaja, kelelahan berkepanjangan, gangguan menstruasi, atau gejala lain yang belum diketahui penyebabnya.
Dalam situasi tersebut, prioritas utama adalah mengevaluasi kondisi kesehatan, bukan langsung mengurangi lemak tubuh.
Harus ke Dokter Apa Jika Mau Fat Loss?
Jika ingin memulai program fat loss, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui kondisi tubuh dan menentukan pendekatan yang sesuai.
Pilihan dokter bergantung pada tujuan, kondisi kesehatan, dan faktor risiko yang dimiliki.
1. Dokter Spesialis Gizi Klinik
Dokter spesialis gizi klinik dapat membantu menilai kebutuhan energi, status gizi, pola makan, dan komposisi tubuh.
Dokter juga dapat membantu menyusun strategi pengaturan makan yang sesuai, termasuk menentukan apakah Anda memerlukan defisit kalori atau justru perlu meningkatkan asupan nutrisi untuk mendukung pembentukan otot.
Konsultasi ini bermanfaat bagi orang yang mengalami obesitas, overweight, atau ingin memperbaiki komposisi tubuh dengan tetap mempertahankan massa otot.
2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Dokter spesialis penyakit dalam dapat membantu mengevaluasi kondisi medis yang berkaitan dengan berat badan dan metabolisme.
Misalnya, jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, diabetes, gangguan kolesterol, atau dugaan penyakit hati berlemak, dokter dapat menilai risiko kesehatan dan menentukan pemeriksaan yang diperlukan.
Jika terdapat penyakit penyerta, program fat loss mungkin perlu disesuaikan dengan pengobatan dan kondisi medis yang sedang ditangani.
3. Dokter Spesialis Endokrin Metabolik dan Diabetes
Dokter dengan kompetensi di bidang endokrin, metabolisme, dan diabetes dapat membantu mengevaluasi kondisi tertentu yang memengaruhi pengelolaan berat badan, seperti gangguan tiroid atau masalah metabolik dan hormonal lainnya.
Namun, berat badan sulit turun tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan hormon. Pemeriksaan dan tes tambahan dilakukan berdasarkan riwayat kesehatan, gejala, dan temuan klinis.
4. Dokter Umum
Dokter umum dapat menjadi titik awal konsultasi jika Anda belum mengetahui harus memulai dari mana.
Dokter dapat menilai berat badan, lingkar pinggang, tekanan darah, riwayat kesehatan, dan faktor risiko lainnya.
Jika diperlukan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan laboratorium atau merujuk Anda ke dokter spesialis yang sesuai.
5. Ahli Gizi dan Profesional Kebugaran
Selain dokter, ahli gizi dapat membantu penerapan rencana makan sehari-hari, sedangkan pelatih kebugaran yang kompeten dapat membantu menyusun latihan sesuai kemampuan.
Keduanya dapat mendukung program fat loss, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan dokter jika Anda memiliki penyakit, gejala yang belum diketahui penyebabnya, atau membutuhkan penanganan medis.
Fat Loss yang Sehat Berfokus pada Komposisi Tubuh, Bukan Sekadar Angka Timbangan
Fat loss merupakan proses mengurangi lemak tubuh dengan tetap berupaya mempertahankan massa otot dan menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Bagi orang dengan obesitas atau overweight, pengurangan lemak tubuh dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki faktor risiko kesehatan. Sementara itu, bagi orang dengan kondisi skinny fat, peningkatan massa otot dan perbaikan komposisi tubuh mungkin lebih sesuai daripada sekadar menurunkan berat badan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, perhatikan keseimbangan asupan energi, kecukupan protein, latihan kekuatan, aktivitas aerobik, tidur, dan pemulihan. Pantau progres melalui beberapa indikator, seperti berat badan, lingkar pinggang, komposisi tubuh, dan performa fisik.
Jika Anda ingin memulai fat loss tetapi memiliki kondisi kesehatan tertentu atau belum mengetahui pendekatan yang tepat, konsultasikan dengan dokter spesialis gizi klinik atau dokter sesuai kebutuhan.
Di Primecare Clinic, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu Anda memahami kondisi tubuh dan menentukan langkah pengelolaan berat badan yang sesuai dengan tujuan serta kebutuhan kesehatan Anda. Weight loss program di Primecare Clinic didampingi oleh dokter spesialis gizi klinik. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


