19071.webp

Anak kecil memiliki kebiasaan memasukkan benda ke dalam mulut sebagai bagian dari proses eksplorasi. Hal ini membuat mereka rentan menelan benda kecil seperti karet headset.  Sebagian besar kasus tidak berbahaya dan benda dapat keluar sendiri, tetapi tetap perlu pemantauan.

Penyebab anak tidak sengaja menelan karet headset

Beberapa faktor utama:

  • Usia (6 bulan–3 tahun) → fase oral (sering memasukkan benda ke mulut) 
  • Benda kecil dan mudah dilepas (karet earbud)
  • Kurangnya pengawasan orang tua
  • Benda terlihat menarik atau kenyal untuk digigit

Penelitian menunjukkan bahwa benda kecil rumah tangga seperti mainan, karet, dan bagian kecil lainnya sering tertelan oleh anak. 

Gejala dan bahaya yang mungkin terjadi jika menelan karet headset

Sebagian besar anak tidak menunjukkan gejala. Namun, gejala yang perlu diwaspadai:

Gejala ringan:

  • Muntah
  • batuk
  • tidak nyaman di tenggorokan

Gejala serius:

  • Tersedak atau sesak napas
  • sulit menelan
  • nyeri dada atau perut
  • muntah berulang

Komplikasi yang mungkin terjadi:

  • Sumbatan saluran cerna
  • Luka atau iritasi
  • Aspirasi (benda masuk ke saluran napas)

Gejala seperti batuk, muntah, atau tersedak merupakan tanda umum ingestion benda asing pada anak.

Apa yang harus dilakukan jika anak menelan karet headset?

 Langkah awal:

  • Tetap tenang
  • Pastikan anak tidak sesak napas
  • Periksa apakah anak masih aktif dan sadar

Jika tidak ada gejala:

  • Observasi di rumah
  • Perhatikan BAB (benda biasanya keluar dalam beberapa hari)

 Jangan dilakukan:

  • Memaksa anak muntah
  • Memberi obat sembarangan

Segera ke dokter jika:

  • anak sesak napas atau tersedak
  • muntah terus-menerus
  • nyeri perut hebat
  • benda diduga tersangkut

Sebagian besar benda kecil akan keluar spontan tanpa tindakan, tetapi sekitar 10–20% kasus memerlukan intervensi medis.

Jika Anda ragu, maka Anda bisa ke IGD atau dokter spesialis anak.

Cara pencegahan agar tidak terulang

Pencegahan sangat penting karena kasus ini sering terjadi berulang.

1. Jauhkan benda kecil dari jangkauan anak

Benda kecil ini termasuk karet headset, baterai, kancing

2. Simpan barang di tempat tertutup

Terutama benda berukuran kecil

3. Awasi anak saat bermain

Terutama usia < 3 tahun. 

Anak usia kurang dari 3 tahun adalah kelompok paling berisiko sehingga pengawasan ketat adalah kunci utama pencegahan.

4. Edukasi anak (jika sudah cukup usia)

JIka anak sudah cukup usia, ajarka nuntuk tidak memasukkan benda ke mulut

5. Pilih barang dengan desain aman anak

Hindari benda kecil yang mudah dilepas. Pilih barang yang didesain ramah untuk anak.

Jangan Ragu untuk ke Dokter Spesialis Anak jika Ada Gejala yang Berbahaya

Menelan karet headset bisa terjadi karena ketidaksengajaan, terutama ketika anak sedang fase oral. Meski umumnya benda akan keluar bersama tinja, jangan ragu untuk ke dokter spesialis anak atau IGD jika menunjukkan gejala seperti muntah dan demam.

Referensi:

  1. McMahon K, et al. Pediatric Foreign Body Ingestion. StatPearls, 2025 
  2. Jayachandra S, et al. Foreign body ingestion in children: systematic review. Int J Pediatr Otorhinolaryngol, 2013 
  3. American Family Physician. Management of Foreign Body Ingestion in Children, 2026 
  4. MedlinePlus. Foreign object swallowed, NIH 
  5. Royal Children’s Hospital Guideline. Foreign body ingestion, Australia

3879-_1_-1200x800.webp

Banyak orang tua menggunakan televisi, tablet, atau ponsel agar anak mau menghabiskan makanannya. Cara ini memang sering terlihat efektif dalam jangka pendek. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan makan sambil menatap layar (screen time) dapat berdampak pada pola makan, perkembangan kemampuan mengatur rasa lapar dan kenyang, hingga risiko obesitas pada anak. 

Jadi, apakah anak boleh makan sambil nonton TV?

Apakah anak boleh makan sambil nonton TV?

Secara garis besar, anak makan sambil nonton TV / layar elektronik lainnya tidak dianjurkan, terutama jika dilakukan sebagai kebiasaan sehari-hari. Organisasi seperti American Academy of Pediatrics (AAP) dan World Health Organization (WHO) menganjurkan agar waktu makan menjadi momen tanpa layar (screen-free meals). Anak sebaiknya fokus pada makanan, anggota keluarga yang sedang makan bersama, dan belajar mengenali rasa lapar maupun kenyang.

Sesekali makan sambil menonton televisi saat acara khusus tentu tidak akan langsung menyebabkan masalah. Namun apabila dilakukan setiap hari, kebiasaan ini dapat mempengaruhi pola makan dan kesehatan anak dalam jangka panjang.

Mengapa Kebiasaan Anak Makan Sambil Nonton TV sering terjadi?

Penyebab kebiasaan ini sangat umum ditemukan tak lain adalah :  

1. Anak Lebih Mudah Duduk Tenang

Banyak anak aktif sulit duduk diam selama waktu makan. Tayangan televisi membuat perhatian anak teralihkan sehingga orang tua merasa proses makan menjadi lebih mudah.

2. Orang Tua Ingin Anak Cepat Menghabiskan Makanan

Sebagian orang tua khawatir anak makan terlalu sedikit sehingga menggunakan TV sebagai “alat bantu” agar anak membuka mulut tanpa banyak penolakan.

3. Jadwal Orang Tua yang Sibuk

Ketika orang tua memiliki waktu terbatas, memberikan tontonan sering dianggap sebagai solusi praktis agar waktu makan berlangsung lebih cepat.

4. Sudah Menjadi Kebiasaan di Rumah

Anak belajar dari lingkungan. Jika seluruh anggota keluarga terbiasa makan sambil menonton televisi, anak akan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Dampak Negatif Makan Sambil Menatap Layar seperti nonton TV

1. Anak Tidak Mengenali Rasa Lapar dan Kenyang

Saat perhatian terfokus pada layar, otak kurang memperhatikan sinyal kenyang dari tubuh. Akibatnya anak dapat makan terlalu banyak atau justru makan tanpa menikmati makanan.

Kemampuan mengenali rasa lapar dan kenyang (responsive eating) merupakan dasar penting dalam pembentukan kebiasaan makan sehat.

2. Risiko Obesitas Meningkat

Durasi screen time yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko overweight dan obesitas pada anak.

Hal ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor:

  • makan lebih banyak tanpa sadar
  • lebih sering mengonsumsi makanan tinggi kalori
  • aktivitas fisik berkurang
  • paparan iklan makanan tidak sehat

3. Pola Makan Menjadi Kurang Sehat

Anak yang sering makan sambil menonton televisi cenderung:

  • lebih sedikit makan buah dan sayur
  • lebih sering mengkonsumsi makanan cepat saji
  • lebih banyak mengonsumsi minuman manis
  • lebih sering memilih camilan tinggi gula dan garam

4. Mengganggu Interaksi Keluarga

Waktu makan sebenarnya merupakan kesempatan bagi anak belajar berbicara, berkomunikasi, dan membangun hubungan dengan keluarga.

Ketika televisi menyala, interaksi ini menjadi jauh berkurang.

5. Anak Menjadi Bergantung pada Screen Time Saat Makan

Sebagian anak akhirnya menolak makan apabila televisi dimatikan.

Jika sudah terbentuk kebiasaan seperti ini, proses mengubahnya akan membutuhkan waktu dan konsistensi dari seluruh anggota keluarga.

Tips Menghentikan atau Mengurangi Kebiasaan Anak Makan Sambil Nonton TV

Menghilangkan kebiasaan ini tidak harus dilakukan secara mendadak. Orang tua dapat melakukannya secara bertahap.Bisa dimulai dari : 

1. Tetapkan Area Makan Bebas Layar

Jadikan meja makan sebagai zona tanpa televisi, ponsel, maupun tablet.

2. Bangun Rutinitas Makan

Usahakan anak makan pada jam yang relatif sama setiap hari.

Rutinitas membantu anak memahami kapan waktunya makan dan mengurangi keinginan mencari distraksi.

3. Libatkan Anak Saat Makan

Ajak anak berbicara mengenai:

  • rasa makanan
  • warna makanan
  • tekstur makanan
  • aktivitas yang dilakukan hari itu

Percakapan sederhana dapat membuat waktu makan menjadi lebih menyenangkan daripada menonton televisi.

4. Hindari Memaksa Anak Menghabiskan Makanan

Memaksa anak makan justru dapat membuat pengalaman makan menjadi tidak menyenangkan. Biarkan anak belajar mengenali rasa lapar dan kenyangnya sendiri, selama pertumbuhan tetap sesuai.

5. Berikan Contoh yang Baik

Anak adalah peniru yang sangat baik.Jika orang tua juga meletakkan ponsel saat makan dan fokus berinteraksi dengan keluarga, anak lebih mudah mengikuti kebiasaan tersebut.

Cara Menerapkan Feeding Rules yang Benar

Salah satu prinsip yang banyak direkomendasikan dalam ilmu nutrisi anak adalah Division of Responsibility in Feeding yang dikembangkan oleh ahli gizi anak Ellyn Satter.

Prinsip ini membagi tanggung jawab antara orang tua dan anak.

1. Tugas Orang Tua

Orang tua menentukan:

  • apa yang disajikan
  • kapan waktu makan
  • di mana anak makan

Orang tua juga bertugas menyediakan makanan bergizi dalam suasana makan yang nyaman tanpa distraksi layar.

2. Tugas Anak

Anak menentukan:

  • apakah ingin makan
  • berapa banyak makanan yang ingin dihabiskan

Dengan cara ini, anak belajar mengenali rasa lapar dan kenyang secara alami.

Pendekatan ini terbukti membantu membangun hubungan yang sehat dengan makanan serta mengurangi konflik saat makan.

3. Terapkan Jadwal Makan Teratur

Idealnya terdiri atas:

  • 3 kali makan utama
  • 2–3 kali camilan sehat
  • hindari ngemil terus-menerus sepanjang hari

4. Batasi Durasi Makan

Waktu makan sekitar 20–30 menit umumnya sudah cukup.

Apabila anak tidak mau makan setelah waktu tersebut, hindari mengejar anak sambil membawa makanan.

Kapan harus ke dokter spesialis anak atau psikolog anak terkait kebiasaan makan anak?

Segera ke dokter spesialis anak jika:

  • berat badan tidak naik atau justru turun
  • tinggi badan tidak bertambah sesuai kurva pertumbuhan (cek di kalkulator gizi anak berikut untuk estimasi)
  • anak hanya mau makan sangat sedikit jenis makanan
  • sering tersedak atau sulit menelan
  • muntah berulang saat makan
  • dicurigai memiliki alergi makanan atau gangguan saluran cerna
  • terjadi defisiensi zat besi atau kekurangan gizi

Terapkan Aturan dan Jadi Teladan untuk Anak

Jika ingin mengurangi kebiasaan anak yang menonton TV sambil makan komunikasikan dan buat aturan bersama anak untuk makan tidak sambil nonton TV. Orang tua juga bisa berperan menjadi teladan seperti tidak ikut nonton TV saat makan.

Jika anak kesulitan makan baik itu secara fisiologis atau psikis, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak dan psikolog anak.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersedia dokter spesialis anak dan psikolog anak. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


6246-_1_-1200x801.webp

Anak kecil memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka sering memasukkan berbagai benda ke dalam mulut sebagai bagian dari proses eksplorasi. Salah satu benda yang cukup sering tertelan secara tidak sengaja adalah koin. 

Kondisi ini dapat membuat orang tua panik, padahal tidak semua kasus membutuhkan tindakan operasi. Yang terpenting adalah mengetahui kapan kondisi ini dapat dipantau di rumah dan kapan harus segera dibawa ke rumah sakit.

Mengapa Anak Bisa Tidak Sengaja Menelan Koin?

Menelan benda asing paling sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, terutama usia 1–3 tahun. Pada usia ini, koordinasi tangan dan mulut berkembang pesat sehingga anak gemar memasukkan benda ke mulut.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko antara lain:

  • Koin diletakkan di tempat yang mudah dijangkau anak.
  • Anak bermain tanpa pengawasan.
  • Kebiasaan memasukkan benda ke dalam mulut.
  • Kakak atau anggota keluarga meninggalkan benda-benda kecil di sekitar anak.

Koin merupakan salah satu benda yang paling sering tertelan oleh anak di berbagai negara.

Apa yang Terjadi Jika Anak Menelan Koin?

Setelah tertelan, koin dapat berada di beberapa lokasi:

  • Kerongkongan (esofagus), yaitu saluran yang menghubungkan mulut dengan lambung.
  • Lambung.
  • Usus.

Jika koin sudah masuk ke lambung, sebagian besar akan keluar sendiri melalui tinja dalam beberapa hari hingga beberapa minggu. Namun, apabila koin tersangkut di kerongkongan, kondisi ini dapat menjadi keadaan darurat yang memerlukan tindakan segera.

Gejala yang Harus Diwaspadai

Tidak semua anak menunjukkan gejala setelah menelan koin. Namun, segera cari pertolongan medis apabila muncul:

  • Sulit menelan.
  • Air liur terus keluar (ngiler berlebihan).
  • Anak menolak makan atau minum.
  • Nyeri di leher atau dada.
  • Batuk terus-menerus.
  • Tersedak.
  • Muntah berulang.
  • Napas berbunyi atau sesak napas.
  • Bibir atau wajah membiru.

Gejala-gejala tersebut dapat menandakan bahwa koin tersangkut di kerongkongan atau bahkan menekan saluran napas.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Jika Anda melihat atau mencurigai anak menelan koin:

  1. Tetap tenang dan jangan panik.
  2. Periksa apakah anak masih dapat bernapas dengan baik.
  3. Jangan memaksa anak muntah.
  4. Jangan memberikan makanan, nasi, pisang, atau roti dengan tujuan “mendorong” koin turun karena cara ini tidak terbukti efektif dan justru dapat meningkatkan risiko tersedak.
  5. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan.

Dokter biasanya akan melakukan wawancara, pemeriksaan fisik, dan bila diperlukan melakukan foto rontgen untuk mengetahui lokasi koin.

Bagaimana Dokter Menanganinya?

Penanganan bergantung pada lokasi koin dan kondisi anak.

1. Jika koin masih berada di kerongkongan

Dokter biasanya akan menyarankan pengambilan koin menggunakan prosedur endoskopi, terutama bila anak mengalami gejala atau koin berada di kerongkongan lebih dari beberapa jam.

2. Jika koin sudah berada di lambung

Apabila anak tidak memiliki gejala dan ukuran koin tidak terlalu besar, dokter biasanya akan melakukan observasi. Sebagian besar koin akan keluar sendiri bersama tinja tanpa memerlukan tindakan khusus.

Orang tua mungkin diminta memantau apakah koin keluar dan melakukan kontrol kembali sesuai anjuran dokter.

Kapan Harus Segera ke Instalasi Gawat Darurat?

Jangan menunda mencari pertolongan medis apabila:

  • Anak sulit bernapas.
  • Anak tampak tersedak berat.
  • Air liur terus keluar karena tidak bisa menelan.
  • Nyeri dada hebat.
  • Muntah terus-menerus.
  • Anak tampak sangat lemas atau kesadarannya menurun.

Kondisi tersebut membutuhkan evaluasi dan penanganan segera.

Bagaimana Cara Mencegahnya Anak Menelan Koin?

Pencegahan merupakan langkah terbaik. Orang tua dapat:

  • Menyimpan koin dan benda kecil di tempat yang tidak dapat dijangkau anak.
  • Mengawasi anak saat bermain.
  • Memilih mainan yang sesuai dengan usia anak.
  • Mengajarkan anak untuk tidak memasukkan benda ke dalam mulut.
  • Memastikan kakak atau anggota keluarga tidak meninggalkan benda kecil di lantai atau meja.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak?

Segera konsultasikan ke dokter spesialis anak apabila:

  • Anda melihat anak menelan koin.
  • Anak menunjukkan gejala setelah diduga menelan benda asing.
  • Anda tidak yakin apakah benda yang tertelan adalah koin atau jenis benda lain.

Perlu diketahui bahwa baterai kancing (button battery) dan magnet merupakan benda asing yang jauh lebih berbahaya dibandingkan koin dan harus segera mendapatkan penanganan darurat karena dapat menyebabkan luka bakar serta kerusakan jaringan dalam waktu singkat.

Kesimpulan

Sebagian besar kasus anak yang menelan koin dapat ditangani dengan baik dan banyak yang akan keluar sendiri melalui saluran pencernaan. Namun, apabila koin tersangkut di kerongkongan atau menyebabkan gangguan bernapas maupun menelan, kondisi tersebut merupakan keadaan darurat yang memerlukan penanganan segera.

Jangan mencoba mengeluarkan koin sendiri di rumah atau memaksa anak makan agar koin turun. Pemeriksaan oleh tenaga medis adalah cara paling aman untuk menentukan penanganan yang tepat.

Referensi 

  1. North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition. Management of Ingested Foreign Bodies in Children. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2015.
  2. European Society for Paediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition & European Society of Gastrointestinal Endoscopy. Guideline for Management of Gastrointestinal Foreign Bodies in Children. 2023.
  3. American Academy of Pediatrics. Foreign Body Ingestion in Children.
  4. American Society for Gastrointestinal Endoscopy. Guideline for Management of Ingested Foreign Bodies and Food Impactions.A

24917-_1_.webp

Ketika mendapati anak rewel tanpa sebab, bisa jadi penyebabnya adalah adanya ruam popok. Umumnya hal ini bisa dilihat dari bagian tubuh yang ditutupi popok mengalami ruam atau kemerahan, sehingga si kecil rewel hingga menangis, terutama kesakitan ketika disentuh bagian tersebut.

Berikut penjelasan tentang ruam popok!

Apa itu Ruam Popok?

Ruam popok atau diaper dermatitis muncul ketika ada reaksi peradangan kulit di sekitar area popok. Sesuai dengan namanya, ruam pada kulit muncul akibat dari pemakaian popok yang dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti kelembaban, kontak kulit yang lama terhadap urin dan/atau feses di dalam popok, dan iritan lain seperti deterjen.

Faktor Risiko Terjadinya Ruam Popok

Faktor risiko terjadinya ruam popok antara lain:

  • Usia: Ruam popok umum terjadi pada usia bayi dan anak-anak, dengan kasus paling sering di rentang usia 9-12 bulan. Hal itu karena kulit bayi baru lahir (newborn) dan anak-anak belum berkembang sempurna sehingga lebih rentan mengalami infeksi. 
  • Diet/asupan makanan: perubahan pola makan seiring pertumbuhan bayi berpengaruh terhadap perubahan mikrobiota usus dan pH feses, yang bila menempel pada kulit bisa menimbulkan iritasi bila tidak dibersihkan dengan baik.
  • Frekuensi penggantian popok: kontak yang berkepanjangan dengan iritan seperti urin dan feses meningkatkan risiko peradangan kulit.
  • Gejala ruam popok

Ruam popok terjadi di area tubuh yang tertutup popok, seperti bokong, paha, dan alat kelamin. Gejalanya dapat berupa:

  • Kulit yang meradang di area popok
  • Kulit gatal dan nyeri di area popok
  • Luka di area popok
  • Rasa tidak nyaman, rewel, atau menangis, terutama saat mengganti popok.
  • Pada kasus yang lebih berat, mungkin dapat muncul lepuh dan luka pada kulit.

Penyebab Utama Ruam Popok 

Penyebab terjadinya ruam popok bisa bermacam-macam, antara lain:

  • Gesekan terlalu sering antara kulit dan popok yang bisa menimbulkan luka terutama bila bahan popok yang dipakai terlalu kasar.
  • Iritasi akibat kontak kulit dengan urin dan feses pada popok. Urin dan feses mengandung amoniak yang dapat merusak permukaan kulit sehingga rentan terhadap infeksi.
  • Kulit yang basah dan lembab dapat meningkatkan pertumbuhan jamur dan bakteri. Agen infeksi yang paling sering ditemukan adalah jamur Candida albicans.
  • Penggunaan antibiotik jangka panjang, karena antibiotik tidak hanya membasmi kuman bakteri yang ‘jahat’ tetapi juga bakteri baik atau mikrobiota dalam tubuh. Karena itu, jamur mudah tumbuh di area kulit yang tertutup popok. Untuk bayi yang mendapatkan ASI eksklusif juga berisiko mengalami ruam popok bila ibunya yang menyusui juga sedang mengkonsumsi antibiotik.
  • Reaksi alergi akibat paparan deterjen, parfum, sabun, atau pewarna pada popok. Bayi/anak juga mungkin alergi terhadap pakaian, tisu basah, atau sabun. 

Cara Mengatasi Ruam Popok di Rumah dengan Metode ABCDE

Secara garis besar, penanganan ruam popok dilakukan dengan pendekatan ABCDE (Air, Barrier, Clean, Dry, Educate)

  1. Air (Udara): pada area yang tertutup popok harus terpapar oleh udara sesering mungkin dengan mengganti popok secara berkala
  2. Barrier (Penghalang): mengoleskan krim barrier (seperti zink oksida atau petroleum jelly) ke area yang tertutup popok
  3. Clean (Pembersihan): membersihkan area yang tertutup popok dengan air setiap mau mengganti popok dan tidak menggosok dengan terlalu kuat
  4. Dry diaper (Popok kering): Gunakan popok kering dengan daya serap tinggi serta berpori yang memungkinkan adanya sirkulasi udara dan hindari popok berbahan kain. Untuk bayi baru lahir, popok perlu diganti setiap 2 jam sekali, dan untuk bayi/anak yang lebih besar popok bisa diganti 3-4 jam sekali.
  5. Educate (Edukasi): tenaga kesehatan melakukan edukasi mengenai tata cara pencegahan dan penanganan ruam popok yang tepat kepada orang tua. 

Rekomendasi Salep atau Krim Ruam Popok yang Aman

Untuk pengobatan di rumah, pemberian salep yang mengandung zink oksida atau petroleum jelly akan bermanfaat sebagai pelindung kulit terhadap iritasi yang dapat terjadi pada ruam popok. Apabila setelah 3-4 hari belum membaik, bayi dan anak perlu diperiksa untuk pengobatan lebih lanjut dengan obat topikal yang memerlukan resep dokter.

Biasanya, dokter akan meresepkan salep sesuai dengan gejala dan kemungkinan penyebab munculnya ruam, misalnya anti peradangan seperti hidrokortison 0,5%, salep antijamur seperti ketokonazol dan/atau mikonazol untuk ruam popok akibat dari infeksi jamur, serta salep antibiotik bila ruam diduga muncul akibat infeksi bakteri. 

Kapan Harus Membawa Bayi/anak ke Dokter Spesialis Anak terkait ruam popok? 

Umumnya, ruam popok bisa diobati secara mandiri di rumah. Namun bila keluhan belum membaik segera bawa anak ke dokter spesialis anak untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut, terutama bila ditemukan gejala seperti:

  • Ruam disertai demam.
  • Ruam yang menetap atau memburuk meskipun sudah diobati di rumah.
  • Ruam yang berdarah, gatal, atau mengeluarkan cairan.
  • Ruam yang menyebabkan rasa terbakar atau nyeri saat bayi buang air kecil atau buang air besar.

Cara mencegah ruam popok di masa depan

Pencegahan terjadinya ruam popok secara garis besar bisa dilakukan sesuai dengan metode ABCDE yang disebutkan di atas. Beberapa hal penting yang perlu diingat oleh orang tua agar ruam popok tidak terjadi pada anak yaitu:

  • Mengganti popok secara teratur setiap 2-3 jam atau segera bila sudah kotor atau penuh.
  • Memilih popok yang pas dan tidak terlalu ketat pada anak untuk memungkinkan sirkulasi udara.
  • Menggunakan salep seperti petroleum jelly dan zink oksida
  • Menghindari produk pembersih yang mengandung bahan kimia keras, alkohol, atau pewangi.

Jangan Ragu ke Dokter Spesialis Anak jika Terjadi Ruam Popok

Jika terjadi ruam popok disertai gejala seperti demam, ruam tidak kunjung hilang, berdarah atau mengeluarkan cairan, hingga anak merasa nyeri ketika buang air kecil/besar, jangan ragu untuk ke dokter spesialis anak.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis anak. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


164660-1200x581.webp

Haid tidak teratur sering terjadi pada remaja dan sering menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua. Namun, tidak semua kondisi ini berbahaya—sebagian merupakan proses alami dalam perkembangan tubuh.

Apa itu haid tidak teratur pada remaja?

Haid tidak teratur adalah kondisi ketika siklus menstruasi:

  • tidak datang setiap bulan
  • jaraknya terlalu panjang atau terlalu pendek
  • atau jumlah darah tidak konsisten

Pada remaja, kondisi ini cukup sering terjadi, terutama dalam beberapa tahun pertama setelah haid pertama (menarche).

Penelitian menunjukkan bahwa siklus menstruasi bisa tidak teratur selama beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah menarche karena sistem hormonal yang belum matang 

Selain itu, sekitar 55–82% remaja mengalami gangguan ovulasi di awal masa menstruasi, yang menyebabkan siklus tidak teratur. Sehingga dalam banyak kasus, ini adalah proses adaptasi tubuh yang normal.

Penyebab haid tidak teratur pada remaja

Penyebabnya bisa fisiologis (normal) maupun patologis.

a. Ketidakseimbangan hormon (paling sering)

  • Sistem hormon (hipotalamus–hipofisis–ovarium) belum stabil
  • Ovulasi belum terjadi secara teratur

b. Faktor gaya hidup

  • Stres
  • Kurang tidur
  • Pola makan tidak seimbang
  • Olahraga berlebihan atau kurang aktivitas

c. Status gizi

Berat badan terlalu rendah atau berlebih dapat memengaruhi siklus menstruasi. Ketahui status gizi dengan kalkulator BMI.

d. Faktor biologis & genetik

Penelitian menyebutkan bahwa faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup berperan dalam keteraturan siklus menstruasi remaja

e. Penyebab medis (lebih jarang)

  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS)
  • gangguan tiroid
  • kelainan pembekuan darah
  • kista ovarium

Gejala remaja yang haidnya tidak teratur

Menurut The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) and The American Academy of Pediatrics (AAP), gejala haid tidak teratur meliputi:

  • Jarak siklus <21 hari atau >45 hari
  • Darah haid sangat banyak atau sangat sedikit
  • Nyeri haid berat (dismenore)
  • Siklus yang sangat berubah-ubah

Bahaya haid tidak teratur pada remaja

Risiko yang dapat terjadi:

  • Anemia akibat perdarahan berlebih
  • Gangguan kesuburan di masa depan
  • Gangguan hormon kronis (misalnya PCOS)
  • Gangguan kualitas hidup (nyeri, stres, cemas)

Haid tidak teratur juga bisa menjadi indikator awal gangguan sistem reproduksi atau metabolik jika berlangsung lama

Apa yang harus dilakukan sebagai orang tua jika anak remaja mengalami haid tidak teratur?

Peran orang tua sangat penting.

a. Jangan panik, lakukan observasi

  • Catat siklus haid anak
  • Perhatikan pola dan keluhan

b. Edukasi anak

  • Jelaskan bahwa ini bisa normal di awal
  • Ajarkan cara mencatat siklus haid

c. Perbaiki gaya hidup

  • Pastikan makan cukup dan seimbang
  • cukup tidur
  • kelola stres

d. Buka komunikasi

Penelitian menunjukkan bahwa komunikasi ibu–anak penting dalam kesiapan dan kesehatan menstruasi remaja

Cara pencegahan haid tidak teratur pada remaja

Menjaga siklus haid tetap teratur pada remaja sangat bergantung pada keseimbangan hormon. Keseimbangan ini dipengaruhi oleh pola hidup sehari-hari, termasuk nutrisi, aktivitas, dan kondisi psikologis

a. Asupan

Asupan nutrisi berperan penting dalam pembentukan dan regulasi hormon reproduksi.

  • Remaja perlu mendapatkan:
    • Protein → membantu produksi hormon
    • Zat besi → mencegah anemia akibat menstruasi
    • Vitamin dan mineral (vitamin B, D, zinc) → mendukung fungsi hormon
  • Hindari:
    • Diet ekstrem atau terlalu membatasi kalori
    • Pola makan tidak teratur

b. Menjaga berat badan ideal

Berat badan memiliki pengaruh langsung terhadap hormon reproduksi.

  • Berat badan terlalu rendah → tubuh dapat menghentikan ovulasi (amenore)
  • Obesitas → meningkatkan resistensi insulin dan gangguan hormon seperti PCOS

Penelitian menunjukkan bahwa indeks massa tubuh (IMT) yang tidak normal berhubungan dengan gangguan siklus menstruasi

c. Rutin melakukan aktivitas fisik

Aktivitas fisik membantu menjaga metabolisme dan keseimbangan hormon.

  • Dianjurkan:
    • olahraga ringan–sedang (jalan kaki, bersepeda, berenang)
    • minimal 30 menit, 3–5 kali per minggu
  • Perlu dihindari:
    • olahraga berlebihan (overtraining)
    • gaya hidup sedentary (kurang gerak)

d. Mengelola stres dengan baik

Stres merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi siklus haid.

  • Stres dapat mengganggu:
    • sumbu hipotalamus–hipofisis–ovarium (HPO axis)
    • produksi hormon estrogen dan progesteron
  • Dampaknya:
    • haid terlambat
    • siklus tidak teratur
    • bahkan tidak haid sementara

e. Edukasi kesehatan reproduksi sejak dini

Pengetahuan yang baik membantu remaja lebih sadar terhadap kondisi tubuhnya.

  • Remaja perlu memahami:
    • siklus haid normal (terdapat kalkulator siklus haid/masa subur di tautan ini).
    • cara mencatat siklus
    • tanda bahaya (haid terlalu lama, tidak haid berbulan-bulan, dll)

Edukasi juga membantu:

  • mencegah keterlambatan diagnosis
  • mengurangi kecemasan
  • meningkatkan perilaku hidup sehat

Harus ke dokter apa jika haid tidak teratur pada remaja?

Jika diperlukan pemeriksaan, dapat ke:

Kapan harus ke dokter untuk kasus haid tidak teratur pada remaja?

Segera periksakan jika:

  • Tidak haid >3 bulan (bukan hamil)
  • Haid sangat banyak atau >7 hari
  • Nyeri hebat hingga mengganggu aktivitas
  • Siklus tetap tidak teratur setelah >3 tahun sejak menarche
  • Disertai gejala lain (jerawat berat, rambut berlebih, obesitas → curiga PCOS)

Jangan Ragu untuk ke Dokter jika Siklus Haid Anak Tidak Teratur

Orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Jika anak Anda mengalami haid tidak teratur, komunikasi secara terbuka. Jangan ragu untuk ke dokter jika diperlukan, baik itu ke dokter umum/obgyn/anak.

Di Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tersedia dokter umum, anak, dan obgyn. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


2150794374.webp

Anak kecil memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka sering memasukkan berbagai benda ke dalam mulut sebagai bagian dari proses eksplorasi. Salah satu benda yang cukup sering tertelan secara tidak sengaja adalah koin.

Kondisi ini dapat membuat orang tua panik, padahal tidak semua kasus membutuhkan tindakan operasi. Yang terpenting adalah mengetahui kapan kondisi ini dapat dipantau di rumah dan kapan harus segera dibawa ke rumah sakit.

Mengapa Anak Bisa Tidak Sengaja Menelan Koin?

Menelan benda asing paling sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, terutama usia 1-3 tahun. Hal ini karena pada usia tersebut, koordinasi tangan dan mulut berkembang pesat sehingga anak gemar memasukkan benda ke mulut.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko antara lain:

  • Koin diletakkan di tempat yang mudah dijangkau anak.
  • Anak bermain tanpa pengawasan.
  • Kebiasaan memasukkan benda ke dalam mulut.
  • Kakak atau anggota keluarga meninggalkan benda-benda kecil di sekitar anak.

Koin merupakan salah satu benda yang paling sering tertelan oleh anak di berbagai negara.

Apa yang Terjadi Jika Anak Menelan Koin?

Setelah tertelan, koin dapat berada di beberapa lokasi:

  • Kerongkongan (esofagus), yaitu saluran yang menghubungkan mulut dengan lambung.
  • Lambung.
  • Usus.

Jika koin sudah masuk ke lambung, sebagian besar akan keluar sendiri melalui tinja dalam beberapa hari hingga beberapa minggu. Namun, apabila koin tersangkut di kerongkongan, kondisi ini dapat menjadi keadaan darurat yang memerlukan tindakan segera.

Gejala yang Harus Diwaspadai

Tidak semua anak menunjukkan gejala setelah menelan koin. Namun, segera cari pertolongan medis apabila muncul:

  • Sulit menelan.
  • Air liur terus keluar (ngiler berlebihan).
  • Anak menolak makan atau minum.
  • Nyeri di leher atau dada.
  • Batuk terus-menerus.
  • Tersedak.
  • Muntah berulang.
  • Napas berbunyi atau sesak napas.
  • Bibir atau wajah membiru.

Gejala-gejala tersebut dapat menandakan bahwa koin tersangkut di kerongkongan atau bahkan menekan saluran napas.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua jika Anak Menelan Koin?

Jika Anda melihat atau mencurigai anak menelan koin:

  1. Tetap tenang dan jangan panik.
  2. Periksa apakah anak masih dapat bernapas dengan baik.
  3. Jangan memaksa anak muntah.
  4. Jangan memberikan makanan, nasi, pisang, atau roti dengan tujuan “mendorong” koin turun karena cara ini tidak terbukti efektif dan justru dapat meningkatkan risiko tersedak.
  5. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan.

Dokter biasanya akan melakukan wawancara, pemeriksaan fisik, dan bila diperlukan melakukan foto rontgen untuk mengetahui lokasi koin.

Bagaimana Dokter Menangani Kasus Anak Menelan Koin?

Penanganan bergantung pada lokasi koin dan kondisi anak.

a. Jika koin masih berada di kerongkongan

Dokter biasanya akan menyarankan pengambilan koin menggunakan prosedur endoskopi, terutama bila anak mengalami gejala atau koin berada di kerongkongan lebih dari beberapa jam.

b. Jika koin sudah berada di lambung

Apabila anak tidak memiliki gejala dan ukuran koin tidak terlalu besar, dokter biasanya akan melakukan observasi. Sebagian besar koin akan keluar sendiri bersama tinja tanpa memerlukan tindakan khusus.

Orang tua mungkin diminta memantau apakah koin keluar dan melakukan kontrol kembali sesuai anjuran dokter.

Kapan Harus Segera ke Instalasi Gawat Darurat?

Jangan menunda mencari pertolongan medis apabila:

  • Anak sulit bernapas.
  • Anak tampak tersedak berat.
  • Air liur terus keluar karena tidak bisa menelan.
  • Nyeri dada hebat.
  • Muntah terus-menerus.
  • Anak tampak sangat lemas atau kesadarannya menurun.

Kondisi tersebut membutuhkan evaluasi dan penanganan segera.

Bagaimana Cara Mencegahnya Anak Menelan Koin?

Pencegahan merupakan langkah terbaik. Orang tua dapat:

  • Menyimpan koin dan benda kecil di tempat yang tidak dapat dijangkau anak.
  • Mengawasi anak saat bermain.
  • Memilih mainan yang sesuai dengan usia anak.
  • Mengajarkan anak untuk tidak memasukkan benda ke dalam mulut.
  • Memastikan kakak atau anggota keluarga tidak meninggalkan benda kecil di lantai atau meja.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak?

Segera konsultasikan ke dokter spesialis anak apabila:

  • Anda melihat anak menelan koin.
  • Anak menunjukkan gejala setelah diduga menelan benda asing.
  • Anda tidak yakin apakah benda yang tertelan adalah koin atau jenis benda lain.

Perlu diketahui bahwa baterai kancing (button battery) dan magnet merupakan benda asing yang jauh lebih berbahaya dibandingkan koin dan harus segera mendapatkan penanganan darurat karena dapat menyebabkan luka bakar serta kerusakan jaringan dalam waktu singkat.

Anak Menelan Koin? Jangan Ragu untuk ke Dokter Spesialis Anak atau IGD

Sebagian besar kasus anak yang menelan koin dapat ditangani dengan baik dan banyak yang akan keluar sendiri melalui saluran pencernaan. Namun, apabila koin tersangkut di kerongkongan atau menyebabkan gangguan bernapas maupun menelan, kondisi tersebut merupakan keadaan darurat yang memerlukan penanganan segera.

Jangan mencoba mengeluarkan koin sendiri di rumah atau memaksa anak makan agar koin turun. Pemeriksaan oleh tenaga medis adalah cara paling aman untuk menentukan penanganan yang tepat.

Referensi 

  1. North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition. Management of Ingested Foreign Bodies in Children. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2015.
  2. European Society for Paediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition & European Society of Gastrointestinal Endoscopy. Guideline for Management of Gastrointestinal Foreign Bodies in Children. 2023.
  3. American Academy of Pediatrics. Foreign Body Ingestion in Children.
  4. American Society for Gastrointestinal Endoscopy. Guideline for Management of Ingested Foreign Bodies and Food Impactions.

98517-1200x800.jpg

Infeksi telinga pada anak dan bayi pastinya membuat orang tua cukup deg-degan. Apalagi pada bayi di mana mereka belum bisa mengomunikasikan secara eksplisit bahwa mereka mengalami infeksi pada telinga. Apa saja tandanya dan hal yang harus dilakukan?

Apa itu Infeksi Telinga (Otitis Media) pada Anak?

Infeksi telinga terjadi ketika ada infeksi yang menyebabkan peradangan di bagian telinga, baik telinga luar, tengah, atau dalam. Pada anak-anak, jenis infeksi telinga yang sering terjadi adalah infeksi pada telinga tengah atau otitis media. Otitis media paling sering disebabkan oleh bakteri, namun tidak menutup kemungkinan juga patogen lain bisa menyebabkan infeksi seperti virus dan jamur.

Gejala Infeksi Telinga pada Anak dan Bayi 

Tanda dan gejala infeksi telinga meliputi:

  • Nyeri di dalam telinga (sakit telinga)
  • Demam tinggi
  • Gangguan dalam mendengar
  • Cairan keluar dari telinga
  • Rasa adanya tekanan atau sensasi penuh di dalam telinga
  • Gatal dan iritasi di dalam dan sekitar telinga
  • Kulit bersisik di dalam dan sekitar telinga

Khusus pada anak-anak dan bayi yang belum bisa mendeskripsikan gejala yang dialami, tanda-tanda berikut bisa menunjukkan kemungkinan adanya infeksi telinga, seperti:

  • Menggosok atau menarik telinga
  • Tidak bereaksi terhadap suara-suara tertentu
  • Mudah tersinggung atau gelisah/rewel
  • Tidak nafsu makan
  • Kehilangan keseimbangan
  • Penyebab Utama Infeksi Telinga, misalnya Setelah Batuk Pilek

Faktor Risiko Infeksi Telinga pada Anak

Kondisi yang dapat menjadi faktor penyebab infeksi telinga pada anak-anak paling sering adalah adanya infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), seperti:

  • Common cold atau batuk pilek biasa
  • Infeksi pada tonsil dan adenoid (Tonsilloadenoiditis)
  • Infeksi pada hidung dan sinus paranasalis (Rinosinusitis)
  • Demam eksantema atau infeksi yang menimbulkan gejala ruam merah pada kulit, seperti difteri, campak, dan/atau pertusis

Secara anatomi, terdapat saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan saluran pernapasan (hidung dan nasofaring, bagian atas dari tenggorokan) yang disebut dengan tuba eustachius. Pada anak-anak dan bayi, posisi tuba eustachius lebih lebar, pendek, dan mendatar dibandingkan orang dewasa, sehingga infeksi pada saluran napas atas akan lebih mudah menyebar ke telinga melalui tuba eustachius ini.

Faktor risiko lain yang dapat menambah risiko terjadinya infeksi telinga antara lain:

  • Alergi pada hidung
  • Tumor nasofaring
  • Bibir sumbing
  • Paparan debu dan asap rokok
  • Bayi yang disusui dengan botol dengan posisi telentang
  • Sistem imun anak-anak yang belum berkembang sempurna
  • Trauma yang dapat menyebabkan gendang telinga berlubang (perforasi membran timpani)

Cara Mengobati Infeksi Telinga Anak Secara Medis

Umumnya, dokter akan memberikan berbagai macam obat atau penanganan pada anak dengan infeksi telinga dengan:

  1. Antibiotik yang diminum secara peroral sesuai dengan dosis yang diresepkan oleh dokter, bila infeksi diduga disebabkan oleh agen bakteri.
  2. Obat tetes hidung anti radang yang bertujuan untuk mengobati tuba eustachius yang mengalami peradangan.
  3. Dekongestan untuk meredakan telinga atau hidung yang tersumbat. Biasanya obat ini bisa dikombinasikan dengan antihistamin atau obat pereda alergi.
  4. Obat analgesik atau antipiretik bila keluhan disertai nyeri dan demam, misalnya parasetamol.
  5. Tindakan pembersihan telinga atau ear toilet
  6. Prosedur pembedahan dengan memberikan sayatan kecil pada gendang telinga, disebut dengan miringotomi. Dokter mungkin akan mempertimbangkan tindakan ini bila ditemukan adanya:

(i) Gendang telinga menonjol dan terdapat nyeri akut,

(ii) Tidak ada perbaikan gejala meskipun sudah diberikan antibiotik misal ketika gendang telinga tetap terasa penuh dengan gangguan pendengaran konduktif yang menetap,

(iii) terdapat penumpukan cairan yang menetap lebih dari 12 minggu.

Tips Mencegah Infeksi Telinga Berulang pada Si Kecil (Anak)

Infeksi telinga dapat dicegah dengan cara:

  • Rajin mencuci tangan untuk mencegah penyebaran kuman
  • Tidak mengorek telinga sendiri 
  • Hindari paparan debu atau asap rokok
  • Mencegah anak minum saat telentang dengan menyusui atau memberikan botol dot ke bayi/anak dengan posisi kepala sedikit lebih ke atas
  • Hindari berkumpul bersama teman sebayanya untuk sementara, karena potensi tertular dari anak yang sedang sakit atau menularkan penyakit ke anak lain
  • Imunisasi sesuai jadwal agar anak lebih kebal terhadap infeksi. Vaksinasi seperti influenza dan PCV (pneumonia) dapat menurunkan risiko terjadinya infeksi telinga dan komplikasinya pada anak.

Kapan harus ke dokter spesialis anak atau THT terkait infeksi telinga pada anak?

Segeralah berobat ke dokter, terutama dokter spesialis THT apabila ada gejala seperti sakit telinga, demam, anak rewel, dan cairan keluar dari telinga dan berlangsung lebih dari 2-3 hari serta memburuk dengan cepat. Sebaiknya anak dibawa ke instalasi gawat darurat jika ada demam tinggi (di atas 39°C), keluarnya nanah/darah, leher kaku, atau pembengkakan atau kemerahan di belakang telinga karena risiko terjadinya komplikasi akibat dari infeksi telinga.

Jangan Ragu ke Dokter Spesialis THT jika Anak Mengalami Gejala Infeksi Telinga

Jika anak mengalami gejala infeksi telinga, jangan ragu untuk ke dokter spesialist THT untuk mendapatkan penanganan dengan cepat dan tepat.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis THT. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

Sumber:

Dhingra, P. (2013). Diseases of Ear, Nose and Throat, 6/e. Elsevier India.

Ear infection Basics. (2024, April 17). Ear Infection. https://www.cdc.gov/ear-infection/about/index.html

Ear infections in children. (2022, March 16). NIDCD. https://www.nidcd.nih.gov/health/ear-infections-children

Website, N. (2025, November 25). Ear infections. nhs.uk. https://www.nhs.uk/conditions/ear-infections/


42115-1-1200x800.jpg

Erling Haaland dikenal sebagai mesin pencetak gol yang fenomenal dan fantastis di lapangan hijau. Di balik fisiknya yang kekar, terdapat rahasia bahan bakar yang tidak biasa: diet sebesar 6000 kalori per hari. Jumlah ini hampir tiga kali lipat dari rekomendasi konsumsi harian pria dewasa normal.

Bagi seorang atlet sepak bola profesional dengan tinggi 195 cm dan intensitas latihan harian yang sangat tinggi, angka ini masih masuk akal, terlebih lagi ada ahli gizi/nutrisionis profesional di klub olahraga elit. Namun, apa jadinya jika pola makan raksasa ini diterapkan oleh manusia biasa?

Artikel ini akan mengupas tuntas menu unik dalam diet Erling Haaland dan dampak nyata, baik dari sisi medis maupun metabolisme, jika orang biasa nekat menirunya.

Inti dari Diet 6000 Kalori Erling Haaland

Berbeda dengan banyat atlet modern yang memilih jalur vegan atau diet ketat tanpa daging merah, Haaland justru mengadopsi pola makan ala manusia purba (ancestral diet) yang padat nutrisi hewani.

1. Jantung dan Hati Sapi

Haaland secara terbuka mengakui bahwa ia rutin mengonsumsi organ dalam (jeroan) seperti jantung dan hati sapi. Jeroan ini merupakan superfood alami yang sangat kaya akan zat besi, vitamin B, fosfor, dan koenzim Q10.

2. Air yang Disaring Khusus

Ia sangat selektif terhadap apa yang masuk ke tubuhnya, termasuk meminum air yang harus melalui sistem filtrasi kompleks untuk menghilangkan zat kimia berbahaya.

3. Sinar Matahari Pagi

Bagian dari rutinitas “diet” biologisnya adalah menyerap sinar matahari pagi segera setelah bangun tidur untuk mengatur ritme sirkadian dan metabolisme tubuh.

4. Susu Mentah (Raw Milk)

Haaland juga gemar mengonsumsi susu mentah berlemak tinggi yang dicampur dengan telur atau protein shake.

Dampak Nyata Jika Diet 6000 Kalori Ini Dilakukan oleh Manusia Biasa

Jika Anda bukan atlet profesional yang menghabiskan 4 hingga 6 jam sehari untuk latihan fisik intensitas tinggi, mengonsumsi 6000 kalori akan memicu respons tubuh yang drastis.

Berikut adalah dampak biologis yang akan terjadi pada manusia biasa:

1. Surplus Kalori Ekstrem dan Obesitas Instan

Manusia awam dengan aktivitas kantoran yang ringan atau bahkan sedenter rata-rata hanya membakar 1500 hingga 2,500 kalori per hari. Jika Anda memasukkan 6000 kalori, tubuh akan mengalami surplus sebesar 3,500 kalori setiap hari.

Secara matematis, surplus sebesar 3,500 kalori setara dengan penambahan sekitar 0,5 kg lemak tubuh per hari. Dalam sebulan, Anda berisiko mengalami lonjakan berat badan belasan kilogram yang didominasi oleh lemak, bukan otot. BMI akan meningkat secara drastis, diikuti dengan peningkatan body fat.

2. Sindrom “Metabolic Gridlock” (Macetnya Jalur Energi)

Ini adalah aspek biokimia yang jarang dibahas: Metabolic Gridlock. Ketika sel-sel tubuh mendapat makronutrien (karbohidrat, lemak, protein) dalam jumlah besar tanpa adanya kebutuhan energi yang mendesak, mitokondria (pabrik energi sel) akan mengalami overload. Efeknya, bukannya menjadi bertenaga seperti Haaland, Anda justru akan merasa sangat lelah, mengantuk kronis (brain fog), dan lemas sepanjang hari. Sel tubuh akan “protes” dengan cara mematikan reseptor insulin untuk mencegah masuknya energi berlebih, sehingga berpotensi menyebabkan resistensi insulin dan diabetes tipe 2.

3. Toksisitas Zat Besi dan Overdosis Vitamin A

Mengonsumsi hati dan jantung sapi dalam porsi atlet setiap hari sangat berbahaya bagi manusia biasa. Hati sapi mengandung vitamin A (retinol) dan zat besi dalam kadar yang sangat tinggi.

Atlet membakar dan mematangkan sel darah merah dengan cepat, sehingga membutuhkan banyak zat besi. Namun, pada manusia biasa, zat besi yang berlebihan akan menumpuk di organ dalam (hemochromatosis), yang dapat merusak hati (sirosis). Overdosis vitamin A dari jeroan juga bisa menyebabkan pusing, mual, hingga kerontokan rambut kronis.

4. Beban Berat pada Organ Pencernaan dan Ginjal

Memproses 6000 kalori makanan padat membutuhkan energi pencernaan yang luar biasa besar. Terlebih lagi, diet Haaland sangat tinggi protein dari daging dan susu.

Dampaknya, lambung akan terus-menerus meregang, sehingga memicu penyakit asam lambung (GERD). Selain itu, ginjal harus bekerja ekstra keras untuk menyaring produk limbah hasil pemecahan protein (urea dan asam urat).

Jika dilakukan jangka panjang tanpa hidrasi dan pembakaran yang setara, hal ini dapat menyebabkan penyakit batu ginjal atau gagal ginjal akut.

5. Stres Jantung (Hipertrofi Eksentrik yang Salah)

Volume makanan dan kalori yang besar meningkatkan volume darah yang harus dipompa oleh jantung. Pada diri Haaland, jantungnya sudah terlatih menjadi lebih besar dan kuat karena olahraga (athlete’s heart).

Dampaknya, hal ini akan memaksa jantung memompa darah ekstra. Masalahnya, tanpa kekuatan otot jantung yang terlatih akan meningkatkan tekanan darah secara drastis (hipertensi) dan mempercepat penebalan dinding jantung yang tidak sehat, meningkatkan risiko serangan jantung di usia muda.

6. Potensi Keracunan karena Konsumsi Susu Mentah

Susu mentah atau tidak dipasteurisas mengandung kontaminasi bakteri. Kontaminasi ini dapat menyebabkan keracunan.

Kesimpulan: Ambil Filosofinya, Jangan Ikuti Jumlah Asupan Kalorinya

Diet Erling Haaland adalah bukti nyata bagaimana nutrisi bisa dipersonalisasi untuk menciptakan performa untuk pemain top di level tertinggi olahraga profesional. Namun, diet ini sangat berbahaya jika diaplikasikan ke manusia biasa.

Jika Anda ingin meniru Erling Haaland, jangan tiru porsi 6000 kalorinya.  Justru, tirulah filosofi kebersihan makanannya, yaitu prioritaskan makanan utuh (whole foods), hindari makanan olahan (processed food), konsumsi air bersih, dan disiplin menjaga tidur. Kebiasaan tersebut dapat membuat tubuh manusia biasa tetap sehat dan bugar.


2149503120-_1_-1200x800.webp

Banyak orang tua merasa khawatir ketika anak mulai sulit makan atau hanya mau mengonsumsi beberapa jenis makanan tertentu. Tidak jarang kondisi ini membuat orang tua mencoba berbagai cara agar anak mau makan lebih banyak, mulai dari membujuk, mengejar anak saat makan, hingga memberikan vitamin penambah nafsu makan.

Padahal, nafsu makan anak memang dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu. Ada kalanya anak makan dengan lahap, tetapi pada periode tertentu terlihat lebih sulit makan dibandingkan biasanya. Dalam banyak kasus, kondisi ini masih merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang normal.

Meski demikian, orang tua tetap perlu memahami penyebab anak susah makan, cara meningkatkan nafsu makan secara sehat, serta tanda-tanda yang mengharuskan anak diperiksakan ke dokter.

Mengapa Anak Tiba-Tiba Susah Makan?

Penurunan nafsu makan pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi yang normal hingga masalah kesehatan tertentu.

1. Kecepatan Pertumbuhan Anak Mulai Melambat

Pada tahun pertama kehidupan, pertumbuhan anak berlangsung sangat cepat sehingga kebutuhan energi dan nafsu makannya cenderung tinggi. Namun setelah memasuki usia balita, kecepatan pertumbuhan mulai melambat.

Akibatnya, kebutuhan kalori anak tidak sebesar sebelumnya sehingga anak tampak makan lebih sedikit. Kondisi ini sering membuat orang tua khawatir, padahal sebenarnya masih termasuk normal apabila pertumbuhan dan berat badan anak tetap sesuai usianya.

2. Anak Sedang Sakit

Ketika mengalami demam, flu, batuk, radang tenggorokan, diare, atau infeksi lainnya, anak sering mengalami penurunan nafsu makan.

Tubuh yang sedang melawan infeksi akan memfokuskan energi untuk proses penyembuhan sehingga keinginan untuk makan menjadi berkurang. Nafsu makan biasanya akan membaik kembali setelah kondisi kesehatan anak pulih.

3. Terlalu Banyak Minum Susu atau Camilan

Salah satu penyebab yang cukup sering terjadi adalah anak terlalu sering mengonsumsi susu, jus, minuman manis, atau camilan di antara waktu makan utama.

Karena sudah merasa kenyang terlebih dahulu, anak menjadi tidak tertarik ketika waktu makan tiba. Akibatnya, porsi makan utama menjadi jauh berkurang.

4. Anak Sedang Belajar Mandiri

Pada usia tertentu, anak mulai menunjukkan keinginan untuk menentukan pilihannya sendiri, termasuk dalam hal makanan.

Anak mungkin menolak makanan tertentu bukan karena tidak lapar, melainkan karena ingin menunjukkan kemandiriannya. Fase ini cukup umum terjadi pada usia balita dan biasanya bersifat sementara.

5. Bosan dengan Menu yang Sama

Makanan yang disajikan dengan menu, rasa, atau tampilan yang sama setiap hari dapat membuat anak kehilangan minat untuk makan.

Sebagaimana orang dewasa, anak juga menyukai variasi makanan yang menarik baik dari segi warna, bentuk, maupun rasa.

6. Kondisi Medis Tertentu

Pada beberapa kasus, nafsu makan yang terus menurun dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu seperti alergi makanan, gangguan pencernaan, infeksi kronis, anemia, infeksi cacing, gangguan metabolik, atau masalah psikologis tertentu.

Karena itu, apabila penurunan nafsu makan berlangsung lama atau disertai gejala lain, anak perlu diperiksakan lebih lanjut.

Cara Meningkatkan Nafsu Makan Anak Secara Alami

Sebelum memberikan obat atau suplemen tertentu, terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan nafsu makan anak secara alami.

1. Terapkan Jadwal Makan yang Teratur

Anak sebaiknya memiliki jadwal makan yang konsisten setiap hari, misalnya tiga kali makan utama dan dua kali camilan sehat.

Jadwal yang teratur membantu tubuh mengenali waktu makan sehingga rasa lapar dapat muncul secara lebih alami.

2. Batasi Camilan Menjelang Waktu Makan

Camilan yang diberikan terlalu dekat dengan waktu makan utama dapat membuat anak kenyang terlebih dahulu.

Idealnya, camilan diberikan sekitar 2–3 jam sebelum waktu makan berikutnya agar anak tetap memiliki nafsu makan saat waktu makan utama tiba.

3. Kurangi Minuman Manis Berlebihan

Jus kemasan, teh manis, minuman rasa buah, atau susu dalam jumlah berlebihan dapat membuat anak merasa kenyang lebih cepat.

Air putih tetap menjadi pilihan terbaik untuk membantu menjaga hidrasi tanpa mengganggu nafsu makan.

4. Sajikan Makanan dengan Tampilan Menarik

Anak sering kali tertarik pada makanan yang memiliki warna dan bentuk yang menarik.

Orang tua dapat mencoba menyajikan makanan dengan variasi warna dari sayur dan buah, menggunakan cetakan makanan, atau membuat tampilan yang lebih kreatif agar anak lebih tertarik untuk mencoba.

5. Libatkan Anak dalam Menyiapkan Makanan

Mengajak anak memilih bahan makanan, mencuci sayur, atau membantu menata makanan dapat meningkatkan ketertarikan mereka terhadap makanan yang akan dikonsumsi.

Anak yang merasa terlibat dalam proses memasak seringkali lebih bersemangat untuk mencoba hasil masakannya sendiri.

6. Berikan Porsi yang Sesuai Usia

Porsi makan yang terlalu besar dapat membuat anak merasa tertekan sebelum mulai makan.

Memberikan porsi kecil terlebih dahulu sering kali lebih efektif. Jika anak masih lapar, porsi dapat ditambah secara bertahap.

7. Pastikan Anak Aktif Bergerak

Aktivitas fisik seperti bermain, berlari, bersepeda, atau olahraga ringan dapat membantu meningkatkan kebutuhan energi tubuh sehingga rasa lapar muncul secara alami.

Anak yang lebih aktif umumnya memiliki nafsu makan yang lebih baik dibandingkan anak yang jarang bergerak.

8. Ciptakan Suasana Makan yang Menyenangkan

Waktu makan sebaiknya menjadi momen yang nyaman bagi anak dan keluarga.

Hindari memarahi, mengancam, atau memberikan tekanan berlebihan saat anak makan karena hal tersebut justru dapat membuat anak semakin menolak makanan.

Perlukah Memberikan Vitamin Penambah Nafsu Makan Anak?

Pertanyaan ini sering diajukan oleh orang tua yang merasa anaknya sulit makan.

Pada dasarnya, tidak semua anak yang susah makan memerlukan vitamin penambah nafsu makan. Jika pertumbuhan anak baik, berat badan sesuai kurva pertumbuhan, dan anak tetap aktif, pemberian vitamin belum tentu diperlukan.

Vitamin atau suplemen biasanya dipertimbangkan apabila terdapat kekurangan nutrisi tertentu yang telah dinilai oleh dokter.

Sebagai contoh, anak yang mengalami kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi) dapat mengalami penurunan nafsu makan. Dalam kondisi seperti ini, pemberian suplemen zat besi dapat membantu memperbaiki kondisi tersebut.

Demikian pula pada anak yang mengalami kekurangan zinc, pemberian suplemen zinc dalam indikasi yang tepat dapat membantu meningkatkan nafsu makan.

Namun, penting untuk dipahami bahwa vitamin bukanlah solusi utama untuk semua kasus anak susah makan. Jika penyebabnya adalah pola makan yang kurang tepat atau kebiasaan makan yang kurang baik, maka perbaikan pola makan tetap menjadi langkah utama.

Karena itu, pemberian vitamin sebaiknya dilakukan sesuai anjuran dokter dan bukan semata-mata karena anak terlihat sulit makan.

Kesalahan Orang Tua Saat Menghadapi Anak Susah Makan

Dalam upaya membuat anak mau makan, terkadang orang tua tanpa sadar melakukan beberapa kesalahan yang justru memperburuk kondisi.

1. Memaksa Anak Menghabiskan Makanan

Memaksa anak makan dapat membuat waktu makan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.

Akibatnya, anak justru semakin menolak makan dan mengembangkan hubungan yang negatif dengan makanan.

2. Mengejar Anak Saat Makan

Kebiasaan mengejar anak sambil menyuapi sering kali membuat anak tidak belajar mengenali rasa lapar dan kenyang secara alami.

Selain itu, anak menjadi terbiasa makan sambil bermain atau beraktivitas sehingga kurang fokus pada makanan.

3. Terlalu Sering Memberikan Susu

Sebagian orang tua merasa tenang karena anak masih mau minum susu meskipun sulit makan.

Padahal, konsumsi susu yang berlebihan dapat membuat anak kenyang dan semakin mengurangi keinginan untuk makan makanan utama.

4. Memberikan Gadget Saat Makan

Meskipun tampak mempermudah proses makan, penggunaan gadget dapat mengganggu kemampuan anak mengenali rasa lapar dan kenyang.

Anak juga cenderung makan secara tidak sadar sehingga kebiasaan makan sehat menjadi lebih sulit terbentuk.

5. Terlalu Cepat Mengganti Menu

Ketika anak menolak makanan tertentu, sebagian orang tua langsung menggantinya dengan makanan favorit.

Jika dilakukan terus-menerus, anak dapat menjadi semakin pemilih dan enggan mencoba makanan baru.

6. Membandingkan Anak dengan Anak Lain

Setiap anak memiliki kebutuhan energi, pola makan, dan kecepatan pertumbuhan yang berbeda.

Membandingkan anak dengan saudara atau teman sebaya sering kali hanya meningkatkan kecemasan orang tua tanpa memberikan manfaat yang nyata.

Kapan Harus ke Dokter Spesialis Anak Jika Nafsu Makan Anak Tidak Meningkat?

Meskipun sebagian besar kasus anak susah makan tidak berbahaya, terdapat beberapa kondisi yang memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter spesialis anak.

Segera konsultasikan apabila:

  • Nafsu makan menurun selama beberapa minggu atau lebih
  • Berat badan anak tidak naik atau justru menurun
  • Pertumbuhan tinggi badan tampak terhambat
  • Anak terlihat sangat lemas atau kurang aktif
  • Anak mengalami muntah berulang
  • Anak mengalami diare kronis atau sembelit berat
  • Anak sering mengeluh nyeri perut
  • Terdapat kesulitan menelan makanan
  • Anak hanya mau mengkonsumsi sangat sedikit jenis makanan
  • Orang tua merasa khawatir terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak

Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencari penyebab yang mendasari, menilai status gizi anak, serta menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau terapi lebih lanjut.

Kesimpulan

Nafsu makan anak dapat berubah-ubah dan tidak selalu menandakan adanya masalah kesehatan. Berbagai faktor seperti fase pertumbuhan, penyakit ringan, kebiasaan makan, hingga faktor psikologis dapat mempengaruhi keinginan anak untuk makan.

Sebagian besar kasus dapat diatasi dengan menerapkan pola makan yang teratur, membatasi camilan, menciptakan suasana makan yang menyenangkan, serta memberikan variasi makanan yang menarik. Pemberian vitamin penambah nafsu makan tidak selalu diperlukan dan sebaiknya dilakukan sesuai anjuran dokter.

Namun, apabila penurunan nafsu makan berlangsung lama, disertai gangguan pertumbuhan, atau muncul gejala lain yang mengkhawatirkan, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter spesialis anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis anak. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


20651-1200x800.jpg

Jika anak demam, mungkin orang tua akan berekspetasi bahwa anak akan lemas dan tidur lebih banyak. Namun, ada kondisi di mana anak tetap aktif meskipun demam. Apakah hal ini berbahaya?

Arti Di Balik Kondisi “Anak Demam tapi Tetap Aktif

Secara klinis, perilaku dan tingkat kesadaran anak (clinical appearance) jauh lebih penting daripada angka yang tertera pada termometer. Ketika anak demam tetapi tetap aktif, responsif, dan mau bermain, ini adalah indikator kuat bahwa sistem imun anak bekerja dengan baik dan volume cairan tubuhnya masih relatif stabil.

Demam bukanlah penyakit, melainkan mekanisme pertahanan tubuh melawan infeksi. Saat mikroorganisme (seperti virus atau bakteri) masuk, sel imun melepas zat kimia bernama pirogen. Pirogen ini memerintahkan hipotalamus (pengatur suhu di otak) untuk menaikkan suhu tubuh guna menghambat replikasi kuman. Jika anak tetap aktif, kemungkinan besar infeksi yang terjadi bersifat ringan (biasanya infeksi virus saluran pernapasan atas atau pencernaan) dan belum mengganggu fungsi metabolik sistemik secara berat.

Kapan Demam Anak Dikatakan Berbahaya?

Tingkat bahaya demam ditentukan oleh kombinasi usia, gejala penyerta, dan durasi, bukan sekadar tingginya suhu tubuh.

Red Flags Demam pada Anak

  • Usia di bawah 3 bulan: Suhu rektal ≥ 38°C wajib segera dibawa ke IGD, terlepas dari apakah anak tampak aktif atau tidak. Sistem imun bayi baru lahir belum matang, dan risiko infeksi bakteri berat (seperti sepsis atau meningitis) sangat tinggi.
  • Suhu ekstrem: Suhu tubuh mencapai atau melebihi 40°C.
  • Penurunan Kesadaran: Anak tampak letargi (sangat lemas, sulit dibangunkan), terus merintih, atau gelisah ekstrem.
  • Tanda Dehidrasi: Air mata tidak keluar saat menangis, buang air kecil berkurang drastis (popok kering lebih dari 6 jam), dan mukosa mulut kering.
  • Gangguan Pernapasan: Napas menjadi sangat cepat atau ada tarikan dinding dada ke dalam (retraksi).
  • Durasi: Demam berlangsung lebih dari 3–5 hari berturut-turut.

Apakah harus menghentikan anak untuk bermain ketika sedang demam?

Tidak perlu. Memaksa anak yang sedang aktif untuk melakukan total bed rest tidak didukung oleh bukti klinis dan justru bisa memicu stres pada anak.

Bermain adalah indikator bahwa metabolisme anak masih berjalan baik. Biarkan anak menentukan sendiri batas aktivitasnya. Tubuh mereka akan secara alami melambat atau meminta istirahat saat merasa lelah. Yang perlu Anda lakukan adalah membatasi jenis permainannya: alihkan dari aktivitas fisik yang melelahkan (seperti berlari di luar ruangan) ke aktivitas tenang di dalam rumah (seperti mewarnai, membaca, atau menyusun balok) untuk mencegah penguapan cairan berlebih melalui keringat.

Cara Mengukur Suhu Tubuh Anak dengan Akurat

Mengukur suhu dengan punggung tangan sangat tidak akurat dan tidak bisa dijadikan dasar keputusan medis. Metode pengukuran harus disesuaikan dengan usia anak untuk akurasi tertinggi:

 

Usia AnakMetode Terbaik / Paling AkuratCatatan Klinis
0 – 3 BulanRektal (Dubur)Gold standard untuk bayi baru lahir. Menggunakan termometer digital yang diberi pelumas.
3 Bulan – 3 TahunRektal, Aksila (Ketiak), atau TelingaTermometer telinga hanya akurat jika posisi penempatan di liang telinga tepat.
Diatas 4 TahunOral (Mulut) atau AksilaPastikan anak tidak baru saja mengkonsumsi makanan/minuman panas atau dingin dalam 15 menit terakhir.

 

Langkah Perawatan di Rumah untuk Anak yang Demam

Fokus utama perawatan demam di rumah adalah menjaga kenyamanan anak dan mencegah dehidrasi, bukan sekadar menurunkan angka termometer ke batas normal.

1.Cegah Dehidrasi (Paling Krusial):Langkah Utama

Berikan cairan dalam jumlah sedikit namun sering. Utamakan ASI dan air putih. Demam meningkatkan laju metabolisme dan mempercepat penguapan cairan tubuh (insensible water loss).

2. Atur Pakaian dan Suhu Ruangan:Termoregulasi Eksternal

Pakaikan baju yang tipis, longgar, dan menyerap keringat. Jangan membungkus anak dengan selimut tebal karena akan memerangkap panas tubuh dan menaikkan suhu inti. Pastikan ventilasi atau pendingin ruangan (AC) diatur pada suhu nyaman (22–24°C).

3. Kompres Air Hangat: Bukan Air Dingin/Alkohol

Jika anak merasa tidak nyaman, lakukan kompres menggunakan kain yang dibasahi air hangat suam-suam kuku di area lipatan ketiak dan selangkangan selama 10–15 minutes. Jangan pernah gunakan air dingin atau alkohol, karena memicu pembuluh darah menyempit dan menggigil, yang justru meningkatkan suhu inti tubuh.

4. Pemberian Obat Penurun Panas:Intervensi Farmakologi

Jika suhu >38.5°C DAN anak tampak rewel/terganggu, berikan Parasetamol (dosis 10–15 mg/kgBB per kali pemberian, setiap 4–6 jam) atau Ibuprofen (dosis 5–10 mg/kgBB per kali pemberian, setiap 6–8 jam). Ibuprofen hanya untuk anak di atas usia 6 bulan dan tidak dalam kondisi dehidrasi. Hindari Aspirin pada anak karena risiko fatal Reye’s Syndrome.

Kapan anak yang demam perlu dibawa ke dokter spesialis anak?

Segera jadwalkan konsultasi atau bawa anak ke Dokter Spesialis Anak (Sp.A) atau fasilitas kesehatan terdekat jika Anda menemukan kondisi berikut:

  1. Demam pada bayi usia kurang dari 3 bulan (meskipun tidak ada gejala lain).
  2. Demam berlangsung lebih dari 3 hari pada anak usia berapa pun.
  3. Suhu tubuh mencapai 40°C atau lebih.
  4. Anak menunjukkan salah satu tanda bahaya (red flags) yang telah disebutkan di atas (lemas, tidak mau minum, sesak napas).
  5. Demam disertai dengan kejang (kejang demam).
  6. Muncul ruam kulit kemerahan yang tidak pudar saat ditekan, atau disertai kaku pada tengkuk.
  7. Anak memiliki penyakit penyerta kronis (seperti gangguan jantung, asma berat, atau gangguan imun).

Secara keseluruhan, jika anak Anda demam tetapi tetap aktif bergerak dan ceria, Anda dapat merawatnya di rumah dengan fokus pada hidrasi yang adekuat. Namun, tetap lakukan pemantauan berkala dan jika Anda merasa ada sesuatu yang “salah” pada perilaku anak, pemeriksaan medis oleh dokter adalah langkah paling tepat.

Jangan Ragu ke Dokter jika Anak Mengalami Demam

Jika anak mengalami demam, terutama disertai red flags (lemas, tidak mau minum, sesak napas), maka jangan ragu untuk membawa anak ke dokter spesialis anak.

Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis anak. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.