Ruam Popok – Faktor Risiko, Penyebab, Solusi, dan Kapan harus ke Dokter?

Ketika mendapati anak rewel tanpa sebab, bisa jadi penyebabnya adalah adanya ruam popok. Umumnya hal ini bisa dilihat dari bagian tubuh yang ditutupi popok mengalami ruam atau kemerahan, sehingga si kecil rewel hingga menangis, terutama kesakitan ketika disentuh bagian tersebut.
Berikut penjelasan tentang ruam popok!
Apa itu Ruam Popok?
Ruam popok atau diaper dermatitis muncul ketika ada reaksi peradangan kulit di sekitar area popok. Sesuai dengan namanya, ruam pada kulit muncul akibat dari pemakaian popok yang dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti kelembaban, kontak kulit yang lama terhadap urin dan/atau feses di dalam popok, dan iritan lain seperti deterjen.
Faktor Risiko Terjadinya Ruam Popok
Faktor risiko terjadinya ruam popok antara lain:
- Usia: Ruam popok umum terjadi pada usia bayi dan anak-anak, dengan kasus paling sering di rentang usia 9-12 bulan. Hal itu karena kulit bayi baru lahir (newborn) dan anak-anak belum berkembang sempurna sehingga lebih rentan mengalami infeksi.
- Diet/asupan makanan: perubahan pola makan seiring pertumbuhan bayi berpengaruh terhadap perubahan mikrobiota usus dan pH feses, yang bila menempel pada kulit bisa menimbulkan iritasi bila tidak dibersihkan dengan baik.
- Frekuensi penggantian popok: kontak yang berkepanjangan dengan iritan seperti urin dan feses meningkatkan risiko peradangan kulit.
- Gejala ruam popok
Ruam popok terjadi di area tubuh yang tertutup popok, seperti bokong, paha, dan alat kelamin. Gejalanya dapat berupa:
- Kulit yang meradang di area popok
- Kulit gatal dan nyeri di area popok
- Luka di area popok
- Rasa tidak nyaman, rewel, atau menangis, terutama saat mengganti popok.
- Pada kasus yang lebih berat, mungkin dapat muncul lepuh dan luka pada kulit.
Penyebab Utama Ruam Popok
Penyebab terjadinya ruam popok bisa bermacam-macam, antara lain:
- Gesekan terlalu sering antara kulit dan popok yang bisa menimbulkan luka terutama bila bahan popok yang dipakai terlalu kasar.
- Iritasi akibat kontak kulit dengan urin dan feses pada popok. Urin dan feses mengandung amoniak yang dapat merusak permukaan kulit sehingga rentan terhadap infeksi.
- Kulit yang basah dan lembab dapat meningkatkan pertumbuhan jamur dan bakteri. Agen infeksi yang paling sering ditemukan adalah jamur Candida albicans.
- Penggunaan antibiotik jangka panjang, karena antibiotik tidak hanya membasmi kuman bakteri yang ‘jahat’ tetapi juga bakteri baik atau mikrobiota dalam tubuh. Karena itu, jamur mudah tumbuh di area kulit yang tertutup popok. Untuk bayi yang mendapatkan ASI eksklusif juga berisiko mengalami ruam popok bila ibunya yang menyusui juga sedang mengkonsumsi antibiotik.
- Reaksi alergi akibat paparan deterjen, parfum, sabun, atau pewarna pada popok. Bayi/anak juga mungkin alergi terhadap pakaian, tisu basah, atau sabun.
Cara Mengatasi Ruam Popok di Rumah dengan Metode ABCDE
Secara garis besar, penanganan ruam popok dilakukan dengan pendekatan ABCDE (Air, Barrier, Clean, Dry, Educate)
- Air (Udara): pada area yang tertutup popok harus terpapar oleh udara sesering mungkin dengan mengganti popok secara berkala
- Barrier (Penghalang): mengoleskan krim barrier (seperti zink oksida atau petroleum jelly) ke area yang tertutup popok
- Clean (Pembersihan): membersihkan area yang tertutup popok dengan air setiap mau mengganti popok dan tidak menggosok dengan terlalu kuat
- Dry diaper (Popok kering): Gunakan popok kering dengan daya serap tinggi serta berpori yang memungkinkan adanya sirkulasi udara dan hindari popok berbahan kain. Untuk bayi baru lahir, popok perlu diganti setiap 2 jam sekali, dan untuk bayi/anak yang lebih besar popok bisa diganti 3-4 jam sekali.
- Educate (Edukasi): tenaga kesehatan melakukan edukasi mengenai tata cara pencegahan dan penanganan ruam popok yang tepat kepada orang tua.
Rekomendasi Salep atau Krim Ruam Popok yang Aman
Untuk pengobatan di rumah, pemberian salep yang mengandung zink oksida atau petroleum jelly akan bermanfaat sebagai pelindung kulit terhadap iritasi yang dapat terjadi pada ruam popok. Apabila setelah 3-4 hari belum membaik, bayi dan anak perlu diperiksa untuk pengobatan lebih lanjut dengan obat topikal yang memerlukan resep dokter.
Biasanya, dokter akan meresepkan salep sesuai dengan gejala dan kemungkinan penyebab munculnya ruam, misalnya anti peradangan seperti hidrokortison 0,5%, salep antijamur seperti ketokonazol dan/atau mikonazol untuk ruam popok akibat dari infeksi jamur, serta salep antibiotik bila ruam diduga muncul akibat infeksi bakteri.
Kapan Harus Membawa Bayi/anak ke Dokter Spesialis Anak terkait ruam popok?
Umumnya, ruam popok bisa diobati secara mandiri di rumah. Namun bila keluhan belum membaik segera bawa anak ke dokter spesialis anak untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut, terutama bila ditemukan gejala seperti:
- Ruam disertai demam.
- Ruam yang menetap atau memburuk meskipun sudah diobati di rumah.
- Ruam yang berdarah, gatal, atau mengeluarkan cairan.
- Ruam yang menyebabkan rasa terbakar atau nyeri saat bayi buang air kecil atau buang air besar.
Cara mencegah ruam popok di masa depan
Pencegahan terjadinya ruam popok secara garis besar bisa dilakukan sesuai dengan metode ABCDE yang disebutkan di atas. Beberapa hal penting yang perlu diingat oleh orang tua agar ruam popok tidak terjadi pada anak yaitu:
- Mengganti popok secara teratur setiap 2-3 jam atau segera bila sudah kotor atau penuh.
- Memilih popok yang pas dan tidak terlalu ketat pada anak untuk memungkinkan sirkulasi udara.
- Menggunakan salep seperti petroleum jelly dan zink oksida
- Menghindari produk pembersih yang mengandung bahan kimia keras, alkohol, atau pewangi.
Jangan Ragu ke Dokter Spesialis Anak jika Terjadi Ruam Popok
Jika terjadi ruam popok disertai gejala seperti demam, ruam tidak kunjung hilang, berdarah atau mengeluarkan cairan, hingga anak merasa nyeri ketika buang air kecil/besar, jangan ragu untuk ke dokter spesialis anak.
Di Primecare Clinic, tersedia dokter spesialis anak. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!

