Apakah Pria Lebih Berisiko Terkena Diabetes? Berikut Faktanya!

September 23, 2025 by Primecare Clinic
7823-_1_-1200x800.webp

Diabetes melitus atau yang lebih sering disebut sebagai diabetes, merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah. Diabetes semakin banyak ditemukan di masyarakat, seiring dengan gaya hidup yang kurang sehat. 

Data penelitian menunjukkan bahwa beban diabetes di Indonesia terus meningkat. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes melitus pada penduduk usia dewasa adalah sebesar 11,7%. Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak ke-5 di dunia. 

Sementara itu, menurut International Diabetes Federation (IDF), prevalensi diabetes pada orang dewasa Indonesia diperkirakan mencapai 11,3% pada tahun 2024, yaitu sebanyak 19,5 juta. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 28,6 pada tahun 2045 jika tidak segera ditangani dengan tepat. 

Penelitian juga menunjukkan bahwa pria lebih banyak menderita diabetes dibanding wanita, di seluruh dunia, diperkirakan penderita diabetes 17,7 juta lebih banyak pria daripada wanita. Jadi, apakah pria lebih berisiko terkena diabetes? Berikut faktanya! 

Apakah Pria Berisiko Lebih Tinggi untuk Terkena Diabetes?

Beberapa penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa pria cenderung lebih mudah mengalami diabetes tipe 2 dibandingkan wanita pada usia yang sama. Bahkan, pria sering mendapat diagnosis diabetes pada indeks massa tubuh (IMT) yang lebih rendah dibandingkan wanita.

Hal tersebut diperkirakan berhubungan dengan gaya hidup pria yang cenderung lebih berisiko, seperti merokok, konsumsi alkohol, serta kurang memperhatikan pola makan dan olahraga, yang memperparah kemungkinan terkena diabetes.

Namun, penting untuk dipahami bahwa wanita juga berisiko tinggi, terutama setelah memasuki masa menopause dan saat kehamilan. Perubahan hormonal pada wanita dapat meningkatkan resistensi insulin. Jadi, meskipun pria lebih rentan secara umum, wanita tetap harus waspada.

Mengapa Pria Lebih Berisiko untuk Kena Diabetes?

Ada beberapa faktor utama yang membuat pria lebih rentan terhadap diabetes, antara lain:

1. Distribusi Lemak Tubuh

Pria cenderung menyimpan lemak di area perut atau yang disebut sebagai lemak visceral. Lemak visceral ini berhubungan erat dengan meningkatnya resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik. Sebaliknya, wanita lebih banyak menyimpan lemak di bawah kulit (subkutan) yang relatif tidak terlalu berbahaya dibanding lemak visceral.

2. Faktor Hormon

Hormon testosteron yang dominan pada pria memiliki kaitan dengan meningkatnya sekresi insulin dan mencegah inflamasi atau peradangan. Penurunan kadar testosteron pada pria usia lanjut dapat meningkatkan risiko diabetes.

Sementara itu, hormon estrogen pada wanita terbukti memiliki efek dalam meningkatkan sensitivitas insulin, sekresi insulin, serta mengurangi kematian sel beta pankreas. Oleh karena itu, risiko diabetes akan meningkat pada wanita yang memasuki masa menopause.

3. Gaya Hidup

Gaya hidup tidak sehat juga menjadi faktor risiko diabetes. Sedentary lifestyle atau gaya hidup yang kurang gerak dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes. Pada pria, gaya hidup ini bisa menyebabkan obesitas, terutama obesitas sentral.

Merokok juga menjadi faktor risiko diabetes dan komplikasi diabetes, misalnya penyakit kardiovaskular. Laporan Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia tahun 2021 menunjukkan bahwa 34,5% orang dewasa atau 70,2 juta orang menggunakan tembakau. Persentase penggunaan tembakau pada laki-laki adalah 65,5% dan pada perempuan 3,3%. Hal ini meningkatkan risiko diabetes pada pria.

4. Genetik dan Faktor Lingkungan

Selain perbedaan biologis, faktor genetik dan lingkungan juga berpengaruh. Jika ada riwayat keluarga dengan diabetes, pria biasanya menunjukkan gejala lebih cepat dibanding wanita.

Selain itu, faktor lingkungan seperti tekanan pekerjaan, kurang tidur, serta stres kronis dapat meningkatkan risiko diabetes, dan hal ini lebih sering dialami oleh pria yang bekerja dengan tingkat stres yang lebih tinggi.

Cara Mencegah Diabetes bagi Pria

Meskipun risiko pria lebih tinggi, bukan berarti diabetes tidak bisa dicegah. Ada banyak langkah yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko, di antaranya:

1. Menjaga Berat Badan Ideal

Penumpukan lemak di perut atau obesitas sentral (perut buncit), merupakan salah satu faktor risiko utama diabetes pada pria. Menjaga berat badan ideal melalui pola makan sehat dan olahraga teratur sangat penting untuk menekan risiko diabetes. 

2. Pola Makan Seimbang

Pria perlu membatasi makanan tinggi gula sederhana dan lemak jenuh, serta memperbanyak konsumsi serat dari sayuran, buah, dan biji-bijian. Mengatur porsi makan dengan prinsip “isi piringku” dari Kementerian Kesehatan bisa menjadi panduan praktis untuk pola makan seimbang.

3. Olahraga Rutin

Aktivitas fisik seperti jalan cepat, jogging, bersepeda, atau latihan kekuatan dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu mengontrol berat badan. Rekomendasi minimal adalah 150 menit olahraga intensitas sedang per minggu. 

4. Mengelola Stres dan Tidur Cukup

Stres kronis dan kurang tidur terbukti meningkatkan kadar hormon kortisol yang berhubungan dengan resistensi insulin. Oleh karena itu, penting bagi pria untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan, istirahat, dan aktivitas relaksasi.

5. Pemeriksaan Rutin

Pemeriksaan gula darah rutin sangat dianjurkan, terutama bagi yang memiliki riwayat keluarga diabetes atau faktor risiko lain. Pemeriksaan HbA1C juga dapat memberikan gambaran kadar gula darah dalam jangka panjang.

Anda juga bisa memeriksa gula darah secara real time dengan teknologi CGM.

Kenapa CGM Jadi Pilihan yang Lebih Efektif untuk Memantau Gula Darah?

Dengan data yang terekam otomatis, CGM membantu dokter memahami pola gula darahmu secara menyeluruh, termasuk waktu-waktu kritis di mana gula darah sering melonjak atau turun drastis.

Manfaat nyata CGM antara lain:
✅ Mendeteksi fluktuasi gula darah lebih cepat sebelum menyebabkan gejala berat.
✅ Membantu dokter memberikan penyesuaian terapi yang tepat waktu.
✅ Membantu kamu mengatur pola makan dan aktivitas fisik dengan lebih bijak.
✅ Mencegah komplikasi serius, seperti hipoglikemia berat, hiperglikemi, hingga kondisi darurat medis.

Dengan kata lain, CGM memberi kamu dan doktermu kendali penuh atas kondisi tubuh, bukan sekadar reaksi setelah gejala muncul.

Menurut dr. Samuel Alexsander, selaku edukator diabetes di Primecare Clinic Tebet, Continuous Glucose Monitoring (CGM) merupakan salah satu inovasi terbaru dalam pemantauan kadar gula darah.

“Kalau dulu, kita hanya bisa mengetahui kadar gula darah lewat pemeriksaan dengan alat tes yang menusuk jari—hasilnya hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu tertentu saja, seperti melihat satu potongan kecil dari puzzle besar. Sedangkan dengan CGM, kita dapat memantau kadar gula darah secara real-time dan berkelanjutan hingga 14 hari, sehingga gambaran yang terlihat menjadi jauh lebih utuh,” jelas dr. Samuel.

Ia menambahkan, setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. “Ada orang yang setelah makan nasi satu piring gula darahnya langsung melonjak, ada juga yang tidak terlalu berubah. Dengan CGM, kita bisa melihat bagaimana tubuh kita sendiri bereaksi terhadap berbagai jenis makanan, aktivitas, atau bahkan stres harian. Dari situ, kita jadi bisa lebih mengenali tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kestabilan gula darah,” tambahnya.

Menariknya, teknologi CGM ini tidak hanya bermanfaat bagi pengidap diabetes, tetapi juga cocok digunakan untuk skrining bagi mereka yang memiliki riwayat atau keturunan diabetes, maupun bagi komunitas dan individu yang antusias menjaga kesehatan. Dengan menggunakan CGM, pengguna bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana gaya hidup dan pola makan memengaruhi kadar gula darah mereka—bahkan sebelum muncul gejala atau diagnosis medis tertentu.

Konsultasi Diabetes di Primecare Clinic

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes. Kamu bisa konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Primecare Clinic juga menyediakan CGM untuk memonitor kadar gula darah sepanjang hari tanpa berkali-kali tusuk.

Primecare Clinic menyediakan layanan pemantauan, termasuk CGM dan pengelolaan gula darah bersama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis gizi klinik. Segera periksa dan konsultasikan kadar gula darah sejak dini sebelum gejala muncul. Terdapat dr. Anak Agung Arie Widyastuti, Sp.PD, FINASIM yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam dengan spesialisasi penyakit diabetes di Primecare Clinic.

Primecare Clinic menyediakan program manajemen diabetes, termasuk pemantauan CGM, edukasi gizi, dan pendampingan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan Anda seperti menurunkan HbA1C. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya! 

primecare

Jakarta Panglima Polim

Jl. Panglima Polim IX No.16, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jakarta Tebet

Jl. Tebet Barat Dalam II No.46 14, Tebet Barat, Kota Jakarta Selatan

Samarinda

Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kota Samarinda


Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.



Copyright by PT. Layanan Medika Pratama 2025. All rights reserved.