Atrofi Otot: Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya

Atrofi otot adalah kondisi ketika jaringan otot mengalami penyusutan sehingga ukuran dan kekuatannya berkurang. Kondisi ini dapat terjadi akibat kurangnya aktivitas fisik, kekurangan nutrisi, penuaan, cedera, atau penyakit tertentu.
Atrofi otot juga perlu diperhatikan saat menjalani program penurunan berat badan. Diet yang terlalu ketat tanpa asupan protein dan latihan yang memadai dapat meningkatkan risiko kehilangan massa otot, bukan hanya lemak.
Apa Itu Atrofi Otot?
Atrofi otot (muscle atrophy) adalah penyusutan jaringan otot yang menyebabkan berkurangnya ukuran otot dan dapat disertai penurunan kekuatan.
Atrofi dapat terjadi pada bagian tubuh tertentu, misalnya lengan atau kaki yang lama tidak digerakkan, maupun akibat kondisi yang memengaruhi otot dan saraf. Sebagian penyebab dapat diperbaiki, tetapi atrofi akibat penyakit tertentu membutuhkan penanganan medis. ([1])
Penyebab Utamanya Atrofi Otot
Beberapa penyebab atrofi otot meliputi:
a. Kurang aktivitas fisik
Otot yang jarang digunakan, misalnya selama tirah baring, dapat mengalami penyusutan.
b. Kekurangan nutrisi
Asupan energi dan protein yang tidak mencukupi dapat menghambat pemeliharaan massa otot.
c. Penuaan
Perubahan terkait usia dapat berkontribusi terhadap penurunan massa dan kekuatan otot.
d. Cedera atau gangguan saraf
Kerusakan saraf yang mengendalikan otot dapat menyebabkan atrofi.
e. Penyakit tertentu
Beberapa penyakit kronis atau gangguan yang memengaruhi otot dan saraf dapat menyebabkan penyusutan otot.
f. Diet terlalu ketat
Pembatasan kalori berlebihan selama penurunan berat badan dapat meningkatkan risiko kehilangan massa otot.
Bahaya Atrofi Otot terhadap Kesehatan Tubuh
Atrofi otot tidak hanya memengaruhi penampilan tubuh. Jika berlanjut, kondisi ini dapat menyebabkan:
- Penurunan kekuatan dan daya tahan otot.
- Kesulitan berjalan, berdiri, atau menaiki tangga.
- Gangguan keseimbangan dan peningkatan risiko jatuh.
- Penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
- Berkurangnya kemampuan tubuh mempertahankan fungsi fisik.
Karena itu, mempertahankan massa dan kekuatan otot penting untuk mendukung mobilitas serta kualitas hidup.
Gejala Atrofi Otot yang Sering Tidak Disadari
Gejala atrofi otot dapat berkembang secara bertahap. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Ukuran lengan atau kaki terlihat mengecil.
- Kekuatan tubuh berkurang dibandingkan sebelumnya.
- Aktivitas yang dahulu mudah dilakukan menjadi lebih melelahkan.
- Kesulitan berdiri dari posisi duduk atau menaiki tangga.
- Salah satu sisi tubuh terlihat lebih kecil atau lemah daripada sisi lainnya.
Penurunan kekuatan atau penyusutan otot yang tidak jelas penyebabnya sebaiknya diperiksakan, terutama jika terjadi secara progresif.
Perbedaan Sarcopenia dan Atrofi Otot
Keduanya berkaitan dengan kehilangan otot, tetapi memiliki pengertian berbeda.
Atrofi otot merupakan penyusutan jaringan otot yang dapat terjadi pada berbagai usia dan akibat berbagai penyebab, seperti kurang bergerak, cedera, atau penyakit.
Sementara itu, sarkopenia (sarcopenia) adalah kondisi gangguan kesehatan otot yang umumnya berkaitan dengan penuaan dan ditandai oleh penurunan massa serta kekuatan otot dan/atau fungsi fisik. Diagnosisnya memerlukan evaluasi klinis, bukan sekadar melihat ukuran otot. ([2,3])
Apakah Atrofi Otot Dapat Dicegah?
Risiko atrofi otot dapat dikurangi melalui kebiasaan yang mendukung kesehatan otot, seperti:
- Melakukan aktivitas fisik secara teratur.
- Mengombinasikan latihan aerobik dengan latihan kekuatan sesuai kemampuan.
- Memenuhi kebutuhan protein dan energi.
- Menghindari pembatasan kalori yang berlebihan.
- Menghindari imobilisasi berkepanjangan jika tidak diperlukan secara medis.
- Menangani penyakit atau cedera yang mendasarinya.
Tidak semua kasus atrofi dapat dicegah sepenuhnya. Jika penyebabnya adalah gangguan saraf atau penyakit tertentu, penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.
Cara Mencegah Penipisan Otot Saat Penurunan Berat Badan
Saat menjalani program penurunan berat badan, targetnya bukan hanya mengurangi angka timbangan, tetapi juga mempertahankan massa otot sebanyak mungkin.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Terapkan defisit kalori bertahap
Hindari diet ekstrem yang membatasi asupan energi secara berlebihan.
2. Penuhi kebutuhan protein
Sumbernya dapat berasal dari telur, ikan, ayam, daging tanpa lemak, tahu, tempe, dan produk susu sesuai kebutuhan individu.
3. Lakukan latihan kekuatan
Latihan beban atau latihan resistensi membantu mempertahankan kekuatan dan massa otot selama penurunan berat badan.
4. Tetap aktif secara konsisten
Sesuaikan jenis dan intensitas aktivitas dengan kondisi fisik.
5. Pantau komposisi tubuh
Pemeriksaan Body Composition Analysis (BCA) dapat membantu memantau estimasi perubahan massa lemak dan massa bebas lemak, tetapi tidak dapat mendiagnosis atrofi otot secara mandiri.
Jika memiliki penyakit tertentu, keterbatasan fisik, atau kebutuhan nutrisi khusus, program latihan dan pola makan sebaiknya disesuaikan bersama tenaga kesehatan.
Harus ke Dokter Apa Jika Mengalami Gejala Atrofi Otot?
Dokter umum dapat menjadi langkah awal untuk mengevaluasi perubahan ukuran otot, kekuatan, riwayat aktivitas, pola makan, obat-obatan, serta kemungkinan penyakit yang mendasari.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien dapat dirujuk ke:
- Dokter spesialis saraf: jika dicurigai terdapat gangguan saraf, terutama bila kelemahan lebih dominan pada satu sisi tubuh.
- Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi: untuk membantu pemulihan fungsi dan kekuatan otot melalui program rehabilitasi.
- Dokter spesialis gizi klinik: untuk mengevaluasi kecukupan nutrisi dan membantu mempertahankan massa otot selama pengelolaan berat badan.
Jika kelemahan otot muncul mendadak, terutama disertai wajah mencong atau gangguan bicara, segera cari pertolongan darurat.
Kesimpulan
Atrofi otot merupakan penyusutan jaringan otot yang dapat mengganggu kekuatan, mobilitas, dan aktivitas sehari-hari. Risikonya dapat dikurangi melalui aktivitas fisik, asupan nutrisi yang cukup, serta penanganan penyebab yang mendasarinya.
Selama program penurunan berat badan, penting untuk menjaga keseimbangan antara pengurangan lemak dan pemeliharaan otot. Konsultasi dokter, pemeriksaan komposisi tubuh, dan weight loss program yang sesuai dapat membantu mendukung tujuan tersebut.
Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!
Referensi
- MedlinePlus. Muscle Atrophy. U.S. National Library of Medicine; 2025
- Kirk B, Cawthon P, Arai H, et al. The Conceptual Definition of Sarcopenia: Delphi Consensus from the Global Leadership Initiative in Sarcopenia (GLIS). Age Ageing. 2024;53(3). doi:10.1093/ageing/afae052.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sarkopenia. Kepmenkes No. HK.01.07/Menkes/2005/2024.

