Diabetes pada Lansia – Gejala dan Cara Mengatasinya

Diabetes adalah salah satu penyakit kronis yang jumlah penderitanya semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Lansia termasuk kelompok dengan risiko tinggi terkena diabetes. Proses penuaan menyebabkan tubuh mengalami berbagai perubahan, termasuk pada metabolisme gula darah.
Lansia yang menderita diabetes lebih berisiko mengalami berbagai komplikasi seperti gangguan jantung, gangguan ginjal, kerusakan saraf, dan gangguan kognitif. Kondisi ini membuat pengelolaan diabetes pada lansia perlu perhatian khusus.
Karena itu, kita perlu memahami diabetes pada lansia, gejalanya, cara mencegah dan cara menanganinya. Simak di artikel ini, ya!
Apa itu Diabetes pada Lansia?
Diabetes pada lansia adalah kondisi meningkatnya kadar gula darah, yaitu lebih dari 125 mg/dL saat puasa dan lebih dari 199 mg/dL pada dua jam setelah makan, yang terjadi pada orang berusia lanjut, yaitu di atas 60 tahun. Diabetes pada lansia biasanya adalah diabetes tipe 2.
Pada usia lanjut, proses metabolisme tubuh melambat, massa otot berkurang, dan terjadi perubahan hormon yang menyebabkan kemampuan tubuh mengatur kadar gula darah menurun.
Selain itu, gaya hidup kurang aktif atau sedentary lifestyle, pola makan tinggi kalori, serta adanya penyakit penyerta seperti hipertensi dan dislipidemia dapat memperburuk kondisi ini.
Perbedaan Diabetes Lansia dengan Diabetes di Usia Muda
Meskipun diabetes dapat menyerang semua kelompok umur, terdapat beberapa perbedaan penting antara diabetes pada lansia dan usia lebih muda:
1. Gejala Klasik Sering Tidak Muncul
Pada orang muda, gejala khas diabetes seperti sering buang air kecil (poliuria), sering merasa haus (polidipsia), mudah lapar (polifagia), dan penurunan berat badan sering terjadi.
Namun, pada lansia gejala tersebut tidak selalu ada. Hal ini disebabkan oleh peningkatan ambang ginjal terhadap glukosa dan menurunnya mekanisme rasa haus, sehingga tubuh tidak bereaksi dengan cara yang sama seperti pada orang muda.
Karena gejala khas tidak muncul, banyak lansia baru didiagnosis diabetes setelah mengalami komplikasi seperti neuropati (kesemutan), nefropati (kerusakan ginjal), dan penyakit jantung.
2. Metabolisme Tubuh
Lansia mengalami penurunan massa otot, penurunan fungsi pankreas, peningkatan resistensi insulin, dan perubahan hormon yang membuat kontrol gula darah lebih sulit.
3. Risiko Komplikasi Lebih Tinggi
Lansia lebih rentan terhadap komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, kerusakan saraf, dan gangguan penglihatan. Kondisi seperti kelemahan tubuh dan penurunan fungsi kognitif juga lebih sering terjadi pada penderita diabetes lanjut usia.
4. Pengobatan Harus Lebih Hati-hati
Pada pasien muda, target kontrol glikemik bisa lebih ketat, misalnya target HbA1c < 6,5%. Sedangkan pada lansia, target kontrol glikemik bisa lebih longgar menyesuaikan kondisi masing-masing individu untuk menghindari risiko hipoglikemia.
Gejala Diabetes pada Lansia
Gejala diabetes pada lansia seringkali sulit dikenali karena menyerupai tanda penuaan atau penyakit lain. Diabetes pada lansia sering tidak memiliki gejala yang khas.
Ambang ginjal terhadap glukosa meningkat seiring bertambahnya usia dan mekanisme rasa haus pada lansia menurun, maka gejala khas diabetes, seperti sering buang air kecil dan sering merasa haus, biasanya tidak tampak atau tidak jelas pada orang lanjut usia.
Akibatnya, diagnosis diabetes baru diketahui ketika muncul komplikasi seperti neuropati (kerusakan saraf), nefropati (kerusakan ginjal), penyakit jantung dan pembuluh darah, serta infeksi saluran kemih atau infeksi kulit yang berulang.
Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk menjaga kualitas hidup dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Walau begitu, beberapa gejala berikut patut diwaspadai jika terjadi:
- Sering merasa haus dan lapar berlebihan.
- Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
- Luka yang lama sembuh.
- Pandangan kabur.
- Mudah lelah dan lemas.
- Gangguan memori atau kebingungan (kadang salah dikira sebagai demensia).
Jika muncul beberapa gejala di atas, segera konsultasikan ke dokter karena bisa menjadi gejala diabetes.
Bahaya Diabetes pada Lansia
Diabetes pada lansia dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius jika tidak dikelola dengan baik, di antaranya:
- Penyakit jantung dan stroke karena risiko penyakit kardiovaskular meningkat akibat gula darah yang tinggi.
- Gangguan ginjal (nefropati).
- Gangguan penglihatan (retinopati) yang dapat menyebabkan kebutaan bila tidak diobati.
- Neuropati, yaitu kerusakan saraf yang memicu kesemutan, nyeri, atau mati rasa di kaki.
- Luka yang sulit sembuh bisa berkembang menjadi ulkus diabetik dan infeksi berulang.
Cara Mencegah Diabetes pada Lansia
Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah diabetes pada lansia antara lain:
1. Menjaga Pola Makan Sehat
Kurangi konsumsi makanan manis, makanan berlemak jenuh, serta memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung serat dari sayur dan buah.
2. Aktivitas Fisik
Untuk lansia, bisa melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki dan senam lansia.
3. Mengontrol Berat Badan
Usahakan untuk menjaga berat badan agar tidak terjadi obesitas yang menjadi salah satu faktor risiko utama diabetes.
4. Menghindari Rokok dan Alkohol
Rokok dan alkohol dapat meningkatkan risiko resistensi insulin dan komplikasi diabetes.
5. Rutin Cek Kesehatan
Pemeriksaan gula darah berkala membantu deteksi dini jika ada tanda-tanda peningkatan kadar gula.
Cara Mengatasi Diabetes pada Lansia
Jika sudah didiagnosis diabetes oleh dokter, maka manajemen diabetes yang tepat sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:
- Mengatur pola makan dengan disiplin, konsultasikan ke ahli gizi untuk menentukan jadwal makan dan rekomendasi menu makan yang sesuai.
- Aktivitas fisik teratur agar sensitivitas insulin meningkat.
- Minum obat sesuai anjuran dokter, jangan menghentikan atau menambah dosis tanpa pengawasan.
- Pemantauan gula darah secara teratur bisa menggunakan alat cek gula darah stik atau CGM
- Perawatan jika terjadi luka karena luka kecil bisa berkembang menjadi infeksi serius.
- Dukungan keluarga karena lansia dengan diabetes membutuhkan perhatian dan bantuan keluarga untuk menjaga konsistensi pengobatan.
Diabetes pada Lansia, Kapan Harus ke Dokter?
Lansia yang mengalami diabetes harus segera ke dokter jika mengalami beberapa kondisi berikut:
- Gula darah sering tidak terkontrol, yaitu berada di atas 200 mg/dL atau di bawah 70 mg/dL.
- Mengalami kebingungan mendadak, sulit berbicara, atau kehilangan kesadaran.
- Luka yang tidak kunjung sembuh, bernanah, atau membengkak.
- Muncul tanda komplikasi, misalnya nyeri dada, sesak napas, atau pandangan mendadak kabur.
- Muncul gejala hipoglikemia seperti keringat dingin, gemetar, lemas, dan pusing yang sering berulang.
Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic
Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.
Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!


