Begadang pada Penderita Diabetes – Apakah Diperbolehkan?

Gangguan tidur dapat menjadi faktor risiko terjadinya diabetes melitus tipe 2. Hal ini tentu menjadi catatan bagi orang yang sehat untuk tidur normal agar terhindar dari kondisi kesehatan yang buruk. Sementara itu, pada penderita diabetes, merujuk dengan banyaknya penelitian, begadang menjadi hal yang sebaiknya dihindari karena durasi tidur yang pendek menambah risiko terjadinya komplikasi atau perburukan kondisi diabetesnya.
Apakah Penderita Diabetes Boleh Begadang?
Tidak, penderita diabetes dianjurkan untuk tidur cukup dengan durasi 7-8 jam per malam.. Pada orang sehat, begadang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit, salah satunya diabetes sehingga pada orang yang sudah didiagnosis diabetes sangat perlu menjaga gaya hidup sehat, termasuk tidur cukup dan tidak terlalu larut. Hal ini karena begadang memiliki dampak yang tidak baik bagi kesehatan, baik bagi orang yang sehat maupun bagi penderita diabetes.
Penyebab Penderita Diabetes Begadang
Penyebab penderita diabetes begadang dapat memiliki hubungan dua arah. Gangguan tidur yang menyebabkan berkurangnya jumlah jam tidur dapat meningkatkan risiko terjadinya perburukan pada perkembangan penyakitnya. Di sisi lain, kondisi diabetes juga dapat mengganggu kondisi saat tidur, misal pada pasien diabetes yang mengalami sumbatan jalan napas pada saat tidur atau mengalami nokturia (buang air kecil di malam hari). Berikut beberapa penyebab penderita diabetes begadang:
1. Gangguan tidur
Penyakit diabetes seringkali dikaitkan dengan angka kejadian gangguan tidur yang tinggi, meliputi:
a. Insomnia
Insomnia dikarakteristikkan dengan sulitnya memulai dan mempertahankan tidur meskipun memiliki kesempatan yang cukup untuk tidur. Kondisi insomnia juga dikaitkan dengan kondisi kesehatan yang kurang baik, seperti angka HbA1c (gambaran rata-rata kadar gula darah dalam tiga bulan terakhir) dan gula darah puasa (GDP) yang tinggi.
b. Obstructive Sleep Apnea (OSA)
OSA berkaitan dengan kejadian adanya hambatan bernapas saat tidur yang dapat dikarakteristikkan dengan mendengkur dan tidur tidak nyenyak. Kejadian OSA juga lebih umum terjadi pada orang yang menderita diabetes tipe 2.
c. Restless Leg Syndrome (RLS)
Gangguan tidur yang disertai adanya pergerakan sebagai respons rasa tidak nyaman pada kaki selama tidur atau keadaan tidak aktif sehingga mengganggu tidur.
2. Nokturia (buang air kecil di malam hari) dan nyeri saraf
Kedua hal ini (BAK dan nyeri saraf) dapat menyebabkan penderita diabetes dapat terbangun beberapa kali dalam satu periode tidur. Hal ini tentu akan membuat tidur pasien terganggu, baik secara kualitas maupun kuantitas tidur.
3. Gaya hidup tidak sehat
a. Pekerjaan
Menyelesaikan pekerjaan hingga larut atau kerja shift tentu akan mengakibatkan orang begadang dan tidur dengan durasi yang lebih pendek.
b. Hiburan
Salah satu kebiasaan yang kurang baik dan mengganggu aktivitas tidur adalah menonton televisi atau menggunakan gadget sebelum tidur.
Dampak/Bahaya Begadang pada Penderita Diabetes
Jika bagi orang sehat saja begadang memiliki dampak negatif bagi kesehatan, begadang tentunya juga memiliki dampak atau bahaya bagi penderita diabetes, di antaranya:
1. Gangguan kontrol glikemik
a. Peningkatan kadar HbA1c
Orang yang memiliki kebiasaan tidur dengan durasi yang pendek (<4,5 sampai 6 jam per malam) memiliki kadar HbA1c yang lebih tinggi dibandingkan orang dengan tidur yang normal.
b. Penurunan sensitivitas insulin
Durasi tidur yang sedikit menyebabkan penurunan respons sel β (yang memproduksi insulin) terhadap gula dan mengurangi sensitivitas insulin sehingga nantinya menyebabkan hiperglikemia.
c. Perubahan hormon metabolik
Kurangnya durasi tidur berkaitan dengan beberapa perubahan hormonal yang dapat berdampak pada resistensi dan pengeluaran insulin, termasuk pengeluaran hormon pertumbuhan pada malam hari.
2. Meningkatkan risiko komplikasi pada diabetes
Adanya gangguan tidur seperti OSA pada diabetes, dapat meningkatkan angka kejadian gagal jantung dan penyakit arteri koroner.
3. Menurunkan kualitas hidup
Gangguan tidur yang terjadi pada pasien diabetes menyebabkan tidak tercukupinya kualitas tidur dan kuantitas waktu tidur yang mengakibatkan penurunan kualitas hidup pada siang hari.
Tips Menghindari Begadang Bagi Penderita Diabetes
Mengetahui dampak begadang yang tidak baik bagi kesehatan, penderita diabetes harus mengubah pola tidurnya agar lebih berkualitas dan menghindari efek jangka panjang yang lebih buruk. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan agar tidur lebih berkualitas, yaitu:
1. Menerapkan sleep hygiene
Sleep hygiene adalah rangkaian tidur yang dapat dilakukan agar tidur lebih berkualitas yang meliputi:
- perubahan dalam lingkungan ketika tidur,
- konsisten pada jam tidur dan bangun tidur,
- menghindari kebiasaan yang dapat mengganggu tidur, seperti menonton televisi di kasur dan membuka gadget saat menjelang tidur,
- Hindari minuman yang mengandung kafein 4-6 jam sebelum tidur
2. Menurunkan Berat Badan
Penurunan berat badan dapat mengurangi angka kejadian OSA pada pasien diabetes tipe 2.
Kemana Penderita Diabetes Berkonsultasi Jika Mengalami Gangguan Tidur?
Jika kondisi gangguan tidur tidak juga membaik, padahal pasien sudah melakukan beberapa usaha agar tidur lebih cepat dan berkualitas, maka pasien disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter berikut:
1. Dokter Umum
Sebagai langkah awal, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter umum di fasilitas layanan primer. Jika dibutuhkan, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis.
2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam
dokter spesialis penyakit dalam adalah dokter yang menangani pasien diabetes dewasa. Penderita diabetes dapat berkonsultasi terkait keluhannya. Jika ditemukan komplikasi lain seperti adanya neuropati (kelainan saraf) atau gangguan tidur yang sulit diatasi oleh pasien, dokter dapat merujuk ke dokter spesialis yang berkaitan dengan komplikasinya.
3. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrin, Metabolik, Dan Diabetes
Karena masalah gangguan tidur ini berkaitan dengan hormon metabolisme, penderita diabetes dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam subspesialis endokrin, metabolik, dan diabetes.
4. Dokter Spesialis Neurologi (Saraf)
Pasien yang mengalami gangguan tidur seperti insomnia dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi untuk dievaluasi adanya kelainan pada saraf.
5. Dokter Spesialis Paru
Jika pasien didapati mengalami OSA, pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis paru untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?
Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.
Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.
Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.
Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.
“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.
Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.
Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.
Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic!
Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di Primecare Clinic untuk mendapatkan informasi seputar diabetes dan memeriksa kadar gula darah.
Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.
Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya.


