Berbagai Kelainan Sperma: Oligozoospermia, Asthenozoospermia, dan Teratozoospermia

October 23, 2026 by Primecare Clinic
2149195200-_1_-1200x801.webp

Terdapat berbagai jenis dari kelainan sperma. Berikut penjelasannya:

Definisi oligozoospermia, asthenozoospermia, dan teratozoospermia berdasarkan World Health Organization Laboratory Manual for the Examination and Processing of human semen pada tahun 2010:

  • Oligozoospermia: Konsentrasi sperma normalnya sebesar 15 juta/mL atau di rentang 12-16 juta/mL, dengan jumlah hitung sperma normal 39 juta/mL per ejakulasi. Konsentrasi sperma kurang dari 15 juta/mL atau jumlah total sperma kurang dari 39 juta/mL per ejakulasi disebut dengan Oligozoospermia. Oligozoospermia dikategorikan sebagai berat jika konsentrasi sperma kurang dari 5 juta/mL dan sangat berat jika konsentrasi sperma kurang dari 1 juta/mL. Bila tidak ditemukan sperma sama sekali, maka disebut sebagai azoospermia.
  • Asthenozoospermia: Jumlah spermatozoa yang menunjukkan motilitas atau kemampuan bergerak normalnya sebesar 40%, dengan motilitas progresif sebesar 31-34%. Beberapa laboratorium menyebutkan nilai rujukan sebesar minimal 60%. Bila spermatozoa yang menunjukkan motilitas progresif kurang dari 32% maka bisa disebut sebagai Asthenozoospermia. Asthenozoospermia absolut terjadi ketika tidak ada satu pun sperma yang bergerak, namun sperma tersebut tetap viabel atau masih dapat bertahan hidup.
  • Teratozoospermia: pada analisis sperma, nilai rujukan untuk bentuk atau morfologi sperma biasanya sebesar 30%. Bila jumlah sperma dengan morfologi atau bentuk yang normal kurang dari 4% maka sudah bisa disebut sebagai Teratozoospermia. Kelainan bentuk pada sperma meliputi:
  • Kelainan pada kepala: Kepala yang terlalu besar, kecil, meruncing atau tidak simetris, yang menghalangi penetrasi sel telur secara tepat.
  • Kelainan pada leher/bagian tengah: Distribusi mitokondria yang tidak merata atau tipis, sehingga sperma kekurangan energi yang dibutuhkan untuk bergerak.
  • Kelainan pada ekor: Ekor yang melingkar, bengkok, pendek, atau berjumlah lebih dari satu, yang menghambat sperma untuk bergerak maju.

Bila ketiga kondisi tersebut ditemukan dari hasil analisis sperma maka bisa disebut sebagai oligo-astheno-teratozoospermia.

Penyebab Utama Kerusakan Morphology dan Motility Sperma

Kelainan pada morfologi dan motilitas sperma dapat disebabkan oleh banyak faktor, baik faktor kelainan medis maupun faktor lingkungan. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan gangguan fungsi pada testis, peningkatan zat spesies oksigen reaktif/reactive oxygen species (ROS) yang bisa merusak sel, ketidakseimbangan hormon, dan gangguan perkembangan sperma, sehingga bisa mempengaruhi morfologi dan motilitas sperma.

Penyebab atau faktor yang dapat menyebabkan kerusakan morfologi dan motilitas sperma antara lain:

  • Varikokel, pelebaran pembuluh darah vena pada kantung testis
  • Celiac disease, penyakit autoimun yang menyerang usus halus
  • Crohn’s disease, peradangan kronis pada saluran pencernaan
  • Infeksi pada organ reproduksi pria
  • Trauma pada testis
  • Infeksi pada saluran kemih pria
  • Faktor genetik
  • Faktor usia (> 50 tahun)
  • Pola gaya hidup, seperti merokok, konsumsi alkohol, obesitas, kurang aktivitas olahraga, dan stres psikologis
  • Faktor lingkungan seperti paparan panas dan paparan bahan kimia atau toksin

Dampak Varikokel dan Gangguan Hormonal Terhadap Parameter Sperma

Varikokel adalah salah satu penyebab tersering gangguan kesuburan pada pria. Beberapa studi menunjukkan bahwa pelebaran pembuluh darah vena pada varikokel menyebabkan peningkatan suhu, peningkatan ROS, dan menurunkan asupan oksigen pada testis yang mempengaruhi berbagai parameter sperma seperti volume semen dan konsentrasi sperma, jumlah total sperma, motilitas total, motilitas progresif, dan morfologi sperma.

Studi tinjauan sistematik dan meta analisis oleh Agarwal et al. (2016) menunjukkan bahwa varikokel tidak mempengaruhi volume air mani secara signifikan namun berdampak negatif terhadap sebagian besar parameter sperma lainnya, seperti:

  • Penurunan jumlah total sperma
  • Penurunan motilitas sperma
  • Perubahan bentuk sperma menjadi abnormal

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa varikokel memiliki dampak negatif pada kesehatan sperma yang berujung pada infertilitas atau gangguan kesuburan.

Gangguan hormonal pada pria

Hormon-hormon yang dapat mempengaruhi kesuburan pria antara lain follicle-stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH), testosteron, anti-Mullerian hormone (AMH), prolaktin dan thyroid-stimulating hormone (TSH). 

Perubahan pada hormon-hormon tersebut bisa mempengaruhi tingkat kesuburan pria termasuk mengubah kualitas sperma, seperti perubahan pada produksi sperma dan mengubah fragmen DNA sperma.

  1. Kadar testosteron rendah disertai kadar FSH dan LH tinggi mengarah pada kondisi hipogonadisme hipergonadotropik primer, di mana sel Leydig pada testis (kelenjar kelamin pria) tidak dapat memproduksi testosteron dengan baik, yang memicu peningkatan FSH dan LH serta berkurangnya produksi sperma.
  2. Kadar testosteron rendah disertai kadar FSH dan LH normal atau rendah: mengindikasikan hipogonadisme sekunder. Pada kondisi ini disarankan untuk periksa kadar prolaktin, karena prolaktin bisa menekan kadar testosteron sehingga produksi sperma juga menurun.
  3. Kadar testosteron dan LH normal disertai kadar FSH tinggi mengarah pada kegagalan pembentukan sperma sehingga jumlah total sperma menurun, dapat menyebabkan azoospermia atau oligozoospermia berat. 
  4. Kadar testosteron, LH, dan FSH yang normal menunjukkan perlunya evaluasi lebih lanjut, bergantung pada hasil analisis air mani dan temuan pemeriksaan fisik. Jika ditemukan azoospermia dengan ukuran testis normal, kemungkinan azoospermia disebabkan oleh adanya sumbatan pada saluran testis (azoospermia obstruktif atau sperma tersumbat).
  5. Kadar testosteron dan LH tinggi disertai kadar FSH normal: disebabkan oleh resistensi androgen parsial, suatu kondisi langka ketika tubuh pada laki-laki tidak merespon terhadap hormon androgen, menyebabkan kondisi fisik menyerupai wanita atau ambigu walau lahir dengan kromosom laki-laki (XY).
  6. Kadar prolaktin tinggi bisa menyebabkan gangguan konsentrasi dan motilitas pada sperma.
  7. Kadar TSH tinggi dengan disertai peningkatan kadar T3 dan T4 pada pasien dengan hipotiroid dapat berpengaruh terhadap hitung sperma total, morfologi sperma, dan motilitas sperma.
  8. Kadar AMH tinggi diduga berperan terhadap spermatogenesis atau pembentukan sperma sehingga diperkirakan memberi dampak yang baik terhadap parameter sperma seperti jumlah, konsentrasi, morfologi, dan motilitas sperma, walaupun cara kerjanya dibutuhkan studi lebih lanjut.

Metode Diagnosis dan Pilihan Terapi Infertilitas Pria (PPSA, ICSI, dan Suplementasi)

Metode diagnosis yang digunakan untuk mengetahui faktor penyebab infertilitas pria yaitu:

  • Analisis sperma: ini merupakan pemeriksaan yang paling umum dilakukan untuk mengetahui parameter sperma, meliputi jumlah total sperma, volume ejakulat atau air mani, konsentrasi sperma, morfologi, dan motilitas sperma
  • Antisperm Antibodies (ASA): bila dicurigai adanya penggumpalan sperma atau asthenozoospermia dengan konsentrasi sperma normal
  • Tes fragmen DNA: untuk melihat keutuhan DNA pada sperma
  • Skrining genetik dan pemeriksaan kromosom: pada kasus azoospermia atau oligozoospermia berat, karena kelainan kromosom lebih sering ditemukan pada pria dengan infertilitas (hingga 15%) dibandingkan pada pria dengan kesuburan normal (sekitar 0,6%).
  • Pemeriksaan kadar hormon: bila diduga ada gangguan pada hormon
  • Pemeriksaan ultrasound: bila diduga ada masalah pada kelenjar kelamin pria seperti varikokel, misalnya USG skrotum atau Transrectal Ultrasound (TRUS)

Pilihan terapi atau tatalaksana untuk menangani infertilitas pria antara lain

Perubahan gaya hidup

  • Berhenti merokok
  • Membatasi atau menghentikan konsumsi alkohol
  • Menerapkan pola makan yang lebih bergizi
  • Menurunkan berat badan jika pasien mengalami obesitas
  • Meningkatkan aktivitas fisik
  • Menghindari pelumas buatan yang berpotensi beracun saat berhubungan intim
  • Mengurangi stres
  • Menghindari penggunaan obat-obatan tanpa indikasi
  • Menghindari paparan pestisida dan logam berat, seperti timbal, merkuri, boron, dan kadmium; serta menghindari segala paparan bahan kimia yang tidak perlu.

Terapi hormonal

Terapi hormon diberikan berdasarkan gangguan sperma dan kadar hormon yang menyertai pada pasien. Terapi hormonal meliputi:

  • Aromatase inhibitor: dapat memperbaiki parameter sperma namun belum terbukti meningkatkan peluang hamil
  • Clomiphene: dapat meningkatkan hormon FSH dan LH untuk membantu pembentukan sperma
  • Tamoxifen: meningkatkan hormon FSH dan LH untuk membantu pembentukan sperma, baik diberikan pada pasien dengan oligozoospermia

Antioksidan

Karena masalah sperma sering disebabkan oleh banyaknya zat ROS atau radikal bebas yang menyebabkan kerusakan sel, suplemen antioksidan bisa menjadi pilihan sebagai terapi tambahan bagi pasien dengan gangguan pada parameter sperma. Antioksidan yang dapat dikonsumsi yaitu:

  • Coenzyme Q10 (CoQ10): memperbaiki kualitas sperma secara keseluruhan dengan menurunkan stres oksidatif dan memperbaiki motilitas, morfologi, serta konsentrasi sperma pada air mani.
  • Asam folat: memperbaiki struktur DNA dan RNA sperma serta meningkatkan motilitas sperma, umumnya diberikan bersamaan dengan zinc.
  • L-carnitine: meningkatkan motilitas, memperbaiki morfologi, serta membantu pematangan sperma.
  • N-acetylcysteine (NAC): meningkatkan jumlah sperma, meningkatkan motilitas, mengurangi morfologi abnormal, menurunkan pemecahan DNA, memperbaiki aktivitas akrosom, serta berperan sebagai antioksidan yang efektif dalam air mani.
  • Vitamin C: melindungi DNA pada sperma dari kerusakan dan menambah kekentalan sperma
  • Vitamin D: membantu dalam motilitas sperma
  • Likopen: antioksidan karotenoid dan pigmen organik yang memberikan warna kuning, oranye, atau merah pada buah dan sayuran. Likopen secara alami ditemukan pada wortel, semangka merah muda, jeruk bali merah, aprikot, dan tomat.
  • Zinc: membantu proses pematangan sperma dan perkembangan testis, serta melindungi dari paparan zat besi berat, biasanya diberikan bersama dengan asam folat
  • Selenium: bila diberikan bersama NAC juga berperan dalam meningkatkan jumlah sperma serta memperbaiki motilitas dan morfologi sperma serta meningkatkan kadar hormon testosteron

Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI)

ICSI adalah teknik pembuahan tingkat lanjut yang bisa menjadi pilihan sebagai bagian dari siklus IVF (In Vitro Fertilization atau bayi tabung). Teknik ini sangat bermanfaat bagi pasangan yang menghadapi masalah kesuburan terkait sperma, seperti morfologi sperma yang buruk, motilitas rendah, atau riwayat kesulitan pembuahan sebelumnya. Pada ICSI, ahli embriologi memilih satu sel sperma dan menyuntikkannya secara langsung ke dalam sitoplasma sel telur, sehingga dapat melewati berbagai hambatan biologis yang mungkin menghalangi terjadinya pembuahan secara alami.

Pendekatan ini dapat meningkatkan peluang keberhasilan pembuahan pada kasus-kasus di mana IVF konvensional mungkin kurang efektif akibat masalah yang berkaitan dengan sperma. ICSI tidak menjamin keberhasilan dalam setiap kasus namun metode ini tetap menjadi salah satu prosedur yang paling banyak digunakan dan diteliti untuk mengatasi masalah kesuburan pada pria.

Tatalaksana pembedahan

  1. Varicocele Repair (VR)

Varicocele Repair (VR) atau varicocelectomy adalah prosedur bedah pada kondisi varikokel yang merupakan salah satu penyebab tersering kelainan pada sperma. Prosedur VR dilakukan dengan cara mengikat atau menutup pembuluh darah vena yang melebar. VR dapat dilakukan secara bedah terbuka (open surgery), bedah mikroskopik, atau laparoskopi. 

Banyak studi yang menyebutkan bahwa terapi pembedahan VR ini berdampak positif terhadap perbaikan parameter sperma. European Academy of Andrology juga memberikan rekomendasi kuat terhadap VR sebagai tindakan utama untuk mengatasi masalah kesuburan pria yang disebabkan oleh varikokel.

  1. Transurethral Resection of the Ejaculatory Ducts (TURED)

TURED adalah prosedur pembedahan invasif minimal yang dilakukan dengan cara memberikan sayatan kecil (reseksi) pada area verumontanum (bagian di dalam uretra tempat saluran ejakulasi keluar) untuk membuka jalan keluar cairan mani yang tersumbat, dipandu dengan alat TRUS. TURED merupakan salah satu tatalaksana pilihan utama bagi pasien dengan gangguan sperma akibat adanya sumbatan pada saluran testis. 

Cara mengetahui kelainan pada sperma (sperm analysis)

Analisis sperma adalah pemeriksaan penunjang utama untuk mengetahui kesehatan sperma dan kesuburan pria secara keseluruhan. Caranya adalah mengambil dua sampel terpisah dengan jeda minimal satu minggu, dengan waktu idealnya satu bulan. Pasien diminta untuk tidak melakukan aktivitas seksual (abstinens) selama 3 hari sebelum pengambilan sampel sperma. Analisis sperma sangat membantu dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tingkat keparahan faktor infertilitas yang berasal dari pria.

Berdasarkan panduan dari WHO pada tahun 2010, parameter sperma yang dinilai pada pemeriksaan analisis sperma meliputi:

  • Volume ejakulat/air mani: 1,5 mL (1,5–5 mL). 
  • pH: normalnya lebih dari 7,2.
  • Konsentrasi sperma: 15 juta/mL (12–16). Nilai acuan umum adalah lebih dari 20 juta/mL.
  • Jumlah total sperma: 39 juta/ejakulat (33–46 juta).
  • Morfologi sperma: lebih dari 4% bentuk normal. Nilai acuan umum adalah lebih dari 30%.
  • Motilitas: 40% (38%–42%). Nilai rujukan umum adalah 60%. 
  • Vitalitas: 58% hidup (55%–63%).
  • Motilitas progresif: 32% (31%–34%).
  • Motilitas total: lebih dari 40%. Nilai rujukan yang umum adalah lebih dari 60%. 
  • Pergerakan maju (forward progression): normalnya lebih dari grade 2. Klasifikasinya meliputi:
  • Grade 4: Pergerakan cepat dan maju ke depan di mana sperma bergerak dalam arah lurus.
  • Grade 3: Sperma bergerak maju namun dengan kecepatan lebih lambat dan/atau dalam arah melengkung.
  • Grade 2: Sperma bergerak lambat dan dengan arah yang tidak menentu.
  • Grade 1: Sperma bergerak namun tidak menunjukkan kemajuan ke depan.
  • Grade 0: Sperma tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan.
  • Fruktosa seminal: lebih dari 13 µmol/ejakulat.
  • Likuifaksi (proses alami perubahan konsistensi air mani dari yang awalnya kental atau berbentuk seperti agar-agar saat baru diejakulasi, menjadi cair kembali):  durasi normal 20 hingga 30 menit.

Bila ditemukan perubahan atau penurunan nilai rujukan pada parameter sperma tersebut, dokter mungkin akan mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan seperti uji hormon, uji antibodi antisperma dan pemeriksaan ada/tidaknya varikokel.

Harus ke dokter apa untuk mengatasi kelainan sperma

Bagi para pria bisa berkonsultasi kepada dokter spesialis Andrologi yang bisa membantu memberikan tatalaksana yang tepat untuk mengatasi kelainan pada sperma terkait jumlah atau konsentrasi dan/atau bentuk sperma yang bisa menimbulkan masalah pada kesuburan pria.

Jangan Ragu untuk Analisis Sperma dan Konsultasi ke Dokter

Kelainan sperma secara komprehensif tidak bisa didiagnosis secara kasat mata. Jadi, jangan ragu untuk melakukan analisis sperma dan konsultasi dengan dokter spesialis andrologi.

Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia dokter spesialis andrologi dan analisis sperma. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Referensi:

Adyatma Teja Kusuma. (2025). Microscopic Image of Sperm Motility and Morphology in A Hospital in Yogyakarta . Indonesian Andrology and Biomedical Journal, 6(2). https://doi.org/10.20473/iabj.v6i2.75660 

Agarwal, A., Cannarella, R., Saleh, R., Boitrelle, F., Gül, M., Toprak, T., Salvio, G., Arafa, M., Russo, G. I., Harraz, A. M., Singh, R., Garrido, N., Hamoda, T. A. A., Rambhatla, A., Kavoussi, P., Kuroda, S., Çalik, G., Saini, P., Ceyhan, E., Dimitriadis, F., … Shah, R. (2023). Impact of Varicocele Repair on Semen Parameters in Infertile Men: A Systematic Review and Meta-Analysis. The world journal of men’s health, 41(2), 289–310. https://doi.org/10.5534/wjmh.220142 

Agarwal, A., Sharma, R., Harlev, A., & Esteves, S. C. (2016). Effect of varicocele on semen characteristics according to the new 2010 World Health Organization criteria: a systematic review and meta-analysis. Asian journal of andrology, 18(2), 163–170. 

Bahrami, Z., Daeifarshbaf, N., Amjadi, F., & Aflatoonian, R. (2023). The effects of hormonal changes on sperm DNA integrity in oligoasthenoteratospermia individuals: A case-control study. International journal of reproductive biomedicine, 20(12), 999–1006. https://doi.org/10.18502/ijrm.v20i12.12560 https://doi.org/10.4103/1008-682X.172638 

Chamanmalik, S. I., Nerli, R. B., & Umarane, P. (2025). Lifestyle and hormonal factors affecting semen quality and sperm DNA integrity: A cross-sectional study. Oncoscience, 12, 115–129. https://doi.org/10.18632/oncoscience.627 

Colpi, G. M., Francavilla, S., Haidl, G., Link, K., Behre, H. M., Goulis, D. G., Krausz, C., & Giwercman, A. (2018). European Academy of Andrology guideline Management of oligo‐astheno‐teratozoospermia. Andrology, 6(4), 513–524. https://doi.org/10.1111/andr.12502

Leslie, S. W., Soon-Sutton, T. L., & Khan, M. A. (2026, June 19). Male infertility. StatPearls – NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562258/

Concept Fertility. (2026, January 28). Teratozoospermia (Abnormal sperm morphology). Concept Fertility -. https://www.conceptfertility.co.uk/fertility-testing-info/causes-of-male-infertility/poor-sperm-morphology/

primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.