Gula Darah Naik Turun (Brittle Diabetes) – Gejala, Penyebab, dan Solusinya

Naiknya kadar gula darah pada pasien diabetes dapat menjadi kondisi yang sering terjadi dengan berbagai sebab di antaranya, saat bangun tidur, aktivitas fisik, dan efek samping obat antidiabetes (OAD) seperti insulin dan golongan sulfonilurea. Namun, ada kondisi dimana pasien sering mengalami gangguan yang ditandai dengan terjadinya episode hiperglikemia dan hipoglikemia. Kondisi ini disebut sebagai ‘brittle diabetes’. Untuk lebih jelasnya, kita simak pembahasan berikut.
Apa Itu Brittle Diabetes?
Istilah brittle diabetes pertama kali diperkenalkan oleh Woodyatt pada tahun 1934 yang digambarkan sebagai kondisi kadar gula darah yang tidak stabil dengan rentang yang lebar. Perubahannya bisa menyebabkan kondisi hipoglikemia dan hiperglikemia yang tinggi sehingga dapat menyebabkan diabetik ketoasidosis. Kondisi ini termasuk langka, dapat berulang kali terjadi, dan membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Gejala Brittle Diabetes
Karena terjadinya fluktuasi dengan rentang yang lebar, pasien dapat mengalami kondisi hiperglikemia maupun hipoglikemia dengan gejala masing-masing seperti berikut:
| Gejala Hiperglikemia | Gejala hipoglikemia |
|---|---|
| Sering haus dan mudah lapar | Pucat |
| Sering buang air kecil | Rasa lapar |
| Lemah badan | Terasa lemas dan tidak bertenaga |
| Kesemutan | Pusing |
| Mata kabur | Gangguan kognitif |
Selain itu, pada brittle diabetes dapat terjadi hiperglikemia yang tinggi dan menyebabkan ketoasidosis diabetik dengan gejala, seperti mual dan muntah, tubuh terasa lemas, sakit kepala, sesak napas, dan lain-lain sehingga perlu penanganan segera di rumah sakit.
Penyebab Brittle Diabetes
Penyebab brittle diabetes dapat bersifat multifaktorial, termasuk kondisi psikologis atau kejiwaan pasien. Selain itu, kondisi medis lain yang menyertai penyakit diabetes dapat menyebabkan brittle diabetes. Di bawah ini adalah penyebab brittle diabetes berdasarkan efek yang ditimbulkan, dapat berupa terjadinya hiperglikemia, hipoglikemia, atau menyebabkan keduanya, yaitu:
1. Kondisi yang menyebabkan hiperglikemia/ketoasidosis
- Endokrinopati (gangguan hormonal), seperti yang terjadi pada Sindrom Cushing, akromegali, atau tirotoksikosis (kondisi medis karena kelebihan hormon tiroid).
- Infeksi sistemik
2. Kondisi yang menyebabkan hipoglikemia
- Diabetik gastroparesis: kondisi dimana otot-otot lambung melemah sehingga terjadi pengosongan lambung yang lambat atau berhenti sama sekali.
- Sindrom Lipodistrofi: kondisi medis yang ditandai dengan distribusi lemak yang abnormal.
- Penyakit Celiac atau gangguan malabsorbsi lain yang tidak terobati sehingga mengganggu penyerapan di usus.
3. Kondisi yang menyebabkan hiperglikemia/hipoglikemia
- Masalah psikologis, seperti bulimia (kelainan makan)
- Demensia dan kelainan kognitif lainnya
- Kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang
- Ketergantungan obat steroid
Cara Mencegah/Mengatasi Brittle Diabetes
Sesuai dengan penjelasan di atas tentang penyebab brittle diabetes dengan berbagai sebab maka pencegahan dan manajemen brittle diabetes perlu dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu pendekatan psikologis, medis, dan perubahan gaya hidup seperti yang diuraikan di bawah ini:
1. Pendekatan Psikologis
- Mengelola stres
- Berkonsultasi ke psikiater/psikolog, terutama yang memiliki pemahaman di bidang penyakit diabetes
- Menawarkan konseling keluarga bagi yang membutuhkan karena pasien sangat membutuhkan dukungan dari keluarga maupun kerabat lainnya
2. Pendekatan Medis
- Penggunaan terapi insulin
- Melakukan pemantauan glukosa mandiri
3. Pendekatan Gaya Hidup
- Konsumsi makanan yang mengandung diet seimbang
- Olahraga rutin dapat menurunkan kadar gula darah dengan cara meningkatkan sensitivitas insulin dan penggunaan glukosa yang maksimal di dalam sel. Durasi olahraga yang dianjurkan adalah 150 menit per minggu.
- Hindari konsumsi alkohol
Brittle Diabetes dengan Kondisi Lainnya
Brittle diabetes bukanlah sebuah jenis dari diabetes, melainkan sebuah keadaan yang cukup langka terjadi pada pasien dengan diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2.
1. Diabetes tipe 1
Dalam sebuah jurnal disebutkan bahwa Brittle Diabetes adalah kejadian yang terjadi pada pasien diabetes tipe 1 yang ditandai dengan adanya ketidakstabilan glikemik yang berat karena pasien sangat bergantung pada insulin.
2. Diabetes tipe 2
Brittle diabetes dapat juga terjadi pada diabetes tipe 2 yang menggunakan terapi insulin karena dapat meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia.
3. Prediabetes
Prediabetes adalah kondisi dimana kadar gula darah melebihi normal, tetapi belum bisa didiagnosis sebagai diabetes. Dalam beberapa jurnal, tidak disebutkan adanya keterkaitan antara prediabetes dengan brittle diabetes karena brittle diabetes hanya terjadi pada pasien yang sudah didiagnosis diabetes tipe 1 ataupun diabetes tipe 2.
Jika Mengalami Brittle Diabetes, harus ke Dokter Apa?
Naik turun kadar gula darah adalah hal yang biasa terjadi pada pasien diabetes dengan berbagai sebab, terutama pada pasien diabetes tipe 2 yang mengonsumsi terapi insulin. Namun, kondisi brittle diabetes tidak dapat disepelekan. Oleh karena itu, pasien disarankan untuk segera berkonsultasi jika pernah mengalami episode hiperglikemia dan hipoglikemia dengan rentang kadar gula darah yang lebar atau mengalami gejala hiperglikemia/hipoglikemia yang cukup sering. Dalam menangani kasus brittle diabetes ini, pasien perlu mendapatkan terapi dari beberapa bidang kedokteran, di antaranya:
1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Kondisi brittle diabetes merupakan kondisi yang tidak umum terjadi pada pasien diabetes sehingga perlu penanganan dari dokter spesialis penyakit dalam. Pada kondisi kasus dengan penyulit lainnya atau keadaan berulang, pasien akan dirujuk ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes.
2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes
Pada kasus brittle diagnosis yang berulang atau yang disebabkan karena adanya gangguan hormon pasien dapat berkonsultasi dengan dokter subspesialis endokrinologi, metabolik, dan diabetes karena dokter ini berfokus pada masalah hormon, metabolisme, dan diabetes.
3. Tim ahli lainnya
Dalam melakukan terapi untuk pasien diabetes, terlebih dengan kondisi khusus seperti brittle diabetes ini, diperlukan tata laksana penyakit dengan multidisiplin ilmu. Oleh karena itu, pasien perlu dirujuk atau berkonsultasi dengan dokter atau ahli di bidang lainnya, seperti:
a. Dokter Spesialis Gizi Klinik
Dokter gizi klinik bisa membantu dalam mengatur pola makan dan memberikan rencana makan dengan gizi seimbang.
b. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) atau Psikolog
Salah satu penyebab terjadinya brittle diabetes adalah masalah psikologis, seperti faktor stres, depresi, gangguan makan (contoh: bulimia) sehingga dibutuhkan pendampingan untuk masalah kejiwaan/psikologis ini (dokter spesialis jiwa/psikiater atau psikolog).
Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?
Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.
Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.
Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.
Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.
“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.
Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.
Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.
Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!
Anda bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.
Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.
Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya.


