Andropause – Gejala, Apakah Dapat Dicegah, dan harus ke Dokter Apa?

Apakah Anda pernah mendengar tentang andropause? Berbeda dengan menopause.
Apa perbedaannya dan gejalanya? Lalu harus ke dokter apa jika mengalami andropause?
Apa Itu Andropause?
Andropause atau yang secara medis lebih tepat dinamakan Late-Onset Hypogonadism (LOH) atau Age-Related Testosterone Decline—merupakan kondisi klinis dan biologis pada pria paruh baya hingga lanjut usia yang ditandai dengan penurunan kadar hormon testosteron serum yang disertai dengan gejala klinis tertentu
Perbedaan Andropause dengan Menopause
Meskipun sering dijuluki sebagai “menopause pria”, kedua kondisi ini memiliki mekanisme fisiologis yang sangat berbeda:
| Parameter | Menopause (Wanita) | Andropause / LOH (Pria) |
| Pola Penurunan Hormon | Tajam dan drastis (drastic drop) dalam waktu relatif singkat. | Gradual dan perlahan (~1% per tahun setelah usia 30 tahun). |
| Keterbatasan Reproduksi | Berhentinya fungsi reproduksi secara total (cessation of fertility). | Fungsi reproduksi (produksi sperma) tetap ada, meski kualitas dan kuantitasnya menurun. |
| Kepastian Terjadinya | dialami oleh 100% wanita menopause. | Hanya dialami oleh sekitar 20–40% pria lansia (tidak semua pria mengalami LOH bergejala). |
| Penanda Biologis Utama | Berhentinya siklus menstruasi (amenore). | Tidak ada penanda biologis tunggal yang mendadak. |
Gejala andropause
Gejala LOH terbagi menjadi tiga domain utama:
1. Domain Seksual
Penurunan libido (gairah seksual), penurunan frekuensi ereksi spontan pagi hari (morning erection), dan disfungsi ereksi.
2. Domain Fisik
Penurunan massa dan kekuatan otot, peningkatan lemak visceral/abdominal, penurunan kepadatan tulang (osteopenia/osteoporosis), mudah lelah, dan berkurangnya bulu tubuh.
3. Domain Psikologis & Kognitif
Perubahan suasana hati (irritabilitas), depresi ringan, penurunan motivasi, gangguan tidur (insomnia), serta penurunan fokus/konsentrasi.
Bagaimana Perubahan Kadar Hormon Testosteron Seiring Bertambahnya Usia?
Produksi testosteron mencapai puncaknya pada masa remaja akhir hingga usia 20-an.
- Laju Penurunan: Mulai usia 30–40 tahun, kadar testosteron total menurun sekitar 1% per tahun, sedangkan testosteron bebas (free testosterone) turun sekitar 1.2–2% per tahun akibat peningkatan kadar Sex Hormone-Binding Globulin (SHBG) [high confidence].
- Mekanisme Penurunan: Penurunan ini dipengaruhi oleh kombinasi penuaan sel Leydig di testis (penurunan responsivitas) serta perubahan pada aksis hipotalamus-hipofisis (penurunan sekresi LH pulsatil).
Dampak Age-Related Testosterone Decline Terhadap Massa Otot dan Libido
Massa Otot (Sarcopenia): Testosteron bersifat anabolik; hormon ini merangsang sintesis protein otot dan proliferasi sel satelit otot. Penurunan kadar tes-tosteron menggeser keseimbangan ke arah katabolisme, memicu atrofi serat otot tipe II, penurunan kekuatan genggaman, dan peningkatan deposit lemak intramuskular.
Libido: Testosteron bekerja pada SSP (khususnya area preoptik medial hipotalamus) untuk memodulasi gairah seksual. Penurunan kadar testosteron bebas mengurangi densitas reseptor androgen sentral, yang secara langsung menurunkan dorongan seksual dan sensitivitas rangsangan.
Pencegahan lewat gaya hidup dan Terapi Medis untuk Mengatasi Gejala Andropause
1. Modifikasi Gaya Hidup
- Latihan Beban (Resistance Training): Stimulus mekanis dari latihan beban merangsang pemeliharaan massa otot dan sekresi testosteron fisiologis.
- Manajemen Berat Badan: Obesitas mempercepat konversi testosteron menjadi estrogen via enzim aromatase di jaringan adiposa visceral. Menurunkan lemak tubuh menurunkan aktivitas aromatase.
- Nutrisi & Tidur: Asupan mikronutrien memadai (Seng, Vitamin D) serta tidur berkualitas 7–8 jam (puncak sekresi testosteron terjadi saat tidur REM).
2. Terapi Medis
- Testosterone Replacement Therapy (TRT): Diberikan hanya jika pasien memenuhi kriteria: gejala klinis LOH (+) DAN kadar testosteron serum total terbukti rendah (<300 ng/dL) pada setidaknya dua kali pemeriksaan pagi hari.
- Bentuk TRT: Injeksi (intramuskular), gel topikal, atau implan.
- Risiko/Evaluasi TRT: Memerlukan pemantauan hematokrit (risiko polisitemia), pemeriksaan PSA (Prostate-Specific Antigen), serta evaluasi fungsi hati dan profil lipid secara berkala.
Apakah andropause benar-benar dapat dicegah?
Penurunan kadar testosteron akibat proses penuaan biologis tidak dapat dihentikan 100%. Namun, gejala klinis LOH (andropause bergejala) sangat dapat dicegah dan diminimalkan.
Sebagian besar kasus LOH berat dipicu atau diperburuk oleh sindrom metabolik, diabetes tipe 2, obesitas, dan gaya hidup sedenter (secondary hypogonadism). Dengan menjaga komposisi tubuh dan kebugaran metabolik, seorang pria dapat mempertahankan kadar testosteron bebas dalam rentang fungsi normal hingga usia lanjut.
Jika mengalami andropause, harus ke dokter apa?
Jika mengalami gejala andropause yang mengganggu kualitas hidup, pasien disarankan untuk berkonsultasi dengan:
- Dokter Spesialis Andrologi (Sp.And): Pakar utama dalam gangguan hormon reproduksi pria, penuaan pria (male aging), disfungsi seksual, dan manajemen TRT.
- Dokter Spesialis Endokrinologi (Sp.PD-KEMD): Untuk evaluasi aksis hormonal terpadu, terutama jika disertai komplikasi metabolik seperti diabetes mellitus.
- Dokter Spesialis Urologi (Sp.U): Terutama untuk evaluasi kesehatan prostat sebelum dan selama menjalani terapi penggantian testosteron.
Jangan Ragu untuk ke Dokter jika Mengalami Andropause
Jika mengalami gejala andropause, jangan ragu untuk ke dokter spesialis untuk mendapatkan terapi yang tepat.
Di Primecare Clinic Jakarta, tersedia dokter speisalis andrologi dan TRT (testosterone replacement therapy). Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

